Anda di halaman 1dari 19

UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI

Pangan & Kesehatan


Copyright©2009

BAB VI
HIPERTENSI

1. DEFINISI
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di
dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,
dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya
resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan
ginjal. (Sumber : http://www.medicastore.com)

Hipertensi atau Darah Tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami


peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama).
Hipertensi merupakan kelainan yang sulit diketahui oleh tubuh kita sendiri. Satu-
satunya cara untuk mengetahui hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah
kita secara teratur. (Sumber : http://infohidupsehat.com)

Penyakit darah tinggi atau Hipertensi (Hypertension) adalah suatu keadaan di


mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang
ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada
pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang
berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya.
(Sumber : http://www.nurses-recruitment.blogspot.com)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita
yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi
140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi.
(Sumber : http://id.wikipedia.org)

Secara sederhana, hipertensi diartikan sebagai keadaan dimana tekanan darah


meningkat. Tekanan darah merupakan ukuran kekuatan darah saat menekan
dinding pembuluh darah arteri, pembuluh nadi yang menghantarkan darah ke
seluruh tubuh. (Sumber : http://www.WordPress.com)

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai
tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca
seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada
saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik
mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi,
biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik.

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau
lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih
dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.

Hipertensi Hal. 1
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan


tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan
diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara
perlahan atau bahkan menurun drastis.

Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati,
akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi,
hanya 1 dari setiap 200 penderita hipertensi.

Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan
anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada
dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih
tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan
darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling
rendah pada saat tidur malam hari.
(Sumber : http://www.medicastore.com)

2. PENGENDALIAN TEKANAN DARAH


Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara :
1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada
setiap detiknya.
2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka
tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri
tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui
pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan.
Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal
dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga
meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola)
untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di
dalam darah.
3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume
darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Sebaliknya, jika :
• Aktivitas memompa jantung berkurang.
• Arteri mengalami pelebaran
• Banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan menurun.

Penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam


fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur
berbagai fungsi tubuh secara otomatis).

Hipertensi Hal. 2
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

a. Perubahan fungsi ginjal


Ginjal mengendalikan tekanan darah melalui beberapa cara :
• Jika tekanan darah meningkat, ginjal akan menambah pengeluaran garam
dan air, yang akan menyebabkan berkurangnya volume darah dan
mengembalikan tekana darah ke normal.
• Jika tekanan darah menurun, ginjal akan mengurangi pembuangan garam
dan air, sehingga volume darah bertambah dan tekanan darah kembali ke
normal.
• Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim
yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang
selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron.

Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena


itu berbagai penyakit dan kelainan pda ginjal bisa menyebabkan terjadinya
tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu
ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan
cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya
tekanan darah.

b. Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yang untuk
sementara waktu akan :
• Meningkatkan tekanan darah selama respon fight-or-flight (reaksi fisik
tubuh terhadap ancaman dari luar).
• Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; juga
mempersempit sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteriola di
daerah tertentu (misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah
yang lebih banyak).
• Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan
meningkatkan volume darah dalam tubuh.
• Melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin
(noradrenalin), yang merangsang jantung dan pembuluh darah.
(Sumber : http://www.medicastore.com)

3. PENYEBAB
Pada sekitar 90 % penderita hipertensi, penyebabnya tidak diketahui dan keadaan
ini dikenal sebagai hipertensi esensial atau hipertensi primer. Hipertensi esensial
kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan
pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya
tekanan darah.

Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5 - 10


% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1 - 2 %,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya
pil KB).

Hipertensi Hal. 3
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada
kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau
norepinefrin (noradrenalin).

Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres,
alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada
orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan
kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka
tekanan darah biasanya akan kembali normal.

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder :


1. Penyakit Ginjal
• Stenosis arteri renalis.
• Pielonefritis.
• Glomerulonefritis.
• Tumor-tumor ginjal.
• Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan).
• Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal).
• Terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal
• Hiperaldosteronisme.
• Sindroma Cushing.
• Feokromositoma.
3. Obat-obatan.
• Pil KB.
• Kortikosteroid.
• Siklosporin.
• Eritropoietin.
• Kokain.
• Penyalahgunaan alkohol.
• Kayu manis (dalam jumlah sangat besar).
4. Penyebab Lainnya
• Koartasio aorta.
• Preeklamsi pada kehamilan.
• Porfiria intermiten akut.
• Keracunan timbal akut.
(Sumber : http://www.medicastore.com dan http://id.wikipedia.org)

Berdasarkan sumber yang lain, penyebab hipertensi dapat digolongkan menjadi 2


yaitu :
1. Hipertensi esensial atau primer
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab
hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas

Hipertensi Hal. 4
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

(keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi


primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder.
2. Hipertensi sekunder/li
Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui,
antara lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid
(hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain lain.
Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensia esensial,
maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan ke penderita
hipertensi esensial.
(Sumber : http://infohidupsehat.com)

Berdasarkan sumber http://www.muslim-indonesia.com, penyebab hipertensi


dikategorikan menjadi :
• Hipertensi Essensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,
yang menempati bagian terbesar kasus yang ada (95%). sedangkan faktor
yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, gangguan
pengeluaran/eksresi garam natrium, dll serta faktor-faktor yang meningkatkan
resiko seperti kegemukan (obesitas), alkohol, merokok dan lain-lain.
• Hypertensi sekunder atau hipertensi renal/ginjal. penyebab spesifiknya
diketahui seperti penyakit ginjal, tekanan darah tinggi pembuluh darah ginjal,
pengaruh hormon(aldosteron, estrogen).

Para peneliti Amerika telah mengidentifikasi satu varian gen yang mempengaruhi
cara ginjal memproses garam, sehingga pada gilirannya mempengaruhi tekanan
darah tinggi, demikian laporan media yang mengutip jurnal Proceedings of the
National Academy of Sciences, Selasa (30/12).

Para peneliti University of Maryland School of Medicine mengidentifikasi peran


dalam kerentanan tekanan darah tinggi dengan menganalisis gen dari 542 orang di
perkumpulan Orde Amish di Lancaster County, Pennsylvania.
Kelompok tersebut ideal untuk studi semacam itu karena anggotanya relatif
terkucil dan memiliki makanan serta gaya hidup pedesaan yang serupa. Mereka
mendapati hubungan kuat antara versi khusus gen STK39 dan peningkatan resiko
tekanan darah tinggi.

Orang dengan varian umum gen STK39 cenderung untuk memiliki tingkat
tekanan darah yang lebih tinggi dan lebih mungkin untuk menghadapi tekanan
darah tinggi penuh, yang juga disebut hipertensi, demikian temuan para peneliti.
Gen itu menghasilkan protein yang terlibat dalam mengatur cara jantung
memproses garam di dalam tubuh, faktor penting dalam menentukan tekanan
darah tinggi. Orang yang memiliki tekanan darah tinggi lebih mungkin untuk
mengalami serangan jantung, jantung tidak berfungsi, stroke dan penyakit ginjal.

Yen-Pei Christy Chang, pemimpin peneliti tersebut, mengatakan temuan itu dapat
mengarah kepada perkembangan obat baru tekanan darah tinggi dengan sasaran
kegiatan STK39.

Hipertensi Hal. 5
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Namun, Chang, yang menyatakan bahwa ada banyak faktor lain yang
mempengaruhi tekanan darah tinggi, menambahkan, "Gen STK39 hanya lah salah
satu potongan penting teka-teki. Kami ingin memastikan bagaimana orang dengan
variasi gen yang berbeda bereaksi terhadap obat, atau perubahan gaya-hidup,
seperti mengurangi jumlah garam di dalam makanan mereka."
(Sumber : http://www.kapanlagi.com)

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah
tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat Anda
kendalikan. Ada juga yang dapat Anda kendalikan sehingga bisa mengatasi
penyakit darah tinggi. Beberapa faktor tersebut antara lain :
 Keturunan
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Jika seseorang memiliki orang-tua atau
saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita
tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah
tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar
tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang
diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
 Usia
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya
usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak
dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika
Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati
batas atas yang normal.
 Garam
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah
dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes,
penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit
hitam.
 Kolesterol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah
Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah.
Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan
darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin. Untuk
tips mengendalikan kolesterol, silahkan lihat artikel berikut: kolesterol.
 Obesitas / Kegemukan
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30
persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita
tekanan darah tinggi.
 Stres
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil
juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
 Rokok
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan
darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes,

Hipertensi Hal. 6
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus
dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang
sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan
jantung dan darah.
 Kafein
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun
minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
 Alkohol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga
menyebabkan tekanan darah tinggi.
 Kurang Olahraga
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa
menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu
menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga
yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.
(Sumber : http://www.biofircenter.com)

4. GEJALA
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun
secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak).
Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah
kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Jika hipertensi berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut :
• Sakit kepala.
• Kelelahan.
• Mual.
• Muntah.
• Sesak nafas.
• Gelisah.
• Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan


koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
(Sumber : http://www.medicastore.com)

Mekanisme Terjadinya Hipertensi Gejala-gejala hipertensi antara lain pusing,


muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, tengkuk
terasa pegal, dan lain-lain. Dampak yang dapat ditimbulkan oleh hipertensi adalah
kerusakan ginjal, pendarahan pada selaput bening (retina mata), pecahnya
pembuluh darah di otak, serta kelumpuhan.
(Sumber : http://infohidupsehat.com)

Hipertensi Hal. 7
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya gejala pada


hipertensi essensial. kadang-kadang hipertensi essensial berjalan tanpa gejala dan
baru timbul gejala setelah komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal,
mata,otak, dan jantung. gejala-gejala seperti sakit kepala, mimisan, pusing,
migrain sering ditemukan sebagai gejala klinis hipertensi essensial. Pada survei
hipertensi di Indonesia tercatat gejala-gejala sebagai berikut : pusing, mudah
marah, telinga berdengung, mimisan(jarangan), sukar tidur, sesak nafas, rasa berat
di tengkuk, mudah lelah, dan mata berkunang-kunang.

Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah : Gangguan


penglihatan, Gangguan saraf, Gagal jantung, Gangguan fungsi ginjal, Gangguan
serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak
yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma.

Sebelum bertambah parah dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal,
serangan jantung, stroke, lakukan pencegahan dan pengendalian hipertensi dengan
merubah gaya hidup dan pola makan. beberapa kasus hipertensi erat kaitannya
dengan gaya hidup tidak sehat. seperti kurang olah raga, stress, minum-minuman,
beralkohol, merokok, dan kurang istirahat. kebiasaan makan juga perlu
diqwaspadai. pembatasan asupan natrium (komponen utama garam), sangat
disarankan karena terbukti baik untuk kesehatan penderita hipertensi.
(Sumber : http://www.muslim-indonesia.com)

Gejala yang timbul akibat menderita darah tinggi tidak sama pada setiap orang.
Hal ini disebabkan karna tekanan darah seseorang bisa saja tinggi disatu saat
karna faktor emosi dan hal ini sering dikait-kaitkan bahwa orang yang sering
marah karna menderita darah tinggi.

Gejala yang umum dikeluhkan oleh penderita tekanan darah tinggi adalah al. sbb :
1. Sakit kepala.
2. Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk.
3. Perasaan berputar dan serasa ingin jatuh.
4. Berdebar dan detak jantung terasa cepat.
5. Telinga berdenging.
(Sumber : http://www.blake.prohosting.com)

Tekanan darah tinggi dapat menimbulkan tanda dan gejala berupa diantaranya:
• Kelelahan.
• Bingung.
• Mual atau gangguan pencernaan.
• Gangguan atau masalah penglihatan.
• Keringat yang berlebihan.
• Kulit yang nampak pucat atau kemerahan.
• Mimisan.
• Kecemasan atau kegugupan.

Hipertensi Hal. 8
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

• Denyut jantung yang kuat, cepat atau tidak teratur.


• Bunyi berdengung atau berdering di telinga.
• Impotensi.
• Pusing kepala.
• Sakit kepala.
(Sumber : http://www.Dokter-online.co.nr)

Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang


baru dapat diketahui dengan pemeriksaan menggunakan alat bernama
sphygmomanometer. Gejala lain yang sering ditemukan antara lain sakit kepala,
mimisan (keluar darah dari hidung), telinga berdengung, rasa berat ditengkuk,
sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.
(Sumber :
• Buku acuan nasional pelayanan kesehatanmaternal dan neonatal, yayasan
bina pustaka,jakarta, 2001
• Kapita selekta kedokteran edisi III, media aesculapius, jakarta, 2000 )

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun


secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala
yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah
kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
sebagai berikut :
• Sakit kepala.
• Kelelahan.
• Mual.
• Muntah.
• Sesak nafas.
• Gelisah.
• Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak,
mata, jantung dan ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan


koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
(Sumber : http://id.wikipedia.org)

Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun


secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya
berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala
yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah

Hipertensi Hal. 9
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi,
maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal.

Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala
berikut: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan
menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan
ginjal.

Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan


koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati
hipertensif, yang memerlukan penanganan segera.
(Sumber : http://www.WordPress.com)

5. DIAGNOSA
Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi
diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.

Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah
diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk
meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan
adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan
beratnya hipertensi. Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan
terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.

Retina (selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang mata)
merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa menunjukkan
adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil). Dengan
anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan
yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal.
Untuk memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan
derajat kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.

Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada


elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada.Pada stadium awal, perubahan
tersebut bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan
gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).

Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar
melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi
akibat tekanan darah tinggi.

Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui


pemeriksaan air kemih. Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air
kemih bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.

Hipertensi Hal. 10
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Pemeriksaan untuk menentukan penyebab dari hipertensi terutama dilakukan pada


penderita usia muda. Pemeriksaan ini bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal,
rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu.
Untuk menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan
ginjal sebelumnya. Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk
mendengarkan adanya bruit (suara yang terjadi karena darah mengalir melalui
arteri yang menuju ke ginjal, yang mengalami penyempitan). Dilakukan analisa
air kemih dan rontgen atau USG ginjal.

Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa


ditemukan adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan
norepinefrin. Biasanya hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala,
kecemasan, palpitasi (jantung berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor
(gemetar) dan pucat.

Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu.


Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan
adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan
tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta.
(Sumber : http://www.medicastore.com)

Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah


sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik
adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi
(saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung
mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).

Sebetulnya batas antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah
jelas, sehingga klasifikasi Hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan
darah yang mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh
darah.

Menurut WHO, di dalam guidelines terakhir tahun 1999, batas tekanan darah
yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila
lebih dari 140/90 mmHG dinyatakan sebagai hipertensi; dan di antara nilai tsb
disebut sebagai normal-tinggi. (batasan tersebut diperuntukkan bagi individu
dewasa diatas 18 tahun).
(Sumber : http://infohidupsehat.com)

Hipertensi Hal. 11
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

6. PENGOBATAN
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya komplikasi.

Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:


1. Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badan dianjurkan untuk
menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
2. Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar
kolesterol darah tinggi. Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3
gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan
asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
3. Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat.Penderita hipertensi esensial tidak
perlu membatasi aktivitasnya selama tekanan darahnya terkendali.
4. Berhenti merokok.

Pemberian obat - obatan


1. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk
mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air,
yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan
tekanan darah. Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang
diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium.
Diuretik sangat efektif pada :
• Orang kulit hitam.
• Lanjut usia.
• Kegemukan.
• Penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun
2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-
blocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek
sistem saraf simpatis. Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan
segera akan memberikan respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan
tekanan darah.

Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan


kepada :
• Penderita usia muda.
• Penderita yang pernah mengalami serangan jantung.
• Penderita dengan denyut jantung yang cepat.
• Angina pektoris (nyeri dada).
• Sakit kepala migren.
3. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan
penurunan tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.Obat ini efektif
diberikan kepada :
• Orang kulit putih.
• Usia muda.

Hipertensi Hal. 12
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

• Penderita gagal jantung.


• Penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh
penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik.
• Pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain.
4. Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu
mekanisme yang mirip dengan ACE-inhibitor.
5. Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan
mekanisme yang benar-benar berbeda. Sangat efektif diberikan kepada :
• Orang kulit hitam.
• Lanjut usia.
• Penderita angina pektoris (nyeri dada).
• Denyut jantung yang cepat.
• Sakit kepala migren.
6. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah.
Obat dari golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap
obat anti-hipertensi lainnya.
7. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang
menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera. Beberapa obat bisa
menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara
intravena (melalui pembuluh darah) :
• Diazoxide.
• Nitroprusside.
• Nitroglycerin.
• Labetalol.
Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan
bisa diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi,
sehingga pemberiannya harus diawasi secara ketat.

Pengobatan hipertensi sekunder tergantung kepada penyebabnya. Mengatasi


penyakit ginjal kadang dapat mengembalikan tekanan darah ke normal atau paling
tidak menurunkan tekanan darah.

Penyempitan arteri bisa diatasi dengan memasukkan selang yang pada ujungnya
terpasang balon dan mengembangkan balon tersebut. Atau bisa dilakukan
pembedahan untuk membuat jalan pintas (operasi bypass).

Tumor yang menyebabkan hipertensi (misalnya feokromositoma) biasanya


diangkat melalui pembedahan.
(Sumber : http://www.medicastore.com)

Olah raga lebih banyak dihubungkan dengan pengobatan hipertensi, karena olah
raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yang teratur dapat memperlancar
peredaran darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dapat
digunakan untuk mengurangi/ mencegah obesitas dan mengurangi asupan garam
ke dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan mengeluarkan garam lewat kulit).

Hipertensi Hal. 13
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu :


1. Pengobatan non obat (non farmakologis).
2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis).

Pengobatan non obat (non farmakologis)


Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah
sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-
kurangnya ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi
diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk
mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh.
2. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan
penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan.
Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal,
tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
3. Ciptakan keadaan rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol
sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
4. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45
menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
5. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)


Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang
beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi
dokter.
• Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh
(lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang
mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya
adalah Hidroklorotiazid.
• Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf
yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa,
Klonidin dan Reserpin.
• Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya
pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah
diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial.
Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada
penderita diabetes melitus harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala
hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat
rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat

Hipertensi Hal. 14
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian


obat harus hati-hati.
• Vasodilator
Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi
otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah :
Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari
pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.
• Penghambat ensim konversi Angiotensin
Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat
Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).
Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang
mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.
• Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat
kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah :
Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul
adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.
• Penghambat Reseptor Angiotensin II
Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II
pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-
obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek
samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko
terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.
(Sumber : http://infohidupsehat.com)

Pengobatan dapat dilakukan dengan diet penyakit darah tinggi (Hipertensi)


Kandungan garam (Sodium/Natrium)Seseorang yang mengidap penyakit darah
tinggi sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada
beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
- Jangan meletakkan garam diatas meja makan.
- Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan.
- Batasi konsumsi daging dan keju.
- Hindari cemilan yang asin-asin.
- Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium.

Kandungan Potasium/KaliumSuplements potasium 2 - 4 gram perhari dapat


membantu penurunan tekanan darah, Potasium umumnya bayak didapati pada
beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung
potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara lain
semangka, alpukat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu,
mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu, makanan
yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal efektif dalam membantu
penurunan tekanan darah (hipertensi).

Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat :

Hipertensi Hal. 15
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

- Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}.


Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh
via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan
urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.
- Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat
yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses
memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
- Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting
enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam
pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh
darah yang juga memperlebar pembuluh darah.
(Sumber : http://www.nurses-recruitment.blogspot.com)
Tujuan dari pendeteksian dan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah
timbulnya komplikasi terutama pada organ jantung dan pembuluh darah yang
dapat menyebabkan kematian. Tujuan pengobatan adalah untuk mencapai tekanan
darah dalam batas normal dan mengontrol faktor resiko. Hal ini dicapai melalui
modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat anti hipertensi.
Yang dapat anda lakukan :
• Jangan merokok dan minum alkohol.
• Diet rendah garam rendah lemak.
• Latihan olahraga secara teratur (olahraga akan mengurangi stres, membantu
menurunkan berat badan, membakar lebih banyak lemak darah dan membuat
jantung lebih kuat).
• Istirahat bila tegang atau lelah, lakukan latihan pelemasan otot.
• Bila dokter memberi resep, minumlah obat secara teratur sesuai petunjuk
dokter (jangan berhenti minum obat atas inisiatif sendiri).
• Periksa dokter secara teratur untuk memeriksa apakah tekanan darah
terkontrol dengan baik, sehingga akan mencegah timbulnya komplikasi.

Tindakan dokter untuk anda :


• Memberi resep obat anti-hipertensi.
• Mengawasi timbulnya komplikasi dan mengobatinya. Setelah umur 30 thn,
cek tekanan darah anda setyiap tahun terutama bila terdapat riwayat keluarga
dengan hipertensi.
(Sumber :
• Buku acuan nasional pelayanan kesehatanmaternal dan neonatal, yayasan
bina pustaka,jakarta, 2001
• Kapita selekta kedokteran edisi III, media aesculapius, jakarta, 2000)

7. PENCEGAHAN
Banyak cara untuk mengontrol tekanan darah. Salah satunya dengan menjaga pola
makan. Menghindari konsumsi garam yang berlebihan bisa menjauhkan Anda dari
hipertensi.

Hipertensi Hal. 16
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Gaya hidup serba-instan masyarakat perkotaan memicu timbulnya berbagai


penyakit. Salah satunya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Sayangnya,
banyak orang yang menganggap sepele penyakit ini. Padahal hipertensi yang
diabaikan akan memicu munculnya berbagai penyakit lain.

Segala penyakit yang dialami seseorang terkait erat dengan pola hidupnya Dokter
spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, dr Santoso Karokaro, MPH, SpJP (K), juga berpendapat sama.
Menurut dia, gaya hiduplah yang menjadi faktor utama penyebab hipertensi.
Misalnya pada pola makan masyarakat yang tidak seimbang.

Data World Hypertension League Brochure 2009 menyebutkan bahwa hipertensi


diderita lebih dari 1,5 miliar jiwa di seluruh dunia dan garam yang berlebihan
adalah faktor utama dalam meningkatkan tekanan darah.
Secara global, menurut data Yayasan Jantung Indonesia, tujuh juta jiwa
meninggal setiap tahunnya akibat tekanan darah tinggi. Angka kematian ini bisa
dicegah dengan mengubah pola makan, misalnya mengurangi asupan sodium.

Meskipun sodium terkandung dalam garam, sebesar 80 % kandungan sodium


terdapat pada makanan yang diproses atau makanan kemasan. Disarankan untuk
mewaspadai asupan garam yang berlebih. Hal itu disebabkan garam merupakan
sumber sodium yang utama dan faktor utama penyebab meningkatnya hipertensi
yang dapat berkembang menjadi penyakit-penyakit kardiovaskuler.

Di banyak negara, asupan garam per hari adalah sekitar 12 gram. Asupan tersebut
lebih dari dua kali jumlah yang dianggap perlu oleh World Health Organisation
(WHO). Di Indonesia, menurut data Indonesian Society of Hypertension,asupan
garam harian mencapai 15 gram yang berarti juga melebihi dua kali lipat yang
direkomendasikan WHO yaitu 5 - 6 gram per hari. Ada tiga tahap diet rendah
garam yakni terdiri atas diet ringan (konsumsi garam 3,75-7,5 gram/hari),
menengah (1,25-3,75 gram/hari), dan berat (kurang dari 1,25 gram/hari).
(Sumber : http://lifestyle.okezone.com)

Perubahan gaya hidup bisa membantu mengendalikan tekanan darah tinggi.


(Sumber : http://www.medicastore.com)

Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas
fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi
alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko Hipertensi walaupun
mekanisme timbulnya belum diketahui pasti.
(Sumber : http://infohidupsehat.com)

Setelah umur 30 tahun, periksa tekanan darah setiap tahun. Jangan


merokok/minum alcohol. Kurangi berat badan bila berlebihan. Lakukan latihan
aerobic. Pelajari cara-cara mengendalikan stres.
(Sumber : http://www.wordpress.com)

Hipertensi Hal. 17
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

Untuk mencegah darah tinggi bagi Anda yang masih memiliki tekanan darah
normal ataupun mengatasi darah tinggi bagi Anda yang sudah memiliki tekanan
darah tinggi, maka saran praktis berikut ini dapat Anda lakukan:
• Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita
tekanan darah tinggi sebaiknya Anda menghindari makanan yang
mengandung garam.
• Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium.
Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
• Kurangi minum minuman atau makanan beralkohol. Jika Anda menderita
tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari konsumsi alkohol secara berlebihan.
Untuk pria yang menderita hipertensi, jumlah alkohol yang diijinkan
maksimal 30 ml alkohol per hari sedangkan wanita 15 ml per hari.
• Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jika Anda
menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan
kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45 menit
sehari sebanyak 3 kali seminggu.
• Makan sayur dan buah yang berserat tinggi seperti sayuran hijau, pisang,
tomat, wortel, melon, dan jeruk.
• Jalankan terapi anti stres agar mengurangi stres dan Anda mampu
mengendalikan emosi Anda.
• Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi
atau hipertensi.
• Kendalikan kadar kolesterol Anda.
• Kendalikan diabetes Anda.
• Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan ke dokter
jika Anda menerima pengobatan untuk penyakit tertentu, untuk meminta obat
yang tidak meningkatkan tekanan darah.
(Sumber : http://www.kumpulan.info)

Modifikasi gaya hidup cukup efektif untuk menurunkan resiko komplikasi


dengan biaya sedikit, dan resiko minimal. Langkah-langkah yang dianjurkan
antara lain :
• Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan.
• Membatasi alkohol.
• Meningkatkan aktifitas aerobik (30-45 menit/hari).
• Mengurangi asupan garam (termasuk dari ikan asin, telur asin).
• Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak dan kolesterol dalam
makanan.
• Setelah umur 30, periksa tekanan darah anda setiap tahun terutama bagi anda
dengan riwayat keluarga hipertensi.
• Lakukan latihan aerobik (berenang, sepeda, jogging/jalan cepat, tari aerobik,
dan olahraga berat) paling tidak tiga kali seminggu, setiap kali lamanya 15-60
menit, sampai napas terengah-engah tetapi jangan sampai sesak napas.
• Pelajari cara mengendalikan stress.

Hipertensi Hal. 18
UPT – Balai Informasi Teknologi LIPI
Pangan & Kesehatan
Copyright©2009

(Sumber :
• Buku acuan nasional pelayanan kesehatanmaternal dan neonatal, yayasan
bina pustaka,jakarta, 2001
• Kapita selekta kedokteran edisi III, media aesculapius, jakarta, 2000)

Hipertensi Hal. 19

Beri Nilai