Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan

beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau

fitohormon. Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan analogi fungsi

hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan

dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan

istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen,

dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan

pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon

eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan

istilah zat pengatur tumbuh (bahasa Inggris plant growth regulator).

Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan

berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya

hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu,

sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang

evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan

diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.

Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu

peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetis

yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat

pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil (seperti

1
penggunaan cycocel untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap lingkungan

yang kurang mendukung), memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas

produk (misalnya dalam teknologi semangka tanpa biji), atau menyeragamkan

waktu berbunga (misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman

pembungaan tanaman buah musiman), untuk menyebut beberapa contohnya.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari uraian diatas adalah:

a. Apa yang dimkasud dengan giberelin ?

b. Bagaimana sejarah hormone giberelin?

c. Bagaimana efek giberelin dan  bagi pertumbuhan tanaman?

d. Bagaimana biosintesis giberelin ?

e. Bagaimana karakteristik kimia giberelin?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:


a. Untuk mengetahui pengertian giberelin.

b. Untuk mengetahui sejarah hormone giberelin.

c. Untuk mengetahui efek giberelin dan  bagi pertumbuhan tanaman.

d. Untuk mengetahui biosintesis giberelin.

e. Untuk mengetahui karakteristik kimia giberelin.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HORMON

Zat pengatur tumbuh tanaman yang dihasilkan oleh tanaman disebut

fitohormon, sedangkan yang sintetik disebut zat pengatur tumbuh tanaman

sintetik. Hormon tanaman didefinisikan sebagai senyawa organik bukan nutrisi

yang aktif dalam jumlah kecil yang disintesiskan pada bagian tertentu dari

tanaman dan pada umumnya diangkut ke bagian lain tanaman dimana zat tersebut

menimbulkan tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.

Menurut definisi tersebut hormon tanaman harus memenuhi beberapa

syarat berikut, yaitu : (1) senyawa organik yang dihasilkan oleh tanaman sendiri,

(2) harus dapat ditraslokasikan, (3) tempat sintesis dan kerja berbeda, (4) aktif

dalam konsentrasi rendah. Dengan batasan-batasan tersebut vitamin dan gula tidak

termasuk dalam hormon. Dikenal 5 golongan fitohormon yaitu auksin, giberelin,

sitokinin, asam absisat dan etilen.

Pada umumnya, hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan

tumbuhan, dengan mempengaruhi pembelahan sel, perpanjangan sel, dan

diferensiasi sel. Suatu hormon tidak hanya berperan atau bekerja dalam satu

macam proses fisiologi, namun kadang-kadang dalam pengaturan berbagai proses.

Setiap hormon mempunyai efek ganda tergantung pada tempat kegiatannya,

konsentrasinya dan stadia perkembangan tumbuhannya. Hormon tumbuhan,

diproduksi dalam konsentrasi rendah, tetapi sejumlah kecil hormon dapat

3
membuat efek yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ

suatu tumbuhan

B. PENGERTIAN HORMON GIBERELIN

Dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan  hormon merupakan

factor internal yang berpengaruh dalam kelangsungan hidup suatu tumbuhan.

giberelin merupakan turunan ent-giberelin. Giberelin (GA)

merupakan hormon yang dapat ditemukan pada hampir semua seluruh siklus

hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi perkecambahan biji, batang

perpanjangan, induksi bunga, pengembangan anter, perkembangan biji dan

pertumbuhan pericarp. Selain itu, hormon ini juga berperan dalam respon

menanggapi rangsang dari melalui regulasi fisiologis berkaitan dengan

mekanisme biosntesis GA.

Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu

giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara

biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan

perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan,

perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih. Hingga tahun 2008 terdapat

lebih lebih dari seratus GA telah diidentifikasi dari tanaman dan hanya sejumlah

kecil dari mereka, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi sebagai bioaktif

hormon. Giberelin pertama kali dikenal pada tahun 1926 oleh seorang ilmuwan

Jepang, Eiichi Kurosawa, yang meneliti tentang penyakit padi "bakanae". Hormon

4
ini pertama kali diisolasi pada tahun 1935 oleh Teijiro Yabuta, dari strain jamur

(Gibberella fujikuroi) oleh Kurosawa Yabuta disebut isolat giberelin.

C. SEJARAH PENEMUAN HORMON GIBERELIN

Giberelin pertama kali ditemukan pada tahun 1926 oleh seorang ahli

penyakit tanaman dari jepang bernama E. Kurosawa. Hormon ini diisolasi dari

jamur Gibberella fujikuroi yang merupakan parasit dari tanaman padi. Tanaman

tersebut sering tak mampu menopang dirinya sendiri dan akhirnya mati karena

kelemahan ini dan kerusakan oleh parasit. Sejak Tanya penyakit tahun 1890-an

orang Jepang menyebutnya penyakit bakanae (kecambah tolol). Pada tahun 1926,

beberapa ahli patologi tumbuhan mendapatkan bahwa ekstrak cendawan tersebut

yang disemprotkan ke tanaman padi menimbulkan gejala yang sama dengan

endawan itu sendir. Hal itu menunjukkan bahwa bahan kimia tertentu

menimbulkan penyakit tersebut .

Pada tahun 1930-an, T yabuta dan T hayasi memisahkan satu senyawa

aktif dari cendawan tersebut, yang mereka namakan giberelin. Hingga tahun 1990

telah ditemukan 84 jenis giberelin pada berbagai jenis cendawan dan tumbuhan.

dari jumlah itu, 73 jenis berasal dari tumbuhan tingkat tinggi, 25 jenis

daricendawan giberella dan 14 dari keduannya. Hormon giberelin secara alami

terdapat pada bagian tertentu tumbuhan yaitu pada buah dan biji saat

berkecambah. Giberelin pertama kali ditemukan pada tumbuhan sejenis jamur

Giberella fujikuroi (Fusarium moniliformae) oleh F.Kurusawa, seorang

berkebangsaan Jepang di tahun 1930-an. Ketika itu, ia sedang mengamati

penyakit Banane pada tumbuhan padi. Padi yang terserang oleh sejenis jamur

5
memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga batangnya mudah patah. Jamur ini

kemudian diberi nama Gibberella fujikuroi yang menyekresikan zat kimia

bernama giberelin.

Giberelin ini kemudian diteliti lebih lanjut dan diketahui banyak berperan

dalam pembentukan bunga, buah, serta pemanjangan sel tumbuhan. Kubis yang

diberi hormon giberelin dengan konsentrasi tinggi, akan mengalami pemanjangan

batang yang mencolok.

D. KARAKTERISTIK KIMIA GIBERELIN

Giberelin termasuk senyawa isoprenoid dan merupakan diterpen yang

disintesis dari unit-unit asetat yang berasal dari asetil-KoA melalui jalur asam

mevalonat senyawa isoprene  memiliki 5 atom karbon (C). Unit-unit isoprene ini

dapat bergabung menghasilkan monoterpene (C-10), sesqueterpene (C-15),

diterpene (C-20), dan triterpene (C-30). 

Gambar. Struktur GA3

Semua molekul giberelin mengandung ‘Gibban Skeleton’. Giberelin

dapat dikelompokkan mejadi dua kelompok berdasarkan jumlah atom C, yaitu

yang mengandung 19 atom C dan 20 atom C. Sedangkan berdasarkan posisi

gugus hidroksil dapat dibedakan menjadi gugus hidroksil yang berada di atom C

6
nomor 3 dan nomor 13. Penelitian lebih lanjut juga menemukan beberapa

senyawa lain yang memiliki fungsi seperti giberelin tetapi tidak memiliki ‘Gibban

Skeleton’. Semua giberelin dengan 19 atom adalah asam monokarbosiklik yang

mengandung grup COOH pada posisi 7 dan mempunyai sebuah laktonering. 

Gambar. Struktur Ent-Gibberellane (gibban skeleton)

Giberelin merupakan hormon yang berfungsi sinergis (bekerja sama)

dengan hormon auksin. Giberelin berpengaruh terhadap perkembangan dan

perkecambahan embrio. Giberelin akan merangsang pembentukan enzim amilase.

Enzim tersebut berperan memecah senyawa amilum yang terdapat pada

endosperm (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa merupakan

sumber energi pertumbuhan. Apabila giberelin diberikan pada tumbuhan kerdil,

tumbuhan akan tumbuh normal kembali.

E. PERANAN HORMON GIBERELIN

Hormon gibberellins hampir bisa ditemukan di seluruh bagian tanaman ,

baik akar, batang, daun, bunga maupun buah. Fungsi giberelin pada tanaman

sangat banyak dan tergantung pada jenis giberelin yang ada di dalam tanaman

7
tersebut. Beberapa proses fisiologi yang dirangsang oleh giberelin antara lain

adalah seperti di bawah ini :

a. Bersama dengan auksin merangsang pembelahan dan pemanjangan sel

b. Merangsang pertumbuhan batang dan daun.

c. Menghilangkan sifat kerdil tanaman.

d. Pada konsentrasi tinggi , merangsang pertumbuhan akar.

e. Merangsang pembentukan bunga pada tanaman hari panjang (long day plant ).

f. Merangsang perkecambahan serbuk sari dari peertumbuhan buluh serbuk sari.

g. Mmenghambat pertumbuhan akar adventif.

h. Mematahkan dormansi sebagian besar jenis biji.

i. Breaks dormansi benih di beberapa tanaman yang memerlukan stratifikasi atau

cahaya untuk menginduksi perkecambahan.

j. Merangsang produksi enzim (a-amilase) di germinating butir serealia untuk

mobilisasi cadangan benih.

k. Menginduksi maleness di bunga dioecious (ekspresi seksual).

l. Dapat menyebabkan parthenocarpic (tanpa biji) pengembangan buah.

m. Dapatkah penundaan penuaan dalam daun dan buah jeruk.

n. Peran Giberelin pada Perkecambahan.

 Pembungaan

Peranan giberelin terhadap pembungaan telah dibuktikan oleh banyak

penelitian. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Henny (1981), pemberian

GA3 pada tanaman Spathiphyllum mauna. Ternyata pemberian GA3

meningkatkan pembungaan setelah beberapa minggu perlakuan.

8
 Genetik Dwarsfism

Genetik Dwarsfism adalah suatu gejala kerdil yang disebabkan oleh

adanya mutasi genetik. Penyemprotan giberelin pada tanaman yang kerdil bisa

mengubah tanaman kerdil menjadi tinggi. Sel-sel pada tanaman keril mengalami

perpanjangan (elongation) karena pengaruh giberelin. Giberelin mendukung

perkembangan dinding sel menjadi memanjang. Penelitian lain juga menemukan

bahwa pemberian giberelin merangsang pembentukan enzim proteolitik yang akan

membebaskan tryptophan (senyawa asal auksin). Hal ini menjelaskan fonomena

peningkatan kandungan auksik karena pemberian giberelin.

 Pematangan Buah

Proses pematangan ditandai dengan perubahan tektur, warna, rasa dan

aroma. Pemberian giberelin dapat memperlambat pematangan buah. Beberapa

penelitian menunjukkan bahwa aplikasi giberelin pada buah tomat dapat

memperlambat pematangan buah. Pengaruh ini juga terlihat pada buah pisang

matang yang diberi aplikasi giberelin.

 Perkecambahan

Biji/benih tanaman terdiri dari embrio dan endosperm. Di dalam

endoperm terdapat pati yang dikelilingi oleh lapisan yang dinamakan ‘aleuron’.

Pertumbuhan embrio tergantung pada ketersediaan nutrisi untuk tumbuh.

Giberelin meningkatkan/merangsang aktivitas enzim amilase yang akan merubah

pati menjadi gula sehingga dapat dimanfaatkan oleh embrio. Giberelin juga

berperan penting dalam perkecambahan biji pada banyak tanaman. Biji-biji yang

membutuhkan kondisi lingkungan khusus untuk berkecambah seperti suhu rendah

9
akan segera berkecambah apabila disemprot dengan giberelin. Diduga giberelin

yang terdapat di dalam biji merupakan penghubung antara isyarat lingkungan dan

proses metabolik yang menyebabkan pertumbuhan embrio. Sebagai contoh, air

yang tersedia dalam jumlah cukup akan menyebabkan embrio pada biji rumput-

rumputan mengeluarkan giberelin yang mendorong perkecambahan dengan

memanfaatkan cadangan makanan yang terdapat di dalam biji. Pada beberapa

tanaman, giberelin menunjukkan interaksi antagonis dengan ZPT lainnya

misalnya dengan asam absisat yang menyebabkan dormansi biji.

 Stimulasi aktivitas kambium dan xylem

Beberapa penelitian membuktikan bahwa aplikasi giberelin

mempengaruhi aktivitas kambium dan xylem. Pemberian giberelin memicu

terjadinya differensiasi xylem pada pucuk tanaman. Kombinasi pemberian

giberelin + auksin menunjukkan pengaruh sinergistik pada xylem. sedangkan

pemberian auksin saja tidak memberikan pengaruh pada xylem.

 Dormansi

Dormansi dapat diistilahkan sebagai masa istirahan pada tanaman. Proses

dormansi merupakan proses yang komplek dan dipengaruhi banyak faktor.

Penelitian yang dilakukan oleh Warner menunjukkan bahwa aplikasi giberelin

menstimulasi sintesis ribonuklease, amulase, dan proteasi pada endosperm biji.

Fase akhir dormansi adalah fase perkecambahan, giberelin perperan dalam fase

perkecambahan ini seperti yang telah dijelaskan di atas.

F. PENGARUH GIBERELIN TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN

10
Giberelin adalah zat tumbuh yang sifatnya sama atau menyerupai hormon

auksin, tetapi fungsi giberelin sedikit berbeda dengan auksin. Fungsi giberelin

adalah membantu pembentukan tunas/embrio, Jika embrio terkena air, embrio

menjadi aktif dan melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini memacu

aleuron untuk membuat (mensintesis) dan mengeluarkan enzim. Enzim yang

dikeluarkan antara lain: enzim α-amilase, maltase, dan enzim pemecah protein.

Menghambat perkecambahan dan pembentukan biji. Hal ini terjadi apabila

giberelin diberikan pada bunga maka buah yang terbentuk menjadi buah tanpa biji

dan sangat nyata mempengaruhi pemanjangan dan pembelahan sel. Hal itu dapat

dibuktikan pada tumbuhan kerdil, jika diberi giberelin akan tumbuh normal, jika

pada tumbuhan normal diberi giberelin akan tumbuh lebih cepat.

Fungsi hormon giberelin dapat dirangkum sebagai berikut:

• Menyebabkan tanaman berbunga sebelum waktunya.

• Menyebabkan tanaman tumbuh tinggi.

• Memacu aktivitas cambium.

• Menghasilkan buah yang tidak berbiji.

• Membantu perkecambahan biji.

Pengaruh Giberelin pada Pertumbuhan Batang. Giberelin seperti halnya

auksin memegang peranan penting dalam pertumbuhan batang, namun dapat

menyebabkan pertumbuhan batang menjadi terlalu panjang. Sebaris tanaman

jagung kerdil yang dapat dibuat supaya tumbuh seperti jagung biasa dengan

memberinya giberelin berkali-kali. Anehnya, pertumbuhan jagung biasa tidak

dapat ditingkatkan dengan giberelin.

11
Giberelin sebagai hormon tumbuh pada tanaman berpengaruh terhadap

sifat genetik (genetic dwarfism), pembungaan, penyinaran, partenokarpi,

mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan dan aspek fisiologis lainnya.

Giberelin mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel, aktivitas

kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesis protein.

Kebanyakan tanaman memberikan respon terhadap pemberian GA3 dengan

pertambahan panjang batang. Pengaruh GA3 terutama di dalam perpanjangan ruas

tanaman yang disebabkan oleh jumlah sel-sel pada ruas-ruas tersebut bertambah

besar. Peran giberelin dalam pemanjangan batang merupakan hasil dari 3 proses.

Proses pertama adalah pembelahan di daerah ujung batang. Dari hasil penelitian

Lui dan Loy (1976) menunjukkan pembelahan sel diakibatkan oleh stimulus

giberelin terhadap sel yang berada pada fase G1 agar segera memasuki fase S dan

memperpendek fase S. Proses kedua adalah giberelin memacu pertumbuhan sel

dengan cara meningkatkan hidrolilis amilum, fruktan dan sukrosa menjadi

glukosa dan  fruktosa sehingga dapat digunakan untuk respirasi yang

menghasilkan energi. Energi tersebut kemudian akan digunakan untuk

pembentukan dinding sel dan komponen-komponen sel lain sehingga proses

pembentukan sel dapat berlangsung dengan cepat. Giberelin juga menurunkan

potensial air sehingga air dapat masuk ke dalam sel dengan lebih cepat dan terjadi

pembentangan sel. Proses ketiga adalah giberelin meningkatkan plastisitas

dinding sel. Giberelin juga memenuhi kebutuhan beberapa spesies akan masa

dingin untuk menginduksi pembungaan atau agar berbunga lebih awal

12
(vernalisasi). Giberelin secara luas juga dikenal dapat mengubah ekspresi jenis

kelamin.

Biasanya fertilisasi diperlukan sebelum pertumbuhan buah dimulai tetapi

pada beberapa kasus buah berkembang meskipun dengan tidak adanya fertilisasi.

Proses tersebut dikenal sebagai partenokarpi. Partenokarpi terdiri atas dua kata

yaitu parthenos yang berarti perawan (belum dibuahi sel telurnya) dan karpos

yang berarti buah. Partenokarpi meliputi perkembangan buah tanpa penyerbukan,

kemudian diperluas semua menjadi perkembangan buah tanpa fertilisasi baik

setelah terjadinya penyerbukan maupun tanpa penyerbukan. Pertumbuhan

partenokarpi buah dipicu oleh hormon giberelin, tanaman-tanaman yang

mengalami perkembangan buah tanpa adanya fertilisasi tetapi perkembangan

buahnya di picu oleh hormon giberelin adalah tomat, apel dan buah persik. Buah

persik partenokarpi yang dihasilkan oleh pemrosesan giberelin adalah serupa

dengan buah persik normal dalam ukuran dan rasio jumlah sel terhadap ukuran

sel.

Telah banyak diuraikan giberelin dalam hubungannya dengan

partenokarpi. Hasil penelitian Barker dan Collin (1965) menunjukkan bahwa GA3

lebih efektif dalam terjadinya partenokarpi dibanding dengan auxin yang

dilakukan pada blueberry. Hasil penelitian Clore menunjukkan bahwa pencelupan

klaster anggur jenis Delaware pada saat sebelum berbunga (prebloom) dan

sesudah berbunga (post bloom) dalam larutan GA3 dapat dihasilkan 88-96% beri

yang tak berbiji. Begitu pula Delvin dan Demoranville (1967) meneliti cranberry,

dan Mdlibowska (1966) meneliti pear dengan mengaplikasikan GA3. Penggunaan

13
GA3 konsentrasi 10 ppm disemprotkan pada seluruh malai bunga tomat,

konsentrasi 25 ppm untuk tanaman terong, konsentrasi 50 ppm untuk buah

mentimun, disemprotkan langsung seluruh tanaman pada saat malai berbunga,

menghasilkan buah-buah tak berbiji.

G. BIOSINTESIS HORMON GIBERELIN

Giberelin adalah senyawa organik yang sangat penting dalam proses

perkecambahan suatu biji karena bersifat pengontrol perkecambahan. Giberelin

dibutuhkan untuk pembebasan α-amilase yang menghasilkan hidrolisis tepung dan

perkecambahan. Adapun respon positif terhadap giberelin terjadi dalam kisaran

konsentrasi yang luas, bahkan kandungan giberelin yang tinggi tidak bersifat

racun. Penggunaan giberelin dapat mempengaruhi besarnya organ tanaman

melalui proses pembelahan dan pembesaran sel. Keutamaan sintesis goberelin

pada tanaman tingkat tinggi adalah meristematik daun,akar dan

perkecambahan. Giberelin sebagai zat pengatur tumbuh pada tanaman sangat

perbengaruh sifat genetik, perkecambahan dan aspek fisiologis lainnya. Selain itu

giberelin mempunyai peranan dalam mendukung pembentukan RNA baru serta

sintesa protein.

Giberelin aktif untuk merangsang perkembangan sel serta dapat

meningkatkan hasil tanaman. Perendaman giberelin selain menambah tinggi

tanaman juga menambah luas daun yang berarti terdapat peninggatan aktivitas

fotosintesa. Biosintesis Giberelin Acid terutama berlangsung dalam tunas, daun

14
dan akar. Salah satu efek fisiologis dari giberelin adalah mendorong aktivitas dari

enzim-enzim hidrolotik pada proses perkecambahan biji-biji serelia. Hal ini mula-

mula datang dari observasi perubahan-perubahan kimia yang terjadi pada biji jelai

selama proses malting (perubahan pati ke gula). Pada proses ini biji jelai itu

menghisap air dan biji mulai berkecambah. Pada proses perkecambahan ini pati di

ubah menjadi gula. Biji jelai yang mulai berkecambah ini dikenal sebagai malt

yang dipakai untuk menumbuhkan ragi yang kemudian merubah gula menjadi

alkohol. 

Giberelin menginisiasi sintesa amilase, enzim pencerna, dalam sel-sel

auleron, lapisan sel-sel paling luar endosperm. Giberelin juga terlibat dalam

pengaktifan sintesa protase dan enzim-enzim hidrolitik lainnya. Senyawa-senyawa

gula dan asam amino, zat-zat dapat larut yang dihasilkan oleh aktivitas amilase

dan protase ditranspor ke embrio, dan zat-zat ini mendukung perkembangan

embrio dan munculnya kecambah. Aktifnya enzim α-amilase akan semakin

meningkatkan perombakan karbohidrat menjadi gula reduksi. Gula reduksi

tersebut sebagian akan digunakan sebagai respirasi dan sebagian lagi translokasi

ke titik-titik tumbuh penyusunan senyawa baru. Proses respirasi tersebut sangat

penting karena respirasi akan menghasilkan energi yang selanjutnya digunakan

untuk proses-proses metabolisme benih.

H. METABOLISME GIBERELIN

Giberelin adalah senyawa isoprenoid,khususnya berupa di terpen yang di

sintesis dari unit asetad asetil Koenzim A melalui lintasan  asam mevalonat yaitu

senyawa 20-karbon, bertindak sebagai donor bagi semua atom karbon  pada

15
giberelin. Senyawa itu di ubah menjadi kapalilpiro fosfat   yang memiliki system

2 cincin.dan  senyawa terahir tersebut kemudian di ubah menjadi kauren yang

mempunyai system Empat cincin.perubahan kauren lebih lanjut di sepanjang

lintasan meliputi oksidasi yang terjadi di retikulum endosplasma, menghasilkan

senyawa antara kaurenol(jenis alkohol), kaurenal (jenis aldehid) dan asam

kaurenoad setiap senyawa teroksidasi lebih lanjut.

Senyawa pertama dengan system cincin gibrelin yang sejati adalah

aldehit GA12 suatu molekul 20-karbon . Dari senyawa itu terbentuk giberelin 20-

karbon dan giberelin 19-karbon , barangkali terdapat di ER juga . Aldehid-GA12

terbentuk dengan cara menerobos salah satu karbon cincin B pada asam kaurenoat

dan mengerutkan cincin tersebut. Semua tumbuhan mungkin menggunakan reaksi

yang sama dalam membentuk aldehit- GA12 tapi dari titik ini dalam

lintasan,spesies yang berdeda menggunakan paling sedikit 3 lintasan yang berbeda

untuk membentuk giberelin yang berbeda.Tapi pada umumnya gugus aldehid

yang meruak ke bawah dari cincin B aldehid GA12 teroksidasi menjadi gugus

karboksil yang penting untuk aktivitas biologis semua giberelin.

Umumnya giberelin 19-karbon lebih aktif dari pada giberelin 20 karbon

dan gugus yang hilang dari molekul 20-karbon adalah karbon yang menempel

antara cincin A dan cincin baldehid GA12. Karbon tersebut teroksidasi menjadi

guugus karboksil yang kemudian terlepas menjadi  karbondioksida. Pada sebagian

besar giberelin, system cincin kelima (lakton) dibentuk dari karbon 19 gugus

karboksil pada aldehid GA12 untuk menghasilkan GA9. Perubahan lainnya pada

system cincin dapat pula terjadi. Misalnya, GA1 memiliki satu gugus hidroksil

16
yang menempel pada cincin A dan satu gugus lainnya menempel diantara cincin C

dan D. Seperti yang akan diuraikan, GA1 nampaknya sangat penting bagi

pemanjangan batang.

Zat pelambat pertumbuhan tertentu yang di perdagangkan, yang

menghambat pemanjangan batang dan menyebabkan pengkerdilan, bekerja antara

lain dengan menghambat sintesis giberelin. GA3 yang lazim digunakan

tampaknya yang paling lambat terurai, namun selama pertumbuhan aktif, sebagian

besar giberelin dimetabolismekan dengan cepat melalui proses hidroksilasi,

menghasilkan produk yang tidak aktif. Giberelin dengan mudah diubah menjadi

konjugat yang sebagian besar tidak aktif. Konjugat ini mungkin disimpan atau

dipindahkan sebelum dilepaskan pada saat dan temugpat yang tepat, konjugat

yang dikenal meliputi glukosida , yang glukosanya dihubungkan dengan ikatan

eter pada salah satu gugus –OH atau dengan ikatan ester pada gugus karboksil

giberelin tersebut. Proses metabolic penting lainnya ialah perubahan giberelin

yang aktif sekali menjadi kurang aktif, misalnya tajuk cemara douglas yang

dalam responnya terhadap giberelin menunjukkan sedikit pertumbuhan vegetative,

dapat secara efektif menghidroksilasi GA4  menjadi GA34 yang jauh kurang aktif.

Bagian tumbuhan yang menghasilakan giberelin adalah organ tempat

ditemukannya giberelin tapi bisa jadi giberelin tersebut dipindahkan dari organ

lain. Organ tumbuhan yang paling tinggi adalah biji. Ekstrak-eksrak bebas sel dari

biji beberapa spesies dapat mensintesis giberelin. Hasil giberelin biji yang paling

banyak didapatkan dari hasil biosintesis.

17
Daun muda di duga menjadi tempat utama sistetis giberelin seperti

halnya auksin. Hipotesis ini sesuai dengan kenyataan bahwa jika ujung tajuk dan

daun muda di pangkas dan tumbul batangnya di beri giberelin atau auksin,

pemanjangan panjang terpacung jika di bandingkan dengan batang terpotong yang

tak di beri hormon. Daun muda memacu pemanjangan batang karena daun muda

mengirim kedua jenis hormone tersebut ke batang. Pengangkutan giberelin selain

melalui difusi, juga melalui xylem dan floem dan tidak polar. Cara giberelin di

angkut secara efektif dari daun muda untuk menghasilkan pemanjangan batang.

I. PEMACUAN PERTUMBUHAN TUMBUHAN UTUH OLEH

GIBERELIN 

Diantara hormon tumbuhan yang di kenal giberelin mempunyai

kemampuan kemammpuan khusus memecu pertumbuhan tumbuhan utuh pada

banyak spesies, terutama tumbuhan kerdil atau tumbuhan dwitahunan yang berada

dalam fase roseta.giberelin biasanya lebih banyak mendorong pemanjangan

batang utuh dari pada potongan batang sehingga efeknya berlawanan dengan  efek

auksin.

Demontrasi pemanjangan yang di sebabkan pertubuhan oleh suatu bahan larut

dalam eter yang di ekstrak  dari biji kacang kacangan,yang di lakukan petama kali

oleh Jhon W Mitchell, dan beberapa kawan nya (1957)  mereka tidak begitu yakin

tentang apa yang menyebabakan pemacuan pertumbuhan yang tidak lazim

tersebut,namun berhasil menunjukkan bahwa IAA buksnlah dengan

penyebabanya,sekarang kita mengetahui bahwa biji kacang kacangan terdapat

banyak Giberelin.

18
Sebagian besar tumbuhan dikotil dan beberapa monokotil memberikan

respons dengan cara tumbuh lebih cepat ketika di beri perlkuan giberelin,namun

beberapa spesies,dari suku pinaceae memperhatikan sedikit respons pertumbuhan

terhadap GA3 atau tidak tidakada respon sama sekali,sebaliknya tumbuhan

tersebut menunjukkan respons yang baik terhadap camputan GA4 dan GA7.

Kubis dan spesies lainnya yang berbentuk roseta artinya yang sampai

setinggi 2m  dan kemudian berbunga setelah di beri GA3 sedangkan tumbuhan

yang tidak di beri perlakuan tetap pendek dan vegetatif  tumbuhan kacang semak

pendek bisa menjadi tinngi menjalar ke atas dan mutan genetik kerdil pada

padi,jagung,dan kapri menjadi berfenotip tinggi seperti ciri farietas yang normal,

bila di beri GA3.

Semangka, mentimun air dan mentimun memanjang paling cepat dalam

responnya terhadap giberelin tanpa gugus hidrosil lkarbon 13 (GA4GA7,GA9,)

kapri meteor kerdil peka terhadap GA3 pada konsentrasi sekecil 10-9 gram (1

nano gram), sehingga pertumbuhannya sejak lama di gunakan sebagai bahan uji,

biologi giberelin. Padi kerdil (Kultivar tanginbu) bahkan menunjukkan respon

terhadap 3,5 pikogram (3.5x10-12g)  GA3.

J. MACAM-MACAM GIBERELIN

Semua giberelin yang ditemukan adalah senyawa diterpenoid. Semua

kelompok terpinoid terbentuk dari unit isoprene yang memiliki 5 atom karbon (C).

Unit-unit isoprene ini dapat bergabung menghasilkan monoterpene (C-10),

sesqueterpene (C-15), diterpene (C-20) dan triterpene (C-30). Asam diterpenoid

19
disintesis melalui jalur terpenoid dan dimodifikasi di dalam retikulum endoplasma

dan sitosol sampai menjadi senyawa yang aktif.

Semua molekul giberelin mengandung ‘Gibban Skeleton’. Giberelin

dapat dikelompokkan mejadi dua kelompok berdasarkan jumlah atom C, yaitu

yang mengandung 19 atom C dan 20 atom C. Sedangkan berdasarkan posisi

gugus hydroksil dapat dibedakan menjadi gugu hidroksil yang berada di atom C

nomor 3 dan nomor 13. Penelitian lebih lanjut juga menemukan beberapa

senyawa lain yang memiliki fungsi seperti giberelin tetapi tidak memiliki ‘Gibban

Skeleton’.

K. EFEK SAMPING BURUK GIBERELIN

Giberelin adalah salah satu jenis ZPT yang banyak beredar kios-kios

pertanian. Telah kita ketahui manfaat giberelin sangat banyak dalam dunia

pertanian. Manfaat yang paling sering kita gunakan adalah untuk mengatasi

tanaman yang kerdil dan untuk menyerempakkan pembungaan pada tanaman.

Namun Giberelin juga bisa memberikan efek yang kurang baik pada tanaman

padi. Dari beberapa fungsi Giberelin ada fungsi lain. Yaitu fungsi giberelin untuk

memperpanjang masa perkawinan padi.

Teknik ini sebenarnya dapat dari orang PT Tanindo subur prima ketika

mereka membuat benih padi hibrida. Untuk memperoleh benih padi hibrida kita

harus mengawinkan antara padi jantan dan padi betina. Namun sayangnya padi

jantan mempunyai sifat lebih cepat keluar malai dan lebih cepat menyelesaikan

masa perkawinannya.. Untuk mengatasi ini kita harus mengaplikasikan giberelin

pada padi jantan sekitar 7 - 10 ppm supaya bisa memperlama masa perkawinan.

20
Secara teori giberelin berfungsi untuk merangsang perpanjangan dan

pembelahan sel-sel tanaman. Dari kedua fungsi tersebut giberelin akan

mempunyai respon pada tanaman menunda pematangan buah alias memperlama

proses pematangan sehingga buah tidak cepat rontok. Fungsi tidak cepat

merontokkan ini yang akan kita gunakan untuk memperlama bunga jantan pada

tanaman padi bertahan pada malainya. Semakin lama tepung sari dan putik bisa

bertahan pada malai secara otomatis proses perkawinan tanaman (pembungaan)

akan semakin lama.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Zat pengatur tumbuh tanaman yang dihasilkan oleh tanaman disebut

fitohormon, sedangkan yang sintetik disebut zat pengatur tumbuh tanaman

sintetik. Giberelin (GA) merupakan hormon yang dapat ditemukan pada hampir

semua seluruh siklus hidup tanaman. Hormon ini mempengaruhi perkecambahan

biji, batang perpanjangan, induksi bunga, pengembangan anter, perkembangan biji

dan pertumbuhan pericarp. Fungsi giberelin pada tanaman sangat banyak dan

tergantung pada jenis giberelin yang ada di dalam tanaman tersebut.

B. Saran

Dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan

kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya. Dari

21
segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat

mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan

dan masukan yang bersifat membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa.2011.http://artikelterbaru.com/pendidikan/fungsi-hormon-dan-
vitamin-untuk-tumbuhan-20111107.html.

Anonymousb.2011.http://mybioma.wordpress.com/category/fisiologi-produksi-
tumbuhan.

Anonymousc.2011.http://www.scribd.com/doc/44646508/sitokinin.

Anonymousd.2011.http://budisma.web.id/kelas-xii-biologi/efek-hormon--
fisiologis-sitokinin.

Dardjat Sasmitamihardja dan Siregar A. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung :


Jurusan Biologi FMIPA IPB.

Loveless, A. R. 1991. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik


(Terjemahan : Kuswata Kartawinata, Sarkat Danimiharja dan Usep
Soetisna). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mul Mulyani Sutedjo dan Kartasapoetra, A. G.  1989. Fisiologi Tanaman 1.


Jakarta: Bumi Aksara.

Pujiyanto,Sri. 2012. Menjelajahi Dunia Biologi. Solo. Platinum.

22
Retno Wahyuningtyas. 1994. Pembentukan dan Perkembangan Buah Tanaman
Pare Pahit (Momordica charantia Linn.) dengan Perlakuan Auxin dan
Giberelin. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.

Salisbury, F.B and Ross, C.W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. (Terjemahan :
Dian R Lukman dan Sumaryono). Bandung : Penerbit ITB.

23