Anda di halaman 1dari 4

EVALUASI AKADEMIK

Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angk. LII Tahun 2021 Provinsi Jawa Timur
Selasa, 25 Mei 2021

Nama : CICI PURWANTI, S.Pd.


NIP : 19921103 202012 2 008
Instansi : Pemerintah Kabupaten Mojokerto
Unit Kerja : SDN Kenanten Kecamatan Puri
Tutor : Drs. Paso Deka Dewanto, M.Si
Kelompok :3
NDH : 39

File Dukung

Judul Kasus KPK Tangkap 7 Kepala Daerah Sepanjang Januari-Oktober 2019

Detail Kasus KPK Tangkap 7 Kepala Daerah Sepanjang Januari-Oktober 2019

KPK Tangkap 7 Kepala Daerah Sepanjang Januari-Oktober 2019 CNN Indonesia -- Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) telah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap tujuh
kepala daerah sepanjang 2019 ini. Data tersebut dirilis KPK per Senin, 7 Oktober 2019. Operasi
tangkap tangan pertama menyasar Bupati Mesuji periode 2017-2022, Khamami, pada 23 Januari
2019. Dalam penindakan tersebut, tim KPK menyita uang pecahan Rp100.000 yang tersimpan
dalam satu kardus. Khamami lalu ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek
pembangunan infrastruktur di Kabupaten Mesuji tahun 2018. Ia menerima sekurangkurangnya uang
suap Rp1,58 miliar dari pihak swasta terkait proyek infrastruktur di Kabupaten Mesuji. Atas
perbuatannya, Khamami dijatuhi vonis hukuman delapan tahun pidana penjara dan denda Rp300
juta subsider 5 bulan kurungan. Vonis hakim ini sama dengan apa yang dituntut jaksa penuntut
umum. Operasi tangkap tangan berikutnya Bupati Kabupaten Talaud periode 2014-2019 Sri
Wahyumi Maria Manalip. Itu terjadi pada 30 April 2019. Tim penindakan KPK menyita sejumlah
barang mewah dalam operasi senyap tersebut. Barang-barang yang disita seperti tas tangan merek
Channel senilai Rp97.360.000; tas merek Balenciaga seharga Rp32.995.000; jam tangan merek
Rolex seharga Rp224.500.000; anting berlian merek Adelle senilai Rp32.075.000; serta cincin
berlian merek Adelle seharga Rp76.925.000. Sri ditetapkan tersangka oleh KPK terkait kasus
dugaan suap pengadaan barang dan jasa revitalisasi pasar di Kabupaten Talaud. Ia saat ini tengah
menjalani proses persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta dengan agenda pemeriksaan saksi-
saksi. Selanjutnya pada 10 Juli 2019, tim penindakan lembaga antirasuah KPK menangkap
Gubernur Kepulauan Riau periode 2016-2021 Nurdin Basirun. Dari tangan Nurdin, tim KPK
menyita sejumlah uang dalam mata uang dolar Amerika, dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan
rupiah sebesar Rp132 juta. Nurdin Basirun ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana korupsi
memberikan atau menerima hadiah atau janji terkait dengan izin prinsip dan lokasi pemanfaatan
laut, proyek reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kepulauan Riau tahun 2018/2019
dan gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan. Saat melakukan penggeledahan rumah Nurdin,
tim KPK menemukan uang berserakan. Dari kamar Nurdin ditemukan duit dalam pecahan rupiah
dan valuta asing. Uang itu terletak di tas ransel, kardus, plastik dan paper bag dengan rincian Rp3,5
miliar, US$33.200 dan Sin$134.711. Saat ini Nurdin menjadi tahanan KPK. Sementara kasusnya
terus bergulir dengan pemeriksaan sejumlah saksi, baik dari pihak lingkungan Pemprov Kepulauan
Riau maupun pihak swasta. Tamzil, Bupati Kudus menjadi 'pesakitan' berikutnya. Ia ditangkap pada
26 Juli 2019 saat operasi tangkap tangan dilakukan tim penindakan KPK. Dari operasi tersebut turut
disita uang sejumlah Rp170 juta. Dalam waktu cepat, Tamzil ditetapkan sebagai tersangka kasus
dugaan korupsi terkait jual beli jabatan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.Tak terima hal tersebut,
ia mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, majelis hakim menolak
praperadilan yang diajukan. Tamzil merupakan residivis kasus korupsi. Dia sebelumnya pernah
menjabat Bupati Kudus periode 2003 hingga 2008. Selama masa pemerintahannya, dia pernah
melakukan korupsi terkait dana bantuan sarana dan prasarana pendidikan Kabupaten Kudus untuk
tahun anggaran 2004 yang ditangani Kejaksaan Negeri Kudus. Operasi tangkap tangan kelima di
tahun ini menyasar Bupati Kabupaten Muara Enim, Ahmad Yani. Ia ditangkap pada 2 September
2019. Tim Penindakan KPK menyita US $35 ribu dari OTT tersebut. Diduga uang itu terkait
dugaan suap proyek Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Muara Enim. Ada ironi dari penangkapan
Bupati Muara Enim Ahmad Yani. Jauh sebelumnya atau tepatnya pada Maret 2019, Ahmad Yani
menyosialisasikan program pemberantasan korupsi terintegrasi bersama KPK. Dikutip dari laman
muaraenimkab.go.id, Ahmad Yani sempat menyampaikan komitmen terhadap pencegahan dan
penindakan korupsi di lingkup Pemkab. "Kami buktikan dengan taat aturan dan taat administrasi
dalam pengelolaan keuangan daerah. Kami sangat mengapresiasi terhadap kegiatan yang diadakan
oleh KPK ini, semoga dapat menciptakan pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih,
sehingga terhindar dari budaya korupsi," kata Yani di Ruang Rapat Bina Praja Pemprov Sumatra
Selatan, 20 Maret 2019. Secara pararel dengan penangkapan Ahmad Yani, pada tanggal 3
September 2019 Tim Penindakan KPK juga turut membawa Bupati Kabupaten Bengkayang
Suryadman Gidot ke Kantor KPK di Jakarta. Dari operasi itu, tim KPK menyita uang sejumlah
Rp340 juta. Tak berselang lama, Suryadman pun ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap
proyek pemerintah di Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Suryadman disebut menerima
uang Rp336 juta dari sejumlah pihak swasta melalui Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bengkayang,
Alexius. Ia pun saat ini sedang menjalani masa tahanan di rumah tahanan Polres Jakarta Pusat.
Terkini, operasi tangkap tangan dilakukan pada 6 Oktober 2019 atas Bupati Lampung Utara, Agung
Ilmu Mangkunegara. Tim KPK menyita Rp728 juta dari operasi tersebut. Agung lalu ditetapkan
sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait Proyek di Dinas PUPR dan Dinas Perdagangan
Kabupaten Lampung Utara. Dalam jumpa pers penetapan tersangka, Wakil Ketua KPK Basaria
Panjaitan mengatakan pihaknya mengendus perilaku koruptif Agung sudah tercermin sejak awal
menjabat. Basaria mengatakan Agung memanfaatkan posisinya sebagai kepala daerah baru untuk
memperoleh pendapatan di luar penghasilan resminya. "Sebelumnya, sejak tahun 2014, sebelum
SYH [Syahbuddin] menjadi Kepala Dinas PUPR Lampung Utara, AIM [Agung] yang baru
menjabat memberi syarat jika SYH [Syahbuddin] ingin menjadi Kepala Dinas PUPR, maka harus
menyiapkan setoran fee sebesar 20-25 persen dari proyek yang dikerjakan oleh Dinas PUPR," ujar
Basaria saat konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (7/10) malam. 119 Kepala Daerah Terjerat
Sejak KPK BerdiriSecara keseluruhan, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan bahwa
pihaknya telah memproses hukum 119 orang kepala daerah sejak mulai berdiri pada 2002 silam.
"Dari 119 orang Kepala Daerah yang diproses KPK, 47 di antaranya dari kegiatan tangkap tangan
atau hanya 39,4 persen. Sehingga, tidak sepenuhnya benar jika seluruh kepala daerah diproses
melalui OTT," kata Febri saat dikonfirmasi, Selasa (8/10). Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur
menempati posisi teratas dengan 14 kepala daerah yang diproses hukum. Selanjutnya Sumatera
Utara (12); Jawa Tengah (10); Sumatera Selatan (7); Riau dan Sulawesi Tenggara (6); Papua dan
Kalimantan Timur (5); Aceh, Banten, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Lampung (4); Bengkulu,
Maluku Utara, NTB (3); Kalimantan Tengah, NTT, Sulawesi Selatan (2); Kalimantan Selatan,
Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Jambi, Sumatera Barat (1). "Itu data per 7 Oktober 2019, sejak
KPK berdiri," terang Febri. (Sumber: cnnindonesia.com, Edisi 09 Oktober 2019)

Detail Ujian Anda

Soal Mendeskripsikan rumusan kasus dan/ atau masalah pokok, aktor


yang terlibat dan persan setiap aktornya berdasarkan konteks
deskripsi kasus.

Jawaban Anda Deskripsi rumusan kasus: Penyalahgunaan keuangan negara


Masalah pokok: 1. Menerima dana dari pengusaha atas pengerjaan
proyek yang bukan haknya 2. Gaya hidup konsumtif Aktor yang
terlibat: 1. Kepala daerah 2. Pengusaha 3. KPK 4. Kepala dinas
PUPR

Soal Melakukan analisis terhadap : A. Bentuk penerapan dan


pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar PNS, dan Pengetahuan
tentang kedudukan dan peran PNS dan NKRI oleh setiap aktor
yang terlibat berdasarkan konteks deskripsi kasus. B. Dampak
tidak diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS dalam NKRI berdasarkan konteks
deskripsi kasus

Jawaban Anda A. Bentuk penerapan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar


PNS, dan Pengetahuan tentang kedudukan dan peran PNS dan
NKRI: 1. menyalahgunakan kepentingan publik untuk kepentingan
pribadinya 2. belum paham nilai-nilai dasar PNS 3. tidak memiliki
bela negara 4. tidak memiliki akuntabilitas 5. tidak memiliki
nasionalisme dan rasa cinta tanah air B. Dampak tidak
diterapkannya nilai-nilai dasar PNS dan pengetahuan tentang
kedudukan dan peran PNS dalam NKRI: 1. akan melahirkan
pemimpin yang tidak memiliki integritas dan moralitas 2. rusaknya
sistem birokrasi 3. menurunnya kepercayaan publik terhadap ASN
4. proyek tidak dapat berjalan dengan maksimal 5. merugikan
ekonomi negara dan meningkatnya kemiskinan

Soal Mendeskripsikan gagasan-gagasan alternatif pemecahan masalah


berdasarkan konteks deskripsi kasus

Jawaban Anda 1. Melakukan pengawasan yang lebih ketat 2. Membangun sistem


kontrol terhadap pelaksana pekerjaan yang lebih baik dan kuat 3.
Memberikan hukuman berat bagi pelaku korupsi 4. Kaderisasi
partai politik yang baik sehingga melahirkan calon pemimpin yang
baik dan memiliki integritas dan moralitas.

Soal Mendeskripsikan konsekuensi penerapan dari setiap alternatif


gagasan pemecahan masalah berdasarkan konteks deskripsi kasus.

Jawaban Anda 1. Menyusun SOP yang lebih rinci dan pelaksanaan lelang
pekerjaan dengan sistem yang lebih akuntabel, transparan, serta
didukung dengan sertifikasi SDM yang bagus. 2. Dibangunnya
sistem berbasis internet pada setiap paket pekerjaan 3.
Dimasukkannya hukuman berat pada pasal KUHP dan hakim harus
konsisten dalam mebuat keputusan yang berat. 4. Bantuan
keuangan parpol dari negara ditingkatkan/diperbesar sehingga
kegiatan kaderisasi lebih banyak dan dapat melahirkan pemimpin
yang baik untuk mengisi tempat kepala daerah.

Anda mungkin juga menyukai