Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU DAN TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK POTONG

DISUSUN OLEH:
Rimbun Utari
1910611014
Paralel 08

DIAMPUH OLEH:
Dr. Yetmaneli, S.Pt., MP

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2021
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadiran Allah SWT, atas berkah dan
rahmat serta hidayah yang diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Praktikum Ilmu dan Teknologi Produksi Ternak Potong ini.
Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, kemudahan serta
keselamatan kepada semua yang terlibat dalam pembuatan laporan praktikum ini.
Penulis mengucapkan terima kasih Ibu Dr. Yetmaneli, S.Pt., MP selaku dosen
pengampu mata kuliah Ilmu dan Teknologi Produksi Ternak Potong yang telah
banyak memberikan ilmunya sehingga penulis berhasil menyelesaikan laporan
praktiukum ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam
pengerjaan laporan praktikum ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran untuk kemajuan pengetahuan terutama untuk dalam pelajaran ternak
potong, sehingga diharapkan dapat memberikan pedoman untuk mempebelajaran
serta dapat memberikan petunjuk penulisan yang teratur dan tersusun rapi tanpa
ada unsur kesengajaan yang sama dari pihak lainnya.
Akhir kata, penulis berharap semoga laporan praktikum ini dapat
memberikan manfaat bagi kami maupun bagi pembaca agar dapat memperluas
pengetahuan kita semua.

Padang, Juni 2021

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
LAMPIRAN.................................................................................................................. iii

i
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan......................................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3
2.1 Bangsa Sapi Potong.................................................................................................. 3
2.2 Pendugaan Umur....................................................................................................... 2
2.3 Pengukuran Tubuh.................................................................................................... 5
2.4 Pendugaan Bobot Badan.......................................................................................... 6
2.5 Pakan.......................................................................................................................... 6
2.6 Penentuan Kondisi Tubuh Sapi Potong.................................................................. 7
BAB III MATERI DAN METODE........................................................................... 9
3.1 Materi......................................................................................................................... 9
3.2 Metode....................................................................................................................... 9
3.3 Waktu dan Tempat.................................................................................................... 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................. 10
4.1 Hasil......................................................................................................................... 10
4.2 Pembahasan............................................................................................................. 10
4.2.1 Identifikasi Bangsa Sapi Potong........................................................................ 10
4.2.2 Pendugaan Umur................................................................................................. 11
4.2.3 Pengukuran Lingkar Dada.................................................................................. 11
4.2.4 Pendugaan Bobot Badan..................................................................................... 11
4.2.5 Estimasi Kebutuhan Pakan................................................................................. 12
4.2.6 Penentuan Kondisi Tubuh atau BSC................................................................. 13
BAB V PENUTUP....................................................................................................... 14
5.1. Kesimpulan............................................................................................................ 14
5.2. Saran....................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 15
DOKUMENTASI........................................................................................................ 19

ii
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuesioner Untuk Peternak ...................................................... 17
Lampiran 2. Tabel Penentuan Body Condition Score (BCS) ..................... 17

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Sapi potong merupakan sapi yang dipelihara dengan tujuan utama sebagai
penghasil daging. Sapi potong biasa disebut sebagai sapi tipe pedaging. Adapun
ciri-ciri sapi pedaging adalah tubuh besar, berbentuk persegi empat atau balok,
kualitas dagingnya maksimum, laju pertumbuhan cepat, cepat mencapai dewasa,
efisiensi pakannya tinggi, dan mudah dipasarkan (Sarwono, 1995). Menurut
Abidin (2002) sapi potong adalah jenis sapi khusus dipelihara untuk digemukkan
karena karakteristiknya, seperti tingkat pertumbuhan cepat dan kualitas daging
cukup baik. Sapi-sapi ini umumnya dijadikan sebagai sapi bakalan, dipelihara
secara intensif selama beberapa bulan, sehingga diperoleh pertambahan bobot
badan ideal untuk dipotong.

Sapi potong merupakan ternak yang dibudidayakan dengan tujuan utama


untuk menghasilkan daging. Budidaya ternak sapi potong sudah dikenal secara
luas oleh masyarakat. Jangka waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan harga
daging yang relatif tingggi memotivasi para pembididaya untuk terus tetap
bersemangat dalam mengembangkan budidaya ternak sapi potong. Bangsa sapi
potong yang dibudidayakan juga beraneka ragam, mulai dari peranakan ongole,
Simmental, brahman, limousine, dan pada beberapa daerah juga ada penggemukan
sapi perah jantan bangsa Fries Holland (Sudono et al, 2003).
Pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengukur bobot badan
ataupun capaian pertambahan bobot badan ternaknya adalah salah aspek
manajemen yang cukup penting pada usaha pemeliharaan sapi potong (kereman).
Pengukuran bobot badan ternak yang dilakukan dengan baik adalah sangat
membantu peternak dalam menentukan jumlah pemberian pakan yang tepat,
pemberian dosis obat serta menetapkan nilai atau harga jual ternak secara benar
(Hays, W.G. dan J.S. Brinks., 1982). Bobot badan ternak persisnya dapat diketahui
langsung dengan cara menimbangnya menggunakan timbangan. Namun
timbangan terrnak berkapasitas besar misalnya untuk sapi hanya tersedia di lokasi
tertentu saja seperti pasar hewan atau rumah potong, sedangkan pada peternakan
rakyat sama sekali tidak ada atau tidak memilikinya seperti pada peternakpeternak

1
rakyat yang ada di daerah tertentu.
Praktikum ini dilakukan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang
manajemen, pemberian pakan, pemberian minum, dan praduga ukuran bobot serta
umur seekor sapi. Metode praktikum nya adalah mahasiswa mendatangi
peternakpeternak yang ada di daerah nya dan melakukan pengukuran lingkar dada
serta pengukuran cincin tanduk pada sapi sehingga bisa menduga bobot sapi serta
umur dari sapi tersebut.

1.2 Tujuan
Pratikum ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui tentang:

1. Untuk mengetahui tentang identifikasi bangsa ternak sapi potong 2.


Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pendugaan umur
3. Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pengukuran tubuh
4. Untuk mengetahui bagaimana cara melakukan pendugaan bobot badan
5. Untuk mengetahui tentang estimilasi kebutuhan pakan ternak potong
6. Untuk mengetahui bagaimana cara penentuan kondisi tubuh/BCS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bangsa Sapi Potong


Bangsa sapi adalah sekumpulan ternak yang memiliki karakteristik tertentu
yang sama. Atas dasar karakteristik tersebut, sapi dapat dibedakan dari ternak
lainnya meskipun masih dalam spesies yang sama. Karakteristik yang dimiliki
dapat diturunkan ke generasi berikutnya. Sapi dapat menghasilkan berbagai
macam kebutuhan manusia, terutama bahan makanan berupa daging, disamping
hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit dan tulang (Wahyono dan
Hardianto, 2004).
Menurut Romans et al., (1994) dan Blakely dan Bade, (1992) bangsa sapi
mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut: Phylum : Chordata,
Subphylum : Vertebrata, Class : Mamalia, Sub class : Theria, Infra class : Eutheria,
Ordo :

2
Artiodactyla, Sub ordo : Ruminantia, Infra ordo : Pecora, Famili : Bovidae, Genus
: Bos (cattle), Group : Taurinae, Spesies : Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus
(sapi India/sapi zebu), Bos sondaicus (banteng/sapi Bali).

Sapi keturunan Bos Taurus adalah Aberdeen angus, Hereford, shorthorn,


charolais, Simmental, dan limousin. Sapi keturunan Bos indicus adalah sapi
brahman, ongole, dan peranakan ongole. Sapi keturunan Bos sondaicus atau sapi
asli Indonesia yaitu sapi bali, sapi Madura, sapi jawa, sapi sumatera, dan sapi lokal
lainnya. Sapi keturunan Bos indicus saat ini berkembang biak di india, dan
akhirnya sebagian besar menyebar ke berbagai negara, terlebih di daerah tropis
seperti asia tenggara (termasuk Indonesia), afrika, dan amerika.
Di Indonesia terdapat sapi keturunan zebu, yakni sapi ongole dan
peranakan ongole, serta brahman, dll. Sapi keturunan Bos Taurus adalah bangsa
sapi yang menurunkkan bangsa-bangsa sapi potong dan sapi perah di eropa.
Golongan ini akhirnya menyebar ke berbagai penjuru dunia seperti amerika,
Australia, dan selandia baru. Belakangan ini, sapi keturunan Bos Taurus telah
banyak di kembangkan di Indonesia, missal Aberdeen angus, Hereford, shorthorn,
charolais, Simmental, dan limousine.
Bangsa sapi tropis umumnya memiliki punuk, bagian ujung telinganya
meruncing, kepala panjang dengan dahi sempit, kulit longgar dan tipis, terdapat
timbunan lemak, baik yang ada dibawah kulit maupun didalam otot rendah, Garis
punggung pada bagian tengah berbentuk cekung dan pada bagian tingginya
miring, bahu pendek, halus dan rata, kaki panjang sehingga geraknya lincah,
lambat dewasa kelamin, bentuk tubuh kecil, bobot badan sekitar 250-650 kg,
mempunyai ambing yang kecil sehingga produksi susu rendah, tahan terhadap
suhu tinggi dan kehausan, toleran terhadap berbagai macam pakan yang
kandungan serat kasarnya tinggi dan pakan sederhana, dan tahan terhadap gigitan
nyamuk dan caplak.

2.2 Pendugaan Umur


Pertumbuhan adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan bobot
hidup, bentuk, dimensi, dan komposisi tubuh termasuk perubahan

3
komponenkomponen tubuh organ serta komponen kimia (Soeparno, 2005).
Pertumbuhan adalah pertambahan berat badan atau ukuran tubuh sesuai dengan
umur, sedangkan perkembangaan berhubungan dengan adanya perubahan ukuran,
serta fungsi dari berbagai bagian tubuh semenjak embrio sampai menjadi dewasa
(Sugeng, 1992). Menurut Soenarjo (1988), proses pertumbuhan hewan yaitu :
pertambahan berat sampai dewasa (Growth) dan perkembangan bentuk badan dan
proses kinerjanya (Development). Tillman et al. (1998), menyatakan bahwa
pertumbuhan biasanya dimulai perlahan-lahan, kemudian berlangsung lebih cepat,
selanjutnya berangsur-angsur menurun atau melambat dan berhenti setelah
mencapai dewasa tubuh.
Umur sapi dapat diketahui dengan melihat keadaan gigi serinya. Gigi seri
sapi hanya tgerdapat dirahang bawah. Semenjak lahir, gigi seri sapi sudah tumbuh.
Gigi secara bertahap pada umur tertentu akan tanggal sepasang demi sepasang,
berganti dengan gigi seri yang baru. Gigi seri yang pertama atau yang sudah
tumbuh semenjak sapi lahir disebut gigi susu, sedangkan gigi baru yang
menggantikan gigi susu disebut gigi tetap. Pemunculan setiap pasang gigi
berlangsung kira-kira pada waktu yang sama dari kehidupan dan dengan demikian
merupakan indikasi dari umur ternak yang mungkin dapat diperiksa dari gigi-gigi
sapi.
Pertumbuhan gigi sapi bisa dibedakan menjadi tiga fase, yaitu fase gigi
susu, fase dimana gigi yang tumbuh semenjak lahir sampai gigi itu berganti
dengan gigi yang baru, fase pergantian gigi yaitu dari awal pergantian sampai
selesai, dan fase keausan yaitu dimana gigi tetap mengalami keausan (Murtidjo,
1992). Sapi yang memiliki gigi susu semua pada rahang bawah, mempunyai usia
sekitar kurang lebih 1,5 tahun. Sapi yang memiliki gigi tetap sepasang pada
rahang bawah mempunyai usia sekitar 2 tahun.
Sapi yang memiliki gigi tetap dua pasang pada rahang bawah mempunyai
usia sekitar 3 tahun. Sapi yang memiliki gigi tetap tiga pasang pada rahang bawah
mempunyai usia sekitar 3,5 tahun. Sapi yang memiliki gigi tetap empat pasang
pada rahang bawah, mempunyai usia sekitar 4 tahun. Sapi yang mempunyai gigi
tetap lengkap empat pasang, tapi 25% bagian telah aus mempunyai usia sekitar 6
tahun. Sapi yang memiliki gigi tetap lengkap tapi aus 50% bagian telah aus,

4
mempunyai usia sekitar 7 tahun. Sapi yang mempunyai gigi tetap lengkap empat
pasang, tapi 75% telah aus, mempuyai usia sekitar 8 tahun. Sapi yang mempunyai
gigi tetap lengkap dan semuanya sudah aus, memiliki usia diatas 8 tahun
(Murtidjo, 1992).

2.3 Pengukuran Tubuh


Pengukuran tubuh (sifat kuantitatif) dilakukan saat sapi berdiri tegak pada
bidang datar (posisi ternak “parallelogram”). Cara pengukuran panjang badan,
lingkar dada, tinggi pundak dan tinggi pinggul dapat dilihat pada Gambar 6
(Santoso, 2003). Pengukuran ukuran tubuh ternak dapat dijadikan sebagai
indikator pertumbuhan ternak. Perubahan pada ukuran tubuh ternak menunjukkan
apakah ternak mengalami pertumbuhan atau tidak. Adapun cara untuk mengukur
ukuran tubuh ternak yaitu dengan mengukur lingkar dada. Lingkar dada
merupakan salah satu dimensi tubuh yang dapat digunakan sebagai indikator
mengukur pertumbuhan dan perkembangan ternak. Pengukuran lingkar dada
diukur pada tulang rusuk paling depan persis pada belakang kaki depan.
Pengukuran lingkar dada dilakukan dengan melingkarkan pita ukur pada badan.
2.4 Pendugaan Bobot Badan
Bobot tubuh ternak merupakan hasil pengukuran dari proses tumbuh ternak
yang dilakukan dengan cara penimbangan (Tillman et al., 1998). Sementara itu
besarnya bobot badan dapat diukur melalui tinggi badan, lingkar dada, lebar dada
dan sebagainya (Sugeng, 1992). Pengukuran lingkar dada dan panjang badan
dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor ternak dengan tepat (Wiliamson
dan Payne, 1983). Pertumbuhan lingkar dada mencerminkan pertumbuhan tulang
rusuk dan pertumbuhan jaringan daging yang melekat pada tulang rusuk (Sudibyo,
1987).
Pendugaan bobot badan yang biasa dilakukan adalah menggunakan ukuran
linier tubuh seperti dengan mengukur lingkar dada dan panjang badan. Lingkar
dada dan panjang sapi di ukur dengan menggunakan metline dengan posisi kaki
sejajar. Hasil pengukuran tersebut kemudian dimasukkan kedalam suatu rumus
yang nantinya akan menghasilkan perkiraan bobot badan sapi tersebut. Lingkar
dada (cm) diperoleh dengan cara melingkarkan pita ukur mengikuti lingkar dada

5
atau tubuh belakang bahu, sedangkan panjang badan diperoleh dengan cara
mengukur jarak antara sendi bahu sampai tepi belakang tulang pelvis deengan
menggunakan pita ukur. Pertambahan bobot badan hampir bersamaan dengan
perubahan bentuk tubuh sehingga ukuran-ukuraan tubuh dapat digunakan sebagai
penduga bobot hidup. Jenis ternak, fase pertumbuhan, bangsa dan habitat yang
berbeda umumnya akan menghasilkan rumus yang berbeda pula (Meivilia, 2011).

2.5 Pakan
Bahan pakan adalah bahan yang dapat dimakan, dicerna dan digunakan
oleh hewan. Bahan pakan ternak terdiri dari tanaman, hasil tanaman, dan
kadangkadang berasal dari ternak serta hewan yang hidup di laut (Tillman et al.,
1991). Menurut Blakely dan Bade (1998) bahan pakan dapat dibagi menjadi dua
kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat berupa bijian dan
butiran serta bahan berserat yaitu jerami dan rumput yang merupakan komponen
penyusun ransum. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor
hewan yang mampu menyajikan hara atau nutrien yang penting untuk perawatan
tubuh, pertumbuhan, penggemukan, dan reproduksi. Darmono (1993)
menjelaskan bahwa bahan pakan yang baik adalah bahan pakan yang mengandung
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral serta tidak mengandung racun
yang dapat membahayakan ternak yang mengkonsumsinya.
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman
ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan
bunga (Sugeng, 1998). Menurut Lubis (1992) pemberian pakan pada ternak
sebaiknya diberikan dalam keadaan segar. Pemberian pakan yang baik diberikan
dengan perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum), apabila hijauan yang
diberikan berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55 : 45 dan hijauan
yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi
64 : 36 (Siregar 2008).

2.6 Penentuan Kondisi Tubuh Sapi Potong


Penentuan kondisi tubuh atau BSC adalah metode pemberian scor atau
nilai terhadap tubuh seekor ternak. Penilaian BSC merupakan suatu penilaian yang

6
bersifat sangat subyektif (sangat tergantung kepada yang melakukan pengukuran)
melalui teknik penglihatan dan perabaan untuk melakukan pendugaan terhadap
simpanan/ cadangan lemak tubuh tersebut. Simpanan lemak merupakan cadangan
energy pada ternak yang tersimpan pada saat ternak mendapatkan pakan yang
cukup atau berlebih. Simpanan lemak akan dimanfaatkan oleh ternak itu pada saat
kekurangan pakan terutama pada musim kemarau sehingga terjadi penurunan
BSC. Skor kondisi tubuh pada saat calving memiliki efek yang paling besar
terhadap tingkat kebuntingan (Lalman, et.al 1997).
Pengaruh Pakan Terhadap Penampilan Ternak:
1. Penampilan ternak apabila mendapat pakan yang cukup sesuai dengan
kebutuhannya maka scor BCS sedang, fertilias baik dan produksi
meningkat.
2. Penampilan ternak apabila mendapat pakan yang kurang /under feeding,
maka nilai BCSnya akan rendah, produksinya akan terhambat, pubertasnya
lambat, Conception Rate rendah, Calving Interval lama, Reproduktivitas
rendah, kematangan lambat, penampilan tidak sesuai standar. Fungsi
ovarium terganggu, silen estrus, kematian embrio, fetus abnormal,
kesehatan memburuk.
3. Penampilan ternak apabila mendapat pakan yang berlebih /Over feeding,
maka nilai BCS akan tinggi, Fertilitas rendah, biaya tidak efesien, eksresi
kelingkungan berlebih sehingga dapat menyebabkan pencemaran, obesitas,
reproduksi periode berikutnya rendah, infeksi uterin, fungsi ovarium
terganggu, kelebihan protein (keracunan ammonia),Pubertas lambat
(kelebihan mineral), Fertilitas rendah (kelebihan mikro nutrient).

7
BAB III MATERI DAN METODE

3.1 Materi
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 sapi Bali yang
dipelihara secara intensif di kandang.

3.2 Metode
Metode praktikum kali ini yaitu dengan cara mahasiswa mendatangi
peternak yang ada didaerah tempat tinggal masing-masing dan melaksanakan
praktikum. Data yang harus dianalisis :
1. Mencatat data pribadi peternak yang di kunjungi.
2. Menganalisis bangsa-bangsa sapi yang di pelihara oleh peternak melalui
ciri-ciri sapi tersebut.
3. Pendugaan bobot badan dari sapi dengan menggunakan rumur lingkar
dada.
4. Menganalisis jumlah pakan hijauan dan konsentrat untuk seekor sapi
berdasarkan jumlah pakan yang sudah ditentukan.
5. Pendugaan umur seeokor sapi melalui pertukaran dan jumlah gigi serta
cincin tanduk.
6. Penentuan kondisi tubuh atau BCS sesuai tingkat kegemukan sapi.

3.3 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2021. Lokasi penelitian
yaitu di Jorong Talago, Nagari Taeh Bukik, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten
Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Nama pemilik peternakan adalah
Ismed berumur 45 tahun, sudah beternak selama 2 tahun, dan memelihara 30 ekor
sapi Bali.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

8
4.1 Hasil
Hasil yang didapat dari praktikum mandiri ini adalah, praktikan dapat
menentukan bangsa-bangsa sapi, mengetahui ciri-ciri, ukuran tubuh, umur, dan
kondisi tubuh berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan. Berdasarkan
kegiatan praktikum, diperoleh data seuai dengan dengan Tabel 1 berikut:

Tabel 1. Hasil praktikum


Jumlah Gigi Pendugaan
Bangsa Lingkar Cincin
No Seri Umur
Sapi Dada (cm) Tanduk
Permanen
1 Bali 1 149 4 pasang 0 ( D 13 cm ) 2,5 tahun
2 Bali 2 155 6 pasang 1 ( D 16 cm ) 3 tahun

4.2 Pembahasan
4.2.1 Identifikasi Bangsa Sapi Potong
Sapi Bali merupakan keturunan dari sapi liar yang disebut Banteng (Bos
sondaicus) yang telah mengalami proses penjinakan (domestikasi) berabad-abad
lamanya (Sugeng, 1992). Menurut Abidin (2002), keunggulan sapi Bali adalah
mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga sering disebut ternak
perintis. Payne dan Hodges (1997), menyatakan bahwa sapi Bali memiliki potensi
genetik plasma ternak lokal yang mempunyai keunggulan komparatif
dibandingkan dengan ternak impor antara lain, keunggulan dalam memanfaatkan
hijauan pakan yang berserat tinggi, daya adaptasi iklim tropis dan fertilitas tinggi
(83%) serta persentase karkas (56%) dan kualitas karkas yang baik.
Ukuran tubuh sedang, dada dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya
ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung
ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna
putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha
bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (Soeparno, 1992).
Sapi Bali mempunyai ciri-ciri morfometrik yakni sapi Bali jantan dewasa
mempunyai bobot antara 337-494 kg dengan tinggi sekitar 122-130 cm (Pane,
1991), sedangkan bobot badan sapi Bali terbaik pada pameran ternak tahun 1991

9
mencapai 450-647 kg dengan tinggi sekitar 125-144 cm (Hardjosubroto, 1994).
Sementara itu, sapi Bali betina dewasa mempunyai bobot badan antara 224-300 kg
dengan tinggi sekitar 105-114 cm (Pane, 1991), sedangkan bobot badan sapi Bali
betina terbaik pada pameran temak tahun 1991 mencapai 300-489 kg dengan
tinggi sekitar 121-127 cm (Hardjosubroto, 1994).

4.2.2 Pendugaan Umur


Pendugaan umur dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan melihat
lingkar tanduk dan keadaan atau susunan giginya. Cara pendugaan umur dengan
melihat lingkar tanduk adalah dengan menghitung jumlah lingkar tanduk ditambah
2 (Abidin, 2002).
Pendugaan umur sapi yang diamati praktikan berdasarkan gigi seri, yaitu :
Sapi Bali 1 yang telah memiliki gigi seri 4 pasang diduga berumur sekitar 2 tahun,
sapi Bali 2 yang telah memiliki gigi seri 6 pasang diduga berumur 3 tahun.

4.2.3 Pengukuran Lingkar Dada


Pengukuran tubuh ternak sapi dapat digunakan untuk menduga bobot
badan seekor ternak sapi dan sering juga dipakai sebagai parameter teknis
penentuan bibit sapi (Santosa, 2005). Dari proses pengukuran ke dua sapi tersebut
diperoleh panjang lingkar dada sapi Bali 1, 149 cm dan sapi Bali 2, 155 cm.

4.2.4 Pendugaan Bobot Badan


Pendugaan bobot badan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
Scroorl. Dengan menyesuaikan bangsa sapi yang mau diduga bobotnya. Untuk
sapi Bali karena merupakan sapi tropis, maka menggunakan rumus :
Bobot badan (kg) = (Lingkar dada (cm) + 22}2

100

1) Lingkar dada sapi Bali 1 = 149 cm


Bobot badan (kg)= (149 (cm)+22)2 = 29.2441 = 292,41 kg

10
100 100

2) Lingkar dada sapi Bali 2 = 155 cm


Bobot badan (kg)= (155 (cm)+22)2 = 31.329 = 313,29 kg

100 100

4.2.5 Estimasi Kebutuhan Pakan


Peternak meberikan pakan untuk semua sapi yaitu satu ikat jerami kering
seberat 25 kg dan konsentrat berupa campuran ampas sawit, ubi kayu dan dedak 5
kg dalam 1 hari pada sore hari. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang
berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk
batang, ranting dan bunga (Sugeng, 1998). Menurut Lubis (1992) pemberian
pakan pada ternak sebaiknya diberikan dalam keadaan segar. Pemberian pakan
yang baik diberikan dengan perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum),
apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi
55 : 45 dan hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan
itu dapat menjadi 64 : 36 (Siregar 2008). Jadi pakan untuk sapi-sapi tersebut :
a) Sapi Bali 1
Jumlah kebutuhan pakan adalah 10% dari BB
= 10/100 x 292 kg
= 29,2 kg
Perbandingan pemberian rumput konsentrat yaitu 40% dan 60% daari 100%
Rumput = 60/100 x 29,2 kg
= 17,52 kg
Konsentrat = 40/100 x 29,2 kg
= 11,68 kg
b) Sapi Bali 2
Jumlah kebutuhan pakan adalah 10% dari BB
= 10/100 x 313 kg
= 31,3 kg

11
Perbandingan pemberian rumput konsentrat yaitu 40% dan 60% dari 100%
Rumput = 60/100 x 31,3 kg
= 18,78 kg
Konsentrat = 40/100 x 31,3 kg
= 12,52 kg

Dari jumlah pemberian pakan hijauan dan konsentrat oleh peternak dapat
disimpulkan bahwa pakan belum memenuhi standar kebutuhan ternak berdasarkan
bobot badan sapi. Hijauan yang diberikan oleh peternak terlalu banyak yaitu 25 kg
untuk sapi dengan kebutuhan sapi yang diamati pada sapi Bali 1 sebanyak 17,52
kg dan sapi Bali 2 sebanyak 18,78 kg. Sedangkan konsentrat yang diberikan terlalu
sedikit dengan yaitu 5 kg per hari dengan kebutuhan untuk sapi Bali 1 sebanyak
11,68 kg dan sapi Bali 2 sebanyak 12,52 kg.

4.2.6 Penentuan Kondisi Tubuh atau BCS


BCS/SKT adalah metode pemberian scor atau nilai terhadap tubuh seekor
ternak. Penilaian BCS/SKT merupakan suatu penilaian yang bersifat sangat
subyektif melalui teknik penglihatan dan perabaan untuk melakukan pendugaan
terhadap simpanan/cadangan lemak tubuh ternak tersebut.
Dari pengamatan yang telah dilakukan terhadap penentuan kondisi tubuh
atau BCS dengan menggunakan Scor Penilaian BCS berdasarkan Sistim Amerika
(1-9, praktikan dapat menyimpulkan bahwa :
1. Sapi Bali 1 (Score 5)
Ukuran tubuh sedang dan tulang rusuk sedikit membayang dan
dapat dirasakan dengan adanya tekanan tangan, terasa lapisan lemak
sedang serta tidak ada cekungan pada pangkal ekor.
2. Sapi Bali 2 (Score 6)
Ukuran tubuh menuju gemuk dan tidak tampak tulang rusuk
menonjol namun dapat dirasakan dengan adanya tekanan tangan dan terasa
lapisan lemak agak tebal serta tidak ada cekungan pada pangkal ekor.
BAB V PENUTUP

12
5.1 Kesimpulan
1. Jenis sapi potong yang banyak di pelihara oleh peternak rakyat di Nagari
taeh Bukik, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota,
Provinsi Sumatera Barat adalah sapi Bali dengan jumlah 30 ekor.
2. Pakan yang diberikan yaitu jerami kering 25 kg dan konsentrat berupa
campuran ampas sawit, ubi kayu dan dedak 5 kg dalam 1 hari.
3. Pakan yang diberikan belum memenuhi kebutuhan standar sapi menurut
bobot badannya yaitu sekitar 10% BB dengan perbandingan 60:40 ruput
dan konsentrat.
4. Untuk meminimalkan penggunaan pakan, peternak mengganti penggunaan
hijauan segar menjadi jerami kering.

5.2 Saran
Untuk memaksimalkan bobot badan sapi, sebaiknya peternak memberikan
pakan sapi sesuai kebutuhan standar pakan ternak berdasarkan bobot badannya
dengan menambahkan hijauan segar kedalam pakaan dan meningkatkan
penggunaan konsentrat. Dan pemerintah juga harus mensupport peternak-peternak
lokal dengan cara memberikan subsidi ke kelompok peternak, sehingga usaha
ternak rakyat menjadi lebih maju dan bisa bersaing dengan usaha swasta.

DAFTAR PUSTAKA

Bahary, M. A. D., 2017. Perbedaan Sifat Kualitatif Dan Kuantitatif Sapi Bali
Tidak Bertanduk dengan Sapi Bali Bertanduk. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Fikar, S., Ruhyadi, D. 2010. Beternak dan Bisnis Sapi Potong. PT Agromedia
Pustaka ; Jakarta.
GD, Suranjaya, I., dan Wiyana, KD, Anom. 2011. Aplikasi Rumus Penaksiran
Bobot Badan Ternak Berdasarkan Ukuran Dimensi Tubuh Pada Kelompok
Peternak Sapi Potong Di Desa Dauh Yeh Cani Abiansemal Bandung.
Udayana Mengabdi, Vol. 10(1) : 46-50.
Hikmawaty, dkk. 2014. Dentifikasi Ukuran Tubuh dan Bentuk Tubuh Sapi Bali Di

13
Beberapa Pusat Pembibitan Melalui Pendekatan Analisis Komponen
Utama. Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi Hasil Peternakan. Vol. 02 No.
1, Januari 2014 Hlm: 231-237
Karno, Rano. 2017. Hubungan Umur dan Jenis Kelamin Terhadap Bobot Badan
Sapi Bali Di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Skripsi. Jurusan Ilmu
Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negeri
Alauddin. Makassar.
Meivilia, M. 2011. Pendugaan Bobot Hidup pada Kambing Kacang Berdasarkan
Ukuran Linier Tubuh. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Purnomoadi, dkk. 2012. Hubungan Antara Ukuran-Ukuran Tubuh dengan Bobot
Badan Sapi Bali Betina pada Berbagai Kelompok Umur. Animal
Agriculture Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, 541 – 556
Purnomoadi. H. U. M. Ni’ am, A dan Dartosukarno. S. 2012. Hubungan Antara
Ukuran-Ukuran Tubuh Dengan Bobot Badan Sapi Betina Pada Berbagai
Kelompok Umur. Semarang. Universitas Diponegoro. Animal Agriculture
Journal, Vol. 1(1) : 541-556.
Sugeng, Y.B. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta. 2003. Beternak Sapi
potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Wahyono, D. E. dan R. Hardianto. 2004. Pemanfaatan sumberdaya pakan lokal
untuk pengembangan usaha sapi potong. Jurnal Loka Karya Sapi Potong.
Granti.Pasuruan.

14
LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuesioner Untuk Peternak


Nama : Ismed
Umur : 45 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jr. Pogang, Nagari taeh Bukik, Kecamatan
Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumater Barat
Jumlah Sapi : 30 ekor sapi
Sistem pemeliharaan : Intensif

Lampiran 2. Tabel Penentuan Body Condition Score (BCS)


Skor 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Klasifikasi eksterior Sangat Kurus Agak kurus Menuju Sedang Menuju Agak Gemuk Sangat
kurus kurus gemuk gemuk gemuk

Tulang Diukur Bagian Bagian atas Bentuk Tulang Bentuk tulang belakang
belakang dengan tulang belakang tidak terlihat sama sekali
tulang tulang
dan iga pengamatan tidak tidak
belakang masih terlalu begitu
nyata terlihat
membentuk membentuk
tonjolan tajam tonjolan

Tulang Tulang 1-2 Tulang


iga iga tulang iga sama
iga sekali
sangat nyata terlihat tidak
nyata terlihat

Diukur Langsung dapat dipegang Tulang iga dan tulang Tulang belakang tidak
dengan belakang langsung dapat dapat dirasakan tanpa
palpasi dirasakan dengan adanya adanya tekanan kuat,
tekanan tangan tulang iga terlindung
lemak

Tidak ada Terasa Terasa Terasa Terasa Terasa Terasa Terasa

15
lapisan lemak lapisan lapisan lapisan lapisan lapisan lapisan lapisan
lemak lemak lemak lemak lemak lemak lemak
sedang agak agak tebal sangat
sangat tipis tipis tebal tebal tebal

Tulang Diukur Tulang hip dan Rump Tulang hip dan pin terlihat Tulang hip dan Rump
hip dan dengan pin terlihat terlihat nyata. Rump terlihat datar pin tidak terlihat terlihat
pin pengamatan cekung dan mulai terisi lemak penuh
sangat nyata nyata. Rump
terisi lemak
Diukur Dapat dipegang Terasa adanya lemak Dapat dirasakan Dapat dirasakan adanya
dengan langsung tipis pada kedua adanya lapisan lapisan lemak tebal
palpasi
tulang lemak tipis
Pangkal Diukur Pangkal ekor terlihat cekung Bentukan Bentukan cembung
ekor dengan dan terlihat tulang sangat agak
pengamatan nyata cembung

Diukur Dapat dirasakan Dapat dirasakan Dapat dirasakan Lapisan Lapisan lemak
dengan bentukan tajam lapisan lemak tipis adanya lapisan lemak sangat tebal
palpasi lemak tebal

DOKUMENTASI

Gambar Peternakan Sapi Potong Rakyat di Jorong Talago, Nagari Taeh Bukik,
Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota.

16
17
Sapi Bali 1
(Bagian Depan)

Sapi Bali 1 (Bagian Belakang)

18
Sapi Bali 1

(Lingkar Dada)

Sapi Bali 1 (Tanduk)

19
Sapi Bali 1

(Gigi)

Sapi Bali 2 (Bagian Depan)

20
Sapi Bali 1

21
Sapi

Bali 2 (Bagian Belakang)

Sapi Bali 2 (Lingkar Dada)

22
Bali 2 (Tanduk)

Sapi Bali 2 (Gigi)

Pakan

23
Sapi

1. Konsentrat (Campuran Ampas sawit + ubi kayu + dedak)

2. Hijauan (Jerami Padi Kering)

24