Anda di halaman 1dari 6

Pengkajian dan Implementasi Pencegahan Masalah Kognitif pada Lansia

NAMA : FARDATUL MUYASAROH


KELAS : S1 KEPERAWATAN B
NIM : A11801747

SEKOLAH TINGGI ILMU KESESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG


TAHUN 2020
Form Pengkajian Status Mental

Nama klien : Tn.D

Tanggal lahir : 05 April 1953

Tahun : 67 tahun

Alamat : Kalirejo, Kebumen

MMSE (mini mental status


exam)

NILAI NILAI
NO ASPEK KOGNITIF MAKS KLIEN KRITERIA
Menyebutkan dengan benar:
Tahun
Musim
1. ORIENTASI 5 5
Tanggal
Hari
Bulan
Dimana kita sekarang ?
Negara Indonesia
Provinsi….
2. ORIENTASI 5 3
Kota…..
Panti werda…..
Wisma….
Sebutkan 3 objek (oleh pemeriksa ) 1 detik untuk
mengatakan masing –masing objek, kemudian
tanyakan kepada klien ketiga objek tadi (untuk
3. REGISTRASI 3 3 disebutkan )
Objek………
Objek………
Objek………
Minta klien untuk memulai dari angka 100
kemudian dikurangi 7 sampai 5 kali
PERHATIAN 93
4. DAN 5 4 86
KALKULASI 79
72
65
Minta klien untuk mengulangi ke 3 objek pada
5. MENGINGAT 3 3 nomer 2 (registrasi) tadi, bila benar 1 poin untuk
masing – masing objek.
9 5 Tunjukkan pada klien suatu benda dan tanyakan
namannya pada klien (misal jam tangan atau
pensil)

Minta kepada klien untuk mengulang kata berikut


“ tak ada jika ,dan , atau,tetapi” bila benar, nilai 1
poin.
Pernyataan benar 2 buah : tidak ada tetapi.
6. BAHASA
Minta klien untuk mengikuti perintah berikut ini
yang terdiri dari 3 langkah: “ ambil kertas di
tangan anda ,lipat 2 dan taruh di lantai “.
 Ambil kertas
 Lipat dua
 Taruh di lantai

Perintahkan pada klien untuk hal berikut ( bila


aktivitas sesuai perintah nilai 1 poin)
 Tutup mata anda.

Perintah pada klien untuk menulis satu kalimat dan


menyalin gambar
 Tulis satu kalimat 
Menyalin gambar.

Copying: Minta klien untuk mengcopy gambar


dibawah. Nilai 1 point jika seluruh 10 sisi ada dan
2 pentagon saling berpotongan membentuk sebuah
gambar 4 sisi

TOTAL NILAI 30 23

aspek kognitif dari fungsi mental baik

Interpretasi hasil
>23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik
18-22 : kerusakan aspek fungsi mental ringan
<17 : terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat
Form Pengkajian Status Mental dengan menggunakan Short Portable
Mental Status Questioner (SPMSQ)

Nama klien : Tn.D


Tanggal lahir : 05 April 1953
Tahun : 67 tahun
Alamat : Kalirejo, Kebumen

Instruksi:
Ajukan pertanyaan 1 - 10 pada daftar ini dan catat semua jawaban. Catat
sejumlah kesalahan total berdasarkan 10 pertanyaan

NO PERTANYAAN JAWABAN BENAR SALAH


1 Hari apa sekarang? KAMIS 0
2 Tanggal berapa hari ini? LUPA 1
3 Apa nama tempat ini? RUMAH 0
4 Dimana alamat anda? KEBUMEN 0
5 Berapa umur anda? 67 0
6 Kapan anda lahir? 05 April 0
1953
7 Siapa presiden Indonesia sekarang? JOKOWI 0
8 Siapa presiden Indonesia sebelumnya? SBY 0
9 Siapa nama ibu anda? SODIMAH 0
Kurangi 3 dari 20 dan tetap pengurangan 3
10 dari setiap angka baru, semua secara
berurutan 17,14,10,7 1
TOTAL 2
Salah 0 - 2 : Fungsi Intelektual utuh

Interpretasi hasil:
a. Salah 0 - 2 : Fungsi Intelektual utuh
b. Salah 3 - 4 : Kerusakan intelektual ringan
c. Salah 5 - 7 : Kerusakan intelektual sedang
d. Salah 8 - 10: Kerusakan intelektual berat N

Berdasarkan hasil pengkajian di atas Tn.D tidak memiliki masalah atau kelainan
baik dalam pengkajian MMSE atau SPMQ tetapi jika ada masalah intervensi
yang dapat sesuai dengan jurnal yang dikutip dari jurnal yang berjudul
“PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP PENINGKATAN
FUNGSI KOGNITIF” oleh Inosensia Amtonis, Ulfa Husnul Fata STIKes Patria
Husada Blitar.
Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwa aktivitas senam otak dapat
meningkatkan fungsi kognitif pada lansia. Hal ini didukung oleh teori Dennison
(2006), yang mengatakan bahwa gerakan – gerakan pada senam otak dapat
memberikan rangsangan atau stimulus pada otak. Gerakan yang menimbulkan
stimulus inilah yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif (kewaspadaan,
konsentrasi, kecepatan, persepsi, belajar, memori, pemecahan masalah dan
kreativitas).
Hal ini terbukti bahwa setelah dilakukan senam otak pada lansia selama tiga
minggu setiap hari fungsi kognitif lansia mengalami peningkatan dalam hal
pengenalan tempat, waktu, menghitung angka, mengingat, serta atensi. Hal ini
didukung oleh penelitian Verany (2013) dan Festi (2010), yang mengatakan
bahwa ada pengaruh senam otak terhadap peningkatan fungsi kognitif lansia.
Senam otak mempunyai manfaat besar karena dapat menyelaraskan antara
anggota gerak dan pernafasan. Gerakan pada senam otak cenderung lambat. Hal
ini sangat berhubungan dengan pernafasan, gerak yang lambat akan diimbangi
dengan pernafasan untuk menghirup dan menghembus udara sedalam –
dalamnya, sehingga oksigen akan terserap maksimal. Serta unsur gerakan utama
pada senam otak adalah gerakan menyilang untuk menimbulkan stimulus pada
otak. Maka senam otak dapat memperbaiki atau bahkan meningkatkan fungsi
otak. Hal ini didukung oleh teorinya Dennison (2006), yang mengatakan bahwa
kegiatan senam otak yang dilakukan secara teratur oleh kelompok lansia dapat
mencegah dan memperlambat penurunan daya ingat sebagai akibat proses
menua. Senam otak dapat meningkatkan aktivitas otak melalui gerakan –
gerakan sederhana yang dirancang untuk mengaktifkan seluruh bagian otak.
Proses tersebut akan selalu merangsang pusat otak (brain learning stimulation),
yang didalamnya terdapat pusat-pusat yang mengurus berbagai fungsi tubuh.
Menurut Denisson (2004), senam otak mengaktifkan seluruh bagian otak untuk
kemampuan akademik, hubungan perilaku, serta sikap karena pada dasarnya
otak terbagi menjadi dua belahan yaitu otak kanan dan otak kiri. Masing –
masing belahan mempunyai fungsi yang berbeda. Otak kiri berhubungan
dengan potensi dalam kemampuan kebahasaan (verbal), kotruksi objek (teknis
dan mekanis), temporal, logis, analitis, rasional dan konsep kegiatan yang
terstruktur. Sedangkan otak kanan memiliki potensi dalam kemampuan
kretivitas
(kemampuan berinisiatif dan memunculkan ide), kemampuan visual, potensi
intuitif, abstrak dan emosional (berhubungan dengan nilai rasa).