Anda di halaman 1dari 12

FILSAFAT HUKUM

Pendahuluan
A. Membincangkan Istilah Filsafat dan Filsafat Hukum
Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan memiliki pengertian yang cukup luas,
misalnya saja apa yang oleh Plato sijelaskan sebagai “ilmu/ajaran tentang
kesunyataan abadi” atau sebagaimana dijelaskan oleh Aristoteles sebagai
ilmu/ajaran tentang kebenaran, dengan demikian meliputi metafisika, logika, retorika,
etika, ekonomi, politik, dan estetika, yang ruang lingkupnya paling tidak meliputi
empat hal yaitu:
a. Apa yang dapat kita ketahui?
b. Apa yang harus kita perbuat?
c. Apa yang dapat kita harapkan?, dan
d. Apa manusia itu?
Kata filosofi diambil dari perkataan Yunani yaitu Philos (suka, cinta) dan Sophia
(kebijaksanaan). Jadi kata itu berarti cinta kepada kebijaksanaan. Ada lima definisi
filsafat. Pertama, filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap
kehidupan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Kedua, filsafat adalah
proses kritik atau pemikiran terhadap pemikiran dan sikap yang sangat kita junjung
tinggi. Ketiga, filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan yang
dibedakan dari filsafat kritik. Keempat, filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta
penjelasan tentang arti kata dan konsep. Kelima, filsafat adalah sekumpulan
problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia yang
dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat.
Adapun istilah filsafat yang dikenal, yang ada kaitannya dengan filsafat hukum
antara lain: legal philosophy, philosophy of law, legal theory, jurisprudence, rechts
filosofie dan lain sebagainya. Pengertian filsafat hukum pun ada berbagau pendapat,
yaitu merupakan ilmu, bagian dari filsafat yang objeknya hukum, menyangkut hati
nurani, merupakan filsafat terapan dan praktis, merupakan filsafat teoretis,
merupakan filsafat khusus yaitu hukum, merupakan sub species dari filsafat etika
dan lain sebagainya.
Permasalahan filsafat hukum diantaranya meliputi:
1. Masalah tujuan hukum, mengapa orang menaati hukum,
mengapa Negara berhak menghukum, hubungan hukum dengan kekuasaan,
masalah pembinaan hukum.
2. Masalah hakikat hukum, yang didukung oleh teori-teori:
Imperatif (asal mula hukum), Indikatif (kenyataan-kenyataan social yang
mendalam), Optatif (tujuan hukum, keadilan).
3. Masalah konsepsi-konsepsi tentang hukum yang
dikemukakan oleh para pendukung aliran-aliran dalam filsafat hukum, mulai
dari aliran Hukum Alam, Aliran Positivisme Hukum, Mazhab Sejarah, Aliran
Sociological Jurisprudence, Mazhab Unpad, Anthropological Juriprudence.

B. Menjelaskan Persoalan Mendasar dari Filsafat Hukum


Peristilahan
Adanya istilah legal philosophy, mengundang komentar antara lain dari Mochtar
Kusumaatmadja. Beliau mengatakan bahwa legal philosophy tidak sama dengan
filsafat hukum. Istilah filsafat hukum sebaiknya diterjemahkan ke bahasa asing
sebagai: philosophy of law atau Rechts filosofie. Selanjutnya, istilah legal dan legal
philosophy sama dengan undang-undang atau resmi, jadi kurang tepat sebagai
pengertian/peristilahan yang sama dengan filsafat hukum. Hukum bukan hanya
undang-undang dan hukum bukan hal-hal yang sama dengan resmi belaka.

Pengertian
Pengertian filsafat hukum antara lain:
a. Filsafat hukum merupakan ilmu. Hal ini dikemukakan Plato dan Aristoteles. Ilmu
di sini diartikan sebagai kegiatan berpikir;
b. Filsafat hukum berkaitan dengan persoalan nurani manusia sebagaimana
dijelaskan oleh Gustav Radbruch. Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahwa
filsafat hukum merupakan bagian dari filsafat yang objeknya khusus hukum.
c. Filsafat hukum merupakan filsafat khusus, hal ini dikemukakan oleh
Zevenbergen.
d. Filsafat hukum merupakan filsafat terapan, hal ini dikatakan oleh Zoachim
Friedrich. Filsafat hukum dapat diterapkan di dalam masyarakat dengan cara
menyusun teori hukumnya.
e. Filsafat hukum merupakan filsafat praktis. Dapat diartikan, bahwa filsafat hukum
agar mudah diterapkan harus pula disusun teori hukumnya; kalau dihubungkan
dengan pengertian jurisprudence akan sama artinya. Mochtar Kusumaatmadja
memberi pengartian pada yurisprudensi yaitu ilmu yang mempelajari pengertian
dasar dan sistem hukum secara lebih mendalam. Pengertian-pengertian dasar
dan sistem hukum tersebut, disebut pula teori hukum.
f. Filsafat hukum merupakan filsafat teoretis. Menurut Bellefroid dalam inleiding tot
de Recht Wettenschap, bahwa ilmu hukum meliputi:
1) Recht dogmatiek;
2) Algemeine Recht leer (termasuk di dalamnya teori hukum);
3) Recht Sociologie, Recht vergelijking, Recht historie;
4) Recht Politiek;
5) Recht filosofie.
Jadi pengertian teoretis di sini, bahwa filsafat hukum dibicarakan tersendiri begitu
pula teori hukum.
g. Bender berpendapat bahwa: filsafat adalah genus, filsafat etika adalah spesies
dan filsafat hukum merupakan sub spesiesnya

Ruang Lingkup Filsafat


Menurut Aristoteles, filsafat meliputi:
1) Logika
2) Filsafat teoritis, yang meliputi: ilmu pengetahuan alam, matematika, metafisika
(filsafat kosmologi).
3) Filsafat praktis, yang meliputi: etika, politik, ekonomi. Filsafat hukum merupakan
bagian dari filsafat etika.
4) Poetika (aestetika), misalnya: kesenian

Alam Berpikir Hukum dalam Telaah Berbagai Aliran/Mazhab Hukum


A. Pendahuluan

B. Logika
Istilah logika dalam bahasa Inggris disebut Logic, Latin Logica, Yunani Logike
atau Logikes yaitu apa yang termasuk ucapan yang dapa dimengerti atau akal
budi yang berfungsi baik, teratur, sistematis, dapat dimengerti. Logika itu adlah
ilmu tentang berpikir (Definisi Nominal), ilmu pengetahuan dan kecakapan utnuk
berpikir dengan lurus, teratur, dan betul (Definisi Realis); “logic si the science and
art of correct thinking”.
C. Mazhab dan Aliran Pemikir Hukum
- Aliran Hukum Alam
Hukum alam adalah hukum yang digambarkan berlaku abadi, yang
norma-normanya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, Adil, dari alam
semesta dan dari akal budi manusia. Sebagai hukum yang kekal dan abadi,
begitu jauh tidak terikat oleh waktu dan keadilan dalam tingkatan yang paling
mutlak kepada segenap umat manusia. Hukum alam adalah hukum yang
berakar pada bathin manusia atau masyarakat, dan hukum alam itu lepas
dari konvensi, perundang-undangan atau lain-lain alat kelembagaan.
Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besarnya, Soejoeno Koesoemo Sisworo,
mengemukakan sub-sub aliran hukum kodrat (nama lain dari hukum alam),
terdiri dari tiga kelompok besar, yaitu:
1. Aliran Zaman Kuno di Yunani dan Romawi; Anaximander, Heraclitos,
Parminides, Pitagoras, Kaum Sofist, Socrates, Plato, Aristoteles, Kaum
Stoa/Zeno, Seneca;
2. Dari abad pertengahan, Agustinus dan Thomas Aquinas
3. Zaman Baru; Macchiaveli, Jean Bodin, Grotius (Hugo de Groot),
Hobbest, Pufendorf, John Locke, Rousseau.
Immanuel Kant, membedakan Ilmu Hukum Metafisis dan Ilmu Hukum
Empiris. Bertolak dari persepsi hukumnya yang memandang hukum sebagai
suatu keharusan, Kant menganggap hukum alam bersumber pada
kategoriche Imperative. Konsepsi dasarnya adalah “bertindaklah kamu
demikian, sehingga alasan tindakamu dapat dijadikan alasan bertindak oleh
manusia lainnya. Oleh Kant, pembedaan hukum dengan moral didasarkan
pada motivasi tindakan itu. Adlaah moral jika motif bertindaknya bersifat
intern, adalah hukum, jika motif bertindaknya adalah ekstern.
Dari keseluruhan periode aliran hukum alam/hukum kodrat dapat
diabstrasikan 3 karakteristik yang umum fundamental yaitu:
1. Hukum kodrat sama halnya dengan alam, Tuhan dan akal
budi, adalah tetap abadi dan berlaku bagi umum bagi semua zaman dan
bangsa-bangsa.
2. Hukum kodrat hanya dapat dikenali secara tunggal oleh dan
dengan akal budi.
3. Hukum kodrat berfungsi bukan sekedar sebagai mata ukuran
bagi hukum positif, tapi lebih dari itu, yakni sebagai batu penguji yang
radikal revolusioner, dalam arti manakah hukum positif itu nyata-nyata
bertentangan dengan hukum kodrat maka hukum positif dapat
dikesampingkan dan atau dilanggar.

- Utilitarianisme
Tokoh terkemuka aliran ini adalah Jeremy Bentham, John Stuart Mill
dan Rudolf von Jhering. Menurut Bentham, hakikat kebahagiaan adalah
kenikmatan dan kehidupan yang bebas dari kesengsaraan. Menurutnya,
“The aim of law is The Greatest Happiness for the Greatest Number”.
Menurut John Stuart Mill juga berpendapat bahwa suatu perbuatan itu
hendaknya bertujuan untuk mencapai sebanyak mungkin kebaikan.
Menurutnya, “keadilan bersumber pada naluri manusia untuk menolak
dan membalas kerusakan yang diderita, baik oleh diri sendiri maupun
oleh siapa saja yang mendapatkan simpati dari kita. Perasaan keadilan
akan memberontak terhadap kerusakan, penderitaan,... hakikat keadilan,
dengan demikian mencakup semua persyaratan moral yang hakiki bagi
kesejahteraan umat manusia”.
Jhering menggabungkan pemikiran Bentham dan Stuart Mill.
Menurutnya, “Tujuan adalah pencipta dari seluruh hukum; tidak ada suatu
peraturan hukum yang tidak memiliki asal-usul pada tujuan ini, yaitu pada
motif yang praktis”. Tujuan hukum adalah kesejahteraan yang sebesar-
besarnya bagi rakyat, dan evaluasi hukum dilakukan berdasarkan akibat-
akibat yang dihasilkan dari proses penerapan hukumm. Berdasarkan
orientasi itu, maka isi hukum adalah ketentuan tentang pengaturan
penciptaan kesejahteraan Negara.
- Mazhab Hukum Historis
Pelopor aliran ini adalah Friedrich Karl von Savigny. Menurutnya,
perkembangan hukum tidak semata-mata merupakan bagian dari jiwa
rakyat, melainkan juga menjadi bidang ilmu hukum. Kekuatan untuk
membentuk hukum terletak pada rakyat, yang terdiri dari kompleksitas
individu dan perkumpulan-perkumpulan. Mereka mempunyai ikatan
rohani dan menjadi kesatuan jiwa dan bangsa. Hukum adalah bagian dari
rohani mereka, yang juga mempengaruhi perilaku mereka. Pembentuk
undang-undang harus mendapatkan bahnnya dari rakyat dan ahli hukum
dengan mempertimbangkan perasaan hukum dan keadilan masyarakat.

- Aliran Hukum Sosiologis


Sociological Jurisprudence merupakan aliran yang memberikan
perhatian sama pentingnya kepada faktor-faktor penciptaan dan
pemberlakuan hukum, yaitu masyarakat dan hukum.
Aliran Sociological Jurisprudence lebih mengarah kepada kenyataan
daripada kedudukan dan fungsi hukum dalam masyarakat. Erhlich dan
Roscoe Pound mencetuskan pemikiran : Hukum yang baik adalah hukum
yang sesuai dengan hukum yang hidup di dalam masyarakat”.
Perhatian aliran ini tidak sekedar pada esensi hukum tetapi juga
esensi perkembangan hukum, menurut Roscoe Pound tugas utama
hukum adalah rekayasa sosial, dengan fungsi utama antara lain untuk
melindungi kepentingan pribadi secara seimbang.
Sociological Jurisprudence lebih menekankan pada masalah evaluasi
hukum (kualifikasi hukum yang baik), kedudukan hukum tertulis dan tidak
tertulis, fungsi hukum sebagai sarana rekayasa sosial dengan
perkembangan hukum yang baik dan cara penerapan hukum.
- Aliran Hukum Realis-Pragmatis
John Chipman Gray, Oliver Wendel, Holmes dan Karl Llewellyn,
Jerome Frank adalah tokoh-tokoh yang membangun aliran ini dengan ciri:
1. Tidak ada mazhab realis, realisme adalah gerakan dalam
pemikiran dan kerja tentang hukum
2. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan
alat untuk tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian harus diuji tujuan
dan akibatnya.
3. Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara
hukum yang ada dan yang seharusnya ada untuk tujuan-tujuan studi.
4. Realisme tidak percaya pada ketentuan dan konsepsi-
konsepsi hukum, sepanjang ketentuan dan konsepsi hukum
menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan
dan orang-orang.
5. Realisme menekankan pada evolusi tiap bagian dari hukum
dengan mengingat akibatnya.

Tinjauan Filsafat Hukum Tentang Penegakan dan Penemuan Hukum di Indonesia


A. Pendahuluan: Beberapa Masalah Mendasar
Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh hukum khususnya dilihat dari aspek filosofis
adalah pencapaian tertinggi tentang hukum yaitu hakikat hukum, melalui landasan
kasih sayang kemanusiaan, keadilan yang dipandu oleh arahan rahmat Tuhan. Ini
dapat dimasukan ke dalam kelompok “Nilai Iman Keagamaan” (het religieus
waardevole). Pembangunan hukum sangat penting dan mendasar karena
merupakan upaya atau sebuah perjalanan dari kondisi-kondisi riil atau keadaan-
keadaan nyata (realitas) menuju kepada desiderata (yaitu semacam visi yang
hendak direalisasikan dengan melaksanakan misi pembangunan dalam terang dan
di bawah tuntutan paradigma. Manusia sebagai pengatur dan pengarah ritme
pembangunan, seyogianya apabila nilai-nilai iman dan keagamaan ikut berperan di
dalamnya.
B. Hakikat Filsafat dan Tuntunan Kearifan dalam Diri Manusia
Filsafat sebagai sistem meliputi 3 wilayah permasalahan:
a. permasalahan kasunyataan/zijnproblemen (mewujudkan metafisika tentang
manusia dan alam);
b. permasalahan pengetahuan/kennisproblemen (Wissenschaftlehre teori
kebenaran, teori pengetahuan, logika); dan
c. permasalahan nilai (teori nilai, etik, estetik, dan iman keagamaan/het religieus
waardevolle).

Manusia dalam kehidupan diri dengan masyarakatnya memiliki tujuan:


1. keserasian dalam bidang sopan santun, yaitu kesedapan/wallevandheis;
2. keserasian dalam bidang hukum yaitu kedamaian/vreedzaamheid.
Manusia merupakan sumber nilai dalam arti sebagai pencari, pendapat dan sekaligus
penimbul berbagai nilai dalam kehidupannya.
C. Wawasan Filsafat Hukum dan Pembangunan Hukum
Pembangunan pada dasarnya adalah pengembangan kebudayaan, tujuannya tidak
lain adalah pencapaian mutu kehidupan yang lebih tinggi, yang meliputi aspek lahir
maupun bathin, kehidupan lahir-bathin yang bermutu tinggi itu tentu mempersyaratkan
adanya keadilan agihan ruang dan waktu dan pemeliharaan lingkungan, serta
berkelanjutan.
Wawasan filosofis, paling tidak memiliki sifat-sifat:
a. Deduktif-spekulatif, menilai atau menghubungkan nilai
b. Sarana primer yang digunakan untuk pendekatan adalah intuisi, bahkan
perasaan halus yang mendambakan taufik hidayah dan inayah Allah
c. Perenungan transedental
d. Menempatkan hakikat pengertian hukum sebagai pengertian budaya
e. Berorientasi pada suatu Grundnorm yang transedental metayuridis atau metafisis
D. Filsafat Hukum, Hakim, dan Hakikat Penegakan Hukum
E. Penegakan hukum melihat hakim sebagai manusia yang akan memahami nilai-
nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Pada dasarnya tugas hakim dalam
menegakan hukum terkait erat dengan persoalan filsafat hukum, tugas hakim
secara konkrit adalah mengadili perkara, yang pada dasarnya merupakan
penafsiran terhadap realitas, yang dapat disebut sebagai penemuan hukum
yang menetapkan benar atau tidak benar menurut hukum dalam suatu situasi
konkrit berpikir hakim, yang diujikan pada hati nurani. Hal ini menunjukkan
bahwa secara substansial penemuan hukum hakim terkait dengan Pembukaan,
Alinea Pertama, yang secara substansial mengandung pokok pikiran tentang apa
yang kita pahami sebagai “peri-keadilan”.

Mengenal Lebih Dekat Beberapa Mazhab Pemikiran Hukum


A. Mazhab Hukum Alam
Hukum Alam adalah hukum yang normanya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa,
dari alam semesta dan dari akal budi manusia, karenanya ia digambarkan sebagai
hukum yang berlaku abadi. Tokohnya adalah Aristoteles, Thomas Aquinas dan Hugo
Grotius.
B. Mazhab Formalistis
Menurut mazhab formalis, hukum dan moral merupakan dua bidang terpisah dan harus
dipidahkan. Menurut Austin hukum merupakan sistem yang logis, tetap dan bersifat
tertutup serta terdiri atas unsur: perintah, sanksi, kewajiban dan kedaulatan. Ajarannya
tidak menyangkut kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan hukum. Hans Kelsen
dengan teori hukum murni mengatakan bahwa hukum tidak boleh dicampuri urusan-
urusan politik, kesusilaan, sejarah, kemasyarakatan, dan etika. Juga keadilan. Keadilan
menurut Kelsen adalah masalah ilmu politik.
C. Mazhab Kebudayaan dan Sejarah
Tokohnya adalah Friedrich Carl von Savigny dan Sir Henry Maine. Hakikat dari sistem
hukum menurut Savigny adalah sebagai pencerminan jiwa rakyat yang
mengembangkan hukum itu. Semua hukum berasal dari adat istiadat dan epercayaan
dan bukan berasal dari pembentuk undang-undang.
Maine mengatakan masyarakat ada yang statis dan ada yang progresif. Masyarakat
progresif adalah yang mampu mengembangkan hukum melalui 3 cara, yaitu: fiksi,
equity, dan perundang-undangan.
D. Utilitarianisme
Tokoh mazhab ini adalah Jeremy Bentham dan Rudolph Jhering. Bentham
mengemukakan agar pembentuk hukum harus membentuk hukum yang adil bagi
segenap warga masyarakat secara individual.
Rudolph von Jhering dikenal dengan social utilitarianism. Hukum merupakan suatu alat
bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Hukum adalah sarana untuk
mengendalikan individu-individu, agar tujuannya sesuai dengan tujuan masyarakat
dimana mereka menjadi warganya.
E. Sociological Jurisprudence
Tokoh mazhab ini adalah Eugen Ehrlich dan Roscoe Pound. Ehrlich mengatakan bahwa
pusat gaya tarik perkembangan hukum tidak terletak pada perundang-undangan, tidak
pada ilmu hukum, tetapi di dlaam masyarakat sendiri. Ajaran berpokok pada pembedaan
antara hukum positif dengan hukum yang hidup.
Sedangkan menurut Pound, hukum harus dipandang sebagai suatu lembaga
kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial, dan
adalah tugas ilmu hukum untuk mengembangkan suatu kerangka dengan mana
kebutuhan-kebutuhan sosial dapat terpenuhi secara maksimal.
F. Realisme Hukum
Tokoh yang terkenal adalah hakim agung Oliver Wendell Holmes, Jerome Frank, dan
Karl Llewellyn. Holmes mengatakan bahwa kewajiban hukum hanyalah merupakan
suatu dugaan bahwa apabila seseorang berbuat atau tidak berbuat, maka dia akan
menderita sesuai dengan keputusan suatu pengadilan. Lebih jauh Karl Llewellyn
menekankan pada fungsi lembaga-lembaga hukum. Pokok pendekatan kaum realis
antara lain: hukum adalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan hendaknya
konsepsi hukum itu menyinggung hukum yang berubah-rubah dan hukum yang
diciptakan oleh pengadilan.
G. Critical Legal Studies
Aliran ini memiliki metode dekonstruksi. Dekonstruksi dalam hukum merupakan
pembalikan untuk membantu mencoba melihat makna istilah yang tersembunyi, yang
kadangkala istilah tersebut telah cenderung diistimewakan melalui sejarah, meski
dekonstruksi itu sendiri tetap berada pada hubungan istilah/wacana tersebut. Balkin
memberikan penjelasan bahwa ada 3 hal menarik dalam teknik dekonstruksi hukum.
Pertama, teknik ini memberikan metodologi/cara untuk melakukan kritik mendalam
tentang doktrin-doktrin hukum. Kedua, dekonstruksi dapat menjelaskan bagaimana
argumentasi-argumentasi hukum, berbeda dengan idiologi. Ketiga, menawarkan cara
interpretasi baru terhadap teks hukum.
H. Feminisme Jurisprudence
Ahli-ahli hukum feminis dengan sangat kritis mencoba melihat bahwa hukum pada
dasarnya memiliki ketrbatasan untuk merealisasikan nilai-nilai sosial, bahwa hukum
(baik pembentukan aturan, maupun substansinya) sangat bersifat phallocentris
(yaitu lebih memihak kepentingan laki-laki), sehingga hukum berjalan untuk
kepentingan status quo. Feminisme dalam hukum juga menolak bagaimana posisi
wanita senantiasa dimarjinalkan dalam perjanjian, perkerjaan dan berbagai
kehidupan sosial, hukum selalu dibayang-bayangi oleh ideologi-ideologi maskulin.
I. Semiotika Jurisprudence
Dragan Milovanovic mengidentifikasikan semiotik sebagai penelitian tentang kode-kode
linguistik, kodifikasi mengenai sense data premodial, konstitusi subjektivitas dan
konsepsi tentang realita dalam wacana dan pengaruh-pengaruh konstitutif tentang
sistem koordinat linguistik tertentu.
Pembaharuan Hukum; Suatu Kewajiban Menegakkan Syariat
A. Pendahuluan
Syariat Islam bagi umat islam perumpamaannya seperti manusia dan nyawanya,
Mahmud Syaltut menjelaskan bahwa Islam merupakan ajaran yang sempurna yang
meliputi keyakinan sekaligus sistem hukum, oleh karena itu mengamalkan ajaran
merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi, artinya seorang Islam tidak punya
pilihan lain untuk menjalankan syariat islam dalam kehidupannya (QS. 2:208).
Terdapat perselisihan pandangan tidak hanya dengan orang non muslim tetapi juga
antara muslim dengan muslim yang akibatnya gaagsan penerapan syariat islam
dalam tataran tertentu mengalami kemandulan. Paling tidak ada 3 (tiga)
kecenderungan/pandangan atau sikap umat Islam terhadap penerapan Syariat,
yaitu:
1. kelompok skripturalis yang menginginkan hukum Islam diformalkan sebagaimana
tertulis dalam teks Al-Qur’an dan Sunnah
2. kelompok substantialis yang berpandangan penerapan hukum islam tidak mesti
persis seperti apa yang disebutkan dalam teks Al-Qur’an dan Sunnah asalkan
maqasid al syari’ah (tujuan ditetapkannya hukum islam bisa terlaksana, maka
sah-sah saja hukuman lain diterapkan).
3. kelompok sekularis yang menginginkan Islam hanyalah sebagai keyakinan saja.
B. Kegagalan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia
Pembaharuan hukum mengalami stagnasi, karena perubahan tidak dilakukan secara
mendasar dan paradigmatik. Reformasi harus ditinjau kembali, dan kembali kepada Al-
Qur’an dan Sunnah. Pemikiran ini didukung oleh pandangan: pertama, hukum islam
merupakan fenomena kultural umat yang latar belakangnya bisa dilihat dari berbagai
segi. Hukum islam telah hidup dalam masyarakat yang beragama islam di indonesia.
Kedua, sebagai hukum yang hidup, yang inheren dalam kehidupan umat islam, maka
hukum islam telah menjadi bagian dari kehidupan umat, sehingga hukum islam tidak lagi
dirasakan norma-norma hukum yang dipaksakan dari luar mereka. Ketiga, aturan-aturan
dalam Al-Qur’an dan Sunnah bersifat universal dan terjaga keutuhannya dengan
cakupan bidang yang lengkap baik bidang netral maupun tidak, yang secara konseptual
dapat dikembangkan secara bersama-sama dan menyeluruh. Keempat, selama kurun
waktu perkembangan hukum saat ini hukum nasional tidak mampu menjawab berbagai
persoalan yang muncul khususnya berkaitan dengan tujuan membawa umah kepada
kebahagiaan yang hakiki.
Inilah makna sesungguhnya reformasi bagi umat islam, yaitu mengembalikan umah dari
kungkungan peradaban jahiliyah, dan ke,mbali kepada ajaran islam yaitu Al-Qur’an dan
Sunnah Rasul, menempatkan Syariat Islam sebagi sesuatu yang supreme bagi seluruh
aspek kehidupan bangsa ini.