Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

Seorang pasien wanita umur 30 tahun, datang di RSGMP dengan keluhan utama adanya
sakit serta adanya pembengkakan pada region gigi molar pertama kiri rahang bawah sejak 1
bulan yang lalu. Pasien pernah mendapatkan perawatan pada gigi tersebut di RSGMP setahun
yang lalu. Pada pemeriksaan klinis didapatkan pembengkakan pada sulcus gingiva, Periodontal
probing pada daerah furkasi : grade II. Pemeriksaan radiografis : Nampak post pada saluran akar
distal dan adanya radiolusen pada daerah furkasi. Data rekam medis : Pasien telah mendapatkan
perawatan saluran akar gigi dan pemasangan pasak sementasi dan core, crown. Pasien minta agar
giginya dirawat lebih lanjut.

Berdasarkan pemeriksaan subyektif, objektif dan radiografis, serta riwayat sudah


dilakukan perawatan saluran akar, dapat ditentukan diagnose gigi tersebut adalah previsiously
treated teeth. Nekrosis pulpa atau kematian jaringan pulpa adalah kondisi irreversibel yang
ditandai dengan dekstruksi jaringan pulpa. Berdasarkan pemeriksaan, terdapat pembengkakan
pad sulkus gingival, periodontal probing pada furkasi grade II serta adanya gambaran radiolusen
pada daerah furkasi mengindikasikan adanya lesi periodontal. Berdasarkan klasifikasinya, kasus
tersebut termasuk Lesi endodontik primer dengan lesi periodontal sekunder.

Terdapat beberapa etiologi yang menyebabkan kegagalan perawatan endodontik,


diantaranya adalah kesalahaan iatrogenik seperti cavity access yang kurang baik, saluran akar
yang tidak dilakukan perawatan dengan baik (saluran akar mayor maupun saluran akar asesoris),
saluran akar yang tidak dibersihkan dengan adekuat, dan pengisian yang kurang baik, komplikasi
dari instrumentasi seperti ledge, perforasi atau instrument yang patah dan overfilling obturasi.
Pada beberapa kasus, retreatment endodontik perlu dilakukan oleh karena adanya perforasi akar.
Perforasi akar dapat terjadi oleh karena resorbsi atau karies, kesalahan iatrogenik saat melakukan
preparasi saluran akar (zip, strip, perforasi bifurkasi), atau perforasi saat dilakukan preparasi
pasak. Prognosis perawatan tergantung dari lokasi perforasi, waktu, kemampuan untuk menutup
kembali perforasi, dan adanya kontaminasi bakteri. Penutupan yang dilakukan terlambat, akan
menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium, menyebabkan terjadinya lesi endo perio dan
sulit untuk dilakukan perbaikan.
Berdasarkan anatominya terdapat hubungan antara jaringan periodontal dengan pulpa
gigi melalui foramen apikal, tubulus dentin, saluran akar lateral atau aksesoris. Foramen apikal
berperan sebagai rute langsung antara hubungan pulpa dengan jaringan periodonsium karean
produk bakteri dan inflamasi pada saluran akar dapat keluar dan meyebabkan patosis
periradikular, kebalikannya jika infeksi dari periodonsium membuat poket periodontal yang
dalam bakteri juga dapat menginvasi gigi melalui foramen apikalis. Pulpa yang terbuka,
periodontitis, karies merupakan penyebab penting terjadinya perkembangan lesi endo perio.
Selain itu, lesi yang terjadi juga dapat disebabkan oleh faktor iatrogenik berupa perforasi karena
rotary instrument atau handling yang tidak tepat dalam penggunaan instrumen endodontic.
Beberapa tanda dan symptom lesi endo-perio yaitu adanya pembengkakan dan perdarahan gusi
yang menandakan gingivitis dengan poket yang dalam serta adanya pus, foto radiografi
menunjukkan adanya kehilangan tulang. Hal ini sesuai dengan gambaran pada kasus tersebut yag
menunjukkan adanya kehilangan tulang pada daerah furkasi.

Lesi endo perio dapat disebabkan beberapa hal, seperti Susunan gigi yang kurang baik,
memicu trauma, memicu food impaction dan atau trauma oklusal, Anatomi foramen apikal,
tubulus dentinalis, saluran akar lateral atau aksesori,Perforasi, oleh lesi karies, resorpsi, atau
kesalahan operator (iatrogenic). Hal tersebut dapat dikaitkan dengan kasus scenario yang
menunjukkan ada bercak kemerahan pada paper point yang artinya terdapat perforasi.

Keterlibatan furkasi merupakan penyulit perawatan endodontik yang melbatkan jaringan


periodontal. Ada beberapa tahapan keterlibatan furkasi. Pada kasus diatas, termasuk keterlibatan
furkasi grade II, yaitu kerusakan tulang terjadi pada satu aspek atau lebih dari furkasi, tetapi
tulang alveolar dan ligament periodontal masih intak yang menyebabkan Ketika probe
dimasukan hanya Sebagian yang bisa masuk. Gambaran radiograf bisa terlihat atau tidak terlihat.

Pada kasus lesi endodontik primer, perawatan endodontic dengan melakukan perawatan
saluran akar saja telah terbukti dapat mengatasi lesi yang berlangsung. Sebuah tinjauan
menunjukkan setelah 4-6 bulan post-perawatan terjadi penyembuhan pada poket periodontal dan
tulang sekitarnya. Perawatan pertama pada kasus dengan keterlibatan periodontal sekunder
adalah dengan terapi endodontik yang harus dievaluasi dalam 2-3 bulan, kemudian baru
dilakukan perawatan periodontal. Rangkaian perawatan ini mampu memberikan waktu yang
cukup untuk terjadinya penyembuhan awal dan penilaian yang lebih baik bagi jaringan
periodontal. Perawatan endodontik saja tidak mampu menuntaskan lesi endodontik primer
dengan keterlibatan periodontal sekunder apabila tidak dilakukan perawatan jaringan
periodonsiumnya.

Berdasarkan uraian tersebut, rencana perawatan yang dapat diberikan pada pasien adalah
untuk lesi endo primernya dilakukan non surgical retreatment dan diiringi oleh initial terapi
periodontal dengan Scaling dan root planning gigi 36. Scaling dan root planning bukan
merupakan suatu prosedur yang terpisah. Setelah dilakukan perawatan ini terjadi perubahan
dalam mikrobiota yang disertai dengan berkurangnya atau hilangnya peradangan klinis. Pada
saat retreatment juga dilakukan penutupan daerah perforasi menggunakan bahan MTA. MTA
memiliki kemampuan menutup dengan baik bahkan dalam keadaan lembab sekalipun. MTA
sangat biocompatible dan merupakan pilihan yang baik untuk penutupan perforasi akar. Lalu
dilakukan evaluasi 2-3 bulan.

Apabila evaluasi menunjukkan penyembuhan, maka perawatan selesai. Namun apabila


masih didapatkan lesi, maka harus mempertimbangkan alternatif perawatan. Perawatan alternatif
terdiri dari pendekatan reseksi atau regeneratif. Teknik reseksi berfokus pada menghilangkan
akar atau gigi yang sakit; upaya regeneratif ditujukan untuk memulihkan struktur biologis yang
hilang. Pembedahan periodontal, dalam bentuk pembedahan poket, prosedur ressective dan
regenerative, diperlukan untuk poket yang lebih dalam dan defek tulang.

Pembentukan kembali tabel oklusal dan restorasi mahkota klinis yang tepat sangat
penting, dan permukaan akar harus direkontour, sehingga mencegah pembentukan potensi
terjebaknya makanan. Untuk itu, restorasi akhir yang dapat dipilih adalah restorasi indirect yaitu
pasak fiber dan crown dengan bahan PFM. Pemberian pasak dilakukan untuk menambah retensi
mahkota pada gigi pasca perawatan endodontic. Pasak fiber dipilih karena memiliki modulus
elastisitas menyerupai dentin sehingga dapat mendistribusikan tekanan ke sepanjang pasak dan
diseluruh akar, sehingga mengurangi resiko fraktur. Porcelain fused to metal crown adalah
restorasi yang terdiri dari mahkota logam tuang penuh yang di veneer dengan lapisan dari
porselen agar menyerupai penampilan gigi asli. Bahan ini dipilih karena harganya yang lebih
murah. Selain itu bahan ini memiliki 2 keuntungan, yaitu kekuatan yang baik dari material logam
dan estetik yang baik dari bahan porcelain, meskipun tidak seestetik bahan zirconia atau emax.
Namun pada kasus ini dirasa cukup untuk gigi posterior yang tidak terlalu mengutamakan estetik
dan menyesuaikan dengan kondisi social ekonomi pasien.

Anda mungkin juga menyukai