STUDI PENOlJGAAN HUBlJNGAN PARAMETER SISTEM PERINGKAT BAHA YA KEBAKARAN HUTAN (KODE 'KADAR AIR SERASAH DAN INDEKS

CiJACA KEBAKARAN) DENGAN SEBARAN HOTSPOT

Oleh: KRISTIAN HAMONANGAN SHIALOHO £01499094

DEPARTEMEN 1\IANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEIIUTANAN
INSTITUT PERTANlAN BOGOR

2004

Ada Ku a sa di Da la m DfA

Ketika Kita Datang dan Meminta Dengan Hati 'I'arbuka. dan Percaya PadaNYA Bahwa TiadaJalan Selain Jalan Keselamatan AnugerahNYA (Locky, 2004)

Kupersembahkan Karya Kecil Ini Buat Bapak dan Marna, Kakakku Lentini, Adikku Adven dan Fandi

RL\GKASAN Kristian H. Sihaloho, E01499094. Studi Pendugaan Ilubungan Parameter Sistem Peringkat Bahaya Kebakarun Hutan (Kode Kadar Air Serasah dan Indeks Cuaca Kebakaran) dengan Sebaran Hotspot. Dibawah Bimbingan Dr. Ir. Bambang Hero ~~~~ Saharjo, __ ~~ M.Agr __ ~~~ II'. Isra r Albar, __iVl.Sc. dan ;i~~ __ ~ __ ~.~ ~; ~ ~mm ~

Masalah merugikan adalah struktur lingkungan

kebakaran

hutan maupun hutan,

dan lahan kesehatan kornposisi

mengakibatkan Dampak

darnpak

yang cukup

bagi ekosistem

negatif yang dapat dirasakan (keragaman terhadap spesies) dan

kerusakan hutan

ekosistem yang berubah,

vegetasi

sciring

.dengan

darnpaknya

komponen

serta dapat mengakihatkan satu usaha

lnfeksi Salman Pernafasan dalam pcncegahan Bahaya

Atas (lSPA). bahaya kebakaran di

Salah Indonesia yang

yang digunakan menerapakan Kanada 8P13K perbedaan

yaitu dengan dari

Sistem

Peringkut Forest telah

Kebakaran

(SPBK)

di adopsi

(Canadian

Fire

Danger

Rating System, proses

(CFDRS)). adaptasi

Implerncntasi karena adanya

di Indonesia karakteristik dilakukan

rnelalui

serangkaian

iklim maupun

bahan bakar di negara parameter-

asalnya. Penerapan parameter

SPBK di Indonesia

dengan mernbandingkan

yang ada pada SPBK dengan sebaran hotspot yang terjadi setiap hari pada satelit Nattonat Oceanic Atmospheric Administration, Radiometer huian digunakan (NOAA-A VHRT<). dengan Pendugaan SPBK

suatu kawasan dengan bantuan Advanced terjadinya
VelY

High

Resolution

kebal.ar.m

di permukaan

dua parameter
(lCK).

yaitu Kode Kadar Air Serasah (Kl(AS) dan Indeks Cuaca Kebakaran Penelitian dengan Propinsi .iarameter ini bertujuan unruk mengetahui sebaran 2002. Kebakaran Direktorat keeratan

hubungan

antara SPBK yang terjadi di

KKAS dan leI( dcngan

hotspot harian

Jambi dan Riau peri ode J uni-Agustus Pe.iclitian ini dilakukan Institut Kehutanan Pertanian

di Laboratoriurn Bogor,

Hutan

clan Lahau, lnventarisasi (BPPT), Penelitian

Fakultas Sumber

Teknologi

Daya Alam (TISDA), Penanggulangan dibulan

Badan Pcngkajian Kcbakaran

dan Penerapan

Teknologi Kehutanan.

dan Direktorat ini dilakukan

l-lutan Dep.irtemen

Februari-Maret

2004. Bahan yang digunakan

dalam penelitian

ini adalah peta penyebaran

titik panas (I/O/spot) Propinsi

Jambi dan Riau bulan Juni-

. Jambi. Hubungan parameter SPBK dengan sebaran hotspot yang cukup erat dapat dilihat dari hasil analisis regresi. Agustus 2002 dan data hasil olahan data cuaca SPI3K (KKAS dan Jambi dan Riau bulan Juni-Agustus 2002. Riau perubahan nilai KKAS jurnlah sebaran hotspot dan Stasi un Simpang diikuti dengan tidak selalu karena peningkatan dan ICK. Hal ini disebabkan banyaknya data sebaran hotspot yang tidak dimasukkan dalam anal isis data karena tidak terrnasuk dalam koordinat stasi un cuaca . I-Ja! jumlah sebaran hotspot selalu diikuti dcngan pcningkatan ini terutama terjadi di Stasi un Sultan Taha. Riau sebesar 95. Peningkatan nilai KKAS dan ICK. Riau sebesar 66.\PO{ tingkat dun pengkelasannya di stasi un ini sebesar 84. : [CK) eli Propinsi Untuk melihat keeratan hubungan antara parameter dengan sebaran hotspot SPBK (KKAS dan ICK) sederhana Dalam dengan hal ini dilakukan Microsof] dengan anal isis regresi menggunakan program Eyed dan Mi. Melalui hasil penelitian data sebaran hotspot yang hilang akibat tidak terdeteksi dalam koordinat stasiun cuaca turut mempengaruhi keakuratan anal isis data.3%.12 KKAS dan ICK merupakan parameter varia bel bebas dan sebaran hotspot serta pengkclasan SPBK terrnasuk variabel tidak bebas .tah versi 13.6% sedangkan dan pengkelasannya bahwa banyaknya tidak tennasuk tingkat keeratan leK dengan sebaran hotspot ini dapat juga diketahui maupun sebesar 90. ini dapat dikctahui bahwa SPBK merniliki hubungan parameter SPBK (KKAS jumlah sebaran Melalui hasil penelitian yang cukup erat dengan sebaran hot . .. Namun di Stasiun Sultan Rengat Tiga.~ .1% sedangkan dan pengkelasannya keeratan ICK di Stasiun Sultan Taha.0% sedangkan sebesar 94.8% dan di Stasiun tingkat keeratan leK dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya tingkat keeratan KKAS dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya Rengat.. Melalui analisis regresi di dapat tingkat keeratan KKAS dengan sebaran hotspot sebesar 89... Keeratan dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya di Stasiun Simpang Tiga.pot dan pengkelasan dan ICK).. Hal ini dapat dilihat dari analisa grafis dirnana perubahan hotspot berkorelasi positif dengan perubahan nilai KKAS dan ICK.'l.9%. Jambi dengan sebaran KKAS hOf.

STUD) PEi\DUGAAN HUBUNGAN PARAM·ETER SISTEM PERINGKAT BAHA VA KEBAKARAN HUTAN (KODE KADAR AIR SERASAH DAN INDEKS ClJACA KEBAKARAN) DENGAN SEBARAN HOTSPOT SKRIPSI Sebagai Salah Satu Syarat lJntuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Institut Pertanian BOgOl' Pada Fakultas Kchutanan OIeh: KRISTIAN HAMONANGAN SIHALOHO E01499094 DEPARTEMEN MANA.IEMEN HUTAN FAKULTASKEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN 2004 BOGOR .

Agr) (II'..N l!. Tanggal : {fl..t Mel ~ .2\ Me.~ M.t1':10l\'ANGAN SIHALOHO E01499094 MANAJEMEN HlJTAN NAMA MAHASIS'VA ].OJIOR POKOK DEPARTEMEN PROGRAM STlJDI BUDIDAVA HUTAN Menyetujui : Pembimbing II (Dr. .. M.2CC!4 .LEMBAR PENGESAHAN JUDUL PENELITIAl\ STUOI PENDUGAAN HtJBUNGAN PARAMETER SISTEM PERINGKA T HAHA YA KEBAKARAN HUTAN (KODE KADAR AiR SERf\SAH DAN INDEKS CUACA KEBAKARAN) DENGAN SEBARAN HOTSPOT KRIST!A.!!".Se) Tanggal : 2.~r/t . Israr Albar. Bambang Hcr'O Sahado.

Sihaloho dan Penulis I012G. Penulis mengambil Hutan dan Lahan. Tinambunan.un di Sekolah Dasar Prabhudy PWKI Wanita Kristen Indonesia) Medan. "Studi Hutan penulis Sebagai salah satu syarat untuk mcmperoleh melaksanakan Hubungan penelitian Parameter dan menyusun Sistem Peringkat skripsi dengan judul Bahaya Kebakaran Pendugaan (Kode Kadar Air Serasah bimbingan M. Bambang Hero Saharjo. br. dan Bapak Ir. Ir. mengikuti pendidikan di mulai dari TK Asrama Briegif dengan pendidikan (Persatuan 1 Marindal Medan pada tahun 1986 dan dilanjutkan 1987 tingkat dasar sejak tal. Fakultas Kehutanan. Agr. Program Studi lsudidaya Hutan. M.Sc. dan lulus pada tahun 1993. gelar Sarjana Kehutanan. . dibawah Bapak Dr.{otspot. Penults merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Bapak H. Pendidikan dilanjutkan pada Sekolah Menengah Pertama Katolik Trisakti 1 Medan dan lulus pada tahun 1996 dan selanjutnya di Sekolah Menengah Pada tahun Umum Negeri 6 Medan yang diselesaikan 1999 penulis Tinggi diterima pada tahun 1999. Israr Albar. Boger melalui jalur di Institut Pertanian Ujian Masuk Perguruan Departemen di Laboratorim Negeri (UMP rN) dan terdaftar sebagai mahasiswa minat studi Manajemen Kehakaran Hutan.· RIWA YAT IIlDlJP Penulis dilahirkan di Medan Sumatera Utara tanggal 7 Desernber 1980. dan Indeks Cuaca Kebakaran) dengan Sebaran .

Mba Aritta melakukan Suwarno penelitian atas petunjuk ini. . Agr. dan Bapak Ir. 5. Siswoyo. ISI~arAlbar. selaku Dr. di Asrarna Sylvalestari bahwa ((We're Different Ngglee . Bogar. Barnbang Bapak Ir.KATA PENGANTAR Puji dan syukur dilimpahkan menyelesaikan Tuhan penulis Maha panjatkan Esa atas kasih kepada penulis karunia dan anugrah penulis yang dapat Yang sehingga penyusunan skripsi ini. untuk itu penulis berterima 1. Mei 2004 Penulis . BPPT dan (BMG) atas data dari Badan Metereologi dan Geofisika SPBK yang diperoleh penulis. Saudara-saudaraku Penulis demikian. WaJaupun saja yang dan arahannya kepada penulis dalam 6. Bapak dan Mama serta Kak Lentini Win Maretti Sihaloho. M. M. Sc. menyadari skripsi iui masih jauh dari sempurna. ini dapat bermanfaat bagi siapa mudah-rnudahan tulisan membutuhkan. dari Departemen dari Departemen Teknologi Konservasi Hasil Hutan Sumberdaya Hutan sebagai dosen penguji pada ujian kornprehensif 4. Sihaloho dan Adik Fandi El Toga Sihaloho yang telah memberi dorongan 2. Ir. Direktur Bapak Laboratorium Guswanto Inventarisasi Sumberdaya Alam (TISDA). 3. selaku pembirnbing II. Ir. MS. M.Si... pembimbing I dan dan Penulis menyadari pihak.· Bapak moril bagi penulis dalam menyelesaikan Hero Saharjo. Bapak Dr. Imam Wahyudi. skripsi ini akan sulit terwujud tanpa bantuan dari berbagai kasih kepada : Adik Adven Tua mendoakan skripsi ini.

............. Langkah-langkah 1............ 1.............. 11 C... Alat... C.... ......... Bahaya Kebakaran MET ODE PENELITIAN A Waktu dan Tempat Penelitian B. 2...... 13 E... Penyebab Kebakaran D............ GAMBAR .... Cuaca/Iklim.... ...................... .... Latar Belakang Tujuan Penelitian Penelitian PUSTAKA Hutan :...... Proses Pembakaran 4 3......... ..................... Kegiatan ............... Bahan.... VI 1........................................ 8 9 Hutan.... Hotspot (Titik Panas).................. PENDAROLUAN A. • 2........... . Topografi B... Definisi 2. 20 20 20 20 20 20 1......DAFTAR lSI Halaman OAF fAR l)AFTAR DAFT AR DAFT AR lSI ..................................... Bahan Bakar....... Alat dan Bahan... Manfaat II.... 2 .. Pengumpulan Pelaksanaan Data.... 4 4 ..... B......... ~ TABEL .... Kebakaran 1. Sistern Peringkat III.................. ... 12 :..... TrNJAUAN A...................... LA.......................J C..........i.... IV V ........................ Tipe Kebakaran ....t\1PlRAN .. Waktu terjadi Kebakaran 5.......... 6 7 7 8 4....... Perilaku Api....

. . . Propinsi Jambi a. Stasiun Rengat. . .2. 36 11 . . 27 28 29 29 29 30 32 32 32 b. b. Stasiun Simpang Tiga a. . Analisa Hubungan Antara Nilai ICK dengan Jumlah Sebaran Hotspot. Propinsi Riau a. . Pengolahan Data .I. BASIL DAN PEMBAHASAN A. . Tabulasi Data SPBK (KKAS dan ICK) 3. Anal isis Data 22 22 23 23 a. Analisa Hubungan Antara Nilai leK dengan Sebaran Hotspot . .1.. . ..: a. . Analisa Hubungan Antara Nilai KKAS dengan Sebaran Hotspot. . Propinsi Riau a. Analisis Grafic Data Hctspot dan Data SPBK (KKAS dan ICK) b. B. . b. . Analisa Hubungan Antara Nilai KKAS deugan Jumlah Sebaran Hotspot. .. 34 34 . 2.2. 21 21 b.. . Tabulasi 'J~lnlah Hotspot . Stasiun Simpang Tiga b.2.. Analisis Akurasi IV. Analisis Regresi 1. Stasiun Rengat. Propinsi lambi (Sultan Taha) .. Analisis Grafis 1. 26 26 27 2. b. . a. Analisa Hubungan Antara Nilai leK dengan Sebaran Hotspot. Analisa Hubungan Antara Nilai KKAS dengan Sebaran Hotspot.

.. ..... 2.......................... ' ..... DAFT AR PUST AKA LAl\1PIRAN III ......................... ~~ ......................................V... 37 37 Kesin1pulan........ KESIMPULAN 1................................... DAN SARAN . Saran ..........................

... Faktor-faktor Indonesia. lndeks Cuaca K ebakaran..... Data Hasil Perhitungan SPBK 21 22 IV .. 5................ 3..... 15 16 4. Klasifikasi Klasifikasi Penyebab Teks Kebakaran Hutan Tahun 199711998 di Halaman i2 2..DAFTAR TABEL No....... I... Kode Kadar Air Serasah........... Jumlah Sebaran Hotspot Harian.....................

. ]2.......... Grafik Kenorrnalan Grafik Kenormalan Grafik Kenormalan Grafik Kenonnalan Grafik Kenormalan Grafik Kenorrnalan Regresi KKAS di Stasiun Sultan Taha.. Riau......... " " "........ 3......... 5................................. 13.. Regresi KKAS di Stasiun Rengat...... Tiga... Halarnan 4 18 21 24 26 Grafik I-Iubungan SPBK (KKAS dan ICK) dengan Jumlah Sebaran Hotspot di Stasiun Sultan Taha Jambi " "... Pendukungnya. 27 7.......... Jambi .. Regresi KKAS di Stasiun Simpang Regresi leK di Stasiun Simpang Tiga... Regresi ICKdi Stasiun Sultan Taha............DAFTAR GAM BAR No......... Riau.. Regresi ICK di Stasiun Rengat. Jambi....................... 4......... 10......... . Segitiga Api Sistem lCK dan Kornponen Akurasi Diagram Stasiun Cuaca BMG Alir Metode Penelitian Teks "......... Riau... 9..... Riau..... Grafik Hubungan SPBK (KKAS dan rCK) dengan Jurnlah Sebaran Hotspot di Stasiun Rengat Riau... 11. 2........................ 6. 28 30 31 33 34 35 36 8....... 1..... Grafik Hubungan SPBK (KKAS dan rCK) dengan Jurnlah Sebaran Hotspot di Stasiun Simpang Tiga Riau "... v .

............. 3.............DAFTAR LAMPIRAN No...................... 46 6.... 4................... 8........................................ Analisis Regresi di Stasiun Rengat Propinsi Riau....... VI . Jumlah Sebaran Hotspot di Propinsi Jambi..................................... 1........... 5.......................... 47 48 80 7............... Teks Analisis Regresi di Stasiun Sultan Taha Propinsi Jambi Analisis Regresi di Stasiun Simpang Tiga Propinsi Riau................................... Jumlah Sebaran Hotspot di Propinsi Riau............. Halaman 41 42 43 45 2.......... Pengkelasan KKAS dan leK di Stasiun Rengat Propinsi Riau... Pengkelasan KKAS dan ICK di Stasiun Simpang Tiga Propinsi Riau.......... c..................... Pengkelasan KKAS dan lCI( di Stasiun Sultan Taha Propinsi Jambi.........

I. PENDAHULUAN

A. Latar

Belakang hutan dan lahan telah terjadi bukan rnerupakan masalah sebagai bam akibat di Indonesia. dari kegiatan

Kebakaran Kebakaran hutan contohnya

selama

berabad-abad

rnanusia,

praktek-praktek

tebas-bakar.

Kebakaran

ya!:g terjadi pada setiap kebakaran hutan dan

musim kemarau lahan yang kehidupan drastis

sebenarnya

hanya memilik.

skala dan intensitas

masih sangat terbatas dan hanya mempengaruhi seear~ lokal. Pada dua dekade terakhir, situasi

Iingkungan, ekonomi dan
tersebut berubah seeara dan

akibat

penggunaan

apr

seeara

ekstensif penebangan 1983, Agustus

untuk

pembersihan

pengkonversian Khususnya

lahan serta praktek-praktek November 1982-April

hutan yang sangat merusak. 1990, Juni-Oktober kebakaran 1994,

selama

dan September-November

1997 (dan Februari-Mei kematian,

1998),

hutan terjadi kerugian

secara luas yang menyebabkan ekonomi dinilai beberapa yang

menirnbulkan
regional

masalah

kesehatan,

baik dalam skala nasional seperti negara punahnya

maupun

serta dampak global.

yang tidak dapat Disamping dampak negara

keragaman

hayati,

pemanasan

iiu

di kawasan karena

Asia Tenggara penyebaran asap

turut pula merasakan yang melintasi

negatif tersebut

dihasilkan

(Transboundary Ha::e POllU(;01;).
Dampak komposisi negatif lain yang dirasakan adalah kerusakan hutan ekosistem hutan, seiring

vegetasi

(keragaman terhadap

spesies)

dan struktur lingkungan,

yang berubah, kebakaran

dengan dampaknya lahan yang terbesar areal hutan milyar kejadian dolar

komponen

sedangkan

hutan dan

di Indonesia

terjadi pada tahun

199711998 yang telah merusak
diperkirakan (Saharjo, sebesar 10

dan lahan seluas Amerika (setara menjadi

10 jura ha dengan dengan 10 triliun

kerugian rupiah)

2002).

Akibat di dunia hutan

ini Indonesia

penghasil

karbondioksida

(C02) terbesar

karena 22 persen produk karbon dunia berasal dari kebakaran di Indonesia. Jurnal laban

dan pembakaran

Nature (edisi November 2002) melaporkan
yang terjadi pada tahun 1997/1998

bahwa kebakaran tersebut

hutan dan telah

Indonesia

ternyata

rnclepaskan produksi

2,6 milia!' karbon ke dalarn atmosfer yang setara dengan 13 - 40 persen
2003 dalam Dada", 2004).

karbon global (Saharjo, Kerugian dan dampak

.
hutan

negatif yang cukup besar akibat kebakaran kebakaran

ini

menyebabkan

perIunya

suatu usaha pencegahan

hutan sejak dini, Untuk itu sistem peringkat bahaya

diperlukan kcbakaran
mengenai penyebaran mengadopsi

suatu sistem peringatan

dini antara lain berupa informasi

11U~an yang handal dalam menyediakan kondisi
apinya. lingkungan Hal yang

terkini dan terpercaya kebakaran menerapkan dan dan

memungkinkan
dilakukan misalnya

terjadinya dengan

ini dapat

SPBK semaeam

National Fire Danger Rating System (NFDRS)
yang berfungsi

di USA untuk

at au Canadian Forest Fire Danger Rating System (CFFDRS) menyediakan infarmasi dasar yang bisa digunakan api. ini di Indonesia karakteristik dilakukan hams melalui sebagai

acuan dalam mencegah,

mengurangi,

dan memadarnkan sistem

Implementasi adaptasi karena adanya

serangkaian

proses

perbedaan

iklim mauplln bahan bakar di negara dengan membandingkan parameter-

asalnya. Penerapan parameter suatu

SPBK di Indonesia

yang ada pada SPBK dengan sebaran hotspot yang terjadi setiap hari pada dengan bantuan satelit NOAA-A VHRR.

kawasan

(National

Oceanic

Atmospheric
Pendugaan

Administration,
terjadinya kebakaran

Advanced
di perrnukaan

VelY

High

Resolution

Radiometer).
SPBK

hutan digunakan

dua parameter (ICK).

yaitu, Kode Kadar Air Serasah (KKAS)

dan Indeks Cuaca Kebakaran

B. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian a. Hubungan Propinsi b. Hubungan Propinsi keeratan ini adalah untuk mengetahui dengan sebaran hotspot di

Kode Kadar Air Serasah (KKAS) 2002.

Jambi dan Riau periode Juni-Agustus keeratan Indeks Cuaca Kebakaran

(ICK) dengan 2002.

sebaran

hotspot di

Jambi dan Riau periode Juni-Agustus

2

C. Manfaat

Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan dapat diketahui tingkat keeratan hubungan SPBK dengan parameter Kode Kadar Air Serasah (KKAS) dan Indeks Cuaca

Kebakaran (lCK) dengan sebaran hotspot sehingga dapat dilakukan penyempurnaan lebih Ianjut dari sistem peringkat bahaya kebakaran ini.

3

Segitiga api (Clar dan Chatten. yaitu bahan bakar. ranting-ranting kayu mati. gulma. cahaya.II. kebakaran hutan didefinisikan sebagai suatu proses reaksi cepat dari oksigen dengan unsur-unsur lain dan ditandai dengan adanya panas. Dcfinisi Hutan Menurut Brown dan Davis (1973). seperti: serasah. 1954) . Proses Pembakaran Proses pernbakaran (Brown dan Davis. 1954) : Bahan bakar Api Oksigen Pallas Gambar 1. serta biasanya menyala. semak. oksigen. Proses pernbakaran ini menyebar secara bebas dan mengkonsumsi bahan bakar alam hutan. 1973) : merupakan reaksi kebalikan dari proses fotosintesis Proses fotosintesis : 6C02 :~ 6H::O + Energi Matahari : +---- Proses pemhakaran CO2 + H20 + Energi panas Proses kebakaran hanya dapat terjadi apabila terdapat tiga unsur yang saling mendukung. dedaunan serta pohon segar. humus. 2. TINJAUAN PUSTAKA A. dan panas yang disebut segitiga api (Clar dan Chatten. Kebakaran 1.

Smoldering biasanya terjadi pada dengan baik dan oksigen terbatas gas-gas lebih banyak berkondensasi "fuel beds" dengan bahan bakar yang tesusun seperti duff. molekul pada jaringan pohon dan melepaskan gas-gas yang mudah Oksidasi yang tinggi dari bahan organik yang dapat terbakar clan gas-gas massa yang paling besar dari produk pembakaran seperti air. berubah dari exothermic (melepas panas) menjadi endothermic (memerlukan dimana bahan bakar menyerap panas sarnpai titik bakar. methanol dan hydrogen. Api mulai menyala dan dapat merambat dengan cepat akibat hembusan menandai penyalaan angin dan gas-gas pada tahap flaming mudah terbakar temperatur ini disertai penguapan air bahan bakar. CO2 dan gas-gas terbakar terrnasuk methane. b. proses pirolisasi. (1998) : a. Flaming Combustion Pirolisis melaju dan mempercepat dan uap air mengakibatkan dan pembakaran oksidasi dari gas-gas yang dapat terbakar di sekitar bahan bakar termasuk O2 pirolisis meningkat terjadi selama tahap ini. S02 dan NOex). Dalam proses pirolisis ini reaksi panas). panas yang dilepaskan menurun dan suhunya pun menurun menyebabkan ke dalam asap. kayu yang membusuk dan tanah organik (gambut).Beberapa tahapan Debano et aI. Laju penjalaran mensuplai gas-gas yang bahan dapat terbakar konsentrasinya Kemudian dan pada laju yang dibutuhkan untuk pembakaran yang dahsyat. 5 . Pre-ignition proses pernbakaran daJam kebakaran hutan menurut Pada tahap ini bah an bakar mulai terpanaskan. Peningkatan dan hancurnya menguap. adalah zona fase smoldering dari pembakaran pembakaran hasil-hasil dan zona arang dengan api mulai menurun dalarn hasil-hasil bakar tidak tampak. Smoldering Smoldering adalah fase combustion permulaan Dua zona yang menjadi karakteristik pyrolisis pelepasan karena dengan berkembangnya pembakaran tidak dapat dalam tipe bahan bakar ini. lain dapat menghasilkan CO2. c. yaitu terjadi pelepasan terdehidrasi dan mula! terjadi yang mudah uap air.

Kebakaran permukaan tajuk. CO2 dan abu sisa pernbakaran. 3. Pada fase ini puncak dari pernbakaran menghasilkan dari gas-gas asap. Extinction Kebakaran dikonsumsi. e. b.:. Pembagian a.firei membakar bahan organik angin. dan gambut. 1998) bila bahan bakar yang tersedia dihasilkan melalui oksidasi baik melalui fase air yang dibutuhkan bila panas smoldering maupun glowing tidak cukup untuk menguapkan berasal dari bahan bakar yang basah (kadar air tinggi). semak- Api membakar serasah. atau terhenti (Debano yang et al. anakan pohon dan bahan bakar lain yang terdapat tipe ini paling umum terjadi karena kebakaran permukaan. Glowing Fase glowing temperatur sama sekali adalah bagian akhir berkisar dari proses smoldering. antara 300-600°C kebakaran menguap dan sedikit atau tidak fase glowing. dengan Kebakaran kebakaran ini sukar untuk diketahui dan sulit kebakaran Biasanya diikuti pennukaan dan merupakan yang paling merusak. Kebakaran Permukaan (surface fire) bawah. Tipe Kebakaran Menurut Brown dan Davis (1973) ada tiga bentuk kebakaran huran yang penting. Kebakaran Api perlahan. Hasil dari fase glowing terutama adalah CO. bekas limbah pembalakan. yaitu : bawah (ground.. berdasarkan tempat terjadinya dan bagian yang terbakar. yang tanpa menjadi nyala Iapisan tanah dan dan rnenjalar api tidak terpengaruh humus (jlaming). tumbuhan sernak. umumnya mengkonsumsi diawasi. dan oksigen o· Bila suatu mencapai akan hilang sebagian menzadakan ~ besar yang mudah kontak lanzsunz ~ denzan ~ ~ permukaan bahan bakar VaD!Y _. Kebakaran hutan biasanya dimulai dari kebakaran yang lebih tinggi dapat merambat ke tumbuhan dan menjadi kebakaran 6 .d.? menzaranz .. di lantai hutan.

Waktu terjadi kebakaran Waktu mempengaruhi kebakaran hutan.kan Pada kondisi yang memungkinkan bersamaan.00-12.00 radiasi mataharinya memicu maksimum. yaitu melalui proses pemanasan dalam sehari suhu minimum dan Buck. bahan bakar yang dipengaruhi oleh radiasi rnatahari dicapai matahari pada tengah terbenam (1988) yang berfluktuasi hari. 7 .c. Syaufina selama tertinggi lima tahun dicapai bahwa pada jam di hutan dari hasil penelitiannya frekuensi WID kebakaran dimana hutan radiasi Jati Jawa Tengah dan 09. 4. kebakaran Umumnya pada tegakan pcrmukaan. 1973).fire) yang dapat menyebal. dapat terjadi secara kebakaran tajuk atau ketiga tipe kebakaran menjalar menjadi sebaliknya. Topografi Faktor (Brown kearah topografi yang berperan dalam penyebaran api adalah puncak panas kemiringan dan Davis. Suhu maksimum dicapai pada saat menjelang dan dini hari (Schroeder menyatakan 1970 do/am Dadan. Hal 1973). 5. 2003). Faktor angin sangat berpengaruh kebakaran api ioucat (.~pol.00 dijelaskan 12. sedangkan sernalam. lembah. Api dari tajuk jatuh ke permukaan Kebakaran permukaan juga tanah dan mengakibatkan menyebabkan kebakaran bawah dapat kebakaran (Brown dan Davis. Kebakaran Tajuk (crowJ1fire) tipe Kebakaran irii ditandai terjadi dengan menjalarnya konifer api antar tajuk pohon atau dan api dapat berasal dan bisa rnengakibatkan dari sernak-sernak.5.00-1. ini Api membakar disebabkan oleh cepat kearah penyebaran bukit dan lambat dan adanya angin permukaan yang naik keatas lereng yang lebih tinggi. permukaan. Kebakaran permukaan dapat di daerah lain. Dapat bahwa matahari maksimum terjadinya kebakaran hutan melalui proses pemanasan yang mengakibatkan pengeringan bahan bakar hutan sehingga bahan bakar akan mudah terbakar.

bah wa bah an bakar yang ukurannya daripada ball an bakar yang berukuran kecil. serasal. keri ng luas/besar. sekitar yang lebih tinggi dan terjadi kebakaran 8 . Pcrilaku api (fire behaviour) Perilaku lingkungan. log kayu. Susunan bahan bakar dan sinar matahari. Bahan bakar Karakteristik yang mempengaruhi perilaku 1954) adalah : bahan bakar yang berpengaruh terhadap perilaku api (Clar dan Charten. api pad a kebakaran hutan dalam hubungan perubahan Fakrcr-faktor (Clar dan Chattcn. snags dan lain-lain.. sehingga Terdiri dari ranting. Volume bahan bakar Volume temperatur di lantai hutan akan mernpercepat penyebaran bahan bakar yang besar akan menimbulkan api yang lebih besar. 1. mudah mongering tapi juga mudah menyerap air. Fuller (1991) menyatakan akan menyerap Kenyataan air lebih cepat di dunia. karena cepat kering apabila terbakar serta cepat meluas namun ccpat padam. dan lain-lain. 1954) adalah : a. kelembaban karena tingkat kadar air selalu berubah berdasar perubahan h. bahan bakar tidak pernah mencapai keseimbangan suhu. Perilaku api dapat berubah dalam ruang dan waktu atau keduanya komponen lingkungan (Brown dan Davis. daun. ]. sulir terbakar. dan berkesinambungan c.B. kondisi cuaca lokal dan topografi. tajuk dengan cepat. kadar airnya stabil dan tidak cepat mengering Jika terbakar akan mengalami penyalaan yang lebih lama.:2:::a1 Bahan bakar terdiri dari pohon. yang sulit dipadamkan. Susunan bahan bakar vertikaI merupakan atas sehingga api akan mencapai bahan bakar yang bertingkat keaiah Bahan bakar yang menyebar kebakaran. 1973). iklirn. rumput. Ukuran bah an bakar Bahan bakar yang halus mudah dipengaruhi olch lingkungan sekitarnya. api (fire behaviour) merupakan rcaksi api terhadap keadaan yaitu bahan bakar yang berpotensi untuk terbakar. -. Bahan bakar kasar.

badai. Iklim menentukan yaitu : kebakaran kebakaran cara yang hutan dengan berbagai jurnlah total bahan bakar yang tersedia. 9 . a. berdaun iarum lebih mudah terbakar daripada tumbuhan berdaun jarum banyak rnengandung zat ekstraktif berdaun mudah tumbuhan m. dan penjalaran kebakaran hutan. Cuaca mempengaruhi proses penyalaan bahan bakar hutan untuk terbakar.snlnya resin dan daunnya bahan bakar berhubungan persediaan tinggi akan Iebih sukar terdekomposisi. waktu dan kekerasan musim kebakaran. Iklim menentukanjangka c. Cuaca/iklirn Fuller dimana. karena terbakar. b. e. suplai oksigen proses kebakaran. dan petir akan menyebabkan Cuaca dan iklim mempengaruhi saling berhubungan. yang kepada dan pemindahan Bahan mempunyai kerapatan bakar yang kerapatannya terjadinya sulit untuk terbakar dibandingkan Hal ini berhubungan dengan dengan bahan saat rendah. air bah an bakar maka lebih mudah bahan bakar terbakar (Clar dan Chatten. Jcnis bahan bakar Turnbuhan lebar. 2. yaitu sifat-sifat kebakaran. f. Kadar air bahan bakar Kadar dinyatakan dikeringkan air adalah jumlah persentase kandungan berat air yang ada dalam bahan bakar yang oerat kotor bahan bakar yang dalam air terhadap pada suhu 100(lC. kebakaran cuaca dan kapan dapat terjadi sehingga hutan menyebutnya yang mempengaruhi cuaca kebakaran (fire weather).Untuk volume bahan bakar yang kecil menirnbulkan api yang kecil dan mudah pernadamannya. Lebih sedikit kandungan 1954). d. (199]) menyatakan kebakaran sebagai terjadinya bahwa hutan cuaca sangat mempengaruhi pengendali bagaimana. Misalnya cuaca panas yang kering disertai dengan angin ribut. dari bahan bakar bakar. Cuaea mengatur kadar air dan kemudahan d. Kerapatan Kerapatan berpengaruh dengan udara jarak antar partikel panas.

Pada rnusirn kering. udara sangat menentukan kadar air yang dapat dijadikan Dalarn hal ini kadar air lebih besar atau sama dengan 30% dari bahan bakar dianggap aman terhadap bahaya kebakaran. Bila kelembaban kebakaran.ji~11merupakan bakar yang tersedia. kelembaban indikasi bahaya kebakaran. Secara umum ada beberapa hutan. Indonesia (tropis) mengkalibrasi dan kondisi maka kcmungkinan kebakaran sernakin tinggi (Suratmo. 1954). menimbulkan titik api sehingga Selain itu bisa mcnerbangkan terjadi lokasi kebakaran baru. memperbesar ketersediaan oksigen sehingga api berkobar bara api yang dapat dan me ram bat dengan cepat. Angin Merupakan pengeringan faktor pemacu dalam perilaku api.fire) sehingga gambut. Waktu yang diperlukan untuk terjadinya harus dipindahkan c.bahan bakar maupun iklim. Suhu udara Suhu udara tergantung perrnulaan kebakaran dari intensitas panas atau penyinaran matahari. dan kadar air bahan bakar tinggi suI it terjadi 10 . yaitu : a. Angin memegang terhadap kebakaran hutan. Hal in! sesuai dengan sistem penngkat bahaya kebakaran yang di adopsi dari negara sub-tropis (Kanada) dengan menyesuaikan asumsi dan parameter yang digunakan agar sesuai dengan indonesia termasuk didalamnya . suatu peranan penting karena menyediakan Tetapi untuk kebakaran angin dan oksigen suplai oksigen gam but termasuk tipe kebakaran tidal mempengaruhi kebakaran bawah (ground . Angin mempercepat faktor iklim yang berpengaruh pada kebakaran bahan bakar. teijadinya tetapi penurunan persentase kadar air bahan bakar 1985). b.Cuaca dan il. curah hujan tinggi berpengaruh terhadap kelembaban dan keadaan kadar air bahan bakar. terutama Iaktor yang sangat menentukan kadar air bahan peranan dari hujan. Suhu berkisar antara 204-371 °c untuk kayu. Curah hujan Daerah api pada suhu tersebut tergantung pad a kadar air bahan bakar yang oleh panas tersebut (Clar dan Chatten.

Bila energi yang lebih besar untuk rendah maka akan lebih pernbakaran.cuaca kering dan panas 11 . bila kelernbabannya cepat terbakar.tidak senang terhadap petugas b. bahan bakar ada mengering. C. yaitu : .api dari kawah gunung api .api dan pembuatan arang c.api dari petir . salah satunya adalah kelembaban kelernbaban bahan bakar ti nggi maka akan dibutuhkan terjadinya bakar.api dari perkemahan .bara dan kereta api .akaran.perladangan . (1983) menyatakan bahwa ada beberapa bahan faktor yang mernpengaruhi kebakaran hutan.d. )'ang berarti mudan tidaknya Chandler et al. Faktor alam . Faktor ketidaksengajaan . Sebaliknya.perburuan berpindah daJam skala besar Hutan kebakaran hutan pada umumnya dapat dibagi menjadi penyebab et al. Faktor kesengajaan . Kcadaan air tanah Bila tanah cukup lernbab maka serasah di permukaan tanah akan menyerap air dari tanah tersebut. e.api dari pekerja hutan . udara udara yang Kelembaban di dalam hutan sangat berpengaruh terhadap mudah terjadi ridaknya kel. 1983). Kelembaban sehingga bahan bakar serasah ini sulit terbakar. Peyebab Kebakaran Faktor-faktor riga bagian (Chandler a.

yang pada yang dasarnya bersumber lemah dari kebijakan pembangunan yang sebagian dan peraturan. Forest Fire Prevention Management Project phase 2. diakibatkan oleh lemahnya kerangka- kerangka kerja kelembagaan Tabel 1 : Faktor-faktor hutan tahun 199711998 di Indonesia % 34 Konversi lahan skala besar Perladangan Pertanian berpindah menetap lokal l I 25 17 14 8 . Data suatu istilah untuk titik yang memiliki suhu dengan nilai ambang batas yang telah ditentukan oleh data yang digunakan Administration. Bappenas.. penyebab kebakaran Penyebab dan penerapannya dan tidak konsisten. berasal dari satelit NOAA-A VHRR digital (National Oceanic Atrnosphenc Advanced Very High Resolution suatu hotspot Radiometer). I Konflik sosial dengan masyarakat Transmigrasi Sebab-sebab Sumber: alami _ ! 1 Bank Dunia. 1999b dalam Simorangkir. besar kebakaran hutan dan lahan yang terjadi disebabkan oleh kouversi hutan dan pembersihan lahan (land cleating) (Glover dan Jessup. 2001a dalam Simorangkir dan Sumantri. 1998 & 1999. '1_'itik Panas (Hotspot. 12 . Hotspot (titik panas) merupakan lebih tinggi dibandingkan digital satelit. 2002).Beberapa studi dan kajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian . . Dephut-JICA). dan Sumantri. mengkaji sebab-sebab kebakaran pada t&IlUP Bank Dunia (2001a) selanjntnya 1997/1998 pemeriruah (Tabel 1). 11. 2002 D. Nilai ambang batas yang digunakan tangkapan sinyal dalam menentukan yaitu 315 K (42°C) untuk tangkapan sinyal siang hari dan 310 K (37°C) untuk Image in Sumatra and pada malam hari (Hotspot Distribution Kalimantan July 2002-December 2002 Vol.

1 km x 1.21 km2. berdasarkan dari hotspot yang dideteksi maka hotspot yang dideteksi jika terjadi -merupakan ". 2002) 1 pixel diperkirakan E. Sistern peringkat and Arrnitagge. suatu titik panas berupa pixel demikian untuk ukuran sebagai satu sebagai yang berukuran kebakaran 1. Negara lain yang telah menggunakan ini adalah Malaysia dan direncanakan mengadopsi sistem ini. regional kawasan dalam penanganan hutan dan lahan (Kartijono. 1987 dalani Brady. Namun suatu hotspot bukan berarti telah terjadi kebakaran verifikasi Sebagai di lapangan. Sistem untuk memperkirakan emisi bahaya kebakaran ini juga dapat disesuaikan akan meningkat (Taylor api dan kapan emisi tersebut Brady.21 krn2 akan dircpresentasikan pixel dan kebakaran yang lebih sedikit dari 1. hutan eli suatu lokasi .ndonesia dan dalarn penerapannya yang tropis. Namun pernakaian ini kurang dapat dirasakan manfaatnya di negara tersebut lingkungan karena kurangnya alih teknologi dan adaptasi sistern sistern ini pertama adaptasi terhadap sistem lokal.] 5 ha (Albar. Secara regional eli Asia Tenggara. perlu kebakaran. 1973 dalam bahaya kebakaran ini telah c1igunakan oleh beberapa negara sistem seperti terhadap Selandia Baru. indikasi dilakukan pengeeekan Ice lapangan (ground check) sehingga pemadarnannya kebakaran Berdasarkan aktual dapat secara dini diupayakan keterbatasan hingga tidak meluas. Luas areal minimum seluas 0.1 k111 atau 1. suatu kebanyakan awal. Dengan yang luasannya kurang dari 1. sehingga kebakaran seluruh negara eli kawasan Asia Tenggara clapat mernudahkan dalarn koordinasi 2002). yang dimiliki satelit NOAA. Sistern peringkat . suatu perkiraan clan peringkat bahaya atau (MedII kebakaran potensi suatu kemungkinan kerusakan kebakaran menyebar menyebabkan peringkat and Alexander. telah melakukan sekali diadopsi Indonesia lingkungan lokal l. 2002). 2002).21 knl akan direpresentasikan yang mampu dieleteksi sebagai 2 pixel. Keberadaan .Titik panas (hotspot) yang dapat ditangkap suatu pixel pada sebuah peta yang juga sinyal akan diproyeksikan koordinat menjadi menunjukkan geografisnya. Sistern Peringkat Sistem mengenai Bahaya Kebakarun Hutan hutan merupakan terjadi.

SPBK adalah lCI< yang menguji pada sistem lCK kadar air bahan Fase awal pada pengernbangan pengamatan cuaca sernata Enam komponen tcrhadap baik secara individu maupun secara kolektif berpengaruh bakar dan angin pada kejadian pengapian relatif tergantung angka peringkatnya serta perilaku kebakaran dalam bentuk yang KKAS dan ICK (Tim SPBK. bahaya api berdasarkan kebakaran dijadikan target pokok yang terjadi yaitu lCK. 14 .bahaya kebakaran ini rnemiliki tiga komponen substansifyang sekaligus strategi dalam penanganan dan emisi kebakaran. perilaku api.Klasifikasi dapat dilihat seperti yang tersaji pada Tabel 2 dan Tabel 3. 2002).

Bahan Pelatihan Dasar Sistim Peringkat Bahaya Kebakaran. V. Intensitas kebakaran yang tinggi mungkin terjadi. Kemungkinan terjadinya kebakaran akan lebih besar dengan lamanya kcbakaran yang eukup panjang serta besar kernungkinan untuk menjadi Iuas.Tabel 2. Canadian Forestry Sen/ice. Kebakaran umumnya tidak menjalar jauh dari titik awal sehingga mudah dikendalikan. Klasifikasi ICK Tingkat Kesulitan Pencegahan RENDAH Nilai Awal ICK (Sebelum Kalibrasi)" 0-5 Nilai ICK HasiI Kalibras(' 0. Lamanya kebakaran singkat dan api mudah untuk diisolasi. Pergerakan apr sedikit terbaras untuk rnenjadi besar atau menjadi kebakaran permukaan. Peluang keberhasilan pemadaman langsung adalah sal~at kecil. C. Pernadaman Iangsung di sekitar api oleh para pernadam cukup dengan peralatan tangan dan gendOngan/sely:!protan air.10 2-6 TINUGI 10 . Pernadaman bara (mop up) tetap diperlukan guna menghindari penumpukan bahan bakar kering yang dapat menimbulkan kebakaran ulan_g_ Kebakaran dapat terjadi pada beberapa tempat dengan periode wakru yang eukup lama dan ada kemungkinan untuk meluas.13 EKSTRIM > 30 >13 Sumber: * ** Wagner. Dapat terjadi intensitas api yang sedang atau besar sehingga api akan suIit untuk dikendalikan. 1987.j Interpretasi SEDANG 5 . Forestry Technical Report 35. Ottawa. 2002.30 7 . Kondisi kekeringan dan bahaya rerjadinya kebakaran senantiasa mengancam. BPPT 15 . Pengendalian apr cukup mudah. E. Development and Structure of The Canadian Forest Fire Weather Index System. Tim SPBK.

39 I I I . Curah Hujan b. Canadian Forestry Service. and Structure nf The Canadian BPPT (SPBK) dalam hal ini KKAS ICK Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran memiliki karakteristik khusus dalam hal implementasinya. Ottawa. daerah rerumputan (alang-alang) Sumber: * ** Wagner. Kelembaban Relatif (Rh) d. KKAS merupakan suatu peringkat kadar air serasah dan bahan bakar hutan lainnya dengan kedalaman 1 . Suhu c.2 em dari permukaan tanah yang merupakan suatu indikator mudah tidaknya lantai hutan yang terdiri dari serasah dan bahan bakar lainnya untuk terbakar yang diintegrasikan dengan pengaruh cuaca. Tim . I atau bekas pencbangan dan berpotensial untuk menjadi besar. EKSTRIM > 91 > 83 10 arau bekas sangat mudah terbakar dan untuk berpotensial meniadi besar. Daerah terbuka.)~ ~" sulit teriadi Kebakaran cl~pat terjadi di daerah reumputan r (alang-alan ~ penebangan) 0 0 atau bekas l rerumputan TlNOGI 88 . yaitu : a.83 35 Daerah (alang-alang) penebangan. Menurut Kartijono (2002). V.Tabel 3. Prosentase Kemungkinan Terjadi Sebaran Hotspot 20 lnterpretasi Kejadian kebakaran akan 84 .88 I ! i 37 . Forestry Technical Report 3J. Kecepatan Angin 16 . Klasifikasi KKAS I Kejadian i Kebakaran Peringkat I ' Nilai Awal KKAS (Sebelum L RI:NDAH Kalibrasi)" 0-84 Nilai KKAS Hasil Kalibrasi** 0-36 SEDANO . U nsur cuaca yang mempengaruhi KKAS. Development Forest Fire Weather Index System.)·PBK. E. 20U2..91 70 . Bahan Pelatihan Dasar Sistim Peringkat Bahaya Kebakaran. 1987. C.

Diagram alir komponen Gambar 2. melalui ICK rnerupakan suatu pcringkat . 200:2). yang disarnpaikan terbakar (indeks Hal ini dapat dikctahui karcna informasi bahan bakar yang penjalaran lCK ini terdiri dari tingkat konsumsi api) dan informasi tingkat pembesaran kecepatan api/kebakaran (indeks jalaran awal) (Kartij ono. 2002). ICK merupakan suatu Peringkat Oleh karena itu KKAS secara bersama-sama dengan indikator KKAS kawasan kebakaran berguna untuk memprediksi mernberikan sehingga hutan untuk inforrnasi informasi sedangkan upaya terjadinya kernungkinan kebakaran tcrjadinya dalarn suatu daerah. suatu kebakaran dalam suatu yang disampaikan informasi berguna uniuk upaya pencegahan melalui yang peringkat telah rCf( yang disampaikan kebakaran hutan pengendalian terjadi pada (Tim SPBK. intensitas kebakaran yang mungkin terjadi dalarn suatu kawasan. yang mempengaruhi lCK disajikan 17 .Indikator SPBK berupa.

Indeks Jalaran Awal (llA) adalah angka peringkat dari dugaanfharapan kecepatan penjalaran api. Kode Kekeringan (KK) merupakan angka peringkat rata-rata kadar air dari bahan organik dibawah permukaan.bahan bakar lainnya. 3. 1987) Keterangan: L Kode Kadar Air Serasah (KKAS) merupakan angka peringkat kadar air dari serasah dan. 2.Pengamatan Cuaca Kebakaran Suhu Kelembaban Angin Angin Suhu Kelembaban Hujan Suhu Hujan Kode Kadar Air Indeks Perilaku Kebakaran Gambar 2. Kode Kadar Air Humus (KKAH) merupakan angka peringkat rata-rata kadar air dari humus atau bahan organik permukaan. Sistem ICK dan Komponen Pendukungnya (Wagner. 5. Kode ini menunjukkan suatu indikasi pemakaian bahan bakar permukaan. 4. bahan bakar Iainnya. Kode ini merupakan suatu indikator mudah tidaknya serasah terbakar dan. Indeks Pembesaran Api (IPA) adalah angka peringkat dari total jumlah bahan bakar yang dapat terbakar yang merupakan kornbinasi KKAH dan KK. 18 .

intensitas kebakaran yang kombinasidariU. 2002) adalah: Bahaya Kebakaran Pengakajian kecepatan kebakaran.6_ Ind~ks Cuaea Kebakaran merupakan Beberapa a. sistem rencana perijinan rencana-rencana dini. Sistem Peringkat BahayaKebakaran Sistern peringatan api. (Fire Danger) kebakaran api. dan dampak faktor-faktor penyebaran mengendalikan b. model penyebaran sumberdaya penanggulangan yang 19 . (ICK) adalah angka peringkat dan IPA. (Fire Danger Rating S~vs/eJ11) tingkat bahaya terjadinya kebakaran dan dini yang menduga penyebaran Selain itu sistem ini juga memberikan informasi yang penting dalam kebakaran hutan. pembakaran. yaitu : 1) Pencegahan Menyediakan daerah-dacrah Menyediakan 2) Pemantauan Menyediakan Penting bagi indikator harian bahaya kebakaran dan hutan. c. observasi penanggulangan 3) Mitigasi Menyediakan optimal. Peringkat Bahaya Kebakaran (Fire Danger Rating) faktor.e. udara dan pelaksanaan rencana jangka rawan sebelum pendek dan dan panjang untuk mcngidentifikasi menjadi kritis. pengertian dasar mengenai SPBK ini (Tim SPBK. kesukaran seperti kemudahan terpicunya kebakaran kebakaran.faktor yang mernpengaruhi bahaya Proses mengevaluasi kebakaran secara sistematis maupun seeara terpisah secara bersamaan/kornbinasi.

Pengumpulan Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi peta penyebaran titik panas (hotspot) Propinsi Jambi dan Riau bulan Juni-Agustus 2002 dan data hasil olahan data cuaea SPBK (KKAS dan leK) Propinsi Jambi dan Riau bulan Juni-Agustus Penanggulangan 2002. 2. C. Badan Metereologi dan Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Geofisika (BMG) dan Laboratorium (TISDA). Fakultas Kehutanan Institut Pe. B. Langkah-langkah Pelaksanaan Data Kegiatan 1.III. Keseluruhan data ini diperoleh dari Direktorat Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan. Alat dan Bahan 1. Waktu dan Tempat Penelitian Peneiitian ini dilakukan di Laboratoriurn Kebakaran Hutan dan Lahan . dan Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan Departemen Kehutanan. Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat kornputer lengkap dengan program Excel dan Minitab versi 13. . Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berkaitan dengan implementasi sistem SPBK di Jarnbi dan Riau selama periode Juni-Agustus 2002. alat tulis. data hasil olahan data cuaea SPBK (KKAS dan IeK) di Propinsi Jambi dan Riau bulan Juni-Agustus 2002.sjJo() Propinsi Jambi dan Riau bulan Juni-Agustus 2002. Laboratorium Teknologi Inveniarisasi Sumber Daya Alam (TISDA). printer dan alat hitung.tanian Boger. METODE' PENELITIAN A.12. Penelitian ini dilakukan dibulan Februari-Maret 2004. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (8PP~1). Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta penyebaran titik panas (hot.

2. Hal ini dilakukan karena stasiun cuaca memiliki akurasi yang cukup baik pada rentang area 20 km2 dalam mengumpulkan data cuaca sebaran (berada termasuk data SPBK (KKAS dan ICK). Rentang stasiun cuaca akan dihilangkan stasiun cuaca dalam akurasi mengumpulkan data cuaca disajikan pada Gambar 3.\]Jot Penghitungan dan Riau periode jumlah Juni-Agustus sebaran hotspot pada masing-rnasing dengan fungsi propinsi Jambi 2002 beserta lahan tempat kejadian hotspot. Keadaan ini mengakibatkan hotspot yang tidak berada pada koordinat di luar koordinat stasiun cuaca). Dephut- 21 . Akurasi Stasiun Cuaca BMG Tabel penghitungan sebaran hotspot berdasarkan koordinat yang sesuai dengan rentang stasiun cuaca ditabulasikan Tabel 4. 20Km range stasiun cuaca n stasiun Gambar 3. Jumlah Sebaran Hotspot Harian Tanggal Jumlah Hotspot Lat Long seperti tersaji pada Tabel 4. Tabulasi jurnlah 20 km x 20 km sebai an hotspot ini dilakukan untuk wilayah pada radius dari stasiun cuaca BMG. Penggunaan Lahan Sumber: Hotspot Distribution Image 111 nCA Sumatera and Kalimantan (2002). Tabulasi Jumlah Sebaran HOI. Pcngolahan Data a.

Sf:! L:II Data Hasil Perhitungan Lllng SPBK en WS DC DMC IS] HUI Tgl T Rh Sumber: Wagner. SPBK kebakaran yang telah ada bahaya dalam bentuk tabel berdasarkan KKA. Ottawa. Pembuatan jumlah grafik perubahan Sebaran Hotspot dan Data Indikator dalam 3 tahap. Forestry Technical Report 35. seperti parameter yaitu tersaji pada Tabel 5. C E. 1987. Tabel5. Analisis Grafis untuk Data Jumlah SPBK (KKAS dan ICK) Analisis grafis ini dilakukan I. : Stasiun Cuaca : Lintang : Bujur : Tanggal Perekaman : Kelembaban Keterangan: Sm Lat Long TgJ Rh CH WS : Curah Hujan : Wind Speed (Keccpatan Angin) FFMC : Fine Fuel Moisture Code (Kode Kadar Air Scrasah) : Drought Code (Kcde Kekeringan) DC DMC : Drought Moisture Code (Kode Kadar Air Humus) Bur FWI lSI : Initial Spread Index (Indeks Jalaran Awal) : Build Up Index (Indeks Pembesaran Api) : Fire Weather Index. Analisis Data a.S dan ICK. Canadian Forestry Service. sebaran hotspot harian grafik KKAS dan ICK di Stasiun Sultan Taha. yaitu: hasil tabulasi jumlah titik panas per hari berdasarkan dan digabung dengan 2002. Tabulasi KKAS dan ICI< dari hasil perhitungan Hasil perhitungan beserta dengan yang kornponen dijadikan data sistem peringkat pendukungnya sebagai dipisah acuan · . V. Jambi periode Juni-Agustus 22 . Development and Structure of The Canadian Forest Fire Weather Index System. (Indeks Cuaea Kebakaran) 3.h..

b.2. Anaiisis Akurasi akurasi dengan variabel data sebaran hotspot dan data hasil olahan data cuaca dalam melihat hubungan ini dilakukan masing-masing variabel. maka untuk mengetahui digunakan pengaruh sebaran hotspot terhadap kepercayaan parameter uji t dengan tingkat 95% dengan tolak HO. Riau periode Juni-Agustus jumlah Stasiun Simpang 3. Pembuatan jumlah grafik perubahanjurrilah titik panas per hart berdasarkan dengan 2002_ grafik KKAS hasil tabulasi dan ICK di sebaran hotspot harian dan digabung Tiga. maka terima HO dan jika f-hitung > f-tabel. 2002. 23 . Pembuatan jumlah grafik perubahan titik panas per hari berdasarkan dengan grafilc KKAS hasil tabulasi dan ICK Lii sebaran hotspot harian dan digabung Riau periode luni-Agustus Stasiun Rengat. sedangkan SPBK (KKAS hipotesis : dan ICK) HO : Sebaran hotspot tidak berpengaruh HI : Sebaran hotspot berpengaruh terhadap nilai KKAS dan ICK. nilai KKAS dan lCK. b. Analisis akurasi Analisis SPBK dilakukan masing-masing dengan menggunakan regresi linier sederhana dengan bentuk persamaan sebagai berikut (Steeldan Torrie. ada 1 variabel X yang mempengaruhi < f-tabel. terhadap ni1ai KKAS dan ICK. c dan d = Konstanta regresi = YI = Nilai lndeks Uji f-hitung dilakukan untuk melihat hubungan keeratan antar variabel. 95% yaitu: Hipotesa yang digunakan dalam uji f-hitung dengan tingkat kepercayaan HO : Variabel HI : Minimal Dimana jika f-hitung X tidak rnempengaruhi nilai KKAS dan ICK. 1995): y 1 = a + b Xl + c X2 + d X3 Y2 = a + b Xl + c X2 + d X3 dimana Nilai Kode Kadar Air Serasah (KKAS) Cuaca Kebakaran (K'K) Y2 = lumlah Sebaran Hotspot Xl = KKAS 1 atau lCK 1 X2 = KKAS 2 atau ICK 2 X3 a.

-. maka tolak Diagram alir penelitian ini dapat dilihat seperti tersaji pada Gambar 4.-. Diagram Alir Metode Penelitian 24 . maka terima HO danjika t-hitung > Habel.Dimana jikat-hitung BO.-. I Gambar 4.-~-. .-.-. < Habel.-.-~---.

Perubahan jumlah sebaran hO('\1)01 dan nilai SPBK (KKAS dan ICK) eli Stasiun Sultan Taha. .4 yang berarti berada pada kelas sedang sampai ekstrirn.4 hingga 86. Analisis Gratis 1. BASIL DAN PEM BAHASAN A. kelas sedang 7 hari dan kelas rendah 4 hari. Jambi terdiri dari kelas tinggi 5 hari. Peningkatan Agustus. Nilai KKAS pada bulan ini berada pada rentang 64. Selain itu kondisi Jambi cuaca yang kering melalui di Propinsi yang tertinggi juga terjadi pada bulan Agustus 2002) dan secara keseluruhan hasil pengolahan pada data adalah 8. Kondisi ini berhubungan erat dengan data KKAS pada bulan tersebut yang cenderung tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan nilai KKAS yang didominasi kemudian oleh kelas ekstrim 9 hari kelas eli kelas tinggi 4 hari dan kelas sedang dengan 3 hari tanpa adanya KKAS ini merupakan hutan suatu indikator mudah tidaknya renelah. Propinsi Jarnbi (Stasiun Sultan Taha) Melalui yang merupakan data sekunder bagian yang ada dapat dilihat bahwa nilai KKAS dan leI( SPBK Taha.00 (20 Agustus oleh kelas sedang dan tinggi. berbanding Jambi. lurus dengan sebaran dari dari indikator Sultan hotspot yang perubahan terjadi di Stasiun Hal ini dapat dilihat sebaran hotspot yang secara nyata diikuti dengan kenaikan dikatakan peningkatan sebaran hotspot ternyata nilai KKAS berkorelasi dan ICK atau dapat positif dengan nilai KKAS dan ICK. Jambi dapat elilihat seperti tersaji pada Gambar 5. Jurnlah sebaran hotspot paling tinggi di Propinsi Jambi terjadi pada bulan sebaran hotspot tertinggi terjadi pada 20 Agustus 2002 dengan jumlah sebaran hotspot sebanyak 189 titik. Melalui bahwa ini dapat diketahui nilai ICK di stasiun Sultan Taha.IV. Nilai serasah perrnukaan (lantai) pendekatan leK dimana nilni tertinggi bulan ini didorninasi analisis grafis terbakar.

.. 0 0 68 ~ ~8 ...._ ~ -.:: b - <.~~-{(""- ..... --. 16S . Propinsi Riau a. <« _. Stasiun Simpang Tiga Melalui analisis grafis ini dapat terlihat banyaknya data sebaran hotspot yang tidak dapat ditampilkan karena berbagai keterbatasan.. - _ .. ~ ' " --KKAS -"-ICK -*-Hotspot .. kelas sedang 5 hari dan kelas rendah 5 hari. Hal ini dapat dilihat dengan nilai KKAS kelas ekstrim yang terjadi sebanyak 13 hari. .Hnbungan SPBK (KKAS dan leK) dengan Sebaren Hotspot di Stasiun Sultan Taha (Jambi) . 28 ... Nilai KKAS tertinggi 87. 26 .."\ '...30 danjumlah sebaran hotspot 20 titik (25 Juni 2002). kelas tinggi 4 hari. . sedangkan nilai ICK yang ada yaitu kelas ekstrim 1 hari dengan nilai 26.Q US ~ 168 ~ U8 = B8 e " ._ "------T" ::-" s: . kelas sedang 4 hari dan tanpa adanya nilai KKAS yang memiliki kelas rendah.. Jambi 2... kelas tinggi 10 hari... Riau dapat dilihat seperti tersaji pada Gambar 6. Perubahan jumlah sebaran hotspot dan nilai SPBK (KKAS dan ICK) di Stasiun Simpang Tiga.. ~ m.50 pada 21 Agustus 2002 dengan jumlah sebaran hotspot sebanyak 36 titik. <.. Namun hal itu bukan berarti bahwa tidak adanya sebaran hotspot pada waktu-waktu tersebut. Grafik Hubungan SPBK (KKAS dan ICK) dengan Jumlah Sebaran Hotspot di Stasiun Sultan Taha.w~ Tanggal Perekaman Gambar 5. Nilai KKAS dan ICK yang tetap tinggi walaupun dengan sebaran hotspot yang tidak sesuai menunjukkan bahwa estimasi potensi kebakaran di daerah Riau melalui Stasiun Simpang Tiga cukup tinggi.. i ~8 18" ~ .

e . __ \ ~ ~ <.00 0.P . -+-KKAS --ICK -.Hotspot 1\ /\.00 ~ 40..... 3. Eliminasi data sebaran hotspot yang tidak termasuk dalam koordinat stasiun cuaca ( 20 km")..7 .... Riau terlihat acak dan untuk beberapa perekarnan terlihat tidak sesuai dengan pengkelasan yang ada. ~ )~ ~ <. 2. Receiver (alat perekarn data) di bumi yang rusak (Dephut)..L . ::"'I. Riau.1 "'" -. .. .00 1: 0:1 50.&. Gangguan satelit.00 . Q.. V ..00 30. Hal ini dikarenakan adanya data sebaran hotspot yang tidak dapat terekam pada hari yang sarna yang disebabkan oleh beberapa hal antara lain: 1... Grafik Hubungan SPBK (KKAS dan ICK) dengan Jurnlah Sebaran Hotspot di Stasiun Simpang Tiga.00 f!2 'OJ 20. 1 V .... 11M. b. / Z T . 4.. . <.00 1:1:: 60. Namun berdasarkan fluktuasi nilai KKAS dan ICK pada stasiun ini juga rnenunjukkan tingginya estimasi potensi terjadinya kebakaran hutan dirnana nilai KKAS terdiri dari 27 . Riau Fluktuasi jumlah sebaran hotspot berbanding lurus dengan nilai KKAS dan ICK di stasiun Simpang Tiga.00 90. 'II/! <.Hubungan SPBK (KKAS dan ICK) dengan Sebaran Hotspot ill Stasiun Simpang Tlga (Riau) 100.00 '" 80./ .00 ~ 10.00 e 70. Asumsi dari keadaan ini juga sarna dengan kejadian pada Stasiun Simpang Tiga.. Adanya penutupan awan yang menghalangi perekaman hotspot.. Stasiun Rengat Melalui analisis grafis ini dapat dilihat bahwa data sebaran hotspot yang ada di Stasiun Rengat juga tereduksi sehingga pada beberapa hari terjadi ketidaksesuaian antara kelas yang ada dengan banyaknya sebaran hotspot yang terjadi.- -=:::lJli .] l~ Tanggal Pe rekaman Gambar 6.

.. Sedangkan untuk: data ICK terdapat kelas ekstrim 5 hari... kelas sedang 6 hari dan tanpa adanya kelas rendah. Riau dapat dilihat seperti tersaji pada Gambar 7. ~ ~ .00 ~ 10.00 . 20. Hubungan SPBK(KKAS dan ICK) dengan Sebaran Hotspot di Staaiun (Riau) sebaran hotspot sebanyak 56 titik pada Rengat 100.. Nilai ICK tertinggi yaitu 18.00 denganjumlah tanggal 8 Agustus 2002.00 90..00 0: ..kelas ekstrim 11 hari.00 0.00 := 70. -$>-KKAS -M-ICK __. '" 0 V ... kelas tinggi 6 hari dan tanpa adanya kelas KKAS sedang dan rendah.:: 60. Grafik Hubungan SPBK (KKAS dan ICK) dengan Jumlah Sebaran Hotspot di Stasiun Rengat.\ I tllI~.00 -.. :::t Tanggal Pe rekaman Gambar 7. ~ 30..60 dengan jumlah sebaran hotspot sebanyak 14 titik.. I .00 Q. Perubahan jumlah sebaran hotspot dan nilai SPBK (KKAS dan ICK) di Stasiun Rengat..00 .. Nilai KKAS tertinggi terjadi pada tangga14 Agustus 2002 yaitu 90.00 80. Riau 28 .. """" ~ \ \ f\4 \/ l( 5. 0 ~ ..Q 40./ . ----A._ Hotspot ~ "'''-''')1 A \ 1tIT - <. kelas tinggi 5 hari.....00 0: 50...

mengindikasikan sehingga Misalnya pengkelasan yang rendah suatu daerah memiliki diperkirakan sebaran (persentase kelembaban yang tinggi dan di daerah rendah hotspot yang berada kemungkinan sebaran tersebut merniliki jumlah yang kecil hotspot sebesar 20%) Melalui f-hitung (sebaran (Tim SPBK. analisis uji nilai f pada taraf nyata 5% (f tabel 3. angin.690 Ln Hotspot + 14.6 KKAS 2 R2 = 89. sehingga masih ada sekitar 10. Nilai regresi ini menerangkan bahwa secara keseluruhan nilai KKAS sebesar nilai hotspot dan pengkelasan KKAS dapat menerangkan 89. Hal ini terjadi karena dan keadaan bahan bakar di KKAS cuaca permukaan 29 .9% dari variabel lain yang mempengaruhi tersebut antara lain: faktor kesalahan pembacaan KKAS ini. suhu. Annlisis 1.009) didapat bahwa sehingga HO ditolak atau minimal ada 1 variabel x Iebih besar dari f-tabel. hotspot dan pengkelasan KKAS) yang mernpengaruhi nilai KKAS.4 + 0. oleh faktor-faktor nilai KKAS. dim ana ini dapat kemungkinan dengan terjadinya KKAS hotspot oleh pengkelasan.052 yang berarti t-hitung lebih kecil dari t-tabel sehingga HO diterima nilai atau sebaran hotspot tidak mempengaruhi ditentukan tanah.1%.B. dapat sebaran sendiri dikatakan bahwa Hal pengkelasan juga KKAS dilihat tersebut melalui dapat Melalui berhubungan pengkelasan dipengaruhi (0-36) berarti suhu yang regresi dengan itu hotspot. 2002).35 sedangkan taraf nyata 5% sebesar 2. . Melalui analisis sistem pengkelasan nilai memakai diperoleh persamaan: KKAS = 60.8 KKAS dengan sebaran nilai 1 + 22.1%. Melalui nilai Habel pacta uji t ctidapat nilai t-hitung pada Ln hotspot sebesar 1. Analisa Hubungan Analisa hubungan menilai sejauli mana sebaran hotspot dapat menerangkan bahaya kebakaran linier sederhana yang diwakili dengan sistern peringkat hubungan KKAS regresi oleh nilai KKAS. dan hasil erat KKAS kelembaban. Faktor-faktor kecepatan data cuaca. Propinsi Rcgresi Jambi Antara Nilai KKAS dengan Jumlah Sebaran Hotspot antara nilai KKAS dengan hotspot irn dimaksudkan keakuratan untuk a.

'.... .' ... . KKAS-Ln Hotspot. . .. •• .KKAS 2 .99 u " '" u... ....•. u .•... ' '... :..210 Ln Hotspot + 3..20 .'.'.. n . yang semakin lndeks sehingga cuaca reK mengindikasikan besar dan diperkirakan kebakaran memiliki variabeI sebaran pengaruh hotspot di lokasi dalam pembentukan ada beberapa yang turut total mempengaruhinya bahan bakaran. u ' ... seperti Kadar air humus. •.47 ini menunjukkan hotspot dan pengkelasan kebakaran yang mungkin kebakaran kebakaran. ..'. peringkat tingginya banyak banyak Nilai regresi sebaran intensitas nilai nilai ICK yang ada dipengaruhi tersebut. u.....'.'.25880 o Residu 1 5 Kolmogorov-SmimovNormalityTest D+:O....'?j' ..::. ] .' •.' . '.Sultan dapat dilihat pada grafik seperti yang tersaji pada Gambar 8. •••••••••• _~. -5 Average: -0. KKAS 1.•... : . u .68 leK 2 dengan nilai R2 sebesar merupakan Semakin = 0... maupun jumlah 30 .• •..999 ...110 D-:v..3%. Grafik Kenormalan Regresi KKAS di Stasiun Sultan Taha.•' +. ....0 . !. to •••••••••••• • ••.3% oleh akan terjadi di suatu daerah.' '. . . > :. .• ... _ _ r' _ •• ••• .'.95 :: •••••••••••••••••••••••• -:: •••••• '" .. ..... .80 . u . . + .01 .~ .....15 N::<:8 Gambar 8.: ' ':.••••• roo •••••••••• ..+.'.•. ..'...•.• •• .' '.•••••• • . Jarnbi b.124 D:O...' . • ..._.• •• .'..001 c.330 + 0... .05 .. Nilai leK 84. nilainya leK = 84.' ~' '. . •.50 . . ' .>-..• . ...'..0 Cd .... faktor kekeringan...... n . Penyebaran KKAS data nilai KKAS dan jumlah Taha..... . '. . Jarnbi sebaran hotspot serta pengkelasan kenonnalan regresi di Stasiun..'. Analisa Hubungan Hasii persamaan leK Antara Nilai ICK dengan Jumlah Scbnrau Hotspot yang didapat dari regresi linier terhadap lCK adalah: leK 1 + 6. . .124 Approximate P-Vaiue > 1).~ ::._.0000000 StDev: 3. 0 I-< .. . . u ' ..

131 Approximate P-Value . '>-...-. -_'. .131 D-: 0... ••.{).D 0 ro 0. -_u~~----t---~0--~: :" ..' -.. '-._ "..OOOODDO StOev: 1. .- .'. .01 .". 0. ~~ . ~ ~ ":: . •.. J . •.• ~-• . _. Jambi 31 .." • . ..20 .:: .Pada uji f dengan taraf nyata 5% menunjukkan x yang mempengaruhi nilai ICK (HO ditolak).y : .15 Gambar 9. .. . . . nilai ICK secara terpisah data nilai ICK dan jumlah sebaran hotspot serta pengkelasan regresi seperti yang tersaji pacta Gambar 9._ oJ." .'.----~----~----~---....999 . . . .•. ..: .'...-. . ..$ .-_".. j ..-..'.99 .- . .. ..c": .. . .22819 N:28 -1 a Residu 2 1 2 3 Kolmogorov. ~.'~ •.95 • .'.. bahwa ada minimall melalui variabel Sedangkan uji nilai t Ln hotspot didapat Lahwa sebaran hotspot tidak mempengaruhi atau HO ditenrna Penyebaran (t-tabel > t-hitung).•' ~..'... j . . ... : _ . _ ..50 ...- _.. ICK l)CK 2 ." _ .-.-r .~ .." .." .' ~~ : ~. : -2 Average: .' . leK dapat dilihat pada grafik kenormalan ICK-Ln Hotspot..'_-..001 "::'... :: !' .-r'.._ . . . : : ...05 . ._. _~_1 .80 .s mimov Normality Test 0+: 0..<.'. L _-.D .083 0: 0..". ". Grafik Kenormalan Regresi leI( di Stasiun Sultan Taha. _ ~ .

0%. Penyebaran data nilai KKAS dan jumlah sebaran hotspot serta pengkelasan KKAS di Stasiun Simpang Tiga. Hal ini menunjukkan seperti di Stasiun Sultan Taha bahwa batas-batas kelas KKAS memiliki keeratan yang tinggi dengan sebaran hotspot dimana dengan batas kelas tersebut dapat rliprediksi besarnya jumlah sebaran hotspot yang ada sehingga Jangkah antisipasi pencegahan kebakaran dapat dilakukan sesuai dengan inforrnasi yang di dapat. Sedangkan melalui uji t didapat nilai t-lutung pada hotspot sebesar -1.5 KKAS 2 dengan nilai R2 = 95.0%. Propinsi Riau Stasiun Simpang Tiga Antara Nilai KKA. 32 .1 . Analisa Hubungan Anal isis regresi data sekundcr pada Stasiun Sirnpang Tiga.92 dan nilai t-tabel pada taraf nyata 5% sebesar 2. Misalnya peringkat kejadian kebakaran yang ekstrim dengan nilai KKAS > 83 memiliki potensi terjadinya sebaran hotspot di daerah tersebut sebesar 10% dengan interpretasi bahwa daerah tersebut adalah daerah terbuka dan daerah rerurnputan (Tim SPBK.197). Riau dapat dilihat pada grafik kenormalan regresi seperti yang tersaji pada Gambar 10.S dengan Jumlah Sebaran Hotspot a. Pada taraf nyata 5% uji f menghasilkan f-hitung lebih besar dari f-tabel sehingga HO ditolak atau minimal ada 1 variabel x (sebaran hotspot dan pengkeJasan KKAS) yang mempengaruhi nilai KKAS (f-tabel 3.086 yang berarti t-hitung lebih kecil dari t-tabel sehingga HO diterima atau secara terpisah sebaran hotspot tidak mempengaruhi nilai KKAS. Melalui nilai regresi ini rnenerangkan bahwa secara keseluruhan jumlah sebaran hotspot dan pengkelasan KKA S di Stasiun Simpang Tiga dapat menerangkan nilai KKAS sebesar 95. Riau menghasilkan persamaan KKAS = 56. 2002).2.4 KKAS 1 + 31.1. a.0634 Hotspot + 23.0.

_ .0 !- . >.086 yang berarti t-hitung lebih keeil dari t-tabel sehingga HO diterima atau sebaran hotspot tidak mempengaruhi secara terpisah atau HO diterima (t-tabel > t-hitung). . Analisa Hubungan Antara Nilai ICK dengan Jumlah Sebaran Hotspot Hubungan antara ICK di daerah Stasiun Simpang Tiga.0.80 . KKAS 1..747 .99 .2..U :.. Pada uji f dengan tarafnyata x (sebaran hotspot dan pengkelasan ICK) yang mempengaruhi nilai ICK (HO ditolak).20 sedangkan nilai Habel pada taraf nyata 5% sebesar 2.1190:0. ~ -5 Average: -0.0200 Hotspot + 3..8%..85762 N: 21 o Residu 1 5 Kol mogorov-S mimov Normality Test D+:O. nilai ICK 33 . Riau dengan jumlah sebaran hotspot dan pengkelasan ICK diterangkan dengan persamaan hasil analisis regresi yaitu: ICK dengan nilai ~2 = 0.. Melalui nilai regresi ini dapat dilihat bahwa jumlah sebaran 5% menunjukkan bahwa ada minimall variabel hotspot dan pengkelasan ICK dapat menerangkan nilai ICK dengan cukup baik... KKAS-Hotspot... Grafik Kenonnalan Regresi KKAS di Stasiun Simpang Tiga.05 .. Riau a. ~ Y' ..<:'[ .71 ICK 2 + 26. l.KKAS 2 .15 Gambar 10.n 0 0.0000000 StDev: 2.s c-.001 <> ~... Sedangkan melalui uji t didapat nilai t-hitung pada hotspot sebesar -1.00 IeK 1 + 8..95 .999 .072 0-:0.20 . .01 .".119 Approximate P-Value > 0..0 ICK 3 = 94.

99 . . ... Hal ini disebabkan banyaknya data dari Stasiun Rengat yang tereduksi baik karena tidak tercakup dalam koordinat stasiun cuaca (rentang 20 km x 20 km)...I. _ . Riau b... .~ N ~ : .... Grafik Kenormalan Regresi leK di Stasiun Simpang Tiga. KKAS 1...999 . • ..1190:0..001 . ••.. tidak terdeteksi karena awan maupun kerena kerusakan alat perekam sehingga keadaan ini mempengaruhi hasil analisis...95 >. .....15 Gambar 11.01 .j ..D 0 c.0000000 SIDe . ... KKAS-Hotspot..85762 N: 21 o Residu I 5 Kolmogorov-Smimov Normality Test 0+:0. L ... . :~.119 Approximate P-Value > 0.. Stasiun Rengat Persamaan yang didapat dari hasil analisis regresi terhadap hubungan jumlah b......~ 0 : .50 . \ d ..... . ~:=====·~-==:::===t==========1=:~ .0...... Nilai R2 di dengan stasiun yang Stasiun Rengat ini merupakan yang terkecil jika dibandingkan lain (Stasiun Sultan Taha dan Stasiun Simpang Tiga)..0 + 0. . 34 ...•...KKAS 2 .05 . c" TO.. .... ... .: 2... .~.Penyebaran data nilai leK dan jumlah sebaran hotspot serta pengkelasan leI( di Stasiun Simpang Tiga.20 . ..D c-. 0« ... Analisa Hubungan Antara Nilai KKAS dengan Jumlah Sebaran Hotspot sebaran KKAS hotspot dan pengkelasan KKAS dengan nilai KKAS yaitu: = 78.•.. . ...42 KKAS 1 dengan nilai R2 = 66... ~ : .. + .6%...80 .... Riau dapat dilihat pada grafik kenorrnalan regresi seperti yang tersaji pada Gambar II. ... : :~ .. _ ...272 hotspot + 8. ... -5 Average: ..072 0-:0.

. . - "Or 0 .. . _' Melalui analisis uji nilai f pad a taraf nyata 5% (f tabel 3.. ..•••. . '.61 sedangkan nilai t-tabel pada taraf nyata 5% sebesar 2..001 l' ____ L .. ca ... .. .1190:0.... Riau 35 .' '..05 ... '. . ':: ••••. .D ••••••••••._ .- -.. ". .80 ... .-....• . :_'c'.. .' .r. ~ _ -5 Average: -0.6%. - .'~.'...'Ic _.(..' '. . ..'r( '_" ••••••••••• r·."_'._'.. . .. .... .~.. c-. P-< .. Melalui uji t didapat nilai t-hitung pada hotspot sebesar 0. _ . '" ..' ... .85762 N: 21 o Residu 1 5 Kolmoqorov-Srnimov Norrnality Test 0+... r ••••••••••• .... : _' ... .0720-:0. .. ...99 ..'. KKAS-Hotspot.. ..20 .. ~ :: •••••••••••••••• ~ ••. Riau dapat dilihat pada grafik kenormalan regresi seperti yang tersaji pada Gambar 12....... -:.••••.01 .'>' ~>'<" •••••.119 Approximate P-Value > 0. .. .. . KKAS 2 .. ~. . .•• ...:. .. ~.999 .'. -... .•..:_. KKAS 1.• w 1··· .. 'i~~'" .. ... . .120 sehingga HO diterima atau sebaran hotspot tidak mempengaruhi nilai KKAS (t-hitung < t-tabel). ~ _ .739) didapat bahwa f-hitung Iebih besar dari f-tabel sehingga HO ditolak atau minimal ada 1 variabel x (sebaran hotspot dan pengkelasar. .15 Gambar 12 . . .. . Penyebaran data nilai KKAS dan jumlah sebaran hotspot serta pengkelasan KKAS di Stasiun Rengat. Grafik Kenormalan Regresi KKAS di Stasiun Rengat.' ••••••..: : l ~ ~ : ~ .D ... '" w ...0.0000000 SIDev: 2.Berdasarkan nilai regresi tersebut maka sebaran hotspot dan pengkelasan KKAS hanya mampu rnenerangkan nil~i KKAS sebesar 66..... . .•. ..' ".. KKAS) yang mernpeugaruhi nilai KKAS.' ". •.••• w '.95 . .'1 '.'.....50 ..' L :~.

".05 . .•." w 0.: •••••••• ... data nilai ICK dan jumlah Riau dapat 13.. • •• _.01 .... Grafik Kenormalan Regesi lCK di Stasiun Rengat...0 cd .8576L N: 21 o Residu 1 5 Kolmoqorov-Srnimov Normality Test 0+: 0..•• '.. ••• " .>-..93 + 0.001 . " L '_ ..0334 Hotspot + 2...•.• '.b.. leK yang ada sebesar 90. _______ ~ w ~ _ .·7~ . ~ ~ . sebaran hotspot serta pengkelasan kenormalan regresi leI( dilihat pada grafik seperti yang tersaji pada Gambar KKAS-Hotspot) KKAS 1. Aualisa Hasil leK Hubungan persamaan Antara yang Nilai ICK dcngan didapat dari Jumlah regresi Sebaran tinier Hotspot leK adalah:" = 0. ' •.259 dan Iebih kecil HO ditoiak atau minimal ada 1 variabel x (sebaran hotspot dan nilai leI<.... KKA.23 sedangkan lebih hotspot sebesar berarti t-hitung pada taraf nyata 5% nilai t-tabel adalah 2.. ""' .'.~ ...' •. _ : .: . ••• ••• ••• • ••••• ~..89 leK ] + 8.50 .•. ..46 leK 2 + 13. .• '. .95 .•.. •••••• ..•• w .. ". .2.... ··.6 leK 3 dengan nilai 90.. . .. ..0 0 ....120 sehingga HO diterima atau sebaran keeil dari t. •. ~ ' \ .. " ~----------i----------~--.' . Melalui uji t didapat nilai t-hitung yang mempengaruhi 1.072 0-: 0...15 Gambar 13.5 2 . ~ ..•.· ..0000000 StDev: 2... : . ..9%.. _ .20 . w •. Nilai regresi R2 sebesar dipengaruhi ini menunjukkan bahwa nilai ICK..9% oleh jumlah hotspot dan pengkelasan 5% uji f menghasilkan Pada taraf nyata dari f-hitung pengkelasan pada yang sehingga leK) f-tabel sebesar 3.••.~ . •.119 0: 0.999 ..0.99 . -5 Averagp.tabel nilai leK. " ... ·1· ........ "':j.80 . . hotspot tidak mempengaruhi Penyebaran di Stasiun Rengat.119 Approximate P-Value > 0.. or ••• .. Riau 36 .' '._ •••••• :i " .

V. Kesimpulan I. 37 . B. Banyaknya data yang hilang akibat tidak terdcteksi maupun tidak terrnasuk data euaca (koordinat stasiun cuaca) dalam rentang akurasi pengumpulan mempengaruhi anal isis data. 3.6% sedangkan tingkat keeratan leK dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya sebesar 90. Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran merniliki hubungan yang cukup erat dengan sebaran hotspol dan pengkelasan parameter SPBK (KKAS dan ICI()_ 2.0% sedangkan tingkat keeratan lCK dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya sebesar 94. 5. Selain itu penambahan stasiun pengamatan dan ketelitian dalam perekaman data sebaran hotspot perlu ditingkatkan agar pengumpulan dan ana1isis data dapat lebih baik. Riau tingkat keeratan KKAS dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya sebesar 66.9%.8%. Pada Stasiun Rengat. Jambi 89. Tingkat keeratan KKAS dengan sebaran hotspot dun pengkelasannya di Stasiun Sultan Taha. sedangkan tingkat keeratan ICK dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya sebesar 84. KESIMPULAN DAN SARAN A.3%.1%. 4. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penerapan parameter SPBK (pengkelasannya) di daerah lain dan menganalisis nata parameter SPBK yang lain seeara keseluruhan sehingga dapat dilihat gambaran secara umum penerapan sistem peringkat bahaya kebakaran ini. Riau sebesar 95. Tingkat keeratan KKAS dengan sebaran hotspot dan pengkelasannya di Stasiun Simpang Tiga.

L . PO Box 3910. 1983. Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan. Boger. Forest Fire Control and Use. Cheney. Fakultas Kehutanan dipublikasikan. 1995. and K. 2003.. 1973. F. 171-180. Folliot. L. 200p. and L. Principles of Forest Fire Management. Nery dan P. Clar.DAFTAR Albar. M. Manajemen Hutan. E. Thomas. Fire's Effect on Ecosystem. Republik Federal Jerman. Jakarta.R Chatten. John Wiley and Son. Tidak dipublikasikan. Brady. Tidak Dipublikasikan. Canadian Forest Service. John Wiley and Sons. 1. New York. M. Gambut. Departemen Kehutanan. Pengembangan Sistem Penilaian Kebakaran Hutan di Propinsi Kalimantan Timur. 2002. Department of Natural Resources Division of forestry. P. Trabaund. Forest Fire. Skripsi pada IPE. Davis. Laporan Akhir Disampaikan kepada Deutsche Gesellchaft fuer Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH. . F. G. Deeming. C. Vol I. Eschborn. New York. 1984. 2002. Z. Williams. M.D. Jakarta. 1954. John \Villey and Sons. P. Tidak dipublikasikan Brown] AA. New York. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Development of Fire Danger Rating Systems and Their Aplications ill Southeast Asia. D. Kebakaran Hutan (Makalah Utama III Temu Karya Penelitian Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). D. Hubungan Kadar Air dengan Sifat Kebakaran Jurusan . P. Me. PUSTAKA l. Pus at Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (P3TISDA). Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Dephut PJ. Tidak Dadan. Forest Fire Behavior and Effect. A. 1998. Tidak Dipublikasikan. 2002. Books Company. California. Graw-Hill and D. Fenomena EI Nino dan Hotspot: Pemicu dan Solusi Kebakaran Hutan? Makalah. Fuller. C. Jakarta. Adopsi dan Adaptasi Teknologi FDRS (Fire Danger Rating System). Bogar. Chandler. A Fire Forestry. P : 69-77. Inc. Kartijono. Canada. Inc. 1991. 658p. Debano. Hamzah.

Jakarta. E. Suratmo.Saharjo. G. 1995. Bogor. Strategi Pengendalian KebakaranHutan dan Lahan Menghadapi Ancaman Bahaya El-Nino 2002. 1988. J ak arta. 2002. Tim SPBK. 2002. B. Bogor. Direktorat Jendral Kehutanan. Gramedia. 2002. . Musim di Jawa Tengah. '1985. Development and Structure r:. Tidak Dipubllikasikan. 1987. Workshop Nasional Kebakaran Hutan. Pontianak. D. 1974. 200:). Materi Pelatihan Dasar Sistem Peringkat Kebakaran (SPBK).H. Simorangkir. Kajian tentang Aspek-aspek Hukum. Jakarta. C. Ottawa. dan Sumantri. Bahaya Kebakaran. Wagner. Fakultas Tidak dipublikasikan. Pcla Penyebaran Kebakaran Berdasarkan Skripsi pada Jurusan Manajemen Rutan. PT. Departemen ____ Rutan. Bagian Perlindungan Hutan. D. E. Forestry Tee/mica/ Report 35. Perlindungan P ertan ian. -----. G. Dan Torrie. Peraturan dan Kelembagaan Menyangkut Kebakaran Rutan dan Lahan di Indonesia. 9 April. Kehutanan IPB.f T7:e Canadian Forest Fire Weather Index System. L. Bogar. V. Departemen F. Prinsip dan Prosedur Statistika. Hutan. Jakarta. BPPT. 1970. Fire Behaviour. Project Fire Fight South East Asia. Bahan Pelatihan Dasar Sistim Peringkat Jakarta. Steel. Tidak dipublikasikan. Bahaya Santoso. Canadian Forestry Service. Fakultas Syaufina. Kebakaran Pertanian. Hutan Direktorat Jendral Kehutanan. R. Tidak Dipublikasikan. BPPT. PerIindungan Kehutanan IPB.

LAMPIRAN .

KKAS 2 The regression equation is KKAS = 60.4 + 0.7% F 65.73 2621.190 0.41 28G.697 F 43.6766 R-Sq = 84.2099 3.96 Ln H0tS}1 KKASI KKAS2 S P 0.754 22.456 = 89.4% MS 73.5778 0.303 Coef 0.000 0.13 P 0.95 Regression Analysis: ICK versus Ln Hotspot.109 1.000 0.75 J.000 = 82.68 ICK 2 Predictor Constant Ln Hotsp ICK 1 ICK2 S = 1.00 9.Lampiran I.000 Analysis of Variance DF Source 3 Regression 24 Residual Error 27 To~al SS 219.557 0.27 P 0.360 0.4890 0.595 R-Sq SE Coef 1. KKAS 1.47 ICK 1 + 6.67 1.08 P 0.326 40. Analisis Regresi Stasiun Sultan TaJ1a di Propinsi Jambi Regression Analysis: KKAS versus Ln Hotspot.000 Analysis of Variance Source OF Regression 3 Residual Error 24 Total 27 KKAS 0 = Sedang KKAS 1 = Tinggi KKAS 2 = Ekstrim SS 2334.690 Ln Hotspot + 14.08 6.1% = 87.000 0.4669 6.330 + 0.35 8.14 11.507 0.210 Ln Hotspot + 3.6900 14.289 0.3% SE Coef 0.1936 0.3296 0.889 R-Sq(adj) T 38. ICK 2 The regression equation is lCK = 0.054 ICK 0 = Rendah ICK 1 = Sedang ICK 2 = Tinggi 41 .14 MS 778.000 = 3.06 t 1. ICK 1.7199 R-Sq(adj) T 0.830 1.6 KKAS 2 Predictor Constant Coef 60.511 ] 1.8 KKAS 1 + 22.728 260.

4 KKAS 1 + 31.09 38.06340 23. rc« 2.67 17.000 0.7120 25.g KKAS 1 = Tinggi KKAS 2 = Ekstrim SS 3098. KKAS 2 Tile regression equation is KKAS "" 56.0634 hotspot + 23.63 P 0.7473 -0.25 -1.] 09 -0.7 MS ]032.000 0.5 KKAS 2 Predictor Constant hotspot KKA"s I KKAS2 S:.452 R-Sq ""95. KKAS I.246 0.8457 1.100 Coef 56.0.23 42 .01 -1.Lampiran 2.00 rCK 1 + 8.03 10.0 leK 3 Predictor Constant hotspot rex 1 ICK2 ICK3 S Coef 0.687 0.7421 0.52 2.6 F 107.6% MS 175.4 163.14 740.692 R-Sq(adj) T 1.193 1.008 0.071 0.01658 0.747 .544 = 93.000 R-Sq«!dj) ~ 94.03294 2.8% sa coer 0.20 3.329 0.C200 hotspot + 3.952 R-Sq == 94.000 0.38 F 73. I .5] 0. rex 3 The regression equation is rCK 1= 0.72 P 0.01996 2.000 = 1.92 10.775 T 33.: 3.1% Analysis of Variance Source DF Regression 3 Residual Enol' 17 Total 20 KKAS Sedar.8 9.33 P 0.9873 0.000 P °"" Regression Analysis: leK i versus hotspot.0% SE Coef 1.71 lCK 2 + 26.0. Analisis Regresi Stasi un Simpang Tiga di Propinsi Riau Regression Analysis: KKAS versus hotspot. rCK 1.000 Analysis of Variance Source DF Regression 4 Residual Error 16 Total 20 reK rCK leK reK 0 = Rendah 1 = Sedang 2 = Tinggi 3 = Ekstrim SS 702.3 3261.393 3!.9956 8.?O 15.

0 + 0.96 160.89 ICK 1 + 8.907 0.264 2.44 Regression Analysis: ICK versus hotspot.000 0.02716 8.ampiran 3.966 0.6% = 61.463 13.02719 2.40 3.966 R-Sq(adj) T 55.186 0.48 11.584 R-Sq ""90.94 p 0.000 = 1.000 43 .42 KKAS 1 Predictor Constant norspot KKASI S = Coef 77.551 0.12 159.49 1.001 3. lCK 3 The regression equation is leK =: 0.38 0.95 43.000 Analysis of Variance Source DF Regression 2 Residual Error 14 Total 16 KKAS = Tinggi KKAS 1 = Ekstrim ° SS 318.894 8.16 479. ICK 2.03343 2.408 0.8% MS F 13.633 0.28 P 0.61 4.74 6.6 ICK 3 Predictor Constant hotspot rCK 1 FICK 12 ICK 13 S Coef 0.242 0.23 1.93 + 0.63 4 12 16 29.46 rCK 2 + 13.191 R-Sq(adj) T 1).49 3.04443 1.9% SE Coef 1.418 R-Sq SE Coef 1.56 MS 108. Aualisis Regresi Stasiun Rengat di Propinsi Riau Regression Analysis: KKAS versus hotspot.61 477.906 = 87.0334 hotspot + 2.062 2. KKAS I The regression equation is KKAS = 78.85 F P 0.8% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total leK 0 = Rendah reK 1 = Sedang ICK 2"" Tinggi ICK3 ::::: Ekstrim DF SS 433.20 P 0.0272 hotspot + 8.382 = 66. lCK I.l.933 0.003 0.

.. ~ Qj C\! 'P J:: ·5 on ~ W E CJ ro "0 "0 <I.'> t".: ~ \D r..:: t) en til "0 en ~ C <I..> ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ '" '" '" '" '" W W W U..a r/5 ~ .. -~- r-...> 'ej of '" - "0 Q) en «s ~ 'gf J:: ..0 N III eo III III r_6d~dd~~d6d~~d6~~V)'<:t\D~~~=~d~d~ Voooooooooooooooooooooogooooo 0\ <'> <'> <'l0~''loo ~O\ r-.. i -'(---.....r ~ ~ ~ ~ 0\ 00 00 .... '<:t~ .V) t"-on'<:t on 00 CO O\O\-.l U.. . I i i I ..r N V) r- --- eo .... """ "I "I i ~ N - U 0 - 0 0 0 - N til <00-00--0000-00---------00000 ~ ~ ~ ~ ~ ~ :.> ~ '" '" ~ "0 J:: 'ID J:: '~ '~ W W '" 'I) . ~ 0\ :::.00 00 r-: 0\ -~ ~ "1! -~ ..f on· ~ oooocoooooooeoeot"-onoo...r \D.r 0\ N '<:t 0 0 --00 0 0\ eo N "<t -- 'D V) - 0\ ro ~ § c en ro (00\00 \D 0\ N 1. 0 ~ .> - "<t N r-- 0\ III 0\ 0 N V) 0.r 0..5 2 .ot"- 0r . III on t"--..::! til :. 0... 0... '" 0 e N -.. '~ VI ....0 E ro on til <--000000---0-0000000000-0-0- til < '~ J:: ''::..M \D' .l W U..:! U 45 . -.l W W - o:J '" - "~ '~ t:: 'P ro "0 gJ <I. 'P 'P J:: EEEEEE EE E t:: ~5'gy ~ ·5 '5 "5 'C ·c 'C ..r-- \D N "3 til . J:: .t".t". -'N N \D III eo \D t".5 'C ...l U. ::t: .0 -..OO NM III· .> ro J:: '" '" ~EE~ "5 '5 «s <I.

. -.....!G 00 ::G ..'g} E '5 '" f: c:: .~ C '~ ..... ::.:><: Ul "5 .: 1= c:: c:: -0 C Q. a q <n 00 aa 0'. c.l u... .. . ..- 0'. 2: ~ ~ ~ ~ ~ 2: ~ ~ .C {/) f:::: l-= f:::: f.!G Q.:. ~E "5 ..... .. ~2: 2: 2: ...!G U) '. ... c.:: cn . ~ -< ~ c. I I N N N I I N 0. ~ ~ ~ ~ ~ ~ ..- 000 0 0'.J '" «I "0 <!) ~ c:: c:: ~ ct:I "0 Q.J cc E c :::l :::l ::l . 0 0 0 0 0 0 0 0 r. ... c...fff0000000000000 '......... .~ c:: '" -0 <!) '~ ..~ g c:: -0 Q) 0::: U) l-= f:::: c '" r/} N {/)." 0 a0a q q 0'.:><: u....l W u. 0.:. c..\0 r- g... .:><: E '.5C/5 Ci3 en en en C/) C/) C/) Ci3 en en en CfJ C/) C/) c.. n. e fo......C 0::: U) . . 00 \0 0 0 00 00 v-i' \0 00 "1 "1 <n <n 'D 00 00 0 0 0 0 -6 r-: .. N M" ~ 0 'D N 0 \O~ 0 .c '" -0 <!) @ 01 '~ tl '~ C . c 'a ro .5 U) .. r.. c. :::::: :::::: .l u. 0 0 M 0" M - 0 M ~ \0 N 0 a oc a r--: - 0 ('1 0" 0 =...:><: '. ~oo----oooo-----oo---- ~ {/) ~ ~ -<o-oaooo-c-oooooo-oooo C2 en :::l ct:I ..1= 1= 1= 1= 1= 1= 1= 1= 1= 46 .. a U -0 U) iii U) ~ . ..... 0 ::t: ~ ~ en '<t \0 0 N N N 7 <n M 7 0" N M N N -a 0 I 0'.:: .1= . -0 f0- .J r/} '~ ..l W en ........l u... "3 "3 "3 7 \0 N I oo I I M \0 0'.. 00 0...... CIl 00 I N <n I c :::l _.0 ell . ~ c.OC a 0 <n 0. ~~~< ~ <<< c...l ..n 5 = E U) .....~ u.!G '.... -< ::G ~ @ ::G "0 CfJ EE 'g ~E.l u.) .. .:: EEE ._E ..:><: cn u...C ~ ell '" "0 <lJ '" c:: ~ .. c...~ -§ tl1l"O ....:.. 0'... aa -6 00 00 r--: r--: 00 <n 0 0 00 ....... ..-0.:: '..:: EE~ c:: '" '~ g ct:I <!) '~ f: c:: "0 U) f: c:: E ~5'. <n 0 0 <'""l ci N -6 '<t 0'...-000 U ... N N I I MM <f <f<f <f -e. :::l '....e U) .. -< c.. c..- <n 0 c en .:: P- '" f: C ct:I 0 ...l u..:: '....!G v Q) ct:I 00 C ~ rQ.... 0.... \0" M.2 ro ~ ~ -< <n r'<to <n r- aa r--: oo -6 oo 0 00 00 \0" <n~ 00 00 00 a -e- -6 - r- ..t::: til Q) f:::: f: b c: c:: c: c:: C II) 0::: 0::: 0::: c Q) <!) "0 -0 ro .5 ~ en ell <!) U) f: c:: cn ..l W .:><: ... -< Z Z ZZ ZZ ZZZZ ~~~~< ~ ~ c." On 0'...... ~ 2: {.) .:><: EE . c. ....J U) "0 g. 0'.l u..oo 7.:.:><: ..:><: en en u.l e < 0 0 00 0 0 0 0 0 0 0 00 0 0 0 0 0 0 0 0 .:><: en U) U) "0 <!) .l! gf g~ oo O( g g gf g g gr :::l < -< < < < < < 00 1 7 ----I <n I \0 I 0'.~ ~ . N 7 ra 0 \0 <n M 'D f<) - N '" B "0 U . U) U) r/} U) - <: <: -< < « < -< -< « < -< « < < < « < < « < 1= 1= 1= 1= 1= 1= 1= ..00 0 f'1 -er r. c.

oo ~ 00 0 0 r.-< ~ll g ~o =' g ~ =' =' 1 N< i 0. -.N N M -e.oo N IX 00 I V') I I I I I I I V') '0 .=. ~ ~ =' ~ -.-< M 00 VI '0 V') r-.oo ('-I 00 0 on 0 0 M 0 r.'0 i i ~ r-. ~ -. -.. .<: < co . ~~ v. 0. ~ 0 ~ - 0 c.. q 0 0 ~ o-~ V') 0 IZl 0 "0 ::.0- '0 0" 0 a 0 0\ oo~ r00 00.-< N -e- ~ V) U - v:. N N~ 0 N 00" 0 0 000 O~ M ""<i M ~ 0 '0 M~ q '0 ~~ on 00 00~ .-< 'O~ O~ '0 M 0 --0 0 N .-< .-< r-~ "'S.r-~ on --6 00 00 00 0 0 0 0 0 co co (-:' 00 0 N N 0 r: >6 >6 00 00 00 r- 0 r- 0 0 '0" .-< N I I I N N 47 . =' < < <: i M '0 i Q 0.1""-.-< V') - a 0 0 0 .-< 00 l- er gf c( §f gf g ~ S t: t: =' =' -. N a '0 N N -~ C<") .--""' t") GOOOOOO~-~~OOOOO-O N ~OOOOOOOOOO~~'-<-_OO - U ~-U - ~O-~OOOOOOOOOO_ ! . M r.::: u ~ ~ < "'S..

...J.!! en en ....o ...."'" '" .. ""1""0 II OJ ~ I~l-~..> 0 0 00 . N r- I/) 0\ 0\ V)-q-\O V)V)t--N\0 t"--\O t"--I/)\0 t--\O\OOO NN-q-""1"V)V)V)V)V)OO _.. "<t -q..... _g~ t._:_:_::::::>r.·...M N ....:·~ .::::: .) 00_ II 00\0 g ci:! c:i ........ == ~ <l) ..._ cG :2 . "00\ "<.-.~ "<tIM..:h __ '" _: _: ....... ~ 0.0 1= 0 E- <:: ~ 0 « 0 \00 \00 \011) \0 -q-.-.c:t. ci _: :'. ".!! -< 48 . Cl >-:0 1-~+1_ ::t:1 i-- 1--+--+-1 -t-+ __ o I o \0 00 = o ~ o o o ~ Sjl o I 00 o o N N "7 s 0 ---.. <:: <:: 0.. 2 " ... ~ ~ C"': .... 0.- . -q-\OII)t"--\Oooo\OOt"--N oooot--t"--t"--t"--t"--\OO""1" \0\011)11)0\0\0\0\0\""1" _ .-\o 0' on 0\ M.J-Cf. -0 0"<.-- 0 0000000000 .. -c 0 «I ~O 00«1 °u8 '--' •0 ~> 0 ::s J.. :2 0 1= ~ 0.. 0_.... :z 0..... ...~ _ . ~~ § 000000 ..10 10 N...5"=:t .::J :z < co co <:: « <~'es.~i~. \0 -q10.._ . -q-.. i:.:..... oo"o ....... o ..... ._ .. < ::.... NO N 0·0 00 00 4) L. :2... 0..." < co ~ ~ :3 cG :z ::..5 0.

.\ .. '-' I'::: ..Q.~ '. ~~ 0 0 ~N N 0 0 b :...-.r::: <t! ro .) .c co:: ~ i:: --r-. -< i= 0 0 .~ _. <:. co 0 N r- 0 ~ "": N 00 V M 0- If) o v.x::: z.:t.V).) '7 If) N 'D N :~~~ "'T~ \:>:.:t v V M~ "l 0\ 0 0 0' M e. 49 ... 00 0- '<T If) ~ 'D 0\ V) 0 I-V) V) I .0 0 0 0 0 0 0 'q oq."::c' E ~ . c:J ~E ...----.-. =...e- V) '0 rV) I-- ---\0 \0 oo '0 V) 0\ 00 V). -..:t M 0 ---------. ·. ..._ ::J .· .:: .:l ee .1:.---r--o' "':.. V).' c .t- '0 t- 0\ 0\ -e- V) V) V) o~0 r.M tN N 00 I-0\ '<T 0 -... ro c I fIl e £:! C I I 1:1._ ~ ~ c.ce-._ lill~ z co -< ::J . 99 .'~ _..1 'S ::c :....--..... {/J ~ CIl g:. "'~ c'':': .... <'t 000 0 0\ MI (rJ O\J r- 00 00 tt- .2 -< c. 0 N N -"'l 0\ 0\ V) N. .--.. p'{~.:l I y.' .__ .x::: r.~. bJl.. =... V).-..tl.:c.=...r::: <t! .0\ M 0 0 V \0 V If) o V).~ N 0 ~ U l0 0 I <'! co -t- I- J '<T I 0 '0 N - ~ ! I l"- I-0 I ~ ~ '0 ~ 0 "<l. V)..:l ~ ~>-s I "..l f-I'" E:...=. < co z . :r: S : I I «l c I I I l"'-' o---l . ~ {/J ~ c.'". .oo r.._.:: . I·:. If) co 'D 00 co I-0 0 0 0 0 .. -< ::L -< c.. V)..c . :::E § 9 E «l ~ -< co .. g.t\0 v 0 -...' I ~ ~ ... V) 0' -~ ...:: 0 -< i= 0 0 -< i= 0 ~ c.' . 0 0 Co 0 0 0 0 ---"l 0 0 'D 00 co 0\ '<T 0 0' 0' 0' If) tr. >~ ~ ~ o---l .: 1:'10 I 1 N I I -1Zl .._ 00 r') co 0\ 00 t-. '<T_ '<T_ '<To 0\ 0\ N 00 0M "? :::J I 9 "5 . N I-N 0 C 0 I I ~ N ....

... _ !---I--I-I-f---l_l_f- 0 -< 0 1= 0 -< 1= . " '<:1'. :E (/) z.. ·····-.if).. -< Q... =.=. rI ~ . "".. --r--oo-"..~-. ... ::r:: -s ro c: o o 00 o r'> . :E < < z..."lr)lr)\Ot-oo\OIi') r-. I ' :_ I I! r-.":...---T .~&:l~~ 00000000 ~ ..~-- . i 50 .. ::.g::b3(.2 < Q.. .z: 0 < Q. . ~~::::::::~~V'l.. =.--.... """._.i -< Q.... :s ~ z.I··-··-l~~~c-·>l.. ..0 00 o o a o N II B'.::: -< en -~ CO CI.._..._-)~.

.-4 -- T 51 ..:. .!. ---+--I----i--+--+---1-~ o C""J o o o o o o o N '? '? N N 9 "5 '7 00 8 .... ' ...""... ::l ..... I I _I. ~ _... 0. 0\ I I o o No\VltNo\-o\ "'"l <"'t N~ --::..

· .t-.° =..--- I.' o . a ..!.N r<) M M 00 0\ 0\ 0M "'<I' O.co aa 00000 aaaaaaaaaaa 0 0 0 0 V) V) N M 0\ \0 M 0\ M r-.D M V) 1.. N 0\ t- V) M N 0\ M 0\ oo r. f'l r<) "'<1'..D V) V) r-.D M 01 M M \0 "'<I' 0\ N 'n M N 00000 . "'<1'... . ::: '7 M N 00 0\ r-.... ..D M - I.. r-000000000 0\ I. j I Iii I I· - -- ~"L---r'~~ -.-..r. o .. N aaaaa C> 0 00 01 M 00 N..M "<:t V) V) I.D 00 I.. 0- a . V) "'<t I. '? a '? N a a ° o N N . "l I.D 0\ V) "<to "<:to "'<to "<:t...~.--"r--·l-'- ."'<t N 00 V) 01. V) "l "<:t "'<t r.0 0\ "<:t co") t- "'<t M ee I. .D 0\ 0\ a "l "l 01.D t.0 M I.. o.• --~"~. N. V) or:.t. 0 N ° a 0\ 0\ 1 \0 N "'<I' 00 <<) 1. - r... 52 .•.D --.::..____-.I.0 00 a :~ 1 •• ·.

::-~~.r- ~ . (.! . ~ Z < 0-.I i~l--r-T X f--- .! -< 0-..) :J -< co 0-.c (. "<t. .'... '7 o 9 Vi ::. ~Il 0 . ~ -~ e::: if. <') <') -< . 0 0 -H < 1= 0 0 -< 0 1= 0 Z -< 0-.·i. --<.I S.r "".'.') \0 =.~ t:: >'. "<t.': ~ '..I ::r: N I c---0 ~ -0 0 N <') 00 I---c-- o o 0 0 o '? 0 0 N N -N N o .) -< o:l Z -e::: if..:l. 53 . Z < :::.:l .. 0 -I- V) N N "<t. 00 M 0 0 - =.'.~ l~ e g c :.:..~~. -< :::.

. .: o eo Vi 00 o Vi 'Cl 00 I-- o o o ? o N N - ? ? o o a Ai a a I:.~ t:: ro C -l . i II i I .c oj -l oj :r:: I s oj c:. . r--r--:-r-- I- 54. I I I- o o r.

t'-....- ...~ < CO ~ ~ <C 0.0 0 0000000000000000000 .:....... 0 . . ......•. ....!": 0 0\ M .. ~ 0 0 0 0 C"'l ..~ ~-~--~~~-~-~---~--....:E •. - 00 \0 C') - .... "'OC-~ ~_-OO~c:O M lI"l N 0\ \0 ~ \0 ~ \Q ( .... 0 N-NM~.-i~...-NM~~~~O\ • • r-~~ ...... ~ ~ if) -...I ... 55 ....1 . '-q 00 0 r-~ ..:~~_:.._: .N--M v. .......... N 0 +-' Ul I tO 0\ 0\ 0\ <} 5}.............._00 'V') ~ \0 t- ~ ••• ~~~~~MM~~~MM •• 0 .......... O ~ <C 0 0 f-< ~ 0.. o. ..:'....-:. t'"l ~ 0 v..

56 .· .

:::"~ E~ . 00 \D In & 00 M 0 0 N 0 .:. r-\0 N 0\ -- 0 t'"f) 0on on ....!.~ . .:\ 'I~ 9 t- -< 0 ~~~:~ z -< CL..on L(") 00 <"'1.. ~ -< 0.. ~.0- l..M f') 00000000 ..0..:S:.~ 1 -< .... ::E V} ..I- I:f':.r. 0 0 ~ \0 00 \0 00 '-': 0 '-': r00 0 M .~ .l 0- ro x: ro c ! .:.. - S ee c ... §. Eo-. M rr.. ~=..~ ...- \0 M 00 00 "<to N f'l v:.!.. . i 57 . .. -~ --. c :r: ...5 . < .":::1 · .c ro ~ I ..M C00 0 000 .s . ::E {/) co < -@ -c Z 0:1 ..::) < 0..'ro N N :.~" " 0 0 r-: 0 cO - -1 - I I f-I 0 0 0 I 0\ L(") I I I I I I :··:.5 .- . v:.... 0 N <"'l .<"'1 0" . -e- . v:." tl oo r.. v> 51 N 0 .. <=> 0 o <=> 0 . .. v> 52 -< .! :.. -.....- N <"'l M t'"f) N 0" 0\ 0N <"'1 o.".':. 0 rr-" I 0 N. c ..._.~.. ... v:. -< 0. 0 ..t 0 L(") ._.. M "<t ~ on -M \0 t'"f) L(") n <C I ~ L(") v:.r--- =.0 0\ "<t 0' M 0' 0 0' 0' . ..N L(") on "<t" "<t" .-----ItO 0 v:.=. ~ ---.'?... '" :~.oj ~.' \. N ('l 0 0 .3 I I I 1 J-:):I: 0 ~ N /'...·'C " '.c ..- - 0i I 6f :. :::. 0 N N 0 .--.oj c ~. § ... E ro. ... 0" I r- N \0 N I <=> r-."'" I 'j'j.. ~ ~ V} .. '.j ... -c 0..l " '-"00 MN "c I 0- i ::r: ---..- :~:...:.r. on on on 00 00 \0 r--.::) c < co ~ -- < co Z ~ 0::: -r::::: ~ CL..! I 0- i :r: ..C~le 0 0' I I I I I I N . N :<~ '? 0 '? 0 I0 0 '? 0 0 N 0 0 0 '? 0i ~ I- 0 0 .. ~" .- "<t. ell 00 ~ "1U::t r~ ~ ~ c e ro ...... r...n i-. f.VJ )~ ...- 9 9' 0' 9 .' ..-. <....- M 0- 0..-. Z < ~ co -< 0.'-.:...::) 0 < 1= 0 0 < E= 0 0 <I 1= 0 ~ ro ~ c ro i -Z ~ z ::E CI) 0.s: " ...~ '9 N on \0 0 ":.N \D M 00 00 0 N 0 r0 \D a I rr- -.L(") . . ..0 N ~~ 0 - 0..':..

.. .. .::•. •..8. .. ~~~~~v~~~~~~~~8~38~~~~~~g~~~ ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~OMMM~~~ ~ooo. -. _---- o o o .....·n~~...gg 58 .iooooooo...._____ ~~._. ..

1·-.-.- --~I·-I --r- --I~-T-r-r-r··j-iT I I I I II I i i I 59 .

. 00 5'n . :2 0::: . . en « . o o o o q N 0 0 0 0 N o o N o o N 0 .." lr> 0 -.... ::J r:G < CO ~ ~ 0. 0 < ~ 0. ..... ~~~~~~'~~H :c I i ..: r" N '-'c EO! ~G ::........ « CO Z « ~ 0....0 0 \0 '<l' <n <''!_ r- 1<: :'< .c <ro ~ -l. :2 1= 0 « 0 1= 0 z (/) ............ ::J (/) « 0. -c 60 .i:'~ u .

.i:: .. A' 0 a.. ::::I ::t: 0 ~I 0 0 I I ~-:_-.g~ E~ ..~ -.~.. t"- ~ .. N I - .-...~ .. ~ 0 0 0 O N - . .~ ~ . -e . . . 0 . VJ ~. ... ~ •• ._.....:~ ·w ...

---~. - < 1= 0 0 -< 0 b 0 ~ 0....U ..-~ ~ --I-0\ 1.) . :'-'" N 0\ M - = 0 00 1.~ -~ ~ ..---.0 '<:t 1. t.0 N '<to N.) 6 CO ::l -< ::..- 0 0 0 . 0 00 1.. '" E} .-. -ex: if.r.:J -< CO Z -< " if..- 0 00000 .:: -< 0.<" .0 0 ...- ""1.""10 OJ") 1.-- -_ ~- V> <'1 I <::.0 ~ M V> 0- -< .-. ~ ....0 I-- o o o S N 0 0 CJ S ~ N o N N '" or < ::l I ~ 0 ~ 1..- 0 0 .."'l.. r-o o 0 ! . 0 0 ('! 0J 0 \0 r-- 00 OJ") '<:t 00 1.....0 1. ~ -< 0....OM -eor...<" <" <" ~ ~ -~ -~ ~ ----....:·0 -... N. -...- Z -< 0.0 rV> V> V> 'C O-OI..0 0\ M. 62 .~ '..--! :. ""1.. "'Q" 1...00 0 r-- 0 0 ."") .0 r-.() t(1 0" 1.

...... .· ~. .····.. =....... ".......00 00 '<t if) <o '<t M '<t ".........-.~D~ 0...--.A.. '" N 01 "'. ..... <") N q .. . .. .l ".!..._ r--..00 00 0 N -e- ~ ~"l cVl M 63 .....~l I..... '? N I ...:t~ '<t~ '<t~ V) '<t~ '<t~ 0 000000 --- "1..........·15 j'..... .:t~ "....... . r--~ r--.. ..:t~ '" ~ < . .. ~.. 0 0 00 \0 if) '<t N N '" 0... . - -0 - . .. ~N ·~·S ."1.. c:::: 0. I:00 . " '? <: '? ~N 0 .:: 0 0 0 0 . ' . .. .... .. .'<t 0 0 .. ..~ ~ r<) Il~~ 0 I:..bl):ro 1=:. .. ... . '<t..._ T ' ... .-.... .:. 0 0 ....:. E-<<l. .. ~ 0 r<) '" 00 Of) : 00 ~0 oq 00 ~ '" 00 r-- : .: . 0 .. 0 0 0 0 0 0 ~") 0...i::.. ~ ............ '~ . ..:... ('1 N N if) ... 0 in C:a. N ~.........: I .. ... .:......: 0- 5P -o .::l'O '7'~ 1....... ... ...:'... Ji'B!:~ . .

\0 I i I L 0 I .l.0'> OIl I N 0 0' "<t...1 ....... 64 . 0 0' 0- OIl l- f-...~ J I N l- S ~'2 ::s 0 . '" or:. 00 6b N 0 00 V) "1 "<t~ 0'> 01 M (""!_ -e- V) 0'> N 0 0 0 0 0 0 N 0 0' 0'> r'l "<t r. .::~S't. 0.:::' ... 1= '--" '--" :."<t t..I\0 \0 C"I . 0' 0' I N "<t 00 lij I· .: V) 0 C"J t00 '-': "<t 00 I 0 l- f-0 - ~ •. - ~.'.. :..p. < c...\0 0...~ ..c . 00 V) r- r... '-'"'_ ...1 .) aa "'-1.:':. --~ ~ <: CO ~ c.'" r0 2 ~ c...00 :~~ .'" "'.e[ .. ..'<t 00 M "<to 0' 0" O~ 0' 0.M t.~----"---l~ '.... I I I I '--' := 1= 0.... . .......:...: E-<'~c.! I I I II I "-'. N...."<t 0 \0 0 0 r.2 <C z z <C < :L tl.0 eo V) 00 \0 N V) \0 "<to 0 0- -e- V) "<to M N N t. N.l 0.r'<t 0" 0\ 0. ~). ~ <: c.. . .0.1 i N . "1 \0._.!_..__ M M N N <C .. =.-------------------. ~ CI) § E 0...c .. ~...lj 5 ..c: .. ~IJ. -::r: 0 ~ 0 ~ 0 V5 ::E ~ ~ ::.O'> r..~~:':~ 0 \0 0'> 'C! 0 '.--.l i~ <C --tr: CO . .------.~ C'J. ...... - - ~ ! I "<t -0 00 \·~S I 0 : r.. N.' ::I ~... ". 0 0 0 .:J CO ... < ..'('Cl ('ClS 0lI('Cl >i:: ....... r- V) t...£ "<to "<to 0 r- <'I 0 0 - N "<t 0 V) N 00· "<t 00 0' 0' 0' C'i 0'> "<t N \0 -e.._...l 0...I- '·.1 IiI 1"'..-. II[r 5'.1 ~ ..~ -c ~ I '" 6} 5: Ul 5: Ul -c I 5l: :! . .0:: .. <C <C 0 :"M:t(~ § ~ 1= .fe~ ~'?:~:'. S:~ a a 0 0 '2 a '2 0 0 N N I N N ~ I-0 I l- N N f-- -. .or:...1:: '.:'" I... ~.r01 N.:. ::s c E:l <'_'->'. '" .... ::r: I I j .c 0..:...?· 1::':.E CI) '<.-.-1 0 .oo 0 a0 0 -.= . .

o 00 N 00 o "'! N 00 o o M o o t- MM 00 MM 00 NMt-OO-V)t-O\V)'OM "l" '<:1"\0'<:1"0 t-t--'O'OO\ '<:I"'<:I""l"'<:1"'<:1" MMMNN- 00000000000 65 .

~ I::::: c..." co: '.• .. . I ("'l ..:.z: :.~ ":.l..:l I:: ~ ~ .. V) '-D 0 ~ ... :'.-.:'.~".~ ~<~ N t: .. ( ..\0 VI .: .= ... N I! 0 r'1 0 I N s: N Ul ~ < 0 "<t I !W~.W '..:.'._..~ 0 r-..N \0 <n M 0 -i- 0 .c .:: ~ G3 66 .:l .._.4....: E ro e '9 .s. ..c: c:l .0 r-- \0 "<t V) N V) r.. r-. i-r-r...C I"'...~. 0 N 0. oj +-' .- ''1 0 0 \0. 0 Ic~~ I. .~ I..! .--l--f~j '-' c... . f-I I ~.. 0 0 r''1 0 0 00 \0 0 -o o o o 00 r0 0 0 0 0'1 0 .:J ~ < < .!.J I~f~ < 0 0. [J) :~ 0 o '.'::· I~l V) r0 V) N \0 N..J ee ... ..:. [::: <C 0 r::t::: III c.. .:.:J 0.' 1..:: 0.1:.'~ ~ 2) -<: '? N 0i '? N a 2) '? N "CO..J :~ ::".0- \..... oj ro .- N \.--.~ 1-1- 0 . c. ._.~ ~"e c= . .. :r: 5 oj -=.:...- 0.... ..:J 0. <C . I: 0 '---1- _I 1·::'... '.(W .:l c:l ":.0 ''1 V) ~ 0 0..~s= t:c.:.:J ~ ~ .":c:l -. M H ..:'. c: 0 I r'1 t."<~ . '. <C <C ~ ~ I:~ri~ ~ 0 Z 0 < <C ...0 \0 I 00 00 1-1-- 10. I..- r-\0 .~ :: :" I .. ~ ...r-~ ~ 0 0 0 N '-D r. -......

.. ~ N 0 - \0 '<:t I"- NN 0 0 .. c ro '-' I .. r-<..... ..-.. .... '') I I I I I I Ie ::: c.... ~ z c...I c..l ..... t. I .... ....6}........:: I 67 . \0 N ~~ - r') r') 00 M 0 0 0 0 N' N 00 ..........:: § ~ c ro . ...... ~ ~8 .\0 N N \0 t. If) \0 N 0 0 N 0 <::> 0 -. 'o!:: (1:1. .. -< 0 z.. p: w ~ .. .. :::.... I <'"I O'J If) !_j . 0 N <q....~ ...( ........ I~::... ~ ..l I:' '. ....... 0 I t0 0 \0 9 "<t l"..<"~ N co N 0 M N 01 0\ ..~ :::::! c5 0\ 0 \0 c: 0 0 00 00 0 ? ~0 -( 0 0 0 "'? 0 N .~ . tr') 0- t-.l I '-' I:: .I1r~rT I ... r. \0 00 - .. I:"-0 I a 9 00 a ~.... ::c :..I c: ...... I"....i r.~ "'?t:C w·o. . i :S'..!....: ~ lTrfTT"" ....!. V"l \0 0 6l: -< I V"l '" ~ < 0 2- I I r........:~ :+ 0 M \0.) - ~ u ... <0') \0 N \0..\0. 9 a I -e- 0 I =... :J P-... 0 00 01 aa "'" I 01 M "<t I l"- I"- a 0 "<t l"- I"0\ 0 '"'l aa I 00 00 M I:"-- e- I"- V"l 00 t-... II:"...r:: ro .: § f~~1 ilf ~ ~ ~ P-. N ~ 0 .l 0........0 0 0\ If) 01 "<t. 0 ('or \0 0 I"- 00 \0 If) \0 \0 \0 N' 0 0 N \0 \0 N' 0 III -:-: .!l 0 0 If) I 71 II .r&. ... I"- 0\ 0\ M V"l If) '<:t v.-.oC': j: ..~ • 1 I ! 0 ~ 0 00 00 0 \0 0 M I If) I I I I I " C/) . '...... -< I:··l 0 -< 0 ~ ~ I~:'..<:1 N 0 0 ..'. 0\ 00 00 \0... p: U-l < .. I ! I I 1 ~ I I N '-' . . I \0 0\ If) 0\ t-- 0\ I:"-- -e. 0\ : 0\ I 0 0\ N 0\. ? N 0 N 0 ? N N 0 ...... .....-. v M N 0' 0 0' aaaaa 0\ ......{. . 00 01 0a0 N N M M N I"- N \OIN If) .1:: e.:'~. ..r:: C':! ....~ '~ f----- ro . ...:.:. N 8 C'r "1 .r. .. N N ..: I -< ~ ~ ~ P-........- :::I 8. <. =....

j---l--·---T·-r-~-------'~____'---' I 00 'f) 0 = 00 00 0 0 0 N ? N 0 '" ~IJ « . "i-. "<t \D V) NN 0 0 68 ._ 0 \0 V) ..!..T" . .

.-. .. < 0 Cl~ -c !3 0 < 69 Z I ~ ..:J 0...- r---r-'_-r-+--r-+--r-+_'__' - I............. n ..... ~ f:::.t-tn-'Dtntn MOM'D-Mt-OO'Dt-CO-N'Dtn t-t-t-'DOtntnV"lV"lV"lV"lV"lNN'D 000000000000000 6i o 00 N"NM"M" "M"M"M"M"NNM""": "N" ...:J 0.. ~ .......- .~. !' r~i L ~T~'~ ..j" ~....... ~ . o 00 · ..I :r: ::..! OJ _c -l r--·-· ! '" h «.- \0 \0 'On 10 10 V"l V"l 0000 NNnr'"l ....0 . < .···. . V1 "~ ~ o c:: CO CO ~ o o o o o o ~ N 0i o N t -< . tntnNMM'DtnNo-...G:l~~7~~~G:l 10 10 t'D NC"IN"N"NNg 000000 ...... .

~ ". .E &nS c~ cw f-< Z..v I I '" =..L . -e. ~---. I 00 \. ..".J:: .... ~ g ~ § . '" \.. '. ·..rI I 0 00 tI r..'" . -+- I I i I I I i o·..._} ' 00 ("') 00 00 r.. ~ ~ '5 0:] c: :r:: J . 00 00 \.0 N 0 00" N 0 N r- ("') r-.. \L:..: "".. E~ :::1.: ':::1 r:::'0'> NN '--' '-' "'0 : · -... 2~ 0 ~f...:"'.'.0 co~ rr- OO \. c: 'c: .! .. '-q_ V) 10 o~ o· 0 ci 0 0 0 a a ci 0 o· 0 ci o~ a 0.c: '.L'."""~.0 \..~~~\ 0._ -.:" .-----------.J.. I> ...::i ..."A.... ~~lj1 < 0 @ 0:: 70 . N 0 0 ~!).~ .eo V) I 00 00 V) I C\ C\ M I t- ("') I "'<t "'<t I ("') <') \0 7 \0 C\ 0'> "'<t M \0 I I I I I I I I I I I .0 N NN0 0 '" '" ":.}:..~'- ·~'-:·-i·-~rl'~T-) 1- - -- c: -@ .J:: C':l ·~~~~-·~T~~·-·T-~~l· ctj •..'".-j_: .. ..0 \.::. 0 0 rr--i 01 C'I N~ r- .:<~-~.'~ ." . ·cw .'..0 \.oo 0r. o- C'I 0 0 r--i N 0 a "1.v~ '" C'I N r--i 0 0 '" 0'> '" 0 00 a "'<t ("') CO C\ "'<t "'<t N" 0 0 NM N N Na aa0aaa M~ r-. . 0" ci ci a o~ o· ci a 0 ci ci .a "'<t \0 10 10 '-q_ '-q_ \Co "1 V) \0 \0 ~ =. '" '" 0r ---------------.i:...'1 CO 0 N 0 0 N ("": M aa 00 <') 7 \.~~ < .0 C' r'0 N 00 . """ """ . .:i... U . < "":> C '? _. ..r• c: ...c: ' .. '" -r """~ """ . r- N 0'> r00 '0 0'> M "1- N 0 N r-. '" '" . """ .. 0 0 00 0 0'> r/) ~ ::::: r-: 00 i I I 0 '. .. N" e. -l. ~ '9 N rfJ < 00 I V.:~· :~:.O~ NN - o-. 0 ("') M r.r-0'> 0 a 0'> t-..s e.0 ': '> 0 ~~ '" ! . ~ :::J ~ e QJ E 0:] .

!... .. \0 tf) 0 \O. i I- " ~ N N 2) 0 N ~ t~ .......:J 0..... en I 51 < . 0 < s: en N 0 .0 t-NMN V) .V)"'<t '" 00 ..:J 0.. ~ o .. \D 6000 N .......r 0000 r---N"'<t r-.x. ~ ~ . r00 0 0 ~ V) 00 0 0 '? 0 0 ....:J 0.. -< 0 w ~ i== Z < . ~ i== Z <C ... ! ..r-r r-r ".. <C 0 ~ -< Z <C 0 w ~ w ~ 71' .. r- I "'<t I I o o C>') 0 \0 0 00 \D \D 0'.

:<~;:'~

~

~,~

I.' 8

0

r--

\0

00

...

~

<;::
0 0

0

...: I-:l
".

-<

N

0
I

C'l

... ~~
8.
I

<
1< .".":

'" -

I;/'~
.............

C'l 0

"', C'l

.....

~.

;}

.•...

- - --~~~------------~~-----0

'" {"-i
\0

I·.

72

-

,

.'

~ u .....

--

0
\Q

~

0

CO

r>D

i !

!

0 !

<'!
oo
0

I

r-

.-,

~

0 0

~

N
("'J
I

N N 0

0 0

..,
Vl

, ..... Vl

I

I V)

5}~ «

If)

r-.
\0, N

--0 N 0

r-:
V)

V)

N

c1
0

r--

-~ ------N 0

"!

0

0-

0-,

N 0

M <') M

0;.
0

\Q

"'f

;rj

0

N 0- eo trl trl 0 0 0 00 00 CO V. 000 0 I I

oq, -- ~ --- ---r0
If) \Q 00
V)

c"> 0-

CO

V)

N~ N 00

0

N

0

N

\Q

N

<')

N~ 'f"l 0 0
M

C') \Q

,-,:>

N

N

V)

V)

00 eo r- OC_'

0

C'f

0

0

,

\Q <'1 \Q N <') 0 N 0\ 00 C':, M N~ r- M M 0 0 0 9' 0 0 M
I

r-

,

I .•

:.'::C' ..

-;

<

§I

~
,_J

': .......,~., rC <'1:1

§

lil~
~,O

~ ~

CL

~ ~

.,'".'

j::
ex:::

<

0...

-c

§.
,_J
<'1:1

E

i,-?i}~; it

< C:

j::
~
ex:::

0

«
73

,-- ITTI-r-; --I ·----r-I

T

-

~----~.-~--_,

I

V)

~I
._ '. rJ)

,I

':

o
N
.~ 00

r-:

o o o o
N

74

....:"..--'<t'<tV)NNV) r-.+o~ I I ! 0 M I I I ~ .r... r--. NN (-..-'" C"f N C"f .: _.__.:y{ ..' "I 6 iii ::l .M O--V)-MNM\C)O\O-O t-: r..".j" rf .. '<t N IJ 0 N t--: I !-- - ~ o o o o N - OOV)-O\NMr-V)r-O\-r--.J E .r') r') 00 V) V) r--. rI:: Z'{... < E! OJ ro ~ ~ j:: (E ~ < < 75 0 0 1~~~~1~ .2 :J ~. .J ~ I:: I~~ i~ ''':'' '-'. V) M'N" N 0000000000000 M (') (') r') "I N "i' .'~ :J 0..1 ------"'""'"'"'-----0000000000000 . ~ :'l:.~... C'f r') '<t M N \o\ON\oOOMV)N'<t'<t\OCOOO 0\ 00 0 00 00 r.... """~ - 1+__ I I I ...:iJI '_'.co 'n N " N "'I N ('.

.. ("'1.1 ..' .::: .. - I I I .··V 0 r-. ~ 0 0 0J r- r'0 eo 0 0 eo 0 0 c' 0 N N Ul s:: s:: {".l c i r I . 0 r') 0 0 <') 0 I . ~ ": 71 ~:~...... ....c "" . . I I ~o c c...'· -. ----r-" r-. < ~ ~ -< 0 [] w e::::: z 76 ... 0 e.. ~ :J 0... . ' i I : . .1 N 0 5: 2- o-: 1 ~n < '" e! ::l I {"'I I '<:I' '0 '0 0 '0 '<:I' r') o-. .. .. -c ~ 0 e::::: ~ :J 0. I N {"'I '-' '-' ::r: '5 :§ . '... I.c--~r-+-~-r-+--r-+-~-+-4-~--r---r-+--r-+-+--r-+--r-+~r-+-~-r-+~ "'u..l "". {"'[ ' e~~ ::i ..

.. ('..~ ..-.. 00 \0 1:. ~ :.~ ...I "<I" 00 '0 c') ('. i i I i I ~E'!].'/:: I" I <...I ('.I 0 e') 0 '') 0 '') 0 c') r') N N 0 N a r') ":..-° .I I : I ! : ! I I I . . ·'c···g •.-.~ 0 .! I:c" ~ « ::J 0.(") l"- '') I"0.. ~ ('.::~. E z w 77 .:l C':! "I '1.(") I". I . 0 I I I I II I I ex. 1.. ::'. ..:1'0 '" !-.1 r..~:-:_.'" '" '" '" --0 NI ('1 ''1 ":.c:"_ .! .. 0 '0 N r-..1:: .I - '" .. r') N N "I N a 0 ('.' . r') N 00 00 N.':1 a .'. < I:: 0 0 c::.. III Ii' : . I ! I j ._. (J] .z il r. "<I" N.e."'. N.c . N.. 00000000 ..j c ~ : !I i I . 0.. .~ ---~ ---~ ... V1 0 . ~.~ :n':~::c c:~. 1.~ '" ~ '" -------°-. :l C<:I =' C<:I 11k.. M '0 I"- r-- N 0-.l . I ! .. .:" . ~ 00 -. I "<I" I I I I I II I i I I i.t:..r-- r') 0 0 a ° ''1 ('1 0 M N "<1".-.- < < ~ c C<:I ~ .. 6 o' 6 0 01 ...£:: "I ..:1 :'.I.I "<I" V1 0 0 0 "I 00 "I 00 o· a. ro 0 9..I . 0 0 0 0 0 ('.. 'n "<I" 'n 0 r') "<I" "<I" '0 ('.00 0 N ('. 1.1-..0 :E t-:)..I r-..' c:::.) ~ r') "1 1.. 01)"1 . :.: ~ ':y:~ u . 'n - ~ -('..!- ~ 'CJ . O.I.. I I ! ..I c') a 0 NNNN 0 0 0 00 N ~ 0 - r') 00 N 0.... r') e.':1 I. N.---.. ~ r--. II: I I ""'. 00 "<I" a..:l '~""E . r-. I I! I . 0. N.. 0N "<I" 0 o· (') I"- r- M r-- 0- ~.':1 .•...:..I "7 0.) ('. r-7N N '0 N r') C') "<I" 7 V1 7 r') 00 0- 0 r-"1 0 .. ('. ': I' .':I~O V1 <'1 c . I. .I . "<1". ~ ~ I I ... r:: (J] c := til . N."<I" '0 0 7.. ~ I ! I I I I I ! I i I! I I.I..0-. .:1 0 !~'~ -: :. ~.---.. N. "<I" M 00 '0 r-.

_. :':' <:5 <:5 -0 o=. § -: ' '.. ~ z LLl 0 < ~ .' &!:c :. ~ '" c: I.~ rN 0 - ~ Vl t<S t<S ~t<S c::.?~ rJ) 0 ~ 0 ~ I-a o-... i t<S"""'o =' .~ :...l ~ c: c. < < a ::J 0:: < -< f.~N c . .'.eo r-.. : .Ci 01.c .. E I" .. . ctI z LLl ~ < j:: -< 0 0...':'l ::J ~ I c I :c t-- ~-"""' -·0" -0 .0 0 N r-. . i~ "'U ...::.. I~~~ ~ ~~ 01 tn -0 0 -- r. 1 N - '" I~ C'I N t-- N a .·~ I. 0\ <') 00 I <:5 <:5 <:5 ..r- N H'>"':~ I> .. ::J 0.'" .' I'"'.:z: . c.:. 1 00 N 6} I <') N .. '" c: ro ... W ~I:S{'.C: r~ "'.::::'" i J ~ ......1 t-: \._.')~ I-- I' I :.. co r'') M co co I:~. ~ .0 00 t-0 0 '-c: 00 d 0 0 :t ...... a < ~ ? 0 ? N 0 a ('I ? N I ~ -E ': c:: .. '" 0 I· .:: lS .> N a 2- h:t .. ~ '" I-a a '') I 0 ! I". . " ~.z: e:::: 78 . ~ c:: ~ ::J 0.~.!X: :<:.. ~ 0 ..: 'c' .N t-- N" 0" '') '') o0 0 N" \0 ~I ...._....I . ~ j r- I."...'.

'<t -- "7 . t-..0 V) <'l V) "T l""l:"- ._j ::r: ... V) "T..o ~ c. j ~" V) co 00 \0 . II1~jV) ~_ ~_ C""l 0 0 NN .. 0 ...--.~ E ::I ::r: .- \0 \0 ~~ \0....___.-... ~"e ~5 . "7 "7 rf -: 1:-._j .- .- 0 N I:"«) I:"-~ (<) ~~ 0 ~~ 0.-:. \0 a- r-.' .. IW~ li:<' ': ro ..on ~ "7 .. '--' r. oj I I r !j 1 I I i i -ll iI f I I t:. ::l ~ 1 1···."7 "<t..- 0 0 M .. co ~ 0"'<t .- 0 N r-- t"- \0 on on 0 \0 0 c<) C""l .\0 "T..c oj ..~ ~ I: .0.~ I r-----:- I~ ceq. E c ~ .._j ~ ----I: c ro .. 1- ? ~ .. I0 \0 on I""-~ co C""l M I-00 V) .~ 0 0 " _ _.___.1""\.- 0 0 -. I .·. \0 \.. t:: _±g r.···.'. ! 00 .. \0 0'> c:i' en <: c\0 ~ -o:i ~ I""- ! 06 r-- r-- ''1 ...._ § 0 0 . ::I :': 1 0 I-- ~~ g~ e~ --'.g f-_±g t:: ::l ro if) "5 "3 r..___. I 00 r. 0 -- . ..'. 0 r-:...c OJ OJ .. '_.§ . (<) r . I: ."7 "7 "7 .c: ...._j - . \0 ..V) "1..: f.J::: co r- ro . c ~ . A.::" .- 0I "<t... \0 \0 ..-: .. M \0 V) ~ ~~ r-- ._ ('I c j ...- ~ -.>~"..E -<: . 0 i 1 "TI i 1 ~ .' _ .~ 0 c0 o:l" c- ~ ~ . cCIl •. ~ .- ~ ....-::.- t.. .n r..~ ~ c :~...- s::: 0 0 0 0 0 0 0 ? 0 0 0 0 '? ~ . c: .n ro . -I: <1l .. \0.··..- ~ r--_ 0 .._ \0 ::l --.M =.--.0 r-- 0 ..c: ro ro f-t:: ::l ..~ 0 0 s::: ~ .- 00 I·t~~ ...~" ....... ~~ N ('I ."1.) ~ .... co . I \0 0\ .... I---'-... 00 1""-.J::: ell ~ ~ I .:. C""l \0 00 .I ~_ ...:l c ..c I . \0 0. 0 M ~ ....- 0\ N ..c ro f-E t:: .- U I I---'-- - o· 0. 00 ~ ..n 79 .

.• QJ . " " ro c. r-...r) .c ro E.<:: E:::l OJ C <tI (j) (j) "5 (j) .::.-. N 1 '? N :_ ~ 0 ~ S 01 ....c: ~ I::: ell ell I::: ! I IIII I I I 2'i t:: o::J ..1.-.... I I i I NJ \0 I-- :- 00.<:: ro <tI C ~ '-' C <tI I '--' :.... -. t:Io.' "7 I' '. .'---0 00 \0 -e- ''1 rl-r--: I-0 0 0 01 0 I-0 "'" 0 0 0 -<: '? .: ro .. .01 • N N NO 0 0 0- -0 0 M l... a.-..r. .:::l . ". ~E ~ :':' s: .' f-.. ---------..: :::l C !l) r-ro . \0 rt.. (j) C 2 (/) C 80 .•. v:. ir . 0 I-.'-- ~ r-: \0 ~ ~ :2 0 0 0- . •. 00 - N.' "7 0<'l N 0 <'1...:.-::{S -------.:::: ro -l !I 1 I I . \0 \0 e- eo r<'1 <'1 Or) .. .. \0."'I N f-< . v:.:_ ~ 0 0 ..... i - ~:~ ' - I II ::r: -- I I I 0 - ~~-.. s ::.-. t-.\ . :..:.01 .-r-I s: ..oo a. ..:···C 0 .. .r-. 00 a. j 1 _g '-' C 1 I I "'~ " '-' C I .>-:l N .. I I --I - N ci I-V) - - r- - 0 =. -. 0 if) I \0 V).".' "7 <'1. . @ 00 ~ i~i X"~l.c OJ f- <tI -B E- ro ro . I!II I! . <'1..Il.' "7 "7 N N t- t<'1 V) \0 N 00 \0 00 \0 01 rI \0 V) . 0 M <'1 0 0 01 0 NN 0 0 N" N 0 00 N f'1 N" - 0 N 0 <'1 - co 0 -i -- <'1 0 00.. N 01 01 I I "7 "7 I' to-:.1 I \0 00 N 01 N 'q -..f-- - -- .!l) b.:- -l ::r: :- :. 01 01 0 0 r-..I .. c .c E . ....... ! I i I! I i .oo N . .-......i I I I ! I I I I I i II . «::t «::t.. ::!. E. r-... oo I rr- 0 N <'1 «::t t-.••..c:~ y~. ::r: .-.r-. 0 0 I IPS! '5~ .~ .~ ..') -.s C z:l :..r0 :. r- \0 r- r-" r-. <'1... <'1 0 V) V) 00 "7 \0 \0.:l ~ ._.E-{i ro I §. C!. t- = C I 1 J I i I ~ .. 0--.r... M '') <'1 0 - ..:.. r-" -.--.. ("I :::l ("I 9 . v:. § :::l ~e. r-. . V) ('"~. i . M \0.) t-.Ilro 'c b.!:::: :::l ro . 01 00 1 / N I rV) j t.

. ~ _.-. ' -.00 0.:l "7 "7 ~ "7 "7 ..-1-_ ----e-t00 0 ('1 0 E! -c .. I~ 0 5'r. r-: 00 00 N C'f 0 0 V'! v::> 0 C'f lv::> v::> 0 M '"<I" Nr"'l M"<t "<t O-NN \....!.r-.--_....J )- I '-' t:: -C --ro ro 01 I I . t-.. '7 '"<I" \0 ~ oq....::. N 00 -~ t0 ~ 00 V'! ~ "<t 00 "l I-- ~ 0 0 '._.-. t- N t- ~ "'".. J I ! ~ I N - I-- II I I : :::.. I I u 1--+-1 I ::c ::.... .-.Oo-o-\Ot-t-\. I .0 t- '"<I" (') '"<1".0 0 t-~ t-~ V'! t- 00 -..v::> r') t-.::: 00 c::i' 1""l 0 r'1 Vl I-- \0.. "7 '7 -e... "7 "7 "<1". ('I 0 in. eo r'1 ('1 C'1 C'1 r'l C':I • . . .:::.j .... r-.c ...t-~ r-N 0i' N 0 ('1' 0i' 0 0 ~ 0. »o V'! V'! t. 0.O<ot-tr'-" M tri' N N' C'f N 0000000000 0000 N" . 00 0 M.. (". o ~ 0 0 N 0 0 N - . ~ [:E I I II i lIT J ro .. "7 '7 -. ~ ('I f-.!.1 .> 0 ~ 0 0" r"'l "<t t.'... 0i' N 0 en < ~ . N r-- N .-e- M t- N t- '7 N -r N N N.oo t-~ r..... Ul -+ 0 < . .. N 0- "<t V'! t- \. ...J . "7 "7 .. I ro I:: I§ .." ... v::> NN "<t ""<t l- =. - .-~ ... 0'-' t:: ..i ~ 1 N 0 0 ....!.. Ul ('I 0 0 0 0 0 ..00 '"<I" M." :r:: "5 ro . "l N N 00 '0 N (') r-.. ..

.g § .:.n 00 '0..F·~.. ~'. ~..I Co) ell ~ OJ)c: ._J 00 c ('0 Ix~~}~ 1!£.c: [- ('0 [- ro E . :::l ro if) ~ c :::l if) 82 .~ I._J I~z\i .1 -".2 ~ •• r."" .. -er o ~ '"? .~:< ~ "§ ..• j.. 1 N ~I I I ..~. . U c'l '" . -.IE c.--""j j Iii ~I I~ .. .Wi~· ~ I. I·.:.~ ('...t.. ~ C 01 0 ('. ~~.::: 0 0 0 ~ S N o N o ..C ('0 . ":~<r::.{. .r: ro . I-< .. . . 51 V) 00 0 I:: I:.I ('.

. ..........c: ro I "" ~-lj ~ .........c .---:'_ ~~ ! I 00 V> 00 ~ 0 0 0 ? M i- <:( t) r-l 0 r-I -1 ~f... _ I • .. ~...• I I . _ "<t ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ ........ -..........I "<t .I I f<)ll""" \D I 0\ _ I '" ...M M \D tr) "<t ~~OO"'\D\D~"''''V>\D\D\D\D~~~MOO-M'''\D\D M "<t M~ .. ...~ ......... ---~~ I ........................ .. --._) I Til-l I ! I I I I .......n -"....J [/) Ec I 83 .c ... I IE' .:~I -. --V) V) MN 01 ~ \D 0.:t'g ..... j ~ ~ 1~ I . • _ ~ I .........._) "........4 ..--'_ I tit I -g ro II .:...

.:( Of) 00 'n :.q r'" r') r') r') > . 0\ 00 00 00 "<t" C"1 N 0 ."'7 . 0 "7.·N0IN 00 • rr""8 "'0 0000000000 N"N"NNe.. r..' .. v:. . .~~ . N N "'7 "7 "7 ~ "'7 ~ 7. 01 I Of) r') r'" \Q M I .~ r.J.'. ~ C"l . r') 0\ M a .E . _ .Of)MMOf)'D0f)'D'D~ l"."l C'\ 0 N ~ 'D ~~ Of) 00 00 ~" - v:.[ Of) 0\ 0\ ~ "'7 <"'l <'1. 0\ \Q "<t. 1.. ~ "'7 I . .'":J 0 0 <: 0 S C"l NNN '0'" •• 00~0000N~~0f)00..~ '0 0\ ~ .n U 00 ~ ~ . Ii..'_.~ ':-.. C'.)r') '0 '0 'D 0\ o. ••~.r0f. M N ~ ~ 000000000000000 N·NNN·...". ~" Of) Of) l(') 00 ~ 00 N Of) Of) r".. ~ r... c.o. - .. l". .) r- Of) 0\ "<t 00 "<t I 7 ~ 'D "<t 84 ...r-. NN . v:..o.. "7 N •~ v:.Of)MO\OO.·>'- I.c::''''' E~ ... V) - ~ . ~.. f~.~ . ..O\. - "<t \0 .. ''1 v:.

.--r r ~~1---1-"r~r: I j I I I I 00 . I 1 I · .. .... 85' .

.' ""7 C--.P-o 0 -< ::l 01 VI ~I) -< . <:"'_!. ~. " " ~ o CO (J) < ~ :x: ~ -< ~ v or) 00 00 o 00 <::> <::> C> 0 0 0 01 o ? ('1 I:: '.. _ .c: ro fc: «:I "3 s (J) 86 .r .('1 V) '. </) ~ .:o.Il c: «:I 'C':-.i' ~ 0 _' I ~ ..' a..01 ('I 'D '<t ~..0.v. t- V) v. <1"'. . '. 00 00 CO (''1 rI c~ ('~ t~ M (f") ~ V) 00000000000000 ('. '"7 r-: ""7 ~ "7 00 f'1 r<) N f<) r<) f<) -er t.0..::. .z: g . <::> l() 00 0 ''1 0 r-.. 'g. (J) -l 00 .r::: . <::> N q t'1 (<) t<) 0 0 0 M 0\ '<t OJ") 0\. t-.~:t--. r-.:. OO ~ tM *to <::> OO 0(<) 00 f<) 00 -e N N. -l c: ro . _ !=: «:I 7":= :C ".!....' t-. r<) r<) '<t 0 <::> <::> N r'1 01 01 0 0 0 0 0-.. t-...0 '-0 t-.. C':I E <l.J "3 ~ c: ~ ro ro _.I ('1 0 01 .~. I..l() '<t 00 co t-. +-. ('1 01 OJ") V) '-0 '.0 v.. - r- -er (<) v. '"7 '. 0..l cf r. 0 '<t 0 V) M 00 00 00 00 ('1 ('1('1000000 '7 '<to '<to . t-. r<) 0 '_ .r r-f M M 0. E ro If. 00 00 rt') (''') ( ..~ '-0 a.. ..0 '<t 'n ('1 '<t t-o t-. 00 0. t- II") a.I <l. v..~ Ct:l g:g:: 1::':::: Eo-<.0\ t. "7 "7 '"7 or:. \Co '<t t- ~'""7~~-.s E%l e.' . r.

..~"-':~ . 00 0 r..~ ro .l.r- C'l !Xl..'""". . co .c: ro £l ::l (/) fc: fc: ro ~ (/) U5 87 .. ! ! I : -·-~!-··-·'l i i I- o a o o o o a N N '? o o a o o ('i - -C( ('I Ai '? o '? I~ a a tl < . :'"?.J J:: ::I .W. cI5 "3 (/) fc J9 lil fc: <a ~ f- . rN 0'>........_ J:: f- ro . if) C 00 <a ~ .'.."" I-- oj J:: . ro .c: ro oj ~ .....:l "3 (/) ~ ::l -§ ro ro .--~ 00 N 0 o I-- I-- \0 \0..J t:: ro . . 5} '-. ~~: . "7. ~ "-····-T~---·.......

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful