Anda di halaman 1dari 139

LAPORAN PRAKTIKUM

PERCOBAAN KE – I (SATU)

PEMERIKSAAN RHEUMATOID FACTORS (RF)

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presiliana A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I A.Md., A,K

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF)

II. Tujuan Percobaan


1. Mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan pemeriksaan
Rheumatoid Factor (RF).
2. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan pemeriksaan Rheumatoid
Factor (RF).
3. Untuk mengetahui adanya Rheumatoid Factor (RF) dalam serum yaitu
immunoglobin antibodi yang dapat mengikat antibodi lainnya.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF)
adalah Aglutinasi Latex.

IV. Prinsip
Faktor rheumatoid serum (RF) menyebabkan aglutinasi yang terlihat pada
slide suspensi partikel lateks yang dilapisi dengan gamma globulin
manusia.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Kartu Tes
2. Stik Pengaduk
3. Pipet Tetes
4. Rotator
b. Bahan
1. Sampel serum
2. Reagen : suspek latex partikel dengan gamma-globulin, sodium
azide 0.95 g/L, glycine buffer 100 mmol/L, pH 8,2.
3. Kontrol Negatif : Serum Containing RF < 30 IU/mL.
4. Kontrol Positif : Human serum containing RF > 30 IU/mL.
5. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Di bawa reagen uji dan sampel ke suhu kamar (Catatan 2).
2. Di tempatkan 50 µL sampel dan 1 tetes setiap Kontrol ke dalam
lingkaran terpisah pada kartu test.
3. Dikocok botol lateks (A) dengan lembut berulang kali sampai partikel
lateks benar-benar pulih. Dipegang botol Reagen (A) dalam posisi
vertikal dan tambahkan 1 tetes Reagen (A) ke setiap lingkaran di
sebelah sampel yang akan diuji (Catatan 3).
4. Dicampur dengan pengaduk sekali pakai dan sebarkan ke seluruh area
yang tertutup ring. Gunakan stik pengaduk baru untuk setiap sampel.
5. Diputar kartu pada 100 r.p.m. selama 2 menit.

VII. Nilai Rujukan


1. Dewasa : penyakit inflamasi kronis; 1/20-1/80 positif untuk keadaan
rheumatoid arthritis dan penyakit lain; >1/80 positif untuk rheumatoid
arthritis.
2. Anak : biasanya tidak dilakukan.
3. Lansia : sedikit meningkat
(Nilai rujukan mungkin bisa berbeda untuk tiap laboratorium,
tergantung metode yang digunakan).
Periksa keberadaan aglutinantion yang terlihat dalam satu menit setelah
mengeluarkan kartu dari rotator (Catatan 4).

Hasil positif :
Adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan konsentrasi RF 2 30 IU/mL.
Sera positif mungkin terulang. Untuk titer, buat pengenceran dua kali lipat
secara serial dalam 9 g/L NaCl. Titer serum didefinisikan sebagai
pengenceran tertinggi yang menunjukkan hasil positif. Perkiraan
konsentrasi RF dalam sampel dapat diperoleh dengan mengalikan titer
dengan 8 IU/mL (Catatan 5).

Hasil negatif :
Tidak adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan konsentrasi RF <30
IU/mL.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Tidak adanya aglutinasi)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan pertama ini yang berjudul “Pemeriksaan
Rheumatoid Factor (RF)” praktikan diharapkan mampu mengetahui, memahami
serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) dan
mampu menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan
mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Radang sendi atau artritis reumatoid (bahasa Inggris: Rheumatoid
Arthritis, RA) merupakan  penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat
tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan
peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian,
biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang  pada membran
sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.
Penderita RA selalu menunjukkan simtoma ritme sirkadia dari sistem kekebalan
neuroindokrin. RA umumnya ditandai dengan adanya beberapa gejala yang
berlangsung selama minimal 6 minggu, yaitu :
1. Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi
hari
2. Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan
3. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan
4. Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada
sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang sendi
pergelangan tangan. Pada tahap yang lebih lanjut, RA dapat dikarakterisasi
juga dengan adanya nodul-nodul rheumatoid, konsentrasi rheumatoid faktor
(RF) yang abnormal dan perubahan radiografi yang meliputi erosi tulang.

Rematik (Osteoartritis) istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani,


rheumatimos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari
otak ke sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau
dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeridan kaku pada sistem
muskuloskletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat. Penyakit
rematik yang sering disebut arthtritis (radang sendi) adalah penyakit yang
mengenai otot-otot skelet, tulang, ligamentum, tendon, dan persendian pada laki-
laki maupun wanita dengan segala usia.
Reumatik adalah penyakit yang mengenai jaringan sendi dan cenderung
menahun biasanya mengenai daerah pergelangan kaki, lutut, siku, dan pinggang.
Reumatoid tergolong pada penyakit autoimun non organ spesifik yang disebabkan
oleh kelainan sendi terjadi akibat pertumbuhan sel sinovial yang merusak tulang
dan tulang rawan. Membrane sinovial menjadi hiperseluler karena terjadi
penimbunan sebagian besar limfosit dalam berbagai stadium aktivitas yang tinggi.
Interaksi antara sel tersebut menyebabkan pembentukan imunoglobulin dan faktor
rheumatoid.
Penyakit rematik adalah penyakit inflamasi non-bakterial yang bersifat
sistemik  progressif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat
sendi secara simetris. Rhematoid arthritis adalah penyakit sistemik kronis
terutama menyerang sendi-sendi, biasanya dengan prubahan-perubahan
degeneratif dan pereadangan di dalam selaput synopial, tulang rawan dan otot-
otot. Diagnosis arthritis rhematoid dikatakan  positif apabila sekurang-kurangnya
4 dari 6 kriteria ini terpenuhi. 4 dari kriteria tersebut harus telah berlangsung
selama sekurang-kurangnya 6 minggu. Banyak kenyataan bahwa faktor tersebut
terdiri dari suatu kelompok antibodi dari kelas IgM, yang diarahkan terhadap
antigen iksites pada IgA, terdapat kenyatan bahwa pada rhematoid arthritis
plasma Rf terdiri dari tiga tipe. Sampel plasma tidak dapat digunakan karena
fibrinogen dalam plasma dapat menyebabkan hasil aglutinasi non-spesifik.
Berikut ini adalah perbedaan sendi normal, osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.
Faktor rheumatoid adalah suatu makroglobulin dalam serum yang
memiliki sifat antibodi terhadap IgG. Selain dapat bereaksi dengan IgG dalam
serum manusia, faktor rheumatoid dapat juga bereaksi dengan IgG dalam serum
kelinci. Faktor rheumatoid yang hanya bereaksi dengan IgG manusia biasanya
terdapat pada penderita arthritis rheumatoid, tetapi mungkin juga terdapat pada
penderita non rheumatoid dan beberapa penyakit lain, seperti hepatitis, sehingga
pengujian ini tidak spesifik.
Faktor reumatoid (rheumatoid factor, RF) adalah immunoglobulin yang
bereaksi dengan molekul IgG. Karena penderita juga mengandung IgG dalam
serum, maka RF termasuk autoantibodi. Faktor penyebab timbulnya RF ini belum
diketahui pasti, walaupun aktivasi komplemen akibat adanya interaksi RF dengan
IgG memegang peranan yang penting pada rematik artritis (rheumatoid arthritis,
RA) dan penyakit-penyakit lain dengan RF positif. Sebagian besar RF adalah
IgM, tetapi dapat juga berupa IgG atau IgA.
RF positif ditemukan pada 80% penderita rematik artritis. Kadar RF yang
sangat tinggi menandakan prognosis yang buruk dengan kelainan sendi yang berat
dan kemungkinan komplikasi sistemik.
RF sering dijumpai pada penyakit autoimun lain, seperti LE, scleroderma,
dermatomiositis, tetapi kadarnya biasanya lebih rendah dibanding kadar RF pada
rematik arthritis. Kadar RF yang rendah juga dijumpai pada penyakit non-
imunologis dan orang tua (di atas 65 tahun). Uji RF tidak digunakan untuk
pemantauan pengobatan karena hasil tes sering dijumpai tetap positif, walaupun
telah terjadi pemulihan klinis. Selain itu, diperlukan waktu sekitar 6 bulan untuk
peningkatan titer yang signifikan. Untuk diagnosis dan evaluasi RA sering
digunakan tes CRP dan ANA.
Oleh karena itu untuk mendeteksi faktor rheumatoid ada baiknya
dilakukan dua jenis pengujian bersama-sama yaitu pengujian terhadap adanya anti
IgG manusia dan pengujian terhadap adanya IgG kelinci (tes Rose Waaler).
Kedua jenis pengujian ini dpaat dilakukan dengan cara aglutinasi pasif dengan
mereaksikan serum penderita dengan carrier yang disensitisasi dengan IgG yang
berasal dari serum manusia maupun serum kelinci. Sebagai carrier daoat
digunakan bermacam-macam partikel namun yang disukai adalah lateks dan
eritrosit.
Faktor risiko dalam peningkatan terjadinya RA diantaranya adalah jenis
kelamin perempuan, genetik atau riwayat keluarga, usia, gaya hidup seperti
merokok, dan konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari, khususnya kopi
decaffeinated. Obesitas juga merupakan salah satu faktor risiko.
Hasil penelitian Wiyono tahun 2010 mengatakan bahwa dimana jenis
kelamin perempuan tiga kali lebih banyak dari laki-laki, dan kelompok umur
terbanyak adalah pada usia 55 tahun dapat mengalami Rheumatoid arthtritis.
Penyebab perempuan lebih memiliki resiko terkena rheumatoid arthtritis yaitu
karena perempuan memiliki hormon estrogen. Hormon estrogen ini berpotensi
untuk menimbulkan system imun yang tidak baik, jadi sistem imun yang
seharusnya normal menjadi tidak normal. Autoimun sendiri merupakan kondisi di
mana sistem imun salah mengenal dan justru menyerang jaringan tubuh sendiri.
Imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang balik, termasuk ke
sendi. Sehingga sendi bereaksi dengan peradangan seperti bengkak, merah, panas,
dan nyeri. Banyaknya sel-sel yang kemudian terlibat juga membuat pasien
menjadi demam dan sendinya sulit digerakkan.
Sistem hormonalnya dapat mempengaruhi penyakit sendi. Hal ini
merupakan faktor risiko yang tidak dapat dicegah karena di dalam tubuh
perempuan memiliki sistem estrogen. Hormon estrogen pada dasarnya memberi
pengaruh terhadap kondisi autoimun. Penyakit autoimun adalah penyakit yang
disebabkan oleh kelainan pada sistem imun tubuh. Sistem tersebut keliru
mengenali jaringan tubuh sendiri sehingga jaringan itu justru diserang sistem
imun. Contoh penyakit tersebut antara lain, rematoid artritis dan lupus. Pada
reumatoid artitis perbandingan jumlah pasien perempuan dan laki-laki adalah 4:1.
Hal ini berarti ada 4 perempuan yang mengalami reumatoid artitis, baru ada 1 laki
–laki yang mengalami reumatoid artritis.
Uji RF untuk serum penderita diperiksa dengan menggunakan metode
latex aglutinasi atau nephelometry. Faktor rematoid dalam darah diukur dengan
n2 cara yaitu sebagai berikut :
a. Tes Aglutinasi

Suatu metode aglutinasi, dimana darah dicampurkan dengan partikel lateks


yang dilapisi oleh antibodi IgG manusia.jika darah tersebut mengandungr
rematoid factor, larutan lateks tersebut akan membentuk gumpalan atau
aglutinasi. Metode ini baik digunakan sebagai tes  pertama atau penyaring. Jenis
tes aglutinasi lain yaitu dengan menggunakan reagen dari darah domba yang
dilapisi oleh antibodi kelinci. Jika sampel mengandung RF, maka akan terbentuk
aglutinasi. Metode ini biasanya digunakan untuk tes konfirmasi.

b. Tes Nephelometry

Pada metode ini, darah yang telah di tes dicampur dengan antibodi reagen. Saat
sinar laser melalui cuvet yang mengandung campuran tersebut, akan terukur
berapa banyak cahaya yang dapat di halangi oleh sampel dalam cuvet. Makin
tinggi kadar RF, makin banyak gumpalan yang terbentuk, sehingga sampel
menjadi keruh, sehingga lebih sedikit cahaya yang dapat melalui cuvet. Gejala
klinik dari RA antara lain nyeri sendi, pembengkakan sendi, pergerakan terbatas,
kekakuan sendi, dan cepat lelah. diagnosa RA dapat ditegakkan jika memenuhi 4
dari 6 kriteria dibawah ini :

1. Nyeri sendi pada pagi hari,


2. Artristis pada 3 sendi atau lebih 3
3. Artritis pada sendi tangan.
4. Artritis yang bersifat simetris.
5. Serum RF positif.
6. Perubahan radiologo pada sendi. Indikasi tes RF terutama digunakan untuk
membantu mendiagnosis arthritis rematoid. Walaupun RF tidak sensitive
ataupun spesifik untuk RA, tetapi 80% pasien arthritis rheumatoid memiliki
RF yang positif.
Dari praktikum yang telah dilakukan yaitu pemeriksaan RF (Rheumatoid
Faktor) menggunakan metode aglutinasi latex didapatkan hasil pengamatan 1
sampel serum probandus A.N Maya Linda Shafira yang berjenis kelamin
perempuan dan berumur 19 tahun adalah negatif (-) yang artinya sampel
probandus tidak mengandung Faktor Rheumatoid atau tidak adanya aglutinasi
yang terlihat menunjukkan konsentrasi RF <30 IU/mL.

Keterbatasan Prosedur
Kekuatan aglutinasi dalam tes pengecekan tidak bersifat indikatif dari titer aktual
RF. Waktu reaksi yang lebih dari 3 menit dapat menghasilkan reaksi positif yang
nampak semu, ini karena efek pengeringannya. Serum lipemic atau yang telah
terkontaminasi dapat dengan menghasilkan reaksi positif semu.

Masalah Klinis
PENINGKATAN KADAR : rematik arthritis, LE, dermatomiositis, scleroderma,
mononucleosis infeksiosa, leukemia, tuberculosis, sarkoidosis, sirosis hati,
hepatitis, sifilis, infeksi kronis, lansia.

Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :


1. Hasil uji RF sering tetap didapati positif, tanpa terpengaruh apakah telah
terjadi pemulihan klinis.
2. Hasil uji RF bisa positif pada berbagai masalah klinis, seperti penyakit
kolagen, kanker, sirosis hati.
3. Lansia dapat mengalami peningkatan titer RF, tanpa menderita penyakit
apapun.
4. Akibat keanekaragaman dalam sensitivitas dan spesifisitas uji skrining ini,
temuan positif harus diinterpretasikan berdasarkan bukti yang terdapat dalam
status klinis pasien.
X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Radang sendi atau Reumatoid Arthritis (RA) merupakan  penyakit autoimun
(penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan
tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada
sendi.
2. Faktor reumatoid (rheumatoid factor, RF) adalah immunoglobulin yang
bereaksi dengan molekul IgG. Karena penderita juga mengandung IgG dalam
serum, maka RF termasuk autoantibodi.
3. Interpretasi hasil dari pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) dengan
menggunakan metode aglutinasi latex, pada sampel probandus A.N Maya
Linda Shafira adalah negatif, hal tersebut menunjukkan bahwa sampel
probandus tidak mengandung Faktor Rheumatoid atau tidak adanya aglutinasi
yang terlihat (RF <30 IU/mL).

XI. Daftar Pustaka


1. Masyeni, Ketut Ayu Manik. (2018). Rheumatoid Arthtritis. Jurnal
Pengalaman Belajar Lapangan. Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana.
2. Suarjana, I.N. (2009). Artritis Reumatoid. dalam Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S. (editor). Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, FKUI, Jakarta, pp.2495-508.
3. Gordon, N. F. 2002. Radang Sendi. Jakarta: PT Raja Grafindo.
4. Renowati. (2017). Modul Praktikum Imunoserologi I. Laboratorium
Patologi Prodi DIII Analis Kesehatan STIKes Perintis Sumbar.
5. Harti, A. S. 2006. Imunologi Serologi II. Surakarta: Fakultas Biologi D
III Analis Kesehatan USB.
6. Mansjoer, A. dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Media
Aesculapius. Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
7. Price, S. A. 1999. Patofisiologi 2, Jakarta: EGC.
8. Roit, I. M. 1985. Pokok-pokok Ilmu Kekebalan. Jakarta: EGC
9. Sacher, R. A. 2004. Tinjauan Klinis Hasil Laboratorium. Jakarta:
EGC.
10. Widmann, F. K.1995. Tinjauan Klinis Atas Pemeriksaan
Laboratorium. Jakarta: EGC.

XII. Lampiran

Sampel
Reagen Rheumatoid Factor (RF) Hasil Pemeriksaan (Tidak terjadi aglutinasi)
LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – II (DUA)

PEMERIKSAAN C-REACTIVE PROTEIN (CRP)

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presiliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP)

II. Tujuan Percobaan


1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan CRP.
2. Untuk mendeteksi adanya infeksi kerusakan jaringan dan inflamasi.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan C-Reaktif Protein (CRP)
adalah Aglutinasi Latex.

IV. Prinsip
Serum C-reactive protein (CRP) pada 6 mg/L atau lebih tinggi
menyebabkan aglutinasi yang terlihat pada slide suspensi partikel lateks
yang dilapisi dengan anti huma C-reactive protein.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Kartu Tes
2. Stik Pengaduk
3. Pipet Tetes
4. Stopwatch/time

b. Bahan
1. Sampel : Serum
2. Reagen : Suspen latex partikel dengan anti-human C-reactive
protein, sodium azide 0.95 g/L, borate buffer 100 mmol/L, pH 8,2.
3. Kontrol Negatif : Serum containing CRP < 6 mg/L.
4. Kontrol Positif : Serum manusia containing CRP > 6 mg/L.
5. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Di bawa reagen uji dan sampel ke suhu kamar (Catatan 2).
2. Di tempatkan 50 µL sampel dan 1 tetes setiap Kontrol ke dalam
lingkaran terpisah pada kartu tes.
3. Dikocok botol lateks (A) dengan lembut berulang kali sampai partikel
lateks benar-benar pulih. Dipegang botol Reagen (A) dalam posisi
vertikal dan tambahkan 1 tetes Reagen (A) ke setiap lingkaran di
sebelah sampel yang akan diuji (Catatan 3).
4. Dicampur dengan pengaduk sekali pakai dan sebarkan ke seluruh area
yang tertutup ring. Gunakan stik pengaduk baru untuk setiap sampel.
5. Diputar kartu pada 100 r.p.m. selama 2 menit.

VII. Nilai Rujukan


Periksa keberadaan aglutinantion yang terlihat dalam satu menit setelah
mengeluarkan kartu dari rotator

Hasil Positif : Adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan konsentrasi


PCR dalam sampel >6 mg/L. Sera positif mungkin terulang. Untuk titer,
buat pengenceran dua kali lipat secara serial dalam 9 g/L NaCl. Titer
serum didefinisikan sebagai pengenceran tertinggi yang menunjukkan
hasil positif. Perkiraan konsentrasi PCR dalam sampel dapat diperoleh
dengan mengalikan titer dengan 6 mg/L.

Hasil Negatif : Tidak adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan


kandungan CRP <6 mg/L.
VIII. Hasil Pengamatan
1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Tidak adanya aglutinasi)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kedua kali ini yang berjudul “Pemeriksaan C-
Reactive Protein (CRP)” praktikan diharapkan mampu mengetahui, memahami
tentang C-reactive protein (CRP) serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan
C-reactive protein (CRP) dan mampu menginterpretasikan hasil yang diperoleh
dari pemeriksaan ini, bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan
praktikum ini.
CRP dinamakan demikian karena pertama kali ditemukan sebagai bahan
dalam serum pasien dengan peradangan akut yang bereaksi dengan polisakarida
C-(kapsuler) dari pneumococcus. Ditemukan oleh Tillett dan Francis pada tahun
1930. Pada awalnya diperkirakan bahwa CRP adalah sekresi patogen seperti
meningkatnya CRP pada orang dengan berbagai penyakit termasuk kanker,
namun, penemuan sintesis hati menunjukkan bahwa CRP adalah protein asli.
C-reactive protein (CRP) adalah biomarker yang menjadi komponen utama
pada reaksi inflamasi. Protein plasma ini berasal dari hati, dimana konsentrasinya
meningkat dengan cepat sehingga menjadi sistem ikmarker selama cedera
jaringan, inflamasi atau infeksi Ansar Peningkatan kadar CRP dalam darah dapat
dijumpai pada gangguan muskulo skeletal pada ekstremitas atas.
C-reactive protein merupakan protein yang kadarnya pada serum dapat
meningkat, tidak hanya pada respon inflamasi akut, melainkan juga pada respon
inflamasi kronik. Kadar CRP dapat merefleksikan kadar inflamasi yang terjadi,
dan secara kuat berhubungan dengan berbagai penyakit. Kadar CRP dapat
meningkat pada beberapa penyakit seperti angina pectoris, perokok, usia lanjut,
dan pasien dengan penyakit metabolik.
CRP merupakan salah satu dari beberapa protein yang sering disebut
sebagai protein fase akut dan digunakan untuk memantau perubahan-perubahan
dalam fase inflamasi akut yang dihubungkan dengan banyak penyakit infeksi dan
penyakit autoimun. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana didapatkan adanya
reaksi radang atau kerusakan jaringan (nekrosis), yaitu baik yang infektif maupun
yang tidak infektif. Kadar CRP dalam serum dapat meningkat sampai 1000 kali.
C-reactive protein sebagai penanda biokimia respon inflamasi dan cedera
jaringan distimulasi oleh produk sisitokin proinflamasi. Sitokin proinfalamasi
terutama interleukin-6 (IL-6) menjadi komponen inflamasi baik pada cedera
neuronal maupun jaringan sinovial. Penelitian oleh Ramirez pada tahun 2008
menunjukkan IL-6 memainkan peranan dalam regenerasi akson setelah cedera
saraf tepi dan berkontribusi pada respon seluler secara keseluruhan.
C-Reactive Protein (CRP) adalah protein fase akut yang ada dalam serum
normal. Protein tersebut akan meningkat secara signifikan jika terjadi kerusakan
jaringan, infeksi bakteri dan virus, inflamasi, dan malignant neoplasia.
Konsentrasi CRP pada serum normal biasanya kurang dari 12 mg/L, sedangkan
tingkat CRP yang dapat menunjukkan hasil positif biasanya setara atau lebih
tinggi dari 330 mg/L. Konsentrasi CRP dapat meningkat menjadi 300 mlU/L
dalam 12-24 jam jika dalam tubuh terjadi nekrosis jaringan dan inflamasi yang
disebabkan oleh infeksi mikroba. CRP juga dapat dideteksi pada pasien yang
mengalami transfusi darah, operasi bedah, luka bakar, dan pemphigus vulgaris.
Pemantauan rutin kadar CRP sering digunakan sebagai sarana untuk menilai
aktivitas penyakit dan penuntun terapi. Pada pemeriksaan ini serum yang
digunakan merupakan hasil sentrifugasi gumpalan darah yang baru dan bersih.
Sampel disimpan pada suhu 2-8ºC selama 48 jam. Untuk jangka waktu yang lebih
lama harus disimpan pada kondisi beku. Serum haematic, lipaemic, atau
terkontaminasi harus dibuang. Pemeriksaan CRP dilakukan dengan menguji
suspensi partikel lateks yang dilapisi antibodi anti-CRP manusia melawan serum
yang tidak diketahui. Kehadiran aglutinasi mengindikasikan adanya peningkatan
kadar CRP ke tingkat klinis yang signifikan. Reagen latex CRP sudah
distandardisasi untuk mendeteksi CRP serum diatas atau setara dengan 6 μg/ml
yang dianggap konsentrasi terendah signifikansi klinis. Hasil dinyatakan positif
jika terbentuk aglutinasi selama dua menit. Kehadiran aglutinasi mengindikasi
tingkat CRP dalam sampel lebih dari atau sama dengan 6 mg/L sedangkan tidak
adanya aglutinasimengindikasi tingkat CRP kurang dari 6 mg/L. Konsentrasi CRP
yang tinggi dalam sampel dapat memberikan hasil negatif (prozone effect).
Sampel perlu duji ulang menggunakan tetesan sampel sekitar 20 μl. Haemoglobin
(10 g/L), bilirubin (20 mg/dL), dan lipemia (10 g/L) tidak akan mengganggu
pemeriksaan. Rheumatoid factor yang lebih besar dari 100 IU/ml dapat
mengganggu pemeriksaan. Hasil pemeriksaan ini harus didukung dengan kondisi
klinis.
Beberapa keadaan dimana CRP dapat dijumpai meningkat adalah radang
sendi (rheumatoid arthritis), demam rematik, kanker payudara, radang usus,
penyakit radang panggung (pelvic inflammatory disease, PID), penyakit Hodgkin,
SLE, infeksi bakterial. CRP juga meningkat pada kehamilan trimester akhir,
pemakaian alat kontrasepsi intrauterus dan pengaruh obat kontrasepsi oral.
Dalam waktu yang reaktif singkat setelah terjadinya reaksi radang akut
atau kerusakan jaringan. Sintesa dan sekresi dari CRP meningkat dengan tajam
dan hanya dalam waktu 12-48 jam setelah mencapai nilai puncaknya. Kadar dari
CRP akan menurun dengan tajam bila proses peradangan atau kerusakan jaringan
mereda dalam 24-48 jam telah mencapai harga normalnya kembali.
Pada penentuan CRP, maka CRP dianggap sebagai antigen yang akan
ditentukan dengan menggunakan suatu antibodi spesifik yang diketahui (antibodi
anti-CRP). Dengan suatu antisera yang spesifik, CRP (merupakan antigen yang
larut) dalam serum mudah dipresipitasikan. Prosedur Tes CRP dapat dilakukan
secara manual menggunakan metode aglutinasi atau metode lain yang lebih maju,
misalnya sandwich imunometri. Tes aglutinasi dilakukan dengan menambahkan
partikel latex yang dilapisi antibodi anti CRP pada serum atau plasma penderita
sehingga akan terjadi aglutinasi. Untuk menentukan titer CRP, serum atau plasma
penderita diencerkan dengan buffer glisin dengan pengenceran bertingkat (1/2,
1/4, 1/8, 1/16 dan seterusnya) lalu direaksikan dengan latex.
Titer CRP adalah pengenceran tertinggi yang masih terjadi aglutinasi. Tes
sandwich imunometri dilakukan dengan mengukur intensitas warna menggunakan
Nycocard Reader. Berturut-turut sampel (serum, plasma, whole blood) dan
konjugat diteteskan pada membran tes yang dilapisi antibodi mononklonal
spesifik CRP. CRP dalam sampel ditangkap oleh antibodi yang terikat pada
konjugat gold colloidal particle. Konjugat bebas dicuci dengan larutan pencuci
(washing solution). Jika terdapat CRP dalam sampel pada level patologis, maka
akan terbentuk warna merah-coklat pada area tes dengan intensitas warna yang
proporsional terhadap kadar. Intensitas warna diukur secara kuantitatif
menggunakan Nyco Card reader II.
Pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) pada penelitian ini mengunakan
Metode Aglutinasi Lateks. Prinsip pemeriksaan CRP dengan metode Aglutinasi
lateks adalah antibodi yang disalutkan pada partikel untuk menentukan adanya
antigen di dalam spesimen serum. Pada pengujian ini dilakukan dengan
menambahkan suspensi partikel lateks yang dilapisi dengan antibodi anti-human
CRP kepada spesimen serum yang diuji. Dengan adanya aglutinasi yang terlihat
mengindikasikan adanya peningkatan kadar CRP ke tingkat klinis yang signifikan.
Nilai rujukan dalam serum manusia yang sehat biasanya lebih rendah dari
6 mg/L, sedikit meningkat dengan penuaan. Tingkat yang lebih tinggi ditemukan
pada akhir hamil wanita, peradangan dengan ringan dan infeksi virus dengan nilai
10-40 mg/L, pada peradangan aktif, infeksi bakteri memiliki 40-200 mg/L, dan
untuk kasus infeksi barat oleh bakteri dan luka bakar mendapatkan nilai >200
mg/L dalam darah.
Dari praktikum yang telah dilakukan yaitu pemeriksaan RF (Rheumatoid
Faktor) menggunakan metode aglutinasi latex didapatkan hasil pengamatan pada
sampel serum probandus A.N Maya Linda Shafira yang berjenis kelamin
perempuan dan berumur 19 tahun adalah negatif, hal tersebut menunjukkan bahwa
tidak adanya aglutinasi yang terlihat pada sampel probandus menunjukkan
kandungan CRP <6 mg/L.
Kadar CRP serum ini merupakan inkubator non-spesifik yang cukup baik
untuk proses-proses peradangan/kerusakan jaringan, terutama sebagai cermindari
keadaan akut/aktivitas dari penyakit. Di klinik penentuan CRP sering digunakan
untuk :
1. Test penyaring pada penyakit genetik Peningkatan kadar CRP serum
menunjukkan adanya proses peradangan atau kerusakan jaringan yang aktif.
Jadi, dapat digunakan sebagai kriteria untuk menentukan adanya penyakit
organic.
2. Penentuan aktivitas penyakit pada proses peradangan. Aselaritas dan
linearitas yang tajam dari CRP serum pada penyakit-penyakit
radang/kerusakan jaringan merupakan kriteria yang sensitif untuk
menentukan aktivitas dari penyakit dan untuk menilai hasil pengobatan.
Namun, bagaimanapun juga peningkatan CRP serum merupakan suatu reaksi
yang tidak spesifik. Jadi, hanya dapat digunakan sebagai pembantudiagnosis
untuk melengkapi data-data klinik.
3. Membantu diagnosa dan evaluasi hasil pengobatan pada penyakit infeksi.
Penentuan CRP serum amat bermanfaat sebagai parameter untuk pengelolaan
penderita dengan septicemia dan meningitis pada masaneonates dima
pemeriksaan mikrobiologis sukar dikerjakan.
4. Diagnosa banding beberapa penyakit. Penentuan kadar CRP serum dapat
menjadi parameter pembantu dalam diagnose banding beberapa penyakit
seperti SLE dan Rhematoidarthritis, atau arthritis lain. Infeksi oleh bakteri
dengan infeksi oleh virus dan penyakit lain.
5. Membantu menegakkan diagnosa bagi mati jantung. Peningkatan kadar CRP
berarti infark transmural daripada yang non-transnural. Umumnya kadar CRP
serum mencapai.
6. Puncaknya. Pada waktu 50-60 jam setelah rasa nyeri yang maksimal. Pada
waktu yang mana biasanya telah kembali normal.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi akurasi pemeriksaan C-Reaktif


Protein antara lain :
1. Aktivitas/latihan yang berlebihan
Aktivitas yang berlebihan dapat menimbulkan cedera jaringan. Selain itu
latihan atau aktivitas yang berlebihan dapat meningkatkan panas tubuh
dimana kemungkinan terburuk adalah terjadinya heat stoke. Suhu tubuh yang
tinggi cenderung menggadakan semua reaksi kimia intraseluler, sehingga
pada pemeriksaan CRP kadarnya meningkat.
2. Penggunaan terapi hormon
Misalnya kontrasepsi oral yaitu terapi untuk mencegah kehamilan dengan
mengubah siklus reproduksi. Terapi ini biasanya memberikan hasil positif
palsu pada pemeriksaan CRP. Reaksi ini akan dikenali sebagai reaksi
inflamasi walaupun sebenarnya tidak terjadi proses peradangan.
3. Penggunaan IUD
Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim biasanya akan menimbulkan reaksi
peradangan karena masukknya benda asing dalam tubuh akan merangsang
respon inflamasi, sehingga kadar CRP dalam darah meningkat.
4. Hamil
Reaksi hormonal yang terjadi pada wanita hamil akan dikenali sebagai reaksi
inflamasi. Sehingga pada pemeriksaan CRP kadarnya akan meningkat. Range
normal kadar CRP wanita hamil <20 mg/l.
5. Obesitas
Obesitas berhubungan dengan hipertensi dan penyakit jantung. Pemeriksaan
CRP sangat sensitive terhadap penyakit jantung.
6. Penggunaan obat-obatan anti inflamasi non steroid, aspirin, atau
kortikosteroid.
Obat-obatan antiinflamasi akan menekan respon peradangan. Sehingga dapat
memberikan hasil negative palsu.
7. Penggunaan pravastin, obat-obat penurun kolesterol.
Profil lemak dalam darah sangat berhubungan dengan resiko penyakit jantung
koroner dan stroke dimana sangat berhubungan dengan reaksi peradangan.
Penggunaan obat- obat penurun kolesterol menurunkan resiko penyakit
jantung koroner dan stroke, sehingga kadar CRP dalam darah juga berkurang.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi sumber kesalahan pada pemeriksaan
CRP, yaitu :
1. Harus dibaca selambat-lambatnya dalam waktu 5 menit sebab aglutinasi non-
spesifik dapat terjadi bila test mengering.
2. Serum yang lipemik dapat menyebabkan hasil yang positif palsu.
3. Reagensia latex CRP harus disimpan pada suhu 2°C-8ºC dan dikocok dengan
baik sebagai dipakai.
4. Botol reagensia CRP harus ditutup rapat, sebab dapat mengakibatkan
terjadinya flokulasi reagen mengering.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. CRP merupakan salah satu dari beberapa protein yang sering disebut sebagai
protein fase akut dan digunakan untuk memantau perubahan-perubahan dalam
fase inflamasi akut yang dihubungkan dengan banyak penyakit infeksi dan
penyakit autoimun.
2. Pemeriksaan CRP adalah test penyaring pada penyakit genetik Peningkatan
kadar CRP serum, yang digunakan untuk menunjukkan adanya proses
peradangan atau kerusakan jaringan yang aktif.
3. Interpretasi hasil dari pemeriksaan CRP dengan menggunakan metode
aglutinasi latex, pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira adalah
negatif/tidak terjadi aglutinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat
C-Reactive Protein pada sampel probandus.

XI. Daftar Pustaka


1. Marsetio Donosepoetra. 2003. Imunoasai Terapan Pada Beberapa
Penyakit Infeksi. Airlangga University Perss.
2. Pentingnya Pemeriksaan Apo B & hsCRP, Laboratorium Klinik
Prodia. Diakses pada 18 Agustus 2013.
3. C-Reactive Protein: From Pneumococcal Pneumonia to Cardiovascular
Disease Risk, The Rockefeller University. Diakses pada 18 Agustus
2013.
4. Gambino R. 2003. C-Reactive Protein. Undervalued,
Underutilized.Clinical Chemistry: 43, No. 11.
5. Markers of Inflammation and Cardiovascular Disease: Application to
Clinical and Public Health Practice: A Statement for Healthcare
Professionals From the Centers for Disease Control and Prevention
and the American Heart Association, Pearson TA, et al. 2003.
Circulation107:499-511.

XII. Lampiran

Sampel

Reagen CRP Hasil Pemeriksaan CRP


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – III (TIGA)

PEMERIKSAAN ANTI-STREPTOLYSIN O (ASO)

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan Anti-Streptolysin O (ASO)

II. Tujuan
1. Untuk pemeriksaan darah yang berfungsi sebagai mengukur kadar
antibodi terhadap streptolisin O pada suatu zat yang dihasilkan oleh
bakteri Streptococcus kelas A.
2. Untuk dapat melakukan pemeriksaan ASO Latex pada serum pasien
secara kualitatif dan semi kuantitatif.
3. Untuk mengetahui adanya antibodi Anti-Streptolysin O (ASO) dalam
serum pasien secara kualitatif dan semi-kuantitatif.
4. Mengetahui adanya antibody terhadap Streptococcus beta hemolisa
yang dapat menimbulkan penyakit reumatik, tonsillitis dan
glomerulonephritis.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF)
adalah Aglutinasi Latex.

IV. Prinsip
Serum anti-streptolysin O (ASO) pada 200 IU / mL atau lebih tinggi
menyebabkan aglutinasi yang terlihat pada slide suspensi partikel lateks
yang dilapisi dengan streptolysin O.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Rotator
2. Kartu Tes
3. Stik Pengaduk

b. Bahan
1. Sampel serum
2. Reagen : suspensi partikel lateks putih dilapisi dengan streptolysin
O, natrium azida 0.95 g/L. buffer amonium klorida 200 mmol/L. pH
8.2.C
3. Kontrol Negatif : Serum yang mengandung ASO <200 IU/mL
4. Kontrol Positif : Serum manusia yang mengandung ASO >200 IU/m

VI. Cara Kerja


1. Di bawa reagen uji dan sampel ke suhu kamar (Catatan 2).
2. Di tempatkan 50 µL sampel dan 1 tetes setiap Kontrol ke dalam
lingkaran terpisah pada kartu tes.
3. Dikocok botol lateks (A) dengan lembut berulang kali sampai partikel
lateks benar-benar pulih. Dipegang botol Reagen (A) dalam posisi
vertikal dan tambahkan 1 tetes Reagen (A) ke setiap lingkaran di
sebelah sampel yang akan diuji (Catatan 3).
4. Dicampur dengan pengaduk sekali pakai dan sebarkan ke seluruh area
yang tertutup ring. Gunakan stik pengaduk baru untuk setiap sampel.
5. Diputar kartu pada 100 r.p.m. selama 2 menit.

VII. Nilai Rujukan


Periksa keberadaan aglutinasi yang terlihat dalam satu menit setelah
mengeluarkan kartu dari rotator (Catatan 3)

Hasil Positif : Adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan konsentrasi


ASO dalam sampel ≥ 200 IU / mL. Sera positif mungkin terulang. Untuk
titer, buat pengenceran dua kali lipat secara serial dalam 9 g/L NaCl. Titer
serum didefinisikan sebagai pengenceran tertinggi yang menunjukkan
hasil positif. Perkiraan konsentrasi ASO dalam sampel dapat diperoleh
dengan mengalikan titer dengan 200 IU/mL.

Hasil Negatif : Tidak adanya aglutinasi yang terlihat menunjukkan


kandungan ASO <200 IU / mL.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Tidak adanya aglutinasi)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan ketiga kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
Anti Streptolisin O (ASTO)” praktikan diharapkan mampu mengetahui,
memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan Anti Streptolisin O
(ASTO) dan mampu menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan
ini, bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Streptococcusbeta-hemolitik menghasilkan beberapa jenis antigen
intraseluler dan ekstraseluler yang dapat merangsang pembentukan antibodi dalam
darah penderita. Sebagai contoh streptolisin O yang dibentuk oleh grup A dan
dapat menyebabkan lisis eritrosit, streptokinase yang dapat mengkatalisis
perubahan plasminogen menjadi plasmin , enzim-enzim deoksiribonuklease B,
hialuronidase, dan beberapa jenis enzim lain. Diantara antigen –antigen itu yang
paling penting adalah streptolisin O, karena 80% penderita yang terinfeksi dengan
Streptococcusbeta hemolitik grup A menunujukkan peningkatan titer ASO dalam
darahnya. Penetapan titer ASO menjadi penting karena infeksi karena
Streptococcusdapat menyebabkan komplikasi lain. Atau secara tidak langsung
menimbulkan respons imunologik yang menimbulkan yang mengakibatkan
kelainan dalam tubuh seperti demam rematik, glomerulonephritis akut, eritema
nodosum.
Anti Streptolisin O (ASTO) merupakan antibodi terhadap antigen
streptolisin O yang dihasilkan oleh bakteri Streptococcus ß hemolyticus grup A.
Pemeriksaan Anti Streptolisin O (ASTO) yaitu pemeriksaan darah yang berfungsi
untuk mengetahui antibodi terhadap streptolisin O yang di hasilkan oleh
Streptococcus grup A. Penetapan kadar anti streptolisin O merupakan
pemeriksaan utama untuk menentukan apakah sebelumnya pernah terinfeksi oleh
Streptococcus ß hemolyticus grup A yang menyebabkan komplikasi penyakit post
Streptococcus. Infeksi yang ditimbulkan Streptococcus ß hemolyticus grup A
dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, sepertiradang tenggorokan (tonsil),
faringitis, impetigo, erysipelas, demam nifas, demam berdarah (scarlet fever),
nekrosis fitis (necrotizing fascitis), toxicshock syndrome, septikemia.
Anti streptolisin O adalah suatu antibodi yang di bentuk oleh tubuh
terhadap suatu enzim proteolitik. Streptolisin O yang diproduksi oleh β-hemolitik
Streptococcus A group A dan mempunyai aktivitas biologic merusak dinding sel
darah merah serta mengakibakan terjadinya hemolisis. Anti streptolisin O adalah
toksin yang merupakan dasar sifat β-hemolitik organisme ini. Streptolisin O ialah
racun sel yang berpotensi mempegaruhi banyak tipe sel termasuk netrofil,
platelets dan organel sel, menyebabkan respon imun dan penemuan antibodinya.
Anti-Streptolisin O bisa digunakan secara klinis untuk menegaskan infeksiyang
baru saja. Streptolisin O bersifat meracuni jantung (kardiotoksik).
Streptolisin O adalah suatu toksin yang terdiri protein dengan berat
molekul 60.000 dalton, aktif dalam suasana aerob yaitu melisiskan sel darah
merah secara in vitro dengan  berbagai tingkatan. Toksin ini menyebabkan
terbentuknya zat anti streptolisin O (ASO) dalam darah. Jika titer ASO diatas 166,
maka dapat berarti bahwa baru terjadi infeksi Streptococcus yang telah lama
dengan kadar yang tinggi. Penetapan ASO umumnya hanya memberi petunjuk
bahwa telah terjadi infeksi oleh Streptococcus. Streptolisin O  bersifat sebagai
hemolisin. 80% penderita yang terinfeksi Streptococcus β -haemolyticus  pada
umumnya menunjukkan peningkatan titer anti streptolisin O (ASO) di dalam
darahnya. Penetapan titer ASO ini sangat penting karena infeksi Streptococcus
dapat menyebabkan komplikasi lain atau secara tidak langsung menimbulkan
imunologik yang mengakibatkan kelainan tubuh seperti demam rematik,
GNA/ginjal akut, eritema nodoma, dan lain-lain.
Streptokokus grup A (Streptokokus beta hemolitik) dapat menghasilkan
berbagai produk ekstraseluler yang mampu merangsang pembentukan antibodi.
Antibodi itu tidak merusak kuman dan tidak memiliki daya perlindungan, tetapi
adanya antibodi tersebut dalam serum menunjukkan bahwa di dalam tubuh baru
saja terdapat Streptokokus yang aktif. Antibodi yang terbentuk adalah
Antistreptolisin O, Antihialuronidase (AH), antistreptokinase (Anti-SK), anti-
desoksiribonuklease B (AND-B), dan anti nikotinamid adenine dinukleotidase
(anti-NADase). Demam rematik merupakan penyakit vascular kolagen
multisystem yang terjadi setelah infeksi Streptokokus grup A pada individu yang
memiliki faktor predisposisi. Penyakit ini masih merupakan penyebab terpenting
penyakit jantung didapat (acquired heart disease) pada anak dan dewasa muda di
banyak negara terutama Negara berkembang. Keterlibatan kardiovaskuler pada
penyakit ini ditandai oleh adanya inflamasi endokardium dan mmiokardium
melalui suatu proses autoimun yang menyebabkan kerusakan jaringan.Serangan
pertama demam reumatik akut terjadi paling sering antara umur 5–15 tahun.
Demam reumatik jarang menyerang anak dibawah umur lima tahun. Demam
reumatik akut menyertai faringitis Streptokokus beta hemolitik grup A yang tidak
diobati. Pengobatan yang tuntas terhadap faringitis akut hampir meniadakan
risiko terjadinya demam reumatik.Diperkirakan hanya 3% dari individu yang
belum pernah menderita demam reumatik akan menderita komplikasi ini setelah
menderita faringitis Streptokokus yang tidak diobati. ASTO (Anti Streptolisin O)
merupakan antibodi yang paling banyak dikenal dan paling sering digunakan
untuk indikator terdapatnya infeksi Streptokokus. Lebih kurang 80% penderita
demam reumatik menunjukan peningkatan titer antibodi terhadap Streptokokus.
Penelitian menunjukkan bahwa komponen Streptokokus yang lain memiliki
rekativitas bersama dengan jaringan lain. Ini meliputi reaksi silang imunologik di
antara karbohidrat Streptokokus dan glikoprotein katup, diantaranya membran
protoplasma Streptokokus dan jaringan saraf subtalamus serta nuclei kaudatus dan
antara hialuronat kapsul dan kartilago artikular.

Ada dua prinsip dasar penetuan ASTO, yaitu:


1.    Netralisasi/penghambat hemolisis
Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel darah merah, akan tetapi
bila Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan serum penderita yang
mengandung cukup anti streptolisin O sebelum di tambahkan pada sel darah
merah, maka streptolisin O tersebut akan di netralkan oleh ASO sehingga tidak
dapat menibulkan hemolisis lagi.
Pada tes ini serum penderita di encerkan secara serial dan di tambahkan
sejumlah streptolisin O yang tetap (Streptolisin O di awetkan dengan sodium
thioglycolate). Kemudian di tambahkan suspensi sel darah merah 5%. Hemolisis
akan terjadi pada pengenceran serum di mana kadar/titer dari ASO tidak cukup
untuk menghambat hemolisis tidak terjadi pada pengencaran serum yang
mengandung titer ASO yang tinggi.

2.    Aglutinasi pasif


Streptolisin O merupakan antigen yang larut. Agar dapatmenyebabkan
aglutinasi dengan ASO. Maka Streptolisin O perlu disalutkan pada partikel-
partikel tertentu. Partikel yang sering dipakai yaitu partikel lateks. Sejumlah
tertentu Streptolisin O (yang dapat mengikat 200 IU/ml ASO) di tambahkan pada
serum penderita sehingga terjadi ikatan Streptolisin O– anti Strepolisin O (SO –
ASO).
Bila dalam serum penderita terdapat ASO lebih dari 200 IU/ml, maka sisa
ASO yang tidak terikat oleh Streptolisin O akan menyebabkan aglutinasi dari
streptolisin O yang disalurkan pada partikel–partikel latex . Bila kadar ASO dalam
serum penderita kurang dari 200 IU / ml , maka tidak ada sisa ASO bebas yang
dapat menyebabkan aglutinasi dengan streptolisin O pada partikel – partikel latex.
Tes hambatan hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup baik,
sedangkan tes aglutinasi latex memiliki sensitivitas yang sedang. Tes aglutinasi
latex hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas 200 IU/ml.
Uji latex ASTO merupakan prosedur aglutinasi. Dikembangkan untuk
deteksi langsung semi kuantitatif secara klinis antibodi anti streptolisin Odalam
serum. Pengujian dilakukan dengan menguji suspensi partikel lateks yang dilapisi
dengan antigen O streptolisin terhadap serum. ada atau tidak adanya aglutinasi
yang terlihat, menunjukkan ada atau tidaknya ASTO dalam sampel yang diuji.
Dari praktikum yang telah dilakukan yaitu pemeriksaan Anti-Streptolysin
O (ASO) menggunakan metode aglutinasi latex didapatkan hasil pengamatan pada
sampel serum probandus A.N Maya Linda Shafira yang berjenis kelamin
perempuan dan berumur 19 tahun adalah negatif, hal tersebut menunjukkan bahwa
tidak adanya aglutinasi yang terlihat pada sampel probandus menunjukkan
kandungan ASO <200 IU / mL.

Keterbatasan prosedur pemeriksan ASO/ASTO :


Penentuan ASO tunggal tidak menghasilkan banyak informasi. Oleh karena itu
disarankan agar titrasi kasus dilakukan pada interval dua mingguan selama 4
sampai 6 minggu untuk memastikan perjalanan penyakit.
X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Anti Streptolisin O (ASTO) merupakan antibodi terhadap antigen streptolisin
O yang dihasilkan oleh bakteri Streptococcus ß hemolyticus grup A.
2. Pemeriksaan Anti Streptolisin O (ASTO) yaitu pemeriksaan darah yang
berfungsi untuk mengetahui antibodi terhadap streptolisin O yang di hasilkan
oleh Streptococcus grup A.
3. Interpretasi hasil dari pemeriksaan ASO/ASTO dengan menggunakan metode
aglutinasi latex, pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira adalah
negatif/tidak terjadi aglutinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak
terdapat ASO/ASTO pada sampel probandus.

XI. Daftar Pustaka


1. ASO LATEX TEST KIT. Plasmatec Laboratory Products a Laboratory
21 Group Company.2013
2. Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Medica
Aesculpalus. FKUI. Jakarta.2010
3. Aini F., Djamal A., & Usman, E. Identifikasi Carrier Bakteri
Streptococcus ß hemolyticus Group A pada Murid SD Negeri 13
Padang Berdasarkan Perbedaan Umur dan Jenis Kelamin. Jurnal
Kesehatan Andalas,2016;5 (1):1-6
XII. Lampiran

Sampel

Reagen ASO/ASTO

Hasil Pemeriksaan ASO/ASTO


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – IV (EMPAT)

PEMERIKSAAN RPR (RAPID PLASMA REAGIN)

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I. A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan RPR (Rapid Plasma Reagin)

II. Tujuan
1. RPR Carbon antigen digunakan dalam tes nontreponemal untuk deteksi
kualitatif dan semi-kuantitatif sifilis menggunakan serum (dipanaskan
atau tidak dipanaskan) dan plasma atau untuk mendeteksi adanya
antibodi non-treponemal pada serum manusia.
2. Untuk mengetahui metode yang sensitif dan spesifik guna membantu
diagnosis penyakit Sifilis.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF)
adalah Aglutinasi Latex.

IV. Prinsip
Tes Rapid Plasma Reagin atau RPR Card adalah metode non-treponemal
untuk deteksi serologis sifilis. Antigen-suspensi karbon partikulat yang
dilapisi dengan kompleks lipid menggumpal dengan adanya reagen serum.
Reagen adalah antibodi yang terdapat dalam serum pasien sifilis.
Aglutinasi yang terlihat berupa gumpalan hitam yang dapat dilihat secara
makroskopik, menunjukkan adanya antibodi tersebut pada sampel yang
diuji.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Mikropipet 50μL
2. Rotator
3. Kartu tes
4. Stir drop

b. Bahan
1. Sampel serum
2. RPR Carbon Antigen
3. Kontrol Positif (Serum manusia Sodium Azide 0.95 g/L)
4. Kontrol Negatif (Serum binatang Sodium Azide 0.95 g/L)

VI. Cara Kerja


a) Prosedur Test : Tes Kualitatif
1. Di bawa reagen dan sampel ke suhu kamar.
2. Di tempatkan 50 µL sampel dan saya jatuhkan kontrol menjadi
terpisah lingkaran di kartu.
3. Di tangguhkan kembali antigen dengan hati-hati.
4. Ditambahkan satu tetes antigen jatuh bebas ke setiap lingkaran uji.
5. Dicampur dengan pipet/pengaduk sekali pakai dan oleskan ke seluruh
bagian area yang dikelilingi oleh ring.
6. Digunakan pengaduk baru untuk setiap sampel. Putar kartu pada 100
b.p.m. selama 8 menit

b) Test Semi-Kuantitatif
1. Digunakan pipet semi-otomatis, tambahkan larutan garam ke dalam
lingkaran 2. 3, 4, dan 5. Jangan oleskan larutan garam.
2. Ditambahkan 50 µL sampel pasien ke lingkaran 1 dan 2.
3. Dicampur garam dan sampel dalam lingkaran 2 dengan cara menarik
campuran ke atas dan ke bawah dengan hati-hati untuk menghindari
pembentukan gelembung.
4. Di pindahkan 50 µL dari lingkaran 2 ke saline di lingkaran 3.
5. Di lakukan pengenceran serial dengan cara yang sama sampai
lingkaran terakhir, disgarding 50 µL di akhir.
6. Digunakan pipet/pengaduk, sebarkan sampel yang telah diencerkan ke
seluruh area setiap lingkaran mulai dari lingkaran 5 dan ke belakang
sampai sampel rapi di lingkaran 1.
7. Di lanjutkan sebagai tes kualitatif dari langkah 3.

c) RPR Kualitatif jangan sampai Microlitre Plates:


1. Dengan menggunakan pelat mikrotitrasi dasar datar, tambahkan 50ul
sampel pasien.
2. Ditambahkan satu tetes antigen karbon
3. Diputar pada Rotator Mekanis selama 20 menit pada 50 r.p.m.
4. Di bacalah secara makroskopis, baik di atas kotak lampu atau di bawah
lampu pijar intensitas tinggi di atas permukaan putih.

VII. Nilai Rujukan

Aglutinasi yang Teramati Bacaan Melaporkan

Gumpalan Sedang dan Besar R Reaktif

Gumpalan Kecil W Reaktif Lemah

Tidak ada penggumpalan atau N Non-Reaktif


sangat sedikit “kekasaran”
VIII. Hasil Pengamatan
1. Nama Probandus : Supri
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 20 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Non-Reaktif (Tidak ada penggumpalan atau sangat
sedikit “kekasaran”)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan keempat kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
RPR (Rapid Plasma Reagin)” praktikan diharapkan mampu mengetahui,
memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan RPR dan mampu
menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Sifilis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram
Negatif Treponema pallidum. Mikroorganisme ini dapat menyebabkan kerusakan
pada hati dan jantung serta dapat melepaskan beberapa fragmen jaringan.
Kerusakan tersebut menyebabkan sistem imun tubuh menghasilkan reagin. Reagin
adalah kelompok antibodi yang dapat mengenali beberapa komponen jaringan
rusak dari pasien yang terinfeksi oleh T. pallidum. Uji RPR adalah uji aglutinasi
non treponema untuk mendeteksi keberadaan reagin dalam serum manusia.
Pemeriksaan ini berdasarkan pada reaksi aglutinasi yang terjadi antara partikel
karbon yang dilapisi kompleks lipid dengan reagen yang berada dalam sampel
pasien yang terkena sifilis. Uji RPR ini merupakan uji yang non spesifik untuk
sifilis. Semua sampel yang reaktif harus diuji kembali dengan metode TPHA dan
FTA-ABS untuk mengkonfirmasi hasil. Hasil strong reactive (reaktif kuat)
ditandai dengan terbentuknya aglutinasi dalam jumlah yang sangat banyak
sedangkan hasil weak reactive (reaktif lemah) ditandai dengan terbentuknya
aglutinasi pada permukaan papan aglutinasi dengan jumlah yang sangat sedikit.
Hasil false positive (positif palsu) ditemu pada penyakit seperti infeksi
mononukleosis, pneumonia, toksoplamosis, kehamilan, dan autoimun.
Haemoglobin (10 g/L), bilirubin (20 mg/dL), dan lipid (10 g/L) tidak akan
mengganggu pemeriksaan. Rheumatoid factor dengan konsentrasi 300 IU/ml
dapat mengganggu pemeriksaan. Hasil yang baik didapatkan dengan
menggabungkan data laboratorium dan gejala klinis.
Sifilis adalah penyakit veneral yang disebabkan oleh mikroorganisme
spirochaete Treponema pallidum. Karena organisme tidak dapat dibiakkan pada
media buatan, diagnosis sifilis tergantung pada korelasi data klinis dengan deteksi
antibodi spesifik dengan tes serologis. Tes antigen VDRL adalah non-Treponemal
yang berarti antibodi yang terdeteksi tidak spesifik untuk Treponema Pallidum,
meskipun keberadaannya sangat menunjukkan infeksi oleh organisme. Tes
mengukur antibodi (IgG dan IgM) yang diproduksi sebagai respons terhadap
bahan lipoidal yang dilepaskan dari sel inang yang rusak serta lipoprotein seperti
bahan yang dilepaskan oleh spichaetes. Setelah pengobatan sukses titer antibodi
akan jatuh dengan cepat. Tes skrining serologis untuk sifilis menggunakan
kardiolipin dan lesitin sebagai antigen mudah dilakukan tetapi dapat menimbulkan
proporsi kecil hasil positif palsu karena sebagaimana dinyatakan di atas, tes
menggunakan antigen non-Treponemal. VDRL antigen partikel karbon adalah
bentuk modifikasi dari VDRL Antigen yang mengandung partikel mikro karbon.
Ini dirancang untuk digunakan dalam tes flokulasi untuk sero diagnosis sifilis.
Partikel karbon membantu pembacaan makroskopik hasil. Hasil reaktif yang
lemah dapat dengan mudah dan jelas dibedakan dari pola nonreaktif yang
menunjukkan tampilan makroskopik halus. Antigen ini cocok untuk digunakan

baik dalam tes slide manual dan tes reagen otomatis.


Metode definitif untuk mendiagnosis sifilis dilakukan dengan pemeriksaan
mikroskop lapangan gelap terhadap eksudat dari chancre pada sifilis primer dan
lesi mukokutis pada sifilis sekunder serta uji antibodi fluoresens langsung. Uji
serologi lebih mudah, ekonomis, dan lebih sering dilakukan. Terdapat dua jenis
uji serologi yaitu :
1) Uji nontreponema, termasuk uji VDRL dan RPR.
2) Uji treponema, termasuk FTA-ABS dan TP-PA.
Uji nontreponemal yang paling sering dilakukan adalah uji VDRL dan
RPR. Kedua pemeriksaan tersebut digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap
antigen yang terdiri dari kardiolipin, kolesterol, dan lesitin yang sudah
terstandardisasi. Uji serologi nontreponemal ini adalah uji yang dianjurkan untuk
memonitor perjalanan penyakit selama dan setelah pengobatan, karena
pemeriksaannya mudah, cepat dan tidak mahal.
Uji flokulasi RPR digunakan untuk menentukan antibodi nontreponemal
(regain). Antigen yang digunakan pada pengujian terdiri dari cardiolipin dan
lechitin yang diekstraksi dari jantung sapi dan dimurnikan kemudian
disuspensikan dlaam alcohol. Untuk mempermudah reaksi, ke dalam suspensi
antigen dlam alcohol ditambahkan kolesterol. Reagin mempunyai daya sifat
mengubah daya larut antigen sehingga timbul flokulasi.
RPR adalah salah satu pemeriksaan non-Troponemal untuk sifilis untuk
mendeteksi nonspesifik antibodi (reagin) dalam darah pasien. Pemeriksaan RPR
dilakukan dengan menggunakan metode immunoassay. Pada metode
immunoassay ini dilakukan secara aglutinasi yaitu ikatan antigen dan antibodi
pada serum penderita.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) masih
merekomendasikan bahwa tes reagin non-Treponemal digunakan sebagai
pendekatan diagnostik lini pertama. Dua jenis non-Treponemal tes telah banyak
digunakan : VDRL dan RPR. RPR adalah tes non-Treponemal baris pertama yang
paling umum digunakan untuk mendeteksi infeksi sifilis.
Uji RPR lebih mudah, cepat, dan sensitif dibandingkan dengan Uji
treponemal lainnya. Uji RPR baik untuk menilai respon terapi. Uji RPR lebih
mahal dibanding Uji VDRL. Uji RPR harus dikonfirmasi dengan Uji Serologi
Treponemal yang lebih sensitif yaitu Uji  Flourescent Treponemal Antibody
Absorption (FTA-ABS) atau Treponema  pallidum Particle Aglutination (TP-PA).
Uji rapid plasma reagin (RPR) 18-mm circle card merupakan pemeriksaan
makroskopis, menggunakan kartu  flocculationnon treponemal. Antigen dibuat
dari modifikasi suspensi antigen VDRL yang terdiri dari choline chloride, EDTA
dan  partikel charcoal. Antigen RPR dicampur dengan serum yang dipanaskan
atau tidak dipanaskan, atau plasma yang tidak dipanaskan diatas kartu yang
dilapisi  plastik. Pemeriksaan RPR mengukur antibodi IgM dan IgG terhadap
lipoidal, dihasilkan dari kerusakan sel host sama seperti lipoprotein, dan mungkin
kardiolipin dihasilkan dari treponema. Antibodi antilipoidal merupakan antibodi
yang diproduksi tidak hanya dari pasien sifilis dan penyakit treponemal lainya,
tetapi juga sebagai respons terhadap penyakit nontreponemal akut dan kronik
yang menyebabkan kehancuran jaringan. Jika di dalam sampel ditemukan
antibodi, maka akan berikatan dengan partikel lipid dari antigen membentuk
gumpalan. Partikel charcoal beraglutinasi dengan antibodi dan kelihatan seperti
gumpalan di atas kartu putih. Apabila antibodi tidak ditemukan didalam sampel,
maka akan kelihatan campuran berwarna abu-abu.
Rapid Plasma Reagin (RPR) adalah salah satu pemeriksaan non
troponemal untuk sifilis untuk mendeteksi non-spesifik antibodi (reagin) dalam
darah pasien. Pemeriksaan Rapid Plasma Reagin dilakukan dengan menggunakan
metode immunoasai. Pada metode immunoasai ini dilakukan secara aglutinasi
yaitu ikatan antigen dan antibodi pada serum pasien.
Tes RPR adalah efektif tes skrining, karena sangat baik dalam mendeteksi
orang tanpa gejala yang terkena sifilis. Namun tes mungkin menunjukkan bahwa
seorang menderita sifilis yang dalam kenyataannya tidak (misalnya, jika
menghasilkan positif palsu). Positif palsu dapat terjadi pada infeksi virus tertentu
(Epstein Barr, hepatitis, varisela, campak), tuberkulosis, malaria, endokarditis,
penyakit jaringan ikat, penyakit autoimun, atau kontaminasi. Sehubungan hal
tersebut, tes skrining ini harus selalu diikuti dengan tes treponemal yang lebih
spesifik. Pengujian didasarkan pada antibodi monoklonal dan immuno
fluorescence, termasuk Treponema pallidum hemaglutination (TPHA) dan
fluorescent treponemal antibodi penyerapan (FTA-ABS) yang lebih spesifik
namun relatif lebih mahal. Pengujian didasarkan pada immunoassay enzim-linked
juga digunakanuntuk mengkonfirmasi hasil tes skrining sifilis.
Uji antibodi non troponema RPR digunakan terutama untuk menapis
pasien untuk sifilis dan untuk memantau respons terhadap pengobatan sifilis.
Pemeriksaan RPR merupakan pemeriksaan antibodi non troponema yang sering
dilakukan pada saat ini untuk mendeteksi dini sifilis pada seorang pasien.
Pemeriksaan RPR ini ditujukan kepada antibodi reagin yang terbentuk dari sel
pejamu yang rusak atau mungkin dari treponema itu sendiri
Selain skrining sifilis, tingkat RPR (juga disebut "titer") dapat digunakan
untuk melacak perkembangan penyakit dari waktu ke waktu dan responnya
terhadap terapi. Tes RPR adalah efektif tes skrining, karena sangat baik dalam
mendeteksi orang tanpa gejala yang terkena sifilis. Namun tesmungkin
menunjukkan bahwa orang memiliki sifilis yang dalam kenyataannya tidak
(misalnya, mungkin menghasilkan positif palsu), karena banyak keadaan yang
dapat menyebabkan hasil uji “positif-palsu biologis”. Maka uji RPR yang positif
pada seorang pasien yang tidak sedang diterapi untuk sifilis harus dikonfirmasi
dengan uji untuk antibodi treponema.
Prinsip daripada tes Rapid Plasma Reagin (RPR) adalah yang dimana
sebuah tes yang berdasarkan atas reaksi flokasi non treponemal yang digunakan
untuk mendeteksi antibodi reagin yang timbul pada penyakit sifilis. Antigen RPR
yang digunakan dalam kit ini adalah modifikasi dari antigen VDRL dimana
mengandung partikel karbon khusus untuk memperbesar perbedaan antara hasil
positif dengan negatif secara visual.
Dari hasil percobaan praktikum yang telah dilaksanakan untuk mengetahui
hasil pemeriksaan Rapid Plasma Reagin (RPR) dengan menggunakan metode
Aglutinasi Latex pada probandus A.N Supri yang berjenis kelamin laki-laki dan
berumur 20 tahun, maka dari sampel probandus tersebut diperoleh hasil yang non
reaktif. Hal tersebut menunjukkan bahwa sampel probandus Non-reaktif (tidak
ada penggumpalan) dari penyakit sifilis atau pada penyakit infeksi yang lainnya.
Non-reaktif sampel probandus tersebut sama seperti yang ditunjukkan gambar
dibawah ini.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Rapid Plasma Reagin (RPR) adalah salah satu pemeriksaan non troponemal
untuk sifilis untuk mendeteksi non-spesifik antibodi (reagin) dalam darah
pasien.
2. Pemeriksaan RPR dilakukan dengan menggunakan metode immunoassay.
Pada metode immunoassay ini dilakukan secara aglutinasi yaitu ikatan
antigen dan antibodi pada serum penderita.
3. Interpretasi hasil dari pemeriksaan RPR dengan menggunakan metode
aglutinasi latex, pada sampel probandus A.N Supri adalah tidak terjadi
aglutinasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa sampel probandus Non-Reaktif
dari penyakit sifilis atau pada penyakit infeksi yang lainnya.

XI. Daftar Pustaka


1. Human Diagnostic. 2016. Manual Kit Instruction Reagen RPR.
2. Prince SA, Wilson LM., 2006, Sifilis dalam Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses  Penyakit 6th, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
4. Atnam S., 2005, The Laboratory Diagnosis of Syphilis. Can J Infect Dis
Med Microbiol, Canadian STI Best Practice Laboratory Guidelines,
Canada.
5. Julyani Sri. 2009. ASPEK IMUNOLOGI PENYAKIT
SIFILIS.Makassar:Jurnal Kesehatan Masyarakat Madani
6. Handojo Indro. 2004.Imunoasay Terapan Pada Beberapa Penyakit
Infeksi.Surabaya : Airlangga University Press.
7. Dwi Murtiastutik, Dr., SpKK. 2008.Buku Ajar Infeksi Menular
Seksual.Surabaya : Airlangga University Press.
8. Kresno Siti Boedina. 2010.Imunologi : Diagnosis dan Prosedur
Laboratorium (ed.5).Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
9. Sacher Ronald A., Mc Pherson Richard A.2004.Tinjauan Klinis Hasil
Pemeriksaan Laboratorium (ed.11).Jakarta :EGC.
XII. Lampiran

Sampel

Reagen RPR dan Hasil Pemeriksaan


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – V (LIMA)

PEMERIKSAAN WIDAL (KUALITATIF DAN


SEMIKUANTITATIF)

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan Widal (Kuantitatif dan Semikuantitatif)

II. Tujuan
Untuk mendeteksi penyakit tifus atau demam tifoid.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF)
adalah Aglutinasi.

IV. Prinsip
Salmonella Febrile Antigen adalah suspensi standar dari bakteri yang
diwarnai yang disiapkan untuk deteksi cepat dan semi-kuantitatif antibodi
serum yang dikembangkan selama tahap akut penyakit. Antigen
menggumpal dengan adanya antibodi homolog dalam sampel yang diuji.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Kaca Slide
2. Pengaduk
3. Pipet Tetes
4. Mikropipet

b. Bahan
1. Sampel : Serum
2. Reagen : S.typhi , S.typhi H, S.paratyphi AH, S.paratyphi BH
3. Tissue
VI. Cara Kerja
a) Prosedur Uji Kualitatif
1. Dibawa reagen dan sampel ke suhu kamar.
2. Di tempatkan 50 µL atau satu tetes sampel dan 1 dari setiap kontrol ke
dalam lingkaran terpisah pada kartu.
3. Di tangguhkan kembali antigen dengan hati-hati.
4. Ditambahkan satu tetes reagen lateks ke setiap lingkaran di sebelah
sampel yang akan diuji.
5. Dicampur dengan pipet/pengaduk sekali pakai dan sebarkan ke seluruh
area yang tertutup ring. Gunakan pengaduk baru untuk setiap sampel.
6. Diputar kartu pada 100 r.p.m. selama 2 menit.

b) Prosedur Semi-Kuantitatif
1. Dengan menggunakan pipet semi-otomatis, keluarkan serum pasien
yang tidak diencerkan dalam jumlah berikut ke 5 lingkaran uji :
Lingkaran 1 80 µL
Lingkaran 2 40 µL
Lingkaran 3 20 µL
Lingkaran 4 10 µL
Lingkaran 5 5 µL

2. Ditambahkan 1 tetes suspensi antigen demam ke setiap lingkaran.


3. Diaduk rata menggunakan pipet/pengaduk.
4. Diputar slide dengan tangan atau pada rotator mekanis pada 100 r.p.m.
selama 2 menit.
5. Aglutinasi di salah satu lingkaran menunjukkan hasil berikut:
80 µL 1:20
40 µL 1:40
20 µL 1:80
10 µL 1:160
5 µL 1:320
VII. Nilai Rujukan
Periksa secara makroskopik ada tidaknya gumpalan atau aglutinasi dalam
1 menit setelah mengeluarkan kartu dari rotator, bandingkan hasilnya
dengan kontrol.

Hasil negatif tidak menunjukkan tanda-tanda aglutinasi.

a. Titer O yang tinggi : (≥160) atau kenaikan titer yang tinggi menunjukan
infeksi akut
b. Titer H yang tinggi : (≥160) Menunjukan pernah di faksinasi/ pernah
terjadi infeksi.
c. Untuk perolehan titer 1/80 : Pernah mengalami Typoid : Normal Belum
pernah Typoid: pemeriksaan dilakukan lagi dalam jangka waktu 5-7
hari. Untuk perolehan titer 1/160 : Pernah mengalami Typoid :
pemeriksaan dilakukan lagi dalam jangka waktu 5-7 hariBelum pernah
Typoid: (+) Typoid
d. Untuk perolehan titer 1/160 : Pernah mengalami Typoid : (+) Typoid
Belum pernah Typoid: (+) Typoid

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Tidak terjadi aglutinasi)
IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kelima kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
Widal (Kuantitatif dan Semikuantitatif)” praktikan diharapkan mampu
mengetahui, memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan
pemeriksaan Widal (Kuantitatif dan Semikuantitatif) dan mampu
menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Uji Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi bakteri yang
mengakibatkan penyakit Tifoid. Uji ini akan memperlihatkan reaksi antibodi
bakteri Salmonella typhiterhadap antigen somatik “O” dan flagella “H” di dalam
darah. Reagen pemeriksaan ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu reagen yang
mengandung antigen somatik “O” dan mengandung antigen flagella “H”. Reagen
yang mengandung antigen O diberi pewarna biru sedangkan reagen yang
mengandung antigen H diberi pewarna merah.
Pemeriksaan Widal merupakan pemeriksaan serologis untuk mendeteksi
antibodi terhadap kuman Salmonella typhi, berdasarkan reaksi aglutinasi antara
antigen kuman dengan antibodi yang disebut aglutinin. Antigen Widal
menggunakan suspensi kuman Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di
laboratorium. Tujuan pemeriksaan Widal adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid, yaitu aglutinin O (tubuh
kuman), aglutinin H (flagela kuman), dan aglutinin Vi (simpai kuman). Deteksi
aglutinin baik O dan atau H digunakan sebagai penunjang diagnosis demam tifoid,
di mana semakin tinggi titer aglutinin O dan atau H, maka kemungkinan infeksi
kuman Salmonella makin tinggi. Pembentukan aglutinin dimulai pada minggu
pertama demam, biasanya setelah hari ke-4 yang akan terus meningkat secara
cepat dan mencapai puncak pada minggu keempat,akan tetap tinggi selama
beberapa minggu. Aglutinin O adalah aglutinin yang mula-mula timbul pada fase
akut demam tifoid, kemudian disusul dengan peningkatan aglutinin H. Aglutinin
O masih terdeteksi dalam darah penderita demam tifoid yang telah sembuh hingga
4-6 bulan pasca demam tifoid, sedangkan aglutinin H akan lebih lama menetap
dalam darah yaitu sekitar 9-12 bulan. Hasil pemeriksaan Widal dapat memberikan
hasil positif palsu ataupun negatif palsu. Beberapa faktor yang mempengaruhi
pemeriksaan Widal antara lain terapi antibiotik yang terlalu dini yaitu sebelum
dipastikan diagnosis penyakit, gangguan pembentukan antibodi dalam tubuh
penderita, pemberian terapi kortiko steroid, saat pengambilan bahan pemeriksaan
darah, apakah tempat tinggal penderita daerah endemis demam tifoid atau bukan,
riwayat vaksinasi sebelum pemeriksaan Widal, reaksi anamnestik, faktor
perbedaan teknik pemeriksaan antar laboratorium, dan atau subyektivitas
interpretasi pembacaan titer Widal. Ada 2 metode pemeriksaan Widal, yaitu
metode konvensional Widal tabung dan Widal slide. Hasil Widal dianggap positif
bila titer antibodi pemeriksaan Widal tunggal1/160 atauhasil pemeriksaan Widal
sepasang serum penderita dengan interval waktu 1 minggu menunjukkan kenaikan
titer Widal 4x, baik titer aglutinin O dan atau H. Hasil pemeriksaan Widal yang
telah populer di kalangan masyarakat sebagai penunjang diagnosis demam tifoid
sering menunjukkan hasil positif palsu atau negatif palsu karena pada
pemeriksaan Widal menggunakan antigen poliklonal sehingga dapat
menyebabkan terjadinya reaksi silang.
Pemeriksaan widal adalah salah satu pemeriksaan serologi yang bertujuan
untuk menegakan diagnosa demam tifoid. Uji widal positif artinya ada zat anti
(antibodi) terhadap kuman Salmonella, menunjukkan bahwa seseorang pernah
kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tertentu. Uji ini akan
memperlihatkan reaksi antibodi Salmonella terhadap antigen O-somatik dan H-
flagellar di dalam darah. Teknik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan
dua metode yaitu uji hapusan/peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test).
Perbedaannya, uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena
membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya
membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam
prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal
peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen
yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen
yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan
sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang
berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import). Walaupun begitu,
menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung Widal
menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna
antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa
dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat
memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis Demam
tifoid. Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai
parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen
tersebut.

a) Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh bakteri.
Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap
pemanasan 100°C selama 2–5 jam, alkohol dan asam yang encer.

b) Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S.
typhi. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa
Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan
pada pemberian alkohol atau asam.

c) Antigen V
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi
bakteri dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila
dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60°C, dengan pemberian asam dan fenol.
Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier.

d) Outer Membrane Protein (OMP)


Antigen OMP S. typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar
membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap
lingkungan sekitarnya. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada
suhu 85–100°C.

Prinsip pemeriksaan ini adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum
penderita dicampur dengan suspensi antigen S.typhi. Pemeriksaan yang positif
ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi. Dengan cara
mengencerkan serum, maka titer antibodi dalam serum dapat ditentukan.
Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan
titer antibodi dalam serum. Hasil false negative (negatif palsu) dapat ditemui pada
tahap awal penyakit sama seperti pada kasus immunoun respon siveness dan
pengobatan dengan antibiotik. Hasil negatif palsu pada antigen O juga dapat
ditemui pada pasien tifoid yang telah menggunakan antibiotik kloramfenikol.
Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial
di antara para ahli. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer
agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H
bernilaidiagnostic yang penting untuk demam typhoid. Kenaikan titer agglutinin
yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat membedakan apakah infeksi
tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan titer agglutinin
terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk
demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis
tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non
endemic atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada
kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. typhi dalam
dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun
yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan untuk menelan S.typhi
dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan
ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu
dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula
antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji
Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka
ambang atas titer rujukan, baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan.Salah satu
kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana
penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan
kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang
mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan
mungkin dijumpai dengan titer yang lebih tinggi, yang disebabkan adanya
reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas an
ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi,
cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi. Titer widal biasanya angka
kelipatan: 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
a) Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu): dinyatakan (+).
b) Titer 1/160: masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan
titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
c) Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada
pasien dengan gejala klinis khas.

Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal
sebagai sarana penunjang diagnosis demam tifoidyaitu spesifitas yang agak
rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak
faktor yang mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H
bahkan mungkin dijumpai dengan titer yang lebih tinggi, yang disebabkan adanya
reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alasan
ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi,
cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.
Reagen yang digunakan terdiri dari 8 jenis yaitu sebagai berikut:
1. O : somatik S. typhi e.
2. H : flagella S. typhi b.
3. AO : somatik S. paratyphi tipe Af.
4. AH : flagella S. paratyphi tipe Ac.
5. BO : somatik S. paratyphi tipe B g.
6. BH : flagella S. paratyphi tipe Bd.
7. CO : somatik S. paratyphi tipe C h.
8. CH : flagella S. paratyphi tipe C.

Berdasarkan hasil percobaan praktikum yang telah dilaksanakan untuk


mengetahui hasil pemeriksaan Widal (Kuantitatif dan Semikuantitatif) dengan
menggunakan metode Aglutinasi Latex pada probandus A.N Maya Linda Shafira
yang berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun, maka dari sampel
probandus tersebut diperoleh hasil yang negatif, yang artinya pada sampel
probandus tidak menunjukkan tanda-tanda adanya aglutinasi baik itu pada
S.paratyphi AO, S.paratyphi AH, S.paratyphi BO, S.paratyphi BH dan S.typhi H.

Dari hasil pemeriksaan Widal Slide Test didapatkan hasil yang bervariasi,
hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain :
1. Keadaan umum Gizi yang buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Pengambilan sampel Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan pada minggu
kedua dan keempat pada masa sakit dan saat terjadinya demam tinggi, karena
pada saat demam bakteri berada di aliran darah yang disebut dengan
bakterimia.
3. Vaksinasi Pada orang yang pernah divaksinasi titer aglutinin O dan H
meningkat, biasanya meningkat setelah 6 bulan sampai 1 tahun, oleh karena
itu titer aglutinin pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai arti
klinis. Titer antibodi pada orang yang belum pernah divaksinasi : Titer
antibodi O diatas 1/160 berarti demam tifoid positif. Titer antibodi H diatas
1/80 berarti demam tifoid positif.
4. Pemakaian antibiotik Pemberian antibiotik seperti kloramfenikol dan
tiamfenikol akan menurunkan titer antibodi, maka pemberian antibiotik
sebaiknya setelah pemeriksaan laboratorium.
5. Obat-obatan immunosupresif dapat menghambat pembentukan
antibodi.
6. Reaksi anamnesa. Pada individu yang terkena infeksi
t y p h o i d d i m a s a l a l u , kadang-kadang terjadi peningkatan antibodi
salmonella saat ia menderita infeksi yang bukan typhoid, sehingga
diperlukan pemeriksaan Widal ulang seminggu kemudian.
7. Reaksi silang ; Beberapa jenis serotipe Salmonella
l a i n n y a ( m i s a l n y a S .  paratyphi A, B, C) memiliki antigen O dan H
juga, sehingga menimbulkanr e a k s i s i l a n g d e n g a n j e n i s b a k t e r i
l a i n n y a , d a n b i s a m e n i m b u l k a n h a s i l  positif palsu (false positive).
Padahal sebenarnya yang positif kuman non S.typhi (bukan tifoid).
8. Penyakit-penyakit tertentu seperti malaria, tetanus, sirosis dapat
menyebabkan positif palsu.
9. Konsentrasi suspense antigen dan strain salmonella yang
d i g u n a k a n a k a n mempengaruhi hasil uji widal.

Akibat infeksi oleh Salmonella typhi pasien akan membuat antibodi


(aglutinin), yaitu :
a. Aglutinin O, dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman)
b. Aglutinin H, dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman)
c. Aglutinin Vi, dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk
diagnosa. Makin tinggi titernya, makin besar kemungkinan pasien menderita
demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer uji Widal akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari

Keterbatasan Prosedur Pemeriksaan Widal :


Telah ditemukan bahwa banyak serotipe Salmonella memiliki antigen somatik O
yang sama, aglutinasi dari salah satu antigen salmonella dengan serum manusia
tidak harus diambil sebagai bukti infeksi oleh satu organisme tertentu, melainkan
sebagai infeksi oleh organisme yang memiliki struktur antigenik. Tes harus dibaca
setelah waktu inkubasi yang direkomendasikan untuk menghilangkan
kemungkinan hasil positif palsu. Beberapa orang menunjukan sisa titer antibodi
tidak melebihi 1/80-1/160. Pasien juga dapat menunjukkansisa antibodi dari
infeksi sebelumnya atau dari imunisasi. Hasil titer tes tertinggi dari serangkaian
tes dapat dinyatakan sebagai hasil. Penyakit hati kronis juga telah terbukti
menyebabkan kenaikan titer antibodi salmonella.
X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Widal merupakan pemeriksaan serologis untuk mendeteksi
antibodi terhadap kuman Salmonella typhi, berdasarkan reaksi aglutinasi
antara antigen kuman dengan antibodi yang disebut aglutinin.
2. Reagen yang digunakan ada 8 yaitu O : somatik S. typhi e. H : flagella S.
typhi, AO : somatik S. paratyphi tipe Af., AH : flagella S. paratyphi tipe Ac,
BO : somatik S. paratyphi tipe B g, BH : flagella S. paratyphi tipe Bd, CO :
somatik S. paratyphi tipe C h dan CH : flagella S. paratyphi tipe C.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan Widal (Kuantitatif dan Semikuantitatif) dengan
menggunakan metode Aglutinasi Latex pada probandus A.N Maya Linda
Shafira, diperoleh hasil yang negatif yang menujukkan bahwa pada sampel
probandus tidak menunjukkan tanda-tanda aglutinasi

XI. Daftar Pustaka


1. Puspa Wardhani, Prihatini, Probohoesodo, M.Y.2012. Kemampuan Uji
Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen Lokal.
Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr
Soetomo Surabaya.
2. Risky Vitria Prasetyo, Ismoedijanto.2012. Metode Diagnostik Demam
Tifoid Pada Anak. Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi. Bagian/SMF
Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya.
3. Siti Boedina K. 2010. Imunologi: Diagnosa dan Prosedur
Laboratorium. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
XII. Lampiran

Sampel

Reagen dan Hasil Pemeriksaan Widal


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – VI (ENAM)

PEMERIKSAAN HCG LATEX

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
,k Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan HCG Latex

II. Tujuan
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan HCG latex
2. Untuk mengetahui adanya hormone HCG pada urine
3. Untuk mengetahui adanya beta HCG pada urine ibu hamil dengan
metode latex agar kita dapat mengerjakan pemeriksaan kehamilan
dengan menggunakan metode latex.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) adalah Aglutinasi Latex.

IV. Prinsip
HCG dalam urine breaksi secara imunologi dengan antibodi anti HCG
monoclonal yang terikat pada partikel latex. Reaksi ditunjukkan oleh suatu
aglutinasi yang terlihat jelas dari partikel-partikel latex dalam slide
hitam/objek glass.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Slide hitam
2. Kartu tes (card tes)
3. Pipet tetes
4. Batang pengaduk
5. Mikropipet
b. Bahan
1. Reagen Latex (suspensi polysterin latex) merk Human
2. Sampel urine

VI. Cara Kerja


1. Diambil sampel urine dengan pipet tetes.
2. Setelah itu diteteskan pada tes.
3. Diambil HCG latex white.
4. Diteteskan pada urine sampel pada card test.
5. Dihomogenkan dengan batang batang pengaduk.
6. Lalu diamati hasilnya.

VII. Nilai Rujukan


Positif : Bila terjadi aglutinasi selama 2 menit
Negatif : Bila tidak terjadi aglutinasi selama 2 menit

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Ny. F
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 30 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Positif (Terjadi aglutinasi)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan keenam kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
HCG Latex” praktikan diharapkan mampu mengetahui, memahami serta
diharapkan dapat melakukan pemeriksaan HCG Latex dan mampu
menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah substansi protein (hormon)
glycoprotrein yang disekresikan plasenta yang berkembang tak lama setelah
proses fertilisasi/pembuahan. Pada kehamilan normal, HCG dapat dideteksi dalam
serum 7 hari setelah pembuahan, bertambah dua kali lipat setiap 1,3-2 hari. Fungsi
HCG salah satunya untuk menjaga rahim selama masa kehamilan dengan
merangsang produksi progesteron. Progesteron menyiapkan rahim untuk
kehamilan. Kadar HCG yang lebih tinggi pada ibu hamil biasanya terjadi pada
hamil kembar atau hamil anggur (mola).
Human chorionic gonadotropin (HCG) adalah hormone yang dihasilkan
oleh plasenta. pada kehamilan, HCG timbul dalam darah dan urine saat 14 sampai
26 hari setelah konsepsi, dan konsentrasi HCG memuncak pada kira-kira 8
minggu. setelah trisemester pertama kehamilan, produksi HCG menurun. HCG
tidak ditemukan pada wanita yang tidak hamil, pada kematian janin, atau setelah 3
atau 4 hari pasca melahirkan. uji imunologik untuk kehamilan dengan
menggunakan serum anti-HCG bersifat lebih sensitive, lebih akurat, lebih murah
dan lebih mudah. Tumor tertentu (seperti mola hidatidiformis, korionepitelioma
uterus, dan koriokarsinoma testicular) dapat menyebabkan uji HCG positif. Kadar
HCG dapat diukur juga pada pria untuk penentuan tumor testicular.
Pada saat periode menstruasi pertama, konsentrasi HCG sekitar 100
mlU/mL dan mencapai puncak 100.000-200.000 mlU/mL yangterlihat di trimester
pertama. HCG muncul segera setelah pembuahan dan kenaikan konsentrasi
selama awal pertumbuhan kehamilan menjadikannya sebuah penanda yang sangat
baik untuk deteksi awal kehamilan. Tingkat HCG serum sebanding dengan yang
diamati pada awal kehamilan juga dapat dikaitkan dengan trofoblas atau
neoplasma nontrophoblastic seperti mola hidatidosa, koriokarsinoma; untuk itu,
kemungkinan penyakit tersebut harus disingkirkan sebelum dianggap hasil
diagnostik HCG positif untuk kehamilan. Tes kehamilan dengan metode direk
aglutinasi lateks yang cepat untuk mendeteksi HCG pada tingkat 0.3 IU/mL atau
lebih tinggi. Tes ini menggunakan antibodi monoklonal terhadap HCG. Adanya
HCG dalam urin akan menghasilkan aglutinasi dari reagen lateks dalam waktu 2
menit.
Pada praktikum uji kehamilan (direct latex agglutination) kita menguji dan
menunjukkan positif/negatif HCG (Human Chorionic Gonadtropine) pada urine
wanita hamil. Pemeriksaan HCG (Human Chorionic Gonadtropine) ini
menggunakan metode aglutinasi lateks. Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG)
adalah hormon gonadotropin yang disekresi oleh wanita hamil dan disintesa oleh
sel-sel sintitio tropoblas dari placenta. HCG mempunyai dua rangkaian rantai
peptide yaitu α yang mengandung 92 asam amino dan β mengandung 145 asam
amin. Hormon Chorionic Gonadotropin (HCG) mempertahankan korpus luteum
yang terbentuk ketika sel telur dibuahi yang dilanjutkan dengan terjadinya
ovulasi. HCG berdampak pada meningkatnya produksi progesterone oleh indung
telur sehingga menekan menstruasi dan menjaga kehamilan. Produksi HCG akan
meningkat hingga hari ke 70 dan akan menurun selama sisa kehamilan. Hormone
ini diekskresikan melalui urin sehingga akan kita terdeteksi di urine wanita hamil.
Pada praktikum ini deteksi HCG dilakukan dengan menggunakan metode
aglutinasi lateks. Aglutinasi adalah Teknik yang dapat menentukan antigen atau
antibodi secara semikuantitatif, aglutinasi dapat dilihat dengan mata atau dengan
mikroskop. Metode aglutinasi yang sering dipakai adalah aglutinasi lateks dan
hemaglutinasi, yang masing-masing menggunakan partikel lateks dan sel eritrosit
yang dilapisi antibodi atau antigen, tergantung apakah yang hendak ditentukan itu
antigen atau antibodi.
Positif hasil apabila terjadi aglutinasi atau gumpalan atau gumpalan
negatif hasil tidak ada aglutinasi. Dari hasil pemeriksaan uji kehamilan metode
aglutinasi lateks didapatkan hasil bahwa urine pasien bernama Ny. F usia 30 tahun
mengandung HCG positif, mengapa dikatakan demikian karena berdasarkan data
pengamatan interpretasi hasil pada sampel urine pasien terdapat aglutinasi atau
adanya gumpalan maka dari hal tersebut dinyatakan positif. Aglutinasi yang
terbentuk bisa dilihat pada gambar dibawah ini.
Hal-hal yang dapat mengganggu pemeriksaan :
1. Proteinuria yang menyebabkan inaktivasi aglutinasi anti-HCG.
2. Penyakit imunologi yang menyebabkan reaksi positif palsu akibat adanya
interaksi antara IgM dengan reagen.
3. Kadar LH tinggi (rangsangan pada hipofise anterior atau penggunaan obat
penenang) menyebabkan reaksi positif palsu.
4. Pasca ooforectomi, menopause, hipotiroidisme atau gagal ginjal dapat
menunjukkan hasil positif palsu.

Keterbatasan prosedur pemeriksaan HCG yaitu sebagai berikut :


1. Reagen ini hanya dapat digunakan menggunakan sampel urine saja dan tidak
bisa digunakan untuk sampel serum.
2. Konsentrasi HCG ≥ 0,3 IU/mL akan memberikan hasil tes positif (terlihat
adanya aglutinasi). Konsentrasi HCG ≤ 0,3 IU/mL akan menghasilkan tes
negatif
3. Sejumlah kondisi selain kehamilan termasuk penyakit trofoblas dan neoplasma
nontrophoblastic tertentu menyebabkan peningkatan kadar HCG.Diagnosis ini
harus dipertimbangkan jika sesuai dengan bukti klinis.
4. Seperti semua tes diagnostik, diagnosis klinis definitif tidak harus didasarkan
pada hasil tes tunggal, tetapi harus dilakukan oleh dokter setelah semua temuan
klinis dan laboratorium telah dievaluasi.
5. Ekskresi HCG sering menurun pada kasus kehamilan ekstrauterin, toxemia.
Keadaan seperti itu dapat menghasilkan hasil negatif palsu
6. Uji tidak dipengaruhi oleh hormon digunakan untuk diagnostik atau tujuan
terapi.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) adalah substansi protein (hormon)
glycoprotrein yang disekresikan plasenta yang berkembang tak lama setelah
proses fertilisasi/pembuahan.
2. Tes kehamilan dengan metode direk aglutinasi lateks yang cepat untuk
mendeteksi HCG pada tingkat 0.3 IU/mL atau lebih tinggi. Tes ini
menggunakan antibodi monoklonal terhadap HCG.
3. Positif hasil apabila terjadi aglutinasi atau gumpalan atau gumpalan negatif
hasil tidak ada aglutinasi. Dari hasil pemeriksaan uji kehamilan metode
aglutinasi lateks didapatkan hasil bahwa urine pasien bernama Ny. F usia 30
tahun mengandung HCG positif.

XI. Daftar Pustaka


1. Boedina Kresno, Siti Berbagai Pemeriksaan Imunologi untuk
Menunjang Diagnosa Bagian, Patologi Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta
2. Van De Graaff, Human Anatomy, 6th ed, McGraw-Hill 2001 katzung
clinical pharmacology
XII. Lampiran

Reagen, Sampel Urine dan Hasil Pemeriksaan HCG

Hasil Pemeriksaan HCG (Terjadi aglutinasi)


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – VII (TUJUH)

PEMERIKSAAN TUBEX TF

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan Tubex TF

II. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami tentang pemeriksaan Tubex TF
2. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan pemeriksaan Tubex TF

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Tubex TF adalah Latex.

IV. Prinsip
Mendeteksi keberadaan/adanya antibodi anti-O9 dalam serum pasien
dengan cara mengukur kemampuan serum antibodi IgM dalam
menghambat reaksi antara reagen warna coklat yang mengandung antigen
berlabel partikel lateks magnetik dan monoklonal antibodi berlabel lateks
warna dalam reagen biru. Tingkat penghambatan yang dihasilkan, setara
dengan konsentrasi antibodi anti-O9 dalam sampel. Reagen coklat
mengandung partikel besi, dan pemisahan dilakukan oleh suatu daya
magnetik. Hasil dibaca secara visual dengan membandingkan warna akhir
reaksi terhadap skala warna. Hasil TUBEX TF yang positif, yang disertai
dengan gejala klinis demam tifoid, merupakan indikasi kuat adanya infeksi
tifoid.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Skala warna reagen, agnet
2. Sumuran reaksi berbentuk V
3. Selotif untuk sumuran reaksi
4. Stiker penanda botol
b. Bahan
1. Sampel serum
2. Kontrol positif
3. Kontrol negatif
4. Reagen brown (coklat)
5. Reagen blue (biru)
6. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Ditempatkan TUBEX® TF Reaction Well Strip dengan tegak pada
meja, dengan nomor well menghadap ke depan (jangan dulu pasang
strip pada skala warna).
Ditambahkan sampel 45 µl TUBEX® TF Brown Reagent pada masing-
masing well atau lubang.
2. Ditambahkan sampel 45 µl, TUBEX® TF Kontrol Positif atau
TUBEX® TF Kontrol Negatif pada well yang sesuai, dan dicampur
secara hati-hati dengan menyedot dan mengeluarkan sebanyak 5-10 kali
menggunakan pipet. Pencampuran harus dilakukan dengan saksama.
Hindari terbentuknya busa.
3. Di inkubasi selama 2 menit.
4. Ditambahkan 90 µl TUBEX® TF Blue Reagent pada masing-masing
well.
5. Ditutup TUBEX® Reaction Well Strip dengan TUBEX® Sealing Tape.
(Pastikan tidak ada embun/atau cairan pada permukaan strip). Ditekan
penutup atau penyegel dengan keras pada plastik untuk mencegah
terjadinya kebocoran.
Dicampur dengan saksama selama 2 menit dengan menggunakan
prosedur berikut ini :
- Ditahan salah satu ujung TUBEX® Reaction Well Strip dengan ibu
jari dan telunjuk.
- Dimiringkan TUBEX® Reaction Well Strip secara horizontal (90°)
untuk memaparkan permukaan well secara maksimum bagi campuran.
Dikocok strip well reaksi TUBEX® Reaction Well Strip dengan sangat
cepat ke arah belakang dan depan selama 2 menit. Dipastikan bahwa
isinya mengalir pada seluruh permukaan well.
6. Ditempatkan TUBEX® Reaction Well Strip pada TUBEX® Color
Scale sebisa mungkin mulai dari kiri. Untuk memperoleh supernatan
yang jernih, biarkan pemisahan terjadi selama 5 menit, kemudian baca
dan tafsirkan hasilnya.

VII. Nilai Rujukan


Skor Hasil Panduan Penafsiran
0-2 NEGATIF Tidak mengindikasikan terjadinya
infeksi demam tifoid pada saat ini
TUBEX® TF Kontrol Negatif.
>2 atau <4 TIDAK Ulangi pengujian. Jika masih tidak
KONKLUSIF konklusif, ulangi pengambilan sampel
(Inconclusive) pada hari berikutnya.
4-10 POSITIF Semakin tinggi skornya, maka semakin
kuat indikasi terjadinya infeksi demam
tifoid saat ini
TUBEX® TF Kontrol Control
VIII. Hasil Pengamatan
1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : 3 (Tidak Konklusif)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan ketujuh kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
Tubex TF” praktikan diharapkan mampu mengetahui, memahami serta
diharapkan dapat melakukan pemeriksaan Tubex TF dan mampu
menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Immuno Magnetic Beads Inhibition atau yang dikenal dengan sebutan
Tubex adalah pemeriksaan yang khusus mendeteksi antibodi IgM terhadap
antigen lipopolisakarida S. typhi O9. Antigen ini sangat spesifik untuk S. typhi
dan bakteri Salmonella serogrup D lain dengan gula yang sangat langka (α-D-
tyvelose). Antibodi IgM anti-O9 biasanya tidak hadir pada orang sehat. Meskipun
Tubex khusus mendeteksi antibodi fase akut (IgM), tubex juga dapat mendeteksi
antibodi fase penyembuhan (IgG). Tubex tidak mendeteksi kasus di mana antibodi
IgM yang hadir jumlahnya sangat rendah, seperti pada awal infeksi ketika sistem
kekebalan tubuh belum cukup dirangsang. Hasil pemeriksaan ini harus
disesuaikan dengan semua informasi klinis yang tersedia.
Tubex berfungsi untuk mendeteksi adanya antibodi anti-O9 dalam serum
pasien dengan menilai kemampuan antibodi tersebut untuk menghambat reaksi
antara antigen yang dilapisi pewarna coklat dan antibodi yang dilapisi pewarna
biru. Tingkat inhibisi sebanding dengan konsentrasi antibodi anti-O9 dalam
sampel. Pemisahan diaktifkan oleh gaya magnet. Hasil dibaca secara visual
terhadap skala warna. Baca dan skor hasil dengan membandingkan warna
setiapsupernatan ke TUBEX Color Scale (Gambar 3.1). Proses pembacaan harus
dilakukan pada kondisi cahaya yang baik dalam waktu 30 menit setelah
pemisahan, meskipun hasilnya stabil selama berjam-jam jika tidak terganggu.
Skor berkisar dari 0 (merah muda) ke 10 (biru). Untuk menunjukkan kinerja kit
yang benar kit, kontrol negatif harus memiliki skor ≤ 2 dan kontrol positif harus
memiliki skor ≥ 8.

Uji Tubex merupakan pemeriksaan yang mudah dilakukan dan hanya


membutuhkan waktu singkat untuk dilakukan. Untuk meningkatkan spesivisitas,
pemeriksaan ini menggunakan antigen O9 yang hanya ditemukan pada Salmonella
serogroup D dan tidak pada mikroorganisme lain. Antigen yang menyerupai
ditemukan pula pada Teichinella spiralis tetapi antibodi terhadap kedua jenis
antigen ini tidak bereaksi silang satu dengan yang lain. Hasil positif uji Tubex ini
menunjukkan terdapat infeksi Salmonella serogroup D walau tidak secara spesifik
menunjukkan pada S. typhi. Infeksi oleh S. paratyphi akan memberikan hasil
negatif.
Pemeriksaan Tubex-TF adalah pemeriksaan serologis semi kuantitatif in
vitro untuk mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen lipopolisakarida (LPS) O9
yang digunakan sebagai sarana penunjang diagnosis demam tifoid yang relatif
baru. Prinsip pemeriksaan Tubex-TF adalah Inhibition Magnetic Binding
Immunoassay (IMBI), dengan prosedur pemeriksaan cukup sederhana dan
hasilnya relatif cepat diperoleh. Antigen lipopoli sakarida (LPS) O9 hanya
dimiliki oleh kuman Salmonella typhi serogrup D. Lim dkk. pada penelitiannya
terhadap Tubex-TF sebagai sarana penunjang diagnosis demam tifoid,
mendapatkan sensitivitas Tubex-TF sebesar 91,2% dengan spesifisitas 82,3%.
Oracz melaporkan bahwa Tubex-TF memiliki sensitifitas 92,6% dan spesifisitas
94,8% sebagai sarana penunjang diagnosis demam tifoid.

Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai berikut: Ketika partikel


magnet yang diselimuti oleh antigen (s.typhi LPS) dicampurkan dengan blue latex
antibody-coated indicator particle yang diselimuti oleh anti-s typhi LPS (O9)
antibody, maka kedua jenis partikel ini akan berikatan satu dengan yang lain.
Ketika pada akhir eksperimen tabung berbentuk V tempat terjadinya proses reaksi
diatas diletakan diatas magnet stand, maka antigen-coated magnetic particle akan
tersedimentasi dibawa tabung. Begitu juga blue latek particle yang telah berikatan
dengan antigen-coated magnetic particle akan ikut tersedimentasi pada bagian
bawah tabung. Sehingga terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah. Hal ini
menunjukan tidak adanya anti-s typhi O9 antibody pada serum milik pasien dan
hasil reaksi dikatakan negative (pasien tidak terindikasi menderita demam tifoid).
Hasil tes TUBEX akan bernilai positive (pasien terindikasi menderita penyakit
demam tifoid) apabila tidak terjadi perubahan warna (tetap berwarna biru). Hal ini
menunjukan terdapatnya anti-s typhi O9 antibody yang mampu menghambat
ikatan antara antigen-coated magnetic particle dengan blue latex antibody-coated
indicator particle (lihat gambar 3, sebelah kanan). Sehingga pada akhir reaksi blue
latex particle tidak ikut tersedimentasi pada dasar tabung, sehingga warna tabung
tetap berwarna biru
Reagen brown ditambah kontol (+) yang berisi Antibody Salmonella typhi
o yang spesifik dengan Antigen Salmonella typhi o pada reagen brown maka akan
terjadi reaksi. Kemudian saat ditambah reagen blue yang tidak mengandung
magnet dan disensitasi oleh antibody monoclonal tidak terjadi reaksi. Sehingga
saat ditaruh diatas magnet maka partikel hasil reagen brown dengan kontrol
positif akan tertarik ke bawah sehingga dasar berwarna merah dan permukaan
biru.
Dari hasil pemeriksaan Tubex TF metode Imunokromatografi Latex
didapatkan hasil bahwa pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira, yang
berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun adalah TIDAK KONKLUSIF
(Inconclusive). Mengapa dikatakan demikian, karena berdasarkan data
pengamatan interpretasi hasil pada sampel berada pada kontrol negatif yang
memiliki skor 3, yang dilihat secara visual berada pada kontrol berwarna antara 2
dan 4 hasil tersebut dinyatakan TIDAK KONKLUSIF (Inconclusive) yang
memerlukan pengulangan pengujian.
Jika dibandingakan antara tes TUBEX dengan uji Widal akan ditemukan beberapa
hal sebagai berikut:
1. Antigen yang digunakan pada tes TUBEX adalah anti-O9 s.typhi yang
mampu membedakan organisme ini dari >99% serotype bakteri salmonella
lainnya, sedangkan uji Widal menggunakan antigen yang tidak begitu spesifik
terhadap S.typhi sehingga dapat terjadi cross-reaction dengan kuman
salmonella lainnya misalnya pada pasien yang pernah menderita enteric fever
lainnya. Reaksi ini dinamakan anamnestic response dan dapat menimbulkan
tingginya nilai false positive. Hal ini menjawab alasan dari kurang
spesifiknya uji Widal.
2. Dilihat dari metode yang digunakan oleh kedua tes, dimana TUBEX
menggunakan kemampuan inhibitor activities dari antibody dan uji Widal
menggunakan reaksi agglutinasi. Inhibitor activities memiliki keuntungan
karena lebih mudah dideteksi walaupun dengan kadar antibody yang rendah.
Hal ini memberikan alasan mengapa TUBEX lebih sensitive daripada uji
Widal.
3. Single test pada uji Widal tidak begitu bermakna. Idealnya uji widal
dilakukan dua kali yaitu pada fase akut dan 7-10 hari setelahnya. Hal ini
dikarenakan agglutinin O dan H meningkat dengan tajam ±8 hari setelah
onset panas pertama. Jika terjadi empat kali peningkatan titer agglutinin baru
dapat dikatakan hasilnya positive secara signifikan. Sayangnya hal ini jarang
ditemukan karena penggunaan antibiotik pada awal penyakit bisa mencegah
meningkatnya titer agglutinin. Hal ini berbeda dengan tes TUBEX yang fokus
mendeteksi Ig M yang secara teoritis muncul lebih awal daripada Ig G.
Bahkan penelitian terbaru mengatakan bahwa tes TUBEX yang dimodifikasi
mampu mendeteksi bukan hanya antibody melainkan antigen s.typhi ,
sehingga tes ini sangat berguna pada fase akut. Hal ini menyebabkan
tingginya angka sensitivitas tes TUBEX.
4. Meningkatnya penggunaan vaksin typhoid menyebabkan meningkatnya
angka false positive pada uji Widal. Hal ini terjadi karena meninggkatnya
agglutinin level secara persisten pada H agglutinin dan transient pada O
agglutinin, yang terjadi baik pada non-infected population maupun pada
febrile non-typhoid patients karena anamnestic response. Hal ini belum
pernah dilaporkan pada pemeriksaan dengan menggunakan tes TUBEX.
Tentu saja ini sangat berpengaruh pada penggunaan antibiotik yang tidak
tepat dan meningkatkan angka resistensi obat. Untungnya hal ini dapat diatasi
dengan mengulangi tes Widal pada minggu berikutnya, karena tidak akan
terjadi peninggkatan lagi pada hasil tes ulangan tersebut.
5. Sensitivitas dan spesifistas yang cukup berbeda, pada suatu penelitain oleh
Olsen, Sonja et al, 2004 menyebutkan perbedaan antara tes TUBEX dan uji
Widal yaitu; sensitivitas (78/64); spesifisitas (94/76); positive predictive
value (98/88); dan negative predictive value (59/43). beberapa penelitian lain
menunjukan sensitivitas dan spesifisitas TUBEX yang lebih tinggi lagi yaitu
94,7% dan 80,4%-93%.
6. Persamaan yang dimiliki oleh kedua tes ini dan sangatlah penting adalah
proses pengerjaan yang relatif mudah; simpel (one-step); tidak membutuhkan
alat-alat canggih dan mahal, sehingga kedua tes ini dapat diterapkan pada
daerah edemik yang cenderung merupakan negara berkembang.
7. Masih banyak lagi kelemahan uji widal seperti nilai dari uji ini yang sangat
dipengaruhi oleh operator yang bekerja dll. Beberapa hal diatas menunjukan
bahwa tes TUBEX dapat menutupi kelemahan dari uji Widal dan memiliki
keunggulan dari tes Widal.
X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Immuno Magnetic Beads Inhibition atau yang dikenal dengan sebutan Tubex
adalah pemeriksaan yang khusus mendeteksi antibodi IgM terhadap antigen
lipopolisakarida S. typhi O9.
2. Prinsip pemeriksaan Tubex-TF adalah Inhibition Magnetic Binding
Immunoassay (IMBI), dengan prosedur pemeriksaan cukup sederhana dan
hasilnya relatif cepat diperoleh. Antigen lipopoli sakarida (LPS) O9 hanya
dimiliki oleh kuman Salmonella typhi serogrup D.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan Tubex TF metode Imunokromatografi Latex
didapatkan hasil bahwa pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira,
adalah TIDAK KONKLUSIF (Inconclusive).

XI. Daftar Pustaka


1. Ley B, Thriemer K, Ame SM, Mtove G, Von Seidlein L, Amos B, dkk.
Assessment and comparative analysis of a rapid diagnostic test
(Tubex®) for the diagnosis of typhoid fever among hospitalized
children in rural Tanzania. BMC Infect Dis. 2011; 11:1-6
2. Informasi produk TUBEX ®TF Rapid typhoid detection. Diagnose
tifoid definitive semi kuantitatif dengan metode IMBI. Jakarta: PT
Pacific Biotekindo Intralab, 2011
3. Tam FCH, Ling TKW, Wong KT, Leung DTM, Chan RCY, Lim PL.
The Tubex test detects not only typhoid-specific antibodies but also
soluble antigens and whole  bacteria. J Med Microbiol. 2008; 57:316-
23
4. Soedarmo SPS, Garna H, Hadinegoro, Satari HI. Demam tifoid.
Dalam: Soedarmo SPS, Garna H, Hadinegoro, Satari HI, penyunting.
Buku ajar infeksi & pediatri tropis. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia, 2012.h.338-45
5. Sanchez-Vargas FM, Abu-El-Haija MA, Gómez-Duarte OG.
Salmonella infection: an update on epidemiology, management, and
prevention. Travel Med Infect Dis. 2011; 9:263-77

XII. Lampiran

Reagen Tubex TF

Hasil Pemeriksaan Tubex TF


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – VIII (DELAPAN)

PEMERIKSAAN DENGAN IMUNOKROMATOGRAFI IgM


IgG DENGUE

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Dengue

II. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa yang dimaksud
dengan pemeriksaan Imunokromatografi IgG IgM Dengue.
2. Mampu melakukan pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM
Dengue.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Imunokromatografi IgG IgM
Dengue adalah Imunokromatografi, Rapid Test.

IV. Prinsip
Tes cepat Dengue adalah immunoassay kromatografi untuk mendeteksi
antibodi Dengue IgG & IgM manusia. Tes ini dimaksudkan untuk
digunakan sebagai bantuan dalam diagnosis Dengue. Sampel dari subjek
yang divaksinasi JEV tidak akan bereaksi dengan tes ini metode ini
menggunakan kombinasi antigen emas terkonjugasi (emas koloid) dan
protein rekombinan Dengue yang sangat dimurnikan untuk secara khusus
mendeteksi antibodi Dengue dalam serum manusia.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Kartu tes
2. 25-1 microliter (uL) loop transfer sampel plastik
3. Botol penetes Larutan Pencuci Dengue
b. Bahan
1. Sampel : serum
2. 25 atau 50 perangkat uji Antibodi Dengue dikemas di puches foil
individu
3. Sisipan produk
4. Botol penetes Larutan Pencuci Dengue
5. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Dikeluarkan kartu tes dari kantongnya, dan letakkan di atas 1
permukaan yang kering.
2. Ditambahkan 4 tetes (100 atau tabung reaksi plastik µl) larutan pencuci
Dengue ke dalam gelas.
3. Dengan menggunakan loop plastik 1 µl yang bersih dan tidak terpakai
(tersedia), dicelupkan ujung loop plastik melingkar ke dalam spesimen,
kemudian dengan hati-hati tempatkan ujung loop plastik melingkar ke
dalam tabung reaksi dan aduk larutan dengan loop tersebut. Ini akan
menambah 1 µl spesimen ke dalam larutan. Hapus loop dan
membuangnya sebagai biohazard. Jangan gunakan kembali loop. Jika
menggunakan pipetter dan bukan loop, tambahkan 1 µl sampel
langsung ke larutan 100 µl di tabung reaksi dan vortex. Buang ujung
pipet sebagai biohazard.
4. Dipindahkan isi tabung (sampel yang diencerkan dengan sumur sampel
perangkat.
5. Dibaca hasilnya setelah 15-30 menit. Hasil negatif harus dikonfirmasi
setelah 30 menit.
VII. Nilai Rujukan
IgM Positif :
Garis berwarna di wilayah garis kontrol (C) berubah dari biru menjadi
merah muda, dan garis M (1) terlihat. Tesnya positif untuk antibodi IgM.
Ini menunjukkan adanya infeksi dengue primer.

IgG dan IgM Positif :


Garis berwarna di wilayah garis kontrol (C) berubah dari biru menjadi
merah muda, dan dua garis berwarna M dan garis G (1 dan 2) terlihat. Tes
ini positif untuk antibodi IgM dan IgG. Ini menandakan adanya infeksi
dengue sekunder.

IgG Positif :
Garis berwarna di wilayah garis kontrol (C) berubah dari biru menjadi
merah muda, dan garis G (2) terlihat. Tesnya positif untuk antibodi IgG.
Ini menandakan adanya infeksi dengue sekunder.

Hasil Tes Negatif Garis :


Berwarna pada daerah garis kendali (C) berubah dari biru menjadi merah
muda. Tidak ada antibodi IgG atau IgM yang terdeteksi. Hasilnya tidak
mengecualikan infeksi dengue. Jika gejala berlanjut, sampel baru harus
diambil dari pasien dalam 3-5 hari dan kemudian harus diuji ulang.

Hasil Tes Tidak Valid :


Tes ini tidak valid jika Garis kontrol (C) gagal untuk sepenuhnya berubah
dari biru menjadi merah muda. Hasilnya adalah volume buffer tidak
mencukupi yang tidak valid atau teknik prosedural yang salah adalah
alasan yang paling mungkin untuk kegagalan jalur kontrol. Tinjau
prosedur dan ulangi prosedur tersebut dengan perangkat tes baru.
VIII. Hasil Pengamatan
1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kedelapan kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
dengan Imunokromatografi IgG IgM Dengue” praktikan diharapkan mampu
mengetahui, memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dengan
Imunokromatografi IgG IgM Dengue dan mampu menginterpretasikan hasil yang
diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan praktikum ini.
Virus Dengue, anggota dari Flaviviridae, termasuk virus RNA rantai
tunggal. Terdapat 4 serotype (DEN 1-4) yang saling berhubungan erat, tetapi
antigennya berbeda. Virus ini tersebar pada daerah tropis dan sub tropis dalam
siklus yang melibatkan manusia dannyamuk (Aedes aegypti), infeksi dari salah
satu serotype tidak memberikan kekebalan protektif silang.Virus dengue
menghasilkan spektrum penyakit yang luas pada manusia, dari Demam Berdarah
ringan (Dengue Fever) ke demam berdarah yang mengancam kehidupan (Demam
Hemoragik Fever) dan syok syndrome (Demam Hemoragik Sindrom). Penyakit
infeksi yang disebabkan virus Dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri
otot, dan atau disertai nyeri sendi yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati,
trombositopenia.
Dengue merupakan flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti
dan Aedes albopictus. Virus ini tersebar luas di daerah beriklim tropis dan
subtropis di seluruh dunia serta menyebabkan hingga 100 juta infeksi setiap tahun.
Infeksi Dengue klasik ditandai oleh adanya demam mendadak, sakit kepala yang
hebat, myalgia, arthralgia, dan bintik kemerahan. Infeksi primer virus Dengue
menyebabkan terbentuknya antibodi IgM yang meningkat hingga kadar yang
dapat dideteksi dalam waktu 3 sampai 5 hari sejak adanya demam. Antibodi IgM
pada umumnya menetap selama 30 hingga 90 hari. Kebanyakan pasien penderita
infeksi Dengue di daerah endemik mengalami infeksi sekunder, sehingga
memiliki antibodi IgG spesifik dengan kadar yang tinggi sebelum atau bersamaan
dengan adanya respon berupa antibodi IgM. Oleh karena itu deteksi antibodi anti-
Dengue spesifik berupaIgM dan IgG dapat membantu membedakan infeksi primer
dari infeksi sekunder (Gambar 4.3 dan 64).

Dalam serologi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi virus penyebab


(deteksi Antigen) atau melihat respon imun dengan melakukan deteksi terhadap
IgM dan IgG.
IgG dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi sekunder (IgG merupakan
immunoglobulin dominan yang ditemukan pada infeksi sekunder). IgM nerupakan
indikator dari infeksi primer atau akut. Apabila didapatkan IgM positif dan IgG
positif menunjukkan adanya reinfeksi , dapat dengan serotipe yang berbeda.
Keterangan :
1.Infeksi primer ditandai respon antibodi yang rendah dan lambat, pertama
muncul IgM dan IgG muncul pada akhir minggu pertama demam.
2.Infeksi sekunder (individu dengan infeksi Dengue atau flavivirus lain
sebelumnya) ditandai respon yang meningkat cepat secara eksponen dan
antibodi bereaksi terhadap beberapa flavivirus. Tingginya IgG dapat dideteksi
pada fase akut dan meningkat secara cepat dalam 2 minggu.
Perangkattes cepat IgM/IgG anti-Dengue merupakan tes yang
menggunakan kombinasi partikel berwarna yang dilapisi antigen Dengue untuk
mendeteksi antibodi IgM dan IgG dalam darah lengkap manusia, serum atau
plasma. Tes ini terdiri atas dua komponen yaitu komponen IgM dan komponen
IgG. Pada komponen IgM, antibodi berupa anti-IgM manusia dilekatkan di daerah
garis tes 1 (IgM). Selama pengujian, jika antibodi IgM Dengue ada dalam sampel,
maka akan bereaksi dengan partikel yang dilapisi antigen Dengue pada strip tes,
komplek ini selanjutnya akan ditangkap oleh anti-IgM manusia, membentuk garis
berwarna pada daerah tes 1 (IgM). Pada komponen IgG, antibodi berupa anti-IgG
manusia dilekatkan di daerah garis tes 2 (IgG). Selama pengujian, sampelakan
bereaksi dengan partikel yang dilapisi antigen Dengue pada strip tes. Campuran
kemudian bermigrasi pada membran secara kromatografi dengan daya kapiler,
lalu bereaksi dengan antibodi anti-IgG manusia di daerah garis tes 2 (IgG). Jika
sampel mengandung antibodi IgG terhadap virus Dengue, maka akan terbentuk
garis berwarna di daerah garis tes 2 (IgG). Oleh karena itu, jika sampel
mengandung antibodi IgM anti-Dengue, garis berwarna tampak di daerah tes 1
(IgM). Jika sampel mengandung antibodi IgG anti-Dengue, garis berwarna
tampak di daerah tes 2 (IgG). Jika sampel tidak mengandung antibodi anti-
Dengue, tidak akan terbentuk garis berwarna di kedua daerah tesdan menandakan
hasilnya negatif. Sebagai kontrol pemeriksaan, garis berwarna selalu berubah dari
merah menjadi biru pada derah kontrol, hal ini menandakan bahwa volume
sampelsudah benar dan terjadimigrasi sampel pada membran.
Hasil pemeriksaan IgM dinyatakan positif jika terbentuk garis berwarna
pada derah kontrol (C) berubah dari merah ke biru, dan garis berwarna muncul
didaerah tes 1 (IgM) (Gambar 4.4 A). Hasil positif untuk IgM spesifik terhadap
virus Dengue bisa mengindikasikan terjadinya infeksi primer virus Dengue. Hasil
pemeriksaan IgG dinyatakan positif jika terbentuk garis berwarna pada derah
kontrol (C) berubah dari merah ke biru, dan garis berwarna muncul didaerah tes 2
(IgG) (Gambar 4.4 B). Hasil positif untuk IgG spesifik terhadap virus Dengue bisa
mengindikasikan terjadinya infeksi sekunder virus Dengue. Hasil pemeriksaan
IgM dan IgG dinyatakan positif jika terbentuk garis berwarna pada derah kontrol
(C) berubah dari merah ke biru, dan dua garis berwarna muncul didaerah tes 1 dan
2 (IgM dan IgG) intensitas warna keduanya tidak harus sama (Gambar 4.4 C).
Hasil positif untuk antibodi IgM dan IgG spesifik terhadap virus Dengue bisa
mengindikasikan terjadinya infeksi sekunder virus Dengue. Hasil pemeriksaan
dinyatakan negatif apabila tampak garis berwarna yang berubah dari merah
menjadi biru di daerah kontrol (C), tetapi tidak terbentuk garis di daerah tes 1 atau
tes 2 (Gambar 4.4 D). Hasil dinyatakan invalid jika garis di daerah kontrol masih
berwarna merah dan tidak berubah menjadi biru (Gambar 4.4 E).
Tes ini boleh menggunakan darah lengkap, serum atau plasma. Berikut
cara untuk mendapatkan sampel darah lengkap dari jari: Cuci tangan pasien dan
biarkan mengering, urut jari kemudian tusuk dengan lancet steril lalu hapus
tetesan darah pertama. Tambahkan darah kedalam perlengkapan tes sekitar 10 μl
atau satu tetes menggunakan dropper. Segera pindahkan serum atau plasma dari
bekuan untuk menghindari terjadinya hemolisis. Hanya gunakan sampelyang
jernih dan tidak hemolisis. Tes harus segera dikerjakan setelah mendapatkan
sampel, jangan biarkan sampel pada suhu ruang dalam waktu yang lama. Serum
atau plasma boleh disimpan pada suhu 2-8ºC selama 3 hari, bila dibekukan pada
suhu -20ºC masa simpan bisa lebih lama, namun harus dihindari proses thawand
freezepada sampellebih dari tiga kali. Bila akan menambahkan pengawet boleh
digunakan Sodium Azide 0,1% tanpa mempengaruhi hasil pemeriksaan. Darah
lengkap dari vena boleh disimpan pada suhu 2-8ºC bila akan diperiksa dalam 2
hari setelah pengambilan, darah lengkap tidak boleh disimpan dalam freezer.
Darah lengkap dari jari harus segera diperiksa. Sampel dari freezerharus dibiarkan
mencair dengan sempurna sebelum pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Dengue


didapatkan hasil bahwa pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira, yang
berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun adalah negatif. Mengapa
dikatakan demikian, karena berdasarkan data pengamatan interpretasi berwarna
pada daerah garis kendali (C) berubah dari biru menjadi merah muda. Hal tersebut
menunjukkan bahwa tidak ada antibodi IgG atau IgM yang terdeteksi, hasilnya
tidak mengecualikan infeksi dengue.
X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Dengue merupakan flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus.
2. Perangkattes cepat IgM/IgG anti-Dengue merupakan tes yang menggunakan
kombinasi partikel berwarna yang dilapisi antigen Dengueuntuk mendeteksi
antibodi IgM dan IgG dalam darah lengkap manusia, serum atau plasma. Tes
ini terdiri atas dua komponen yaitu komponen IgM dan komponen IgG.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Dengue
didapatkan hasil bahwa pada sampel probandus A.N Maya Linda Shafira, yang
adalah negatif. Karena hanya berwarna pada daerah garis kendali (C) berubah
dari biru menjadi merah muda. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada
antibodi IgG atau IgM yang terdeteksi.

XI. Daftar Pustaka


1. Suroso, Chrishantoro, T., Informasi Produk PanBio Dengue Fever
Rapid Strip IgG dan IgM. Ed ke 2, Jakarta, PT Pacific Biotekindo
Intralab, 2004, 3–16.
2. Garcia, M., Devi, P., Evaluation of A Field Test For The Detection of
Dengue Antibodies, 2004, 111–7.
3. Panbio, Dengue Duo IgM and IgG Rapid Cassette 2004; Catalogue
No.R-DEN03D
4. Gubler, DJ., Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever.Clinical
Microbiology Reviews. July 1998, 480–96.
5. Lam, SK., Evaluation of capture ELISA and Rapid
Immunochromatographic Test The Determination Of IgM and IgG
Antibodies Produced During Dengue Infection. Clinical and
Diagnostic Virology, 2000, 75–81.
XII. Lampiran

Sampel

Hasil Pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Dengue


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – IX (SEMBILAN)

PEMERIKSAAN DENGAN IMUNOKROMATOGRAFI IgM


IgG SALMONELLA TYPHI

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2.. Septi Presliana, A.Md., AK
3.. Siti Khadijah, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Salmonella typhi

II. Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami cara
pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Salmonella typhi.
2. Diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dengan Imunokromatografi
IgG IgM Salmonella typhi.
3. Untuk mendeteksi simultan dan diferensiasi anti-Salmonella typhi
(S.typhi) IgG dan IgM dalam serum dan plasma.
4. Digunakan sebagai tes skrining dan sebagai bantuan dalam diagnosis
infeksi dengan S.typhi.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Imunokromatografi IgG IgM
Salmonella typhi adalah Imunokromatografi.

IV. Prinsip
Typhoid IgG/IgM Rapid Test adalah Imunoassay kromatografi aliran
lateral. Kaset tes terdiri dari: 1) merah anggur berwarna konjugasi pad
mengandung rekombinan S. tifoid H antigen dan antigen O terkonjugasi
dengan emas koloid (konjugat tifoid) dan kelinci konjugat IgG-emas, 2)
strip membran nitroselulosa yang mengandung dua band tes (T1 dan T2
band) dan band control (C band). The T1 band pra-dilapisi dengan
monoklonal IgM anti-manusia untuk mendeteksi IgM anti-S.typhi, T2
band pra-dilapisi dengan kambing dan anti kelinci IgG. Ketika volume
yang memadai spesimen uji dibagikan ke sampel sumur kaset tes,
spesimen bermigrasi dengan aksi kapiler di kaset. Anti-S.typhi IgM jika
hadir dalam spesimen akan mengikat konjugat tipus. Imunocomplex
tersebut kemudian ditangkap pada membran oleh Precoated anti-manusia
IgM antibodi, membentuk merah anggur berwarna T1 Band, menunjukkan
hasil tes positif S.typhi IgM, Anti-S.typhi IgG jika hadir dalam spesimen
akan mengikat konjugat tipus. Immunocomplex ini kemudian ditangkap
oleh reagen pra-dilapisi pada membran, membentuk merah anggur
berwarna T2 Band, menunjukkan hasil tes positif S.typhi IgG. Tidak
adanya band T (T1 dan T2) menunjukkan hasil negatif. Tes berisi
pengendalian internal (C band) yang harus menunjukkan sebuah band
berwarna merah anggur dari Immunocomplex kambing anti kelinci
IgG/kelinci konjugat IgG-emas terlepas dari perkembangan warna pada
salah satu band T. Jika tidak, hasil tes tidak valid dan spesimen harus diuji
ulang dengan perangkat lain.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Jam atau Timer
2. Test Cassette
3. Pipa Dropper

b. Bahan
1. Sampel : Serum
2. Desiccant
3. Buffer
4. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Dibawa spesimen dan uji komponen untuk suhu kamar jika
didinginkanatau beku. Dicampur spesimen baik sebelum assay sekali
dicairkan.
2. Bila sudah siap untuk menguji, membuka kantong di takik dan
menghapus perangkat. Ditempatkan uji perangkat pada permukaan
yang bersih datar.
3. Dipastikan untuk label perangkat dengan nomor ID spesimen.
4. Dipegang pipet secara vertikal dan mentransfer 1 tetes penuh serum
atau plasma (sekitar 30 µl), kemudian ditambahkan satu tetes
penyangga (sekitar 40 µl). Pastikan bahwa tidak ada gelembung udara.
5. Diatur timer.
6. Hasil dapat dibaca dalam 10-15 menit.
Jangan membaca hasil setelah 15 menit. Untuk menghindari kebingungan,
membuang perangkat uji setelah interpretasi hasil.

VII. Nilai Rujukan


Hasil Negatif :
- Kalau saja garis C hadir, tidak adanya warna merah anggur di garis kedua
T (T1 dan T2) menunjukkan bahwa tidak ada anti-S, antibodi typhi
terdeteksi. Hasilnya negatif.

Hasil Positif :
- Selain kehadiran garis C, jika hanya T1 band dikembangkan, tes
menunjukkan keberadaan anti S. typhi IgM. Hasilnya positif.
- Selain kehadiran garis C, jika hanya T2 band dikembangkan, tes
menujukkan keberadaan anti S. typhi IgG. Hasilnya Positif.
- Selain kehadiran garis C, baik T1 dan T2 band yang dikembangkan,
testindicates keberadaan anti-S.typhi IgG dan IgM. Hasilnya postif.
Invalid :
Jika tidak ada garis C dikembangkan, uji ini tidak valid meskipun ada
warna burgundy di garis T seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Diulangi
uji ini dengan perangkat baru.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kesembilan kali ini yang berjudul
“Pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Salmonella typhi”
praktikan diharapkan mampu mengetahui, memahami serta diharapkan dapat
melakukan pemeriksaan dengan Imunokromatografi IgG IgM Salmonella typhi
dan mampu menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini,
bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
Demam tifoid merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. Penyebaran dapat terjadi melalui makanan atau air yang
terkontaminasi. Setelah bakteri Salmonella typhi dimakan atau diminum, kuman
akan berkembang biak dan menyebar kedalam aliran darah dan saluran usus.
Gejala termasuk demam tinggi berkepanjangan, kelelahan, sakit kepala, mual,
sakit perut, dan sembelit atau diare. Beberapa pasien mungkin memiliki ruam.
Kasus yang parah dapat menyebabkan komplikasi serius atau bahkan kematian.
Penyakit demam tifoid (typhoid fever) atau yang biasanya disebut tifus
merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang
menyerang bagian saluran pencernaan. Selama terjadi infeksi,bakteri tersebut
bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan
dilepaskan ke aliran darah.

Salmonella typhi yang menginfeksi ke dalam tubuh hospes akan


menembus sel-sel epitel dan selanjutnya ke lamina propia. Salmonella typhi
berkembang biak dilamina propia dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh
makrofag. Salmonella typhi dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag
dan selanjutnya dibawa ke plaquepeyeri ileum distaldan kemudian ke kelenjar
getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang
terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan
bakteremia pertama yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Bakteri meninggalkan sel-sel
fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan
selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakteremia
yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi
sistemik, seperti demam, sakit kepala dan sakit perut. Demam tifoid dapat
dikonfirmasi melalui tes darah.
Penegakkan diagnosis demam tifoid adalah hal yang penting terutama agar
diagnosis ditegakkan lebih tepat dan pengobatan dapat diberikan lebih cepat.
Seiring perkembangan teknologi dalam ilmu kesehatan diagnosa demam tifoid
dapat dilakukan untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG, dimana antibodi ini
mempunyai makna dalam diagnosa yaitu agar mengetahui fase infeksi pada
penderita demam tifoid dengan menggunakan tes imunokromatografi. Selain
memiliki spesifitas dan sensitivitas yang tinggites imunokromatografi juga mudah
dilakukan, dan tidak memerlukan peralatan khusus untuk interpretasi hasil.
Respon imun yang khas dimulai dengan peningkatan antibodi IgM
terhadap antigen yang menstimulasi (imunogen). Fase ini diikuti dengan produksi
antibodi IgG terhadap antigen tersebut. Stimulasi berulang dengan antigen
tersebut mengakibatkan produksi IgG yang lebih besar tetapi dengan waktuyang
lebih pendek setelah stimulusantigenik yang berhasil.
Secara umum, kadar antibodi IgM yang bermakna terhadap suatu virus,
bakteri atau agen infeksius lain di interpretasikan sebagai bukti adanya infeksi
akut, sedangkan kadar IgG spesifik yang tinggi konsisten dengan persistensi
imunitas pada fase konvalesen setelah infeksi terdahulu. Saat menafsirkan tes,
deteksi IgM positif ditafsirkan sebagai penyakit tifoid akut (fase awal infeksi)
sedangkan deteksi igG dan IgM positif ditafsirkan sebagai penyakit tifoid akut
(pada fase tengah infeksi) dan IgG positif ditafsirkan adanya infeksi ulang
sebelumnya. Kuman tifoid dapat berasal dari karier demam tifoid yang merupakan
sumber penularan yang sukar diketahui karena mereka tidak menunjukkan gejala-
gejala sakit.
Di daerah yang sangat endemis dimana tingkat penularan tifoid tinggi,
deteksi IgG spesifik akan meningkat, karena IgG dapat bertahan lebih dari 2 tahun
setelah infeksi tifoid, deteksi IgG spesifik tidak dapat dibedakan antara kasus akut
dan pemulihan. Sehinggadiperlukan untuk melakukan pemeriksaan untuk
mendeteksi IgM.
IgM anti-Salmonella merupakan antibodi fase akut yang muncul akibat
adanya infeksi Salmonellatyphi. Antibodi ini muncul sebagai respon tubuh
terhadap adanya antigen asing dalam tubuh manusia. Sedangkan antibodi IgG
adalah antibodi sekunder, yaitu antibodi yang dibentuk setelah beberapa hari
infeksi dan dapat bertahan lama walau penderita telah sembuh. IgM disebut
sebagai antibodi fase akut karena muncul pada saat infeksi baru terjadi atau
sedang terjadi. IgM anti-Salmonella bisa dideteksi pada hari ke-5 untuk infeksi
primer dan hari ke-2 untuk infeksi sekunder. Untuk daerah endemis seperti di
negara kita ini, kecepatan deteksi ini sangat penting mengingat kebanyakan kasus
adalah infeksi sekunder.
Seiring perkembangan teknologidalam ilmu kesehatan diagnosa demam
tifoid dapat dilakukan untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG, dimana antibodi
ini mempunyai makna dalam diagnosa yaitu agar mengetahui fase infeksi pada
penderita demam tifoid dengan menggunakan tes imunokromatografi. Selain
memiliki spesifitas dan sensitivitas yang tinggites imunokromatografi juga
mudahdilakukan, dan tidak memerlukanperalatan khusus untuk interpretasi hasil.
Hasil pemeriksaan antibodi IgM dan IgG pada probandus A.N Maya Linda
Shafira yang berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun dari 1 sampel
terdapat hasil pemeriksaan yang menunjukkan hasil negatif hal tersebut
menunjukkan bahwa hanya pada garis C yang hadir, tidak adanya warna merah
anggur di garis kedua T (T1 dan T2) menunjukkan bahwa tidak ada anti-S,
antibodi typhi terdeteksi.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Demam tifoid merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella typhi. P
2. Saat menafsirkan tes, deteksi IgM positif ditafsirkan sebagai penyakit tifoid
akut (fase awal infeksi) sedangkan deteksi igG dan IgM positif ditafsirkan
sebagai penyakit tifoid akut (pada fase tengah infeksi) dan IgG positif
ditafsirkan adanya infeksi ulang sebelumnya.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan antibodi IgM dan IgG pada probandus A.N
Maya Linda Shafira menunjukkan bahwa hanya pada garis C yang hadir,
tidak adanya warna merah anggur di garis kedua T (T1 dan T2) menunjukkan
bahwa tidak ada anti-S, antibodi typhi terdeteksi hasil tersebut adalah negatif.

XI. Daftar Pustaka


1. Handojo, I. 2004.Imunoasai terapan pada beberapa penyakit infeksi.
Surabaya: Airlangga University Press
2. Sacher, Ronald A & Richarda Mc pherson. 2004.Tinjauan klinis hasil
pemeriksaan Lab 11thed.Jakarta:EGC
3. Baratawidjaja, Karnen Garna & Iris Rengganis. 2012.Imunologi Dasar
Edisi 10. Jakarta: FKUI

XII. Lampiran

Sampel

Pemeriksaan Imunokromatografi IgG IgM Salmonella typhi


LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – X (SEPULUH)

PEMERIKSAAN DENGAN IMUNOKROMATOGRAFI


MALARIA RAPID TEST

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
I. Judul Praktikum
Pemeriksaan dengan Imunokromatografi Malaria Rapid Test

II. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami apa yang dimaksud dengan pemeriksaan
dengan Imunokromatografi Malaria Rapid Test
2. Mahasiswa diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dengan
Imunokromatografi Malaria Rapid Test

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan Imunokromatografi Malaria
Rapid Test adalah Imonokromatografi, Rapid Test.

IV. Prinsip
Mendeteksi antigen berdasarkan reaksi kompleks antigen-antibodi pada
bahan nitroselulose acetat dimana kompleks tersebut diberi marka
monoklonal antibodi yang berlabel zat warna sebagai penanda, sedangkan
antigen non spesifik lainnya dipisahkan sehingga muncul suatu tanda yang
menyatakan hasil positif/negatif.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Kartu Tes
2. Mikropipet
3. Pipet Tetes
4. Dropper
b. Bahan
1. Sampel : whole blood
2. Reagen Buffer
3. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Sebelum digunakan, dikeluarkan card dari bungkusnya. Dipegang card
pada bagian plastik. Diletakkan card mendatar pada tempat kerja.
2. Digunakan lancet steril dan kapiler sampel bersih, ambil darah dengan
menusuk ke daerah yang tepat (contoh : jari atau tumit). Dibiarkan
darah membentuk tetesan dan sentuhkan ujung kapiler dengan darah.
Sebagai pilihan lain, 10 uL darah EDTA dari pembuluh darah vena
dapat digunakan. Dipastikan sampel darah mencapai suhu ruang
sebelum digunakan.
3. Dipindahkan sampel darah dari tube kapileri ke tes card (10 uL apabila
memakai mikropipet. Bila menggunakan dropper yang disediakan,
diambil sampel hingga Fill Line, lalu diteteskan ke lubang W1).
4. Ditambahkan 3 tetes reagen buffer ke Lubang W2.
5. Digunakan timer, dibiarkan tes card selama 5 menit, lalu diteteskan 1
tetes buffer ke lubang W1.
6. Dibaca hasil setelah 15 menit. Hasil bisa dibaca 15-20 menit. Jangan
dibaca hasil setelah 20 menit.

VII. Nilai Rujukan


Positif :
Deteksi Plasmodium falciparum (Area garis tes P.f.)
1. Munculnya sebuah garis tes berwarna pada card di area P.f. ,
menunjukkan hasil positif untuk Plasmodium falciparum. Garis
control juga harus ada.
2. Munculnya sebuah garis tes berwarna di area P.f. dan area Pan,
menunjukkan hasil positif untuk Plasmodium falciparum atau infeksi
campuran (kombinasi). Garis control juga harus ada.

Deteksi Plasmodium vivax, Plasmodium ovale atau Plasmodium


malariae (Area garis tes Pan)
Munculnya sebuah garis tes biru hanya pada area Pan, menunjukkan hasil
positif untuk Plasmodium vivax, Plasmodium ovale atau Plasmodium
malariae. Tes ini tidak dapat membedakan subtype malaria diatas. Garis
control juga harus ada.

Negatif :
Hasil tes negatif bila hanya garis control saja yang muncul.

Invalid :
Hasil tes invalid bila garis control berwarna tidak muncul di area garis
control bila ini terjadi, ulangi tes dengan menggunakan card baru.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Hasil tes negatif hanya pada garis control
saja yang muncul)
IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kesepuluh kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
dengan Imunokromatografi Malaria Rapid Test” praktikan diharapkan mampu
mengetahui, memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dengan
Imunokromatografi Malaria rapid test dan mampu menginterpretasikan hasil yang
diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan praktikum ini.
Terdapat empat spesies parasit Plasmodium yang bertanggung jawab
terhadap infeksi malaria di manusia, yaitu P. falciparum, P. vivax, P. ovale, dan P.
malariae. P. falciparum dan P. vivax dianggap sebagai duaspesies yang paling
berbahaya karena adanya insiden malaria serebral, resistensi obat-obatan terkait
malaria P. falciparum, tingkat infektivitas yang tinggi, dan tingkat kekambuhan
yang terkait P.vivax. Pengobatan malaria harus disesuaikan dengan jenis
plamodium penyebabnya, diferensiasi antara P. falciparum dan P. vivaxsangat
penting untuk manajemen pasien dan pemulihan yang cepat. Bahan yang sering
digunakan sebagai penanda infeksi malaria akibat P. falciparum adalah Pf. HRP-
2. Pf. HRP-2 adalah protein yang sangat spesifik untuk P. falciparum dan kaya
akan histidin. Protein tersebut merupakan protein yang larut dalam air dan
dilepaskan oleh sel darah merah (eritrosit) dari invidudu yang terinfeksi. Untuk
mendeteksi malaria akibat P. vivaxbiasanya digunakan protein pLDH yang
spesifik terhadap P. vivax sebagai penanda. Spesimen yang digunakan untuk
pemeriksaan malaria adalah serum atau whole blood. Antikoagulan yang bisa
digunakan antara lain EDTA, CPDA, Heparin, Oksalat, atau Tri-natrium sitrat.
Spesimen harus dikumpulkan dalam gelas bersih atau wadah plastik. Spesimen
dapat disimpan pada suhu 2°C-8°C selama 72 jam. Pada bagian bantalan kojugat
imunokromatografi pendeteksi infeksi malaria terdapat antibodi monoklonal anti-
Pf.HRP-2 (IgG), antibodi monoklonal anti-pLDH spesifik P. vivax, dan antibodi
kelinci. Ketiga antibodi tersebut terkonjugasi koloid emas. Ketika sampel
mengandung Pf. HRP-2 atau pLDH makan protein tersebut akan berikatan dengan
antibodi yang spesifik. Kemudian kompleks imun yang terbentuk akan mengalir
ke daerah tes (T). Daerah tes pada imunokromatografi ini dibagi menjadi 2, yaitu
daerah tes P. falciparum yang didalamnya sudah diendapkan antibodi monoklonal
anti-Pf. HRP-2 (IgM) dan daerah tes P. vivax yang didalamnya sudah diendapkan
antibodi monoklonal anti-pLDH spesifik Pan. Jika spesimen mengandung salah
satu protein tersebut maka akan terbentuk garis berwarna pada daerah tes.
Selanjutnya, bahan yang tidak terikat pada daerah tes akan terus mengalir ke
daerah kontrol. Ada daerah kontrol sudah diendapkan antibodi anti-globulin rabit
dan menimbulkan warna pada daris kontrol. Hasil positif infeksi malaria oleh P.
falciparumditandai dengan terbentuknya 2 garis berwarna pada daerah tes (P.
falciparum) dan kontrol, begitu pula untuk hasil positif infeksi malaria oleh P.
vivax. Jika hasil menunjukkan 3 garis berwarna berarti positif terinfeksi malaria
oleh kedua parasit tersebut. Hasil dinyatakan invalid dan harus diulangi jika tidak
terbentuk garis pada daerah kontrol atau tidak ada garis apapun yang terbentuk.
Pemeriksaan malaria dapat ditunjang dengan pemeriksaan mikroskopis.
Interpretasi hasil pemeriksaan dapat terganggung dengan adanya antibodi
heterophile pada sampel pasien. Hasil yang negatif tidak bisa mengesampingkan
kemungkinan infeksi malaria oleh P.ovale dan P. malariae. Imunokromatografi ini
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya infeksi malaria dan memantau
keberhasilan terapi anti-malaria. Tes ulang peru dilakukan setelah 5-10 hari
pengobatan. Jika intensitas pita masih tetap sama maka ada kemungkinan terjadi
kasus resistensi.
Untuk mengurangi angka kematian tersebut, dibutuhkan suatu sarana
diagnostik yang andal (sensitive dan spesifik, praktis dalam pelaksanaannya, cepat
dalam waktu pemeriksaannya, kurang dari 1 jam) dan efisien (Cost effective)
dalam pembiayaannya. WHO bersama para ilmuwan, ahli laboratorik serta
preklinik mengembangkan alat uji diagnostik cepat yaitu imunokromatografi
test(ICT). Imunokromatografi yang menggunakan antibodi monoklonal yaitu
HRP-2 Histidine Rich Protein) untuk Plasmodium falciparum.
Tes diagnostik cepat adalah alat yang mendeteksi antigen malaria pada
sampel darah yang sedikit dengan tes imunokromatografi. Tes imunokromatografi
berdasarkan pada penangkapan antigen parasit dari darah perifer menggunakan
antibodi monoklonal atau poliklonal terhadap antigen parasit. Untuk setiap
antigen parasit digunakan 2 set antibodi monoklonal atau poliklonal, satu sebagai
antibodi penangkap, dan satu sebagai antibodi deteksi. Antibodi monoklonal
bersifat lebih spesifik tapi kurang sensitif bila dibandingkan dengan antibodi
poliklonal.
Antigen yang digunakan sebagai target diagnostik dapat spesifik terhadap
satu spesies plasmodium, atau dapat mencakup 4 parasit malaria pada manusia.
Saat ini tes imunokromatografi dapat mendeteksi histidine-rich protein 2 (HRP2)
dari P.falciparum, parasite lactate dehydrogenase (p-LDH), dan aldolase yang
diproduksi oleh bentuk aseksual atau seksual dari parasit P. falciparum, P.vivax,
P. ovale, dan P. malaria.
HRP2 adalah target antigen malaria yang paling umum dan spesifik untuk
P.falciparum. HRP2 dari P. falciparum adalah protein yang larut air yang
diproduksi oleh bentuk aseksual danga metosit muda dari P. falciparum. HRP2
diekspresikan pada permukaan membran sel darah merah dan masih terdeteksi di
darah selama minimal 28 hari setelah dimulainya terapi antimalaria. Rata-rata 9-
12 hari setelah gigitan nyamuk infeksius, HRP2 P.falciparum ditemukan di
sirkulasi bertepatan dengan gejala klinis malaria. Jumlah HRP2P. falciparum
meningkat selama siklus infeksi eritrositer dengan jumlah terbesar dilepaskan saat
skizonruptur. HRP2 yang persisten dapat bermanfaat dalam mendeteksi
parasitemia yang rendah dan berfluktuasi pada malaria kronik.
Plasmodium aldolase adalah enzim jalur glikolisis pada parasit yang
diekspresikan oleh parasit P. falciparum dan non falciparum pada stadium
eritrositer. Antibodi monoklonal terhadap Plasmodium aldola setelah digunakan
dalam tes imunokromatografi kombinasi yang mendeteksi antigen pan-10 malaria
bersama dengan HRP2 dari P.falciparum.
Parasite lactate dehydrogenase (pLDH) adalah enzim glikolisis yang
diproduksi oleh bentuk aseksual dan seksual dari plasmodium, dan terdapat serta
dilepaskan oleh plasmodium yang menginfeksi eritrosit. pLDH telah ditemukan
pada ke empat spesies malaria dan untuk setiap spesies terdapat isomer yang
berbeda. Kemampuan RDT yang beredar pada umumnya ada 2 jenis yakni
mampu mendiagnosis hanya infeksi P. falciparum (single) dan mampu
mendiagnosis infeksi-infeksi P. Falciparum dan non falciparum (combo). Tes
pLDH didesain untuk mendeteksi parasitemia dengan konsentrasi parasit lebih
dari 100-200 parasit/μLdarah. Beberapa tes HRP2 P. falciparum dikatakan dapat
mendeteksi parasitemia aseksual dengan konsentrasi lebih dari 40 parasit/μL.
Pada umumnya, specimen untuk pemeriksaan RDT dapat berupa darah yang
diperoleh dari tusukan pada jari. Spesimen ini dicampur dengan larutan
penyangga yang mengandung hemolyzing compound dan antibodi spesifik.
Antibodi ini diberi label dengan penanda yang dapat dideteksi secara visual
seperti colloidal gold.

Pada beberapa alat, antibodi berlabel dikemas saat pembuatan dan hanya
larutan penyangga untuk melisis yang ditambahkan. Antibodi penangkap
disemprotkan dalam bentuk garis olehmesin pada membran nitroselulose dan
berikatan dengan membran pada fase imobile. Antibodi yang terfiksir ini bertugas
untuk mengekstrak dan mengikat antigen parasit dari sampel yang mengalir. Jika
antigen target ada didarah, maka akan terbentuk kompleks antigen-antibodi.
Kompleks ini akan berpindah ke atas strip tes untuk ditangkap oleh predeposit
antibodi yang spesifik terhadap antigen target dan terhadap antibodi berlabel
(sebagai prosedur kontrol). Larutan penyangga kemudian ditambahkan untuk
menghilangkan hemoglobin sehingga garis berwarna yang terbentuk dari
kompleks antigen-antibodi yang terimobilisasi dapat dilihat.
WHO menjelaskan bahwa RDT merupakan dipstick alternatif utama
berdasarkan manifestasi klinis malaria, terutama pada tempat yang tidak memiliki
teknisi dan sarana mikroskopis berkualitas.
Immunochromatographic test (ICT) digunakan dalam bentuk uji strip yang
mengandung antibodi monoklonal. Uji ini berdasarkan deteksi antigen yang
dikeluarkan oleh parasit malaria, yaitu PfHRP II. Prinsip ICT adalah mendeteksi
antigen yang dikeluarkan plasmodium dan selanjutnya akan terjadi reaksi
kompleks antigen-antibodi pada bahan nitroselulose acetatdimana komplek
tersebut diberi monoklonal antibodi (Mab) yang berlabel zat warna (colloidal
gold) sebagai penanda, sehingga muncul suatu tanda berupa garis yang
menyatakan hasil positif untuk Plasmodium falciparum, atau negatif. Interpretasi
hasil pemeriksaan ICT, yaitu hasil negatif jika terlihat garis kontrol (C) saja, hasil
positif jika 2 garis (C dan T) terlihat dan hasil invalid jika garis kontrol (C) tidak
muncul.
Hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi Malaria Rapid Test pada
probandus A.N Maya Linda Shafira yang berjenis kelamin perempuan dan
berumur 19 tahun dari 1 sampel terdapat hasil pemeriksaan yang menunjukkan
hasil negatif hal tersebut menunjukkan bahwa hasil tes negatif hanya ada pada
garis control saja yang muncul.

Kelebihan dan Kekurangan ICT. Kelebihan Immunochromato graphic Test


(ICT) antara lain :
1. ICT merupakan uji yang cepat, mudah dilakukan dan tidak membutuhkan
laboratorium khusus seperti sentrifus dan mikroskop.
2. Uji ini lebih praktis digunakan di lapangan, hanya membutuhkan sedikit
keahlian dan hasil sudah diperoleh dalam waktu berkisar 5-30 menit.
3. ICT dapat mendeteksi P. falciparumdan non P. falciparum, tetapi tidak dapat
membedakan antara P. Vivax,. P. Ovale,dan P. malariae, maupun membedakan
infeksi falciparummurni dari infeksi yang termasuk campuran P. falciparum.

Kekurangan Immunochromatographic Test (ICT) antara lain :


1. Sensitivitas biasanya mencapai > 90% pada level parasitemia > 100/μL darah
tetapi akan menurun pada parasitemia yang rendah, orang-orang yang tidak
imun dan yang sudah pernah mendapat terapi profilaksis malaria.
2. Hasil positif palsu dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain yaitu adanya
resisten obat dan reaksi silang dengan autoantibodi seperti rheumatoid factor.
3. Hasil negatif palsu dapat dijumpai pada malaria berat atau parasitemia yang
sangat tinggi yaitu > 40000 parasit /μL darah

Pemeriksaan RDT memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya hasil


positif palsu dan negatif palsu pada beberapa kasus. Hasil positif palsu terjadi
karena reaksi silang dengan faktor rematoid di darah. Hasil negatif palsu yang
jarang dapat disebabkan oleh delesi atau mutasi dari gen hrp-2. Kelemahan lain
dari RDT adalah tidak mampu menghitung densitas parasitemia, dan
kemampuannya kurang optimal pada parasitemia yang rendah. Kualitas alat
diagnostik RDT sangat dipengaruhi transportasi dan penyimpanan alat diagnostik.
Kelembaban dan temperatur yang tinggi dapat dengan cepat merusak reagen.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. Tes diagnostik cepat adalah alat yang mendeteksi antigen malaria pada
sampel darah yang sedikit dengan tes imunokromatografi. Tes
imunokromatografi berdasarkan pada penangkapan antigen parasit dari darah
perifer menggunakan antibodi monoklonal atau poliklonal terhadap antigen
parasit.
2. RDT merupakan dipstick alternatif utama berdasarkan manifestasi klinis
malaria, terutama pada tempat yang tidak memiliki teknisi dan sarana
mikroskopis berkualitas.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi Malaria Rapid Test
pada probandus A.N Maya Linda Shafira dari 1 sampel terdapat hasil
pemeriksaan yang negatif hal tersebut menunjukkan bahwa hasil hanya ada
pada garis control saja yang muncul.
XI. Daftar Pustaka
1. Kakkilaya B.S.  Rapid Diagnosis of Malaria. Labmed. 2003
2. Chandramohan D, Jaffar S, Greenwood B. Use of clinical algorithms
for diagnosing malaria.Trop Med Int Health 2002

3. World Health Organization. Malaria Rapid Diagnostic Test

Performance Results of WHO Product Testing Of Malaria RDT :


Round 1. Geneve: WHO. 2008
4. Dirjen PPPL. Pedoman Teknis Pemeriksaan Parasit Malaria.
Direktorat Pengendalian Penyakit Besumber Binatang. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta; 2007.
5. World Health Organization. Malaria Rapid Diagnostic Test
Performance Results of WHO Product Testing Of Malaria RDT:
Round 1. Geneve: WHO. 2008.
6. Handojo,Indro. 2004.Imunoasai Terapan Pada Beberapa Penyakit
Infeksi. Surabaya: Airlangga University Press.
7. Handojo, Indro. 2003. Pengantar Imunoasai Dasar.
Surabaya:Airlangga University Press.
8. Tjitra E, Suprianto S, Dyer M,dkk. Flied evaluation of the ICT malaria
P.f/P immunochromatographic test for detection of plasmodium
falciparum and plasmodium vivax in patients with a presumptive
clinical diagnosis of malaria in eastern Indonesia. J Clim
Microbial.37:2412-7
XII. Lampiran

Sampel

Buffer Malaria

Hasil Pemeriksaan dengan


Imunokromatografi Malaria Rapid Test
LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – XI (SEBELAS)
PEMERIKSAAN DENGAN IMUNOKROMATOGRAFI NS1

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : Noor Fadilla, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021

I. Judul Praktikum
Pemeriksaan dengan Imunokromatografi NS1
II. Tujuan
1. Untuk mendeteksi antigen dengue virus NS1 secara kualitatif dalam
serum manusia, plasma atau darah lengkap sebagai diagnosis infeksi
awal dengue akut dengan teknik imunokromatografi secara in vitro,
one step assay.
2. Untuk mengetahui dan memahami cara pemeriksaan dengan
Imunokromatografi NS1.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan dengan Imunokromatografi

NS1 adalah Imunokromatografi, Rapid Test.

IV. Prinsip
Tes cepat Dengue NS1 Ag adalah immunoassay kromatografi untuk
mendeteksi Dengue NS1 Ag manusia. Tes ini dimaksudkan untuk
digunakan sebagai bantuan dalam diagnosis Dengue. Konjugat antibodi
emas (emas koloid) akan berikatan dengan Dengue Ag dalam spesimen.
Intensitas garis akan bervariasi tergantung pada jumlah Ag yang ada dalam
sampel. Munculnya garis merah muda di wilayah pengujian harus
dianggap sebagai hasil positif.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Alat Uji
2. Penetes
3. Sisipan Produk

b. Bahan
1. Sampel : serum
2. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Di bawa kantong dan sampel ke suhu kamar.
2. Di keluarkan kartu tes dari kantungnya, dan letakkan di atas permukaan
yang kering.
3. Di oleskan 100 µl (3 tetes) serum atau plasma ke sampel dengan baik.
4. Di bacalah hasilnya dalam 15-20 menit.

VII. Nilai Rujukan


Positif : Adanya 2 pita warna (C dan T).

Negatif :
Garis kontrol (C) adalah satu-satunya garis yang terlihat. Hasilnya tidak
mengecualikan infeksi dengue. Jika gejala tetap ada, sampel baru harus
diambil dari pasien dalam 3-5 hari dan kemudian harus diuji ulang.

Tidak Valid :
Tes tidak valid jika garis kontrol (C) tidak muncul. Tes harus diulang
menggunakan perangkat baru.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Maya Linda Shafira
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 19 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Negatif (Garis kontrol (C) adalah satu-satunya garis
yang terlihat)

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan kesebelas kali ini yang berjudul “Pemeriksaan
dengan Imunokromatografi NS1” praktikan diharapkan mampu mengetahui,
memahami serta diharapkan dapat melakukan pemeriksaan dengan
Imunokromatografi NS1 dan mampu menginterpretasikan hasil yang diperoleh
dari pemeriksaan ini, bahkan mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan
praktikum ini.
Virus demam berdarah, ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus, yang tersebar luas pada daerah tropis dan subtropis di dunia. Terdapat
empat serotipe yang berbeda (virus demam berdarah 1, 2, 3, dan 4). Pada anak-
anak, infeksi sering subklinis atau disebabkan karena self limited febrile disease.
Bagaimanapun, jika pasien terinfeksi untuk kedua kalinya dengan serotipe yang
berbeda seperti penyakit yang lebih parah, demam berdarah dengue, atau sindrom
syok dengue, yang lebih mungkin dapat terjadi. Demam berdarah dianggap
sebagai penyakit virus yang dibawa oleh arthropoda yang paling penting karena
morbiditas dan mortalitas manusia yang diakibatkannya.
Virus Dengue merupakan flavivirus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
aegypti dan Aedes albopictus. Virus ini tersebar luas di daerah beriklim tropis dan
subtropis di seluruh dunia. Terdapat 4 serotipe yang diketahui yaitu virus
Dengue1, 2, 3, dan 4. Pada anak-anak, infeksi sering bersifat subklinis atau
menyebabkan demam yang berhenti dengan sendirinya. Meskipun demikian, jika
pasien terinfeksi virus beberapa kali oleh virus dengan serotipe yang berbeda, bisa
menyebabkan terjangkitnya penyakit yang lebih berat seperti Dengue hemorrhagic
fever (DHF) atau Dengueshock syndrome (DSS). Infeksi Dengue dianggap
sebagai penyakit virus terpenting yang ditularkan oleh arthropoda karena penyakit
dan kematian yang disebabkannya.
NS1 adalah glikoprotein yang hadir pada konsentrasi tinggi pada sera
pasien yang terinfeksi dengue selama fase klinis awal penyakit. Antigen NS1
ditemukan dari hari pertama sampai 9 hari setelah timbulnya demam pada sampel
pasien primer dan sekunder yang terinfeksi dengue. Biasanya IGM tidak
terdeteksi pada 5 sampai 10 hari setelah gejala penyakit infeksi dengue primer dan
pada 4 sampai 5 hari setelah gejala penyakit infeksi dengue sekunder. Pada infeksi
primer, IgG muncul pada hari ke 14 dan bertahan untuk hidup. Infeksi sekunder
menunjukkan kenaikan IgG dalam 1–2 hari setelah timbulnya gejala dan
menginduksi respon IgM setelah 20 hari infeksi.
Pemeriksaan NS1 Ag Dengue digunakan bila muncul gejala klinis berupa
demam pada hari ke 1-9. Tetapi pada hari ke 5 timbul pada umumnya mulai
terbentuk IgM yang mungkin dapat menghambat reaksi. Pemeriksaan ini dapat
mendeteksi virus dengue paling baik pada hari ke 1-4. Setelah hari ke 4 kadar
NS1 antigen akan menurun dan akan hilang pada hari ke 9. Apabila pengambilan
dilakukan setelah munculnya antibodi maka kadar virus dengue akan menurun.
Diperlukan ketepataan dalam pemilihan waktu dan jenis pemeriksaan.
Pemeriksaan cepat antigen NS1 Dengue merupakan pemeriksaan
imunologi kualitatif berbasis membran untuk mendeteksi antigen NS1 virus
Dengue dalam darah lengkap, serum, atau plasma. Dalam prosedur ini, antibodi
(anti-NS1 Dengue) diimobilisasi didaerah tespada perangkat. Setelah sampel
ditempatkan pada sumur, antigen NS1 Dengueakan bereaksi dengan partikel yang
dilapisi antibodi (anti-NS1 Dengue) yang terdapat pada bantalan sampel.
Campuran ini bermigrasi secara kromatografi disepanjang tes strip dan
berinteraksi dengan antibodi (anti-NS1 Dengue) yang diimobilisasi. Jika sampel
mengandung antigen NS1 virus Dengue, garis berwarna muncul pada daerah tes
dan menandakan hasil positif. Jika sampeltidak mengandung antigen NS1 virus
Dengue garis berwarna tidak akan muncul di daerah tes dan menandakan hasil
negatif. Sebagai kontrol prosedur, garis berwarna akan selalu muncul di daerah
kontrol dan menandakan bahwa volume sampel benar dan membran berfungsi
dengan baik. Daerah kontrol mengandung antibodi IgG anti-mouse
Hasil pemeriksaan dinyatakan positif jika terbentuk dua garis. Satu garis
harus selalu muncul di daerah control (C), dan satu garis berwarna lainnya muncul
di daerah tes (T). Hasil dinyatakan negatif jika satu garis berwarna muncul di
daerah C. Tidak terdapat garis di daerah T. Hasil dinyatakan invalid jika garis
kontrol tidak muncul. Volume sampel yang tidak tepat, atau prosedur yang tidak
benar bisa menjadi penyebab hasil invalid. Coba ulangi pemeriksaan dengan
menggunakan perangkatyang baru. Interpretasi hasil dapat dilihat pada gambar 4.1
Tes ini boleh menggunakan darah lengkap, serum atau plasma. Berikut
cara penanganan sampel darah lengkap: masukkan darah lengkap kedalam tabung
berisi antikoagulan (heparin, EDTA, Na Sitrat).Segera pindahkan serum atau
plasma dari bekuan untuk menghindari terjadinya hemolisis. Hanya gunakan
sampelyang jernih dan tidak hemolisis. Tes harus segera dikerjakan setelah
mendapatkan sampel, jangan biarkan sampel pada suhu ruang dalam waktu yang
lama. Serum atau plasma boleh disimpan pada suhu 2-8ºC selama 3 hari, bila
dibekukan pada suhu -20ºC masa simpan bisa lebih lama, namun harus dihindari
proses thawand freezepada sampellebih dari tiga kali.Bila akan menambahkan
pengawet boleh digunakan Sodium Azide 0,1% tanpa mempengaruhi hasil
pemeriksaan. Darah lengkap dari vena boleh disimpan pada suhu 2-8ºC bila akan
diperiksa dalam 2 hari setelah pengambilan, darah lengkap tidak boleh disimpan
dalam freezer. Darah lengkap dari jari harus segera diperiksa. Sampel dari
freezerharus dibiarkan mencair dengan sempurna sebelum pemeriksaan.
Dari praktikum yang telah dilakukan yaitu pemeriksaan dengan
Imunokromatografi NS1 menggunakan metode Imunokromatografi didapatkan
hasil pengamatan 1 sampel serum probandus A.N Maya Linda Shafira yang
berjenis kelamin perempuan dan berumur 19 tahun adalah negatif (-) mengapa
dikatakan demikian karena hanya satu garis berwarna muncul di daerah C tetapi
tidak terdapat garis di daerah T.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. NS1 adalah glikoprotein yang hadir pada konsentrasi tinggi pada sera pasien
yang terinfeksi dengue selama fase klinis awal penyakit. Antigen NS1
ditemukan dari hari pertama sampai 9 hari setelah timbulnya demam pada
sampel pasien primer dan sekunder yang terinfeksi dengue
2. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif jika terbentuk dua garis. Satu garis harus
selalu muncul di daerah control (C), dan satu garis berwarna lainnya muncul di
daerah tes (T). Hasil dinyatakan negatif jika satu garis berwarna muncul di
daerah C. Tidak terdapat garis di daerah T. Hasil dinyatakan invalid jika garis
kontrol tidak muncul.
3. Interpretasi hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi NS1 menggunakan
metode Imunokromatografi didapatkan hasil pengamatan 1 sampel serum
probandus A.N Maya Linda Shafira adalah negatif (-), mengapa dikatakan
demikian karena hanya satu garis berwarna muncul di daerah C tetapi tidak
terdapat garis di daerah T.

XI. Daftar Pustaka


1. SD Bioline. 2016. Manual Kit Instruction Reagen Dengue NS1
Antigen
2. Baratawidjaja K.G., Rengganis I., 2009. Imunologi Dasar. Edisi 8.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
3. Ritten house-Olson, Kate, Ernesto de nardin, 2016. Imunologi Dan
Serologi Klinis Modern: Untuk Kedokteran Dan Analis Kesehatan
(MLT/CLT), Alih Bahasa: Dian Ramadhani, et al. Jakarta: EGC.
4. Setia budi D. Pemeriksaan dengue NS1 antigen. Dalam: Gunardi H,
Tehuteru E, Kurniati N dkk, penyunting. Kumpulan tips pediatri. Edisi
kedua. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia;2011.h.127-8
5. Datta S, Wattal C. Dengue NS1 antigen detection : A useful tool in
early diagnosis of dengue virus infection. Indian J Med Microbiol
2010;28:107-10
6. Mc Bride WJH. Evaluation of dengue NS1 test kits for the diagnosis
of dengue fever. Diagnostic Microbiol and Infect Dis 2009;64:31-6.
7. Osorio L, Ramirez M, Bonelo A.Comparison of the diagnostic
accuracy of commercial NS1- based diagnostic test for early dengue
infection. Virol J 2010;7:361.
8. World Health Organization. Demam berdarah dengue.Jakarta:
EGC;1997.h.17-28

XII. Lampiran

Sampel
Hasil Pemeriksaan dengan Imunokromatografi NS1

LAPORAN PRAKTIKUM
PERCOBAAN KE – XII (DUA BELAS)
PEMERIKSAAN DENGAN IMUNOKROMATOGRAFI HCG
RAPID TEST

Nama : Vani Vrenika


NIM : 18.72.019248
Kelas : A
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : Imunoserologi
Dosen Pengampu : Rinny Ardina, S.ST., M.Si
Asisten Praktikum : 1. Noor Fadilla, A.Md., AK
2. Septi Presliana, A.Md., AK
3. Siti Khadijah. I, A.Md., AK

PROGRAM STUDI D-III ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021

I. Judul Praktikum
Pemeriksaan dengan Imunokromatografi HCG Rapid Test
II. Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengetahui apa yang dimaksud dengan
pemeriksaan HCG Rapid Test.
2. Mampu melakukan pemeriksaan HCG Rapid Test.

III. Metode
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan dengan Imunokromatografi
HCG Rapid Test adalah Imunokromatografi, Rapid Test.

IV. Prinsip
HCG Test Strip (Urine) adalah tes imunochromatographic dirancang untuk
penentuan cepat human chorionic gonadotropin (HCG) dalam urin. Tes ini
digunakan untuk memperoleh hasil kualitatif visual. Hal ini untuk
profesional dan pengujian diri digunakan diagnostik in vitro saja.

V. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Tes Strip
2. Pipet tetes

b. Bahan
1. Sampel : urine
2. Tissue

VI. Cara Kerja


1. Dilepaskan strip dari kantong foil dengan merobek pada takikan dan
menggunakannya sesegera mungkin.
2. Ditempatkan ujung strip dalam urin selama setidaknya 10 detik
sampai benar-benar basah. Jangan merendam melewati tanda panah.
3. Kemudian hapus dari urin dan menunggu band warna muncul.
4. Dibaca hasilnya dalam waktu 5 menit. Jangan membaca hasil setelah
lebih dari 5 menit.

VII. Nilai Rujukan


Positif : Dua garis merah yang berbeda muncul. Satu baris harus di
wilayah kontrol (C) dan garis lain harus di wilayah uji (T).

Negatif : Satu garis merah muncul di daerah kontrol (C). Tidak jelas garis
merah atau muda muncul di wilayah uji (T).

Invalid : Hasilnya tidak valid jika ada garis merah muncul di daerah
kontrol, bahkan jika garis yang muncul di daerah tes (T), Anda harus
mengulang ujian dengan tes baru.

CATATAN : Jika garis uji lemah, dianjurkan bahwa tes diulang dalam 48
jam.

VIII. Hasil Pengamatan


1. Nama Probandus : Ny. F
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 30 Tahun
4. Interpretasi Hasil : Positif/Dua garis merah yang berbeda muncul. Satu
baris harus di wilayah kontrol (C) dan garis lain harus di wilayah uji
(T).

IX. Pembahasan
Pada praktikum percobaan keduabelas kali ini yang berjudul
“Pemeriksaan dengan Imunokromatografi HCG rapid test” praktikan
diharapkan mampu mengetahui, memahami serta diharapkan dapat melakukan
pemeriksaan dengan Imunokromatografi HCG rapid test dan mampu
menginterpretasikan hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini, bahkan mampu
menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan praktikum ini.
HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam ovarium
dan merangsang telur dalam pelepasan telur dalam ovulasi. Hormon HCG
tersusun atas glikoprotein yang dihasilkan oleh protoblast dan bakal plasenta.
Pembentukan HCG maksimal pada 60-90 hari, kemudian turun ke kadar rendah
yang menetap selama kehamilan. Kadar HCG yang terus menerus rendah
berkaitan dengan gangguan perkembangan plasenta atau kehamilan. Kadar HCG
memiliki struktur yang sangat mirip dengan yang bekerja pada reseptor LH
sehingga usia korpus luteum memanjang. HCG mula-mula di produksi oleh sel
lapisan luar blastokista. Sel ini berdiferensiasi menjadi sel tropoblast,
sinsitiotropoblast yang berkembang dari tropoblast, terus menghasilkan HCG
yang disekresikan dan dapat dideteksi disekresi vagina sebelum inplantasi.
biasanya HCG dapat dideteksi di darah ibu 8-10 minggu.
HCG (Human Chorionic Gonadotropin) merupakan suatu hormon yang
dihasilkan oleh jaringan plasenta yang masih muda dan dikeluarkan lewat urin.
Hormon ini juga dihasilkan bila terdapat proliferasi yang abnormal dari jaringan
epitel korion seperti molahidatidosa atau suatu chorio carsinoma. Kehamilan akan
ditandai dengan meningkatnya kadar HCG dalam urin pada trimester I, HCG
disekresikan 7 hari setelah ovulasi. Pemeriksaan HCG dengan metode
immunokromatograp merupakan cara yang paling efektif untuk mendeteksi
kehamilan dini. Penggunaan strip HCG urine test merupakan suatu metode
immunoassay untuk memastikan secara kualitatif adanya  Human Chorionic
Gonadotropin (HCG) didalam urine sebagai deteksi dini adanya kehamilan.
Human Chorionic Gonadotropin merupakan sebuah hormon glikopeptida yang
dihasilkan oleh plasenta selama kehamilan. Adanya HCG dan  peningkatan
konsentrasinya secara cepat didalam urin ibu membuatnya sebagai  penanda untuk
memastikan kehamilan.
HCG adalah hormon yang diproduksi oleh jaringan trofoblas dan muncul
di sekitar hari ke 8-9 setelah ovulasi, atau sekitar 4 hari setelah pembuahan.
Dalam siklus 28 hari dengan ovulasi terjadi pada hari ke 14, HCG dapat dideteksi
dalam urin atau serum sekitar hari ke 23, atau 5 hari sebelum menstruasi.
Konsentrasi HCG akan meningkat dua kali lipatkira-kira setiap 2 hari dan
mencapai puncak antara 7-12 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.
Pada subjek normal, HCG dalam urine memberikan indikasi awal kehamilan.
Tingkat HCG yang meningkat dapat berhubungan dengan penyakit trofoblas dan
neoplasma nontrophoblastic tertentu. Dengan demikian,kemungkinan penyakit
lain harus dihilangkan sebelum diagnosis kehamilan dapat dibuat. HCG terdiri
dari dua subunit, alpha dan beta. Subunit alpha dari berbagai hormon glikoprotein
secara struktural sangat mirip, tetapi subunit beta berbeda dalam sekuens asam
amino. Perbedaan-perbedaan ini bertanggung jawab untuk spesifisitas biologis
dan imunologis mereka.
Pembentukan HCG (Human Chorioni/Gonatrolin) maksimal pada 60-90
hari, kemudian turun ke kadar rendah yang menetap selama kehamilan. Kadar
HCG yang terus menerus rendah berkaitan dengan gangguan perkembangan
plasenta atau kehamilan. Kadar HCG memiliki struktur yang sangat mirip dengan
yang bekerja pada reseptor LH sehingga usia korpus luteum memanjang.
HCG mula-mula di prodksi oleh sel lapisan luar blastokista. Sel in
berdiperensiasi menjadi sel trofoblash sinsitiotrofoblash yang berkembang dari
trofoblash terus menghasilkan HCG disekresikan dapat di deteksi didarah ibu 8-10
minggu. Di urine saat ini dapat diukur dalam dua minggu setelah pembuahan
Pemeriksaan HCG biasanya menggunakan sampel berupa urine. Sampel
urin pertama di pagi hari adalah yang paling optimal karena konsentrasi tertinggi
HCG ada pada saat itu. Sampel urin dapat dikumpulkan dalam wadah plastik atau
kaca kontainer yang bersih dan kering. Jika sampeltidak dapat segeradiujimaka
dapat disimpan pada2-8°C hingga 48 jam sebelum pengujian.Sampel harus
disesuaikandengan suhu kamar sebelum pengujian. Selan urin, keberadaan HCG
dapat dideteksi melalui serum atau plasma. Untuk sampel serum,darah
dikumpulkan dalam tabung tanpa antikoagulan sedangkan untuk sampel plasma,
darah dikumpulkan dalam tabung yang berisi antikoagulan. Pengujian harus
dilakukan segera setelah sampeltelah dikumpulkan. Jangan biarkan sampelpada
suhu kamar selama periode berkepanjangan.
Keberadaan HCG dalam urin atau serum dapat dideteksi dengan berbagai
jenis immunoassay seperti aglutinasi dan imunokromatografi. Imunokromatografi
menyediakan tes kualitatif yang lebih sederhana untuk dilakukan. Pada bantalan
perangkat tes imukromatografi berisi antibodi monoklonal anti-beta-HCG yang
telah dikonjugasikan dengan koloid emas. Membran daerah tes (T) dilapisi
antibodi monoklonal anti-alpha-HCG sedangkan membran daerah kontrol (C)
dilapisi IgG anti-goat. Ketika bantalan penyerap direndam dengan urin, urin akan
bermigrasi melalui kapiler menuju daerah T dan C. Jika HCG hadir dalam urin
maka akan bereaksi dengan antibodi anti-beta-HCG yang terkonjugasi
koloidemas. Kompleks imun tersebut akan bergerak dan ditangkapoleh antibodi
anti-alpha-HCG untuk membentuk garis berwarna di daerah T (Gambar 2.1).
Garis kontrol tidak dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya HCG dalam
sampel. Garis pada kontrolharus hadir di semua reaksi. Tidak adanya garis
berwarna pada daerah kontrol merupakan indikasi dari hasil yang tidak valid.
Batas deteksi untuk HCG adalah 20 mIU/ml. Sampel urinyang mengandung HCG
sama atau lebih besar dari 20 mIU/ml akan menginduksi tes positif. Sampel yang
mengandung HCG kurang dari 20 mIU/ml juga dapat menghasilkan garis positif
yang sangat samar.
Pemeriksaan HCG immunokromatogra Þ merupakan reaksi antara urine
wanita hamil yang mengandung Į dan ȕ HCG (monoclonal HCG lengkap) dengan
anti Įdan anti ȕ HCG pada test line (T) dan control line (C). Apabila stick
planotest dimasukkan dalam urine, maka urine akan meresap secara kapiler,
sehingga terjadi ikatan antara urine yang mengandung Į dan ȕ HCG dengan anti Į
dan anti ȕ HCG pada test line (T) dan control line (C) akibatnya akan timbul garis
warna merah pada test line (T) dan control line (C), garis warna merah ini
menunjukkan hasil yang positif. Dan apabila garis warna merah tidak tampak
pada test line (T) atau hanya terdapat pada control line (C) menun-jukkan hasil
test yang negative, karena tidak terjadi reaksi antara monoklonal HCG lengkap
dengan anti Į dan anti ȕ HCG.
Garis warna merah yang terjadi pada test line (T) dapat terjadi karena pada
test telah disensitisasi Ag dan konjugat ditambah urine sehingga kromogen
berikatan dengan Ab maka akan terbentuk reaksi garis warna merah. Konjugat
berisi Ab yang ditempeli enzyme jika kromogen bereaksi dengan en-zyme
(peroksidase), maka warna tereduksi sehingga tidak terbentuk warna merah teta-pi
apabila warna teroksidasi akan terbentuk warna merah pada test line (T).
Berdasarkan interpretasi hasil pemeriksaan, untuk mendeteksi adanya
HCG dalam urine wanita yang diduga hamil dari 1 sampel yang telah diperiksa
didapatkan hasil yang positif mengandung HCG. Dengan adanya HCG dalam
urine dapat membantu untuk mengetahui kehamilan.
Dari hasil pemeriksaan dengan Imunokromatografi HCG Rapid Test untuk
menguji kehamilan metode Imunokromatografi didapatkan hasil bahwa urine
pasien bernama Ny. F usia 30 tahun mengandung HCG positif, mengapa
dikatakan demikian karena berdasarkan data pengamatan interpretasi hasil pada
sampel urine pasien terbentuk dua garis merah yang berbeda muncul. Satu baris
harus di wilayah kontrol (C) dan garis lain harus di wilayah uji (T). Hasil tersebut
sama seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Pada pemeriksaan kehamilan menggunakan dapat menggunakan sampel


urin karena pengambilan sampel mudah, praktis, dan hanya memerlukan tempat
penampung urine saja.
Keuntungan pemeriksaan HCG secara immunokromatogra Þ :
a. Cepat, sehingga waktu yang dibutuhkan sangat singkat.
b. Mudah didapat karena diperdagangkan secara komersil.
c. Pesien dapat melakukan sendiri tanpa pergi ke RS, puskesmas, atau pada bidan
setempat.
d. Hasil pemeriksaan mudah dibaca sehingga tidak perlu diragukan.
Meskipun banyak keuntungan dari pemeriksaan metode ini, tetapi juga
terdapat beberapa kekurangan yaitu : tidak diketahui kadar HCG secara pasti,
membutuhkan biaya yang mahal. Test kehamilan metode ini terutama digunakan
untuk mendeteksi ke-hamilan pada awal setelah terjadinya ovulasi. HCG dapat di
deteksi dalam urine wanita hamil kira-kira 7 hari setelah pembuahan sel telur.
Dengan adanya HCG maka akan sangat membantu dalam penentuan diagnose
kehamilan dini. Pemeriksaan ini menunjukkan hasil yang positif lebih besar
apabila digunakan urine pagi hari karena lebih kon-sentrat sehingga mengandung
lebih banyak HCG per satuan volume. Pemilihan metode untuk pemeriksaan
adanya HCG dalam urine wanita yang diduga hamil dapat ditetapkan berdasarkan
kepekaan dari masing-masing reagen yang digunakan untuk pemeriksaan.

X. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, maka dapat ditarik kesimpulan yaitu
sebagai berikut :
1. HCG adalah hormon yang mendukung perkembangan telur dalam
ovarium dan merangsang telur dalam pelepasan telur dalam ovulasi.
Pemeriksaan HCG biasanya menggunakan sampel berupa urine.
Sampel urin pertama di pagi hari adalah yang paling optimal karena
konsentrasi tertinggi HCG ada pada saat itu.
2. Keberadaan HCG dalam urin atau serum dapat dideteksi dengan
berbagai jenis immunoassay seperti aglutinasi dan imunokromatografi.
Imunokromatografi menyediakan tes kualitatif yang lebih sederhana
untuk dilakukan. Pada bantalan perangkat tes imukromatografi berisi
antibodi monoklonal anti-beta-HCG yang telah dikonjugasikan dengan
koloid emas.
3. Berdasarkan hasil pemeriksaan
HCG dari 1 sampel A.N Ny. F
yang diperiksa, didapatkan hasil
positif yang mengandung HCG
karena terbentuk dua garis merah
yang berbeda muncul. Satu baris
harus di wilayah kontrol (C) dan
garis lain harus di wilayah uji (T)

XI. Daftar Pustaka


1. Kresno S.B. 1984. Immunologi Diagnosa dan Prosedur Laboratorium,

67-69 dan 113-114. FKUI, Jakarta.


2. Harti A.S., 2003. Pedoman dan Lembar Kerja Praktikum
Immunoserologi, 1-3, Surakarta.
3. Harti A.S., 2008. Diktat Kuliah Immunologi Serologi II, 11, Surakarta

XII. Lampiran

Sampel Urine
Hasil Pemeriksaan HCG

Tes Strip HCG

Tes Strip HCG