Anda di halaman 1dari 9

STRES KERJA

A. PENDAHULUAN

Dalam menjalankan setiap usaha perusahaan tidak akan terlepas dari berbagai masalah yang
berkaitan dengan fungsi-fungai kegiatan usahanya, baik masalah produksi, keuangan,
sumber daya manusia, pemasaran maupun usahanya. Masalah yang berkaitan dengan
sumber daya manusia merupakan satu hal yang dianggap penting dalam perusahaan. Salah
satu permasalahan di organisasi adalah stres kerja.
Permasalahan stres merupakan masalah kejiwaan yang dapat menimpa individu maupun
kelompok. Beberapa studi epidemologis telah menunjukkan bahwa stres terutama merusak
selama berlangsung resesi

B. PENGERTIAN STRES KERJA

Pengertian sesungguhnya mengenai stres adalah menurut Gibson dan Ivancevich (1995):
“Sebagai suatu tanggapan penyesuaiaan diperantarai oleh perbedaan-perbedaan individu
dan atau proses psikologis yg merupakan suatu konsekuensi dari setiap tindakan dari luar
(lingkungan),situasi atau peristiwa yang menetapkan permintaan psikologis dan atau fisik
berlebihan kepada seseorang.”
Definisi ini menggambarkan bahwa stres sedikit lebih negatif daripada kebanyakan definisi
lain, oleh karena itu tidak semua stres itu negatif.
Menurut Robbins & Judge (2008), stres adalah suatu kondisi anda yg dinamis saat seseorang
individu dihadapkan pada peluang,tuntutan, atau sumber daya yg terkait dengan apa yg di
hasratkanoleh individu itu dan yg hasilnya tidak dipandang pasti dan penting
Dr. Hans Selye, pelopor penelitian stress, mengemukakan stress sebagai eustress (dari kata
Yunani ‘eu’ yg berarti baik) adalah merangsang dalam arti positif.
Stress ditempat kerja sebenarnya tidak buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks
negatif, karena stress memiliki niai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi
hasil.
Demikian juga dampaknya stres ditempat kerja bisa positif bisa negatif. Para peneliti
berpendapat bahwa stres tantangan,beroperasi sangat beda dari stres hambatan, atau stres
yg menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun penelitian mengenai stres tantangan dan
stres hambatan merupakan permulaan, bukti awal menunjukkan bahwa stres tantangan
memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan.

C. PENYEBAB SETRES KERJA

Penyebab setres kerja bisa berasal dari berbagai sebab, para ahli organisasional
menyimpulkan ada empat sebab, yaitu sebagai berikut :
1. Penyebab Lingkungan Fisik
Penyebab-penyebab stres ini berasal dari lingkungan fisik bermacam bisa karena di
sekitar tempat kerja mereka, antara lain : cuaca yang buruk, suhu udara yang panas,
tempat kerja berdebu, kebocoran atau polusi karena zat kimia (radiasi), keracunan
pestisida dan bahan-bahan beracun lainnya. Untuk melindungi akibat buruk lingkungan
fisik mereka seperti dengan menggunakan masker, jaket kulit yang ideal, sarung tangan,
atau perlengkapan kerja yang lengkap.
2. Penyebab Idividual
Penyebab individual dapat berkitan dengan faktor-faktor pribadi terdiri dari masalah
keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dn karakter yang melekat dalam
diri seseorang. Penyebab setres pada tingkat individual antara lain karena konflik peran.
Seseorang konflik peran ketika memenuhi satu deretan harapan tentang konflik
pekerjaan dengan memenuhi kepada deretan harapan lainnya sebagai contoh, adanya
tekanan untuk bergaul dengan baik bersama orang-orang yang anda tidak cocok. Tanpa
memperhatikan apakah hasil konflik peran daripada kebijakan organisasi atau dari
pribadi-pribadi lainnya.
3. Penyebab Kelompok
Keefektifan setiap organisasi dipengaruhi oleh sifat hubungan dintara kelompok-
kelomok. Karakteristik kelompok dapat menjadi stresor yang kuat bagi beberapa
individu. Membina hubungan baik diantara anggota kelompok kerja menyebabkan
terhindarnya stres akibat kelompok kerja. Sehingga lebih baik jika membina hubungan
baik antar anggota kelompok.
4. Penyebab Organisasi
Faktor dari dalam pekerjaan yang mecakup tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan
hubungan antar pribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi, dan tahap hidup
organisasi. Tuntutan tersebut meliputi desain pekerjaan individual, kondisi kerja, dan
tata letak fisik perusahaan. Satu bagian utama dari kerja di dalam organisasi dari
beberapa individu adalah partsipasi dalam mengmbil keputusan. Partsipasi semacam
opini dan ide dapat memberi sumbangan pada timbulnya setres di dalam proses
keputusan. Dari berbagai penelitian sejumlah besar riset mengandung kontradiksi dalan
beberapa kasus. Meskipun demikian, riset yang bisa digunakan mengandung hal-hal
penting, yaitu ;
a. Stresor pada perjaan berkaitan dengan perubahan fisik, psikologis dan
emosional di dalam individu.
b. Tanggapan penyesuaian terhadap stresor pada pekerjaan telah ditentukan
dengan mengukur diri (self-rating), penampilan prestasi dan pengujian biokimia.
c. Tidak ada daftar stresor yang dapat diterim secara universal. Setiap organisasi
memiliki penetapan sendiri yang unik.
d. Perbedaan-prbedaan individual menjelaskan mengapa suatu stresor yang
mengganggu dan menggoncang bagi seseorang berubah pada orang lain.

Menurut (Robbin, 2003, pp. 794-798) penyebab stres itu ada 3 faktor yaitu:

1. Faktor Lingkungan.
Ada beberapa faktor yang mendukung faktor lingkungan. Yaitu:
1. Perubahan situasi bisnis yang menciptakan ketidakpastian ekonomi. Bila perekonomian itu
menjadi menurun, orang menjadi semakin mencemaskan kesejahteraan mereka.
2. Ketidakpastian politik. Situasi politik yang tidak menentu seperti yang terjadi di Indonesia,
banyak sekali demonstrasi dari berbagai kalangan yang tidak puas dengan keadaan mereka.
Kejadian semacam ini dapat membuat orang merasa tidak nyaman. Seperti penutupan jalan
karena ada yang berdemo atau mogoknya angkutan umum dan membuat para karyawan
terlambat masuk kerja.
3. Kemajuan teknologi. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, maka hotel pun menambah
peralatan baru atau membuat sistem baru. Yang membuat karyawan harus mempelajari dari
awal dan menyesuaikan diri dengan itu.
4. Terorisme adalah sumber stres yang disebabkan lingkungan yang semakin meningkat dalam
abad ke 21, seperti dalam peristiwa penabrakan gedung WTC oleh para teroris, menyebabkan
orang-orang Amerika merasa terancam keamanannya dan merasa stres.

2. Faktor Organisasi
Banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat menimbulkan stres. Tekanan untuk
menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam kurun waktu terbatas, beban kerja
berlebihan, bos yang menuntut dan tidak peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan.
Dari beberapa contoh diatas, penulis mengkategorikannya menjadi beberapa faktor dimana
contoh-contoh itu terkandung di dalamnya. Yaitu:
1. Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan tuntutan atau tekanan untuk
menunaikan tugasnya secara baik dan benar.
2. Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi
dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi itu.
Konflik peran menciptakan harapan-harapan yang barangkali sulit dirujukkan atau dipuaskan.
Kelebihan peran terjadi bila karyawan diharapkan untuk melakukan lebih daripada yang
dimungkinkan oleh waktu. Ambiguitas peran tercipta bila harapan peran tidak dipahami dengan
jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa yang harus dikerjakan.
3. Tuntutan antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain.
Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat
menimbulkan stres yang cukup besar, khususnya di antara para karyawan yang memiliki
kebutuhan sosial yang tinggi.
4. Struktur Organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan
peraturan dan dimana keputusan itu diambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berdampak pada karyawan merupakan
potensi sumber stres.

3. Faktor Individu
Faktor ini mencakup kehidupan pribadi karyawan terutama faktor-faktor persoalan keluarga,
masalah ekonomi pribadi dan karakteristik kepribadian bawaan.
1. Faktor persoalan keluarga. Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang
menganggap bahwa hubungan pribadi dan keluarga sebagai sesuatu yang sangat berharga.
Kesulitan pernikahan, pecahnya hubungan dan kesulitan disiplin anak-anak merupakan contoh
masalah hubungan yang menciptakan stres bagi karyawan dan terbawa ke tempat kerja.
2. Masalah Ekonomi. Diciptakan oleh individu yang tidak dapat mengelola sumber daya
keuangan mereka merupakan satu contoh kesulitan pribadi yang dapat menciptakan stres bagi
karyawan dan mengalihkan perhatian mereka dalam bekerja.
3. Karakteristik kepribadian bawaan. Faktor individu yang penting mempengaruhi stres adalah
kodrat kecenderungan dasar seseorang. Artinya gejala stres yang diungkapkan pada pekerjaan
itu sebenarnya berasal dari dalam kepribadian orang itu.

D. AKIBAT SETRES KERJA


Akibat dari stres banyak dan bervariasi, diantaranya ada yang positif seperti memotivasi
pribadi, rangsangan untuk belajar lebih keras, daan meningkatnya inspirasi hidup yang lebih
baik. Namun demikian lebih banyak lagi efek negatifnya yang secara potensial berbahaya
bagi bagi organisasi. Akibat-akibat tersebut antara lain :
1. Perasaan Kesal-Marah (Burnout)
Stres pada waktu kerja dan dalam hidup tidak bisa dihindarkan. Beberapa individu tidak
dapat mengatasi atas suatu periode waktu karena stres kerja. Ketika individu menjadi
letih dan merasa bahwa tidak ada sesuatu yang positif dikerjakannya, mereka
menunjukkan sebagai menjadi burnout. Jika seorang mengalami burnout, prestasinya
mungkin tidak dapat dilanjutkan. Penelitian juga telah menentukan bahwa individu yang
mengalami burnout lebuh banyak absen dan memiliki turnover yang lebih tinggi
dibanding pekerja lainnya.
2. Kecanduan Alkohol (Alkoholisme)
Efek negatif dari ketergantungan obat dan alkohol adalah masalah absen (absentime),
produktivitas rendah, dan kecelakaan kerja. Identifikasi alkoholisme adalah penting
karena ramalan untuk perlakuan yang berhasil adalah lebih menguntungkan jika
perlkuan itu dimulai pada tahap awal dari penyakit. Para manajer dapat melihat tanda-
tanda pecandu alkohol yaitu :
a. Pola absentisme berlebihan
b. Tidak hadir (absen) tanpa izin, sering terjadi
c. Kalambatan dan keberangkatan awal
d. Pertimbangan yang jelek dan keputusan yang jelek
e. Penampilan pribadi yang tidak rapi
f. Tanda-tanda meningkatnya kegugupan dan tangan gemetar
g. Tanda-tanda meningkatnya klaim rumah sakit-obat-operasi
3. Penyalahgunaan Obat
Akibat stres menjadikan para pekerja banyak mengkonsumsi obat-obat terlarang atau
penyalahgunaan obat-obatan. Beberpa perusahaan, mengakui bahwa penyalahgunaan
obat terjadi pada waktu bekerja, menggunakan bermacam-macam cara untuk melawan
masalah itu. Menurut banyak ahli, penggunaan kokain, crack dan heroin tumbuh lebih
cepatdibanding lain dari penyalahgunaan obat. Salah satu penyumbang untuk
penyalahgunaan obat adalah stres yang berasal dari kerja. Obat perangsang dan
halusinogen (marijuna/ganja dan kokain), narkotika (heroin daan demerol) serta obat
penenang-hipotik (barbiturat dan vilum) diambil oleh para pekerja bagi semua kategori
kerja untuk membebaskan kerja yang membosankan, stres yang berlebihan dan masalah
kerj yang berkaitan. Untuk melawan ketergantungan obat, manajemen harus pertama-
tama menerima bahwa setres yang berkaitan dengan kerja dapat mengakibatkan pada
ketergantungan obat. Kemudian, minat manajemen untuk melawan ketergantungan
obat dengan suat program yang manusiawi dan efektif.
4. Menurunnya Prestasi Kerja
Akibat setres kerja yang paling mendasar adalah terjadi menurunnya prestasi kerja. Jika
seseorang mengalami setres ini, prestasinya menurun dan banyak lebih sering absen dan
memiliki turnover yng lebih tinggi dibanding pekerja lainnya. Sedangkan pada tingkatan
manajer akibat setres organisasional maka mereka mengalami keterlambatan dalam
dalam bekerja dan banyak pertimbangan yang jelek dan keputusan yang jelek. Penelitian
akibat dari setres banyak dan bervariasi, diantaranya ada yang positif dan negatif.
Namun demikian lebih banyak lagi efek negatifnya yang lebih potensial berbahaya.
Akibat-akibat tersebut antara lain kelelahan fisik, perasaan kesal marah (burnout)
bahkan depresi kerja, dan prestasinya menurun. Hasil dari beberapa penelitian juga
menjelaskan bahwa dampak setres kerja berakibat positif seperti kemajua karir
karyawan, kesemangatan kerja, dan tanggungjawab pekerjaan.

E. PROSES TERBENTUKNYA STRES KERJA

Selye (1976) Mengkonseptualisasi tanggapan psikofisiologis terhadap stres. Ia menganggap


stres suatu tanggapan nonspesifik terhadap setiap tuntunan yang dibuat pada suatu
organisme dan dinamakan reaksi pertahanan tiga fase yang seseorang lakukan ketika stres.
 Tiga Fase tersebut antara lain :
1. Tahap Sinyal (alarm) adalah moblisasi awal dengan mana badan menemui tantangan
yang diberikan oleh penyebab stres. Ketika penyebab stres ditemukan,otak
mengirimkan suatu pesen biokimia kepada semua sistem tubuh.
2. Tahp Perlawanan (resistance) , tanda masuknya ke tahap perlawanan termasuk
keletihan,ketakutan,dan ketegangan. Pribadi yang mengalami tahap ini kini melawan
penyebab stres. Individu individu seing lebih mudah sakit selama periode stres
daripada waktu lainnya
3. Tahap Keletihan (exhaustion) . penghadapan pada penyebab stres yang sama dalam
jangka panjang dan terus menerus mungkin akhirnya menaikkan penggunaan energi
penyesuaian yang bisa dipakai, dan sistem menyerang penyebab stres menjadi letih.

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal
tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah
lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja
ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari, 2001)
membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

1. Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan
perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting); 2)
Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya; 3) Merasa mampu menyelesaikan
pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres tahap II
Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada
tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena
cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk
beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk
mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang
sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut:
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar; 2) Merasa mudah lelah
sesudah makan siang; 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari; 4) Sering mengeluh
lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort); 5) Detakan jantung lebih keras dari
biasanya (berdebar-debar); 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang; 7) Tidak bisa
santai.

3. Stres Tahap III


Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan
keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang
semakin nyata dan mengganggu, yaitu: 1) Gangguan lambung dan usus semakin nyata;
misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare); 2) Ketegangan otot-
otot semakin terasa; 3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin
meningkat; 4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur
(early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia),
atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia); 5)
Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini
seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga
beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat
guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.

3. Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, akan muncul: 1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat
sulit; 2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi
membosankan dan terasa lebih sulit; 3) Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi
kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate); 4) Ketidakmampuan
untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari; 5) Gangguan pola tidur disertai dengan
mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada
semangat dan
kegairahan; 6) Daya konsentrasi daya ingat menurun; 7) Timbul perasaan ketakutan dan
kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.

4. Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai
dengan hal-hal sebagai berikut: 1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam
(physical dan psychological exhaustion); 2) Ketidakmampuan untuk menyelesaikan
pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana; 3) Gangguan sistem pencernaan semakin
berat (gastrointestinal disorder); 4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin
meningkat, mudah bingung dan panik.

6. Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic
attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini
berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan
karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah
sebagai berikut: 1) Debaran jantung teramat keras; 2) Susah bernapas (sesak dan megap-
megap); 3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran; 4) Ketiadaan
tenaga untuk hal-hal yang ringan; 5) Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan
atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik
yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor
psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

F. PENANGANAN STRES KERJA

Langkah paling pertama dalam setiap progam untuk mengelola stres kerja agar tetap dalam
batas batas yang dapat diterima adalah pengakuan bahwa masalah tersebut ada. Berikut ini
memberikan bagaimana menangani atau mengelola stres kerja dari para ahli organisasi:
1. Analisis Peran dan Klarifikasi
Pentingnya para pekerja untuk melihat tentang bagaimana pekerjaan mereka. Para
pekerja harus mengerti jelas tentang pekerjaannya dan mereka harus tahu apa yang
perusahaan harapan dan menjadi yakin bahwa mereka dapat mengatasi harapan
harapan tersebut. Stres kerja terjadi karena pekerja bingung tentang peran kerja
mereka atau khawatir mereka tidak meleksanakan pekerjaan.
2. Membangaun Budaya Perusahaan
Budaya dari sebuah organisasi menentukan perilaku yang tepat dan memeotivasi
individu jika ambigiguitas dan konflik ada. Jika secara individual stres maka sangat
perasa,tertekan dan bermusuhan . sehingga dari sini penanfan stres kerja dengan
menciptakan budaya organisasi yang kondusif,agamis dan hiegenis.
3. Program Klinis
Dibawah ini progam yang didasarkan pada pendekatan pengobatan tradisional untuk
penanganannya:
a. Diagnosis Pribadi dengan suatu masalah, meminta bantuan anggota didalam unit
kesehatan pekerja dengan mencoba untuk mendiagnosa masalah
b. Terapi Konsultasi atau terapi dukunagan, hal ini diberikan jika staf di dalam
perusahaan tidak bisa menolong, pekerja menunjuk para profesional yaitu
psikiater atau ahli agama
c. Pemilihan, Pengujian secara periodik terhadap individu di dalam pekerjaan yang
penuh stres yang tinggi mendeteksi indikasi awal dari permasalahan
d. Pencegahan, yaitu dengan jalan pendidikan dan pelatihan terutama dibidang
kerohanian atau spiritual yang digunakan untuk menyakinkan pekerja,
memotivasi hakekat hidup sehingga lebih optimis dan produktif dalam bekerja
4. Program Organisasional
Progam tersebut bertujuan lebih luas pada seluruh masyarakat pekerja. Seringkali ,
program organisasional dirangsang oleh permasalahan yang diidentifikasi di dalam
suatu kelompok atau satu unit oleh beberaa perubahan di masa mendatang seperti
pemindahan atau penutupan pabrik atau pemasangan peralatan baru.
5. Program Spiritual
Program penangan stres kerja dari segi spiritual atau agama,kita dapat mengambil
pelajaran dari agama islam.

Keith Davis dan John W. Newstrom, (Mangkunegara, 2005:28-29) mengemukakan


bahwa “Four approaches that of ten involve employee and management cooperation for
stress management are social support, meditation, biofeedback and personal wellness
programs”, ada empat pendekatan terhadap stres kerja yakni sebagai berikut:
a.   Pendekatan dukungan sosial,  dilakukan melalui aktivitas yang bertujuan memberikan
kepuasan sosial kepada karyawan, misalnya bermain game dan bercanda;
b.    Pendekatan biofeedback,   dilakukan melalui bimbingan medis yakni melalui bimbingan
dokter, psikiater, dan psikolog, sehingga diharapkan karyawan dapat menghilangkan stres
yang dialaminya;
c.   Pendekatan kesehatan pribadi,  merupakan pendekatan preventif  sebelum terjadinya
stres. Dalam hal ini karyawan secara periode waktu yang kontinyu memeriksa kesehatan,
melakukan relaksasi otot, pengaturan gizi, dan olahraga secara teratur;
d.  Pendekatan meditasi, dilakukan melalui penenangan pikiran, dzikir, dan olah raga
pernafasan.

Menurut T.D. Jick da n R. Payne (Basalamah, 2004), ada tiga cara pokok yang dapat
digunakan untuk menghadapi stres, yaitu:
a. Memperlakukan symptom dari stres, yakni cara ini dapat membantu orang yang
mengalaminya, misalnya dengan menyediakan konsultasi, dan sebagainya.
b.   Ganti orang yang mengalami stres, yakni dengan  mengurangi kerentanan serta agar
lebih baik dalam bereaksi atau mengalami stres. Cara ini disebut pula dengan istilahself-
management of stres, yang antara lain meliputi senam kebugaran, diet, pengelolaan waktu
yang lebih baik, dukungan dari keluarga, kolega atau dukungan sosial, dan sebagainya.
c.  Ganti atau hilangkan faktor-faktor yang menimbulkan stres, yakni untuk menghilangkan,
melemahkan atau mengganti faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres, misalnya dengan
mengurangi kebisingan, polusi, dan sebagainya.
Setelah kita mengetahui bagaimana menghadapi stress, maka stres dapat dikurangi,
yaitu dengan cara:
a.         Mengurangi stres secara Individual, yakni strategi yang dikembangkan secara pribadi
atau individual. Strategi individual ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1. Dengan olahraga, diet dan cukup tidur, strategi ini meliputi olahraga, memperhatikan diet
dan nutrisi, tidur secara cukup, berlibur, dan sebagainya.
2. Mengubah perilaku dan reaksi kognitif yang bersangkutan terhadap stres
3. Mencari dukungan sosial, yang dapat berperan sebagai tameng dalam menghadapi
pengaruh stres. Dengan cara ini orang yang bersangkutan dapat menceritakan persoalannya dan
tidak tertutup kemungkinan orang tersebut akan memberikan jalan keluar kepadanya.
4. Mengatur waktu (time management), dapat dilakukan dengan cara: memprioritaskan
aktivitas, mengalokasikan waktu secara realistis dan jangan membiarkan pihak lain menginterfensi
waktu kita agar kita sepenuhnya dapat mengendalikan waktu kita.
b.        Mengurangi stres secara Organisasional, cara yang biasa ditempuh oleh organisasi
untuk mengurangi intensitas stres pegawai antara lain adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan, penempatan serta pendidikan dan pelatihan pegawai
2. Mengadakan program kebugaran bagi pegawai
3. Mengadakan konsultasi bagi karyawan perusahaan
4. Mengadakan komunikasi organisasional secara memadai
5. Dengan memberikan kebebasan bagi pegawai untuk memberikan masukan dalam proses
pengambilan keputusan.
6. Dengan mengubah struktur organisasi, fungsi dan/atau dengan merancang kembali
pekerjaan yang ada (job redesign).
7. Dengan menggunakan sistem pemberian imbalan tertentu.
Mangkunegara (2005: 29-30) menyatakan bahwa mendeteksi penyebab stres dan bentuk
reaksinya, ada tiga pola dalam mengatasi stres tersebut yaitu:
a.   Pola sehat,  adalah pola menghadapi stres yang terbaik, yaitu dengan kemampuan
mengelola perilaku dan tindakan sehingga adanya stres tidak menimbulkan gangguan, akan
tetapi menjadi sehat dan berkembang. Mereka yang tergolong kelompok ini biasanya mampu
mengelola waktu dan kesibukan dengan cara yang baik dan teratur sehingga ia tidak perlu
merasa ada sesuatu yang menekan meskipun sebenarnya tantangan dan tekanan cukup
banyak.
b.   Pola harmonis, adalah pola menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan
kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai hambatan. Dalam pola ini, individu
mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mengatur waktu
secara teratur. Ia pun selalu menghadapi tugas secara tepat, dan kalau perlu ia
mendelegasikan tugas-tugas tertentu kepada orang lain dengan memberikan kepercayaan
yang penuh. Dengan demikian akan terjadi keharmonisan dan keseimbangan antara tekanan
yang diterima dengan reaksi yang diberikan. Demikian juga terhadap keharmonisan antara
dirinya dan lingkungan.
c.   Pola patalogis, adalah pola menghadapi stres dengan berdampak berbagai gangguan fisik
maupun sosial-psikologis. Dalam pola ini, individu akan menghadapi berbagai tantangan
dengan cara-cara yang tidak memiliki kemampuan dan keteraturan mengelola tugas dan
waktu. Cara ini dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang berbahaya karena bisa menimbulkan
berbagai masalah yang buruk.