Anda di halaman 1dari 2

Pasal Penangkapan dan Penahanan dalam

RUU Terorisme Harus di Kritik Keras


2 Mei 2016

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR)

http://icjr.or.id/pasal-penangkapan-dan-penahanan-dalam-ruu-terorisme-harus-di-kritik-keras/
(diakses tanggal 29 Juni 2017)

Salah satu kritik keras Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) terhadap UU Terorisme
(UU No. 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Perppu No. 1 Tahun 2002 Tentang
Pemberantasan Tindak) adalah adanya praktik penahanan incommunicado dikarenakan
rentang waktu penangkapan yang begitu lama (7 x 24 jam) yang secara langsung  berpotensi
menimbulkan praktik penyiksaan.

Namun, dalam RUU Revisi UU Terorsime (RUU Terorisme) yang saat ini sudah di DPR,
selain memperpanjang masa penangkapan yang selama ini merupakan akar penahanan karena
sifatnya “incommunicado” tanpa dapat diakses, RUU juga secara terang-terangan
memberikan kewenangan bagi penyidik dan aparat penegak hukum untuk menempatkan
seseorang tanpa status jelas pada suatu tempat yang juga tidak diketahui. Secara eksplisit, ini
merupakan praktik legal dari penahanan incommunicado di Indonesia.

Terkait penangkapan terdapat dalam Pasal 28 RUU Terorisme yang bebrunyi”Penyidik dapat
melakukan penangkapan terhadap Setiap Orang yang diduga keras melakukan Tindak
Pidana Terorisme dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari’’, dengan pasal ini, maka
rentang waktu penangkapan akan bertambah 23 hari dari ketentuan sebelumnya sebanyak 7
hari.

Penangkapan dalam jangka waktu 30 hari selain tidak wajar juga membuka peluang
terjadinya unfair trial yang berujung pada penyiksaan atau perbuatan lain yang dapat
melanggar hak dari tersangka, waktu 30 hari dalam penangkapan juga tidak beralasan.
Menurut ICJR,  penangkapan hanya boleh berdasarkan syarat  khusus  di KUHAP karena itu
penangkapan selama 30 hari jadi tidak berdasar karena syarat-syarat pra penangkapan berarti
tidak terpenuhi. Lagi pula untuk mengungkap jaringan yang lebih besar, ada beberapa
mekanisme yang bisa digunakan dalam pra penyidikan. Misalnya penyadapan,  tracking
aliran dana, penjebakan terselubung, penyidik juga dapat menggunakan whistleblower  (WB) 
ataupun Juctice Collborator (JC). Sehingga alasan  pemerintah yang mendorong jangka waktu
30 hari  karena alasan mengungkap jaringan yang lebih besar tidaklah berdasar.

 Pasal berbahaya lainnya ada dalam ketentuan perubahan Pasal 43 UU Terorisme yang
menyisipkan Pasal 43A, berbunyi ‘’Dalam rangka penanggulangan Tindak Pidana
Terorisme, penyidik atau penuntut umum dapat melakukan pencegahan terhadap Setiap
Orang tertentu yang diduga akan melakukan Tindak Pidana Terorisme untuk dibawa atau
ditempatkan pada tempat tertentu yang menjadi wilayah hukum penyidik atau penuntut
umum dalam waktu paling lama 6 (enam) bulan’’. Ini adalah pasal yang dapat membawa
praktik penjara Guantanamo ke Indonesia, karena pasal ini sama sekali tidak merujuk pada
ketentuan hukum acara pidana yang ada di Indonesia, baik peristilahan ataupun prinsip
pengaturannya.

Tidak jelas apa yang dimaksud dengan ‘penanggulangan’, ‘Setiap orang tertentu’, ‘diduga’,
‘dibawa atau ditempatkan’ dan ‘tempat tertentu’. Seluruh pengaturan itu tidak ditemukan
dalam hukum acara pidana yang saat ini berlaku di Indonesia. Selain penyidik, penuntut
umum serta rentang waktu, seluruh pengaturan dalam pasal ini berpotensi ditafsirkan secara
sewenang-wenang.

ICJR memprediksi bahwa pasal ini akan membuka ruang masalah baru dalam penanganan
tindak pidana terorisme di Indonesia, selain secara nyata bertentangan dengan prinsip dasar
hak asasi manusia yang ada dalam hukum nasionaljuga Internasional, pengaturan ini juga
jelas tidak memenuhi pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik. Pasal ini bisa
digunakan untuk menempatkan orang selama 6 bulan tanpa jelas diketahui statusnya, lokasi
dan posisinya, hak hukum dan lain sebagainya.

ICJR merekomendasikan agar dua pasal yang behubungan erat dengan penyiksaan dan
penahanan sewenang-wenang ini dihapuskan, atau setidak-tidaknya untuk penangkapan
dilakukan kajian ulang serta menggunakan ketentuan yang ada dalam KUHAP. Apabila
ketentuan dalam KUHAP dirasakan kurang, maka harus ada kajian kuat dan jaminan atas hak
tersangka selama terjadi penangkapan.