Anda di halaman 1dari 15

Sejarah Pertumbuhan Koperasi, Perkembangan Koperasi Dan Perjuangan

Koperasi Sejak Zaman Penjajahan Sampai Sekarang

NAMA ANGGOTA
KELAS G AKUNTANSI

1. I Made Merta Yasa (02/1902622010360)


2. I Wayan Yoga Pratama Putra (30/1902622010388)

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PRODI AKUNTANSI
TAHUN 2020/2021
1.1. Timbulnya Cita-Cita Kerajaan Dalam Pembentukan Koperasi

Sistem ekonomi liberal mulai dilaksanakan di Hindia Belanda (nama Indonesia ketika masih
dijajah Belanda) setelah pemerintah kolonial Belanda menghentikan pelaksanaan “Cultuur
Stelseel” (sistem tanam paksa). Sejak saat ini para penanam modal/usahawan Belanda berlomba
menginvestasikan dananya ke Hindia Belanda. Bidang-bidang yang menarik bagi mereka untuk
dikembangkan seperti perkebunan, perdagangan dan transportasi dan lain-lain.

Dari sinilah praktik penindasan, pemerasan dan pemerkosaan hak tanpa prikemanusiaan
makin berlangsung ganas, sehingga kemudian kehidupan sebagian besar rakyat di bawah batas
kelayakan hidup. Beberapa tahun kemudian investasi besar-besaran yang dilakukan investor
Belanda itu membawa keuntungan yang melimpah bagi mereka. Antara tahun 1867 hingga tahun
1877 mereka berhasil membawa pulang ke negeri Kincir Angin itu sebanyak kurang lebih 15 juta
Gulden. Akan tetapi apa yang diperoleh bangsa Hindia Belanda, adalah tidak lain kemelaratan
yang meraja lela atas kehidupan rakyat dimana-mana. Dalam keadaan hidup demikian, pihak
kolonial terus-menerus mengintimidasi penduduk pribumi sehingga kondisi sebagian besar rakyat
sangat memprihatinkan. Disamping itu para rentenir, pengijon dan lintah darat turut pula
memperkeruh suasana. Mereka berlomba mencari keuntungan yang besar dari para petani yang
sedang menghadapi kesulitan hidup, sehingga tidak jarang terpaksa melepaskan tanah miliknya
sehubungan dengan ketidakmampuan mereka mengembalikan hutang-hutangnya yang
membengkak akibat sistem bunga berbunga yang diterapkan pengijon.

E. Sieburgh (pejabat tertinggi/kepala daerah di Purwokerto) dan De Wolf van Westerrede


(pengganti Sieburgh) merupakan orang Belanda yang banyak kaitannya dengan perintisan
koperasi yang pertama-tama di tanah air kita, yaitu di Purwokerto.
Masalahnya di dahului oleh Raden Aria Wirjaatmadja (patih purwokerto) sebagai seorang yang
rasa sosialnya tebal. Dengan mendapat bantuan moril atau dorongan-dorongan dari E. Sieburgh
pada tahun 1891 didirikan Bank penolong dan Penyimpanan di Purwokerto, yang maksud
utamanya membebaskan para pegawai dari segala tekanan utang. Pada tahun 1898 E. sieburgh
digantikan oleh De Wolf van Westerrede yang mengharapkan terbentuknya koperasi simpan
pinjam untuk para petani. Langkah pertama yang dlakukan yaitu memperluas bidang kerja Bank
Penolong dan penyimpanan sehingga meliputi pula pertolongan bagi para petani di daerahnya.
Untuk menyerasikan nama dan tugasnya, bank tersebut mendapatkan perubahan nama menjadi
Purwokerto Hulp Spaar En Landbouwcrediet atau bank penolong, penyimpanan dan kredit
pertanian, yang dapat dikatakan sebagai pelopor berdirinya bank rakyat di kemudian hari. Menurut
De Wolf van Westerrede kebiasaaan-kebiasaan yang telah mendarah daging pada para petani
Indonesia (gotong royong, kerja sama) merupakan dasar yang paling baik untuk berdirinya dengan
subur koperasi kredit yang menjadi cita-citanya. Cita-cita De Wolf sebagai lanjutan dari perintisan
pembentukan koperasi kredit oleh R. Aria Atmadja, untuk mendirikan koperasi kredit model
Raiffeisen memang belum dapat terwujud, akan tetapi sedikit banyak usahanya telah tampak pada
bank-bank desa, lumbung-lumbung desa dan rumah-rumah gadai yang sempat didirikannya di
tanah air kita, yang kesemuanya memang mengembangkan usaha pemberian kredit kepada para
petani dan kaum ekonomi lemah bangsa kita. Selain dari kegiatan lumbung, bank desa dan bank
rakyat yang menyalurkan pinjaman-pinjaman bentuk padi dan uang kepada petani dan mereka
yang ekonomi lemah, aktivitas penerangan tentang perlunya pembentukan koperasi kepada para
petani dilakukan oleh Departemen Pertanian atau Departemen Pertanian-Kerajinan dan
Perdagangan, mulai tahun 1935 dilakukan oleh Departemen Perekonomian. Belum terbentuknya
koperasi pada waktu itu, sebab yang utama karena pemerintahan kolonial Belanda tidak
sungguhsungguh memperhatikan, politik pemerintahan kolonial masih memikirkan akibat
persatuan rakyat Indonesia yang terbentuk melalui koperasi.

1.2 Perjuangan Pembentukan Koperasi Zaman Penjajahan

A. Zaman penjajahan Belanda


Perkenalan bangsa Indonesia dengan koperasi dimulai pada penghujung abad ke-19,
tepatnya tahun 1895. R. Aria Wiriaatmaja seorang patih di Purwokerto sebagai pelopor
berdirinya sebuah bank yang bertujuan menolong para pegawai agar tidak terjerat oleh lintah
darat. Usaha ini mendapat persetujuan dari Residen Purwokerto E. Sieburg dengan nama
koperasinya Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Pelayanan bank ini masih
terbatas pada kalangan pamong praja. Namun pada tahun 1898 atas bantuan E. Sieburg dan De
Wolff Van Westerrode diperluas ke sektor pertanian (Hulp- Spaar en Lanbouwcrediet Bank)
dengan meniru koperasi pertanian di Jerman (Raiffeisen). Tahun 1908, Boedi Oetomo turut
serta mengembangkan koperasi di Indonesia dengan spesialisasi koperasi konsumsi untuk
tujuan meningkatkan kecerdasan rakyat dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia.

Undang-undang yang mengatur koperasi baru keluar sekitar tahun 1915, yaitu pada tanggal
7 April 1915. Undang-undang ini bersifat keras dan membatasi gerak koperasi bahkan
beberapa isinya terkesan dibuat untuk mematikan koperasi. Ini menyebabkan
organisasiorganisasi politik dan ekonomi sulit berkembang. Pada tahun 1927, undang-undang
koperasi dan peraturan koperasi Anak Negeri diperbaiki lagi. Perubahan ini menjadikan
koperasi lebih fleksibel dan menimbulkan semangat untuk memperjuangkan koperasi kembali
berkibar. Namun peraturan koperasi No. 108/1933 yang lahir di tahun 1933 kembali dibuat
untuk membatasi gerak koperasi karena Belanda jengah melihat perkembangan koperasi yang
kian pesat.

B. Zaman Penjajahan Jepang


Pada zaman penjajahan Jepang, kurva perkembangan koperasi Indonesia menurun drastis,
bahkan hampir mendekati titik kemusnahan. Hal ini disebabkan Jepang mendirikan koperasi
yang disebut KUMIAI. KUMIAI adalah koperasi ala Jepang yang diatur menurut tata cara
militer Jepang dan undang-undang No.23 tahun 1942. Pada bulam Maret 1942 Jepang merebut
kendali kekuasaan di Indoensia dari tangan Belanda.Tahun 1942-1945 koperasi Indonesia
disesuaikan dengan sistem kemiliteran Jepang. Koperasi di batasi hanya untuk kepentingan
perang Asia Timur Raya. Sesuai dengan Peraturan Kemiliteran Jepang No. 23 pasal 2, setai
koperasi harus mendapatkan persetujuan ulang dari Suchokan,karena peraturan pada Zaman
Belanda tidak berlaku lagi.Model koperasi yang dikembangkan oleh Jepang dengan sebutan
Kumiai yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan perang Asia Timur Raya.Jepang
melakukan porpaganda bahwa keberadaan Kumiai adalah untuk mensejahterahkan
masyarakat, sehingga mendapat simpati yang cukup luas dari masyarakat.Keberadaan Kumiai
sangat bertentangan dengan kepentingan ekonomi masyarakat, kemudian menetapkan
kebijakan pemisahan antara urusan perkoperasian dengan urusan perekonomian.Dengan
kebijakan tersebut pembinanan koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi masyarakat
terabaikan sama sekali.Fungsi koperasi dalam priode ini hanya sebagai alat untuk
mendistribusikan bahan-bahan kebutuhan pokok untuk kepentingan perang Jepang bukan
untuk kepentingan rakyat Indonesia. Kenyataan ini yang telah menyebabkan semangat
koperasi di dalam masyarakat Indonesia melemah.

C. Masa Kemerdekaan
Setelah bangsa Indonesia merdeka, pemerintah dan seluruh rakyat segera menata kembali
kehidupan ekonomi. Sesuai dengan tuntutan UUD 1945 pasal 33, perekonomian Indonesia
harus didasrkan pada asas kekeluargaan. Dengan demikian, kehadiran dan peranan koperasi di
dalam perekonomian nasional Indonesia telah mempunyai dasar konstitusi yang kuat. Di masa
kemerdekaan, koperasi bukan lagi sebagai reaksi atas penderitaan akibat penjajahan, koperasi
menjadi usaha bersama untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup yang didasarkan
pada asas kekeluargaan. Hal ini sangat sesuai dengan cirri khas bangsa Indonesia, yaitu gotong
royong. Pada awal kemerdekaan, koperasi berfungsi untuk mendistribusikan keperluan
masyarakat sehari-hari di bawah Jawatan Koperasi, Kementerian Kemakmuran. Pada tahun
1946, berdasarkan hasil pendaftaran secara sukarela yang dilakukan Jawatan Koperasi terdapat
sebanyak 2.500 buah koperasi. Koperasi pada saat itu dapat berkembang secara pesat. Namun
karena sistem pemerintahan yang berubah-ubah maka terjadi titik kehancuran koperasi
Indonesia menjelang pemberontakan G30S / PKI. Partai-partai memenfaatkan koperasi untuk
kepentingan partainya, bahkan ada yang menjadikan koperasi sebagai alat pemerasan rakyat
untuk memperkaya diri sendiri, yang dapat merugikan koperasi sehingga masyarakat
kehilangan kepercayaannya dan takut menjadi anggota koperasi. Pembangunan baru dapat
dilaksanakan setelah pemerintah berhasil menumpas pemberontakan G30S / PKI. Pemerintah
bertekad untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Kehadiran dan peranan koperasi dalam perekonomian nasional merupakan pelaksanaan amanat
penderitaan rakyat. Masa pasca kemerdekaan memang dapat dikatakan berkembang tetapi pada
masa itu membuat perkembangan koperasi berjalan lambat. Namun keadaannya sperti itu,
pemerintah pada atahun 1947 berhasil melangsungkan Kongres Koperasi I di Tasikmalaya,
Jawa Barat.

Kongres Koperasi I menghasilkan beberapa keputusan penting, antara lain :

1. Mendirikan Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI)


2. Menetapkan Gotong Royong Sebagai Asas Koperasi
3. Menetapkan Pada Tanggal 12 Juli Sebagai Hari Koperasi
Akibat tekanan dari berbagai pihak misalnya Agresi Belanda, keputusan Kongres
Koperasi I belum dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Namun, pada tanggal 12 Juli
1953, diadakanlah Kongres Koperasi II di Bandung, yang antara lain mengambil putusan
sebagai berikut :

1. Membentuk Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sebagai pengganti SOKRI


2. Menetapkan pendidikan koperasi sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah
3. Mengangkat Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia
4. Segera akan dibuat undang-undang koperasi yang baru

Hambatan-hambatan bagi pertumbuhan koperasi antara lain disebabkan oleh hal-hal


berikut :

1. Kesadaran masyarakat terhadap koperasi yang masih sangat rendah


2. Pengalaman masa lampau mengakibtakan masyarakat tetap merasa curiga terhadap
koperasi
3. Pengetahuan masyarakat mengenai koperasi masih sangat rendah

Untuk melaksanakan program perkoperasian pemerintah mengadakan kebijakan antara


lain :

1. menggiatkan pembangunan organisasi perekonomian rakyat terutama koperasi


2. memperluas pendidikan dan penerangan koperasi
3. memberikan kredit kepada kaum produsen, baik di lapangan industri maupun
pertanian yang bermodal kecil

Organisasi perekonomian rakyat terutama koperasi sangat perlu diperbaiki. Para


pengusaha dan petani ekononmi lemah sering kali menjadi hisapan kaum tengkulak dan
lintah darat. Cara membantu mereka adalah denagn mendirikan dan mengadakan
penyuluhan secara mendalam mengenai koperasi di kalangan mereka. Dengan demikian
pemerintah dapat menyalurkan bantuan berupa kredit melalui koperasi tersebut. Untuk
menanamkan pengertian dan fungsi koperasi di kalangan masyarakat diadakan penerangan
dan pendidikan kader-kader koperasi. Namun yang di sayangkan pada kenyataanya
perkembangan koperasi hingga saat ini cenderung jalan ditempat.

1.3 Pertumbuhan Dan Perkembangan Koperasi Kurun Waktu Mempertahankan


Kemerdekaan (1945- 1949)
Kemerdekaan bangsa Indonesia yang direbut dan diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus
1945 benar-benar hendak dirampas kembali oleh kolonial Belanda dengan bantuan serdaduserdadu
Inggris yang tergabung dalam Pasukan Sekutu. Dalam suasana perang, Pemerintah Republik
Indonesia dapat membenahi diri sehingga seluruh tugas-tugas pemerintah dapat berjalan
sebagimana mestinya, termasuk juga tugas-tugas yang diemban Jawatan Koperasi.
Tentang perkoperasian telah dicantumkan pada pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang
berlaku secara resmi sejak 18 Agustus 1945. Pasal tersebut terutama ayat (1) menjamin
berlangsungnya perkoperasian di negara kita dengan memainkan peranan yang penting dalam
mengembangkan perekonomian rakyat Indonesia.
Semangat kekeluargaan, kegotongroyongan untuk mencapai masyarakat dapat meningkatkan
taraf hidupnya telah mendorong lahirnya berbagai jenis koperasi dengan pesat. Koperasi pada
waktu ini merupakan alat perjuangan di bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Pergerakan koperasi di daerah Republik Indonesia telah berhasil mewujudkan tiga kegiataannya
yang penting yang selalu akan tercatat dalam sejarah pergerakan koperasi di negara kita, yaitu :
1. Koperasi Desa
Gagasan tentang perlunya dibentuk Koperasi Desa di daerah-daerah pedesaan dapat disebut
sebagai cikal-bakal terbentuk Koperasi Unit Desa. Sebenarnya pemula gagasan ini adalah Sir
Horace Plunkett (Inggris) yang berhasil dikembangkan di India, terkenal dengan “Multy
Purpose Cooperative”. Perlu diketahui bahwa Sir Horace Plunkett berpendapat, “Dengan
Koperasi Desa akan tercapai pertanian yang lebih baik, usaha perdagangan yang lebih baik dan
kehidupan yang lebih baik” (Better farming, better business and better living).
2. Koperasi adalah alat Pembangunan ekonomi
Pada 11 Juli sampai 14 Juli 1947, gerakan Koperasi Indonesia dalam alam kemerdekaan telah
menyelenggarakan kongresnya yang pertama dengan bertempat di Tasikmalaya.
Keputusankeputusan yang didapat dalam kongres itu ialah :
• Terwujudnya kesepakatan untuk mendirikan SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Rakyat
Indonesia)
• Ditetapkannya azas Koperasi Indonesia “berdasar atas kekeluargaan dan gotongroyong”
• Ditetapkannya tanggal 12 Juli sebagai “Hari Koperasi Indonesia”
• Diperluasnya pengertian dan pendidikan tentang perkoperasian, agar para anggotanya
dapat lebih loyal terhadap koperasinya.

3. Peraturan Koperasi Tahun 1949, nomor 179


Menjelang dilakukannya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949,
Undangundang/Peraturan Koperasi Tahun 1927, Stbl. No. 91 telah ditinjau kembali, ternyata
banyak diantara ketentuannya yang kurang cocok dengan kepribadian bangsan Indonesia,
karena itu diadakan Peraturan Koperasi yang bary, yaitu Peraturan Koperasi Tahun 1949
nomor 179
1.4 Pertumbuhan dan perkembangan koperasi kurun waktu (1950-1965)
Pada tanggal 17 Agustus 1950 Negara Republik Indonesia Serikat resmi dibubarkan dan
diganti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seiring dengan disatukannya kembali
Negara-negara bagian ke dalam wadah kesatuan RI, jawatan-jawatan koperasi di Negara-negara
bagian tersebut dibubarkan pula dan selanjutnya digabungkan dalam satu bentuk organisasi
jawatan koperasi yang bernaung dalam Negara RI, segala sesuatunya diseragamkan dan
disesuaikan dengan semangat dan nilai-nilai perjuangan 1945, semangat Pancasila dan semangat
UUD 1945. Pada kurun waktu tesebut, sementara koperasi tengah mengadakan penyempurnaan di
dalam, situasi dalam negeri berubah di mana persatuan dan kekeluargaan antara sesama rakyat
Indonesia secara lambat tengah dibawa kearah keretakan yang dikarenakan sistem liberalisme.
Sistem ini sangat mengabaikan cara-cara musyawarah dan mufakat, merusak terjalinnya persatuan
antara sesama warga Negara, liberalisme menimbulkan pengkotak-kotakan dalam masyarakat
yang masing-masing menggunakan cara mutlak-mutlakan dalam mewujudkan segala sesuatu yang
menjadi cita-citanya. Jadi liberalisme sangat bertentangan dengan gotong royong dan
kekeluargaan yang menjadi kepribadian bangsa kita. Liberalisme, tekanan dan pengaruhnya terasa
sekali terhadap perkeporasian, antara lain:
a. Sering terjadi pergantian kabinet, dengan sendirinya garis kebijakan dan programprogram
kementrian yang menangani urusan koperai pun selalu berubah-ubah.
b. Keanggotaan koperasi yang tidak mengenal perbedaan golongan, aliran, suku, agama
menjadi terpengaruh oleh tindakan para pemimpin gerakan-gerakan politik.
Kemajuan-kemajuan yang dicapai koperasi dalam kurun waktu 1950-1958 yaitu: kemajuan
dalam bidang pendidikan koperasi (peningkatan refreshing courses bagi para karyawan jawatan
koperasi dan pergerakan koperasi, petugas-petugas melakukan pendidikan di luar negeri) serta
perkembangan fisik koperasi (baik secara kuantitas dan kualitas). Akibat liberalisme yang akarnya
makin hari makin kuat, sehingga Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit (5 Juli 1959) untuk
kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Ini mendapatkan sambutan yang hangat dari rakyat
Indonesia karena sejalan dengan kepribadian bangsa, yang mana Pancasila merupakan dasar dari
segala ketentuan yang terdapat dalam UUD 1945. Musyawarah dan mufakat akan diutamakan
kembali sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terjamin degan baik. Tetapi sangat disayangkan
demokrasi terpimpin dan ekonomi terpimpin yang seharusnya terpimpin oleh Pancasila,
pengertiannya berubah menjadi terpimpin oleh garis-garis pemikiran pribadi Bung Karno, yang
mengakibatkan diktatorisme ataupun otokrasi. Khusus bagi gerakan koperasi hal ini berarti
penyelewengan yang jauh dari jiwa koperasi, urusan intern perkumpulan koperasi semakin banyak
dicampuri pemerintah, kebebasan koperasi untuk mengambil keputusan menjadi sangat terbatas.
Kongres Koperasi II
Terdapat beberapa sebab yang mendorong diadakannya Kongres Koperasi II, antara lain:
a. SOKRI yang merupakan hasil Kongres Koperasi I tidak mampu melaksanakan fungsinya
dengan baik. Sehingga tidak terwujud kesatuan pandangan tentang bentuk organisasi, dasar
atau tujuan koperasi.
b. Adanya anggapan oleh sementara kalangan gerakan koperasi bahwa peraturan
perkoperasian yang ada sudah tidak relevan lagi. Peraturan perkoperasian dimaksud adalah
Undang-undang No. 179/1949 yang dianggap tidak sesuai lagi dengan alam kemerdekaan.
Oleh karena itu gerakan koperasi sepakat mengadakan Kongres Koperasi. Pada tanggal 15 – 17
Juli 1953 terwujudlah pelaksanaan Kongres Besar Koperasi Seluruh Indonesia II di Bandung.
Kongres dihadiri sekitar 2000 orang utusan yang datang mewakili 83 pusat-pusat koperasi dari
seluruh Indonesia. Akan tetapi di antara utusan-utusan itu ada pula yang hanya mewakili organisasi
koperasi yang masih berbentuk panitia. Di dalam kongres itu beberapa orang Pejabat Pemerintah
dan para tokoh gerakan koperasi turut aktif memberikan prasaran mereka, antara lain:
a. Prof. Dr. Sumitro Djojohardikusumo (Menteri Perekonomian) tentang “Fungsi Koperasi
dalam proses pengembangan ekonomi”.
b. Iskandar Tejasukmana (Menteri Perburuhan) tentang “Perumahan Rakyat”
c. R. Moh. Abiyah Hadiwinoto (GKBI) tentang “Undang-undang Koperasi”.
d. Roesli Rahim (Kepala Koperasi Pusat) tentang “Pendidikan dan Penerangan Koperasi”.
e. R.S. Soeria Atmadja (Kepala Direktorat Perekonomian Rakyat) tentang “Perluasan Tugas
Gerakan Koperasi di Indonesia”.
Berdasarkan prasaran-prasaran tersebut di atas serta pendapat para peserta Kongres, maka
Kongres Besar Koperasi Seluruh Indonesia ke II mengambil keputusan sebagai berikut:
1. Ke dalam

a. Menyetujui pokok-pokok prasaran Prof. Dr. Sumitro, Iskandar Tejasukmana, R. Moh.


Abiyah Hadiwinoto, Roesli Rahim dan R.S. Soeria Atmaja.
b. Mendirikan sebuah badan pemusatan pimpinan koperasi untuk seluruh Indonesia yang
dinamakan “Dewan Koperasi Indonesia”.
c. Mewajibkan “Dewan Koperasi Indonesia” membentuk sebuah lembaga pendidikan
koperasi untuk mendidik para anggota, pemimpin, pegawai koperasi serta mendirikan
sekolah menengah koperasi di tiap-tiap propinsi.
d. Mengeluarkan harian, majalah, brosur, buku pelajaran koperasi.
e. Membentuk sebuah panitia yang akan memberi saran-saran kepada pemerintah mengenai
Undang-undang Koperasi.
f. Mengusahakan kemudahan pemberian badan hukum.
g. Mengangkat Bung Hatta (Drs. H. Moh. Hatta) sebagai Bapak Koperasi Indonesia
h. Memilih Dewan Pimpinan Koperasi Republik Indonesia.

2. Ke luar
a. Mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya:
• Melaksanakan perubahan dasar ekonomi dengan menggunakan koperasi sebagai
sistem dan alat utama untuk mencapai kemakmuran rakyat bersama, sesuai dengan
maksud pasal 38 UUD Sementara RI.
• Koperasi dijadikan mata pelajaran pada sekolah lanjutan, dan menanam benih
perkoperasian pada Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar).
• Segera mengadakan undang-undang koperasi yang berdasarkan pasal 38
UndangUndang Dasar Sementara Republik Indonesia.
• Menambah anggaran belanja negara bagi kemakmuran rakyat terutama di luar Pulau
Jawa/Madura.
• Menyempurnakan susunan Jawatan Koperasi.
• Rencana pembangunan rumah rakyat diundangkan serta menunjuk Gerakan Koperasi
sebagai penyelenggaraan pembangunan rumah-rumah rakyat.
• Penyelenggaraan pembelian padi hanya diserahkan kepada organisasi koperasi.

b. Menganjurkan kepada guru-guru supaya di sekolahnya masing-masing mendidik


muridmurid menabung secara teratur.

A. Peraturan Pemerintah (PP) no. 60 tahun1959

Merupakan peraturan peralihan sebelum dicabutnya UU koperasi tahun 1958 no 79.


untuk merumuskan pola perkoperasian sehubungan dengan PP no. 60 tahun 1959, yang
menetapkan antara lain:

• Koperasi berfungsi sebagai alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin.


• Menjadikan Manipol sebagai landasan Idiil koperasi.
Maka pada tanggal 25-28 mei 1960 di Jakarta telah diadakan musyawarah kerja
koperasi yang telah diputuskan beberapa diktum yang berciri pada pola pikir Bung Karno
yaitu:
• Menjadikan manipol USDEK sebagai landasan idiil koperasi,sehingga segala
tindakan koperasi mengikuti garis yang dikehendaki Bung Karno.
• Pelaksanaan ekonomi terpimpin merupakan fungsi koperasi yang berarti
perkoperasian dikuasai secara ketat oleh pemerintahan.
B. Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1960

Sehubungan dengan instruksi Presiden ini, untuk mempercepat perkembangan koperasi,


telah dibentuk BAPENGKOP (Badan Penggerak Koperasi) beranggotakan petugas
pemerintahan. Pemerintah menjadikannnya sebagai penyalur bahan-bahan pokok dengan
harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar, akan tetapi hal ini dapat mematikan inisiatif
koperasi, juga tidak membawa perbaikan terhadap mentalitas koperasi, dan dapat
menimbulkan penyelewengan penyelewengan dalam tubuh koperasi.

C. Instruksi presiden Nomor 3 tahun 1960

Satu-satunya yang benar-benarnya bermanfaat bagi perkembangan koperasi pada masa


itu ialah tentang peningkatan pendidikan koperasi. Kegiatan ini dapat menciptakan
insaninsan koperasi yang bermental tinggi, jujur, terampil, giat dan bergairah kerja untuk
meningkatkan usaha koperasi.
D. Musyawarah nasional koperasi ke-1 (MUNASKOP I)

Dilaksanakan di Surabaya pada tanggal 21 april 1961 dengan tujuan untuk lebih
menyempurnakan dan atau mensejalankan perkoperasian nasional dengan garis-garis
ekonomi terpimpinnya Bung Karno. Adapun Munaskop dalam sidangnya kemudian
menghasilkan beberapa keputusan, antara lain meliputi:

• Peranan Koperasi Indonesia


• Organisasi gerakan serta program koperasi Indonesia
Dewan Koperasi Indonesia yang berdiri sejak tahun 1953 dibubarkan dan diganti
dengan kesatuan Organisasi Koperasi (KOKSI). Intervensi intensif pemerintah atas
perkoperasian nasional dapat dilihat melalui susunan organisasi KOKSI yang diatur
Keputusan Presiden No.226 Tahun 1961, yaitu:
• Gubernur ditunjuk sebagai Ketua KOKSI Daerah Tingkat I. Bupati/Walikota
sebagai Ketua KOKSI Daerah Tingkat II. Mereka ini bertanggung jawab
terintegrasinya gerakan koperasi nasional terhadap kebijakan pemerintah.
• Pada tingkat pusat dibentuk Dewan Nasional dan keanggotaan Dewan Pimpinan
diatur sebagai gabungan antara unsur-unsur pemerintah, tenaga-tenaga ahli,
gerakan koperasi dan wakil Daerah Tingkat I yang diangkat pemerintah.

E. Musyawarah Nasional Koperasi ke-2 (MUNASKOP II)

Bertempat di Jakarta pada bulan Agustus 1965, ternyata MUNASKOP II lebih


menghancurkan ideologi koperasi Indonesia yang murni. Bung Karno juga mensahkan UU
koperasi nomor 14 tahun 1965 dengan pengertian koperasi “merupakan organisasi
ekonomi dan alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat pesemaian insan masyarakat serta
wahana menuju sosialisasi Indonesia berdasarkan Pancasila”. Hal ini sangat membatasi
gerak serta pelaksanaan strategi dasar perekonomian.
Munaskop II ini dalam sidangnya mengesahkan sebuah kiputusan yang cukup
kontroversial, seperti adanya sebuah pernyataan tentang Bung Karno yang ditetapkan
sebagai Bapak Koperasi, Pimpinan Tertinggi Gerakan Koperasi Indonesi, dan di samping
itu beberapa keputusan lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Haluan Gerakan Koperasi Indonesia, antara lain:
• Landasan idiil Pancasila
• Lima Azimat Revolusi Indonesia (Nasakom, Pancasila, Manipol, Trisakti
Tavip, Berdikari), Dekon dan ketetapan-ketetapan MPRS
• Amanat dan tulisan PJM Presiden/BPR Bung Karno 2. Bidang produksi, antara
lain:
• Peningkatan produksi dan mutu (menurut Manipol dan Dekon): seluruh mata
rantai produksi sudah dikuasai/diatur oleh Koperasi Produksi sebagai
organisasi produsen di bawah pengawasan/bimbingan Pemerintah.
• Pembiayaan pada prinsipnya secara swadaya dan swasembada, tapi jika perlu
juga diperoleh dari pemerintah dan swasta progresif revolusioner atas petunjuk
pejabat.

3. Bidang distribusi, antara lain:
• Soko guru revolusi (buruh, tani, nelayan, produsen)
• Angkatan Bersenjata/fungsional, pegawai negeri dan pension
• Pegawai badan/lembaga kenegaraan dan perusahaan negara
• Golongan ekonomi lemah lainnya
4. Organisasi, antara lain memuat:
• Penjenisan Koperasi Produksi, Koperasi Konsumsi dan Koperasi Jasa.
• Daerah Kerja Jasa.
• Tingkat-tingkat Organisasi.
• Alat Perlengkapan Organisasi.
• Pembinaan Organisasi.
• Pendidikan
• Hubungan dengan Orpol/Ormas.
• Gerakan Koperasi Indonesia perlu segera dibentuk dengan struktur, aktivitas
dan pimpinan yang mencerminkan kegotong-royongan nasional progresif
revolusioner berporoskan Nasakom.
• Pimpinan Gerakan Koperasi Indonesia.
• Lambang dan lagu akan segera disayembarakan.
5. Rencana kerja 4 tahun: dalam rencana kerja 4 tahun ini mencakup realisasi
Undangundang Nomor.14/1965, pasal 24 ayat 1 mengenai Gerakan Koperasi
Indonesia dan Pembubaran KOKSI, inventarisasi peningkatan pembinaan
perkumpulan koperasi sesuai Undang-undang Nomor.14/1965, meningkatkan jumlah
kader koperasi, penyebaran idiologi koperasi melalui mass media, mengadakan sensus
koperasi dan menyelenggarakan Konperensi Asia Afrika.

1.5 Perkembangan Koperasi Era Orde Baru Dan Reformasi


A. Orde Baru
Semangat Orde Baru yang dimulai titik awalnya 11 Maret 1966 segera setelah itu pada
tanggal 18 Desember 1967 telah dilahirkan Undang-Undang Koperasi yang baru yakni dikenal
dengan UU No. 12/1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian. Konsideran UU No. 12/1967
tersebut adalah sebagai berikut ;

1. Bahwa Undang-Undang No. 14 Tahun 1965 tentang Perkoperasian mengandung


pikiranpikiran yang nyata-nyata hendak :
• Menempatkan fungsi dan peranan koperasi sebagai abdi langsung daripada politik.
Sehingga mengabaikan koperasi sebagai wadah perjuangan ekonomi rakyat.
• Menyelewengkan landasan-landasan, azas-azas dan sendi-sendi dasar koperasi dari
kemurniannya.
2. Bahwa berhubung dengan itu perlu dibentuk Undang-Undang baru yang sesuai dengan
semangat dan jiwa Orde Baru sebagaimana dituangkan dalam Ketetapan-ketetapan MPRS
Sidang ke IV dan Sidang Istimewa untuk memungkinkan bagi koperasi mendapatkan
kedudukan hukum dan tempat yang semestinya sebagai wadah organisasi perjuangan
ekonomi rakyat yang berwatak sosial dan sebagai alat pendemokrasian ekonomi nasional.
3. Bahwa koperasi bersama-sama dengan sektor ekonomi Negara dan swasta bergerak di
segala kegiatan dan kehidupan ekonomi bangsa dalam rangka memampukan dirinya bagi
usaha-usaha untuk mewujudkan masyarakat Sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila
yang adil dan makmur di ridhoi Tuhan Yang Maha Esa.
4. Bahwa berhubungan dengan itu, maka Undang-Undang No. 14 tahun 1965 perlu dicabut
dan perlu mencerminkan jiwa, serta cita-cita yang terkandung dalam jelas menyatakan,
bahwa perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas
kekeluargaan dan koperasi adalah satu bangunan usaha yang sesuai dengan susunan
perekonomian yang dimaksud itu. Berdasarkan pada ketentuan itu dan untuk mencapai cita-
cita tersebut Pemerintah mempunyai kewajiban membimbing dan membina perkoperasian
Indonesia dengan sikap “ing ngarsa sung tulada, ing madya mbangun karsa, tut wuri
handayani”.

Namun perkembangan koperasi pada masa itu masih mempunyai kelemahan-kelemahan,


terutama pada bagian manajemen dan sumber daya manusia pada organisasinya karena
koperasi yang terbentuk adalah koperasi kecil yamg letaknya di pedesaan. Oleh karenanya,
untuk mengatasi kelemahan organisasi, maka sejak tahun 1972, dikembangkan penggabungan
koperasi-koperasi kecil menjadi koperasi-koperasi yang besar. Daerah-daerah di pedesaan
dibagi dalam wilayah-wilayah Unit Desa (WILUD) dan koperasi-koperasi yang yang ada
dalam wilayah unit desa tersebut digabungkan menjadi organisasi yang besar dan dinamakan
Badan Usaha Unit Desa (BUUD). Pada akhirnya koperasi-koperasi desa yang bergabung itu
dibubarkan, selanjutnya BUUD menjelma menjadi KUD (Koperasi Unit Desa). Karena secara
ekonomi menjadi besar dan kuat, maka BUUD/KUD itu mampu membiayai tenaga-tenaga
yang cakap seperti manajer, juru buku, juru mesin, juru toko dan lain-lain. Juga BUUD/KUD
itu dipercayai untuk meminjam uang dari Bank dan membeli barang-barang produksi yang
lebih modern, sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman (mesin gilingan padi, traktor, pompa
air, mesin penyemprot hama dan lain-lain). Ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang
Wilayah Unit Desa, BUUD/KUD dituangkan dalam Instruksi Presiden No.4/1973 yang
selanjutnya diperbaharui menjadi instruksi Presiden No.2/1978 dan kemudian disempurnakan
menjadi Instruksi Presiden No.4/1984.
Pemerintah di dalam mendorong perkoperasian di era Orde Bru telah menerbitkan sejumlah
kebijaksanaan-kebijaksanaan baik yang menyangkut di dalam pengembangan di bidang
kelembagaan, di bidang usaha, di bidang pembiayaan dan jaminan kredit koperasi serta
kebijaksanaan di dalam rangka penelitian dan pengembangan perkoperasian.
Sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, dalam Pelita V masih terpusatkan pada
sektor pertanian, maka prioritas pembinaan koperasi mengikuti pola tersebut dengan
memprioritaskan pembinaan 2.000 sampai dengan 4.000 KUD Mandiri tanpa mengabaikan
pembinaan-pembinaan terhadap koperasi jenis lain. Adapun tujuan pembinaan dan
pengembangan KUD Mandiri adalah untuk mewujudkan KUD yang memiliki kemampuan
manajemen koperasi yang rasional dan efektip dalam mengembangkan kegiatan ekonomi para
anggotanya berdasarkan atas kebutuhan dan keputusan para anggota KUD. Dengan
kemampuan itu KUD diharapkan dapat melaksanakan fungsi utamanya yaitu melayani para
anggotanya, seperti melayani perkreditan, penyaluran barang dan pemasaran hasil produksi.

B. Reformasi
Era Reformasi ditandai dengan berhentinya pemerintahan Orde Baru dan krisis moneter
pada tahun 1997. Krisis moneter masa ini mengakibatkan hancurnya sistem ekonomi terutama
di Indonesia. Sehingga koperasi lebih mempunyai peranan pada masa ini. Namun perlu pula
diadakan pembangunan untuk koperasi, karena inilah sumber ekonomi rakyat kecil.
Pembangunan koperasi pada masa ini diarahkan kepada:
• Pemulihan produksi dan distribusi pangan.
• Memperbesar akses kredit.
• Penataan kelembagaan.
• Redistribusi aset.
• Membangun industri berbasis sumber daya.
• Ekonomi berbasis iptek.
• Operasional dari pembangunan tersebut dibuat program pemberdayaan koperasi
dan UKM.
Pada tahun 1999 terjadi perubahan mendasar dalam pembangunan koperasi dari perubahan
Departemen Koperasi menjadi Menteri Negara Koperasi dan PKM. Perubahan ini bertujuan
untuk mengurangi peranan pemerintah dalam pembangunan koperasi yang dinilai terlalu
dominan pada masa orde baru. Tugas Menteri Negara dalam pembangunan koperasi adalah
menjadi regulator, fasilitator, stabilisator, dan dinamisator.
Dalam perjalanan kurang lebih dua tahun pembangunan Koperasi dan UKM masuk pada
masa transisi, pembinaan terhadap koperasi dianggap kurang memadai untuk mencapai visi dan
misi Menteri Negara Koperasi. Lalu pada Tahun 2001, pemerintah mendirikan Badan Sumber
daya Koperasi dan Pengusaha Kecil Menengah (BPS-KPKM). Fungsi Badan ini adalah untuk
memberdayakan UKMK khususnya pengembangan usaha, pengembangan sumber daya
manusia dan peran serta masyarakat dan pengembangan permodalan dan pengembangan
investasi usaha.
Namun pada periode tahun ini, perkembangan koperasi tidak sebaik tahun-tahun
sebelumnya. Penyebabnya antara lain:

1. Akibat adanya kebijakan otonomi daerah, terjadi pembenahan struktur organisasi


pembina di tingkat propinsi dan kabupaten. Pada propinsi tertentu Kanwil koperasi
menjadi Dinas koperasi dan di propinsi lain ada yang digabungkan dengan beberapa
Dinas.
2. Pembangunan koperasi lebih fokus terhadap UKM, karena UKM dianggap sebagai
katup pengaman pembangunan pada saat krisis.
3. Citra koperasi kurang baik, karena pada periode 1997-1999 koperasi dijadikan alat
politik salah satu partai dan koperasi mengalami tunggakan kredit KUT yang cukup
besar.

Pada periode tahun 2001-2003, pembinaan koperasi berada pada kedudukan lembaga non
pemerintah Non Departemen (Keputusan Presiden No 103 Tahun 2001) yaitu Kementerian
Koperasi dan UKM. Pembangunan koperasi pada periode ini merupakan kelanjutan dari
pembangunan nasional tanpa BPS-KPKM. Pada masa ini program-program pokok ditujukan
dalam rangka melaksanakan lima pembangunan nasional, salah satunya terkait dengan
pembangunan ekonomi yaitu “Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Memperkuat Landasan
Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan berdasarkan Sistem Ekonomi Kerakyatan”.
Pendekatan strategis dalam propenas ditujukan dengan mengutamakan langkah-langkah
kebijakan dan program yang lebih menekankan kepada pentingnya penguatan kelembagaan.
Pembangunan koperasi di masa ini juga kurang dinamis. Karena di satu sisi fokus
pembangunan pada masa ini diutamakan kepada pembangunan UKM dan memberikan
perkuatan kepada Koperasi Simpan pinjam dan Unit simpan Pinjam didaerah sentra UKM,
adanya rencana untuk merubah Undang-Undang Koperasi No 25 Tahun 1995. Di sisi lain, sejak
adanya sinergi pemberdayaan antara koperasi dan UKM dalam pembangunan sentra, Usaha
Kecil Menengah mampu menjadi penyelamat dalam krisis ekonomi, berperan dalam
mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.
DAFTAR PUSTAKA

http://zetzu.blogspot.com/2010/10/sejarah-pertumbuhan-perkembangan.html
https://triasyulianti.wordpress.com/2014/11/13/perkembangan-koperasi-sejak-jaman-penjajahan/
https://lookandreadmyblog.wordpress.com/2015/10/06/pertumbuhan-dan-ekonomi-
koperasiperkembangan-koperasi-sejak-proklamasi-kemerdekaan-hingga-sekarang/
https://renyfatma.wordpress.com/2011/04/11/perkembangan-koperasi/

Anda mungkin juga menyukai