Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

ILMU AL-JARH WA TA’DIL


Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Studi Hadist
Dosen Pembimbing: Muhammad Rosikhi Tsaqif M.Th.I

Disusun oleh:

1. Dwi Ira Wati


2. Muhammad Khoirony

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM IBRAHMY
GENTENG - BANYUWANGI
2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................
A. Latar Belakang ........................................................................... 4
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 4
C. Tujuan ........................................................................... 4
D. Manfaat ........................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................
A. Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ............................................. 6
B. Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ................................................. 7
C. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil .................... 9
D. Objek/Sasaran Pokok Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ............................. 11
E. Tingkatan Al-Jarh Wa Ta’dil......................................................... 11
BAB III PENUTUP ........................................................................... 15
A. Kesimpulan ........................................................................... 15
B. Saran ........................................................................... 15
Daftar Pustaka ........................................................................... 16

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah Subhanahu Wa


Ta’ala, atas segala berkat, rahmat dan penyertaannya dalam hidup penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan proses Makalah dengan baik dan
lancar sebagai salah satu syarat penugasan Program Studi Ekonomi Syariah
Institut Agama Islam Ibrahmy Genteng.
Proses Makalah dimaknai penulis, bukan hanya sebagai salah satu
syarat mencapai kelulusan penugasan tetapi lebih dari itu menjadi pelajaran
dan pengalaman berharga yang dapat dijadikan bekal oleh penulis untuk
menghadapi banyaknya ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran islam.
Dengan mengangkat judul Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil. Segala proses Makalah
dapat berjalan lancar tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Allah SWT atas segala kelancaran yang telah diberikan dalam proses
penulisan Makalah, sehingga proses Makalah dapat berjalan dengan
lancar.
2. Kepada kedua orang tua atas segala doa, dukungan dan perhatian
tiada henti yang diberikan selama ini.
3. Muhammad Rosikhi Tsqif M.Th.I selaku Dosen Pembimbing dan
Penguji yang sabar mendampingi penulis selama proses penyusunan
Makalah.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan
dalam penulisan Makalah ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan
penulisan ini. Semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca
semuanya.
Genteng, 27 November 2019

Penyusun,

Kelompok 9

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang tersebar dipertengahan bumi ini
yang terbentang dari tepi laut Afrika sampai laut Pasifik selatan, dari
padang rumput Siberia sampai ke pelosok Asia Tenggara-Afrika Barat
dan Timur, Sudan, bangsa Arab Timur tengah, Turki, Irania, dan Persi
yang tinggal di Asia tengah. Dari sisi latar etnis, bahasa, adat,
organisasi politik, pola kebudayaan, dan teknologi, mereka
menampilkan keragaman manusia, namun agama Islam menyatukan
mereka meskipun seringkali tidak menjadikan totalitas kehidupan
mereka. Namun Islam terserap dalam konsep, aturan keseharian,
memberikan tata kemasyarakatan, serta memenuhi hasrat mencapai
kebahagiaan hidup. Lantaran keragaman tersebut, Islam berkembang
menjadi keluarga besar umat Islam.
Hadist merupakan sumber dari agama Islam yang ke dua setelah
Al-Qur’an, yang banyak diperselisihkan. Hal ini disebabkan hampir 1
abad lamanya Hadist diriwayatkan hanya melalui lisan, tanpa
dikumpulkan dalam suatu dokumen yang jelas dan dapat dijadikan
acuan semua umat islam. Perkembangan hadits pada masa awal lebih
banyak menggunakan lisan, dikarenakan larangan Nabi untuk menulis
hadits. Larangan tersebut berdasarkan kekhawatiran Nabi akan
tercampurnya nash al-Qur'an dengan hadits. Selain itu, juga disebabkan
fokus Nabi pada para sahabat yang bisa menulis untuk menulis al-
Qur'an. Larangan tersebut berlanjut sampai pada masa Tabi'in Besar.
Bahkan Khalifah Umar ibn Khattab sangat menentang penulisan hadits,
begitu juga dengan Khalifah yang lain. Periodisasi penulisan dan
pembukuan hadits secara resmi dimulai pada masa pemerintahan
Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (abad 2 H).

iv
‘Ilm Al-Jarh wa Al-Ta’dil mempunyai posisi yang sangat penting
dalam disiplin ilmu hadis. Kenyataan itu didasarkan kepada bahwa ilmu
ini merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ilmu-
ilmu hadis lainnya dalam menentukan diterima atau ditolaknya suatu
hadis. Jika seorang ahli hadis dinyatakan cacat maka periwayatannya
ditolak, sebaliknya jika seorang perawi dipuji dengan pujian adil, maka
periwayatannya diterima, selama syarat-syarat lain untuk menerima
hadis dipenuhi. Kedudukan ilmu ini semakin signifikan ketika
seseorang hendak melakukan penelitian hadis atau biasa dikenal dengan
sebutan Takhrij Al-Hadis.
Dari latar belakang diatas, maka dalam kajian makalah kali ini
kami akan memfokuskan pembahasan tentang Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil.
Karena sangat pentingnya kedudukan perawi dalam menentukan
kesahihan suatu hadist. Maka ilmu hadist ilmu hadist dirayah secara
khusus keadaan perawi dengan jalan melalui Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pemasalahan yang dipaparkan diatas,
pemakalah dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ?
2. Apakah Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ?
3. Bagaimana Sejarah dan Perkembangan Ilmu Al-Jarh Wa
Ta’dil ?
4. Apakah Objek/Sasaran Pokok Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil ?
5. Sebutkan Tingkatan Al-Jarh Wa Ta’dil !
C. Tujuan
Sesuai rumusan masalah di atas, maka makalah ini memiliki
tujuan sebagai berikut:
Untuk mengetahui dan mendiskripsikan tentang Ilmu Al-Jarh Wa
Ta’dil yang meliputi pengertian, manfaat, sejarah dan
perkembangannya, objek, serta tingkatan-tingkatannya.

v
D. Manfaat
Hasil kajian dari pendeksripsikan diharapkan dapat memberikan
manfaat secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis merupakan manfaat yang berkenaan dengan
pengembangan ilmu, dalam hal ini ilmu kebahaasaan atau linguistic.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan ilmu
pengetahuan mengenai studi Sejarah Ringkasan Faham Syi’ah.
Khususnya terkait dengan pendiri, ajaran faham syi’ah, dan ajaran
yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah.
Selain itu, dapat memberikan wawasan tentang penerapan
bagaimana ajaran yang baik untuk yang dapat kita ambil dan kita
amalkan.
1. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti dan pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
penulis tentang studi Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil.
b. Bagi dosen
Makalah ini dapat dimanfaatkan untuk bahan ajar kajian
pragmatik pada mata kuliah Studi Hadist.
c. Bagi mahasiswa
Makalah ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi
dalam melakukan kajian bidang ajaran dalam agama Islam
beserta bagaimana penerapan dalam kehidupan manusia.
d. Bagi masyarakat pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan
kepada masyarakat mengenai Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil yang
dapat kita ambil ajaran positifnya dan kita tinggalkan yang
bertentangan dengan syariat islam dan Al-Qur’an.

vi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pembahasan
1. Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil
Kata Al-Jarh (‫رح‬HHH‫ )الج‬merupakan bentuk dari kata Jaraha-
Yajrahu (‫رح‬HH‫ يج‬- ‫رح‬HH‫ )ج‬atau Jariha-Yajrahu (‫رح‬HH‫ يج‬- ‫رح‬HH‫ )ج‬yang berarti
cacat atau luka. Para ahli hadist mendefinisikan al-jarh dengan:

Artinya:
“Kecatatan pada perawi hadist karena sesuatu yang dapat merusak
keadilan atau kedabitannya.”
Sedangkan kata Al-Ta’dil (‫ )التعديل‬dari segi bahasa merupakan
akar kata dari ‘Addala-Yu’addilu (‫دل‬HHHH‫ يع‬- ‫دل‬HHHH‫)ع‬ yang berarti
mengadilkan, menyucikan, atau menyamakan. Menurut istilah berarti:

Artinya:
“lawan dari al-jarh, yaitu pembersihan atau penyucian perawi dan
ketetapan bahwa ia adil atau dabit.”
Dengan demikian, Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil secara etimologis
adalah ilmu yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada
keadilan dan kedabitannya.

vii
Ulama lain mendefinisikan al-jarh dan at-ta’dil dalam satu
definisi, yaitu:

Artinya:
“ Ilmu yang membahas tentang para perawi hadist dari segi yang
dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan
atau membersihkan mereka, dengan ungkapan atau lafal tertentu.”
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kajian
‘Ilmu Jarh wa Ta’dil terfokus pada penelitian terhadap perawi hadis,
sehingga diantara mereka dapat dibedakan antara perawi yang
mempunyai sifat-sifat keadilan atau kedhabit-an dan yang tidak
memilikinya. Dengan tidak memiliki kedua sifat-sifat itu, maka hal
tersebut merupakan indicator akan kecacatan perawi dan secara
otomatis periwayatannya tertolak. Sebaliknya bagi perawi yang
memiliki kedua sifat-sifat di atas, secara otomatis pula ia terhindar dari
kecacatan  dan berimplikasi  bahwa hadis yang diriwayatkannya dapat
diterima. Maka ilmu al-Jarh dan al-Ta’dil adalah ilmu yang
menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan pada para perawi
dan tentang penta’dilannya dengan memakai kata-kata yang khusus
dan untuk menerima atau menolak riwayat mereka.

2. Manfaat Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil


Ilmu jarh wa al-ta’dil ini dipergunakan untuk menetapkan
apakah periwayatan seoraang perawi itu bisa diterima atau harus
ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi “dijarh” oleh para ahli
sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak.

viii
Sebaliknya, bila dipuji maka hadisnya bisa diterima selama syarat-
syarat yang lain dipenuhi.
Kecacatan rawi itu bisa ditelusuri melalui perbuatan-perbuatan
yang dilakukannya, biasanya dikategorikan kedalam lingkup
perbuatan: bid’ah, yakni melakukan tindakan tercela atau di luar
ketentuan syariah; mukhalafah, yakni berbeda dengan periwayatan
dari rawi yang lebih tsiqqah; ghalath, yakni banyak melakukan
kekeliruan dalam meriwayatkan hadis; jahalat al-hal, yakni tidak
diketahui identitasnya secara jelas dan lengkap; dan da’wat al-
inqitha’, yakni diduga penyandaran (sanad)-nya tidak bersambung.
            Adapun informasi jarh dan ta’dilnya seorang rawi bisa
diketahui melalui dua jalan yaitu:
a.    Popularitas para perawi di kalangan para ahli ilmu bahwa mereka
dikenal sebagai orang    yang adil, atau rawi yang mempunyai ‘aib.
Bagi yang sudah terkenal di kalangan ahli ilmu tentang
keadilannya, maka mereka tidak perlu lagi diperbincangkan
keadilannya, begitu juga dengan perawi yang terkenal dengan
kefasikan  atau dustanya maka tidak perlu lagi dipersoalkan.
b.   Beasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil. Bila
seorang rawi yang adil menta’dilkan seorang rawi yang lain yang
belum dikenal keadilannya, maka telah dianggap cukup dan rawi
tersebut bisa menyandang gelar adil dan periwayatannya bisa
diterima. Begitu juga dengan rawi yang di-tajrih. Bila seorang
rawi yang adil telah mentajrihnya maka periwayatannya menjadi
tidak bisa diterima.

Syarat-Syarat Bagi Orang Yang Menta’dil-kan Dan Men-tajrih-kan.


Ada beberapa syarat bagi orang yang men-ta’dil-kan (mu’addil)
dan orang yang men-jarah-kan(fajrih),yaitu:
1. Berilmu pengetahuan
2. Takwa
3. Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat-
syubhat, dosa-dosa kecil dan makruhat-makruhat).

ix
4. Jujur
5. Menjauhi fanatic golongan
6. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta’dil-kan dan untuk men-
takhrij-kan

3. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil


Pertumbuhan ilmu jarh wa ta’dil seiring dengan tumbuhnya
periwayatan hadis. Namun perkembangannya yang lebih nyata adalah
sejak terjadinya al-fitnah al-kubra  atau pembunuhan terhadap khalifah
Utsman bin Affan pada tahun 36 H. Pada waktu itu, kaum muslimin
telah terkotak-kotak kedalam berbagai kelompok yang masing-masing
mereka merasa mamiliki legitimasi  atagitimasi  atas tindakan yang
mereka lakukan apa bila mengutip hadis-hadis Rasulullah SAW. Jika
tidak ditemukan, mereka kemudian membuat hadis-hadis palsu. Sejak
itulah para ulama hadis menyeleksi hadis-hadis Rasulullah SWA, tidak
hanya dari segi matan atau materinya saja tetapi mereka juga
melakukan kritik terhadap sanad serta para perawi yang
menyampaikan hadis tersebut. Diantara sahabat yang pernah
membicarakan masalah ini adalah Ibnu Abbas (68 H), Ubaidah Ibnu
Shamit (34 H), dan Anas bin Malik (39 H).
Apa yang dilakukan oleh para sahabat terus berlanjut pada
masa tabi’in dan atba’ut tabi’in  serta masa-masa sesudah itu untuk
memperbincangkan kredibilitas serta akuntabilitas perawi-perawi
hadis. Diantara para tabi’in yang membahas jarh wa ta’dil adalah Asy-
Sya’bi (103 H), Ibni Sirrin (110 H), dan Sa’id bin al-Musayyab (94
H). Ulama-ulama  jarh wa ta’dil menerangkan kejelasan para perawi,
walaupun para rawi itu ayahnya, anaknya, ataupun saudaranya sendiri.
Mereka berbuat demikian, semata-mata untuk memelihara agama dan
mengharapkan ridha dari Allah SWT. Syu’bah Ibnu al-Hajjaj (82 H-
160 H), pernah ditanyakan tentang hadis Hakim bin Zubair. Syu’bah
menjawab: “Saya takut kepada neraka”. Hal yang sama pernah
dilakukan kepada Ali bin al-Madini (161 H-234 H) tentang ayahnya

x
sendiri. Ali bin al-Madini menjawab, “Tanyakanlah tentang hal itu
kepada orang lain”. Kemudian orang yang bertanya itu mengulangi
lagi pertanyaannya. Kemudian Ali berkata: “Ayahku adalah seorang
yang lemah dalam bidang hadis”.
 Para ahli hadis sangat berhati-hati dalam memperkatakan
keadaan para rawi hadis. Mereka mengetahui apa yang harus dipuji
dan apa yang harus dicela. Mereka melakukan ini hanyalah untuk
menerangkan kebenaran dengan rasa penuh tanggung jawab.
Ilmu jarh wa ta’dil yang embrionya telah ada sejak zaman
sahabat, telah berkembang sejalan dengan perkembangan periwayatan
hadis dalam Islam. Beberapa ulama bekerja mengembangkan dan
menciptakan berbagai kaidah, menyusun berbagai istilah, serta
membuat berbagai metode penelitian sanad dan matan hadis, untuk
“Menyelamatkan” hadis Nabi dari “Noda-noda” yang merusak dan
menyesatkan.
Demikianlah sesungguhnya al- jarh wa ta’dil adalah kewajiban
syar’I yang harus dilakukan. Investigasi terhadap para perawi dan
keadilan mereka bertujuan untuk mengetahui apakah rawi itu seorang
yang amanah, alim terhadap agama, bertaqwa, hafal dan teliti, pada
hadis, tidak sering dan tidak peragu. Semua ini merupakan suatu
keniscayaan. Kealpaan terhadap kondisi tersebut akan menyebabkan
kedustaan kepada Rasulullah SAW.
Jarh dan ta’dil tidak dimaksudkan untuk memojokkan seorang
rawi, melainkan untuk menjaga kemurnian dan otentisitas agama
Islam dari campur tangan pendusta. Maka hal itu wajar-wajar saja,
bahkan merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan. Sebab tanpa
ilmu ini tidak mungkin dapat dibedakan mana hadis yang otentik dan
mana hadis yang palsu.
 Pada abad ke-2 H, ilmu jarh wa ta’dil mengalami
perkembangan pesat dengan banyaknya aktivitas para ahli hadis untuk
mentajrih dan menta’dil para perawi. Diantara ulama yang
memberikan perhatian pada masalah ini adalah Yahya bin Sa’ad al-

xi
Qathtan (189H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yazim bin Harun
(189 H), Abu Daud at-Thayalisi (240 H), dan Abdurrazaq bin Humam
(211 H).
Perkembangan ilmu jarh wa ta’dil mencapai puncaknya pada
abad ke-3 H. pada masa ini muncul tokoh-tokoh besar dalam ilmu jarh
wa ta’dil, seperti Yahya bin Ma’in (w.230 H), Ali bin Madini (w.234
H), Abu Bakar bin Abi Syaihab (w.235 H), dan Ishaq bin Rahawaih
(w.237 H).Ulama-ulama lainnya adalah ad-Darimi (w.255 H), al-
Bukhari (w.256 H), Muslim (w.261 H), al-Ajali (w.261 H), Abu
Zur’ah (w.264 H), Abu Daud (w.257 H), Abu Hatim al-Razi (w.277
H), Baqi Ibnu Makhlad (w.276 H), dan Abu Zur’ah ad-Dimasqy
(w.281 H).

4. Objek/Sasaran Pokok Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil


Sasaran pokok dalam mempelajari ilmu al-jarh wa
ta’dil adalah sebagai berikut:
a. Untuk menghukumi / mengetahui status perawi hadis
b. Untuk mengetahui kedudukan hadis / martabat hadis, karena tidak
mungkin mengetahui status suatu hadis tanpa mengetahui kaidah
ilmu al-jarh wa ta’dil       
c. Mengetahui syarat-syarat perawi yang maqbul. Bagaimana
keadilannya, ke-dlabitan-nya serta perkara yang berkaitan
dengannya.

5. Tingkatan Al-Jarh Wa Ta’dil


Ibnu Abi Hatim dalam bagian pendahuluan kitabnya al-jarh
wa at-ta’dil telah membagi jarh dan ta’dil menjadi empat macam.
Masing-masing tingkatan dijelaskan hukumnya. Lalu para ulama telah
menambah lagi dengan dua tingkatan jarh dan ta’dil, sehingga
menjadi empat tingkatan, yaitu:

xii
1) Tingkatan Ta’dil dan Lafadz-lafadznya
a).   Lafadz yang menunjukan mubalaghah (kelebihan) dalam
hal ketsiqahan (keteguhan), atau lafadz yang mengikuti
wazan af’ala. Contohnya: fulanun ilaihi al-muntaha fi at-
tatsabbut (si Fulan itu paling tinggi keteguhannya),
atau fulanun atsbata an-nas (si Fulan itu termasuk orang yang
paling teguh).
b).   Lafadz yang memperkuat salah satu sifat atau dua sifat tsiqah.
Seperti, tsiqatun tsiqah (orang yang sangat-sangat tsiqah),
atau tsiqatun tsabitun (orangnya tsiqah dan teguh).
c).   Lafadz (ungkapan) yang menunjukan ketsiqahan tanpa ada
penguatan. Contohnya seperti, tsiqatun  (orangnya tsiqah),
atau hujjatun (orangnya ahli argumen).
d).   Lafadz yang menunjukan ta’dil tanpa menampakkan
kedlabitan. Seperti, shaduqun (orangnya jujur), atau yang sama
kedudukannya dengan shaduq, atau la ba’sa (orangnya tidak
punya masalah cacat) yang diungkapkan selain oleh Ibnu
Ma’in, karena kata laba’sa bihi yang ditujukan terhadap rawi
dan dikatakan oleh Ibnu Ma’in mempunyai arti tsiqah.
e).   Lafadz yang tidak menunjukkan ketsiqahan atau tidak
menunjukkan adanya jarh. Contohnya, fulanun syaikhun (si
Fulan itu seorang syekh/guru), atau ruwiya ‘anhu an-
nas (manusia meriwayatkan dirinya)
f).    Lafadz yang mendekati adanya jarh. Seperti, fulanun shalih
al-hadis (si Fulan orang yang hadisnya shalih), yuktabu
hadistuhu (orang yang Hadisnya dicatat).

2) Hukum Tingkatan-Tingkatan Ta’dil


a).   Untuk tiga tingkatan yang pertama, orang-orangnya dapat
dijadikan sebagai hujjah, meski sebagian dai mereka
kekuatannya berbeda dengan sebagian lainnya.

xiii
b).   Untuk tingkatan keempat dan kelima, orang-orangnya tidak
bisa dijadikan sebagai hujjah. Meski demikian, hadisnya bisa
dicatat dan diberitakan, walaupun mereka tergolong tingkatan
yang kelima, bukan yang keempat.
c).   Untuk tingkatan keenam, orang-orangnya tidak bisa dijadikan
sebagai hujjah. Meski demikian hadis-hadis mereka dicatat
hanya sebagai pelajaran, bukan sebagai sebuah berita (hadis
yang bisa diriwayatkan), ini karena menonjolnya
ketidakdlabitan mereka.

3) Tingkatan Jarh dan Lafadz-Lafadznya


a).   Lafadz yang menunjukkan lunak (yaitu yang paling
ringan jarhnya). Contohnya, fulanun  layyinun al-hadis (si
Fulan hadisnya linak), atau fihi maqalun (di dalamnya
diperbincangkan).
b).   Lafadz yang menunjukkan tidak dapat dijadikan
sebagai hujjah, atau yang serupa. Contohnya, fulanun la
yuhtajju bihi (si Fulan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah),
atau dla’if (lemah), lahu manakir (dia hadisnya munkar).
c).   Lafadz yang menunjukkan tidak bisa ditulis hadisnya, atau
yang lainnya. Contohnya, fulanun la yuktabu haditsuhu (si
Fulan hadisnya tidak bisa dicatat), la tahillu riwayatu
‘anhu (tidak boleh meriwayatkan hadis darinya), dla’if
jiddan (amat lemah), wahn bi marratin (orang yang sering
melakukan persangkaan).
d).   Lafadz yang menunjukkan adanya tuduhan berbuat dusta, atau
yang sejenisnya. Contohnya, fulanun muhtammun bi al-
kadzib (si Fulan orang yang dituduh berbuat dusta),
atau muthammun bi al-wadl’I (orang yang dituduh berbuat
palsu), atau yasriqu al-hadis (yang mencuri hadis),
atau saqithun (gugur), atau matruk (ditinggalkan), atau laisa bi
tsiqatin (tidak tsiqah).

xiv
e).   Lafadz yang menunjukkan adanya perbuatan dusta, atau yang
semacamnya. Contohnya, kadzdzab (pendusta), atau dajjal,
atau wadla’ (pemalsu), atau yukadzdzibu (didustakan),
atau yadla’u (pembuat hadis palsu).
f).    Lafadz yang menunjukkan adanya mubalaghah (tingkatan yang
amat berat) dalam perbuatan dusta. Dan ini tingkatan yang
paling buruk. Contohnya, fulanun akdzabu an-nas (si Fulan itu
orang yang paling pendusta), ilaihi al-muntaha fi al-kadzbi (dia
orang yang menjadi pangkalnya dusta), hawa ruknu al-
kadzbi (dia orang yang menjadi penopang dusta).

4) Hukum Tingkatan-Tingkatan Al-Jarh


 a).   Untuk dua tingkatan yang pertama, maka hadis-hadis yang
diriwayatkan oleh orang-orang itu tidak bisa dijadikan
sebagai hujjah. Akan tetapi hadis-hadis mereka bisa ditulis
sebagai pelajaran saja, meski mereka itu termasuk kelompok
tingkat yang kedua, bukan yang pertama.
 b).   Sedangkan yang tedangkan yang termasuk empat tingkat
terakhir, hadis-hadis mereka tidak bisa dijadikan
sebagai hujjah, bahkan tidak boleh ditulis, dan tidak boleh
dijadikan sebagai pelajaran.

xv
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan teori diatas, kesimpulan dari materi
yang berjudul “Ilmu Al-Jarh Wa Ta’dil” yaitu bahwa Ilmu jarh wa
at-ta’dil  adalah ilmu yang membahas hal ihwal rawi dengan
menyoroti kesalehan dan kejelekannya, sehingga dengan demikian
periwayatannya dapat diterima atau ditolak.
Faidah mengetahui ilmu jarh wa ta’dil ialah untuk
menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu dapat diterima atau
harus ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi sudah
ditarjih sebagai rawi yang cacat maka periwayatannya ditolak dan
apabila seorang rawi dita’dil sebagai orang yang adil maka
periwayatannya diterima.
Sasaran pokok dalam mempelajari ilmu al-jarh wa
ta’dil adalah sebagai berikut:
1. Untuk menghukumi / mengetahui status perawi hadis
2. Untuk mengetahui kedudukan hadis / martabat hadis, karena
tidak mungkin mengetahui status suatu hadis tanpa mengetahui
kaidah ilmu al-jarh wa ta’dil       
3. Mengetahui syarat-syarat perawi yang maqbul. Bagaimana
keadilannya, ke-dlabitan-nya serta perkara yang berkaitan
dengannya.

B. Saran
Kami menyadari, dalam pembuatan makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karean itu, kami sebagai penyusun berharap
agar ada kritik dan saran dari semua pihak terutama dosen.
Semoga apa yang telah kami sajikan tadi dapat diambil
intisarinya yang kemudian diamalkan juga semoga berguna bagi
kehidupan kita di masa yang akan datang.

xvi
DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Almanar. 2011. Studi Ilmu Hadist. Jakarta: Gaung Persada Press,
hal. 110-111

Ajjaj, Al-Khathib. 1989. Ushul Al-Hadis Ulumuhu wa Mushthalahuhu .


Beirut: Darul Fikr

Al-Bagdadi. 1988. Al-Kifayah fi ilmi Al-Riwayah . India: Dairatul al-Ma’arif


al-Utsmaniyah

Al-Qhaththan, Syaikh Manna’. 2005. Pengantar Studi Ilmu Hadist. Jakarta:


Pustaka Al-Kautsar,. hlm. 82

Ash-Shiddieqie, Hasbi. 1998. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadist. Jakarta:


Penerbit Bulan Bintang, hlm.52

Ash-Shiddieqie, Hasbi. 1998. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis.


Semarang: Pustaka Rizki Putra, hlm.13

Ibrahim, Anis. 1972. Al-Mu’jam Al Wasith . Kairo: TPN

Ismail, Syuhudi. 1995. Hadis Nabi Menurut Pembela, Pengingkar, dan


Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press,. Hlm. 52

Khaeruman, Badri. 2010. Ulum Al-Hadis wa Musthalahuhu. Bandung:


Pustaka Setia,. hlm. 109

Thatan, Mahmud. 2005. Ilmu Hadist Praktis. Bogor: Pustaka Thariqul


Izzah,. hlm. 195-198

xvii