Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM 3

APLIKASI ANALISIS EPIDIMIOLOGI LANJUT-1

ANALISIS STRATIFIKASI

KELOMPOK 5:

ALEK (2006504591)
KHOLISOTUL HIKMAH (2006504686)
TIFFANY NURACHMANIA (2006610451)

PROGRAM STUDI EPIDEMIOLOGI


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

Pembahasan :
1. Penelitian kasus kontrol tentang hubungan kasus malaria yang dikaitkan dengan
pekerja yg menginap di hutan. Apakah umur, gender, pendidikan, menggunakan
repelen (rpelen), obat nyamuk (obatnymk), kelambu (klambu) dan perindukan
(perinduk) merupakan confounder pada hubungan menginap di hutan dan kejadian
malaria? Jelaskan.
Jawab:
a. Umur
Tabel 01. Kasus Malaria Inap di Hutan Berdasarkan Umur

Umur OR 95% Conf. Interval M-H Weight


15-34 4.8 1,72 14.15 2.06
>=35 2.14 0.89 5.20 4.08
Crude 3.06 1.60 5.90
M-H Combined 3.03 1.65 5.55
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 1.63
PR>Chi 2 0.20

¿adj −¿ crude 3.03−3.05 0.02


Discrepancy∨¿ = = =0.006=0.6 %
¿ adj 3.03 3.03
Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.05;
sedangkan setelah di-adjust berdasarkan umur menjadi 3.03. Perbedaan antara
crude dan adjusted estimate <10%, maka umur bukan confounder pada
hubungan kasus malaria akibat menginap di hutan.
b. Jenis kelamin
Tabel 02. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Gender
Jenis Kelamin OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Perempuan 2.5 0.25 23.8 0.67
Laki Laki 3.02 1.51 6.13 5.39
Crude 3.05 1.60 5.90
M-H Combined 2.97 1.61 5.47
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 0.04
PR>Chi 2 0.84

¿adj −¿ crude 2.97−3.05 0.08


Discrepancy∨¿ = = =0.026=2.6 %
¿ adj 2.97 2.97

Halaman 1 dari 8 | AAEL-1


TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.057;


sedangkan setelah di-adjust berdasarkan jenis kelamin menjadi 2.970. Beda OR
crude dan adjusted M-H <10%, sehingga jenis kelamin bukan confounder pada
hubungan kasus malaria akibat menginap di hutan.
c. Pendidikan
Tabel 03. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Pendidikan Responden
Pendidikan
OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Responden
>= SLTA 8 0.85 101.67 0.37
<=SLTP 2.7 1.36 5.44 5.74
Crude 3.05 1.60 5.90
M-H Combined 3.02 1.64 5.54
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 1.06
PR>Chi 2 0.30

¿adj −¿ crude 3.02−3.05 0.03


Discrepancy∨¿ = = =0.009=0.9 %
¿ adj 3.02 3.02
Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.05;
sedangkan setelah di-adjust berdasarkan pendidikan menjadi 3.02. Beda OR
crude dan adjusted M-H <10%, sehingga pendidikan bukan confounder pada
hubungan kasus malaria akibat menginap di hutan.
d. Penggunaan repelen

Tabel 04. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Penggunaan Repelen

Penggunaan
OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Repelen

Menggunakan
3.17 1.45 7.10 4.20
Repelen
Tidak
Menggunakan 3.12 0.81 12.1 1.53
Repelen
Crude 3.05 1.60 5.90
M-H Combined 3.15 1.69 5.87
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 0.00
PR>Chi 2 0.98

Halaman 2 dari 8 | AAEL-1


TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

¿adj −¿ crude 3.15−3.05 0.102


Discrepancy∨¿ = = =0.031=3.1 %
¿ adj 3.15 3.159
Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.05;
sedangkan setelah di-adjust berdasarkan repelen menjadi 3.15. Beda OR crude
dan adjusted M-H <10%, sehingga repelen bukan confounder pada hubungan
kasus malaria akibat menginap di hutan.
e. Penggunaan obat nyamuk

Tabel 05. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Penggunaan Obat


Nyamuk
Penggunaan Obat
OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Nyamuk
Menggunakan
- 1.07 - 0
Obat Nyamuk
Tidak
Menggunakan - 0 - 0
Obat Nyamuk
Crude 3.05 1.60 5.90
M-H Combined - - -
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) -
PR>Chi 2 -

Nilai OR pada masing-masing stratum-specific dan adjusted M-H tidak muncul


pada output, sehingga tidak bisa menyimpulkan apakah obat nyamuk sebagai
confounder/bukan.
f. Kelambu

Tabel 06. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Penggunan Kelambu


Penggunaan
OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Kelambu
Menggunakan
- - - 0
Kelambu
Tidak
Menggunakan 1.47 0.47 4.40 3.14
Kelambu
Crude 3.05 1.60 5.9

Halaman 3 dari 8 | AAEL-1


TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

M-H Combined 1.47 0.54 3.97


Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 0.00
PR>Chi 2 1

¿adj −¿ crude 1.47−3.05 1.58


Discrepancy∨¿ = = =0.39=39 %
¿ adj 1.47 3.97
Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.057;
sedangkan setelah di-adjust berdasarkan kelambu menjadi 1.47. Beda OR crude
dan adjusted M-H >10%, sehingga kelambu menjadi confounder pada
hubungan kasus malaria akibat menginap di hutan.
g. Keberadaan perindukan nyamuk

Tabel 07. Kasus Malaria Inap di Hutan berdasarkan Perindukan Nyamuk

Perindukan
OR 95% Confidence Interval M-H Weight
Nyamuk
Tidak ada
PErindukan 7.05 1.30 46.83 0.59
Nyamuk

Ada Perindukan
1.21 0.53 2.73 6.28
Nyamuk

Crude 3.05 1.60 5.90


M-H Combined 1.71 0.89 3.29
Test of Homogeneity (M-H)
Chi2(1) 4.32
PR>Chi 2 0.03

¿adj −¿ crude 1.71−3.05 1.34


Discrepancy∨¿ = = =0.783=78.3 %
¿ adj 1.71 1.71
Crude estimate hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria = 3.05;
sedangkan setelah di-adjust berdasarkan umur menjadi 1.71. Beda OR crude
dan adjusted M-H >10%, sehingga keberadaan perindukan nyamuk menjadi
confounder pada hubungan kasus malaria akibat menginap di hutan.
2. Penelitian kasus kontrol tentang hubungan kasus malaria yg dikaitkan dengan
pekerja yg menginap di hutan. Apakah umur,gender, pendidikan, menggunakan

Halaman 4 dari 8 | AAEL-1


TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

repelen (rpelen), obat nyamuk (obatnymk), kelambu (klambu) dan perindukan


(perinduk) memodifikasi hubungan menginap dihutan dan kejadian malaria?
Jelaskan.
Jawab:
a. Umur
Test of homogeneity = 0.20 > 0.10 atau homogen maka dapat disimpulkan
bahwa secara statistic, umur tidak memberikan efek modifikasi terhadap
hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria atau risiko kejadian malaria
akibat menginap di hutan sama antara kelompok umur 15-34 tahun dan ≥35
tahun.
b. Jenis kelamin
Test of homogeneity = 0.84 > 0.10 atau homogen maka dapat disimpulkan
bahwa secara statistic, jenis kelamin tidak memberikan efek modifikasi
terhadap hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria atau risiko kejadian
malaria akibat menginap di hutan sama antara laki-laki dan perempuan.
c. Pendidikan
Test of homogeneity = 0.30 > 0.10 atau homogen maka dapat disimpulkan
tingkat pendidikan responden tidak memberikan efek modifikasi terhadap
hubungan menginap di hutan dan kejadian malaria atau risiko kejadian malaria
akibat menginap di hutan sama antara responden berpendidikan <SLTP dan
≥SLTP.
d. Penggunaan repelen
Test of homogeneity = 0.98 > 0.10 atau homogen maka dapat disimpulkan
repelen tidak memberikan efek modifikasi terhadap hubungan menginap di
hutan dan kejadian malaria atau risiko kejadian malaria akibat menginap di
hutan sama antara yang menggunakan dan tidak menggunakan repelen.
e. Penggunaan obat nyamuk
Tidak muncul hasil test of homogeneity dan stratum-specific pada output,
sehingga tidak dapat disimpulkan obat nyamuk berperan sebagai modifier atau
bukan.
f. Penggunaan kelambu

Halaman 5 dari 8 | AAEL-1


TUGAS MATA KULIAH – APLIKASI
ANALISIS EPIDEMIOLOGI LANJUT 1
AAEL Rabu, 10.00 – 12.30 | PHS1803021B
Prof.drg.Nurhayati Adnan, M.Sc.,Sc.D

Test of homogeneity = 1 > 0.10 atau homogen maka dapat disimpulkan


kelambu tidak memberikan efek modifikasi terhadap hubungan menginap di
hutan dan kejadian malaria atau risiko kejadian malaria akibat menginap di
hutan sama antara yang menggunakan dan tidak menggunakan kelambu.
g. Keberadaan perindukan nyamuk
Test of homogeneity = 0.03 < 0.10; maka dapat disimpulkan ada efek
modifikasi dari perindukan terhadap hubungan menginap di hutan dan kejadian
malaria atau perindukan berperan sebagai modifier.

Halaman 6 dari 8 | AAEL-1