Anda di halaman 1dari 5

RANGKUMAN

KITAB AWAA’IQU ATH THALAB


(KENDALA BAGI PARA PENUNTUT ILMU)
Karya Asy-Syaikh Abdussalam bin barjas

Penghalang Pertama :
Menuntut Ilmu Bukan karena Allah SWT.
(Thalibul Ilmi Lighoiri wa Jillahi Ta’ala)

Contohnya seperti karena dunia, pujian, popularitas Dapat menghapus


keberkahan ilmu sejak awal.

Orang yang seperti ini akan


lebih banyak merusak
daripada memperbaiki.

Hadits No. 1 mengenai ‘Niat’

‫ت ِهجْ َرتُهُ إلى هللاِ و َرسُولِ ِه‬ ْ َ‫ت وإِنَّما لِ ُكلِّ امري ٍء ما نَ َوى فَ َم ْن َكان‬ ِ ‫إنَّ َما األع َمال بالنِّيَّا‬
‫ُص ْيبُها أو امرأ ٍة يَ ْن ِك ُحهَا ف ِهجْ َرتُهُ إلى ما‬ِ ‫ت ِهجْ َرتُهُ لِ ُد ْنيَا ي‬
ْ َ‫ورس ُْولِ ِه و َم ْن َكان‬َ ِ‫ف ِهجْ َرتُهُ إلى هللا‬
‫هَا َج َر إلي ِه‬
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan
apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya
untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita
yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR.
Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Perlu diperhatikan bagi para penuntut ilmu :


1. Memperbaiki niat dan meluruskan niat.
2. Menjaga niat dari kerusakan.
Keutamaan Ilmu baru bisa diraih jika niat ikhlas hanya untuk melihat wajah Allah SWT.
Selain itu tidak ada lagi keutamaannya, bahkan bisa menjadi fitnah.

Pentingnya Ketaqwaan dalam Menuntut Ilmu

Ibnu Qasim Ketika mengajar selalu menyelipkan perkataan luar biasa, yaitu

ITTAQULLAH
(Bertaqwalah kalian kepada Allah SWT.)

Karena sedikitnya ilmu bila disertai dengan ketaqwaan maka akan menjadi banyak. Sebaliknya
banyaknya ilmu bila tidak disertai dengan ketaqwaan akan menjadi sedikit. (dikutip Imam adz-
Dzahabi)

Ada 3 Wejangan dari Para Ulama :

1. ‫من احسن سرراته احسن هللا عالنيته‬

Barangsiapa yang memperbagus sarirohnya, maka Allah akan memperbagus alaniyah-


nya.
Sariroh = Perkara-perkara yang sifatnya sirih, yakni batin, hati, jiwa yang tersembunyi
dari pandangan manusia. Hanya dia, Allah SWT & malaikat yang tahu isi
hatinya.
Alaniyah = Amalan-amalan yang dzahir dan kondisi fisik.

2. ‫ومن اصلح مابينه وبين هللا اصلحه هللا مابينه وبين الناس‬

Siapa yang memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki
hubungan dia dengan sesama manusia.

Allah SWT. Semakin senang jika hambanya sering meminta pada-Nya.


Qs. Al-Mu’min : 60
‫ٱ ْد ُعونِ ٓى أَ ْستَ ِجبْ لَ ُك ْم‬
(Berdo’alah kepadaku niscaya akan kuperkenankan bagimu.)
3. ‫ومن اصلح امر اخرته اصلح امردنياه‬

Siapa yang memperbaiki urusan akhiratnya, maka Allah akan memperbaiki urusan
dunianya.

- Dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi

6 Poin yang berkaitan dengan ilmu :


Berkata Abdullah bin Mubarok r.a,

‫ ثم ؛ النشر‬،‫ ثم ؛ العمل‬،‫ ثم ؛ الحفظ‬،‫ ثم ؛ الفه‍م‬،‫ ثم ؛ االستماع‬،‫اول العلم النية‬

Ilmu itu pertama awalnya adalah niat,


Niatnya harus benar dan lurus, karena niat adalah sebuah pondasi, jika pondasinya salah
maka bangunan yang dibangun diatasnya juga akan runtuh.

Kemudian kedua Istima’, bukan sami’a.


Isima’ = mendengar dengan niat benar ingin menyimak
Sami’a = hanya mendengar saja

Keempat menghafal,
Lalu kelima mengamalkan untuk diri sendiri,
Dan yang terakhir An-Nasr yakni menyebarkan, mengajarkan, mendakwahkan.
Ketika seseorang taubat dari niat-niat yang keliru, dan menyesal telah memiliki niat
seperti itu,

Dan tanda-tanda dari hal itu adalah ;

1. ‫أنه يقصرمن الدعاوى‬


Dia tidak banyak menuntut apapun dari hak-hak orang yang berilmu.
(tidak menuntut dihormati orang, diagungkan, dimuliakan, diapresiasi, dipuji,
disanjung,.)

2. ‫وحب المناظرة‬
Dia mengurangi perdebatan dengan orang

3. ‫ومن قصد' التكثر بعلمه‬


Juga dia mengurangi diri dari memperbanyak niat wawasan pengetahuan.
Ilmu itu awalnya untuk memperbaiki diri bukan untuk alat berdebat, aktualisasi diri, dan
eksistensi diri.

4. ‫ويزري' على نفسه‬


Dia banyak menyadari kekurangan dirinya.
Kekurangan dalam hal memahami dan mengamalkan, bukan untuk mencari kekurangan
orang lain.

‫فإن تكثر‬
Sekalipun ilmunya itu banyak,
5. Dia banyak menghindari perkataan,

‫أناأعلم من فالن‬
“saya lebih berilmu/tahu dari si Fulan”

‫فبعداله‬
Itu sangat jauh dari dirinya.

- Dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala