Anda di halaman 1dari 10

PERSYARATAN MENJADI KAWASAN MINAPOLITAN

DASAR HUKUM
KEPMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP.41/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN
LOKASI MINAPOLITAN
KEPUTUSAN DIRJEND. PERIKANAN BUDIDAYA NOMOR KEP.45/DJ-PB/2009
SURAT DARI DKP DIRJEND. PERIKANAN DAN BUDIDAYA DIREKTUR PRASARANA DAN
SARANA BUDIDAYA TENTANG :
PENGEMBANGAN SENTRA PRODUKSI PERIKANAN YANG BANKABLE
DITETAPKAN MELALUI KAWASAN MINAPOLITAN DAN MENYUSUN MASTERPLAN
KAWASAN TERPILIH

MEWUJUDKAN RENCANA DALAM KEGIATAN NYATA DI LAPANGAN

PEDOMAN UMUM PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN


PENDAHULUAN
TUJUANNYA UNTUK MENDORONG PERCEPATAN PENGEMBANGAN WILAYAH DENGAN
KEGIATAN PERIKANAN SEBAGAI KEGIATAN UTAMA
MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN DAN TARAF HIDUP MASYARAKAT HINTERLAND
YANG DIKEMBANGKAN TIDAK SAJA ON FARM TETAPI JUGA OFF FARM SEPERTI SARANA
PERIKANAN DAN JASA PENUNJANG LAINNYA

SASARAN MINAPOLITAN
MENINGKATKAN PRODUKSI, PRODUKTIVITAS KOMODITAS PERIKANAN BUDIDAYA
SERTA PRODUK OLAHAN HASIL PERIKANAN
PENGUATAN KELEMBAGAAN PEMBUDIDAYAAN IKAN
PENGEMBANGAN SISTEM MINABISNIS ( AGROINPUT, PENGOLAHAN HASIL, PEMASARAN
DAN PENYEDIA JASA)
PENGEMBANGAN LEMBAGA PENYULUHAN TERPADU
IKLIM YANG KONDUSIF BAGI USAHA DAN INVESTASI
PENINGKATAN SARANA SOSIAL SEPERTI PENDIDIKAN DAN KESEHATAN
PENINGKATAN SARANA :
JARINGAN JALAN
IRIGASI
PASAR
AIR BERSIH
LISTRIK
PEMANFAATAN AIR LIMBAH DAN SAMPAH

PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN


PENGERTIAN

TERDIRI DARI KATA MINA ARTINYA IKAN DAN POLITAN ARTINYA KOTA, JADI
MINAPOLTAN ADALAH KOTA PERIKANAN

CIRI KAWASAN MINAPOLITAN


SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT MEMPEROLEH PENDAPATAN DARI KEGIATAN
MINABISNIS

KEGIATAN DIKAWASAN DIDOMINASI OLEH KEGIATAN PERIKANAN (INDUSTRI


PENGOLAHAN, PERDAGANGAN)

PERSYARATAN KAWASAN MINAPOLITAN


MEMILIKI LAHAN DAN PERAIRAN YANG SESUAI UNTUK PENGEMBANGAN
KOMODITAS PERIKANAN
MEMILIKI SARANA UMUM LAINNYA SEPERTI TRANSPORTASI, LISTRIK,
TELEKOMUNIKASI, AIR BERSIH DLL
MEMILIKI BERBAGAI SARANA DAN PRASARANA MINABISNIS, YAITU :
PASAR
LEMBAGA KEUANGAN
KELOMPOK BUDIDAYA
BALAI BENIH IKAN
PENYULUHAN DAN BIMBINGAN TEKNIS
JARINGAN JALAN, IRIGASI

BATASAN KAWASAN MINAPOLITAN


DITENTUKAN HANYA OLEH ECONOMIC OF SCALE DAN ECONOMIC OF SCOPE

PERENCANAAN

PROSES PERENCANAAN
SOSIALISASI PROGRAM KEPADA SELURUH STAKEHOLDERS
MENETAPKAN KAWASANMELALUI KELAYAKAN YANG CERMAT
(KELAYAKAN EKONOMIS, TEKNIS, SOSIAL BUDIDAYA DAN LINGKUNGAN HIDUP)
INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI WILAYAH TERPILIH (ANALISA TATA RUANG,
POTENSI, SOSIAL BUDAYA DAN KAPASITAS SDM)
MENYUSUN RENCANA PROGRAM

TAHAP PERENCANAAN
DILAKSANAKAN SECARA BERTAHAP BAIK JANGKA PANJANG, MENENGAH
DAN PENDEK
PENETAPAN LOKASI CALON KAWASAN MINAPOLITAN
PENETAPAN KAWASAN OLEH PEMERITAH KOTA BATAM, MASYARAKAT
(DPRD)
PENETAPAN BERDASARKAN PADA;
USULAN MASYARAKAT
HASIL STUDI KELAYAKAN
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN BERDASARKAN RUTR PADA RTRW
FASILITASI PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KAWASAN
MINAPOLITAN DAN SHARING PEMBIAYAAN PROGRAM DIBAHAS BERSAMA
ANTARA PEMERINTAH PUSAT, PROVINSI DAN PEMERINTAH DAERAH
(KAB/KOTA)

INDIKATOR KEBERHASILAN

DAMPAK
PENDAPATAN MASYARAKAT PEMBUDIDAYA MENINGKAT 5 % DI
KAWASAN MINAPOLITAN
PRODUKTIVITAS PERIKANAN MENINGKAT 5%
INVESTASI MASYARAKAT MENINGKAT 10 %
KEGIATAN IKUTAN TUMBUH SUMBUR DISEKITAR KAWASAN
OUT PUT
80 % KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN, KOPERASI DAN KELOMPOK USAHA
MAMPU MENYUSUN USAHA BERORIENTASI PASAR DAN LINGKUNGAN
TIAP KELURAHAN MENYUSUN PROGRAM RENCANA SECARA PARTISIPATIF
DAN DISETUJUI BERSAMA
MATRIK PROGRAM JANGKA PANJANG, DED DISETUJUI BERSAMA UNTUK
DILAKSANAKAN (70 % TERLAKSANA DIKAWASAN MINAPOLITAN)
TIM PENYULUH TERBENTUK
80 % PEMBUDIDAYA IKAN YANG MAJU MENJADI TEMPAT BELAJAR BAGI
YANG LAINNYA

KAWASAN MINAPOLITAN

Guna mendukung keberhasilan pelaksanaan revitalisasi perikanan maka dipandang perlu


mengembangkan kegiatan terpadu dalam pembangunan wilayah pedesaan yang berbasis perikanan
dengan melibatkan sector terkait. Kawasan itu disebut dengan nama kawasan Minapolitan yang
ditetapkan dengan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan no KEP.41/MEN/2009.
Kawasan minapolitan perikanan budidaya yang dikeluarkan dengan kepmen tanggal 3 juni 2009 adalah
sebagai berikut :
1. Propinsi NAD : Kab. Aceh Selatan
2. Prop Sumatera Utara : Kab Tapanuli Utara dan Kab Serdang Bedagai
3. Prop Sumatera Barat : Kab Pesisir Selatan
4. Prop Riau : Kuantan Singingi
5. Prop Kep. Riau : Kab/Kota Bintan
6. Prop Jambi : Kab Batanghari
7. Prop Bengkulu : Kab Kaur
8. Prop Sumatera Selatan : Palembang dan Kab Ogan Komering Ilir
9. Prop Bangka Belitung : Kab Bangka Selatan
10. Prop Lampung : Kab Lampung Selatan
11. Prop Banten : Kab Serang
12. Prop Jawa Barat : Bogor dan Garut
13. Prop Jawa Tengah : Boyolali dan Banyumas
14. Prop D I Yogyakarta : Kab Gunung Kidul
15. Prop Jawa Timur : Kab Trenggalek dan Malang
16. Prop Kalimantan Barat : Kab Sambas
17. Prop Kalimantan Tengah : Kab Pulau Pisang
18. Kalimantan Selatan : Kab Banjar
19. Prop Kalimantan timur : Kab Malinau
20. Pro Sulawesi Utara : Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Sangiihe
21. Prp Gorontalo : Gorontalo Utara
22. Prop Sulawesi Tengah : Tojo Una-Una
23. Prop Sulawesi Barat : Kab Mamuju
24. Prop Sulawesi Selatan : Kab Luwu Timur dan Kab Gowa
25. Prop Sulawesi Tenggara : Kab Kolaka dan kab konawe Selatan
26. Prop Bali : Kab Klungkung
27. Prop Nusa Tenggara Barat : Kab Bima
28. Prop Nusa Tenggara Timur : Kab Sika
29. Prop Maluku : Kab Seram bagian barat
30. Prop Maluku Utara : Kab Halmahera Selatan
31. Prop Papua : Kab Waropen
32. Prop Papua Barat : Raja Ampat
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, mencanangkan kawasan Pantai Kutuh, Jimbaran,
Kabupaten Badung, Bali, sebagai kawasan minapolitan. Kawasan tersebut unggul dari komoditas rumput
laut.

Pencanangan berlangsung di Badung, Jumat (4/2). Acara dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan Penasehat
Presiden, Ginanjar Kartasasmita. Menurut Fadel, dengan dicanangkannya kawasan minapolitan dengan
komoditi unggulan rumput laut, pemerintah menyediakan insfrastruktur dan fasilitas yang diperlukan
petani.

Selain itu untuk membangun tempat penjemuran rumput laut sesuai persyaratan. Begitu pula
penyimpanan pengolahan hingga menjadi mata dagangan siap ekspor.

Dengan demikian, petani pembudi daya rumput laut Pantai Kutuh bisa beraktivitas dengan baik.
Selanjutnya menghasilkan mata dagangan yang mampu bersaing di pasar ekspor.

"Kalau ditotal, untuk semua kebutuhan petani itu, pemerintah harus mengeluarkan dana sedikitnya Rp1,5
miliar," ujar Fadel yang juga didampingi Wakil Bupati Badung I Ketut Sudikerta.

Fasilitas yang diperlukan diharapkan bisa dibangun secepatnya dalam tahun ini. Dengan difasilitasi Dinas
Perikanan dan kelautan Provinsi Bali maupun Pemkab Badung. Adanya fasilitas yang memadai
diharapkan mampu meningkatkan produksi dua hingga empat kali lipat setiap tahunnya.

Ketua Kelompok petani rumput laut Desa Kutuh, I Ketut Lencana Yasa, menjelaskan, pemerintah
setempat memberikan izin mengolahan lahan perairan seluas 70 hektare.
Dari lahan tersebut baru dimanfaatkan sekitar 20 hektare dengan hasil setiap tahunnya sekitar 600 ton.
Panenan rumput laut dilakukan setiap 42 hari atau enam hingga delapan kali setiap tahun.

Pembudidayaan rumput laut menjadi andalan matapencaharian masyarakat Desa Kutuh, Jimbaran, Kuta
selatan. Meskipun sebagai pembudi daya rumput laut, kondisi masyarakat setempat hingga kini tidak ada
masuk katagori miskin.

Hal itu berkat keuletan dan kerja keras mengembangkan budidaya rumput laut sebagai mata dagangan
ekspor, diolah menjadi makanan dan minuman yang siap hidang. Dengan pencanangan kawasan
metropolitan diharapkan pengembangan rumput laut dilakukan intensif. Yaitu dengan memanfaatkan
lahan yang ada secara maksimal
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Program Minapolitan Perikanan yang diunggulkan oleh Kementrian Perikanan dan Kelautan sebagai
solusi untuk perbaikan perikanan, dipandang pesimistis oleh banyak pihak. Riza Damanik, selaku Ketua
Pokja Perikanan Aliansi Desa Sejahtera menilai program yang digembor-gemborkan oleh Menteri
Perikanan dan Kelautan Fadel Muhammad, berpotensi besar gagal. Minapolitan adalah strategi
pembangunan perikanan berbasis kawasan.

"Hari ini pemerintah mendengungkan minapolitan. Ini berpeluang besar gagal," kata Riza di sela-sela
diskusi Kebijakan Negara Agraris yang Bikin Petani Kecil Miris, di Bakoel Koffie, Jakarta, Jumat
(23/4/2010).

Alasannya, ungkap Riza, kebijakan minapolitan sangat berorientasi pada peningkatan produksi. Ini
berbahaya karena orientasi mengejar pertumbuhan produksi ikan baik dari kegiatan penangkapan maupun
budidaya, mengancam kelestarian ikan. Di sisi lain, hal ini juga bakal merusak harga ikan Indonesia
apabila pemerintah tidak mampu memasarkan produksi ikan.

Tak hanya itu, saat ini Indonesia hanya memasok ikan gelondongan ke luar negeri dan tidak menjual ikan
olahan. Menurutnya, ikan gelondongan harganya jauh lebih murah dibandingkan ikan olahan.
"Minapolitan enggak bicara proses. Hanya target pertumbuhan produksi. Kalau sudah tercapai, belum
tentu pemerintah mampu memasarkan di pasar luar negeri," papar dia.

Alasan lainnya, program ini dinilai diskriminarif. Pasalnya, pemerintah memberikan insentif yang lebih
di sektor perikanan budidaya ketimbang sektor perikanan perikanan tangkap. "Ini nggak relevan karena
sekitar 2,8 juta masih menggantungkan hidupnya di sektor perikanan tangkap. Itu kan besar sekali,"
tandas dia.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Komitmen pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk pembangunan minapolitan. Dukungan itu, antara
lain, dalam pendanaan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pada peringatan Hari Nelayan
di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (6/4).

Minapolitan adalah kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komoditas
kelautan dan perikanan. Minapolitan dikembangkan untuk komoditas unggulan, antara lain udang, ikan
patin, lele, tuna, dan rumput laut. Pengembangan minapolitan adalah bagian untuk mencapai target
peningkatan produksi perikanan sebesar 353 persen pada 2014.

Selain pendanaan, menurut Fadel, syarat lain untuk mengembangkan minapolitan adalah ketersediaan
lahan budidaya, pelabuhan perikanan, dan penyediaan fasilitas pendukung, seperti jalan, pengairan, dan
listrik, serta letak geografis yang mendukung. ”Komitmen daerah mengembangkan kawasan minapolitan
akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perikanan,” ujar Fadel.

Aksi damai
Menanggapi target pertumbuhan produksi perikanan 353 persen pada 2014, Sekretaris Jenderal Koalisi
Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik mengingatkan, peningkatan produksi besar-
besaran tanpa didukung pengembangan optimal industri pengolahan akan membuat harga produk
perikanan jatuh.

”Dan, terus menggenjot perikanan budidaya akan berpotensi mencapai titik jenuh serta berdampak pada
perusakan lingkungan,” kata dia.

Peringatan Hari Nelayan diisi dengan aksi damai sejumlah elemen masyarakat yang tergabung Kiara di
Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Para pengunjuk rasa mendesak pemerintah melindungi kegiatan perikanan, hak-hak nelayan, dan wilayah
tangkap nelayan tradisional, serta menempatkan kegiatan perikanan sebagai sumber pangan nasional.

Hari Nelayan Indonesia yang diperingati hari ini, 6 April, bagai menguak riwayat ”urat nadi” negeri
bahari ini. Belenggu kemiskinan dan keterbelakangan hingga kini belum beranjak dari kehidupan
nelayan. Ketidakpastian penghidupan membuat sebagian nelayan kecil beralih profesi ke sektor informal.

Berdasarkan data Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), tahun 2003-2008, sekitar 1,2 juta
nelayan tangkap sudah meninggalkan laut. Sebagian dari mereka beralih profesi ke sektor informal di luar
perikanan tangkap, misalnya menjadi buruh bangunan, buruh pabrik, atau tukang ojek.

Keterbatasan bahan bakar minyak, jeratan utang ke tengkulak, permainan harga jual ikan, dan terbatasnya
daya serap industri pengolahan ikan menjadi persoalan klasik yang mendera nelayan hingga hari ini.

Kasus penangkapan ikan ilegal di perairan Indonesia oleh nelayan asing, penangkapan ikan dengan alat
tangkap yang merusak lingkungan, dan penangkapan ikan yang tidak dilaporkan adalah lingkaran setan
yang menggerogoti daya saing nelayan kecil dan tradisional.

Di sisi lain, ratusan nelayan asal Indonesia ditangkap oleh otoritas keamanan Australia karena dianggap
memasuki perairan Australia.

Saat ini, jumlah nelayan Indonesia berkisar 2,7 juta jiwa, 80 persen di antaranya nelayan skala kecil dan
tradisional dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT).

Pemerintah menggagas upaya pengendalian penangkapan ikan dan mengurangi kepadatan penangkapan
di sejumlah wilayah pengelolaan perikanan dengan mendorong penangkapan ke laut lepas. Caranya,
melalui restrukturisasi dan modernisasi armada kapal kecil agar nelayan bisa menjelajah lebih dari 12 mil
sampai ke laut lepas.

Anggaran merestrukturisasi kapal tahun 2011 diusulkan Rp 1,5 triliun, guna mengganti 1.000 perahu
tanpa motor milik nelayan kecil menjadi kapal motor berbobot lebih dari 30 GT beserta alat tangkap ikan.

Upaya lain, menekan penangkapan berlebih dengan menggeser fokus peningkatan produksi dari
perikanan tangkap ke perikanan budidaya.

Dalam periode 2009-2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan target ambisius menaikkan
produksi perikanan 353 persen dengan program andalan, minapolitan.

Tahun 2010, pemerintah menargetkan pembentukan 28 kawasan minapolitan dengan titik berat komoditas
unggulan perikanan budidaya, seperti rumput laut, patin, lele, udang, nila, dan kerapu.

Program minapolitan dirancang sebagai sinergi Kementerian Kelautan dan Perikanan dan kementerian
teknis lain, seperti Kementerian Pekerjaan Umum untuk penyediaan infrastruktur, serta Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral untuk pasokan bahan bakar minyak.

Adapun minapolitan mengarah pada kawasan perikanan terintegrasi, yang terdiri dari fasilitas pemasaran,
perdagangan, serta sarana dan prasarana pendukung usaha. Dalam satu wilayah kabupaten/kota
dimungkinkan terdapat beberapa sentra produksi unggulan.
Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana menilai, program
peningkatan produksi budidaya justru kontraproduktif dengan upaya pengendalian perikanan tangkap
sebab 60 persen komponen pakan ikan bersumber dari ikan laut.

Jika dibanding program agropolitan yang sudah dikembangkan Kementerian Pertanian pada 2002, inti
minapolitan tak jauh berbeda, yakni kawasan pengembangan ekonomi berbasis komoditas unggulan.

Pada periode pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan
mencanangkan peningkatan produksi ikan tahun 2003 menjadi 9 juta ton dengan target nilai ekspor 10
miliar dollar AS.

Namun, data Organisasi Pangan Dunia (FAO) menunjukkan, produksi ikan nasional tahun 2003 hanya
5,8 juta ton dengan nilai ekspor kurang dari 1,7 miliar dollar AS.

Pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dicanangkan program Gerbang Mina Bahari,
yang targetnya sama. Produksi ikan nasional ditargetkan 9,5 juta ton pada 2006 dan nilai devisa 10 miliar
dollar AS. FAO merilis, realisasi produksi ikan tahun 2006 hanya 6,2 juta ton senilai 2 miliar dollar AS.

Pada periode pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah kembali
mencanangkan program serupa dengan nama revitalisasi kelautan dan perikanan dengan target produksi
tahun 2009 adalah 9,7 juta ton dan nilai ekspor 5 miliar dollar AS.

Sekjen Kiara Riza Damanik mengingatkan, program restrukturisasi kapal nelayan kecil dikhawatirkan
akan sia-sia sebab tidak mudah mengubah karakter nelayan kecil yang terbiasa menangkap di perairan
sejauh maksimum 4 mil ke laut lepas.

Selain itu, restrukturisasi ke kapal berbobot besar membutuhkan tambahan modal bahan bakar yang
belum tentu bisa dipenuhi nelayan.

”Lompatan kebiasaan menangkap ikan memiliki risiko kegagalan yang tinggi,” ujar Riza.

Apalagi nilai jual ikan masih rendah karena sebagian besar dipasarkan dalam bentuk utuh. Utilitas pabrik
pengolahan hanya 70 persen membuat produk ikan sulit memiliki nilai tambah.

Sebagai ilustrasi, nilai ekspor perikanan Indonesia sekitar 2,3 miliar dollar AS. Pada tahun yang sama,
nilai ekspor perikanan Vietnam dengan suplai ikan yang jauh lebih sedikit sebesar 3,4 miliar dollar AS,
karena didukung 335 industri pengolahan dengan kapasitas optimal.

Upaya nyata menolong nelayan dari jerat kemiskinan adalah membenahi sektor tangkap dari hulu ke hilir.
Upaya itu mulai dari perlindungan wilayah tangkap nelayan tradisional agar tidak disusupi nelayan besar
yang mengeruk ikan di wilayah tangkapan nelayan kecil. ”Harus ada jaminan hak nelayan untuk
mengakses wilayah tangkapan dan perlindungan terhadap perairannya,” ujar Riza.

Selain itu, dibutuhkan pembenahan pendataan hasil tangkapan ikan. Ini agar ikan tidak diselundupkan dan
ada jaminan pasokan bahan baku ke industri pengolahan.

Di sisi lain, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan industri pengolahan di sentra-sentra produksi.
Usaha pengolahan tidak hanya di skala kecil menengah berupa ikan bakar dan asap, melainkan juga skala
industri besar dengan produk olahan yang lebih bervariasi.

Kebijakan penghapusan retribusi perikanan yang memberatkan nelayan harus diwujudkan. Jangan sampai
kebijakan itu hanya menjadi wacana di tingkat pemerintah pusat, tetapi minim implementasi di tingkat
daerah.

Segala keberpihakan itu dibutuhkan jika pemerintah serius menolong nelayan terbebas dari jerat
ketertinggalan

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Program minapolitan yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan harus didukung dengan
kejelasan formulasi penerapan dan prinsip perikanan yang berkelanjutan. Demikian mengemuka dalam
Seminar Nasional Membangun Minapolitan Berbasis Masyarakat, di Bogor, Kamis (25/3/2010). Tahun
2010, pemerintah berencana membentuk 28 kabupaten/kota untuk menjadi kawasan minapolitan.

Kawasan minapolitan adalah kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan
komoditas kelautan dan perikanan, jasa, perumahan yang terintegrasi.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor, Arif Satria, mengemukakan, formulasi
pelaksanaan minapolitan harus melibatkan peran masyarakat mulai dari perencanaan, implementasi, dan
evaluasi. Selain itu, kajian ekologis untuk mendukung sumber daya perikanan berkelanjutan.

"Minapolitan perlu dikawal agar menjadi tren nasional untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
pesisir," ujarnya.

Hal senada dikemukakan Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Bidang Sumber Daya dan
Pengembangan, Hermanto Siregar. Persoalan mendasar yang hingga kini mendera masyarakat pesisir
adalah kemiskinan dan pengangguran. Oleh karena itu, program minapolitan harus membawa dampak
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

"Sektor kelautan dan perikanan adalah the sleeping giant, kalau dikembangkan maka efeknya besar.
Namun, tidak bisa dengan mengandalkan kerja satu kementerian, dibutuhkan lintas koordinasi dan
keterlibatan pemda," ujarnya.

Karakteristik kawasan minapolitan direncanakan terdiri dari sentra-sentra produksi dan pemasaran
berbasis perikanan, keanekaragaman kegiatan ekonomi, produksi, perdagangan, jasa pelayanan,
kesehatan, dan sosial. Selain itu, sarana dan prasarana memadai untuk mendukung keanekaragaman
aktivitas ekonomi.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, mengemukakan, program awal yang akan
dilaksanakan dalam minapolitan adalah penyediaan infrastruktur. Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum
telah menganggarkan dana sebesar Rp 1,7 triliun pada tahun 2010 untuk pembangunan infrastruktur
sektor perikanan dan kelautan.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pemerintah akan mengembangkan sektor perikanan Kabupaten Garut dengan konsep minapolitan untuk
meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan. Program ini didukung Kementerian Perikanan dan
Kelautan dan Kementerian Pekerjaan Umum.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Garut Tati Karyati,
Jumat (5/3), mengatakan, program minapolitan adalah pengembangan sektor perikanan terpadu dengan
kegiatan usaha mencakup budidaya hingga pengolahan dengan pendekatan kawasan. Di Garut program
ini dilakukan di Kecamatan Sukawening dan Karangpawitan.

Menurut Tati, tahapan program pada semester pertama tahun ini berupa perencanaan kawasan.
Pembangunan fisik dilakukan pada semester kedua. "Dana program dari Kementerian Kelautan dan
Perikanan belum turun, sedangkan dari Kementerian Pekerjaan Umum katanya sudah ada Rp 2 miliar,"
kata Tati.

Beberapa hal yang akan dibenahi di awal program ialah perbaikan saluran irigasi ke kolam masyarakat,
dilanjutkan rehabilitasi jalan akses menuju sentra produksi perikanan.

Tati menerangkan, komoditas yang dianjurkan Kementerian Perikanan dan Kelautan di Garut ialah udang
galah. Nantinya pembudidaya di Karangpawitan diarahkan pada usaha pembibitan, yang menyokong
usaha pembesaran udang galah di Sukawening.
Selama ini, ujar Tati, masyarakat di Sukawening terbiasa membudidayakan ikan secara polikultur. Ikan
yang biasa dibudidayakan ialah nila, mas, lele, dan hias. Hanya sedikit yang membudidayakan udang
galah.

Udang galah

Data menunjukkan, produksi udang galah di Garut sebenarnya minim. Pada 2008, misalnya, produksi
udang galah di Garut hanya 13 ton. Komoditas budidaya yang dominan justru ikan mas (5.319 ton), nila
(4.432 ton), dan nilem (3.554 ton).

Kepala Biro Budidaya Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Jawa Barat Muhamad Husen mengingatkan,
jangan sampai program bagus seperti minapolitan dipandang proyek semata. Jika komoditas yang akan
dibudidayakan adalah udang galah, sarana produksi dan faktor pendukungnya harus disiapkan. Misalnya,
dari mana benur atau benih udang diperoleh, sejauh mana saluran irigasi berfungsi, dan bagaimana
kondisi jalan di kawasan itu.

Tati mengakui, selama ini penyediaan benur masih bergantung pada Balai Pengembangan Benih Ikan
Laut, Air Payau, dan Udang Pangandaran dan Balai Benih Udang Galah Ciamis. Untuk mengurangi
ketergantungan ini, ujar Tati, bukan tidak mungkin Garut membangun sendiri unit pembenihan udang
galah.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Memasuki semester pertama 2011, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memfokuskan perhatian
pada pengembangan minapolitan. Bidikannya, ada 41 lokasi sebagai percontohan di mana 9 lokasi
minapolitan berbasis perikanan tangkap, 24 lokasi minapolitan berbasis perikanan budidaya, dan 8 lokasi
sentra garam.

’’Kita gencar melakukan progam minapolitan, karena memberikan kontribusi tinggi untuk kesejahteraan
masyarakat nelayan. Tujuan kita juga fokus mendukung percepatan pengentasan kemiskinan melalui
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Kelautan dan Perikanan (PNPM-KP), dan
dukungan permodalan melalui penyaluran KUR, KKP-E, dan CSR bagi kelompok yang telah mandiri,’’
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad usai membuka Rakornas KKP 2011 di Gedung Mina
Bahari 3, Jakarta, kemarin.

Untuk melaksanakan PNPM KP, KKP telah menyiapkan anggaran sebesar 396,4 milyar yang akan
dilaksanakan pada 501 kabupaten-kota dalam tiga kelompok program, yaitu bantuan dan perlindungan
sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan usaha mikro dan kecil.

Diakui Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad pelaksanaan program Minapolitan setidaknya
memiliki tiga tujuan. Meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas serta meningkatkan pendapatan
nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah ikan. Terakhir pengembangan kawasan ekonomi kelautan dan
perikanan untuk menggerakan ekonomi daerah.

Pelaksanaan program Minapolitan akan terus diperluas hingga menjadi 197 lokasi pada 2014. Selain itu,
KKP sedang merancang proyek mega minapolitan di Morotai, Maluku Utara, yaitu minapolitan dalam
skala yang lebih besar dengan Taiwan sebagai investornya. Pulau Morotai akan dikembangkan sebagai
sentra perikanan terbesar yang berbasiskan pada pengembangan perikanan budidaya dan perikanan
tangkap.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan
pendekatan dan sistem manajemen kawasan dengan prinsip-prinsip, integrasi, efisiensi, kualitas, dan
akselerasi.

Oleh karena itu. sebagai program lima tahun kedepan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan
membangun kawasan minapolitan (kawasan produksi kelautan dan perikanan yang terintegrasi) di 28
kabupaten sebagai pilot project untuk meningkatkan produksi perikanan di Indonesia."Pada tahap awal
akan dibangun di 28 kabupaten, dan nanti apabila proyek itu berhasil, pembangunannya akan diperluas ke
daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia." kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad
pada Seminar "Membangun Minapolitan Berbasis Masyarakat" di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB),
di Bogor, kemarin.

Program untuk membuat kawasan minapolitan di 28 kabupaten itu direncanakan akan didanai melalui
anggaran APBN-Perubahan 2010, yang saat ini pembahasannya masih dalam pembahasan di DPR.Setelah
anggarannya ditetapkan dan ke luar, baru akan kami akan menentukan daerah-daerah untuk lokasi
pembangunan minapolilan itu." ucap Fadel.Ia menjelaskan, sudah banyak daerah yang mengajukan surat
ke KKP dan meminta agar daerahnya menjadi lokasi pembangunan kawasan minapolitan.

Tahap pertama, pihaknya memilih dulu beberapa daerah yang akan dibangun kawasan minapolitan. baru
setelah berhasil akan dibuat replikasinya."Kalau dibuat sekaligus nanti takut kacau pelaksanaannya,
apalagi kawasan minapolitan itu masih dalam konsep awal," katanya.Pembentukan kawasan minapolitan
itu dimaksudkan untuk meningkatkan produksi ikan dengan harga ikan yang murah dan terjangkau
masyarakat.Menurutnya, sekitar 60 persen harga ikan sangat dipengaruhi oleh pakan ikan. Pakan ikan
memengaruhi harga ikan menjadi mahal atau murah.Harga ikan saat ini berkisar antara Rp9.000-Rpl
1.000 per kg. Agar harga ikan lebih murah, maka perlu membuat industri pakan ikan yang dikelola oleh
masyarakat pembudidaya ikan itu sendiri.

Beberapa perguruan tinggi, termasuk IPB. sudah melakukan penelitian mengenai pakan ikan ini. Kami
sudah meminta beberapa perguruan tinggi sebagai pilot project dalam memroduksi pakan ikan yang
harganya bisa lebih murah dan terjangkau rakyat, dengan harga sekitar Rp 2.000 per kg." kata
Fadel.Kiti.iti pembuat pakan ikan murah tersebut dibuat dari ampas kelapa sawit. Setelah melalui proses
tertentu, bahan pakan itu akan melahirkan makhluk hidup serupa serangga, yang kamudian disebut
maggot. Pilol project ini sudah dibuat di daerah Depok. Jawa Barat.

Bahkan, pihaknya akan membuat 4.000 unit patan Ikan. Bisnis seperti ini akan dirintis di beberapa desa.
Dengan demikian, warga desa atan membuat sendiri patan Ikannya. Mengenai dana, seluruhnya akan
disiapkan pemerintah.Rektor IPB Herry Suhardl-yanto menambahkan, kawasan minapolitan tidak bsa
hanya diselenggarakan oleh satu kementerian saja. Tetapi harus ada kerja sama dengan kementerian lain,
yaitu Kementerian Pekerjaan Umum dan didukung pemerintah daerah dan talangan swasta.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kini gencar membangun sentra minapolitan di
Pelabuhan Muncar, Kecamatan Muncar. Pembangunan tersebut dijanjikan akan memakai pendekatan
sosial untuk menopang kegiatan perekonomian, wisata, dan pelestarian lingkungan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengemukakan, pembangunan minapolitan sudah dimulai
tahun 2010, tetapi konsep minapolitan disambut dingin warganya. "Warga Muncar cuek dengan rencana
pengembangan Muncar sebagai minapolitan karena pendekatan yang dilakukan selama ini adalah
pendekatan proyek semata," kata Azwar, dalam Rapat Koordinasi Evaluasi Keterpaduan Pelaksanaan dan
Pengembangan Minapolitan, Kamis (24/2/2011) di Banyuwangi.

Selama ini pengembangan minapolitan di Muncar dinilai masih berkisar pada pembangunan fisik. Pada
2011 rencana pengembangan juga masih berkisar pada proyek, di antaranya pembangunan pemecah
ombak atau pasar ikan. Hal itu membuat warga di sekitar Muncar kurang peduli, bahkan tidak tahu-
menahu soal itu.

Oleh karena itu, tahun ini Azwar mengupayakan perubahan pendekatan dari fisik menjadi sosial. Salah
satu langkah yang tengah dilakukan di antaranya dengan memberdayakan istri nelayan, melatih sumber
daya manusia, dan memanfaatkan potensi lokal. Dengan jalan ini, persoalan sosial, seperti pengiriman
tenaga kerja tak terlatih ke luar negeri bisa dikurangi. Mata rantai trafficking pun bisa diputuskan. Warga
di sekitar Muncar juga akan terlibat langsung dalam pengembangan minapolitan.

Hingga tahun 2010, pembangunan minapolitan di Muncar sudah menelan Rp 44 miliar dana APBN dan
APBD tingkat provinsi dan kabupaten. Dana tersebut dikucurkan, antara lain, untuk penataan
permukiman dan penambahan panjang pemecah ombak. Pada tahun 2011, selain pembangunan fisik,
seperti pembangunan talud dan rehabilitasi los pasar ikan, pemberdayaan perempuan juga akan menjadi
prioritas. Dana yang akan dikucurkan dari pemerintah pusat dan daerah mencapai Rp 140,2 miliar.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Dedy Sutisna mengatakan,
Muncar mempunyai potensi perikanan yang tinggi. Keterlibatan swasta diperlukan untuk mempercepat
minapolitan.

Menurut Direktur Pelayanan Usaha Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan Bambang
Sutedjo, selama ini perlu waktu dua hari untuk mengangkut kontainer dari Muncar. "Nantinya setelah
infrastruktur dibangun, diharapkan waktu pengangkutan bisa dipersingkat dalam hitungan jam, seperti di
Pelabuhan Benoa, Bali. Swasta bisa masuk untuk berinvestasi dalam membangun sarana kebutuhan
nelayan," tutur Bambang.

Dari sisi lingkungan, limbah dan sanitasi kampung nelayan juga akan ditata. Penanaman bakau,
penyebaran bibit ikan untuk regenerasi dan rehabilitasi terumbu karang akan dilakukan seiring dengan
pembangunan Pelabuhan Muncar.

Anda mungkin juga menyukai