Anda di halaman 1dari 24

Kasus kasus terorosmi di Indonesia

7 Kasus Terorisme Paling Heboh dan


Terbesar di Indonesia
Akhir-akhir belakangan ini rakyat Indonesia dibuat was-was dan waspada dengan keberadaan
para teroris yang masih berkeliaran dengan aksinya yang telah banyak korban jiwa. Selain
mengundang perhatian publik dan media, peristiwa ini juga menimbulkan simpati bagi para
korban-korbannya.

Aparat kepolisian RI termasuk tim Densus 88 khusus hingga kini belum bisa melacak
pergerakan para teroris. Meski sejumlah gembong besar teroris sudah berhasil dilumpuhkan,
namun aksi teror masih saja terjadi. Kenapa teroris selalu mengintai kedaulatan Indonesia ?

Dan berikut mimin telah rangkum 7 aksi terorisme paling heboh yang pernah terjadi di
Indonesia yang banyak merenggut nyawa hingga ribuan korban sampai hari ini.

1. Bom Bali 1 - 2002

Bom Bali 1 yang terjadi pada tahun 2002 merupakan rangkaian tiga peristiwa pengeboman
terus-menerus yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002. Dua ledakan pertama
terjadi di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan
terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Kedubes Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup
berjauhan.

Tercatat 202 korban jiwa meninggal dan sedikitnya 209 orang luka-luka atau cedera,
kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang
merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme
terbesar dalam sejarah Indonesia.

2. Bom Hotel JW Marriott - 2003


Peristiwa ledakan bom ini terjadi di hotel JW Mariott di kawasan Mega Kuningan, Jakarta
pada Selasa, 5 Agustus 2003. Ledakan itu berasal dari bom bunuh diri dengan menggunakan
mobil Toyota Kijang yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Sebanyak 12 orang tewas dan
150 orang cedera dalam kejadian ini.

Ledakan ini merupakan aksi teror bom bunuh diri.. Akibat peristiwa itu, Hotel JW Marriott
ditutup selama 5 minggu.

3. Bom Kedubes Australia - 2004

Ledakan besar terjadi tepat di depan kantor Kedutaan Besar Australia, kawasan Kuningan,
Jakarta. Terror Bom ini meledak pada tanggal 9 September 2004 silam. Aksi teror ini
merupakan rentetan serangan terorisme yang ditujukan terhadap Australia. Untuk jumlah
korban jiwa tidak begitu jelas, versi dari petugas Indonesia 9 orang, sementara versi Australia
11 orang tewas.

4. Bom Bali 2 - 2005


Untuk yang kedua kalinya, aksi teror di Pulau Dewata Bali kembali terjadi pada 1 Oktober
2005. Ledakan bom berada di R.AJA’s Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta
dan di Nyoman Cafe’Jombaran. 

Terjadi tiga pengeboman berurutan, satu di Kuta dan dua di Jimbaran.Meski lebih kecil dari
bom Bali pertama, peristiwa ini menewaskan 22 orang dan 102 orang mengalami luka-luka.

5. Bom Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton - 2009

Peristiwa bom bunuh diri terjadi di kawasan Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Juli 2009, lebih
tepatnya di hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton. Peristiwa ini menewaskan 9 orang korban dan
melukai lebih dari 50 orang lainnya, korban dari warga Indonesia maupun warga asing.

Peristiwa ini terjadi sembilan hari sesetelah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia
serta dua hari sebelum rencana kedatangan tim sepak bola Manchester United di Hotel Ritz-
Carlton yang akan melakukan pertandingan melawan tim Indonesian All Star pada 20 Juli
2009.
6. Bom Mapolresta Cirebon - 2011
Sebuah ledakan bom bunuh diri terjadi di Masjid Mapolresta Cirebon saat akan melakukan
Salat Jumat pada 15 April 2011 silam. Berbeda dari aksi lainnya, bom bunuh diri ini
ditujukan untuk menyerang Polisi. Tercatat ada 25 orang mengalami luka-luka dan
menewaskan satu pelaku.

Bom meledak ketika salat Jumat akan dimulai sekitar pukul 12.15 WIB dan terdengar hingga
radius 2 kilometer dari Mapolresta Cirebon.

7. Bom Plaza Sarinah - 2016

Bom Sarinah merupakan serentetan peristiwa bom sebanyak enam ledakan dan juga teror
penembakan di daerah sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta pada tanggal 14
Januari 2016.Ledakan terjadi di dua tempat, Ledakan pertama terjadi tempat parkir Menara
Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah dan sebuah Pos Polisi di depan Plaza Sarinah
tersebut.

Sedikitnya delapan orang, empat dari pelaku penyerangan teror dan empat warga sipil
dilaporkan tewas dan 24 lainnya luka-luka akibat serangan ini. Tujuh orang terhitung terlibat
sebagai pelaku penyerangan Bom Sarinah dan organisasi Negara Islam Irak dan Syam (ISIS)
mengklaim bertanggung jawab sebagai pelaku penyerangan Teror di Kawasan Sarinah ini.
Daftar aksi dan rencana teror di Indonesia
sepanjang 2016
Mulai dari bom Thamrin, bom Mapolresta Surakarta, hingga rencana pengeboman objek vital negara
termasuk Istana Kepresidenan

JAKARTA, Indonesia — Aksi terorisme masih menjadi momok yang mengancam


kedamaian di Indonesia. Tahun ini saja, Kepolisian RI menangani 170 kasus terorisme, naik
drastis dari tahun sebelumnya yang “hanya” 82 kasus.

"Peningkatan ini disebabkan oleh dinamika politik di Suriah dan Irak yang tidak stabil akibat
serangan ISIS [Negara Islam Irak dan Suriah] sehingga memengaruhi peningkatan kasus
terorisme di Indonesia," kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Rabu, 28 Desember.

Ia mengatakan, pihaknya kini sedang gencar melakukan pencarian terhadap teroris asal
Indonesia, Bahrun Naim, yang diduga sebagai dalang bom Thamrin di Jakarta pada awal
Januari lalu. Bom Thamrin disebut menjadi pemicu maraknya rencana teror sepanjang tahun
ini.

Pada 2016 ini, Tito mengatakan Polri telah berhasil menggagalkan beberapa rencana teror
dan menangkap sejumlah pelaku. Menurutnya, selain aksi teror, para pelaku juga diduga
menyebarkan paham radikal yang sukses memengaruhi pelaku-pelaku baru.

Berikut aksi terorisme dan rencana teror yang terjadi sepanjang 2016:

Bom Thamrin (14 Januari)

TEWAS. Polisi forensik sedang menutup jenazah korban yang tewas dalam serangan bom
Sarinah, Jakarta, pada Kamis, 14 Januari lalu. Foto oleh Roni Bintang/EPA

Kelompok teroris meledakkan diri di pos Polisi di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin,
Jakarta Pusat, dan terlibat baku tembak dengan polisi. ISIS mengaku bertanggungjawab atas
serangan ini. Bahrun Naim dituduh jadi otak pelaku meski ia sudah membantahnya.

Akibat peristiwa tersebut, 8 orang meninggal dunia, 4 di antaranya adalah pelaku. Dian Joni
Kurniadi merupakan pelaku yang meninggal di dekat pos polisi.
Sementara Afif alias Sunakim dan Muhammad Ali merupakan pelaku yang meninggal di
depan halaman Starbucks. Sedangkan Ahmad Muhazin adalah pelaku bom bunuh diri yang
ditemukan tewas di dalam gerai Starbucks.

Penangkapan 6 orang terduga terlibat bom Thamrin (22 Januari)

Densus 88 pada 22 Januari meringkus enam orang di daerah berbeda karena diduga
mengetahui rencana aksi teror bom tersebut.

DS, Cun dan Ju ditangkap di Cirebon, Jawa Barat; AH di Indramayu, Jawa Barat; serta AM
dan F di Tegal, Jawa Tengah.

Penangkapan jaringan bom Thamrin di Sumedang (11 Februari)

Densus menangkap dua teroris berinisial I dan H di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada
11 Februari.

I merupakan buronan dalam kasus pelatihan militer di Aceh yang bergabung dengan jaringan
Jamaah Ansharut Daulah (JAD) pimpinan Abu Roban.

I dan H telah menyembunyikan buronan kasus terorisme, Khumaidi alias Hamzah. Khumaidi
sendiri diketahui satu kelompok dengan pelaku bom Thamrin, yakni Dian Joni Kurniadi.

Penangkapan jaringan bom Thamrin di Malang (20 Februari)

Polisi menangkap 5 orang yang diduga terkait langsung dengan bom Thamrin pada 20
Februari di Malang, Jawa Timur. Mereka adalah Achmad Ridho Wijaya, Rudi Hadianto,
Badrodin, Romli, dan Handoko.

Penangkapan jaringan bom Thamrin di Malang (1 Maret)

Polisi juga menangkap dua orang terduga teroris lainnya di Dusun Keramat, Desa Patokpicis,
Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang pada 1 Maret.

Mereka adalah S alias DA dan KW. Keduanya pernah mengadakan pertemuan dengan salah
satu pelaku bom Thamrin di Malang, sekitar sebulan sebelum peristiwa terjadi.

Sehari sebelumnya, Densus juga menangkap dua orang, yakni PJ alias RB dan PKK alias LT
di Kroya, Cilacap, Jawa Tengah.

Penggagalan rencana teror Surabaya (8 Juni)

Polda Jatim menangkap tiga terduga teroris pada 8 Juni. Priyo Hadi Utomo, pemimpin
kelompok, ditangkap di Kenjeran, Surabaya. Ia merupakan residivis kasus narkoba. Ia
dipenjara di LP Porong dan dibebaskan pada April 2014.

Shibgotuloh merupakan mantan napi kasus terorisme yang terlibat dalam perampokan Bank
CIMB Niaga di Medan, Sumatera utara. Sementara Maulana Yusuf Wibisono alias Kholis
merupakan mantan anggota Jamaah Islamiyah jaringan Abu Dujana.
Sebelumnya, Polda Jatim juga telah menangkap Befri Rahmawan alias Azis alias Ibnu, Feri
Novandi alias Abu Fahri alias Koceng, dan Sali alias Abah.

Keempatnya hendak merencanakan aksi teror bom dengan target beberapa pos polisi di
Surabaya.

Bom Mapolresta Surakarta (5 Juli)

TEROR BOM SOLO. Polisi mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP) saat petugas
inafis melakukan identifikasi terhadap pelaku bom bunuh diri di Mapolresta solo, Jawa
Tengah, Selasa, 5 Juli. Pelaku bom bunuh diri tewas ditempat, sementara satu anggota polisi
luka ringan atas kejadian tersebut. Foto oleh Maulana Surya/ANTARA

Satu hari sebelum perayaan Idul Fitri, pada 5 Juli, terjadi serangan bom bunuh diri di
halaman Mapolresta Surakarta, Jawa Tengah.

Pelaku bernama Nur Rohman tewas dalam peristiwa tersebut. Atas peristiwa tersebut,
seorang polisi Brigadir Bambang Adi Cahyono mengalami luka di wajahnya.

Nur diketahui merupakan buronan kasus teror di Bekasi pada Desember 2015.

Kelompok Bekasi pimpinan Abu Musab dan Nur Rohman ini diduga bagian dari kelompok
Jamaah Anshar Khilafah Daulah Nusantara (JAKDN), sama seperti para pelaku bom
Thamrin. Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror bergerak mencari jaringan Nur hingga
pada akhir Juli 2016, mereka menangkap tiga tersangka.

Rencana aksi teror Batam (5 Agustus)


Densus 88 menangkap 5 orang yang tergabung dalam kelompok Kitabah Gonggong Rebus
(KGR) di Batam, Kepulauan Riau, pada 5 Agustus.

Kelompok ini diduga pernah merencanakan serangan teror dengan target serangan di Marina
Bay, Singapura, bersama Bahrun Naim.

Kelima orang tersebut adalah GRD (31 tahun), Tar (21), dan ES (35), TS (46), dan HGY
(20).

Aksi teror gereja Medan (28 Agustus)

Personel Brimob berjaga di halaman Gereja Katolik Stasi Santo Yosep pascaperistiwa teror
bom di lokasi tersebut, Medan, Sumatra Utara, pada 28 Agustus 2016. Foto oleh Irsan
Mulyadi/Antara

Pelaku berinisial IAH mencoba membunuh seorang pastor di Gereja Katolik Stasi Santo
Yosep, Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus.

Ia awalnya berpura-pura menjadi jemaat dan masuk mengikuti kebaktian di gereja. Ketika
Pastor Albert S. Pandiangan akan memberikan khotbah, pelaku mengejarnya hingga ke
mimbar gereja sambil membawa tas berisi bom rakitan dan sebilah pisau, namun hanya
melukai tangan pastor. Sementara tas yang berisi bom gagal meledak dan hanya
mengeluarkan api dan asap.

IAH kemudian ditangkap dan mengaku bahwa dirinya disuruh seseorang untuk melakukan
aksi teror di gereja tersebut.

Aksi teror gereja Samarinda (13 November)


Personel Brimob Polda Kaltim mengamankan lokasi ledakan bom di Gereja Oikumene di
Samarinda, Kalimantan Timur, pada 13 November 2016. Foto oleh Amirulloh/Antara

Selain di Medan, juga terjadi aksi teror dengan melemparkan bom molotov di depan Gereja
Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada 13 November.

Empat anak balita mengalami luka serius, bahkan seorang korban bernama Intan Olivia
Marbun yang berumur 2,5 tahun, meninggal dunia. Satu orang dewasa lainnya mengalami
luka-luka.

Polisi menetapkan 7 tersangka dalam kasus ini, termasuk pelaku pelemparan bom, Juhanda
alias Joh alias Muhammad bin Aceng Kurnia. Enam tersangka lainnya adalah Supriadi, GA,
RP, Ahmadani, Rahmad, dan Joko Sugito.

Juhanda pernah menjalani hukuman penjara selama lebih dari tiga tahun sejak Mei 2011 atas
kasus teror bom Puspitek, Serpong, Tangsel, Banten. Ia juga diduga terkait dengan kasus bom
buku di Jakarta pada 2011

Mengancam objek vital negara (23 November)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Kombes Pol
Rikwanto (tengah) menunjukkan barang bukti dari jaringan teroris Majalengka di Mabes
Polri, Jakarta, Jumat (25/11). Foto oleh Reno Esnir/ANTARA

Polisi menangkap seorang terduga teroris bernama Rio Priatna yang disinyalir merupakan
jaringan Bahrun Naim di Majalengka, Jawa Barat, pada 23 November.

Bahan peledak yang ditemukan di rumah Rio rencananya akan diledakkan di berbagai lokasi
yang merupakan objek vital negara seperti Gedung DPR/MPR, Mabes Polri, Mako Brimob,
stasiun televisi berita, tempat ibadah, dan beberapa kantor Kedutaan Besar pada akhir 2016.

Ia diduga membuat bahan-bahan peledak di laboratorium rumahnya atas pesanan orang-orang


dalam jaringan kelompok Bahrun Naim.

Menangkap jaringan pengancam objek vital negara (26 November)

Densus 88 menangkap seorang terduga teroris bernama Bahrain Agam di Desa Blang
Tarakan, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November.
Dari hasil pemeriksaan, diketahui Bahrain berperan merancang bom, ikut membeli bahan-
bahan peledak, dan memberikan dana Rp7 juta pada Rio Priatna yang sebelumnya ditangkap
di Majalengka untuk keperluan aksi terorisme.

Sehari kemudian, pada 27 November, Densus kembali membekuk seorang terduga teroris
bernama Hendra alias Abu Pase di Kota Tangerang Selatan, Banten.

Hendra yang merupakan warga Aceh ini diketahui sebagai pemberi dana operasional dan
membuat bahan peledak dalam kasus Rio Priatna.

Densus juga meringkus terduga teroris lainnya bernama Saiful Bahri alias Abu Syifa di Desa
Baros, Serang, Banten. Ia berperan membantu Rio membangun laboratorium di rumah Rio
yang digunakan untuk membuat bom serta turut merencanakan aksi pengeboman di beberapa
objek vital.

Rencana bom Istana (10 Desember)

Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Kalimalang dan Bintara Jaya, Bekasi, Jawa
Barat, pada 10 Desember. Mereka adalah M. Nur Solikhin dan Agus Supriyadi, serta Dian
Yulia Novi.

M. Nur Solikhin berperan sebagai pimpinan jaringan ini. Agus berperan menyewa mobil
rental untuk mengantar bom ke Bekasi, sedangkan Dian merupakan istri kedua MNS. Ia
diproyeksikan sebagai calon "pengantin" aksi bom bunuh diri di lingkungan Istana
Kepresidenan, Jakarta, pada keesokan harinya, Minggu pagi, 11 Desember.

Rencananya aksi tersebut menargetkan momen pergantian petugas jaga paspampres di Istana.

Pada Sabtu malamnya, 10 Desember, Densus juga menangkap Suyanto (40) alias Abu Iza
alias Abu Daroini Bin Harjo Suwito di Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Ia
menyediakan rumahnya sebagai tempat merakit bom. Suyanto juga mengantar bom tersebut
dari rumahnya ke pom bensin dekat waduk di Karanganyar untuk diserahkan ke M. Nur
Solikhin.

Densus kembali menangkap tiga terduga teroris lainnya dalam kasus ini di daerah berbeda.
Mereka adalah Khafid Fatoni alias Toni bin Rifai di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur; Arinda
Putri Maharani alias Arinda Binti Winarso di Solo, Jawa Tengah; dan Wawan Prasetyawan
alias Abu Umar Bin Sakiman di Klaten, Jawa Tengah.

Khafid berperan sebagai pembuat bahan peledak, Wawan sebagai penyimpan bahan peledak,
sementara Arinda merupakan istri pertama M. Nur Solikhin sebagai penerima dana untuk
membuat bom.

Aksi teror Solo (15 Desember)

Dari hasil pengembangan penangkapan para terduga teroris yang terlibat rencana
pengeboman Istana, ditangkap pula tiga orang terduga teroris lainnya di Solo, yakni Imam
Syafii, Sumarno, Sunarto.
Densus 88 juga menangkap terduga teroris perempuan berinisial TS alias UA di Tasikmalaya,
Jawa Barat, pada 15 Desember. Ibu rumah tangga ini diduga terlibat memberikan motivasi
kepada terduga teroris lainnya.

Rencana peledakkan di Bali (18 Desember)

Pada hari yang sama, Densus menangkap terduga teroris Ika Puspitasari (IP), di Kabupaten
Purworejo, saat sedang ikut mempersiapkan kegiatan Maulid Nabi SAW.

Pada 18 Desember, polisi menangkap tersangka teroris Tri Setiyoko di Solo. Tri diduga
memiliki hubungan dengan aksi pelemparan bom molotov di Serengan Solo dan Grogol
Sukoharjo.

Polisi juga menangkap terduga teroris lainnya, Yasir, di Solo.

Peran Tri dan Yasir diduga sebagai peracik, pembuat bom yang akan diledakkan di Pulau
Bali, dimana Ika diproyeksikan sebagai pengantinnya.

Densus tangkap 4 terduga teroris di Tangsel, 3 di antaranya tewas (21 Desember)

Anggota Brimob Polda Metro Jaya menjaga tempat kejadian perkara (TKP) penggerebekan
dan penembakan terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12). Foto oleh
Muhammad iqbal/ANTARA

Densus 88 menangkap 4 orang terduga teroris di wilayah Tangerang Selatan, pada 21


Desember, namun tiga orang di antaranya tewas ketika digerebek di kontrakan mereka.

Densus awalnya menangkap terduga teroris bernama Adam di Jalan Raya Serpong, sebelum
berupaya mengamankan 3 orang rekannya, namun terjadi perlawanan dari ketiganya, yakni
Omen, Helmi, dan Irwan.

Mereka disebut melempar bom ke arah polisi dan sempat terjadi kontak tembak antara pelaku
dan aparat, sebelum tiga terduga teroris itu dilumpuhkan hingga akhirnya meninggal dunia.

Diketahui bahwa keempatnya berencana melakukan aksi teror di pos polisi di perempatan
Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan.

Penangkapan serentak di Sumatera (21 Desember)


Pada 21 Desember, Densus 88 terduga teroris atas nama Jhon Tanamal alias Hamzah di
Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat. Ia diduga terkait dengan kelompok teroris jaringan
Solo yang dipimpin Abu Zaid.

H perannya membeli bahan-bahan yang diperlukan oleh Abu Zaid untuk membuat bahan
peledak dan bom.

Di tempat lain, Densus menangkap terduga teroris atas nama Safei Lubis di Deli Serdang,
Sumatera Utara. Ia ditangkap karena terlibat dengan kelompok radikal KGR pimpinan Gigih
Rahmat Dewa, dan berperan merekrut anggota KGR dan memfasilitasi keberangkatan orang
ke Suriah.

Densus juga menangkap seorang terduga teroris bernama Abisya di Batam, Kepulauan Riau.
Ia diduga terkait dengan jaringan

Safei Lubis di Deli Serdang.

Peran Abisya yakni memfasilitasi dua WNA Tiongkok etnis Uighur bernama Ali alias Faris
Kusuma alias Nu Mehmet Abdulah Cuma dan Doni Sanjaya alias Muhamad alias Halide
Tuerxun yang termasuk dalam jaringan teroris the East Turkestan Islamic Movement masuk
ke Indonesia secara ilegal dan menyembunyikan keberadaannya selama di Batam.

Abisya juga ikut serta dalam mengelola Rafiqa Travel milik istri Bahrun Naim, Rafiqa
Hanum. —Rappler.com

Filed under:densus 88penangkapan terduga teroris


Serangkaian Aksi Terorisme yang Pernah
Terjadi di Indonesia
Bagikan di Facebook

Photo by koran-jakarta.com

Gemintang.com – Belakangan ini rakyat Indonesia dibuat was-was dengan keberadaan para
teroris yang masih berkeliaran dengan aksinya yang menelan banyak korban jiwa. Selain
mengundang perhatian, peristiwa ini juga menimbulkan simpati bagi para korban-korbannya.
Dan berikut adalah beberapa aksi terorisme yang pernah terjadi di Indonesia yang telah
merenggut nyawa ratusan korban.

1. Ternyata pada tanggal 28 Maret 1981, Garuda Indonesia pernah diserang oleh teroris.
Dalam perjalanan menuju Medan setelah transit di Palembang dari penerbangan Jakarta,
pesawat ini dibajak oleh 5 orang bersenjata yang mengaku sebagai angota Komando Jihad. 3
Teroris tersebut mengaku sebagai bagian dari penumpang pesawat Garuda Indonesia. Aksi ini
mengakibatkan 1 orang kru pesawat tewas, 1 orang penumpang tewas, dan 3 orang teroris
tewas.

2. Lima tahun kemudian, tepatnya 21 Januari 1985, aksi terorisme dengan motif “jihad”
kembali terjadi. Kali ini menimpa salah satu tempat keajaiban dunia yang ada di Yogyakarta,
Candi Borobudur.

3. Pada tahun 2000, ada empat aksi teror yang pernah terjadi. 1 Agustus 2000, sebuah bom
meledakkan Kedubes Filipina. Akibat peristiwa ini 2 orang tewas serta 21 orang luka-luka
termasuk di dalamnya Duta Besar Filipina untuk Indonesia, Leonides T. Canay dan
kerusakan mobil-mobil yang terparkir di lokasi sekitar.

27 Agustus 2000, bom kembali menimpa kedutaan. Kedutaan kali ini yang menjadi sasaran
adalah Malaysia. Beruntung bom yang meledak di kompleks Kedubes Malaysia ini tidak
memakan korban.

13 September 2000, bom kembali terjadi di Gedung Bursa Efek Jakarta tepatnya di lantai
parkir P2. 100 korban berjatuhan, 10 diantaranya tewas dan ratusan mobil rusak parah.
24 Desember 2000, bom ini tepat diledakkan di beberapa kota di Indonesia yang sedang
merayakan malam Natal. Ketika itu 16 orang tewas, 96 orang terluka, dan 37 unit mobil
rusak.

4. Kembali, empat aksi terorisme terjadi di tahun berikutnya. Tiga diantaranya tidak ada
korban jiwa. Yang pertama yaitu bom yang diledakkan di Gereja Santa Anna dan HKBP pada
22 Juli 2001. Nyawa lima orang pun menjadi korban dalam pemboman ini.

Yang kedua adalah bom yang meledakkan kawasan Plaza Atrium Senen pada 23 September
2001. Beruntung tidak ada korban jiwa melainkan hanya ada 6 orang yang luka ringan.

Yang ketiga adalah bom restoran cepat saji, KFC Makasar pada tanggal 12 Oktober 2001.
Kembali tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Yang keempat adalah bom yang terjadi di
halaman sekolah AIS (Australian International School) pada 6 November 2001. Beruntung
tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

5. Setahun kemudian, ada tiga aksi terorisme yang terjadi. Bom pertama terjadi di malam
tahun baru, 1 Januari 2002. Bom ini meledak di kawasan Bulungan, Jakarta tepatnya di salah
satu rumah makan.Empat bom kembali meledak di berbagai gereja di Palu, Sulawesi Tengah
dan beruntung tidak ada korban jiwa. Bom kedua dikenal dengan Bom Bali yang terjadi pada
12 Oktober 2002 dan sempat menjadi headlines news di berbagai negara.

Ada tiga ledakan yang terjadi dan menyebabkan korban tewas sejumlah 202 orang dan 300
orang luka-luka. Sebagian besar warga yang menjadi korban adalah warga Australia. Bom
ketiga meledakkan sebuah restoran cepat saji, McDonald’s Makasar pada 5 Desember 2002.
Walaupun korban yang berjatuhan tidak banyak dalam kasus ini, yaitu 11 orang luka-luka
dan 3 lainnya lagi tewas, namun tetap saja peristiwa ini menimbulkan kenangan pahit bagi
keluarga yang ditinggalkan.

6. Tiga bom kembali terjadi di tahun 2003. Bom yang pertama terjadi pada 3 Februari 2003
di lobi Bhayangkari Mabes Polri Jakarta.

Bom yang kedua terjadi pada 27 April 2003 di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta.
Peristiwa ini memakan 10 korban, 2 diantaranya luka berat dan sisanya hanya mengalami
luka ringan.

Bom yang ketiga terjadi pada 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriott. Dan memakan korban
tewas berjumlah puluhan dan ratusan lebih orang lainnya menderita luka-luka.

7. Pada tahun 2004, ada tiga pemboman yang terjadi. Pemboman pertama dikenal dengan
nama Bom Palopo yang terjadi pada 10 Januari 2004. Ada empat orang yang tewas dalam
peristiwa ini.

Pemboman kedua dikenal dengan Bom Kedubes Australia yang terjadi pada 9 September
2004. Ada 5 orang yang tewas, ratusan orang luka-luka, dan beberapa gedung di sekitar yang
ikut kena dampaknya. Pemboman ketiga dikenal dengan Bom Gereja Immanuel di Palu,
Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.
8. Lima bom kembali meledak di tahun 2005. Pada tanggal 21 Maret ada dua bom yang
meledak di kota Ambon dan beruntung tidak ada korban jiwa. Pada tanggal 28 Mei, ada 22
orang yang tewas dalam pemboman yang dikenal dengan Bom Tentena.

Pada 8 Juni, bom meledak di Pamulang. Kali ini yang menjadi korban adalah kediaman Ahli
Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril. Tidak ada korban jiwa
dalam pemboman ini. Pada tanggal 1 Oktober, bom kembali mengguncang Bali. Dalam
peristiwa ini, 22 orang tewas dan 102 orang luka-luka. Pada tanggal 31 Desember, sebuah
pasar di Palu, Sulawesi Tengah menjadi sasaran dan mengakibatkan 8 orang tewas dan 45
orang luka-luka.

9. Empat tahun kemudian tepatnya tahun 2009, dua bom diledakkan secara bersamaan di
Jakarta tepatnya JW Marriott dan Ritz-Carlton.

10. Dua tahun kemudian, 2011, tiga bom meledak di tiga kota di Indonesia. Kota pertama
adalah Cirebon dimana sebuah bom bunuh diri diledakkan di Masjid Malporesta pada 15
April 2011. Peristiwa ini menewaskan pelaku pemboman dan melukai 25 orang.

Kota kedua adalah Tangerang dimana polisi berhasil menggagalkan aksi pemboman terhadap
Gereja Christ Cathedral. Kota berikutnya adalah Solo. Sebuah bom bunuh diri kembali
diledakkan di GBIS Kepunten, Solo, Jawa Tengah. Satu orang pelaku tewas dalam peristiwa
ini sedangkan 28 orang lainnya terluka. Tidak ada korban jiwa dalam pemboman yang terjadi
di Pospam Gladak, Solo, Jawa Tengah pada 19 Agustus 2012. Namun aksi ini tetap membuat
rakyat semakin was-was.

Sobat Gemintang, ada begitu banyak peristiwa aksi terorisme yang terjadi di Indonesia,
namun dari kejadian tersebut kita belajar untuk selalu waspada dimanapun kita berada dan
berdoa meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kita senantiasa dilindungi
dari kejadian-kejadian naas.
Kasus Terorisme di Indonesia Meningkat
pada 2016, Ini Penyebabnya
http://www.suara.com/news/2016/12/28/232342/kasus-terorisme-di-indonesia-meningkat-
pada-2016-ini-penyebabnya (diakses tanggal 29 Juni 2017)

Suara.com - Jumlah penangkapan terduga kasus terorisme tahun 2016 meningkat 100 persen
lebih ketimbang tahun 2015. Pada tahun 2015, penangkapan kasus terorisme mencapai 82
orang, sedangkan pada tahun ini mencapai 170 orang.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, peningkatan penangkapan tersangka terorisme


dipengaruhi eskalasi yang terjadi di Suriah terkait kelompok ekstremis ISIS.

"Kenapa terjadi peningkatan jawabannnya gampang. Terorisme di Indonesia dan seluruh


dunia, ini terjadi karena dinamika ISIS di Suriah," kata Tito dalam acara Silaturahnmi dan
Jumpa Pers Kapolri Akhir Tahun 2016, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/12/2016).

Tito menerangkan, saat tahun 2015 ISIS sedang berstrategi memperkuat diri di Suriah.
Setelah itu baru melakukan eskpansi secara perlahan.

"Tahun 2016 ini, semua negara besar seperti Rusia menekan ISIS, sehingga mereka tidak bisa
bergerak dan daerah mereka mengecil karena dibombardir. Akibatnya yang mereka lakukan
untuk mengalihkan perhatian. Jaringannya yang diluar negeri yang disuruh aktif bergerak,"
jelas Tito.

Karena ini pula, sambung Tito, yang membuat serangan teroris di sejumlah negara seperti
Perancis, Turki, Pakistan bahkan Indonesia terjadi.

"Tidak heran terorisme di Indonesia pun meningkat karena ISIS ingin perhatian seluruh dunia
tidak hanya di situ--Suriah," ujar mantan Kapolda Metro Jaya ini.

Lebih jauh, Tito menerangkan, dari total 170 orang tersangka kasus terorisme yang ditangkap
pada 2016, 40 orang diantaranya telah dijatuhi vonis oleh pengadilan.

Sementara, ada 6 orang yang dikembalikan ke pihak keluarga, 36 orang masih menjalani
proses sidang, 55 orang masih dalam tahap penyidikan, dan 33 orang lainnya meninggal
dunia.
Prediksi dan Analisis Ancaman Terorisme
Tahun 2017 di Indonesia
Stanislaus Riyanta - detikNews

Rabu 04 Januari 2017, 17:35 WIB

https://news.detik.com/kolom/d-3387780/prediksi-dan-analisis-ancaman-terorisme-tahun-2017-di-
indonesia?single=1 (diakses tanggal 29 Juni 2017)

Jakarta - Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh dunia. Risiko dari aksi terorisme
sangat tinggi, nyawa manusia menjadi korban. Terorisme juga menganggu stabilitas keamanan yang
berdampak pada bidang lain seperti ekonomi, sehingga secara langsung maupun tidak langsung
terorisme akan berdampak negatif terhadap masyarakat.

Indonesia belum bebas dari terorisme. Keberadaan kelompok dan individu yang menganut paham
radikal terutama yang berafiliasi dengan kelompok radikal jaringan international cukup mengganggu.
Tahun 2016 Indonesia menjadi korban aksi teror seperti yang terjadi di Thamrin, Surakarta,
Tangerang, Medan dan Samarinda. Indonesia juga berhasil melakukan penangkapan sebagai
pencegahan aksi teror yang disertai dengan barang bukti seperti di Bekasi, Majalengka, Tangerang
Selatan, Batam, Ngawi, Solo, Purworejo, Payakumbuh, Deli Serdang, Purwakarta dan penangkapan di
tempat lain oleh Densus 88.

Hal-hal tersebut di atas membuktikan bahwa hingga saat ini, terorisme merupakan ancaman serius
bagi Indonesia. Keberadaan ISIS di Irak dan Suriah menjadi pengaruh dominan bagi aksi teror di
Indonesia. Namun perlu diakui juga bahwa kepiawaian BNPT dan Densus 88 dalam melakukan
pencegahan dan penindakan secara signifikan mampu menekan kelompok radikal untuk melakukan
aksi teror.

Lalu, bagaimanakah prediksi ancaman terorisme tahun 2017 di Indonesia? Apakah aksi-aksi teror
masih akan terjadi di Indonesia? Apakah BNPT dan Densus 88 mampu melakukan pencegahan dan
penindakan sehingga aksi teror bisa dicegah?

Ancaman Terorisme

Pelaku teror mempunyai niat dan dorongan yang sangat kuat sehingga rela untuk bunuh diri demi
tercapainya tujuannya. Niat dan dorongan untuk melakukan sesuatu hingga mengorbankan nyawa
oleh faktor ideologis. Sulit untuk mengubah ideologi ini karena pengidap paham ideologi radikal ini
hanya mau mendengar dan percaya orang yang dianggap satu kelompoknya.
Pelaku teror yang sudah dihukum dan kemudian bebas banyak yang kembali menjadi pelaku teror.
Hal ini adalah bukti bahwa hukuman penjara cenderung belum bisa mengubah ideologi radikal yang
mereka anut.

Data yang diperoleh dari sebuah sumber pada bulan September 2015 menunjukkan bahwa
penindakan yang dilakukan kepada pelaku tindak pidana terorisme sampai dengan September 2015
total 1.143 orang. Dari jumlah tersebut yang sudah bebas sebanyak 501 orang dan yang masih
menjalani hukuman 328 orang. Tersangka yang dikembalikan kepada keluarga sebanyak 98 orang.
Selain itu ada tersangka yang meninggal dunia (127 orang), meninggal dunia karena penegakkan
hukum (108), dan meninggal dunia karena eksekusi mati (3 orang), dan mati karena bunuh diri (16
orang). Data ini tentu berubah pada tahun 2016 namun secara garis besar dapat menunjukkan
bahwa jumlah mantan napi tindak pidana terorisme yang berada di masyarakat cukup banyak.

Data di atas menunjukkan bahwa potensi ancaman terorisme dari sisi sumber daya manusia masih
cukup besar, terutama jika melihat bahwa ada 500 lebih orang mantan napi tindak pidana terorisme.
Kasus aksi bom di Samarinda misalnya menunjukkan bahwa mantan napi tindak pidana terorisme
kembali melakukan aksinya, bahkan lebih nekad.

Kembalinya para pelaku teror pasca dihukum ini disebabkan oleh beberapa hal, adanya proses
penambangan pengetahuan dan penguatan doktrin selama berkumpul dengan napi tindak pidana
terorisme di lembaga pemasyarakatan, dan adanya motif balas dendam atas hukuman yang
dijalaninya. Selain hal tersbeut tentu adanya paham ideologi radikal yang tidak bisa berubah
walaupun telah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan.

Sumber daya manusia yang berpotensi menjadi ancaman selain mantan napi adalah WNI simpatisan
ISIS yang kembali dari Suriah. Data dari BNPT menyebutkan bahwa pada tahun 2015 tercatat ada
500 WNI yang berada di Suriah, sumber dari Polri menyebutkan bahwa ada 200 orang WNI yang
bergabung dengan Suriah. Oktober 2016, Menkopolhukam Wiranto menyampaikan bahwa 53 orang
WNI kembali dari Suriah ke Indonesia.

Jika diasumsikan bahwa ada 50-an orang WNI yang kembali dari Suriah ke Indonesia maka hal ini
adalah ancaman yang cukup serius. Simpatisan ISIS tersebut sudah mempunyai pengalaman di
Suriah, mempunyai jaringan kelompok radikal di tingkat global yang tentu akan berpengaruh
terhadap dukungan untuk melakukan teror, termasuk pendanaan. Ancaman akan semakin serius jika
WNI arus balik dari Suriah ini berkolaborasi dengan mantan napi tindak pidana terorisme.

Faktor pendorong besarnya ancaman terorisme di Indonesia adalah semakin terdesaknya ISIS di
Suriah. Gempuran pasukan multinasional kepada ISIS di Irak dan Suriah membuat ISIS semakin
terdesak dan berpindah ke tempat lain. Adanya perintah dari petinggi ISIS kepada simpatisannya di
berbagai negara untuk melakukan aksinya di wilayah masing-masing menunjukkan bahwa kekuatan
ISIS di Irak dan Suriah semakin melemah. Teori balon berlaku, tekanan di Irak dan Suriah menguat
maka kekuatan akan berpindah ke tempat lain, terutama Asia Tenggara (khususnya Indonesia) yang
menjadi salah satu wilayah sumber perekrutan.

Isu Asia Tenggara akan dijadikan sebagai salah satu basis kekuatan ISIS ikut memicu aksi-aksi teror di
Asia Tenggara terutama oleh kelompok Bahrun Naim. Aksi teror pada tahun 2016 di Jakarta seperti
di Thamrin, Surakarta, Tangerang, Medan, Samarinda menunjukkan pengaruh Bahrun Naim
terhadap aksi teror di Indonesia. Sebagai salah satu tokoh ISIS yang berasal dari Indonesia, Bahrun
Naim diduga ingin menunjukkan kekuatannya untuk meraih kepercayaan dari pemimpin ISIS di
Timur Tengah. Eksistensi ini diperlukan sebagai pendukung motif meraih jabatan penguasa ISIS di
tingkat Asia Tenggara. Tentu saja isu bahwa saat ini Bahrun Naim berada di daerah Filipina menjadi
masuk akal guna menyiapkan basis ISIS di Asia Tenggara.

Kemajuan teknologi ikut mendorong terjadinya aksi teror. Beberapa aksi teror seperti di Medan
(penyerangan di Gereja) dan di Tangerang (penyerangan terhadap polisi) diketahui karena pelaku
mengalami self radicalization dengan bantuan internet. Trend ini diperkirakan akan meningkat
terutama jika aksi-aksi kelompok intoleran terus dibiarkan dan aksi tersebut menjadi pembenaran
untuk melakukan tindakan radikal.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ancaman terorisme tahun 2017 di Indonesia
masih sangat kuat. Sehingga diperlukan langkah-langkah terpadu dari pemerintah dan masyarakat
agar tidak ada kerentanan-kerentanan yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk menjalankan
aksinya.

Titik Rawan

Indonesia mempunyai beberapa titik rawan terjadinya ancaman terorisme. Titik rawan pertama
adalah daya tarik yang besar sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kelompok
radikal ingin mengusai Indonesia sebagai salah satu langkah menuju penguasaan secara global.
Warga negara Indonesia yang berhasil digalang dan direkrut menjadi simpatisan, anggota, bahkan
pengantin bom bunuh diri tidak sedikit. Daya tarik inilah yang mendorong kelompok radikal untuk
melakukan aksi teror di Indonesia.

Titik rawan kedua adalah adanya securiy gap atau celah keamanan yang bisa dimanfaatkan untuk
menjalankan aksi teror. Indonesia yang cukup luas, dengan geografis yang beragam, penduduk yang
plural dan permisif justru menjadi celah-celah yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal.

Pembiaran aksi-aksi intoleran dan kelompok yang ingin mengganti ideologi Pancasila dimanfaatkan
oleh kelompok radikal untuk eksis dan masuk ke dalam aksi dan kelompok tersebut. Tindakan yang
tidak tegas terhadap kelompok intoleran menjadi celah atau titik rawan masuknya idelogi radikal
sekaligus sebagai kesempatan untuk penggalangan pengikut.

Titik rawan ketiga adalah skala dampak yang tinggi jika terjadi terorisme. Terorisme yang terjadi di
Indonesia selama ini dampak negatifnya cukup signifikan. Korban jiwa dan korban materi tidak
sedikit. Dampak yang besar tersebut dipublikasikan secara gratis oleh media masa sehingga menjadi
nilai tambah bagi pelaku teror terutama sebagai sarana pembuktian efektifitas aksi kepada pimpinan
kelompoknya.

Ketiga titik rawan di atas mempunyai nilai cukup tinggi dan hal ini akan memudahkan ancaman-
ancaman teror di Indonesia bisa terjadi. Usaha yang harus dilakukan adalah menutup celah atau titik
rawan supaya ancaman teror tidak terjadi terutama celah keamanan seperti security gap. Nilai
ancaman dan titik rawan atas aksi teror yang cukup tinggi di Indonesia perlu disikapi dengan
langkah-langkah tanggap strategi supaya ancaman teror tidak terjadi, dengan cara pencegahan,
penindakan dan pemulihan.

Pencegahan, Penindakan dan Pemulihan

Unsur utama yang bisa melakukan pencegahan aksi teror adalah intelijen. Penguatan intelijen
diperlukan untuk melakukan pencegahan lebih baik. Sistem deteksi dini dan peringatan dini atas aksi
teror perlu dilakukan sehingga pencegahan lebih optimal dilakukan.

Pakar intelijen, Soleman B Ponto, menyebutkan bahwa unsur pembentuk teror ada sembilan.
Mantan Kepala BAIS ini menyebutkan bahwa sembilan unsur tersebut adalah pemimpin, tempat
latihan, jaringan, dukungan logistik, dukungan keuangan, pelatihan, komando dan pengendalian,
rekrutmen, serta daya pemersatu. Teror akan terjadi jika sembilan unsur tersebut bertemu.
Sebaliknya disebutkan bahwa teror tidak akan terjadi jika salah satu dari unsur pembentuk tersebut
tidak ada

Intelijen bisa melakukan pencegahan aksi teror dengan memutus salah satu dari sembilan unsur
pembentuk teror, walaupun kelompok dan individu pelaku teror terus melakukan inovasi dalam
menjalankan aksinya. Penguasaan teknologi untuk memantau transaksi keuangan dan data
percakapan orang yang diduga mempunyai ideologi radikal perlu dilakukan untuk membaca dan
mengetahui aksi-aksi yang akan dilakukan sebagai bahan pencegahan.

Penguatan intelijen tentu tidak hanya dari sisi teknis tetapi dari sisi politis. UU tentang Intelijen dan
UU tentang Tindak Pidana Terorisme perlu disesuaikan supaya terorisme ditangani dengan porsi
terbesar pada pencegahan bukan pada penindakan. Selain itu penguatan BNPT perlu dilakukan agar
mempunyai kewenangan dan energi untuk melakukan pemberantasan terorisme seperti BNN yang
memberantas narkoba dan KPK yang memberantas korupsi.

Terkait dengan penindakan aksi teror, kemampuan Polri terutama Densus 88/AT tidak perlu
diragukan lagi. Kasus-kasus terorisme di Indonesia berhasil diungkap dan ditangkap pelakunya.
Pencegahan-pencegahan berhasil dilakukan dengan barang bukti yang signifikan. Penindakan yang
dilakukan oleh Densus 88 walaupun menjadi kontroversi bagi pihak-pihak tertentu perlu didukung.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak yang ingin melemahkan Densus 88 harus dicegah, karena
akan menjadi celah bagi terjadinya aksi teror.

Tahap pemulihan perlu mendapatkan perhatian yang serius. BNPT sebagai lembaga negara yang
bertanggung jawab atas pemberantasan terorisme perlu mengkaji kembali program deradikalisasi
yang dilakukan. Narapidana tindak pidana terorisme perlu diperlakukan secara khusus sehingga
selama menjalani hukuman sekaligus menjalani program deradikalisasi, bukan malah menerima
program penguatan radikalisasi dari narapidana lainnya, atau menggalang napi lain untuk bergabung
dalam kelompok radikal.

Pembuatan lembaga pemasyarakatan khusus narapidana tindak pidana terorisme perlu dilakukan.
Hal ini bertujuan untuk pengawasan yang lebih intens dan pelaksanaan deradikalisasi yang lebih
fokus. Pemulihan perlu dilakukan juga kepada keluarga narapidana tindak pidana terorisme, supaya
tidak tercipta sel-sel baru akibat dendam. Pemulihan juga harus dilakukan kepada WNI sinpatisan
ISIS yang kembali dari Suriah.

Kesimpulan

Ancaman aksi teror di Indonesia pada tahun 2017 diperkirakan masih sangat kuat. Mantan
narapidana tindak pidana terorisme dan WNI simpatisan ISIS yang kembali dari Suriah akan menjadi
ancaman utama aksi teror di Indonesia. Pelaku teror lone wolf terus meningkat seiring dengan
mudahnya komunikasi dan interaksi dengan menggunakan teknologi internet yang berdampak pada
self radicalization.

Titik rawan yang menjadi celah bagi terjadinya aksi teror masih terbuka lebar. Upaya-upaya untuk
penguatan intelijen dan penguatan BNPT untuk melakukan pencegahan aksi teror perlu dilakukan.
Langkah-langkah yang kontradiktif terhadap upaya pencegahan aksi teror seperti pelemahan
intelijen, tuduhan-tuduhan miring atas aksi penindakan yang dilakukan Densus 88, dan pembiaran
terhadap kelompok intoleran akan memperlebar celah kerawanan yang mempermudah aksi teror
terjadi.

Kerjasama yang baik antar lembaga seperti BNPT, Polri, BIN, TNI, PPATK, Kementerian Kominfo,
Kementerian Agama, dan instansi lainnya yang mempunyai kepentingan atas terorisme perlu lebih
dieratkan sehingga menjadi suatu kolaborasi positif sebagai suatu kerja sama, bukan semata sama-
sama kerja.
Terorisme harus dicegah dan dilawan, dengan kerjasama lembaga yang baik, dan dukungan
masyarakat yang positif maka optimisme untuk mencegah terorisme di Indonesia tidak perlu
diragukan.

*) Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen
Universitas Indonesia.
(nwk/nwk)
ANALISIS KASUS TERORISME DI
INDONESIA DARI SUDUT PANDANG
KETAHANAN NASIONAL
13.52.00 Posted by Alamsyah Nurseha 21 Comments

http://alamsyahnurseha.blogspot.nl/2011/04/analisis-kasus-terorisme-di-indonesia.html
(diakses tanggal 29 Juni 2017)

1.    Akar Masalah Terorisme Atas Nama Agama di Indonesia


       Menilik berbagai persoalan aktual yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara dewasa ini, baik di lapangan ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum maupun
ideologi dan agama, tampak sekali bahwa pemerintah dan negara ini telah gagal. Demikian
disampaikan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto, kepada Rakyat
Merdeka Online, beberapa saat lalu (Kamis, 26/1).
      Hal tersebut merupakan kelemahan yang terjadi di Negeri ini sehingga Teroris yang
dengan kecerdasannya mampu memanfaatkan situasi Negara Indonesia yang lemah di
berbagai lini. Itu pun disebabkan karena sasaran aksi teroris umumnya terhadap manusia
maupun obyek lainnya bertujuan untuk menyoroti kelemahan sistem dan atau pilihan secara
seksama untuk menghindari reaksi negatif dari publik atau telah dirancang untuk
menghasilkan reaksi publik yang positif atau simpatik.

2.    Peran Media Masa Terhadap Terorisme


      “Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah
(isu).” Lindsey (1994) berpendapat, “Media memiliki peran sentral dalam menyaring
informasi dan membentuk opini masyarakat.” Sedangkan para pemikir sosial seperti Louis
Wirth dan Talcott Parsons menekankan pentingnya media massa sebagai alat kontrol sosial.
      Sedangkan menurut Timbul Siahaan, salah satu sasaran strategis teroris antara lain :

 Menggunakan media masa sebagai alat penyebarluasan propaganda dan tujuan politik
teroris.
 Sasaran fisik bangunan antara lain : Instalasi Militer, bangunan obyek vital seperti
pembangkit energi, instalasi komunikasi, kawasan industri, pariwisata dan sarana
transportasi,

3.    Cara Ketahanan Nasional Mengantisipasi Atau Mencegah Terjadinya Terorisme


Atas Nama Agama Tertentu Di Bumi Nusantara
     Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia Heriyadi Irawan mengatakan,
terorisme merupakan bentuk penyerangan non militer, yang tidak terlihat dan dirasakan. Ini
memerlukan kerja lebih dari sekedar berpolitik. Sebab, kerja terorisme tertutup dan
dibutuhkan unit lainnya.
     “Secara umum jaringan terorisme mempunyai jalur internasional. Masalahnya, di
Indonesia dan sejumlah kawasan terorisme membawa-bawa agama. Ini perlu pemahaman
tentang gerakan ini,” terangnya.
      Terorisme, menurutnya, dipahami suatu aktivitas yang lebih complicated dari sekedar
idiologi semata, karena pelaku terorisme mencampur-adukan kaidah-kaidah agama dengan
idiologi. Terorisme di Indonesia dibahas di Jakarta International Defence Dialogue.
      Dijelaskannya, para intelijen harus melakukan operasi sesuai dengan karakter teroris.
Karena itu, lanjutnya, perlu diselesaikan dengan segera RUU Intelijen agar dapat berjalan
secara bersamaan.
      Sedangkan karakter teroris berdasarkan hasil studi dan pengalaman empiris dalam
menangani aksi terrorisme yang dilakukan oleh PBB antara lain, sebagai berikut:

  Teroris umumnya mempunyai organisasi yang solid, disiplin tinggi, militan dengan
struktur organisasi berupa kelompok-kelompok kecil,dan perintah dilakukan melalui
indoktrinasi serta teroris dilatihan bertahun-tahun sebelum melaksanakan aksinya.
 Teroris menganggap bahwa proses damai untuk mendapatkan perubahan sulit untuk
diperoleh.
 Teroris memilih tindakan yang berkaitan dengan tujuan politik dengan cara kriminal
dan tidak mengindahkan norma dan hukum yang berlaku.
 Memilih sasaran yang menimbulkan efek psikologi yang tinggi untuk menimbulkan
rasa takut dan mendapatkan publikasi yang luas.

Sedangkan sasaran strategis teroris antara lain :

 Menunjukkan kelemahan alat-alat kekuasaan ( Aparatur Pemerintah )


 Menimbulkan pertentangan dan radikalisme di masyarakat atau segmen tertentu
dalam masyarakat.
 Mempermalukan aparat pemerintah dan memancing mereka bertindak represif
kemudian mendiskreditkan pemerintah dan menghasilkan simpati masyarakat
terhadap tujuan teroris.
 Menggunakan media masa sebagai alat penyebarluasan propaganda dan tujuan politik
teroris.
 Sasaran fisik bangunan antara lain : Instalasi Militer, bangunan obyek vital seperti
pembangkit energi , instalasi komunikasi, kawasan industri, pariwisata dan sarana
transportasi,
 Personil Aparat Pemerintah, Diplomat ,Pelaku bisnis dan Personil lawan politik.

       Jadi, sasaran aksi teroris yang umumnya terhadap manusia maupun obyek lainnya harus
mampu dijaga dengan system yang lebih baik dari system teroris yang bertujuan untuk
menyoroti kelemahan sistem dan atau pilihan secara seksama untuk menghindari reaksi
negatif dari publik atau telah dirancang untuk menghasilkan reaksi publik yang positif atau
simpatik,

4.    Solusi Masalah Terorisme Atas Nama Agama Tertentu di Indonesia


       Beberapa aksi-aksi terror yang terjadi, telah mendorong Pemerintah Indonesia untuk
menyatakan perang melawan terorisme dan mengambil langkah-langkah pemberantasan
serius dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan, baik berupa Instruksi, Peraturan
Pemerintah maupun Perundang-undangan, serta perangkat lainnya seperti pembentukan
satuan anti teror di Polri dan anti teror lainnya yang telah terbentuk sebelumnya di TNI.
      Saat ini dituntut suatu pemahaman tentang pertahanan dan keamanan yang terintegrasi
dari seluruh komponen bangsa serta adanya upaya yang sungguh untuk melakukan perubahan
atas doktrin pertahanan dan keamanan serta pola pendekatan atas masalah pertahanan dan
keamanan, guna mengantisipasi dan mencegah terulangnya aksi terroris di Indonesia. Ada
sebuah pemikiran yang diilhami oleh pernyataan Menteri Pertahanan RI Prof. DR. Yuwono
Sudarsono, MA. tentang Pertahanan Militer ( Military Defence) dan Pertahanan Nir Militer
(Non Military Defence ). Pem-bangunan yang seimbang dari kedua hal tersebut dapat
mencegah terjadinya kegiatan teroris di Indonesia, misalnya Pembangunan Pertahanan
Militer yakni meningkatkan profesionalisme para perajurit TNI / Aparat Pemerintah dalam
menjaga kedaulatan wilayah NKRI dari setiap ancaman termasuk ancaman teroris, tentunya
pembangunan tersebut juga harus dilengkapi dengan alat peralatan antara lain peralatan yang
dapat mendeteksi setiap keluar masuknya orang maupun barang yang dapat digunakan untuk
aksi teror, disamping tentunya modernisasi alat utama sistem senjata.
      Sedangkan untuk pembangunan pertahanan nir militer dilaksanakan melalui
pembangunan ketahanan nasional di bidang idiologi, politik, ekonomi dan sosial budaya yang
pada akhirnya akan menciptakan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera, serta
masyarakat yang cinta tanah air dan bangga atas dirinya sebagai anak bangsa Indonesia .
Dengan kata lain pembangunan yang seimbang dari Pertahanan Militer dan Pertahanan Nir
Militer merupakan pembangunan dibidang kesejahteraan dan pertahanan dan keamanan yang
seimbang dan dapat menangkal aksi teroris di Indonesia.

Referensi :
1.    Timbul Siahaan, Puslitbang Strahan Balitbang Dephan
2.    yakni UU Nomor 15 / 2003 dan UU Nomor 16/2003