Anda di halaman 1dari 4

Nama : Dewi Febriani Fakultas : FISIP

NIM : 1042500858 Jurusan : Hub. Internasional

Dosen : Hizkia Yosi P

REALISME DAN EVOLUSINYA

Sumber : International Relations Theory for the Twenty-First Century .. An introduction -


(Eds.) Martin Griffiths.

Pendahuluan

Realisme adalah sebuah pemikiran dimana negara merupakan hal yang paling penting
dan utama dalam hubungan internasional. Dimana paham ini lebih menekankan pada keamanan
negara dan powernya. Pada dasarnya, semua negara mencari kekuasaan, menguatkan powernya
dan ingin mencapai kepentingan nasionalnya dalam melakukan hubungan dengan negara lain
(mementingkan kepentingan sendiri). Sehingga cara apapun dilakukan agar negara itu
mendapatkan kekuasaan bahkan ingin dikatakan sebagai negara hegemoni.

Evolusi Realis

Realisme bermula dari Thucydides, sejarahwan yang mengemukakan paham realis yang
terjadi saat perang Peloponnisia antara Athena dan Sparta dan juga berasal dari pemikiran –
pemikiran para pelopornya seperti Niccolo Machiavelli (1469 – 1527), Thomas Hobbes (1588 –
1679), Morgenthau (1948), dll.

Thucydides membenarkan hal dalam dialog Melian bahwa adanya kaum yang kuat dan
lemah, sementara yang kuat berkuasa dan yang lemah menderita. Thucydides juga menjelaskan
perilaku kaum Athena dengan kekuasaannya yang ingin menguasai suatu wilayah sehinga perang
tak bisa dihindarkan. Pemikiran lain oleh para tokoh seperti Niccolo Machiavelli, Thomas
Hobbes, Morgenthau dan tokoh lainnya intinya beranggapan sama bahwa kekuasaan dan
keamanan merupakan hal yang utama bagi negara.

Paham realis bertentangan dengan paham liberalis. Dimana realis mengutamakan power
dan pertahanan negara sedangkan liberalis mengutamakan kebebasan dan keeratan hubungan

1
aktor non-state (organisasi non pemerintah, multinational corporation,dsb) untuk mendapatkan
keuntungan melalui kerjasama. Liberalisme menganggap bahwa paham realis tidak dapat
menjelaskan adanya ide keseimbangan kekuasaan (kedaulatan) di zaman kuno.

Tanggapan paham liberal ini memunculkan paham realis klasik di abad ke-21 (1939)
dipublikasikan oleh Edward Hallet Carr karena banyak sejarahwan yang tidak setuju pada
liberalisme. Paham realis klasik ini intinya menginginkan agar negara mampu meningkatkan
kemampuan manusia karena paham ini beranggapan bahwa kekuasaan berakar dari
kemampunan manusia. Realisme klasik menjelaskan perilaku konfliktual oleh kelemahan
manusia dan dicirikan dengan politik internasional yang buruk karena adanya keburukan dalam
membuat kebijakan luar negeri. Realisme klasik meningkat pada tahun 1960-an lalu
bermunculan pendukung – pendukung baru paham ini di tahun 1970-an dengan adanya
pendekatan tradisional untuk penyelidikan.

Paham realisme direvisi dengan adanya teori politik Internasional oleh Kenneth Waltz
(1979) dengan sebutan Neorealisme. Realisme klasik maupun neorealisme masih dalam konteks
kekerasan dalam mencapai kekuasaan. Namun Realisme klasik lebih menekankan hakikat atau
keinginan negara dalam berkuasa sedangkan neorealisme menekankan pada perilaku agresif
negara yang anarkhi. Perbedaan lain realisme klasik berasumsi bahwa pemimpin negara
didorong oleh nafsu mereka akan kekuasaan, sedangkan neorealisme berasumsi minimal
menyatakan untuk berusaha bertahan hidup. Menurut waltz, perilaku negara dapat dijadikan
produk dari persaingan antar negara. Karena dinilai menguntungkan bagi mereka.

Dalam neorealisme ini kemungkinan adanya kerjasama dalam keanarkhian namun relatif
karena tidak ada jaminan atau kesahan dalam kerjasama jadi, bisa diuntungkan bisa dirugikan.
Terutama pada negara yang memiliki power yang kuat atau adikuasa, mereka akan merasa
diuntungi oleh kerjasama tersebut.

Tanggapan dari paham neorealisme kemudian muncul paham realisme neoklasik.


Paham ini lebih menonjolkan keseimbangan kepentingan (Schweller (1993)) dan menekankan
pada status quo dan negara revisionis serta kekuasaan (Schweller 2006). Paham ini menjelaskan
bahwa negara secara rasional menentukan kebijakan luar negeri tergantung kepada kekuatan dan
kepentingan.

2
Lalu muncul adanya realisme struktural defensif yang berasumsi tentang motivasi
negara. Sama halnya dengan neorealis, realis struktural defensif menjelaskan bahwa negara –
negara mencari keamanan dalam sistem internasional anarkis karena dianggap bahwa ancaman
datang dari negara lain. Realis struktural defensif lebih mengandalkan pilihan rasional,
menambah keseimbangan pelanggaran pertahanan karena keadaan geografis dinilai
menguntungkan pertahanan lalu menggabungkan keduanya sebagai pendukung pertahanan.
Realis struktural defensif menyatakan harus mendukung status quo. Untuk menjelaskan konflik,
realis struktural defensif harus menarik faktor domestik (yang berada diluar teori mereka) atau
seolah – olah mereka adalah revisionis. Herz (1950:157) seorang eksponen awal konsep
keamanan memberikan alasan bahwa adanya salah pengartian antara tindakan defensif dan
kemampuan karena negara berusaha mempertahankan status quo yang ambigu. Dalam hal ini
negara terancam menyimpulkan bahwa hubungan internasional adalah tragedi karena negara
diposisikan dalam keadaan yang sulit.

Teori Mearsheimer (ofensif neorealisme) berasumsi bahwa sistem internasional bersifat


anarkis; kekuatan besar memiliki kemampuan militer ofensif; negara tidak pernah yakin dengan
perilaku negara lain karena dianggap sama - sama merusak satu sama lain; kelangsungan hidup
merupakan tujuan utama dari kekuatan besar; dan power merupakan aktor rasional.
Mearsheimer menyimpulkan bahwa mereka hanya mengandalkan diri mereka sendiri untuk
keamanan mereka dan strategi yang terbaik bagi kelangsungan hidup negara adalah
memaksimalkan kekuasaan relatif. Perbedaannya dengan realis struktural defensif bahwa negara
mencari jumlah kekuasaan yang tepat sedangkan Mearsheimer berpendapat bahwa keamanan
membutuhkan banyak daya untuk memperoleh kekuasan relatif dari negara lain. Perbedaan lain,
yaitu bahwa realis struktural ofensif yang ditawarkan dunia adalah perdamaian senjata dan
pencegahan diiringi perang yang dipicu oleh revisionisme sebaliknya realis struktural defensif
yang ditawarkan adalah komunitas negara – negara status quo yang telah berhasil atau berdamai.

Kesimpulan

Dari definisi, sejarah, serta teori-teori yang menjelaskan tentang pemikiran realis dapat
saya simpulkan, bahwa paham realis yaitu negara sebagai hal yang terpenting dan diutamakan
dalam hubungan internasional dan bagaimana negara menyediakan pertahanan dan keamanan

3
bagi negaranya itu dengan memaksimalkan power. Setiap negara bersikap self-interest karena
negara menginginkan kekuasaan sehingga adanya benturan antara kepentingan nasional dengan
kepentingan nasional negara lain sehingga ada berbagai hal yang dapat mengundang konflik.
Dari hal tersebut akhirnya negara cenderung meningkatkan power guna melindungi negaranya
dari negara lain sebagai jalan untuk bertahan (survive).

Paham realis terus berkembang seiring pemikiran para sejarahwan yang mengamati
perkembangan kekuasaan negara-negara dalam hubungan internasional. Baik realis, realisme
klasik, neorealis, realis struktural defensif dan realis ofensif sama – sama menjelaskan
bagaimana power negara dapat menentukan kekuasaan suatu negara. Namun jika diamati ada
beberapa hal yang bisa dibedakan. Realis lebih pada terjadinya konflik atas kekuasaan, realisme
klasik menjelaskan konfliktual karena kemampuan manusia dan keinginan negara dalam
berkuasa, neorealisme menekankan pada perilaku agresif negara yang anarkhi, sedangkan realis
struktural defensif menjelaskan bahwa negara – negara mencari keamanan dalam sistem
internasional anarkis dan realis ofensif merupakan yang mendukung neorealis bahwa negara
bersifat anarkhis.

Berbeda hal dengan paham liberalis yang meremehkan power negara. Liberalisme lebih
fokus pada hubungan kerjasama karena dianggap dapat menguntungkan dan mensejahterakan
rakyatnya. Pemikiran realis sangat berbeda dengan liberal yang berasumsi bahwa kerjasama
tidak akan menghasilkan hal yang baik karena adanya kecurangan yang dilakukan oleh negara
lain karena seperti yang saya tulis diatas bahwa setiap negara pada dasarnya bersifat self-interest
karena hanya mementingkan kepentingan nasionalnya sendiri tidak peduli apa yang diperoleh
oleh negara yang yang mengadakan hubungan kerjasama tersebut. Menurut saya militer sangat
dibutuhkan karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya meskipun kita
mengadakan hubungan kerjasama dengan negara lain.