Anda di halaman 1dari 11

CLINICAL SCIENCE SESSION

GEJALA KLINIS TUMOR INTRAKRANIAL

Oleh :
Akhmad Ahdiyat Budianto
0318011002

Preceptor :
dr. Adyananto, Sp.BS.

SMF BEDAH
RSUD dr H. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
MARET – 2011
GEJALA KLINIS TUMOR INTRAKRANIAL

Pembagian Tumor Intrakranial Secara Sederhana

Proses neoplastik di susunan saraf dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan asalnya,
yaitu : (1) neoplasma sarafi primer dan (2) non-sarafi atau metastatik. Neoplasma sarafi primer
ada kecenderungan untuk berkembang di tempat-tempat tertentu. Misalnya ependioma hampir
selamanya berlokasi di dekat dinding ventrikel atau kanalis sentralis medulla spinalis. Selain itu,
jenis neoplasma sarafi mempunyai kecenderungan untuk berkembang pada umur tertentu.
Contohnya adalah neoplasma serebelar yang lebih banyak ditemui pada anak-anak daripada
orang dewasa. Neoplasma sarafi primer juga tidak mempunyai kecenderungan utnuk
bermetastasis di luar susunan saraf
Disi lain, jenis neoplasma metastatik di dalam ruang kranium kebanyakan sesuai dengan
neoplasma dari bronkus dan prostat pada pria serta mammae pada wanita. Hal lain yang kontras
dari neoplasma sarafi primer adalah bahwa neoplasma metastatik lebih umum pada orang
dewasa daripada anak-anak.
Hal penting yang perlu diingat ketika mempelajari tumor intrakranial adalah bahwa
pembagian tumor ke dalam tumor benigna dan maligna tidak berlaku secara mutlak. Hal ini
dikarenakan tumor benigna secara histologik dapat menduduki tempat yang strategis, sehingga
dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang singkat. Misalnya suatu pinealoma, yang
benigna secara histologi, dapat menyumbat aquaductus dan dalam waktu singkat dapat
menyebabkan tekanan intrakranium meninggi secara drastis.

Gejala Klinis Tumor Intrakranial Terhadap Sistem Saraf Pusat


Gejala klinik pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu :
A. Gejala umum
B. Gejala lokal
C. Gejala lokal yang menyesatkan (False lokalizing features)

2
A. GEJALA UMUM
Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi
difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental,
kejang, nyeri kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas)
menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada lobus
temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat
besar tanpa menyebabkan defisit neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan gejala-
gejala yang umum. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih
sering memberikan gejala fokal dulu baru kemudian memberikan gejala umum. (4,9)

Tumor intrakranium pada umumnya dapat menyebabkan :


1. Gangguan kesadaran akibat tekanan intrakranium yang meninggi
Gangguan kesadaran akibat peningkatan tekana intrakranium dapat berakhir
hingga koma. Tekanan intrakranium yang meninggi dapat mnyebabkan ruang tengkorak
yang tertutup terdesak dan dapat pula menyebabkan perdarahan setempat. Selain itu,
jaringan otak sendiri akan bereaksi dengan menimbulkan edema, yang berkembang
karena penimbunan katabolit di sekitar jaringan neoplasmatik. Stasis dapat pula terjadi
karena penekanan pada vena dan disusuk dengan terjadi edema.
Pada umumnya tumor di fosa kranium posterior lebih cepat menimbulkan gejala-
gejala yang mencerminkan tekanan intrakranium yang meninggi. Hal ini mungkin
disebabkan karena aliran CSF pada aquaductus yang berpusat di fosa kranium posterior
dapat tersebumbat sehingga tekanan dapat meninggi dengan cepat.

Fenomena peningkatan tekanan intrakranium dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :


a. Sindroma unkus atau sindroma kompresi diansefalon ke lateral
Proses desak pertama kali terjadi pada bagian lateral dari fosa kranium medial dan
biasanya mendesak tepi medial unkus dan girus hipokampus ke arah garis tengah dan
ke kolong tepi bebas daun tentorium. Karena desakan itu, bukan diansefalon yang
pertama kali mengalami gangguan, melainkan bagian ventral nervus okulomotoris.
Akibatnya, pada awalnya akan kan terjadi dilatasi pupil kontralateral barulah disusul
dengan gangguan kesadaran. Biasanya, setelah ini akan terjadi herniasi tentorial,
yaitu keadaan terjepitnya diansefalon oleh tentorium. Pupil yang melebar merupakan
cerminan dari terjepitnya nervus okulomotoris oleh arteri serebeli superior. Pada

3
tahap berkembangnya paralisis okulomotoris, kesadaran akan menurun secara
progresif.

b. Sindroma kompresi sentral rostro-kaudal terhadap batang otak


Suatu tumor supratentorial akan mendesak ruang supratentorial dan secara
berangsur-angsur akan menimbulkan kompresi ke bagian rostral batang otak. Tanda
bahwa suatu tumor supratentorial mulai menggangu diansefalon biasanya berupa
gangguan perangai. Yang pertama-tama terjadi adalah keluhan cepat lupa, tidak bisa
berkonsentrasi dan tidak bisa mengingat.
Pada tahap dini, kompresi rostro-kaudal terhadap batang otak akan menyebabkan :
− Respirasi yang kurang teratur
− Pupil kedua sisi sempit sekali
− Kedua bola mata bergerak perlahan-lahan ke samping kiri dan kanan
− Gejala-gejala UMN pada kedua sisi
Pada tahap kompresi rostro-kaudal yang lebih berat, akan terjadi :
− Kesadaran menurun sampai derajat paling rendah
− Suhu badan mulai meningkat dan cenderung untuk melonjak terus
− Respirasi cepat dan bersuara mendengkur
− Pupil yang tadinya sempit berangsur-angsur melebar dan tidak lagi bereaksi
terhadap sinar cahaya

c. Herniasi serebelum di foramen magnum


Herniasi ini akan menyebabkan jiratan pada medula oblongata. Gejala-gejala
gangguan pupil, pernafasan, okuler dan tekanan darah berikut nadi yang menandakan
gangguan pada medula oblongata, pons, ataupun mesensefalon akan terjadi.

2. Gejala-gejala umum tekanan intrakranium yang tinggi


Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi
difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental,
kejang, nyeri kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas)
menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada
lobus temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang
sangat besar tanpa menyebabkan defisit neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan

4
gejala-gejala yang umum. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan
oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dulu baru kemudian memberikan gejala
umum. (4,9)
a. Sakit kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga
sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik.
Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala
ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian
frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher. (4,9,10)
Sakit kepala merupakan gejala umum yang dirasakan pada tumor intrakranium. Sifat
dari sakit kepala itu adalah nyeri berdenyut-denyut atau rasa penuh di kepala seolah-
olah mau meledak. Nyerinya paling hebat di pagi hari, karena selama tidur malam
PCO2 arteri serebral meningkat sehingga mengakibatkan peningkatan dari CBF dan
dengan demikian meningkatkan lagi tekanan intrakranium. Lokalisasai nyeri yang
unilateral akan sesuai dengan lokasi tumornya.
Pada penderita yang tumor serebrinnya belum meluas, mungkin saja sakit kepala
belum dirasakan. Misalnya, glioma pada tahap dini dapat mendekam di otak tanpa
menimbulkan gejala apapun. Sebaliknya, astrositoma derajat 1 sekalipun dapat
berefek buruk jika menduduki daerah yang penting, misalnya daerah bicara motorik
Brocca.
Neoplasma di garis tengah fosa kranium posterior (tumor infratentorial) dapat
dengan cepat menekan saluran CSS. Karena itu, sakit kepala akan terasa sejak awal
dan untuk waktu yang lama tidak menunjukkan gejala defisit neurologik. Tumor
infratentorial yang berlokasi di samping (unilateral) cepat menimbulkan gejala defisit
neurologik akibat pergeseran atau atau desakan terhadap batang otak. Maka dari itu,
tuli sesisi, vertigo, ataksia, neuralgia trigeminus, oftalmoplegia (paralisis otot-otot
mata) dan paresis (paralisis ringan) perifer fasialis dapat ditemukan pada
pemeriksaan.
Definisi “sakit kepala” dan “pusing” harus dapat dibedakan dengan jelas. Pusing
kepala biasanya disebabkan oleh oftalmoplegia (yang menimbulkan diplopia).
Kombinasi pusing kepala ataupun sakit kepala dan diplopia harus menimbulkan
kecurigaan terhadapa adanya tumor serebri, terutama tumor serebri infratentorial.

5
b. Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor
tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi
dan malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah
kecurigaan adanya massa intrakranial. (4,8,9)
Muntah sering timbul pada pagi hari setelah bangun tidur. Hal ini disebabkan oleh
tekanan intrakranium yang meninggi selama tidur malam, di mana PCO2 serebral
meningkat. Sifat muntah dari penderita dengan tekanan intrakranium meninggi
adalah khas, yaitu proyektil atau muncrat yang tanpa didahului mual.

c. Kejang fokal
Kejang dapat timbul sebagai gejala dari tekanan intrakranium yang melonjak secara
cepat, terutama sebagai gejala dari glioblastoma multiform. Kejang tonik biasanya
timbul pada tumor di fosa kranium posterior.

d. Gangguan mental
Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan
berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus
frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat
menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma. (4,9,10)
Tumor di sebagian besar otak dapat mengakibatkan gangguan mental, misalnya
demensia, apatia, gangguan watak dan serta gangguan intelegensi dan psikosis.
Gangguan emosi juga akan terjadi terutama jika tumor tersebut mendesak sistem
limbik (khususnya amigdala dan girus cinguli) karena sistem limbik merupakan
pusat pengatur emosi.

e. Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik
neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak
menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang
berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan
pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap. (4,8,9)

f. Seizure

6
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma,
oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus
frontal baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal. (4,9,10)

B. GEJALA KLINIK LOKAL

Gejala lokal terjadi pada tumor yeng menyebabkan destruksi parenkim, infark atau
edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya : peroksidase,
ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin), semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal
yang reversibel. (4,9)
1. Tumor di lobus frontalis / kortikal
Sakit kepala akan muncul pada tahap awal, sedangkan muntah dan papiludema
akan timbul pada tahap lanjutan. Walaupun gangguan mental dapat terjadi akibat tumor
di bagian otak manapun, namun terutama terjadi akibat tumor di bagian frontalis dan
korpus kalosum. Akan terjadi kemunduran intelegensi, ditandai dengan gejala
“Witzelsucht”, yaitu suka menceritakan lelucon-lelucon yang sering diulang-ulang dan
disajikan sebagai bahan tertawaan, yang bermutu rendah.
Kejang adversif (kejang tonik fokal) merupakan simptom lain dari tumor di
bagian posterior lobus frontalis, di sekitar daerah premotorik. Tumor di lobus frontalis
juga dapat menyebabkan refleks memegang dan anosmia.
Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis
post-iktal. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan
dengan kejang. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri, kelumpuhan kontralateral,
dan afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi. Anosmia unilateral menunjukkan adanya
tumor bulbus olfaktorius. (4,9)

2. Tumor di daerah presentralis


Tumor di daerah presentralis akan merangsang derah motorik sehingga
menimbulkan kejang pada sisi kontralateral sebagai gejala dini. Bila tumor di daerah
presentral sudah menimbulkan destruksi strukturil, maka gejalanya berupa hemiparesis
kontralateral. Jika tumor bertumbuh di daerah falk serebri setinggi daerah presentralis,
maka paparesis inferior akan dijumpai.

3. Tumor di lobus temporalis

7
Bila lobus temporalis kanan yang diduduki, gejala klinis kurang menonjol.
Kecuali, bila daerah unkus terkena, akan timbul serangan “uncinate fit” pada epilepsi.
Kemudian akan terjadi gangguan pada funsgi penciuman serta halusinasi auditorik dan
afasia sensorik. Hal ini logis bila dikaitkan dengan fungsi unkus sebagai pusat penciuman
dan lobus temporalis sebagai pusat pendengaran.
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal
kontralateral, defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian, disfungsi
memori dan kejang parsial kompleks.

4. Tumor di lobus parietalis


Tumor pada lobus parietalis dapat merangsang daerah sensorik. Jika tumor sudah
menimbulkan destruksi strukturil, maka segala macam perasa pada daerah tubuh
kontralateral yang bersangkutan tidak dapat dikenali dan dirasakan. Han ini akan
menimbulkan astereognosia dan ataksia sensorik. Bila bagian dalam parietalis yang
terkena, maka akan timbul gejala yang disebut “thalamic over-reaction”, yaitu reaksi
yang berlebihan terhadap rangsang protopatik. Selain itu, dapat terjadi lesi yang
menyebabkan terputusnya optic radiation sehingga dapat timbul hemianopsia.
Daerah posterior dari lobus parietalis yang berdampingan dengan lobus
temporalis dan lobus oksipitalis merupakan daerah penting bagi keutuhan fungsi luhur
sehingga destruksi pada daerah tersebut akan menyebabkan agnosia (hilangnya
kemampuan untuk mengenali rangsang sensorik) dan afasia sensorik, serta apraksia
(kegagalan untuk melakukan gerakan-gerakan yang bertujuan walaupun tidak ada
gangguan sensorik dan motorik).
Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan
berkurangnya konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun
gejala yang lain diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/
quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris. (4,9)

5. Tumor pada lobus oksipitalis


Tumor pada lobus ini jarang ditemui. Bila ada, maka gejala yang muncul biasanya
adalah sakit kepala di daerah oksiput. Kemudian dapat disusul dengan gangguan medan
penglihatan.

8
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang
kongruen. Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral
episodik terhadap cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri.

6. Tumor pada korpus kalosum


Simdroma pada korpus kalosum meliputi gangguan mental, terutama menjadi
cepat lupa sehingga melupakan sakit kepala yang baru dialami dan mereda. Demensia
uga akan sering timbul dosertai kejang tergantung pada lokasi dan luar tumor yang
menduduki korpus kalosum.

7. Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal


Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau
aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat meningkatkan
tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks,
muntah dan kadang-kadang pingsan. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan,
diabetes insipidus, amenorea, galaktorea dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu.
(4,9)

8. Tumor Batang Otak


Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang,
nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat
menyebabkan hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum. (4,9)

9. Tumor Serebellar
Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering
ditemukan pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin menonjol. (4,9)

C. GEJALA LOKAL YANG MENYESATKAN (FALSE LOCALIZING FEATURES)


Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor
yang sebenarnya. Sering disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial, pergeseran dari
struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Kelumpuhan nervus VI berkembang ketika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan kompresi saraf. Tumor lobus frontal
yang difus atau tumor pada korpus kallosum menyebabkan ataksia (frontal ataksia). (9)

9
Secara umum, tanda-tanda fisik yang dapat didiagnosis pada tumor intrakranium :
1. Papiledema (edema pada discus opticus) dapat timbul akibat tekanan intrakranium yang
meninggi atauapun karena penekanan pada nervus optikus secara langsung. Papil akan
terlihat berwarna merah tua dan ada perdarahan di sekitarnya. Untuk melihat
papiledemea, dapat dilakukan funduskopi atau oftalmoskopi. Karena ruang subarachnoid
pada otak berlanjut hingga medula spinalis, maka peningkatan tekanan intrakranial juga
akan tercermin pada ruang subarachnoid di medula spinalis. Pada kedaan demikian,
pungsi lumbal tidak boleh dilakukan dapat menyebabkan herniasi serebelum di foramen
magnus yang dapat mengkahiri kehidupan.
2. Pada anak-anak, tekanan intrakranium yang meningkat dapat menyebabkan ukuran
kepala membesar atau terenggannya sutura
3. Tekanan intrakranium yang meninggi mengakibatkan iskemi dan gangguan pada pusat-
pusat vasomorotik serebral, sehingga menimbulkan bradikardi (melambatnya denyut
jantung) atau tekanan darah sistemik meningkat secara progresif
4. Irama dan frekuensi pernapasan berubah. Kompresi pada batang otak dari luar akan
mempercepat pernafasan, sedangkan kompresi sentral rostro-kaudal terhadap batang otak
menyebabkan pernafasan yang lambat namun dalam.
5. Bagian-bagian dari tulang tengkorak dapat mengalami destruksi. Penipisan tulang
biasanya disebabkan meningioma yang bulat, sedangkan penebalan tulang sebagai akibat
rangsang dari meningioma yang gepeng.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Informasi tentang Tumor Otak dalam http://www.medicastore.com dikutip tanggal 13


November 2004
2. Adams and Victors, Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Manual of
Neurology edisi 7, McGraw Hill, New York, 2002 : 258 – 263
3. Adams and Victors, Intracranial Neoplasms and Paraneoplastic Disorders in Principles of
Neurology edisi 7, McGraw Hill, New York, 2001 : 676 – 721
4. Syaiful Saanin, dr, Tumor Intrakranial dalam http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/
Pendahuluan.html, dikutip tanggal 13 November 2004
5. Harsono, Tumor Otak dalam Buku Ajar Neurologi Klinis edisi I, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta, 1999 : 201 – 207
6. What you need to Know about Brain Tumor at http://www.cancer.gov
7. Mahar, M., Proses Neoplasmatik di Susunan Saraf dalam Neurologi Klinis Dasar edisi 5,
Dian Rakyat, Jakarta, 2000 : 390 – 402
8. Meyer, J.S., Gilroy J., Tumors of the Central Nervous System in Medical Neurology edisi 2,
McMillan Publishing C. Inc, New York, 1995 : 611 – 629
9. Bradley, Walter G., Neuro-Oncology in Pocket Companion to Neurology in Clinical Practice
edisi 3, Butterworth, Boston 2000 : 239 – 267
10. Howard L.W., Lawrence P. L., Malignancy and the Nervous System in Neurology edisi 5,
Williams & Wilkins, Philadelphia, : 139 – 142
11. Facts About Brain Tumors at http://www.braintumor.org, dikutip tanggal 13 November 2004
12. John R.M., Howard K.W, A ,B, Cs of Brain Tumors — From Their Biology to Their
Treatments at http://www.brain-surgery.com, dikutip tanggal 13 November 2004
13. Sidharta P. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. PT Dian Rakyat : Jakarta; 1979, p.41-
43.
14. Sidharta P, Mardjono M. Neurologi Klinis Dasar. PT Dian Rakyat: Jakarta; 1978, p.377-389.

11