Anda di halaman 1dari 11

1

PERAN ASETILKOLIN SEBAGAI NEUROTRANSMITER DAN


KALSIUM PADA KOMPONEN LENGKUNG REFLEKS
Siti Zhahara, Nadia Setyasih, Adella Thiananda, Universitas Bengkulu

ABSTRAK

Asetilkolin adalah sebuah ester sederhana yang terdapat pada vesikel-


vesikel kecil di ujung presinaptik neuron kolinergik. Asetilkolin membawa sinyal
listrik untuk diteruskan dari saraf pre-sinaps ke saraf post-sinaps. Otot rangka
dirangsang untuk berkontraksi oleh pelepasan asetilkolin (ACh) pada motor end
plate serat otot menyebabkan perubahan permeabilitas di serat otot yang akhirnya
menimbulkan potensial aksi yang dihantarkan ke seluruh permukaan membran sel
otot. Untuk mengetahui seberapa penting peran asetilkolin, digunakan larutan
tubo-kurarin. Larutan tubo-kurarin (yang mengandung curarine) merupakan
inhibitor kompetitif bagi asetilkolin. Kontraksi m. gastrocnemius tidak terjadi
pada perangsangan tak langsung setelah direndam oleh larutan tubo-kurarin.
Vesikel sinaps yang bergerak ke membran akson terminal, menyatu dengan
membran akson dan proses ini distimulus oleh ion kalsium. Kalsium diperlukan
dalam transportasi neurotransmitter pada saraf, karena mengikat dan
mengaktifkan protein yang menghubungkan vesikel ke membrane sel sehingga
dapat terjadi fusi untuk membebaskan neurotransmitter. Sediaan otot-saraf yang
direndam dengan ringer ditambahkan kalsium menunjukkan rangsangan yang
lebih kuat dibandingkan dengan sediaan otot-saraf yang direndam pada ringer
tanpa kalsium. Pada percobaan ini membuktikan peran penting dari kalsium dan
asetilkolin dalam proses transmisi sinyal.

ABSTRACT

Acetylcholine is a simple ester contained in small vesicles at the end of the


presynaptic cholinergic neurons. Acetylcholine carry electrical signals to be
transmitted from pre-synaptic nerve to post-synaptic nerve. Skeletal muscles are
stimulated to contract by the release of acetylcholine (ACh) to the motor end plate
of muscle fibers causes permeability changes in muscle fibers that ultimately lead
to action potential is delivered to the entire surface of the muscle cell membrane.
To find out how important the role of acetylcholine, used a solution of tubo-
curarine. Tubo-curarine solution (containing curarine) is a competitive inhibitor of
acetylcholine. Contraction of the m. gastrocnemius did not occur in indirect
stimulation after being soaked by tubo-curarine solution. Synaptic vesicles that
move into the axon terminal membrane, together with the axon membrane and
this process is stimulated by calcium ions. Calcium is needed in the transport of
neurotransmitters in the nerves, because it binds to and activates the protein that
connects vesicle to the cell membrane so that fusion can occur to release
neurotransmitters. Nerve-muscle preparations were soaked with ringer added
calcium showed a stronger stimulation than the nerve-muscle preparations were
immersed in ringer without calcium. In this experiment proves the important role
of calcium and acetylcholine in the signal transmission process.
2

PENDAHULUAN

Potensial Aksi 1

Sinyal listril mampu sampai dan berjalan disepanjang dendrit dan aksonal
melalui peristiwa potensial aksi. Pada keadaan istirahat, keadaan membran sangat
permeabel untuk ion kalsium. Potensial aksi merupakan perubahan potensial
membran disepanjang dendir dan akson. Perubahan terjadi dari keadaan potensial
membran negatif istirahat normal menjadi potensial positif kemudian kembali ke
keadaan semula. Adapun urutan tahap polarisasi adalah :
a. Tahap istirahat
Selama tahap ini membran dikatakan terpolarisasi dengan potensial
membran negatif sebesar -90 ml volt. Potensial ini dibentuk dari aktivitas
dari difusi ion kalium dan natrium melalui Leak Channel dan aktifitas dari
pompa ion Na+ dan K+.
b. Tahap Depolarisasi
Pada saat ini membran begitu permiabel terhadap ion natrium
sehingga sebagian besar ion antrium masuk ke akson melalui difusi.
Keadaan ini membuat potensial membran meningkat cepat ke arah positif.
Keadaan inilah yang disebut dengan depolarisasi.
c. Tahap Repolarisasi
Ion natrium yang menyebabkan peningkatan potensial memran
tiba-tiba menutup (kanal ion Na+ menutup) disertai dengan membukannya
kanal K+ dengan mengeluarkan kalium dari dalam sel untuk
mengembalikan potensial membran ke keadaan istirahat. Sinyal listrik ini
akan brjalan di sepanjang akson dan berakhir di terminal akson. Di
terminal akson, sinyal listrik harus dikonversi menjai sinyal kimia agar
dapat dilepaskan melalui celah sinaps.
Neurotransmiter 2
Ujung presinaptik suatu neuron menjalankan fungsi mengubah sinyal
listrik menjadi sinyal kimiawi. Fungsi ini dijalankan oleh suatu zat yang disebut
neurotransmitter. Transmitter yang dilepaskan ini kemudian bekerja pada
membran sel postsinaptik dan dengan cepat dipindahkan dari celah sinaptik
melalui difusi, metabolisme, dan pada beberapa keadaan dikembalikan ke neuron
postsinaptik. Seluruh proses ini disertai oleh berbagai faktor fisiologik dan secara
teori dapat diatur oleh obat-obatan.
Neurotransmitter dikelompokkan berdasarkan struktur kimianya:
1. Asetilkolin
2. Amina: dopamin, norefinefrin, epinefrin, serotonin, histamin
3. Asam amino
4. Eksitasi: glutamat, aspartat
5. Inhibisi: glisin, gama-aminobutirat (GABA)
6. Polipeptida: vasopresin, oksitosin, CRH, TRH, GRH, somatostatin
7. Purin: adenosin, ATP
8. Gas: NO, CO
9. Lipid: asam arakodonik dan derivatnya
3

Pada praktikum ini, yang diujikan hanya saraf tepi motorik.


Neurotransmitter pada saraf tepi motorik hanya asetilkolin. Karena itu, bahasan
neurotransmiter terfokus pada asetilkolin. Asetilkolin adalah sebuah ester
sederhana yang terdapat pada vesikel-vesikel kecil di ujung presinaptik neuron
kolinergik (neuron yang melepaskan asetilkolin).
Asetilkolin disintesis melalui reaksi kolin dengan asetat. Kolin secara aktif
disintesis di dalam neuron dan diambil dari cairan ekstrasel (CES) ke dalam
neuron. Asetat diaktifkan melalui penggabungan gugus asetat dengan koenzim A
reduksi. Reaksi antara kolin dan asetat teraktivasi dikatalisis oleh enzim kolin
asetiltransferase yang terdapat di sitoplasma ujung akson saraf kolinergik dalam
konsentrasi tinggi. Reseptor asetilkolin dibagi menjadi dua subtipe, muskarinik
dan nikotinik. Reseptor muskarinik dapat diaktivasi oleh derivat nikotin
sedangkan reseptor kolinergik dapat diaktivasi oleh muskarin, racun pada jamur
muscar.
Reseptor nikotinik terdapat pada sel postganglionik sistem autonomik.
Reseptor ini memberi respon terhadap asetilkolin yang dilepaskan baik dari saraf
preganglionik simpatis maupun parasimpatis. Setelah astilkolin berikatan dengan
reseptor ini, kanal-kanal kation Na+ dan K+ pada sel postganglionik terbuka
sehingga memungkinkan lewatnya ion-ion tersebut. Oleh karena gradien
elektrokimia Na+ lebih besar dari K+, maka lebih banyak Na+ yang masuk dari
K+ yang keluar. Hal ini memungkinkan terjadinya depolarisasi pada sel
postganglionik.
Reseptor muskarinik ditemukan pada membran sel efektor, misalnya otot
polos, otot jantung, dan kelenjar. Reseptor ini berikatan dengan asetilkolin yang
dilepaskan dari saraf postganglionik parasimpatis. Ada 5 subtipe reseptor
muskarinik. Semuanya adalah GPCR (G-protein coupled receptor).
Asetilkolin harus segera dihilangkan dari sinaps untuk dapat terjadinya
repolarisasi. Pembersihan berlangsung melalui hidrolisis asetilkolin menjadi kolin
dan asetat oleh enzim asetilkolinesterase. Asetil dan kolin yang dihasilkan masuk
kembali ke dalam sitoplasma presinaps untuk digunakan kembali dalam sintesis
asetilkolin.
Lengkung Refleks 2
Lengkung refleks adalah jaras neural yang terlibat dalam aktivitas refleks,
terdiri dari 5 komponen dasar, yaitu reseptor, jaras aferen, pusat integrasi, jaras
eferen, dan efektor. Reseptor berespon terhadap stimulus menghasilkan potensial
aksi yang diteruskan melalui jaras aferen ke pusat integrasi untuk pemrosesan
informasi. Pusat integrasi biasanya adalah sistem saraf pusat, yaitu medula
spinalis atau otak. Setelah pusat integrasi memutuskan respon yang dibutuhkan,
respon tersebut disampaikan melalui jaras eferen ke organ efektor.
Pada praktikum ini, refleks yang digunakan untuk mengetahui kerusakan
saraf pusat adalah withdrawal reflex yang memiliki pusat integrasi di medula
spinalis dan refleks kornea yang memiliki pusat integrasi di otak.
Larutan Tubo-Kurarin 3
Curare adalah sejenis racun berasal dari ekstrak tumbuhan tertentu. Dalam
racun ini, terdapat curarine yang sangat beracun. Curare larut dalam air dingin dan
4

rasanya pahit. Curarine (C18H35N) adalah suatu alkaloid. Zat ini tidak berwarna,
rasanya sedikit pahit, dapat larut dalam air dan alkohol, sedikit larut dalam
kloroform, dan tidak larut dalam eter murni, benzol, minyak, dan karbon disulfida.
Zat ini mempunyai reaksi alkaline dan berikatan dengan asam untuk membentuk
garam kristal.
Curare hanya bereaksi bila disuntikkan atau dihirup ke dalam sirkulasi.
Bila tersentuh kulit, kulit akan teriritasi. Saat bereaksi di dalam tubuh, curare akan
melumpuhkan otot sadar maupun tidak sadar, sehingga terjadi kematian yang
disebabkan kelumpuhan sistem pernapasan. Biasanya tidak beracun pada
lambung. Kematian terjadi bila dosis curare yang diberikan cukup tinggi.
Kelumpuhan otot sadar maupun tidak sadar terjadi karena tidak
tertransmisinya impuls saraf ke saraf pusat. Larutan tubo-kurarin (yang
mengandung curarine) merupakan inhibitor kompetitif bagi asetilkolin,
neurotransmitter yang berperan untuk transmisi impuls saraf pada sinaps. Pada
proses sinaps, neurotransmitter asetikolin membawa sinyal listrik untuk
diteruskan dari saraf pre-sinaps ke saraf post-sinaps. Pada membran post-sinaps
terdapat reseptor untuk asetilkolin. Saat menempel pada reseptor tersebut, sinyal
akan diteruskan ke saraf post-sinaps. Keberadaan larutan tubo-kurarin
menginhibisi kerja asetilkolin. Tubo-kurarin menempati reseptor asetilkolin
sehingga asetilkolin tidak dapat menduduki reseptor dan saraf tidak terhantarkan.
Hal ini menyebabkan kelumpuhan pada otot.
Peran Kalsium 2
Dalam transmisi impuls saraf pada sinaps, aksi potensial yang tiba di ujung
akan membuka kanal ion kalsium, dan ion kalsium tersebut kemudian akan masuk
ke dalam ujung akson. Disamping itu, ion natrium dan senyawaan kolin serta
senyawaan asetat juga akan masuk ke dalam akson lewar pompa natrium.
Senyawa asetat akan di aktivasi menjadi koenzim A di dalam mitokondria. Kolin
bersama asetil koenzim A dan enzim kolin asetil transferase akan membentuk
asetil kolin. Asetilkolin kemudian akan dibungkus oleh vesikel sinaps yang
diinternalisasi kembali lewat proses endositosis membentuk vesikel sinaps. Ke
dalam vesikel ini juga dimasukkan ATP sebagai sumber energi. Vesikel sinaps
lalu bergerak ke membran akson terminal, menyatu dengan membran akson dan
proses ini distimulus oleh ion kalsium. Asetilkolin ini akhirnya dikeluarkan ke
dalam celah sinaps lewat proses eksositosis.
Pada serat otot rangka, serat otot rangka dipersarafi oleh serat saraf besar
dan bermielin yang berasal dari motorneuron besar pada kornu anterior medula
spinalis. Ujung-ujung saraf mrmbuat suatu sambungan disebut sambungan
neuromuskular, ketika serat otot mendekati pertengahan serat, dan potensial aksi
di dalam serat menjalar dua arah menuju ujung-ujung serat otot.
Serat saraf akan bercabang pada ujungnya untuk membentuk suatu
kompleks terminal cabang saraf, yang berinvaginasi ke dalam serat otot tetapi
terletak di luar membran plasma serat otot. Seluruh struktur ini disebut motor end
plate (lempeng akhir motorik).
Penggabungan eksitasi-konstraksi mengacu pada serangkaian kejadian
yang mengkaitkan eksitasi (adanya potensial aksi di serat otot) ke kontraksi otot
(aktivitas jembatan silang yang menyebabkan filamen-filamen tipis bergeser
mendekat satu sama lain untuk memperpendek sarkomer).
5

Otot rangka dirangsang untuk berkontraksi oleh pelepasan asetilkolin


(ACh) dengan motor end plate serat otot menyebabkan perubahan permeabilitas di
serat otot yang akhirnya menimbulkan potensial aksi yang dihantarkan ke seluruh
permukaan membran sel otot.
Asetilkolin yang dikeluarkan dari ujung terminal neuron motorik
mengawali potensial aksi di sel otot yang merambat ke seluruh permukaan
membran. Aktivitas listrik ini dibawa ke bagian tengah (sentral) serat otot oleh
tubulus transversus. Adanya potensial aksi lokal di tubulus transversus
menginduksi perubahan permeabilitas di suatu jaringan membranosa terpisah di
serat otot, yaitu retikulum sarkoplasma.
Di dalam tubulus vesikular dalam retikulum sarkoma ini terdapat banyak
ion-ion kalsium. Penyebaran potensial aksi ke tubulus T mencetuskan pelepasan
simpanan kalsium dari kantung-kantung lateral retikulum sarkoplasma di dekat
tubulus. Kalsium yang dilepaskan berikatan dengan troponin dan mengubah
bentuknya, sehingga kompleks troponin-tropomiosin secara fisik tergeser ke
samping, membuka tempat pengikatan jembatan silang aktin. Bagian aktin yang
telah terpajan tersebut berikatan dengan jembatan silang miosin, yang sebelumnya
telah mendapat energi dari penguraian ATP menjadi ADP + Pi + energi oleh
ATPase miosin di jembatan silang. Pengikatan aktin dan miosin di jembatan
silang menyebabkan jembatan silang menekuk, menghasilkan suatu gerakan
mengeyun kuat yang menarik filamen tipis ke arah dalam. Pergeseran ke arah
dalam dari semua filamen tipis yang mengelilingi filamen tebal memperpendek
sarkomer sehingga terjadilah kontraksi otot.
Jadi, ion kalsium dibutuhkan untuk pelepasan neurotransmitter ke celah
sinaps (eksositosis) dan kontraksi otot.

TUJUAN
Memahami peran asetilkolin pada penghantaran impuls dari saraf ke otak.

METODE

Alat dan Bahan


a. Gelas arloji 3 buah
b. Stimulator dengan elektroda perangsang (dengan rangsang tunggal
tutup)
c. Peralatan bedah minor, yang terdiri dari :
1. Gunting lancip – tumpul 1 buah
2. Skalpel 1 buah
3. Klem arteri mosquito bengkok 1 buah
4. Pinset bedah 1 buah
d. Benang secukupnya
e. Kapas secukupnya
f. Penusuk katak 1 buah
g. Papan parafin 1 buah
h. Jarum pentul 4 buah
i. Sediaan otot – saraf kodok air (Rana) 1 buah
j. Larutan Ringer secukupnya
6

k. Larutan Ringer tanpa kalsium secukupnya


l. Larutan tubo kurarin 2 % 0,5 cc
Cara Kerja
Mematikan Kodok
1. Pelajari dengan seksama letak foramen occipitale magnum pada sebuah
rangka yang disediakan
2. Setelah itu, kodok digenggam dalam tangan kiri, sehingga bagian antara
kepala dan punggung kodok terletak di antara ibu jari dan jari telunjuk
3. Antefleksikan kepala kodok kemudian dengan penusuk katak, tusuk di
garis median, di antara tulang belakang kepala dan atlas ke dalam medulla
oblongata melalui foramen occipitale magnum dengan menembus kulit
dan lapisan – lapisan jaringan lainnya
4. Tusuk terus sehingga masuk ke dalam ruang kepala kemudian korek-korek
otak ke kiri dan ke kanan sampai rusak
5. Tarik penusuk dari otak dan tusuk ke dalam canalis vertebralis sampai
kurang lebih setengah panjang kanalis tersebut
6. Dengan demikian otak dan sumsum tulang belakang telah dirusak
a. Untuk membuktikan otak telah rusak, beri rangsang
ke kedua kornea mata dengan benang / kapas. Bila otak telah rusak,
mata tidak berkedip, yang berarti refleks kornea negatif
b. Untuk membuktikan sumsum tulang belakang telah
rusak, gerakkan keempat ekstremitas secara pasif. pada kerusakan
sumsum tulang belakang, ekstremitas lemas karena tonus otot rangka
hilang. Selain itu, beri rangsang nosiseptif dengan cara mencubit jari
keempat ekstremitas dengan pinset. pada kerusakan sumsum tulang
belakang, tidak timbul fleksi ( withdrawal reflex negatif ).
7. Bila langkah 6 telah tercapai sempurna, pembuatan sediaan otot – saraf
dapat dimulai.

Membuat Sediaan Otot dan Saraf


1. Sematkan dengan jarum pentul keempat kaki kodok yang baru dimatikan
di papan fiksasi dengan punggungnya menghadap ke atas.

2. Angkatlah kulit beserta tonjolan os coccygis dengan pinset bedah


kemudian guntinglah kulit di bawah os coccygis sampai sakrum bebas.

Gambar 1
7

3. Kemudian, guntinglah sekaligus os coccygis dan sakrum yang kini telah


terangkat sampai terlihat pangkal n. ischiadicus yang berasal dari pleksus
lumbosakralis sebagai serat putih yang mengkilat.
4. Ikat salah satu n. ischiadicus dengan sepotong benang sedekat-dekatnya
dengan tulang belakang.
5. Gunting pangkal n. ischiadicus tersebut di antara ikatan benang dan tulang
belakang.
6. Gunakan benang tersebut sebagai pemegang saraf pada waktu
membebaskan n. ischiadicus dari jaringan sekitarnya.
7. Jika yang dibebaskan n.ischiadicus kanan, maka kulit di seluruh tungkai
kanan dilepaskan dengan gunting dan pinset sehingga semua otot-otot
terbuka, termasuk juga m.gastrocnemius.

8. Singkaplah ke tepi otot-otot berikut ini:


a. Di atas lekuk lutut : m. biseps dan m. semimembranosus
b. Lebih ke atas : m. biseps dan m. piriformis
9. Bebaskan n. ischiadicus secara tumpul (lihat langkah 6) dari jaringan
sekitarnya sampai ke m. gastrocnemius. Pada waktu dibebaskan, n.
ischiadicus sama sekali tidak boleh terjepit, tertarik atau tergunting. Jika
hal ini terjadi, sudah pasti percobaan akan gagal. Cabang-cabang saraf ke
otot-otot tungkai kanan atas harus dipotong tetapi jangan sampai merusak
n. ischiadicus.
Gambar 3
10. Setelah n. ischiadicus tersebut bebas dari jaringan sekitarnya, letakkan
untuk sementara saraf tersebut di atas m. gastrocnemius supaya tidak
menjadi kering.
11. Bebaskan m. gastrocnemius secara tumpul dari jaringan sekitarnya. Potong
tendo Achilles sejauh-jauhnya dari perut m. gastrocnemius, supaya pada
otot masih terdapat tendo Achilles yang cukup panjang.
12. Potong tibia tepat di bawah sendi lutut.
13. Bebaskan femur dari otot sekitarnya, kecuali origo m. gastrocnemius.
8

14. Potong femur dekat sendi lutut. Sekarang kita peroleh sediaan otot saraf

yang terdiri dari sendi lutut,4 m. gastrocnemius, tendo Achilles dan n.


Gambar
ischiadicus.

15. Selama mengerjakan pembuatan sediaan otot – saraf, jagalah agar jaringan
yang terbuka jangan menjadi kering dengan setiap kali membasahinya
dengan larutan Ringer.

Melakukan Rangsangan terhadap Sediaan Otot dan Saraf


1. Siapkan gelas arloji berisi larutan Ringer.
2. Siapkan gelas arloji lain berisi 0,5 cc tubo – kurarin 2 %.
3. Siapkan gelas arloji kosong untuk meletakkan sediaan otot – saraf saat
perangsangan.

Gambar
4. Letakkan sediaan otot pada gelas 5arloji yang kosong dan carilah ambang
rangsang tak langsung dengan mengobservasi adanya kontraksi otot akibat
perangsangan tersebut. Carilah besar ambang rangsang tak langsung!
5. Rendam otot dari sediaan otot – saraf tersebut di atas dalam larutan Ringer
selama ± 3 menit.
6. Pindahkan sediaan otot – saraf tersebut dalam larutan Ringer tanpa
kalsium selama ± 10 menit.
9

7. Pindahkan sediaan otot – saraf tersebut pada gelas arloji kosong dan beri
rangsang tak langsung dengan intensitas rangsang 0,5 V lebih besar
daripada ambang batas rangsang yang didapat pada langkah 1.
8. Rendamlah kembali otot dari sediaan otot – saraf tersebut dalam larutan

Ringer selama ± 10 menit.


Gambar 6
9. Pindahkan/rendam otot dari sediaan otot – saraf tersebut ke dalam larutan
tubo – kurarin 2 % selama ± 10 menit.
10. Pindahkan sediaan otot – saraf tersebut pada gelas arloji kosong dan
rangsang kembali secara tak langsung dan langsung dengan intensitas
rangsang 0,5 V lebih besar daripada ambang rangsang yang didapat pada
langkah 1.

Syarat dalam Proses Kerja


1. Selang waktu antar perangsangan ± 10 detik.
2. Pada waktu melakukan perangsangan, sediaan otot tidak dalam keadaan
terendam oleh larutan apapun (diletakan pada gelas arloji tanpa larutan
apapun).
3. Secara periodik sediaan otot – saraf dibasahi dengan larutan Ringer.
Perangsangan selalu menggunakan rangsang tunggal tutup.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
1. Ambang batas rangsangan pada
sediaan otot-saraf katak yang dilakukan pada saraf ischiadicus secara tak
langsung adalah 0,5V dan secara langsung sebesar 1V.
2. Setelah dibiarkan selama 10 menit
di dalam larutan Ringer tanpa Ca2+, sediaan diberi rangsangan tak
langsung sebesar 1V pada saraf ischiadicus, hasilnya otot berkontraksi.
3. Setelah dibiarkan selama 10 menit dalam larutan tubo-kurarin, sediaan
diberi rangsangan tak langsung sebesar 1V dan langsung sebesar 1,5V
pada saraf ischiadicus dan pada otot gastrocnemius. Hasilnya pada
rangsangan langsung maupun tak langsung, otot tetap berkontraksi.

Pembahasan
Setelah otot direndam dengan larutan Ringer tanpa kalsium, yang
diharapkan terjadi pada perangsangan tidak langsung adalah kontraksi otot yang
10

terjadi lebih lemah dibandingkan dengan yang sebelumnya pada voltase yang
sama. Untuk dapat mencapai kekuatan kontraksi yang sama diperlukan voltase
yang lebih besar.
Setelah direndam dalam larutan tubo-kurarin, perangsangan tidak langsung
tidak dapat menyebabkan kontraksi otot pada voltase yang sama. Ini dikarenakan
tubo-kurarin menjadi inhibitor pada motor end plate sehingga neurotransmitter
asetilkolin tidak dapat berfungsi karena tidak ada reseptor bebas untuk berikatan.
Namun pada rangsangan langsung, kontraksi otot masih dapat terjadi karena
potensial aksi yang dihasilkan dari rangsangan menyebar langsung di otot dan
menginduksi influx kalsium tanpa perlu sinyal dari asetilkolin yang
ditransmisikan oleh sel saraf.
Kalsium diperlukan dalam transportasi neurotransmitter pada saraf, karena
mengikat dan mengaktifkan protein yang menghubungkan vesikel ke membrane
sel sehingga dapat terjadi fusi untuk membebaskan neurotransmitter.
Asetilkolin yang dilepaskan menyebabkan perubahan permeabilitas di
serat otot dan menimbulkan potensial aksi yang dihantarkan ke seluruh
permukaan membrane sel otot. Di setiap taut antara pita A dan I, membran
permukaan menyelam masuk ke dalam serat otot membentuk tubulus transverse
yang tegak lurus dari permukaan membran ke bagian tengah serat otot. Potensial
aksi menyebar dari permukaan membrane ke tubulus transverse dan menginduksi
perubahan permeabilitas di jaringan reticulum sarkoplasma dalam serat otot.
Segmen reticulum sarkoplasma membungkus pita A dan I dengan ujung akhir tiap
segmen membentuk kantung lateral yang menyimpan kalsium. Potensial aksi ke
tubulus transverse mencetuskan pengeluaran kalsium dari reticulum sarcoplasma
ke sitosol.
Kalsium menyebabkan tempat pengikatan di molekul aktin terpajan
sehingga dapat berikatan dengan jembatan silang myosin di tempat pengikatan
komplementernya. Pengikatan aktin dan myosin di jembatan silang menyebabkan
jembatan silang menekuk, menghasilkan suatu gerakan mengayun kuat yang
menarik filament tipis ke arah dalam. Pergeseran ke arah dalam dari semua
filamen tipis yang mengelilingi filament tebal memperpendek sarkomer sehingga
menyebabkan kontraksi otot.

KESIMPULAN
Dari percobaan diatas menunjukkan peran penting kalsium dalam proses
transmisi sinyal. Pada percobaan ini sediaan otot-saraf yang direndam dengan
ringer ditambahkan kalsium menunjukkan rangsangan yang lebih kuat
dibandingkan dengan sediaan otot-saraf yag direndam pada ringer tanpa kalsium.
Selain itu, percobaan ini membuktikan peran penting asetilkolin sebagai pembawa
sinyal listrik yang akan menghasilkan kontraksi otot. Hal ini ditunjukkan oleh
m.gastrocnemius yang tidak berkontraksi setelah direndam dengan larutan tubo-
kurarin terhadap perangsangan tak langsung dengan intensitas rangsang tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Lauralee. 2002. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.
Jakarta: EGC
2. Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
11

3. Felter, Harvey Wickes and John Uri Lloyd. Curare.-Woorari.


http://www.henriettesherbal.com/eclectic/kings/curare.html