Anda di halaman 1dari 14

PENGANTAR KOMUNIKASI

Ditulis pada April 27, 2012


A. Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan terjemahan kata communication yang berarti perhubungan atau perkabaran.
Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin communication dari kata dasar communis
yang artinya sama. Secara terminologis, komunikasi diartikan sebagai pemberitahuan sesuatu (pesan)
dari satu pihak ke pihak lain dengan menggunakan media. Pengertian menurut beberapa
ahli : Menurut J.A Devitokomunikasi merupakan suatu tindakan oleh satu orang atau lebih yang
mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan terjadi dalam satu konteks tertentu,
mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik (J.A. Devito,
1997).  Menurut Wibowo komunkasi merupakan aktifitas menyampaikan apa yang ada dipikiran,
konsep yang kita miliki dan keinginan yang ingin kita sampaikan pada orang lain. Atau sebagai seni
mempengaruhi orang lain untuk memperoleh apa yang kita inginkan. (B.S.Wibowo, 2002).
 Menurut Astrid komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti/makna
yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi  Menurut
Roben.J.G komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi
tentang pikiran atau perasaan  Menurut Davis komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi
dan pengertian dari satu orang ke orang lain  Menurut Scham,W komunikasi adalah berusaha
untuk mengadakan persamaan dengan orang lain.  Komunikasi adalah penyampaian dan
memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul
PRT, Lembaga Administrasi).
B. Pengertian Peran Komunikasi dalam Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi yang baik sangat penting untuk berinteraksi antar personal
maupun antar masyarakat agar terjadi keserasian dan mencegah konflik dalam lingkungan
masyarakat. Dalam hubungan bilateral antar negara diperlukan juga komunikasi yang baik agar
hubungan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar. Contoh Manfaat komunikasi adalah dalam
hubungan bilateral antar negara, seperti yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia. Dengan
adanya komunikasi yang terjalin dengan baik maka timbul kerjasama dalam berbagai bidang yang
mana berdampak positif bagi kedua negara tersebut. Sebaliknya, Miss Communication (terjadinya
kesalahan dalam salah satu proses komunikasi) akan menyebabkan tidak tercapainya tujuan atau misi
yang hendak di capai. Seperti yang terjadi dalam hubungan Indonesia dengan Australia, dimana
pihak Australia menganggap pernyataan Indonesia mengenai “Negara Bebas Teroris” di terjemahkan
oleh Australia sebagai “Indonesia Gudang Teroris”. Hal ini menyebabkan dampak yang kurang baik
dalam hubungan kedua negara tersebut. Dari kedua contoh di atas dapat kita simpulkan bahwa
komunikasi sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Contoh lain dalam pendidikan seperti
hubungan dosen dengan mahasiswa,dengan adanya komunikasi,maka kegiatan belajar- mengajar
akan berlangsung dengan baik dan lancar.

C. Pengertian Peran Komunikasi dalam Pendidikan

Disebut juga dengan informasi kependidikan dan komunikasi pendidikan, sebab


terjadinya komunikasi memang di dunia pendidikan. Pengertian lengkapnya memang tidak bisa
dijelaskan hanya menggunakan betasan-batasan ringkas saja, karena seperti pengertian
komunikasi umumnya, tidak mungkin dibuatkan definisinya secara ringkas, tunggal, dan tegas.
Komunikasi pendidikan pun demikian, meskipun dalam hal ini sudah disentuhkan ke dalam
bidang pendidikan. Pendidikan merupakan proses yang panjang, yang melibatkan banyak unsur
seperti pendidik, administrator pendidikan, proses, komunikasi, peserta didik, pesan-pesan atau
informasi pendidikan, dan adanya tujuan-tujuan yang dicapai dari proses pendidikan dimaksud.
Itu untuk pendidikan formal. Lantas kalau pengertian pendidikan di dalam keluarga, di
masyarakat, di pesantren, dan di lembaga-lembaga pendidikan luar sekolah lainnya, tentunya
tidak seperti itu unsur-unsurnya. Dan pengertiannya pun menjadi berbeda. Pada pelaksanaan
pendidikan formal atau pendidikan melalui lembaga-lembaga pendidikan sekolah, tampak jelas
bahwa proses komunikasi sangat dominan kedudukannya. Hal ini setidaknya tampak dalam
proses instruksional, yang dalam dunia pendidikan sampai saat ini masih menduduki posisi
dominan. Gambar pada halaman berikutnya menunjukkan proses pendidikan. Di situ tampak
bahwa pendidikan bukan sekadar mengajari anak-anak supaya menjadi lebih baik, menjadi
pintar, atau sekadar berkomunikasi dengan mereka yang isinya memberi nasehat supaya mereka
berperilaku baik. Namun sudah semakin kompleks, karena melibatkan banyak unsur di
dalamnya. Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan komunikasi dalam pendidikan. Yang
jelas proses pendidikan memang sebagian besar hanya bisa dilakukan melalui adanya proses
komunikasi dan keterlibatan informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa
melalui komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar, memberikan data dan
fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan kalimat yang baik dan benar, semuanya hanya
bisa dilakukan dengan penggunaan informasi komunikatif. Masalahnya adalah pada jenis
komunikasi yang bagaimana dan informasi jenis apa yang biasa dan sering digunakan untuk
tujuan dan menggarap bidang pendidikan. Jadi dengan kata lain adalah komunikasi yang
digunakan dalam lingkungan pendidikan, atau komunikasi pendidikan yang lebih langsung
mempunyai makna menyatu dalam pendidikan. Pengertian umumnya adalah proses komunikasi
yang dirancang atau dipersiapkan secara khusus untuk tujuan-tujuan penyampaian pesan-pesan
atau informasi pendidikan. Berbeda dengan komunikasi untuk hal-hal yang lainnya, komunikasi
pendidikan mempunyai tujuan yang jelas, yakni untuk merubah perilaku sasaran ke arah yang
lebih berkualitas, ke arah positif. Komunikasi pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk itu,
karena memang harus bisa dipertanggung jawabkan pada akhir dari suatu proses yang
dilaksanakannya, yakni melalui suatu evaluasi hasil pendidikan. Jika hasil dari evaluasinya
menunjukkan nilai yang jelek, itu bukan semata-mata kekurangberhasilan peserta pendidikan
dalam mengikuti proses komunikasi pendidikan, melainkan juga menunjukkan kegagalan
komunikasi pendidikan yang disampaikan oleh komunikator pendidikan di lapangan. Kalau
siswa bodoh, bukan semata-mata siswanya yang tidak pandai, melainkan gurunya yang tidak
berhasil menyampaikan pesan-pesan pendidikan melalui penggunaan proses komunikasi yang
tepat. Dengan kata lain informasi pendidikan yang disampaikannya tidak komunikatif, atau
mungkin juga karena yang disampaikan atau dikomunikasikannya bukan informasi pendidikan.
Hal ini demikian, sebab, bisa saja misalnya sang guru dalam menyajikan materi pendidikannya
terlalu tinggi tingkat penalarannya, mungkin juga tidak runtut penyampaiannya, salah
menggunakan metode komunikasi, salah memilih strategi, kurang cocok menggunakan media
komunikasi, dsb. Banyak kemungkinan mengapa pendidikan tidak berhasil.

D. Beberapa Kesalahan Pemahaman dalam Komunikasi

Dalam komunikasi terdapat beberapa hambatan yang ada, hambatn-hambatan tersebut antara lain
sebgai berikut : 1. Bahasa : Dalam komunikasi peranan bahasa sangat penting karena bahasa
merupakan salah satu alat bahasa verbal yang digunakan dalam berkomunikasi. Bila dalam suatu
komunikasi ada kesalahpahaman yang terjadi yang disebabkan oleh bahasa itu akan menjadi
hambatan dalam komunikasi . 2. Budaya : Budaya juga sangat penting dan berpengaruh. Bila dalam
komunikasi ada perbedaan latar budaya dan tidak terdapat titik temu antar satu dengan yang lain hal
ini dapat menjadi bomerang dalam proses komunikasi sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman
antar personal yang dapat membuat perpecahan. 3. Kebenaran yang semu : Maksud dari kebenaran
yang semu adalah benar tidak dan salahpun juga tidak. Dan dalam kata-kata yang digunakan ada
bumbu kebohongan di dalamnya. Dalam sebuah komunikasi harus ada kejelasan ataupun kejujuran
agar ada keterbukaan antar personal. 4. Penipuan : Hambatan komunikasi yang lain adalah
penipuan. Dalam sebuah komuikasi bila terjadi penipuan akan merusak keakraban yang sudah terjadi
dan sudah terpelihara selama ini.5. Tujuan yang tidak jelas : Dalam komunikasi harus ada kejelasan
dalam berhubungan agar ada tujuan yang pasti, apabila tidak ada tujuan yang jelas akan terjadi hal-
hal yang tidak diinginkan. Misalnya misskomunikasi yang dapat memecahkan hubungan antar
sahabat ataupun hubungan antar personal yang lainya. 6. Salah paham : Terkadang di dalam suatu
komunikasi terjadi salah paham dalam interpretasi, respon, dan asumsi. Dan ini membuat suatu
kesalahpahaman dalam berkomunikasi sehingga dari kesaahpahaman ini bisa terjadi perusakan suatu
komunikasi. Selain itu apabila kesalahpahaman terus berlanjut dalam suatu hubungan komunikasi.
Hubungan komunikasi antar personal tersebut bisa pecah atau ada pemutusan hubungan. 7. Sisi
historis/ pengalaman : Setiap orang pasti memiliki pengalaman sendiri-sendiri bila dari pengalaman
orang yang satu dengan yang lain tidak ada titik temu maka terjadi kesalahpahaman. Dan bila orang
yang bersangkutan tidak segera memperbaiki bisa saja terjadi perusakan yang berakhir dengan
pemutusan suatu hubungan atau komunikasi. 8. Menganggap enteng lawan bicara : Dalam suatu
komunikasi atau hubungan kita harus bisa menghormati antar personal agar tercipta suatu hubungan
yang harmonis. Tapi apabila tidak ada rasa saling menghormatimaka akan terjadi hal-halyang tidak
diiiginkan misalnya pemutusan hubungan. 9. Mendominasi pembicaraan : Komunikasi dua arah
akan berhasil bila kita saling mengisi dan melengkapi. Bila ada seorang yang lebih mendominasi
suatu pembicaraan komunikasi tersebut tidak akan efektif dan tidak akan berjalan dengan lancar. 10.
Pihak ketiga : Ketika terjadi komunikasi dua arah jangan sampai ada pihak ketiga yang datang
karena pihak ketiga atau orang yang tidak diundang dapat merusak suatu komunkasi yang sudah
terbina dari awal. Hal ini dapat terjadi karena pihak ketiga tidak tahu dari awal apa yang terjadi
dalam komunikasi dua arah yang sebelumnya dan dai bisa merusak sedikit demi sedikit komunikasi
atau hubungan yang sudah tercipta sebelumnya.
E. Pentingnya Komunikasi

1. Personal Life

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yamg menggambarkan perilaku kerjasama dan saling
mendukung antar dua orang atau lebih . Dalam pengertian ini , istilah-istilah persahabatan
mengambarkan suatu hubungan yang melibatkan beberapa hal. Hal tersebut antara lain bahwa
sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukan kesetiaan satu sama lain. Mereka
juga akan terlibat dalam perilaku saling menolong, saling memberi seperti tukar menukar nasehat
saling memberi masukan dan menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang akan
memperlihatkan perilaku yang bebalasan dan reflektif. Meskipun demikian bagi banyak orang
persahabatan seringkali tidak lebih dari pada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan
merugikan dan menyakiti mereka. Nilai yang terdapat dalam persahabatan sering kali apa yang di
hasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan perlakuan yang konsisten, perlakuan tersebut antara
lain: • Perlakuan memberikan apa yang terbaik bagi satu sama lain • Simpati atau empati •
Kejujuran ,meskipun dalam keadaan-keadaan yang sulit bagi orang lain untuk mengucapkan
kebenaran • Saling pengertian Dalam konteks persahabatan ada 3 hal pedoman untuk memupuk
kepercayaan komunikasi antar personal di dalam hubungan persahabatan, yaitu : 1. Berusaha aktif
memperluas kepercayaan terhadap sesuatu yang terjadi di sekeliling kita, meskipun pada sebagian
orang, hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. 2. Kepercayaan terhadap orang lain haruslah
bersifat sementara, dilakukan sedikit demi sedikit dengan memberikan penjelasan mengenai apa yang
kita kawatirkan “ apa yang kita terapkan dari teman kita “, serta “ apa yang ingin kita capai “. 3.
Kepercayaan tidak banyak diberikan tetapi juga diperoleh. Ketika kita menjalani hubungan
persahabatan, kita akan mengharapkan adanya kepecayaan terhadap sahabat kita dan juga akan
memberikan kepercayaan kepadanya. Selain kepercayaan, kita juga perlu mengembangkan ras
tanggung jawab dalam membina hubungan persahabatan yang baik.

2. Relationship

Masalah komunikasi ini adalah inherent (melekat = sangat penting) terhadap kebutuhan manusia.
Demikian pula halnya pada sebuah organisasi bisnis, komunikasi merupakan sumber kehidupannya.
Jalur komunikasi internal yaitu komunikasi di dalam organisasi, sangat penting untuk kelancaran
jalannya roda organisasi. Komunikasi internal dapat memotivasi para pegawai di dalam organisasi
agar bekerja lebih efisien. Mereka memerlukan informasi yang tepat, menerima kejelasan tugas dan
pengarahan dan mereka juga memerlukan kejelasan tujuan organisasi, prosedur, dan penyelesaian
hal-hal yang bersifat kabur dan kontradiksi. Sedangkan komunikasi eksternal diperlukan untuk
berkomunikasi dengan orang-orang lain diluar organisasi, seperti relasi, langganan, konsumen atau
dengan masyarakat pada umumnya. Komunikasi eksternal ini mempunyai daya jangkau jarak jauh,
yang akan membentuk goodwill (nama baik), dan membentuk imajinasi reputasi baik dihati
masyarakat, melalui berbagai cara dan kegiatan, seperti promosi diberbagai media, menyebarkan
pamflet dan sebagainya. Bermacam cara untuk mengadakan hubungan komunikasi antara seseorang
dengan lainnya. Cara itu dalam badan usaha adalah dengan pertemuan-pertemuan, berbicara melalui
telepon, mengirim surat, berbicara langsung, pemberian laporan, pemberian petunjuk, dan pemberian
perintah. Kedua cara terakhir adalah cara pimpinan untuk mengadakan hubungan dengan bawahan
dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya dalam merealisasi tujuan perusahaan. Komunikasi secara
garis besar dibedakan atas dua macam sara yaitu komunikasi kedalam dan komunikasi keluar.
Komunikasi kedalam itu sesuai dengan tujuan kepada siapa warta itu disampaikan, dibedakan pula
atas dua macam yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horisontal. Komunikasi vertikal berarti
proses penyampaian suatu warta dari pihak pimpinan kepada pihak pegawai atau sebaliknya.
Komunikasi vertikal dibedakan pula atas komunikasi ke bawah dan komunikasi ke atas. Komunikasi
ke bawah diwujudkan oleh pimpinan dengan jalan memberi perintah atau dengan jalan pemberian
petunjuk. Komunikasi ke atas diwujudkan dengan pemberian laporan-laporan oleh bawahan kepada
atasan. Komunikasi horisontal bermaksud menjamin hubungan yang baik antara pimpinan yang
setingkat dan diwujudkan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan secara berkala. Komunikasi
keluar yang juga bertujuan menjamin hubungan yang baik antara pihak atasan dari perusahaan itu
dengan pihak luar diwujudkan dengan telepon, berbicara langsung atau dengan pengiriman surat.
Komunikasi keluar itu termasuk pada kategori eksternal function dari manager.

3. Professional Life

Komunikasi dalam professional life sangatlah diperlukan, karena tanpa adanya komunikasi yang baik
maka keprofessionalan tersebut tidak akan berjalan dengan baik.

4. Cultural Life

Komunikasi adalah aktivitas yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kegiatan
ini sering berlangsung di antara individu-individu yang berlainan latar belakang dan budaya. Oleh
karena itu, terdapat subbidang Ilmu Komunikasi yang khusus membahas komunikasi di antara
pemilik latar belakang dan budaya berbeda, yaitu Komunikasi Antarbudaya (KAB). Untuk
membantu Anda memahami definisi komunikasi antarbudaya, Young Yung Kim (1984)
mengutarakan bahwa KAB menunjuk kepada suatu fenomena komunikasi ketika para pesertanya
memiliki latar belakang budaya berbeda dan terlibat dalam suatu kontak antara satu dengan lainnya,
baik secara langsung maupun tidak. Pendapat serupa dikatakan oleh Stewart (1974), komunikasi
antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di dalam kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan
budaya, seperti bahasa, adat, nilai-nilai, dan kebiasaan. Dari definisi-definisi tersebut, kita bisa
melihat bahwa perbedaan kebudayaan adalah faktor yang menentukan dalam proses komunikasi
antarbudaya, selain kepribadian, umur, penampilan fisik, dan lain-lain. Oleh karena itu, banyak ahli
komunikasi yang memandang KAB sebagai perluasan dari subbidang komunikasi antarmanusia
lainnya (komunikasi antarpribadi, komunikasi organisasi, komunikasi massa). Di antara komunikasi
dan budaya terdapat keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Smith (1966) menjelaskan bahwa
kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama.
Untuk mempelajari dan memiliki kode atau kumpulan peraturan, dibutuhkan komunikasi.
Komunikasi pun membutuhkan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki
bersama. Proses komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh persepsi seorang manusia
mengenai lingkungan, orang, benda, dan peristiwa yang berada di sekitarnya. Bila seorang manusia
telah memahami dan menghargai persepsi orang lain yang berbeda budaya, ia akan bisa
melangsungkan proses komunikasi dengan lancar dan memperoleh reaksi yang diharapkan. Dalam
komunikasi antarbudaya, tantangan dan hambatan komunikasi sangatlah banyak, mengingat
masyarakat setiap bangsa mempunyai simbol dan bahasa verbal maupun nonverbal yang berbeda-
beda. Orang-orang Eskimo, misalnya, biasa bersalaman dengan saling menggesek-gesekkan hidung.
Bayangkan bila mereka melakukannya dengan orang Eropa atau Asia yang tidak mengetahui
kebiasaan tersebut, tentunya bangsa Eskimo akan dianggap tidak sopan. Contoh lainnya bisa dilihat
pada kebiasaan menganggukkan kepala. Di Indonesia atau di negara-negara lain seperti Amerika,
anggukan kepala diartikan sebagai “iya” atau “mengerti”, sementara di Jepang, anggukan kepala
diartikan sebagai “saya mendengarkan”. Di tengah peradaban modern yang memungkinkan manusia
dari berbagai bangsa untuk bertemu dan berinteraksi, penting bagi kita untuk melangsungkan proses
komunikasi antarbudaya yang sukses. Terlebih dahulu, tentunya kita harus memahami bermacam-
macam kode dan peraturan yang berlaku di tempat asal rekan bicara supaya terhindar dari
kesalahpahaman yang merugikan.

F. Peran Komunikasi dalam Teknologi Pendidikan

Komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan
Komunikasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah
menjadi fasilitas utama bagi kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberikan andil besar
terhadap perubahan – perubahan yang mendasar pada struktur operasi dan manajemen organisasi,
pendidikan, trasportasi, kesehatan dan penelitian. Oleh karena itu sangatlah penting peningkatan
kemampuan sumber daya manusia Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah
memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut
Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses
pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
(3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu
siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan
media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara
guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan
menggunakan media-media tersebut (Rosenberg, 2001).

Sumber : http://nisfaganismefama.wordpress.com/2012/04/27/pengantar-komunikasi/ , diakses tanggal


1 des 2014 pukul 20.28 wib
PENDAHULUAN
Sudah diketahui banyak orang bahwa komunikasi ada dimana-mana, dirumah, sekolah, kantor, dan masjid; bahkan
ia sanggup menyentuh segala aspek kehidupan kita (Jalaludin Rakhmat,1985). Hal ini mengandung arti bahwa
hampir seluruh kegiatan manusia, dimanapun adanya, selalu tersentuh oleh komunikasi. Bidang pendidikan
misalnya, tidak bisa berjalan tanpa dukungan komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan melalui komunikasi
(Jourdan, 1984). Dengan kata lain, tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh komunikasi. Semuanya
membutuhkan komunikasi, komunikasi yang sesuai dengan biang daerah yang di sentuh.[1]
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain, dengan adanya
komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk social, di antara
yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksi yang timbalk balik.

Dalam prosesnya bahwa komunikasi merupakan suatu proses social untuk mentranmisikan atau menyampaikan
perasaan atau informasi baik yang berupa ide-ide atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang lain.

Dalam melaksanakan suatu program pendidikan aktivitas menyebarkan, menyampaikan gagasan-gagasan dan
maksud-maksud ke seluruh struktur organisasi sangat penting. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas
mengenai komunikasi, pendidikan, komunikasi pendidikan dan hubungan antara komunikasi dengan pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

1. KOMUNIKASI
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris ‘communication’ bersal dari bahasa Latin ‘communicatio’, bersumber
dari ‘communis’ yang berarti “sama”. Sama disini adalah dalam pengertian “sama makna”. Komunikasi minimal harus
mengandung “kesamaan makna” antara kedua belah pihak yang terlibat. Dikatakan “minimal’’ karena kegiatan
komunikasi itu tidak bersifat “informatif” saja, yakni agar orang mengerti dan tahu, tetapi juga “persuasif” yaitu agar
orang bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu kegiatan dan lain-lain.[2]
Komunikasi secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada
komunikan melelui/tanpa media yang menimbulkan akibat tertentu. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah
aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami
sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu
menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan tersebut.

Thomas M .Scheihwadel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung
identitas diri, untuk membangun kontak siosial dengan orang disekitar kita, dan untuk mempengaruhi orang lain
untuk merasa, berfikir, dan berperilaku seperti yang kita inginkan.[3]
Ada sejumlah komponen penting atau unsur yang merupakan prasyarat terjadinya sebuah komunikasi. Dalam
“bahasa komunikasi’’ komponen-komponen tersebut meliputi:[4]
1. Komunikator, orang yang menyampaikan pesan
2. Pesan, pernyataan yang di dukung oleh lambang
3. Komunikan, orang yang menerima pesan
4. Media, sarana atau saluran yang mendukung pesan
5. Efek, dampak sebagai pengaruh pesan
Setiap perilaku manusia mempunyai potensi komunikasi. Ada istilah yang sangat familier dalam dunia komunikasi
yaitu “we cannot not communication”, “Kita tidak dapat tidak berkomunikasi”. Betapa tidak, komunikasi terjadi jika
seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Jadi semua perilaku kita memiliki
potensi komunikasi, baik dari segi ekspresi muka, bahasa tubuh, terlebih pengucapan baik secara verbal maupun
nonverbal.

1. PENDIDIKAN
Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata pedagogia
(paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu
‘Paedos’ (anak) dan ‘Agoge’ yang berarti saya membimbing, memimpin anak. Sedangkan paedagogos ialah seorang
pelayan atau bujang (pemuda) pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak
(siswa) ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini,
kemudian sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru).
Dari sudut pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin
anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
[5]
Kihajar dewantara (bapak pendidikan nasional indonesia 1889-1959) menjelaskan tentang pengertian pendidikan
yaitu pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin) pikiran
(intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Dengan kata lain, Pendidikan dapat di artikan sebagai usaha orang dewasa dalam mendewasakan peserta didiknya
agar menjadi dewasa dan menjadi manusia yang seutuhnya.[6]
 

1. KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Komunikasi pendidikan merupakan komunikasi yang sudah merambah atau menyentuh dunia
pendidikan dan segala aspeknya dan merupakan proses komunikasi yang dipola dan dirancang
secara khusus untuk mengubah perilaku sasaran tertentu kearah yang lebih baik. Sasaran atau
komunikan disini maksudnya adalah sekelompok orang, yang mana dalam proses pendidikan
disini adalah murid atau siswa.
Sudah disepakati juga bahwa fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasif, dan
rekreatif (entertainment) (Effendy,1981). Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi
memberi keterangan, memberi ata atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia.
Disamping itu, komunikasi juga berfungsi mendidik masyarakat, mendidik orang, dalam menuju
pencapaian kedewasaan bermandiri. Seseorang bisa banyak tau karena banyak mendengar,
banyak membaca dan banyak berkomunikasi. Komunikasi pendidikan lebih berarti sebagai
proses komunikasi yang terjadi dalam lingkungan pendidikan baik secara teoritis maupun secara
praktis.
Komunikasi pendidikan adalah proses perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang
atau peristiwa-peristiwa pendidikan. Komunikasi ini sifatnya tidak netral lagi, tetapi sudah dipola
untuk memperlancar tujuan-tujuan pendidikan. Kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh guru
kelas kepada muridnya, dan komunikasi yang terjadi dan dirancang oleh orang tua untuk
mendidik dan memahamkan kepada anaknya, itu semua merupakan bentuk-bentuk komunikasi
pendidikan. Salah satu cirinya adalah berlangsung dan dirancang denagn maksud untuk
mengubah perilaku sasaran kearah yang lebih baik di masa yang akan datang.
Komunikasi pendidikan bukan hanya terjadi pada kasus dialog saja, namun masih banyak contoh
lainnya seperti pada setiap orang tua, baik sebagai ayah, ibu ataupun wali, bahkan mereka yang
berkedudukan sebagai “orang tua” (senior, baik dalam ilmu, status sosial, maupun dalam usia)
dilingkungan masyarakatnya, mempunyai keinginan memberi wejangan kepada yang lebih
muda. Bentuk wejangan ini bermacam-macam. Sebuah nasihatpun berarti wejangan. Juga
wejangan dalam bentuk contoh atau teladan perbuatan termasuk perbuatan memberi semangat,
dorongan, dan hal lain yang dapat menumbuhkan motivasi seseorang untuk berbuat sesuai
dengan norma yang berlaku. Hal ini terlihat jelas sebagai mana disarankan dalam salah satu
konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terkenal itu, yakni ing ngarso sung tulodo, ing
madyo mbangun karso, tutwuri handayani. Artinya kira-kira sebagai berikut: didepan dapat
memberi contoh atau teladan yang baik, baik dalam pengetahuan, sikap maupun dalam berbuat,
di tengah-tengah harus bisa membangun kehendak atau kemauan, berinisiatif, dan dibelakang
harus bisa memberi dorongan atau semangat.
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan belajar yang sering tidak tercapai akibat dari
kurang atau tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, atau tujuan pendidikan
tidak tercapai karena penerapan komunikasi yang keliru. Tujuan pendidikan secara umum adalah
mengubah kondisi awal manusia kepada atau ke arah yang sesuai dengan norma kehidupan yang
lebih baik, lebih berkualitas dan lebih sejahtera, baik lahir maupun batin. Dengan demikian,
komunikasi direncanakan secara sadar untuk tujuan-tujuan pendidikan, tujuan mengubah
perilaku pada pihak sasaran, karena itu ia memerlukan waktu. Dalam menjalani waktu itulah
terjadi proses komunikasi, proses saling berbagi informasi antara dua pihak (Schramm, 1977).
Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan, dan tentu oleh suatu tindakan komunikasi
pendidikan, sesuai yang diamanatkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional yang tercantum
dalam GBHN, yaitu untuk mencapai predikat manusia Indonesia yang ber-Pancasila,
meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat agar dapat menumbuhkan manusia-
manusia yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa.
 

1. HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN


Di atas telah di singgung mengenai pengertian komunikasi dan pendidikan bahwa perilaku pendidikan di lahirkan
oleh komunikasi. Dalam hal ini hubungan komunikasi dengan pendidikan adalah (misalnya) suasana dialogis antara
seorang ayah dan seorang anaknya yang sedang terlibat dalam pembicaraan pembentukan kehidupan di masa
depan. Istilah dialogis di sini menunjukan adanya unsur komunikasi antara dua orang (ayah dan anak) . ayah
berkedudukan sebagai komunikator dan pemrakarsa gagasan dalam merencanakan suatu dialog tersebut. Tetapi
juga ia sekaligus merupakan pihak yang mendengarkan (dalam umpan balik dialog) sehingga ia sekaligus menjadi
komunikan. Komunikator dan komunikan (ayah dan anak) secara bersama-sama terlibat dalam suasana komunikasi.
Contoh dari Hubungan komunikasi dengan pendidikan bukan hanya terjadi pada kasus diatas saja. Masih banyak
contoh yang lainnya.[12]
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan belajar yang sering tidak tercapai akibat dari
kurang atau tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, atau setidaknya tujuan
pendidikan tidak tercapai karena penerapan komunikasi yang keliru. Jourdan (1984) pernah
berkata bahwa “tidak ada perilaku-perilaku pendidikan yang tidak berkaitan dengan
komunikasi”. Ini artinya bahwa hampir semua kegiatan pendidikan banyak dilakukan atau
berkaitan dengan komunikasi. Karena itu, kegagalan-kegagalan dalam pendidikan dan
komunikasi pun sedikit banyak sebenarnya terjadi karena kegagalan dalam komunikasi.
Bentuk komunikasi yang cocok untuk penyembuhan kegagalan tersebut adalah model terbuka
(konsep jourdan). Suasana terbuka antara komunikator pendidkan dengan komunikan belajar
adalah modal utama untuk saling mengisi kesalahan-kesalahan yang mungkin dialami oleh
masing-masing pihak dalam komunikasi ini. Dalam model komunikasi terbuka seperti inilah
terdapat celah-celah yang ada untuk mengarahkan pihak komunikan belajar kearah yang
ditetapkan oleh komunikator.[13]
Dalam hal inilah posisi guru dalam latar komunikasi merupakan faktor utama yang
mempengaruhi bagaimana siswa mempersepsi dirinya. Karena guru menduduki posisi sentral
dalam jaringan komunikasi di ruang kelas. Semakin banyak komunikasi, semakin tinggi status
dan kekuasaan yang seharusnya diberikan kepadanya.[14]
Di dalam proses belajar, atau lebih luasnya proses pendidkan , terkandung unsur-unsur yang
mendukung. Unsur-unsur tersebut antara lain adalah orang yang belajar, pihak yang membantu
menyebabkan belajar, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kedua pihak tersebut dalam
melaksanakan fungsi masing-masing, termasuk pula didalamnya unsur komunikasi. Disamping
faktor-faktor dari unsur yang pertama, faktor komunikasi ini bahkan sanggup menyentuh semua
aspek yang terjadi dalam proses tadi. Orang yang ingin belajar, tanpa berkomunikasi tidak
mungkin dapat melaksanakan keinginannya. Semua membutuhkan komunikasi. Bahkan proses
belajar itu sendiri, manurut Berlo (1960), merupakan proses komunikasi. “Berbicara tentang
komunikaasi dalam konteks personal artinya berbicara tentang bagaimana orang belajar”,
katanya. Selanjutnya, dengan atau tanpa media, proses belajar bisa terjadi, terutama apabila
terjadi umpan balik dari pihak sasaran (komunikan) kepada penyampai atau sumber pesan secara
berlanjut.[15]
Apabila proses komunikasi tersebut berakibat timbulnya perubahan perilaku pada pihak sasaran
yang lebih baik, terutama perubahan dalam domain kognitif, afektif dan psikomotor, maka
prosesnya sudah berada pada suasana pendidikan, suasana belajar. Dalam hal ini, belajar atau
lebih luasnya pendidikan juga membutuhkan komunikasi karena sebenarnya proses belajar
merupakan suatu proses komunikasi.
 
 
Berlo: pesan yang disalurkan lewat media (M) oleh sumber (S) akan dapat dikomunikaasikan
kepada sasaran penerima pesa (P), kenudian proses komunikasi itu sendiri baru terjadi setelah
ada reaksi umpan balik (feedback) yang disimbolkan denagn huruf (U). Dalam hal ini penerima
(P) berubah fungsinya jadi sumber (S’).[16]
Dengan demikian, Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada
penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik verbal maupun
nonverbal.[17]Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila sekiranya timbul saling
pengertian,yaitu ketika kedua belah pihak si pengirim dan si penerima informasi dapat
memahami.[18]
Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting kedudukannya. Bahkan ia
sangat besar peranannya dalam menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan. Orang
sering berkata bahwa tinggi rendahnya suatu capaian mutu pendidikan dipengaruhi pula oleh
faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi pendidikan.
Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui sekolah), tampak jelas adanya
peran komunikasi yang sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi
karena proses komunikasi, baik yang berlangsung secara intrapersona maupun secara
antarpersona.[19]
1. Intrapersona
Yaitu komunikasi yang terjadi di dalam individu itu sendiri.
Tampak pada kejadian berpikir, mempersepsi, mengingat dan mengindra. Hal demikian
dijalani oleh setiap anggota sekolah bahkan oleh semua orang.
2. Antarpersona
Ialah bentuk komunikasi yang berproses dari adanya ide atau gagasan informasi
seseorang kepada orang lain. Dosen yang memberi kuliah, berdialog, bersambung rasa,
berdebat, berdiskusi, dan sebagainya adalah sebagian besar dari contoh-contohnya.
Tanpa keterlibatan komunikasi tentu segalanya tidak bisa berjalan. Komunikasi disini adalah
terutama yang terjadi pada kegiatan mengajar dan belajar pada kegiatan tatap muka maupun pada
kegiatan lainnya.
Hanya dimungkinkan melalui kemampuan berkomunikasi untuk mentransfer makna diantara
individu. Aktifitas kelompok mustahil ada tanpa ada sarana bertukar pengalaman dan sikap.
Komunikasi melibatkan semua simbol batin, sarana penyampaian simbol dan untuk menjaga
simbol-simbol itu. Untuk mencapai, memahami, dan mempengaruhi orang lain, seseorang harus
berkomunikasi. Pentingnya komunikasi digaris bawahi oleh kenyataan bahwa “tindakan seseoran
didasari oleh apa yang diketehui atau apa yang dianggapnya diketahui”.[20]
 

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Kegiatan komunikasi pada intinya adalah aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, dengan
demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari suatu
pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau
pesan yang disampaikan tersebut.
2. Pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke
pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
3. Komunikasi pendidikan adalah proses perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang atau
peristiwa-peristiwa pendidikan.
4. Hubungan komunikasi dan pendidikan sangatlah erat, dengan kata lain, komunikasi dan pendidikan sangat
berkaitan erat setu sama lain.
5. Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting kedudukannya. Bahkan ia sangat
besar peranannya dalam menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan. Tinggi rendahnya suatu
capaian mutu pendidikan dipengaruhi pula oleh faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi pendidikan. Di
dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi
yang sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi karena proses komunikasi, baik yang
berlangsung secara intrapersona maupun secara antarpersona.
DAFTAR PUSTAKA

 Yusuf,Pawit M.2010.Komunikasi Instruksional.Jakarta:Bumi Aksara.


o Ilaihi, wahyu. 2010. komunikasi dakwah. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
o Mulyana,Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
o http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-pengertian-pendidikan/
o Yusup, Pawit M, 1990, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Intruksional, Remadja Rosdakarya,
Bandung.
o Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya
o Miarso,yusufhadi.1986. teknologi komunikasi pendidikan. Jakarta:CV.Rajawali.
o Widjaja A.w. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta:PT BINA AKSARA,1986.
o Mulyana Deddy. Komunikasi Efektif. Bandung.PT REMAJA ROSDAKARYA,2004.
o Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya

[1] Yusuf,Pawit M.2010.Komunikasi Instruksional.Jakarta:Bumi Aksara. Hlm. 1


[2] Ilaihi, wahyu. 2010.komunikasi dakwah. Bandung:PT Remaja Rosdakarya. hlm 4
[3] Mulyana,Deddy.2004.Ilmu Komunikasi.Bandung:PT Remaja Rosdakarya. hlm, 4.
[4] Wahyu, hlm 8
[5] http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2043347-pengertian-pendidikan/
[6] Yusup, Pawit M, 1990, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Intruksional, Remadja Rosdakarya, Bandung.
[7] Pawit,2010, hlm 3,4,10
[8] Pawit,2010, hlm 30
[9] Pawit,2010, hlm 51
[10] Pawit,2010, hlm 18,21,27
[11] Pawit,2010, hlm. 52
[12] Yusup, Pawit M, 1990, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Intruksional, Remadja Rosdakarya, Bandung
[13] Pawit, 2010, hlm. 41
[14] Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm, 169
[15] Pawit,2010 hlm 48,49
[16] Miarso,yusufhadi.1986.teknologi komunikasi pendidikan.jakarta:CV.Rajawali. hal 47-48
[17] Widjaja A.w.Komunikasi dan Hubungan Masyarakat.Jakarta:PT BINA AKSARA,1986.
[18] Mulyana Deddy.Komunikasi Efektif.Bandung.PT REMAJA ROSDAKARYA,2004.
[19] Pawit,2010, hlm. .53
[20] Djamaludin malik, dedy. 1994. Komunikasi persuasif. Bandung: Remaja Rosdakarya. hlm, 126, 127

Tags: hubungan pendidikan dengan komunikasi, komunikasi, pendidikan

Sumber : http://blog.umy.ac.id/mamikcahya/2011/11/15/hubungan-komunikasi-dengan-pendidikan/ ,
diakses tanggal 1 des 2014 pukul 20;52 wib