Anda di halaman 1dari 67

PELATIHAN PERENCANAAN JALAN

Maret 2010

HIMPUNAN PENGEMBANGAN JALAN INDONESIA - HPJI


Indonesian Road Development Association - IRDA
Propinsi Sumatera Utara
Sekretariat: Jl.Busi No.7-K Kp.Baru MEDAN - 20219
Telp/Fax: 061.7853730 email: hpji_sumut@ymail.com

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI - Modul Pelatihan/Pembekalan, Maret 2010


Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Daftar Isi

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iv

BAB I. PERATURAN TERKAIT DENGAN PERENCANAAN JALAN I-1

1.1. Umum I-1


1.2. Desain Geometri I-1
1.3. Desain Perkerasan Jalan I-1
1.4. Desain Struktur Dan Jembatan I-2
1.5. Desain Drainase I-3
1.6. Desainbangunanfasilitastol(Untukjalantol) I-4
1.7. .Desain Penerangan Jalan Umum I-4
1.8. Desain Rambu, Marka Dan Lampu Isyarat I-4
1.9. Desain Utilitas Umum I-4
1.10. Desain Perlengkapan Jalan I-4
1.11. Desain Lansekap Jalan I-4
1.12. Desain Tempat Istirahat Dan Pelayanan (Untuk Jalan Tol) I-4

BAB II. PEDOMAN PERENCANAAN TEKNIK JALAN

2.1 Ruang Lingkup II - 1


2.2 Acuan Normatif II - 1
2.3 Istilah dan Definisi II - 2
2.4 Ketentuan Umum II - 3
2.5 Ketentuan Teknis II - 4
2.6 Cara Pengerjaan II - 36
2.7 Pelaporan II - 37

BAB III. TATA-CARA PERENCANAAN TEKNIK JALAN


3.1. Umum III - 1
1.1. Kegiatan utama perancangan teknik III - 1
1.2. Jenis / kelompok perancangan teknik III - 1
3.2. Ketentuan Umum III - 1
3.3. Ketentuan Teknis III - 3
3.1. Jenis perancangan teknis III - 3
3.2. Survai dan penyelidikan lapangan III - 5
3.3. Penyusunan kriteria dan standar perencanaan III - 7
3.4. Analisa dan perencanaan teknik III - 7
3.5. Gambar rencana III - 11
3.6. Perhitungan kuantitas III - 11
3.7. Perkiraan biaya III - 11
3.8. Penyiapan dokumen lelang III - 12
3.4. Pelaporan III - 12

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJ-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencana Jalan-Maret 2010 -v-
Modul PRJL- II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. I. Peraturan Terkait Dengan Perencanaan Teknik Jalan.

BAB I
PERATURAN
TERKAIT DENGAN PERENCANAAN JALAN

1.1. UMUM

Dalam perencanaan jalan, perencana harus mengacu kepada Undang-Undang, Peraturan-


peraturan yang terkait dengan jalan, juga dapat menggunakan buku referensi, literatur,
pedoman, standar-standar yang sudah baku dan umum digunakan di Indonesia. Jika tidak
ditentukan lain, dapat menggunakan acuan seperti berikut ini.

1.2. DESAIN GEOMETRI

Standar geometri ini merujuk pada buku-buku acuan sebagai berikut :


· Undang Undang RI No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
· Undang Undang RI No. 38 tahun 2004, tentang Jalan
· Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.
· Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan tol
· Peraturan Pemerintah RI Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.
· RSNI “Standar geometri jalan bebas hambatan untuk jalan tol”, 2007
· RSNI “Geometri jalan perkotaan”, 2004
· Petunjuk Perencanaan Geometri untuk Jalan Antar Kota, September 1997.
· Standar Perencanaan Geometri untuk Jalan Perkotaan, Maret 1992, Direktorat Jenderal
Bina Marga, Direktorat Pembinaan Jalan Kota.
· Ketentuan Teknik, Tata Cara Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Tol : Keputusan
Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 353/KPTS/M/200, 22 Juni 2001,
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.
· A Policy on Geometric Design of Highway and Streets, AASHTO, 2004.
· KEPMEN Perhubungan No. 52 Tahun 2000 tentang Jalur Kereta Api.
· KEPMEN Perhubungan No. 53 Tahun 2000 tentang Perpotongan dan/atau Persinggungan
antara Jalan Kereta Api dengan Bagian lain.
· KEPMEN Perhubungan No. KM 74 tahun 1990 tentang Angkutan Peti Kemas di Jalan.
· Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor : 01.P/47/MPE/1992, tentang Ruas
Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggu (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra
Tinggi (SUTET) untuk penyaluran tenaga listrik.
· Desain geometrik jalan Sumatera Region Road Project (SRRP), 2002.

1.3. DESAIN PERKERASAN JALAN

Rujukan yang dipakai untuk perhitungan tebal perkerasan jalan lentur (flexible pavement)
adalah :
· AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993.
· Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen No.
SNI 1732-1989-F.
· dan atau acuan baku lain yang disetujui oleh Pengguna Jasa.
Sedangkan rujukan yang dipakai untuk perhitungan tebal perkerasan jalan kaku (rigid
pavement) adalah :
· AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993.
· Pd.T-14-2003, Perencanaan perkerasan jalan beton semen.
· dan atau acuan baku lain yang disetujui oleh Pengguna Jasa.

II - 1
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Marett. 2010
Modul PRJL- II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. I. Peraturan Terkait Dengan Perencanaan Teknik Jalan.

1.4. DESAIN STRUKTUR DAN JEMBATAN

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Undang-Undang RI Nomor : 13 Tahun 1980 tentang Jalan.
· Undang-Undang RI Nomor : 14 Tahun 1992 tentang Lalu lintas dan AngkutanJalan.
· Undang-Undang RI Nomor : 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
· Peraturan Pemerintah RI Nomor : 26 Tahun 1985 tentang Jalan.
· Peraturan Pemerintah RI Nomor : 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas.
· Peraturan Pemerintah RI Nomor : 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN).

Standar Nasional Indonesia (SNI) :


· SNI-2 1971 : Peraturan beton bertulang Indonesia
· SNI 03-1051-1989 : Kawat baja karbon tinggi untuk konstruksi beton pratekan
· SNI 03-1154-1989 : Kawat baja tanpa lapisan bebas tegangan untuk konstruksi beton
pratekan, jalinan tujuh
· SNI 03-1050-1989 : Baja tulangan untuk konstruksi beton pratekan
· SNI 03-1748-1989 : Spesifikasi konstruksi jembatan tipe balok T bentang s/d 25 meter
untuk BM 100
· SK SNI T-15-1991-03 : Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung
· SNI 03-2495-1991 : Spesifikasi bahan tambahan untuk beton
· SNI 03-2451-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 10 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2532-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 11 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2533-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 12 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2534-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 13 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2535-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 14 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2536-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 15 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2537-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 16 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2538-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 17 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2539-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 18 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2540-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 19 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2541-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 20 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2542-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 21 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2543-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 22 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2544-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 23 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2545-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 24 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2546-1991 : Spesifikasi pilar dan kepala jembatan sederhana bentang 25 meter
dengan pondasi tiang pancang
· SNI 03-2847-1992 : Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung
· SNI 03-3424-1994 : Perencanaan drainase permukaan jalan
II - 2
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Marett. 2010
Modul PRJL- II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. I. Peraturan Terkait Dengan Perencanaan Teknik Jalan.

· SNI 03-3446-1994 : Tata cara perencanaan teknis pondasi langsung untuk jembatan
· SNI 03-3447-1994 : Tata cara perencanaan teknis pondasi sumuran untuk jembatan
· SNI 07-3651.1-1995 : Persyaratan umum kawat baja beton pratekan
· SNI 07-3651.2-1995 : Kawat tarik dingin, kawat baja beton pratekan
· SNI 07-3651.4-1995 : Pilinan kawat baja beton pratekan
· SNI 03-2052-1997 : Baja tulangan beton
· SNI 03-4816-1998 : Spesifikasi bantalan karet untuk perletakan jembatan
· SNI 03-3967-2002 : Spesifikasi perletakan elastomer jembatan tipe polos dan tipe
laminasi
· SNI 03-6747-2002 : Tata cara perencanaan teknis pondasi tiang untuk jembatan
· SNI 03-1726-2002 : Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa
· SNI T-12-2004 : Standar Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan
· RSNI 2005 : Standar Pembebanan untuk Jembatan
ASTM, AASHTO :
· AASHTO : Standard Specification for Highway Bridges, 17th Edition, 2002.
· AASHTO T26-79 : Quality of water to be used in concrete
· ASTM A 421-91 : Uncoated stress-relieved wire for prestresses concrete
· ASTM A 722 : Uncoated high-strength steel bar for prestresses concrete
· ASTM C 494 : Water reducing, retarding, accelerating, high range concrete
· ASTM C 618 : Pozzolans, fly ash and other mineral admixtures
· AASHTO M31-95 : Deformed and plain billet-steel bar for concrete reinforcement
· AASHTO M32-94 : Cold drawn steel wire for concrete reinforcement
· ACI 315 : Manual of standard practice for detailing reinforced concrete structures,
American Concrete Institute
· AWS D 2.0 : Standards Specifications for welded highway and railway bridges

BMS-1992 :

· BMS’92 : Standar Bina Marga Bridge Management System’92 Direktorat Jendral Bina
Marga Departemen Pekerjaan Umum
New Architecture of Bridges, Atrium, Barcelona 1992.

1.5. DESAIN DRAINASE

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Centre for Civil Engineering Research and Codes : “Guideline Road Construction over
Peat and Organic Soil”, draft version 4, Jakarta, November 2000.
· Dewan Standarisasi Nasional : Tata cara Perencanaan Drainase Permukaan Jalan,
Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta, 1992.
· Ir. S. Hindarko, ”Drainase perkotaan”
· Linsley Ray K Jr. : “Hidrologi untuk Insinyur”, Erlangga, Jakarta, 1986.
· Metoda pengukuran debit sungai dan saluran terbuka (SK SNI–17-1989-F).
· Metode Perhitungan Debit Banjir (SK SNI M – 18-1989-F).
· NN : “Drainage of Asphalt Pavement Structures (Manual Series-15)”, The Asphalt Institute,
Maryland, 1981.
· Pedoman Perencanaan Hidrologi dan Hidrolik untuk bangunan di sungai (SKBI – 1.3.10-
1987).
· Ray K Linsley, Joseph B Franzini, Djoko Sasongko, ”Teknik Sumber Daya Air”.
· Sri Harto. : “Analisa Hidrologi”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993.
· Suyono Sosrodarsono : “Hidrologi untuk Pengairan”, Pradnya Paramita, Jakarta, 1993.
· Tata Cara Perencanaan Drainase Permukaan Jalan (SNI 03-3414-1994).
· Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 3 – Small Drainage
Structure”, USAID, Washington DC, 1978.

II - 3
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Marett. 2010
Modul PRJL- II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. I. Peraturan Terkait Dengan Perencanaan Teknik Jalan.

· Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 5 – Roadside


Drainage”, USAID, Washington DC, 1978.
· United States Department of the Interior : “Design of Small Dams”, Oxford & IBH
Publishing Co., New Delhi, 1974.
· Ven Te Chow : “Hidrolika Saluran Terbuka”, Erlangga, Jakarta, 1992.

1.6. DESAIN BANGUNAN FASILITAS TOL (UNTUK JALAN TOL)

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Konsep Gardu Tol Ideal, Divisi Perencanaan, PT. Jasa Marga (Persero)
· Pedoman Perencanaan Bangunan Fasilitas Tol, Divisi Perencanaan, PT. Jasa Marga
(Persero), November 1999.

1.7. DESAIN PENERANGAN JALAN UMUM

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga,
Departemen Pekerjaan Umum, Nomor 12/BNKT/1991, Februari 1992

1.8. DESAIN RAMBU, MARKA DAN LAMPU ISYARAT

Desain rambu, marka dan lampu isyarat mengacu pada :


· Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 60 Tahun 1993 tentang Marka Jalan.
· Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 61 Tahun 1993 tentang Rambu-rambu Lalu
Lintas di Jalan
· Keputusan Menteri Perhubungan, No. KM 62 Tahun 1993, tentang Alat Pemberi Isyarat
Lalu Lintas.
· Keputusan Direksi PT. Jasa Marga (Persero) Nomor 21/KPTS/2001, tentang Pedoman
Standar Sarana Perlengkapan Jalan Tol.
· Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997, Direktorat Jenderal Bina Marga.
· Peraturan Menteri Perhubungan No.60 Tahun 2006 Perubahan Atas Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor KM 61 Tahun 1993 Sebagaimana Telah Diubah Dengan Keputusan
Menteri Perhubungan Nomor KM. 63 Tahun 2004 Tentang Rambu - Rambu Lalu Lintas di
Jalan.

1.9. DESAIN UTILITAS UMUM

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Manual Desain untuk Jalan dan Jembatan Tol, PT. Jasa Marga (Persero), 1992.

1.10. DESAIN PERLENGKAPAN JALAN

Referensi yang dipergunakan sebagai acuan adalah :


· Manual Desain untuk Jalan dan Jembatan Tol, PT. Jasa Marga (Persero), 1992.

1.11. DESAIN LANSEKAP JALAN

Desain lansekap jalan mengacu pada :


· Tata-cara perencanaan teknik lansekap jalan, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat
Jenderal Bina Marga, No. 033/T/BM/1996.

II - 4
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Marett. 2010
Modul PRJL- II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. I. Peraturan Terkait Dengan Perencanaan Teknik Jalan.

1.12. DESAIN TEMPAT ISTIRAHAT DAN PELAYANAN (UNTUK JALAN TOL)

Desain tempat istirahat dan pelayanan mengacu pada :


· Manual Desain untuk Jalan dan Jembatan Tol, PT. Jasa Marga (Persero), 1992.
· Tata-cara penentuan lokasi tempat istirahat di jalan bebas hambatan, No. 037/T/BM/1999.

II - 5
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI-Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Marett. 2010
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

BAB II
PEDOMAN PERENCANAAN TEHNIK JALAN

2.1. RUANG LINGKUP

Pedoman perancangan teknik jalan ini memuat ketentuan umum, ketentuan teknis dan cara pengerjaan
perancangan teknik jalan serta pelaporan, dan juga mencakup hal-hal yang terkait dengan perancangan
jalan, sebagai berikut :
a. Kegiatan utama perancangan teknik :
- Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey);
- Survai detail / survai primer;
- Analisis data lapangan;
- Desain / perhitungan teknis;
- Penyiapan gambar rencana;
- Perhitungan kuantitas;
- Perkiraan biaya;
- Penyiapan dokumen lelang.
b. Jenis / kelompok perancangan teknik
Perancangan teknik dikelompokkan kedalam tiga bagian / kelompok tata-cara yang dibedakan
dalam ruang lingkup kegiatannya, yaitu :
- Perancangan teknik jalan baru;
- Perancangan teknik peningkatan jalan, yang masih dibagi lagi menjadi dua sub-kelompok,
karena terdapat perbedaan dalam ruang lingkup kegiatannya, yaitu peningkatan jalan dengan
pelebaran dan peningkatan jalan tanpa pelebaran;
- Perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan.

2.2 ACUAN NORMATIF

- Undang-Undang RI Nomor : 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan.
- Undang-Undang RI Nomor : 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
- Undang-Undang RI Nomor : 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
- Peraturan Pemerintah RI Nomor : 26 Tahun 1985 tentang Jalan.
- Peraturan Pemerintah RI Nomor : 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas.
- Peraturan Pemerintah RI Nomor : 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN).
- SNI No. 03-1743-1989, Kegiatan DCP.
- SNI No. 03-2416-1991, Pelaksanaan kegiatan Benkelman Beam.
- SNI No. 03-2442-1991, Spesifikasi kereb beton untuk jalan.
- SNI No. 03-2447-1991, Spesifikasi trotoar.
- SNI No. 03-3424-1994, Standar perencanaan drainase permukaan jalan.
- SNI No. 03-2444-2002, Spesifikasi bukaan pemisah jalur (separator).
- RSNI No. T-14-2004, Geometri jalan perkotaan.
- Standar No. 031/T/BM/1999/SK.No.76/KPTS/Db/1999, Tata-cara perencanaan geometri jalan
perkotaan.
- Pd.T-01-2002-B, Pedoman perencanaan tebal perkerasan lentur.
- Pd.T-14-2003, Perencanaan perkerasan jalan beton semen.
- Pd.T-12-2004-B, Marka jalan.
- Pd.T-13-2004-B, Pedoman penempatan utilitas pada daerah milik jalan.
- Pd.T-15-2004-B, Perencanaan separator jalan.
- Pd.T-16-2004-B, Survai inventarisasi geometri jalan perkotaan.
- Pd.T-17-2004-B, Perencanaan median jalan.
- Pd.T-19-2004-B, Survai pencacahan lalu lintas dengan cara manual.
- Pd.T-20-2004-B, Perencanaan bundaran untuk persimpangan sebidang.
- Pd.T-21-2004-B, Survai kondisi rinci jalan beraspal di perkotaan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 1
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

- American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO), 1993, Guide for
Design of Pavement Structures.
- American Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO), 2001, A Policy on
geometric design of highways and streets.
- ASTM D 4719, Pengeboran.
- Federal Highway Authority (FHWA) No. RD-00-067, Roundabout : an Informational Guide.

2.3 ISTILAH DAN DEFINISI

2.3.1
Bahu Jalan
bagian ruang manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas untuk menampung kendaraan
yang berhenti, keperluan darurat dan untuk pendukung samping bagi lapisan pondasi bawah, pondasi
atas dan permukaan.

2.3.2
Catchment Area
daerah tangkapan air atau daerah yang berpengaruh terhadap desain debit banjir rencana.
2.3.3
Equivalent Single Axle Load (ESAL)
jumlah repetisi kendaraan pada lajur lalu-lintas selama umur rencana yang tergantung kepada jumlah
lalu lintas harian rata-rata, pertumbuhan lalu-lintas dan Vehicle Damage Factor.
2.3.4
jalur lalu lintas
bagian jalur jalan yang direncanakan khusus untuk lintasan kendaraan bermotor.
2.3.5
Jalur Tepian
bagian dari median yang ditinggikan atau separator yang berfungsi memberikan ruang bebas bagi
kendaraan yang berjalan pada jalur lalu lintasnya .
2.3.6
Kecepatan Rencana
kecepatan yang dipilih untuk mengikat komponen perencanaan geometri dalam kilometer per jam (km/h).
2.3.7
Lajur
bagian jalur yang memanjang, dengan atau tanpa marka jalan, yang memiliki lebar cukup untuk satu
kendaraan bermotor sedang berjalan selain sepeda motor.
2.3.8
Lalu-Lintas Harian Rata-Rata
volume lalu lintas rata-rata selama satu tahun, yang didapat dari pengukuran selama beberapa hari
dibagi dengan jumlah harinya.
2.3.9
Lendutan Balik Dengan Benkelman Beam Test
survai perkerasan jalan untuk mengetahui lendutan perkerasan yang ada dengan alat Benkelman Beam.
2.3.10
Median Jalan
bagian dari jalan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan dengan bentuk memanjang sejajar jalan terletak
disumbu / tengah jalan, dimaksudkan untuk memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan, median jalan
dapat berbentuk median yang ditinggikan (raised), median yang diturunkan (depressed), atau median
datar (flush).

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 2
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.3.11
Pemeriksaan Daya Dukung Tanah Dasar Dengan Alat DCP
survai untuk mengetahui daya dukung tanah dasar dengan DCP (Dynamic Cone Penetrometer).
2.3.12
Perancangan Teknik Jalan Baru
merupakan perancangan teknik jalan termasuk komponen dan atau bangunan pelengkapnya dimana
trasenya adalah route baru terpilih dari hasil kajian teknis dan biaya / studi kelayakan.
2.3.13
Perancangan Teknik Peningkatan Jalan
terdiri atas perancangan peningkatan jalan dengan pelebaran (capacity expansion) dan peningkatan
struktur jalan, perancangan peningkatan jalan dengan pelebaran (capacity expansion) merupakan
perancangan jalan dimana dalam hasil analisis lalu-lintas diperlukan penambahan lajur lalu-lintas untuk
meningkatkan kapasitas jalan, perancangan peningkatan struktur jalan merupakan perancangan jalan
dimana dalam hasil analisis diperlukan peningkatan kekuatan struktur perkerasan untuk mencapai umur
jalan yang direncanakan tetapi tidak diperlukan penambahan lajur lalu-lintas.
2.3.14
Perancangan Teknik Pemeliharaan Berkala Jalan
merupakan perancangan jalan dimana tujuan utamanya adalah untuk mengembalikan kondisi
perkerasan jalan menjadi seperti semula agar jalan tersebut mempunyai tingkat ke-mampu-layanan
dalam batas yang diijinkan.
2.3.15
Stabilitas Badan Jalan
stabilitas badan jalan harus aman terhadap gerakan tanah atau longsoran yang dapat terjadi akibat
pembangunan jalan.

2.3.16
Stabilitas Lereng
stabilitas lereng harus memberikan hasil desain dan informasi tentang berapa tinggi maksmum dan
kemiringan lereng desain galian dan atau timbunan yang aman dari keruntuhan.
2.3.17
Survai Kondisi Permukaan
survai yang dilakukan untuk mengetahui kekasaran jalan atau kondisi permukaan berupa Road
Condition Index (RCI) perkerasan yang ada.
2.3.18
Survai Lalu-Lintas
survai lalu-lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu-lintas, kecepatan kendaraan rata-rata,
menginventarisasi jenis/golongan kendaraan yang ada, menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan
yang melewati ruas jalan tertentu dalam satuan waktu, serta survai beban gandar, sehingga dapat
dihitung lalu-lintas harian rata-rata dan traffic design sebagai dasar perancangan jalan.
2.3.19
Survai Pendahuluan (Reconnaissance Survey)
survai yang dilakukan pada awal pekerjaan dilokasi pekerjaan, yang bertujuan untuk memperoleh data
awal sebagai bagian penting bahan kajian teknik dan bahan untuk pekerjaan selanjutnya, survai ini
diharapkan mampu memberikan saran dan bahan pertimbangan terhadap survai detail lanjutan.
2.3.20
Umur Rencana
parameter perencanaan perkerasan jalan yang menunjukkan masa layan jalan tersebut dari awal jalan
dibuka/dioperasikan sampai dengan tingkat kemampu-layanan jalan menurun sampai batas yang
diijinkan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 3
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.3.21
Vehicle Damage Factor (VDF)
angka yang menyatakan perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan beban
sumbu tunggal/ganda kendaraan terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu lintasan beban
standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lb).

2.4 KETENTUAN UMUM

1) Perencanaan harus berdasarkan pada suatu prosedur yang memberikan jaminan keamanan
dan dampak lingkungan pada tingkat yang wajar, dan kekuatan yang dapat diterima untuk
mencapai suatu tingkat kemampu-layanan selama umur rencana.
2) Perencanaan harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam kriteria
desain, meliputi kriteria desain geometri, kriteria desain perkerasan, kriteria desain drainase,
kriteria desain struktur, kriteria desain penerangan jalan umum, kriteria desain rambu, marka
dan lampu isyarat.
3) Data dan survai yang diperlukan dalam perancangan teknik meliputi :
- pengumpulan data sekunder;
- survai pendahuluan;
- survai detail / primer : topografi, inventarisasi jalan dan jembatan, survai lalu-lintas, survai
kondisi perkerasan, survai geoteknik dan geologi, survai matrerial, survai hidrologi dan
hidrolika (sesuai jenis dan kebutuhan perencanaan).
4) Output dari perancangan teknik, terdiri atas :
- hasil perancangan teknik : desain geometri, badan jalan dan stabilitas jalan, perkerasan jalan,
drainase, simpang, bangunan pelengkap jalan, rambu dan marka serta lampu, lansekap jalan
(sesuai jenis dan kebutuhan perencanaan);
- gambar rencana;
- perkiraan kuantitas pekerjaan;
- perkiraan biaya konstruksi;
- dokumen lelang.

2.5. KETENTUAN TEKNIS

2.5.1 Jenis perancangan teknik

2.5.1.1 Perancangan teknik jalan baru

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik jalan baru, jika tidak ditentukan lain oleh
Pengguna Jasa, diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1) Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey)
2) Survai detail / survai primer meliputi :
a). Pengukuran topografi;
b). Inventarisasi jalan;
c). Survai lalu-lintas;
d). Survai geoteknik dan geologi;
e). Survai material konstruksi;
f). Survai hidrologi dan hidrolika;
g). Survai utilitas umum.
3) Analisis data lapangan, meliputi :
a. Analisis data topografi;
b. Analisis data hasil inventarisasi jalan;
c. Analisis / kajian lalu-lintas;
d. Analisis data geoteknik dan geologi;

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 4
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

e. Analisis data hidrologi dan hidrolika.


4) Desain / perhitungan teknik, meliputi :
a. Desain geometri;
b. Desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan;
c. Desain perkerasan jalan;
d. Desain drainase;
e. Desain simpang;
f. Desain bangunan pelengkap jalan (termasuk bangunan fasilitas untuk utilitas),
pengaman jalan, struktur non jembatan;
g. Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat;
h. Desain lansekap jalan.
5) Penyiapan gambar rencana.
6) Perhitungan kuantitas.
7) Perkiraan biaya.
8) Penyiapan dokumen lelang.

2.5.1.2 Perancangan teknik peningkatan jalan (dengan pelebaran)


Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik peningkatan jalan (dengan pelebaran),
jika tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa, diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut
:
1) Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey).
2) Survai detail/survai primer meliputi :
a). Pengukuran topografi;
b). Inventarisasi jalan;
c). Survai lalu-lintas;
d). Survai kondisi perkerasan jalan;
e). Survai geoteknik dan geologi;
f). Survai material konstruksi;
g). Survai hidrologi dan hidrolika;
h). Survai utilitas umum.
3) Analisis data lapangan, meliputi :
a. Analisis data topografi;
b. Analisis data hasil inventarisasi jalan;
c. Analisis / kajian lalu-lintas;
d. Analisis data kondisi perkerasan;
e. Analisis data geoteknik dan geologi;
f. Analisis data hidrologi dan hidrolika;
4) Desain / perhitungan teknik, meliputi :
a. Desain geometri;
b. desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan;
c. Desain perkerasan jalan;
d. Desain drainase;
e. Desain simpang;
f. Desain bangunan pelengkap jalan (termasuk bangunan fasilitas untuk utilitas),
pengaman jalan, struktur non jembatan;
g. Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat;
h. Desain lansekap jalan.
5) Penyiapan gambar rencana.
6) Perhitungan kuantitas.
7) Perkiraan biaya.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 5
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

8) Penyiapan dokumen lelang.

2.5.1.3 Perancangan teknik peningkatan jalan (tanpa pelebaran)

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik peningkatan jalan (tanpa pelebaran), jika
tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa, diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1) Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey)
2) Survai detail / survai primer meliputi :
a). Pengukuran topografi;
b). Inventarisasi jalan;
c). Survai lalu-lintas;
d). Survai kondisi perkerasan jalan;
e). Survai geoteknik dan geologi;
f). Survai material konstruksi;
g). Survai hidrologi dan hidrolika.
3) Analisis data lapangan, meliputi :
a. Analisis data topografi;
b. Analisis data hasil inventarisasi jalan;
c. Analisis / kajian lalu-lintas;
d. Analisis data kondisi perkerasan;
e. Analisis data geoteknik dan geologi;
f. Analisis data hidrologi dan hidrolika.
4) Desain / perhitungan teknik, meliputi :
a. Desain geometri;
b. Desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan;
c. Desain perkerasan jalan;
d. Desain drainase;
e. Desain simpang;
f. Desain bangunan pelengkap jalan (termasuk bangunan fasilitas untuk utilitas),
pengaman jalan, struktur non jembatan;
g. Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat;
h. Desain lansekap jalan.
5) Penyiapan gambar rencana.
6) Perhitungan kuantitas.
7) Perkiraan biaya.
8) Penyiapan dokumen lelang.

2.5.1.4 Perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak
ditentukan lain oleh Pengguna Jasa, diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1) Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey)
2) Survai detail / survai primer meliputi :
a). Pengukuran topografi;
b). Inventarisasi jalan;
c). Survai lalu-lintas;
d). Survai kondisi perkerasan jalan.
3) Analisis data lapangan, meliputi :
a. Analisis data topografi;
b. Analisis data hasil inventarisasi jalan;
c. Analisis / kajian lalu-lintas;
d. Analisis data kondisi perkerasan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 6
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

4) Desain / perhitungan teknik, meliputi :


a. Desain perkerasan jalan;
b. Desain drainase;
c. Desain bangunan pelengkap jalan, pengaman jalan, struktur non jembatan;
d. Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat.
5) Penyiapan gambar rencana.
6) Perhitungan kuantitas.
7) Perkiraan biaya.
8) Penyiapan dokumen lelang.

2.5.2 Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan

1) Umum
a) Pengumpulan data sekunder bertujuan untuk :
- mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal;
- menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survai
pendahuluan;
- menetapkan ruas jalan yang akan disurvai.
b) Survai pendahuluan (reconnaissance survey) dilakukan pada awal pekerjaan di lokasi
pekerjaan, untuk memperoleh data awal sebagai bagian penting bahan kajian teknik
dan bahan untuk pekerjaan selanjutnya. Survai ini diharapkan mampu memberikan
saran dan bahan pertimbangan terhadap survai detail lanjutan.
2) Pengumpulan data sekunder
Jenis kegiatan dan ketentuan teknik pengumpulan data sekunder ini meliputi :
a) Mempersiapkan peta-peta dasar berupa :
i) Peta tata guna lahan;
ii) Peta topografi skala 1 : 250.000 s/d 1 : 25.000 atau yang lebih besar;
iii) Peta geologi skala 1 : 250.000 s/d 1 : 25.000
b) Membuat estimasi panjang jalan, jumlah dan panjang jembatan, box culvert / gorong-gorong
dan bangunan pelengkap jalan lainya yang mungkin akan terdapat pada route jalan tersebut.
c) Melakukan koordinasi dan konfirmasi dengan instansi terkait.
d) Mengumpulkan dan mempelajari laporan-laporan yang berkaitan dengan wilayah yang
dipengaruhi atau mempengaruhi jalan yang akan direncanakan.
e) Mengumpulkan data sekunder minimal meliputi :
i) Data kelas, fungsi dan status jalan yang akan didesain;
ii) Data volume lalu-lintas minimal 5 tahun terakhir dari koridor ruas jalan yang mewakili;
iii) Data pertumbuhan lalu-lintas minimal 5 tahun terakhir dari koridor ruas jalan yang
mewakili;
iv) Data vehicle damage factor yang dianggap mewakili;
v) Data curah hujan minimal 10 tahun terakhir;
vi) Data tata guna tanah / lahan.
3) Survai pendahuluan (reconnaissance survey)
Jenis kegiatan dan ketentuan teknik survai pendahuluan (reconnaissance survey) ini meliputi :
a) Diskusi perencanaan di lapangan

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 7
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Mendiskusikannya dan membuat usulan perencanaan di lapangan bagian demi bagian,


membuat sketsa dilengkapi catatan-catatan dan kalau perlu membuat tanda di lapangan
berupa patok serta dilengkapi foto-foto penting dan identitasnya masing-masing yang akan
difinalkan di kantor sebagai bahan penyusunan laporan setelah kembali.
b) Reconnaissance survey geometri
i) Menentukan awal proyek dan akhir proyek yang tepat untuk mendapatkan overlaping
yang baik dan memenuhi syarat geometri. Pada penentuan titik awal dan titik akhir
pekerjaan, diwajibkan mengambil data sejauh 200 m sebelum titik awal dan 200 m
setelah titik akhir pekerjaan.
ii) Mengidentifikasi medan secara stationing / urutan jarak dengan mengelompokkan
kondisi : medan datar, perbukitan, pegunungan / bukit curam dalam bentuk tabelaris.
iii) Mengidentifikasi / memperkirakan secara tepat penerapan desain geometri (alinyemen
horisontal maupun vertikal) dengan melakukan pengukuran-pengukuran secara
sederhana dan benar dan membuat sketsa desain alinyemen horisontal maupun
vertikal secara khusus untuk lokasi-lokasi yang dianggap sulit untuk memastikan trase
yang dipilih akan dapat memenuhi persyaratan geometri.
iv) Di dalam penarikan perkiraan desain alinyemen horizontal dan vertikal harus sudah
diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan kebutuhan perencanaan untuk lokasi-
lokasi : galian / timbunan, bangunan pelengkap jalan, gorong-gorong dan jembatan
(oprit jembatan), persimpangan yang bisa terlihat dengan dibuatnya sketsa-sketsa
serta tabelaris di lapangan dari identifikasi kondisi lapangan secara stasioning dari
awal sampai akhir proyek.
v) Di lapangan harus diberi tanda berupa patok atau tanda khusus sepanjang daerah
rencana dengan interval 50 m untuk memudahkan tim pengukuran.
vi) Pembuatan foto-foto penting untuk pelaporan dan panduan dalam melakukan survai
detail selanjutnya.
c) Reconnaissance survey topografi
i) Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok beton Bench Mark
(BM) di awal dan akhir proyek;
ii) Mengamati kondisi topografi;
iii) Mencatat daerah-daerah yang yang akan dilakukan pengukuran khusus serta,
morpologi dan lokasi yang perlu dilakukan perpanjangan koridor;
iv) Membuat rencana kerja untuk survai detail pengukuran;
v) Menyarankan posisi patok Bench Mark pada lokasi / titik yang akan dijadikan referensi.
d) Reconnaissance survey geoteknik dan geologi
i) Mengamati secara visual kondisi lapangan yang berkaitan dengan karakteristik dan
sifat tanah dan bantuan.
ii) Memberikan rekomendasi berkaitan dengan rencana jembatan yang akan dipilih yang
berada pada ruas jalan rencana.
iii) Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi khusus (rawan longsor, dll).
iv) Mencatat lokasi yang akan dilakukan pengeboran maupun untuk test pit.
v) Membuat rencana kerja untuk tim survai detail.
e) Reconnaissance survey bangunan pelengkap jalan
i) Untuk perencanaan jalan baru perlu dicatat data lokasi / Sta. perkiraan lokasinya apa
sudah sesuai dengan geometri dengan rencana jenis konstruksi dan dimensi yang
diperlukan.
ii) Untuk lokasi yang sudah ada eksisting perlu dibuatkan inventarisasinya dengan
lengkap, jenis konstruksi, dimensi, kondisi serta mengusulkan penanganan yang
diperlukan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 8
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

iii) Untuk lokasi yang ada aliran airnya perlu dicatat tinggi muka air normal, muka air
banjir tertinggi yang pernah terjadi serta adanya tanda-tanda / gejala erosi yang
dilengkapi dengan sketsa lokasi, morfologi serta karakter aliran sungai.
iv) Membuat sketsa dan kalau perlu foto-foto beserta catatan-catatan khusus serta saran-
saran yang berguna dijadikan panduan dalam pengambilan data untuk perencanaan
pada waktu melakukan survai detail nanti dan pengaruhnya terhadap keamanan /
kestabilan.
f) Reconnaissance survey hidrologi / hidrolika
i) Mengumpulkan informasi sumber perolehan data curah hujan.
ii) Menganalisa awal luas daerah tangkapan (catchment area).
iii) Mengamati kondisi terrain pada daerah tangkapan sehubungan dengan bentuk dan
kemiringan yang akan mempengaruhi pola aliran.
iv) Mengamati karakter aliran sungai / morfologi yang mungkin berpengaruh terhadap
konstruksi dan saran-saran yang diperlukan untuk menjadi pertimbangan dalam
perencanaan berikut.
v) Mengamati tata guna lahan.
vi) Menginventarisasi awal bangunan drainase eksisting.
vii) Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi penting.

2.5.3. Pengumpulan data primer


1) Pengukuran topografi
Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan
ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan di dalam koridor yang
ditetapkan untuk penyiapan peta topografi, yang akan digunakan untuk perencanaan
geometri jalan.
Jenis kegiatan dan ketentuan teknik pengukuran topografi ini meliputi :
a) Pemasangan patok-patok
i) Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran 10 x 10 x 75 cm atau pipa
pralon ukuran 4 inci yang diisi dengan adukan beton dan diatasnya dipasang neut.
ii) Patok BM dipasang setiap 1 km.
iii) Patok BM dipasang / ditanam dengan kuat, bagian yang tampak diatas tanah setinggi
20 cm, dicat warna kuning, diberi lambang Pekerjaan Umum, notasi dan nomor BM
dengan warna hitam.
iv) Patok BM ditempatkan pada tempat yang aman, mudah terlihat.
v) Patok BM yang sudah terpasang, kemudian difoto sebagai dokumentasi yang
dilengkapi dengan nilai koordinat serta elevasi.
vi) Untuk setiap titik poligon dan sipat datar harus digunakan patok kayu yang cukup
keras lurus, dengan diameter sekitar 5 cm, panjang sekurang-kurangnya 50 cm,
bagian bawah diruncingkan, bagian atas diratakan diberi paku, ditanam dengan kuat,
bagian yang masih nampak diberi nomor dan cat warna merah, dipasang pada tepi
terluar kiri dan kanan. Dalam keadaan khusus, perlu ditambahkan patok bantu.
vii) Untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya, pada daerah sekitar patok diberi
tanda-tanda khusus.
viii) Pada lokasi-lokasi khusus dimana tidak mungkin dipasang patok, misalnya di atas
permukaan jalan beraspal atau di atas permukaan batu, maka titik-titik poligon dan
sipat datar ditandai dengan paku seng dilingkari cak kuning dan diberi nomor.
b) Pengukuran titik kontrol horisontal

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 9
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

i) Pengukuran titik kontrol horisontal dilakukan dengan sistem poligon, dan semua titik
ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon.
ii) Sisi poligon atau jarak antara titik poligon maksimum 100 meter, diukur dengan
meteran atau dengan alat ukur secara optis ataupun elektronis.
iii) Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit ketelitian baca dalam detik
disarankan untuk menggunakan theodolit jenis T2 atau yang setingkat.
iv) Pengamatan matahari dilakukan pada titik awal dan titik akhir pengukuran dan untuk
setiap interval ± 5 km di sepanjang trase yang diukur. Apabila pengamatan matahari
tidak bisa dilakukan, disarankan menggunakan alat GPS Portable (Global Positioning
System). Setiap pengamatan matahari harus dilakukan dalam 2 seri.
c) Pengukuran titik kontrol vertikal
i) Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri / pembacaan pergi-pulang.
ii) Pengukuran sipat datar harus mencakup semua titik pengukuran (poligon, sipat datar,
dan potongan melintang) dan titik BM.
iii) Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, berskala benar, jelas dan
sama.
iv) Pada setiap pengukuran sipat datar harus dilakukan pembacaan ketiga benangnya,
yaitu Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT), dan Benang Bawah (BB), dalam satuan
milimeter. Pada setiap pembacaan harus dipenuhi : 2 BT = BA + BB
v) Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah slag (pengamatan) yang
genap.
d) Pengukuran situasi
i) Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachimetri, yang mencakup semua obyek
yang dibentuk oleh alam maupun manusia yang ada disepanjang jalur pengukuran,
seperti alur, sungai, bukit, jembatan, rumah, gedung dan sebagainya.
ii) Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman penyebaran dan kerapatan
titik yang cukup sehingga dihasilkan gambar situasi yang benar. Pada lokasi-lokasi
khusus (misalnya : persimpangan dengan jalan yang sudah ada) pengukuran harus
dilakukan dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi.
iii) Untuk pengukuran situasi harus digunakan dengan alat theodolit.
e) Pengukuran penampang melintang
i). Untuk pengukuran penampang melintang harus digunakan alat Theodolit (apabila
menggunakan alat konvensional).
ii). Pengukuran penampang melintang harus dilakukan dengan persyaratan seperti Tabel
1.
Tabel 1. Ketentuan pengukuran melintang

Interval (m) Interval (m)


Kondisi Lebar koridor * (m)
Jalan baru Longsoran

Datar, landai dan lurus 75+75 50 25


Pegunungan 75+75 25 25
Tikungan 50 (luar) + 100 (dalam) 25 25

Catatan : * Batasan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 10
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

f) Pengukuran pada perpotongan dengan jembatan, sungai dan jalan lain


Pengukuran pada perpotongan rencana trase dengan jembatan, sungai dan jalan lain harus
dilakukan pengukuran situasi lengkap yang menampilkan segala obyek yang dibentuk alam
maupun manusia disekitar persilangan tersebut.
g) Pemeriksaan dan koreksi alat ukur
Sebelum melakukan pengukuran, setiap alat ukur yang akan digunakan harus diperiksa dan
dikoreksi sebagai berikut :
i) Pemeriksaan theodolit
· Sumbu I vertikal, dengan koreksi nivo kotak dan nivo tabung.
· Sumbu II tegak lurus sumbu I.
· Garis bidik tegak lurus sumbu II.
· Kesalahan kolimasi horisontal = 0
· Kesalahan indeks vertikal = 0
ii) Pemeriksaan alat sifat datar
· Sumbu I vertikal, dengan koreksi nivo kotak dan tabung.
· Garis bidik harus sejajar dengan garis arah nivo.
Hasil pemeriksaan dan koreksi alat ukur harus dicatat dan dilampirkan dalam laporan.
h) Ketelitian dalam pengukuran
Ketelitian untuk pengukuran poligon sebagai berikut :
i) Kesalahaan sudut yang diperolehkan adalah 10”Ön, (n adalah jumlah matahari poligon
dari pengamatan matahari pertama ke pengamatan matahari selanjutnya atau dari
pengukuran GPS pertama ke pengukuran GPS selanjutnya)
ii) Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5”.
i) Perhitungan
i) Pengamatan matahari
Dasar perhitungan pengamatan matahari harus mengacu pada tabel almanak
matahari yang diterbitkan oleh Direktorat Topografi TNI-AD untuk tahun yang sedang
berjalan dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan.
ii) Perhitungan koordinat
Perhitungan koordinat poligon dibuat setiap seksi antara pengamatan matahari yang
satu dengan pengamatan berikutnya. Koreksi sudut tidak boleh diberikan atas dasar
nilai rata-rata, tapi harus diberikan berdasarkan panjang (kaki sudut yang lebih pendek
mendapatkan koreksi yang lebih besar), dan harus dilakukan di lokasi pekerjaan.
iii) Perhitungan sipat datar
Perhitungan sipat datar harus dilakukan hingga 4 desimal (ketelitian 0,5 mm), dan
harus dilakukan kontrol perhitungan pada setiap lembar perhitungan dengan
menjumlahkan beda tingginya.
iv) Perhitungan ketinggian detail
Ketinggian detail dihitung berdasarkan ketinggian patok ukur yang dipakai sebagai titik
pengukuran detail dan dihitung secara tachimatris.
v) Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistem komputerisasi.
Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail, situasi, dan penampang milintang
harus digambarkan pada gambar polygon, sehingga membentuk gambar situasi
dengan interval garis ketinggian (contour) 1 meter. Semua gambar topografi harus
disajikan dengan menggunakan software komputer.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 11
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2) Inventarisasi jalan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data secara umum mengenai kondisi
perkerasan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau atau ruas jalan yang terpengaruh dalam
perencanaan.
Pemeriksaan dilakukan dengan mencatat kondisi rata-rata setiap 200 m yang tercatat selama
berkendaraan. Untuk kondisi tertentu yang memerlukan data yang lebih rapat dan cermat, interval
jarak dapat diperpendek dan dilakukan dengan ground survey.
Data yang diperoleh / diperlukan dari pemeriksaan ini adalah :
a) Peran / fungsi jalan.
b) Lebar perkerasan yang ada dalam meter.
c) Jenis bahan perkerasan yang ada.
d) Pemanfaatan ruang jalan.
e) Kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada seperti saluran samping,
gorong-gorong, bahu, kondisi drainase samping, jarak pagar / bangunan / tebing ke pinggir
perkerasan.
f) Lokasi awal dan akhir pemeriksaan harus jelas dan sesuai dengan lokasi yang ditentukan
untuk jenis pemeriksaan lainnya.
g) Data yang diperoleh dicatat di dalam format inventarisasi jalan (Highway Geometric
Inventory), per 200 meter.
h) Membuat foto dokumentasi inventarisasi geometri jalan minimal 1 buah foto per 200 meter.
Foto ditempel pada format yang standar dengan mencantumkan hal-hal yang diperlukan
seperti nomor dan nama ruas jalan, arah pengambilan foto dan tinggi petugas yang
memegang nomor Sta.

3) Survai lalu-lintas

- Untuk perancangan teknik jalan baru dan peningkatan jalan :


Survai lalu-lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu-lintas, kecepatan kendaraan rata-
rata, menginventarisasi jenis / golongan kendaraan yang ada, menginventarisasi jumlah setiap
jenis kendaraan yang melewati ruas jalan tertentu dalam satuan waktu, serta untuk
mengetahui nilai vehicle damage factor (VDF), sehingga dapat dihitung lalu-lintas harian rata-
rata dan traffic design sebagai dasar perencanaan jalan dan pertumbuhan lalu-lintas tahunan
serta nilai VDF.

- Untuk perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan :


Survai lalu-lintas bertujuan untuk mengetahui kondisi lalu-lintas, menginventarisasi jenis /
golongan kendaraan yang ada, menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang
melewati ruas jalan tertentu dalam satuan waktu, sehingga dapat dihitung lalu-lintas harian
rata-rata sebagai dasar perencanaan jalan dan pertumbuhan lalu-lintas tahunan.

Jenis kegiatan dan ketentuan teknik survai lalu-lintas ini meliputi :


a) Survai volume kendaraan
Dilakukan di dua tempat yaitu :
· Ruas jalan
· Persimpangan
Seluruh jenis kendaraan yang lewat baik dari arah depan maupun dari arah belakang harus
dicatat.
Setiap lajur minimal 2 orang dengan peralatan yang digunakan 1 orang 1 counter serta
format survai yang telah ditentukan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 12
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

i) Pos-pos perhitungan lalu lintas


· Pos Kelas A : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas jalan
dengan jumlah lalu lintas yang tinggi dan mempunyai LHR > 10.000 kendaraan.
· Pos Kelas B : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas jalan
dengan jumlah lalu lintas sedang dan mempunyai 5.000 < LHR < 10.000
kendaraan.
· Pos Kelas C : yaitu pos perhitungan lalu lintas yang terletak pada ruas jalan
dengan jumlah lalu-lintas rendah dan mempunyai LHR < 5.000 kendaraan.
ii) Pemilihan lokasi pos
· Lokasi pos harus mewakili jumlah lalu lintas harian rata-rata dari ruas jalan tidak
terpengaruh oleh angkutan ulang alik yang tidak mewakili ruas (commuter traffic).
· Lokasi pos harus mempunyai jarak pandang yang cukup untuk kedua arah,
sehingga memungkinkan pencatatan kendaraan dengan mudah dan jelas.
· Lokasi pos tidak dapat ditempatkan pada persilangan jalan.
iii) Tanda pengenal pos
· Setiap pos perhitungan lalu lintas rutin mempunyai nomor pengenal, terdiri dari 1
huruf besar dan diikuti oleh 3 digit angka. Huruf besar A, B dan C memberikan
identitas mengenai tipe kelas pos perhitungan.
· 3 digit angka berikutnya identik dengan nomor ruas jalan dimana pos-pos tersebut
terletak.
· Apabila pada suatu ruas jalan mempunyai pos perhitungan lebih dari satu, maka
kode untuk pos kedua, digit pertama diganti dengan 4 dan seratusnya. Untuk pos
hendaknya dimulai dari kilometer kecil kearah kolometer besar pada ruas jalan
tersebut.
iv) Periode perhitungan
Pos kelas A : Untuk pos kelas A perhitungan dilakukan dengan periode 24 jam selama
3 hari, mulai pukul 06.00 pagi pada hari pertama dan berakhir 06.00 pada hari kedua,
hari survai dilakukan pada hari-hari yang mewakili, yaitu 2 hari yang mewakili pada hari
kerja, 1 hari yang mewakili pada hari libur.
Pos kelas B : pelaksanaan perhitungan seperti pada pos kelas A.
Pos kelas C : pelaksanaan perhitungan seperti pada pos kelas A.
v) Pengelompokan kendaraan
Dalam perhitungan jumlah lalu-lintas mengacu pada Pedoman Survai Pencacahan
Lalu lintas No. Pd.T-19-2004-B, kendaraan dibagi kedalam 8 golongan/kelompok
mencakup kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor, seperti pada Tabel 2.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 13
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 2. Penggolongan kendaraan

Golongan Jenis kendaraan

1 Sepeda motor, sekuter, sepeda kumbang dan kendaraan bermotor roda 3


2 Sedan, jeep, dan Station Wagon
3 Opelet, Pick-up opelet, Sub-urban, Combi, Minibus
4 Pick-up, Micro Truck dan Mobil hantaran atau Pick-up Box
5a Bus Kecil
5b Bus Besar
6a Truk ringan 2 sumbu
6b Truk sedang 2 sumbu
7a Truk 3 sumbu
7b Truk Gandengan
7c Truk Semi Trailer
8 Kendaraan tidak bermotor, sepeda, becak, andong/dokar, gerobak sapi

b) Survai lalu-lintas di persimpangan


Survai persimpangan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi persimpangan / pertemuan
jalan baik situasi fisik maupun kondisi lalu-lintas antara lain komposisi, distribusi menurut
waktu dan arah, dan lain-lain.
Jenis kegiatan dan ketentuan teknis pekerjaan ini sebagai berikut :
i) Survai penghitungan kendaraan : Survai penghitungan dilaksanakan untuk mencatat
jumlah kendaraan yang bergerak pada arah tertentu di suatu persimpangan.
ii) Survai traffic signal : Survai dilakukan untuk mencatat cycle dan phase lampu lalu-
lintas untuk di masing-masing persimpangan.
iii) Survai inventarisasi jalan (road inventory) : Survai dilakukan untuk mengetahui
keadaan eksisting jalan seperti lebar jalan atau lebar kaki simpang, lebar bahu jalan,
saluran drainase, median jalan, land use di pinggir jalan yang berpengaruh terhadap
aktifitas kendaraan di persimpangan.
Survai ini dilaksanakan 24 jam dalam sehari selama 3 hari, hari survai dilakukan pada hari-
hari yang mewakili, yaitu 2 hari yang mewakili pada hari kerja, dan 1 hari yang mewakili
pada hari libur.
c) Survai beban kendaraan (Axle load survey / WIM survey)
Untuk melaksanakan survai beban kendaraan / survai WIM (Weight in Motion) ini diperlukan
alat pengukur berat kendaraan yang lewat. Survai ini dimaksudkan untuk :
i) Menggambarkan besaran Equivalent Single Axle Load (ESA) per jenis kendaraan.
ii) Untuk menentukan nilai ESA pada setiap jalur lalu lintas.
Dari hasil survai ini dapat diperoleh nilai truck factor / damage factor yang akan digunakan
dalam perhitungan perencanaan tebal perkerasan.
d) Survai kecepatan perjalanan
Tujuan dari survai kecepatan perjalanan adalah untuk mendapatkan informasi situasi lalu-
lintas saat ini, untuk mengidentifikasi lokasi bottleneck dan menyediakan input bagi
pembuatan model “speed-flow relationship”
Kegiatan yang dilaksanakan adalah mencatat waktu yang diperlukan oleh rata-rata
kendaraan untuk melakukan perjalanan pada rute-rute tertentu, serta mencatat kelambatan /

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 14
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

hambatan perjalanan yang dialami mencakup lokasi, durasi, dan sebab-sebab kelambatan /
hambatan.
Survai dilaksanakan terhadap kendaraan-kendaraan pada rute di wilayah rencana untuk
mendapatkan rata-rata kecepatan perjalanan pada waktu-waktu yang berlainan dalam satu
hari.
Survai waktu perjalanan dilaksanakan dengan metoda pengamat bergerak (moving
observer) dengan menggunakan strategi floating car untuk mengamati rata-rata kecepatan
kendaraan pada rute-rute yang telah ditentukan. Dengan metode ini, pengendara mobil
pengamat diinstruksikan untuk mengemudi pada kecepatan rata-rata kendaraan yang ada
dalam arus lalu lintas.
e) Persyaratan
Standar pengambilan dan perhitungan data harus mengacu pada buku Manual Kapasitas
Jalan Indonesia yang berlaku.

4) Survai perkerasan jalan


Survai ini bertujuan untuk mengetahui data struktural perkerasan yang ada, meliputi lendutan,
daya dukung tanah dasar, susunan dan kondisi lapisan perkerasan dan kekasaran jalan.
Survai perkerasan jalan ini umumnya diperuntukkan pada jalan yang sudah ada (eksisting). Jenis
kegiatan dan ketentuan teknik survai perkerasan jalan ini sebagai berikut :
a) Lendutan balik dengan Benkelman Beam Test
Pemeriksaan lendutan balik dapat dilakukan dengan berbagai macam alat, salah satu yang
biasa digunakan adalah dengan Benkelman Beam.
Untuk pelaksanaan kegiatan Benkelman Beam harus sesuai dengan SNI 03-2416-1991.
b) Pemeriksaan Daya Dukung Tanah Dasar dengan alat DCP (Dynamic Cone Penetrometer)
Untuk kegiatan DCP, harus sesuai dengan SNI 03-1743-1989.
c) Pemeriksaan kekasaran jalan
Survai kondisi permukaan atau Road Condition Index (RCI), dapat diukur secara visual.
Sebagai pedoman dalam menentukan nilai RCI secara visual, dapat dilihat Tabel 3.

5) Survai geoteknik dan geologi

- Untuk perancangan teknik jalan baru dan peningkatan jalan :


Tujuan penyelidikan geoteknik dan geologi dalam pekerjaan ini adalah untuk melakukan
pemetaan penyebaran tanah / batuan dasar, termasuk kisaran tebal tanah pelapukan,
memberikan informasi mengenai stabilitas tanah, menentukan jenis dan karakteristik tanah
untuk keperluan bahan jalan dan struktur jalan.

Tabel 3. Penentuan nilai RCI berdasarkan jenis permukaan dan kondisi secara visual

Jenis permukaan Kondisi ditinjau secara visual Nilai RCI

1. Jalan tanah dg drainase jelek, dan semua Tidak bisa dilalui. 0–2
tipe permukaan yg tidak diperhatikan
sama sekali.
2. Semua tipe perkerasan yang tidak Rusak berat, banyak lubang pada 2–3
diperhatikan sejak lama (4 - 5 th atau seluruh daerah perkerasan
lebih).

3. Penetrasi macadam lama, latasbum lama, Rusak, bergelombang, banyak 3–4

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 15
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

batu kerikil. lubang.


4. Penetrasi macadam setelah pemakaian 2 Agak rusak, kadang-kadang ada 4–5
tahun, latasbum lama. lubang, permukaan tidak rata.

5. Penetrasi macadam baru, latasbum baru, Cukup, tidak ada atau sedikit sekali 5–6
lasbutag setelah pemakaian 2 tahun. lubang, permukaan jalan agak tidak
rata.
6. Lapis tipis lama dari hotmix, Latasbum Baik 6–7
baru, Lasbutag baru.

7. Hotmix setelah 2 tahun, Hotmix tipis Sangat baik, umumnya rata. 7–8
diatas Penetrasi Macadam.
8. Hotmix baru (Lataston, laston), Sangat rata dan teratur 8 – 10
Peningkatan dengan menggunakan lebih
dari 1 lapis.

- Untuk perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan :


Tujuan penyelidikan geoteknik dalam pekerjaan ini adalah untuk memberikan informasi
mengenai stabilitas tanah, menentukan jenis dan karakteristik tanah, untuk keperluan struktur
jalan.
a) Penyelidikan geoteknik
Kegiatan dan ketentuan teknis penyelidikan geoteknik meliputi :
i) Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji
Pengambilan contoh tanah dari sumuran uji 25 - 40 kg untuk setiap contoh tanah.
Setiap contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor sumur uji, lokasi,
kedalaman). Penggalian sumuran uji dilakukan pada setiap jenis satuan tanah yang
berbeda atau maksimum 5 km bila jenis tanah sama, dengan kedalaman 1 - 2 m.
Setiap sumuran uji yang digali dan contoh tanah yang diambil harus difoto. Dalam foto
harus terlihat jelas identitas nomor sumur uji, dan lokasi. Ukuran test pit adalah kurang
lebih panjang 1,5 m lebar 1,0 m, Log sumuran uji digambarkan dalam 4 bidang,
dengan diskripsi yang lengkap.
ii) Pengambilan contoh tanah tak terganggu
Pengambilan contoh tanah tak terganggu dilakukan dengan cara bor tangan
menggunakan tabung contoh tanah (split tube untuk tanah keras atau piston tube
untuk tanah lunak). Setiap contoh tanah harus diberi identitas yang jelas (nomor bor
tangan, lokasi, kedalaman). Pemboran tangan dilakukan pada setiap lokasi yang
diperkirakan akan ditimba (untuk perhitungan penurunan) dengan ketinggian timbunan
lebih dari 4 meter dan pada setiap lokasi yang diperkirakan akan digali (untuk
perhitungan stabilitas lereng) dengan kedalaman galian lebih dari 6 meter, dengan
interval sekurang-kurangnya 100 meter dan/atau setiap perubahan jenis tanah dengan
kedalaman sekurang-kurangnya 4 meter. Setiap pemboran tangan dan contoh tanah
yang diambil harus difoto. Dalam foto harus terlihat jelas identitas nomor bor tangan,
dan lokasi. Semua contoh tanah harus diamankan baik selama penyimpanan di
lapangan maupun dalam pengangkutan ke laboratorium.
iii) Pemboran tangan
Pemboran tangan ini diperuntukkan perencanaan jalan baru atau pelebaran jalan > 1
lajur, dilakukan dengan mengacu pada ASTM D 4719, pengeboran setiap interval 1
km.
iv) Sondir (Pneutrometer Static)
Sondir dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras, menentukan
lapisan-lapisan tanah berdasarkan tahanan ujung konus dan daya lekat tanah berbutir
halus, tidak boleh digunakan pada daerah aluvium yang mengandung komponen

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 16
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

berangkal dan kerakal serta batu gamping yang berongga, karena hasilnya akan
memberikan indikasi lapisan tanah keras yang salah.
Ada dua macam alat sondir yang digunakan :
· Sondir ringan dengan kapasitas 2,5 ton;
· Sondir berat dengan kapasitas 10 ton.
Pembacaan dilakukan pada setiap penekanan pipa sedalam 20 cm, pekerjaan sondir
dihentikan apabila pembacaan pada manometer berturut-turut menunjukkan harga >
2
150 kg/cm . Alat sondir terangkat ke atas apabila pembacaan manometer belum
menunjukkan angka yang maksimum, maka alat sondir perlu diberi pemberat yang
diletakkan pada baja kanal jangkar.
Hasil yang diperoleh adalah nilai sondir (qc) atau perlawanan penetrasi konus dan
jumlah hambatan pelekat (JHP). Grafik yang dibuat adalah perlawanan penetrasi
konus (qc) pada tiap kedalaman dan jumlah hambatan pelekat (JHP) secara kumulatif.
v) Pengujian lapangan dan pekerjaan laboratorium
Pengujian lapangan dan pekerjaan laboratarium dilaksanakan sesuai ketentuan yang
tercantum pada Tabel 4 dan Tabel 5.

Tabel 4. Pengujian lapangan

No. Pengujian Keterangan

1. Test pitting Maks. per 1 km ( 1 x 1 x 0,75 m )


2. Bor tangan kedalaman 4 m Acuan : ASTM D 4719
Interval : maks. per 1 km
3. Boring kedalaman maximum 30 m Per daerah galian / bukit.
4. Undisturbed / thinwall sampling Per daerah galian / bukit.
5. Sondir di timbunan Maks. per 500 m

Tabel 5. Pengujian tanah di laboratorium

No. Pengujian Keterangan

1 Kadar air Acuan : ASTM D 2216-92


Min. 1 pengujian setiap 1 km
2 Atterberg limit test Acuan : SNI 03-1967-1990, SNI 03-1966-1990
Min. 1 pengujian setiap 1 km
3 Hidrometer Acuan : SNI 03-3422-1994
Min. 1 pengujian setiap 1 km
4 Berat jenis Acuan : ASTM D 854-92
Min. 1 pengujian setiap 1 km
5 Berat isi Acuan : SNI-1742-1989
Min. 1 pengujian setiap 1 km
6 Compaction (Proctor) Acuan : SNI 03-1742-1989, SNI 03-1743-1989
Min. 1 pengujian setiap 1 km
7 CBR Acuan : SNI 03-1744-1989
Min. 1 pengujian setiap 1 km
8 Unconfined compression test Min. 1 pengujian setiap 1 km

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 17
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

9 Direct Shear Acuan : SNI 03-2813-1992, ASTM D 3080-90


Min. 1 pengujian setiap 1 km
10 Consolidation Min. 1 pengujian setiap 1 km
11 Swelling Acuan : ASTM D 4546-90
Min. 1 pengujian setiap 1 km
12 Permeabilitas Acuan : Manual of Soil Laboratory Testing gunakan
metode Falling Head
Min. 1 pengujian setiap 1 km

b) Penyelidikan geologi
Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail dengan peta dasar topografi skala
1 : 250.000 s/d skala 1 : 100.000. Pencatatan kondisi geologi di sepanjang rencana trase
jalan untuk setiap jarak 500 - 1000 m.
i) Penyelidikan lapangan
Meneliti pemeriksaan sifat tanah (konsistensi, jenis tanah, warna, perkiraan
prosentase butiran kasar / halus) sesuai dengan metoda USCS, atau metoda lain yang
disetujui.
ii) Pemetaan
Jenis batuan yang ada di sepanjang trase jalan dipetakan, batas-batasnya ditetapkan
dengan jelas sesuai dengan data pengukuran untuk selanjutnya diplot dalam gambar
rencana dengan skala 1 : 2.000 ukuran A3. Pemetaan mencakup jenis struktur geologi
yang ada antara lain : sesar / patahan, kekar, perlapisan batuan, dan perlipatan.
Lapukan batuan dianalisis berdasarkan pemeriksaan sifat fisik / kimia, kemudian
hasilnya diplot di atas peta geologi teknik termasuk didalamnya pengamatan tentang :
gerakan tanah, tebal pelapukan tanah dasar, kondisi drainase alami, pola aliran air
permukaan dan tinggi muka air tanah, tata guna lahan, kedalaman rawa (apabila
rencana trase jalan tersebut harus melewati daerah rawa).

6) Survai material

Lingkup kegiatan dan tujuan penyelidikan material konstruksi adalah :


- Menyelidiki lokasi, jalur pengangkutan dan volume potensial material konstruksi yang tersedia;
- Menyelidiki mutu material konstruksi melalui pengujian laboratorium.
Kegiatan yang dilakukan adalah untuk memberikan informasi tentang lokasi sumber material yang
ada disekitar lokasi proyek tersebut, menyangkut jenis, komposisi, kondisi beserta perkiraan
jumlah dan lain-lainnya, yang dapat digunakan sebagai bahan konstruksi yang proporsional untuk
pekerjaan struktur jalan dimaksud, dan akan dibuat petanya untuk dimasukkan kedalam gambar
rencana.

Material untuk konstruksi yang diperiksa adalah : tanah untuk timbunan, batu pecah, dan pasir.
Pengujian lapangan dan pekerjaan laboratorium dilaksanakan sesuai ketentuan yang tercantum
pada Tabel 6.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 18
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 6. Pengujian/pemeriksaan material di lapangan dan laboratorium

No. Uraian Keterangan

I. Pengujian lapangan :
1. Bor tangan kedalaman 4 m Acuan : ASTM D 4719
Jumlah : 1 titik per sumber
2. Undisturbed / thinwall sampling Jumlah : 2 karung @ 50 kg per sumber
II. Pengujian laboratorium (bahan tanah)
1. Kadar air Acuan : ASTM D 2216-92
Min. 3 pengujian setiap sumber
2. Atterberg limit test Acuan : SNI 03-1967 & 1966-1990
Min. 3 pengujian setiap sumber
3. Hidrometer Acuan : SNI 03-3422-1994
Min. 3 pengujian setiap sumber
4. Compaction (Proctor) Acuan : SNI 03-1742 & 1743 –1989
Min. 3 pengujian setiap sumber
5. CBR Acuan : SNI 03-1744-1989
Min. 3 pengujian setiap sumber
6. Swelling Acuan : ASTM D 4546-90
Min. 3 pengujian setiap sumber
III. Pengujian laboratorium (batu pecah)
1. Abrasi Acuan : SNI 03-2417-1991
Min. 3 pengujian setiap sumber
2. Analisa gradasi Acuan : SNI 03-1968-1990
Min. 3 pengujian setiap sumber
3. CBR Acuan : SNI 03-1744-1989
Min. 3 pengujian setiap sumber
4. Clay lump & variable particles Acuan : SK SNI M-01-1994-03
Min. 3 pengujian setiap sumber

5. Apparent specific gravity & absorption Min. 3 pengujian setiap sumber


6. Organic impurities Min. 3 pengujian setiap sumber
7. Soundness test Min. 3 pengujian setiap sumber
IV. Pengujian laboratorium (bahan pasir)
1. Analisa gradasi Acuan : SNI 03-1968-1990
Min. 3 pengujian setiap sumber
2. Clay lump & variable particles Acuan : SK SNI M-01-1994-03
Min. 3 pengujian setiap sumber
3. Organic impurities Min. 3 pengujian setiap sumber
4. Sand equivalent Min. 3 pengujian setiap sumber
V. Pengujian laboratorium (bahan
bitumen) *)
1. Penetrasi Acuan : AASHTO T 49 - 89
2. Titik Lembek Acuan : AASHTO T 53 - 89
3. Titik Nyala Acuan : AASHTO T 48 - 89
4. Kehilangan Berat Acuan : AASHTO T 179 - 88
5. Kelarutan Zat CCL4 Acuan : ASTM D 2042
6. Daktilitas Acuan : AASHTO T 51 - 89
7. Penetrasi Setelah Kehilangan Berat Acuan : AASHTO T 49 - 89
8. Daktilitas Setelah Kehilangan Berat Acuan : AASHTO T 51 - 89
9. Berat Jenis Acuan : AASHTO T 228 - 90
10. Kadar Parafin Acuan : DIN 52015

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 19
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Keterangan :
*) : Jika tidak ditentukan lain, khusus pengujian laboratorium bahan bitumen (aspal), dapat
dilakukan pada saat mulai pelaksanaan pembangunan fisiknya.

7) Survai hidrologi dan hidrolika


Tujuan survai hidrologi dan hidrolika yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk
mengumpulkan data hidrologi dan karakter/perilaku aliran air pada bangunan air yang ada di
sekitar jalan, guna keperluan analisa hidrologi, penentuan debit banjir rencana dan elevasi muka
air banjir sebagai dasar perencanaan drainase dan bangunan pangaman terhadap gerusan atau
pengarah arus yang diperlukan.
Jenis kegiatan dan ketentuan teknis pekerjaan survai hidrologi dan hidrolika meliputi :
a) Mengumpulkan data curah hujan harian maksimum (mm/hr) paling sedikit dalam jangka 10
tahun pada daerah tangkapan (catchment area) atau pada daerah yang berpengaruh
terhadap lokasi pekerjaan, data tersebut bisa diperoleh dari Badan Meteorologi dan
Geofisika dan/atau instansi terkait di kota terdekat dari lokasi perencanaan.
b) Mengumpulkan data bangunan pengaman yang ada seperti gorong-gorong dan selokan
yang meliputi : lokasi, dimensi, kondisi, tinggi muka air banjir.
c) Melakukan analisis awal pola aliran air pada daerah rencana untuk memberikan masukan
dalam proses perencanaan yang aman.
d) Melakukan analisis awal bangunan pengaman jalan terhadap gerusan samping atau
horisontal dan vertikal.
8) Survai utilitas umum
Tujuan survai ini adalah untuk mengetahui jenis dan lokasi utilitas umum secara rinci di lapangan,
dan melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait.

2.5.4 Analisis data lapangan

2.5.4.1 Analisis data topografi

Analisa data topografi meliputi situasi di sekitar trase jalan, daerah galian dan timbunan, koordinat
horisontal dan vertikal, peta topografi dengan skala 1 : 1000, termasuk kontur.
Analisis data topografi yang diperlukan untuk perencanaan teknik jalan meliputi :
1. Situasi disekitar trace jalan;
2. Koordinat horisontal dan vertical;
3. Daerah galian dan timbunan;
4. Kontur setiap interval 1 m.

2.5.4.2 Analisis data hasil inventarisasi jalan


Analisa data inventarisasi jalan umumnya untuk jalan yang sudah ada, meliputi lebar perkerasan,
jenis bahan perkerasan yang ada, kondisi daerah samping jalan serta sarana utilitas yang ada,
kondisi drainase samping, jarak pagar / bangunan / tebing ke pinggir perkerasan.

Analisis data inventarisasi jalan yang diperlukan untuk perencanaan teknik jalan, meliputi :
1) Perkerasan : Lebar perkerasan, Jenis bahan perkerasan yang ada, Kondisi kerusakan perkerasan.
2) Median : Lebar median, Jenis konstruksi median, Lokasi / Station, Kondisi kerusakan median.
3) Trotoar : Lebar trotoar, Jenis konstruksi trotoar, Kereb, Lokasi / Station. Kondisi kerusakan trotoar.
4) Drainase jalan : Jenis konstruksi saluran samping jalan, Dimensi penampang basah dan dimensi
strukturnya, Arah aliran, Lokasi / Station, Kondisi kerusakan saluran drainase.
5) Gorong-gorong, box culvert : Jenis konstruksi, Dimensi penampang basah dan dimensi
strukturnya, Arah aliran, Lokasi / Station, Kondisi kerusakan.
6) Utilitas Tiang listrik, Telkom, PDAM : Lokasi / Station, khususnya pengaruhnya terhadap
perencanaan jalan, apakah perlu digeser atau tetap ditempatnya.
7) Jarak pagar / bangunan ke pinggir perkerasan.
8) Jarak tebing ke pinggir perkerasan.
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 20
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.5.4.3 Analisis / kajian lalu-lintas


Analisis / kajian lalu-lintas yang diperlukan meliputi lalu-lintas harian rata-rata, pertumbuhan lalu-
lintas tahunan, vehicle damage factor (VDF), kecepatan kendaraan rata-rata dan kapasitas jalan.

Analisis / kajian lalu-lintas yang diperlukan untuk perancangan teknik jalan meliputi :
1) Lalu-lintas harian rata-rata.
2) Pertumbuhan lalu-lintas tahunan.
3) Vehicle damage factor (VDF).
4) Kecepatan kendaraan rata-rata.
5) Faktor penyesuaian lebar jalan, faktor penyesuaian pemisah arah (hanya untuk jalan tak
terbagi), faktor penyesuaian hambatan samping dan bahu jalan / kereb, faktor penyesuaian
ukuran kota, untuk kajian kapasitas jalan.

2.5.4.4 Analisis data kondisi perkerasan


Analisis data kondisi perkerasan yang diperlukan untuk perancangan teknik jalan meliputi :
1) Analisis lendutan dari data Benkelman Beam
2) Analisis CBR
3) Analisis susunan dan kondisi lapisan perkerasan

Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan, harus mengadakan analisis data sebagai berikut :
a) Jenis lapis perkerasan
b) Tebal setiap lapis perkerasan
c) Kondisi / nilai (dalam prosen) setiap lapis perkerasan

4) Analisis kekasaran jalan (RCI)

5) Penentuan segment (unique section)

Penentuan unique section, yaitu suatu seksi / segment jalan yang mempunyai karakteristik
seragam dalam beberapa variabel desain berdasar :
a) Lebar perkerasan yang ada / rencana
b) Lendutan balik rencana
c) Nilai CBR rencana
d) Nilai roughness / kekasaran

2.5.4.5 Analisis data geoteknik dan geologi


- Untuk perancangan teknik jalan baru dan peningkatan jalan :
Analisa data geoteknik dan geologi meliputi klasifikasi tanah, CBR, stabilitas tanah termasuk
kemiringan lereng aman, tinggi timbunan aman, termasuk kajian penurunan.
- Untuk perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan :
Analisa data geoteknik meliputi klasifikasi tanah, CBR, stabilitas tanah termasuk kemiringan lereng
aman, tinggi timbunan aman termasuk kajian penurunan (jika ada).
Analisis data geoteknik dan geologi yang diperlukan untuk perancangan teknik jalan meliputi
1. Klasifikasi tanah;
2. Nilai aktif tanah;
3. CBR;
4. Kemiringan lereng galian;
5. Kemiringan lereng timbunan;
6. Tinggi timbunan maksimum;
7. Kajian penurunan tanah;
8. Penentuan lapisan dan tebal bahan sebagai tanah dasar;
9. Tinggi muka air tanah.

5.4.6 Analisis data hidrologi dan hidrolika

Analisa data hidrologi dan hidrolika meliputi analisa data curah hujan, penentuan intensitas
hujan pada periode ulang 5 – 10 – 25 – 50 tahun, penentuan koefisien pengaliran, penentuan
daerah tangkapan (catchment area), penentuan kemiringan pengaliran, penentuan debit banjir /
rencana, analisa perilaku / pola aliran air yang ada di sekitar jalan, penentuan tipe saluran dan
penentuan arah aliran.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 21
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Analisis data hidrologi dan hidrolika yang diperlukan untuk desain drainase dalam perencanaan
teknik jalan meliputi :
1. Analisis data curah hujan;
2. Intensitas curah hujan;
3. Analisis koefisien pengaliran;
4. Analisis catchment area;
5. Analisis kemiringan pengaliran;
6. Analisis tipe saluran, termasuk crossing drain;
7. Analisis perilaku / pola aliran air yang ada disekitar jalan.

2.5.5 Perancangan teknik

Komponen perancangan teknik jalan, jika tidak ditentukan lain, yang harus dilakukan minimal
mencakup :
1. Desain geometri;
2. Desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan;
3. Desain perkerasan jalan;
4. Desain drainase;
5. Desain simpang;
6. Desain bangunan pelengkap jalan, termasuk bangunan fasilitas untuk utilitas, pengaman
jalan dan struktur non jembatan;
7. Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat;
8. Desain lansekap jalan.

2.5.5.1 Desain geometri

Standar yang dipergunakan, yaitu standar (SNI) atau pedoman teknik yang telah dikeluarkan oleh
Departemen Pekerjaan Umum yang berkaitan dengan geometri jalan atau Jika dipandang perlu
dapat menggunakan acuan : American Association of State Highway and Transportation Officials
(AASHTO), 2001, A Policy on geometric design of highways and streets.

Kriteria desain geometri antara lain paling tidak mencakup seperti pada Tabel 7.

Tabel 7. Parameter kriteria desain geometri

No. Uraian Satuan

1. Kecepatan rencana km/h


2. Parameter potongan melintang :
- Lebar lajur lalu lintas M
- Lebar bahu luar M
- Lebar marka pemisah jalur M
- Kemiringan melintang normal jalur lalu lintas. %
- Kemiringan melintang normal bahu luar %
- Superelevasi maksimum %
- Tinggi ruang bebas vertikal minimum M
3. Lebar median M
4. Parameter alinemen horisontal :
- Jari-jari tikungan minimum M
- Jari-jari tikungan minimum tanpa peralihan M
- Jari-jari tikungan minimum dengan kemiringan normal M
- Panjang minimum lengkung M
- Panjang lengkung peralihan minimum M
- Kemiringan permukaan relatif maksimum -
5. Parameter alinemen vertikal :
- Landai maksimum %
- Panjang landai kritis M
- Jari-jari minimum lengkung vertikal :
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 22
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Ÿ Cembung M
Ÿ Cekung M
- Panjang minimum lengkung vertikal M
6. Jarak pandang :
- Jarak pandang henti minimum M
- Jarak pandang menyiap minimum M

2.5.5.2 Desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan

1) Desain badan jalan

Desain badan jalan harus memenuhi ketentuan teknik sebagai berikut : lapisan tanah dasar
pada 30 cm teratas harus :
1. Klasifikasi tanah bukan A-7-6 (berdasarkan AASHTO).
2. CBR tanah sebagai tanah dasar minimum 6 %.
3. Nilai aktif tanah kurang dari 1,25
4. Penurunan / gerakan tanah dalam batas yang diijinkan.
Lapisan tanah dibawahnya (30 cm dari permukaan tanah dasar kebawah) dianjurkan juga
memenuhi persyaratan diatas, jika kondisi tertentu tidak dapat memenuhi, maka harus
dilakukan kajian khusus geoteknik.

Lapisan tanah dibawah perkerasan yang harus diperhitungkan sebagai lapisan tanah dasar
(subgrade) adalah paling tidak setebal 1,00 m dibawah lapis perkerasan jalan.

2) Desain stabilitas lereng

Desain stabilitas lereng dilakukan guna memberikan informasi tentang berapa tinggi maksimum
dan kemiringan lereng desain galian dan atau timbunan yang aman dari keruntuhan.

Perhitungan stabilitas lereng diperoleh dari beberapa parameter tentang sifat fisik tanah
setempat yang diperoleh dari contoh tabung (undisturbed sample) dari test triaxial atau direct
shear. Parameter yang dihasilkan dari percobaan ini, yaitu c = kohesi tanah, f = sudut geser
tanah, gw = berat isi tanah.

Perhitungan keamanan lereng (sudut lereng dan tinggi maximum yang aman) dapat dilakukan
dengan menggunakan cara / formula yang baku dan disetujui Pengguna Jasa.

2.5.5.3 Desain perkerasan

1) Standar acuan

Jika tidak ditentukan lain, rujukan yang dipakai untuk perhitungan konstruksi / tebal perkerasan
jalan lentur (flexible pavement) adalah :

a). Pd.T-01-2002-B, Pedoman Perencanaan tebal perkerasan lentur.


b). AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993.
c). Perangkat lunak Road Design System (RDS) versi terakhir, dan atau acuan baku lain yang
disetujui oleh Pengguna Jasa.

Desain tebal perkerasan akan menggunakan salah satu dari metoda tersebut, jika dipandang perlu
akan menggunakan satu metoda lagi dari yang disebutkan diatas untuk kontrol perhitungan teknik.
Sedangkan rujukan yang dipakai untuk perhitungan konstruksi / tebal perkerasan jalan kaku (rigid
pavement) adalah :

a). AASHTO Guide for Design of Pavement Structures 1993.


b). Pd.T-14-2003, Perencanaan perkerasan jalan beton semen.
c). Dan atau acuan baku lain yang disetujui oleh Pengguna Jasa.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 23
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Untuk perencanaan kapasitas jalan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia yang
disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum atau yang berlaku selama ini.

2) Tipe perkerasan
Usulan tipe perkerasan akan dikaji dari salah satu atau gabungan dari tipe perkerasan berikut :
a) Flexible pavement (perkerasan lentur)
b) Rigid pavement (perkerasan kaku)
c) Gabungan flexible pavement dan rigid pavement (composite pavement)
3). Pemilihan jenis bahan material tanah
Perencanaan harus mengutamakan penggunaan bahan material sesuai dengan masukan dari
laporan geoteknik. Bila bahan setempat tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan konstruksi,
maka perencana harus mengusulkan usaha-usaha peningkatan sifat-sifat teknik bahan, sehingga
dapat dipakai sebagai bahan konstruksi prioritas pertama dalam perbaikan tanah sebelum pilihan
cara perbaikan dengan hirarki lebih tinggi atau alternatif lainnya.
4). Umur rencana
Umur rencana (UR) yang akan digunakan dalam perencanaan disesuaikan dengan jenis, fungsi
jalan dan penanganan jalan.
5). Parameter desain perkerasan
Parameter desain perkerasan jalan lentur dengan metoda Analisa Komponen antara lain
mencakup seperti diberikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Parameter desain perkerasan lentur cara Analisa Komponen

No. Parameter Satuan

1. Umur Rencana tahun


2. Data lalu-lintas terakhir pada tahun tahun
3. Rencana jalan dibuka pada tahun tahun
4. Lalu-lintas Harian Rata-rata kendaraan
5. Pertumbuhan lalu-lintas %
6. Jumlah lajur -
7. Koefisien distribusi kendaraan ringan -
8. Koefisien distribusi kendaraan berat -
9. CBR %
10. Faktor Regional :
- Kelandaian %
- % Kendaraan berat %
- Iklim / curah hujan mm/tahun
11. Bahan konstruksi dan koefisien kekuatan relatif :
- Laston lapis aus / lapis permukaan -
- Laston lapis pengikat -
- Laston lapis pondasi -
- Lapisan pondasi atas perkerasan berbutir -
- Lapisan pondasi bawah -

Parameter desain perkerasan jalan lentur dengan metoda AASHTO 1993 antara lain mencakup
seperti diberikan pada Tabel 9.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 24
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 9. Parameter desain perkerasan lentur cara AASHTO 1993

No. Parameter Satuan

1. Umur Rencana tahun


2. Lalu-lintas, ESAL -
3. Serviceability :
- Terminal serviceability (pt) -
- Initial serviceability (po) -
- Serviceability loss ( DPSI = po – pt ) -
4. Reliability (R) : %
- Standard normal deviation (ZR) -
- Standard deviation (So) -
5. Resilient modulus :
- Resilient modulus tanah dasar (MR) psi
- Resilient modulus agregat kelas A (MR) psi
- Resilient modulus AC-Base (MR) psi
- Elastic (resilient) modulus AC (EAC) psi
6. Layer coefficient :
- Laston lapis aus / lapis permukaan -
- Laston lapis pengikat -
- Laston lapis pondasi -
- Lapisan pondasi atas perkerasan berbutir -
- Lapisan pondasi bawah -
7. Tebal minimum :
- Tebal minimum Asphalt Concrete inch
- Tebal minimum Aggregate Base inch
8. Drainage coefficient (mi) -

Parameter desain perkerasan jalan kaku (rigid pavement) dengan metoda AASHTO 1993 antara
lain mencakup seperti diberikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Parameter desain perkerasan kaku cara AASHTO 1993

No. Parameter Satuan

1. Umur Rencana tahun


2. Lalu-lintas, ESAL -
3. Terminal serviceability (pt) -
4. Initial serviceability (po) -
5. Serviceability loss ( DPSI = po – pt ) -
6. Reliability (R) %
7. Standard normal deviation (ZR) -
8. Standard deviation (So) -
9. CBR %
10. Modulus reaksi tanah dasar (k) pci
11. Kuat tekan (fc’) psi
12. Modulus elastisitas beton (Ec) psi
13. Flexural strength (S’c) psi
14. Drainage coefficient (Cd) -
15. Load transfer coefficient (J) -

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 25
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.5.5.4 Desain drainase

Desain drainase mengacu pada Standar Perencanaan Drainase Permukaan Jalan SNI No. 03-3424-
1994 dan Pedoman teknik yang disusun oleh Dep. PU serta mengakomodasi faktor keselamatan,
pengendalian hanyutan / polusi, peralatan dan lain-lain, dan atau mengacu pada literatur terkait
dengan drainase yang telah disetujui penggunaannya.
Karena saluran drainase sangat penting dalam hal mengumpulkan dan menyalurkan air permukaan
dari daerah milik jalan, sehingga perencanaannya harus mempunyai kapasitas yang cukup. Lokasi
dan bentuk saluran drainase harus direncanakan agar dapat mencegah bahaya lalu-lintas, tahan
erosi, bersih terhadap hanyutan / penumpukan material yang akan mangurangi kapasitas drainase.
Desain drainase meliputi :
1. Mempelajari pola aliran sesuai dengan kondisi terrain rencana jalan.
2. Mempelajari daerah tangkapan air permukaan pada daerah drainase.
3. Menampung dan mengalirkan air permukaan pada daerah manfaat jalan.
4. Merencanakan alinyemen saluran.
5. Merencanakan saluran pada daerah kaki lereng timbunan untuk menyalurkan air permukaan
pada daerah kaki sekitar menuju daerah buangan.
6. Merencanakan saluran diatas lereng bukit yang berfungsi untuk mencegah rembesan air dari
atas.
7. Merencanakan saluran yang berfungsi untuk terjunan atau pematah arus daerah curam.

Parameter desain drainase antara lain mencakup seperti diberikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Parameter desain drainase

No. Uraian Satuan

I. Periode ulang curah hujan


rancangan :
3
1. Sungai kecil (debit < 200 m /detik) Tahun
2. Saluran drainase jalan Tahun
3. Gorong-gorong (jalan arteri) Tahun
II. Kecepatan aliran :
1. Saluran berdinding tanah m/det
2. Saluran berdinding batu kali m/det
3. Saluran berdinding beton m/det
III. Koefisien pengaliran :
1. Jalan aspal -
2. Jalan beton -
3. Talud timbunan -
4. Kawasan industri -
5. Daerah pemukiman -
6. Kebun
7. Persawahan -
IV. Koefisien kekasaran Manning :
1. Saluran pasangan batu -
2. Saluran beton -
3. Saluran tanah berumput -

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 26
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.5.5.5 Desain simpang

Standar acuan yang dipakai untuk desain simpang mengikuti Pedoman Teknik Perencanaan
Simpang yang diterbitkan oleh Depertemen Pekerjaan Umum.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam desain simpang meliputi :
1) Pengaturan simpang
Perlu menjadi perhatian bahwa persimpangan terutama didalam kota, sebagai bagian dari suatu
jaringan jalan yang merupakan daerah yang penting / kritis dalam melayani arus lalu lintas.
Karena ruas jalan pada persimpangan digunakan bersama-sama, maka kapasitas ruas jalan
biasanya dibatasi oleh kapasitas persimpangan pada masing-masing ujungnya. Dengan demikian,
bahwa kapasitas jaringan jalan ditentukan oleh persimpangan, dimana persimpangan adalah
merupakan hal utama yang harus diperhatikan.
Banyak problem pada persimpangan terjadi karena adanya pergerakan yang berkonflik satu sama
lain. Solusinya adalah meningkatkan kapasitas persimpangan.
Pengaturan lalu lintas umumnya adalah untuk :
- Menjaga kapasitas simpang agar dalam operasinya dapat dicapai pemanfaatan simpang.
- Dalam operasinya dari pengaturan simpang, harus memberikan petunjuk yang jelas dan pasti
serta sederhana, mengarahkan arus lalu lintas pada tempatnya yang sesuai.
- Mengurangi maupun menghindarkan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang berasal dari
berbagai kondisi titik-titik konflik.
Pengaturan lalu lintas di simpang dapat dicapai dengan menggunakan :
- Lampu lalu lintas
- Marka dan rambu
- Pulau-pulau lalu lintas
Pemilihan jenis pengaturan simpang didasarkan pada karakteristik fisik dari simpang maupun
kondisi lalu lintasnya.

2) Titik konflik pada simpang


Titik konflik yang timbul pada simpang bervariasi menurut jenis manuvernya. Jumlah dari potensi
titik-titik konflik pada simpang tergantung dari :
- Jumlah kaki simpang
- Jumlah lajur dari setiap kaki simpang
- Jumlah pengaturan simpang
- Jumlah arah pergerakan

3) Jenis-jenis pengaturan simpang


Makin tinggi tingkat kompleksitas suatu simpang makin tinggi kebutuhan pengaturannya.
Pengaturan simpang sebidang dapat dibedakan / dilakukan sebagai berikut :
- Aturan prioritas
- Rambu dan/atau marka, misalnya : yield signs, stop signs, channelization
- Bundaran (roundabout)
- Lampu lalu-lintas (traffic signal)
4) Penambahan jumlah lajur pada persimpangan
Penambahan jumlah lajur pada persimpangan akan meningkatkan kapasitas.
5) Parameter standar untuk meningkatkan kapasitas simpang
- Memperlebar entry dan exit
- Memperbesar lebar dan panjang daerah weaving

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 27
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

6) Desain geometri dan layout persimpangan


Berbagai jenis persimpangan sebidang mencerminkan pola pengaturan dari jalan-jalan, derajat
pemisahan dari gerakan-gerakan berlawanan tertentu, volume lalu-lintas yang harus ditampung,
kecepatan lalu-lintas, dan luas daerah yang disediakan untuk fasilitas itu.
Pemisahan kendaraan-kendaraan pada lajur gerak yang berbeda adalah sangat berguna.
Penyaluran atau kanalisasi banyak digunakan pada persimpangan-persimpangan dimana terdapat
volume lalu-lintas yang tinggi atau dimana ukuran persimpangan itu terlalu besar.
Disain persimpangan perlu mengikuti persyaratan / standar radius lengkungan dan super-elevasi.
Seluruh marka jalan harus jelas terlihat, dan harus sedekat mungkin dengan persimpangan, tanpa
mengganggu kendaraan lain atau jalur pejalan kaki.
Parkir didekat persimpangan mengurangi jarak pandangan, dan harus dibatasi antara 10 - 50 m
dari persimpangan, tergantung dari kelas jalan. Jika parkir mengurangi efektifitas lebar entry dan
exit, sehingga parkir dekat persimpangan harus dibatasi.
Geometri dan kanalisasi : Kanalisasi (channelization) memperbaiki gerak kendaraan secara
efisien, dan meningkatkan kapasitas. Titik konflik harus diatur sedemikian rupa sehingga proses
crossing terjadi pada sudut arah kanan. Persimpangan dengan lengan lebih dari 4 kurang disukai
karena akan menghasilkan konflik yang rumit.
Pelebaran jalan dan konstruksinya : Metoda yang sederhana untuk meningkatkan kapasitas
persimpangan adalah dengan memperbesar lebar exit dan entry. Jika batas kapasitas praktis pada
tipe kontrol ini telah dicapai dengan meningkatkan lebar jalan, maka pertemuan tidak sebidang
adalah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas.
7) Fasilitas pejalan kaki
Problem lain pada simpang adalah adanya konflik antara pejalan kaki dengan kendaraan.
Setiap jalan didaerah perkotaan (kecuali jalan tol atau jalan bebas hambatan) di-rekomendasikan
menyediakan jalur pejalan kaki pada kedua sisinya. Jalur tersebut harus tetap terpelihara dan
selalu beroperasi dengan baik.
8) Lansekap simpang
Akan tidak terkesan kaku, bila konstruksi persimpangan yang komponen fisiknya umumnya terdiri
dari beton, aspal dan besi, diberi tanaman lansekap agar nampak asri, hijau dan ramah
lingkungan.

2.5.5.6 Desain bangunan pelengkap jalan, pengaman jalan, struktur non jembatan

Salah satu rujukan yang dipakai untuk desain bangunan pelengkap dan pengaman jalan adalah
Gambar Standar Pekerjaan Jalan, jika tidak terdapat dalam Gambar tersebut harus dilakukan
desain / perhitungan / penggambaran tersendiri.

2.5.5.7 Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat


Desain rambu, marka dan lampu isyarat mengacu pada :
1. Pedoman Pemasangan Rambu dan Marka Jalan Perkotaan Undang-undang Lalu Lintas No. 14
Tahun 1992.
2. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 60 tahun 1993 tentang Marka Jalan.
3. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 61 tahun 1993 tentang Rambu-rambu Lalu-lintas di
Jalan.
4. Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 62 tahun 1993 tentang Alat Pemberi Isyarat Lalu-lintas.
5. Pd.T-12-2004-B, Marka jalan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 28
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

2.5.5.8 Desain lansekap jalan

Desain lansekap jalan mengacu pada Buku Tata-cara Perencanaan Lansekap Jalan, Departemen
Pekerjaan Umum.
Penataan lansekap jalan lebih mengarah kepada pemanfaatan lahan yang ada secara maximal dan
menata lingkungannya dengan menciptakan kawasan yang teduh, indah dan bersih dengan
memperhatikan ketentuan-ketentuan teknik lansekap jalan, serta memperhatikan penggunaan lahan
disekitar jalan, misalnya daerah perkantoran, daerah pertokoan atau daerah perumahan dan lain
sebagainya. Penyelesaian detail dapat memberi ciri pada masing-masing kawasan baik dalam
memilih material maupun desain elemen-elemen yang akan digunakan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam desain lansekap jalan meliputi :
Survai lansekap jalan.
Survai ini dilakukan untuk mengetahui tentang lansekap lingkungan jalan, taman-taman,
penghijauan, penerangan jalan, tempat sampah.

1) Perencanaan lansekap jalan


Dalam perencanaan lansekap, perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
- Kesesuaian dalam geometris jalan.
- Fungsional dan estetika.
- Kesesuaian penggunaan tanaman daerah setempat yang cocok dengan habitatnya serta
disukai burung.
- Kesesuaian dengan persyaratan dan petunjuk teknis yang ada.
2) Bentuk tanaman
Bentuk tanaman secara visual terdiri dari tanaman pohon, perdu / semak dan penutup tanah yang
masing-masing memiliki berbagai ragam bentuk serta ketinggian.
3) Fungsi tanaman
Bentuk tanaman mempunyai kaitan yang erat dengan fungsinya, dengan bentuk tanaman tertentu
diharapkan akan menunjang fungsi dan tujuan perencanaan lansekap jalan.
4) Jarak titik tanam dengan tepi perkerasan
Peletakan tanaman dengan berbagai fungsi selalu akan berkaitan dengan letaknya dijalur
tanaman, hal ini memperlihatkan bahwa kaitan titik tanam dengan tepi perkerasan perlu
dipertimbangkan. Jarak titik tanam dengan tepi perkerasan mempertimbangkan pertumbuhan akar
tanaman.
5) Sistim penanaman
Sistem penanaman ini penerapannya dikhususkan untuk penanaman tanaman secara
berkelompok (massal).

2.5.6 Gambar rencana

Penyiapan gambar rencana mengacu pada standar yang telah baku atau ketentuan yang
diberikan oleh Pengguna Jasa.
Gambar Rencana detail perancangan teknik yang perlu dibuat harus minimal mencakup :
1. Sampul luar (cover) dan sampul dalam.
2. Daftar isi.
3. Peta lokasi proyek.
4. Peta lokasi sumber bahan material (quarry).
5. Daftar simbol dan singkatan.
6. Daftar rangkuman volume pekerjaan.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 29
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

7. Potongan melintang tipikal (Typical cross section) harus digambar dengan skala yang pantas
dan memuat semua informasi yang diperlukan antara lain :

a) Gambar konstruksi eksisting yang ada.


b) Penampang pada daerah galian dan daerah timbunan pada ketinggian yang berbeda-
beda.
c) Penampang pada daerah perkotaan dan daerah luar kota.
d) Rincian konstruksi perkerasan.
e) Penampang bangunan pelengkap.
f) Bentuk dan konstruksi bahu jalan dan median.
g) Bentuk dan posisi saluran melintang (bila ada).
1) Alignment layout.
2) Alinyemen horisontal (plan) digambar diatas peta situasi skala 1 : 1.000 untuk jalan dan 1 : 500
untuk jembatan dengan interval garis tinggi 1 meter (kontur) dan dilengkapi dengan data yang
dibutuhkan.
3) Alinyemen vertikal (profile) digambar dengan skala horisontal 1 : 1.000 untuk jalan dan 1 : 500
untuk jembatan dan skala vertikal 1 : 100 yang mencakup data yang dibutuhkan.
4) Potongan melintang (Cross section) digambar untuk setiap titik STA (interval paling tidak 50
meter), dengan skala horisontal 1 : 100 dan skala vertikal 1 : 50. Dalam gambar potongan
melintang harus mencakup :
a) Tinggi muka tanah asli dan tinggi rencana muka jalan;
b) Profil tanah asli dan profil / dimensi RUMIJA (ROW) rencana;
c) Penampang bangunan pelengkap yang diperlukan;
d) Data kemiringan lereng galian / timbunan (bila ada).
5) Gambar detail struktur / jembatan (jika ada).
6) Gambar drainase.
7) Gambar lansekap.
8) Gambar standar yang mencakup antara lain : gambar bangunan pelengkap, rambu jalan, marka
jalan, lampu penerangan jalan (PJU) dan sebagainya.
9) Keterangan mengenai mutu bahan dan kelas pembebanan.

2.5.7 Perhitungan kuantitas


Perhitungan kuantitas berpedoman pada jenis / item pekerjaan rencana dan atau sesuai item
pekerjaan yang terdapat dalam buku spesifikasi dan gambar rencana.
Perencana harus membuat perhitungan kuantitas pekerjaan secara rinci dengan ketentuan
sebagai berikut :
1) Penyusunan mata pembayaran pekerjaan (pay-item) harus sesuai dengan spesifikasi yang
dipakai.
2) Perhitungan kuantitas pekerjaan harus dilakukan secara keseluruhan. Tabel perhitungan harus
mencakup lokasi dan semua jenis mata pembayaran (pay-item).
3) Kuantitas pekerjaan harus dihitung / sesuai dengan yang ada dalam gambar rencana.

2.5.8 Perkiraan biaya

Perkiraan biaya konstruksi harus disiapkan untuk setiap konstruksi yang direncanakan, sesuai item
pekerjaan dan dari analisa harga satuan pekerjaan.
Perkiraan biaya konstruksi rinci harus disiapkan untuk setiap tahapan konstruksi yang direncanakan,
sesuai item pekerjaan dan harga satuan yang disajikan secara terpadu. Kuantitas akan disertai
dengan data pendukung perhitungannya, sedangkan harga satuan akan merujuk pada referensi
harga satuan terbaru dan masih berlaku atau berpedoman pada survai harga pasar.
Metoda perhitungan harga satuan harus dibuat, analisa harga satuan menggunakan metoda dan
acuan yang baku berdasarkan faktor-faktor / parameter : tenaga, material, peralatan, sosial, pajak,
overhead, dan keuntungan yang berlaku di daerah setempat.
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 30
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Perkiraan biaya yang diperoleh dari analisa ini dibandingkan dengan proyek-proyek lainnya di daerah
sekitar lokasi.

2.5.9 Penyiapan dokumen lelang


Dokumen pelelangan sesuai dengan standar menurut PERMEN PU No. 43/2007. Dokumen
Lelang terdiri atas dokumen-dokumen di bawah ini dan Adendum yang dikeluarkan (jika ada) :
BAB I Instruksi Kepada Peserta Lelang;
BAB II Data Lelang;
BAB III Bentuk Surat Penawaran, Lampiran, Surat Penunjukan dan Surat Perjanjian;
BAB IV Syarat-Syarat Umum Kontrak;
BAB V Syarat-Syarat Khusus Kontrak;
BAB VI Spesifikasi Teknis;
BAB VII Gambar-Gambar;
BAB VIII Daftar Kuantitas, Analisa Harga Satuan dan Metoda Pelaksanaan;
BAB IX Bentuk-Bentuk Jaminan.
Adendum (bila ada)

2.5.10 Matrik kegiatan perancangan teknik jalan baru, peningkatan jalan dan pemeliharaan
berkala jalan.
2.5.10.1 Kegiatan utama perancangan teknik

Kegiatan utama perancangan teknik jalan untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan
teknik peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak
ditentukan lain, diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 12.

5.10.2 Kegiatan utama pengumpulan data sekunder

Kegiatan utama pengumpulan data sekunder untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan
teknik peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan
lain, diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 13.

5.10.3 Kegiatan utama survai lalu-lintas

Kegiatan utama survai lalu-lintas untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan teknik
peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan lain,
diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 14.

5.10.4 Kegiatan utama survai geoteknik dan geologi

Kegiatan utama survai geoteknik dan geologi untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan
teknik peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan
lain, diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 15 dan Tabel 16.

5.10.5 Kegiatan utama survai perkerasan

Kegiatan utama survai perkerasan untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan teknik
peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan lain,
diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 17.

5.10.6 Kegiatan utama survai material

Kegiatan utama survai material untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan teknik
peningkatan jalan dan perancangan teknik pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan lain,
diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 18.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 31
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

5.10.7 Metoda desain tebal perkerasan

Metoda dan penggunaan program perangkat lunak desain tebal perkerasan lentur untuk
perancangan teknik jalan baru, perancangan teknik peningkatan jalan dan perancangan teknik
pemeliharaan berkala jalan, jika tidak ditentukan lain, diatur mengikuti ketentuan seperti dalam
Tabel 19.

Tabel 12. Kegiatan utama perancangan teknik

Perancangan Perancangan Perancangan teknik


teknik
No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

I. Pengumpulan data sekunder & survai pendahuluan V V V V


II. Survai detail / survai primer
1. Pengukuran topografi V V V V
2. Inventarisasi jalan - V V V
3. Survai lalu-lintas V V V V
4. Survai kondisi perkerasan - V V V
5. Survai geotehnik dan geologi V V V -
6. Survai material V V V -
7. Survai hidrologi dan hidrolika V V V -
8. Survai utilitas V V - -
III. Analisis data lapangan
1. Analisis data topografi V V V V
2. Analisis data hasil inventarisasi jalan - V V V
3. Analisis / kajian lalu-lintas V V V V
4. Analisis data kondisi perkerasan - V V V
5. Analisis data geoteknik dan geologi V V V -
6. Analisis data hidrologi dan hidrolika V V V -
IV. Desain / perhitungan teknis
1. Geometri V V V -
2. Pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan V V V -
3. Perkerasan jalan V V V V
4. Drainase V V V V
5. Simpang V V V -
6. Bangunan pelengkap, pengaman jalan, struktur non V V V V
jembatan
7. Rambu, marka jalan dan lampu V V V V
8. Lansekap jalan V V V -
V. Penyiapan gambar rencana V V V V
VI. Perhitungan kuantitas V V V V
VII. Perkiraan biaya V V V V
VIII Penyiapan dokumen lelang V V V V

Keterangan :
Kap. : Perancangan teknik peningkatan jalan dengan pelebaran (capacity expansion).
Str. : Perancangan teknik peningkatan struktur jalan tanpa pelebaran.
V : Jika tidak ditentukan lain, kegiatan ini dilaksanakan
- : Jika tidak ditentukan lain, kegiatan ini tidak perlu dilaksanakan

*) : Untuk perancangan teknik peningkatan jalan dengan pelebaran (capacity expansion)


mengikuti ketentuan pada kolom Kap (Kapasitas), sedangkan untuk peningkatan tanpa
pelebaran jalan mengikuti ketentuan pada kolom Str (Struktur).

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 32
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Desain drainase untuk Perancangan Teknik Pemeliharaan Berkala Jalan dibatasi hanya untuk
mengembalikan saluran kepada bentuk semula agar saluran berfungsi melancarkan jalannya air,
tidak diperlukan analisis hidrologi dan hidrolika.

Tabel 13. Kegiatan utama pengumpulan data sekunder

Perancangan Perancangan teknik Perancangan teknik

No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan


jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. Kelas, fungsi dan status jalan V V V V


2. Data volume lalu-lintas V V V V
3. Data pertumbuhan lalu-lintas V V V V
4. Data vehicle damage factor V V V -
5. Data curah hujan V V V -
6. Data tata guna lahan V V V -
7. Peta dasar V V V -

Tabel 14. Kegiatan utama survai lalu-lintas

Perancangan Perancangan teknik Perancangan


teknik
No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. Volume kendaraan V V V V
2. Lalu-lintas di persimpangan V V V -
3. Axle load survai V V V -
4. Survai kecepatan - V V -

Keterangan khusus untuk axle load survey :


Untuk perancangan teknik jalan baru maupun peningkatan, perlu tidaknya dilaksanakan survai
beban kendaraan masih harus ditentukan kemudian oleh Pengguna Jasa / Pemberi Tugas, misal
kondisi perancangan jalan perkotaan yang pendek-pendek direkomendasikan tidak diperlukan
axle load survey.

Tabel 15. Kegiatan utama survai geoteknik dan geologi

Perancangan Perancangan teknik Perancangan teknik


No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. Survai geoteknik V V - -
2. Survai geologi V - - -

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 33
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 16. Kegiatan utama survai geoteknik

Perancangan Perancangan teknik Perancangan teknik


No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

I. Pengujian lapangan :
1. Test pitting V V - -
2. Bor tangan kedalaman sampai dengan 4 m V V - -
3. Boring kedalaman sampai dengan 30 m V - - -
4. Undisturbed / thinwall sampling V V - -
5. Sondir di timbunan V - - -
II. Pengujian laboratorium :
1. Kadar air V V - -
2. Atterberg limit test V V - -
3. Hidrometer V V - -
4. Berat jenis V V - -
5. Berat isi V V - -
6. Compaction (Proctor) V V - -
7. CBR V V - -
8. Unconfined compression test V V - -
9. Direct Shear V V - -
10. Konsolidasi V V - -
11. Swelling V V - -
12. Permeabilitas V - -

Tabel 17. Kegiatan utama survai perkerasan

Perancangan Perancangan Perancangan


teknik teknik
No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. Lendutan - V V V
2. Dynamic Cone Penetrometer V V V -
3. Test pit jenis, tebal, kondisi - V V -
perkerasan
4. Kekasaran jalan - V V V

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 34
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 18. Kegiatan utama survai material

Perancangan Perancangan teknik Perancangan teknik


No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

I. Pengujian lapangan :
1. Bor tangan kedalaman 4 m V V - -
2. Undisturbed / thinwall sampling V V - -
II. Pengujian laboratorium (tanah)
1. Kadar air V V - -
2. Atterberg limit test V V - -
3. Hidrometer V V - -
4. Compaction (Proctor) V V - -
5. CBR V V - -
6. Swelling V V - -
III. Pengujian laboratorium (batu pecah)
1. Abrasi V V V -
2. Analisa gradasi V V V -
3. CBR V V V -
4. Clay lump & variable particles V V V -
5. Apparent specific gravity & absorption V V V -
6. Organic impurites V V V -
7. Soundness test V V V -
IV. Pengujian laboratorium (bahan pasir)
1. Analisa gradasi V V V -
2. Clay lump & variable particles V V V -
3. Organic impurites V V V -
4. Sand equivalent V V V -
V. Pengujian laboratorium (bahan aspal) *)
1. Penetrasi V V V -
2. Titik Lembek V V V -
3. Titik Nyala V V V -
4. Kehilangan Berat V V V -
5. Kelarutan Zat CCL4 V V V -
6. Daktilitas V V V -
7. Penetrasi Setelah Kehilangan Berat V V V -
8. Daktilitas Setelah Kehilangan Berat V V V -
9. Berat Jenis V V V -
10. Kadar Parafin V V V -

Keterangan :
*) : Jika tidak ditentukan lain, khusus pengujian laboratorium bahan bitumen (aspal), dapat
dilakukan pada saat mulai pelaksanaan pembangunan fisiknya.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 35
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Tabel 19. Metoda / design system perhitungan tebal perkerasan lentur

Perancangan Perancangan teknik Perancangan


teknik
No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. Pd.T-01-2002-B V V V -
2. AASHTO 1993 V V V -
3. Road Design System versi V V V V
terakhir *)

*) Computerized program RDS (Road Design System) yang dapat digunakan untuk perhitungan
tebal perkerasan lentur adalah keluaran (versi) terakhir.

Metoda desain tebal perkerasan kaku untuk perancangan teknik jalan baru, perancangan teknik
peningkatan jalan, jika tidak ditentukan lain, diatur mengikuti ketentuan seperti dalam Tabel 20.

Tabel 20. Metoda desain tebal perkerasan kaku

Perancangan Perancangan Perancangan teknik


teknik
No. Uraian teknik peningkatan jalan pemeliharaan
jalan baru Kap. Str. berkala jalan

1. AASHTO 1993 V V V -
2. Pd.T-14-2003 V V V -

2.6 CARA PENGERJAAN

Kedudukan Final engineering design pada proyek jalan diperlihatkan seperti pada bagan alir
Lampiran A.
Tahapan dalam perancangan teknik jalan, jika tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa, diberikan
dalam urutan kerja sebagai berikut :
Tahap 1 : Pengumpulan data sekunder dan survai pendahuluan (reconnaissance survey).
Tahap 2 : Survai detail / survai primer, meliputi
· Pengukuran topografi;
· Inventarisasi jalan;
· Survai lalu-lintas;
· Survai geoteknik dan geologi;
· Survai material konstruksi;
· Survai hidrologi dan hidrolika;
· Survai utilitas umum.
Tahap 3 : Analisis data lapangan, meliputi
· Analisis data topografi;
· Analisis data hasil inventarisasi jalan;
· Analisis / kajian lalu-lintas;
· Analisis data geoteknik dan geologi;
Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 36
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

· Analisis data hidrologi dan hidrolika.

Tahap 4 : Desain / perhitungan teknik, meliputi


· Desain geometri;
· Desain pondasi / badan jalan dan stabilitas jalan;
· Desain perkerasan jalan;
· Desain drainase;
· Desain simpang;
· Desain bangunan pelengkap jalan (termasuk bangunan fasilitas untuk utilitas),
pengaman jalan, struktur non jembatan;
· Desain rambu dan marka jalan serta lampu isyarat;
· Desain lansekap jalan.
Tahap 5 : Penyiapan gambar rencana.
Tahap 6 : Perhitungan kuantitas.
Tahap 7 : Perkiraan biaya.
Tahap 8 : Penyiapan dokumen lelang.
Tahapan kerja tersebut diatas diberikan seperti pada bagan alir Lampiran B.

2.7 PELAPORAN

Pelaporan yang harus dibuat dalam perancangan teknik jalan minimal mencakup laporan-laporan
berikut ini :
1) Laporan pendahuluan
Laporan pendahuluan berupa ringkasan yang berisi metodologi dan rencana kerja, yang dapat
berfungsi sebagai umpan balik / feed back untuk perbaikan.
2) Laporan antara
Laporan antara berupa laporan yang berisi :
- Rincian semua data yang diperoleh dari pengumpulan data lapangan / survai;
- Hasil analisa data;
- Foto dokumentasi.
3) Konsep laporan akhir
Laporan teknik yang dihasilkan dalam konsep laporan akhir ini diantaranya memuat :
- Perhitungan / desain geometri jalan;
- Perhitungan / desain penanganan subgrade jalan;
- Perhitungan / desain perkerasan jalan;
- Perhitungan / desain drainase jalan;
- Perhitungan / desain bangunan pelengkap jalan;
- Perhitungan / desain pondasi jembatan (jika ada);
- Perhitungan / desain struktur jembatan (jika ada);
- Perhitungan kuantitas;
- Perkiraan biaya;
- Dokumen lelang

4) Laporan Akhir (Final Report)


Berupa rangkuman kegiatan yang telah dilakukan, berisi uraian pelaksanaan survai, pengolahan
data, perhitungan desain beserta rumus-rumus dan asumsi yang digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan ini. Termasuk gambar rencana, daftar kuantitas, perkiraan biaya dan dokumen lelang.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 37
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Format atau sistimatika pelaporan jika tidak ditentukan lain dapat mengikuti ketentuan berikut ini :
1) Laporan desain
Laporan desain berisi :
- Daftar isi;
- Peta lokasi proyek;
- Data perencanaan, asumsi dan pendekatan;
- Landasan teori yang digunakan;
- Perhitungan;
- Hasil ringkasan perhitungan;
- Gambar rencana yang dibuat dalam program AutoCAD, untuk kemudian dibuat dalam
softcopy dan hardcopynya ukuran A3.
2) Laporan perhitungan kuantitas
Laporan ini berisi perkiraan kuantitas yang dihitung untuk tiap item pekerjaan, minimal berisi
sebagai berikut :
- Daftar isi;
- Peta lokasi proyek;
- Daftar kuantitas
- Perhitungan perkiraan kuantitas setiap item pekerjaan
3) Laporan perkiraan biaya
Laporan ini berisi perkiraan kuantitas dan biaya yang dihitung untuk tiap item pekerjaan yang
kemudian digabungkan sebagai kesimpulan perkiraan biaya, minimal berisi sebagai berikut :
- Daftar isi;
- Peta lokasi proyek;
- Daftar kuantitas dan harga;
- Daftar harga upah;
- Daftar harga bahan / material;
- Daftar harga alat;
- Analisa harga satuan pekerjaan;
4) Laporan penyelidikan tanah
Laporan Geologi dan Geoteknik harus mencakup sekurang-kurangnya pembahasan mengenai
hal-hal berikut :
- Data proyek.
- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar
terdekat.
- Kondisi morfologi sepanjang lokasi.
- Kondisi badan jalan yang ada sepanjang trase jalan.
- Batuan penyusun (stratigrafi) sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran batuan disiapkan
dalam kertas ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi
notasi.
- Hasil akhir pemeriksaan laboratorium dijadikan acuan untuk perbaikan hasil diskripsi secara
visual.
- Penyebaran jenis tanah sepanjang trase jalan. Untuk peta penyebaran tanah disiapkan dalam
kertas ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi notasi.
- Analisis perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng.
- Analisis longsoran sepanjang trase jalan.
- Sumber bahan konstruksi jalan (jenisnya dan perkiraan volume cadangan).
- Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar / patahan dsb.) beserta lokasinya.
- Rekomendasi.
5) Laporan topografi
Laporan topografi mencakup sekurang-kurangnya pembahasan mengenai hal-hal berikut :
- Data proyek.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 38
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar
terdekat.
- Kegiatan perintisan untuk pengukuran.
- Kegiatan pengukuran titik kontrol horizontal.
- Kegiatan pengukuran titik kontrol vertikal.
- Kegiatan pengukuran situasi.
- Kegiatan pengukuran penampang melintang.
- Kegiatan pengukuran khusus (bila ada).
- Perhitungan dan penggambaran.
- Peralatan ukur yang digunakan berikut nilai koreksinya.
- Dokumentasi foto (ukuran 3R) mengenai kegiatan pengukuran topografi termasuk kegiatan
pencetakan dan pemasangan BM, pengamatan matahari, dan semua obyek yang dianggap
penting untuk keperluan perencanaan jalan.
- Deskripsi BM (sebagai lampiran).
- Data ukur hasil ploting dan negative film.
6) Laporan hidrologi dan drainase
Laporan mengenai survai dan analisis hidrologi, yang meliputi :
- Data proyek.
- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar
terdekat, pos pencatat curah hujan.
- Data curah untuk setiap pos yang diambil.
- Analisis / perhitungan.
- Penentuan dimensi dan jenis bangunan air.
- Daftar lokasi bangunan air yang direncanakan.
7) Laporan inventarisasi jalan
Hasil dari survai inventarisasi dibuat dalam satu laporan inventarisasi yang memuat :
- Foto dokumentasi.
- Data lapangan.
- Laporan teknik.
8) Laporan survai lalu lintas
Hasil dari lapangan dibuat dalam bentuk laporan lengkap yang berisi :
- Foto dokumentasi.
- Data lapangan.
- Perhitungan.
- Laporan teknik.
9) Laporan survai kondisi perkerasan jalan
Hasil penyelidikan dibuat dalam satu laporan lengkap yang memuat :
- Data lapangan.
- Perhitungan.
- Laporan teknik.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 39
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran A
Kedudukan Final engineering design pada proyek jalan

Kebijakan

Program

Proyek / perencanaan

Kelayakan

Pra studi kelayakan


KAK

Pra desain
Studi kelayakan
(Basic design)

Perancangan teknik

KAK Detailed / Final engineering design

Dokumen lelang Pembangunan / peningkatan

Operasi dan pemeliharaan

Monitoring dan evaluasi manfaat

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 40
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran B
Bagan alir proses perencanaan teknik jalan

Pengumpulan
data sekunder

Survai Analisis data lapangan Perencanaan teknis Gambar


pendahuluan Rencana

Analisis data topografi Geometri


Analisis inventarisasi jalan dan jembatan Badan jalan dan stabilitas jalan
Analisis / kajian lalu-lintas Perkerasan jalan
Survai detail / primer Analisis data geoteknik dan geologi Drainase Perhitungan
Analisis data hidrologi dan hidrolika Simpang Kuantitas
Bangunan pelengkap
Topografi Rambu, marka dan lampu
Inventarisasi jalan dan jembatan Lansekap jalan
Survai lalu-lintas
Survai geoteknik dan geologi Perkiraan
Survai material konstruksi Biaya
Survai hidrologi dan hidrolika
Survai utilitas umum

Dokumen
lelang

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 41
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran C
Bagan alir prosedur perencanaan tebal perkerasan lentur – cara Analisa Komponen

Traffic LHR pada awal


umur rencana

Koefisien distribusi Lintas ekivalen


kendaraan permulaan
Lintas ekivalen Lintas ekivalen
tengah rencana

Angka ekivalen Lintas ekivalen


kendaraan akhir

CBR Daya Dukung Tanah Indek Tebal


Perkerasan

Faktor Regional

Tebal
Perkerasan
Indeks Permukaan

Koefisien kekuatan relatif bahan

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 42
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran D
Bagan alir prosedur perencanaan tebal perkerasan lentur – cara AASHTO 1993

Umur rencana
Faktor distribusi arah
Faktor distribusi lajur
Traffic LHR pada tahun dibuka
Traffic design akhir umur rencana
Damage factor
Design ESAL

Reliability Standard normal deviation


Standard deviation
Tidak

Serviceability Terminal serviceability Serviceability loss Coba Check Ya Tebal


Initial serviceability Structure Number Equation perkerasan

Drainage coefficient

CBR Resilient modulus

Layer coefficient

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 43
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran E
Bagan alir prosedur perencanaan tebal perkerasan lentur – cara RDS

Masukan data

RDSESA Inputing data AADT & ESA Hasil RDSESA

Lebar perkerasan Grafik Pengelompokan

Lendutan Grafik Pengelompokan

RDSSORT CBR Grafik Pengelompokan SORT Hasil SORT

RCI Grafik Pengelompokan

Sisa perkerasan Pengelompokan

DESAIN

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 44
Modul PRJL – II. Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Bab. II. Pedoman Perencanaan Teknik Jalan

Lampiran F
Bagan alir prosedur perencanaan tebal perkerasan kaku – cara AASHTO 1993

Umur rencana
Faktor distribusi arah
Traffic Faktor distribusi lajur Desain ESAL
LHR pada tahun dibuka
Pertumbuhan lalu-lintas tahunan
Vehicle damage factor

Reliability Standard normal deviation


Standard deviation
Tidak

Serviceability Terminal serviceability Serviceability loss Coba Check Ya Tebal pelat


Initial serviceability Tebal pelat Equation rencana

CBR Modulus reaksi tanah dasar

Kuat tekan beton Modulus elastisitas beton

Flexural strength

Drainage coefficient

Load transfer coefficient

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan / Pengujian Ahli Perencana Jalan - Maret. 2010 II - 45
Modul PRJL – I Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan

HPJI / Modul Pengujian Perencana Jalan / Juni 2009 - 46 -


Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

BAB III
TATA-CARA PERENCANAAN TEKNIK JALAN

3.1. UMUM

Memuat ketentuan umum, ketentuan teknis dan cara pengerjaan perancangan teknik jalan
serta pelaporan, dan juga mencakup hal-hal yang terkait dengan perancangan jalan, sebagai
berikut.

3.1.1. Kegiatan utama perancangan teknik

· Penyusunan kriteria desain


· Pengumpulan data sekunder, survai pendahuluan dan survai primer
· Penetapan definitive plan / ROW plan
· Analisis / perencanaan teknis
· Penyiapan gambar rencana
· Bill of Quantity & Engineering Estimate : Perhitungan kuantitas, Analisa harga satuan,
Perkiraan biaya
· Penyiapan dokumen lelang

3.1.2. Jenis / kelompok perancangan teknik

Perancangan teknik dikelompokkan kedalam tiga bagian / kelompok tata-cara yang


dibedakan dalam ruang lingkup kegiatannya, yaitu :
· Perancangan teknik jalan baru
· Perancangan teknik pelebaran jalan
· Perancangan teknik pelapisan ulang / overlay
Flow-chart tahapan penyusunan DED dimulai dari Pengumpulan & evaluasi data sekunder
(survai dan penyelidikan lapangan) sampai dengan penyiapan dokumen lelang disajikan
dalam Gambar 1.

3.2. KETENTUAN UMUM

1). Perencanaan harus berdasarkan pada suatu prosedur yang memberikan jaminan
keamanan dan dampak lingkungan pada tingkat yang wajar, dan kekuatan yang dapat
diterima untuk mencapai suatu tingkat kemampu-layanan selama umur rencana.
2). Perencanaan harus memperhatikan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam
kriteria desain, meliputi kriteria desain Geometri jalan, Perkerasan jalan, Struktur,
Geoteknik, Drainase, Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol), Penerangan jalan,
Rambu, marka jalan dan lampu isyarat, Utilitas Umum, Perlengkapan jalan,
Landscape, Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol).
3). Data dan survai yang diperlukan dalam perencanaan teknik meliputi :
a). Evaluasi data sekunder

III- 1
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

DIAGRAM ALIR DETAILED ENGINEERING DESIGN ( JALAN BARU, PELEBARAN & PELAPISAN ULANG )
Pengumpulan Data Sekunder, Survai Pendahuluan dan Survai Primer Kriteria Desain Gambar rencana
A B C A B C
1 Geometri jalan v v v A. Umum v v v
Pengumpulan Data Sekunder
2 Perkerasan jalan v v v B. Tipikal potongan melintang v v v
A B C 3 Struktur v x x C. Alignment layout v v v
1 Laporan / Studi terdahulu 4 Geoteknik v v x D. ROW Plan v x x
● Laporan studi terdahulu v v v 5 Drainase v v v E. Plan Profile v v v
● Preliminary design terdahulu v v x 6 Bangunan fasilitas tol v x x F. Struktur jembatan v x x
● Rencana pengembangan jalan tol dan non tol v v x 7 Penerangan jalan v x x G. Struktur non jembatan v v x
● Rencana pengembangan tata guna lahan v x x 8 Rambu, marka dan lampu isyarat v v v H. Drainase v v v
● RTRW kota / kabupaten v x x 9 Utilitas umum v v v I. Rambu, marka jalan v v v
2 Publikasi / Data statistik 10 Perlengkapan jalan v v v J. Penerangan jalan v v v
● Statistik Indonesia, BPS v x x 11 Landscape jalan v v v K. Manajemen lalu-lintas v x x
● Indikator ekonomi, BPS versi terakhir v x x 12 Tempat istirahat dan pelayanan v x x L. Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol) v x x
● Statistik keuangan Pemda setempat, BPS versi terakhir v x x M. Landscape v x x
● Data penduduk setempat, BPS versi terakhir v x x N. Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol) v x x
● PDRB provinsi / kabupaten / kota setempat, BPS versi terakhir v x x O. Lain-lain v v v
Analisa / Perencanaan teknis
● Data tata-guna lahan sekitar koridor jalan v x x
3 Peta dan data lainnya A B C
● Peta geografi v x x 1 Definitive plan / ROW plan v x x
Bill of Quantity & Engineering Estimate
● Peta geologi v x x 2 Geometri jalan tol, non tol dan simpang susun v v v
● Peta topografi v v v 3 Pemilihan simpang susun v x x A B C
● Peta sumber material v v v 4 Geoteknik : tanah dasar dan lereng (jalan) v v v 1 Perhitungan kuantitas v v v
● Peta digital v v x Geoteknik : pondasi (jembatan) v x x 2 Analisa harga satuan v v v
● Peta rupa bumi v x x 5 Rekayasa lalu-lintas v v v 3 Perkiraan biaya v v v
● Peta citra satelit v x x 6 Perkerasan jalan v v v
● Data transportasi dan lalu-lintas v v v 7 Struktur / jembatan v x x
● Data geologi, geoteknik v v v 8 Retaining wall v v x
Dokumen lelang (Bina Marga)
● Data hidrologi v v v 9 Box culvert v v x
● Data lingkungan v x x 10 Drainase v v v
● Data utilitas dan fasilitas umum v v v 11 Utilitas umum v v x 1 Instruksi kepada peserta lelang
● Data bangunan, daerah suaka, situs purbakala v x x 12 Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol) v x x 2 Data lelang
● Data harga satuan (material, peralatan, upah) v v v 13 Penerangan jalan v x x 3 Bentu surat penawaran, Lampiran, Surat penunjukan dan
14 Rambu, marka dan lampu isyarat v v v Surat perjanjian
15 Perlengkapan jalan v v v 4 Syarat-syarat umum kontrak
16 Lansekap v v v 5 Syarat-syarat khusus kontrak
Survai Pendahuluan
17 Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol) v x x 6 Spesifikasi teknis
A B C 18 Metode konstruksi v v v 7 Gambar-gambar
● Identifikasi karakteristik lapangan sepanjang trase jalan v v v 8 Daftar kuantitas, Analisa harga satuan dan
● Mengenali / observasi kondisi lingkungan v x x Metoda pelaksanaan
● Mengenali / observasi kondisi tata-guna lahan v x x 9 Bentuk-bentuk jaminan
● Mengenali / observasi kondisi jalan v v v Adendum (bila ada)
● Mengenali / observasi kondisi sistem drainase v v v
● Identifikasi utilitas dan fasilitas umum v v v
Dokumen lelang (untuk jalan tol)
● Identifikasi sistem jaringan yang ada dan sedang direncanakan v v v
● Identifikasi fasilitas transportasi yang ada v v v
● Identifikasi kondisi lalu-lintas yang ada v v v 1 Format-format kontrak
● Konfirmasi informasi dan dokumen terdahulu langsung di lapangan v v v 2 Ketentuan umum kontrak
3 Spesifikasi umum
4 Spesifikasi khusus (jika ada)
5 Daftar kuantitas dan format harga satuan
Survai Primer / Survai Lapangan
6 Gambar rencana
A B C Keterangan : 7 Jadwal kerja rinci, Daftar personil dan Peralatan kontraktor
1 Topografi v v v 8 Adenda dan ketentuan tambahan (jika ada)
2 Foto udara (optional) o x x A : Perencanaan jalan baru
3 Survai lalu-lintas : Traffic counting, OD (optional) , WIM v v v B : Perencanaan pelebaran jalan
4 Penyelidikan geoteknik, material dan tanah v v v C : Perencanaan pelapisan ulang (overlay)
5 Survai hidrologi v v v
6 Survai jaringan dan inventarisasi jalan v v v v : Jika tidak ditentukan lain, kegiatan ini dilaksanakan
7 Survai utilitas umum v v v x : Jika tidak ditentukan lain, kegiatan ini tidak perlu dilaksanakan
8 Survai lingkungan (optional) o x x o : Optional

Gambar 1.
III-
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

b). Survai pendahuluan


c). Survai foto udara (optional)
d). Survai topografi
e). Survai lalu-lintas :
· Survai lalu-lintas pada ruas jalan dan persimpangan
· Survai asal tujuan / OD Survey (optional)
· Survai beban gandar / Weight in Motion survey
f). Penyelidkan geoteknik, material, dan tanah
g). Survai hidrologi
h). Survai jaringan dan inventarisasi jalan
i). Survai utilitas umum
j). Survai lingkungan (optional)
4). Output dari perencanaan teknik, terdiri atas :
· Hasil perencanaan teknik : desain geometri, simpang susun, geoteknik (badan jalan dan stabilitas lereng
jalan), geoteknik (pondasi jembatan), rekayasa lalu-lintas, perkerasan jalan, struktur (jembatan), struktur
non jembatan (retaining wall, box culvert), drainase, utilitas umum, bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol),
penerangan jalan, rambu dan marka serta lampu isyarat, perlengkapan jalan, lansekap, tempat istirahat
dan pelayanan (untuk jalan tol), metode konstruksi
· Gambar rencana
· Perkiraan kuantitas pekerjaan
· Perkiraan biaya konstruksi
· Dokumen lelang

3.3. KETENTUAN TEKNIS

3.3.1. Jenis Perancangan Teknik

3.3.1.1 Perancangan Teknik Jalan Baru

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik jalan tol baru, jika tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa,
diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1). Evaluasi hasil studi dan preliminary design
2). Koordinasi dengan instansi terkait
3). Survai dan penyelidikan lapangan :
a). Evaluasi data sekunder
b). Survai pendahuluan
c). Survai foto udara (optional)
d). Survai topografi
e). Survai lalu-lintas : Survai lalu-lintas pada ruas jalan dan persimpangan, Survai asal tujuan (optional),
Survai beban gandar (Weight in Motion survey)
f). Penyelidkan geoteknik, material, dan tanah
g). Survai hidrologi
h). Survai jaringan dan inventarisasi jalan
i). Survai utilitas umum
j). Survai lingkungan (optional)
4). Penyusunan kriteria dan standar perencanaan
5). Analisa dan Perencanaan Teknik :
a). Geometri
b). Definitive plan
c). Perkerasan
d). Struktur (jembatan)
e). Struktur (non jembatan)
f). Geoteknik
g). Drainase
h). Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)
III- 3
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

i). Perlengkapan jalan : Penerangan jalan, Rambu, marka dan lampu isyarat, Pagar pengaman, patok
pengarah dll
j). Landscape
k). Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol)
l). Manajemen dan rekayasa lalu-lintas
m). Metode konstruksi (metode dan jadwal)
6). Penyiapan gambar rencana
7). Perhitungan kuantitas
8). Perkiraan biaya
9). Penyiapan dokumen lelang
10). Bantuan teknis proses tender konstruksi (jika ada)

3.3.1.2 Perancangan teknik pelebaran jalan

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik pelebaran jalan, jika tidak ditentukan lain oleh Pengguna Jasa,
diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1). Evaluasi hasil studi dan preliminary design
2). Koordinasi dengan instansi terkait
3). Survai dan penyelidikan lapangan :
a). Evaluasi data sekunder
b). Survai pendahuluan
c). Survai topografi
d). Survai lalu-lintas : Survai lalu-lintas pada ruas jalan dan persimpangan, Survai asal tujuan (optional),
Survai beban gandar (Weight in Motion survey)
e). Penyelidikan geoteknik, material, dan tanah
f). Survai hidrologi
g). Survai jaringan dan inventarisasi jalan
h). Survai utilitas umum
4). Penyusunan kriteria dan standar perencanaan
5). Analisa dan Perencanaan Teknik :
a). Geometri jalan
b). Perkerasan
c). Struktur (non jembatan)
d). Geoteknik
e). Drainase
f). Perlengkapan jalan : Rambu, marka dan lampu isyarat, Pagar pengaman, patok pengarah dll
g). Landscape
h). Manajemen dan rekayasa lalu-lintas
i). Metode konstruksi (metode dan jadwal)
6). Penyiapan gambar rencana
7). Perhitungan kuantitas
8). Perkiraan biaya
9). Penyiapan dokumen lelang
10). Bantuan teknis proses tender konstruksi

3.3.1.3 Perancangan teknik pelapisan ulang (overlay)

Kegiatan utama dan tahapan dalam perancangan teknik pelapisan ulang (overlay), jika tidak ditentukan lain oleh
Pengguna Jasa, diberikan dalam urutan kegiatan sebagai berikut :
1). Evaluasi hasil studi
2). Koordinasi dengan instansi terkait
3). Survai dan penyelidikan lapangan :
a). Evaluasi data sekunder
b). Survai pendahuluan
c). Survai topografi
d). Survai lalu-lintas : Survai lalu-lintas pada ruas jalan dan persimpangan, Survai asal tujuan (optional),
Survai beban gandar (Weight in Motion survey)
III- 4
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

e). Penyelidkan geoteknik, material, dan tanah


f). Survai hidrologi
g). Survai jaringan dan inventarisasi jalan
h). Survai utilitas umum
4). Penyusunan kriteria dan standar perencanaan
5). Analisa dan Perencanaan Teknik :
a). Geometri jalan
b). Perkerasan
c). Geoteknik
d). Drainase
e). Perlengkapan jalan : Rambu, marka dan lampu isyarat, Pagar pengaman, patok pengarah dll
f). Landscape (jika ada)
g). Manajemen dan rekayasa lalu-lintas
h). Metode konstruksi (metode dan jadwal)
6). Penyiapan gambar rencana
7). Perhitungan kuantitas
8). Perkiraan biaya
9). Penyiapan dokumen lelang
10). Bantuan teknis proses tender konstruksi

3.3.2. Survai Dan Penyelidikan Lapangan

3.3.2.1 Pengumpulan Dan Evaluasi Data Sekunder

1) Umum

Pengumpulan data sekunder bertujuan untuk :


· mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal;
· menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survai pendahuluan;
· menetapkan ruas jalan yang akan disurvai.

2) Pengumpulan Dan Evaluasi Data Sekunder

Jenis kegiatan pengumpulan dan evaluasi data sekunder ini meliputi :


a. Evaluasi laporan / perencanaan awal
b. Publikasi / data statistik
c. Peta dan data lainnya

Penjelasan lebih lengkap Pengumpulan dan evaluasi data sekunder ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.2 Survai Pendahuluan

1) Umum

Survai pendahuluan (reconnaissance survey) dilakukan pada awal pekerjaan di lokasi pekerjaan, untuk
memperoleh data awal sebagai bagian penting bahan kajian teknik dan untuk mendapatkan gambaran utuh
daerah perencanaan. Survai ini diharapkan mampu memberikan saran dan bahan pertimbangan terhadap
survai detail lanjutan.

2) Survai pendahuluan (reconnaissance survey)

Jenis kegiatan survai pendahuluan (reconnaissance survey) ini meliputi :


· Identifikasi karakteristik lapangan sepanjang rencana jalan
· Kondisi lingkungan berkaitan dengan perencanaan teknik akhir, pekerjaan konstruksi dan pelayanan jalan
rencana

III- 5
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

· Kondisi tata guna lahan yang ada, kondisi jalan, sistem drainase, utilitas umum, fasilitas umum, dan lain-
lain
· Sistem jaringan jalan yang ada dan sedang direncanakan
· Fasilitas transportasi yang ada
· Kondisi lalu lintas yang ada
· Melakukan pemeriksaan dan konfirmasi terhadap semua informasi yang diperlukan dan dokumen terdahulu
secara langsung dilapangan
Penjelasan lebih lengkap Survai pendahuluan ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.3 Pengukuran topografi

Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan
tanah sepanjang rencana trase jalan tol di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi, yang akan
digunakan untuk perencanaan geometri jalan.
Penjelasan lebih lengkap Pengukuran topografi ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.4 Foto udara (optional)

Tujuan foto udara dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah (contour)
sepanjang rencana trase (untuk jalan tol) di dalam koridor yang ditetapkan dengan koridor minimum 0,50 km dari
rencana as jalan tol kekiri dan kekanan, yang akan digunakan untuk perencanaan geometri jalan dan kemungkinan
perubahan / penggeseran / relokasi trase jalan karena kendala lapangan selama tahap DED dimana koridor tersebut
diluar dari pengukuran topografi.
Penjelasan lebih lengkap Foto udara ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.5 Survai lalu-lintas

a). Melakukan survai lalu lintas (TC = Traffic Counting) pada beberapa ruas jalan dan persimpangan jalan tertentu
yang diperlukan dalam perencanaan jalan tol.
b). Melakukan survai asal tujuan (OD Survey) pada beberapa lokasi tertentu untuk keperluan proses analisa dan
evaluasi, baik pada koridor rencana maupun pada ruas-ruas jalan di sekitar rencana jalan tol tersebut (optional).
c). Survai beban gandar (Weight in Motion survey) : Dari hasil survai ini dapat diperoleh nilai truck factor / damage
factor yang akan digunakan dalam analisis Equivalent Single Axle Load (ESAL) pada jalur lalu lintas rencana
untuk perhitungan perencanaan tebal perkerasan.
Penjelasan lebih lengkap Survai lalu-lintas ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.6 Penyelidikan geoteknik, material, dan tanah

Penyelidikan geoteknik, material, dan tanah dilaksanakan untuk mendapatkan data lengkap sebagai penunjang
perencanaan pondasi, slope stability, settlement, analisis mekanika tanah, perbaikan tanah dasar, perkerasan,
ketersediaan material konstruksi dll.
Tujuan penyelidikan geoteknik dalam pekerjaan ini adalah untuk melakukan pemetaan penyebaran tanah / batuan
dasar, termasuk kisaran tebal tanah pelapukan, memberikan informasi mengenai stabilitas tanah, menentukan jenis
dan karakteristik tanah untuk keperluan bahan jalan dan struktur jalan serta pondasi jembatan.
Penjelasan lebih lengkap Penyelidkan geoteknik, material, dan tanah ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.7 Survai hidrologi

Tujuan survai hidrologi yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter
/ perilaku aliran air pada bangunan air yang ada di sekitar jalan, guna keperluan analisa hidrologi, penentuan debit
banjir rencana dan elevasi muka air banjir sebagai dasar perencanaan drainase dan bangunan pangaman terhadap
gerusan atau pengarah arus yang diperlukan.
Penjelasan lebih lengkap Survai hidrologi diberikan pada buku modul tersendiri.

III- 6
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

3.3.2.8 Survai jaringan dan inventarisasi jalan

Tujuan survai jaringan dan inventarisasi jalan ini adalah untuk mendapatkan data secara umum mengenai kondisi
perkerasan yang terdapat pada ruas jalan yang ditinjau atau ruas jalan yang terpengaruh dalam perencanaan. Survai
ini juga bertujuan untuk mengetahui data struktural perkerasan yang ada, meliputi lendutan, daya dukung tanah dasar,
susunan dan kondisi lapisan perkerasan dan kekasaran jalan. Survai perkerasan jalan ini umumnya diperuntukkan
pada jalan yang sudah ada (eksisting).
Penjelasan lebih lengkap Survai jaringan dan inventarisasi jalan ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.9 Survai utilitas umum

Tujuan survai utilitas umum ini adalah untuk mengetahui jenis dan lokasi utilitas umum secara rinci di lapangan, dan
melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait.
Penjelasan lebih lengkap Survai utilitas umum ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.2.10 Survai lingkungan (optional)

Survai ini dilakukan untuk memverifikasi hasil studi AMDAL dan sebagai bahan masukan bagi penyusunan rencana
teknik.
Penjelasan lebih lengkap dari Survai lingkungan ini diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.3. Penyusunan kriteria dan standar perencanaan

Kriteria dan standar untuk perencanaan teknik akhir mencakup komponen perencanaan sebagai berikut :
1). Geometri jalan
2). Perkerasan jalan
3). Struktur
4). Geoteknik
5). Drainase
6). Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)
7). Penerangan jalan
8). Rambu dan marka jalan
9). Utilitas umum
10). Perlengkapan jalan
11). Landscape
12). Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol)
Penjelasan lebih lengkap Kriteria dan standar perencanaan diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4. Analisa dan Perencanaan Teknik

Komponen perancangan teknik, jika tidak ditentukan lain, yang harus dilakukan minimal mencakup :
1). Definitive plan
2). Geometri
3). Pemilihan simpang susun (jika ada)
4). Geoteknik (jalan)
5). Geoteknik (jembatan)
6). Perkerasan jalan
7). Struktur (jembatan)
8). Retaining wall
9). Box culvert
10). Drainase
11). Utilitas umum
12). Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)
13). Penerangan jalan
14). Rambu, marka dan lampu isyarat
15). Perlengkapan jalan
16). Landscape
17). Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol)
III- 7
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

18). Manajemen dan rekayasa lalu-lintas


19). Metode konstruksi

3.3.4.1. Definitive plan

· Membuat penampang melintang secara rinci untuk perhitungan kuantitas dan lain-lain misalnya perencanaan
timbunan, galian, perencanaan overpass, on/off ramp, struktur perkerasan, toll plaza (untuk jalan tol), batas ROW
minimum yang dibutuhkan dan lainnya, untuk kepentingan pembebasan tanah
· Dalam menentukan definitive plan, konsultan harus memperhatikan kondisi sebagai berikut : Lahan sudah ada
(P2T sudah membebaskan tanah), Pelaksanaan pembebasan tanah bersamaan saat dilakukan oleh P2T dan
tahap perencanaan oleh Konsultan Perencana, Pembebasan tanah belum ada pada tahap perencanaan.
Penjelasan lebih lengkap dari Definitive plan diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.2. Geometri jalan

· Merencanakan alinyemen horizontal (plan) :


- Rencana alinyemen horizontal
- Rencana overpass dan underpass (jika ada)
- Rencana semua saluran, simpang sebidang termasuk elevasinya
- Rencana denah simpang sebidang, simpang susun, putaran, ramp masuk / keluar, gardu / plaza tol (untuk
jalan tol), manajemen lalu lintas dll
- Rencana pelebaran jalan
· Merencanakan alinyemen vertikal (profile) :
- Rencana elevasi jalan, jembatan dan desain alinyemen vertikal
- Analisis rencana elevasi akhir permukaan jalan (finish grade) terhadap permukaan tanah asli (existing ground
level) di dalam dan di luar koridor jalan
- Rencana elevasi yang diperlukan untuk underpass / overpass
Penjelasan lebih lengkap dari Desain geometri diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.3. Pemilihan simpang susun

· Tinjauan bentuk dan karakteristik simpang susun, faktor-faktor yang dipertimbangkan adalah : Topografi medan,
Proyeksi dan karakter lalu-lintas, Lahan yang tersedia, Dampak terhadap daerah sekitarnya serta lingkungan
keseluruhan, Perkembangan ekonomi, Kendala-kendala segi pembiayaan
· Tinjauan fungsi simpang susun : Menyediakan persimpangan tak sebidang pada pertemuan dua atau lebih lalu-
lintas, Mempermudah kemungkinan perpindahan kendaraan dari satu jalan ke jalan lainnya
· Pemilihan lokasi simpang susun ditentukan dengan memperhatikan : Jarak tempuh, Dekat dengan pusat kegiatan,
Pertumbuhan tata guna lahan, Bentuk simpang susun yang direncanakan, Pengaruh terhadap lingkungan.
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa Pemilihan simpang susun diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.4. Geoteknik (jalan)

· Analisa tanah dasar / subgrade sebagai pondasi / badan jalan


· Analisa / perencanaan timbunan / galian, lereng atau kemiringan talud
· Analisa mekanika tanah / soil properties lain yang diperlukan untuk perencanaan jalan
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Geoteknik (jalan) diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.5. Geoteknik (jembatan)

· Analisa / perencanaan pondasi jembatan


· Analisa mekanika tanah / soil properties lain yang diperlukan untuk perencanaan jembatan
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Geoteknik (jembatan) diberikan pada buku modul tersendiri.

III- 8
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

3.3.4.6. Perkerasan jalan

· Analisa pemilihan jenis perkerasan


· Analisa pemilihan material konstruksi perkerasan
· Analisa / perencanaan tebal perkerasan
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Perkerasan jalan diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.7. Struktur (jembatan)

· Analisa / perencanaan Interchange dan Junction (untuk jalan tol)


· Analisa / perencanaan jembatan, underpass, overpass
· Analisa / perencanaan jalan layang / elevated road (jika ada)
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Struktur (jembatan) diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.8. Retaining wall

· Analisa / perencanaan dinding penahan tanah


Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Retaining wall diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.9. Box culvert

· Analisa / perencanaan gorong-gorong / box culvert


Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Box culvert diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.10. Drainase

· Analisis hidrologi dan hidrolika yang terkait dengan perencanaan drainase jalan
· Analisa dan rekomendasi kemungkinan terjadinya banjir, pengembangan penggunaan lahan yang pesat di sekitar
koridor jalan
· Analisa dan rekomendasi struktur atau bangunan pengendali banjir (bila diperlukan)
· Pendekatan perencanaan yang meminimalisir pembuangan air permukaan dengan memperbesar infiltrasi untuk
reduksi surface runoff pada lokasi-lokasi yang memungkinkan dan bila diperlukan
· Penggambaran fasilitas drainase, side ditch, bangunan irigasi, inlet-outlet, dan lain-lain berdasarkan atas
perhitungan hidrologi.
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Drainase diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.11. Utilitas umum

· Analisa / perencanaan terowongan utilitas dan jalan masuk


· Analisa / perencanaan pipa utilitas
· Analisa / perencanaan saluran utilitas
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Utilitas umum diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.12. Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)

· Perencanaan gerbang tol (toll gate / barrier gate) termasuk pilar dan atap
· Perencanaan kebutuhan / jumlah pintu tol / gardu tol
· Perencanaan pelataran tol (toll plaza), lajur tol
· Perencanaan gardu tol (toll booth)
· Perencanaan pulau pembatas (refuge island), pulau tol (toll island)
· Perencanaan kantor cabang, struktural dan arsitekturnya
· Perencanaan lokasi kantor gerbang tol, struktural dan arsitekturnya
· Perencanaan bangunan pelengkap / bangunan lain : rumah dinas, rumah genset, menara air, ground water tank
dan service tunnel, lansekap.
· Pemilihan peralatan, instalasi listrik, pengatur udara, dan lain-lain
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Bangunan fasilitas tol diberikan pada buku modul tersendiri.
III- 9
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

3.3.4.13. Penerangan jalan

· Analisa / perencanaan kuat penerangan Gerbang Tol / Plaza (untuk jalan tol)
· Analisa / perencanaan kuat penerangan Underpass, daerah peralihan dengan jalan non tol
· Analisa / perencanaan kuat penerangan Jalan tol, jalan arteri (yang terpengaruh jalan tol), persimpangan on / off
ramp
· Perencanaan sistem penerangan jalan termasuk denah lokasi
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Penerangan jalan diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.14. Rambu, marka dan lampu isyarat

· Analisa / perencanaan marka jalan


· Analisa / perencanaan rambu-rambu lalu-lintas di jalan
· Analisa / perencanaan isyarat lalu-lintas.
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Rambu, marka dan lampu isyarat diberikan pada buku modul
tersendiri.

3.3.4.15. Perlengkapan jalan

· Perencanaan perlengkapan jalan (pagar pengaman, patok pengarah dll)


Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Perlengkapan jalan diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.16. Landscape

· Perencanaan lansekap dengan mempertimbangkan : Kesesuaian dalam geometris jalan, Fungsional dan estetika,
Kesesuaian penggunaan tanaman daerah setempat yang cocok dengan habitatnya serta disukai burung,
Kesesuaian dengan persyaratan dan petunjuk teknis yang ada
· Lansekap jalan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi
kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah, serasi, memenuhi
fungsi keamanan serta berwawasan lingkungan
· Analisa perencanaan landscape sepanjang koridor jalan yang sudah disesuaikan dengan hasil yang disarankan
dalam dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan dan Rencana Pengelolaan Lingkungan dari dokumen AMDAL
yang ada.
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Landscape diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.17. Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol)

· Perencanaan fasilitas parkir, air minum, WC, meja dan kursi, telepon dan pusat informasi
· Perencanaan tempat peristirahatan harus dibangun di lokasi tanah di luar daerah penguasaan jalan yang
biasanya. Dan memperhatikan faktor-faktor seperti keindahan daerah, mudah dicapai, mudah beradaptasi dengan
pembangunan, tersedianya air, dan fasilitas pembuangan sampah / limbah
· Perencanaan servis area harus mempunyai semua fasilitas seperti tempat peristirahatan dan sebagai tambahan,
ada restoran dan stasiun pengisi bahan bakar untuk kendaraan. Service area juga menyediakan bengkel untuk
perbaikan kendaraan.
Penjelasan lebih lengkap dari Analisa dan Perencanaan Tempat istirahat dan pelayanan diberikan pada buku modul
tersendiri.

3.3.4.18. Manajemen dan rekayasa lalu-lintas

· Analisa Kapasitas Jalan


- Analisa kapasitas dan kebutuhan lajur lalu lintas pada setiap segmen / ruas jalan
- Analisa kapasitas jalan frontage bila ada dan ruas-ruas jalan disekitar jalan rencana
- Analisa kapasitas dan kebutuhan lajur lalu lintas pada tiap persimpangan jalan yang berhubungan langsung
dengan jalan rencana maupun persimpangan jalan yang merupakan bagian dari perencanaan jalan

III- 10
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

· Perencanaan Rambu Lalu Lintas (Traffic Signs)


- Perencanaan sistem manajemen lalu lintas
- Perencanaan denah lokasi marka jalan, pagar pengaman, patok pengarah pagar, lampu penerang, dan
rambu-rambu lalu lintas lainnya
· Analisa Perencanaan Lampu Lalu Lintas (Traffic Signals), untuk simpang terdekat dan yang terpengaruh dengan
rencana jalan
- Rekomendasi tata letak simpang, tata letak lalu lintas dan rincian fasenya jika diperlukan
- Mempersiapkan spesifikasi lampu penerangan / lalu lintas yang digunakan bila diperlukan
Penjelasan lebih lengkap dari Kajian Manajemen dan rekayasa lalu-lintas diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.4.19. Metode konstruksi (metode dan jadwal)

· Rekomendasi rencana manajemen lalu lintas selama konstruksi


· Penyusunan jadwal konstruksi dengan memperhitungkan pentahapan konstruksi, hari kerja dll
· Penyusunan jadwal pemasokan rinci dari sumber daya kontraktor (tenaga kerja, material konstruksi, perlengkapan
dll)
· Penyusunan prosedur pengawasan konstruksi, dengan mempertimbangkan item pekerjaan yang kritis
· Penyususnan metode konstruksi untuk mencapai efektifitas dan efisiensi
Penjelasan lebih lengkap dari Metode konstruksi (metode dan jadwal) diberikan pada buku modul tersendiri.

3.3.5. Gambar rencana

Penyiapan gambar rencana mengacu pada standar yang telah baku atau ketentuan yang diberikan oleh Pengguna
Jasa.
Gambar Rencana yang perlu dibuat harus minimal mencakup :
A. Umum
B. Tipikal potongan melintang
C. Layout dan titik referensi
D. ROW Plan
E. Plan & profile
F. Struktur jembatan
G. Struktur non jembatan
H. Drainase
I. Rambu-rambu
J. Penerangan jalan
K. Manajemen lalu-lintas
L. Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)
M. Landscape
N. Tempat istirahat dan pelayanan (untuk jalan tol)
O. Lain-lain

3.3.6. Perhitungan kuantitas

Perhitungan kuantitas berpedoman pada jenis / item pekerjaan rencana dan atau sesuai item pekerjaan yang terdapat
dalam buku spesifikasi dan gambar rencana.
Perencana harus membuat perhitungan kuantitas pekerjaan secara rinci dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Penyusunan mata pembayaran pekerjaan (pay-item) harus sesuai dengan spesifikasi yang dipakai.
2) Perhitungan kuantitas pekerjaan harus dilakukan secara keseluruhan. Tabel perhitungan harus mencakup lokasi
dan semua jenis mata pembayaran (pay-item).
3) Kuantitas pekerjaan harus dihitung / sesuai dengan yang ada dalam gambar rencana.

3.3.7. Perkiraan biaya

Perkiraan biaya konstruksi harus disiapkan untuk setiap konstruksi yang direncanakan, sesuai item pekerjaan dan dari
analisa harga satuan pekerjaan.
III- 11
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

Perkiraan biaya konstruksi rinci harus disiapkan untuk setiap tahapan konstruksi yang direncanakan, sesuai item
pekerjaan dan harga satuan yang disajikan secara terpadu. Kuantitas akan disertai dengan data pendukung
perhitungannya, sedangkan harga satuan akan merujuk pada referensi harga satuan terbaru dan masih berlaku atau
berpedoman pada survai harga pasar.
Metoda perhitungan harga satuan harus dibuat, analisa harga satuan menggunakan metoda dan acuan yang baku
berdasarkan faktor-faktor / parameter : tenaga, material, peralatan, sosial, pajak, overhead, dan keuntungan yang
berlaku di daerah setempat.
Perkiraan biaya yang diperoleh dari analisa ini dibandingkan dengan proyek-proyek lainnya di daerah sekitar lokasi.

3.3.8. Penyiapan dokumen lelang

Dokumen Lelang untuk keperluan tender (lelang) pekerjaan konstruksi, yang terdiri atas dokumen-dokumen :
BAB I Instruksi Kepada Peserta Lelang;
BAB II Data Lelang;
BAB III Bentuk Surat Penawaran, Lampiran, Surat Penunjukan dan Surat Perjanjian;
BAB IV Syarat-Syarat Umum Kontrak;
BAB V Syarat-Syarat Khusus Kontrak;
BAB VI Spesifikasi Teknis;
BAB VII Gambar-Gambar;
BAB VIII Daftar Kuantitas, Analisa Harga Satuan dan Metoda Pelaksanaan;
BAB IX Bentuk-Bentuk Jaminan.
Adendum (bila ada)

3.4. PELAPORAN

Pelaporan yang harus dibuat dalam perancangan teknik minimal mencakup laporan-laporan berikut ini :

1). Laporan Pendahuluan

Laporan Pendahuluan berisi rencana kerja secara menyeluruh / terinci, mobilisasi tenaga ahli dan tenaga
pendukung lainnya, metodologi kerja dan jadwal kegiatan serta indikasi awal dan permasalahan yang diperoleh
dari evaluasi data sekunder.

2). Laporan Antara

Laporan ini berisi analisis data, evaluasi studi terdahulu, dan kumpulan data survai lapangan serta hasil
analisanya meliputi :
· Laporan Survai pendahuluan
· Laporan Survai foto udara (jika ada)
· Laporan Survai topografi
· Laporan Survai lalu-lintas
· Laporan Penyelidikan geoteknik, material, dan tanah
· Laporan Survai hidrologi
· Laporan Survai utilitas umum / jaringan jalan
· Laporan Survai lingkungan (jika ada)

3). Laporan Bulanan (Monthly Report)

Laporan bulanan memuat tentang progres bulanan, hal-hal yang perlu mendapat perhatian khusus dan rencana
kerja bulan berikutnya.

4). Laporan Khusus

Termasuk dan tidak terbatas dalam kategori laporan ini adalah masukan dari studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) dan laporan hasil pemantauan terhadap aspek lingkungan di lapangan yang harus
diakomodir dalam perencanaan teknik akhir.

III- 12
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II. Pedoman Dan Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan Bab III. Tata Cara Perencanaan Teknik Jalan

5). Laporan Teknis

Termasuk dan tidak terbatas dalam kategori laporan ini adalah :


· Laporan Definitive Plan
· Laporan Perencanaan Geometri
· Laporan Kajian Lalu-lintas
· Laporan Perencanaan Perkerasan jalan
· Laporan Perencanaan Simpang Susun
· Laporan Perencanaan Struktur Jembatan
· Laporan Perencanaan Struktur non Jembatan
· Laporan Perencanaan Geoteknik jalan
· Laporan Perencanaan Geoteknik jembatan
· Laporan Perencanaan Drainase
· Laporan Perencanaan Bangunan fasilitas tol (untuk jalan tol)
· Laporan Perencanaan Landscape
· Laporan Perencanaan lain yang terkait

6). Konsep Laporan Akhir

Laporan ini setidaknya meliputi hasil analisis Laporan Teknis diatas, analisis sosial ekonomi dan studi rute serta
pemilihan alinyemen optimum (jika ada), perkiraan kebutuhan ROW, biaya konstruksi.

7). Laporan Akhir

Laporan Akhir berisi konsep laporan akhir yang disempurnakan termasuk gambar-gambar detail rencana teknik
setelah mendapat masukan dari Pengguna Jasa. Laporan desain yang meliputi konsep disain, metode
perhitungan, analisa yang digunakan dalam penyusunan rencana teknik detail.

8). Ringkasan Eksekutif

Bersamaan dengan Laporan Akhir, konsultan harus menyampaikan Ringkasan Eksekutif.

9). Dokumen Lelang

Bersamaan dengan penyerahan Laporan Akhir, konsultan harus menyerahkan Dokumen Lelang / Tender
Konstruksi yang terdiri dari Dokumen Lelang Pekerjaan Konstruksi dan Pekerjaan Lansekap, yang diserahkan
dengan mengakomodasikan kebutuhan pelaksanaan konstruksi di lapangan, Gambar Rencana, Laporan
Perhitungan Kuantitas dan Biaya yang berisikan diantaranya perhitungan kuantitas yang disertai dengan data
pendukung perhitungannya, sedangkan harga satuan harus merujuk pada referensi harga satuan terbaru dan
masih berlaku atau berpedoman pada survai harga pasar, Metoda perhitungan harga satuan harus dibuat.

III- 13
Badan sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencanaan Jalan-Maret 2010
Modul PRJL – II Ketentuan Tentang Perencanaan Jalan Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1 Centre for Civil Engineering Research and Codes : “Guideline Road Construction over Peat and
Organic Soil”, draft version 4, Jakarta, November 2000.
2 Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Kapasitas Jalan Indonesia, tahun 1997 ;
3 Drainase perkotaan, Ir. S. Hindarko ;
4 Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 74 tahun 1990 tentang Angkutan Peti Kemas di
Jalan.
5 Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 60 tahun 1993 tentang Marka Jalan ;
6 Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 61 tahun 1993, tentang Rambu-rambu Lalu lintas di
Jalan ;
7 Keputusan Menteri Perhubungan, No. KM 62 tahun 1993, tentang Alat Pemberi isyarat Lalu
Lintas ;
8 Kriteria Desain Rencana Teknik Akhir, PT. Jasa Marga (Persero), 2004 ;
9 Linsley Ray K Jr. : “Hidrologi untuk Insinyur”, Erlangga, Jakarta, 1986 ;
10 Metoda Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka (SK SNI – 17-1989-F) ;
11 Metode Perhitungan Debit Banjir (SK SNI M – 18-1989-F) ;
12 Pedoman Perencanaan Hidrologi dan Hidrolik untuk bangunan di sungai (SKBI – 1.3.10-1987) ;
13 Peraturan Merteri Pertambangan dan Energi Nomor : 01.P/47/MPE/1992, tentang Ruas Bebas
Saluran Udara Tegangan Tinggu (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET)
untuk penyaluran tenaga listrik ;
14 Petunjuk Perencanaan Geometri untuk Jalan Antar Kota, September 1997 ;
15 Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa
Komponen SNI No : 173 – 1989-F, SKB – 23.26.1987 ;
16 Sri Harto. : “Analisa Hidrologi”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993 ;
17 Spesifikasi Lampu Penerangan Jalan Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Departemen
Pekerjaan Umum, Nomor 12/BNKT/1991, Februari 1992 ;
18 Suyono Sosrodarsono : “Hidrologi untuk Pengairan”, Pradnya Paramita, 1993 ;
19 Tata Cara Perencanaan Drainase Permukaan Jalan (SNI 03-3414-1994) ;
20 Teknik Sumber Daya Air, Ray K Linsley, Joseph B Franzini, Djoko Sasongko ;
21 “Drainage of Asphalt Pavement Structures (Manual Series-15)”, The Asphalt Institute,
Maryland, 1981.
22 Transport and Road Research Laboratory, Towards Safer Roads in Developing Countries, 1993
;
23 Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 3 – Small Drainage
Structure”, USAID, Washington DC, 1978 ;
24 Transportation Technology for Developing Countries : “Copendum 5 – Roadside Drainage”,
USAID, Washington DC, 1978 ;
25 Unitet States Department of the Interior : “Design of Small Dams”, Oxford & IBH Publishing Co.,
New Delhi, 1974 ;
26 Ven Te Chow : “Hidrolika Saluran Terbuka”, Erlangga, Jakarta, 1992.

Badan Sertifikasi Asosiasi Pusat HPJI- Modul Pembekalan/ Pengujian Ahli Perencana Jalan-Maret 2010