Anda di halaman 1dari 35

Laporan Pendahuluan Kasus Ruang OK

Nama Mahasiswa: Sielvia Febriyani Tgl: 03 Mei 2021


NIM: 202015017 Tempat Praktik: Rumah Sakit Hasanah
Graha Afiah/ Ruang OK
Judul Laporan Pendahuluan:
Appendicitis

Penyusunan laporan pendahuluan (LP) mampu menjabarkan etiologi, symptom, patofisiologi, pengkajian, diagnosa
keperawatan, lingkp intervensinya pre, intra dan post operasi serta daftar pustaka.

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Appendisitis adalah peradangan pada appendix. Appendix merupakan organ yang
menempel pada caecum (bagian pertama dari usus besar) yang berbentuk tabung dan
ujungnya tertutup menyerupai bentuk cacing, dan sering disebut dengan usus buntu
(Prihaningtyas, 2014).
Appendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
nyeri abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini menyerang semua umur baik laki-laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun
dan merupakan penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dan
merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer & Brenda,
2013).
Appendisitis adalah peradangan apendiks vermiform yang terjadi sebagian besar pada
remaja dan dewasa muda. Dapat terjadi pada semua usia tetapi jarang terjadi pada klien
yang kurang dari dua tahun dan mencapai insiden tertinggi pada usia 20-30 tahun. Tidak
umum terjadi pada lansia, namun, rupturnya apendiks lebih sering terjadi pada klien lansia
(Black & Jane, 2021).

2. Anatomi dan Fisiologi


a. Anatomi
Menurut Wibisono & Wifanto (2014), anatomi system pencernaan diantaranya:
1) Mulut
Merupakan satu rongga yang terbuka tempat masuknya makanan dan air mulut juga
merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan bagian dalam 8 dari mulut dilapisi
oleh selaput lendir. Pengecapan yang dirasakan oleh organ perasa yang terdapat oleh
permukaan lida.
2) Laring (faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan, didalam lengkung
faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak mengandung
kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak
bersimpangan antara jalan napas dan jalan makanna, letaknya dibelakang rongga
mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang.
3) Esofagus
Kerongkongan adalah tabung (tb) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu
makanan mengalir dari bagian mulut kedalam lambung.
4) Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan menyerupai kantung dalam
rongga peritonium yang terletak diantara esofagus dan usus halus. dalam keadaan
kosong, lambung menyerupai tabung dan bila penuh berbentuk seperti buah pir
raksasa. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan yang berkontraksi secara
sistemik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
5) Usus halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran saluran pencernaan yang
terletak diantara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga 9 bagian yaitu
usus 12 jari (duodenum), usus kosong (jejunumo) dan usus penyerapan (ileum).
6) Usus besar (kolon)
Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air dari feses, usus besar terdiri dari kolon
asendens, kolon transversun, kolon desenden, dan kolon sigmoid. Banyaknya bakteri
yang terdapat didalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu
penyerapan zat-zat gizi.
7) Usus buntu
Usus buntu atau sekum dalam istilah dalam anatomi adalah suatu kantong yang
terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar.
8) Umbai cacing (appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi padea
orga ini disebut apendisitis atau umai cacing. Apendisitis yang parah dapat
menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nana didalam rongga abdomen atau
peritonitis (infeksi rongga abdomen).
9) Rektum
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolom
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Biasanya rektum ini biasanya kosong karena tinja disimpan yang
lebih tinggi, yaitu pada kolon densendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja
masuk kedalam rektum, 10 maka timbul keinginan untuk buang air besar.

b. Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir tersebut secara normal
dicurahkan ke lumen dan selanjtnya mengalir menuju sekum. Adanya hambatan pada
aliran lendir di muara apendiks dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya
apendisitis. Di sepanjang saluran cerna terdapat imunoglobulin sekretoar yang
dihasilkan oleh GALT (Gut Associates Lymphoid Tissue) yakni IgA. Imunoglobulin itu
sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun apabila seseorang menjalani
prosedur apendektomi, maka tidak akan mempengaruhi imun tubuh, sebab jumlah
jaringan limf di area ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna
dan seluruh tubuh (Sjamsuhidajat & Wim, 2014).

3. Etiologi
Menurut Prihaningtyas (2014), appendicitis terjadi karena adanya sumbatan pada appendix.
Sumbatan pada appendix dapat terjadi akibat beberapa penyebab berikut:
a. Infeksi pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan pembesaran jaringan getah
bening di dinding appendix,
b. Cidera pada perut,
c. Tinja yang menyumbat appendix, dan
d. Pertumbuhan parasit yang menyumbat appendix.

4. Klasifikasi
Menurut Rukmono (2011), klasifikasi appendicitis terbagi menjadi dua terdiri dari:
a. Appendicitis akut
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak
pada apendiks yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai
rangsang peritonieum lokal. Gejala apendisitis akut ialah nyeri samar dan tumpul yang
merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering
disertai mual, muntah dan umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri
akan berpindah ke titik Mc.Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya
sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Appendisitis akut dibagi menjadi :
1) Apendisitis Akut Sederhana
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi.
Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen 9 appendiks dan terjadi peningkatan
tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks menebal,
edema, dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual,
muntah, anoreksia, malaise dan demam ringan.
2) Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan
terbendungnya aliran vena pada dinding apendiks dan menimbulkan trombosis.
Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang
ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding apendiks menimbulkan infeksi serosa
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin. Apendiks dan
mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat
fibrinopurulen. Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan,
nyeri lepas di titik Mc. Burney, defans muskuler dan nyeri pada gerak aktif dan pasif.
Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-
tanda peritonitis umum.
3) Appendicitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu
sehingga terjadi infark dan gangren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif,
apendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding apendiks berwarna ungu,
hijau 10 keabuan atau merah kehitaman. Pada apendisitis akut gangrenosa terdapat
mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulent.
4) Appendicitis Infiltrat
Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang penyebarannya dapat
dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga
membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.
5) Appendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus),
biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrosekal, subsekal dan pelvikal.
6) Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah gangren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum.
Pada dinding apendiks tampak daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
b. Appendicitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya riwayat nyeri
perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik
dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut
dan ulkus lama di mukosa dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik
antara 1-5%. Apendisitis kronik kadang-kadang dapat menjadi akut lagi dan disebut
apendisitis kronik dengan eksaserbasi akut yang tampak jelas sudah adanya
pembentukan jaringan ikat.

5. Patofisiologi
Bila apendiks menjadi terobstruksi, tekanan intraluminal meningkat, menyebabkan
drainase vena menurun, trombosis, edema, dan invasi bakteri ke lumen. Jika proses terjadi,
dengan nekrosis dan invasi dinding usus. Jika proses terjadi secara lambat, infeksi akan
terlokalisasi membentuk dinding oleh struktur yang ada didekatnya, membentuk abses.
Perkembangan kerusakan vaskular yang cepat akan menyebabkan ruptur dan pembentukan
fistula di antara apendiks dan struktur didekatnya (kandung kemih, usus halus, sigmoid,
dan sekum) (Black & Jane, 2021).

Pathway

Sumber: Nurarif & Kusuma (2016)

6. Komplikasi
Menurut Haryono (2012), komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks yang
dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insidensi perforasi 10-32%. Perforasi
terjadi 24 jam setelah gejala nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 0C atau
lebih tinggi, penampilan toksik dan nyeri abdomen atau nyeri tekan abdomen yang
kontinyu. Komplikasi lain, yaitu:
a. Ganggren.
b. Perforasi dinding apendix.
c. Abses hepar multiple.
d. Sepsis.
e. Menjadi apendiksitis kronis.

7. Manifestasi klinis
Nyeri terasa pada abdomen kuadran bawah dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual,
muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titi Mc. Burney bila dilakukan
tekanan. Nyeri tekan lepas mungkin akan dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan
apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi
apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di
daerah lumbal; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini hanya dapat diketahui pada
pemeriksaan rectal. Nyeri pada defekasi menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan
kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada bagian bawah otot rectum kanan dapat
terjadi. Tanda Rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri, yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran bawah kanan. Apabila
apendiks telah ruptur, nyeri dan dapat lebih menyebar; distensi abdomen terjadi akibat
ileus paralitik dan kondisi klien memburuk (Haryono, 2012)

8. Pemeriksaan penunjang
Menurut Haryono (2012), pemeriksaan penunjang pada appendicitis yaitu:
a. Laboratorium
1) Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis, >10.000/mm3)
2) Hitung jenis: Segmen lebih banyak.
3) LED meningkat (pada apendiksitis infiltrat)
b. Rongent: appendicogram yaitu hasil positif berupa: Non-filling, Partial Filling, Mouse
tail dan Cut off.
c. Rongent abdomen: tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis.
d. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat terjadi
inflamasi pada apendiks.
e. Pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendicalith serta
perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran dari saekum.

9. Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer & Brenda (2014), penatalaksanaan apendiksitis sebegai berikut:
a. Penatalaksanaan Medis
1) Pembedahan (konvensional atau laparaskopi) apabila diagnosa apendisitis telah
ditegakan dan harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko perforasi.
2) Berikan obat antibiotik dan cairan IV sampai tindakan pemebedahan dilakukan.
3) Agen analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.
4) Operasi (apendiktomi), bila diagnosa telah ditegakan yang harus dilakukan adalah
operasi membuang apendiks (apendiktomi). Penundaan apendiktomi dengan cara
pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada abses apendiks
dilakukan drainage.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Tujuan keperawatan mencakup upaya meredakan nyeri, mencegah defisit volume
cairan, mengatasi ansietas, mengurangi risiko infeksi yang disebabkan oleh gangguan
potensial atau aktual pada saluran gastrointestinal, mempertahankan integritas kulit
dan mencapai nutris yang optimal.
2) Sebelum operasi, siapkan pasien untuk menjalani pembedahan, mulai jalur Intra Vena
berikan antibiotik, dan masukan selang nasogastrik (bila terbukti ada ileus paralitik),
jangan berikan laksatif.
3) Setelah operasi, posisikan pasien fowler tinggi, berikan analgetik narkotik sesuai
program, berikan cairan oral apabila dapat ditoleransi.
4) Jika drain terpasang di area insisi, pantau secara ketat adanya tandatanda obstruksi
usus halus, hemoragi sekunder atau abses sekunder.
c. Penatalaksaan Keperawatan
Tatalaksana apendisitis pada kebanyakan kasus adalah apendiktomi. Keterlambatan
dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi. Teknik laparoskopi sudah
terbukti menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih cepat
dan angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi terdapat peningkatan
kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan waktu operasi. Laparoskopi itu
dikerjakan untuk diagnosa dan terapi pada pasien dengan akut abdomen, terutama pada
wanita.

B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
a. Riwayat keperawatan
Menurut Potter & Perry (2010), pengkajian keperawatan klien dengan post apendiktomi
yaitu:
1) Sistem pernapasan
Kaji patensi jalan napas, laju napas, irama ke dalam ventilasi, simetri gerakan
dinding dada, suara napas, dan warna mukosa.
2) Sirkulasi
Penderita beresiko mengalami komplikasi kardiovaskuler yang disebabkan oleh
hilangnya darah dari tempat pembedahan, efek samping dari anestesi. Pengkajian
yang telah diteliti terhadap denyut dan irama jantung, bersama dengan tekanan
darah, mengungkapkan status kardiovaskular penderita. Kaji sirkulasi kapiler
dengan mencatat pengisian kembali kapiler, denyut, serta warna kuku dan
temperatu kulit. Masalah umum awal sirkulasi adalah perdarahan. Kehilangan darah
dapat terjadi secara eksternal melalui saluran atau sayatan internal.
3) Sistem Persarafan
Kaji refleks pupil dan muntah, cengkeraman tangan, dan gerakan kaki. Jika
penderita telah menjalani operasi melibatkan sebagian sistem saraf, lakukan
pengkajian neurologi secara lebih menyeluruh.
4) Sistem Perkemihan
Anestesi epidural atau spinal sering mencegah penderita dari sensasi kandung
kemih yang penuh. Raba perut bagian bawah tapat di atas simfisis pubis untuk
mengkaji distensi kandung kemih. Jika penderita terpasang kateter urine, harus ada
aliran urine terus-menerus sebanyak 30-50 ml/jam pada orang dewasa. Amati warna
dan bau urine, pembedahan yang melibatkan saluran kemih biasanya akan
menyebabkan urine berdarah paling sedikit selama 12 sampai 24 jam, tergantung
pada jenis operasi.
5) Sistem Pencernaan
Inspeksi abdomen untuk memeriksa perut kembung akibat akumulasi gas. Perawat
perlu memantau asupan oral awal penderita yang berisiko menyebabkan aspirasi
atau adanya mual dan muntah. Kaji juga kembalinya peristaltik setiap 4 sampai 8
jam. Auskultasi perut secara rutin untuk mendeteksi suara usus kembali normal, 5-
30 bunyi keras per menit pada masing-masing kuadran menunjukkan gerak
peristaltik yang telah kembali. Suara denting tinggi disertai oleh distensi perut
menunjukkan bahwa usus tidak berfungsi dengan baik. Tanyakan apakah penderita
membuang gas (flatus), ini merupakan tanda penting yang menunjukkan fungsi
usus normal.
b. Pemeriksaan fisik
Pasien apendisitis jarang memperlihatkan tanda toksisitas sistemik. Ia bisa berjalan
dalam cara agak membungkuk. Sikapnya di ranjang cenderung tak bergerak, sering
dengan tungkai kanan fleksi. Inspeksi langsung abdomen biasanya tak jelas serta
Auskultasi atau perkusi tidak sangat bermanfaat dalam pasien apendisitis. Palpasi
abdomen yang lembut kritis dalam membuat keputusan, apakah operasi diindikasikan
pada pasien yang dicurigai apendisitis. Palpasi seharusnya dimulai dalam kuadran kiri
bawah, yang dilanjutkan ke kuadran kiri atas, kuadran kanan atas dan diakhir dengan
pemeriksaan kuadran kanan bawah. Kadang-kadang pada apendiatis yang lanjut, dapat
dideteksi suatu massa. Adanya nyeri tekan kuadran kanan bawah dengan spasme otot
kuadran kanan bawah merupakan indikasi untuk operasi, kecuali ada sejumlah petunjuk
lam bahwa apendisitis mungkin bukan diagnosis primer (Smeltzer & Brenda, 2013).
Pemeriksaan rectum dan pelvis harus dilakukan dalam semua pagen apendisitis. Pada
apendisitis atipik, nyeri mungkin tidak terlokalisasi dari daerah periumbilicus, tetapi
nyeri tekan rectum kuadran kanan bawah dapat dibangkitkan. Adanya nyeri tekan atau
sekret servik pada wanita muda dengan nyeri kuadran kanan bawah membawa ke arah
diagnosis penyakit peradangan pelvis. Tanda Rovsing bisa positif dengan adanya
apendisitis supurativa. Tanda psoas dan obturator bisa juga ada dalam apendisitis, tetapi
ia kurang dapat diandalkan dibandingkan tanda Rovsing (Smeltzer & Brenda, 2013).

2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul


Menurut PPNI (2017), diagnosa keperawatan pada pasien dengan appendistis diantaranya:
Pre Operasi
Diagnosa 1: (D.0077) nyeri akut
a. Definisi
Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaingan aktual
atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringga hingga
berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
b. Penyebab
1) Agen pencedera fisiologis (mis. inflamasi, iskemia, neoplasma).
2) Agen pencedera kimiawi (mis. terbakar,bahan kimia iritan).
3) Agen pencedera fisik (mis. abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat,
prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan).
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
a) Mengeluh nyeri
2) Objektif
a) Tampak meringis
b) Bersikap protektif (mis. Waspada, posisi menghindari nyeri)
c) Gelisah
d) Frekuensi nadi meningkat
e) Sulit tidur
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
Tidak tersedia
2) Objektif
a) Tekanan darah meningkat
b) Pola napas berubah
c) Proses berpikir terganggu
d) Menarik diri
e) Berfokus pada diri sendiri
f) Diaforesis

Diagnosa 2: (D.0080) ansietas


a. Definisi
Kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan
spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan
untuk menghadapi ancaman.
b. Penyebab
1) Krisis situasional
2) Kebutuhan tidak terpenuhi
3) Krisis maturasional
4) Ancaman terhadap konsep diri
5) Ancaman terhadap kematian
6) Kekhawatiran mengalami kegagalan
7) Disfungsi sistem keluarga
8) Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
9) Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir)
10) Penyalahgunaan zat
11) Terpapar bahaya lingkungan (mis. toksin, polutan, dan lain-lain)
12) Kurang terpapar informasi
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
a) Merasa bingung
b) Merasa khawatir dengan akibat dan kondisi yang dihadapi
c) Sulit berkonsentrasi
2) Objektif
a) Tampak gelisah
b) Tampak tegang
c) Sulit tidur
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
a) Mengeluh pusing
b) Anoreksia
c) Palpitasi
d) Merasa tidak berdaya
2) Objektif
a) Frekuensi napas meningkat
b) Frekuensi nadi meningkat
c) Tekanan darah meningkat
d) Diaforesis
e) Tremor
f) Muka tampak pucat
g) Suara bergetat
h) Kontak mata buruk
i) Sering berkemih
j) Berorientasi pada masa lalu

Intra Operasi
Diagnosa 3: (D.0074) gangguan rasa nyaman
a. Pengertian
Perasaan kurang senang, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual,
lingkungan dan sosial.
b. Penyebab
1) Gejala penyakit
2) Kurang pengendalian situasional/lingkungan
3) Ketidakadekuatan sumber daya (mis, dukungan finansial, sosial, dan pengetahuan)
4) Kurangnya privasi
5) Gangguan stimulus lingkungan
6) Efek samping terapi (mis. Medikasi, radiasi, kemoterapi)
7) Gangguan adaptasi kehamilan
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
a) Mengeluh tidak nyaman
2) Objektif
a) Gelisah
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
a) Mengeluh sulit tidur
b) Tidak mampu rileks
c) Mengeluh kedinginan/kepanasan
d) Merasa gatal
e) Mengeluh mual
f) Mengeluh lelah
2) Objektif
a) Menunjukkan gejala distress
b) Tampak merintih/menangis
c) Pola eliminasi berubah
d) Postur tubuh berubah
e) Iritabilitas

Diagnosa 4: (D.0076) nausea


a. Pengertian
Perasaan tidak nyaman pada bagian belakang tenggorokan atau lambung yang dapat
mengakibatkan muntah.
b. Penyebab
1) Gangguan biokimiawi (mis. Uremia, ketoasidosis, diabetik)
2) Gangguan pada esofagus
3) Distensi lambung
4) Gangguan pankreas
5) Peregangan kapsul limpa
6) Tumor terlokalisasi
7) Peningkatan tekanan intraabdominal
8) Peningkatan tekanan intrakranial
9) Peningkatan tekanan intraorbital
10) Mabuk perjalanan
11) Kehamilan
12) Aroma tidak sedap
13) Rasa masakan/minuman yang tidak enak
14) Stimulus penglihatan tidak menyenangkan
15) Faktor psikologis
16) Efek agen farmakologis
17) Efek toksin
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
a) Mengeluh mual
b) Merasa ingin muntah
c) Tidak berminat makan
2) Objektif
Tidak tersedia
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
a) Merasa asam dimulut
b) Sensasi panas/dingin
c) Sering menelan
2) Objektif
a) Saliva meningkat
b) Pucat
c) Diaforesis
d) Takikardia
e) Pupil dilatasi
Post Operasi
Diagnosa 5: (D.0132) hipotermia
a. Pengertian
Suhu tubuh berada di bawah rentang normal tubuh.
b. Penyebab
1) Kerusakan hipotalamus
2) Konsumsi alkohol
3) Berat badan ekstrem
4) Kekurangan lemak subkutan
5) Terpapar suhu lingkungan rendah
6) Malnutrisi
7) Pemakaian pakaian tipis
8) Penurunan laju metabolisme
9) Tidak beraktivitas
10) Transfer panas (mis. Konduksi, konveksi, evaporasi)
11) Trauma
12) Proses penuaan
13) Efek agen farmakologis
14) Kurang terpapar informasi tentang pencegahan hipotermia
c. Gejala dan tanda mayor
1) Subjektif
Tidak tersedia
2) Objektif
a) Kulit teraba dingin
b) Menggigil
c) Suhu tubuh di bawah nilai normal
d. Gejala dan tanda minor
1) Subjektif
Tidak tersedia
2) Objektif
a) Akrosianosis
b) Bradikardi
c) Dasar kuku sianotik
d) Hipoglikemia
e) Hipoksia
f) Pengisian kapiler >3 detik
g) Konsumsi oksigen meningkat
h) Ventilasi menurun
i) Piloereksi
j) Takikardia
k) Vasokontriksi perifer
l) Kutis memorata (pada neonatus)

Diagnosa 6: (D0034) risiko hipovolemia


a. Definisi
Berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau
intraseluler.
b. Faktor risiko
1) Kehilangan cairan secara aktif
2) Gangguan absorbsi cairan
3) Usia lanjut
4) Kelebihan berat badan
5) Status hipermetabolik
6) Kegagalan mekanisme regulasi
7) Evaporasi
8) Kekurangan intake cairan
9) Efek agen farmakologis

Diagnosa 7: (D.0142) risiko infeksi


a. Definisi
Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik.
b. Penyebab
1) Penyakit kronis (mis. diabetes melitus)
2) Efek prosedur invasif
3) Malnutrisi
4) Peningkatan paparan organisme patogen lingkungan
5) Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer.
a) Gangguan peristaltik
b) Kerusakan integritas kulit
c) Perubahan sekresi pH
d) Penurunan kerja siliaris
e) Ketuban pecah lama
f) Ketuban pecah sebelum waktunya
g) Merokok
h) Statis cairan tubuh
6) Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder
a) Penurunan hemoglobin
b) Imunosupresi
c) Leukopenia
d) Supresi respon inflamasi
e) Vaksinasi tidak adekuat

3. Intervensi keperawatan
Diagnosa 1: (D.0077) nyeri akut
a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
nyeri akut dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.08066) tingkat nyeri
a) Keluhan nyeri, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Meringis, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Gelisah, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Kesulitan tidur, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Perasaan takut mengalami cedera berulang, dari sedang (3) menjadi cukup
meningkat (4).
f) Muntal, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
g) Mual, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
h) Frekuensi nadi, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
i) Pola napas, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
j) Tekanan darah, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
k) Nafsu makan, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).

b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.08238) manajemen nyeri
b) Observasi
(1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
(2) Identifikasi skala nyeri.
(3) Monitor efek samping penggunaan analgetik.
c) Terapeutik
(1) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS,
hipnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi,
teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain).
(2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan).
(3) Fasilitasi istirahat dan tidur.
d) Edukasi
(1) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.
(2) Jelaskan strategi meredakan nyeri.
(3) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
(4) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri.
e) Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu.
2) (I.09326) terapi relaksasi
a) Observasi
(1) Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau
gejala lain yang mampu mengganggu kemampuan kognitif.
(2) Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan.
(3) Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan
sesudah latihan.
(4) Monitor respons terhadap terapi relaksasi.
b) Terapeutik
(1) Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan
suhu ruang nyaman, jika memungkinkan.
(2) Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama.
(3) Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan anlgetik atau tindakan
medis lain, jika sesuai.
c) Edukasi
(1) Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis.
musik, meditasi, napas dalam, relaksasi otot progresif).
(2) Anjurkan mengambil posisi nyaman.
(3) Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi.
(4) Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih.
(5) Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis. napas dalam, peregangan,
atau imajinasi).

Diagnosa 2: (D.0080) ansietas


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
ansietas dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.09093) tingkat ansietas
a) Verbalisasi kebingungan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi, dari sedang (3) menjadi cukup
meningkat (4).
c) Perilaku gelisah, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Perilaku tegang, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Keluhan pusing, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
f) Anoreksia, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
g) Frekuensi pernapasan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
h) Frekuensi nadi, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
i) Tekanan darah, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
j) Tremor, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
k) Pucat, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
l) Konsentrasi, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
m)Pola tidur, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
n) Kontak mata, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
o) Pola berkemih, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).

b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.09314) reduksi ansietas
a) Observasi
(1) Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal).
b) Terapeutik
(1) Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan.
(2) Dengarkan dengan penuh perhatian
(3) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
(4) Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan.
c) Edukasi
(1) Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
(2) Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan.
(3) Latih teknik relaksasi napas dalam.
d) Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu.

Diagnosa 3: (D.0074) gangguan rasa nyaman


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
gangguan rasa nyaman dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.08064) status kenyamanan
a) Kesejahteraan psikologis, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Dukungan sosial dari keluarga, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Perawatan sesuai kebutuhan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Rileks, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Keluhan tidak nyaman, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
f) Gelisah, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
g) Keluhan kedinginan, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
h) Mual, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
i) Suhu ruangan, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.09326) terapi relaksasi
a) Observasi
(1) Identifikasi penurunan tingkat energi, ketidakmampuan berkonsentrasi, atau
gejala lain yang mampu mengganggu kemampuan kognitif.
(2) Identifikasi teknik relaksasi yang pernah efektif digunakan.
(3) Periksa ketegangan otot, frekuensi nadi, tekanan darah, dan suhu sebelum dan
sesudah latihan.
(4) Monitor respons terhadap terapi relaksasi.
b) Terapeutik
(1) Ciptakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan pencahayaan dan
suhu ruang nyaman, jika memungkinkan.
(2) Gunakan nada suara lembut dengan irama lambat dan berirama.
(3) Gunakan relaksasi sebagai strategi penunjang dengan anlgetik atau tindakan
medis lain, jika sesuai.
c) Edukasi
(1) Jelaskan tujuan, manfaat, batasan, dan jenis relaksasi yang tersedia (mis.
musik, meditasi, napas dalam, relaksasi otot progresif).
(2) Anjurkan mengambil posisi nyaman.
(3) Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi.
(4) Anjurkan sering mengulangi atau melatih teknik yang dipilih.
(5) Demonstrasikan dan latih teknik relaksasi (mis. napas dalam, peregangan,
atau imajinasi).

Diagnosa 4: (D.0076) nausea


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
nausea dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.0806) tingkat nausea
a) Nafsu makan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Keluhan mual, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
c) Sensasi dingin, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
d) Frekuensi menelan, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
e) pucat, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
2) (L.10099) kontrol mual/muntah
a) Kemampuan mengenali gejala, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Kemampuan melakukan untuk mengontrol mual/muntah, dari sedang (3)
menjadi cukup meningkat (4).
c) Melaporkan mual dan muntah terkontrol, dari sedang (3) menjadi cukup
meningkat (4).
d) Melaporkan efek samping obat, dari sedang (3) menjadi cukup menurun (4).
b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) I.03117) manajemen mual
a) Observasi
(1) Identifikasi faktor penyebab mual (mis. pengobatan dan prosedur)
(2) Monitor mual
(3) Identifikasi pengalaman mual
b) Terapeutik
(1) Kendalikan faktor lingkungan penyebab mual
(2) Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual
c) Edukasi
(1) Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
(2) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi mual
d) Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian antiemetik, jika perlu

Diagnosa 5: (D.0132) hipotermia


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
hipotermia dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.14134) termogulasi
a) Menggigil, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Kulit merah, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Pucat, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Takikardia, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Bradipnea, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
f) Dasar kuku sianotik, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
g) Hipoksia, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
h) Suhu tubuh, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
i) Suhu kulit, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
j) Tekanan darah, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).

b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.14507) manajemen hipotermia
a) Observasi
(1) Monitor suhu tubuh
(2) Identifikasi penyebab hipotermia
(3) Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia
b) Terapeutik
(1) Sediakan lingkungan yang hangat
(2) Lakukan penghangatan pasif
(3) Lakukan penghangatan aktif
c) Edukasi
(1) Anjurkan makan/minum air hangat

Diagnosa 6: (D0034) risiko hipovolemia


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
risiko hipovolemia dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.03028) status cairan
a) Kekuatan nadi, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Turgor kulit, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Output urine, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Ortopnea, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Dispnea, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
f) Berat badan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
g) Perasaan lemah, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
h) Keluhan haus, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
i) Frekuensi nadi, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
j) Tekanan darah, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
k) Tekanan nadi, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
l) Membran mukosa, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
m)Intake cairan, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
n) Suhu tubuh, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
2) (L.03020) keseimbangan cairan
a) Asupan cairan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Kelembaban membran mukosa, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Asupan makanan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Dehidrasi, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Mata cekung, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).

b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.03116) manajemen hipovolemia
a) Observasi
(1) Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. frekuensi nadi meningkat, nadi
teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit
menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit
meningkat, haus, lemah).
(2) Monitor intake dan output.
b) Terapeutik
(1) Hitung kebutuhan cairan.
(2) Berikan asupan cairan oral.
c) Edukasi
(1) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral.
(2) Anjurkan menghindari perubahan posisi mendadak.
d) Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis. NaCl, RL).
2) (I.03121) pemantauan cairan
a) Observasi
(1) Monitor frekuensi dan kekuatan nadi.
(2) Monitor frekuensi napas.
(3) Monitor tekanan darah.
(4) Monitor berat badan.
(5) Monitor waktu pengisian kapiler.
(6) Monitor elastisitas atau turgor kulit.
(7) Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urine.
b) Terapeutik
(1) Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien.
(2) Dokumentasi hasil pemantauan.
c) Edukasi
(1) Jelaskan tujuan prosedur dan pemantauan.
(2) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

Diagnosa 7: (D.0142) risiko infeksi


a. Tujuan dan kriteria hasil
Menurut PPNI (2018) kriteria hasil pada pasien dengan appendisitis diantaranya:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x5 jam diharapkan masalah keperawatan
risiko infeksi dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) (L.14137) tingkat infeksi
a) Demam, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
b) Kemerahan, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
c) Nyeri, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
d) Bengkak, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
e) Cairan berbau busuk, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
f) Periode menggigil, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
g) Letargi, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
h) Gangguan kognitif, dari sedang (3) menjadi cukup meningkat (4).
i) Kadar sel darah putih, dari sedang (3) menjadi cukup membaik (4).
b. Intervensi keperawatan
Menurut PPNI (2019) tindakan keperawatan pada pasien dengan appendisitis
diantaranya:
1) (I.14539) pencegahan infeksi
a) Observasi
(1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik.
b) Terapeutik
(1) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan
pasien.
(2) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi.
c) Edukasi
(1) Jelaskan tanda dan gejala infeksi.
(2) Jelaskan cara mencuci tangan yang benar.
(3) Ajarkan etika batuk.
(4) Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi.
(5) Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi.
(6) Anjurkan meningkatkan asupan cairan.
d) Kolaborasi
(1) Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu.

C. Pre, Intra, dan Post Operasi


Menurut Brunner & Suddarth (2010), terdapat tiga prosedur dalam melakukan operasi yang
terdiri dari:
1. Pre Operasi (Sign In)
Sign In adalah prosedur yang dilakukan sebelum induksi anastesi prosedur sign in idealnya
dilakukan oleh tiga komponen, yaitu pasien (bila kondisi sadar/memungkinkan), perawat
anastesi, dan dokter anastesi. Pada fase sign in dilakukan konfirmasi berupa identitas
pasien, sisi operasi yang sudah tepat dan telah ditandai, apakah mesin anastesi sudah
berfungsi, apakah pulse oksimeter pada pasien berfungsi, serta faktor resiko pasien seperti
apakah ada reaksi alergi, resiko kesulitan jalan napas, dan adanya resiko kehilangan darah
lebih dari 500ml (Brunner & Suddarth, 2010). Menurut Brunner & Suddarth (2010),
langkah-langkah surgical safety checklist yang harus dikonfirmasi saat pelaksanaan sign in
adalah:
a. Konfirmasi identitas pasien
Koordinator checklist secara lisan menegaskan identitas pasien, jenis prosedur
pembedahan, lokasi operasi, serta persetujuan untuk dilakukan operasi. Langkah ini
penting dilakukan agar petugas kamar operasi tidak salah melakukan pembedahan
terhadap pasien, sisi, dan prosedur pembedahan. Bagi pasien anak-anak atau pasien
yang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi dapat dilakukan kepada pihak
keluarga, itulah mengapa dilakukan konfirmasi kepada pasien sebelum pembedahan.
b. Konfirmasi sisi pembedahan
Koordinator checklist harus mengkonfirmasi kalau ahli bedah telah melakukan
penandaan terhadap sisi operasi bedah pada pasien (biasanya menggunakan marker
permanen) untuk pasien dengan kasus lateralitas (perbedaan kanan atau kiri) atau
beberapa struktur dan tingkat (misalnya jari tertentu, jari kaki, lesi kulit, vertebrata) atau
tunggal (misalnya limpa). Penandaan yang permanen dilakukan dalam semua kasus,
bagaimanapun, dan dapat memberikan cheklist cadangan agar dapat mengkonfirmasi
tempat yang benar dan sesuai prosedur.
c. Persiapan mesin pembedahan dan anestesi
Koordinator checklist melengkapi langkah berikutnya dengan meminta bagian anastesi
untuk melakukan konfirmasi penyelesaian pemeriksaan keamanan anastesi, dilakukan
dengan pemeriksaan peralatan anastesi, saluran untuk pernapasan pasien nantinya
(oksigen dan inhalasi), ketersediaan obat-obatan, serta resiko pada pasien setiap kasus.
d. Pengecekan pulse oximetri dan fungsinya
Koordinator checklist menegaskan bahwa pulse oksimetri telah ditempatkan pada pasien
dan dapat berfungsi benar sebelum induksi anastesi. Idealnya pulse oksimetri dilengkapi
sebuah sistem untuk dapat membaca denyut nadi dan saturasi oksigen, pulse oksimetri
sangat direkomendasikan oleh WHO dalam pemberian anastesi, jika pulse oksimetri
tidak berfungsi atau belum siap maaka ahli bedah anastesi harus mempertimbangkan
menunda operasi sampai alat-alat sudah siap sepenuhnya.
e. Konfirmasi tentang alergi pasien
Koordinator checklist harus mengarahkan pertanyaan ini dan dua pertanyaan berikutnya
kepada ahli anastesi. Pertama, koordinator harus bertanya apakah pasien memiliki
alergi? Jika iya, apa itu? Jika koordinator tidak tahu tentang alergi pada pasien maka
informasi ini harus dikomunikasikan.
f. Konfirmasi resiko operasi
Ahli anastesi akan menulis apabila pasien memiliki kesulitan jalan napas pada status
pasien, sehingga pada tahapan sign in ini tim bedah dapat mengetahuinya dan
mengantisipasi pemakaian jenis anastesi yang digunakan. Resiko terjadinya aspirasi
dievaluasi sebagai bagian dari penilaian jalan napas sehingga apabila pasien memiliki
gejala refluks aktif atau perut penuh, ahli anastesi harus mempersiapkan kemungkianan
terjadi aspirasi. Resiko aspirasi dapat dikurangi dengan cara memodifikasi rencana
anastesi, misalnya menggunakan teknik induksi cepat dan dengan bantuan asisten
memberikan tekanan krikoid selama induksi untuk mengantisipasi aspirasi pasien yang
telah dipuasakan enam jam sebelum operasi.
g. Konfirmasi resiko kehilangan darah lebih dari 500 ml (700ml/kg pada anak-anak)
Dalam langkah keselamatan, koordinator checklist meminta tim anastesi memastikan
apa ada resiko kehilangan darah lebih dari setengah liter darah selama operasi karena
kehilangan darah merupakan salah satu bahaya umum dan sangat penting bagi pasien
bedah, dengan resiko syok hipovolemik terjadi ketika kehilangan darah 500ml
(700ml/kg pada anak-anak), persiapan yang memadai dapat dilakukan dengan
perencanaan jauh-jauh hari dan melakukan resusitasi cairan saat pembedahan
berlangsung.

2. Intra Operasi (Time Out)


Time out adalah prosedur keselamatan pembedahan pasien yang dilakukan sebelum
dilakukan insisi kulit, time out dikoordinasi oleh salah satu dari anggota petugas kamar
operasi (dokter atau perawat). Saat time out setiap petugas kamar operasi
memeperkenalkan diri dan tugasnya, ini bertujuan agar diantara petugas operasi dapat
saling mengetahui dan mengenal peran masing-masing. Sebelum melakukan insisi petugas
kamar operasi dengan suara keras akan mengkonfirmasi mereka melakukan operasi dengan
benar, pasien yang benar, serta mengkonfirmasi bahwa antibiotik profilaksis telah
diberikan minimal 60 menit sebelumnya (Brunner & Suddarth, 2010). Menurut Brunner &
Suddarth (2010), langkah-langkah surgical safety checklist yang harus dikonfirmasi saat
pelaksanaan time out adalah:
Sebelum melakukan insisi atau sayatan pada kulit, jeda sesaat harus diambil oleh tim untuk
mengkonfirmasi bahwa beberapa keselamatan penting pemeriksaan harus dilakukan.
a. Konfirmasi nama dan peran anggota tim
Konfirmasi dilakukan dengan cara semua anggota tim memperkenalkan nama dan
perannya, karena anggota tim sering berubah sehingga dilakukan manajemen yang baik
yang diambil pada tindakan dengan resiko tinggi seperti pembedahan. Koordinator
harus mengkonfirmasi bahwa semua orang telah diperkenalkan termasuk staf,
mahasiswa, atau orang lain.
b. Anggota tim operasi melakukan konfirmasi secara lisan identitas pasien, sisi yang akan
dibedah, dan prosedur pembedahan.
Koordniator checklist akan meminta semua orang berhenti dan melakukan konfirmasi
identitas pasien, sisi yang kan dilakukan pembedahan, dan prosedur pembedahan agar
tidak terjadi kesalahan selama proses pembedahan berlangsung. Sebagai contoh,
perawat secara lisan mengatakan “sebelum kita melakukan sayatan pada kulit (time out)
apakah semua orang setuju bahwa ini adalah pasien X?, mengalami hernia inguinal
kanan?”. Ahli anastesi, ahli bedah, dan perawat secara eksplisit dan individual
mengkonfirmasi kesepakatan, jika pasien tidak dibius akan lebih mudah membantu
baginya untuk mengkonfirmasi hal yang sama.
c. Konfirmasi antibiotik profilaksis telah diberikan 60 menit terakhir
Koordinator checklist akan bertanya dengan suara keras apakah antibiotik profilaksis
telah diberikan dalam 60 menit terakhir, anggota tim yang bertanggung jawab dalam
pemberian antibiotik profilaksis adalah ahli bedah, dan harus memberikan konfirmasi
secara verbal. Jika antibiotik profilaksis telah diberikan 60 menit sebelum, tim harus
mempertimbangkan pemberian ulang pada pasien.
d. Antisipasi peristiwa kritis
Untuk memastikan komunikasi pada pasien dengan keadaan kritis, koordinaor checklist
akan memimpin diskusi secara cepat antara ahli bedah, ahli anastesi, dan perawat terkait
bahaya kritis dan rencana selama pembedahan.
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta setiap pertanyaan langsung dijawab, urutan
diskusi tidak penting, tetapi masing-masing disiplin klinis saling berkomunikasi, isi
diskusi meliputi:
1) Untuk dokter bedah: langkah kritis apa, berapa lama kasus ini dilakukan, dan
bagaimana antisipasi kehilangan darah. Diskusi langkah-langkah kritis ini
dimaksutkan untuk meminimalkan resiko pembedahan. Semua anggota tim mendapat
informasi tentang resiko kehilangan darah, cidera, morbiditas. Kesempatan ini juga
dilakukan untuk meninjau langkah-langkah yang mungkin memerlukan peralatan
khusus, implan, atau persiapan yang lainnya.
2) Untuk dokter anastesi: kekhawatiran pada pasien yang mungkin terjadi. Pada pasien
dengan resiko untuk kehilangan darah besar, ketidakstabilan hemodinamik, atau
morbiditas (seperti penyakit jantung, paru, aritmia, kelainan darah, dll), anggota tim
anastesi harus meninjau ulang rencana spesifik dan kekhawatiran untuk resusitasi
khususnya. Dalam diskusi ini dokter anastesi cukup mengatakan, “saya tidak punya
perhatian khusus mengenai hal ini”.
3) Untuk perawat: konfirmasi sterilitas (termasuk hasil indikator) masalah peralatan
atau masalah apapun. Perawat menanyakan kepada ahli bedah apakah alat-alat yang
diperlukan sudah diperlukan sehingga perawat dapat memastikan instrumen di kamar
operasi telah steril dan lengkap.
e. Pemeriksaan penunjang berupa foto perlu ditampilkan di kamar operasi
Ahli bedah memberi keputusan apakah foto penunjang diperlukan dalam pelaksanaan
operasi atau tidak.

3. Post Operasi (Sign Out)


Sign out adalah prosedur keselamatan pembedahan yang dilakukan oleh petugas kamar
operasi sebelum penutupan luka, dikoordinasi oleh salah satu anggota petugas kamar
operasi (dokter atau perawat). Saat sign out akan dilakukan review tindakan yang telah
dilakukan sebelumnya, dilakukan juga pengecekan kelengkapan spons, penghitungan
instrumen, pemberian label pada spesimen, kerusakan alat atau masalah yang perlu
ditangani, selanjutnya langkah akhir adalah memusatkan perhatian pada manajemen post-
operasi serta pemulihan pasien sebelum dipindah dari kamar operasi. Pemeriksaan
keamanan ini harus diselesaikan sebelum pasien meninggalkan kamar operasi, tujuannya
adalah untuk memfasilitasi transfer informasi penting kepada tim perawatan yang
bertanggung jawab untuk pasien setelah pembedahan (Brunner & Suddarth, 2010).
Menurut Brunner & Suddarth (2010), langkah-langkah surgical safety checklist yang harus
dikonfirmasi saat pelaksanaan sign out adalah :
a. Review pembedahan
Koordinator checklist harus mengkonfirmasikan dengan ahli bedah dan tim apa
prosedur yang telah dilakukan, dapat dilakukan dengan pertanyaan, “apa prosedur yang
telah dilakukan?” atau sebagai konfirmasi, “kami melakukan prosedur X, benar?”.
b. Penghitungan instrumen, spons, dan jumlah jarum
Perawat harus mengkonfirmasi secara lisan kelengkapan akhir instrumen, spons, dan
jarum, dalam kasus rongga terbuka jumlah instrumen dipastikan harus lengkap, jika
jumlah tidak lengkap maka tim harus waspada sehingga dapat mengambil langkah
(seperti memeriksa tirai, sampah, luka, atau jika perlu mendapatkan gambar radiografi).
c. Pelabelan spesimen
Pelabelan digunakan untuk pemeriksaan dianostik patologi. Salah melakukan pelabelan
berpotensi menjadi bencana untuk pasien dan terbukti menjadi salah satu penyebab
error pada laboratorium. Perawat sirkuler harus mengkonfirmasi dengan benar dari
setiap spesimen patologis yang diperoleh selama prosedur dengan membacakan secara
lisan nama pasien, deskripsi spesimen, dan setiap tanda berorientasi.
d. Konfirmasi masalah peralatan
Apakah ada masalah peralatan di kamar operasi yang bersifat universal sehingga
koordinator harus mengidentifikasi peralatan yang bermasalah agar instrumen atau
peralatan yang tidak berfungsi tidak menganggu jalannya pembedahan di lain hari.
e. Ahli bedah, ahli anastesi, dan perawat meninjau rencana pemulihan dan pengelolaan
pasien
Sebelum pasien keluar dari ruang operasi maka anggota tim bedah memberikan
informasi tentang pasien kepada perawat yang bertanggung jawab di ruang pemulihan
(recovery room), tujuan dari langkah ini adalah transfer efisien dan tepat informasi
penting untuk seluruh tim.
D. Daftar Pustaka
Black, J. M., & Jane, H. H. (2021). Keperawatan Medikal Bedah: Gangguan Sistem
Pencernaan 9th Indonesia Edition. Singapore: Elsevier.
Brunner., & Suddarth. (2010). Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Volume 2. Jakata; EGC
Haryono, Rudi. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta: Gosyen
Publishing.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan
Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Berbagai Kasus. Yogyakarta: Mediaction.
Potter., & Perry. (2010). Fundamental Of Nursing: Fundamental Keperawatan Buku 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Prihaningtyas, R. Aji. (2014). Deteksi dan Cepat Obati 30 + Penyakit yang Sering Menyertai
Anak. Yogyakarta: Media Pressindo. Diakses melalui
https://www.google.co.id/books/edition/Deteksi_dan_Cepat_Obati_30+_Penyakit_yan/
HL92DwAAQBAJ?
hl=id&gbpv=1&dq=appendicitis+adalah&pg=PA69&printsec=frontcover
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
Rukmono. 2011. Bagian Patologik Anatomik. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Sjamsuhidajat, R., & Wim D. Jong. (2014). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi. Jakarta:
EGC.
Smeltzer, S. C & Brenda G. Bare. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brurner &
Suddarath’s Edisi 8. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C & Brenda G. Bare. (2014). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth’s Edisi 10. Jakarta: EGC.
Wibisono, Elita., & Wifanto S. Joe. (2014). Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4. Jakarta: Media
Aesculapius.
Laporan Pendahuluan ini telah diperiksa:
Tanda Tangan Nama Preseptor Klinik: Catatan dan Penilaian Preseptor:

Nilai :
Hari/Tanggal: