Anda di halaman 1dari 21

AKHLAK DALAM KEHIDUPAN SOSIAL KEMASYARAKATAN

TERHADAP SESAMA MUSLIM

Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Akhlak

Dosen Pengampu : Dr. Erba Rozalina Yulianti, M.Ag.

Di susun oleh :

 Nurhayati 11200120000089
 Rimala Alimah 11200120000098
 Sanja Dimyati 11200120000105
 Tengku Maulana 11200120000113
 Tsamratul Basiroh 11200120000114
 Utami Fajar Sari 11200120000115
 Tiara Sabilla 11200120000129

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan Rahmat, Hidayah, dan Inayah-nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah Pendidikan Akhlak dengan judul " Akhlak
Dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Terhadap Sesama Muslim" tepat pada
waktunya.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung


bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dan penyusunannya. Untuk
itu tidak lupa Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

Namun tidak terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa
masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya.
Oleh karena itu, dengan lapang dada kami mohon maaf sebesar-besarnya tentu
bagi para pembaca atas makalah yang kami susun ini.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak Secara Umum 3
B. Manusia Sebagai Makhluk Sosial Serta Dalil Dalam Al-Qur‟an 4
C. Akhlak Dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Terhadap
Sesama Muslim 7
D. Manfaat Akhlak Mulia dalam kehidupan sosial Kemasyarakatan 13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 16
DAFTAR PUSTAKA 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhlak atau perangai, adat kebiasaan, tabi‟at adalah sifat yang melekat
dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan manusia. Dalam ajaran Islam
akhlak merupakan salah satu ajaran yang berhubungan dengan perilaku yang
seharusnya dan yang tidak seharusnya dilakukan. Maka, ada akhlak yang baik,
yang terpuji disebut akhlaq mahmudah. Ada pula perilaku yang buruk, disebut
akhlak tercela atau akhlaq madmumah. Akhlak sosial merupakan bagian ajaran
tentang akhlak, yang berkaitan dengan keharusan perilaku baik dan yang
seharusnya dijauhi berkaitan dengan hubungan-hubungan sosial dalam kehidupan
masyarakat. Seperti kita tak boleh mendholimi orang lain, orang yang lebih
„lemah‟ dibanding kita. Kita tidak boleh tidur pulas karena kekenyangan
sementara ada tetangga kita yang tidak bisa tidur karena kelaparan.
Namun, pada abad 21 ini banyak diantara kita kurang memperhatikan
masalah akhlak. Disatu sisi, kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan
perkara pokok/inti agama. Disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan,
sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari
kalangan masyarakat awam. Inilah tugas dari generasi muda islam untuk mulai
memperbaiki akhlak kita kepada sesama manusia terutama sesama muslim.
Sebab, bagaimana kita bisa berakhlak baik terhadap non-muslim jika terhadap
muslim lainnya saja tidak mampu mewujudkan akhlak terpuji yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, dikarenakan akhlak merupakan dimensi nilai dari Syariat
Islam dan manusia merupakan makhluk yang selalu hidup berdampingan dengan
yang lainnya, maka inti pembahasan makalah kami adalah akhlak dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan terhadap sesama muslim.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Akhlak Secara Umum ?
2. Apakah yang dimaksud Manusia Sebagai Makhluk Sosial? Sebutkan dalil Al-
Qur‟annya !
3. Bagaimanakah Akhlak dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Terhadap
Sesama Muslim ?
4. Apa sajakah Manfaat Melakukan Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sosial
Kemasyarakatan ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui dan memahami Pengertian Akhlak Secara Umum.


2. Untuk mengetahui dan memahami Arti Serta Dalil Dalam Alquran Bahwa
Manusia Sebagai Makhluk Sosial.
3. Untuk mengetahui dan mampu mendeskripsikan Bagaimana Akhlak Dalam
Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Terhadap Sesama Muslim.
4. Untuk Mengetahui dan memahami Manfaat Melakukan Akhlak Mulia Dalam
Kehidupan Sosial Kemasyarakatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak Secara Umum


Kata “Akhlak” berasal dari Bahasa Arab, Jamak dari Khuluq, yang artinya
tabiat, budi pekerti, watak, atau kesopanan.1
Untuk mengetahui definisi Akhlak menurut istilah, dibawah ini terdapat
beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:
1. Ibnu Maskawaih mendefinisikan,
Akhlak adalah sikap jiwa seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan (terlebih
dahulu).2
2. Al-Qurthuby mendefinisikan,
Akhlak adalah suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab
kesopanannya yang disebut Akhlak, karena perbuatan itu termasuk bagian
darinya;
3. Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy mendefinisikan,
Akhlak adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat
menimbulkan perbuatan baik, dengan cara yang mudah (tanpa dorongan dari
orang lain);
4. Abu Bakar Jabir Al-Jazairy mendefinisikan,
Akhlak adalah bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang
menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang
disengaja;

1
Abuddin Nata , Akhlak tasawuf, (Jakarta : PT. Rajagrafindi persada,1998), hlm. 1.
2
Ibnu Miskawaih, Tahzib al-akhlak wa tathhir al-A'raq, (Mesir : al- mathaba'ah al-Mishriyah,1934), hlm. 40.

3
5. Imam Al-Ghazali mendefinisikan,
Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-
macam perbuatan dengan gampamg dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.3 Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji
menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik. Tetapi
manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk.

Al-Qurthuby menekankan bahwa akhlak itu merupakan bagian dari


kejadian manusia. Oleh karena itu, kata al-khuluk tidak dapat dipisahkan
pengertiannya dengan kata al-khiiqah, yaitu fitrah yang dapat mempengaruhi
perbuatan setiap manusia.
Imam Al-Ghazaly menekankan, bahwa Akhlak adalah sifat yang tertanam
dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik atau buruk, dengan menggunakan
ukuran ilmu pengetahuan dan norma agama.
Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy, Ibnu Maskawaih dan Abu Bakar Jabir
Al-Jazairy menekankan, bahwa Akhlak adalah keadaan jiwa yang selalu
menimbulkan perbuatan yang gampang dilakukan. Meskipun ketiganya
menekankan keadaan jiwa sebagai sumber timbulnya akhlak, namun dari sisi lain
mereka berbeda pendapat, yaitu:
1. Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy menekankan hanya perbuatan baik saja
yang disebutnya akhlak;
2. Ibnu Maskawaih menekankan seluruh perbuatan manusia yang disebutnya
akhlak;
3. Abu Bakar Jabir Al-Jazairy menjelaskan perbuatan baik dan buruk yang
disebutnya akhlak.

B. Manusia Sebagai Makhluk Sosial Serta Dalil Dalam Al-Qur’an


Manusia disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki
kebutuhan dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi
dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.

3
Imam Al-ghazali, Ihya'ulum al-Din,jilid III, (Beirut : Dar al-fikr,1989) , hlm. 56.

4
Kemampuan dan kebiasaan manusia berkelompok ini disebut juga dengan zoon
politicon. Istilah manusia sebagai zoon politicon pertama kali dikemukakan oleh
Aristoteles yang artinya mengandung makna bahwa manusia memiliki
kemampuan untuk hidup berkelompok dengan manusia yang lain dalam suatu
organisasi yang teratur, sistematis dan memiliki tujuan yang jelas, seperti negara
ataupun dalam ruang lingkup kecil seperti halnya didalam masyarakat.
Aktualisasi manusia sebagai makluk sosial, tercermin dalam kehidupan
berkelompok. Manusia selalu berkelompok dalam hidupnya. Berkelompok dalam
kehidupan manusia adalah suatu kebutuhan, bahkan mempunyai tujuan. Tujuan
manusia berkelompok adalah untuk meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan
hidupnya.
Jadi sudah kodratnya manusia adalah sebagai makhluk sosial atau
makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal pikiran yang
berkembang serta dapat dikembangkan. Dalam hubungannya dengan manusia
sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakan dirinya
dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu
bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial,
juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan
(interaksi) dengan orang lain.
Dalam Islam, hubungan sosial disebut dengan istilah hablum minannaas
(hubungan dengan sesama manusia). Contohya, Saling sapa, berjabat tangan,
silaturrahim, solidaritas sosial, ukhuwah islamiah dan lain-lain. Hubungan sosial
tidak hanya terjadi dikalangan komunitas atau suatu kelompokya saja tetapi juga
diluar komunitasnya. karena manusia adalah makhluk sosial yang saling
membutuhkan satu sama lainnya dan mereka tidak akan bisa hidup dengan
individu mereka sendiri. Sebagaimana daintara dalil al-quran yang dikemukakan
di bawah ini :
a. QS. Al Hujurȃt ayat 13 :
َّ ‫َٰيََٰٓأَيَُّٖا ٱىَّْاسُ إَِّّا َخيَ ْق ََْٰ ُنٌ ٍِِّ َر َم ٍش َٗأُّثَ َٰى َٗ َج َع ْي ََْٰ ُن ٌْ ُشعُ٘بًا َٗقَبَآَٰئِ َو ىِخَ َعا َسفُ َٰٓ٘ ۟ا ۚ إِ َُّ أَ ْم َش ٍَ ُن ٌْ ِعْ َذ‬
ۚ ٌْ ‫ٱَّللِ أَ ْحقَ َٰى ُن‬
َّ َُّ ِ‫إ‬
‫ٱَّللَ َعيِي ٌٌ خَبِي ٌش‬

5
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-
laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.4

Dalam ayat ini, Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa ayat ini


menyebutkan filosofi penciptaan manusia yaitu, keragaman manusia yang tercipta
menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, membuat upaya saling mengenal ini
menjadi relevan dan ini merupakan kunci dalam menghadapi problematika sosial.
Maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang tercipta
secara alamiah dan bawaan dari penciptaannya. Oleh karena itu, bermasyarakat
merupakan sesuatu yang bersifat alamiah pula dan menjadi tujuan dari fitrah
manusia.
b. QS. Az-Zukhruf ayat 32 :
‫ْط‬
ٍ ‫ق بَع‬ َ ‫إَُٔ ٌْ يَ ْق ِس ََُُ٘ َسحْ ََجَ َسبِّلَ ۚ َّحْ ُِ قَ َس ََْْا بَ ْيٌَُْٖ ٍَّ ِعي َشخَُٖ ٌْ فِى ْٱى َحيَ َٰ٘ ِة ٱى ُّذ ّْيَا ۚ َٗ َسفَ ْعَْا بَ ْع‬
َ َْ٘‫عُٖ ٌْ ف‬
َُُ٘‫ل َخ ْي ٌش ٍِّ ََّا يَجْ ََع‬ َ ِّ‫ج َسب‬ ُ ََ ْ‫عا س ُْخ ِشيًّا ۗ َٗ َسح‬ ً ‫عٌُٖ َب ْع‬ ٍ ‫د ََس َٰ َج‬
ُ ‫ج ىِّيَخَّ ِخ َز بَ ْع‬
Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan
Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa
derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan
rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (QS. Az-Zukhruf:
32).

Dalam ayat ini, secara singkat dapat diartikan bahwa ayat ini menunjukkan
manusia tidak diciptakan dengan kemampuan dan bakat yang sama. Karena jika
manusia semua memiliki bakat dan kemampuan yang sama, ia tidak lagi
membutuhkan orang lain untuk membantunya, sehingga tidak akan terjadi
pertukaran jasa dan yang lainnya. Dengan demikian ayat inipun mengutarakan
bahwa kehidupan sosial itu bagi manusia merupakan sesuatu yang alamiah.

6
C. Akhlak Dalam Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Terhadap Sesama
Muslim
Mengenai hubungan dengan sesama muslim, maka tidak terlepas dengan
tetangga, famili atau kerabat, teman, rekan kerja maupun masyarakat muslim.
Setidaknya hak seorang muslim terhadap muslim lainnya diterangkan dalam
sebuah hadits :
ٌّ ‫ق اَ ْى َُ ْسيِ ٌِ َعيَى اَ ْى َُ ْسيِ ٌِ ِس‬
‫ إِ َرا‬:‫ج‬ َّ َ ‫ع َِْ أَبِي ُٕ َش ْي َشةَ سظي هللا عْٔ قَا َه َسسُ٘ ُه‬
ُّ ‫هللاِ صيى هللا عيئ ٗسيٌ َح‬
,ُٓ‫ض فَ ُع ْذ‬ َّ َ ‫س فَ َح َِ َذ‬
َ ‫هللاَ فَ َس َِّ ْخُٔ َٗإِ َرا ٍَ ِش‬ َ ّْ ‫ل فَا‬
َ َ‫ َٗإِ َرا َعط‬,ُٔ ْ‫صح‬ َ ْْ َ‫ َٗإِ َرا اِ ْسخ‬,ُ ٔ‫ك فَأ َ ِج ْب‬
َ ‫ص َح‬ َ ‫ َٗإِ َرا َدعَا‬,ِٔ ‫ىَقِيخَُٔ فَ َسيِّ ٌْ َعيَ ْي‬
ٌٌ ِ‫ َس َٗآُ ٍُ ْسي‬. ُٔ‫َٗإِ َرا ٍَاثَ فَا ْحبَ ْع‬

Artinya : Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Hak muslim
kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau bersabda, ”Apabila engkau bertemu,
ucapkanlah salam kepadanya; Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya;
Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; Apabila dia bersin
lalu dia memuji Allah (mengucapkan ‟alhamdulillah‟), doakanlah dia (dengan
mengucapkan ‟yarhamukallah‟); Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan Apabila dia
meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim,
no.2162 )
Dari arti hadits diatas, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa diantara
akhlak sosial antara muslim satu kepada muslim lainnya yaitu:
1. Mengucapkan salam ketika berjumpa.
Mengucapkan salam merupakan sebab-sebab pemersatu orang Islam dan
sebab timbulnya rasa cinta kasih sesamanya. Rasulullah SAW bersabda :
‫َي ٍء إِ َرا فَ َع ْيخُ َُُ٘ٓ حَ َحابَ ْبخُ ٌْ؟ أَ ْف ُش٘ا‬
ْ ‫َل حَ ْذ ُخيَُُ٘ ْاى َجَّْتَ َحخَّى حُ ْْ ٍُِْ٘ا َٗ َل حُ ْْ ٍُِْ٘ا َحخَّى حَ َحابُّ٘ا أَ َٗ َل أَ ُدىُّ ُن ٌْ َعيَى ش‬
ٌْ ‫اىس َََّل ًَ بَ ْيَْ ُن‬
Artinya : Tidaklah kalian masuk surga sampai beriman dan tidaklah beriman
hingga saling mencintai. Maukah engkau aku tunjukkan pada sesuatu yang
apabila kalian lakukan akan menjadikan kalian saling mencintai? Tebarkan salam
(HR Muslim no. 54).
Disunnahkan pula anak kecil memberikan salam kepada orang dewasa (tua),
orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang berjumlah lebih banyak dan
orang yang mengendarai kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan

7
2. Memenuhi undangannya.
Apabila kamu diundang, maka hadirilah undangan itu. Artinya apabila kita
diundang ke rumah orang yang mengundang kita maka datangilah. Sebab,
diantara manfaatnya adalah terjadinya pertemuan antar kaum muslimin dan
hubungan baik diantara mereka khususnya kerabat yang wajib disambung. Nabi
sendiri bersabda:
‫إِ َرا ُد ِع َي أَ َح ُذ ُم ٌْ إِىَى ْاى َ٘ىِي ََ ِت فَ ْييَأْحَِٖا‬
Artinya : Apabila diundang salah seorang kalian pada resepsi pernikahan maka
datangilah. (HR. Bukhari-Muslim).

3. Menasehati jika diminta.


Allah subhanahu wa ta‟ala memerintahkan kepada hamba-hambanya yang
beriman saling nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat
menasihati dalam bersabar satu sama lainnya, sebagaimana yang ditegaskan
dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.
AlAshr : 2-3)
Nasehat disini mencakup semua kebaikan kepada yang diberi nasihat baik
perkataan maupun perbuatan baik bersifat duniawi ataupun ukhrawi. Hendaknya
seorang muslim bila dimintai nasehat atau masukan yang baik oleh saudaranya
untuk memberikan tanpa ada kedustaan atau khiyanat.

4. Mengucapkan Tasymith jika ia bersin, lalu ia mengucapkan hamdallah.


Bagi orang muslim yang mendengar saudara muslimnya bersin dan
mengucapkan Alhamdulillah, maka disyariatkan baginya untuk mengucapkan
tasymit kepadanya. Bertasymit adalah mengucapkan kepada orang yang
bersin, "Yarhamukallah". Dan maksud utama dari kalimat tasymit adalah
mendoakan kebaikan untuk orang yang bersin dan dia memuji Allah. Jika tidak
memuji Allah maka tidak dibacakan tasymit kepadanya. Rasulullah Saw bersabda
:

8
: ْ‫هللاُ فَيْيَقُو‬
َّ ‫ل‬ َّ ‫ل‬
َ َُ ‫ يَشْ َح‬:َُٔ‫هللاُ فَإ ِ َرا قَا َه ى‬ َ َْٗ‫ اى َح َْ ُذ ِ ََّّللِ َٗ ْىيَقُوْ ىَُٔ أَ ُخُ٘ٓ أ‬: ْ‫س أَ َح ُذ ُم ٌْ فَ ْييَقُو‬
َ َُ ‫ يَشْ َح‬:ُُٔ‫صا ِحب‬ َ َ‫إِ َرا َعط‬
ٌْ ‫هللاُ َٗيُصْ يِ ُح بَاىَ ُن‬ َّ ٌُ ‫يَ ْٖ ِذي ُن‬

Artinya : Apabila salah seorang kalian bersin maka hendaknya mengucapkan;


Alhamdulillah dan saudaranya atau temannya hendaknya berkata: Yarhamukallah.
Apabila ia berkata kepadanya Yarhamukallah , maka orang yang bersin
hendaknya menjawab: Yahdikumullahu wa Yushlihu Baalakum. (HR al-Bukhari
no. 6224).

5. Menjenguknya bila ia sakit.


Diantara manfaat menjenguk orang sakit adalah menguatkan semangat
orang yang sakit untuk bersabar dan meyakinkannya bahwa Allah akan
menyembuhkannya serta semua yang menimpanya adalah penghapus dosa dan
kesalahannya.

6. Melayat dan mengantarkan jenazahnya sampai kepemakaman jika ia


meninggal dunia.
Melayat itu ialah menganjurkan ahli mayat (keluarga mayat) supaya
sabar, jangan berkeluh-kesah, mendo‟akan mayat supaya mendapat ampunan, dan
juga supaya malapetaka itu berganti dengan kebaikan. Sabda Rasulullah Saw:
Dari Usamah, Ia berkata, “Seorang anak perempuan Rasulullah Saw. telah
memanggil beliau serta memberitahukan bahwa anaknya dalam keadaan hamper
mati, Rasulullah Saw. berkata kepada utusan itu, „kembalilah engkau kepadanya,
dan katakana bahwa segala yang diambil dan yang diberikan – bahkan apa pun –
kepunyaan Allah. Dialah yang menentukan ajalnya, maka surulah ia sabar serta
tunduk kepada perintah‟.”(HR. Bukhari dan Mushlim).

Selain 6 hak diatas, masih banyak Akhlak terpuji seorang muslim terhadap
saudaranya sesama muslim lainnya meliputi :
1. Mencintai karena Allah
2. bersatu bagaikan sebuah bangunan
3. Tolong menolong

9
4. Membantu Saudara Yang Kesulitan
5. Menutupi a‟ib saudaranya sesama muslim
6. Mendoakan kebaikan
7.. Berprasangka baik
Berikut ini diulas secara sepintas hal-hal yang telah disyari‟atkan sebagai akhlak
dalam kehdiupan sosial kemasyarakatan sesama muslim sehingga dapat diperoleh
manfaat yang optimal.
1. Saling Mencintai sesama muslim karena Allah
Saling mencintai diantara sesama muslim telah diperintahkan oleh
Rasullullah shallallahu‟alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh imam Muslim rahimahullaah ta‟ala yang bersumber dari sahabat Anas bin
Malik radhyalllahu‟anhu: Shahih Muslim 60: dari Anas dari Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, dia berkata:
"Tiga perkara jika itu ada pada seseorang maka ia akan merasakan manisnya
iman; orang yang mana Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain
keduanya, mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah,
dan benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari
kekafiran tersebut sebagaimana ia benci untuk masuk neraka."

2. Sesama Muslim Yang Satu Dengan Lainnya Bagaikan Satu Bangunan


Antara kaum Muslim itu sama lainnya diibaratkan sebagai sebuah
bangunan yang saling mengokohkan. Bangunan akan kokoh apabila ditunjang
oleh banyak bagian yang satu sama lain saling mendukung, saling bekerja sama
memperkokoh sehingga bangunan tersebut dapat tegak berdiri. Dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullaah ta‟ala dari Abu Musa
radhyallaahu‟anhu disebutkan :
Shahih Muslim 4684: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu
Syaibah dan Abu 'Amir Al Asy'ari keduanya berkata; Telah menceritakan kepada
kami 'Abdullah bin Idris dan Abu Usamah; Demikian juga diriwayatkan dari
jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al A'laa Abu
Kuraib; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mubarak dan Ibnu Idris serta
Abu Usamah seluruhnya dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa dia

10
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang
satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang
lainnya saling mengokohkan.”

3. Saling Tolong Menolong


Sesama muslim juga diwajibkan untuk saling tolong menolong, yakni
tolong menolong dalam hal kebaikan dan takwa kepada Allah SWT. Hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam Al-Qur‟an surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS.Al Maidah
:2 ).

4. Membantu Meringankan Kesulitan Sesama Muslim


Membantu meringankan atau melepaskan kesulitan yang dihadapi oleh
seseorang dimata Allah subhanahu wa ta‟ala sangatlah besar sekali
artinya,mereka-mereka yang membantu melepaskan atau meringankan kesusahan
orang lain mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah pada hari kiamat kelak
dengan dilepaskannya dari satu kesusahan . Hal ini ditegaskan oleh Rasullullah
shallallaahu‟alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oelh imam Bukhari
rahimahullaah ta‟ala dari sahabat Abdullah bin Umar radhyallaahu‟anhu: Shahih
Bukhari 2262: dari Abdullah bin Umar radliallahu 'anhuma mengabarkannya
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya
dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan
saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang
menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu
kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang
menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari
qiyamat."

11
5. Sesama Muslim diperintahkan untuk Menutupi A‟ib Saudaranya
Maka tutupilah aib saudara-saudaramu, karena engkau tidak pernah akan
mampu memerangi Allah subhanahu wa ta‟ala Yang Maha Kuasa membuka
segala aibmu dan mengungkap segala dosamu, sementara manusia tidak ada yang
mengetahuinya. Dan kekanglah lisanmu dari pembicaraan menyangkut
kehormatan orang lain, mencari-cari kesalahan, dan merusak harga diri saudara-
saudaramu.
Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim
rahimahullaah ta‟ala dari Abu Hurairah mengabarkannya bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah
akan menutupi aibnnya di hari kiamat kelak." (HR Muslim No 4692)

6. Mendoakan Kebaikan Bagi Saudaranya Sesama Muslim


Saat seorang muslim mendoakan muslim lainnya yang berada jauh dari
tempatnya, tanpa sepengetahuannya, dengan doa-doa yang baik, niscaya doa
tersebut akan dikabulkan Allah dan doa tersebut juga akan mencakup orang yang
membacanya sendiri. Dari Ummu Darda‟ dan Abu Darda‟ Radhiyallahu „anhuma:
Rasullullah shallallahu‟alaihin wa sallam bersabda:
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di
hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang
berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali
orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang
menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang
serupa.” (HR. Muslim no. 2733, Abu Daud no. 1534, Ibnu Majah no. 2895 dan
Ahmad no. 21708).

7. Selalu Berprasangka Baik Kepada Sesama Muslim


Seseorang muslim akan termasuk dalam golongan orang-orang yang ber
akhlak yang baik apabila ia selalu berprasangka baik ( Positif tinking) kepada
saudaranya sesama muslim. Dugaan apapun yang timbul dalam dirinya terhadap
saudaranya sesama muslim yang lain selalu berkaitan dengan kebaikan bukan hal-

12
hal yang bersifat keburukan . Dengan adanya prasangka yang selalu baik
terhadap orang lain maka orang tersebut terlepas dari sifat berbuat zhalim.
Prasangka baik menghilangkan kecurigaan yanmg biasanya muncul pada diri
orang-orang yang hatinya berpenyakit.
Berkaitan dengan itu Imam Bukhari rahimahullaah ta‟ala meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah radhyalllahu‟anhuma: Shahih Bukhari 5606: dari Abu
Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda:
"Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk ucapan yang paling
dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling
menipu dalam jual beli, saling mendengki, saling memusuhi dan janganlah saling
membelakangi, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara."

D. Manfaat Akhlak Mulia dalam kehidupan sosial Kemasyarakatan


Akhlak mulia dalam kehdiupan sosial ini demikian ditekankan, karena
disamping akan memabawa kebahagiaan bagi masyarakat pada umumnya, juga
sekaligus membawa kebahagiaan pada setiap individu yang melakukannya.
Dengan kata lain, akhlak yang ditampilan seseorang manfaatnya adalah untuk
orang yang bersangkutan.
Al-quran dan hadist banyak sekali memberi informasi tentang manfaat akhlak
mulia itu. Sebagaimana Allah SWT berfirman :
a. QS. Al-Nahl : 97
۟ ًُ‫س ِي َها َكا‬
‫ىا‬ َ ‫صلِ ًحا ِّهي َذ َك ٍر أَ ْو أًُثَ َٰى َوه َُى ُهؤْ ِهيٌ فَلٌَُ ْحيِيٌََّ ۥهُ َحيَ َٰىجً طَيِّثَحً ۖ َولٌََ ْج ِز َيٌَّ ُه ْن أَ ْج َرهُن ِتأَ ْح‬
َ َٰ ‫َهيْ َع ِو َل‬
َ‫يَ ْع َولُىى‬

Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun


perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan.
b. QS. Al-kahf : 88

13
ْ ُ‫سٌَقُى ُل لَ ۥهُ ِهيْ أَ ْه ِرًَا ي‬
‫س ًرا‬ َ َٰ ‫َوأَ َّها َهيْ َءا َهيَ َو َع ِو َل‬
ْ ‫صلِ ًحا فَلَ ۥهُ َج َز ٓا ًء ٱ ْل ُح‬
َ ‫سٌَ َٰى ۖ َو‬

Artinya : Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya
pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah)
yang mudah dari perintah-perintah kami".
Ayat- ayat tersebut di atas dengan jelas menggambarkan keuntungan atau
manfaat akhlak mulia, yang dalam hal ini beriman dan beramal saleh. Mereka itu
akan memperoleh kehidupan baik, mendapatkan rezeki yang melimpah ruah dan
mendapatkan pahala yang berlipat ganda di akhirat dengan masuknya kedalam
surga.
Selanjutnya, di dalam hadist juga banyak dijumpai keterangan tentang
datangnya manfaat dari akhlak mulia. Manfaat itu diantaranya adalah :
1. Mempermudah perhitungan amal di akhirat
Nabi bersabda :
، َ‫ تُ ْع ِطي َهيْ َح َر َهك‬:‫َّللاِ؟ قَا َل‬ ُ ‫ لِ َويْ يَا َر‬:‫سي ًرا َوأَد َْخلَهُ ا ْل َجٌَّحَ تِ َر ْح َوتِ ِه قَالُىا‬
َّ ‫سى َل‬ ِ َ‫ساتًا ي‬ َّ ُ‫سثَه‬
َ ‫َّللاُ ِح‬ َ ‫ث َهيْ ُكيَّ فِي ِه َحا‬ٌ ‫ثَ ََل‬
َ ‫ص ُل َهيْ َق‬
‫ط َع َك‬ َ ْ‫َوتَ ْعفُى َع َّوي‬
ِ َ‫ َوت‬،‫ظلَ َو َك‬

Artinya : “Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah
dan akan dimasukkan ke surga dengan Rahmat-Nya. Sahabat bertanya, bagi siapa
itu wahai Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam? Nabi bersabda: Engkau
memberi orang yang menghalangimu (kikir ), engkau memaafkan orang yang
mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang
memutuskan silaturrahim denganmu, ” (HR Al-Hakim).
2. Selamat Hidup di Dunia dan Akhirat
Nabi Bersabda :
‫ والقصد في الفقر والغٌى‬،‫ و العدل في الرضا و الغضة‬،‫ خشيح َّللا تعالى في السر و العَلًيح‬: ‫ثَلث هٌجياخ‬

Artinya : “Ada tiga perkara yang dapat menyelamatkan manusia, yaitu takut
kepada Allah di tempat yang tersembunyi maupun di tempat yang terang, berlaku
adil pada waktu rela maupun pada waktu marah, dan hidup sederhana pada waktu
miskin maupun waktu kaya.”(HR Abu Syaikh).

14
3. Menghilangkan kesulitan
Nabi bersabda :
ِ ‫س َّللاُ َع ٌْهُ ُك ْرتَحً ِهيْ ُك َر‬
‫ب يَ ْى ِم ْالقِيَا َه ِح‬ ِ ‫س عَيْ ُهؤْ ِه ٍي ُك ْرتَحً ِهيْ ُك َر‬
َ َّ‫ب الدًُّيَا ًَف‬ َ َّ‫َهيْ ًَف‬
Artinya : “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang
lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan
darinya satu kesulitan pada hari kiamat, ” ( HR. Muslim)

Uraian tersebut baru menjelaskan sebagian kecil dari manfaat atau


keberuntungan yang dihasilkan sebagai akibat dari akhlak mulia yang dikerjakan.
Tentunya masih banyak lagi keberuntungan dari akhlak mulia itu yang tidak
disebutkan di sini. Namun, dengan menyebutkan isi saja rasanya sudah cukup
untuk mendukung pertanyaan di atas, bahwa Akhlak Yang Mulia Itu akan
membawa keberuntungan. Ini hukum Tuhan yang pasti terjadi dan sangat efektif
dengan hukum Tuhan lainnya. Banyak bukti yang dapat dikemukakan yang
dijumpai dalam kenyataan sosial bahwa orang yang berakhlak mulia itu semakin
beruntung. Orang yang baik akhlaknya pasti disukai oleh masyarakatnya,
kesulitan dan penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan, walaupun ia tidak
mengharapkannya. Peluang, kepercayaan dan kesempatan datang silih berganti
kepadanya. Kenyataan juga menunjukkan bahwa orang yang banyak bersedekah
tidak menjadi miskin atau sengsara, tetapi malah berlimpah ruah hartanya.
Sebaliknya jika Akhlak Yang Mulia itu telah sirna, dan berganti dengan akhlak
yang tercela, maka kehancuran pun akan segera datang menghadangnya.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Akhlak berasal dari Bahasa Arab, Jamak dari Khuluq, yang artinya tabiat, budi
pekerti, watak, atau kesopanan.

Beberapa ahli yang mengemukakan istilah akhlak diantaranya :

1.ibnu miskawaih.

2. Al-Qurthubi.

3. Muhammad bin ilan Ash-Shiddieqy.

4. Abu bakar jabir Al-Jazairi.

5. Imam Al-Ghazali.

2. Manusia disebut sebagai makhluk sosial. Artinya manusia memiliki kebutuhan


dan kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi
dengan manusia yang lain, selanjutnya interaksi ini berbentuk kelompok.

Adapun dalil al-quran yang menerangkan bahwa manusia adalah makhluk


sosial di bawah ini :

َّ ‫َٰيََٰٓأَيَُّٖا ٱىَّْاسُ إَِّّا خَ يَ ْق ََْٰ ُنٌ ٍِِّ َر َم ٍش َٗأُّثَ َٰى َٗ َج َع ْي ََْٰ ُن ٌْ ُشعُ٘بًا َٗقَبَآَٰئِ َو ىِخَ َعا َسفُ َٰٓ٘ ۟ا ۚ إِ َُّ أَ ْم َش ٍَ ُن ٌْ ِعْ َذ‬
َّ َُّ ِ‫ٱَّللِ أَ ْحقَ َٰى ُن ٌْ ۚ إ‬
ٌٌ ‫ٱَّللَ َعيِي‬
‫َخبِيش‬

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang


laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang
yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

16
3. Mengenai hubungan dengan sesama muslim, maka tidak terlepas dengan
tetangga, famili atau kerabat, teman, rekan kerja maupun masyarakat muslim.

akhlak sosial antara muslim satu kepada muslim lainnya yaitu:

1. Mengucapkan salam ketika berjumpa.

2. Memenuhi undangannya.

3. Menasehati jika diminta.

4.Mengucapkan Tasymit jika ia bersin, lalu ia mengucapkan hamdallah.

5. Menjenguknya bila ia sakit.

6. Melayat dan mengantarkan jenazahnya sampai ke pemakaman jika ia


meninggal dunia.

4. Orang yang baik akhlaknya pasti disukai oleh masyarakatnya, kesulitan dan
penderitaannya akan dibantu untuk dipecahkan, walaupun ia tidak
mengharapkannya. Peluang, kepercayaan dan kesempatan datang silih
berganti kepadanya. Kenyataan juga menunjukkan bahwa orang yang banyak
bersedekah tidak menjadi miskin atau sengsara, tetapi malah berlimpah ruah
hartanya.

Sebaliknya jika Akhlak Yang Mulia itu telah sirna, dan berganti dengan
akhlak yang tercela, maka kehancuran pun akan segera datang
menghadangnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Djanika, Rachmat. 1996. Sistem Etika Islam (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka
Panjimas.

Miskawaih, Ibnu. 1934. Tahzib Al-akhlak Wa Tathhir Al-A'raq. Mesir : Al-


mathaba'ah al-Mishriyah

Syukur, Amin. 2004. Tasawuf Sosial. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hamka, Buya. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz 26, 27, 28. Surabaya: H. Abdul Karim.

Nata, Abuddin. 2008. Akhlak Tasawuf. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Al-ghazali, Imam.1989. Ihya'ulum al-Din jilid III. Beirut : Dar al-fikr.

18