Anda di halaman 1dari 11

Adapaun materi yang diujikan berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang tertuang dalam UU No.

8 tahun
2015 (UU Pilkada) dan UU No. 15 tahun 2011 (penyelenggaraan pemilu). Bagi kawan-kawan yang ingin mengikuti
seleksi Panwascam di masa yang akan datang, hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah;

 Penguasaaan secara matang kedua UU di atas terlebih tentang Pengawasan Pemilu


 Tugas dan tanggungjawab Lembaga Penyelenggara dan Pengawas Pemilu
 Nama-nama anggota Bawaslu (Pusat & Provinsi) dan Panwaslu Kabupaten/Kota
 Kesektariatan (baik itu nama, fungsi, dsb)
 Cara pelaporan, sanksi dan lembaga hukum
 Pengetahuan umum tentang ke-Pemilu-an, dsb

Keenam hal tersebut mutlak dikuasai jika kawan-kawan ingin lulus ke tahap wawancara. Sekian yang dapat saya
bagikan tentang pengalaman saya mengikuti seleksi Panwascam

Tugas dan wewenang PANWASCAM terdapat didalam UU RI No. 1 Tahun 2015


Pasal 33 berbunyi :

Tugas dan wewenang Panwas Kecamatan dalam Pemilihan meliputi:


– Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilihan di wilayah Kecamatan yang meliputi:
1. pemutakhiran data Pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan Daftar Pemilih Sementara dan
Daftar Pemilih Tetap;
2. pelaksanaan Kampanye;
3. perlengkapan Pemilihan dan pendistribusiannya;
4. pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara hasil Pemilihan;
5. penyampaian surat suara dari TPS sampai ke PPK;
6. proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh PPK dari seluruh TPS; dan;
7. pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilihan lanjutan, dan Pemilihan susulan;

– Mengawasi penyerahan kotak suara tersegel kepada KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota;
– Mmenerima laporan dugaan pelanggaran terhadap tahapan penyelenggaraan Pemilihan yang dilakukan oleh
penyelenggara Pemilihan sebagaimana dimaksud pada huruf a;
– Menyampaikan temuan dan laporan kepada PPK untuk ditindaklanjuti;
– Meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang;
– Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilihan;
– Memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan mengenai tindakan yang
mengandung unsur tindak pidana Pemilihan; dan
– Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Sedangkan Pasal 34 berbunyi: Dalam Pemilihan, Panwas Kecamatan wajib:

– Bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya;


– Menyampaikan laporan kepada Panwas Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilihan di tingkat Kecamatan;
– Menyampaikan laporan pengawasan atas tahapan penyelenggaraan Pemilihan di wilayah kerjanya kepada
Panwas Kabupaten/Kota;
– Menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwas Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan
pelanggaran yang dilakukan oleh PPK yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan Pemilihan di
tingkat Kecamatan; dan
– Melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

selain yang diatas. Nah inilah beberapa poin materi penting yang sempat penulis ingat ketika mengerjakan soal
tersebut. Beberapa diantaranya adalah :
1. Agenda event Pemilu terdekat meliputi : Kapan, siapa dan yang pernah menjabat Gubernur/Walikota/Bupati
2. Pengetahuan daerah Propinsi : jumlah kab-kota yang ada serta yang akan mengadakan pemilu
3. UUD dan berapa kali di amandemen
4. UU ttg Pemilu th 2017 buku ke1 sd ke4
5. UU ttg Panwaslu
6. Sejak kapan Panwas diadakan
7. Tugas dan wewenang Panwas sesuai Aturan (sudah ditulis diatas)
8. Nama anggota Bawaslu
9. Beberapa singkatan tentang istilah dalam pemilu sepertu DPS, DPT, PPS, Panwaslu
10.Sop pengangakatan Panwas dan Sekertariat
11.Siapa partai Pemenang pemilu
12.Siapa nama Presiden dan Wapres terdahulu
13. Aturan-aturan normatif dalam bekerja
14. Syarat- pemilih
15. Kondisi jika Memilih keliru

Totalnya ada 100 soal, waktunya cukup panjang. Semoga berguna

Tugas, Wewenang, dan Kewajiban Pengawas Pemilu berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011
tentang Penyelenggara Pemilu adalah sebagai berikut :

1. Mengawasi Penyelenggaraan Pemilu dalam rangka pencegahan dan penindakan pelanggaran untuk
terwujudnya Pemilu yang demokratis. Tugas tersebut secara singkat dalam diuraikan sebagai berikut :
o Mengawasi persiapan penyelenggaraan Pemilu;
o Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu;
o Mengawasi pelaksanaan Putusan Pengadilan;
o Mengelola, memelihara, dan marawat arsip/dokumen;
o Memantau atas pelaksanaan tindak lanjut penanganan pelanggaran pidana Pemilu;
o Mengawasi atas pelaksanaan putusan pelanggaran Pemilu;
o Evaluasi pengawasan Pemilu;
o Menyusun laporan hasil pengawasan penyelenggaraan Pemilu;
o Melaksanakan tugas lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Wewenang Pengawas Pemilu sebagai berikut :
o Menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
undangan mengenai Pemilu
o Menerima laporan adanya dugaan pelanggaran administrasi Pemilu dan mengkaji laporan dan
temuan, serta merekomendasikannya kepada yang berwenang
o Menyelesaikan sengketa Pemilu
o Membentuk, mengangkat dan memberhentikan Pengawas Pemilu di tingkat bawah
o Melaksanakan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
3. Kewajiban Pengawas Pemilu sebagai berikut :
o Bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya;
o Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada
semua tingkatan;
o Menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran
terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai Pemilu;
o Menyampaikan laporan hasil pengawasan sesuai dengan tahapan Pemilu secara periodik
dan/atau berdasarkan kebutuhan; dan
o Melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu dibentuk berdasarkan perintah Undang - Undang no 22 Tahun 2007
tentang Penyelenggara Pemilu.

Sebelumnya, Pengawas Pemilu merupakan lembaga adhoc yaitu Panitia Pengawas Pemilu atau Panwaslu.

Tepatnya tahun 1982 uu memerintahkan pembentukan Panitia Pengawas Pelaksanaan Pemilu atau Panwaslak
Pemilu, yang melekat pada Lembaga Pemilihan Umum atau LPU.

Baru pada tahun 2003, Panwaslu dilepaskan dari struktur Komisi Pemilian Umum atau KPU.

Kewenangan utama Pengawas Pemilu adalah mengawasi pelaksanaan tahapan Pemilu, menerima pengaduan,
serta menangani kasus-kasus pelanggaran administrasi, pidana Pemilu dan kode etik.

Rabu, 12 April Tahun 2017 Presiden Joko Widodo melantik Anggota Bawaslu Periode 2017-2022 dan Rapat Pleno
Bawaslu menetapkan Ketua Bawaslu adalah Abhan.
Ketua Bawaslu RI Abhan, SH -Divisi SDM dan Organisasi
Lahir di Pekalongan, 12 November 1968

Anggota Bawaslu RI Dr. Ratna Dewi Pettalolo, SH, MH -Divisi Penindakan


Lahir di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah pada 10 Juni 1967

Anggota Bawaslu RI Mochammad Afifuddin, S. Th.I., M. Si -Divisi Pengawasan & Sosialisasi

Anggota Bawaslu RI Rahmat Bagja, SH. LL. M -Divisi Penyelesaian Sengketa


Lahir di Medan, 10 Februari 1980

Anggota Bawaslu RI Fritz Edward Siregar, SH, LL.M PhD. -Divisi Hukum
lahir di Medan, Sumatera Utara, 27 November 1976

BAWASLU JABAR
BAWASLU KAB CIANJUR

Hadi Zikir Nur yang bertugas di divisi pengawasan dan hubungan antarlembaga sekaligus merangkap ketua,
Tatang Sumarna di divisi penindakan pelanggaran, dan
Asep Tandang di divisi SDM dan organisasi

Kisi-Kisi Tes Panwaslu Kecamatan Tahun 2018

Pemilihan Gubernur (pilgub) sebentar lagi di laksanakan, tepatnya tahun 2018. Namun persiapan pendaftaran
Panwaslu Kecamatan sudah di buka mulai tahun ini, 2017. Untuk itu bagi yang menginginkan daftar menjadi
panwaslu kecamatan harus mempersiapkan diri supaya bisa lulus tes tulis dan tes wawancara.

Sementara ini, undang-undang yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan pilgub 2018 adalah UU Nomor 10
Tahun 2016. UU ini merupakan perubahan kedua atas undang-undang nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan
peraturan pemerintah pengganti undang-undang Nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati, dan
walikota menjadi undang-undang. 

Mari kita pahami dahulu pengertian, tugas dan wewenang Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten dan
Panwaslu Kecamatan berdasarkan UU nomor 1 tahun 2015 dan UU nomor 10 Tahun 2016.

Kepanjangan Bawaslu, Bawasluprov, Bawaslukab dan Panwaslu Kecamatan


Bawaslu adalah Badan Pengawas Pemilihan Umum yang selanjutnya disebut Bawaslu adalah lembaga
penyelenggara pemilihan umum yang bertugas mengawasi penyelenggaraan pemilihan umum di seluruh wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Bawaslu Provinsi adalah Badan Pengawas Pemilu Provinsi yang yang bertugas untuk mengawasi
penyelenggaraan Pemilihan Gubernur di wilayah Provinsi.

Bawaslu Kabupaten adalah Badan Pengawas Pemilu Kabupaten yang bertugas untuk mengawasi
penyelenggaraan Pemilihan Gubernur di wilayah kabupaten.

Panwaslu Kecamatan adalah Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan yang bertugas untuk mengawasi
penyelenggaran pemilihan gubernur di wilayah kabupaten
Ingat: Saat ini pengawas pemilu tingkat kabupaten sudah menjadi "Badan", jadi bukan lagi disebut Panwas
kabupaten tapi Bawaslu kabupaten. Ba = Badan / Pa= Panitia
Kisi-Kisi Tes Panwaslu Kecamatan Tahun 2018
Kisi-kisi ini merupakan hasil analisis berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan diujikan dalam tes tulis
maupun tes wawancara oleh panitia. Jadi bukan merupakan kisi-kisi baku yang dikeluarkan oleh Bawaslu
Kabupaten.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman atas artikel sebelumnya, banyak yang mengaku mendapat manfaat dari
kisi-kisi yang saya buat, karena dianalisis berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

Kisi-kisi ini merupakan hasil analisis berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan diujikan dalam tes tulis
maupun tes wawancara oleh panitia
Ada beberapa yang perlu diketahui oleh calon pendaftar Panwaslu Kecamatan, yaitu mengetahui:

1. Struktur Organisasi Bawaslu, Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten. 


Cobalah untuk mengetahui siapa nama ketua dari masing-masing organisasi, baik dari tingkat pusat sampai
tingkat bawah. Biasanya ini dijadikan pertanyaan saat tes tulis. "Siapa nama ketua Bawaslu saat ini?

2. Apa Tugas dan Wewenang Panwaslu Kecamatan?


Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2016 Pasal 33 (klik untuk download) Tugas dan wewenang Panwas Kecamatan
dalam Pemilihan meliputi:

a. mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilihan di wilayah Kecamatan yang meliputi:


1. pemutakhiran data Pemilih berdasarkan data kependudukan dan penetapan Daftar Pemilih
Sementara dan Daftar Pemilih Tetap;
2. pelaksanaan Kampanye; 
3. perlengkapan Pemilihan danpendistribusiannya;
4. pelaksanaan pemungutan dan penghitungan suara hasil Pemilihan;
5. penyampaian surat suara dari TPS sampai ke PPK;
6. proses rekapitulasi suara yang dilakukan oleh PPK dari seluruh TPS; dan
7. pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilihan lanjutan, dan Pemilihan
susulan.
b. mengawasi penyerahan kotak suara tersegel dari PPK kepada KPU Kabupaten/Kota;
c. menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap-tahapan penyelenggaraan Pemilihan yang dilakukan
d. oleh penyelenggara Pemilihan sebagaimana dimaksud pada huruf a;
e. menyampaikan temuan dan laporan kepada PPK untuk ditindaklanjuti;
f. meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang;
g. mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilihan;
h. memberikan rekomendasi kepada yang berwenang atas temuan dan laporan mengenai tindakan yang
mengandung unsur tindak pidana Pemilihan; dan
i. melaksanakan tugas dan wewenang lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

3. Apa Kewajiban Panwaslu Kecamatan?


Dalam UU Nomor 1 Tahun 2015 Pasal  34 (klik untuk download) berbunyi, dalam Pemilihan Panwaslu Kecamatan
wajib:

1. bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya;


2. menyampaikan laporan kepada Panwas Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan tindakan yang
mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilihan di tingkat Kecamatan;
3. menyampaikan laporan pengawasan atas tahapan penyelenggaraan Pemilihan di wilayah kerjanya
kepada Panwas Kabupaten/Kota;
4. menyampaikan temuan dan laporan kepada Panwas Kabupaten/Kota berkaitan dengan adanya dugaan
pelanggaran yang dilakukan oleh PPK yang mengakibatkan terganggunya penyelenggaraan tahapan
Pemilihan di tingkat Kecamatan; dan
5. melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan

4. Berapa Jumlah Kecamatan dan Jumlah Desa/Kelurahan di Kabupaten?


Pada dasarnya, tugas yang akan diemban oleh panwaslu kecamatan adalah mengorganisisr panitia pengawas
ditingkat bawahnya dan juga menjalin kerjasama antar panwaslu kecamatan. Oleh karena itu, bagi pendaftar
wajib mengetahui jumlah kecamatan dan juga jumlah desa/kelurahan di masing-masing kabupaten.
5. Apa Tugas, Kewajiban dan Wewenang PPK?
Karena tugas pokok dari pengawas adalah mengawasi, baik mengawasi penyelenggara pilgub maupun
mengawasi kampanye, maka pengetahuan tentang tugas, kewajiban dan wewenang yang akan diawasi harus
diketahui. Karena tidak mungkin bisa mengawasi jika tidak tahu apa yang dilakukan oleh yang diawasi.

6. Bagaimana Teknis Pemungutan suara?

7. Bagaimana Perhitungan Perolehan Suara?

8. Bagaimana Rekapitulasi Perhitungan Perolehan Suara?

9. dan Pengetahuan Kewilayaahan.


Masih banyak lagi hal yang harus dipelajari, namun dengan memahami pengetahuan dasar di atas, mudah-
mudahan anda bisa lolos menjadi panitia pengawas pemilu kecamatan. Terimakasih sudah mampir.

SEPUTAR KAB. CIANJUR

Kabupaten Cianjur terdiri atas 32 Kecamatan, 342 Desa dan 6 Kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan
Cianjur

Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan Kecamatan


Agrabinta Bojongpicung Campaka Campaka Mulya Cianjur Cibeber
Cibinong Cidaun Cijati Cikadu Cikalongkulon Cilaku
Cipanas Ciranjang Cugenang Gekbrong Haurwangi Kadupandak
Karangtengah Leles Mande Naringgul Pacet Pagelaran
Pasirkuda Sindangbarang Sukaluyu Sukanagara Sukaresmi Takokak
Tanggeung Warungkondang
Dasar Hukum

UNDANG UNDANG

1. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


2. UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu
3. UU No. 02 Tahun 2008 tentang Partai Politik
4. UU No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 32 Tahun 2004
5. UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik
6. UU No. 02 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU No. 02 Tahun 2008
7. UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilu
8. UU No. 08 Tahun 2012 tentang Pemilu Legislatif

PERATURAN PEMERINTAH
1. PERPPU No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas UU No. 32 Tahun 2004
2. PP No. 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah
3. Permendagri No. 57 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Belanja Pemilukada
4. Surat Menteri Dalam Negeri RI No 800/4735/SJ tentang Masa Kerja PPL
5. Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil

PERATURAN KPU

1. Peraturan KPU No. 18 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 6 Tahun 2010 tentang Pedoman
Pelaporan Dana Kampanye pada Pemilukada
2. Peraturan KPU No. 17 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 66 Tahun 2009 tentang
Penetapan Norma, Standar, Prosedur, dan Kebutuhan Pengadaan serta Pendistribusian Pada Penyelenggaraan
Pemilukada
3. Peraturan KPU No. 16 Tahun 2010 tentang Pedoman tata cara pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan
suara dalam Pemilukada, serta Penetapan Calon Terpilih, Pengesahan Pengangkatan, dan Pelantikan.
4. Peraturan KPU No. 15 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 72 Tahun 2009 tentang Tata
cara pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilukada di TPS
5. Peraturan KPU No. 14 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 69 Tahun 2009 tentang
Pedoman Teknis Kampanye Pada Pemilukada
6. Peraturan KPU No. 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Teknis Tata cara pencalonan pada Pemilukada
7. Peraturan KPU No. 12 Tahun 2010 tentang Tata cara Pemutakhiran Data dan Daftar Pemilih pada Pemilukada
8. Peraturan KPU No. 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Sosialisasi Pemilukada
9. Peraturan KPU No. 10 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan KPU No. 63 Tahun 2009 tentang
Penyusunan Tata Kerja KPU Provinsi, KPU Kabupaten, PPK, PPS, dan KPPS pada Pemilukada
10. Peraturan KPU No. 09 Tahun 2010 tentang Pedoman Peyusunan Program, Tahapan, dan Jadwal
Penyelenggaraan Pemilukada
11. Peraturan KPU No. 07 Tahun 2010 tentang Pedoman Audit Pasangan Calon pada Pemilukada

PERATURAN BAWASLU

1. Peraturan Bawaslu No. 06 Tahun 2012 tentang Pengawasan Pemungutuan dan Penghitungan Suara di TPS
pada Pemilukada
2. Peraturan Bawaslu No. 05 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Perbawaslu No. 23 Tahun 2009 tentang
Pengawasan Kampanye Pemilukada
3. Peraturan Bawaslu No. 04 Tahun 2012 tentang Pengawasan Dana Kampanye Pemilukada
4. Peraturan Bawaslu No. 03 Tahun 2012 tentang Pengawasan Tahapan Pencalonan pada Pemilukada Lampiran
5. Peraturan Bawaslu No. 02 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pelaporan dan Penanganan Pelanggaran pada
Pemilukada Lampiran
6. Peraturan Bawaslu No. 01 Tahun 2012 tentang Pengawasan Pemilukada
Peraturan Bawaslu No. 04 Tahun 2011 tentang Tata cara pengangkatan Anggota Panwaslu Provinsi, Kabupaten,
Kecamatan, dan PPL Desa
Badan Pengawas Pemilihan Umum (disingkat Bawaslu) adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bertugas
mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bawaslu diatur
dalam bab IV Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Jumlah anggota
Bawaslu sebanyak 5 (lima) orang. Keanggotaan Bawaslu terdiri atas kalangan professional yang mempunyai
kemampuan dalam melakukan pengawasan dan tidak menjadi anggota partai politik. Dalam melaksanakan
tugasnya anggota Bawaslu didukung oleh Sekretariat Jenderal Badan Pengawas Pemilihan Umum.

Sejarah

Dalam sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia, istilah pengawasan pemilu sebenarnya baru muncul pada era
1980-an. Pada pelaksanaan Pemilu yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia pada 1955 belum dikenal istilah
pengawasan Pemilu. Pada era tersebut terbangun trust di seluruh peserta dan warga negara tentang
penyelenggaraan Pemilu yang dimaksudkan untuk membentuk lembaga parlemen yang saat itu disebut sebagai
Konstituante.

Walaupun pertentangan ideologi pada saat itu cukup kuat, tetapi dapat dikatakan sangat minim terjadi
kecurangan dalam pelaksanaan tahapan, kalaupun ada gesekan terjadi di luar wilayah pelaksanaan Pemilu.
Gesekan yang muncul merupakan konsekuensi logis pertarungan ideologi pada saat itu. Hingga saat ini masih
muncul keyakinan bahwa Pemilu 1955 merupakan Pemilu di Indonesia yang paling ideal.

Kelembagaan Pengawas Pemilu baru muncul pada pelaksanaan Pemilu 1982, dengan nama Panitia Pengawas
Pelaksanaan Pemilu (Panwaslak Pemilu). Pada saat itu sudah mulai muncul distrust terhadap pelaksanaan Pemilu
yang mulai dikooptasi oleh kekuatan rezim penguasa. Pembentukan Panwaslak Pemilu pada Pemilu 1982 dilatari
oleh protes-protes atas banyaknya pelanggaran dan manipulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh para
petugas pemilu pada Pemilu 1971. Karena palanggaran dan kecurangan pemilu yang terjadi pada Pemilu 1977
jauh lebih masif. Protes-protes ini lantas direspon pemerintah dan DPR yang didominasi Golkar dan ABRI.
Akhirnya muncullah gagasan memperbaiki undang-undang yang bertujuan meningkatkan 'kualitas' Pemilu 1982.
Demi memenuhi tuntutan PPP dan PDI, pemerintah setuju untuk menempatkan wakil peserta pemilu ke dalam
kepanitiaan pemilu. Selain itu, pemerintah juga mengintroduksi adanya badan baru yang akan terlibat dalam
urusan pemilu untuk mendampingi Lembaga Pemilihan Umum (LPU).

Pada era reformasi, tuntutan pembentukan penyelenggara Pemilu yang bersifat mandiri dan bebas dari kooptasi
penguasa semakin menguat. Untuk itulah dibentuk sebuah lembaga penyelenggara Pemilu yang bersifat
independen yang diberi nama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisasi campur
tangan penguasa dalam pelaksanaan Pemilu mengingat penyelenggara Pemilu sebelumnya, yakni LPU,
merupakan bagian dari Kementerian Dalam Negeri (sebelumnya Departemen Dalam Negeri). Di sisi lain lembaga
pengawas pemilu juga berubah nomenklatur dari Panwaslak Pemilu menjadi Panitia Pengawas Pemilu
(Panwaslu).

Perubahan mendasar terkait dengan kelembagaan Pengawas Pemilu baru dilakukan melalui Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 2003. Menurut UU ini dalam pelaksanaan pengawasan Pemilu dibentuk sebuah lembaga adhoc
terlepas dari struktur KPU yang terdiri dari Panitia Pengawas Pemilu, Panitia Pengawas Pemilu Provinsi, Panitia
Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, dan Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan. Selanjutnya kelembagaan
pengawas Pemilu dikuatkan melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu
dengan dibentuknya sebuah lembaga tetap yang dinamakan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Adapun aparatur
Bawaslu dalam pelaksanaan pengawasan berada sampai dengan tingkat kelurahan/desa dengan urutan Panitia
Pengawas Pemilu Provinsi, Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota, Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan, dan
Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) di tingkat kelurahan/desa. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2007, sebagian kewenangan dalam pembentukan Pengawas Pemilu merupakan kewenangan dari KPU.
Namun selanjutnya berdasarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi terhadap judicial review yang dilakukan oleh
Bawaslu terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, rekrutmen pengawas Pemilu sepenuhnya menjadi
kewenangan dari Bawaslu. Kewenangan utama dari Pengawas Pemilu menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun
2007 adalah untuk mengawasi pelaksanaan tahapan pemilu, menerima pengaduan, serta menangani kasus-kasus
pelanggaran administrasi, pelanggaran pidana pemilu, serta kode etik.

Dinamika kelembagaan pengawas Pemilu ternyata masih berjalan dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Secara kelembagaan pengawas Pemilu dikuatkan kembali dengan
dibentuknya lembaga tetap Pengawas Pemilu di tingkat provinsi dengan nama Badan Pengawas Pemilu Provinsi
(Bawaslu Provinsi). Selain itu pada bagian kesekretariatan Bawaslu juga didukung oleh unit kesekretariatan
eselon I dengan nomenklatur Sekretariat Jenderal Bawaslu. Selain itu pada konteks kewenangan, selain
kewenangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, Bawaslu berdasarkan Undang-
Undang Nomor 15 Tahun 2011 juga memiliki kewenangan untuk menangani sengketa Pemilu. [1]

Anggota

Keanggotaan Bawaslu terdiri atas individu yang memiliki kemampuan pengawasan penyelenggaraan Pemilu.
Anggota Bawaslu berjumlah 5 (lima) orang terdiri atas seorang ketua merangkap anggota dan anggota. Ketua
Bawaslu dipilih dari dan oleh anggota Bawaslu. Masa keanggotaan Bawaslu adalah 5 (lima) tahun terhitung sejak
pengucapan sumpah/janji.

Daftar anggota periode 2008 - 2012

1. Ketua: Bambang Eka Cahya Widodo, S.IP, M.Si


2. Wahidah Suaib, S.Ag, M.Si
3. Nur Hidayat Sardini, S.Sos, M.Si
4. SF. Agustiani Tio Fridelina Sitorus, SE
5. Wirdyaningsih SH. MH

Daftar anggota periode 2012 - 2017

Berikut ini merupakan daftar 5 anggota Bawaslu yang telah dilantik bersama 7 anggota KPU oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pada Kamis, 12 April 2012:[2][3][4]

1. Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si., Dosen Ilmu Politik. (Ketua)


2. Nasrullah, S.H., Anggota KPU Provinsi.
3. Endang Wihdatiningtyas, S.H., mantan Anggota Panwaslu Provinsi.
4. Daniel Zuchron, Pegiat Pemilu.
5. Ir. Nelson Simanjuntak, Anggota Tim Asistensi Bawaslu.

Daftar anggota periode 2017 - 2022

Berikut ini merupakan daftar 5 anggota Bawaslu yang telah disahkan DPR, pada Kamis, 6 April 2017.

1. Ratna Dewi Pettalolo


2. Mochammad Afifuddin
3. Rahmat Bagja
4. Abhan
5. Fritz Edward Siregar

Tugas, Wewenang, dan Kewajiban

Tugas, wewenang, dan kewajiban Bawaslu Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011[5] adalah:

1. Bawaslu menyusun standar tata laksana kerja pengawasan tahapan penyelenggaraan Pemilu sebagai
pedoman kerja bagi pengawas Pemilu di setiap tingkatan.
2. Bawaslu bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu dalam rangka pencegahan dan penindakan
pelanggaran untuk terwujudnya Pemilu yang demokratis yang meliputi:
o mengawasi persiapan penyelenggaraan Pemilu yang terdiri atas:
1. perencanaan dan penetapan jadwal tahapan Pemilu;
2. perencanaan pengadaan logistik oleh KPU;
3. pelaksanaan penetapan daerah pemilihan dan jumlah kursi pada setiap daerah pemilihan
untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota oleh KPU sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
4. sosialisasi penyelenggaraan Pemilu; dan
5. pelaksanaan tugas pengawasan lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
undangan.
o mengawasi pelaksanaan tahapan penyelenggaraan Pemilu yang terdiri atas:
1. pemutakhiran data pemilih dan penetapan daftar pemilih sementara serta daftar pemilih
tetap;
2. penetapan peserta Pemilu;
3. proses pencalonan sampai dengan penetapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, pasangan calon presiden dan
wakil presiden, dan calon gubernur, bupati, dan walikota sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
4. pelaksanaan kampanye;
5. pengadaan logistik Pemilu dan pendistribusiannya;
6. pelaksanaan pemungutan suara dan penghitungan suara hasil Pemilu di TPS;
7. pergerakan surat suara, berita acara penghitungan suara, dan sertifikat hasil
penghitungan suara dari tingkat TPS sampai ke PPK;
8. pergerakan surat tabulasi penghitungan suara dari tingkat TPS sampai ke KPU
Kabupaten/Kota;
9. proses rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara di PPS, PPK, KPU
Kabupaten/Kota, KPU Provinsi, dan KPU;
10. pelaksanaan penghitungan dan pemungutan suara ulang, Pemilu lanjutan, dan Pemilu
susulan;
11. pelaksanaan putusan pengadilan terkait dengan Pemilu;
12. pelaksanaan putusan DKPP; dan
13. proses penetapan hasil Pemilu.
o mengelola, memelihara, dan merawat arsip/dokumen serta melaksanakan penyusutannya
berdasarkan jadwal retensi arsip yang disusun oleh Bawaslu dan ANRI;
o memantau atas pelaksanaan tindak lanjut penanganan pelanggaran pidana Pemilu oleh instansi
yang berwenang; e. mengawasi atas pelaksanaan putusan pelanggaran Pemilu;
o evaluasi pengawasan Pemilu;
o menyusun laporan hasil pengawasan penyelenggaraan Pemilu; dan
o melaksanakan tugas lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Dalam melaksanakan tugas, Bawaslu berwenang:
o menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
undangan mengenai Pemilu;
o menerima laporan adanya dugaan pelanggaran administrasi Pemilu dan mengkaji laporan dan
temuan, serta merekomendasikannya kepada yang berwenang;
o menyelesaikan sengketa Pemilu;
o membentuk Bawaslu Provinsi;
o mengangkat dan memberhentikan anggota Bawaslu Provinsi; dan
o melaksanakan wewenang lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Bawaslu berkewajiban:
o bersikap tidak diskriminatif dalam menjalankan tugas dan wewenangnya;
o melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas Pengawas Pemilu pada
semua tingkatan;
o menerima dan menindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran
terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai Pemilu;
o menyampaikan laporan hasil pengawasan kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan KPU
sesuai dengan tahapan Pemilu secara periodik dan/atau berdasarkan kebutuhan; dan
o melaksanakan kewajiban lain yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.

Sekretariat Jenderal

Sekretariat Jenderal Bawaslu dibentuk guna mendukung kelancaran tugas dan wewenang Bawaslu. Sekretariat
Jenderal Bawaslu berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Ketua Bawaslu. Sekretariat Jenderal Bawaslu
dipimpin oleh Sekretaris Jenderal. Sekretariat Jenderal Bawaslu mempunyai tugas memberikan dukungan
administratif dan teknis operasional kepada Bawaslu.
Badan Pengawas Pemilu Provinsi

Badan Pengawas Pemilu Provinsi, disingkat Bawaslu Provinsi, adalah badan yang dibentuk oleh Bawaslu yang
bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di wilayah provinsi. Bawaslu Provinsi berkedudukan di ibu kota
provinsi. Anggota Bawaslu Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Bawaslu.

Anda mungkin juga menyukai