Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi listrik adalah energi utama yang dibutuhkan bagi peralatan
listrik. Energi listrik merupakan sebuah energi yang memiliki peran penting
dalam kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan. Dalam proses
pemasangan instalasi listrik, diperlukan peralatan dan komponen instalasi
listrik.
Motor Listrik DC atau DC Motor adalah suatu perangkat yang
mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion).
Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor Arus Searah. Seperti
namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan arus
searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya. Motor
Listrik DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan
listrik yang menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas
DC dan Bor Listrik DC.

1.2 Batasan Masalah


Dapat memahami serta merangkai secara sederhana pada panel
menggunaka timer dan relay dan motor DC.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa fungsi dari push button, relay, timer dan lampu panel?
2. Bagaimana cara kerja motor DC?
3. Apa fungsi dari MCB ?

1.4 Tujuan
1. Mahasiswa mampu memahami karateristik dari motor DC dan
mengetahui kondisi baik buruk menggunakan multimeter.
2. Mahasiswa mampu menganalisa cara kerja dari motor DC.
3. Mahasiswa mampu merubah polaritas kiri dan kanan menggunakan
power supply / baterai.
1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
Mahasiswa mampu mengetahui cara kerjadari relay, push buton,
timer, lampu dan motor DC.

1.5.2 Manfaat Praktis


Mahasiswa mampu menggunakan relay, push button, timer dan
lampu serta mengetahui kondisi fisik motor DC yang baik dan buruk.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motor DC
Motor Listrik DC atau DC Motor adalah suatu perangkat yang
mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion).
Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor Arus Searah. Seperti
namanya, DC Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan arus
searah atau DC (Direct Current) untuk dapat menggerakannya. Motor
Listrik DC ini biasanya digunakan pada perangkat-perangkat Elektronik dan
listrik yang menggunakan sumber listrik DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas
DC dan Bor Listrik DC.
Motor Listrik DC atau DC Motor ini menghasilkan sejumlah putaran
per menit atau biasanya dikenal dengan istilah RPM (Revolutions Per
Minute) dan dapat dibuat berputar searah jarum jam maupun berlawanan
arah jarum jam apabila polaritas listrik yang diberikan pada Motor DC
tersebut dibalikan. Motor Listrik DC tersedia dalam berbagai ukuran rpm
dan bentuk. Kebanyakan Motor Listrik DC memberikan kecepatan rotasi
sekitar 3000 rpm hingga 8000 rpm dengan tegangan operasional dari 1,5V
hingga 24V.
Apabila tegangan yang diberikan ke Motor Listrik DC lebih rendah
dari tegangan operasionalnya maka akan dapat memperlambat rotasi motor
DC tersebut sedangkan tegangan yang lebih tinggi dari tegangan operasional
akan membuat rotasi motor DC menjadi lebih cepat. Namun ketika tegangan
yang diberikan ke Motor DC tersebut turun menjadi dibawah 50% dari
tegangan operasional yang ditentukan maka Motor DC tersebut tidak dapat
berputar atau terhenti. Sebaliknya, jika tegangan yang diberikan ke Motor
DC tersebut lebih tinggi sekitar 30% dari tegangan operasional yang
ditentukan, maka motor DC tersebut akan menjadi sangat panas dan
akhirnya akan menjadi rusak.
(Gambar 2.1 Gambar Motor DC)
(Sumber :teknikelektronika.com)
2.2 Relay
AC relay adalah komponen elektronik yang terdiri dari dua bagian
utama yaitu elektromagnet atau coil dan mekanikal. Relay menggunakan
prinsip elektromagnetik sebagai penggerak kontak saklar sehingga dengan
arus listrik yang kecil dapat menghantarkan listrik bertegangan
tinggi.Sebuah relay memiliki coil atau lilitan kawat yang berfungsi apabila
lilitan tersebut di aliri tegangan kerja atau power, akan berubah menjadi
magnet untuk menarik tuas agar menempel pada coil.
Tuas yang mulanya terhubung dengan terminal output NC atau
normally close akan pindah ke terminal output normally open atau NO. Dan
ketika tidak ada Power maka suat akan kembali ke posisi awal karena
menggunakan pelat yang memiliki kelenturan baik yang dapat menjangkau
antara kedua jarak terminal.
Oleh karena itu relay memiliki rumah yang dapat melindungi gangguan dari
luar terhadap sistem kerjanya.

(Gambar 2.2 Gambar Relay AC)


(Sumber :http://abi-blog.com)
2.3 Lampu Indikator
Lampu indikator dalam panel listrik memiliki fungsi untuk mengetahui
apakah rangkaian bekerja dengan benar atau tidak. Tak hanya itu, lampu
indikator juga berfungsi untuk tanda peringatan jika terjadi sesuatu.

(Gambar 2.3 Gambar Lampu Indikator)


(Sumber :http://hasemcreate.blogspot.com)

2.4 Push Button


Push Button adalah saklar tekan yang berfungsi sebagai pemutus atau
penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik.Suatu sistem
saklar tekan push button terdiri dari saklar tekan start, stop reset dan saklar
tekan untuk emergency. Push button memiliki kontak NC (normally close)
dan NO (normally open).
Prinsip kerja Push Button adalah apabila dalam keadaan normal tidak
ditekan maka kontak tidak berubah, apabila ditekan maka kontak NC akan
berfungsi sebagai stop (memberhentikan) dan kontak NO akan berfungsi
sebagai start (menjalankan) biasanya digunakan pada sistem pengontrolan
motor – motor induksi untuk menjalankan mematikan motor pada industri –
industri.
Push button dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu:
a. Tipe Normally Open (NO)
Tombol ini disebut juga dengan tombol start karena kontak akan
menutup bila ditekan dan kembali terbuka bila dilepaskan. Bila tombol
ditekan maka kontak bergerak akan menyentuh kontak tetap sehingga
arus listrik akan mengalir.
b. Tipe Normally Close (NC)
Tombol ini disebut juga dengan tombol stop karena kontak akan
membuka bila ditekan dan kembali tertutup bila dilepaskan. Kontak
bergerak akan lepas dari kontak tetap sehingga arus listrik akan terputus.
c. Tipe NC dan NO
Tipe ini kontak memiliki 4 buah terminal baut, sehingga bila tombol
tidak ditekan maka sepasang kontak akan NC dan kontak lain akan NO,
bila tombol ditekan maka kontak tertutup akan membuka dan kontak
yang membuka akan tertutup.

(Gambar 2.4 Gambar Push Button)


(Sumber : http://indotrading.com)
2.5 TDR (Time Delay Relay)
TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay
penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama
instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis. Peralatan
kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya
dengan MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-lain.
Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu bagi
peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mengatur
waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke
segitiga dalam delay waktu tertentu.
Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja
menggunakan induksi motor dan menggunakan rangkaian elektronik. Timer
yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila motor
mendapat tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan menarik serta
menutup kontak secara mekanis dalam jangka waktu tertentu.
(Gambar 2.5 Gambar Time Delay Relay)
(Sumber : electric-mechanic.blogspot.com)
2.6 MCB
MCB adalah singkatan dari Miniatur Circuit Breaker. MCB
merupakan komponen kelistrikan yang bertugas untuk memutus aliran
listrik ketika terjadi arus berlebih ataupun konsleting. Pemutusan alur listrik
dilakukan secara otomatis dan ditujukan untuk memberi keamanan terhadap
pemakai listrik dirumah, kantor maupun tempat lainnya. Penggunaan MCB
ini sama persis seperti yang ada pada Sekring (Fuse) sebagai komponen
keamanan listrik.
Perbedaannya adalah di Sekring ketika terjadi beban berlebih atau
konslet maka aliran daya akan diputus dan otomatis Sekring diganti dengan
yang baru, sedangkan pada MCB bisa diaktifkan lagi setelah masalah sudah
diatasi. Terdapat 3 fungsi utama MCB (Miniatur Cisrcuit Breaker) yakni
untuk pemutus arus, proteksi terhadap beban lebih (overload) serta untuk
memproteksi adanya hubung singkat (konsleting).
Untuk penjelasannya masing – masing dapat disimak dibawah ini :
1. Sebagai Pemutus Arus
Fungsi sebagai pemutus arus bisa diartikan sebagai bentuk pengamanan
atau kendali dari pemilik rumah. Sebagai bentuk keamanan ketika terjadi
masalah pada instalasi listrik maka MCB akan memutuskan arus secara
otomatis. Sedangkan bentuk kendali dari pemilik rumah adalah ketika
anda ingin mematikan aliran tidak hanya pada satu titik melainkan
pada semua jaringan yang terhubung maka bisa dengan menurunkan
toggle switch pada MCB.
Seringkali pada satu instalasi rumah atau bangunan melibatkan lebih dari
1 MCB, oleh karena itu pahami alur instalasi listrik yang ada pada tempat
anda untuk menghindari kesalahan ketika mematikan arus secara manual.
2. Memproteksi adanya beban lebih (overload)
Overload atau beban lebih adalah suatu kejadian ketika penggunaan arus
listrik melebihi batas penggunaan listrik pada bangunan yang ditempati.
Komponen dari MCB yang bertugas mendeteksi adanya beban lebih
adalah pada elemen bimetalnya.
3. Memproteksi adanya hubung singkat (konsleting)
Konsleting atau hubung singkat adalah salah satu penyebab kebakaran
tertinggi pada bangunan, oleh karena itu penggunaan MCB sangatlah
penting untuk mencegah terjadinya hal itu. Untuk fungsi proteksi hubung
singkat ini komponen MCB yang bertugas untuk mendeteksi adalah
Magnetic Trip yang berupa Solenoid.Sama seperti beban lebih,
komponen ini bereaksi akibat panas yang diterima namun pada kasus
hubung singkat panas yang masuk sangat tinggi.

(Gambar 2.6 Gambar MCB)


(Sumber : cerdika.com)
2.7 Kabel NYA
Kabel jenis NYA adalah kabel dengan inti yang terbuat dari bahan
tembaga tunggal dan dilapisi bahan isolator PVC satu lapis. Kabel jenis ini
biasanya digunakan untuk instalasi di perumahan dan instalasi kabel udara.
Jika Anda ingin menggunakan kabel NYA, sebaiknya dilengkapi dengan
pelindung seperti pipa PVC.
(Gambar 2.7 Gambar Kabel NYA)
(Sumber : dekurama.com)
2.8 Multimeter
Multimeter merupakan sebuah alat yang sangat dibutuhkan manakala
sedang memperbaiki atau membuat suatu rangkaian listrik. Penting untuk
mendeteksi secara dini kondisi yang terjadi pada komponen listrik barang-
barang elektronik ataupun aliran listrik di rumah. Hal ini untuk mendeteksi
apakah terjadi kerusakan atau gangguan sehingga menghindari
kemungkinan timbulnya kebakaran atau konsleting listrik. Alat ukur
rangkaian listrik ini terdiri dari 2 jenis yaitu kategori Analog dan Digital.
Berikut penjelasan singkat mengenai jenis-jenis tersebut.
1. Analog
Jenis alat ukur yang pertama yaitu analog dengan ciri-ciri berupa
tampilan jarum jam yang dilengkapi dengan range-range angka hasil
ukur. Dengan kata lain, jenis analog lebih manual penghitungannya
sehingga dibutuhkan ketelitian terutama saat menentukan tegangan atau
Voltase yang cukup besar. Selain itu, akurasi hasil perhitungannya juga
lebih rendah dibandingkan jenis digital.
2. Digital
Alat ukur jenis digital lebih sering digunakan karena cara kerjanya jauh
lebih mudah dan akurat. Hasil alat ukur dapat dengan mudah dibaca pada
layar digital yang tertera. Istilah lain dari multitester jenis ini adalah
DVOM ( Digital Volt Ohm Meter) atau DMM (Digital Multi Meter).
Pada tipe digital, selain dapat mengukur tegangan, hambatan, serta arus
listrik, alat ukur ini juga mampu melakukan pengukuran pada Hfe
transistor yang ada pada tipe-tipe tertentu saja.
Perbedaan pada tipe, jenis, serta merk AVO meter yang digunakan,
maka fungsi yang dimiliki pun sedikit berbeda. Namun, beberapa fungsi
utama dari alat ukur ini antara lain:
1. Mengukur Arus Listrik.
Fungsi utama AVO meter yang pertama adalah mengukur Arus listrik
atau Ampere. Terdapat dua jenis Ampere yang ada di sebuah alat ukur
yaitu arus AC (Alternating Current) dan arus DC (Direct Current). Demi
menghindari kerusakan yang terjadi, maka dihimbau untuk
memperhatikan arus listrik yang akan diukur. Jangan sampai diluar
jangkauan batas ukur maksimum.
2. Mengukur Tegangan Listrik.
Fungsi utama yang kedua adalah mengukur tegangan atau tingkat voltase
dari komponen listrik. Pada setiap multitester terdapat saklar selector
yang nantinya berfungsi untuk menentukan batas ukur maksimum. Oleh
karenanya, prediksi terlebih dahulu level tegangan dari rangkaian listrik
yang akan diukur.
3. Mengukur Hambatan Listrik.
Fungsi yang ketiga yaitu mengukur tingkat Hambatan atau Resistensi
dari suatu komponen listrik atau resistor yang memiliki unsur resistansi.
Penting pula untuk memperhatikan batas ukur resistensi saat akan
menggunakannya.
4. Fungsi Hfe.
Tidak semua alat ukur memiliki fungsi Hfe. Fungsi tersebut digunakan
untuk mengetahui nilai dari faktor penguatan transistor. Fungsi Hfe ini
biasanya digunakan untuk mengukur penguatan transistor yang terdapat
pada tipe NPN dan PNP.
5. Mengukur Nilai Kapasitansi.
Fungsi lain yang belum tentu ada pada setiap Multitester adalah
mengukur nilai kapasitansi dari suatu kapasitor. Baik pada tipe Analog
maupun Digital, keduanya memiliki batas ukur tingkat resistansi yang
harus diperhatikan.
6. Mengukur Frekuensi Sinyal.
Fungsi yang terakhir adalah untuk mengetahui nilai Frekuensi dari suatu
isyarat atau sinyal pada komponen elektronik

Gambar 2.8 Gambar Multimeter)


(Sumber : pengelasan.com)
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Kabel NYA
2. MCB 1 fasa
3. Relay AC 220 Volt
4. Timer Analog
5. Soket Relay dan Timer 8 kaki
6. Push Button
7. Baterai
8. Motor DC 12 Volt
9. Toolset
10. Multimeter
3.2 Cara Kerja
1. Menyiapkan gambar rangkaian.
2. Menyiapkan alat dan bahan yang dipergunakan.
3. Mengecek kondisi motor DC menggunakan multimeter.
4. Merangkai pada panel sesuai gambar yang sudah didibuat.
5. Setelah rangkaian jadi menghubungkan ke jala-jala PLN 220 volt dan
memastikan MCB masih dalam keadaan off.
6. Mengubah MCB ke keadaan on dan menjalankan rangkaian yang sudah
dirangkai.
7. Mengamati sistem kerja rangkaian.
3.3 Diagram Blok

MCB ON

Lampu Indikator Kuning


Menyala Push Button Off ditekan

Relay Tidak Bekerja


Push Button On ditekan Timer tidak bekerja

Motor DC berputar
berlawanan arah

Relay Bekerja
Timer Bekerja

Motor DC bekerja sesuai Tunggu beberapa saat sesuai


arah awal pengaturan pada timer
3.2 Gambar Rangkaian

(Gambar 3.1 Gambar Rangkaian Motor DC)


3.3 Cara Kerja Rangkaian
Berdasarkan rangkaian, ketika MCB kondisi on, maka fasa belum
mengalir menuju relay dan timer karena push button on belum di tekan. Saat
kondisi awal, lampu kuning pada panel akan menyala. Menandakan bahwa
relay kondisi NC. Saat push button on ditekan, maka fasa akan mengalir
menuju coil relay dan coil timer, sehingga relay dan timer akan bekerja.
Kontak relay berpindah dari NC ke NO, maka lampu indikator kuning akan
mati. Pada indukan ke 2, relay diberi inputan berupa tegangan DC.
Tegangan itu yang akan membuat motor DC bekerja. Saat relay kondisi NO,
maka timer akan teraliri tegangan. Sehingga akan menggerakan motor DC.
Saat waktu timer habis, maka timer kondisi NO dan arah putar motor DC
berlawanan arah. Saat push button off ditekan, maka coil relay dan coil
timer tidak teraliri tegangan. Maka rangkaian tidak bekerja.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Analisis
Setelah melakukan praktikum ini, dapat diketahui timer merupakan
saklar delay. Pada rangkaian ini timer berfungsi untuk mengatur waktu putar
motor DC. Saat timer bekerja motor akan berputar, ketika waktu pada timer
habis maka motor DC akan berputar berlawanan arah. Hal ini dipengaruhi
oleh perpindahan NO dan NC pada kontak timer. Pada praktikum ini kedua
kontak timer digunakan. Kedua kontak timer disambungkan pada motor DC.
Kondisi awal kontak sama-sama kondisi NC. Tegangan yang berasal dari
baterai masuk pada kontak relay.
Saat relay teraliri fasa maka kontak relay akan mengubah kondisi NC
menjadi NO. Saat kontak nomor 8 berpindah ke NO, maka kontak timer
teraliri tegangan. Kontak yang teraliri tegangan positif (+) yaitu kontak
nomor 3 dan 5. Kontak yang tersambung dengan tegangan negatif (-) yaitu
kontak 4 dan 6. Saat timer kondisi NC, maka kontak yang teraliri tegangan
positif adalah kontak nomor 5 dan kontak yang teraliri tegangan negatif
adalah kontak nomor 4. Pada saat itu motor akan berputar saarah jarum jam.
Ketika waktu timer habis, maka kontak timer akan berpindah posisi NO.
Maka motor DC akan berputar berbalik arah, sesuai arah sumber tegangan
berasal. Saat push off ditekan, maka fasa akan terputus, sehingga coil relay
dan timer tidak mendapat fasa. Maka rangkaian tidak akan bekerja. Kontak
relay kembali pada kondisi NC.
4.2 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kami dapat di simpulkan bahwa timer
merupakan saklar delay. Konfigurasi timer mirip seperti konfigurasi relay.
Yang membedakan antara relay dan timer yaitu waktu. Pada timer ada
setting waktu untuk memindahkan NC ke NO. Relay pada rangkaian ini
sebagai saklar pengunci. Sehingga timer akan tetap teraliri tegangan ketika
push button on di lepas.
Ketika relay tidak bekerja, maka timer juga tidak bekerja. Pada
rangkaian ini timer berfungsi untuk mengubah arah putaran motor DC.
Ketika kontak kondisi NC maka motor berputar searah jarum jam. Saat
waktu timer habis, maka kontak timer kondisi NO, maka motor akan
berbutar berlawanan arah dari kondisi sebelumnya.
4.3 Pertanyaan
1. Jelaskan bagaimana cara mengetahui kondisi baik buruknya motor DC
menggunakan multimeter?
 Ukur pada kedua kabel yang ada pada motor DC.
 Gunakan selektor ohm pada multimeter.
 Apabila jarum pada multimeter bergerak, itu menandakan bahawa
motor DC dalam kondisi baik. Jika jarum pada multimeter tidak
bergerak, menandakan motor DC kondisi buruk. Sebab jika jarum
tidak bergerak menandakan kumparan pada motor DC sudah tidak
berfungsi baik.
2. Jelaskan cara kerja motor DC?
 Ketika arus listrik DC atau arus listrik searah mengalir melalui
kumparan dalam medan magnet, gaya magnet menghasilkan torsi
yang akan memutar motor.Jika arus lewat pada suatu konduktor,
timbul medan magnet di sekitar konduktor. Arah medan magnet
ditentukan oleh arah aliran arus pada konduktor.
3. Ketika polaritas sumber daya motor DC dibalik maka arah putaran motor
akan ikut berbalik. Kenapa demikian? Jelaskan!
 Karena motor DC berputar dikarenakan adanya medan magnet dalam
kumparat motor DC. Arah medan magnet ditentukan oleh arah aliran
arus pada konduktor. Sehingga saat polaritas sumber daya motor DC
dibalk, maka arus juga akan berbalik maka arah putaran motor dc ikut
berbalik arah.
LAMPIRAN

Gambar Keterangan
Rangkaian didalam panel.

Kondisi stanby, lampu indikator


kuning menyala. Relay dan timer
belum bekerja

Lampu indikator hijau menyala,


menandakan timer kontak timer
mendapatkan tegangan.

Ketika timer bekerja, motor DC akan


berputar. Saat waktu timer habis, motor
DC akan berputar berlawanan arah.
DAFTAR PUSTAKA

[1]. Royen, Abi. 2017. “AC Relay dan Jenis Kelompoknya”.http://abi-blog.com/


ac -relay-dan-jenis-kelompoknya/
Diakses pada : 1 Juni 2021
[2]. Suprianto. 2015. “Push Button”.http://blog.unnes.ac.id/antosupri/pengertian-
push-button-switch-saklar-tombol-tekan/
Diakses pada : 1 Juni 2021
[3]. Akhdan, Abu. 2019. “Time Delay Relay”.https://akhdanazizan.com/cara-
kerja-dan-fungsi-tdr-time-delay-relay/
Diakses pada : 1 Juni 2021
[4]. Aziz, Fakhri. 2019. “MCB“.https://www.nesabamedia.com/pengertian-mcb/
Diakses pada : 1 Juni 2021
[5]. No Name. 2020. “Kabel NYA”.https://www.rumah.com/panduan-
properti/inilah-10-jenis-kabel-listrik-beserta-kegunaannya
Diakses pada : 1 Juni 2021
[6]. Kho, Dikson “Pengertian Motor Dcdan Prinsip
Kerjanya”.https://teknikelektronika.com/pengertian-motor-dc-prinsip-kerja-
dc-motor/
Diakses pada : 1 Juni 2021
[7]. Achmadi. 2019. “Multimeter”.https://www.pengelasan.net/multimeter/
Diakses pada : 1 Juni 2021