Anda di halaman 1dari 6

Hubungan antara Perubahan Iklim dengan Kehadiran Virus Covid-19

Akhir 2019 hingga awal 2020, dunia

dikejutkan dengan kehadiran virus

baru. Ialah Novel Coronavirus, atau

biasa disebut Corona atau Covid-19.

Wuhan, Cina menjadi tempat penemuan

pertama virus ini. Dilansir dari laporan

WHO 20 Januari 2020, pada 31 Gambar 2.45 Ilustrasi model virus Corona

Desember 2019, WHO Cina melaporkan (Sumber: www.jatim.times.com)

ada kasus mirip pneumonia yang belum diketahui penyebabnya. Dua pekan setelah itu,

tepatnya pada 11 dan 12 Januari 2020, WHO Cina mengumumkan kasus tersebut

bermula dari sebuah pasar hewan di Wuhan. Sejak pengumuman itu, virus baru ini

diidentifikasi dalam tipe baru coronavirus. Sehari setelahnya, Thailand mengumumkan

kasus Corona pertama di negara mereka, diikuti Jepang dan Korea Selatan. Sedangkan

di Indonesia sendiri, awalnya muncul di Kota Depok, Jawa Barat sekitar bulan April

2020.

Virus yang menyebabkan Covid-19 ini, terus menyebar ke berbagai belahan dunia.

Hingga 1 Januari 2021, WHO mencatat ada sekitar 83.4 juta kasus di seluruh dunia,

dengan angka kematian 1.82 juta. Sedangkan di Indonesia, tercatat 735 ribuan kasus.

Dan yang mencengangkan lagi, kabar terbaru per tanggal 31 Mei 2021, jumlah kasus

Covid-19 atau pasien positif corona di Indonesia mencapai 1.821.703 orang. Penambahan

kasus positif Covid-19 hari itu dalam 24 jam terakhir sebanyak 5.662 orang.

Sementara itu, untuk pasien sembuh mengalami penambahan sebanyak 5.121 orang,

lebih rendah dibanding hari kemarinnya. Tercatat akumulasi pasien yang sembuh dari

Covid-19 hari tersebut mencapai 1.669.119 orang. Ada pun pasien meninggal dunia

mengalami penambahan sebanyak 174 orang, lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya.

Secara total, kasus kematian akibat pandemi virus corona di Indonesia mencapai
50.578 orang. Sementara itu, masih ada 102.006 kasus aktif atau pasien yang dirawat

di rumah sakit dan menjalani isolasi mandiri di rumah.

Dari sebuah pasar hewan, virus

terbaru, menyebar, dan virus ini telah

bermutasi. Bagaimana bisa terjadi? Jauh

sebelum Novel Coronavirus, sudah ada

beberapa kasus serupa. Sebut saja Middle

East Respiratory Syndrome (MERS) atau

Severe Acute Respiratory Syndrome

(SARS), yang masih satu keluarga dengan

Covid-19 atau SARS-Cov2. Ditarik lebih

jauh lagi, ada kasus pandemi yang

disebabkan oleh virus H1N1 pada 1918,

pandemi virus H2N2 pada 1957, pandemi

1968 yang disebabkan H3N2, dan beberapa

lainnya. Covid-19 bukanlah penyakit

pertama yang menjadi pandemi.

David Wallace-Well dalam bukunya,

menuliskan kekhawatirannya terhadap

permasalahan wabah. "Yang lebih membuat

khawatir para ahli epidemologi dibanding


Gambar 2.45 Penumpukkan pasien Covid-19 di rumah
sakit, Wuhan, Brazil dan Indonesia
penyakit purba adalah penyakit yang ada

sekarang berpindah tempat, berubah, atau (Sumber: www.tekno.tempo.co,


www.news.okezone.com, www.wartaekonomi.co.id)
bahkan mengalami evolusi lanjutan karena

pemanasan global." (Bumi Yang Tak Dapat Dihuni, 2019, dalam situs www.pikiran-

rakyat.com). Dari pernyataan Wallace-Well itu, secara tidak langsung, pemanasan

global ikut berperan dalam permasalahan wabah, tidak hanya Covid-19. Indonesia

Climate Change Trust Fund juga mengatakan, perubahan iklim (termasuk pemanasan
global) memang tidak menyebabkan wabah Covid-19, tapi “dapat membantu

menyebarkannya”.

Penyebaran virus Covid-19, ialah peristiwa zoonosis, mirip flu burung yang berawal

dari unggas dan PES dari tikus, virus ini menular dari hewan ke manusia. Lalu bagaimana

hewan-hewan yang selama ini dianggap baik-baik saja, terserang virus? Ada banyak hal

yang memengaruhinya, salah satunya perubahan iklim.

"Pemanasan global akan mengacau ekosistem-ekosistem itu, sehingga akan

membantu penyakit menerobos batas," tulis Wallace-Well dalam bukunya. Pemanasan

global yang terjadi akibat krisis iklim, membuat suhu bumi meningkat, es di kutub

mencair, membuat berbagai perubahan di muka bumi. Karena itu, setiap makhluk hidup

harus beradaptasi. Begitu pula virus dan bakteri.

Wallace-Well mencontohkan dalam bukunya, fenomena mega-death yang dialami

oleh sekelompok saiga pada Mei 2015. "Hampir dua per tiga populasi saiga sedunia

tewas dalam hitungan hari, tiba-tiba ratusan ribu bangkai saiga bergelimpangan tanpa

ada yang bertahan hidup." Setelah diteliti, ternyata penyebabnya ialah bakteri yang

selama ini ada di tubuh saiga, Pasteurella multocida. Bakteri itu mengalami

pertumbuhan pesat dan menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan saiga mati.

"Tempat-tempat saiga mati pada Mei 2015 menjadi hangat dan lembap. Iklim menjadi

pemicu, sedangkan bakteri itu menjadi pelurunya. Habitat saiga yang memanas dan

makin lembap, menyebabkan bakteri dalam tubuhnya beradaptasi, yakni menjadi cepat

bertumbuh. Hal semacam ini, juga bisa terjadi pada virus dan bakteri lain, begitu juga

Covid-19.

Novel Coronavirus, merupakan anggota baru dalam keluarga besar Coronavirus. Itu

artinya, virus terus bertumbuh dan menghasilkan virus-virus baru. Dilansir dari laman

Drug.com, virus berasal dari material genetik DNA atau RNA, yang mana materi ini bisa

bermutasi. Dalam Kajian Molekular Patogenesis dan Transmisi Covid-19 yang diunggah

Universitas Airlangga di laman resminya, menyebutkan bahwa virus dengan materi

genetik RNA jauh lebih mudah bermutasi dan menghasilkan jenis virus baru. Dan, Novel
Coronavirus adalah jenis virus RNA. Fakta terbaru, di Inggris telah ditemukan mutasi

baru dari virus ini.

Ada tiga faktor mekanisme mutasi pada virus, pertama karena efek mutagen fisik

(sinar UV, sinar X) pada asam nukleat; kedua, karena perilaku alami basa yang

membentuk asam nukleat; ketiga falibitas enzim yang mereplikasi asam nukleat. Mutasi

genetik pada virus, bisa menjadi salah satu bentuk adaptasi virus di lingkungan baru.

"... bisa saja penyakit itu berubah ketika sampai di Amerika, sebagai akibat suatu

mutasi genetis atau tanggapan adaptif ke lingkungan baru..." tulis Wallace-Well. Ini

bisa dikaitkan dengan penemuan mutasi virus Corona di Inggris. Virus ini beradaptasi

dengan lingkungan barunya. Dari iklim Wuhan ke iklim Inggris, dan tidak menutup

kemungkinan adanya mutasi lain di

kawasan iklim yang berbeda. Penyebaran

dan mutasi ini, bisa menjadi makin buruk,

apabila kondisi iklim yang makin tak

stabil. Karena banyak makhluk yang

harus beradaptasi, begitu pula manusia.

Ada berbagai macam cara

penyebaran virus yang telah memakan

jutaan jiwa di berbagai belahan dunia ini,

yaitu terkena droplets dari batuk dan

bersin orang lain, kontak fisik dengan

manusia dan hewan, menyentuh barang-


Gambar 2.46 Cara penyebaran virus Corona dan
barang dan makanan yang telah ketahan hidupnya

mengandung virus, kemudian tangan

menyentuh wajah, mulut, mata, hidung, telinga sebelum mencuci tangan.

Adapun ciri-ciri orang yang telah terjangkit wabah virus ini yaitu, akan mengalami

serangkaian demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, batuk, bersin, dan sesak napas. Jika

hanya salah satu atau dua gejala yang kita alami, belum dapat dipastikan kita terjangkit
virus Corona, sehingga untuk menyakinkan diri, kita harus segera memeriksakan diri di

tempat-tempat pusat pelayanan pemeriksaan yang telah disediakan. Dimana ada 3 (tiga)

jenis tes covid-19, namun hanya dua (2) jenis tes saja yang sering dilakukan orang-

orang untuk memeriksakan diri secara dini apakah terjangkit virus Corona atau tidak,

berikut akan dijelaskan:

1. tes molekuler (disebut juga tes RNA atau PCR).

Tes ini dianggap paling akurat untuk mendeteksi adanya virus aktif. Hasil tes juga

sangat akurat. Metode pengujian dilakukan dengan mengumpulkan sampel lendir dari

hidung atau tenggrokan dengan menggunakan kain penyeka khusus. Sampel yang

dikumpulkan dipakai untuk mendeteksi adanya materi genetik virus. Tes

molekuler juga sering disebut test PCR, yang merupakan singkatan dari

polymerase chain reaction. Hasil tes ini bisa didapatkan dalam hitungan menit

hingga hari, tergantung dari fasilitas laboratorium.

2. tes antigen (rapid test)

Test ini disebut dengan "rapid test" karena hasilnya bisa didapat dalam hitungan

menit. Biaya yang dibutuhkan juga lebih murah. Sayangnya, tingkat akurasi utuk

mendeteksi infeksi aktif sangat rendah sehingga jenis test ini kurang disarankan

untuk mendeteksi Covid-19. Rapid test juga bisa dilakukan di mana saja, tanpa perlu

analisis laboratorium.

3. tes antibodi (tes darah)

Tes ini digunakan untuk mencari antibodi terhadap virus corona. Antibodi adalah

protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan untuk melawan penyerang asing,

seperti virus. Tes antibodi COVID-19 tidak dapat mendiagnosis infeksi virus corona

aktif. Jenis tes ini hanya mendeteksi apakah kita pernah mengalami infeksi di masa

lalu. Sebab, antibodi tidak dapat dideteksi sampai beberapa hari setelah infeksi

dimulai. Jenis test ini juga tidak disarankan untuk mendeteksi Covid-19 di awal,

kecuali pasien telah mengalami gejala-gejala corona, minimal dalam waktu 14 hari.