Anda di halaman 1dari 23

PERANAN SEL LAGERHANS ORAL MUKOSA

IMMUNOPATOGENESIS pada PENYAKIT


PERIODONTAL

BAB I

PENDAHULUAN

Rongga mulut merupakan pintu masuk utama mikroorganisme, oleh


karena itu banyak factor yang terlibat dalam organisasi pertahanan terhadap
kuman patogen. Menurunnya fungsi factor-faktor ini akan menimbulkan masalah
karena adanya bakteri oportunis yang dapat menjadi pathogen dan menimbulkan
berbagai kelainan. Faktor-faktor tersebut dapat dikategorikan menjadi barier
anatomi dan fisiologi, seperti epitel, aliran air liur, atau anatomi gigi; pertahanan
seluler, misalnya fagositosis oleh leukosit dan makrofag; dan imunitas humoral
melalui antibodi di dalam air liur dan cairan celah gusi.

Berbagai factor ini merupakan fungsi beberapa jaringan di dalam rongga


mulut seperti membrane mukosa, jaringan limfoid rongga mulut, kelenjar air liur,
dan celah gusi. Mukosa sangat berperan pada kesehatan di dalam rongga mulut
karena pada keadaan normal, integritasnya berfungsi untuk menahan penetrasi
mikroorganisme. Daerah yang agak rawan di dalam rongga mulut adalah pada
pertemuan antara gusi dan gigi. Namun daerah ini mempunyai perlekatan epitel ke
gigi yang baik sehingga pada keadaan normal mikroorganisme tidak akan dapat
masuk kedalam membrane periodontal. Selain itu, di daerah ini juga terdapat
cairan celah gusi yang mengandung berbagai senyawa antimikroba, seperti
antibody yang berasal dari serum. Kelenjar air liur, baik yang besar maupun yang
kecil terbuka melalui salurannya ke dalam rongga mulut, namun kelenjar ini di
desaign sedemikian rupa untuk aliran air liur ke dalam rongga mulut sehingga
mikroorganisme tidak mungkin masuk ke dalam kelenjar melawan aliran air liur.
Air liur sendiri, selain mempunyai efek pembersih juga mengandung berbagai
senyawa antibacterial.

Respons imun seluler lokal dan sistemik serta respons humoral sekretori
lokal dan serum juga ikut berperan dalam proses patogenesa berbagai kelainan di
dalam rongga mulut. Respons seluler dan humoral ini di mediatori oleh air liur,
crevicular fluid, dan darah.

Kelainan gingival dan periodontal diinduksi oleh plak dan bakteri. Respon
imun pada kelainan periodontal dapat dikelompokkan menjadi 4 stadium.
Pertama, pada lesi awal terdapat respons inflamasi oleh PMN neutrofil, kompleks
imun, aktivasi komplemen, dan kemotaksis yang disebabkan oleh antigen plak.
Kedua, pada lesi dini terlihat infiltrasi local sel-B dan sel-T. di dalam sirkulasi,
limfosit tersensitasi oleh antigen plak yang dapat dilihat dari kemampuannya
melepaskan limfokin. Ketiga, pada lesi yang sudah menetap terlihat adanya
infiltrasi sel plasma secara local dan limfosit pada daerah tepi sudah dirangsang
antigen plak untuk berproliferasi. Keempat, pada lesi lanjut sudah terlihat respons
imun yang destruktif, diikuti dengan ulserasi pada epitel saku gusi dan destruksi
kolagen serta tulang. Proses destruktif yang progresif ini, akhirnya akan
mengakibatkan kehilangan gigi. Komponen sistem imun yang ikut berperan dalam
menghadapi kelainan periodontal meliputi sistem imun sekretori, neutrofil,
antibosi, komplemen, limfosit, makrofag, limfokin, sistem imunoregulasi.

Periodontitis merupakan penyakit jaringan penyangga gigi, disebabkan


oleh mikroorganisme spesifik dan mengakibatkan kerusakan progresif pada
ligamen periodontal dan tulang alveolar yang ditandai dengan adanya
pembentukan poket, resesi atau keduanya. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya periodontitis. Bakteri pada plak merupakan salah satu
penyebab utama terjadinya periodontitis.
Porphyromonas gingivalis, Treponema denticola dan Bacteroides
forsythus merupakan bakteri periodontopathogen yang sangat agresif. Infeksi
bakteri periodontopathogen dapat memicu sekresi proinflammatory cytokines,
yang akan memicu timbulnya proses keradangan pada daerah tersebut. Hasil akhir
metabolisme bakteri periodontopathogen berupa berbagai macam asam amino dan
berbagai macam endotoksin, hemolisin, kolagenase dan berbagai macam protease
yang dapat menyebabkan kerusakan immunoglobulin, faktor komplemen, dan
heme-sequestering proteins: suatu protein dari host yang dapat menahan
kerusakan kolagen.
Endotoksin yang merupakan hasil metabolisme bakteri
periodontopathogen akan merangsang timbulnya matrix metalloproteinase yang
akan merangsang proses apoptosis pada sel tulang. Terjadinya apoptosis secara
berlebihan akan menyebabkan resesi tulang tetap melanjut meskipun bakteri
periodontopathogen dari kalkulus sudah dipersihkan dengan sempurna.
Terapi periodontal terbaru berupaya untuk menekan sintesis MMP dan
merusak endotoksin yang terbentuk untuk mencegah melanjutnya kerusakan
tulang. Terapi modulasi host yang menggunakan obat-obatan antibiotik dan
antiseptik terbukti efektif untuk membunuh bakteri periodontopathogen yang
tersisa dan menghambat produksi MMP
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Organisasi Sistem Imun

Stem sel yang diproduksi oleh sumsum tulang, merupakan sel multipoten.
Dalam perkembangannya, sel ini dapat menjadi sel promonosit dan prelimfosit
(limfosit primitive). Promonosit kemudian akan menjadi monosit di dalam
pembuluh darah dan bila memasuiki jaringan dikenal sebagai makrofag.

Perkembangan prelimfosit, tergantung organ yang mempengaruhi. Bila


dipengaruhi timus, prelimfosit akan berkembang menjadi limfosit –T (sel-T),
yang nantinya bertanggung jawab pada sistem imunitas seluler (Cell-mediated
immunresponses / CMI). Prelimfosit yang dalam perkembangannya dipengaruhi
oleh organ yang equivalen dengan bursa of fabricius pada unggas atau gut
associated lymphoid tissues (GALT), seperti tonsil, umbai cacing, limpa, atau
bercak-bercak Peyers’s pada usus, akan berubah menjadi Limfosit –B (sel-B)
yang akan bertindak sebagai mediator immunitas humoral (humoral-mediated
immunoresponses / HMI).

Begitu menyusup ke dalam jaringan, antigen di fagositosis oleh makrofag,


diproses menjadi superantigen. Kemudian, makrofag akan bertindak sebagai sel
penyaji antigen (antigen-presenting cells / APC), yaitu mempresentasikan antigen
yang sudah diproses kepada sel-T dan sel-B. Sel dendritik dan sel Lagerhans juga
dapat bertindak sebagai APS.
Sel T dan sel B yang telah tersensitisasi antigen, akan mengalami
proliferasi menjadi blas dan mengalami deferensiasi. Sel T akan menjadi set T
memori, sel T efektor, dan sel T regulator. Sel T efektor terdiri atas sel T k (killer /
sitotoksik) dan sel Tdh (delayed hypersensitivity), sedangkan sel T regulator meliputi sel Th
(helper) dan sel Ts (suppressor). Sel Tk dan sel Ts dikelompokkan menjadi sel T
sitotoksik-supresor atau sel T8 karena mengekspresikan antigen CD4 -8+ pada permukaaqn
selnya, sedangkan sel Th dikenal dengan sel T4 karena mengekspresikan antigen CD4 +8-
pada permukaan selnya. Sel Th akan membantu sel plasma memproduksi antibody
terhadap antigen yang merangsangnya. Lima kelas antibody akan diproduksi, yaitu IgM,
IgG, IgA, IgE, dan IgD. Masing-masing antibody mempunyai karakteristik sendiri-
sendiri.

Gambar 1.1 Pemrosesan stem sel oleh Timus dan gut associated lymphoid
tissues (GALT) berubah menjadi limfosit T dan limfosit B yang
immunokompeten. Penyajian antigen oleh makrofag kepada sel T dan sel B,
mengakibatkan kedua tipe sek ini mengalami proliferasi dan diferensiasi. Sel T
membentuk T memori, efektor, dan regulator. Sedangkan sel B membentuk B
memori dan sel plasma yang memproduksi antibody IgM, IgG, IgA, IgE, dan IgD.
Pembentukan antibody ini dibantu oleh sel Th dan ditekan oleh sel Ts bila sudah
berlebihan.

II.2 Mekanisme Respons Imun

Titik sentral respons imun terletak pada peran dan fungsi limfosit T,
terutama sel T CD4 (T4). Setellah diproses oleh APC ( Antigen Presenting Cells)
seperti makrofag, sel Lagerhans, dan sel dendritik, antigen akan disajikan kepada
sel T4 oleh APC. Akibatnya, sel T4 akan teraktivasi, dan ini merupakan picu
bangkitnya respons imun yang lebih kompleks, baik seluler maupun humoral.
Untuk mengaktivasi sel T4, sedikitnya dibutuhkan dua sinyal. Sinyal pertama
untuk mengikat reseptor antigen sel T pada kompleks antigen MHC kelas II yang
berada pada permukaan APC dan sinyal kedua berasal dari interleukin (IL-1),
suatu protein terlarut yang dihasilkan oleh APC. Sel T4 yang sudah tersensitisasi
antigen, akan mengaktifkan sel T8 yang berfungsi menghancurkan se lasing, sel T
memori yang mempunyai daya ingat, dan sel B sebagai mediator imunitas
humoral. Sel T8 yang sudah teraktivasi akan melepaskan sitotoksin yang
berfungsi menghancurkan sel target.

Bersamaan dengan rangsangan antigen terhadap sel T4, sel B juga akan
tersensitisasi antigen. Aktivasi lengkap sel B, memerlukan sinyal tambahan dari
sel T4 berupa mediator limfokin, yaitu B cell growth factor (BCGF) yang akan
merangsang proliferasi sel B dan B cell differentiation factor (BCDF) yang
berfungsi menginduksi diferensiasi sel B menjadi sel plasma. Sebagian sel B yang
berproliferasi tidak mengalami differensiasi, berubah menjadi sel Bmemori. Sel
plasma hasil differensiasi sel B, akan bertindak sebagai penghasil antibody. Bila
kebutuhan antibody sudah terpenuhi produksinya oleh sel plasmaakan ditekan
oleh sel Ts. Dengan demikian, terlihat bahwa produksi antibody oleh sel plasma
diatur oleh sel T regulator.
Gambar 1-2. Skema mekanisme respon imun yang menggambarkan pentingnya
limfosit T dalam sistem immunoregulator. Sel Th (helper) yang teraktivasi antigen,
berperan pada inflamasi dan hipersensitivitas tipe lambat, mengaktivasi sel B
yang diikuti bangkitnya immunitas humoral, merangsang produksi sel T lternatif
tergantung memori dan mengaktivasi sel Tk (sitotoksik). (modifikasi Stites & Terr,
1991)

Interaksi antigen dengan antibody, akan membentuk kompleks imun yang


mengaktifkan sistem komplemen secara lengkap. Aktivasi sistem komplemen ini
dapat melalui jalur klasik atau jalur alternative tergantung lokasi dan jenis
antigennya. Selain itu, makrofag dan PMN neutrofil juga ditarik kearah kompleks
imun tersebut. Proses selanjutnya adalah lisisnya sel target atau antigen karena
aktivitas sistem komplemen, makrofag dan PMN.

II.3 Komponen Jaringan

II.3.1 Membran Mukosa

Barier protektif mukosa rongga mulut terlihat berlapis-lapis, terdiri dari air
liur dan permukaannya, lapisan keratin, lapisan granular, membran basal, dan
komponen selular serta humoral yang berasal dari pembuluh darah. Komposisi
jaringan lunak mulut merupakan mukosa yang terdiri atas squamosa yang karena
bentuknya, berguna sebagai barier mekanik terhadap infeksi. Mekanisme
proteksinya tergantung pada deskuamasinya yang konstan sehingga bakteri sulit
melekat pada sel-sel epitel dan derajat keratimisasinya yang menyebabkan
mukosa mulut sangat efisien sebagai barier. Kedua hal ini haruslah dalam keadaan
seimbang.

Jaringan lunak rongga mulut berhubungan dengan nodus limfatik


ekstraoral dan agregasi limfoid intraoral. Suatu jaringan halus kapiler limfatik
yang terdapat pada permukaan mukosa lidah, dasar mulut, palatum, pipi, dan
bibir, mirip yang berasal dari gusi dan pulpa gigi. Kapiler-kapiler ini bersatu
membentuk pembuluh limfatik yang berasal dari bagian dalam otot lidah dan
struktur lainnya. Antigen mikrobial yang dapat menembus epitel masuk ke lamina
propria, akan difagositosis oleh sel-sel Lagerhans yang banyak ditemukan di
mukosa mulut.

II.3.2 Air Liur

Air liur disekresikan oleh kelenjar-kelenjar parotis, submandibularis, dan


beberapa kelenjar kecil pada permukaan mukosa. Aliran air liur sangat berperan
dalam membersihkan rongga mulut dari mikroorganisme. Dalam hal ini, air liur
bertindak sebagai pelumas aksi otot-oto lidah, bibir, dan ppi. Aliran air liur akan
mencuci permukaan mukosa mulut, sedangkan sirkulasi darah subepitel bertindak
sebagai suplemen pada batas jaringan lunak dan keras melalui cairan celah gusi.

Berbagai senyawa yang berperan dalam mekanisme pertahanan ditemukan


dalam air liur. Lisozim atau muramidase mempunyai aktivitas bakterisidal yang
erjanya memecah ikatan antara N-asetil glukosamin dengan asam N-asetil
muramat dalam komponen mukopeptida dinding sel. Peroksidase air liur dapat
membunuh Lactobacillus acidophilus bila bereaksi dengan ion tiosoanat dan H2O2
dengan cara menghambat pemakaian lisin. Selain itu, enzim ini juga dapat
menginaktivasi beberapa streptococci dengan jalan menghambat kerja enzim-
enzim glikolitik. Air liur juga dapat menyebabkan aglutinasi bakteri karena
adanya ikatan antara glikoprotein air liur dan adesin bakteri.

Komponen komplemen yang terdapat pada air liur adalah C3 yang


sebagian besar berasal dari cairan celah gusi. Komponen seluler yang bnayk
ditemukan di dalam air liur adalah leukosit. Diperkirakan migrasi leukosit sekitar
satu juta per menit melalui air liur. Asal leukosit ini dari cairan celah gusi dan
sekitar 98-99% berupa PMN, neutrofil, sisanya terdiri atas limfosit, monosit, dan
eosinofil. Antibodi yang paling penting di dalam air liur adalah immunoglobulin
A (IgA) sekresi air liur. SElain itu, juga ditemukan sedikit IgG dan IgM yang
berasal dari cairan celah gusi.
II.3.3 Celah Gusi

Komponen seluler dan humoraldari darah dapat melewati epitel unctional


yang terletak pada celah gusi dalam bentuk cairan celah gusi. Apakah aliran cairan
crevicular fluid ini merupakan proses fifiologik atau merupakan respons terhadap
inflamasi, sampai saat ini masih simpang siur. Pendapat yang banyak dianut saat
ini adalah pada keadaan normal cairan crevicular fluid yang mengandung leukosit
ini akan melewati epitel junctional menuju ke permukaan gigi. Aliran caiean ini
akan meningkat bila terjadi gingivitis atau periodontitis. Selain leukosit, cairan
crevicular ini juga mengandung komponen komplemen, seluler, dan humoral yang
terlibat pada respon imun.

II.4 Reaksi Hipersensitivitas pada Kelainan Periodontal

Pada dasarnya, pada awal kelainan periodontal respon imun dibangkitkan


untuk pertahanan tubuh terhadap serangan antigen yang ada di dalam plak gigi.
Namun, akibat akumulasi plak, respon imun menjadi lebih kompleks meliputi
reaksi hipersensitivitas tipe IV, III, II, dan I.

Pada reaksi hipersensitif tipe IV, immunitas seluler (CMI) diaktivasi oleh
antigen bakterial plak gigi sehingga menjadi proliferasi sel T dan sel B.
subpopulasi sel T sangat sitotoksik terhadap jaringan periodonsium. Limfosit
memasok mediator terlarut, seperti MIF yang akan menghambat pergerakan
makrofag dan PMN neutrofil, faktor merusak fibroblas, dan OAF yang dapat
menimbulka kerusakan tulang. Akibat kerusakan ini, antigen akan masuk lebih
dalam lagi ke dalam jaringan periodonsium.

Adanya kompleks imun di dalam jaringan periodontal, berupa ikatan


antigen-antibodi, menunjukan bahwa terjadi reaksi hipersensitivitas tipe III. PMN
di dalam cairan celah gusi ( crevicular fluid), mempunyai membran yang dapat
mengikat IgG, IgM, dan C3. Kompleks imun akan mengaktivasi jalur klasik
komplemen dengan akibat terjadi peningkatan mediator biologik yang akan
menginduksi peningkatan permeabilitas vaskular, agregasi platelet, kemotaksis
fagosit, opsonisasi, dan fagositosis. Pada proses ini juga dilepaskan enzim-enzim
lisisim oleh PMN dn makrofag, seperti lozosim, hialuronidase, dan kolagenase
yang mengakbatkan kerusakan jaringan lokal. Kolagenase akan merusak kolagen
jaringan periodontal. Hasil akhir proses ini adalah lisisnya sel disertai resorbsi
tulang yang dimediatori oleh prostaglandin. Pada reaksi tipe III ini, CMI juga ikut
dilibatkan, karena C3b dapat berinteraksi dengan reseptor limfosit sehingga terjadi
pelepasan limfokin. Dengan demikian, sering terlihat adanya reaksi
hipersensitivitas tipe III dengan tipe IV.

Pada kelainan periodontal terdapat tiga proses reaksi phipersensitivitas tipe


II, yaitu:

1. Fagositosis setelah terjadi ikatan antigen-antibodi

2. Aktivitas sel Tk

3. Lisisnya sel karena aktivasi komplemen

Pengikatan antigen oleh antibodi yang diikuti aktivasi komplemen dan fagositosis,
berperan pada bakteri gram positif. Sedangkan penghancuran kuman sel oleh
komplemen melalui C8 yang diperkuat C9, lebih berfungsi untuk kuman gram
negatif. Walaupun kedua mekanisme ini juga menyebabkan lisisnya sel jaringan
periodontal,namun reaksi tipe II ini tidak begitu berperan pada kelaian jaringan
periodontal.

Keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe I pada kerusakan jaringan


periodontal, terbukti dengan ditemukannya sejumlah mastosit pada gus sehat
tetapi kemudian jumlahnya berkurang pada inflamasi. Antigen akan menginduksi
degranulasi sel mast yang diikuti pelepasan histamin dan amin vasoaktif lain
setelah berkontak dengan IgE yang melekat pada permukaan sel mast. Pada
keadaan ini, prostaglandin E1 dan E2 ikut meningkatkan permeabilitas vaskular.
Respon imun yang semula dibangkitkan untuk mekanisme pertahanan,
ternyata kemudian justru merusak jaringan periodontal. Untuk menghadapi
keadaan ini, tubuh dibekali mekanisme perthanan lain yaitu dengan menghambat
perningkatan respon imun lebih lanjut untuk mencegah kerusakan total jaringan
periodontal. Mekanisme penekanan respon imun ini meliputi:

1. Penekanan CMIR dengan mneginduksi sek –sel supresif

2. Berbagai faktor penghambat di dalam serum juga ditemukan pada kasus


periodontitis berat

3. Makrofag mensekresikan prostaglandin yang menghambat respon seluler

4. Inhibitior proteinase akan menghambat jalur komolemen

5. Komponen-komponen plak gigi seperti LPS menurunkan aktivitas CMI,


LTA menghambat HMIR, dekstran ikatan α ( 1menjadi 6 ) menurunkan
toleransi sel B, dan bakteri plak mengeluarkan proteinase spesifik yang
menghambat kerja beberapa klas imunoglobuolin
Gambar 1-3. Immunopatogenesis kelainan periodontal
II.5 Peran Sitokin dan Sel Lagerhans

Adanya akumulasi sel plasma dan limfosit di dalam jaringan periodontal,


diduga sitokin dan sel Lagerhans ikut berperan pada perubahan patologik
periodontal. IL-1 terdapat di dalam jaringan gingiva dan crevicular fluid, dan
kadar keduanya turun setelah perawatan periodontal. Selain itu juga terjadi
peningkatan fibroblas prokolagen, prostaglandin E2 (PGE2), dan aktivitas resorbsi
tulang. IL-2 yang menstimulasi aktivitas makrofag juga meningkat di dalam
jaringan periodontal pada kondisi periodontitis. Demikian juga dengan IL-4 yang
berperan dalam mengaktivasi proliferasi dan diferensiasi sel B, pertumbuhan sel
T, fungsi makrofag, serta pertumbuhan sel mast kadarnya juga meningkat selama
periodontitis. IL-6 yang menginduksi produksi antibodi, kadarnya meningkat pada
peradangan gusi (gingivitis) dan berperan pada resorbsi tulang.

Kemampuan leukosit melekat pada sel endotel akan meningkat karena


induksi TNFα. Aktivitas fagositosis dan kemotaksisnya juga akan meningkat.
Efek TNFα pada leukosit dan juga induksinya terhadap makrofag, mempunyai
peran dalam perubahan vaskular yang terjadi pada kelaianan periodontal.

Sitotoksisitas sel jaringan juga dapat disebabkan oleh interaksi langsung


limfosit dengan sel target yang mengandung antigen spesifik yang berada pada
permukaannya. Walaupun antigen yang ditemukan oleh limfosit yang
tersensitisasi umumnya sangat spesifik, efek sitotoksik akibat interaksi limfosit-
sel pejamu biasanya tidak spesifik. Oleh karena itu, diduga bahwa bertahannya
deposisi antigen plak gigi ke dlam jaringan gusi, dibantu oleh terbentuknya sel
yang memproduksi limfotoksin dan / atau langsung karena limfositotoksisitas.
Kejadian ini mengakibatkan kerusakan jaringan pada kasus kelainan periodontal.
II.6 Respon Imun pada Beberapa Kelainan Periodontal

Pada individu sehat, tampak adanya pengaturan respons imunologik


spesifik yang baik, sebagai pertahanan terhadap infiltrasi antigen plak. Pada
gingivitis dan periodontitis, respons imun ini akan menimbulkan efek protektif
dan destruktif. Bakteri sub gingival yang berasal dari plak gigi akan memapar
daerah gingiva. Antigen bakteri ini, yang dapat berupa endotoksin akan
mempenetrasi ke dalam jaringan gingiva dan menimbulkan respon penjamu
sistemik dan lokal. Bila terjadi akumulasi plak bakteri, efek protektif respon imun
boleh dikatakan tidak bermakna sebab terjadinya gingivitis karena plak sulit
dihindari. Namun, cairan celah gusi yang mengandung antibodi dan komplemen,
terus menerus akan mencuci daerah tersebut dan bereaksi dengan bakteri
subgingiva. Hal ini akan memodulasi atau mengubah komposisi mikroflora
subgingiva. Mekanisme kerusakan pada jaringan periodontal dapat disebabkan
efek langsung oleh bakteri plak, kerusakan yang diinduksi oleh PMN leukosit,
neutrofil yag dimediatori oleh aktivasi ko,plemen, baik melalui jalur klasik
maupun alternatif, dan karena respon seluler.

Gingivitis dapat terjadi sebagai akibat respon yang berlebihan terhadap


plak bakterial. Pada gingivitisn ringan merupakan kelanjutan infiltrasi PMN
karena gingiva diinfiltrasi oleh beberapa limfosit T, sedangkan pada gingivitis
atau periodontitis yang berat, jaringan periodontal sudah banyak mengandung sel
B dan sel plasma, yang akan memproduksi antibodi. Kadar serum IgG2 pada
kelainan periodontal yang berat, proporsinya rendah bila dibandingkan dengan
IgG lainnya. Respons subkelas IgG yang tidak proporsional ini, mengindikasikan
adanya tingkat aktivasi limfosit B yang tidak spesifik pada daerah yang meradang.
Hal ini disebabkan berbagai stimulan termasuk mitogen dan protease bakteri.
Bakteri juga mengaktivasi komplemen melalui jalur alteratif. Eksudat dari serum
yang disekresikan melalui cairan celah gusi. Mengandung komponen komplemen
fungsional dengan antibodi spesifik terhadap berbagai antigen plak yang kadarnya
rendah.
Serbuan aliran cairan celah gusi merupakan stadium yang penting pada
perkembangan kelainan periodontal. Komplemen di dalam cairan celah gusi akan
diaktivasi dengan cepat melalui kombinasi jalur klasik dan alternatif. Aktivasi
jalur klasik distimulasi oleh IgG dan IgM terhadap antigen plak subgingiva,
sedangkan aktivasi komplemen jalur alternatif oleh endotoksin dan peptidoglikan
yang dihasilkan oleh mikroorganisme negatif dan gram positif. Di pihak lain,
enzim-enzim proteolitik, baik dari pejamu maupun bakteri, juga ikut mengaktivasi
sistem ini. Aktivasi komplemen yang menghasilkan C3a dan C5a,akan menambah
edema dan meningkatkan aliran celah gusi dan mengakibatkan atraksi kemotaktik
PMN leukosit. Faktor kemotaktik lainnya juga dihasilkan langsung oleh bakteri
plak. Pelepasan enzim proteolitik seperti kolagenase dan enzim yang aktivitasnya
mirip tripsin oleh sel pejamu, dipercaya merusak jaringan dan menambah aktivasi
komplemen disertai pelepasan prostaglandin E.

Masa bakteri juga dapat direduksi mealalui reaksi antibodi-antigen (Ab-


Ag) yang dilanjutkan dengan aktivasi komplemen sehingga terjadi sitolisis.
Aktivasi komplemen yang memounyai efek kemotaksis akan menarik PMN
neutrofil yang memfagositosis antigen bakteri. PMN neutrofil juga akan
menghancurkan antigen melalui enzim lisosom. PMN neutrofil ini berasal dari
jaringan gingiva yang juga sudah disusupi antigen. Peran penting PMN neutrofil
dalam mengontrol periodontopatogen terlihat pada saat kelainan periodontal yang
berat, fungsi neutrofil ini menurun.

Respons imun lokal di daerah celah gusi mungkin dapat mengeliminasi


antigen kuman. Namun, sebagian antigen bakterial akan menelusup ke gingiva.
Antigen akan dihadapi oleh sel T yang akan memproduksi limfokin karena sudah
disensitisasi antigen, dan mediator ini akan mengaktivasi, menarik, dan
menghambat migrasi makrifag. Hal ini juga terjadi sebagai akibat limfokin yang
disekresikan oleh sel B yang juga tersensitisasi antigen. Kejadian selanjutnya
adalah dibangkitkannya respons seluler dan humoral untuk menghancurkan
antigen dengan efek samping kerusakan jaringan.
Peran respon seluler pada perkembangan kelainan periodontal dapat dilihat
berdasarkan hasil beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa limfosit di
dalam darah tepi umumnya meningkat reaktivitasnya terhadap antigen plak pada
kelainan periodontal. Namun, dengan alasan yang belum diketahui, pada
gingivitis dan periodontitis khronis, respon lokal sel T terhadap antigen plak
sangat kecil. Kerusakan tulang pada kelainan periodontal mungkin dimediatori
oleh limfokin, termasuk faktor pengaktivasi osteoklas (OAF), hormon paratiroid,
dan prostaglandin.
BAB III

PEMBAHASAN

Periodontitis didefinisikan sebagai penyakit inflamasi pada jaringan


penyangga gigi, disebabkan oleh mikroorganisme spesifik dan mengakibatkan
kerusakan progresif pada ligamen periodontal dan tulang alveolar yang ditandai
dengan adanya pembentukan poket, resesi atau keduanya. Jenis periodontitis yang
paling sering terjadi adalah periodontitis kronis yang disebabkan oleh
penumpukan plak dan kalkulus dan biasanya berkembang secara lambat.

Beberapa kondisi sistemik seperti penyakit diabetes mellitus, infeksi HIV,


penuaan, serta faktor lingkungan seperti merokok dan stress dapat mempengaruhi
respon pertahanan host terhadap adanya plak. Faktor pertahanan host berperan
besar terhadap timbulnya penyakit periodontal. Sistem imun yang lemah pada
permukaan mukosa dapat menjadi tempat masuknya bakteri periodontopathogen
dan menyebabkan terjadinya infeksi lebih lanjut pada daerah tersebut.

Etiologi terjadinya periodontitis yang utama adalah adanya bakteri


periodontopathogen. Beberapa bakteri seperti Porphyromonas gingivalis (PG),
Bacteroides forsythus, Actinobacillus actinomycetemcommitans, Campylobacter
rectus, Prevotella denticola, Prevotella intermedia, Treponema medium,
Treponema denticola dan banyak lagi jenis bakteri periodontopathogen lain yang
turut terlibat dalam berkembangnya penyakit periodontal.

Actinomyces actinomycetemcommitans merupakan bakteri yang berbentuk


batang, pendek. Merupakan golongan bakteri yang non motile dan gram negative.
Memiliki berbagai macam factor virulesi seperti lipopolisakarida (endotoksin),
leukotoksin, kolagenase, dan protease.

Tanerrella forsythia merupakan golongan bakteri pleomorphik, non motile


dan bersifat anaerob obligat. Bakteri ini menghasilkan enzim proteolitik yang
dapat menghancurkan immunoglobulin, dan factor komplemen, serta
menyebabkan terjadinya proses apoptosis pada sel.
Prevotella merupakan golongan bakteri gram negative non motile yang
bersifat sangat pathogen terhadap jaringan periodontal. Memiliki aktivitas
proteolitik dan patogenik setingkat di bawah PG.

Capylobacter rectus merupakan bakteri yang jarang terlibat dalam


timbulnya penyakit periodontal. species ini seperti pada AA dan PG menghasilkna
leukotoksin. Aktivitas proteolitik dan virulensinya masih di bawah PG

Fusobacterium nucleatum merupakan bakteri bentuk batang gram negative


anaerob. Merupakan penyebab kerusakan sel limfosit dan PMN dengan
mengaktifkan proses apoptosis. Bakteri ini mampu menginduksi leukosit untuk
melepaskan sitokin, elastase, dan reactive oxygen species yang akan
menyebabkan kerusakan tulang. Fusobacteria merupakan salah satu bakteri yang
menjembatani ikatan primer dan sekunder pada hamper semua bakteri pathogen di
rongga mulut, sehingga keberadaannya sangat penting terhadap timbulnya
kolonisasi bakteri periodontopathogen.

Spirochaeta merupakan golongan bakteri motile berbentuk spiral.


Merupakan golongan bakteri gram negative. Treponema denticola termasuk
dalam golongan bakteri ini. Bakteri ini memiliki kemampuan dalam menembus
lingkungan yang cair sehingga dapat bermigrasi dalam cairan sulkus gingival dan
menembus epitel serta jaringan ikat. Beberapa spirochaeta mampu mendegradasi
kolagen dan bahkan dentin. T.denticola menghasilkan enzim proteolitik yang
dapat menghancurkan IgA, IgM, IgG seta komplemen.

PG merupakan salah satu bakteri periodontopathogen yang sangat agresif.


PG merupakan bakteri yang non-motile, berbentuk batang pleomorphic, memiliki
kapsul, dan bersifat anaerob obligat. PG memiliki aktivitas proteolitik yang sangat
kuat, tumbuh pada lingkungan yang anaerob dan memberikan pigmentasi gelap
(coklat, hijau tua, atau hitam) pada agar darah. PG memiliki fimbria yang dapat
memperantarai terjadinya adhesi. Kapsul pada PG dapat menahan fagositosis dan
memicu sekresi IL-1, IL-6, dan IL-8. Hasil akhir metabolism PG berupa berbagai
macam asam amino dan berbagai macam endotoksin, hemolisin, kolagenase dan
berbagai macam protease yang dapat menyebabkan kerusakan immunoglobulin,
faktor komplemen, dan heme-sequestering proteins: suatu protein dari host yang
dapat menahan kerusakan kolagen. PG dapat menginvasi epitel, jaringan lunak
dan dapat menghambat migrasi PMN, melintasi epitel dan menyebabkan
degradasi sitokin pada sel mamalia.

Porphyromonas gingivalis, Bacteroides forsythus, dan Treponema


denticola digolongkan ke dalam kelompok red complex. Kelompok ini merupakan
kelompok yang sangat menarik karena berhubungan erat dengan terjadinya
perdarahan pada saat probing. Perdarahan pada saat probing merupakan salah satu
tanda terjadinya kelainan periodontal.

Semua bakteri tersebut memiliki peran yang berbeda-beda dalam rongga


mulut. Namun, keberadaanya memiliki tingkat saling-ketergantungan yang tinggi.
Setiap bakteri mampu menghasilkan hasil metabolism yang merupakan kebutuhan
utama bakteri lainnya. Dapat dikatakan dalam rongga mulut, bakteri melakukan
simbiosis mutualisme dalam melangsungkan kehidupannya.

Penyakit periodontal merupakan kondisi keradangan yang menyebabkan


terjadinya kerusakan dan kecacatan secara perlahan-lahan terhadap jaringan
penyangga gigi. Matriks ekstraselluler, seperti kolagen, fibronectin dan
proteoglikan merupakan matriks yang penting dalam menjaga integritas structural
jaringan penyangga gigi. Kerusakan atau terjadinya kerusakan tulang dan jaringan
periodontal yang bersifat irreversible. Bakteri periodontopathogen dan produknya
dapat memicu respon inflamasi dan respon imun pada host. Adanya inflamasi ini
meningkatkan sekelompok enzim proteolitik yang disebut matrix
metalloproteinase (MMP) yang berperan besar terhadap timbulnya penyakit
periodontal.

MMP merupakan protein yang bertanggung jawab terhadap remodeling


dan degradasi komponen matriks ekstraselluler. Keberadaan MMP dikontrol oleh
sel lain seperti fibroblast dan makrofag, serta distribusi tissue inhibitor of MMP
(TIMP) yang tersebar pada jaringan dan cairan ekstrasel. MMP-1 dan MMP-8
keduanya merupakan kolagenase; dimana MMP-8 dihasilkan oleh neutrofil dan
MMP-1 dihasilkan oleh sel host, termasuk epitel, fibroblast dan makrofag. MMP
diketahui juga diproduksi oleh PG dan AA.

Pada periodontitis kronis, kerusakan tulang dan jaringan sepertinya timbul


melalui jalur MMP. MMP menyebabkan kerusakan dan degradasi jaringan
kolagen yang merupakan struktur utama tulang dan jaringan periodontal.
Penelitian menunjukkan pasien dengan kerusakan tulang memiliki tingkat MMP
yang jauh lebih tinggi daripada normal. Hal ini menguatkan dugaan bahwa MMP
berperan besar dalam timbulnya kerusakan jaringan pada penyakit periodontitis
kronis.

Adanya MMP merupakan penjelasan mengapa SRP pada pasien


periodontitis seringkali tidak dapat menghentikan keruskaan tulang. Tindakan
SRP yang merupakan terapi pada periodontitis kronis hanya membuang plak dan
kalkulus yang menjadi tempat berkumpulnya bakteri periodontopathogen. Namun,
tindakan ini tidak menghambat kerusakan tulang akibat timbulnya MMP.

Terapi host modulation merupakan terapi baru pada periodontal, dimana


terapi ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kerusakan host dapat dicegah
dengan memperkuat daya tahan host terhadap LPS. Terapi ini menjanjikan
keberhasilan yang merupakan pelengkap terapi SRP pada perawatan periodontitis.
Prinsip utama terapi ini adalah mengubah respon host terhadap agen infeksius
termasuk endotoksin dan MMP yang tidak hilang pada saat dilakukan SRP biasa
saja. Terapi host modulasi merupakan terapi pelengkap yang penting untuk
kesembuhan penyakit periodontal
KESIMPULAN

Kelainan gingiva dan periodontal diinduksi oleh plak gigi bakterial. Pada
kelainan ini terdapat empat stadium immunopatologi yang melibatkan respon
imun sistemik.

1. Awal lesi ditemukan dalam kondisi normal, namun sudah ada respon
inflamasi lokal oleh PMN leukosit, aktivasi komplemen, kemotaksis yang
dihasilkan antigen plak, dan mungkin sudah terjadi kompleks imun.

2. Pada lesi ini terlihat infiltrasi lokal sel T dan beberapa sel B. Limfosit di
dalam sirkulasi sudah tersensitisasi antigen plak yang dapat dilihat dari
kemampuannya melepaskan limfokin.

3. Lesi yang menetap di karakterisasikan dengan infiltrasi sel plasma secara


lokal dan limfosit di dalam darah perifer dapat distimulasi untuk
berproliferasi oleh antigen plak.

4. Pada lesi yang sudah lanjut, ditandai dengan mekanisme imunopatologi


yang destruktif. Proses destruktif ini dapat mengakibatkan hilangnya gigi.

Mekanisme imunologi kelainan periodontal sangat kompleks yang melibatkan


reaksi hipersensitivitas tipe IV,III,II, dan I disertai mekanisme protektif-
destruktif melalui fungsi limfosit dan makrofag serta aktivasi antibodi dan
komplemen. Proses ini dimodulasi oleh bahan immunopotensiasi dan
imunosupresi untuk mencegah respon imun yang tidak terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA

1. Newman MG, Takei HH, Carranza FA. Clinical Periodontology, 9th ed.WB

Saunders Co. Philadelphia.(2002).67-69, 559-560, 676-681

2. Grossman LI, Oliet S, & Del Rio CE. Imun Endodontik dalam praktek. Alih

bahasa Abyono R. Penyunting Suryo S. edisi ke-11. EGC Jakarta

.(1995). 47-48

3. Carranza FA & Newman MG . Clinical Periodontology, 8th ed.WB

SaundersCo.Philadelphia.(1996). 511-515.

4. Malizia T, Tejada MR, Gheraldi E, Senesi S, Gabriele M, Giuca MR,


Blandizzi C, Danesi R, Compa M, Tacca MD. Periodontal Tissue
Disposition of Azithromycin. J Periodontal.(1997). 68:1206-1209.

5. Wilson TG and Kornman KS.Anatomy of the Periodontium Fundamentals


of Periodontics, 2nd ed. Quintessence Publishing Co,Inc.(2003).32-33.

6. Roeslan, Boedi. Immunologi Oral Kelainan di Rongga Mulut.Balai


Penerbit FK UI. Jakarta.(2002).113-115