Anda di halaman 1dari 21

PENGARUH MANAJEMEN RISIKO TERHADAP PROFITABILITAS

PERBANKAN SYARIAH DI MASA PANDEMI

Adinda Dewinta P1, Annisa Dwioctavia2, Arihnatul Faizah3, Novita Diana K4,
Novi Susanti5
Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam,
IAIN Kediri
Jl. Sunan Ampel, No. 7 Kediri
dewinta13adinda@gmail.com

Abstrak
Covid-19 (Corona Virus Desease 19) adalah sebuah pandemic yang saat ini
menyebar hampir ke semua Negara di dunia, temasuk Indonesia. pandemic Covid-
19 tidak hanya menyerang dari sector kesehatan saja. Berbagai sector kehidupan
juga turut terdampak dengan adanya pandemic Covid 19, salah satunya dari sector
ekonomi yaitu perbankan syariah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh manajemen risiko terhadap profitabilitas perbankan syariah di masa
pandemic seperti sekarang ini. Metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan
data sekunder tahun 2017-2020 yang diperoleh dari laman resmi BNI Syariah
yang menunjukkan data CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO. Purposif sampling
dipilih sebagai representasi perbankan syariah di Indonesia. Berdasarkan
pengukuran profitabilitas menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam
perencanaan, pengaturan, kepemimpinan, dan pengontrolan aktivitas bank BNI
syariah dia masa pandemic. Temuan ini memberikan gambaran praktis bagi
masyarakat yang memungkinkan untuk tetap menggunakan layanan jasa
perbankan syariah.
Kata Kunci: Manajemen risiko, Perbankan Syariah, Profitabilitas

Abstract
Covid-19 (Corona Virus Disease 19) is a pandemic that is currently spreading to
almost all countries in the world, including Indonesia. The Covid-19 pandemic
does not only attack the health sector. Various sectors of life were also affected by
the Covid 19 pandemic, one of which was from the economic sector is Islamic
Banking. The purpose of this study was to determine the effect of risk management
on the profitability of Islamic Banking in the current pandemic. Quantitative
descriptive research method with secondary data for 2017-2020 obtained from the
official BNI Syariah website which shows CAR, ROA, ROE, NPF, BOPO data.
Purposive sampling was chosen as a representation of Islamic banking in
Indonesia. Based on the measurement of profitability, it shows the importance of
risk management in planning, regulating, leadership, and controlling the
activities of BNI Syaria banks during the pandemic. This finding provides a
practical implication for people who allow them to continue using Islamic
banking services.
Keywords: Risk Management, Islamic Banking, Profitability.

PENDAHULUAN

Corona Virus Desease 19 (Covid-19) merupakan salah satu pandemi yang


telah diputuskan oleh Word Healt Organization (WHO) pada awal tahun 2020
(WHO, 2020). Hal ini disebabkan oleh mata rantai sebaran virus yang telah
menular ke berbagai belahan dunia dengan sangat cepat yang bermula di Kota
Wuhan, Provinsi Hubei-China (Junusi, 2020; Sodikin, 2020). Di luar negara
China, Covid 19 telah menginfeksi 7000 kasus dan 3000 orang telah meninggal
dunia (Dong et al, 2020). Indonesia merupakan satu diantara negara yang terkena
dampak pandemi Covid-19. Data statistik per Maret 2020 menunjukkan jumlah
kasus yang terkonfirmasi positif 1528 dan 114 meninggal dunia (Kementrian
Kesehatan, 2020). Dampak Covid-19 tidak hanya ke sektor kesehatan, akan tetapi
hampir ke semua sektor yang diprediksi akan berlangsung lama (Djalante et al.,
2020).

Munculnya Pandemi Covid-19 menjadi permasalahan bagi pihak


perbankan, karena bisa menghasilkan permasalahan di sektor riil atau dunia usaha
yang berpotensi menimbulkan persoalan di sektor perbankan. Hal ini tentu saja
bisa terjadi, dikarenakan sektor perbankan merupakan lembaga intermediasi atau
perantara yang mendukung kebutuhan dana investasi bagi dunia usaha. Maka dari
itu, Dalam masa pandemi ini pemerintah Indonesia memutuskan untuk selalu
memperhatikan tiga sektor, yaitu kesehatan, sektor riil dan perbankan.

Di masa pandemi Covid 19, perbankan syariah juga menghadapi beberapa


kemungkinan risiko, yaitu risiko pembiayaan macet (NPF), risiko pasar dan risiko
likuiditas. Karenanya, risiko tersebut pada akhirnya akan memiliki dampak
terhadap kinerja dan profitabilitas perbankan syariah. Sebagian besar penelitian
telah dilakukan yang menginvestigasi kinerja bank syariah dimasa normal.
Namun, belum ada penelitian yang spesifik tentang dampak pandemi terhadap
kinerja dan profitabiltas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
manajemen risiko terhadap profitabilitas perbankan syariah Indonesia dimasa
Pandemi Covid-19.

Javaid and Alalawi (2018) menjelaskan CAR menunjukkan kemampuan


bank menahan guncangan masalah kerugian terhadap kecukupan modal. Menurut
Berger (1995) semakin tinggi rasio, semakin stabil dan efisien bank tersebut.
Hipotesis penelitian sebelumnya menunjukkan pengaruh CAR terhadap
profitabilitas bank (Dattaand Al Mahmud 2018; Agus Widarjono 2018).
Sementara temuan Nahar and Prawoto (2017) menyimpulkan CAR tidak
mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas. Hipotesis penelitian ini adalah
terdapat pengaruh CAR terhadap ROA bank syariah.Wahyudi (2015) menjelaskan
NPF menunjukkan berapa jumlah pembiayaan macet yang terjadi di bank syariah.
Semakin tinggi NPF, akan menurunkan profitabilitas bank. Hipotesis penelitian
sebelumnya menyimpulkan perbedaan hasil bahwa NPF mempunyai pengaruh
terhadap profitabilitas (Akter and Roy 2017 dan Mukhibad and Khafid 2018).
Sedangkan (Silitonga et al., 2020) menyimpulkan temuannya tidak ada pengaruh.
Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh NPF terhadap ROA bank
syariah.FDR menunjukkan total pembiayaan bank syariah dari semua dana yang
dihimpun dari masyarakat. Semakin tinggi FDR, maka tinggi juga profitabilitas
bank tersebut. Hipotesis penelitian Nahar and Prawoto (2017)dan Azmy
(2018)menjelaskan tidak ada pengaruh FDR terhadap profitabilitas. Berbeda
dengan temuan hipotesis Rahmah and Kusbandiyah (2018) yang menyebutkan
sebaliknya. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh FDR terhadap ROA
bank syariah.Selanjutnya, BOPO menunjukkan tingkat efisiensi bank syariah.
Semakin rendah BOPO akan meningkatkan profitabilitas bank, dan sebaliknya.
Hipotesis penelitian Nuha dan Mulazid (2018) menjelaskan adanya pengaruh
BOPO terhadap profitabilitas. Namun berbeda dengan temuan Wahyuningsih,
Oemar, Suprijanto (2017)menyimpulkan tidak adanya pengaruh BOPO terhadap
profitabilitas. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh BOPO terhadap
ROA bank syariah.

Penelitian ini penting mengingat sistem perbankan Indonesia yang cukup


unik dengan menganut sistem perbankan ganda dan mempunyai karakteristik yang
berbeda. Dimasa pandemi Covid 19, perbankan syariah akan kembali diuji dengan
tiga gelombang krisis sekaligus sebagaimana yang disebutkan (Omar, 2020).
Karenanya, menarik untuk diinvestigasi ketahanan bank syariah. Selanjutnya,
temuan ini untukrekomendasi kebijakan yang dapat diambil oleh pemangku
kepentingan di perbankan syariah di masa mendatang. Tujuan penelitian ini untuk
menganalisis pengaruh manajemen risiko terhadap profitabilitas perbankan
syariah Indonesia dimasa Pandemi Covid-19.

Manajemen risiko merupakan upaya-upaya yang dilakukan oleh orang


atau lembaga dalam mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang bisa saja
timbul dalam suatu pekerjaan atau bisnis. Penerapan manajemen risiko pada bank
berperan besar dalam upaaya meningkatkan shareholder value melalui penerapan
strategi bisnis berbasis risiko. Manajemen risiko memberikan gambaran kepada
pengelola bank sebagai potensi kerugian dimasa mendatang, serta memberikan
informasi untuk membuat keputusan yang tepat sehingga dapat membantu
pengelolaan bank untuk meningkatkan daya saing. Bagi Bank Indonesia selaku
ptpritas pengawas bank, penerapan manajemen risiko akan mempermudah
penilaian terhadap kemungkinan kerugian yang dihadapi bank, yang selanjutnya
dapat mempengaruhi kemungkinan kerugian yang dihadapi bank, yang
selanjutnya dapat mempengaruhi permodalan bank. Modal merupakan faktor
penting bagi bank untuk melindungi kepentingan Nasabah, dan menjaga
keperjayaan masyarakat terhadapat industri perbankan.

Di tengah banyaknya Bank Konvensional, Bank Syariah hadir membawa


alternative pilihan dalam transaksi perbankan yang terhindar dari system bunga
bagi umat Islam. Bank Syariah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan
signifikan dari waktu ke waktu karena besarnya potensi sebagai sumber
pembiayaan bagi perekonomian. Bank syariah tidak hanya menghimpun dana
secara kolektif dan menyalurkan pada kelompok-kelompok tertentu, melainkan
menghimpun dana yang akan disalurkan pada semua lapisan masyarakat yang
membutuhkan bantuan dana.

Dalam kegiatan operasinya, tentunya Bank Syariah dihapkan pada risiko-


risiko yang harus diperhatikan agar seluruh kegiatan operasional dapat mencapai
efektifitas dan efisiensi dalam upaya memperoleh hasil yang diharapkan. Hal ini
dikarenakan kegiatan operasional bank yang cukup kompleks, sehingga bank
dituntut untuk mengantisipasi risiko yang ada secara maksimal dengan
menerapkan manajemen risiko yang memadai.

Manajemen risiko adalah salah satu upaya untuk mengetahui,


menganalisa, dan mengendalikan risiko dalam seluruh kegiatan operasional
perusahaan khususnya Bank Syariah. Dalam Perbankan manajemen risiko terdiri
dari delapan jenis risiko meliputi risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko
operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko strategis, risiko kepatuhan, dan
risiko reputasi.

RUMUSAN MASALAH

Bagaimana pengaruh manajemen risiko terhadap profitabilitas perbankan syariah


di masa pandemi?

PENELITIAN TERDAHULU
Banyak penelitian yang menyebutkanbahwa pandemi covid-19 ini
mempengaruhi banyak sektor keuangan dan ekonomi. Diantaranya, sektor
pariwisata (Correa-Martínez etal., 2020; Nasution et al., 2020; Uğur & Akbıyık,
2020), sektor UMKM (Abdurrahman Firdaus Thaha, 2020; Amri, 2020; Bartik et
al., 2020; Fabeil etal., 2020; Shafi et al., 2020; Wijaya, 2020), sektorpasar modal
(Ashraf, 2020; Zhang et al., 2020), hingga sektor Asuransi (Babuna et al., 1978;
Wanget al., 2020).

Beberapa penelitian yang telah dilakukan tentang kinerja perbankan


syariah di masa pandemi. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi (2020) yang
menganalisis kinerja perbankan syariah dimasa pandemi Covid-19. Penelitian ini
menguji 11 BUS dengan metode purposive sampling menggunakan data sekunder
yang diperoleh dari publikasi laporan triwulan I. Hasil penelitiannya menjelaskan
bahwa kinerja bank syariah tetap menunjukkan pertumbuhan kinerja yang
berkualitas dan agresif.

Penelitian sebelumnya tentang Analisis Pengaruh Likuiditas Dan


Solvabilitas Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Konstruksi Dan Bangunan
Yang Terdaftar Dibursa Efek Indonesia (BEI) telah dilakukan oleh Weni
Suryaningsi (2018) Penelitian tersebut menguji pengaruh rasio likuiditas dan rasio
solvabilitas terhadap profitabilitas perusahaan subsektor konstruksi dan bangunan
di Bursa Efek Indonesia periode 2012- 2016, sample sebanyak 10 perusahaan
dengan periode selama 5 tahun. Data laporan keuangan perusahaan diperoleh dari
data skunder berupa annual report. Adapun hasil dari penelitian ini, bahwa kedua
variabel yaitu likuiditas dan solvabilitas berpengaruh terhadap profitabilitas

Penelitian mengenai pengaruh risiko kredit yang diwakili oleh NPL


terhadap profitabilitas yang dilakukan oleh Rahman et al. (2015), Prasetyo dan
Darmayanti (2015), Abel and Roux (2016), Bhattarai (2016), Herlina dkk. (2016),
Suryanto (2017) menemukan hasil bahwa risiko kredit memiliki pengaruh negatif
signifikan terhadap profitabilitas, sementara penelitian Ogboi and Unuafe (2013),
Jumono et al. (2015) menemukan hasil bahwa risiko kredit memiliki pengaruh
negatif namun tidak signifikan terhadap profitabilitas. Penelitian yang dilakukan
oleh Jha and Hui (2012) dan Buchory (2015) berlawanan dengan hasil penelitian
lainnya dengan hasil risiko kredit berpengaruh positif signifikan terhadap
profitabilitas.

Menurut teori sinyal Bhattacarya (1979) dalam Sujoko dan soebiantoro


(2007) profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang bagus,
sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.
Semakin besar investor menanamkan modalnya kepada perusahaan, semakin
tinggi harga saham. semakin tinggi harga saham maka akan meningkatkan nilai
perusahaan. Jadi, profitabilitas tinggi maka nilai perusahaan juga tinggi, begitu
juga sebaliknya jika profitabilitas rendah maka nilai perusahaan juga rendah.

Hasil penelitian yang dilakukan penelitian yang juga dilakukan oleh


Wardianto dkk (2020),dimana sesuai dengan signaling theory, profitabilitas dan
dan investasi merupakan sinyal kondisi perusahaan yang baik. Sinyal baik ini
kemudian direspon oleh masyarakat dengan setia membeli produk yang dijual
perusahaan. Kondisi ini kemudian berimplikasi pada meningkatnya ekuitas merk
perusahaan.

Menurut penelitian Faliza et al., (2020)yang menggunakaan Corpororate


Sosial Responsibility (CSR) sebagai indikator pengukuran kinerja bank syariah.
Sampel dari penelitian ini adalah 300 responden karyawan bank syariah Aceh.
Penelitian menggunakan analisa studi regresi hierarki dengan aplikasi SPSS 22.
Temuannya menunjukkan bahwa CSR dan inovasi dapat mempengarui kinerja
bank syariah yang diukur dengan maqashid syariah. CSR berpengaruh signifikan
positif pada inovasi, dan inovasi memediasi hubungan antara CSR dengan kinerja
bank syariah Aceh.

Ubaidillah dan Aji (2020) meneliti tentang tinjauan implementasi dalam


pemberian perpanjangan waktu dan restrukturisasi kredit atau pembiayaan kepada
debitur yang terdampak pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kajian pustaka dengan metode analisis deskriptif. Temuannya
menunjukkan bahwa restrukturisasi kredit atau pembiayaan perlu diberikan
supaya menjaga kemampuan konsumsi masyarakat serta tidak terjadi penurunan.
Ketika kemampuan konsumsi dapat dipertahankan, maka pertumbuhan ekonomi
juga dapat dipertahankan.

Menurut penelitian Zyadat, (2017) dengan menggunakan sampel


penelitian bank syariah utama di Yordania, yaitu: Jordan Islamic Bank dan Arab
Islamic Bank. Penelitian iini menggunakan data dari laporan keuangan tahunan
(2008-2014) menggunakan indikator ROA dan ROE untuk mengukur kinerja
keuangan kedua bank tersebut. Temuannya menunjukkan bahwa adanya pengaruh
signifikan secara statistik dari kinerja keuangan yang diukur dengan ROA dan
EPS di bank syariah Yordania. Namun, tidak terdapat pengaruh yang signifikan
secara statistik dari dimensi keberlanjutan terhadap keuangan kinerja yang
diukurdengan ROE di bank-bank tersebut.

Penelitian Raharjo et al. (2020) melakukan uji CAR, NPF, BOPO, dan
Inflasi terhadap profitabilitas (ROA) Bank Umum Syariah di Indonesia tahun
2014-2018. Hasilnya, menunjukkan bahwa variabel BOPO dan Inflasi mempunyai
pengaruh terhadap ROA, sedangkan CAR dan NPF tidak berpengaruh terhadap
ROA. Selanjutnya, temuan Muhammad Syakhrun, Asbi Amin (2019) yang
menguji dampak CAR, BOPO, NPF dan FDR terhadap profitabilitas pada Bank
Umum syariah di Indonesia. Hasilnya, menunjukkan bahwa hanya FDR yang
mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas.

Temuan Haryati, Burhany dan Suhartanto (2019) menyimpulkan bahwa


usia bank tidak berdampak signifikan terhadap kemampuan laba, tetapi NPF
berpengaruh signifikan terhadap bagi hasil. Selanjutnya, FDR, dan BOPO tidak
mempunyai dampak yang signifikan terhadap bagi hasil. Temuan Ardana (2018)
CAR, NPF, BI rate dan Inflasi tidak memiliki dampak terhadap ROA, namun
FDR dan ROE memiliki dampak terhadap ROA.

Javaid and Alalawi (2018) menjelaskan CAR menunjukkan kemampuan


bank menahan guncangan masalah kerugian terhadap kecukupan modal. Menurut
Berger (1995) semakin tinggi rasio, semakin stabil dan efisien bank tersebut.
Hipotesis penelitian sebelumnya menunjukkan pengaruh CAR terhadap
profitabilitas bank( Datta and Al Mahmud 2018; Agus Widarjono 2018).
Sementara temuan Nahar and Prawoto (2017) menyimpulkan CAR tidak
mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas. Hipotesis penelitian ini adalah
terdapat pengaruh CAR terhadap ROA bank syariah.

KAJIAN PUSTAKA

Manajemen Risiko

Manajemen risiko merupakan rangkaian prosedur dan metodologi yang


digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan
risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank. Manajemen risiko dipandang sebagai
proses pengukuran atau penilaian risiko serta pengembangan strategi
pengelolaannya. Manajemen risiko menjadi suatu bidang ilmu yang membahas
tentang bagaimana suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan
berbagai permasalahan yang ada dengan menempatkan berbagai pendekatan
manajemen secara komprehensif dan sistematis. Manajemen risiko adalah
pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama
risiko yang dihadapi oleh organisasi, perusahaan, keluarga, dan masyarakat.
Kesimpulannya adalah bank Islam harus memulai mengelola risikonya, mulai dari
menetapkan tujuan dan strategi manajemen risiko, mengindentifikasi risiko,
mengukur risiko, memitigasi risiko, dan melakukan monitoring serta pelaporan
terhadap implementasi manajemen risiko yang dilakukan.

Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko tersebut sehingga bisa


memperoleh hasil yang paling optimal. Aspek terpenting dalam penerapan
manajemen risiko adalah kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan risiko,
sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali (manageable) pada batas
yang dapat diterima serta menguntungkan bank. Namun demikian mengingat
perbedaan kondisi pasar struktur, ukuran serta kompleksitas usaha bank, tidak ada
satu sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh bank, sehingga setiap
bank harus membangun sistem manajemen risiko sesuai dengan fungsi dan
organisasi manajemen risiko pada bank. Dapat dikatakan risiko pada bank adalah
suatu kondisi yang menyulitkan bank, yang umumnya terlebih dahulu tampak
dalam bentuk kesulitan keuangan kemudian tampak dalam bidang lainnya
sehingga bank tidak lagi mampu beroperasi dengan normal dan bahkan bank
menjadi bankrut. Oleh karena itu pengambilan keputusan, penentuan, dan
pelaksanaan langkah yang tepat dan benar dalam sebuah sebuah usaha
memerlukan pengetahuan tinggi dan pengalaman yang cukup, dari pengetahuan
tinggi dan pengalaman yang cukup, potensi kemungkinan tertimpa kerugian akan
minimal dan terhindar dari risiko. (Ahmad Mukhlishin dan Aan Suhendri , 2018:
260-262)

Manajemen resiko pada perbankan syariah mempunyai karakter yang


berbeda dengan bank konvensional, terutama karena adanya jenis-jenis resiko
yang khas melekat hanya pada bank-bank yang beroperasi secara syariah. Dengan
kata lain, perbedaan mendasar antara bank Islam dan bank konvensional bukan
terletak bagaimana cara mengukur (how to measure), melainkan pada apa yang
dinilai (what to measure). Perbedaan tersebut akan tampak terlihat dalam proses
manajemen resiko operasional perbankan syariah yang meliputi identifikasi
resiko, penilaian resiko, antisipasi resiko, dan monitoring resiko. (Muhammad
Iqbal Fasa,2016:38-39)

Bentuk-bentuk Risiko Bank Syariah

Kesuksesan dalam mengelola risiko dapat dicapai hanya jika pengambil


keputusan mengetahui dengan pasti pengertian risiko, termasuk di dalamnya
bentuk-bentuk risiko secara umum. Secara umum, risiko dapat digolongkan
menjadi 2, yaitu:

1. Berdasarkan faktor penyebab


a. Risiko nonbisnis, muncul dari berbagai faktor yang tidak terkait
dengan bisnis yang dijalankan, namun dampaknya akan mempengaruhi
bisnis, seperti kebakaran dan bencana alam.
b. Risiko bisnis, muncul karena proses bisnis yang dijalankan oleh Bank,
seperti kesalahan dalam proses perencanaan.
2. Berdasarkan dampak dan Unit Usaha Syariah.
a. Risiko unik, yaitu risiko yang dampaknya hanya ditanggung oleh
proyek atau bank tertentu, terisolasi dan dapat didiversifikasi.
b. Risiko pasar, yaitu risiko yang dampaknya menyebabkan efek domino,
dimana faktor risiko ini umumnya terkait dengan variabel makro
ekonomi atau kondisi sektoral atau geografis atau indikator pasar
lainnya
Berdasarkan PBI Nomor 13/23/PBI/2011 tentang Penerapan
Manajemen Risko bagi Bank Umum Syariah. Terdapat sepuluh jenis risiko
yang dhadapi bank syariah, dimana delapan risiko pertama merupakan
risiko umu yang dihadapi oleh bank konvensional, dan dua risiko terakhir
merupakan risiko khusus Bank Syariah Penambahan dua risiko ini sejalan
dengan platform manajemen risiko yang dikeluarkan oleh IFSB (Islamic
Financial Services Board). Sepuluh risiko tersebut antara lain:
a. Risiko Kredit
Risiko ini muncul sebagai akibat kegagalan atau kelalaian nasabah
atau pihak lain dalam memenuhi kewajibannya (liabilitas) kepada bank
atau sering juga disbut dengan risiko gagal bayar. Salah satu jenis
risiko kredit adalah risiko konsentrasi pembiayaan, yang timbul akibat
terkonsentrasinya pendanaan kepada satu atau sekelompok pihak.
b. Risiko pasar
Risiko ini muncul akbat adanya pergerakan harga pasar (adverse
movement) dari portofolio aset yang dimiliki oleh Bank dan berpotensi
merugikan bank. Jenis-jenis risiko pasar antara lain risiko nilai tukar,
risiko komoditas, risiko jatuh tempo dan risiko suku bunga.
c. Risiko likuiditas
Risiko likuiditas terjadi akibat ketidakmampuan Bank Syariah
dalam memenuhi liabilitas yang jatuh tempo. Risiko ini muncul
sebagai akibat dari ketidaksamaan waktu jatuh tempo antara sumber
pendanaan (DPK) dan akad pembiayaan bank kepada debitur.
d. Risiko operasional
Risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh
pengendalian internal yang kurang memadai, kegagalan proses
internal, kegagalan sistem dan sebagainya. Termasuk ke dalam jenis
risiko operasional antara lain risiko kepatuhan (compliance risk) dan
risiko bisnis.
e. Risiko hukum
Muncul akibat adanya runtutan hukum dan/atau kelemahan aspek
hukum.
f. Risiko reputasi
Terjadi akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang
bersumber pada persepsi negatif terhadap bank, seperti dalam hal
pelayanan, manajemen, dan ketaatan pada aturan Syariah.
g. Risiko strategis
Terjadi akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau
pelaksanaan suatu keputusan strategis termasuk kegagalan dalam
mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
h. Risiko kepatuhan
Muncul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan
peraturan undang-undang yang berlaku termasuk di dalamnya tidak
mengikuti prinsip dan aturan syariah.
i. Risiko imbal hasil
Risiko ini terjadi akibat perubahan tingkat imbal hasil yang
dibayarkan bank kepada nasabah dan juga mempenngaruhi perilaku
nasabah.
j. Risiko investasi
Risiko ini muncul akibat bank ikut menanggung kerugian usaha
debitur yang dibiayai dalam pembiayaan berbasis profit and loss
sharing (PLS). (Diah Novianti,2019:49-52)
Proses Manajemen Risiko
Seluruh bank wajib melakukan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan,
dan pengendalian risiko terhadap faktor - faktor risiko yang bersifat material.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan proses identifikasi,
pengukuran, pemantauan, pengendalian dan sistem informasi manajemen
adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi risiko
Pelaksanaanan proses identifikasi risiko dilakukan dengan melakukan
analisis terhadap karakteristik risiko yang melekat pada bank serta risiko dari
produk dan kegiatan usaha bank. Proses identifikasi risiko antara lain
didasarkan padapengalaman kerugian bank yang pernah terjadi.
a. Bank wajib melakukan identifikasi seluruh risiko secara berkala.
b. Bank wajib memiliki metode atau sistem untuk melakukan identifikasi
risiko pada seluruh produk dan aktivitas bisnis bank.
c. Proses identifikasi risiko dilakukan dengan menganalisis seluruh sumber
risiko,paling tidak dilakukan terhadap risiko dari produk dan aktivitas
bank serta memastikan bahwa risiko dari produk dan aktivitas baru telah
melalui proses manajemen risiko yang layak sebelum diperkenalkan atau
dijalankan.
2. Pengukuran risiko
Dalam proses pengukuran risiko, bank wajib melakukan evaluasi
secara berkala paling sedikit sekali dalam tiga bulan (tri wulan) atau lebih
sesuai dengan perkembangan usaha bank dan kondisi eksternal yang
mempengaruhi kondisi bank terhadap kesesuaian asumsi, sumber data, dan
prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko.
3. Pemantauan Risiko
Bank harus memiliki sistem dan prosedur pemantauan yang mencakup
pemantauan terhadap besarnya eksposur risiko, toleransi risiko, kepatuhan
limit internal, dan hasil stress testing atau konsistensi pelaksanaan, dengan
kebijakan dan prosedur yang diterapkan.
4. Pengendalian Risiko
Bank harus memiliki sistem pengendalian risiko yang memadai, dengan
mengacu pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan, proses
pengendalian risiko yang diterapkan bank harus disesuaikan dengan eksposur
risiko atau tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko. Pengendalian
risiko dapat dilakukan oleh bank dengan metode mitigasi risiko serta
penambahan modal bank untuk menyerap potensi kerugian. (Lilis Sugi
Rahayu Ningsih:19-21)
Profitabilitas
Profitabilitas sangat penting bagi perbankan, karena digunakan sebagai
indikator untuk mengukur efesiensi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan
dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Indicator financial ratio yang
digunakan adalah Return on Asset (ROA) sebagai variabel dependen. Dalam
penelitian ini mengunakan ROA sebagai variabel dependennya karena Bank
Indonesia sebagai pengawas dan pembina perbankan lebih mengutamakan nilai
profitabilitas suatu bank yang diukur dengan aset. Profitabilitas adalah ukuran
spesifik dari kinerja sebuah bank, dimana ROA merupakan tujuan dari manajemen
perusahaan dengan memaksimalkan nilai dari para pemegang saham, optimalisasi
dari berbagai tingkat return, dan minimalisasi resiko yang ada. Untuk mengukur
tingkat keuntungan suatu bank digunakan rasio profitabilitas.
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan bank dalam
mencari keuntungan. Selain itu, rasio ini juga memberikan ukuran tingkat
efektivitas manajemen suatu bank yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari
penjualan dan pendapatan investasi. Penggunaan seluruh atau sebagian rasio
profitabilitas tergantung dari kebijakan manajemen. Dalam penelitian ini rasio
profitabilitas yang digunakan adalah Return on Asset (ROA). Menurut Kasmir
ROA atau hasil pengembalian investasi merupakan rasio yang menunjukkan hasil
(return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam bank. (Medina Almunawwaroh
dan Rina Marlina, 2018:6)
Perbankan Syariah
Bank Syariah Indonesia telah memperoleh regulasi yang tercantum dalam UU
No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah. Bank Syariah merupakan bank yang
menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah. Bank Syariah dalam
sistem operasionalnya tidak menggunakan sistem bunga, akan tetapi
menggunakan prinsip dasar sesuai dengan syariah Islam (Ismail, 2011:34).

Sulhan dan Siswanto (2008: 125) menuliskan, Bank syariah adalah


bank yang kegaiatan operasionalnya berdasarkan pada prinsip-prinsip syariat
Islam. Bank Syariah yang sering pula disebut Bank Islam. Bank Islam adalah
bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank Syariah
juga dapat diartikan sebagai lembaga keuangan perbankan dan operasional dan
produknya dikembankangkan berlandaskan Al-Quran dan Hadist.

Bank Syariah bukan semata-mata bank yang terbebas bunga, tetapi juga
bank yang memiliki orientasi pencapaian kesejahteraan. Secara fundamental
terdapat beberapa karakteristik bank syariah:

1. Penghapus riba.

2. Pelayanan kepada kepentingan publik dan merealisasikan sasaran sosio-


ekonomi Islam.

3. Bank Syariah bersifat universal yang merupakan gabungan dari bank


komersial dan bank investasi. (Kasmir, 2013: 31).

Manajemen Risiko di Masa Pandemi


Sistem perbankan di Indonesia adalah salah satu yang terdampak selain
sektor kesehatan, termasuk perbankan syariah. Karenanya, BI (2020) melakukan
upaya mitigasi risiko dengan memberikan stimulus regulasi dalam rangka
menjaga stabilitas sistem perbankan berupa kebijakan relaksasi pembiayaan atau
keringanan dalam angsuran pembiayaan nasabah. Kebijakan Bank Sentral
diharapkan mampu berjalan secara efektif untuk ikut andil mendorong kinerja
perbankan syariah. Paket kebijakan berkontribusi signifikan terhadap kinerja
perbankan syariah di Indonesia. Secara empiris dan praktik membuktikan bahwa
selama hampir dua dekade perbankan syariah dapat bertahan dari goncangan
krisis domestik dan global Namun demikian, dalam konteks Covid 19 gelombang
krisisnya berbeda, dimana menciptakan tiga krisis besar, yaitu krisis kesehatan,
krisis ekonomi, dan krisis sosial. Di masa pandemi Covid 19, perbankan syariah
menghadapi beberapa kemungkinan risiko, yaitu risiko pembiayaan macet (NPF),
risiko pasar dan risiko likuiditas. Karenanya, risiko tersebut pada akhirnya akan
memiliki dampak terhadap kinerja dan profitabilitas perbankan syariah.

Sebagian besar penelitian telah dilakukan yang menginvestigasi kinerja


bank syariah dimasa normal. Namun, belum ada penelitian yang spesifik tentang
dampak pandemi terhadap kinerja dan profitabiltas. Penelitian ini bertujuan
menganalisis pengaruh CAR, NPF, FDR, BOPO dan Inflasi terhadap profitabilitas
perbankan syariah Indonesia dimasa Pandemi Covid-19. (Rofiun Wahyudi, 2020)

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Jenis purposive sampling


dipilih sebagai representasi perbankan syariah di Indonesia yaitu Bank BNI
Syariah pada laporan keuangan tahun 2017-2020. (Rofiul Wahyudi, 2020)
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif.
Pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta,
menunjukkan hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistik,
menaksir dan meramalkan hasilnya. (lhami dan Husni Thamrin, 2021)

Penelitian ini fokus pada fenomena saat ini yaitu tentang pengaruh
manajemen risiko terhadap profitabilitas perbankan syariah di masa pandemi.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder pada
penelitian ini yaitu berupa data laporan keuangan bank BNI Syariah tahun 2017-
2020.

Teknik pengumpulan data, merupakan cara-cara teknis yang dilakukan


oleh seorang peneliti dalam mengumpulkan data-data penelitianya. Teknik
pengumpulan data yang digunkan dalam penelitian ini adalah dengan cara telaah
dokumen. Teknik dokumentasi yaitu mengumpulkan beragam sumber tertulis
meliputi buku, surat kabar, dan lain sebagainya (Suharni, 2006).
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan 3 tahapan, yaitu
reduksi data, display data, dan gambaran kesimpulan. Reduksi data merupakan
tahapan awal dalam melakukan pemilihan, pemfokusan, penyederhanaa, abstraksi
maupun pentransformasian data yang masih berbentuk tulisan-tulisan atau masih
mentah. Display data, merupakan data yang telah direduksi yang kemudian di
display untuk dapat menentukan data selanjutnya. Gambaran penelitian
merupakan penarikan kesimpulan dari data yang sudah diteliti. (Milya Sari, 2020).

PEMBAHASAN

Penentuan keputusan dalam suatu perbankan sangat ditentukan oleh risiko-


risiko yang ada, baik risiko internal maupun eksternal. Risiko perbankan bisa
muncul dari berbagai keadaan. Manajemen risiko sangat diperlukan untuk bisa
member gambaran terkait risiko yang akan dihadapi suatu perbankan. Disisi lain
manajemen risiko sangat diperluka dalam sebuah perbankan karena memiliki
tujuan sebagai alat untuk meningkatkan share value.

Objek penelitian yang digunakan adalah laporan keuangan bank BNI


Syariah tahun 2017-2020. Analisis data yang akan diambil berupa analisis laporan
keuangan dengan menggunakan analisa Net Performing Fund (NPF), Biaya
Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), Return Of Assets (ROA),
Return Of Equity (ROE), dan Capital Adequacy Ratio (CAR) untuk menganalisis
pengaruh manajemen risiko terhadap profitabilitas pada bank BNI syariah.
Berikut data yang didapatkan dari hasil analisis laporan keuangan BNI syariah:

Tahun Analisa profitabilitas (%)

Tahun Analisa profitabilitas (%)


CAR ROA ROE NPF BOPO
2018 17,44 1,42 10,53 3,35 85,30
Sangat baik Baik Kurang baik Baik CukupBaik
2019 18,23 1,66 12,65 2,90 82,96
Sangat baik Sangat baik Kurang baik Baik Sangat
Baik
2020 15,62 1,33 12,59 3,06 86,03
Sangat baik Baik Kurang baik Baik Cukup baik
Pada analisis Capital Adequacy Ratio (CAR), dimana metode ini
dignakan untuk mengukur sejauh mana rasio kecukupan modal yang digunakan
untuk mengatasi kecukupan modal yang digunakan untuk dapat mengatasi
kerugian yang mungkin akan dihadapi perbankan. Jika dilihat pada data, tahun
2020 prosentase CAR mengalami penurunan. Meskipun nilai prosentasenya lebih
dari 15% (sangat baik), tetapi angka tersebut penurunan 2,63% pada tahun
sebelumnya yaitu 18,23%. Jika prosentase profitabilitas CAR dibawah prosentase
normal, maka hal tersebut dapat memperbesar risiko kredit yang berdampak pada
perbankan mengalami kegeglan counterparty dalam memenuhi kewajibannya.

Return Of Assets (ROA) memiliki prosentase nilai normal antara


1,26%1,5%. Kondisi covid-19 memiliki pengaruh buruk pada pertumbuhan ROA
untuk menghasilkan profit yang lebih besar. Hal ii dapat dilihat pada data bank
BNI syariah tahun 2020, nilai ROA turun 0,33% dari tahun sebelumnya menjadi
1,33%. Pada penelitian sebelumnya (Gusti Ayu dan Dodik: 2016) menyatakan
bahwa penurunan CAR sangat berpengaruh ROA. Maka dapat disimpulkan bahwa
risiko penurunan profit dangat dipengaruhi oleh keampuan bank dalam
menerapkan manajemen pengolahan modal.

Analisis profitabilitas menyatakan bahwa prosentase normal Return Of


Equity (ROE) sebesar 15,51%- 20% dalam kategori baik. Penurunan Capital
Adequacy Ratio (CAR) pada BNI syariah tahun 2020 diikuti dengan penurunan
ROE. Risiko penurunan ini terjadi karena kondisi perokonomian akibat dampak
dari covid-19 dalam kemampuan perbankkan mengelola modal equitas. Modal
ekuitas sangat berpengaruh pada manajemen risiko investasi.

Rasio normal Net Performing Fund (NPF) dalam kriteria baik memiliki
nilai 2%-3,5%. Semakin besar nilai NPF maka semakin tinggi risiko pembiayaan
yang ditanggung perbankan. Dari data BNI syariah diatas, rasio than 2020
mengalami peningkatan 0,16% yang artinya risiko pembiayaan yang ditanggung
akan semakin besar. Maka dapat disimpulkan kenaikan rasio NPF dapat
menyebabkan penurunan profitabilitas perbankan khususnya pada risiko
pembiayaan.

Data bank BNI syariah menunjukkan rasio Biaya Operasional dan


Pendapatan Operasional (BOPO) senilai 86,03 yang mana rasio normal terdapat
pada angka 83,1%- 85%. Pada tahun sebelumnya, BOPO BNI syariah
menunjukkan rasio 82,96 artinya terjadi peningkatan sebesar 3,07% pada tahun
2020. Peningkatan tersebut ditandai dengan manajemen BNI syariah kurang
efisien dalam melakukan kegiatan operasional karena biaya yang dikeluarkan
lebih kecil dibandingkan pendapatan yang diterima. Oleh karena itu peningkatan
BOPO mempengaruhi profitabilitas pada risiko operasional.

KESIMPULAN

Berdasarkan pada pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan


manajemen risiko memiliki peran penting dalam perencanaan, pengaturan,
kepemimpinan, dan pengontrolan aktivitas bank BNI syariah. Pada masa pandemi
dampak dari covid-19 sangat mempengaruhi profitabilitas BNI syariah. Penerapan
manajemen risiko sangat berpengaruh terhadap profitabilitas BNI syariah.
Pengukuran profitabilitas penelitian ini terdiri dari CAR, ROA, ROE, NPF,
BOPO.
Dari analisis laporan keuangan BNI syariah tahun 2018-2020 terlihat
bahwa tahun 2020 semua pengukuran profitabilitas mengalami menurunan rasio
nilai. Pada analisis tersebut terbukti bahwa CAR dan BOPO berpengaruh secara
signifikan terhadap ROA. Hal ini didasarkan pada kemampuan bank dalam
menyediakan dana untuk dapat meningkatkan profit/laba untuk mewujudkan
efisiensi perbankan dalam melakukan sejumlah kegiatan. NPF pada BNI syariah
berpengaruh positif terhadap ROA sehingaa semakin tinggi NPF akan berakibat
buruk pada kinerja perbankan. ROE berpengaruh secara signifikan terhadap
penurunan return investasi saham pada masa pandemic covid 19 dikarenakan
harga saham turun secara drastis akibat ketidakstabilan ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA
Almunawwaroh, Medina dan Rina Marlina. 2018. "Pengaruh CAR, NPF dan FDR
terhadap Profitabilitas Bank Syariah di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan
Keuangan Syariah. Vol. 2 No. 1 Januari.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: PT. Rineka.
Azhari, Allselia Riski and Rofiul Wahyudi. 2020. "Analisis Kinerja Perbankan
Syariah di Indonesia : Studi MasaPandemi Covid-19". Jurnal Ekonomi
Syariah Indonesia. Vol. X No. 2. Desember.
Fasa, Muhammad Iqbal. 2016. "Manajemen Resiko Perbankan Syariah di
Indonesia." Jurnal Studi Ekonomi dan Bisnis Islam. Volume I. Nomor 2.
Fasa, Muhammad Iqbal. 2017. Manajemen Resiko Perbankan Syariah Di
Indonesia. Li Falah: Jurnal Studi Ekonomi.
Kasmir. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Jakarta: PT Raja
Grafindo Pers.
lhami dan Husni Thamrin. 2021. "ANALISIS DAMPAK COVID 19
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERBANKAN SYARIAH DI
INDONESIA". Jurnal Tabarru’ : Islamic Banking and Finance. Volume 4.
Nomor 1. Mei.
Ismail. 2011. Perbankan Syariah. Jakarta: Kencana Premada Media Group.
Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Muhammad. 2011. Manajemen Bank Syari’ah. Yogyakarta: Sekolah Tinggi
Ilmu Manajemn YKPN.
Mukhlishin Ahmad dan Aan Suhendri. 2017. “Aplikasi Teori Sosiologi dalam
Pengembangan Masyarakat Islam.” INJECT (Interdisciplinary Journal of
Communication) 2. No. 2.
Mukhlishin, Ahmad dan Aan Suhendri. 2018. "Analisis Manajemen Risiko
(Kajian Kritis Terhadap Perbankan Syariah di Era Kontemporer)".
“JURNAL EKONOMI SYARIAH”, Vol. 05. No. 01.
Novianti, Diah . 2019. "Pengembangan Kerangka Manajemen Risiko Pada
Perbankan Syariah, Jurnal Ilmu Syari’ah dan Perbankan Islam. Vol.4.
No.1. Juni.
Siskawati, Angelia Dwi, Putri Kusuma Wardani, Riko Ardiansyah, Zulfa Amalia
Ifadah. 2020. "Pengaruh Risiko Likuiditas, Cadangan Kas dan Risiko NPL
terhadap Profitabilitas Perbankan selama Covid-19". Jurusan Ilmu
Administrasi Bisnis. Volume 1. Nomor 1. Agustus.
Sholeh, Abdul Rahman. (2005). Pendidikan Agama dan Pengembangn untuk
Bangsa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sumar’in. 2012. Konsep Kelembagaan Bank Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wahyudi, Rofiul. 2020. "Analisis Pengaruh CAR, NPF, FDR, BOPO dan Inflasi
terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah di Indonesia: Studi Masa
Pandemi Covid-19". At-Taqaddum. Vol. 12 No. 1.

Anda mungkin juga menyukai