Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

INKONTINENSIA URINE
Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Tahap Stase Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh :
Rizca Cholidatun Ni’mah
0432950920019

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANI SALEH


PROGRAM PROFESI NERS
BEKASI, JUNI 2021
A. Pengertian

Inkontinensia urine merupakan eliminasi urine dari kandung kemih yang


tidak terkendali atau terjadi diluar keinginan (Brunner and Suddarth, 2002).
Inkontinensia urine didefinisikan sebagai keluarnya urine yang tidak
terkendali pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan
frekuensi dan jumlahnya,yang mengakibatkan masalah social dan higienis
penderitanya (FKUI, 2006).
Menurut International Continence Sosiety, inkontinensia urine adalah
kondisi keluarnya urin tak terkendali yang dapat didemonstrasikan secara
obyektif dan menimbulkan gangguan hygiene dan social.

B. Klasifikasi

Klasifikasi Inkontinensia Urine menurut (H. Alimun Azis, 2006)

a. Inkontinensia Dorongan

Inkontinensia dorongan merupakan keadaan dimana seseorang


mengalami pengluaran urin tanpa sadar, terjadi segera setelah merasa
dorongan yang kuat untuk berkemih.
b. Inkontinensia Total

Inkontinensia Total merupakan keadaan dimana seseorang mengalami


pengeluaran urin terus menerus dan tidak dapat diperkirakan.
c. Inkontinensia Stres

Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami kehilangan urin


kurang dari 50 ml, terjadi dengan peningkatan tekanan abdomen.
d. Inkontinensia refleks

Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluran urin


yang tidak dirasakan, terjadi pada interval yang dapat diperkirakan bila
volume kandung kemih mencapai jumlah tertentu.
e. Inkontinensia fungsional

Merupakan keadaan dimana seseorang mengalami pengeluaran urin


tanpa disadari dan tidak dapat diperkirakan.

C. Etiologi

Etiologi Inkontinensia Urine menurut (Soeparman & Waspadji Sarwono,


2001) :
a. Poliuria, nokturia

b. Gagal jantung

c. Faktor usia : lebih banyak ditemukan pada usia >50 tahun.

d. Lebih banyak terjadi pada lansia wanita dari pada pria hal ini
disebabkan oleh :
i. Penurunan produksi esterogen menyebabkan atropi jaringan
uretra dan efek akibat melahirkan dapat mgengakibatkan
penurunan otot-otot dasar panggul.
ii. Perokok, Minum alkohol.

iii. Obesitas

iv. Infeksi saluran kemih (ISK)


D. Tanda dan Gejala

a. Tanda-tanda Inkontinensia Urine menurut (H.Alimun Azis, 2006)

i. Inkontinensia Dorongan :

1. Sering miksi

2. Spasme kandung kemih

ii. Inkontinensia total

1. Aliran konstan terjadi pada saat tidak diperkirakan.

2. Tidak ada distensi kandung kemih.

3. Nokturia dan Pengobatan Inkontinensia tidak berhasil.

iii. Inkontinensia stres

1. Adanya urin menetes dan peningkatan tekanan abdomen.

2. Adanya dorongan berkemih.

3. Sering miksi.

4. Otot pelvis dan struktur penunjang lemah.

iv. Inkontinensia refleks

1. Tidak dorongan untuk berkemih.


2. Merasa bahwa kandung kemih penuh.

3. Kontraksi atau spesme kandung kemih tidak dihambat pada


interval.
v. Inkontinensia fungsional

1. Adanya dorongan berkemih.

2. Kontraksi kandung kemih cukup kuat untuk mengeluarkan urin.


E. Patofisiologi

Inkontinensia urine dapat terjadi dengan berbagai manifestasi, antara lain:

1. Perubahan yang terkait dengan usia pada sistem Perkemihan Vesika


Urinaria (Kandung Kemih). Kapasitas kandung kemih yang normal
sekitar 300-600 ml. Dengan sensasi keinginan untuk berkemih diantara
150-350 ml. Berkemih dapat ditundas 1-2 jam sejak keinginan
berkemih dirasakan. Ketika keinginan berkemih atau miksi terjadi pada
otot detrusor kontraksi dan sfingter internal dan sfingter ekternal
relaksasi,yang membuka uretra. Pada orang dewasa muda hampir
semua urine dikeluarkan dengan proses ini.Pada lansia tidak semua
urine dikeluarkan, tetapi residu urine 50 ml atau kurang dianggap
adekuat. Jumlah yang lebih dari 100 ml mengindikasikan adanya retensi
urine.Perubahan yang lainnya pada peroses penuaan adalah terjadinya
kontrasi kandung kemih tanpa disadari. Wanita lansia, terjadi
penurunan produksi esterogen menyebabkan atrofi jaringan uretra dan
efek akibat melahirkan mengakibatkan penurunan pada otot-otot dasar
(Stanley M & Beare G Patricia, 2006).
2. Fungsi otak besar yang terganggu dan mengakibatkan kontraksi
kandung kemih. Terjadi hambatan pengeluaran urine dengan pelebaran
kandung kemih, urine banyak dalam kandung kemih sampai kapasitas
berlebihan. Fungsi sfingter yang terganggu menyebabkan kandung
kemih bocor bila batuk atau bersin.
F. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Penunjang Inkontinensia Urine menurut (Soeparman &


Waspadji S, 2001). Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa
menggunakan alat-alat mahal.Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu
diperkirakan pada pemeriksaan fisik. Pengukuran yang spesifik dapat
dilakukan dengan ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada
saat dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga harus
dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada desakan keinginan untuk
berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang diperiksa dalam posisi
litotomi atau berdiri. Merembesnya urin seringkali dapat dilihat. Informasi
yang dapat diperoleh antara lain saat pertama ada keinginan berkemih, ada
atau tidak adanya kontraksi kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas
kandung kemih.
a. Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk
menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.Tes
laboratorium tambahan seperti kultur urin, blood urea nitrogen,
creatinin, kalsiumglukosasitol.
b. Catatan Berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih. Catatan
ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat mengalami
inkontinensia urine dan tidak inkontinensia urine, dan gejala berkaitan
denga inkontinensia urine. Pencatatan pola berkemih tersebut dilakukan
selam 1-3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan untuk memantau
respons terapi dan juga dapat dipakai sebagai intervensi terapeutik karena
dapat menyadarkan pasien faktor pemicu.

G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan inkontinensia urin adalah untuk mengurangi faktor


resiko, mempertahankan homeostasis, mengontrol inkontinensia urin,
modifikasi lingkungan, medikasi, latihan otot pelvis dan pembedahan.
Dari beberapa hal tersebut di atas, dapat dilakukan sebagai
berikut :Pemanfaatan kartu catatan berkemih yang dicatat pada kartu
tersebut misalnya waktu berkemih dan jumlah urin yang keluar, baik yang
keluar secara normal, maupun yang keluar karena tak tertahan, selain itu
dicatat pula waktu, jumlah dan jenis minuman yang diminum.
a. Terapi non farmakologi

Dilakukan dengan mengoreksi penyebab yang mendasari


timbulnya inkontinensia urin, seperti hiperplasia prostat, infeksi saluran
kemih, diuretik, gula darah tinggi, dan lain-lain.Adapun terapi yang
dapat dilakukan adalah : Melakukan latihan menahan kemih
(memperpanjang interval waktu berkemih) dengan teknik relaksasi dan
distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Lansia diharapkan
dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum waktunya.Lansia
dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula
setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia
ingin berkemih setiap 2-3 jam.Membiasakan berkemih pada waktu-
waktu yang telah ditentukan
sesuai dengan kebiasaan lansia. Promted voiding dilakukan dengan cara
mengajari lansia mengenal kondisi berkemih mereka serta dapat
memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila ingin berkemih. Teknik
ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif (berpikir).
Melakukan latihan otot dasar panggul dengan mengkontraksikan otot
dasar panggul secara berulang-ulang.
Adapun cara-cara mengkontraksikan otot dasar panggul tersebut
adalah dengan cara :
Berdiri di lantai dengan kedua kaki diletakkan dalam keadaan
terbuka, kemudian pinggul digoyangkan ke kanan dan ke kiri ± 10 kali,
ke depan ke belakang ± 10 kali. Gerakan seolah-olah memotong feses
pada saat kita buang air besar dilakukan ± 10 kali. Hal ini dilakukan
agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat dan urethra dapat tertutup
dengan baik.
b. Terapi farmakologi

Obat-obat yang dapat diberikan pada inkontinensia urgen adalah


antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine, flavoxate,
Imipramine. Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis,
yaitu pseudoephedrine untuk meningkatkan retensi urethra. Pada
sfingter relax diberikan kolinergik agonis
sepertiBethanecholataualfakolinergik antagonis sepertiprazosinuntuk
stimulasi kontraksi, danterapi diberikan secara singkat.
c. Terapi pembedahan

Terapi ini dapat dipertimbangkan pada inkontinensia tipe stress


dan urgensi, bila terapi non farmakologis dan farmakologis tidak
berhasil. Inkontinensia tipeoverflow umumnya memerlukan tindakan
pembedahan untuk menghilangkan retensi urin. Terapi ini dilakukan
terhadap tumor, batu, divertikulum, hiperplasia prostat, dan prolaps
pelvic (pada wanita).
d. Modalitas lain

Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang


menyebabkan inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat
bantu bagi lansia yang mengalami inkontinensia urin, diantaranya
adalah pampers, kateter.
e. Pemantauan Asupan Cairan

Pada orang dewasa minimal asupan cairan adalah 1500 ml perhari


dengan rentan yang lebih adekuat antara 2500 dan 3500 ml perhari
dengan asumsi tidak ada kondisi kontraindikasi. Lansia yang kontinen
dapat membatasi asupan cairan secara tidak tepat untuk mencegah
kejadian-kejadian yang memalukan. Pengurangan asupan cairan
sebelum waktu tidur dapat mengurangi inkontinensia pada malam hari,
tetapi cairan harus diminum lebih banyak selama siang hari sehingga
total asupan cairan setiap harinya tetap sama.
Konsep Asuhan
Keperawatan Pengkajian
Adapun data-data yang akan dikumpulkan dikaji pada asuhan keperawatan
klien dengan diagnosa medis Inkontinensia Urine :
i. Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama/kepercayaan, status


perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, diagnosa
medis.
ii. Keluhan Utama

Pada kelayan Inkontinensia Urine keluhan-keluhan yang ada adalah


nokturia, urgence, disuria, poliuria, oliguri, dan staguri.
iii. Riwayat Penyakit Sekarang

Memuat tentang perjalanan penyakit sekarang sejak timbul keluhan,


usaha yang telah dilakukan untuk mengatasi keluhan.
iv. Riwayat Penyakit Dahulu

Adanya penyakit yang berhubungan dengan ISK (Infeksi Saluran


Kemih) yang berulang. penyakit kronis yang pernah diderita.
v. Riwayat Penyakit keluarga

Apakah ada penyakit keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit Inkontinensia Urine, adakah anggota keluarga
yang menderita DM, Hipertensi.
vi. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik yang digunakan adalah B1-B6 :


1. B1 (breathing)

Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis


karena suplai oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah
kelainan pada perkusi.
2. B2 (blood)

Terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan


gelisah
3. B3 (brain)

Kesadaran biasanya sadar penuh

4. B4 (bladder)

Inspeksi :periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau


menyengat karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri)
dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada
lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik lesi pada
meatus uretra, banyak kencing dan nyeri saat berkemih
menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang
kateter sebelumnya. Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah
supra pubik / pelvis, seperti rasa terbakar di uretra luar sewaktu
kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
5. B5 (bowel)

Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri


tekan abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya
ketidaknormalan palpasi pada ginjal.
6. B6 (bone)

Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan


ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian.

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk


berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi
kandung kemih
2. Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter dalam waktu yang
lama.
3. Resiko kerusakan integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan
oleh urine.
4. Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang
tidak adekuat

Intervensi

1) Diagnosa 1

Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan tidak adanya sensasi untuk


berkemih dan kehilangan kemampuan untuk menghambat kontraksi kandung
kemih.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien akan bisa
melaporkan suatu pengurangan / penghilangan inkontinensia
Kriteria Hasil :

Klien dapat menjelaskan penyebab inkonteninsia dan rasional


penatalaksanaan. Intervensi :
1. Kaji kebiasaan pola berkemih dan gunakan catatan berkemih sehari.

R: Berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan beri distensi kandung


kemih
2. Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam hari

R: Pembatasan cairan pada malam hari dapat mencegah terjadinya enurasis

3. Bila masih terjadi inkontinensia kurangi waktu antara berkemih yang telah
direncanakan
R: Kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup untuk menampung
volume urine sehingga diperlukan untuk lebih sering berkemih.
4. Instruksikan klien batuk dalam posisi litotomi, jika tidak ada kebocoran,
ulangi dengan posisi klien membentuk sudut 45, lanjutkan dengan klien
berdiri jika tidak ada kebocoran yang lebih dulu.
R: Untuk membantu dan melatih pengosongan kandung kemih.

5. Pantau masukan dan pengeluaran, pastikan klien mendapat masukan cairan


2000 ml, kecuali harus dibatasi.
R: Hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah ISK dan batu ginjal.

6. Kolaborasi dengan dokter dalam mengkaji efek medikasi dan tentukan


kemungkinan perubahan obat, dosis / jadwal pemberian obat untuk
menurunkan frekuensi inkonteninsia.
2) Diagnosa 2

Resiko infeksi berhubungan dengan inkontinensia, imobilitas dalam waktu yang


lama.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
berkemih dengan nyaman.
Kriteria Hasil :

Urine jernih, urinalisis dalam batas normal, kultur urine menunjukkan tidak
adanya bakteri.
Intervensi :

1. Berikan perawatan perineal dengan air sabun setiap shift. Jika pasien
inkontinensia, cuci daerah perineal sesegera mungkin.
R: Untuk mencegah kontaminasi uretra.

2. Jika di pasang kateter indwelling, berikan perawatan kateter 2x sehari


(merupakan bagian dari waktu mandi pagi dan pada waktu akan tidur) dan
setelah buang air besar.
R: Kateter memberikan jalan pada bakteri untuk memasuki kandung kemih
dan naik ke saluran perkemihan.
3. Ikuti kewas padaan umum (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
langsung, pemakaian sarung tangan), bila kontak dengan cairan tubuh atau
darah yang terjadi (memberikan perawatan perianal, pengosongan kantung
drainase urine, penampungan spesimen urine). Pertahankan teknik aseptik
bila melakukan kateterisasi, bila mengambil contoh urine dari kateter
indwelling.
R: Untuk mencegah kontaminasi silang.

4. Kecuali dikontraindikasikan, ubah posisi pasien setiap 2jam dan anjurkan


masukan sekurang-kurangnya 2400 ml / hari. Bantu melakukan ambulasi
sesuai dengan kebutuhan.
R: Untuk mencegah stasis urine.

5. Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine.

 Tingkatkan masukan sari buah berri.

 Berikan obat-obat, untuk meningkatkan asam urine.

R: Asam urine menghalangi tumbuhnya kuman. Karena jumlah sari buah


berri diperlukan untuk mencapai dan memelihara keasaman urine.
Peningkatan masukan cairan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan
infeksi saluran kemih.

3) Diagnosa 3

Resiko kerusakan integitas kulit yang berhubungan dengan irigasi konstan oleh
urine
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keruskan integritas
kulit teratasi.
Kriteria Hasil :

 Jumlah bakteri <100.000/ml.

 Kulit periostomal tetap utuh.


 Suhu 37° C.

 Urine jernih dengan sedimen minimal.


Intervensi :

1. Pantau penampilan kulit periostomal setiap 8jam.

R: Untuk mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang


diharapkan.
2. Ganti wafer stomehesif setiap minggu atau bila bocor terdeteksi.

Yakinkan kulit bersih dan kering sebelum memasang wafer yang baru.
Potong lubang wafer kira-kira setengah inci lebih besar dar diameter
stoma untuk menjamin ketepatan ukuran kantung yang benar-benar
menutupi kulit periostomal. Kosongkan kantung urostomi bila telah
seperempat sampai setengah penuh.
R: Peningkatan berat urine dapat merusak segel periostomal,
memungkinkan kebocoran urine. Pemajanan menetap pada kulit
periostomal terhadap asam urine dapat menyebabkan kerusakan kulit
dan peningkatan resiko infeksi.

4) Diagnosa 4

Resiko kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan volume cairan
seimbang
Kriteria Hasil : pengeluaran urine tepat, berat badan 50
kg Intervensi
1. Awasi TTV
R: Pengawasan invasive diperlukan untuk mengkaji volume intravascular,
khususnya pada pasien dengan fungsi jantung buruk.
2. Catat pemasukan dan pengeluaran

R: Untuk menentukan fungsi ginjal, kebutuhan penggantian cairan dan


penurunan resiko kelebihan cairan
3. Awasi berat jenis urine

R: Untuk mengukur kemampuan ginjal dalam mengkonsestrasikn urine

4. Berikan minuman yang disukai sepanjang 24 jam

R: Membantu periode tanpa cairan, meminimalkan kebosanan pilihan yang


terbatas dan menurunkan rasa haus
5. Timbang BB setiap hari

R: Untuk mengawasi status cairan

Evaluasi

Evaluasi keperawatan terhadap gangguan inkontinensia dapat dinilai dari adanya


kemampuan dalam :
a) Miksi dengan normal, ditunjukkan dengan kemampuan berkemih sesuai
dengan asupan cairan dan pasien mampu berkemih tanpa menggunakan
obat, kompresi pada kandung kemih atau kateter
b) Mempertahankan intergritas kulit, ditunjukkan dengan adanya perineal
kering tanpa inflamasi dan kulit di sekitar uterostomi kering.
c) Memerikan rasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disuria, tidak
ditemukan adanya distensi kandung kemih dan adanya ekspresi senang.
d) Melakukan Bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi
inkontinensia dan mampu berkemih di saat ingin berkemih.