Anda di halaman 1dari 4

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 23/MENKES/SK/I/2013

TENTANG

PEMBERIAN IMUNISASI DIFTERI PERTUSIS TETANUS/


HEPATITIS B/HAEMOPHILUS INFLUENZA TIPE b

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan


masyarakat dan mempertahankan status kesehatan
seluruh rakyat perlu dilakukan imunisasi sebagai
tindakan preventif;
b. bahwa berdasarkan rekomendasi Komite Penasehat
Ahli Imunisasi Nasional (Indonesian Technical
Advisory Group on Immunization/ITAGI) dan Strategic
Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE),
perlu mengintegrasikan vaksin Haemophilus
Influenza Tipe b (Hib) ke dalam Difteri Pertusis
Tetanus/Hepatitis B (DPT/HB) sebagai Program
Imunisasi untuk menurunkan angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan akibat Pneumonia dan
Meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus
Influenza Tipe b;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang
Pemberian Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus/
Hepatitis B/Haemophilus Influenza Tipe b;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang


Kesejahteraan Anak (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3143);
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang
Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3273);
3. Undang-Undang...
-2-
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4844);
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991
tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991
Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3447);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996
tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3637);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998
tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1998 Nomor 138, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3781);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4737);
10. Peraturan...
-3-
10. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 124,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5044);
11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1611/Menkes/
SK/XI/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Imunisasi;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/
Per/XI/2008 tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran;
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 482/Menkes/
SK/VI/2010 tentang Gerakan Akselerasi Imunisasi
Nasional Universal Child Immunization 2010-2014
(GAIN UCI);
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/
Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 585);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


PEMBERIAN IMUNISASI DIFTERI PERTUSIS
TETANUS/HEPATITIS B/HAEMOPHILUS INFLUENZA
TIPE b.

KESATU : Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus/Hepatitis B/


Haemophilus Influenza Tipe b yang selanjutnya disebut
Imunisasi DPT/HB/Hib ditetapkan sebagai imunisasi
rutin yang diberikan di seluruh wilayah Indonesia
secara bertahap.

KEDUA : Imunisasi DPT/HB/Hib sebagaimana dimaksud Diktum


Kesatu diberikan kepada sasaran usia 2 (dua) bulan
sampai dengan 36 (tiga puluh enam) bulan dengan
jadwal sebagai berikut:
a. Imunisasi DPT/HB/Hib 1 pada usia 2 (dua) bulan;
b. Imunisasi DPT/HB/Hib 2 pada usia 3 (tiga) bulan;
c. Imunisasi DPT/HB/Hib 3 pada usia 4 (empat) bulan;
dan
d. Imunisasi DPT/HB/Hib lanjutan pada usia 15 (lima
belas) bulan.

KETIGA...
-4-
KETIGA : Bagi bayi dan anak yang belum mendapatkan imunisasi
sesuai jadwal sebagaimana dimaksud Diktum Kedua,
Imunisasi DPT/HB/Hib harus segera diberikan dengan
interval pemberian minimal 4 (empat) minggu.

KEEMPAT : Tahapan wilayah pemberian Imunisasi DPT/HB/Hib


sebagaimana dimaksud Diktum Kesatu sebagai berikut:
a. Tahun 2013 meliputi Provinsi Jawa Barat, Bali, Nusa
Tenggara Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta;
b. Tahun 2014 meliputi Provinsi DKI Jakarta, Banten,
Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara,
Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jambi,
Lampung, dan Sulawesi Selatan, serta Provinsi yang
telah melakukan Tahun 2013; dan
c. Tahun 2015 meliputi seluruh Provinsi di Indonesia.

KELIMA : Ketentuan lebih lanjut tentang Pemberian Imunisasi


DPT/HB/Hib diatur dalam Petunjuk Teknis yang
ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

KEENAM : Seluruh biaya yang diperlukan dalam penyelenggaraan


pemberian Imunisasi DPT/HB/Hib dibebankan pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah, serta sumber dana lain
yang sah sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

KETUJUH : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Januari 2013

MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd

NAFSIAH MBOI