Anda di halaman 1dari 20

KEGIATAN BELAJAR 3 :

HARI AKHIR, QADHA DAN QADAR

CAPAIAN PEMBELAJARAN, SUB CAPAIAN


PEMBELAJARAN DAN POKOK MATERI

Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan


1. Menganalisis konsep hari akhir sebagai rukun iman dalam ajaran Islam
2. Menganalisis konsep qadha dan qadar serta kebebasan manusia sebagai makhluk Allah.
Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan
1. Memahami konsep tentang keimanan kepada hari akhir dan tanda-tanda hari kiamat.
2. Memahami konsep qadha, qadar dan takdir.
Pokok-Pokok Materi
Iman kepada hari akhir dan tanda-tanda hari kiamat; Qadha, qadar dan takdir.

URAIAN MATERI
A. Keimanan kepada Hari Akhir dan Kiamat
1. Pengertian Hari Akhir dan Kiamat
Beriman (meyakini) adanya hari akhir adalah bagian dari rukun iman. Syekh Thahir
bin Shalih al-Jazairy (w. 1338 H) dalam Al-Jawahir al-Kalamiyah Menyampaikan bahwa
rukun iman atau rukun akidah Islam itu meliputi enam hal, yaitu:

‫وهي اإليمان باهلل تعالى واإليمان بمالئكته واإليمان بكتبه‬


َ ‫ان ْال َع ِقيدَة االسال ِميّة ِستّةُ أشياء‬
ُ ‫أَر َك‬
‫واإليمان برسله واإليمان باليوم االخر واإليمان بالقدر‬

“Rukun akidah Islamiyah itu ada enam hal, yaitu: (1) iman kepada Allah, (2) iman
kepada malaikat Allah, (3) iman kepada kitab-kitab Allah, (4) iman kepada para rasul Allah,
(5) iman kepada hari akhir, dan (6) iman kepada qadar (takdir) Allah.”
Iman kepada hari akhir ini adalah penting sekali. Sedemikian pentingnya maka dalam
Al-Qur’an dan hadits keimanan pada hari akhir ini kerap disandingkan dengan keimanan
kepada Allah. Dan memang ada dua hal pokok berkaitan dengan keimanan yang banyak
dijabarkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu pembuktian tentang keesaan Allah, yang berarti
ini tentang iman kepada Allah, dan kedua, uraian atau pembuktian tentang hari akhir. Al-

1
Qur’an telah memberitakan kepada manusia bahwa alam semesta ini telah diciptakan dan akan
sampai pada titik akhirnya (Q.S. al-Mukmin/ 40:59 dan Q.S. al-H{ajj/22:7). Segala yang
berawal maka akan berakhir, baik manusia, tumbuhan, hewan, alam semesta, maupun malaikat
semuanya akan mati, hanya Allah saja yang tidak berawal dan tidak berakhir. Waktu yang
ditetapkan dimana alam semesta dan segala makhluk di dalamnya mulai dari mikroorganisme
sampai makhluk yang paling indah bentuknya yaitu manusia, termasuk bintang-bintang dan
galaksi-galaksi semuanya akan hancur pada hari dan jam yang telah ditentukan oleh sang
penciptanya dan hanya Dia yang mengetahuinya. Waktu atau hari tersebut dikenal dengan
nama Hari Akhir atau Kiamat.
Al-Qur'an menyebut istilah al-yaum al-ākhir (‫)اليوم االخر‬, hari akhir, sebanyak 26 kali
dan menyebut istilah al-ākhirah (‫)االخرة‬, akhirat, sebanyak 115 kali. Istilah ini, al-ākhir, secara
kebahasaan, menurut ar-Rāgib al-Asfahānī, mengandung arti akhir atau yang kemudian yang
merupakan lawan dari perkataan awal. Istilah al-ākhir biasanya dihubungkan dengan istilah
yaum (‫ )اليوم‬sehingga menjadi al-yaum al-ākhir (‫)اليوم االخر‬, berarti Hari Akhir atau hari Kiamat.
Sementara itu, istilah al-ākhirah (‫)االخرة‬, akhirat sering dihubungkan dengan istilah dār yang
berarti negeri atau kampong, seperti dalam ungkapan al-dār al-ākhirah, yang berarti negeri
akhirat.
Kiamat atau al-yaum al-ākhir (hari akhir) tidaklah seperti hari-hari di dunia yang 1 hari
sebanding dengan 24 jam. Hari akhir merupakan hari yang terjadi pada kehidupan akhirat, yang
1 hari jika menggunakan ukuran hari-hari dunia bisa sangat relatif atau tidak terbatas, bisa
sebanding dengan 1000 tahun (as-Sajdah/32: 5); bahkan bisa berbanding dengan 50.000 tahun
(al-Ma‘ārij/70: 4). Ini wajar saja, sebab ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu (nirwaktu).
Penyebutan al-yaum al-ākhir, yang dirangkai dengan iman kepada Allah, pada hakikatnya
dimaksudkan sebagai hari perhitungan (al-hisāb) dan pembalasan (al-jazā'), sehingga oleh Al-
Qur'an ia dijadikan sebagai sarana yang efektif untuk menumbuhkan kejujuran, ketakwaan,
kedermawanan, berani berkorban demi kebenaran dan keadilan, dan sebagainya. Artinya,
seandainya seseorang bersikap jujur, lalu tidak mendapatkan hasil duniawi yang diinginkan,
maka keimanan kepada hari akhir itulah yang menjadikan dirinya tetap sabar dan konsisten,
sebab ia yakin ganjaran yang sesuai akan diperoleh di hari akhir kelak. Begitu juga, ia bisa
dijadikan tameng dari perilakuperilaku buruk, misalnya kemunafikan, ria, dan sebagainya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa firman Allah seperti: “Dan di antara manusia
ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka
itu bukanlah orang-orang yang beriman. (al-Baqarah/2: 8).

2
Hari Akhir atau Hari Kiamat merupakan tahapan yang harus dilewati menuju Negeri
Akhirat. Ungkapan al-dār al-ākhirah merupakan lawan dari al-dār al-dunyā, sebagaimana
termaktub di dalam ayat Al-Qur'an sebagai berikut:

ُ ‫َ ۡٱل َح َي َو‬
َ ‫ر َّ لَ ۡو‬
‫َانُور‬ َ ‫َو َما َه ٰـ ِذ ِه ۡٱل َح َي ٰوة ُ ٱلد ُّۡن َيا ٓ ِإ اَّل لَهۡ ٌ۬و َولَ ِع ٌ۬ب َو ِإ ا َّ ٱلد‬
َ ‫ارَ ۡٱۡ َ ِِ ََة َ لَ ِه‬
ََّ ‫يَعۡ لَ ُمو‬
Dan kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri
akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (al-‘Ankabūt/29: 64).
Etimologi kiamat terserap dari kosakata bahasa Arab, qāma – yaqūmu - qiyāman, yang
berarti berdiri, berhenti, atau berada di tengah. Kiamat (al-qiyāmah) diartikan sebagai
kebangkitan dari kematian, yaitu dihidupkannya manusia pascakematian. Hari kiamat
(yaumulqiyāmah) berarti hari atau saat terjadinya kebangkitan (manusia) dari kubur.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiamat diartikan sebagai: (1) hari kebangkitan
setelah mati (orang yang telah meninggal dihidupkan kembali untuk diadili perbuatannya); (2)
hari akhir zaman (dunia seisinya rusak binasa dan lenyap); (3) celaka sekali, bencana besar,
rusak binasa; (4) berakhir dan tidak muncul lagi. Sedang dalam Kamus Besar Ilmu
Pengetahuan, kiamat diartikan keadaan makhluk dan alam semesta ketika berakhirnya
kehidupan mereka di dunia.
Dari pengertian ini, ada dua hal pokok terkait makna kiamat, yaitu: Pertama, kiamat
merupakan kebangkitan manusia dari kematian atau dari kuburnya. Maknanya, pada hari itu
semua manusia dibangkitkan dari kubur, tempat peristirahatan setelah kematiannya.
Selanjutnya, mereka diadili dan diminta pertanggungjawaban atas semua perbuatannya di
dunia. Yang banyak kebaikannya akan mendapat ganjaran kenikmatan, dan yang sebaliknya
akan mendapat hukuman. Allah Berfirman: “Maka adapun orang yang berat timbangan
(kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun
orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka tempat kembalinya adalah neraka
Hawiyah. (Al-Qāri‘ah/101: 6-9).
Kedua, kiamat adalah keadaan akhir zaman. Kiamat merupakan akhir dari alam semesta
dan kehidupan semua makhluk. Artinya saat kiamat tiba, seluruh jagat raya beserta isinya,
seperti planet, bintang, langit, bumi, manusia, dan semua yang ada, hancur binasa. Kehidupan
makhluk pun tidak ada lagi. Ini merupakan bencana besar bagi alam raya dan yang ada di
dalamnya. Seluruh kehidupan yang ada menjadi musnah karena hancurnya dunia dan isinya.
Allah berfirman, Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan

3
apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan di bongkar. (Al-Infiţār/82: 1-
4).
Sayyid Sābiq dalam al-Aqā’id al-Islāmiyyah menjelaskan, “Hari kiamat adalah suatu
keadaan yang didahului dengan musnahnya alam semesta. Saat itu, seluruh makhluk yang
masih hidup akan mati. Bumi pun akan berganti, bukannya bumi dan langit yang ada sekarang”.
Quraish Shihab dalam Perjalanan Menuju Keabadian menulis, “Para ulama
menjelaskan bahwa ada dua macam kiamat: kecil (sughro) dan besar (kubro). Kiamat kecil
adalah saat kematian orang per orang, sedang kiamat besar adalah yang bermula dari
kehancuran alam raya.” Sementara itu Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa kiamat diawali
dengan tiupan terompet sebagai tanda kehancuran alam. Dari beberapa rumusan tersebut dapat
disimpulkan beberapa hal berikut. (1) hari kiamat merupakan akhir kehidupan dunia; (2) kiamat
diawali tiupan sangkakala sebagai tanda permulaan hancurnya alam semesta; (3) kiamat
merupakan kehancuran jagat raya yang diawali dengan berguncangnya bumi, hancurnya semua
benda angkasa, dan kematian seluruh makhluk hidup yang masih ada, sehingga semua yang
ada di dunia musnah; (4) setelah semuanya hancur dan musnah, bumi, langit, dan lainnya akan
diganti dengan yang baru; dan (5) kiamat merupakan awal kehidupan akhirat yang
menggantikan kehidupan dunia.

2. Term-Term Lain Hari Akhir


Hari akhir memiliki nama lain yang cukup banyak. Nama-nama hari akhir yang diberikan
oleh Allah Swt. menggambarkan keadaan hari kiamat hingga manusia dilahirkan, dihisab, dan
mendapatkan balasan dari Allah Swt. Berikut nama-nama hari akhir, Yaitu:
1. Yaumul Qiyamah yaitu hari kiamat.
2. Yaumur Rajifah yaitu hari lindu besar.
3. Yaumuz Zalzalah yaitu hari keguncangan atau keruntuhan.
4. Yaumul Haqqah yaitu yaitu hari kepastian.
5. Yaumul Qariah yaitu hari keributan.
6. Yaumul Akhir yaitu hari akhir.
7. Yaumut Tammah yaitu hari bencana agung.
8. Yaumul Asir yaitu hari sulit.
9. Yaumun la raiba fihi yaitu hari yang tidak ada lagi keraguan padanya.
10. Yaumul ba'ast yaitu hari kebangkitan.
11. Yaumut Tagabun yaitu hari terbukanya segala keguncangan.
12. Yaumun Nusyur yaitu hari kebangkitan.

4
13. Yaumut Tanad yaitu hari panggilan.
14. Yaumul Mizan yaitu hari pertimbangan.
15. Yaumu la tajzi nafsun an nafsin syaian yaitu hari yang tidak dapat seseorang diberi
ganjaran oleh yang lain sedikit pun.
16. Yaumul Jamak yaitu hari pengumpulan.
17. Yaumul Fashl yaitu hari pemisahan.
18. Yaumul Waqi'ah yaitu hari kejatuhan.
19. Yaumul Mahsyar yaitu hari berkumpul.
20. Yaumu Din yaitu hari keputusan.
21. Yaumut Talaq yaitu hari pertemuan.
22. Yaumul Jaza yaitu hari pembalasan.
23. Yaumul 'Ard yaitu hari pertontonan.
24. Yaumul Gasyiyah yaitu hari pembalasan.
25. Yaumul Khulud yaitu hari yang kekal.
26. Yaumul Barzah yaitu hari penantian.
27. Yaumul Hisab yaitu hari perhitungan.
28. Yaumul Waid yaitu hari ancaman.
29. Yaumul Haq yaitu hari kebenaran.

Umar Sulaiman al-Asyqar dalam buku Al-Yaumul Ākhir Qiyāmah Kubrā menyebut 22
istilah populer tentang hari akhir dalam Al-Qur’an. Ia juga menyebutkan istilah tambahan
lainnya yang diserap dari Al-Qur’an, serta tambahan istilah lainnya dari para ulama. Ia
mengutip al-Qurthubi yang membolehkan penggunaan penyebutan hari akhir dengan istilah
lain yang relevan. Ada tiga istilah yang paling banyak disebutkan Al-Qur’an terkait hari akhir
ini, yaitu yaumul qiyamah (hari kebangkitan), terulang tujuh puluh kali; as-sā‘ah (waktu),
terulang empat puluh kali; al-ākhirah (akhir; penghabisan) terulang seratus lima belas kali.
Adapun yaumul ākhir terulang 24 kali; Yaumud Din (hari pembalasan) terulang enam kali;
yaumul fashl (hari keputusan) terulang enam kali; yaumul fath (hari pengadilan) terulang dua
kali; yaumut talāq (hari pertemuan) terulang dua kali; yaumul jam’i (hari pengumpulan)
terulang dua kali; yaumul khulūd (hari kekekalan) terulang dua kali; yaumul khurūj (hari
keluar) terulang dua kali; yaumul ba’ts (hari kebangkitan) terulang dua kali; yaumut tanād (hari
panggilan) terulang dua kali. Kemudian ada yaumul hasrah (hari penyesalan), yaumul azifah
(hari mendekat), dan yaumu taghabun (hari terbukanya aib yang masing-masing sekali. Juga
ada istilah al-qāriah (bencana yang menggetarkan); al-ghāsyiah (bencana yang tak tertahan),

5
as-shakhkhah (bencana yang memekakkan, al-hāqah (kebenaran besar), dan al-wāqiah
(peristiwa besar).

3. Pembagian dan Tanda-tanda Kiamat


Tanda-tanda Kiamat (Asyrāth as-Sa’ah) adalah indikasi-indikasi Kiamat yang
mendahuluinya dan menunjukkan kedekatan (waktu)nya. Sementara Kiamat (as-Sa’ah) dapat
dipisahkan menjadi 3 (tiga) makna, yaitu: Pertama, Kiamat Kecil (as-Sa’ah ash-Shughra) yaitu
kematian manusia. Barangsiapa yang meninggal dunia maka telah terjadi Kiamat padanya,
karena ia masuk ke dalam alam akhirat. Kedua, Kiamat Sedang (as-Sa’ah al-Wushtha) yaitu
meninggalnya generasi satu abad tertentu. Ketiga, Kiamat Besar (as-Sa’ah al-Kubra) yaitu
dibangkitkannya manusia dari kubur mereka untuk dihisab (al-hisab) dan dibalas (al-jaza’)
amalan-amalannya di dunia.
Klasifikasi Tanda-Tanda Kiamat terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, tanda-
tanda kecil (asyrath shughra), yaitu (tanda-tanda) yang mendahului Kiamat dengan (jarak)
waktu yang lama dan menjadi hal yang berulang-ulang (biasa terjadi). Seperti hilangnya ilmu,
merebaknya kebodohan dan minuman khamer, saling berlomba meninggikan bangunan, serta
lain sebagainya. Terkadang sebagian tanda-tandanya muncul bebarengan dengan tanda-tanda
Kiamat besar (asy-asyrath al-kubra) atau (ada juga yang) setelahnya. Kedua, tanda-tanda besar
(asyrath kubra), yaitu perkara-perkara besar yang muncul menjelang terjadinya Kiamat (qurba
qiyam as-sa’ah), dan kejadiannya tidak berulang-ulang. Seperti kemunculan ad-Dajjal,
turunnya ‘Isa as., keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya Matahari dari arah barat.
Sebagian ulama membagi tanda-tanda Kiamat dari perspektif kemunculannya menjadi
3 (tiga) bagian, yaitu: Pertama, klasifikasi yang telah muncul dan telah berakhir. Kedua,
klasifikasi yang telah muncul dan terus berlangsung, bahkan semakin banyak. Ketiga,
klasifikasi yang belum terjadi hingga sekarang. Adapun dua klasifikasi pertama masuk dalam
tanda-tanda Kiamat kecil (asyrath as-sa’ah ash-shughra), sedangkan klasifikasi ketiga
terhimpun di dalamnya tanda-tanda besar (al-asyrath al-kubra) dan sebagian tanda-tanda kecil
(al-asyrath ash-shugra).
Para ulama mengklasifikasikan kiamat kepada dua macam: kiamat kecil (qiyamah al-
shugra) dan kiamat besar (qiyamah al-kubra). Kiamat kecil ialah kematian. Bagi siapa yang
sudah menemui ajal, sejatinya dia sudah mengalami kiamat kecil. Hal ini berdasarkan hadis
yang diriwayatkan ‘Aisyah yang berkata: “Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW
sembari bertanya perihal kiamat (al-sa’ah). Seketika itu juga, Rasul melihat kepada anak kecil
yang berada di antara mereka dan berkata, ‘Anak ini akan meninggal sebelum masa tuanya,

6
hingga kalian akan menemui ajal masing-masing (‘alaikum sa’atukum)”, (HR: al-Bukhari dan
Muslim). Mayoritas ulama memahami kata al’sa’ah dalam hadis ini dengan kiamat kecil, yang
berati kematian.
Ibnu Katsir berpendapat bahwa kiamat kecil ialah berakhirnya kehidupan manusia di
bumi, dan masuk kepada hari akhirat. Setiap orang yang meninggal, sebenarnya mereka sudah
memasuki pintu akhirat. Dalam hal ini, Ibnu Katsir mengkritik pendapat orang ateis yang
mengatakan kematian adalah kiamat yang tidak ada lagi kehidupan (kiamat) setelahnya.
Berdasarkan keyakinan umat Islam, suatu saat umat manusia akan dibangkitkan dari kuburnya
dan dikumpulkan pada satu tempat, peristiwa ini disebutkan dengan kiamat besar (qiyamah al-
kubra).
Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyamakan kiamat kecil dengan alam barzah (al-barzakh)
atau tahap awal tempat kembali manusia (ma’ad al-awwal). Allah SWT menyediakan dua fase
(tahapan) setelah manusia meninggal dunia, pada dua fase ini Allah SWT akan membalas
setiap amalan baik dan buruk yang dikerjakan manusia semasa hidupnya. Fase pertama ialah
perpisahan antara ruh dan badan, sebagai salah satu cara untuk masuk kepada fase pertama,
Ibnu Qayyim mengistilahkannya dengan al-jaza` al-awwal (hari pembalasan tahap awal).
Sedangkan kiamat besar adalah pemusnahan seluruh kehidupan di muka bumi ini, berdasarkan
firman Allah: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekel Dzat Tuhanmu yang
mempunyai kebesaran dan kemulian “(QS: al-Rahman, 21-22). Dalam ayat lain Allah
berfirman: “………Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu
pasti binasa, Kecuali Allah” (QS: al-Qashash, 88). Setelah manusia dihancurkan, maka Allah
SWT akan membangkitkan manusia dari kuburnya, mereka akan mempertanggungjawabkan
semua perbuatan yang telah mereka lakukakan. Pada hari itu tidak ada yang dapat membantu
manusia kecuali iman dan amalan saleh. Allah SWT akan meyediakan surga bagi hambanya
yang ta’at, dan memasukkan hambanya yang ingkar ke dalam api neraka.
Tanda tanda hari kiamat kecil lainnya adalah munculnya para dai yang menyesatkan,
para pemimpin yang menyimpang, amanat disia-siakan dengan diserahkan kepada orang yang
bukan ahlinya. Minimnya kebaikan, jarang hujan, sering terjadi gempa, banjir, harga-harga
barang sangat tinggi, para perempuan keluar dengan tidak berpakaian, berpakaian namun
telanjang. Di samping itu, tanda tanda hari kiamat kecil lainnya adalah waktu berjalan terasa
cepat, sehingga setahun seakan-akan hanya sebulan, sebulan seakan-akan hanya satu jam, dan
satu jam bagaikan bara api yang membakar. Al-Qur’an pun menjadi lenyap, yang tersisa
hanyalah tulisannya, mushaf-mushaf dihias dengan emas, kaum perempuan jadi pembicara,

7
dan masjid-masjid juga dihias. Gimana? Adakah tanda tanda hari kiamat kecil itu hadir di
sekeliling Anda? Selain kiamat kecil, ada juga kiamat besar.
Anda dapat memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api
baik di dunia dan akhirat. Semoga Allah menyelamatkan diri ini dari ngerinya kiamat karena
anugerah-Nya dan kemuliaan-Nya.
Para ulama berbeda pendapat terkait urutan terjadinya tanda-tanda kiamat. Imam Al-
Qurṭūbī mengatakan, tanda-tanda kiamat besar yang disebutkan secara bersamaan dalam
hadits-hadits di atas tidaklah berurutan, tidak terkecuali riwayat Muslim dari Hudzaifah. Salah
satu hadits sahih yang berkaitan dengan kiamat (as-sāʽah) yang pasti adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya dan juga diriwayatkan oleh beberapa perawi
hadits serta diakui oleh para ulama adalah hadits berikut, yaitu:

َ ‫سلَّ َم‬
‫علَ ْينَا َون َْح ُن نَتَذَا َك ُر ََقَا َل َما‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫ي ِ قَا َل‬
ُّ ‫اطلَ َع النَّ ِب‬
َ ‫ي‬ ِ َ‫ع ْن ُحذَ ْيفَةَ ب ِْن أ َ ِسي ٍد ْال ِغف‬
ّ ‫ار‬ َ
‫َوالدَّ ََّّا َل‬ َ‫ت ََذَ َك َر الدُّ َخان‬
ٍ ‫ع ْش َر آيَا‬ َ ُ‫عةَ قَا َل ِإنَّ َها لَ ْن تَق‬
َ ‫وم َحتَّى ت َ َر ْونَ قَ ْبلَ َها‬ َّ ‫تَذَا َك ُرونَ قَالُوا نَ ْذ ُك ُر ال‬
َ ‫سا‬
‫َويَأ َ َُّو َج‬ ‫سلَّ َم‬َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ‫سى اب ِْن َم ْريَ َم‬ َ ‫ش ْم ِس ِم ْن َم ْغ ِربِ َها َونُ ُزو َل ِعي‬ َّ ‫ع ال‬ َ ‫طلُو‬ُ ‫َوالدَّابَّةَ َو‬
‫آخ ُر ذَ ِل َك‬
ِ ‫ب َو‬ ِ ‫يرةِ ْالعَ َر‬ ٌ ‫ب َو َخس‬
َ ‫ْف ِب َج ِز‬ ِ ‫ْف بِ ْال َم ْغ ِر‬
ٌ ‫ق َو َخس‬ ِ ‫ْف بِ ْال َم ْش ِر‬
ٌ ‫سوفٍ َخس‬ ُ ‫َو َمأ ْ َُّو َج َوث َ َالثَةَ ُخ‬
‫اس إِلَى َم ْحش َِر ِه ْم‬ ْ َ ‫َار تَ ْخ ُر ُج ِم ْن ْال َي َم ِن ت‬
َ َّ‫ط ُرد ُ الن‬ ٌ ‫ن‬
“Dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari berkata, Rasulullah SAW menghampiri kami saat
kami tengah membicarakan sesuatu. Ia bertanya, ‘Apa yang kalian bicarakan?’ Kami
menjawab, ‘Kami membicarakan kiamat.’ Ia bersabda, ‘Kiamat tidaklah terjadi sehingga
kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut kabut, Dajjal, binatang
(ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya'juj dan Ma'juj,
tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah Arab dan yang terakhir
adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka,”
(HR. Muslim).
Tanda-tanda kiamat dalam hadits ini disebut sebagai tanda-tanda kiamat kubra (hari
akhir). Ada sepuluh tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits ini. Namun yang disebutkan
dalam hadits tersebut hanya ada delapan:
1. Munculnya kabut (dukhan)
2. Munculnya Dajjal
3. Munculnya Dabbah
4. Terbitnya matahari dari barat.
5. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj

8
6. Munculnya Isa bin Maryam;
7. Adanya tiga gerhana, di timur;
8. Gerhana di barat;
9. Gerhana di jazirah Arab.
10. Adanya api yang muncul dari Yaman kemudian menggiring manusia menuju tempat
berkumpul.
Al-Qurthubi menyebutkan bahwa ada hadits lain yang menyebutkan tanda-tanda
tersebut secara berurutan, yakni hadits Muslim dari Hudzaifah dalam riwayat yang berbeda,
yang menyebutkan bahwa tanda yang pertama kali muncul adalah tiga gerhana. Oleh Al-
Qurthubi, kejadian ini sudah pernah terjadi di masa Rasul SAW. Sedangkan tanda-tanda
setelahnya masih banyak diperdebatkan urutannya. Oleh karena itu, simpulan dari kajian
hadits-hadits terkait tanda-tanda kiamat ini adalah tanda-tanda kiamat yang disebutkan dalam
hadits sifatnya hanya prediksi Rasul SAW. Bahkan kepastian urutannya pun masih
diperdebatkan. Begitu juga waktu kejadiannya. Ada yang menyebut bahwa sebagian sudah
terjadi ada juga yang menyebutnya belum terjadi, bahkan perdebatan ini sudah terjadi pada
masa sahabat.
Jika ada kejadian di masa sekarang yang sesuai dengan tanda-tanda kiamat yang
disebutkan dalam berbagai hadits tersebut, belum tentu itu menjadi tanda yang pasti. Bisa juga
kejadian yang sama akan terjadi di masa mendatang karena Rasul sendiri tidak mengetahui
kapan tanda-tanda tersebut terjadi. Hal ini sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Al-Quran
Surat Al-Aʽrāf ayat 187 ketika Rasul SAW ditanya kapan terjadinya kiamat. “Mereka
menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sungguh
pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat
menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.’”
Cara bijak memahami dan mempertemukan hadits-hadits tentang kiamat yang berbeda-
beda tersebut adalah dengan meninjau maksud nabi (maqasidi) ketika menyebutkan tanda-
tanda tersebut kepada para sahabat. Saat itu para sahabat masih bertanya-tanya tentang
kebenaran adanya kiamat. Jawaban Rasul SAW dengan menyebutkan tanda-tanda tersebut
bertujuan agar para sahabat tidak menghabiskan waktunya untuk selalu memikirkan kiamat.
Selain itu, ketidakpastian tanda-tanda kiamat yang ada dalam hadits Rasul SAW ini hanya
sebagai penguat bahwa kiamat memang ada, tetapi tidak akan disebutkan kapan terjadi.
Semuanya ini bertujuan agar orang Mukmin senantiasa beribadah kapan dan di mana saja tanpa
mengenal waktu. Jika kiamat dan tanda-tandanya sudah jelas, maka setiap orang akan
meremehkan ibadahnya dan hanya beribadah ketika mendekati kiamat.

9
Kiamat merupakan peristiwa yang bila ditinjau dari sisi sains, maka potensi alam
semesta ini berakhir akan sangat mungkin terjadi. Salah satu peristiwa alam yang menandai
awal kiamat ialah guncangan dahsyat. Dalam buku Tafsir Ilmi “Kiamat dalam perspektif Al-
Quran dan Sains” yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, Badan Litbang &
Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
mengungkap mengenai keadaan Bumi pada hari Kiamat. Ada tanda-tanda yang bisa diamati
oleh mata manusia sebelum terjadinya kiamat. Ilmuwan bahkan telah mengemukakan skema-
skema yang terjadi seperti Bumi bertabrakan dengan planet lain atau hantaman asteroid dan
sebagainya.
Apapun skema atau teori yang diungkap ilmuwan, terdapat kekacauan besar yang akan
dialami oleh Bumi. Salah satunya ialah guncangan yang dahsyat yang terjadi di Bumi. Ayat
Al-Quran telah mengungkap mengenai peristiwa kiamat tersebut. “Apabila bumi digoncangkan
dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang
dikandung)-nya.” (QS. Az-Zalzalah:1-2). Kata az-Zalzalah (guncangan yang dahsyat) adalah
ism masdar (bentuk kata benda) dari zalzala – yuzalzilu – zalzalatan, yang mengguncangkan.
Dengan demikian, az-zalzalah berarti guncangan. Karena penyebutannya dalam Surah az-
Zalzalah diikuti oleh maf’ul mutlaq, maka kata ini dimaknai sebagai guncangan hebat yang
terjadi di seluruh penjuru Bumi. Dalam Al-Quran, kata ini dengan semua bentuk jadiannya
disebut sebanyak 6 kali, dua kali di antaranya disebut dalam Surah az-Zalzalah ayat 1. Ayat ini
menerangkan bahwa peristiwa kiamat diawali dengan guncangan yang dahsyat yang meliputi
seluruh Bumi. Fenomena gempa ini berbeda dengan yang selama ini terjadi, hanya bersifat
lokal dan tidak menyeluruh ke seantero Bumi. Peristiwa ini menjadi penanda yang
mengingatkan manusia bahwa akhir kehidupan dunia telah datang, yang diikuti kemudian oleh
kehidupan akhirat.

B. Qadha, Qadar dan Takdir


1. Pengertian Qadha dan Qadar
Kita sejak lama menggunakan kata “qadha” dan “qadar”. Kepercayaan terhadap konsep
kata ini juga merupakan salah satu rukun iman dalam agama Islam. Kita sering menggunakan
kedua kata itu secara bergantian untuk sebuah pengertian yang sama. Tetapi ulama menyimpan
penjelasan kedua kata tersebut yang mengandung pengertian berbeda. Di samping memiliki
pengertian berbeda, kata “qadha” dan “qadar” juga dipahami secara berbeda oleh para ulama
tauhid atau mutakallimin. Dengan kata lain, kelompok Asyariyyah, kelompok Maturidiyyah,

10
dan sejumlah kelompok ulama lainnya berbeda pendapat perihal pengertian kata “qadha” dan
“qadar”. Imam Nawawi mengatakan bahwa:

‫اختل فوا َي معنى القضاء والقدر َالقضاء عند األشاعرة إرادة هللا األشياء َي األزل على ما‬
‫هي عليه َي غير األزل والقدر عندهم إيجاد هللا األشياء على قدر مخصوص على وَق اإلرادة‬
“Ulama tauhid atau mutakallimin berbeda pendapat perihal makna qadha dan qadar.
Qadha menurut ulama Asy’ariyyah adalah kehendak Allah atas sesuatu pada azali untuk sebuah
‘realitas’ pada saat sesuatu di luar azali kelak. Sementara qadar menurut mereka adalah
penciptaan (realisasi) Allah atas sesuatu pada kadar tertentu sesuai dengan kehendak-Nya pada
azali.” Iman kepada Qadla dan Qadar adalah termasuk pokok-pokok iman yang enam (Ushûl
al-Îmân as-Sittah) yang wajib kita percayai sepenuhnya. Belakangan ini telah timbul beberapa
orang atau beberapa kelompok yang mengingkari Qadla dan Qadar dan berusaha
mengaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan, maupun di bangku-bangku kuliah. Tentang
kewajiban iman kepada Qadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

ُ ‫أن تُؤْ ِمنَ ب ِاهللِ َو َمالَ ِئ َك ِت ِه َو ُكت ُ ِب ِه َو ُر‬


)‫س ِل ِه َوتُؤْ ِمنَ بالقَدَ ِر َخي ِْر ِه َوش َّر ِه (رواه مسلم‬ ْ ‫ان‬
ُ ‫اإل ْي َم‬

“Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,


Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang
buruk”. (HR. Muslim).

Al-Qadlā maknanya al-Khalq, artinya penciptaan, dan al-Qadar maknanya at-Tadbīr,


artinya ketentuan. Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatu sesuai
dengan pengetahuan (al-‘Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyī’ah) yang Azali (tidak bermula), di
mana sesuatu tersebut kemudian terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki
oleh-Nya terhadap kejadiannya.
Penggunaan kata “al-Qadar” terbagi kepada dua bagian, yaitu: pertama; Kata al-
Qadar bisa bermaksud bagi sifat “Taqdīr” Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap
segala sesuatu yang ia kehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat “Taqdīr” Allah ini tidak
boleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan, karena sifat menentukan Allah terhadap
segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan, tetapi sifat menentukannya Allah
terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifat yang baik dan sempurna,
sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk,
kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya. Kedua; Kata al-Qadar dapat bermaksud bagi segala
sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdūr. Al-Qadar dalam
11
pengertian al-Maqdūr ini ialah mencakup segala apapun yang terjadi pada seluruh makhluk
ini; dari keburukan dan kebaikan, kesalehan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaatan
dan kemaksiatan, dan lain-lain. Dalam makna yang kedua inilah yang dimaksud oleh hadits
Jibril di atas, “Wa Tu-mina Bi al-Qadar; Khayrih wa Syarrih”. Al-Qadar dalam hadits ini
adalah dalam pengertian al-Maqdūr.
Pemisahan makna antara sifat Taqdîr Allah dengan al-Maqdûr adalah sebuah
keharusan. Hal ini karena sesuatu yang disifati dengan baik dan buruk, atau baik dan jahat,
adalah hanya sesuatu yang ada pada makhluk saja. Artinya, siapa yang melakukan kebaikan
maka perbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan maka
perbuatannya tersebut disebut “buruk”, dengan demikian penyebutan kata “baik” dan “buruk”
seperti ini hanya berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdîr Allah, yaitu sifat menentukan
Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan
buruk. Sifat Taqdīr Allah ini, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan
sempurna, tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba
melakukan keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itu sendiri.
Adapun Taqdīr Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itu bukan berarti bahwa
Allah menyukai dan memerintahkan hamba itu kepada keburukan tersebut. Demikian pula,
ketika kita katakan; Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti bahwa Allah itu jahat.
Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadap yang
baik maupun yang buruk.
Segala perbuatan yang terjadi pada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan
dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan
penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan
keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apa bila
pada makhluk ini ada sesuatu yang terjadi yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah,
maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak
Allah dikalahkan oleh kehendak makhluk-Nya. Tentu, ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi.
Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

)‫َما شَا َء هللاُ َكانَ َو َما لَ ْم يَشَأ ْ لَ ْم يَ ُك ْن (رواه أبو داود‬


“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak
dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).

12
Dengan demikian segala apapun yang dikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya
maka semua itu pasti terjadi. Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka
hal itu menunjukkan akan kelemahan, padahal sifat lemah itu mustahil bagi Allah. Bukankah
Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwa segala sesuatu yang
dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syara’ dan akal,
terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya adalah perkara yang
wajib adanya. Dalam hal ini Allah berfirman:

‫علَى ْأم ِره‬


َ ‫ب‬
ٌ ‫َوهللاُ غَا ِل‬
“Allah maha mengalahkan (menang) di atas segala urusan-Nya”. (Artinya, segala
sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-
Nya”. (QS. Yusuf: 21).

Allah menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman


kepada-Nya, maka mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-
orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi
orang-orang yang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-
Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

‫ض ُكلُّ ُه ْم ََّ ِميعًا‬


ِ ‫َولَ ْو شَآ َء َرب َُّك أل َ َمنَ َمن َِي اْأل َ ْر‬
“Dan seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang
ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).

Tetapi Allah tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian


Allah memerintah mereka semua untuk beriman kepada-Nya. Maka di sini harus dipahami,
bahwa “kehendak Allah” dan “perintah Allah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu
yang dikehendaki oleh Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya, dan tidak segala sesuatu
yang diperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya. Perkataan sebagian
orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang
tidak dikehendaki oleh Allah (ia bermaksud kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan
yang salah, karena Allah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau
kekufuran. Benar, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendak Allah,
tetapi Allah tidak memerintah kepadanya. Dengan demikian perkataan yang benar ialah;

13
“Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya
dan dengan Ilmu-Nya.
Kebaikan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dengan Ilmu-Nya, serta
kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, Mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementara
keburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, tapi
tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan Mahabbah-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya”.
Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah.
Dengan kata lain, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya
dengan perintah Allah.
Di antara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nya
adalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpi untuk
menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allah atas Nabi Ibrahim.
Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, bahkan
telah meletakan pisau yang sangat tajam dan menggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il,
namun Allah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut.
Kemudian Allah mengganti Nabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril
dari surga. Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara “perintah Allah” dan
“kehendak-Nya”. Contoh lainnya, Allah memerintah kepada seluruh hamba-hamba-Nya untuk
beribadah kepada-Nya, akan tetapi Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadah
kepada-Nya. Karenanya, ada sebagian mereka yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi
orang-orang beriman, dan ada sebagian lainnya yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang-
orang kafir. Allah berfirman:

َ ‫َو َما َخلَ ْقتُ ْال ِج ّن َواإل ْن‬


‫س إالّ ِل َي ْعبُد ُْون‬
“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan manusia dan jin melainkan Aku “perintahkan”
mereka untuk menyembah-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56).

Makna firman Allah “illā lī-ya’budūn” dalam ayat di atas artinya “illā lī-‘āmurahum
bi ‘ibādatī”, artinya bahwa Allah menciptakan manusia dan jin tidak lain ialah untuk Dia
perintah mereka agar beribadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allah) ciptakan
manusia dan jin melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jika
diartikan bahwa Allah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk beriman atau beribadah
kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak orang-orang kafir, karena
pada kenyataannya tidak semua hamba beriman dan beribadah kepada Allah, tapi ada di antara

14
mereka yang kafir dan menyembah selain Allah. Tentunya mustahil jika kehendak Allah
dikalahkan oleh kehendak makhluk-makhluk-Nya sendiri.
Syekh M Nawawi Banten memberikan contoh konkret qadha dan qadar menurut
kelompok Asyariyyah. Qadha adalah putusan Allah pada azali bahwa kelak kita akan menjadi
apa. Sementara qadar adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.

‫َإرادة هللا المتعلقة أزال بأنك تصير عالما قضاء وإيجاد العلم َيك بعد وَّودك على وَق اإلرادة‬
‫قدر‬
“Kehendak Allah yang berkaitan pada azali, misalnya kau kelak menjadi orang alim
atau berpengetahuan adalah qadha. Sementara penciptaan ilmu di dalam dirimu setelah ujudmu
hadir di dunia sesuai dengan kehendak-Nya pada azali adalah qadar,”

Sedangkan bagi kelompok Maturidiyyah, qadha dipahami sebagai penciptaan Allah


atas sesuatu disertai penyempurnaan sesuai ilmu-Nya. Dengan kata lain, qadha adalah batasan
yang Allah buat pada azali atas setiap makhluk dengan batasan yang ada pada semua makhluk
itu seperti baik, buruk, memberi manfaat, menyebabkan mudarat, dan seterusnya. Singkat kata,
qadha adalah ilmu azali Allah atas sifat-sifat makhluk-Nya. Ada lagi ulama yang berpendapat
bahwa qadha adalah ilmu azali Allah dalam kaitannya dengan materi yang diketahui oleh-Nya.
Sementara qadar adalah penciptaan Allah atas sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya. Jadi, ilmu
Allah pada azali bahwa si A kelak akan menjadi ulama atau ilmuwan adalah qadha. Sedangkan
penciptaan ilmu pada diri si A setelah ia diciptakan adalah qadar, Imam Nawami menyatakan
bahwa:

‫وقول األشاعرة هو المشهور وعلى كل َالقضاء قديم والقدر حادث بخالف قول الماتريدية‬
‫وقيل كل منهما بمعنى إرادته تعالى‬

“Pandangan ulama Asy’ariyyah cukup masyhur. Atas setiap pandangan itu, yang jelas
qadha itu qadim (dulu tanpa awal). Sementara qadar itu hadits (baru). Pandangan ini berbeda
dengan pandangan ulama Maturidiyyah. Ada ulama berkata bahwa qadha dan qadar adalah
pengertian dari kehendak-Nya.”
Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah bahwa qadha merupakan sesuatu yang
ghaib. Oleh karena itu, dalam tradisi ahlussunnah wal jamaah keyakinan kita atas qadha dan

15
qadar itu tidak boleh menjadi alasan kita untuk bersikap pasif. Tradisi ahlussunnah wal jamaah
justru mendorong kita untuk melakukan ikhtiar dan upaya-upaya manusiawi serta
mendayagunakan secara maksimal potensi yang Allah anugerahkan kepada manusia sambil
tetap bersandar memohon inayah-Nya. Misalnya, pada usia belasan dalam tradisi Islam
Nusantara sering mendengar doa dan sedekah sebagai tolak bala.

2. Takdir: Mubram dan Muallaq


Di atas telah dijelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah. Apa bila
Allah menghendaki sesuatu akan terjadi pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu itu akan
menimpanya, sekalipun orang tersebut bersedekah, berdoa, bersilaturrahim, dan berbuat baik
kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya, atau lainnya. Artinya, apa
yang telah ditentukan oleh Allah tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan bentuk
apapun. Adapun hadits Rasulullah yang berbunyi:

َ ُّ‫ضا َء شَى ٌء إالّ الد‬


)‫عا ُء (رواه الترمذي‬ َ َ‫الَ يَ ُردُّ الق‬
“Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qadla kecuali doa” (HR. at-Tirmidzi).

Qadla di dalam hadits di atas adalah Qadlā Mu’allaq. Di sini harus kita ketahui bahwa
Qadla terbagi kepada dua bagian: Qadlā Mubram dan Qadlā Mu’allaq. Pertama: Qadlā
Mubram, ialah ketentuan Allah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah. Ketentuan ini hanya
ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun yang mengetahuinya selain Allah sendiri, seperti
ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqāwah), dan mati dalam keadaan beriman (as-
Sa’ādah), ketentuan dalam dua hal ini tidak berubah. Seorang yang telah ditentukan oleh Allah
baginya mati dalam keadaan beriman maka itulah yang akan terjadi baginya, tidak akan pernah
berubah. Sebaliknya, seorang yang telah ditentukan oleh Allah baginya mati dalam keadaan
kufur maka pasti itulah pula yang akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada
perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman:

‫ِي َم ْن يَشَاء‬
ْ ‫ُض ّل َم ْن يَشَا ُء َويَ ْهد‬
ِ ‫ي‬
“Allah menyesatkan terhadap orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada
orang yang Dia kehendaki”. (QS. an-Nahl: 93).

Kedua, Qadlā Mu’allaq, yaitu ketentuan Allah yang berada pada lambaran-lembaran
para Malaikat, yang telah mereka kutip dari al-Lauh al-Mahfuzh, seperti si fulan apa bila ia

16
berdoa maka ia akan berumur seratus tahun, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan
mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. Namun, misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau
tidak mau bersillaturrahim, maka umurnya hanya enam puluh tahun, ia tidak akan mendapatkan
rizki yang luas, dan tidak akan mendapatkan kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadlâ
Mu’allaq atau Qadar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-
lembaran para Malaikat. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah
ketentuan (Taqdīr) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya, karena mustahil sifat Allah
bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha
mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah maha
mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi
padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh. Namun demikian doa adalah sesuatu
yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

‫ان ََ ْليَ ْستَ ِجيبُوا ِلي َو ْليُؤْ ِمنُوا بِي‬


ِ ‫ع‬ ُ َِّ ُ ‫يب أ‬
َ َ‫يب دَع َْوة َ الدَّاعِ إِذَا د‬ َ ‫سأَلَ َك ِعبَادِي‬
ٌ ‫ع ِنّي ََإ ِ ِنّي قَ ِر‬ َ ‫َوإِذَا‬
َ‫شدُون‬ُ ‫لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر‬

“Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku,


maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan
orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon
terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk”
(QS. al-Baqarah: 186).

Ayat di atas menjelaskan bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti
akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa-dosanya yang diampuni, permintaannya
yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari
kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan yang sangat berharga baginya.
Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti
dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan.
Yang pasti, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai
kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun,
seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah kita
sebutkan di atas.
Pada nisfyu Sya’ban, dari dulu tradisi Islam Nusantara juga mengajukan tiga
permintaan kepada Allah SWT. Bagaimana memahami semua pengertian itu di tengah tuntutan

17
keimanan pada takdir? Dari semua itu kemudian tradisi Islam Nusantara beranggapan bahwa
doa bermanfaat bagi putusan atau takdir Allah yang masih menggantung di Lauh Mahfuzh.
Terkait ini, selanjutnya dikenal dengan istilah takdir mubram dan takdir muallaq di kalangan
tradisi Islam Nusantara. Doa atau permintaan masyarakat dalam nisfu Syaban atau melalui
bentuk sedekah dipercaya oleh tradisi Islam Nusantara dapat “mengubah” bala yang
ditakdirkan Allah SWT akan menimpa mereka, terutama takdir muallaq yang realisasinya
sangat berkaitan erat dengan doa.

.‫والدعاء ينفع مما نزل ومما لم ينزل وإن البالء لينزل ويتلقاه الدعاء َيتعالجان إلى يوم القيامة‬
‫ أما الثانى َال استحالة َي رَع ما علق رَعه‬.‫والدعاء ينفع َي القضاء المبرم والقضاء المعلق‬
‫منه على الدعاء وال َي نزول ما علق نزوله منه على الدعاء‬

“Doa bermanfaat terhadap apa yang datang dan apa yang belum datang (dari langit).
Bala pun akan datang dan bertemu dengan doa. Keduanya (bala dan doa) senantiasa
‘berperang’ hingga hari qiamat. Doa bermanfaat pada qadha mubram dan qadha muallaq.
Perihal yang kedua (qadha muallaq), maka tidak mustahil menghilangkan apa (putusan) yang
penghilangannya digantungkan pada doa dan tidak mustahil mendatangkan apa (putusan) yang
penghadirannya digantungkan pada doa.”
Situasi takdir muallaq berlainan dengan takdir mubram. Doa tidak dapat mengubah
kenyataan yang digariskan dalam takdir mubram. Meskipun demikian, doa dipercaya dapat
meminimalisir dampak bala yang timbul karena takdir mubram.

‫وأما األول َالدعاء وإن لم يرَعه لكن هللا تعالى ينزل لطفه بالداعى كما إذا قضى عليه قضاء‬
‫مبرما بأن ينزل عليه صخرة َإذا دعا هللا تعالى حصل له اللطف بأن تصير الصخرة متفتتة‬
‫كالرمل وتنزل عليه‬

“Adapun perihal pertama (qadha mubram), (peran) doa meskipun tidak dapat
menghilangkan bala, tetapi Allah mendatangkan kelembutan-Nya untuk mereka yang berdoa.
Misalnya, ketika Allah menentukan qadha mubram kepada seseorang, yaitu kecelakaan berupa
tertimpa batu besar, ketika seseorang berdoa kepada Allah, maka kelembutan Allah datang
kepadanya, yaitu batu besar yang jatuh menimpanya menjadi remuk berkeping-keping
sehingga dirasakan olehnya sebagai butiran pasir saja yang jatuh menimpanya.”

18
Meskipun takdir terbagi dua, muallaq dan mubram, kita sebagai manusia tidak
mengetahui mana takdir muallaq dan takdir mubram. Oleh karena itu, ahlusunnah wal jamaah
memandang doa sebagai ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan sebagaimana pada
umumnya aliran ahlusunnah wal jamaah memandang perlunya ikhtiar dalam segala hal, bukan
menyerah begitu saja pada putusan takdir. Dari sini, kita dapat memahami tiga permintaan atau
doa yang lazim diamalkan masyarakat Indonesia di malam nisfu Syaban sebagai bentuk ikhtiar
dalam menolak bala dan ikhtiar dalam mendatangkan kemaslahatan.

‫وانقسام القضاء إلى مبرم ومعلق ظاهر بحسب اللوح المحفوظ وأما بحسب العلم َجميع األشياء‬
‫مبرمة ألنه إن علم هللا حصول المعلق عليه حصل المعلق وال بد وإن علم هللا عدم حصوله لم‬
‫يحصل وال بد لكن ال يترك الشخص الدعاء اتكاال على ذلك كما يترك األكل اتكاال على إبرام‬
‫هللا األمر َى الشبع‬

“Pembagian qadha menjadi mubram dan muallaq itu tampak pada Lauh Mahfuzh.
Adapun dari sisi ilmu Allah, semua putusan itu bersifat mubram karena ketika Allah
mengetahui datangnya putusan muallaq, maka hasillah muallaq tersebut, dan tidak boleh tidak
ketika Allah mengetahui ketiadaan putusan muallaq, maka tiadalah muallaq tersebut. Tetapi
manusia tiada jalan lain, seseorang tidak boleh meninggalkan doa hanya karena bersandar pada
putusan qadha tersebut sebagaimana larangan seseorang untuk meinggalkan makan karena
bersandar pada putusan Allah perihal kenyang.”
Sementara aliran muktazilah tidak mempercayai peran dan manfaat doa karena kata
‘doa’ dalam Al-Quran itu adalah ibadah secara umum. “Siapa saja yang beribadah, niscaya
Allah akan menerimanya,” menurut mereka. Mereka tidak mengartikan ayat itu demikian,
“Siapa saja yang berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

‫وأما عند المعتزلة َالدعاء ال ينفع وال يكفرون بذلك ألنهم لم يكذبوا القرآن كقوله تعالى ادعوني أستجب لكم بل‬
‫أولوا الدعاء بالعبادة واإلَّابة بالثواب‬
“Bagi kalangan Muktazilah, doa tidak memberikan manfaat. Tetapi mereka tidak jatuh
dalam kekufuran dengan pandangan demikian karena mereka tidak mendustakan Al-Quran
perihal ini seperti ayat ‘Serulah Aku, niscaya Aku membalasnya.’ Mereka menakwil kata
‘seruan’ dengan ibadah, dan ‘balasan’ dengan pahala.” Meskipun demikian, kelompok
ahlusunnah wal jamaah Asy’ariyah tidak menempatkan aliran muktazilah ke dalam aliran
kufur karena mereka masih meyakini Al-Quran sebagai wahyu Allah. Semua pengertian yang

19
diangkat oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah Asy’ariyah ini dimaksudkan agar
umat Islam tidak salah paham menempatkan signifikansi doa, peran ikhtiar manusia, dan dapat
meningkatkan keimanan terhadap takdir di tengah peran atau ikhtiar manusiawi. Semua ini
dijelaskan oleh pendukung kelompok ahlusunnah wal jamaah asy’ariyah agar masyarakat sunni
tidak bersikap su'ul adab dan su'uzhan kepada Allah.

20