Anda di halaman 1dari 13

PENGAUDITAN

“BUKTI AUDIT DAN TES TRANSAKSI”

Dosen Pengampu: Zulaika Putri Rokhimah, SE, M.SI

Disusun oleh:

Aprilia Ayu L (04) 3.41.18.4.04

Arsya Prahasani (05) 3.41.18.4.05

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

Tahun Ajaran 2020/2021


2
BAB 1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya Bukti audit
sangat besar pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor. Oleh karena itu auditor
harus mengumpulkan dan mengevaluasi bukti yang cukup dan kompeten agar kesimpulan yang
diambilnya tidak menyesatkan bagi pihak pemakai dan juga untuk menghindar dari tuntutan
pihak – pihak yang berkepentingan di kemudian hari apabila pendapat yang diberikannya tidak
pantas.

Kompetensi bukti pemeriksaan dimaksudkan sebagai suatu tingkat dimana bukti-bukti


yang diperoleh dapat dipercaya. Jika bukti-bukti yang diperoleh dipertimbangkan sangat
kompeten, maka hal ini akan sangat membantu auditor dalam menentukan bahwa laporan
keuangan yang diperiksanya telah disajikan secara wajar.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa saja sifat bukti audit?


2. Apa itu compliance test dan substantive test?
3. Bagaimana cara pemilihan sampel?

3
TUJUAN DAN MANFAAT

1. Untuk mengetahui tentang sifat bukti audit.


2. Untuk memahami tentang compliance test dan substantive test.
3. Untuk mengetahui dan memahami cara pemilihan sampel.

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Menurut SA 500 (IAPI, 500.2, 500.4, 500.5, 500.6), Auditor harus merancang dan
melaksanakan prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisi untuk memperoleh bukti audit
yang cukup tepat. Bukti audit diperlukan untuk mendukung opini dari laporan auditor. Bukti
audit ini memiliki sifat kumulatif dan terutama diperoleh dari prosedur audit yang dilaksanakan
selama proses audit bukti audit mengandung baik informasi yang mendukung dan menguatkan
asersi manajemen maupun informasi yang bertentangan dengan asersi tersebut.

SA 330 mewajibkan auditor untuk menyimpulkan apakah bukti audit yang cukup dan
tepat telah diperoleh. Kecukupan dan ketepatan bukti audit yang telah diperoleh untuk
menurunkan risiko audit sampai pada tingkat yang dapat diterima, dan dengan demikian
memungkinkan auditor untuk mengambil kesimpulan yang memadai sebagai basis bagi opini
auditor, merupakan suatu petimbangan profesional. SA 200 berisi pembahasan tentang hal
tersebut, seperti sifat prosedur audit, ketepatan waktu pelaporan keuangan, dan pertimbangan
antara manfaat dan biaya yang merupakan faktor relevarı bagi auditor untuk menggunakan
pertimbangan profesionalnya berkaitan dengan kecukupan dan ketepatan bukti audit yang telah
diperoleh.

Seperti yang disyaratkan dan dijelaskan lebih lanjut dalam SA 315 dan SA 330, bukti
audit untuk menarik kesimpulan memadai sebagai basis opini auditor dapat diperoleh dengan
melaksanakan:

a. Prosedur penilaian risiko


b. Prosedur audit lanjutan, yang terdiri atas:
1. Pengujian pengendalian, ketika disyaratkan oleh SAK atau ketika auditor telah
memilih untuk melakukan hal tersebut
2. Prosedur substantif, termasuk pengujian rinci dan prosedur analitis substantif.

5
Sebagian besar pekerjaan auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas
laporan keuangan terdiri atas usaha untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti audit. Ukuran
keabsahan (validity) bukti tersebut untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor
independen. Dalam hal ini bukti audit (audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal
evidence) yang diatur secara tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi
pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka
memberikan pendapatatas laporan keuangan yang diauditnya. Relevansi, objektivitas, ketepatan
waktu dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh
terhadap kompetensi bukti.

Untuk membuktikan efektif tidaknya pengendalian intern di suatu perusahaan, akuntan


publik harus melakukan compliance test atau test of recorded transaction. Untuk membuktikan
kewajaran saldo-saldo perkiraan laporan posisi keuangan (neraca) dan laba rugi, akuntan publik
harus melakukan substantive test dan analytical review.

6
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. SIFAT BUKTI AUDIT

Untuk dapat dikatakan kompeten, bukti audit harus sah dan relevan. Keabsahan Pangat
tergantung atas keadaan yang berkaitan dengan pemerolehan bukti tersebut, Bukti ekstern yang
diperoleh dari pihak independen di luar perusahaan dianggap lebih kuat dalam arti dapat lebih
diandalkan/dipercaya keabsahannya daripada bukti Yang diperoleh dari dalam perusahaan itu
sendiri (bukti intern). Semakin efektif pengendalian intern, semakin besar jaminan yang
diberikan mengenai keandalan data akuntansi dan laporan keuangan. Pengetahuan auditor secara
pribadi dan langsung yang diperoleh melalui inspeksi fisik, pengamatan, perhitungan, dan
inspeksi, lebih bersifat menyimpulkan (persuasive evidence) daripada bukti yang bersifat
meyakinkan convincing evidence)

Menurut Konrath (2002: 14 & 115) ada enam tipe bukti audit, yaitu:

1. Physical Evidence
Physical Evidence terdiri atas segala sesuatu yang bisa dihitung, dipelihara diobservasi
atau diinspeksi, dan terutama berguna untuk mendukung tujuan eksistens atau
keberadaan. Contohnya adalah bukti-bukti fisik yang diperoleh dari kas opname
observasi dari perhitungan fisik persediaan, pemeriksaan fisik surat berharga dan
inventarisasi aset tetap

2. Confirmation Evidence
Confirmation Evidence adalah bukti yang diperoleh mengenai eksistensi, kepemilikan
atau penilaian, langsung dari pihak ketiga di luar klien. Contohnya adalah jawaban
konfirmasi piutang, utang, barang konsinyasi, surat berharga yang disimpan biro
administrasi efek dan konfirmasi dari penasihat hukum klien.

3. Documentary Evidence

7
Documentary Evidence terdiri atas catatan-catatan akuntansi dan seluruh dokumen
pendukung transaksi. Contohnya adalah faktur pembelian, copy faktur penjualan, journal
voucher general ledger, dan sub ledger. Bukti ini berkaitan dengan asersi manajemen
mengenai completeness dan eksistensi dan berkaitan dengan audit trail yang
memungkinkan auditor untuk mentrasir dan melakukan vouching atas transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian dari dokumen ke buku besar dan sebaliknya.

4. Mathematical Evidence
Mathematical Evidence merupakan perhitungan, perhitungan kembali dan rekonsiliasi
yang dilakukan auditor. Misalnya footing, cross footing, dan extension dari rincian
persediaan, perhitungan dan alokasi beban penyusutan, perhitungan beban bunga,
laba/rugi penarikan aset tetap, PPh dan accruals. Untuk rekonsiliasi misalnya
pemeriksaan rekonsiliasi bank, rekonsiliasi saldo piutang usaha dan utang menurut buku
besar dan sub buku besar, rekonsiliasi intercompany accounts dan lain-lain.

5. Analytical Evidence
Bukti yang diperoleh melalui penelaahan analitis terhadap informasi keuangan klien.
Penelaahan analitis ini harus dilakukan pada waktu membuat perencanaan audit, sebelum
melakukan substantive test dan pada akhir pekerjaan lapangan (audit field work).
Prosedur analitis bisa dilakukan dalam bentuk:
a. Trend (Horizontal) Analysis, yaitu membandingkan angka-angka laporan keuangan
tahun berjalan dengan tahun-tahun sebelumnya dan menyelidiki kenaikani penurunan
yang signifikan baik dalam jumlah rupiah maupun persentase.
b. Common Size (Vertical Analysis
c. Ratio Analysis, misalnya menghitung rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio
leverage dan rasio manajemen aset.

6. Hearsay (oral) Evidence, merupakan bukti dalam bentuk jawaban lisan dari klien atas
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan auditor, Misalnya pertanyaan-pertanyaan auditor
mengenai pengendalian intern, ada tidaknya contigent liabilities, persediaan yang

8
bergerak lambat atau rusak, kejadian penting sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) dan lain-lain

B. COMPLIANCE TEST DAN SEBSTANTIVE TEST

Tes Ketaatan (Compliance Test) atau test of recorded transactions adalah tes terhadap burki-
bukti pembukuan yang mendukung transaksi yang dicatat perusahaan untuk mengetahui apakah
setiap transaksi yang terjadi sudah diproses dan dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur yang
ditetapkan manajemen. Jika terjadi penyimpangan lam pemrosesan dan pencatatan transaksi,
walaupun jumlah (rupiah)-nya tidak material, auditor harus memperhitungkan pengaruh dari
penyimpangan tersebut terhadap efektivitas pengendalian intern. Juga harus dipertimbangkan
apakah kelemahan dalam salah satu aspek pengendalian intern bisa di atasi dengan suatu
"compensating control".

Misalnya:

Kesalahan yang Kelemahan I/C Compensating Control


Ditemukan
1. Bukti pengeluaran Timbul kemungkinan bukti -Subledger utang selalu di update dan
kas dan bukti- pendukung digunakan setiap akhir bulan direconcile dengan
bukti pendukung untuk pembayaran yang saldo utang di buku besar
tidak dicap lunas kedua kalinya -Perusahaan memiliki bagian internal
audit yang cukup kuat dan setiap bulan
memeriksa kelengkapan bukti-bukti
pengeluaran kas.
2. Bukti pengeluaran Timbul kemungkinan Perusahaan menggunakan imprest
kas tidak penyalahgunaan bukti fund system untuk pengeluaran <
bernomor urut tersebut untuk keuntungan Rp750.000 untuk jumlah >Rp750.000
tercetak pribadi dibayar dengan giro, yang urutan
nomornya selalu diawasi

9
Compliance test biasanya dilakukan untuk transaksi berikut ini:

Jenis Transaksi Jenis Compliance Test Sampel yang digunakan


Penjualan Sales Test Faktur Penjualan
Penerimaan Kas Cash Receipts Test Kuitansi
Pengeluaran Kas Cash Disbursements Test Nomor Check/Giro
Pembelian Purchase Test Purchase Order
Pembayaran Gaji dan Upah Payrol Test Daftar Gaji
Journal Koreksi/Penyesuaian Journal Vocher Test Jurnal Voucher

Dalam melaksanakan compliance test, auditor harus memperhatikan hal-hal berikut:

a. Kelengkapan bukti pendukung (supporting documents)


b. Kebenaran perhitungan matematis (footing, cross footing, extension)
c. otorisasi dari pejabat perusahaan yang berwenang
d. pejabat perusahaan yang berwenang
e. kebenaran posting ke buku besar dan sub buku besar dilakukan pada waktu interim audit
dan dilanjutkan.

Prosedur pemeriksaan yang dilakukan dalam substantive test antara lain:

 inventarisasi aset tetap


 observasi atas stock opname
 konfirmasi piutang, utang dan bank
 subsequent collection dan subsequent payment
 kas opname
 pemeriksaan rekonsiliasi bank dan lain-lain

10
C. CARA PEMILIHAN SAMPEL

Menurut SA 530.2

Sampling audit (sampling): Penerapan prosedur audit terhadap kurang dari 100% unsur
dalam suatu populasi audit yang relevan sedemikian rupa sehingga semua unit sampling
memiliki peluang yang sama untuk dipilih untuk memberikan basis memadai bagi auditor untuk
menarik kesimpulan tentang populasi secara keseluruhan.

Risiko sampling adalah Risiko bahwa kesimpulan auditor yang didasarkan pada suatu sampel
dapat berbeda dengan kesimpulan jika prosedur audit yang sama diterapkan pada keseluruhan
populasi.

Risiko nonsampling adalah Risiko bahwa auditor mencapai suatu kesimpulan yang salah
dengan alasan apa pun yang tidak terkait dengan risiko sampling

"Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit: nonstatistik dan statistik Kedua pendekatan
tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari
sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun kelompok transaksi
yang berkaitan".

"Kedua pendekatan sampling audit di atas, jika diterapkan dengan semestinya, dapat
menghasilkan bukti audit yang cukup"

Menurut SA 530.3

Sampling statistik: Suatu pendekatan sampling yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Pemilihan unsur-unsur sampel dilaksanakan secara acak; dan


2. Penggunaan teori probabilitas untuk menilai hasil sampel, termasuk untuk mengukur
risiko sampling.

Pendekatan sampling yang tidak memiliki karakteristik-karakteristik (i) dan (ii) dianggap
sebagai sampling nonstatistik.

11
Menurut SA 53o.7 dan 530.8

Keputusan untuk menggunakan pendekatan statistik atau nonstatistik dalam sampling


membutuhkan pertimbangan auditor, namun, ukuram sampel bukan merupakan kriteria yang
tepat untuk membedakan antara pendekatan statistik atau nonstatistik.

Menurut SA 530.10

Pengevaluasian Hasil Sampling Audit

Untuk pengujian pengendalian, suatu tingkat penyimpangan sampel yang tinggi yang
tidak diharapkan dapat meningkatkan risiko kesalahan penyajian material yang telah ditentukan,
kecuali jika diperoleh bukti audit tambahan yang memperkuat penilaian awal risiko tersebut.
Untuk pengujian rinci, suatu jumlah kesalahan penyajian yang tinggi yang tidak diharapkan
dalam suatu sampel dapat menyebabkan auditor meyakini bahwa terdapat kesalahan penyajian
material dalam suatu golongan transaksi atau saldo akun, kecuali bukti audit tambahan
membuktikan tidak ada kesalahan penyajian material.

Metode sampling apa pun yang digunakan, auditor dianjurkan untuk terlebih dahulu
menyusun "sampling plan". Beberapa cara pemilihan sampling yang sering digunakan adalah:

a. Random/Judgement Sampling

Pemilihan sampel dilakukan secara random dengan menggunakan judgement akuntan publik.
Salah satu cara, misalnya: dalam melakukan tes transaksi atas pengeluaran kas auditor
menentukan bahwa semua pengeluaran kas yang lebih besar atau sama dengan Rp5.000.000
harus di-vouching, ditambah dua setiap bulan yang berjumlah di bawah Rp5.000.000.

Cara lainnya auditor bisa menggunakan random sampling table dalam memilih sampel.
Pemilihan sampel bisa juga dilakukan dengan menggunakan komputer.

b. Block Sampling

Dalam hal ini auditor memilih transaksi di bulan-bulan tertentu sebagai sampel, misalnya
bulan Januari, Juni, dan Desember. Keberhasilan kedua cara di atas walaupun paling mudah,
tetapi sangat tergantung pada judgement si auditor, semakin banyak pengalaman auditor,

12
semakin baik hasilnya, dalam arti sampel yang dipilih betul-betul representative. Tetapi jika
auditor kurang pengalaman, sampel yang dipilih akan kurang representative.

c. Statistical Sampling

Pemilihan sampel dilakukan secara ilmiah, sehingga walaupun lebih sulit namun sampel
yang terpilih betul-betul representative. Karena memakan waktu yang lebih banyak, statistical
sampling lebih banyak digunakan dalam audit di perusahaan yang sangat besar dan mempunyai
internal control yang cukup baik.

13

Anda mungkin juga menyukai