Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Sains Kimia

Vol 9, No.1, 2005: 28-34

ESTIMASI KANDUNGAN KURKUMIN PADA SEDIAAN HERBAL


KOMERSIAL SECARA SPEKTROFOTOMETRI DERIVATIF

Irmanida Batubara, Mohamad Rafi, Latifah K. Darusman


Jurusan Kimia FMIPA
Institut Pertanian Bogor

Abstrak

Estimasi kadar kurkumin pada sediaan herbal komersial telah ditentukan dengan metode spektrofotometri
derivatif tanpa adanya pemisahan dari sediaan awal. Metode ini didasarkan pada jarak antara dua puncak
(amplitudo puncak ke puncak) pada derivat spektrum standar dan ekstrak contoh. Puncak 441,5 dan 477
nm derivat kedua dari ekstrak jamu Curmino dan puncak 452 nm derivat ketiga ekstrak Cursil®70 dipilih
sebagai daerah kerja untuk estimasi kadar kurkumin.
Kurva kalibrasi dari amplitudo puncak ke puncak (DL) derivat kedua ekstrak Curmino (r = 0,9992)
maupun amplitudo puncak (DZ) derivat ketiga ekstrak Cursil®-70(r = 0,9938) linear pada konsentrasi 2 –
10 ppm.

Kata kunci: Kurkumin, Spektrofotometri, Herbal.

PENDAHULUAN baik mutu, keamanan, dan khasiatnya.


Salah satu dari tiga konsep untuk
Jaminan terhadap kualitas produk menyusun parameter standar umum
biofarmaka (sumberdaya alam baik yang dapat dipertimbangkan dari suatu
tumbuhan, hewan, maupun mikroba produk biofarmaka adalah simplisia
yang memiliki manfaat sebagai obat, sebagai bahan dengan kandungan kimia
makanan fungsional dan suplemen diet yang bertanggung jawab terhadap
(obat dan nutraceutical) bagi manusia, respons biologis harus mempunyai
hewan, dan lingkungan) semakin spesifikasi kimia yaitu informasi (jenis
meningkat dengan meningkatnya dan kadar) senyawa kandungan.
permintaan terhadap biofarmaka Sediaan herbal komersial yang
tersebut. Untuk itu perlu dilakukan banyak beredar di Indonesia ialah
standardisasi bahan baku maupun sediaan yang berasal dari temulawak
produk biofarmaka. Konsep dan kunyit. Baik temulawak maupun
penggunaan obat tradisional yang kunyit memiliki senyawa yang
semula digunakan oleh masyarakat bertanggung jawab terhadap respons
untuk swamedikasi seperti diakui WHO biologis berupa zat warna yaitu
sudah mengarah untuk dapat kurkuminoid. Kurkuminoid di antaranya
dipergunakan pada sistem pelayanan merupakan campuran kurkumin, mono-
kesehatan. Dengan demikian, tentunya desmetoksikurkumin, dan bisdesme-
persyaratan yang harus dipenuhi bukan toksikurkumin.
lagi berdasarkan data empirik, namun Kontrol kualitas pada sediaan herbal
harus sesuai dengan kaidah yang komersial memerlukan suatu teknik
diterapkan pada sistem pelayanan analisis yang mudah dan cepat. Untuk
kesehatan yaitu harus dapat analisis kuantitatif kurkumin, telah
dipertanggungjawabkan secara ilmiah, digunakan dua cara analisis yaitu

28
Estimasi Kandungan Kurkumin pada Sediaan Herbal Komersial Secara Spektrofotometri Derivatif
(Irmanida Batubara, Mohammad Rafi, Latifah K. Darusman)

dengan metode spektroskopi dan tetrahidrofuran (THF). Ekstrak THF


metode KCKT. Analisis spektroskopi kemudian diencerkan dengan metanol
yang selama ini telah digunakan ialah lalu dibaca menggunakan
analisis menggunakan cara biasa. Untuk spektrofotometer UV-Vis pada panjang
tujuan analisis kualitatif dan kuantitatif gelombang 370-700 nm. Data yang
ini, dapat dikembangkan metode diperoleh kemudian dianalisis untuk
spektrofotometri derivatif. memperoleh spektrum derivatifnya
Spektrofotometri derivatif pada daerah dengan menggunakan piranti lunak UV
UV-Vis merupakan teknik yang solutions versi 2.0 Hitachi
berguna untuk tujuan analisis kualitatif
maupun kuantitatif pada absorpsi yang Metode
tumpang tindih dari analat dengan
matriks yang ada di dalam sampel. Teknik Pembuatan Kurva Standar dan
spektrofotometri derivatif menawarkan Analisis Sampel
beberapa keuntungan dibandingkan dengan
spektrofotometri konvensional seperti dapat Standar kurkumin ditimbang dengan
memilih puncak yang tajam di antara teliti sekitar 2 mg, kemudian dilarutkan
spektrum yang lebar dan meningkatkan
dengan metanol di dalam labu
resolusi dari spektra yang tumpang tindih.
Spektrofotometri derivatif juga dapat
volumetrik 5 ml sampai batas dan
menghasilkan daerah sidik jari yang lebih dikocok hingga larut sempurna.
baik dibandingkan dengan spektra absorpsi Sebanyak 20, 40, 60, 80 mikroliter
yang umum. Spektrofotometri derivatif larutan tersebut dipindahkan ke dalam
yang dikombinasikan dengan teknik zero empat labu volumetrik 10 ml, masing-
crossing, least square deconvolution, atau masing dilarutkan dengan metanol
transformasi Fourier untuk teknik sampai batas volume labu, kemudian
pemrosesan data telah banyak dikocok hingga larut sempurna.
dikembangkan untuk analisis kuantitatif Spektrum absorbsi standar
senyawa aktif pada formulasi obat. kurkumin (2-10 ppm) dibuat dengan
blanko metanol dari panjang gelombang
BAHAN DAN METODA 370-700 nm demikian pula untuk
Bahan sampel. Spektrum derivatif kedua dan
ketiga dibuat dari spektrum absorbsi
Bahan yang digunakan ialah standar yang diperoleh. Puncak 441,5 dan 477
kurkumin, metanol, dan tetrahidrofuran. nm derivat kedua spektra ekstrak jamu
Sedangkan peralatan yang digunakan Curmino dan puncak 452 nm derivat
adalah labu takar, pipet volumetrik, dan spektra ketiga ekstrak Cursil®70 dipilih
spektrofotometer UV-Vis HITACHI U- sebagai daerah kerja untuk estimasi
2800. Spektra contoh dan standar diukur kadar kurkumin setelah dibandingkan
dari panjang gelombang 370-700 nm dengan derivat spektrum kedua dan
dengan lebar celah 1,5 nm, kecepatan ketiga dari standar kurkumin. Untuk
pengamatan 100 nm/menit, dan estimasi kandungan kurkumin pada
penghalusan spektra yang tinggi dengan Curmino kurva kalibrasi dibuat dengan
menggunakan piranti lunak UV menghitung jarak antara puncak ke
solutions versi 2.0 Hitachi puncak (441,5-477 nm) sedangkan
Sampel sediaan herbal komersial untuk Cursil®70 dibuat dengan
yang digunakan ialah Curmino dan menghitung amplitudo puncak pada
Cursil®70. Sampel ini ditimbang panjang gelombang 452 nm. Estimasi
dengan jumlah kurang lebih 0,5 gram kandungan kurkumin dapat ditentukan
lalu diekstraksi menggunakan
29
Jurnal Sains Kimia
Vol 9, No.1, 2005: 28-34
setelah diperoleh kurva kalibrasi untuk terhadap aktivitas antihepatitis,
setiap sampel. antihiperlipidemia, antiinflamasi,
antioksidan, antikarsinogenik,
HASIL DAN PEMBAHASAN antimikroba, antiviral dan
5
detoksifikasi . Kurkumin sebagai bahan
Dua sampel yang digunakan pada yang akan dianalisis menggunakan
penelitian ini ialah sampel yang spektrofotometri sinar tampak secara
mengandung kurkumin dalam sediaan konvensional dapat langsung dianalisis
herbal komersialnya. Kedua sampel ini karena kurkumin merupakan salah satu
memiliki indikasi untuk mengobati komponen zat warna kuning yang
gejala hepatitis atau penyakit kuning tergolong dalam kurkuminoid.
yaitu Curmino dan Cursil®70. Jenis Spektrum absorpsi dari standar
ekstrak kurkumin yang terdapat dalam kurkumin maupun ekstrak Curmino
kedua sampel ini berbeda. Curmino di (Gambar 1) dan ekstrak Cursil®70 yang
dalam kemasannya dinyatakan berguna diperoleh hampir identik. Namun,
untuk mencegah dan mengobati spektra ekstrak Curmino menunjukkan
penyakit kuning juga gangguan pada nilai absorpsi yang lebih tinggi. Nilai
hati. Kapsul ini mengandung curcumae absorpsi yang lebih tinggi ini terjadi
xanthorrhizae rhizome extract yang akibat adanya efek matriks dari sampel
ekivalen dengan 5 mg kurkumin. Oleh yang dianalisis walaupun kedua
karena itu sampel Curmino mewakili spektrum ini dibuat dengan konsentrasi
jenis sampel yang hanya terdiri dari kurkumin yang sama. Hal ini akan
ekstrak satu jenis tumbuhan. menyebabkan kesalahan pembacaan
Sedangkan Cursil®70 merupakan kadar bila dilakukan pembacaan kadar
ramuan ekstrak tumbuhan yang diolah, kurkumin menggunakan
keseluruhan ramuan dalam obat ini spektrofotometri konvensional. Untuk
terbuat dari bahan alam. Kandungan spektra Cursil®70 dengan konsentrasi
Cursil®70 ialah PytoCur®20 mg, 10 ppm menunjukkan absorpsi yang
oleum xanthorrhizae 30 mg, dan tinggi pula walaupun tidak dapat
Silybum marianum extractum sicc setara dibandingkan dengan spektra standar
silimarin 70 mg. Oleh karena itu kurkumin. Kedua spektra pada
Cursil®70 mewakili sampel yang terdiri Cursil®70 dan standar kurkumin tak
dari ekstrak lebih dari satu jenis dapat dibandingkan karena dalam label
tanaman. kemasan tidak tertera jumlah kurkumin
Kadar kurkumin pada sediaan herbal yang dikandung dalam setiap
komersial perlu dianalisis karena kapsulnya.
kurkumin diketahui merupakan
senyawa yang bertanggung jawab

2 .4
2 .3
2 .2
2 .1
2 .0
1 .9
1 .8
1 .7
1 .6
1 .5
1 .4
1 .3
nm
400 450 500 55 0

30
Estimasi Kandungan Kurkumin pada Sediaan Herbal Komersial Secara Spektrofotometri Derivatif
(Irmanida Batubara, Mohammad Rafi, Latifah K. Darusman)

Gambar 1. Spektra Absorpsi ( ) larutan standar kurkumin dan ( ) ekstrak Curmino. Konsentrasi 5
ppm

2 .1
2 .0
1 .9
1 .8
1 .7
1 .6

1 .5
1 .4
1 .3
nm
400 450 500 55 0

Gambar 2. Spektra Absorpsi ( ) larutan standar kurkumin (C = 5 ppm) dan ( ) ekstrak Cursil®70 (C
= 10 ppm)

Untuk menghilangkan pengaruh matrik dapat dihilangkan. Penghilangan efek matrik


pada sample, dilakukan derivatisasi spektra terjadi karena absorpsi dari variabel lainnya
absorpsi sample. Dengan melakukan yang tumpang tindih dengan analat akan lebih
pengukuran jarak antara puncak ke puncak halus pada spektra derivatif.
pada spectra absorbsi sample maka efek matrik

0 .0 0 5

0 .0 0 0

- 0 .0 0 5

- 0 .0 1 0

nm
400 450 500 55 0

(a)

0 .0 0 0 1 5

0 .0 0 0 1 0

0 .0 0 0 0 5

0 .0 0 0 0 0

- 0 .0 0 0 0 5

- 0 .0 0 0 1 0

- 0 .0 0 0 1 5

- 0 .0 0 0 2 0
nm
400 450 500 550

(b)

31
Jurnal Sains Kimia
Vol 9, No.1, 2005: 28-34
0 .0 0 0 0 1

0 .0 0 0 0 0

nm
400 450 500 550

(c)
Gambar 3. Derivat spektra standar kurkumin ( ) dan ekstrak Curmino ( ) (a) pertama, (b) kedua, dan
(c) ketiga
Spektra derivatif pertama, kedua, dan Untuk spektra derivatif Cursil®70 tidak
ketiga tiap sampel beserta standar terdapat daerah yang tumpang tindih
ditunjukkan pada Gambar 3 untuk ekstrak dengan standar kurkumin baik pada
Curmino dan Gambar 4 untuk ekstrak derivate pertama, kedua maupun ketiga
Cursil®70. Derivatif kedua dari spektra sehingga dipilih suatu puncak identik dari
Curmino dan standar kurkumin terlihat kedua spektra tersebut yaitu pada panjang
adanya tumpang tindih pada daerah dengan gelombang 452 nm.
panjang gelombang 441,5-477,0 nm.

0 .0 0 5

0 .0 0 0

- 0 .0 0 5

- 0 .0 1 0
nm
400 450 500 55 0

(a)

0 .0 0 0 1 5

0 .0 0 0 1 0

0 .0 0 0 0 5

0 .0 0 0 0 0

- 0 .0 0 0 0 5

- 0 .0 0 0 1 0

- 0 .0 0 0 1 5

- 0 .0 0 0 2 0
nm
400 450 500 550

(b)

32
Estimasi Kandungan Kurkumin pada Sediaan Herbal Komersial Secara Spektrofotometri Derivatif
(Irmanida Batubara, Mohammad Rafi, Latifah K. Darusman)

0 .0 0 0 0 1

0 .0 0 0 0 0

nm
400 450 500 550

(c)
Gambar 4. Derivat spektra standar kurkumin ( ) dan ekstrak Cursil®70 ( ) (a) pertama, (b) kedua,
dan (c) ketiga

Perbedaan hasil pertumpangtindihan dari spektrum standar kurkumin (2-10 ppm)


spectra pada kedua sample ini terjadi karena dari jarak amplitudo puncak ke puncak (DL)
matriks yang terdapat dalam kedua sample 441,5-477,0 nm pada derivat kedua
ini berbeda. Curmino hanya mengandung spektranya untuk estimasi kandungan
satu macam ekstrak yaitu hanya ekstrak kurkumin pada ekstrak Curmino.
temulawak, sehingga matrik lain pada Sedangkan untuk estimasi kandungan
sample sediaan herbal komersial ini hanya kurkumin pada ekstrak Cursil®70
berupa bahan pengisi atau bahan pengikat hubungan yang linear diperoleh dari jarak
ekstrak temulawak saja. Sedangkan sample amplitudo puncak (DZ) 452 nm pada derivat
Cursil®70 memiliki matriks yang lebih ketiga spektranya. Persamaan garis dari
kompleks. Hal ini terjadi karena pada kurva standar yang diperoleh yaitu:
Cursil®70 selain mengandung ekstrak
temulawak, juga terkandung ekstrak kunyit Curmino 2D 441,5-477,0 = 4 x 10-6 + 7,5 x
yang juga mengandung kurkumin dan 10-5 C (r = 0,9992)
ekstrak silimarin yang tidak mengandung Cursil®70 3D 452 = -1 x 10-8 + 1,955
kurkumin. Selain ketiga jenis ekstrak x 10 -6 C (r = 0,9938)
tersebut, dalam sediaan herbal komersial
Cursil®70 juga masih mengandung bahan Dari persamaan kurva standard tersebut
pengisi atau bahan pengikat ekstrak. Oleh diperoleh estimasi kandungan kurkumin
karena itu pertumpangtindihan spectra pada pada sediaan herbal komersial Curmino dan
sample Cursil®70 lebih sulit untuk Cursil®70 masing-masing sebesar 4,6
didapatkan. mg/500 mg dan 166,5 mg/500 mg.
Derivat kedua dan ketiga dari spektrum
deret standar kurkumin ditunjukkan pada
Gambar 5. Hubungan yang linear diperoleh

0 .0 0 0 4
0 .0 0 0 3
0 .0 0 0 2
0 .0 0 0 1
0 .0 0 0 0
- 0 .0 0 0 1
- 0 .0 0 0 2
- 0 .0 0 0 3
- 0 .0 0 0 4

nm
400 500 600 700

(a)

33
Jurnal Sains Kimia
Vol 9, No.1, 2005: 28-34
0 .0 0 0 0 2

0 .0 0 0 0 1

0 .0 0 0 0 0

- 0 .0 0 0 0 1

nm
400 50 0 600 700

(b)
Gambar 5. Derivat spektrum deret standar kurkumin (2-10 pm) (a) kedua dan (b) ketiga

KESIMPULAN Plasma. J Pharm Biomed Anal 17: 1345-


1350.
Spektrofotometri derivatif dapat Raggi MA et al. 2000. Quantitation of
digunakan untuk estimasi kandungan Olanzapine in Tablets by HPLC, CZE,
kurkumin pada sediaan herbal Derivative Spectrometry and Linear
Voltammetry. J Pharm Biomed Anal 23:
komersial. Metode yang dikembangkan 973-981.
ini lebih mudah, cepat, dan murah Surekha A & Jain NK. 2000. Difference
karena tidak membutuhkan banyak Spectrophotometric Estimation of
pelarut maupun pereaksi. Selain itu, Amlodipine besylate. Indian Drugs 37:
pengaruh matriks pada sample dapat 351-353.
Taylor SJ, McDowell IJ. 1992. Determination
dihilangkan bila menggunakan analisis of Curcuminoid pigments in turmeric by
ini dibandingkan dengan menggunakan reversed-phase high-performance liquid
metode spektrofotometri konvensional. chromatography. Chromatographia.
Metode ini masih dalam pengembangan 34:73-77.
agar dapat digunakan sebagai sebuah Uslu B & Azkan SA. 2002. Determination of
Lamivudine and Zidovudine in Binary
teknik analisis yang akurat dalam Mixtures Using First Derivative
menentukan kandungan kurkumin. Spectrophotometric, First Derivative of
the Ratio-Spectra and High Performance
DAFTAR PUSTAKA Liquid Chromatography-UV Methods.
Anal Chim Acta 466:175-185.
ASEAN. 1993. Standard of ASEAN herbal WHO. 1999. WHO monographs on selected
medicine. Vol 1. Jakarta: ASEAN medicinal plants-vol 1. ISBN 92 4
Countries. 154517 8. Geneva: WHO.
Dirjen POM. 2000. Parameter Standar Umum
Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
El-Gindy A. 2000. First Derivative
Spectrophotometric and LC
Determination of Benoxinate HCl and its
degradation Products. J Pharm Biomed
Anal 22:215-234.
Hassan EM. 2000. Determination of
Ipratropium bromide in Vials Using
Kinetic and First-Derivative
Spectrophotometric Methods. J Pharm
Biomed Anal 22: 1183-1189.
Karpinska J, Mikoluc B, Piotrowska. 1998.
Application of Derivative
Spectrophotometry for Determination of
Coenzyme Q10 in Pharmaceuticals and
34