Anda di halaman 1dari 9

AR6141

Arsitektur Budaya dan Pembangunan


Program Studi Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

Budaya Partisipatif Dalam Masyarakat Permukiman Kumuh Kelurahan


Tamansari

Komang Tria Prabawati

 I. PENDAHULUAN
Abstrak— Kelurahan Tamansari memiliki tingkat Saat ini peran serta masyarakat dalam
kepadatan rumah yang tinggi dengan kondisi tidak pembangunan seringkali diabaikan, masih banyak
memenuhi persyaratan layak huni. Kajian tentang pihak yang tidak melibatkan masyarakat secara
permukiman kumuh yang mencakup kondisi fisiknya, optimal dalam program-program pembangunan,
kondisi sosial, ekonomi, dan budaya komunitas yang sehingga seringkali program hanya berjalan secara
bermukim diatasnya dilakukan dalam usaha untuk sementara untuk kemudian kembali pada kondisi
memperbaiki kualitas permukiman. Pemerintah telah semula. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan
berupaya untuk melakukan penataan permukiman merupakan kebutuhan dasar seperti halnya kebutuhan
kumuh melalui beberapa program, namun secara sandang, pangan, pendidikan, kesehatan dan
keseluruhan program-program yang dilaksanakan transportasi (Sumardi dan Evers, 1982) menegaskan
belum mampu menghasilkan perubahan yang bahwa partisipasi masyarakat adalah hak azasi,
signifikan. Hal ini disebabkan oleh tidak siapnya sehingga masyarakat harus diberi kesempatan untuk
budaya masyarakat permukiman kumuh dengan berpartisipasi dalam melakukan pembangunan.
perubahan yang direncanakan oleh pemerintah Kesempatan tersebut perlu diberikan karena tujuan
sehingga perbaikan kawasan tersebut hanya bertahan pembangunan adalah untuk meningkatkan taraf hidup
sementara untuk kemudian kembali pada kondisi masyarakat sesuai dengan yang mereka inginkan.
kumuh. Untuk mengantisipasi berulangnya kegagalan Masyarakat sendiri yang akan menilai dan merasakan
program-program penataan permukiman kumuh apakah pembangunan tersebut berhasil atau tidak.
tersebut perlu dilakukan pemetaan sosial untuk Maka agar tujuan pembangunan sesuai dengan yang
mengetahui karakteristik masyarakat, terutama diharapkan oleh masyarakat dan Pemerintah,
mengenai kapasitas mereka untuk ikut serta diperlukan persepsi yang sama antar individu yang
berpartisipasi dalam menerapkan program perbaikan terlibat dalam pembangunan.
lingkungannya dan terutama dalam pemeliharaan Tujuan dasar dari peranserta masyarakat adalah
lingkungan. untuk menghasilkan masukan dan persepsi yang
Dalam penelitian ini akan dilakukan pemetaan berguna dari warga negara dan masyarakat yang
sosial dari pada Kelurahan Tamansari berupa budaya berkepentingan dalam rangka meningkatkan kualitas
partisipatif masyarakat kaitannya dengan peningkatan pengambilan keputusan.
kualitas lingkungan huniannya, sehingga akan didapat Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat
gambaran tingkat partisipatif masyarakat permukiman dalam pembangunan dapat dilakukan dengan berbagai
kumuh Kelurahan Tamansari sebagai kapasitasnya pendekatan diantaranya melalui pendekatan kultural,
dalam keberhasilan program peremajaan permukiman dimana setiap usaha memperkenalkan suatu program
kumuh yang melibatkan partisipasi masyarakat. atau strategi pembangunan harus mempertimbangkan
Kata Kunci : budaya, masyarakat, permukiman kumuh,
kebudayaan yang berlaku dan dianut oleh masyarakat
partisipatif setempat sehingga diketahui strategi perkenalan yang
tepat.
Pada tulisan ini akan dibahas mengenai budaya
partisipasi masyarakat Kelurahan Tamansari dalam
upaya perbaikan kesejahteraan dan peningkatan
Komang Tria Prabawati, 25209023, whitelatern@yahoo.co.id.
kualitas lingkungan huniannya. sehingga akan didapat
gambaran tingkat partisipatif masyarakat permukiman
kumuh Kelurahan Tamansari sebagai kapasitasnya
1
dalam keberhasilan program peremajaan permukiman 2. Partisipasi adalah proses membuat masyarakat
kumuh yang melibatkan partisipasi masyarakat. menjadi lebih peka dalam rangka menerima dan
merespons berbagai proyek pembangunan.
II. KAJIAN TEORI 3. Partisipasi adalah suatu proses aktif, yang
Teori-teori yang akan digunakan dalam tulisan ini bermakna bahwa orang ataupun kelompok yang
adalah teori yang berkaitan dengan budaya dan sedang ditanyakan mengambil inisiatif dan
partisipasi masyarakat terhadap peningkatan mempunyai otonomi untuk melakukan hal itu.
kesejahteraan dan lingkungan sekitarnya. Berikut 4. Partisipasi adalah proses menjembatani dialog
dijelaskan kerangka teori dan hubungan yang terjadi antara komunitas lokal dan pihak penyelenggara
diantaranya proyek dalam rangka persiapan,
pengimplenetasian, pemantauan dan
pengevaluasian staf agar dapat memperoleh
BUDAYA informasi tentang konteks sosial maupun dampak
PERENCANAAN sosial proyek terhadap masyarakat.
PARTISIPATIF
5. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat secara
MASYARAKAT
sukarela dalam perubahan yang ditentukan sendiri
oleh masyarakat.
6. Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam
Gambar 2.1. Kerangka Teori
upaya pembangunan lingkungan, kehidupan dan
A. Definisi Budaya diri mereka sendiri.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan Partisipasi menurut Arnstein (1969) adalah
masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw bagaimana masyarakat dapat terlibat dalam perubahan
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu sosial yang memungkinkan mereka mendapatkan
yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh bagian keuntungan dari kelompok yang berpengaruh.
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Arnstein telah membuat delapan tangga partisipasi.
Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-
Determinism.
Kebudayaan adalah suatu sistem yang sifatnya
abstrak dan melingkupi Individu-individu anggota
masyarakat dan dipakai sebagai sarana interpretasi
atau referensi dalam mewujudkan tingkah laku
manusianya. Kebudayaan tersebut akan membentuk
struktur dari suatu masyarakat pada lokasi tertentu.
Menurut Bronislaw Malinowski kebudayaan yang
melekat pada masyarakat dibentuk oleh unsur-unsur
pokok yang meliputi
1. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja
sama antara para anggota masyarakat untuk
menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya.
2. Organisasi ekonomi.
3. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas- Gambar 2.1 Ladder of Participation
petugas untuk pendidikan (keluarga adalah Sumber : Sherry R Arnstein, “ A Ladder of Citizen Participation”,
lembaga pendidikan utama). Journal of the american insitute of planners, 35 (1969)
4. Organisasi kekuatan (politik).
1. Nonparticipation Untuk tangga pertama disebut
B. Partisipasi manipulasi dan tangga kedua disebut terapi.
Istilah Partisipasi menurut Mikkelsen biasanya Kategori manipulasi dan terapi ini dilakukan
digunakan di masyarakat dalam berbagai makna dalam bentuk mendidik dan mengobati. Dalam
umum, diantaranya: (2005, 53-54) tangga pertama dan kedua ini Arnstein
1. Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari menganggap itu bukan bentuk partisipasi.
masyarakat dalam suatu proyek (pembangunan), 2. Tokenism Selanjutnya, tangga ketiga,
tetapi tanpa mereka ikut terlibat dalam proses menyampaikan informasi. Tangga Keempat,
pengambilan keputusan. konsultasi dan kelima, peredaman kemarahan.
Kategori pada tangga ketiga hingga lima ini
2
disebut tingkat tokenisme. Tokenisme yaitu suatu 3. Participation by Consultation, partisipasi
tingkatan peran serta di mana masyarakat masyarakat dilakukan dalam bentuk konsultasi,
didengar dan diperkenankan berpendapat, tetapi ada pihak luar sebagai pendengar yang berusaha
mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendefinisikan permasalahan yang dihadapi
mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka masyarakat dan merumuskan solusinya. Dalam
akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. proses konsultasi ini tidak ada pembagian dalam
Jika partisipasi hanya dibatasi pada tingkat penentuan keputusan, semua dikerjakan oleh
tokenisme, maka kecil kemungkinan ada upaya pihak luar yang diberi mandat untuk mngerjakan
perubahan dalam masyarakat menuju keadaan ini.
yang lebih baik. Karena itu, masih ada kategori 4. Participation for Material Incentives, partisipasi
tangga teratas dalam tingkat kekuasaan di mana ini lebih pada masyarakat memberikan sumber
rakyat memiliki pengaruh dalam proses daya yang mereka punya seperti tenaga dan tanah,
pengambilan keputusan. Untuk tahap ini, tangga kemudian akan diganti dalam bentuk makanan,
keenam disebut kemitraan.Tangga ketujuh, uang, atau penggantian dalam bentuk materi
pendelegasian kekuasaan dan kedelapan, lainnya.
pengawasan masyarakat 5. Functional Participation, partisipasi masyarakat
3. Citizen Power pada tingkat ketujuh dan delapan, terjadi dengan membentuk kelompok-kelompok
rakyat non elit memiliki mayoritas suara dalam atau kepanitiaan yang diprakarsai/ didorong oleh
proses pengambilan keputusan bahkan sangat pihak luar.
mungkin memiliki kewenangan penuh mengelola 6. Interactive Participation, masyarakat dilibatkan
suatu objek kebijaksanaan tertentu dalam menganalisis dan perencanaan
Pada tahun 1990-an Partisipasi lebih dilihat sebagai pembangunan. Dalam tipe partisipasi ini,
kemitraan, koordinasi atau kepemilikan dari program kelompok mungkin saja dapat dibentuk bersama-
dan adanya fungsi kontrol/ kendali dari masyarakat itu sama dengan lembaga donor dan mempunyai
sendii terhadap sumber daya yang mereka miliki. Pada tugas untuk mengendalikan dan memutuskan
dekade ini mulai ada perubahan paradigma mengenai semua permasalahan yang terjadi di tingkat lokal.
apa yang disebut masyarakat, mulai ada perubahan 7. Self-Mobilization, masyarakat secara mandiri
dari penerima manfaat dari pembangunan kepada berinisiatif untuk melakukan pembangunan tanpa
pemangku kepentingan, dengan asumsi kalau ada campur tangan dari pihak luar, kalau pun ada,
masyarakat disebut sebagai penerima manfaat sifatnya peran pihak luar hanya sebatas membantu dalam
lebih pasif dibandingkan dengan masyarakat sebagai penyusunan kerangka kerja. Mereka mempunyai
pemangku kepentingan. fungsi kontrol penuh terhadap sumber daya yang
Pada tahun 2000-an Partisipasi mulai berubah yang akan digunakan untuk mencapai kesejahteraan
dahulu hanya berkisar pada lingkungan mikro saat ini masyarakatnya.
mulai merambah ke tataran makro, dengan adanya 8. Catalysing Change, Partisipasi dengan
partisipasi dalam penentuan atau pembentukan membentuk agen perubah dalam masyarakat yang
kebijakan. Mikkelsen menjelaskan tipologi partisipasi nantinya dapat mengajak atau mempengaruhi
masyarakat atau individu menjadi beberapa poin di masyarakatnya untuk melakukan perubahan.
bawah ini: 9. Optimum Participation, lebih memfokuskan pada
Tipologi Partisipasi Masyarakat atau Individu konteks dan tujuan dari pembangunan dan itu
1. Passive Participation, masyarakat berpartisipasi akan turut menetukan bentuk dari partisipasi yang
karena memang diharuskan untuk ikut serta dalam akan dipergunakan. Partisipasi akan optimal jika
proses pembangunan, tanpa ada kemampuan turut memperhatikan secara detail pada siapa yang
untuk merubah. akan berpartisipasi karena tidak semua orang
2. Participation in Information Giving, partisipasi dapat berpartisipasi, dan dengan metode ini pula
masyarakat hanya sebatas memberikan informasi dapat membantu menentukan strategi yang
yang dibutuhkan oleh perencana pembangunan optimal dalam pembangunan.
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang 10. Manipulation, ada sejumlah partisipasi namun
diajukan. Namun masyarakat tidak punya tidak memiliki kekuasaan yang nyata, masyarakat
kemampuan untuk mempengaruhi mempengaruhi membentuk suatu kelompok atau kepanitiaan
dalam pembuatan pertanyaan, dan tidak ada namun tidak memiliki kekuasaan untuk
kesempatan untuk mencek ketepatan dari hasil menentukan arah pembangunan.
penelitian yang telah dilakukan.

3
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi melakukan analisis masalah mereka, memikirkan
Masyarakat bagaimana cara mengatasinya, mendapatkan rasa
Menurut Slamet (1994: 137-143), faktor-faktor percaya diri untuk mengatasi masalah, mengambil
internal yang mempengaruhi partisipasi masyarakat keputusan sendiri tentang alternatif pemecahan
adalah : masalah apa yang ingin mereka atasi.
1. Jenis Kelamin A. Unsur Yang Berpartisipasi
Pertisipasi pria dan wanita dalam pembangunan Dalam perencanaan partisipatif, semua warga atau
berbeda. Hal ini disebabkan oleh adanya sistem kelompok dalam masyarakat pada dasarnya berhak
pelapisan sosial yang terbentuk dalam untuk berperan di dalamnya agar dapat
masyarakat, yang membedakan kedudukan dan mengungkapkan permasalahan dan kebutuhan
derajat ini, akan menimbulkan perbedaan hak dan mereka.
kewajiban antar pria dan wanita. Dengan Kemungkinan yang muncul dari perencanaan seperti
demikian kecenderungannya kelompok pria akan itu adalah adanya masyarakat yang tidak mau
lebih banyak berpartisipasi mendukung dan tidak mau berpartisipasi dalam suatu
2. Usia program atau kegiatan pembangunan. Hal ini
Usia berpengaruh pada keaktifan seseorang untuk disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut :
berpartisipasi (Slamet, 1994: 142). Dalam hal ini 1) Masyarakat tidak diikutsertakan sejak penyusunan
golongan tua yang dianggap lebih berpengalaman perencanaan.
atau senior, akan lebih banyak memberikan 2) Masyarakat kurang diberi kesempatan, peluang
pendapat dalam hal menetapkan keputusan. dan penghargaan terhadap partisipasi yang layak
3. Tingkat Pendidikan diberikannya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat 3) Pemeran atau pelaku partisipasi dicurigai akan
pengetahuan adalah tingkat pendidikan. Semakin mengambil keuntungan pada proses kegiatan
tinggi latar belakang pendidikannya, tentunya pembangunan.
mempunyai pengetahuan yang luas tentang 4) Tingkat kehidupan dan penghidupan masyarakat
pembangunan dan bentuk serta tata cara yang terbatas, sehingga tidak mampu memberikan
partisipasi yang dapat diberikan. hasil yang diharapkan dalam pelaksanaan
4. Tingkat Penghasilan pembangunan.
Bahwa penduduk yang lebih kaya kebanyakan 5) Tata nilai dan adat budaya masyarakat yang masih
membayar pengeluran tunai dan jarang melakukan perlu dibenahi.
kerja fisik sendiri. Sementara penduduk yang Oleh karenanya, dengan metode pendekatan
berpenghasilan pas-pasan akan cenderung perencanaan partisipatif, masyarakat atau kelompok
berpartisipasi dalam hal tenaga. masyarakat diberi kesempatan untuk berperan aktif
5. Pekerjaan sebagai upaya mengangkat harkat dan martabatnya.
Pekerjaan akan berpengaruh terhadap waktu luang
seseorang untuk terlibat dalam pembangunan, B. Ciri Khusus Perencanaan Partisipatif
misalnya dalam hal menghadiri pertemuan, kerja Ciri khusus perencanaan partisipatif dapat dilihat dari
bakti dan sebagainya. adanya peran serta masyarakat dalam proses
Sementara itu, faktor-faktor eksternal dapat dikatakan pembangunan desa. Adapun ciri-ciri perencanaan
sebagai pengaruh yaitu semua pihak yang partisipatif antara lain sebagai berikut :
berkepentingan dan mempunyai pengaruh terhadap 1) Adanya hubungan yang erat antara masyarakat
program yakni pemerintah dan swasta serta (LSM). dengan kelembagaan secara terus-menerus.
2) Masyarakat atau kelompok masyarakat diberi
C. Perencanaan Partisipatif kesempatan untuk menyatakan permasalahan
Perencanaan partisipatif mulai dikenal secara luas
yang dihadapi dan gagasan-gagasan sebagai
sejak munculnya metode partisipatif yang biasa
masukan berharga.
disebut Participatory Rural Appraisal. Metode ini
3) Proses berlangsungnya berdasarkan kemampuan
menekankan adanya peran serta aktif dari masyarakat warga masyarakat itu sendiri.
dalam merencanakan pembangunan (penyelesaian
4) Warga masyarakat berperan penting dalam setiap
masalah) mulai dari pengenalan wilayah,
keputusan.
pengidentifkasian masalah sampai pada penentuan
5) Warga masyarakat mendapat manfaat dari hasil
skala prioritas.
pelaksanaan perencanaan.
Secara garis besar perencanaan partisipatif Kesadaran terhadap pentingnya kedudukan
mengandung makna adanya keikutsertaan masyarakat
masyarakat dalam proses pembangunan pendidikan
dalam proses perencanaan pembangunan, mulai dari
4
dalam era globalisasi saat yang tepat ini bukan mencakup identifikasi program peningkatan
merupakan keterlambatan dalam pengambilan kesejahteraan masyarakat, identifikasi karakterisitik
keputusan untuk peluncuran strategi yang baru dan warga masyarakat Kelurahan Tamansari, serta
lebih inovatif. Bentuk konkrit dari lahirnya kesadaran partisipasi masyarakat dalam implementasi program.
adalah masyarakat yang mampu membangun dirinya
sendiri yang dapat dikembangkan melalui pendekatan A. Kondisi Masyarakat Kelurahan Taman Sari
melalui pendekatan pendidikan yang berbasis Wilayah studi penelitian, dilakukan pada Kelurahan
masyarakat yang diwujudkan dalam pembelajaran Tamansari, kelurahan ini dipilih karena merupakan
masyarakat partisipatif. kelurahan prioritas peremajaan permukiman kumuh
Pembelajaran masyarakat itu sendiri harus dan didominasi oleh penghuni liar yang mengakuisisi
ditumbuhkan karena tidaklah mungkin bak pohon lahan milik pemerintah kota dengan kondisi
berbuah tanpa ada proses penanaman. Bila diartikan infrastruktur yang sangat minim, padat dan tidak
tidak akan mungkin mayarakat mau dengan susah teratur. Mengacu pada RDTRK WP Cibeunying-
payah memikirkan kegiatan yang mungkin sulit untuk Tahun 2010, peruntukkan Kelurahan Tamansari
diselenggarakan bagi mereka tanpa memiliki sebenarnya sebagai ruang terbuka hijau kota, namun
kompetensi. Maka, sebaiknya masyarakat diberikan saat ini kawasan tersebut dipenuhi dengan perumahan
penumbuhan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran liar.
keaksaraan fungsional.
Tiga alasan utama mengapa perencanaan partisipatif Kelurahan Tamansari,
dibutuhkan, yaitu (Conyers, 1991, 154-155) Kecamatan Bandung Wetan
dan Wilayah Pengembangan
1. Alasan pertama partisipasi masyarakat merupakan Cibeunying.
suatu alat guna memperoleh informasi mengenai Kawasan wilayah studi
kondisi, kebutuhandan sikap masyarakat setempat memiliki batas-batas sebagai
yang tanpa kehadirannya program pembangunan berikut:
serta proyek-proyek akan gagal. Utara : Jl. Pelesiran
2. Alasan kedua adalah bahwa masyarakat akan Selatan : Jl.Wastukencana
Timur : Jl. Tamansari
lebih mempercayai kegiatan atau program Barat : Jl. Cihampelas
pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses
persiapan dan perencanaannya, karena mereka
akan lebih mengetahui seluk beluk program
tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki
terhadap program tersebut.
3. Alasan ketiga adalah karena timbul anggapan
bahwa merupakan suatu hak demokrasi bila
masyarakat dilibatkan dalam proses Gambar 3.2 Kawasan Wilayah Studi
pembangunan.
III. ANALISIS BUDAYA PARTISIPATIF Secara umum Kondisi Kependudukan masyarakat
MASYARAKAT KELURAHAN TAMANSARI
Tamansari sebagai berikut: memiliki tingkat
penghasilan yang rendah. Sebanyak 77,3% penduduk
memiliki penghasilan di bawah UMR ,Selain itu
jumlah pengangguran cukup tinggi yaitu sebesar
24,4%. Sebanyak 40,9% masyarakatnya tidak
memiliki tempat tinggal sendiri sehingga masih
mengontrak atau menumpang (Indah,2007).

Tabel 3.1 Persebaran Masyarakat Miskin/Pra Sejahtera


JML PDDK
NO RW KK KK
PDDK MISKIN
1 RW.01 534 115 155 37
Gambar 3.1 Kerangka Dasar Analisis
2 RW.02 233 72 - -
3 RW.03 816 342 - -
Analisis akan dilakukan terhadap masyarakat yang 4 RW.04 965 211 277 59
bermukim pada permukiman kumuh Kelurahan 5 RW.05 1421 259 97 29
Tamansari Kecamatan Bandung Wetan. Analisis 6 RW.06 1053 257 176 38
7 RW.07 1877 652 397 90
5
8 RW.08 277 31 - -
9 RW.09 1494 477 175 38
10 RW.10 935 290 184 39
11 RW.11 1159 334 378 87
12 RW.12 1567 303 277 51
13 RW.13 1604 340 96 20
14 RW.14 712 168 77 18
15 RW.15 2988 750 607 122
16 RW.16 1901 524 251 61
17 RW.17 1405 264 196 45
18 RW.18 2067 623 298 66
19 RW.19 530 222 71 18 Gambar 3.4 Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Umur
20 RW.20 1335 364 219 51
Jumlah 24.873 6.598 2.829 619 Berdasarkan tabel 3.2 diatas masyarakat mayoritas
Kelurahan Tamansari berumur kisaran 64 tahun keatas
(usia tidak produktif) yaitu sebesar 4629 orang.
Sedangkan jumlah penduduk dengan usia sekolah
sebesar 10.866 orang.

Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan


JUMLAH
NO PENDIDIKAN
L P TOTAL
1 Belum Sekolah 382 394 776
2 Tidak Tamat SD 232 347 579
3 Tamat SD 2707 2559 5266
Gambar 3.3 Grafik Persebaran Masyarakat Miskin/Pra Sejahtera 4 Tamat SLTP 2031 1356 3387
5 Tamat SLTA 1303 910 2213
Berdasarkan data dari tabel 3.1 diatas, terlihat 6 Sarjana Muda (D3) 379 285 658
7 Sarjana (S1) 243 170 413
persebaran penduduk pada Kelurahan Tamansari tidak
8 Pasca Sarjana (S2) 81 65 146
merata dengan jumlah penduduk terbanyak berturut- 9 Pasca (S3), dll 38 21 59
turut ada pada RW 15, 18, 16 yaitu sebesar 2988,
2067 dan 1901 orang. Jumlah penduduk miskin
terbesar ada pada wilayah RW 15 dengan jumlah 122
kepala keluarga.

Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Umur


JUMLAH
NO UMUR
L P TOTAL
1 0 - 5 tahun 736 764 1500
2 6 - 9 tahun 486 495 981
3 10-15 tahun 780 795 1576 Gambar 3.5 Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat
4 16-19 tahun 554 563 1117 Pendidikan
5 20-24 tahun 777 877 1654
Tingkat pendidikan mayoritas penduduk Kelurahan
6 25 - 29 tahun 728 800 1528 Tamansari adalah tamatan SD dengan jumlah 5266
7 30 – 34 tahun 994 978 1972 orang disusul dengan tamatan SLTP dengan jumlah
8 35 – 39 tahun 1108 1066 2174 3387 orang dan tamatan SLTA dengan jumlah 1303.
9 40 – 44 tahun 754 766 1520
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
10 45 – 49 tahun 710 737 1447 JUMLAH
NO PEKERJAAN
11 50 – 54 tahun 795 787 1582 L P TOTAL
12 55 – 59 tahun 798 809 1607 1 Petani - - 0
2 Pelajar/Mahasiswa 2019 2040 4059
13 60 – 64 tahun 939 890 1829 3 Pegawai Swasta 362 213 575
14 65 - keatas 2312 2317 4629 4 Pedagang 924 396 1320
Jumlah 12.431 12.466 24897 5 Pegawai Negeri Sipil 291 194 485
6 TNI/ABRI 73 - 73
7 Buruh Swasta 1107 770 1877
8 Pengrajin 97 34 131

6
9 Penjahit 19 27 46 1. Bawaku Makmur (Bantuan Walikota Khusus
10 Tukang Kayu 12 - 12 Bidang Kemakmuran) yang diberikan kepada
11 Dokter 79 15 94
pengusaha kecil sebesar Rp 500.000-
12 Sopir/Pengemudi 23 - 23
13 Pengusaha 29 37 66 Rp1.500.000. Dana ini diberikan Pemerintah
Jumlah 5035 3737 8772 kepada masyarakat yang mengajukan proposal
usaha kepada Kelurahan dan kemudian
disampaikan kepada Pemerintah Kota Bandung.
Dana bantuan ini diberikan dengan pengawasan
dimana penerima dana diwajibkan untuk
memberikan laporan pemanfaatan dana per tiga
bulan kepada Pemerintah, hal ini menunjukkan
adanya hubungan yang erat antara masyarakat
dengan kelembagaan secara terus-menerus.
Beberapa masyarakat yang menerima bantuan
dana hibah memanfaatkan dana tersebut untuk
membuka usaha warung dan warnet. Pada
program bantuan ini, masyarakat berada tingkatan
nonparticipation dimana masyarakat dididik
untuk mempunyai keahlian berwirausaha dengan
tujuan meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Gambar 3.6 Grafik Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan

Berdasarkan tabel 3.4 diatas, sebagian besar


penduduk Kelurahan Tamansari merupakan
mahasiswa dengan jumlah sebesar 4059 orang.
Di Kelurahan Tamansari terdapat beberapa kegiatan
Gambar 3.7 Pemanfaatan Bawaku Makmur
kemasyarakatan yang bersifat formal maupun
informal. Lembaga kemasyarakatan tersebut antara 2. KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang diberikan
lain TP PKK Kelurahan, LPM (Lembaga Bank atas persetujuan Kelurahan kepada
Pemberdayaan Masyarakat) Kelurahan, Karang masyarakat yang terlebih dahulu meminta surat
Taruna, koperasi masyarakat, PKK, Kelompok pengantar dari ketua RW setempat. Dana ini
Masyarakat (Pokmas), dan Majelis Taklim. diperuntukkan bagi masyarakat yang berkeinginan
B. Permasalahan Kelurahan Tamansari dan berkompeten untuk membuka usaha kecil.
Gambaran mengenai kompleksitas permasalahan yang Dalam prakteknya, kredit ini diberikan tanpa
muncul terkait dengan kesejahteraan masyarakat dan diberikan pengawawasan dalam pemanfaatanya
kondisi lingkungan permukimannya diantaranya : sehingga banyak masyarakat yang tidak mampu
1. Masih terdapatnya rumah kumuh milik warga mengelola dana dan ahirnya menutup usahanya,
2. Terganggunya lingkungan hidup hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang
3. Kebersihan Sungai Cikapundung erat antara masyarakat dengan kelembagaan. Pada
4. Bangunan di Bantaran Sungai program bantuan ini, masyarakat berada tingkatan
5. Merupakan Kelurahan dengan angka keluarga nonparticipation dimana masyarakat dididik
miskin terbesar di Kecamatan Bandung Wetan untuk mempunyai keahlian berwirausaha untuk
6. Pengelolaan sampah meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3. Pemberian dana bantuan renovasi rumah.
C. Program Perbaikan Lingkungan Permukiman Pemerintah memberikan bantuan bagi masyarakat
Kumuh yang memiliki hunian dengan kondisi tidak layak
Beberapa program yang pernah dan sedang huni berupa dana sebesar 5 juta per tahunnya.
berlangsung pada Kelurahan Tamansari berkaitan Masyarakat penerima bantuan dipilih berdasarkan
dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat survey yang dilakukan oleh LPM dan RW
diantaranya: setempat. Dalam pelaksanaannya masyarakat turut
mengawasi dan memberikan bantuan kepada
penerima bantuan dalam pelaksanaan renovasi
7
rumah. Pada program bantuan ini masyarakat meliputi pemungutan sampah yang mengotori
berada pada tingkatan Citizen Power, dimana sungai, pembersihan disekitar bantaran sungai dan
masyarakat penerima maupun yang mengusulkan diakhiri dengan hiburan berupa rafting.
bantuan memiliki mayoritas suara dalam proses
pengambilan keputusan.
4. Bantuan perbaikan infrastruktur. Pemerintah
memberikan bantuan perbaikan infrastruktur
berupa perbaikan jalan lingkungan, namun tidak
semua jalan diperbaiki. Pemilihan lokasi jalan
yang diperbaiki ditentukan oleh warga masyarakat
secara musyawarah dengan terlebih dahulu
menentukan kriteria jalan seperti intensitas
penggunaan jalan yang tinggi, dilalui kendaraan
bermotor dan merupakan jalan utama. Proses
pelaksanaan perbaikan jalan dilakukan oleh Gambar 3.9 Pelaksanaan Gerakan Cikapundung Bersih
pekerja yang disediakan Pemerintah dengan
diawasi masyarakat. Pada program bantuan ini 3. Bantuan Pengadaan Tempat Sampah. Dalam
masyarakat berada pada tingkatan Citizen Power, upaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup di
dimana program bantuan dana perbaikan Kelurahan Tamansari, Pemerintah memberikan
infrastruktur yang diberikan Pemerintah bantuan berupa penyediaan tempat sampah dan
sepenuhnya ditentukan alokasinya oleh memberikan penyuluhan kepada masyarakat
masyarakat dan dalam pelaksanaan diawasi pula mengenai bin/tong sampah yang dibagi menjadi
oleh masyarakat. dua yaitu untuk sampah organik dan an-organik.
Dimana masyarakat diharapkan mampu
memisahkan jenis sampah dan tidak
mencampurnya lagi. masyarakat Tamansari yang
tergabung dalam Pokjakes (Kelompok Kerja
Kesehatan) menerima kegiatan ini dengan penuh
harapan, siap mendukung dan membantu dalam
pelaksanaan kegiatan.

IV. KESIMPULAN
Kesimpulan diperoleh berdasarkan sasaran :
Gambar 3.8 Pelaksanaan Perbaikan Infrastruktur 1. Identifikasi Program

Beberapa program yang pernah dan sedang Tabel 4.1 Identifikasi Program Perbaikan Permukiman
berlangsung pada Kelurahan Tamansari berkaitan Program Tingkat Stakeholder Evaluasi
dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup Partisipasi
disekitar permukiman Kelurahan Tamansari Bawaku Nonpartisip Pemerintah- Berhasil
diantaranya: Makmur atif Masyarakat
KUR Nonpartisip Bank- Tidak
1. Jumsih (Jumat Bersih) kegiatan gotong royong atif Masyarakat Berhasil
masyarakat Kelurahan Tamansari yang dilakukan Pemberian Citizen Pemerintah- Berhasil
disekitar huniannya. Masyarakat secara aktif turut dana bantuan Power Masyarakat
serta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Pada renovasi rumah
program ini masyarakat berada pada tingkatan Bantuan Citizen Pemerintah- Berhasil
perbaikan Power Masyarakat
Citizen Power, dimana masyarakat secara mandiri infrastruktur
berinisiatif untuk melakukan pembangunan Jumsih Citizen Masyarakat Berhasil
berupa pembersihan lingkungan tanpa ada campur Power
tangan dari luar. Mereka mempunyai fungsi GCB Pemerintah- Berhasil
kontrol penuh terhadap sumber daya yang akan Masyarakat
Bantuan Citizen Pemerintah- Berhasil
digunakan (self-mobilization). Pengadaan Power Masyarakat
2. GCB (Gerakan Cikapundung Bersih) yang Tempat
dilakukan sekali seminggu pada hari sabtu di Sampah
bantaran sungai cikapundung. Kegiatan GCB ini Sumber:Analisa penulis

8
DAFTAR PUSTAKA
2. Identifikasi Karakterisitik Masyarakat
kelurahan Tamansari Adi, Isbandi Rukminto. (2008). Intervensi Komunitas:
 Masyarakat mayoritas Kelurahan Tamansari Pengembangan Masyarakat sebagai Upaya Pemberdayaan
Masyarakat. Cet 1. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
berumur kisaran 64 tahun keatas (usia tidak Conyers, Diana. (1991). Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga:
produktif) yaitu sebesar 4629 orang. Disusul Suatu Pengantar. Ed 2. (Penerjemah: Susetiawan).
dengan usia penduduk 35-39 dengan jumlah Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
2174 orang. Dalam hal ini golongan tua yang Mikkelsen, Britha. (2005) Methods for Development Work and
Research: A New Guide for Practitioners. 2nd Ed. California:
dianggap lebih berpengalaman atau senior, Sage Publication
akan lebih banyak memberikan pendapat Wahyuni, Sri. (2008). Meningkatkan Partisipasi Masyarakat
dalam hal menetapkan keputusan Dalam Pembangunan Pertanian : Perlunya Implementasi
 Tingkat pendidikan mayoritas penduduk “PRA”, Pendekatan Kultural dan Struktural. Bogor : Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian
Kelurahan Tamansari adalah tamatan SD Wibowo, Arif. (2010). Perencanaan Partisipatif. Jakarta :
dengan jumlah 5266 orang disusul dengan Departemen Ilmu Sosial, Universitas Indonesia.
tamatan SLTP dengan jumlah 3387 orang dan Ratu, M. (2010). Studi Partisipasi Masyarakat Dalam
tamatan SLTA dengan jumlah 1303. Semakin Implementasi Program Penataan Permukiman Kumuh
tinggi latar belakang pendidikannya, tentunya Kelurahan Pontap Kota Palopo. Semarang : Univesitas
Dipenogoro
mempunyai pengetahuan yang luas tentang Prihatini, R. (2009). Upaya Meningkatkan Partisipasi Masyarakat
pembangunan dan bentuk serta tata cara Dalam Program Penataan Permukiman Kumuh. Bogor :
partisipasi yang dapat diberikan. Institut Pertanian Bogor
 Berdasarkan tabel 3.4 diatas, sebagian besar Sherry, R. (1969). A Ladder of Citizen Particiation.
penduduk Kelurahan Tamansari merupakan Amerika: Journal of the american insitute of planners JAIP,
mahasiswa dengan jumlah sebesar 4059 Vol 35, No. 4, pp 216-224.
orang. Rudito, B. Famiola, M (2008), Social Mapping,Bandung:
Rekayasa Sains
Suharto, Edi (2009), Membangun Masyarakat
3. Analisis Partisipasi masyarakat dalam Memberdayakan Masyarakat, Bandung : Relika
implementasi program Aditama
Masyarakat Kelurahan Tamansari secara keseluruhan
memiliki tingkat partisipasi yang tinggi dalam upaya
perbaikan kesejahteraannya maupun perbaikan lingkungan
huniannya. Budaya partisipasi ini diperkuat dengan
hubungan kekerabatan yang erat diantara masyarakat dan
ditunjukkan dengan rasa antusias masyarakat dalam
mengikuti program-program yang berkaitan dengan
peningkatan kualitas lingkungan seperti jumsih, GCB, dan
pengelolaan sampah. Kaum muda yang tergabung dalam
karang taruna dan remaja masjid turut berpartisipasi aktif
dalam mengorganisir kegiatan-kegiatan masyarakat (self-
mobilization).
Budaya partisipasi masyarakat Kelurahan Tamansari
harus didukung dengan hubungan yang erat dengan
kelembagaan sebagai pemberi bantuan atau pemrakarsa
program yang bertindak sebagai pengawas, hal ini
dimaksudkan untuk mencegah masyarakat kembali pada
kondisi semula karena ketidaksiapan menerima dan
melaksanakan program. Hal ini ditekankan dengan tidak
berjalannya program KUR karena pihak pemberi dana tidak
memberikan pengawasan secara berkala pengelolaan dana
yang dilakukan masyarakat.
Masyarakat yang bermukim di atas permukiman
kumuh Kelurahan Tamansari sangat terbuka dalam
menerima masukan-masukan berkaitan dengan perbaikan
lingkungan dan kesejahteraan mereka sehingga berpotensi
untuk dilakukan perencanaan partisipatif dalam upaya
penataan permukiman kumuh Tamansari untuk
menciptakan rasa memiliki yang kuat dari masyarakat
terhadap lingkungannya.
9