Anda di halaman 1dari 6

1.

         Komunikasi Pendidikan.
a.        Konsep dasar komunikasi pendidikan.
                   Menurut UU RI Nomor 20 Th 2003 tentang sikdiknas, pasal 1 ayat (1) yaitu pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
                   Menurut Frederick J. Mc Donald pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang
diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia atau setiap tanggapan, perubahan seseorang.
22
 

                   Menurut Fuad Ihsan dalam buku dasar-dasar pendidikan, menyatakan bahwa


pendidikan merupakan suatu kebutuhan hidupsecara mutlak bagi umat manusia yang harus
dipenuhi sepanjang hayat. 
Menurut Zakiyah Darajat menuturkan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha untuk
membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran secara
menyeluruh.[1]
                   Komunikasi pendidikan merupakan sebuah proses dan kegiatan komunikasi yang
dirancang secara khusus untuk tujuan meningkatkan nilai tambah bagi pihak sasaran, yang
sebenarnya dalam banyak hal adalah untuk meningkatkan literasi pada banyak bidang yang
bernuansa teknologi, komunikasi, dan informasi.[2] Komunikasi pendidikan yang dimaksud
adalah komunikasi yang sudah merambah atau menyentuh dunia pendidikan dengan segala
aspeknya.
                   Komunikasi pendidikan akan menunjukan arah proses komunikasi sosial atasrealitas
pendidikan. Sebagaimana dikatakan teoretis sosiologi pengetahuan Peter L. Berger dan Thomas
Luckman dalam Social Construction Of Reality. Realitas itu dikonstruksi oleh makna-makna
yang dipertukarkan dalam tindakan dan interaksi individu-induvidu.
                   Secara sederhana komunikasi dapat diartikan sebagai komunikasi yang terjadi dalam
suasana pendidikan. Dengan demikian komunikasi pendidikan adalah proses perjalanan pesan
atau informasi yang merambah bidang atau peristiwa-peristiwa pendidikan. Di sini komunikasi
tidak lagi bebas atau netra, tetapi dikendalikan dan dikondisikan untuk tujuan-tujuan pendidikan,
proses pembelajaran pada hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari
pengantar ke penerima.
                   Komponen pendidikan adalah semua hal yang berkaitan dengan jalanya proses
pendidikan jika salah satu komponen pendidikan tidak ada, maka proses pendidikan tidak akan
bisah dilaksanakan.[3]
b.        Proses komunikasi pendidikan.
                   Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari
pengantar kepenerima. Pesan yang disampaikan berupa isi atau ajaran yang ditujukan kedalam
symbol-simbol komunikasi, baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun non verbal. Proses ini
dinamakanencoding. Penafsiran symbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa
dinamakan decoding.[4]
1)        Komunikasi Verbal.
                   Komunikasi verbal (verbal communication). Merupakan salah satu bentuk komunikasi
yang disampaikan kepada pihak lain melalui tulisan (written) dan lisan (oral). Mengirimkan
sesuatu kepada seseorang, atau menelepon orang tua, teman pacar; berbincang-bincang atau
mengobrol dengan teman, membaca puisi di depan kelas, mempresentasikan makalah dalam
suatu acara seminar, membaca surat kabar, majalah, jurnal, mendengarkan radio, menonton
televise dan sejenisnya, merupakan contoh bentuk-bentuk komunikasi verbal.[5]
2)        Komunikasi Nonverbal.
                   Sebelum manusia menggunakan kata-kata, manusia telah menggunakan gerakan-gerakan
tubuh, atau lebih dikenal dengan bahasa isyarat (body langguage) sebagai alat untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Seperti menggigit gigi untuk menunjukkan kemarahan (dalam
bahasa jawa disebut getem-getem). Tersenyum dan berjabat tangan dengan orang lain untuk
mewujudkan rasa senang, simpati dan penghormatan. Membuang muka untuk menunjukkan
sikap tidak senang terhadap orang lain. Menggelengkan kepala untuk menunjukkan sikap
menolak. Itu semua adalah bentuk contoh komunikasi nonverbal.
                   Dalam komunikasi nonverbal orang dapat mengambil suatu kesimpulan tentang berbagai
macam perasaan orang. Baik rasa senang, benci, cinta, rindu dan berbagai macam perasaan
lainya. Komunikasi nonverbal memiliki sifat yang kurang terstruktur sehingga sulit di pelajari.[6]
       Tujuan komunikasi nonverbal.
                   Meskipun komunikasi nonverbal dapat berdiri sendiri, ia seringkali berkaitan erat dengan
ucapan (lisan).
                   Menurut John V. Thil dan Courtland Bovee dalam Excellence In Business
Communication bahwa komunikasi nonverbal mempunyai enam tujuan, yaitu:
1.         Menyediakan atau memberikan informasi.
2.         Mengatur alur suatu percakapan.
3.         Mengekspresikan emosi.
4.         Memberi sifat, melengkapi, menentang atau mengembangkan pesan-pesan verbal.
5.         Mengendalikan atau mempengaruhi orang lain.
6.         Mempermudah tugas-tugas khusus, misalnya dalam mengajar seseorang untuk memperlancar golf.[7]

3)        Signifikansi komunikasi pendidikan


                   Menurut yusuf signifikansi komunikasi pendidikan terjadi pada proses sebagai berikut :
a.         Kegagalan komunikasi pendidikan atau komunikasi intruksional yang sering terjadi dilapangan,
tampaknya lebih banyak disebabkan oleh salah satu unsure dalam komponen terjadinya proses
pendidikan dan instruksional, yang dalam pandangan psikologi kognitif disebut sebagai struktur
kognitif seseorang, baik dalam kedudukannya sebagai komunikator.
b.         Para guru dan praktisi kominikasi instruksional dilapangan sering tidak memahami beragam
pendekatan dalam pelaksanaan instruksionalnya.
c.         Aspek-aspek psikologi, seperti kemampuan dan kapasitas kecerdasan yang dimiliki oleh
manusia, minat, bakat, motifasi, perhatian, sensasi, persepsi, ingatan, retensi, factor lupa,
kemampuan mentransfer dan berfikir kognitif, sering tidak dapat perhatian dalam kegiatan
komunikasi pendidikan terutama oleh komunikator instruksional.
d.        Model komunikasi terbuka tampanya lebih cocok untuk ditetapkan dalam kegiatan pendidikan,
termasuk didalmnya kegiatan instruksional karena sifatnya yang lebih dapat member peluang
untuk saling mengontrol kesalahan-kesalahan yang mungkin ada, baik bagi komunikator sendiri
maupun bagi komunikan belajar (sasaran).
e.         Dalam pandangan psikologi belajar kognitif, proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar
dan mempunyai arti yang jelas jika antara informasi yang satu dan informasi yang lain terdapat
kaitan atau rangkaian yang terkeit dalam struktur kognitif seseorang.
f.          Komunikator pendidikan jika ingin menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya, diisyaratkan
menggunakan dengan logika berfikir yang sama dengan logika berfikir yang dimiliki oleh pihak
komunikan belajar (sasaran).
g.         Para komunikator praktissi lapangan sering tidak memanfaatkan sumber-sumber belajar yang
tersedia dipusat sumber belajar bersama yang dikelola oleh perpustakaan.
h.         Memanfaatkan media instructional. Para komunikator pendidikan belum banyak memanfaatkan
multimedia untuk tujuan instruksional.
Pendekatan information literacy dan media literascy dalam setiap praktik instructional 

[1] Sitikholifah,”Komunikasi Pendidikan”,Http://Blog.Umy.Ac.Id/Sitikholifah/2012/11/18/   Komunikasi-
Pendidikan/, Di Akses Pada 17 April 2013.
[2] Pawit M. Yusuf, Komunikasi Intruksional (Jakarta : Bumi Aksara, 2010) 02.
[3] Wiji Suarno,”Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan”,(Jogjakarta, Arzz Media, 2006),Hal:33.
[4] Ngainun Naim, Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan (Yogyakarta : Ar-Ruzz Media,   2011) Hal 28.
[5] Djoko Purwanto,”Komunikasi Bisnis”(,Jakarta,Penerbit Erlangga,1997),Hal 2.
[6] Djoko Purwanto,”Komunikasi Bisnis”,(Jakarta,Penerbit Erlangga,1997),Hal 6.
[7] Djoko Purwanto,”Komunikasi Bisnis”,(Jakarta,Penerbit Erlangga,1997),Hal 7.
Peran Komunikasi dalam Pendidikan

Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari memegang peranan yang penting, karena setiap saat semua orang atau
kelompok sudah tentu melakukan interaksi. 
Bila tak ada komunikasi maka yang akan terjadi dalam kehidupan adalah ketidakharmonisan maupun
ketidakcocokkan. Memang setiap orang akan memiliki pemikiran dan pendapat yang berbeda-beda, tetapi ide
tersebut bisa dipersatukan melalui komunikasi. Bila tetap berbeda maka itu menjadi suatu hal yang biasa di alam
demokrasi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana membangun komunikasi itu yang menyenangkan sehingga
tujuan bisa tercapai, meski ada perbedaan pendapat. Bila komunikasi tidak berjalan dengan baik maka bisa
menghambat suatu roda organisasi. Hal ini pun bisa terjadi dalam dunia pendidikan. Bahkan semua bidang disiplin
ilmu pasti membutuhkan yang namanya komunikasi. Disinilah pentingnya membangun komunikasi yang. Secara
harfiah, komunikasi dapat diartikan sebagai kesamaan makna dalam menyampaikan suatu pesan. Lebih jelas bahwa
dalam berkomunikasi itu dibicarakan suatu topik yang sama.  Kata atau istilah komunikasi dalam Bahasa Inggris
adalah communication. Secara etimologis atau asal katanya adalah dari bahasa Latin yakni communicatus, dan
perkataan ini bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi
milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. (Adi
Prakosa). Dalam Kamus Inggris Indonesia (John M. Echlos:1996) ditemukan kata communication, yang berarti
hubungan, komunikasi, pemberitahuan, pengumuman, dan sebagainya.  Yang jelas komunikasi itu lebih kepada
menyampaikan suatu pesan yang dilakukan oleh komunikator (orang yang menyampaikan pesan) kepada ko-
munikan (penerima pesan) yang disertai sarana untuk mencapai suatu tujuan dengan ditandai adanya reaksi dari
komunikan itu dalam merespon isi pesan tersebut. Karena dalam komunikasi harus ada timbal balik (feed back)
antara komunikator dengan komunikan.  Begitu juga dengan pendidikan membutuhkan komunikasi yang baik,
sehingga apa yang disampaikan, dalam hal ini materi pelajaran, oleh komunikator (guru) kepada komunikan (siswa)
bisa dicerna dengan optimal, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai bisa terwujud.
Terkait komunikasi dalam pendidikan, ada sejumlah orang yang berperan yakni guru dan siswa. Guru merupakan
orang yang dianggap mampu mentransfer materi ajar, gagasan, wawasan lainnya kepada siswa haruslah dipandang
sebagai sebuah proses belajar mengajar. Tetapi guru juga tidak boleh anti kritik. Justru dengan kritik dan saran itu
akan menambah wawasan lain dan timbal balik dalam belajar akan semakin hidup dan menyenangkan. Jangan
sampai guru memiliki sifat otoriter atas semua kebijakan di sekolah saat mengajar. Jangan jadikan siswa sebagai
objek. Justru sebaliknya, siswa harus dijadikan subjek dalam sebuah pembelajaran.  Di sinilah pentingnya seorang
guru memiliki komunikasi yang lancar, baik dan mampu menggerakkan siswa untuk melakukan interaksi. Membuat
suasana belajar menyenangkan, nyaman, dan tak tertekan. Guru bukan hanya sebagai orang yang mengajar, tetapi
lebih dari itu yakni sebagai orang tua, rekan, maupun sahabat. Karena ada siswa yang tidak mau terbuka kepada
orang tua, tetapi kepada guru bisa terbuka terkait dengan persoalan atau masalah yang sedang dihadapinya, sehingga
rasa kasih sayang dari seorang guru kepada siswa akan menjadikan motivasi tersendiri. Kemudian guru yang
berperan sebagai teman harus mampu membuat siswa bergaul dengan leluasa dalam artian ada batasnya. Jelas ini
akan menambah percaya diri siswa dalam belajar. Karena pada hakikatnya tujuan komunikasi itu adalah bagaimana
bisa dan mampu merubah suatu sikap (attitude), pendapat (opinion), perilaku (behavior), ataupun perubahan secara
sosial (social change).  Perubahan sikap seorang komunikan (siswa) setelah materi dari guru (komunikator) ter-
gambar bagaimana sikap siswa itu dalam keseharian baik di sekolah maupun lingkungannya. Tentunya perubahan
itu ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya. Kemudian perubahan pendapat siswa akan terjadi bila gagasan yang
diberikan guru bersifat global. Jelas siswa akan menangkap materi ajar itu berbeda-beda, siswa akan mampu
menafsirkan apa yang diajarkan oleh guru tadi yang kemudian bisa mengeluarkan penadapat atau beropini. Begitu
juga dengan perubahan prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya apakah prilaku siswa sudah sesuai apa yang
dicontohkan di sekolah, misalnya cuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum tidur dan lain-lain. Yang tak kalah
pentingnya adalah perubahan sosial, karena persoalan ini lebih kepada hubungan interpersonal, menjadikan
hubungan yang lebih baik.
Daftar Pustaka
1. Arief Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004).
2. Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang : Bumi Aksara, 1994).
3. Dadang Sulaeman dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP, 1983).
4. I. Nyoman Bertha, Filsafat dan Toeri Pendidikan, (Bandung : FIP IKIP. 1983).