Anda di halaman 1dari 3

LEARNING JURNAL

Program pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS


Nama Mata Pelatihan : Analisis Isu Kontemporer
Angkatan : Bogor 7
Kelompok : 1
Nama Peserta : Eka Seftian Nurmayan, S.Pd.

1. Isu di unit kerja


SMP Negeri 2 Tanjungsari merupakan salah satu dari dua Sekolah Negeri tingkat
menengah pertama di Tanjungsari, sekolah ini masih tergolong sekolah baru karena baru
didirikan sejak tahun 2010 sehingga hingga tahun ini SMPN 2 Tanjungsari baru genap 11 Tahun,
tergolong muda untuk tingkat sekolah.
Jumlah peserta didik di SMPN 2 Tanjungsari pada tahun pelajaran 2020-2021 berjumlah
212 orang yang terbagi menjadi 6 kelas, 2 kelas 7, 2 kelas 8 dan 2 kelas 9. Dengan jumlah peserta
didik seperti itu, sekolah ini telah memiliki 14 tenaga pendidik dan 3 tenaga kependidikan serta 2
penjaga sekolah. Sebagian besar orang tua peserta didik adalah petani dan sisanya merupakan
wirausaha berdagang, buruh, dan beberapa sebagai pegawai di beberapa unit usaha di sekitar
Tanjungsari.
Secara geografis SMPN 2 Tanjungsari terletak di ujung bagia timur Kabupaten Bogor,
terletak di daerah perbukitan bebatasan langsung dengan kecamatan Sukamakmur, beberapa
daerah tempat tinggal peserta didik masih masuk dalam kategori blind spot sehingga peserta didik
masih kesulitan untuk mengakses internet baik untuk belajar ataupun untuk digunakan sehari-
hari.
Beberapa isu terkini yang menjadi bahan diskusi serta termasuk yang disampaikan oleh
kepala sekolah di forum rapat diantara lain :

1. Rendahnya motivasi belajar peserta didik


2. Kurangnya akses internet guna belajar dari rumah
3. Pengelolaan media komunikasi dan informasi sekolah yang maksimal
4. Kurangnya kegiatan program penguatan Pendidikan karakter
5. Belum optimalnya sarana prasarana sekolah

Dari beberapa isu tersebut terlihat hasil belajar peserta didik yang masih belum maksimal
terlihat dari hasil beberapa kegiatan evaluasi belajar baik penilaian sumatif ataupun formatif, nilai
khususnya pelajaran yang penulis ampu yakni matematika masih banyak yang di bawah kriteria
ketuntasan minimal (KKM). Untuk itu penulis mengangkat isu-isu di atas untuk di analisis dan
dicari solusi guna memperbaiki isu-isu diatas.
2. Teknik Analisis Isu
Setelah memahami berbagai isu kritikal yang dikemukakan di atas, maka selanjutnya perlu
dilakukan analisis untuk bagaimana memahami isu prioritas secara utuh dan kemudian dengan
menggunakan kemampuan berpikir konseptual dicarikan alternatif jalan keluar pemecahan isu.
Berikut tabel penentuan prioritas isu menggunakan pendekatan Urgency,
Seriousness, Growth (USG) :
No Isu U S G U+S+G Rank
Rendahnya motivasi belajar peserta
1 4 4 4 12 1
didik

2 Kurangnya akses internet guna


belajar dari rumah 3 2 3 8 5

Pengelolaan media komunikasi dan


3 2 3 4 9 4
informasi sekolah yang maksimal

4 Kurangnya kegiatan program


penguatan Pendidikan karakter 3 4 3 10 3

5 Belum optimalnya sarana prasarana


sekolah 3 3 4 11 2

Dari hasil analisis isu kontemporer dengan menggunakan teknik tapisan isu USG diatas
didapat isu prioritas di unit tempat penulis kerja adalah Rendahnya motivasi belajar peserta didik.
Kerena menurut penulis dan hasil diskusi dengan rekan kerja lainnya isu tersebut merupakan isu
yang sangat mendesak, serius dan semakin besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika
tidak segera ditangani.

3. Faktor penyebab
Ada beberapa faktor penyebab rendahnya motivasi belajar peserta didik, diantaranya:
• Kurangnya kesadaran pentingnya belajar dengan giat untuk masa depan mereka.
• Kurangnya dukung, pengawasan dan perhatian orang tua terhadap Pendidikan anak-anaknya.
• Terbatasnya metode dan model kegiatan belajar mengajar para pendidik.
• Minimnya sarana prasana belajar peserta didik

4. Gagasan Kreatif
• Adanya peran kolaboratif antara pihak sekolah yang diwakili oleh Wali Kelas, Guru
Bimbingan Konseling, serta Guru Mata Pelajaran dengan pihak Orang tua, agar terjalin
komunikasi lebih intens untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didiknya.
• Adanya kolaboratif sesama orang tua juga dengan wali kelas ataupun guru lainnya untuk
saling mengawasi, mendukung serta saling memperhatikan para anak-anaknya agar rasa
dalam diri perserta didik merasa terawasi, terdukung dan terperhatikan.
• Pihak sekolah mengadakan pelatihan secara intens untuk menambah wawasan Guru terhadap
metode dan model kegiatan belajar mengajar yang baik, menarik dan bermakna.
• Memanfaatkan sarana prasarana di lingkungan sekitar sebagai sarana prasarana belajar guru
dan peserta didiknya.