Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Nama : Nurhafidz Felani

Spekrofotometri dan NIM : G44053654


Aplikasi Kemometrik Tanggal : 19 Maret 2008
Asisten : Budi Riza Putra
PJP : Mohammad Rafi, S. Si
Kelompok : B Siang

TURBIDIMETRI :
PENENTUAN KADAR SULFAT
POLARIMETRI :
ANALISIS KUALITATIF DAN PENENTUAN KADAR GULA

Prinsip Percobaan
Polarimeter cahaya adalah alat untuk melihat rotasi spesifik suatu
senyawa, cahaya tersebut dinyatakan sebagai gelombang elektromagnetik yang
transversal (tegak lurus dengan arah rambatnya). Cahaya umumnya mempunyai
bermacam-macam panjang gelombang, dimana bila dibiaskan melalui prisma kaca
akan terurai menjadi beberapa warna cahaya yang dikenal sebagai spektrum. Tiap-
tiap warna cahaya itu disebut sebagai cahaya monokromatik.
Dalam alat polarimeter ini cahaya monokromatik dihasilkan dengan
menggunakan sodium lamp (lampu natrium) dimana gas natrium pijar akan
menghasilkan lampu warna kuning. Cahaya monokromatik pada dasarnya
mempunyai bidang getar yang banyak sekali, bidang getar tersebut akan tegak
lurus pada bidang datar. Bidang getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat
dipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus.
Pada polarimeter terdapat polarisator dan analisator. Polarisator adalah
Polaroid yang dapat mempolarisasi cahaya, sedangkan analisator adalah Polaroid
yang dapat menganalisa/mempolarisasikan cahaya. Apabila cahaya melalui
polarisator maka bidang getar polarisator akan diserap atau dipadamkan sehingga
cahaya yang dapat melalui polarisator adalah cahaya yang mempunyai bidang
getar polarimeter. Sebaliknya cahaya yang melalui analisator maka bidang getar
polarisator akan dipadamkan dan yang tinggal hanyalah cahaya yang mempunyai
bidang getar analisator. Larutan yang akan diperiksa diletakkan antara polarisator
dan analisator. Larutan optis aktif adalah larutan yang dapat memutar bidang
polarisasi.
Padatan yang tersuspensi dalam suatu larutan dapat mengganggu proses
transmisi cahaya yang melewati larutan tersebut. Karakteristik yang khas ini
dikenal sebagai turbiditas. Turbiditas adalah ekspresi dari sifat-sifat optik yang
menyebabkan cahaya menjadi dihamburkan dan juga diserap daripada
ditransmisikan dalam arah lurus melalui larutan. Untuk mengukur turbiditas suatu
larutan dapat menggunakan turbidimetri nephelometri yang mengukur intensitas
cahaya yang dihamburkan pada sudut 90 terhadap sinar yang datang. Dalam
turbidimetri detektor yang digunakan merupakan detektor yang sensitif terhadap
cahaya pada panjang gelombang 400 – 600 nm. Nilai dari turbiditas dinyatakan
dalam nephelometri turbidity unit (NTU).

Tujuan Percobaan
Percobaan turbidimetri bertujuan menentukan kadar sulfat dalam larutan
contoh. Percobaan polarimetri bertujuan menentukan kadar gula suatu senyawa
anu.

Prosedur Percobaan
Prosedur percobaan seperti dalam buku penuntun Praktikum
Spektrofotometri dan Aplikasi Kemometrik hanya labu takar yang digunakan
untuk penentuan kadar sulfat adalah labu takar 25 ml dan banyaknya bahan yang
digunakan setengah resep.

Hasil dan Perhitungan


Tabel 1. Data pengukuran turbidan larutan standar sulfat
Larutan V.Standar [Sulfat] Turbidan Turbidanterkoreksi [Sulfat]sebenarnya
(ml) (ppm) (NTU) (NTU) (ppm)
Blanko - - 5 - -
1 0.5 0.2 15 10 0.1908
2 1.0 0.4 35 30 0.3842
3 1.5 0.6 59 54 0.6162
4 2.0 0.8 80 75 0.8192
Larutan V.Standar [Sulfat] Turbidan Turbidanterkoreksi [Sulfat]sebenarnya
(ml) (ppm) (NTU) (NTU) (ppm)
5 2.5 1.0 101 96 1.0223
6 3.0 1.2 116 111 1.1673
Sampel1 - - 95 90 0.9643
Sampel2 - - 82 77 0.8386
Sampel3 - - 114 109 1.1480
Sampel4 - - 94 89 0.9546
Sampel5 - - 88 78 0.8192
Contoh perhitungan :
( V ppm ) standar = ( V ppm ) sulfat
0.5 ml x 10 ppm = 25 ml [sulfat]
[sulfat] = 0.2 ppm

Turbidan terkoreksi = Turbidan standar – Turbidan blanko


= 15 NTU – 5 NTU
= 10 NTU

140
y = 103.43x - 9.7333
120
Turbidan terkoreksi (NTU)

R2 = 0.9964
100

80

60

40

20

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4
[sulfat] (ppm)

Gambar 1. Grafik hubungan turbidan terkoreksi dan kosentrasi sulfat


Persamaan garis yang didapatkan :
Y = -9.7333 + 103.43 x
[sulfat]sebenarnya untuk sampel A :
Y = -9.7333 + 103.43 x
10 = -9.7333 + 103.43 x
x = 0.1908 ppm
Standar Deviasi =  ( Xi  X )2
n 1
=

(0.1908  0.3971) 2  (0.3842  0.3971) 2  (0.6162  0.3971) 2 


(0.8192  0.3971) 2  (1.0223  0.3971) 2  (1.1673  0.3971) 2
6 1

= 0.3748
Bobot sampel A = 1.0040 g
Bobot sampel B = 1.0079 g
Bobot sampel C = 1.0055 g
Bobot sampel D = 1.0011 g
Tabel 2. Identifikasi senyawa berdasarkan rotasi spesifik
Larutan [sampel]10-2 α terukur α rerata α terkoreksi [α]DT Jenis
g/ml
Air - +90 + 8.67 0 - - -
+90
+80
Anu A 1.0040 -30 - 6.00 0 -14.67 0 -730.58 -
-70
-80
Anu B 1.0079 -50 - 4.30 0 -12.97 0 -643.42 -
-50
-30
Anu C 1.0055 -80 - 7.67 0 -16.34 0 -812.53 -
-80
-70
Anu D 1.0011 -60 - 3.00 0 -11.67 0 -582.86 -
-20
-10
Larutan [sampel]10-2 α terukur α rerata α terkoreksi [α]DT Jenis
g/ml

Glukosa 1% - +10 + 1.00 0 -7.67 0 -383.50 -


+10
+10
Glukosa 5% - +9 0 + 7.67 0 -1.00 0 -10.00 D-Ribosa
+60
+80

Contoh perhitungan :
bobot
[sampel A] = volume

1.0040 g
[sampel A] = = 1.0040 x 10-2 g/ml
100ml

α terkoreksi = α sampel - α blanko


= -6 0 – 8.67 0 = -14.67 0
Untuk sampel A :
 terkoreksi x100
[α]DT =
d c
14.67
=
1.0040 x10  2 x 2
= 730.5777

PEMBAHASAN
Turbiditas adalah pengukuran adanya materi padatan kecil yang
tersuspensi pada air. Satuan ukurannya adalah NTU (Nephelometer Turbidity
Unit). Turbiditas merupakan pengukuran hamburan cahaya yang dilewatkan pada
suatu larutan oleh parikel-partikel koloid yang terdapat didalam larutan tersebut.
Besarnya hamburan cahaya sangat dipengaruhi oleh banyaknya partikel yang ada
dalam larutan, dengan kata lain warna larutan dan juga konsentrasi sangat
berperan dalam hamburan cahaya. Larutan NaCl-HCl berfungsi menghambat
pertumbuhan kristal barium sulfat dan penambahan larutan gliserol-etanol
bertujuan membantu kestabilan partikel koloid. Pengocokan larutan yang telah
dibuat bertujuan menyamakan ukuran partikel-partikel koloid yang terdapat dalam
larutan tersebut, sehingga ketika terdapat sinar yang melewati larutan tersebut,
sinar akan dihamburkan sama oleh partikel-partikel tersebut.
Polarimeter adalah alat yang didesain untuk mempolarisasikan cahaya dan
kemudian mengukur sudut rotasi bidang polarisasi cahaya oleh suatu senyawa
aktif optis. Besarnya perputaran itu bergantung pada struktur molekul, temperatur,
panjang gelombang, banyaknya molekul pada jalan cahaya, dan juga ditentukan
oleh pelarut sehingga pemilihan pelarut perlu diperhatikan dengan seksama. Sifat
optis aktif zat dispesifikasikan dengan sudut putar jenis. Sudut putar bidang
polarisasi sebanding dengan sudut putar jenis dan konsentrasi. Bila sudut putar
jenis diketahui dan sudut putar bidang polarisasi dapat diukur, maka konsentrasi
(kadar) zat optis aktif dapat ditentukan (prinsip dasar polarimeter). Sudut putar
jenis (specific rotation) adalah besarnya perputaran oleh 1,00 gram zat dalam 1,00
ml larutan yang berada dalam tabung dengan panjang jalan (cahaya) 1,00 dm,
pada temperatur dan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang yang lazim
digunakan ialah 589,3 nm (garis D natrium). Bila cahaya terpolarisasi linier jatuh
pada bahan optis aktif, maka cahaya yang keluar bahan akan tetap terpolarisasi
linier dengan arah bidang getar terputar terhadap arah bidang getar semula.
Turbidimeter perlu dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan suatu larutan
standar, setelah itu dikalibrasi menggunakan larutan blanko. Kalibrasi ini
dilakukan agar kesalahan pengukuran dapat diminimalisir. Larutan blanko
berfungsi sebagai koreksi turbidimeter. Turbidan blanko yang diperoleh sebesar 5
NTU. Setelah itu dilakukan pengukuran turbidan dari standar sulfat dan sampel.
Larutan standar sulfat yang diukur nilai turbidannya dibuat dengan konsentrasi
yang berbeda. Besarnya turbidan standar sulfat dipengaruhi oleh besarnya
konsentrasi, semakin besar konsentrasi larutan standar sulfat maka tubidan akan
semakin besar.
Nilai turbidan terkecil didapat 10 NTU untuk larutan standar sulfat 0,2
ppm. Sedangkan nilai tubidan terbesat terdapat pada larutan standar dengan
konsentrasi sulfat sebesar 1.2 ppm yaitu sebesar 116. selanjutnya keenam larutan
sampel yang belum diketahui konsentrasinya diukur turbidannya. Dari data yang
diperoleh dapat dibuat kurva hubungan antara turbidan terkoreksi dengan
konsentrasi standar sulfat. Persamaan garis yang didapat adalah Y = -9.7333 +
103.43 x. Dari persamaan tersebut didapatkan konsentrasi sufat sebenarnya dari
standar dan sampel. Kadar sulfat sebenarnya dari larutan standar 1 sampai 6
berturut-turut 0.1908 ppm, 0.3842 ppm, 0.6162 ppm, 0.8192 ppm, 1.0223 ppm,
dan 1.1673 ppm. Sedangkan kadar sulfat dalam larutan sampel 1 sampai 5
diperoleh 0.9643, 0.8386 ppm, 1.1480 ppm, 0.9546 ppm, dan 0.8192
ppmKonsentrasi sulfat sebenarnya dengan konsentrasi yang dibuat tidak berbeda
jauh. Pengukuran turbiditas dari larutan standar dan sampel mempunyai standar
deviasi sebesar 0.3748. Nilai standar deviasi yang didapat tidak terlalu besar,
sehingga keterulangan percobaan baik.
Polarimeter dikalibrasi dengan melakukan pengukuran akuades sebagai
blanko. Besarnya cahaya yang terpolarisasikan didapat dengan memutar analizer
ke nilai sudut saat indikator cahaya yang dilihat intensitas warna atau cahaya nya
sama di kedua sisi kanan dan kiri. Untuk mendapatkan intensitas cahaya yang
sama dikedua sisi terlebih dahulu dicari intensitas cahaya gelap-terang dan terang-
gelap. Jarak diantara kedua intensitas inilah terdapat intensitas dikedua sisi yang
sama terang. Tiap pengukuran rotasi optis dari larutan blanko, anu, dan glukosa
1% juga 5% dilakukan sebanyak tiga kali ulangan. Besarnya nilai rerata cahaya
yang terpolarisasikan oleh akuades adalah sebesar +8.670. Penambahan NH4OH
berfungsi sebagai pemberi suasana basa dan untuk memperbesar mutarotasi optik
dari larutan sampel tersebut. Pada pengukuran sampel didapatkan nilai rerata
rotasi optik untuk larutan anu A, B, C, D berturut-turut yaitu -6 0, -4.30, -7.670,
-30. sedangkan rerata nilai rotasi optik yang didapatkan dari pengukuran standar
glukosa 1% dan 5% adalah +10 dan +7.670. tanda (+) atau (-) ini menunjukkan
arah perputaran dari rotasi optik larutan tersebut. Jika rotasi optik berharga positif
berarti bahwa arah perputaran rotasi optik dari larutan tersebut searah dengan arah
jarum jam dan sebaliknya. Besarnya sudut putar jenis larutan anu A, B, C, dan D
berturut-turut -730.58, -643.42, -812.53, dan -582.86. Sedangkan sudut putar
jenis dari larutan glukosa 1% dan 5 % adalah -383.50 dan -10.00. Dari nilai-nilai
tersebut dapat disimpulkan bahwa larutan anu sedikit sekali mengandung glukosa.
Karena semakin besar sudut putar jenis, konsentrasi glukosa semakin kecil.

SIMPULAN
Kadar sulfat sebenarnya dari larutan standar 1 sampai 6 berturut-turut
0.1908 ppm, 0.3842 ppm, 0.6162 ppm, 0.8192 ppm, 1.0223 ppm, dan 1.1673
ppm. Sedangkan kadar sulfat dalam larutan sampel 1 sampai 5 diperoleh 0.9643,
0.8386 ppm, 1.1480 ppm, 0.9546 ppm, dan 0.8192 ppm. Sudut putar jenis dari
larutan anu A, B, C, dan D berturut-turut -730.58, -643.42, -812.53, dan -582.86.
sedangkan sudut putar jenis dari larutan glukosa 1% dan 5 % adalah -383.50 dan
-10.00.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2008. Polarimeter. (terhubung berkala).
http://labdasar.unlam.ac.id/modul_praktikum/fisika/polarimeter.doc
(14 Mei 2008).
[Anonim]. 2008. Gula. (terhubung berkala).
http://kimia.fmipa.unair.ac.id/kuliah/kwu/Hand_out/gula.pdf
(14 Mei 2008).
Fessenden RJ dan Fessenden JS. 1987. Kimia Organik ., penerjemah. Jakarta :
Erlangga. Terjemahan dari : Organic Chemistry.