Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PENDAHULUAN

STASE KEPERAWATAN DASAR PROFESI (KDP)


DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
ASMA PADA ANAK

DISUSUN OLEH:
RATU NURLAELA
20317118

PROGRAM PROFESI NERS NON REGULER


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YATSI (STIKES)
YATSI TANGERANG
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA PADA ANAK

1) Pengertian Asma
Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang
ditandai dengan adanya mengi, batuk, dan rasa sesak di dada yang berulang dan timbul
terutama pada malam atau menjelang pagi akibat penyumbatan saluran pernapasan.
(Infodatin, 2017)
Asma merupakan proses inflamasi kronik saluran pernapasan menjadi
hiperesponsif, sehingga memudahkan terjadinya bronkokonstriksi, edema, dan
hipersekresi kelenjar.(Nelson, 2013)
Asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan.
(Amin & Hardi, 2016)
Beberapa faktor penyebab asma, antara lain umur pasien, status atopi, faktor
keturunan, serta faktor lingkungan.
Asma dibedakan menjadi 2 jenis, (Amin & Hardi, 2016) yakni :

1) Asma bronkial
Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap rangsangan dari luar,
seperti debu rumah, bulu binatang, asap dan bahan lain penyebab alergi. Gejala
kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan asma bisa datang secara tiba-
tiba. Gangguan asma bronkial juga bisa muncul lantaranadanya radang yang
mengakibatkan penyempitan saluran pernapasan bagian bawah. Penyempitan
iniakibat berkerutnya otot polos saluran pernapasan, pembengkakan selaput lendir,
dan pembentukan timbunan lendir yang berlebihan.
2) Asma kardial
Asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung. Gejala asma kardial biasanya
terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat. Kejadian ini disebut
nocturnal paroxymul dispnea. Biasanya terjadi pada saat penderita sedang tidur.
2) Etiologi Asma
Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkaan faktor autonom,
imunologis, infeksi, endokrin dan psikologis dalam berbagai tingkat pada berbagai
individu. Pengendalian diameter jalan napas dapat dipandang sebagai suatu
keseimbangan gaya neural dan humoral. Aktivitas bronkokonstriktor neural
diperantarai oleh bagian kolinergik sistem saraf otonom. Ujung sensoris vagus pada
epitel jalan napas, disebut reseptor batu atau iritan, tergantung pada lokasinya,
mencetuskan refleks arkus cabang aferens, yang pada ujung eferens merangsang
kontraksi otot polos bronkus.
1) Faktor imunologis
Pada beberapa penderita yang disebut asma ekstrinsik atau alergik, eksaserbasi
terjadi setelah pemaparan terhadap faktor lingkungan seperti debu rumah,
tepungsari, dan ketombe. Bentuk asma adanya instrinsik dan ekstrinsik. Perbedaan
intrinsik dan ekstrinsik mungkun pada hal buatan (artifisial), karena dasar imun
pada jejas mukosa akibat mediator pada kedua kelompok tersebut. Asma
ekstrinsikmungkin dihubungkan dengan lebih mudahnya mengenali rangsangan
pelepasan mediator daripada asma instrinsik.
2) Faktor endokrin
Asma dapat lebih buruk dalam hubungannya dengan kehamilan dan menstruasi,
terutama premenstruasi, atau dapat timbul pada saat wanita menopause. Asma
membaik pada beberapa anak saat pubertas.
3) Faktor psikologis
Faktor emosi dapat memicu gejala-gejala pada beberapa anak dan dewasa yang
berpenyakit asma, tetapi “penyimpangan” emosional atau sifat-sifat perilaku yang
dijumpai pad anak asma tidak lebih sering daripada anak dengan penyakit cacat
kronis yang lain.(Nelson, 2013).

3) Klasifikasi Asma
Keparahan asma juga dapat dinilai secara retrospektif dari tingkat obat yang
digunakan untuk mengontrol gejala dan serangan asma. Hal ini dapat dinilai jika pasien
telah menggunakan obat pengontrol untuk beberapa bulan. Yang perlu dipahami adalah
bahwa keparahan asma bukanlah bersifat statis, namun bisa berubah dari waktu-waktu,
dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke tahun, (GINA, 2015)
Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut :
1) Asma Ringan
Adalah asma yang terkontrol dengan pengobatan tahap 1 atau tahap 2, yaitu terapi
pelega bila perlu saja, atau dengan obat pengontrol dengan intensitas rendah seperti
steroid inhalasi dosis rendah atau antogonis leukotrien, atau kromon.
2) Asma Sedang
Adalah asma terkontrol dengan pengobatan tahap 3, yaitu terapi dengan obat
pengontrol kombinasi steroid dosis rendah plus long acting beta agonist (LABA).
3) Asma Berat
Adalah asma yang membutuhkan terapi tahap 4 atau 5, yaitu terapi dengan obat
pengontrol kombinasi steroid dosis tinggi plus long acting beta agonist (LABA)
untuk menjadi terkontrol, atau asma yang tidak terkontrol meskipun telah mendapat
terapi.
Perlu dibedakan antara asma berat dengan asma tidak terkontrol. Asma yang tidak
terkontrol biasnya disebabkan karena teknik inhalasi yang kurang tepat, kurangnya
kepatuhan, paparan alergen yang berlebih, atau ada komorbiditas. Asma yang tidak
terkontrol relatif bisa membaik dengan pengobatan. Sedangkan asma berat merujuk
pada kondisi asma yang walaupun mendapatkan pengobatan yang adekuat tetapi sulit
mencapai kontrol yang baik.

4) Manifestasi Klinik
Berikut ini adalah tanda dan gejala asma, menurut Zullies (2016), tanda dan
gejala pada penderita asma dibagi menjadi 2, yakni :
1) Stadium dini
Faktor hipersekresi yang lebih menonjol
a. Batuk dengan dahak bisa dengan maupun tanpa pilek
b. Ronchi basah halus pada serangan kedua atau ketiga, sifatnya hilang timbul
c. Wheezing belum ada
d. Belum ada kelainana bentuk thorak
e. Ada peningkatan eosinofil darah dan IGE
f. Blood gas analysis (BGA) belum patologis
Faktor spasme bronchiolus dan edema yang lebih dominan:
a. Timbul sesak napas dengan atau tanpa sputum
b. Wheezing
c. Ronchi basah bila terdapat hipersekresi
d. Penurunan tekanan parial O2

2) Stadium lanjut/kronik
a. Batuk, ronchi
b. Sesak nafas berat dan dada seolah-olah tertekan
c. Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
d. Suara napas melemah bahkan tak terdengar (silent chest)
e. Thorak seperti barel chest
f. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
g. Sianosis
h. Blood gas analysis (BGA) Pa O2 kurang dari 80 %
i. Ro paru terdapat peningkatan gambaran bronchovaskuler kanan dan kiri
j. Hipokapnea dan alkalosis bahkan asidosis repiratorik

Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan/ tanpa stetoskop, batuk produktif,
sering pada malam hari, nafas atau dada seperti tertekan, ekspirasi memanjang

5) Patofisiologi
Pada dua dekade yang lalu, penyakit asma dianggap merupakan penyakit yang
disebabkan karena adanya penyempitan bronkus saja, sehingga terapi utama pada saat
itu adalah suatu bronkodilator, seperti betaegonis dan golongan metil ksantin saja.
Namun, para ahli mengemukakan konsep baru ayng kemudian digunakan hingga kini,
yaitu bahwa asma merupakan penyakit inflamasi pada saluran pernafasan, yang ditandai
dengan bronkokonstriksi, inflamasi, dan respon yang berlebihan terhadap rangsangan
(hyperresponsiveness). Selain itu juga terdapat penghambatan terhadap aliran udara dan
penurunan kecepatan aliran udara akibat penyempitan bronkus. Akibatnya terjadi
hiperinflasi distal, perubahan mekanis paru- paru, dan meningkatnya kesulitan
bernafasan. Selain itu juga dapat terjadipeningkatan sekresi mukus yang berlebihan
(Zullies, 2016).

Secara klasik, asma dibagidalam dua kategori berdasarkan faktor pemicunya,


yaitu asma ekstrinsik atau alergi dan asma intrinsik atau idiosinkratik. Asma ekstrinsik
mengacu pada asma yang disebabkan karena menghirup alergen, yang biasanya terjadi
pada anak-anak yang memiliki keluarga dan riwayat penyakit alergi (baik eksim,
utikaria atau hay fever). Asma instrinsik mengacu pada asma yang disebabkan oleh
karena faktor-faktordi luar mekanisme imunitas, dan umumnya dijumpai pada orang
dewasa. Disebut juga asma non alergik, di mana pasien tidak memiliki riwayat alergi.
Beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya asma antara lain : udara dingin, obat-
obatan, stress, dan olahraga. Khusus untuk asma yang dipicu oleh olahraga. Khusus
untuk asma yang dipicu oleh olahraga dikenal dengan istilah (Zullies, 2016)
Seperti yang telah dikatakan diatas, asma adalah penyakit inflamasi saluran
napas. Meskipun ada berbagai cara untuk menimbulkan suatu respons inflamasi, baik
pada asma ekstrinik maupun instrinsik, tetapi karakteristik inflamasi pada asma umunya
sama, yaitu terjadinya infiltrasi eosinofil dan limfosit serta terjadi pengelupasan sel-sel
epitelial pada saluran nafas dan dan peningkatan permeabilitas mukosa. Kejadian ini
bahkan dapat dijumpai juga pada penderita asma yang ringan. Pada pasien yang
meninggal karena serangan asma , secara histologis terlihat adana sumbatan (plugs)
yang terdiri dari mukus glikoprotein dan eksudat protein plasma yang memperangkap
debris yang berisi se-sel epitelial yang terkelupas dan sel-sel inflamasi. Selain itu
terlihat adanya penebalan lapisan subepitelial saluran nafas. Respons inflamasi ini
terjadi hampir di sepanjang saluran napas, dan trakea samapi ujung bronkiolus. Juga
terjadi hiperplasia dari kelenjar-kelenjar sel goblet yang menyebabkan hiperserkesi
mukus yang kemudian turut menyumbat saluran napas (Zullies, 2016)
Penyakit asma melibatkan interaksi yang kompleks antara sel-sel inflamasi,
mediator inflamasi, dan jaringan pada saluran napas. Sel-sel inflamasi utama yang turut
berkontribusi pada rangkaian kejadian pada serangan asma antara lain adalah sel mast,
limfosit, dan eosinofil, sedangkan mediator inflamasi utama yang terlibat dalam asma
adalah histamin, leukotrein, faktor kemotaktik eosinofil dan beberapa sitokin yaitu :
interleukin (Zullies, 2016)
Pada asma alergi atau atopik, bronkospasme terjadi akibat dari meningkatnya
responsivitas otot polos bronkus terhadap adanya rangsangan dari luar, yang disebut
alergen. Rangsangan ini kemudian akan memicu pelepasan berbagai senyawa endogen
dari sel mast yang merupakan mediator inflamasi, yaitu histamin, leukotrien, dan faktor
kemotaktik eosinofil. Histamin dan leukotrien merupakan bronkokonstriktor yang
poten, sedangkan faktorkemotaktik eosinofil bekerja menarik secara kimiawi sel-sel
eosinofil menuju tempat terjadinya peradangan yaitu di bronkus (Zullies, 2016)

6) Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan Asma adalah mencapai asma terkontrol
sehingga penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas
sehari-hari. Pada prinsipnya penatalaksanaan asma dibagi menjadi 2, yaitu :
penatalaksanaan asma jangka panjang dan penatalaksanaan asma akut/saat serangan.
• Tatalaksana Asma Jangka Panjang
Prinsip utama tatalaksana jangka panjang adalah edukasi, obat Asma (pengontrol
dan pelega), dan menjaga kebugaran (senam asma). Obat pelega diberikan pada
saat serangan, obat pengontrol ditujukan untuk pencegahan serangan dan diberikan
dalam jangka panjang dan terus menerus.
• Tatalaksana Asma Akut pada Anak dan Dewasa Tujuan tatalaksana serangan Asma
akut:
• Mengatasi gejala serangan asma
• Mengembalikan fungsi paru ke keadaan sebelum serangan
• Mencegah terjadinya kekambuhan
• Mencegah kematian karena serangan asma

Penatalaksanaan asma bertujuan untuk mengontrol penyakit, disebut sebagai asma


terkontrol. Terdapat 3 faktor yang perlu dipertimbangkan :
a. Medikasi asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan
napas, terdiri atas pengontrol dan pelega.
b. Tahapan pengobatan
- Asma Intermiten, medikasi pengontrol harian tidak perlu sedangkan alternatif
lainnya tidak ada.
- Asma Presisten Ringan, medikasi pengontrol harian diberikan
Glukokortikosteroid ihalasi (200-400 ug Bd/hati atau ekivalennya), untuk
alternati diberikan Teofilin lepas lambat, kromolin dan leukotriene modifiers.
- Asma Persisten Sedang, medikasi pengontrol harian diberikan Kombinasi
inhalasi glukokortikosteroid (400-800 ug BD/hari atau ekivalennya), untuk
alternatifnya diberikan glukokortikosteroid ihalasi (400-800 ug Bd atau
ekivalennya) ditambah Teofilin dan di tambah agonis beta 2 kerja lama oral,
atau Teofilin lepas lambat.
- Asma Persisten Berat, medikasi pengontrol harian diberikan ihalasi
glukokortikosteroid (> 800 ug Bd atau ekivalennya) dan agonis beta 2 kerja
lama, ditambah 1 antara lain : Teofilin lepas lambat, Leukotriene, Modifiers,
Glukokortikosteroid oral. Untuk alternatif lainnya Prednisolo/ metilprednisolon
oral selang sehari 10 mg ditambah agonis bate 2 kerja lama oral, ditambah
Teofilin lepas lambat.
c. Penanganan asma mandiri (pelangi asma)
Hubungan penderita dokter yang baik adalah dasar yang kuat untuk terjadi
kepatuhan dan efektif penatalaksanaan asma. Rencanakan pengobatan asma jangka
panjang sesuai kondisi penderita, realistik/ memungkinkan bagi penderita dengan
maksud mengontrol asma.
1. Menetapkan pengobatan pada serangan akut
Pengobatan pada serangan akut antara lain : Nebulisasi agonis beta 2 tiap 4 jam,
alternatifnya Agonis beta 2 subcutan, Aminofilin IV, Adrenalin 1/1000 0,3 ml
SK, dan oksigen bila mungkin Kortikosteroid sistemik.
2. Kontrol secara teratur

Pada penatalaksanaan jangka panjang terdapat 2 hal yang penting


diperhatikan oleh dokter yaitu:
a) Tindak lanjut (follow-up) teratur
b) Rujuk ke ahli paru untuk konsultasi atau penangan lanjut bila diperlukan
3. Pola hidup sehat
Meningkatkan kebugaran fisik
Olahraga menghasilkan kebugaran fisik secara umum. Walaupun terdapat salah
satu bentuk asma yang timbul serangan sesudah execrise, akan tetapi tidak
berarti penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Senam asma Indonesia
(SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena melatih dan
menguatkan otot-otot pernapasan khususnya, selain manfaat lain pada olahraga
umumnya.
4. Berhenti atau tidak pernah merokok
5. Lingkungan kerja
Kenalilingkungan kerja yang berpotensi dapat menimbulkan asma.

7) Komplikasi
Bila serangan asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, maka akan
terjadi emfisema dan mengakibatkan perubahan bentuk toraks, yaitu toraks
menbungkuk ke depan dan memanjang. Pada foto rontgen toraks terlihat diafragma
letaknya rendah, gambaran jantung menyempit, corakan hilus kiri dan kanan bertambah.
Pada asma kronik dan berat dapat terjadi bentuk dada burung dara dan tampak sulkus
Harrison.
Bila sekret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat sehingga
dapat terjadi atelektasis pada lobus segmen yang sesuai. Mediastinum tertarik ke arah
atelektasis. Bila atelektasis berlangsung lama dapat berubah menjadi bronkietasis, dan
bila ada infeksi akan terjadi bronkopneumonia. Serangan asma yang terus menerus dan
berlangsung beberapa hari serta berat dan tidak dapat diatasi dengan obat-obat yang
biasa disebut status asmatikus. Bila tidak ditolong dengan semestinya dapat
menyebabkan kematian, kegagalan pernafasan dan kegagalan jantung.

8) Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Ngastiyah (2013), ada beberapa pemeriksaan diagnostik bagi para
penderita asma, antara lain :
 Uji faal paru
Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil
provokasi bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.
Alat yang digunakan untuk uji faal paru adalah peak flow meter, caranya anak
disuruh meniup flow meter beberapa kali (sebelumnya menarik napas dalam melalui
mulut kemudian menghembuskan dengan kuat) dan dicatat hasil.
 Foto toraks
Foto toraks dilakukan terutama pada anak yang baru berkunjung pertama kali di
poliklinik, untuk menyingkirkan kemungkinan ada penyakit lain. Pada pasien asma
yang telah kronik akan terlihat jelas adanya kelainan berupa hiperinflasi dan
atelektasis.
 Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung. Bila tidak
eosinofilia kemungkinan bukan asma. Selain itu juga, dilakukan uji tuberkulin dan
uji kulit dengan menggunakan alergen.
A. Pathway
Mengeluarkan
Antigenyang mediator histamine, Permiabilitas Edema mukosa,
Faktor
pencetus terikat IGE pada platelet, bradikinin, kapiler skresi produktif,
Allergen permukaa sel dll meningkat kontriksi otot
Stress n
mast atau polos meningkat
cuaca basofil

menurun
oksigen di alveoli
Tekanan partial
Konsentrasi
Spasme otot polos
O2dalam darah
menurun
ai
kejaringan
Supl

pertukaran gas
Gangguan
sekresikelenjar Hiperkapnea Gejalah ansietas menurun
bronkus meningkat
Penyempitan/obstruksi
proksimal dan bronkus
n
oksige

pada tahap ekspirasi dan Suplai O2 ke otak


inspirasi menurun Koma
Hipoksemia
metabolik
Asidosis
perifer
Perfusi jaringan
jantung
Penurunan curah

Mucus berlebihan
Batuk
Wheezing
Sesak napas
output
Penurunan cardiac

Ketidakefektifan
berkurang
O2 ke jantung
Suplai darah dan

bersihan jalan napas

Penyempitan jalan
pernapasan Tekanan darah
menurun

Peningkatan kerja otot Hiperventilasi


Kebutuhan O2
pernapasan
meningkat
Kelemahan dan
keletihan

Retensi O2
Intoleransi
aktivitas
Nafsu makan
ketidakseimbangan
Ketidakefektifan
nutrisi kurang dari
pola nafas kebutuhan tubuh

Sumber: Huda & Kusuma (2016)


B. Diagnosa Keperawatan
Menurut diagnosis keperawatan Nanda (2015), diagnosa keperawatan yang
dapat diambil pada pasien dengan asma adalah :
a) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan mucus dalam jumlah
berlebihan, peningkatan produksi mucus, eksudat dalam alveoli dan bronkospasme
b) Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan dan
deformitas dinding dada
c) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan retensi karbon dioksida
d) Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontakbilitas dan volume sekuncup
jantung
e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(hipoksia) kelemahan
f) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan laju
metabolic, dispnea saat makan, kelemahan otot penguyah
g) Ansietas berhubungan dengan penyakit yang diderita

C. Intervensi keperawatan
Berikut ini adalah intervensi yang dirumuskan untuk mengatasi masalah
keperawatan pada klien dengan asma bronkial :
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan sekret.
Nursing Outcomes Classification (NOC) : setelah dilakukan tindakan keperawatan
pasien akan mempertahankan bersihan jalan napas yang efektif. Domain 2 :
kesehatan Fisiologis, Kelas E : jantung paru. 0410 : saluran trakeobronkial yang
terbuka dan lancar untuk pertukaran udara berat (2) menjadi ringan (4) dengan
indikator :Kemampuan untuk mengeluarkan sekret, frekuensi pernafasan, suara
napas tambahan, batuk. Nursing Interventions Classification (NIC) Airway
Management : 1) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi, 2) keluarkan
sekret dengan batuk (teknik batuk efektif), 3) monitor vital sign (RR), 4) observasi
suara tambahan, 5) latih napas dalam (teknik relaksasi).
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot pernafasan dan
deformitas dinding dada. Nursing Outcomes Classification (NOC) : setelah
dilakukan tindakan keperawatan pasien akan mempertahankan pola napas yang
efektif. Domain 2 :kesehatan Fisiologis, Kelas E : jantung paru. 0402: pertukarana
karbondioksida dan oksigen di alveoli untuk mempertahankan konsentrasi darah
arteri berat (2) menjadi ringan (4) dengan indikator : Saturasi oksigen, sianosis,
gangguan kesadaran, keseimbangan ventilasi dan perfusi. Nursing Interventions
Classification (NIC) : Monitor Pernapasan 1) Monitor kecepatan, irama, kedalam
dan kesulitan bernafas, 2) Monitor saturasi oksigen, palpasi kesimetrisan ekspansi
paru, 4) monitor pola napas.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan retensi karbon dioksida. Nursing
Outcomes Classification (NOC) : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien
akan mempertahankan pertukaran kepatenan pertukaran gas. Domain 2 : kesehatan
Fisiologis, Kelas E : jantung paru. 4020 : pertukarana karbondioksida dan oksigen
di alveoli untuk mempertahankan konsentrasi darah arteri berat (2) menjadi ringan
(4) dengan indikator : Saturasi oksigen, Sianosis, Gangguan kesadaran,
Keseimbangan ventilasi dan perfusi. Nursing Interventions Classification (NIC) :
Terapi oksigen : 1) Pertahankan kepatenan jalan napas, 2) Berikan oksigen seperti
yang diperintahkan, 3) Monitor aliran oksigen, 4)Batasi merokok.
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kontakbilitas dan volume sekuncup
jantung.Nursing Outcomes Classification (NOC) : setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien akan mempertahankan curah jantung yang stabil dengan kriteria
hasil : Domain 2 : kesehatan Fisiologis, Kelas E : jantung paru, Denyut nadi apikal,
Tekanan darah sistol dan distol, Ukuran jantung, Intoleransi aktivitas. Nursing
Interventions Classification (NIC) : Perawatan jantung : 1) Catat tanda dan gejala
penurunan curah jantung, 2) Monitor EKG, 3) Evaluasi perubahan tekanan darah, 4)
Monitor sesak, kelelahan, takipnea.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(hipoksia) kelemahan. Nursing Outcomes Classification (NOC) : setelah dilakukan
tindakan keperawatan pasien akan mempertahankan toleransi aktivitas yang adekuat
dengan kriteria hasil:Domain 1 : fungsi kesehatan, Kelas A : pemeliharaan energi,
Saturasi oksigen ketika beraktivitas, Frekuensi nadi keyika beraktivitas, Frekuensi
pernapasan ketika beraktivitas, Warna kulit, Tekanan darah sistolik dan diastolik
ketika beraktivitas. Nursing Interventions Classification (NIC): Manajemen energi :
1) Monitor respirasi pasien selama kegiatan, 2) Bantu pasien identifikasi pilihan-
pilihan aktivitas, 3) Bantu pasien untuk menjadwalkan periode istirahat, 4) Monitor
respon oksigen pasien.
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhberhubungan dengan laju
metabolic, dispnea saat makan, kelemahan otot penguyah. Nursing Outcomes
Classification (NOC): setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan
mempertahankan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil:Domain 2 : kesehatan
fisiologi, Kelas K : pencernaan & nutrisi, Asupan makanan, Asupan cairan, Energi,
Rasio tinggi badan/berat badan. Nursing Interventions Classification (NIC):
Pemberian makan : 1) Tanyakan pasien makanan yang disukai, 2) Atur makanan
sesuai dengan kesenangan pasien, 3) Beri minum pada saat makan, 4) Catat asupan.

7. Ansietas berhubungan dengan penyakit yang diderita. Nursing Outcomes


Classification (NOC) : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien akan
menurunkan tingkat kecemasannya dengan kriteria hasil:Domain 3 : kesehatan
psikososial, Kelas M : kesejahteraan psikologis, Perasaan gelisah, Kesulitan
berkonsentrasi, Meremas-remas tangan, Wajah tegang. Nursing Interventions
Classification (NIC): Pengurangan kecemasan : 1)Ciptakan atmosfer rasa aman
untuk meningkatakan kepercayaan, 2) Instruksikan klien untuk menggunakan teknik
relaksasi, 3) Kaji untuk tanda verbal dan non verbal kecemasan, 4) Dorong keluarga
untuk mendampingi klien.

D. Implementasi Keperawatan

1. Hindari alergen
Salah satu penatalaksanaan asma adalah menghindari eksaserbasi. Anak yang rentan
tidak dibiarkan untuk terpajan cuaca yang sangat dingin, berangin, atau cuaca
ekstrem lainnya, asap,spray, atau iritan lainnya.
2. Meredakan bronkospasme
Anak diajarkan untuk mengenali tanda dan gejala awal serangan sehingga dapat
dikendalikan sebelum gejala tersebut semakin berat. Tanda-tanda objektif yang
dapat diobservasi orang tua antara lain rinorea, batuk, demam ringan, iritabilitas,
gatal (terutama leher bagian depan dan dada), apati, ansietas, gangguan tidur, rasa
tidak nyaman pada abdomen, kehilangan nafsu makan.
Anak yang menggunakan nebulizer, MDI, diskhaler, atau rotahaler untuk
memberikan obat perlu mempelajari cara penggunaan alat tersebut dengan
benar.(Wong,2014)

E. Evaluasi Keperawatan

Efektivitas intervensi keperawatan ditentukan dengan pengkajian ulang yang


kontinu dan evaluasi perawatan berdasarkan panduan observasi dan hasil yang
diharapkan berikut ini:

1. Tanyakan keluarga mengenai upaya membasmi atau menghindari alergen


2. Amati anak untuk adanya tanda-tanda gejala pernapasan
3. Kaji kesehatan umum anak
4. Amati anak dan tanyakan keluarga mengenai infeksi atau komplikasi lainnya
5. Tanyakan anak tentang aktivitas sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan). Edisi 8. Jakarta:


EGC
Depkes, RI.(2008).Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Jakarta: Direktorat
pengendalian penyakit tidak menular Kemenkes RI.
Global Initiative in Asthma (GINA, 2011). Pocket Guide For Asthma Management And
Prevension In Children. Di akses melalui www.Ginaasthma.org.
Muchid, A., Wurjanti, R., Chusun dan Komar, Z. 2007, Pharmaceutical Care untuk
Penyakit Asma. Diakses 1 Maret 2021 dari Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik Depkes RI :
http://125.160.75.194/bidang/yanmed/farmasi/Pharmaceutical/ASMA.pdf
Muttaqin, A. 2008. Asuhan keperawatan anak dengan gangguan sistem pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika. 39
Nurarif, A. H, & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperwatan Berdesakan
Diagnosa
Medis dan Nanda Nic-Noc Jilid 1.
Potter PA & Perry AG. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses
dan
Praktik Edisi 4, Jakarta: EGC.
Price, Sylvia. A. & Willson, Lorrains M. (2006). Patofisiologi dan Konsep Klinis
Proses-
Proses Penyakit. Jakarta : EGC
Rengganis, I, 2008, Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial, Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia.
Sundaru. 2008. Penyebab dan Faktor Pencetus Serangan Asma. (online)
(http://medicastore.com/asma/penyebab_dan_faktor_pencetus_asma.php)
Somantri, I. (2009). Asuhan Keperwatan pada Klien Gangguan Sistem Pernapasan
Jakarta
Salemba Medika.
Smeltzer & Bare. (2010). Buku Ajar Keperawatan Medika Bedah. Jakarta : EGC
Nama Mahasiswa : RATU NURLAELA

FORMAT PENGKAJIAN
PERAWATAN ANAK

I. BIODATA

A. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan : An. S
2. Tempat tgl lahir/usia : 6.5 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Pendidikan : TK B
6. Alamat : Pandeglang
7. Tgl sakit : 1 Maret 2021
8. Tgl pengkajian : 2 Maret 2021
9. Diagnosa medik : Asma
10. Rencana terapi : Melatih Nafas dalam dan Batuk Efektif

B. Identitas Orang Tua


1. Ayah
a. Nama : Tn. G
b. Usia : 43 th
c. Pendidikan : S1
d. Pekerjaan : Honorer
e. Agama : Islam
f. Alamat : Pandeglang

2. Ibu
a. Nama : Ny. N
b. Usia : 37 th
c. Pendidikan : S2
d. Pekerjaan/Sumberpenghasilan : ASN
e. Agama : Islam
f. Alamat : Pandeglang
Identitas Saudara Kandung
STATUS
NO NAMA USIA HUBUNGAN
KESEHATAN
1. An. I 9 th Kakak Asma
2. An. A 5 th Adik -

II. KELUHAN UTAMA

Batuk, sesak nafas

III. RIWAYAT KESEHATAN

A. Riwayat kesehatan sekarang :


An. S mulai demam batuk-batuk sejak 1 hari yang lalu

B. Riwayat Kesehatan Keluarga


 Penyakit anggota keluarga :
Ny. N memiliki riwayat asma sejak usia 5 tahun, dan An. I selaku kakak dari An. S
juga memiliki riwayat asma sejak usia 1 tahun, sampai sekarag juga masih sering
kambuh.

 Genogram

Keterangan:

: Laki-laki

: Perempuan : Pasien/ Klien


Kesimpulan :
An. S adalah anak kedua dari 3 bersaudara, anak dari keluar Tn. G semuanya berjenis
kelamin laki-laki. 2 dari 3 anak kelaurga Tn. G memiliki riwayat asma, begitu juga
dengan Ny. N.

VII. Riwayat Psikososial

Apakah anak tinggal di : apartemen rumah sendiri


kontrak
Apakah anak tinggal di : kota setengah kota desa
Lingkungan berada di : sekolah ada tempat bermain
Apakah rumah dekat : ya tidak
punya kamar tidur sendiri : ya tidak
Apakah ada tangga yang bisa berbahaya : ya tidak
Apakah anak punya ruang bermain : ya tidak
Hubungan antar anggota keluarga : harmonis berjauhan
Pengasuh anak : orang tua baby sister
Pembantu nenek/kakek

Kesimpulan :
Keluarga An. G sudah memiliki tempat tinggal sendiri, dan berdampingan dengan tempat
tinggal orang tua dari Ny. N. An. S kesehariannya suka didampingi neneng dan kakeknya
ketika orang tuanya bekerja. Tempat tinggal mereka berada dilingkungan kota dan tepat
sekali didepan jalan raya.

IX. REAKSI HOSPITALISASI


A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap

 Mengapa ibu membawa anaknya ke RS : Ketika kondisi


anak tidak
menunjukan
perbaikan.
 Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak : Ya
 Bagaimana perasaan orang tua saat ini : Cemas
 Apakah orang tua akan selalu berkunjung : Ya
 Siapa yang akan tinggal dengan anak : Ibu

Kesimpulan:
Tn. G akan membawa keluarganya terutama anak-anaknya jika dalam beberapa hari kondisi
anak nya yang sakit tidak mengalami perbaikan kesehatan.

B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap


 Mengapa keluarga/orang tua membawa kamu ke RS? karena sakit
- Menurutmu apa penyebab kamu sakit? minum es
 Apakah dokter menceritakan keadaanmu? Ya
 Bagaimana rasanya dirawat di RS? Takut

Kesimpulan:
An. S merasa takut ketika dirawat dirumah sakit.

X. AKTIVITAS SEHARI-HARI
A. Nutrisi
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Selera makan Baik Berkurang
2. Menu makan
3. Frekuensi makan Banyak Sedikit
4. Makanan pantangan
5. Pembatasan pola makan
6. Cara makan makan sendiri Disuapin
7. Ritual saat makan

Kesimpulan:
An. S sebelum sakit selera makan baik, namun ketika sakit mengalami penurunan. Kalo
makan biscuit atau cemilian biasanya An.S mau makan sendiri tapi ketika sakit An. Stidak
mau kecuali disuapin Ny. N.

B. Cairan
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jenis minuman Air putih, susu, just Air Putih dan susu
2. Frekuensi minum Sering Sering dengan dipaksa
3. Kebutuhan cairan
4. Cara pemenuhan Minum sendiri Diminumkan
C. Eliminasi (BAB & BAK)
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
BAB (Buang Air Besar ) :
1. Tempat pembuangan
2. Frekuensi (waktu)
3. Konsistensi
4. Kesulitan
5. Obat pencahar
BAK (Buang Air Kecil) :
1. Tempat pembuangan
2. Frekwensi
3. Warna dan Bau
4. Volume
5. Kesulitan
Kesimpulan :
An. S tidak ada masalah yang mempengaruhi eleminasi (BAB & BAK), semuanya seperti
biasa

D. Istirahat tidur
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Jam tidur
- Siang Tidak tidur siang Tidak tidur

- Malam Tidur pada pukul 21.00 Tidur namun sering


sampai dengan pagi pukul terjaga
05.00
2. Pola tidur Teratur
3. Kebiasaan sebelum tidur - Berantakan
4. Kesulitan tidur -
Tidak ada
Ada
Kesimpulan :
An. S mengalami gangguan pada saat tidur.

E. Personal Hygiene
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Mandi
- Cara Disiram Mandi dengan air hangat

- Frekuensi 2x 2x
- Alat mandi Ember dan sabun Ember dan sabun

2. Cuci rambut
- Frekuensi 2x 1x
- Cara Disiram menggunakan Disiram perlahan
gayung kecil menggunakan tangan
3. Gunting kuku Ketika terlihat panjang Ketika terlihat panjang
- Frekuensi dipotong dipotong
- Cara
4. Gosok gigi Tidak ada Tidak ada
- Frekuensi
- Cara

Kesimpulan :
An. S mandi seperti biasa sebelum sakit, namun pada saat sakit An. S mandi dengan air
hangat.

F. Aktifitas/Mobilitas Fisik
Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit
1. Kegiatan sehari-hari Tidur, Makan, sekolah, Tidur, Makan
bermain
2. Pengaturan jadwal harian Tidak Ada Tidak Ada
3. Penggunaan alat Bantu Tidak Ada Tidak Ada
aktifitas
4. Kesulitan pergerakan tubuh Tidak Ada Tidak Ada

Kesimpulan :
An. S selama sakit hanya tinggal dirumah dan tidak sekolah dan beraktifitas lainnya.
XI. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan umum klien
Baik , Lemah √ , Sakit berat

B. Tanda-tanda vital
=Suhu : 37.3 derajat celcius
=Nadi : 119 x/menit
= Respirasi : 39 x/menit
Kesimpulan :
An. D demam

C. Antropometri
= Tinggi Badan : 114 cm
= Berat Badan : 20 kg
= Lingkar kepala : 50 cm
= Skin fold : Putih

Kesimpulan :
An. S mengalami penurunan berat badan ketika sakit

D. Sistem pernapasan
= Hidung : simetris , pernapasan cuping hidung √ secret polip

sab
epistaksis
= Leher : pembesaran kelenjar tumor
= Dada
¤ Bentuk dada normal ,barrel
 , pigeon chest
¤ Gerakan dada : simetris , terdapat retraksi √ , otot Bantu pernapasan √
¤ Suara napas : VF , Ronchi √ , Wheezing , Stridor ,
Rales
= Apakah ada Clubbing finger

F. Sistem Pencernaan
= Sklera : Ikterus/tidak, bibir : lembab √
, kering , pecah-pecah
labio skizis
= Kemampuan menelan : baik
=Gaster : kembung , nyeri gerakan peristaltic
= Abdomen :
= Hati : teraba lien Ginjal fae Ces
=Anus : lecet , haemoroid
i. Sistem indra
1. Mata
- Kelopak mata √ , bulu mata √ , alis √

- Visus (gunakan Snellen chard)


- Lapang pandang
2. Hidung
- Penciuman √ , perih dihidung , trauma , mimisan
- Sekret yang menghalangi penciuman
3. Telinga
- Keadaan daun telinga √ √
, kanal auditoris : bersih , serumen
- Fungsi pendengaran : Baik
KESIMPULAN :
Tidak ada masalah pada system indra An. S

J. Sistem Integumen
= Rambut : Warna hitam bergelombang, Mudah dicabut tidak
= Kulit : Warna putih, temperatur hangat , kelembaban baik, bulu kulit sedikit
, erupsi tidak,tai lalat tidak ada
= Kuku : Warna putih , permukaan kuku baik, mudah patah tidak, kebersihan baik

K. Sistem Endokrin
= Kelenjar thyroid :Tidak teraba
= Ekskresi urine berlebihan Tidak , poldipsi Tidak , poliphagi Tidak

= Suhu tubuh yang tidak seimbang Tidak , keringat berlebihan Tidak


= Riwayat bekas air seni dikelilingi semut Tidak
KESIMPULAN :
Tidak ada masalah pada system endokrin An. S

L. Sistem Perkemihan
= Oedema palpebral Tidak , moon face Tidak , oedema anasarka Tidak
= Keadaan kandung kemih
= Nocturia Tidak , dysuria Tidak , kencing batu Tidak

KESIMPULAN :
Tidak ada masalah pada system perkemihan An. S

N. Sistem Imun
= Alergi (cuca Ada , debu ada , bulu binatang ada)
= Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca : flu Ada , urticaria,
lain-lain
KESIMPULAN :
Ny. N mengatakan An.S mudah bersin-bersin dan batuk jika kedinginan dan didalam
ruangan yang berdebu.

XIII. TEST DIAGNOSTIK


= Laboratorium Tidak ada
= Foto Rotgen Tidak ada
= CT Scan Tidak ada
= MRI, USG, EEG, ECG dll Tidak ada

IV. Terapi saat ini (ditulis dengan rinci)


1. Fisioterapi dada;
2. Teknik nafas dalam;
3. Teknis batuk efektif
ANALISA DATA
Inisial klien :An. S
Ruangan : Keluarga
Umur :6,5 tahun

MASALAH/ DIAGNOSA
DATA (DS & DO)
KEPRAWATAN
DS: Bersihan jalan nafas tidak
Ny. N mengatakan An. S demam sejak 1 hari yang efektifberhubungan dengan bronkus
lalu disertai batuk-batuk spasme, peningkatan produksi mukus,
DO: mukus bertahan tebal dan kental,
Keadaan Umum : An. S batuk dan kulit teraba penurunan energi/kelemahan untuk batuk
panas
TTV:
- Suhu : 37.3 derajat celcius
- Nadi : 119 x/menit
- Respirasi : 39 x/menit

DS:
Ny. N mengatakan An. S sering bersin-bersin, dan
batuk Ketidakefektifan pola napas berhubungan
DO: dengan penurunan ekspansi paru
Keadaan Umum : An. S gelisah dan batuk-batuk
TTV:
- Suhu : 37.3 derajat celcius
- Nadi : 119 x/menit
- Respirasi : 39 x/menit

DS:
Ny. K mengatakan An. S tidak mau makan, sekali
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
makan hanya sedikit
tubuh berhub dengan anoreksia, mukus
DO:
bertambah
Keadaan Umum : An. S lemas, dan menolak makan
TTV:
- Suhu : 37.1 derajat celcius
- Nadi : 121 x/menit
- Respirasi : 48 x/meni

PRIORITAS MASALAH/DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan nafas tidak efektifberhubungan dengan bronkus spasme, peningkatan


produksi mukus, mukus bertahan tebal dan kental, penurunan energi/kelemahan
untuk batuk

2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhub dengan anoreksia, mukus
bertambah
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Inisial Klien : An.S


Diagnose Medis: Asma
Ruangan : Keluarga
Tanggal : 2 Maret 2021

Diagnosa keperawatan Tujuan Rencana Tindakan


Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji frekuensi kedalaman
efektif berhubungan keperawatan selama 5x24 jam pernafasan dan ekspansi
dengan bronkus spasme, jalan nafas menjadi efektif dada
peningkatan produksi Kriteria hasil :
2. Kaji pernafasan termasuk
mukus, mukus bertahan - Tanda-tanda vital
(TTV) dalam batas penggunaan otot bantu
tebal dan kental,
normal pernafasan. Kecepatan
penurunan - Sekresi dapat
biasanya mencapai
energi/kelemahan untuk diluluhkan
batuk - Bunyi nafas terdengar kedalaman pernafasan
bersih bervariasi tergantung
derajat gagal nafas.
3. Auskultasi bunyi nafas
yang menyertai obstruksi
jalan nafas atau kegagalan
pernafasan.
4. Observasi pola batuk dan
karakter sekret.
5. Dorong/bantu klien dalam
nafas dan latihan
batuk.Untuk dapat
meningkatkan/banyaknya
sputum dimana gangguan
ventilasi dan ditambah
ketidaknyaman upaya
bernafas.
6. Berikan uap air panas
tambahan bertujuan
memaksimalkan bernafas
dan menurunkan kerja
nafas, memberikan
kelembaban pada
membran mukosa dan
membantu pengenceran
secret
Ketidakefektifan pola Setelah dilakukan tindakan 1. Auskultasi bunyi nafas
napas berhubungan keperawatan selama 5x24 jam untuk mengetahui derajat
dengan penurunan pola nafas menjadi efektif spasme
ekspansi paru
2. Kaji pantau frekuensi
Kriteria hasil :
1. Pola napas efektif. pernafasan
2. Klien tidak sesak lagi 3. Catat adanya penggunaan
otot bantu .
4. Kaji pasien untuk posisi
yang nyaman untuk
bernafas. Pasien dengan
distress pernafasan akan
mencari posisi yang
nyaman dan mudah untuk
bernafas, membantu
menurunkan kelemahan
otot dan mempermudah
ekspansi dada

Perubahan nutrisi Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji kebiasaan makan,


kurang dari keperawatan selama 5x24 jam masukan makanan, catat
kebutuhan tubuh kebutuhan nutrisi terpenuhi deraja kesulitan makan,
Kriteria hasil :
berhub dengan evaluasi BB.
1. Menunjukan peningkatan
anoreksia, mukus BB 2. Avskultasi bunyi usus.
2. Menunjukan perilaku /
bertambah 3. Berikan perawatan oral
perubahan pada hidup
untuk meningkatkan dan / sering, buang sekret.
mempertahankan berat
4. Dorong periode istirahat, 1
yang ideal
jam sebelum dan sesudah
makan
5. Berikan makan porsi kecil
tapi sering.
6. Hindari makanan
penghasil gas dan
minuman karbonat.
7. Hindari maknan yang
sangat panas / dingin.
8. Timbang BB sesuai
induikasi.
CATATAN KEPERAWATAN
Inisial Klien : An. S
Ruangan : Keluarga
Hari ke-1
Tanggal /
No.Dx Implementasi Evaluasi Paraf
hari/ waktu
Senin, 1 1. Mengkaji TTV S : Ny. N mengatakan An. S Ratu
2 Maret 2. Melakukan kompres air panas, dan demam dan batuk-batuk
2021 kolaborasi dalam pemberian obat sejak kemarin

3. Mengkaji frekuensi kedalaman


O : Suhu 37,5 derajat
pernafasan dan ekspansi dada
celcius, kuliat teraba hangat,
4. Mengkaji pernafasan termasuk
bunyi nafas mengi
penggunaan otot bantu pernafasan.
Kecepatan biasanya
mencapai A :Masalah belum teratasi
kedalaman pernafasan bervariasi
tergantung derajat gagal nafas. P : Lanjutkan intervensi
5. Mengkaji Auskultasi bunyi nafas - Monitor TTV
dan catat adanya bunyi nafas seperti - Berikan kompres
krekels, wheezing. Ronchidan hangat
wheezing menyertai obstruksi jalan - Mandikan dengan
nafas atau kegagalan pernafasan. air hangat
6. Mengkaji Observasi pola batuk dan - Mengajarkan
karakter sekret. Kongesti alveolar teknik batuk
mengakibatkan batuk sering/iritasi. efektif
7. Mendorong/bantu pasien dalam - Memberikan uap
nafas dan latihan batuk.Untuk dapat air panas
meningkatkan/banyaknya sputum - Kolaborasi dalam
dimana gangguan ventilasi dan pemberian obat
ditambah ketidaknyaman upaya
bernafas.
8. Memberikan uap air panas
tambahan bertujuan
memaksimalkan bernafas dan
menurunkan kerja nafas,
memberikan kelembabanpada
membran mukosa dan membantu
pengenceran secret
2 1. Mengauskultasi bunyi nafas untuk S : Ny. N mengatakan An. S Ratu
mengetahui derajat spasme masih sering terbangun

2. Mengkaji frekuensi pernafasan dimalam hari karena batuk

3. Mengkaji ansietas, distres


O : An. S gelisah dan batuk
pernafasan, penggunaan otot bantu .
Disfungsi pernafasan
A :Masalah belum teratasi
4. Mengkaji pasien untuk posisi yang
nyaman untuk bernafas. Pasien P : Lanjutkan intervensi
dengan distress pernafasan akan - Mandikan dengan
mencari posisi yang nyaman dan air hangat
mudah untuk bernafas, membantu - Berikan terapi
menurunkan kelemahan otot dan inhalasi dengan
mempermudah ekspansi dada uap air panas
- Berjemur dibawah
sinar matahari pagi
- Ajarkan teknis
pernafasan dalam
3 1. Berikan perawatan oral sering, buang S : Ny. K mengatakan An. S Ratu
sekret. masih susah makan

2. Dorong periode istirahat, 1 jam


O : An.S masih lemas, dan
sebelum dan sesudah makan
hanya sedikit makan itu pun
3. Berikan makan porsi kecil tapi
dibujuk Ny. N
sering.
4. Hindari makanan penghasil gas dan
A :Masalah belum teratasi
minuman karbonat.
5. Hindari maknan yang sangat panas / P : Lanjutkan intervensi
dingin. - Monitor Berat
6. Timbang BB sesuai induikasi. badan
- Monitor
pemberian cairan,
dan asupan
makana
- Berikan makan
porsi kecil tapi
sering
Hari Ke-2
Tanggal / No.D
Implementasi Evaluasi Paraf
hari/ waktu x
Rabu, 1 1. Mengkaji TTV S : Ny. K mengatakan An. Ratu
3 Maret 2021 2. Melakukan kompres air panas, dan N masih demam dan batuk,
kolaborasi dalam pemberian obat sesekali sesak nafas

3. Mengkaji frekuensi kedalaman


O : Suhu 37 derajat celcius,
pernafasan dan ekspansi dada
kuliat teraba hangat
4. Mengkaji pernafasan termasuk
penggunaan otot bantu pernafasan.
A :Masalah belum teratasi
Kecepatan biasanya mencapai
kedalaman pernafasan bervariasi
tergantung derajat gagal nafas. P : Lanjutkan intervensi
5. Mengkaji Auskultasi bunyi nafas dan - Monitor TTV
catat adanya bunyi nafas - Berikan kompres
6. Mengkaji Observasi pola batuk dan hangat
karakter sekret. Kongesti alveolar - Mandikan dengan
mengakibatkan batuk sering/iritasi. air hangat
7. Mendorong/bantu klien dalam nafas - Mengajarkan
dan latihan batuk.Untuk dapat teknik batuk
meningkatkan/banyaknya sputum efektif dan nafas
dimana gangguan ventilasi dan dalam
ditambah ketidaknyaman upaya - Memberikan uap
bernafas. air panas
8. Memberikan uap air panas tambahan - Kolaborasi dalam
bertujuan memaksimalkan bernafas pemberian obat
dan menurunkan kerja nafas,
memberikan kelembabanpada
membran mukosa dan membantu
pengenceran secret
2 1. Mengauskultasi bunyi nafas untuk S : Ny. N mengatakan An. Ratu
mengetahui derajat spasme S masih sering terbangun
dimalam hari karena batuk
2. Mengkaji frekuensi pernafasan
3. Mengkaji ansietas, distres pernafasan, O : An. S gelisah dan batuk
penggunaan otot bantu . Disfungsi
A :Masalah belum teratasi
pernafasan
4. Mengkaji pasien untuk posisi yang
P : Lanjutkan intervensi
nyaman untuk bernafas. Pasien
- Mandikan dengan
dengan distress pernafasan akan
air hangat
mencari posisi yang nyaman dan
- Berikan terapi
mudah untuk bernafas, membantu
inhalasi dengan
menurunkan kelemahan otot dan
uap air panas
mempermudah ekspansi dada
- Berjemur
dibawah sinar
matahari pagi
- Ajarkan teknis
pernafasan dalam
- Kolaborsi dalam
pemberian obat
3 1. Berikan perawatan oral sering, buang S : Ny. K mengatakan An. Ratu
sekret. S masih susah makan
2. Dorong periode istirahat, 1 jam sebelum
dan sesudah makan O : An.S masih lemas, dan
3. Berikan makan porsi kecil tapi sering. hanya sedikit makan, paling
4. Hindari makanan penghasil gas dan An. S makan biskuit
minuman karbonat. A :Masalah belum teratasi
5. Hindari maknan yang sangat panas /
dingin. P : Lanjutkan intervensi
6. Timbang BB sesuai induikasi. - Monitor Berat
badan
- Monitor
pemberian cairan,
dan asupan
makana
- Berikan makan
porsi kecil tapi
sering
Hari Ke-3
Tanggal / No.D
Implementasi Evaluasi Paraf
hari/ waktu x
Kamis, 1 1. Mengkaji TTV S : Ny. N mengatakan An. Ratu
4 Maret 2021 2. Melakukan kompres air panas, dan S sudah tidak demam,

kolaborasi dalam pemberian obat namun masih batuk, dan


sesak nafas
3. Mengkaji frekuensi kedalaman
pernafasan dan ekspansi dada
O : Suhu 36,4 derajat
4. Mengkaji pernafasan termasuk
celcius, kuliat tidak teraba
penggunaan otot bantu pernafasan.
hangat
Kecepatan biasanya mencapai A :Masalah teratasi
kedalaman pernafasan bervariasi sebagian, lanjutkan
tergantung derajat gagal nafas. intervensi
5. Mengkaji Auskultasi bunyi nafas dan
catat adanya bunyi nafas menyertai P : Lanjutkan intervensi
obstruksi jalan nafas atau kegagalan - Monitor TTV
pernafasan. - Mengajarkan
6. Mengkaji Observasi pola batuk dan teknik batuk
karakter sekret. efektif dan
7. Mendorong/bantu pasien dalam nafas pernafasan dalam
dan latihan batuk.Untuk dapat - Mengajarkan fisio
meningkatkan/banyaknya sputum terapi dada
dimana gangguan ventilasi dan - Kolaborasi dalam
ditambah ketidaknyaman upaya pemberian obat
bernafas.
8. Memberikan uap air panas tambahan
bertujuan memaksimalkan bernafas
dan menurunkan kerja nafas,
memberikan kelembaban pada
membran mukosa dan membantu
pengenceran secret
2 1. Mengauskultasi bunyi nafas untuk S : Ny. N mengatakan An. Ratu
mengetahui derajat spasme S sesekali bangun dimalam
2. Mengkaji frekuensi pernafasan hari karena batuk
3. Mengkaji ansietas, distres pernafasan,
penggunaan otot bantu . Disfungsi O : An. S masih batuk
pernafasan
4. Mengkaji pasien untuk posisi yang A :Masalah belum teratasi
nyaman untuk bernafas. Pasien dengan
distress pernafasan akan mencari posisi P : Lanjutkan intervensi
yang nyaman dan mudah untuk bernafas,
- Mandikan dengan
membantu menurunkan kelemahan otot
air hangat
dan mempermudah ekspansi dada
- Berikan terapi
inhalasi dengan
uap air panas
- Berjemur
dibawah sinar
matahari pagi
- Ajarkan teknis
pernafasan dalam
3 1. Berikan perawatan oral sering, buang S : Ny. K mengatakan An. Ratu
sekret. S sudah mau makan, walau

2. Dorong periode istirahat, 1 jam masih sedikit


sebelum dan sesudah makan
O : An.S masih lemas, dan
3. Berikan makan porsi kecil tapi sering.
sudah mau makan walau
4. Hindari makanan penghasil gas dan
masih sedikit
minuman karbonat.
5. Hindari maknan yang sangat panas / A :Masalah belum teratasi
dingin.
6. Timbang BB sesuai induikasi. P : Lanjutkan intervensi
- Monitor Berat
badan
- Monitor
pemberian cairan,
dan asupan
makana
- Berikan makan porsi
kecil tapi sering
Hari Ke-4
Tanggal / No.D
Implementasi Evaluasi Paraf
hari/ waktu x
Jumat, 1 1. Mengkaji TTV S : Ny. N mengatakan An. Ratu
5 Maret 2021 2. Mengkaji frekuensi kedalaman pernafasan S masih batuk, tapi sudah
dan ekspansi dada tidak sesak nafas
3. Mengkaji pernafasan termasuk penggunaan
otot bantu pernafasan. O : An. S masih batuk
4. Mengkaji Auskultasi bunyi nafas namun tidak sesak nafas
5. Mengkaji Observasi pola batuk dan karakter
sekret. A :Masalah teratasi
6. Mendorong/bantu pasien dalam nafas dan sebagian, lanjutkan
latihan batuk.Untuk dapat intervensi
meningkatkan/banyaknya sputum dimana
gangguan ventilasi dan ditambah P : Lanjutkan intervensi
ketidaknyaman upaya bernafas.
- Monitor TTV
7. Memberikan uap air panas tambahan
- Mandikan dengan
bertujuan memaksimalkan bernafas dan
menurunkan kerja nafas, memberikan air hangat
kelembaban pada membran mukosa dan - Mengajarkan
membantu pengenceran sekret teknik batuk
efektif dan nafas
dalam
- Mengajarkan fisio
terapi dada
- Kolaborasi dalam
pemberian obat
2 1. Mengauskultasi bunyi nafas untuk S : Ny. N mengatakan An. Ratu
mengetahui derajat spasme S masih batuk

2. Mengkaji frekuensi pernafasan


O : An. S batuk sesekali
3. Mengkaji penggunaan otot bantu .
Disfungsi pernafasan
A :Masalah teratasi
4. Mengkaji pasien untuk posisi yang
sebagian
nyaman untuk bernafas. Pasien
dengan distress pernafasan akan P : Lanjutkan intervensi
mencari posisi yang nyaman dan - Mandikan dengan
mudah untuk bernafas, membantu air hangat
menurunkan kelemahan otot dan - Berikan terapi
mempermudah ekspansi dada inhalasi dengan
uap air panas
- Berjemur
dibawah sinar
matahari pagi
- Ajarkan teknis
pernafasan dalam
dan batuk efektif
3 1. Berikan perawatan oral sering, buang sekret. S : Ny. N mengatakan An.
2. Dorong periode istirahat, 1 jam sebelum dan S sudah mau makan
sesudah makan
3. Berikan makan porsi kecil tapi sering. O : An.S makan dan sudah

4. Hindari makanan penghasil gas dan minuman mulai mau mengemil


karbonat.
5. Hindari maknan yang sangat panas / dingin. A :Masalah teratasi

6. Timbang BB sesuai induikasi. sebagian

P : Lanjutkan intervensi
- Monitor Berat
badan
- Monitor
pemberian cairan,
dan asupan
makana
- Berikan makan porsi
kecil tapi sering
Hari ke-5
Tanggal / No.D
Implementasi Evaluasi Paraf
hari/ waktu x
Sabtu, 1 1. Mengkaji TTV S : Ny. N mengatakan An. Ratu
6 Maret 2021 2. Melakukan kolaborasi dalam S sudah tidak batuk dan
pemberian obat sudah tidak sesak nafas

3. Mengkaji frekuensi kedalaman pernafasan


dan ekspansi dada O : An. S sudah tidak

4. Mengkaji pernafasan termasuk penggunaan batuk, dan nafas normal


otot bantu pernafasan. A :Masalah teratasi

5. Mengkaji Auskultasi bunyi nafas yang


menyertai obstruksi jalan nafas atau P : Hentikan intervensi
kegagalan pernafasan.
6. Mengkaji Observasi pola batuk dan karakter
sekret.
7. Mendorong/bantu pasien dalam nafas dan
latihan batuk.Untuk dapat
meningkatkan/banyaknya sputum dimana
gangguan ventilasi dan ditambah
ketidaknyaman upaya bernafas.
8. Memberikan uap air panas tambahan
bertujuan memaksimalkan bernafas dan
menurunkan kerja nafas, memberikan
kelembabanpada membran mukosa dan
membantu pengenceran sekret

2 1. Mengauskultasi bunyi nafas untuk S : Ny. N mengatakan An. Ratu


mengetahui derajat spasme S sudah tidak sesak nafas
2. Mengkaji frekuensi pernafasan dan tidak batuk
3. mengkaji penggunaan otot bantu dan
disfungsi pernafasan O : An. S bernafas seperti
4. Mengkaji pasien untuk posisi yang nyaman biasa
untuk bernafas.
A :Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
3 1. Berikan perawatan oral sering, buang sekret. S : Ny. N mengatakan An.
2. Dorong periode istirahat, 1 jam sebelum dan S sudah mau makan
sesudah makan
3. Berikan makan porsi kecil tapi sering. O : An.S sudah makan dan

4. Hindari makanan penghasil gas dan minuman mengemil seperti biasa


karbonat.
5. Hindari maknan yang sangat panas / dingin. A :Masalah teratasi

6. Timbang BB sesuai induikasi.


P : Hentikan intervensi