Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MANAJEMEN RISIKO

TENTANG RISIKO SUMBER DAYA MANUSIA

Dosen Pengampu : Ediyanto, SE, MM

Disusun Oleh :

Kelompok 5

Hariyanto (201813109)
Martanti Agustini (201813037)
Riki Maydona (201813049)
Tyas Nuril Chofijah (201813185)
Yayuk S (201813155)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH SITUBONDO

2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT. atas


terselesaikanya makalah ini tentang “RISIKO SUMBER DAYA MANUSIA”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari Dosen Ediyanto, SE, MM selaku
pengajar Mata Kuliah Manajemen Resiko.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga
makalah ini memberikan informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan bagi
kita semua.

Situbondo, 24 November 2020

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................... 1
1.3 Tujuan............................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
2.1 Pengertian Risiko............................................................................ 3
2.2 Definisi Manajemen Risiko............................................................ 5
2.3 Manfaat Manajemen Risiko............................................................ 5
2.4 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia.................................... 7
2.5 Peranan Sumber Daya Manusia...................................................... 7
2.6 Cara Penanganan Resiko SDM....................................................... 8
2.7 Risiko Lemahnya Sumber Daya Manusia...................................... 8
2.8 Risiko Pekerja Inti.......................................................................... 10
2.9 Risiko Kesehatan. .......................................................................... 10
2.10 Risiko Keselamatan Kerja. .......................................................... 11
2.11 Risiko Kejahatan. ......................................................................... 12
2.12 Risiko Kecurangan. ...................................................................... 13
BAB III PENUTUP......................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 16
3.2 Saran............................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumberdaya manusia (SDM) merupakan aset terpenting dalam perusahaan
atau organisasi, terutama bagi perusahaan penyedia jasa. Semakin tinggi
komponen jasa yang ditawarkan perusahaan, semakin tinggi nilai dan peran SDM.
Perusahaan jasa sangat bergantung pada kualitas, kompetensi, dan
profesionalisme SDM perusahaan yang bersangkutan. Brand nama yang diusung
perusahaan jasa sangat ditentukan oleh kondisi kinerja mereka. Oleh karenanya,
peran SDM perlu dikelola dengan sentuhan manajemen resiko SDM.
Risiko yang ditimbulkan SDM perlu dikelola agar tidak menimbulkan
kerugian, baik finansial maupun reputasi, hal ini dilakukan untuk mengurangi
resiko merugikan nama perusahaan. Manajemen risiko merupakan salah satu cara
untuk mengatasi hal itu. Karena manajemen risiko merupakan proses pengukuran
atau penilaian serta memerlukan seni untuk mengembangkan strategi
pengelolaannya, misalnya risiko itu dipindahkan kepada pihak lain, mengurangi
efek negatif dari risiko, dan lain-lain. Pada model pendekatan tradisional, risiko
yang ditimbulkan oleh SDM hanya berkisar pada kematian, tuntutan hukum, dan
upah). Agar tidak menimbulkan risiko, maka SDM perlu dikelola secara
profesional, yaitu dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ada dalam
manajemen SDM.

1.2 Rumusan Masalah


1. Pengertian Risiko
2. Definisi Manajemen Risiko
3. Manfaat Manajemen Risiko
4. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
5. Peranan Sumber Daya Manusia
6. Cara Penanganan Risiko SDM
7. Risiko Lemahnya Sumber Daya Manusia
8. Risiko Pekerja Inti
9. Risiko Kesehatan

1
10. Risiko Keselamatan Kerja
11. Risiko Kejahatan
12. Risiko Kecurangan

1.3 Tujuan
1. Untuk Memahami tentang Risiko
2. Untuk Mengetahui Definisi tentang Risiko
3. Untuk Memahami Manfaat Manajemen Risiko
4. Untuk Mengetahui Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
5. Untuk Memahami Peranan Sumber Daya Manusia
6. Untuk Mengetahui Cara Penanganan Risiko SDM
7. Memahami Risiko Lemahnya Sumber Daya Manusia
8. Memahami Risiko Pekerja Inti
9. Memahami Risiko Kesehatan
10. Memahami Risiko Keselamatan Kerja
11. Memahami Risiko Kejahatan
12. Memahami Risiko Kecurangan

2
BAB II
PEMBAHASAN
             
2.1 Pengertian Risiko
Lebih jauh dari G. Siegel dan Jae K. Shim menjelaskan analisa risiko
disatukan dengan keputusan keuangan dan investasi. Sementara itu David K.
Eiteman. Athur I. Stonehil Dan Michael H. interest rate bases for asosiated assets
and liabilities.
Risiko menurut Sumarjino (2004:23) adalah titik imbas dari suatu kegiatan
atau usaha yang dilakukan oleh seseorang atau suatu perusahaan. Risiko biasanya
terjadi apabila usaha yang kita jalankan telah melewati suatu kesalahan yang fatal
sehingga menyebabkan suatu risiko yang harus kita hadapi. Risiko yang dimaksud
adalah dampak yang akan terjadi apabila melakukan suatu  usaha. Bentuk risiko
yang terjadi dapat berupa risiko yang disengaja maupun risiko yang tidak
disengaja. Risiko-risiko yang disebabkan oleh manajemen akan berakibat pada
buruknya aspek sumber daya manusia dalam perusahaan.
Pengertian risiko menurut Anoraga (2004:327) :
1.      Risiko adalah kemungkinan kerugian peluang, kerugian biasanya digunakan
untuk menunjukkan keadaan yang memiliki suatu keterbukaan terhadap kerugian
atau suatu kemungkinan kerugian.
2.       Risiko adalah ketidak pastian,  yaitu adanya risiko karena adanya kepastian
3.      Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapakan, yaitu
penyimpangan relatif merupakan suatu pernyataan ketidak pastian secara statistik.
4.      Risiko adalah probabilitas sesuai hasil berbada dari hasil yang diharapkan
yaitu bahwa risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi beberapa
hasil, yang berbada dari yang diharapkan.
Menurut Darmawi (1990:v) risiko dapat dikatakan merupakan akibat (atau
penyimpangan realisasi sari rencana) yang mungkin terjadi secara tak
terduga. Manajemen risiko merupakan suatu usaha untuk mengetahui
menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan
tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih baik menurut
Anoraga, (2004:328). 

3
Risiko menurut  Sadikin (2002:30) adalah tanggungan atau efek yang
ditimbulkan dalam suatu kegiatan yang bersifat personal yang timbul baik dengan
adanya pengaruh dari luar maupun dari dalam kegiatan tersebut. Beberapa
perusahaan menghadapi risiko-risiko strategis dalam hal kurangnya persiapan
untuk suksesi (pergantian pimpinan).
Perusahaan keluarga kadang-kadang sulit untuk menentukan
bagaimana mengendalikan perusahaan di masa depan karena sulit untuk
memilih siapa yang akan memimpin perusahaan.
Pilihannya apakah pada seorang anggota keluarga yang profesional tetapi masih
berusia muda, atau mereka yang sudah cukup dewasa tetapi amatir, atau
diserahkan kepada orang luar yang profesional dan matang usianya.
Menurut Basyaib (2007) risiko didefinisikan sebagai peluang terjadinya
hasil yang tidak diinginkan sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang
memungkinkan munculnya hasil negatif serta berkaitan dengan kemampuan
memperkirakan terjadinya hasil negatif tadi.
Manajemen risiko adalah sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya adalah
untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi potensi
kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan melalui asuransi atau cara
lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, keteledoran manusia, atau
karena keputusan pengadilan (Wiliam T. Thornhill dalam Robert Tampubolon,
2006).
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam
mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian
aktivitas manusia termasuk penilaian risiko, pengembangan strategi untuk
mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan
pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya (wikipedia).
Manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko, dan
perlindungan harta benda, hak milik, dan keuntungan badan usaha atau
perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko,
dimana ketidakpastian ini dihubungan dengan penghasilan perusahaan, arus keluar
masuk uang, dan harta benda yang telah ada atau yang dibutuhkan di masa datang
(Silalahi dalam Husein Umar, 2008).

4
2.2 Definisi Manajemen Risiko
1. Manajemen risiko adalah sebuah disiplin pengelolaan yang tujuannya
adalah untuk memproteksi asset dan laba sebuah organisasi dengan mengurangi
potensi kerugian sebelum hal tersebut terjadi, dan pembiayaan melalui asuransi
atau cara lain atas kemungkinan rugi besar karena bencana alam, keteledoran
manusia, atau karena keputusan pengadilan (Wiliam T. Thornhill dalam Robert
Tampubolon, 2006).
2. Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam
mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian
aktivitas manusia termasuk penilaian risiko, pengembangan strategi untuk
mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan
pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya (wikipedia).
3. Manajemen risiko adalah suatu sistem pengawasan risiko, dan
perlindungan harta benda, hak milik, dan keuntungan badan usaha atau
perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko,
dimana ketidakpastian ini dihubungan dengan penghasilan perusahaan, arus keluar
masuk uang, dan harta benda yang telah ada atau yang dibutuhkan di masa datang
(Silalahi dalam Husein Umar, 2008).
Manajemen adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana suatu
organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang
aada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara
komperehensif dan sistematis. Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa resiko adalah penyimpangan rencana yang telah di buat tanpa
dibuat atau di duga sebelumnya.

2.3 Manfaat Manajemen Risiko


Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen resiko antara lain (Mok
et al., 1996):
1.      Berguna untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah
yang rumit.
2.      Memudahkan estimasi biaya.

5
3.      Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan yang
dihasilkan dalam cara yang benar.
4.      Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi resiko dan
ketidakpastian dalam keadaan yang nyata
5.       Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa
banyak informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
6.      Meningkatkan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
7.      Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
8.      Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.

Menurut Darmawi, (2005, p. 11) manfaat manajemen risiko yang diberikan


terhadap perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama yaitu:
1.      Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
2.      Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba.
3.      Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
4.      Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya
perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi
perusahaan.
5.      Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena
kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi
maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.
Manajemen Sumberdaya Manusia adalah suatu perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan atas pengadaan, pengembangan,
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja,
dengan maksud untuk mencapai tujuan organaisasi perusahaan secara terpadu
(Umar, Husein. 1997). Menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen
Sumberdaya Manusia adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan
tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan,
karyawan, dan masyarakat
Manajemen sumberdaya manusia menurut Griffin (2004) adalah rangkaian
aktivitas organisasi yang diarahkan untuk menarik, mengembangkan dan
mempertahankan tenaga kerja yang efektif.

6
2.4 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumberdaya Manusia terdiri dari dua fungsi, yaitu fungsi manajemen
dan fungsi operasional .
Fungsi Manajemen terdiri atas:
Fungsi Manajemen Fungsi Operasional
1. Fungsi Perencanaan 1. Fungsi Pengadaan
2. Fungsi Pengorganisasian 2. Fungsi Pengembangan
3. Fungsi Pengarahan 3. Fungsi Pemberi Kompensasi
4. Fungsi Pengkoordinasian 4. Fungsi Integrasi
5. Fungsi Pengontrolan/Pengawasan 5. Fungsi Pemeliharaan

2.5 Peranan Sumber Daya Manusia


Menurut Arifin dan Fauzi (2007) peranan manajemen sumberdaya
manusia adalah mengatur dan menetapkan program kepegawaian yang meliputi
hal-hal sebagai berikut:
1.      Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang sesuai
dengan kebutuhan perusahaan.
2.      Melakukan rekurtmen karyawan, seleksi dan penempatan pegawai sesuai
kualifikasi pegawai yang dibutuhkan perusahaan.
3.      Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi dan
pemutusan hubungan kerja.
4.       Membuat perkiraan kebutuhan pegawai di masa yang akan datang.
5.      Memperkirakan kondisi ekonomi pada umumnya dan perkembangan
perusahaan pada khususnya.
6.      Senantiasa memantau perkembangan undang-undang ketenagakerjaan dari
waktu ke waktu khususnya yang berkaitan dengan masalah gaji/upah atau
kompensasi terhadap pegawai.
7.      Memberikan kesempatan karyawan dal hal pendidikan, latihan dan penilaian
prestasi kerja karyawan.
8.      Mengatur mutasi karyawan.
9.      Mengatur pensiun, pemutusan hubungan kerja beserta perhitungan pesangon
yang menjadi hak karyawan.

7
2.6 Upaya dalam Menangani Risiko SDM
Menghadapi risiko SDM, tentu saja perusahaan harus melakukan upaya-
upaya yang efektif, upaya-upaya tersebut antara lain :
1.  Memiliki tim manajemen yang kuat
2. Menyiapkan SDM untuk suksesi
3. Melarang para eksekutif bekerja rangkap
4. Sistem insentif/penghargaan dan punishment yang efektif
5. Menyiapkan job description, job specification, performance appraisal yang
baik
6. Komunikasi yang efektif antara pimpinan dengan bawahan
7. Pelayanan kesehatan dan sistem keselamatan kerja yang memadai.

2.7 Risiko Lemahnya Sumber Daya Manusia


Risiko sumberdaya yang dikemukakan oleh tanjung (2005), bahwa dalam
kegiatan suatu usaha apabila ada resiko sumberdaya yang dihadapi maka dapat
diwaspadai oleh perusahaan tersebut dengan pengendalian unit sumberdaya
manusia menurut fungsinya serta kaitannya dengan resiko atau pelanggaran
tersebut diberikan sehingga terjadi pemberian sanksi oleh pihak perusahaan dari
pelanggar.
            Risiko ketenaga kerjaan  manajer hitt, et all (1996:289) ialah resiko
kehilangan pekerjaan, kehilangan konfensasi atau hilangnya reputasi manajerial.
Menurut Siagian (2001:25) imbalan nonfinansial bagi karyawan adalah untuk
memuaskan kebutuhan psikologis dan status karyawan. Termasuk dalam hal ini
adalah kendaran dinas pribadi, pengemudi, tempat parker khusus di pelataran
parker, makan siang atas biaya perusahaan dan sekertaris pribadi.
Menurut Umar (1998:78) “beberapa perusahaan sangat bergantung kepada
pegawai utama atau para pekerja senior atau anggota direksi. Jika para pekerja
inti/senior ingin pindah ke perusahaan pesaing maka jelas perusahaan dalam
resiko besar, seperti pemberian informasi, pencurian rencana strategis perusahaan
dan membujuk konsumen untuk pindah ke perusahaan pesaing”.

8
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa resiko
Sumberdaya manusia adalah masalah yang ditimbulkan oleh tenaga kerja
sehingga berdampak negative terhadap perusahaan. Kemungkinan kejadian risiko
yang berkaitan dengan kondisi SDM terdiri dari: kemungkinan rendahnya tingkat
kesehatan, kemungkinan tingkat kematian, dan pengaruh usia.
a.         Rendahnya Tingkat Kesehatan
          Rendahnya tingkat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sebagai
contoh tingkat kesehatan dipengaruhi oleh kondisi atau kebersihan kerja. Selain
kondisi keja, rendahnya tingkat kesehatan juga dipengaruhi oleh suasana kerja.
Kondisi kesehatan yang paling buruk adalah kalau karyawan sampai mengalami
kecelakaan sampai cacat. Semakin tinggi tingkat kecelakaan dan tingkat cacat,
semakin buruk pengelolaan SDM di perusahaan yang bersangkutan.Rendahnya
tingkat kesehatan juga bisa diindikasikan oleh akses ke pusat kesehatan. Oleh
karena itu, banyak perusahaan mengembangkan klinik untuk mempermudah
karyawan untuk mendapat perawatan. Harapannya, pengawasan dan
penanggulangan masalah kesehatan dapat dilakukan dengan cepat dan efisien.
b.        Tingkat Kematian
          Tingkat kematian SDM tidak selalu dikaitkan dengan kondisi perusahaan
tertentu. Tingkat kematian terkait dengan tingkat kesehatan secara nasional.
c.        Pengaruh Usia
          Usia SDM antara 30 sampai 45 tahun dianggap sebagai usia paling
produktif. Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan stamina dan fisik sangat
tergantung pada usia. Berbeda dengan pekerjaan yang menuntut mental,
pemikiran, dan pengalaman, justru semakin banyak usia semakin baik.
d. Sistem dan Sarana
Pemenuhan kebutuhan berdampak pada dua hal: peningkatan motivasi dan
peningkatan kepuasan. Sistem dan sarana yang berhasil meningkatkan motivasi
adalah sistem dan sarana yang bisa meningkatkan produktivitas karyawan.
Peningkatan kepuasan menyebabkan karyawan tidak mengeluh, tidak keluar kerja,
tidak mangkir, tetapi tidak diimbangi dengan peningkatan kerja. Sistem dan
sarana yang baik juga perlu untuk mendukung kelancaran pekerjaan.

9
2.8 Risiko Pekerja Inti
Risiko yang yang timbul yang ada pada bagian ini adalah jika perusahaan
atau organisasi, melakukan penyewaan atau meminta bantuan kepada organisasi
lain untuk melakukan pekerjaan intinya adalah organisasi tersebut akan
kehilangan ciri khas apa yang di hasilkan oleh organisasinya karena pekerjaan
nya terlalu banyak di lakukan oleh organisasi dari luar.
Risiko ketenagakerjaan ialah risiko kehilangan pekerjaan, kehilangan
konfensasi atau hilangnya reputasi manajerial. Menurut Siagian (2001:25)
imbalan nonfinansial bagi karyawan adalah untuk memuaskan kebutuhan
psikologis dan status karyawan. Termasuk dalam hal ini adalah kendaran dinas
pribadi, pengemudi, tempat parkir khusus di pelataran parkir, makan siang atas
biaya perusahaan dan sekertaris pribadi.
Menurut Umar beberapa perusahaan sangat bergantung kepada pegawai
utama atau para pekerja senior atau anggota direksi. Jika para pekerja inti/senior
ingin pindah ke perusahaan pesaing maka jelas perusahaan dalam risiko besar,
seperti pemberian informasi, pencurian rencana strategis perusahaan dan
membujuk konsumen untuk pindah ke perusahaan pesaing.

2.9 Risiko Kesehatan


Rendahnya tingkat kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Sebagai contoh tingkat kesehatan dipengaruhi oleh kondisi atau kebersihan kerja.
Selain kondisi kerja, rendahnya tingkat kesehatan juga dipengaruhi oleh
suasana kerja. Kondisi kesehatan yang paling buruk adalah kalau karyawan
sampai mengalami kecelakaan sampai cacat. Sem akin tinggi tingkat kecelakaan
dan tingkat cacat, semakin buruk pengelolaan SDM di perusahaan yang
bersangkutan. Rendahnya tingkat kesehatan juga bisa diindikasikan oleh akses ke
pusat kesehatan. Oleh karena itu, banyak perusahaan mengembangkan klinik
untuk mempermudah karyawan untuk mendapat perawatan. Harapannya,
pengawasan dan penanggulangan masalah kesehatan dapat dilakukan dengan
cepat dan efisien.

10
2.10 Risiko Keselamatan Kerja
Risiko keselamatan kerja pada dasarnya mencari dan mengumpulkan
kelemahan operasional yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Hal ini dapat
dilaksanakan dengan mengungkapkan sebab suatu kecelakaan atau akar
masalah, dan meneliti apakah pengendalian secara cermat dapat dilakukan
atau tidak. Kesalahan operasional yang kurang lengkap, keputusan yang tidak
tepat, salah perhitungan dan manajemen yang kurang tepat menimbulkan risiko
terjadinya kecelakaan.
1. Identifikasi Bahaya (Hazard Identification)
Identifikasi masalah adalah upaya sistemastis untuk mengetahui adanya bahaya
dalam aktivitas organisasi. Identifikasi bahaya merupakan landasan dari
manajemen risiko.
2. Penilaian Risiko (Risk Assement)
Penilaian risiko merupakan cara yang digunakan untuk mengelola dengan baik
risiko yang dihadapi oleh pekerja dan memastikan bahwa keselamatan pekerja
tidak terkena risiko saat bekerja. Sistem penilaian risiko ini adalah
mengidentifikasi bahaya sehingga dapat mengambil tindakan untuk
mengendalikan, mengurangi atau menghilangkan risiko sebelum terjadi
kecelakaan yang dapat menimbulkan cedera, kerusakan dan kerugian
(Ridley,2006).
Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam
keseluruhan manajemen risiko. Pengendalian risiko berperan dalam
meminimalisir/ mengurangi tingkat risiko yang ada sampai tingkat terendah atau
sampai tingkatan yang dapat ditolerir. Cara pengendalian risiko dilakukan
melalui:
1. Eliminasi : pengendalian ini dilakukan dengan cara menghilangkan
sumber bahaya (hazard).
2. Substitusi : mengurangi risiko dari bahaya dengan cara
mengganti proses, mengganti input dengan yang lebih rendah risikonya.
3. Engineering : mengurangi risiko dari bahaya dengan metode rekayasa
teknik pada alat, mesin, infrastruktur, lingkungan, dan atau bangunan.

11
4. Administratif : mengurangi risiko bahaya dengan cera melakukan
pembuatan prosedur, aturan, pemasangan rambu (safety sign), tanda peringatan,
training dan seleksi terhadap kontraktor, material serta mesin, cara pengatasan,
penyimpanan dan pelabelan.
5. Alat Pelindung Diri : mengurangi risiko bahaya dengan cara
menggunakan alat perlindungan diri misalnya safety helmet,masker, sepatu
safety, coverall, kacamata keselamatan, dan alat pelindung diri lainnya yang
sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan.

2. 11 Risiko Kejahatan
Menyesuaikan keamanan terhadap ancaman yaitu teknik-teknik untuk
melindungi bangunan dan barang-barang memerlukan tindakan-tindakan yang
bertahap, seperti yang dicontohkan berikut ini: Mencegah orang- orang
memasuki gedung tanpa ijin dan membuat sulit masuk, misalnya menggunakan
pagar atau kunci.
Keamanan barang-barang eceran Salah satu kerugian yang cukup besar
adalah berkurangnya barang akibat dicuri oleh karyawan sendiri. Perusahaan
dapat mengantisipasi dengan melarang karyawan menggunakan jaket dan
membawa tas di gudang dan ruangan di gudang harus dijaga.
Pencurian barang di toko oleh publik Barang-barang yang diminati
pembeli dapat mendorong mereka untuk mencurinya. Hendaknya toko dirancang
aman dari calon pembeli yang berniat melakukan pencurian.
Peningkatan terhadap ancaman kejahatan siber (cyber crime)yang
dilakukan baik oleh negara ataupun aktor non-negara (non state actor) berdampak
terhadap terjadinya cyber warfare atau gangguan cyber (cyber violence).
Ketergantungan negara terhadap jaringan komunikasi membawa tantangan dan
ancaman tersendiri. Oleh sebab itu, dibutuhkan analisis manajemen risiko dalam
menghadapi serangan kejahatan siber (cyber crime) dengan tujuan menjaga
pertahanan dan kedaulatan NKRI dalam mewujudkan tujuan nasional.
Manajemen risiko dapat artikan sebagai serangkaian prosedur dan metodologi
yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan
mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan organisasi.

12
2.12 Risiko Kecurangan
Risiko kecurangan menurut yang dipaparkan oleh Halim (2005) adalah
unsur dari risiko murni yang dapat ditimbulkan dalam setiap usaha. Halim
mengemukakan dari kedua macam risiko yang merupakan bagian dari risiko
murni adalah merupakan dampak dari suatu usaha yang harus mendapatkan
perhatian lebih karena dalam menjaga agar tidak terjadinya risiko tersebut adalah
sangat riskan.
Banyak perusahaan mengatakan kecurangan merupakan kejadian yang
lumrah dan alamiah di perusahaan selama mental orang-orang dalam perusahaan
masih menganggap uang adalah tujuan bekerja, selain lemahnya
moral. Kecurangan dapat diketahui dengan cepat tetapi dapat juga memakan
waktu yang lama. Menurut Umar (1998:99) ada lima indikator kecurangan, yaitu:
1.        Jumlah barang secara fisik didalam gudang memperlihatkan jumlah yang
berkurang jika dibandingkan dengan yang ada di catatan atau komputer.
2.       Ada karyawan yang terlihat menjadi kaya mendadak, dimana dia beralasan
misalnya karena kekayaan itu didapat dari judi atau lotere.
3.        Karyawan yang jarang libur walaupun pada hari-hari libur resmi dimana
karyawan lain tidak ada dikantor.
4.       Bukti-bukti yang melibatkan pemasok, misalnya hanya pemasok tertentu
saja yang dilibatkan dalam suatu proyek.
5.        Bukti-bukti yang melibatkan konsumen, misalnya catatan tentang
pemberian kredit yang disamarkan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa risiko
kecurangan adalah faktor kesalahan yang sengaja dilakukan oleh orang dari diluar
maupun dari dalam perusahaan tersebut.

Pendeteksian Kecurangan
Berikut adalah gambaran secara garis besar pendeteksian kecurangan berdasar
penggolongan kecurangan oleh ACFE tersebut di atas.
1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud).
Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi
melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut:

13
a. Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis
hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan
arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase. Sebagai contoh,
adanya kenaikan persentase hutang niaga dengan total hutang dari rata-rata
28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase biaya
penjualan dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% mungkin dapat
menjadi satu dasar adanya pemeriksaan kecurangan.
b. Analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentase-persentase
perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan.
Sebagai contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% sedangkan harga
pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada perubahan
lainnya dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka hal ini dapat
menimbulkan sangkaan adanya pembelian fiktif, penggelapan, atau
transaksi illegal lainnya.
c. Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item
dalam laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, adanya
penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya
perhitungan rasio tersebut.
2. Asset Misappropriation (Penyalahgunaan aset).
Teknik untuk mendeteksi kecurangan-kecurangan kategori ini sangat
banyak variasinya. Namun, pemahaman yang tepat atas pengendalian intern yang
baik dalam pospos tersebut akan sangat membantu dalam melaksanakan
pendeteksian kecurangan. Dengan demikian, terdapat banyak sekali teknik yang
dapat dipergunakan untuk mendeteksi setiap kasus penyalahgunaan aset. Masing-
masing jenis kecurangan dapat dideteksi melalui beberapa teknik yang berbeda.
Misalnya, untuk mendeteksi kecurangan dalam pembelian ada beberapa metode
deteksi yang dapat digunakan.

Metode-metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara


kombinasi gabungan, setiap metode deteksi akan menunjukkan 11 anomalies /
gejala penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan ada

14
tidaknya kecurangan. Selain itu, metode-metode tersebut akan menunjukkan
kelemahan-kelemahan dalam pengendalian intern dan mengingatkan / memberi
peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa
mendatang.
Analytical review
Suatu review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak
biasaan atau kegiatan kegiatan yang tidak diharapkan. Sebagai contoh adalah
perbandingan antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya
yang dapat mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu
rendah bila dibandingkan dengan tingkat penjualannya. Metode analitis lainnya
adalah perbandingan pembelian persediaan bahan baku dengan tahun sekarang
yang mungkin mengindikasikan adanya kecurangan.
Site visit – observation
Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya
pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut. Observasi terhadap bagaimana
transaksi akuntansi dilaksanakan kadangkala akan memberi peringatan pada CFE
akan adanya daerah-daerah yang mempunyai potensi bermasalah Dalam banyak
kasus kecurangan, khususnya kasus pencurian dan penggelapan aset, biasanya
terdapat tiga faktor, yaitu:
a. ada satu tekanan pada seseorang, seperti kebutuhan keuangan,
b. adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan dan menyembunyikan
kecurangan yang dilakukan,
c. adanya cara pembenaran perilaku tersebut yang sesuai dengan tingkatan
integritas pelakunya.
3. Corruption (Korupsi)
Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan
kerja yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan
menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini
kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya. Pendeteksian
atas kecurangan ini dapat dilihat dari karakteristik (Red flag) si penerima maupun
si pemberi.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dalam manajemen suberdaya manusia terdapat berbagai risiko. Jika tidak
ditangani dengan baik akan berdampak negatif pada perusahaan dan akan
menghambat kinerja perusahaan dalam melakukan kegiatan usahanya. Risiko
yang timbul baik itu perusahaan besar ataupun kecil dalam sumber daya manusia
akan selalu ada. Maka dari itu perlu dilakukan pengawasan yang benar–benar
terkontrol agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, baik itu risiko yang timbul
dari pihak perusahaan maupun risiko yang timbul dari pihak luar yang tak
terduga. Dan semua itu harus diperhitungkan terlebih dahulu supaya jika suatu
saat risiko itu terjadi, maka diharapkan risiko yang terjadi tidak terlalu
berpengaruh kepada kinerja perusahaan.

3.2 Saran
Dari sisi Pegawai diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan,
pendidikan, pengalaman danketerampilan sesuai dengan fungsi kerjanya, namun
juga memiliki integritas dan etika yang tinggi agar tidak membuat
penyelewengan.
Untuk Perusahaan lebih baik meningkatan keterampilan melalui program
pendidikan dan latihan yang berkesinambungan yang nantinya dapat mendapatkan
pegawai yang cukup cakap.Selain itu, melakukan penyaringan penerimaan
pegawai secara teliti, dengan perencanaan yang memadai, akan memudahkan
perusahaan mengetahui beberapa orang karyawan, dan dimana posisinya serta
persyaratan apa yang dibutuhkan perusahaan sehingga nantinya akan mendapakan
bibit-bibit yang baik untuk menempati jabatan didalam perusahaan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Darmawi, Herman. 1990. Manajemen Risiko, Rajawali Pers. Jakarta.

Arifin, Johar dan A. Fauzi. 2007. Aplikasi Excel dalam Aspek Kuantitatif


Manajemen Sumberdaya Manusia, PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.

Sadikin, 2002. Pengantar Bisnis, Edisi 1, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

17

Anda mungkin juga menyukai