Anda di halaman 1dari 6

SAP 2

SAHAM

Pesatnya perkembangan globalisasi dan pertumbuhan ekonomi menyebabkan investasi


semakin dilirik atau tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan pada era moderen. Investor
dalam melakukan investasinya di pasar modal, diberikan beberapa pilihan instrumen
keuangan yang akan diperjual-belikan dalam kurun waktu jangka tertentu. Instrumen tersebut
diantaranya seperti saham, obligasi, reksadana, dan bermacam instrumen turunan lainnya
seperti waran, opsi, futures, serta instrumen keuangan lain-lain. Setiap pilihan investasi yang
dilakukan oleh investor, investor akan memperoleh return atau tingkat pengembalian yang
disertai dengan suatu tingkat risiko. Oleh sebab itu, sebelum melakukan investasinya,
investor perlu dan harus mengetahui informasi-informasi yang tercermin pada nilai
perusahaan dan harga dari instrumen keuangan. Hal ini diperlukan agar investor dapat meraih
keuntungan (gain) yang maksimal dan mampu mengurangi tingkat risiko yang akan diterima
nantinya, sehingga keputusan yang diambil benar-benar tepat dan sesuai.
Menurut Aruma dan Sudana (2013), investasi dapat dilakukan pada jenis instrumen
investasi dengan risiko yang cukup tinggi, misalnya pada aset-aset finansial seperti saham,
warrants, options, serta futures baik di pasar modal domestik maupun di pasar modal
internasional. Alternatif investasi yang menjanjikan pendapatan tinggi dengan risiko yang
tinggi adalah investasi dalam bentuk saham. Saham merupakan surat berharga tanda
kepemilikan suatu perusahaan sebagai bukti penyertaan modal. Saham bisa diperjual-belikan
melalui pasar modal untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual terhadap harga
beli (Akbar, dkk, 2017). Besarnya transaksi perdagangan saham menunjukkan bahwa
investor lebih tertarik untuk melakukan investasi dalam sekuritas berupa saham. Peningkatan
frekuensi perdagangan saham, kenaikan jumlah saham beredar yang ditransaksikan serta
indeks harga saham yang juga naik menunjukkan prospek hasil dan risiko atas investasi di
saham tersebut (Erlinawati, 2015). Saham (stock) dapat berupa saham biasa (common stock)
dan saham preferen (preferred stock).

1. SAHAM PREFEREN
Saham preferen merupakan saham saham yang memiliki hak-hak prioritas yang lebih
dari saham biasa dan mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham biasa. Hak-hak
tersebut dapat berupa hak atas dividen yang tetap (hak untuk menerima dividen terlebih
dahulu dibandingkan dengan pemegang saham biasa) dan hak atas aktiva tetap apabila
1
perusahaan mengalami likuidasi (hak mendapat pembayaran terlebih dahulu jika terjadi
likuidasi). Saham preferen adalah saham dengan kelas khusus  yang memiliki beberapa
preferensi atau kelebihan yang tidak dimiliki oleh saham biasa, karekteristik berikut
adalah yang paling sering berkaitan dengan penertiban saham preferen: preferensi atas
deviden, preferensi atas aktiva pada saat likuidasi, dapat dikonvensi menjadi saham biasa,
dan dapat ditebus pada opsi perseroan.

1.1 Karakteristik Saham Preferen


Karakteristik dari saham preferen, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Preferen terhadap dividen
1) Pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima dividen terlebih dahulu
dibandingkan dengan pemegang saham biasa
2) Saham preferen memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima terlebih
dahulu dividen tahun-tahun sebelumnya yang belum dibayarkan, sebelum pemegang
saham biasa menerima dividen tersebut (hak dividen kumulatif). Apabila saham
preferen disebutkan memberikan hak dividen kumulatif, maka dividen-dividen tahun
sebelumnya yang belum dibayarkan disebut dengan dividends in arrears. Contoh,
dividen preferen sebesar 5% dari nominal Rp10.000 dan sudah 2 tahun di arrears,
maka pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima sebesar Rp 1000
(500 x 2) sebagai dividends in arrears selama 2 tahun dan ditambah Rp 500 lagi
untuk dividen tahun sekarang dengan total dividen sebesar Rp 1.500
2. Preferen pada waktu likuidasi
Artinya saham preferen mempunyai hak terlebih dahulu (prioritas) atas aktiva
perusahaan dibandingkan dengan hak yang dimiliki oleh saham biasa pada saat terjadi
likuidasi. Besarnya hak yang diterima atas nilai penjualan aktiva pada saat likuidasi
adalah sebesar nilai nominal saham preferennya termasuk semua dividen yang belum
dibayar jika saham preferen tersebut bersifat kumulatif. Karakteristik saham preferen
ini menyebabkan saham preferen dianggap memiliki risiko lebih rendah dibandingkan
saham biasa, namun jika dibandingkan dengan bond, saham preferen memiliki risiko
lebih tinggi karena klaim dari pemegang saham preferen adalah di bawah klaim dari
pemegang bond.

1.2 Jenis-jenis Saham Preferen

2
Jenis-jenis saham preferen yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menarik minat para
investor, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Convertible Prefered Stock
Merupakan jenis saham preferen yang memungkinkan pemegangnya untuk
menukar saham ini dengan saham biasa dengan rasio penukaran yang sudah ditentukan.
Contoh, PT. X menerbitkan 10.000 lembar saham preferen dengan nilai nominal Rp
10.000. Saham preferen itu dapat dikonversersi dengan saham biasa dengan
perbandingan (1:5), artinya selembar saham preferen ini dapat dikonversikan menjadi 5
lembar saham biasa yang nilai nominalnya sebesar Rp 1.000. Jika nilai pasar saham
preferen sekarang Rp 11.000 dan nilai pasar saham biasa sekarang adalah Rp 1.500,
maka pemegang saham preferen tidak akan mengkonversikannya karena nilai pasar
saham preferen per lembar sebesar Rp. 11.000 ditukarkan dengan 5 lembar saham biasa
yang mempunyai total nilai pasar lebih kecil, yaitu sebesar Rp 7.500 (5 x Rp. 1.500).
Jika harga pasar saham biasa tersebut misalnya Rp 2.500, maka pemegang saham
preferen akan menukarkannya, karena akan mendapatkan nilai pasar saham biasa
sebesar Rp. 12.500 (5 x Rp. 2.500), yang lebih besar dari nilai pasar sebuah saham
preferen, yaitu Rp. 11.000.
Penukaran dari saham preferen ke saham biasa tidak menimbulkan keuntungan
(gain) atau kerugian (loss) di perusahaan emiten. Nilai yang dicatat untuk saham-saham
ini adalah sebesar nilai nominalnya dan selisih yang diterima yang berbeda dengan nilai
nominalnya dicatat sebagai rekening Agio Saham (Paid-in Capital in Excess of Par
Value). Nilai pasar saat penukaran tidak diperhitungkan karena alasannya adalah
pertukaran saham tersebut dilakukan langsung dengan perusahaan
2) Callable Prefered Stock (Saham Preferen yang dapat Ditebus)
Merupakan jenis saham preferen yang memberikan hak kepada perusahaan yang
mengeluarkan untuk membeli kembali saham tersebut dari pemegang saham di waktu
mendatang dengan nilai tertentu (biasanya lebih tinggi dari nilai nominal sahamnya).
3) Floating atau Adjustable-rate Prefered Stock (ARP)
Merupakan jenis saham preferen inovasi di Amerika Serikat pada tahun 1982
yang pembayaran dividennya tidak tetap tetapi sesuai dengan tingkat return dari
sekuritas aktiva bebas risiko. Saham preferen ini populer sebagai investasi jangka
pendek untuk investor yang mempunyai kelebihan kas.
2. SAHAM BIASA

3
Saham biasa (common stock) merupakan saham yang dikeluarkan oleh perusahaan
hanya dalam satu kelas saham saja. Pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan yang
mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan.

2.1 Hak Pemegang Saham Biasa


Beberapa hak yang didapatkan oleh pemegang saham sebagai akibat dari kepemilikan
saham biasa, diantaranya adalah sebagi berikut:
1) Hak Kontrol
Hak kontrol adalah hak untuk memilih dewan direksi. Hal ini mengartikan
bahwa pemegang saham mempunyai hak untuk mengontrol siapa yang akan
memimpin perusahaannya. Pemegang saham dapat melalukan kontrol dalam bentuk
memveto dalam pemilihan direksi di rapat tahunan pemegang saham atau memveto
pada tindakan-tindakan yang membutuhkan persetujuan pemegang saham.
2) Hak Menerima Pembagian Keuntungan
Merupakan hak untuk mendapatkan bagian dari laba yang diperoleh
perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan tidak semua dibagikan, sebagian laba
akan ditanamkan kembali ke dalam perusahaan. Laba yang ditahan ini merupakan
sumber dana intern perusahaan, sedangkan laba yang tidak ditahan akan dibagi dalam
bentuk dividen, namun tidak semua perusahaan membayar dividen berdasarkan
keputusan perusahaan (dividend policy). Apabila perusahaan memutuskan untuk
membagi keuntungan dalam bentuk dividen, maka semua pemegang saham biasa
mendapatkan haknya yang sama dengan catatan jika pembayaran dividen untuk
saham preferen sudah dilakukan.
3) Hak Preemptive
Merupakan hak untuk memperoleh persentasi kepemilikan yang sama jika
perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk tujuan melindungi hak
kontrol dari pemegang saham yang lama. Apabila perusahaan mengeluarkan
tambahan lembar saham, maka jumlah saham yang beredar akan lebih banyak dan
akibatnya persentase kepemilikan pemegang saham yang lama akan turun, oleh
karena itu hak preemptive memberi prioritas kepada pemegang saham lama untuk
membeli tambahan saham yang  baru, sehingga persentase pemiliknya tidak berubah
dan melindungi pemegang saham lama dari nilai saham yang merosot/menurun.
3. SAHAM TREASURI

4
Saham treasuri merupakan saham perusahaan yang sudah pernah dikeluarkan dan
beredar di pasar modal yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk disimpan
sebagai treasuri untuk nantinya dapat dijual kembali. Adapun alasan-alasan perusahaan
emiten membeli kembali saham yang beredar sebagai saham treasuri yaitu sebagai berikut:
1) Akan digunakan dan diberikan kepada manajer-manajer atau karyawan-karyawan di
dalam perusahaan sebagai bonus dan kompensasi dalam bentuk saham.
2) Meningkatkan volume perdagangan di pasar modal dengan harapan meningkatkan
nilai pasarnya.
3) Menambahkan jumlah lembar saham yang tersedia untuk digunakan menguasai
perusahaan lain.
4) Mengurangi jumlah lembar saham yang beredar untuk menaikkan laba per lembarnya.
5) Alasan khusus lainnya yaitu dengan mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga
dapat mengurangi kemungkinan perusahaan lain untuk menguasai jumlah saham
secara mayoritas dalam rangka pengambilan alih tidak bersahabat (hostile takeover)

REFERENSI

5
Akbar, Alif Richky, Hidayat, dan Sulasmiyati. 2017. Analisis Kinerja Investasi Saham
dengan Metode Sharpe Model di beberapa Bursa Efek Asean (Studi Pasar Modal Pada
Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Dan Thailand Tahun 2012 – 2015). Jurnal
Administrasi Bisnis (JAB) Universitas Airlangga, 50 (6).

Aruma, Tyas dan Sudana, I Made. 2013. Diversifikasi Investasi Saham: Perbandingan Risiko
Total Portofolio melalui Diversifikasi Domestik dan Internasional. E-Journal
Universitas Airlangga, 6 (1).

Erlinawati, Ira. 2015. Pengaruh Jumlah Saham Beredar, Harga Saham Dan Persentase
Saham Publik Terhadap Likuiditas Saham Perusahaan yang Listing di JII Periode
2013. Jurnal Ekonomi Syariah (JESTT) Universitas Airlangga, 2 (2).

Jogiyanto, H.M. 2014. Teori Portofolio dan Analisis Investasi, Edisi 11. BPFE: Yogyakarta.