Anda di halaman 1dari 6

Pertemuan 7

Perancangan Tempat Kerja


Pendekatan Ergonomi

I. Workstation
Workstation (stasiun kerja) adalah ruang kerja yang berorientasi pada pekerjaan
yang berhubungan dengan interaksi manusia terhadap peralatan secara fisik.
Workstation dirancang khusus sesuai dengan sebuah pekerjaan secara spesifik.
Workstation berperan banyak terhadap produktivitas dan kesuksesan sebuah
pekerjaan. Workstation yang kurang baik dapat berpotensi timbulnya kelelahan,
cedera, sakit, dan kesalahan kerja yang berujung pada menurunnya produktivitas kerja.
Ergonomi menjadi landasan pertimbangan dalam perancangan sebuah workstation
karena konsep workstation yang menekankan pada efektivitas dan produktivitas kerja
manusia yang diakomodasi oleh sebuah hubungan terintegrasi antara lingkungan kerja
dengan peralatan kerja yang terlibat di dalamnya. Perancangan workstation hendaknya
mempertimbangkan sisi ergonomis dengan porsi yang banyak, karena beberapa kasus
gagalnya sebuah workstation adalah karena pertimbangan sisi ergonomi yang kurang
baik.

II.Perancangan Tempat Kerja, Pengaturan Tata Letak, dan Fasilitas Kerja


Ada 14 panduan perancangan workstation. Panduan ini dicetuskan oleh Johnson Konz
(2000) sebagai panduan dan bahan diskusi untuk mendapatkan pemahaman terhadap
pertimbangan ergonomi yang harus diambil dalam sebuah perancangan workstation
yang aman dan efektif.

1. Hindari beban statis & postur kerja yang tetap.


Beban statis mengurangi suplai darah kepada bagian-bagian tubuh yang terbebani.
Suplai darah juga berkurang ke semua tubuh ketika beban statis dan postur kerja
yang tetap dilakukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dalam sebuah
workstation. Postur yang tetap dapat menyebabkan perubahan tekanan darah,
pemborosan metabolisme dalam otot, dan menambah waktu pemulihannya.

2. Kurangi trauma kumulatif yang tidak dikehendaki.


Trauma kumulatif memberi dampak bagian-bagian tubuh termasuk persendian
dan otot-otot, terutama dalam gerakan berulang-ulang dalam waktu yang panjang.
Tiga bagian tubuh yang umumnya terkena dampak trauma kumulatif adalah
bahu/leher, tangan/pergelangan dan punggung. Trauma kumulatif adalah cedera
yang disebabkan oleh beban/gerakan repetitif pada bagian tubuh.

3. Atur ketinggian tempat kerja 50 mm di bawah siku.


Ketinggian ini diatur agar siku berada sedikit di bawah jantung. Performa optimal
didapat di ketinggian ini dan penyimpangan 125 mm ke bawah sampai 25 mm ke
atas siku akan mengurangi performa kerja secara signifikan.

4. Lengkapi setiap pekerja dengan kursi yang dapat diatur (adjustable).


Tidak semua pekerja memiliki tinggi yang sama. Oleh karenanya kursi yang
adjustable harus dipertimbangkan sebagai bagian dari perancangan fisik sebuah
workstation. Tingkat kenyamanan setiap pekerja dapat diakomodasi oleh model
kursi seperti itu (adjustable) untuk meningkatkan produktivitas kerja

5. Di samping kaki, gunakan juga tangan.


Daya yang dikeluarkan kaki lebih besar daripada yang dikeluarkan tangan dan
bahu. Penggunaan kaki dan tangan penting untuk dipertimbangkan dalam
perancangan sebuah workstation karena kaki lebih mampu untuk bertahan
terhadap beban dalam jangka waktu yang lama dibandingkan dengan tangan dan
lengan.
6. Manfaatkan gravitasi, jangan melawannya.
Gravitasi dapat dimanfaatkan untuk memindahkan sesuatu dan menurunkan daya
yang digunakan untuk menarik sesuatu.

7. Hematlah daya/momentum.
Menghemat daya/momentum dapat menghindari konsumsi waktu dan energi yang
tidak perlu. Maksudnya adalah untuk menghindari percepatan (akselerasi) dan
perlambatan (dekselerasi) setiap komponen yang ada bila dimungkinkan.
Penghematan terhadap hal itu akan mengurangi ketegangan tambahan terhadap
tubuh dan mengurangi gerakan tiba-tiba pada tubuh.

8. Utamakan pergerakan dua tangan daripada satu tangan.


Efisiensi yang diperoleh dengan menggunakan dua tangan adalah 25% lebih
efisien daripada menggunakan satu tangan.

9. Gunakan gerakan bersamaan.


Gerakan tangan sebaiknya dibuat berlawanan dan simetris, serta harus dilakukan
secara serempak. Ini akan mengurangi ketegangan pada mata dan tangan.

10. Hindari mengubah-ubah gerakan tangan.


Detak jantung lebih tinggi ketika mengubah gerakan tangan daripada membiarkan
tangan melakukan gerakan yang sama secara simultan. Mengubah gerak tangan
juga menghasilkan gerak lebih pada bahu dan dapat menyebabkan cedera serta
ketegangan pada bagian-bagian tubuh.

11. Cukup gerakan poros siku.


Menggerakkan siku lebih ringan daripada menggerakkan seluruh tangan atau
bahu. Menggerakkan seluruh tangan lebih berat.
12. Gunakan tangan yang paling dominan/cenderung.
Tangan yang dominan 10% lebih cepat daripada tangan yang tidak dominan.
Gerakan tangan yang dominan juga lebih kuat ketika digunakan tetapi lebih
mungkin mengalami cedera (trauma kumulatif). Tujuannya adalah untuk
memudahkan kerja, terutama dalam gerakan menjangkau.

13. Jaga gerakan tangan dalam area kerja yang normal.


Area kerja didefiniskan sebagai bidang datar setinggi siku dengan jarak jangkau
ke atas atau ke bawah bidang tersebut. Siku merupakan titik statis saat terjadi
gerakan. Pekerjaan yang sering/utama seharusnya berada dalam jangkauan, dan
pekerjaan yang jarang/tidak utama boleh dijauhkan jaraknya

14. Wanita mungil dapat menjangkau, dan lelaki bongsor dapat cocok/pas.
Perancangan sebuah workstation harus dapat mengakomodasi beragam proporsi
tubuh, tidak hanya mengakomodasi dari hasil merata-ratakan ukuran proporsi
tubuh. Desain harus dapat mengakomodasi populasi terbanyak.

II. Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Manusia memiliki batas kemampuan fisik dan mental, yang tentunya harus
diakomodasi dalam sebuah perancangan sehingga tidak mengakibatkan kecelakaan pada
manusia. Manajemen kerja juga menjadi sangat penting sebagai salah satu cara di luar
pertimbangan fisikal work station untuk mengoptimalkan produktivitas kerja.
1. Kenyamanan kerja dapat dibangun melalui faktor iklim dalam ruangan (indoor
climate). Menurut Grandjean (1986) dalam Nurmianto (1998), indoor climate adalah
suatu kondisi fisik sekeliling tempat kita melakukan suatu aktivitas tertentu yang
meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. temperatur udara,
b. temperatur permukaan sekeliling,
c. kelembaban udara,
d. aliran perpindahan udara.
Keempat poin tersebut harus dirancang untuk disesuaikan dengan kebutuhan suhu
tubuh, sistem sekresi manusia, kebutuhan aerasi yang baik, dan gerakan-gerakan yang
dihasilkan manusia, sehingga tempat kerja menjadi nyaman dan sehat.
2. Kenyamanan kerja juga dapat dibangun melalui manajemen waktu kerja (shift kerja).
Menurut Eko Nurmianto (1998), perancangan shift kerja haruslah memperhatikan
dua hal berikut:
a. Kekurangan istirahat atau tidur hendaknya ditekan sekecil mungkin sehingga
dapat meminimumkan kelelahan.
b. Sediakan waktu sebanyak mungkin untuk kehidupan keluarga dan sosial.
Knauth (1988) dalam Nurmianto (1998) menyatakan bahwa ada lima faktor utama
dalam perancangan shift kerja, yaitu:
a. Jenis shift (pagi, siang, malam)
b. Panjang waktu tiap shift
c. Waktu dimulai dan diakhirinya satu shift
d. Distribusi waktu istirahat
e. Arah transisi shift
Masih dalam Nurmianto (1998), ada lima kriteria dalam mendesain suatu kerja
shift:
a. Setidaknya ada jarak 11 jam antara permulaan dua shift yang berurutan.
b. Seorang tidak boleh kerja tujuh hari atau lebih berturut-turut. Sebaiknya 5 hari
kerja 2 hari libur dalam satu minggu.
c. Sediakan libur akhir pekan setidaknya dua hari.
d. Rotasi shift mengikuti matahari.
e. Buat jadwal yang mudah diingat dan sederhana.

III. Kesimpulan

Keselamatan kerja dan kesehatan kerja tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada
perhitungan numerik dan pertimbangan faktor fisikal peralatan saja, tetapi faktor -
faktor humani, baik secara fisik maupun mental, juga harus dipertimbangkan secara
apik. Integrasi sistem manajemen yang baik dan desain/perancangan ruang kerja yang
benar dapat mengoptimalkan sebuah sekenario pekerjaan dalam sebuah workstation
untuk menghasilkan sebuah produktivitas kerja yang tinggi.
Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu
dalam keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai
tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak.
Pihak pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan sebagai lembaga yang
bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan,
petunjuk teknis dan pedoman K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas
program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaannya.

DAFTAR PUSTAKA

 Konz, Stephan, Johnson, Steven. 2000. Work Design: industrial ergonomics.


Scottsdale: Holcomb Hathaway.
 Nurmianto, Eko. 2008. Ergonomi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Edisi Kedua.
Surabaya: Penerbit Guna Widya.
 Workstation Design. Bahan Ajar Desain Mebel 2 Program Studi Desain Produk.
Bandung: Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia.