Anda di halaman 1dari 4
BAB fv" SASTRA PARWA A. Adiparwa Karya ini merupakan suatu ulasan dalam bentuk prosa mengenai
BAB fv"
SASTRA PARWA
A. Adiparwa
Karya ini merupakan suatu ulasan dalam bentuk prosa mengenai Kitab pertama dari
syair Mahabharata, dan seperti prototipenya, dapat dipandang terdiri atas dua bagian
tersendiri' Bagian peftama menyajikan kerangka gunamenembangkan epos Bharata, ialah
t
cerita mengenai korban yang atas perintah raja Janamejaya dipersembahkan sebagai
suatu sarana magis guna memusnahkan para naga (6-60).'? Bagian kedua berisi silsilah
para PaDdawa dan Korawa, kelahiran dan masa muda mereka sampai pernikahan Arjuna
dengan Subadra (60-214). Bagian pertama menyajikan juga sejumlah legenda yang dalam
satra di kemudian hari menjadi sangat populer, maka dari itu pantaslah juga dimasukkan
ke dalam peneliUan ini.
Alkisah, raja janamejaya, putra Parikgit, cucu Abhimanyu dan buyut Arjuna, memberi
perintah kepada para pendeta istana untuk mempersiapkan upacara persembahan korban
yang meriah, yang akan dipimpin oleh Uttangka, seorang brahmin. Brahrnin ini pernah
dirampas sepasang subangnya oleh raja naga, Talgaka; biarpun ia berhasil
menemukannya kembali, namun ia tetap menyimpan rasa dendam terhadap naga itu.
Itulah sebabnya ia menjelaskan kepada raja, bahwa selaku seorang tcsatriya raja
berkewajiban membalas kematian ayahnya, Parikgit, yang tewas akibat gigitan naga yang
sama itu, si Tatgaka' Upacara magis yang menyertai korban agung itu, ditujukan kepada
semua naga dan akan membunuh Tatgaka dan semua jenis naga (g_17). Atas
peftanyaan, Uttangka mencei'itakan peristirra raja Parik;it yang se,rvalcu berburu di hutan
berjumpa dengan seorang brahmin yang sedang bertapa-brata. Karena raja tidak
menerima jawaban dari brahmin itu yang telah berkaul untuk tidak berbicara, maka
meluaplah amarah sang raja yang melilitkan seekor ular yang telah mati di sekeliling leher
sang tapa. Tetapi oleh anak brahmin itu raja Parikgit dikutuk: dalam waktu tujuh hari ia
akan mati karena digigit oleh Tattaka raja para ular itu. Raja yang telah maklum akan
bahaya yang akan menimpanya, menolak untuk mengusahakan kutukan balasan, tetapi
mengambil segala tindakan untuk menangkis bahaya itu. Namun Tagaka menyamar
sebagai seekor ulat dalam buah jambu yang dihidangkan kepada raja, lalu melukai raja
dengan gigitan mautnya (48-53).
101
Riwayat para naga yang mendahului peristiwa tadi, dibahas dengan panjang lebar. Mereka diturunkan oleh Kadru,
Riwayat para naga yang
mendahului peristiwa tadi, dibahas dengan panjang lebar.
Mereka diturunkan oleh Kadru, salah
seorang di antara 29 isteri KaEyapa, seorang bija(
sedangkan winat6, seorang isteri lain,
melahirkan burung Garuda. Antara kedua isteri itu
timbul perselisihan mengenai warna kuda
UccaihSrawa, yang muncur bersama air amfta
ketika samudera purba diaduk. Masing-masing
pendapatnya' dan akhirnya mereka mengdakan
wanita dengan gigih mempertahankan
suatu pertaruhan: yang terbukti karah
akan menjadi hamba yang lain. oleh anak-anaknya,
para naga itu, Kadru diberitahu
bahwa ia salah' tetapi ia mengajak mereka untuk mengubah
warna Uccaihsrawa dengan
bisa mereka dan dengan cara yang licik itu ia memenangkan
pertaruhan. winat- yang
telah dijadikan seorang hamba, memerintahkan garuda, anaknya, untuk
menengok naga-
naga yang licik itu (31-37). Ia diberitahu, bahwa ia dapat membebaskan
ibunya
bila
ia
mengusahakan bagi para naga air amfta itu yang kini dimiliki para dewa. Di bawah
pimpinan
Batara Indra, para dewa dengan sia-sia berusaha melindungi harata karun
itu,
tetapi Garuda
ternyata lebih kuat dan dapat merebut air amrtaitu. Namun ia mengijinkan
wisnu meminta
sesuatu darpadanya dan alhasil ia menjadi kendaraan dewa wisnu. Air
amtta telah diberikan
kepada para naga sebagai tebusan, direbut kembali oleh para dewa
dengan sebuah akal (37_45).
Dalam pada itu para
naga menjadi sadar akan bahaya yang menimpa mereka dari
pihak raja Janamejaya leawt
upacara korbannya; mereka mohon bantuan kepada Brahma
yang memberitahukan kepada
mereka, bahwa mereka akan diselamatkan oleh seorang
brahmin yang bernama Astika
(46-48)- Adapun Astira itu anak seorang brahmin yang
bernama Jaratkaru, sedangkan
ibunya seekor ular, anak raja para ular Bdsuk i (23-29).
Ketika upacara korban itu dimulai,
daianglah pa!'a naga dan ular dari semua penjuru;
mereka tidak mampu benahan terhadap
kesaktr'an mantara-mantra dan jatuh ke dalam
api korban' Ketika itulah Astika muncul dan
berhasil membujuk hati sang raja dengan
rayuan-rayuannya' sehingga ia diperbolehkan
mengucapkan suatu permohonan ,ung
brahmin dan mengakhiri upacara korban, biarpun
belum selesai. Ini terjadi tepat ketika
Tatgaka sudah tertarik oleh kesaktian mantra-mantra
itu dan melayang-layang di atas api,
tidak lebih jauh dari sebatang tombak jaraknya (54_5g).
Sementara upacara korban naga itu dilaksanakan, cerita Maha-bha-rata
yang
digubah
oleh pendeta Bydsa, didendangkan oleh muridnya waisampayana. Awal cerita ini duraikan
dalam bagian kedua Adiparwa. cerita ini diawali cjengan kisah beberapa leluhur pandawa
t02
dan Korawa: kelahiran Byasa atau (Krsna) Dwaipdyana ("yang dilahirkan di sebuah pulau'), anak seorang brahmin
dan Korawa: kelahiran Byasa atau (Krsna) Dwaipdyana ("yang dilahirkan di sebuah
pulau'), anak seorang brahmin yang bernama Para6ara dan Durgandhini (60-63); kisah
mengenai Sakuntala dan anaknya Bharata (65-72); kelahiran Dewabrata, anak raja
Santanu dan dewi Gangg6-, yang bersumpah untuk tidak kawin (sumpah ini menimbulkan
ketakutan pada setiap katriya, sehingga ia juga disebut Bhigma) agar ayahnya dapat
menikahi Gandhawati (nama lain buat Durgandhini); sebagai syarat isteri ini menuntut
agar keturunannya dapat menjadi ahli waris kerajaannya (88-97). Dewabrata (Bhigma)
berhasil memenangkan suatu lomba memanah dan memperoleh ketiga puteri r{a KdSi,
yaitu AmbE, Ambikd dan AmbalikS. Dengan sia-sia Ambd membujuk Dewabrata untuk
mempersuntingnya, biarpun ia telah bersumpah; tanpa disengaja ia terluka oleh panah
Dewabrata dan ia meninggal setelah meramalkan, bahwa ia akan menjelma kembali dan
akan membunuhnya juga (98-102). Kedua adiknya diperisteri oleh kedua anak laki-laki
Santanu, Citrd-nggada dan Citrar,virya. Sesudah kedua pangeran itu meninggal tanpa
keturunan, maka Byasa, sang bijak itu, memperoleh seorang putera dari Ambika yang
diberi nama Dhrtarasastra, tetapi ia dilahirkan buta; dari Ambilika seorang putera lain
yang bernama Pandu, dan akhirnya dari seorang hamba putera ketiga, Widura (103-107).
Dhytarastra yang mengawini Gandharl yang melahirkannya seratus anak laki-laki (
yang sulung dinamakan Duryodhana) dan satu orang puteri; mereka biasanya dikenal
dengan nama para Korawa (keturunan dari Kuru). Pandu menikahi Kuntl dan Madri. yang
pertama memiliki sebuah mantra yang memungkinkannya memanggil setiap dewa yang
disukainya untuk memperoleh seorang anak laki-laki dari dewa itu. Dengan jalan ini ia
memperoleh seorang anak laki-laki dari dewa S[rya, yaitu Karna, yang ditempatkannya
dalam sei.ruah keranjang dekat sungai sebelum ia kawin dengan Pandu. Karna ditemukan
dan diangkat sebagai anak oieh Acihirata, seorang sais dan isterinya RacjhT. pandu
teftimpa kemarahan seorang brahmin yang mengutuknya: ia akan mati setelah
mengadakan persetubuhan. Tetapi dengan dibantu oleh mantranya, Kunti melahirkan tiga
putera baginya, yaitu Yudhistira dari dewa Dharma, Bhlma atau Wrkodara dari dewa angin
Bayu dan Arjuna dari Indra. Mddrl pernah diperbolehkan memakai mantra itu dan
memanggil kedua A5win, sehingga ia melahirkan sepasang anak kembar, Nakula dan
Sahadewa. Tak lama kemudian Pandu, meninggal, karena tidak mengindahkan kutukan
itu (109-124).
103
Anak-anak Dhrtarastra, yaitu para Korawa besefta saudara sepupu mereka' para panciawa, diasuh bersama-sama di kraton
Anak-anak Dhrtarastra, yaitu para Korawa besefta saudara sepupu mereka' para panciawa, diasuh bersama-sama di kraton
Anak-anak Dhrtarastra, yaitu para Korawa besefta saudara sepupu mereka' para
panciawa, diasuh bersama-sama di kraton Hastina (Gajdhwaya), tempat kediaman sang
raja buta, oleh Bhisma dan Drona. Antara kedua kelompok itu terdapat persaingan dan
bahkan dari pihak Korawa permusuhan. Pendidikan mereka dalam mempergunakan
senjata-senjata dibulatkan dengan suatu pertandingan; Karna pun hadir dan ambil bagian'
para Pdndawa tidak mengakui hak seorang anak sais untuk ambil bagian' Para Pandawa
tidak mengakui hak seorang anak sais untuk ambil bagian dalam suatu pertandingan;
tetapi di tempat itu juga Karna diangkat oleh Duryodhana sebagai raja Angga (126-135)'
Para Korawa tak henti-hentinya mencoba merebut nyawa para Pandawa tetapi gagal
mencapai tujuannya, ketika para Pandawa lolos dari sebuah rumah di pedalaman sebelum
itu dibakar. Dalam pengembaraan Bh]ma membunuh seorang raksasa yang bernama
Hidimba dan mengawini adiknya Hidimbi yang melahirkan seorang putera, ialah
Gatctkaca. Negara Ekacakra tempat para Pdndawa mencari perlindungan menderita
karena dikuasai oleh seorang raksasa yang bernama Baka; Bhlma berhasil
menewaskannya juga (136-151). Dengan menyamar sebagbi sejumlah brahmin, para
pandawa turut sebu ah swayambara (pertandingan untuk merebut seorang puteri raja)
yang diadakan oleh raja Drupada; Arjuna berhasil merebut puteri raja Drupada' Dropadl'
yang kemudian menjadi isteri kelima bersaudara itu (151-187).
Biarpun ditentang oleh Duryodhana yang terdorong oleh rasa bencinya ingin
membinasakan para pandawa seberum mereka menjadi kuat, raja Dhrtarastra memanggil
kembali dan memberikan kepada Yudhistlra kekuasaan terhadap separuh kerajaannya
dengan mengangkatnya sebagai raja di Indraprastha. Antara kelima saudara itu dengan
ticak disengaja terjadi perselisihan mengenai giliran mereka nnenemani Dropadi usaKu
malam. Arjuna memilih mengembara sampai dua belas tahun; dalam kurun waftu iiu ia
berhasil merebut SubhadrS, adik baladewa dan Krsna, dalam sebuah swayambara yang
diselenggarakan baginya. Dari subhadra Arjuna memperoleh seorang anak laki-laki'
Abhimanyu. Masing-masing pandawa mempunyai keturunan laki-laki dari Dropadi (188-
205). Adiparwaditamatkan dengan cerita mengenai api di hutan Khandawa; Krsna dan
Arjuna membantu dewa Agni dalam tugas pemusnahannya (205-214)'
104