Anda di halaman 1dari 16

TUGAS SOSIOLOGI HUKUM

Oleh :

FAKULTAS HUKUM PROGRAM EKSTENSI

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2011
MAZHAP UTILITARIANISM

Pada mazhap ini tokohnya adalah Jeremy Bentham dan Rudolph Von Jhering.

Jeremy Bentham;

Bentham adalah pejuang yang gigih untuk hukum yang dikodifikasikan dan untuk merombak

hukum Inggris yang baginya merupakan suatu yang kacau.

Sumbangan terbesarnya terletak dalam bidang kejahatan dan pemidanaan. Dalilnya adalah,

bahwa manusia itu akan berbuat dengan cara sedemikian rupa sehingga ia mendapatkan

kenikmatan yang sebesar-besarnya dan menekan serendah-rendahnya penderitaan. Standar

penilaian yang di pakai adalah “apakah suatu tindakan menghasilkan kebahagiaan”.

Aliran Utility (Jeremy Bentham) yaitu bahwa hukum harus bermanfaat bagi masyarakat guna

mencapai hidup bahagia. Jeremy Bentham

Selanjutnya Betham mengemukakan agar pembentuk hukum harus membentuk hukum yang

adil bagi segenap warga masyarakat secara individual.

Rudolph von Jhering;

Ia dikenal dengan ajarannya yang biasa disebut social utilitarianism.

Hukum merupakan suatu alat bagi masyarakat untuk mencapai tujuannya. Hukum adalah

sarana untuk mengendalikan individu-individu, agar tujuannya sesuai dengan tujuan

masyarakat dimana mereka menjadi warganya.


Hukum merupakan suatu alat yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan perubahan-

perubahan sosial

Sosiologi Perdagangan Manusia

Perkembangan kasus traficking (perdagangan orang) di Indonesia sungguh kian

mengkhawatirkan. Dari tahun ke tahun, kasus ini meningkat tajam. Seakan-akan, kasus

trafficking di Indonesia diibaratkan bak gunung es. Artinya, angka yang tersembunyi di

bawah permukaan jauh lebih besar ketimbang yang terlihat di permukaan. Data dari

International Organization for Migration (IOM) mencatat hingga April 2006 bahwa jumlah

kasus perdagangan manusia di Indonesia mencapai 1.022 kasus, dengan rinciannya: 88,6

persen korbannya adalah perempuan, 52 persen dieksploitasi sebagai pekerja rumah tangga,

dan 17,1 persen dipaksa melacur (www.bkkbn.go.id).

Sepanjang kasus trafficking mencuat di Indonesia sejak 1993, tahun 2000

merupakan tahun yang paling ramai dengan maraknya kasus ini. Modus tindak pidana

trafficking sangat beragam, mulai dari dijanjikan pekerjaan, penculikan korban, menolong

wanita yang melahirkan, penyelundupan bayi, hingga memperkejakan sebagai PSK komersil.

Umumnya para korban baru menyadari bahwa dirinya merupakan korban trafficking setelah

tidak mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi, alias dieksploitasi di negeri rantau.

Ada suatu cerita yang memilukan tentang seorang korban trafficking yang terpaksa

melompat dari lantai dua hanya untuk melarikan diri perangkap kasus ini. Rina (19), seorang

perempuan TKI sempat gelisah dan bingung karena ia dipaksa menjadi pekerja seks

komersial. Apalagi, sebelumnya ia sudah disuntik dengan cairan anti-hamil oleh seorang

dokter sebelum melayani tamu. Ia tidak kuasa menerima paksaan itu, namun ia sendiri tidak

mengetahui kepada siapa ia harus minta pertolongan agar bisa lari dan menyelamatkan diri

dari rencana tersebut. Maka, satu-satunya jalan yang mungkin ditempuhnya adalah melarikan
diri alias kabur dari perangkat tersebut. Ia dibantu dengan seorang temannya loncat ke dasar

lantai yang tingginya mencapai empat meter (Kompas, 8/3/2004).

Mendengar cerita di atas hati kita pasti merasa terenyuh. Susah-susah datang ke

negeri rantau, akhirnya cuma “diperdagangkan” secara tidak manusiawi. Rina tidak sendirian.

Masih banyak lagi korban-korban lainnya yang perlu mendapatkan pertolongan dan

perhatian. Sudah seharusnya pemerintah serius menangani masalah ini, termasuk dalam hal

penertiban terhadap agen-agen penyalur jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) ke luar negeri.

Para korban trafficking awalnya tidak menduga bahwa mereka akan diperdagangkan karena

memang mereka hanya dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan setelah sesampainya di negeri

orang.

Berikut ini adalah cerita yang mengungkap fakta tentang modus dan tahapan

trafficking yang menimpa TKI di luar negeri, yang dikutip dari www.antara.co.id. Pada bulan

Meret 2007, Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Malaysia berhasil menyelamatkan 19

orang wanita Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia. Pengungkapan kasus

tersebut diawali dengan penangkapan polisi setempat terhadap empat wanita yang dituduh

bekerja dengan memakai visa turis. Pihak Kepolisian RI kemudian dilibatkan dalam

pemeriksaan terhadap empat wanita tersebut. Terungkap fakta bahwa mereka adalah korban

penipuan perdagangan manusia dengan modus menawarkan magang kerja di hotel luar

negeri.

Mereka menceritakan bahwa setiap calon korban dimintai uang masing-masing

sebesar Rp. 3,5 juta dengan alasan untuk membiayai tiket pesawat, pengurusan visa, dan

akomodasi selama magang kerja. Namun, kenyataannya mereka justru harus bekerja nonstop

selama setahun penuh tanpa libur dan diupah hanya 400 ringgit Malaysia. Dari upah itu, 50

ringgit dipotong pihak agen tenaga kerja, sehingga korban hanya menerima 350 ringgit atau

sekitar Rp. 800 ribu perbulan. Berbekal keterangan tersebut, pihak KBRI dan polisi Malaysia
dapat menemukan 15 wanita lain yang bernasib sama. Cerita tersebut menunjukkan betapa

pedihnya penderitaan yang dialami para korban trafficking.

Definisi Trafficking

Menurut Undang-Undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

(PTPPO) pasal 1 ayat 1, definisi trafficking (perdagangan orang) adalah: “tindakan

perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan

seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan,

pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau

memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang

memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun

antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi”.

Ada tiga elemen pokok yang terkandung dalam pengertian trafficking di atas.

Pertama, elemen perbuatan, yang meliputi: merekrut, mengangkut, memindahkan,

menyembunyikan, atau meneirma. Kedua, elemen sarana (cara) untuk mengendalikan

korban, yang meliputi: ancaman, penggunaan paksaan, berbagai bentuk kekerasan,

penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau

pemberian/penerimaan atau keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang yang

memegang kendali atas korban. Ketiga, elemen tujuannya, yang meliputi: eksploitasi,

setidaknya untuk prostitusi atau bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja paksa, perbudakan,

penghambaan, dan pengambilan organ tubuh (Harkristuti Harkrisnowo dikutip dalam

www.menkokesra.go.id).

Modus operandi dari tindak pidana trafficking adalah sebagai berikut: (1) merekrut

calon pekerja wanita 16-25 tahun; (2) dijanjikan bekerja di restoran, salon kecantikan,

karyawan hotel, pabrik dengan gaji RM 500 s/d RM 1.000; (3) identitas dipalsukan; (4) biaya

administrasi, transportasi, dan akomodasi ditipu oleh pihak agen; (5) tanpa ada calling visa
atau working permit atau menggunakan visa kunjungan singkat; (6) putusnya jaringan; dan

(7) korban dijual, disekap, dan dipekerjakan sebagai PSK. Modus yang terakhir sering sekali

terjadi. Sedangkan jalur masuk sindikat trafficking adalah sebagai berikut: (1) Medan-

Penang/Ipoh-Kuala Lumpur (menurut laporan KBRI di Kuala Lumpur: tertangkap 3 sindikat

berjumlah 6 orang dan sudah divonis Pengadilan Negeri Medan dan Tebing Tinggi); (2) T.

Pinang/Batam-Staling Laut/Tg. Belungkor-Kuala Lumpur (1 sindikat, 5 orang, sudah divonis

Pengadilan Tanjung Pinang); (3) Jakarta-Pontianak-Entikong-Kuching-Kuala Lumpur

(tertangkap 1 sindikat, 6 orang (Rizal Cs) proses hukum dilakukan di Pengadilan Negeri

Jakarta); dan (4) Nunukan-Tawau-Kota Kinabalu (www.kbrikl.org.my).

Kasus perdagangan perempuan dengan modus pelacuran di luar negeri adalah

kasus yang paling umum terjadi. Bahkan, menurut data yang ada fenomena ini makin

meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan Kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan

Rakyat (Menko Kesra) tercatat sepanjang tahun 2005 saja ada 700 perempuan Indonesia telah

dijadikan budak seks di negeri orang (www.bkkbn.go.id). Jumlah itu diperkirakan terus

meningkat jika penanganannya tidak diatasi secara serius.

Daerah-daerah yang memasok terbesar kasus trafficking tersebar di tanah air. Suatu

data menyebutkan bahwa sedikitnya 80 persen dari 8.800 kasus trafficking sejak tahun 2004

melibatkan korban asal warga Subang, Karawang, Cianjur, dan Indramayu, Provinsi Jawa

Barat. Akibat dari besarnya kasus tersebut, kemungkinan besar Indonesia terancam dicoret

dalam daftar negara yang berhak mendapatkan jatah bantuan kemanusiaan dari PBB

(Republika, 10/5/2007).

Sementara itu di daerah lain juga terjadi peningkatan yang sama. Bangka

merupakan salah satu tujuan utama trafficking. Hal itu ditandai dengan maraknya aktivitas

perdagangan perempuan dari beberapa daerah menuju ke Pulau Bangka. Faktanya, ada lima

kasus trafficking sepanjang tahun 2006, artinya lima kali lipat dibandingkan tahun 2005.
Perekonomian Bangka yang mulai menggeliat mengondisikan daerah ini tidak lagi hanya

menjadi persinggahan jaringan trafficking sebelum ke Batam, tapi sudah menjadi lokasi yang

dituju (Kompas, 6/9/2006).

Bisnis prostitusi di Pulau Bintan dan Pulau Batam bahkan semakin ramai dan meriah.

Meningkatnya transaksi seks di dua pulau ini, seiring dengan semakin menurunnya bisnis

seks di Tanjungbalai Karimun. Kedua pulau tersebut yang merupakan bagian dari Kepulauan

Riau masih relatif longgar bagi tindak prostitusi ini, menjadi tujuan paling menarik bagi para

lelaki hidung belang asal Singapura dan Malaysia. Di Pulau Batam, selain lokalisasi dan

show room menyediakan para pelayan seks, hampir di setiap sudut kota juga terdapat karaoke

dan diskotik yang menyediakan wanita pemuas nafsu (Pikiran Rakyat, 29/1/2007).

Data tentang sejumlah daerah di tanah air di atas hanya sebagai contoh saja, tidak

bermaksud menyudutkan daerah-daerah yang disebut. Jika mau diulas lebih panjang lagi,

sebenarnya masih banyak daerah-daerah lain yang mengalami peningkatan kasus trafficking,

terutama daerah-daerah yang berada dalam perbatasan dengan Malaysia dan Singapura.

Meski terjadi peningkatan secara tajam, rupanya ada daerah-daerah lain yang justru

mengalami penurunan dalam hal ini. Sebagai contoh adalah fenomena yang terjadi di

Tanjungbalai. Padahal, daerah ini merupakan salah satu tujuan PSK. Di pulau ini, terjadi

penurunan bisnis seks, selain karena konstitusi (dengan adanya Perda No. 6 Tahun 2002

tentang Pelanggaran Kesusilaan) semakin mempersulit gerak pelacuran, juga merupakan

dampak tidak langsung dari ketegasan Kapolri Jenderal (Pol.) Sutanto yang menutup berbagai

bentuk perjudian di tanah air, termasuk di Tanjungbalai. Diasumsikan bahwa penutupan

perjudian, dengan sendirinya, mereduksi prostitusi di Tanjungbalai hingga 20 persen (Pikiran

Rakyat, 29/1/2007).

Tindakan-tindakan yang dapat dianggap sebagai bentuk trafficking sebenarnya ada

banyak sekali. Yang jelas, tindakan-tindakan itu termasuk dalam kategori kejahatan yang
sangat berat, korban dari trafficking adalah mereka yang terpinggirkan, terutama kaum

perempuan. Pihak perempuan sangat fleksibel untuk mudah dieksploitasi. Sebab, mereka

sering dirugikan dengan posisi mereka yang selama ini lemah dan diperlakukan secara tidak

adil dari lingkungannya. Penyebab awal yang menggiring pada perangkap trafficking adalah

akibat dari kondisi kemiskinan dan ketidakmandirian yang mereka alami.

kasus trafficking umumnya diawali berupa adanya pemalsuan identitas pada TKI,

seperti soal batasan umur. Banyaknya calon TKI yang memalsukan identitas umurnya

menyebabkan mereka mudah dieksploitasi dengan modus trafficking. Alasannya bahwa

pekerja di bawah umur biasanya belum banyak mengetahui tentang konsekuensi kerja,

apalagi di negeri rantau.

Trafficking umumnya terjadi pada kasus-kasus pengiriman TKI ke luar negeri.

Untuk itulah, penanganan terhadap masalah trafficking juga perlu mengatasi masalah

pengiriman tersebut. Sebab, banyak para calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri tidak

memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana prosedur dan syarat-syarat yang

harus dipenuhi. Kelengahan mereka kemudian dimanfaatkan secara ekonomi namun tidak

bertanggung ajwab oleh sejumlah agen, calo, atau jasa pengiriman TKI. Atas dasar itulah,

mengkritisi UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar

Negeri, yang lebih berorientasi pada penataan bisnis pengiriman tenaga kerja sehingga

membuka peluang trafficking (www.bkkbn.go.id).

Negara kita sebenarnya sudah cukup maju dalam menyoal pemberantasan masalah

trafficking, yaitu telah disahkannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO) oleh Dewan Perwakilan

Rakyat (DPR) pada tanggal 20 Maret 2007. UU ini berisi 67 pasal. Pembahasan UU tersebut

dimulai sejak tanggal 11 Oktober 2006, yang dilakukan antara Pansus RUU PTPPO bersama

dengan pihak pemerintah.


Sayangnya, publikasi media terhadap informasi ini sangat minim sekali. Sehingga,

masyarakat secara umum belum banyak yang mengetahui tentang keberadaan UU tersebut.

Perhatian elite politik kita lebih banyak tertuju pada urusan-urusan politik yang lagi ramai

diperdebatkan. Media pun juga ikut-ikutan terbawa pada arus mainstream ini. Padahal,

pengetahuan masyarakat terhadap UU ini amat penting agar pemberantasan trafficking dapat

diantisipasi sedini mungkin. Sebab, ketika masyarakat secara umum telah mengetahui apalagi

menyadari bahayanya trafficking melalui perangkat UU ini, tentu banyak orang yang

kemudian akan berpikir ulang untuk menjadi TKI secara illegal.

UU itu tidak luput dari kekurangan. Salah satunya adalah kritik yang menyebut

bahwa UU tersebut dinilai mengabaikan hak anak. Koordinator Presidium Indonesia Against

Child Trafficking (ACT), Emmy Lucy Smith, menilai UU PTPPO belum sepenuhnya

melindungi dan mengakomodir hak anak. UU tersebut hanya memuat aturan tentang

perdagangan orang dengan korban anak, namun bukan aturan tentang perdagangan anak

(Tempo Interaktif, 23/3/2007). Kekurangan seperti itu perlu mendapat perhatian agar

pemberantasan terhadap trafficking dapat dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial.

Pemecahan Masalah Trafficking

Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang amat

pelik ini. Menurut laporan Kementerian Koordinator Kesehateraan Rakyat

(www.menkokesra.go.id), pencegahan trafficking dapat dilakukan melalaui beberapa cara.

Pertama, pemetaan masalah perdagangan orang di Indonesia, baik untuk tujuan domestik

maupun luar negeri. Kedua, peningkatan pendidikan masyarakat, khususnya pendidikan

alternatif bagi anak-anak dan perempuan, termasuk dengan sarana dan prasarana

pendidikannya. Ketiga, peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pemberian informasi

seluas-luasnya tentang perdagangan orang beserta seluruh aspek yang terkait dengannya.
Keempat, perlu diupayakan adanya jaminan aksesibilitas bagi keluarga khususnya perempuan

dan anak untuk memperoleh pendidikan, pelatihan, peningkatan pendapatan dan pelayanan

sosial. Cara-cara tersebut terkesan sangat ideal, tinggal bagaimana implementasinya secara

nyata. Upaya tersebut juga memerlukan keterlibatan seluruh sektor pemerintah, swasta, LSM,

badan-badan internasional, organisasi masyarakat, perseorangan, dan termasuk media massa.

Sebagai salah satu bentuk implementasi dari cara-cara tersebut, langkah yang

selama ini baru dilakukan oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Provinsi DIY untuk

meminimalisir praktek trafficking adalah dengan mengadakan pelatihan bagi para kepala desa

tentang tertib administrasi. Salah satu tujuan utamanya adalah mengantisipasi praktek

pemalsuan identitas yang kian marak terjadi dalam hal pengurusan syarat-syarat TKI.

Namun, sayangnya mengapa lembaga perempuan tersebut baru melangkah pada tindakan

antisipasi yang sifatnya administratif. Padahal, masih banyak bentuk kegiatan lain yang bisa

menyentuh masyarakat secara umum, termasuk kaum perempuan di dalamnya yang rentan

dengan trafficking.

Masyarakat secara umum sangat rawan menjadi korban trafficking apabila tidak

mempunyai bekal pengetahuan yang memadai tentang masalah ini. Untuk itulah, agar

dilakukan kampanye (sosialisasi) secara massif untuk menyebarluaskan informasi tentang apa

dan bagaimana praktek trafficking yang harus diwaspadai itu. Upaya sosialisasi ini adalah

bagian dari program pendidikan yang mampu memberdayakan para calon TKI. Mereka perlu

mendapatkan pengetahuan secara komprehensif tentang tawaran kerja di mana dan

bagaimana konsekuensinya.

Lebih lanjut dengan adanya pendidikan (training) tersebut, maka para calon TKI

akan merasa aman karena tidak adanya biaya-biaya yang menyusahkan mereka. Umumnya,

praktek trafficking bermula dari tindakan tidak bertanggung jawab sejumlah pihak (calo TKI)

yang merekrut calon TKI dengan iming-iming tertentu. Tentunya, para calon TKI yang
berasal dari pedesaan dan sedang dalam himpitan masalah ekonomi dengan mudahnya

menerima tawaran tersebut. Biasanya mereka hanya berpikir bahwa yang penting dapat

pekerjaan. Ketika merasa terjepit dalam masalah ekonomi, akhirnya mereka menerima

pekerjaan secara asal-asalan. Mereka kurang memerhatikan bagaimana akibatnya kemudian.

Ternyata sosialisasi saja tidak cukup. penanganan masalah trafficking tidak cukup

dalam bentuk penyadaran korban maupun pelaku, tetapi harus menembus faktor-faktor

penyebabnya. Menurutnya, trafficking dan eksploitasi seks komersial anak antara lain

didorong karena faktor kemiskinan, ketidaksetaraan jender, sempitnya lapangan kerja, dan

peningkatan konsumerisme. Faktor-faktor seperti inilah yang juga perlu mendapatkan

perhatian dan diberantas hingga ke akar-akarnya. Sebab, tanpa memecahkan masalah-

masalah semacam itu, upaya penyadaran hanya berfungsi sesaat saja (Kompas, 20/12/2006).

Kita semua sepakat bahwa pemberantasan masalah trafficking memerlukan adanya

penegakan hukum yang tegas, apalagi payung hukum berbentuk UU khusus sudah ada. Tanpa

penegakan hukum, pemberatasan masalah ini akan sia-sia saja. Sebab, pelaku trafficking akan

semakin leluasa saja. Peningkatan kasus trafficking ternyata tidak diimbangi dengan

penegakan hukum yang ketat. Pasalnya, hanya kurang dari 1 persen kasusnya yang dibawa ke

pengadilan. untuk memberi jera pada pelaku perdagangan manusia, UU tersebut

meningkatkan sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah (Tempo

Interaktif, 2/5/2007).

Ada satu contoh kasus trafficking yang telah diselesaikan secara hukum. Pengadilan

Negeri Medan, misalnya menghukum Surya Nilam Panggabean, pelaku kejahatan

perdagangan perempuan, dengan pidana penjara selama lima tahun dan denda sebesar Rp 2

miliar subsider tiga bulan kurungan. Surya terbukti memperdagangkan dua perempuan asal

Indonesia untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial di Malaysia (Kompas, 28/8/2006).

Semua kasus tindak pidana trafficking diharapkan dapat diproses secara hukum dan
diberi hukuman yang seberat-beratnya. Hukuman selama lima tahun memang dirasa masih

kurang. Sehingga, penambahan masa hukuman penjara selama 15 tahun cukup fair mengingat

begitu beratnya kasus kejahatan yang diperbuat oleh para pelakunya. Hal ini dimaksudkan

agar para pelaku trafficking yang sudah atau belum tertangkap merasa jera dan tidak

mengulangi perbuatan yang melawan hukum itu.

Perangkat hukum tentang trafficking secara nasional perlu didukung dengan adanya

peraturan-peraturan daerah yang mendukung program anti-trafficking. Kantor Pemberdayaan

Perempuan (KPP) DIY berencana akan mengusulkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda)

mengenai anti-trafficking. Hanya saja, hingga saat ini yang baru dilakukan oleh KPP DIY

adalah tahap sosialisasi UU PTPPO. Tahap (sosialisasi) ini penting untuk mempelajari isinya

dan sebagai langkah awal untuk membuat peraturan implementasinya. Lebih lanjut,

pembuatan Raperda membutuhkan langkah panjang dan waktu yang tidak sedikit. Langkah

awal yang dapat dilakukan adalah melakukan kajian akademis untuk mendapatkan gambaran

yang jelas mengenai trafficking.

Peran Agama, LSM, dan Ormas

Unsur terpenting dalam trafficking adalah eksploitasi. Tindakan eksploitasi

merupakan “perbudakan” jenis baru. Penjelasan atas UU PTPPO menyebutkan bahwa

perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia. Perdagangan orang juga

merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari pelanggaran harkat dan martabat

manusia.

Hukum yang berlaku di negara kita sangat melarang perbudakan atau perdagangan

orang. UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM pasal 20 menyebutkan: “Tidak seorang pun

boleh diperbudak atau diperhamba. Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak,

perdagangan wanita, dan segala perbuatan serupa apapun yang tujuannya serupa, dilarang”.
Tindakan sebagaimana disebut pada pasal tersebut merupakan pelanggaran terhadap

hak asasi manusia. Negara (baca: pemerintah) bertanggung jawab terhadap segala bentuk

pelanggaran HAM, termasuk dalam kasus trafficking. Pasal 71 dan 72 mengatur demikian:

“Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan

memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan perundangan

lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik

Indonesia. Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah tersebut meliputi langkah

implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan

keamanan negara, dan bidang lain”.

Dalam pandangan hukum Islam, perbudaan juga sangat dilarang. Salah satu misi

dakwah katika Islam datang adalah menghapus perbudakan di muka bumi. Islam

menawarkan solusi terhadap masalah perbudakan, yaitu dengan memasukkan budak (riqab)

dan orang yang dililit utang (gharimin) sebagai pihak-pihak yang berhak menerima zakat.

Mayoritas korban trafficking adalah mereka yang pada awalnya adalah berasal dari keluarga

yang miskin dan berada dalam kelas ekonomi yang rendah. Sehingga, korban trafficking pada

dasarnya berhak mendapatkan zakat.

Pandangan Islam di atas perlu ditransformasikan untuk menangani masalah

trafficking secara praktis. Meski tidak dalam pengertian memberikan zakat secara langsung

terhadap korban trafficking, namun yang pasti solusi tersebut dapat bermanfaat bagi

pemberatasan masalah trafficking secara umum. Solusi yang dimaksud adalah memfungsikan

zakat sebagai pendukung dalam pendanaan program-program pemberantasan trafficking.

Agar upaya pemberantasan perbudakan dapat berjalan efektif, maka dibutuhkan dana yang

sangat besar. Alasannya bahwa trafficking adalah bisnis ketiga paling menguntungkan di

dunia setelah senjata dan narkoba. Sebagaimana perbudakan pada masa lalu, trafficking kini
melibatkan pemodal kelas kakap. Agar dapat memperoleh dana yang besar, maka setiap

badan yang mengelola zakat semestinya mengalokasikan pos riqab dan gharimin untuk

membiayai gerakan anti-trafficking. Dengan dukungan dana ini, masyarakat lebih mudah

merealisasikan sistem pencegahan trafficking secara menyeluruh.

Di samping agama, keterlibatan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi

masyarakat (ormas) juga berperan penting dalam memecahkan persoalan trafficking. Jika

agama fungsinya adalah memberikan interpretasi yang bernilai penting, maka fungsi LSM

dan ormas adalah sebagai praktisi dalam pemecahan masalah trafficking ,peran LSM dan

ormas adalah sebagai mitra pemerintah. Inti program LSM dan ormas adalah melakukan

pemberdayaan dan pembelaan terhadap kasus-kasus trafficking. Namun, sayangnya wilayah

kerja program LSM dan ormas belum menjangkau pada masyarakat secara luas. Belum

banyak LSM dan ormas yang fokus terhadap masalah ini. Oleh sebab itu, agar elemen-

elemen masyarakat lain perlu dilibatkan lebih jauh, seperti partai politik (parpol).

Sebagai salah satu ormas keagamaan terkenal di tanah air, Nahdhatul Ulama (NU)

pernah mengeluarkan fatwa tentang trafficking pada Musyawarah Nasional Ulama yang

digelar Pengurus Besar NU di Surabaya, tanggal 28- 31 Juli 2006. Ada dua fatwa tentang isu

ini yang dikeluarkan PBNU. Pertama, mengharamkan eksploitasi selama proses perekrutan,

pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan

ancaman, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan,

penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau

manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang itu,

baik yang dilakukan dalam negara maupun antarnegara. Kedua, mewajibkan semua pihak,

pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, mencegah trafficking dan melindungi. Fatwa NU

ini bersifat strategis karena disertai adanya rekomendasi dari PBNU beserta seluruh badan

otonom dan lembaganya dari pusat hingga daerah yang secara tegas menyatakan untuk
melakukan gerakan bersama menolak trafficking (Nur Rofiah, 2006). Persoalannya kemudian

apakah ormas-ormas keagamaan, seperti NU di atas, sudah beranjak lebih jauh pada langkah

praktis ikut memberantas trafficking.

Andaikata seluruh elemen LSM dan ormas dapat bekerjasama dalam memberantas

trafficking, maka tentunya langkahnya akan semakin efektif. Kita memerlukan banyak

keterlibatan LSM dan ormas dalam hal ini. Sebab, mengandalkan peran pemerintah saja tidak

cukup. Kerjasama dalam memberantas trafficking akan lebih bernuansa strategis karena

masalah yang amat pelik tidak bisa hanya dimasuki melalui satu pintu pemecahan saja.

Penutup

Penanganan terhadap masalah trafficking bersifat kompleks. Sehingga, penanganan

terhadap masalah memerlukan pemetaan yang komprehensif tentang peta permasalahan yang

ada. Di samping itu, keseriusan pemerintah dan keterlibatan seluruh elemen bangsa

diharapkan dapat berkontribusi secara partisipatif dalam upaya pemberantasan masalah

trafficking.

Masyarakat juga perlu mendapatkan banyak pengetahuan dan sosialisasi perihal

bahayanya tindak pidana trafficking ini. Pendidikan dan sosialisasi yang dimaksud juga

mengenai prosedur dan syarat yang harus diketahui oleh para calon TKI sebelum berangkat

ke luar negeri. Mereka diharuskan memerhatikan terlebih dahulu bagaimana kelengkapan

dokumen resmi yang akan dibawa, pengetahuan yang memadai tentang jasa TKI agar mereka

mendapatkan jaminan aman dan tidak terus-terusan selalu ditipu. Sehingga pendapat dari

Jeremy Bentham dapat diterpkan dalam kasus ini, melalui Pendidikan,sosialisasi dan

penerapan hukum yang tepat inilah akan dapat membentuk hukum yang adil bagi segenap

warga masyarakat secara individual dan akan menghasilkan kebahagiaan


\Sumber

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, “Penghapusan Perdagangan Orang

(Trafficking in Persons) di Indonesia Tahun 2004-2005”, dalam www.menkokesra.go.id.

Nur Rofiah, “Nu Menyikapi Trafficking”, dalam Kompas, 4/9/2006.

Kompas, 28/8/2006.

Kompas, 6/9/2006.

Kompas, 20/12/2006.

Pikiran Rakyat, 29/1/2007.

Republika, 10/5/2007.