Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Energi listrik adalah energi utama yang dibutuhkan bagi peralatan
listrik. Energi listrik merupakan sebuah energi yang memiliki peran penting
dalam kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan. Dalam proses
pemasangan instalasi listrik, diperlukan peralatan dan komponen instalasi
listrik.
Instalasi listrik dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dilakukan
oleh sembarang orang, melainkan harus dilakukan berdasarkan standar yang
berlaku dan dengan syarat keamanan tertentu. Oleh karena itu, diadakan
praktikum oleh mahasiswa untuk mempelajari dan memahami sistem instalasi
listrik mengenai sistem motor AC.

1.2 Batasan Masalah


Dapat memahami serta merangkai secara sederhana pada panel
menggunakan timer, relay, kontaktor dan motor 1 fasa.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa fungsi dari push button, relay, timer, kontaktor dan motor 1 fasa?
2. Bagaiamana merangkai sistem (dol) motor 1 fasa?
3. Bagaimana cara kerja relay, timer, kontaktor dan motor 1 fasa?

1.4 Tujuan
1. Mahasiswa mampu membedakan karateristik dari motor satu fasa dan
kontaktor dalam suatu rangkaian.
2. Mahasiswa mampu menganalisa cara kerja motor satu fasa dan kontaktor
dalam sebuah rangkaian.
3. Mahasiswa mampu merangkai secara sederhana menggunakan motor
satu fasa dan kontaktor..
1.5 Manfaat
1.5.1 Manfaat Teoritis
Mahasiswa mampu mengetahui cara kerjadari relay, push buton,
timer, lampu indikator, kontaktor dan motor 1 fasa.

1.5.2 Manfaat Praktis


Mahasiswa mampu menggunakan dan merangkai rangkaian
relay, push button, timer dan lampu indikator, kontaktor dan motor 1
fasa sebagaimana mestinya serta mengetahui kondisi fisik motor 1
fasa yang baik dan buruk.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Relay
AC relay adalah komponen elektronik yang terdiri dari dua bagian
utama yaitu elektromagnet atau coil dan mekanikal. Relay menggunakan
prinsip elektromagnetik sebagai penggerak kontak saklar sehingga dengan
arus listrik yang kecil dapat menghantarkan listrik bertegangan
tinggi.Sebuah relay memiliki coil atau lilitan kawat yang berfungsi apabila
lilitan tersebut di aliri tegangan kerja atau power, akan berubah menjadi
magnet untuk menarik tuas agar menempel pada coil.
Tuas yang mulanya terhubung dengan terminal output NC atau
normally close akan pindah ke terminal output normally open atau NO. Dan
ketika tidak ada power maka suat akan kembali ke posisi awal karena
menggunakan pelat yang memiliki kelenturan baik yang dapat menjangkau
antara kedua jarak terminal. Oleh karena itu relay memiliki rumah yang
dapat melindungi gangguan dari luar terhadap sistem kerjanya.
Relay dengan kapasitas besar biasanya di kemas menggunakan
pelindung transparan sehingga memungkinkan kita untuk mengetahui
bagaimana sistem mekanik di dalamnya bekerja. Jika tegangan yang
dialirkan berada di antara kondisi keduanya, maka akan terdengar bunyi
pada saat perpindahan tuasnya.

Gambar 2.1 Gambar Relay AC


(Sumber : abi-blog.com)
2.2 Lampu Indikator
Lampu indikator dalam panel listrik memiliki fungsi untuk
mengetahui apakah rangkaian bekerja dengan benar atau tidak. Tak hanya
itu, lampu indikator juga berfungsi untuk tanda peringatan jika terjadi
sesuatu.

Gambar 2.2 Gambar Lampu Indikator


(Sumber : hasemcreate.blogspot.com)
2.3 Push Button
Push Button adalah saklar tekan yang berfungsi sebagai pemutus atau
penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik.Suatu sistem
saklar tekan push button terdiri dari saklar tekan start, stop reset dan saklar
tekan untuk emergency.
Push button memiliki kontak NC (normally close) dan NO (normally
open).Prinsip kerja push button adalah apabila dalam keadaan normal tidak
ditekan maka kontak tidak berubah, apabila ditekan maka kontak NC akan
berfungsi sebagai stop (memberhentikan) dan kontak NO akan berfungsi
sebagai start (menjalankan) biasanya digunakan pada sistem pengontrolan
motor – motor induksi untuk menjalankan mematikan motor pada industri –
industri.
Push button dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu:
a. Tipe Normally Open (NO)
Tombol ini disebut juga dengan tombol start karena kontak akan
menutup bila ditekan dan kembali terbuka bila dilepaskan. Bila tombol
ditekan maka kontak bergerak akan menyentuh kontak tetap sehingga
arus listrik akan mengalir.
b. Tipe Normally Close (NC)
Tombol ini disebut juga dengan tombol stop karena kontak akan
membuka bila ditekan dan kembali tertutup bila dilepaskan. Kontak
bergerak akan lepas dari kontak tetap sehingga arus listrik akan terputus.
c. Tipe NC dan NO
Tipe ini kontak memiliki 4 buah terminal baut, sehingga bila tombol
tidak ditekan maka sepasang kontak akan NC dan kontak lain akan NO,
bila tombol ditekan maka kontak tertutup akan membuka dan kontak
yang membuka akan tertutup.

Gambar 2.3 Gambar Push Button


(Sumber : indotrading.com)
2.4 TDR (Time Delay Relay)
TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay
penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama
instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis.Peralatan
kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya
dengan MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-
lain.
Fungsi dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu
bagi peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk
mengatur waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem
bintang ke segitiga dalam delay waktu tertentu.
Timer yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila
motor mendapat tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan
menarik serta menutup kontak secara mekanis dalam jangka waktu
tertentu.
Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus.
Apabila telah mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis
timer akan mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC
menjadi NO.Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2
diantaranya merupakan kaki coil sebagai contoh pada gambar di atas
adalah TDR type H3BA dengan 8 kaki yaitu kaki 2 dan 7 adalah kaki coil,
sedangkan kaki yang lain akan berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC
dengan kaki 4 dan NO dengan kaki 3. Sedangkan kaki 8 akan NC dengan
kaki 5 dan NO dengan kaki 6. Kaki kaki tersebut akan berbeda tergantung
dari jenis relay timernya.

Gambar 2.4 Gambar Time Delay Relay


(Sumber : electric-mechanic.blogspot.com)
2.5 Motor 1 Fasa
Motor dalam dunia kelistrikan ialah mesin yang digunakan untuk
mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Salah satu motor listrik
yang umum digunakan dalam banyak aplikasi ialah motor induksi. Motor
induksi merupakan salah satu mesin asinkronous (asynchronous motor)
karena mesin ini beroperasi pada kecepatan dibawah kecepatan sinkron.
Kecepatan sinkron sendiri ialah kecepatan rotasi medan magnetik pada
mesin. Kecepatan sinkron ini dipengaruhi oleh frekuensi mesin dan
banyaknya kutub pada mesin. Motor induksi selalu berputar dibawah
kecepatan sinkron karena medan magnet yang dibangkitkan stator akan
menghasilkan fluks pada rotor sehingga rotor tersebut dapat berputar.
Namun fluks yang terbangkitkan oleh rotor mengalami lagging
dibandingkan fluks yang terbangkitkan pada stator sehingga kecepatan rotor
tidak akan secepat kecepatan putaran medan magnet. Berdasarkan suplai
input yang digunakan, motor induksi dibagi menjadi dua jenis, yaitu motor:
induksi 1 fasa dan motor induksi 3 fasa. Yang membedakan dari kedua
motor induksi ini ialah motor induksi 1 fasa tidak dapat berputar tanpa
bantuan gaya dari luar sedangkan motor induksi 3 fasa dapat berputar
sendiri tanpa bantuan gaya dari luar.

Gambar 2.5 Bagian Utama


Motor 1 Fasa
(Sumber : insinyoer.com)
Terdapat 2 bagian penting pada motor induksi 1 fasa, yaitu: rotor dan
stator. Rotor merupakan bagian yang berputar dari motor dan stator
merupakan bagian yang diam dari motor. Rotor umumnya berbentuk slinder
dan bergerigi sedangkan stator berbentuk silinder yang melingkari seluruh
badan rotor. Stator harus dilengkapi dengan kutub-kutub magnet dimana
kutub utara dan selatan pada stator harus sama dan dipasang melingkari
rotor sebagai suplai medan magnet dan kumparan stator untuk menginduksi
kutub sehingga menciptakan medan magnet. Stator umumnya dilengkapi
dengan stator winding yang bertujuan membantu putaran rotor, dimana
stator winding dilengkapi dengan konduktor berupa kumparan. Selain itu,
stator juga dilapisi dengan lamina berbahan dasar silikon dan besi yang
bertujuan untuk mengurangi tegangan yang terinduksi pada sumbu stator
dan mengurangi dampak kerugian akibat munculnya arus eddy (eddy
current) pada stator. Rotor umumnya dibuat dari alumunium dan dibuat
bergerigi untuk menciptakan celah yang akan diisi konduktor berupa
kumparan. Selain itu, rotor juga dilapisi dengan lamina untuk menambah
kinerja dari rotor yang digunakan. Masing-masing komponen dipasang pada
besi yang ditunjukkan seperti pada gambar berikut :
Gambar 2.6 Konstruksi Motor 1 Fasa
(Sumber : Insinyoer.com )
2.6 Kontaktor
Kontaktor adalah jenis saklar yang bekerja secara magnetik yaitu
kontak bekerja apabila kumparan diberi energi. The National Manufacture
Assosiation (NEMA) mendefinisikan kontaktor magnetis sebagai alat yang
digerakan secara magnetis untuk menyambung dan membuka rangkaian
daya listrik. Tidak seperti relay, kontaktor dirancang untuk menyambung
dan membuka rangkaian daya listrik tanpa merusak. Beban-beban tersebut
meliputi lampu, pemanas, transformator, kapasitor, dan motor listrik.

Gambar 2.7 Kontaktor


(Sumber : indotrading.com)
Sebuah kontaktor terdiri dari koil, beberapa kontak Normally Open
( NO ) dan beberapa Normally Close ( NC ). Pada saat satu kontaktor
normal, NO akan membuka dan pada saat kontaktor bekerja, NO akan
menutup. Sedangkan kontak NC sebaliknya yaitu ketika dalam keadaan
normal kontak NC akan menutup dan dalam keadaan bekerja kontak NC
akan membuka. Koil adalah lilitan yang apabila diberi tegangan akan terjadi
magnetisasi dan menarik kontak-kontaknya sehingga terjadi perubahan atau
bekerja.
Kontaktor yang dioperasikan secara elektromagnetis adalah salah satu
mekanisme yang paling bermanfaat yang pernah dirancang untuk penutupan
dan pembukaan rangkaian listrik. Kontaktor termasuk jenis saklar motor
yang digerakkan oleh magnet seperti yang telah dijelaskan di atas. Bila pada
jepitan a dan b kumparan magnet diberi tegangan, maka magnet akan
menarik jangkar sehingga kontak-kontak bergerak yang berhubungan
dengan jangkar tersebut ikut tertarik.
Tegangan yang harus dipasangkan dapat tegangan bolak balik
(AC) maupun tegangan searah (DC), tergantung dari bagaimana magnet
tersebut dirancangkan. Untuk beberapa keperluan digunakan juga
kumparan arus (bukan tegangan), akan tetapi dari segi produksi lebih
disukai kumparan tegangan karena besarnya tegangan umumnya sudah
dinormalisasi dan tidak tergantung dari keperluan alat pemakai tertentu.

Gambar 2.8 Penomoran


Kontaktor
(Sumber : febripurianta08.blogspot.com)
Terminal input : L1 (1), L2 (3), dan L3 (5)
Terminal output : T1 (2), T2 (4), dan T3 (6)
Terminal bantu (NO) : 13 (in) dan 14 (out)
Terminal koil : A1 dan A2
2.7 Multimeter
Multimeter merupakan sebuah alat yang sangat dibutuhkan manakala
sedang memperbaiki atau membuat suatu rangkaian listrik. Penting untuk
mendeteksi secara dini kondisi yang terjadi pada komponen listrik barang-
barang elektronik ataupun aliran listrik di rumah. Hal ini untuk mendeteksi
apakah terjadi kerusakan atau gangguan sehingga menghindari
kemungkinan timbulnya kebakaran atau konsleting listrik. Alat ukur
rangkaian listrik ini terdiri dari 2 jenis yaitu kategori Analog dan Digital.
Berikut penjelasan singkat mengenai jenis-jenis tersebut.
1. Analog
Jenis alat ukur yang pertama yaitu analog dengan ciri-ciri berupa
tampilan jarum jam yang dilengkapi dengan range-range angka hasil
ukur. Dengan kata lain, jenis analog lebih manual penghitungannya
sehingga dibutuhkan ketelitian terutama saat menentukan tegangan atau
Voltase yang cukup besar. Selain itu, akurasi hasil perhitungannya juga
lebih rendah dibandingkan jenis digital.
2. Digital
Alat ukur jenis digital lebih sering digunakan karena cara kerjanya jauh
lebih mudah dan akurat. Hasil alat ukur dapat dengan mudah dibaca pada
layar digital yang tertera. Istilah lain dari multitester jenis ini adalah
DVOM ( Digital Volt Ohm Meter) atau DMM (Digital Multi Meter).
Pada tipe digital, selain dapat mengukur tegangan, hambatan, serta arus
listrik, alat ukur ini juga mampu melakukan pengukuran pada Hfe
transistor yang ada pada tipe-tipe tertentu saja.
Perbedaan pada tipe, jenis, serta merk AVO meter yang digunakan,
maka fungsi yang dimiliki pun sedikit berbeda. Namun, beberapa fungsi
utama dari alat ukur ini antara lain:
1. Mengukur Arus Listrik.
Fungsi utama AVO meter yang pertama adalah mengukur Arus listrik
atau Ampere. Terdapat dua jenis Ampere yang ada di sebuah alat ukur
yaitu arus AC (Alternating Current) dan arus DC (Direct Current). Demi
menghindari kerusakan yang terjadi, maka dihimbau untuk
memperhatikan arus listrik yang akan diukur. Jangan sampai diluar
jangkauan batas ukur maksimum.
2. Mengukur Tegangan Listrik.
Fungsi utama yang kedua adalah mengukur tegangan atau tingkat voltase
dari komponen listrik. Pada setiap multitester terdapat saklar selector
yang nantinya berfungsi untuk menentukan batas ukur maksimum. Oleh
karenanya, prediksi terlebih dahulu level tegangan dari rangkaian listrik
yang akan diukur.
3. Mengukur Hambatan Listrik.
Fungsi yang ketiga yaitu mengukur tingkat Hambatan atau Resistensi
dari suatu komponen listrik atau resistor yang memiliki unsur resistansi.
Penting pula untuk memperhatikan batas ukur resistensi saat akan
menggunakannya.
4. Fungsi Hfe.
Tidak semua alat ukur memiliki fungsi Hfe. Fungsi tersebut digunakan
untuk mengetahui nilai dari faktor penguatan transistor. Fungsi Hfe ini
biasanya digunakan untuk mengukur penguatan transistor yang terdapat
pada tipe NPN dan PNP.
5. Mengukur Nilai Kapasitansi.
Fungsi lain yang belum tentu ada pada setiap Multitester adalah
mengukur nilai kapasitansi dari suatu kapasitor. Baik pada tipe Analog
maupun Digital, keduanya memiliki batas ukur tingkat resistansi yang
harus diperhatikan.
6. Mengukur Frekuensi Sinyal.
Fungsi yang terakhir adalah untuk mengetahui nilai Frekuensi dari suatu
isyarat atau sinyal pada komponen elektronik

Gambar 2.7 Gambar Multimeter)


(Sumber : pengelasan.com)
2.8 MCB
MCB adalah singkatan dari Miniatur Circuit Breaker. MCB
merupakan komponen kelistrikan yang bertugas untuk memutus aliran
listrik ketika terjadi arus berlebih ataupun konsleting. Pemutusan alur listrik
dilakukan secara otomatis dan ditujukan untuk memberi keamanan terhadap
pemakai listrik dirumah, kantor maupun tempat lainnya. Penggunaan MCB
ini sama persis seperti yang ada pada Sekring (Fuse) sebagai komponen
keamanan listrik.
Perbedaannya adalah di Sekring ketika terjadi beban berlebih atau
konslet maka aliran daya akan diputus dan otomatis Sekring diganti dengan
yang baru, sedangkan pada MCB bisa diaktifkan lagi setelah masalah sudah
diatasi. Terdapat 3 fungsi utama MCB (Miniatur Cisrcuit Breaker) yakni
untuk pemutus arus, proteksi terhadap beban lebih (overload) serta untuk
memproteksi adanya hubung singkat (konsleting).
Untuk penjelasannya masing – masing dapat disimak dibawah ini :
1. Sebagai Pemutus Arus
Fungsi sebagai pemutus arus bisa diartikan sebagai bentuk pengamanan
atau kendali dari pemilik rumah. Sebagai bentuk keamanan ketika terjadi
masalah pada instalasi listrik maka MCB akan memutuskan arus secara
otomatis. Sedangkan bentuk kendali dari pemilik rumah adalah ketika
anda ingin mematikan aliran tidak hanya pada satu titik melainkan
pada semua jaringan yang terhubung maka bisa dengan menurunkan
toggle switch pada MCB.
Seringkali pada satu instalasi rumah atau bangunan melibatkan lebih dari
1 MCB, oleh karena itu pahami alur instalasi listrik yang ada pada tempat
anda untuk menghindari kesalahan ketika mematikan arus secara manual.
2. Memproteksi adanya beban lebih (overload)
Overload atau beban lebih adalah suatu kejadian ketika penggunaan arus
listrik melebihi batas penggunaan listrik pada bangunan yang ditempati.
Komponen dari MCB yang bertugas mendeteksi adanya beban lebih
adalah pada elemen bimetalnya.
3. Memproteksi adanya hubung singkat (konsleting)
Konsleting atau hubung singkat adalah salah satu penyebab kebakaran
tertinggi pada bangunan, oleh karena itu penggunaan MCB sangatlah
penting untuk mencegah terjadinya hal itu. Untuk fungsi proteksi hubung
singkat ini komponen MCB yang bertugas untuk mendeteksi adalah
Magnetic Trip yang berupa Solenoid.
Sama seperti beban lebih, komponen ini bereaksi akibat panas yang
diterima namun pada kasus hubung singkat panas yang masuk sangat
tinggi.

Gambar 2.8 Gambar MCB


(Sumber : cerdika.com)
2.9 Kabel NYA
Kabel jenis NYA adalah kabel dengan inti yang terbuat dari bahan
tembaga tunggal dan dilapisi bahan isolator PVC satu lapis. Kabel jenis ini
biasanya digunakan untuk instalasi di perumahan dan instalasi kabel udara.
Jika Anda ingin menggunakan kabel NYA, sebaiknya dilengkapi dengan
pelindung seperti pipa PVC.

Gambar 2.9 Gambar Kabel NYA


(Sumber : dekurama.com)
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


1. Kabel NYA
2. Toolset
3. Multimeter
4. MCB 1 Fasa
5. Lampu indikator
6. Push Button
7. Kontaktor
8. Relay AC
9. Timer Analog
10. Soket Relay dan Timer 8 Kaki
11. Motor satu fasa
3.2 Cara Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menentukan bagian-bagian kontaktor dengan menggunakan multimeter.
3. Menentukan kumparan pada motor 1 phase dengan menggunakan
multimeter.
4. Merangkai pada panel sesuai gambar.
5. Setelah rangkaian jadi menghubungkan ke jala-jala PLN 220 Volt. Dan
memastikan MCB dalam keadaan off.
6. Mengubah keadaan MCB menjadi on.
7. Mengamati sistem kerja rangkaian.
3.3 Diagram Blok

MCB ON

Relay Tidak Bekerja


Lampu Indikator Kuning Timer tidak bekerja
Menyala

Push Button Off ditekan

Push Button On ditekan

Relay Bekerja
Timer 1 Bekerja
Lampu hijau menyaa
Timer 2 bekerja. Waktu timer
berjalan, motor berhenti
sejenak
Waktu timer 2 habis,
Timer menghitung dan mengaktifkan kontaktor 2
mengaktifkan kontaktor 1 Motor berputar berlawanan
Motor berputar arah
Waktu timer 1 habis, timer
2 bekerja
3.4 Gambar Rangkaian

Gambar 3.1 Gambar Rangkaian Motor 1 Fasa


3.5 Cara Kerja Rangkaian
Pada saat MCB dinyalakan lampu indikator kuning menyala. Lampu
kuning menyala karena mendapat tegangan fasa dan nol. Saat tombol push
ON ditekan maka relay dan timer mendapat tegangan sehingga relay dapat
bekerja dan memindahkan kontak dari NC ke NO dan lampu hijau menyala.
Fungsi NO pada kontak relay berfungsi sebagai pengunci relay dan timer,
dan juga sebagai penghubung fasa ke kontak timer 1 dan timer 2. Pada saat
timer 1 bekerja maka kondisi kontak berada di NC sehingga mengaktifkan
koil kontaktor 1 dan motor berputar kondisi pertama. Saat waktu timer 1
telah tercapai maka kontak berpindah ke NO sehingga mengaktifkan timer
2. Saat timer 2 bekerja maka kontak timer 2 berada pada posisi awal (NC)
dan motor berhenti sejenak. Saat waktu yang ditentukan timer 2 tercapai,
kontak timer 2 akan berpindah ke NO dan mengaktifkan kontaktor 2
sehingga motor berputar ke arah berlawanan. Tombol push OFF ditekan
maka relay tidak mendapat fasa sehingga kembali ke posisi standby dan
lampu kuning menyala. Saat push button off ditekan, maka coil relay dan
coil timer tidak teraliri tegangan. Maka rangkaian tidak bekerja.
BAB IV
ANALISIS DAN KESIMPULAN

4.1. Analisis
Setelah melakukan praktikum ini, dapat diketahui timer merupakan
saklar delay. Pada rangkaian ini timer digunakan unutk memberi waktu pada
kondisi motor 1 fasa untuk perubahan arahnya. Motor 1 fasa merupakan
motor yang bergerak dengan diberi tegangan AC. Pada motor fasa terdapat
2 lilitan, lilitan yang pertama adalah lilitan utama. Ciri ciri dari lilitan utama
yaitu jika kita mengeceknya dengan multimeter, jarum pada mltimeter akan
menunjukkan nilai hambatan atau resistansinya. Lilitan yang kedua adalah
lilitan bantu. Ciri ciri dari lilitan bantu adalah lilitan ini memiliki kapasitor
didalamnya. Cara mengeceknya dengan multimeter adalah saat jarum pada
multimeter bergerak naik lalu turun, hal itu menunjukkan bahwa terdapat
kapasitor di dalamnya. Tetapi ada juga yang lilitan bantunya tidak bisa
ditemukan, hal ini dikarenakan kapasitor pada lilitan bantu tidak terdeteksi.
Cara kerja rangkaian tersebut adalah pada saat MCB diaktifkan maka
rangkaian dalam kondisi standby dan arus akan melewati NC pada kontak 1
yang terhubung pada lampu kuning. Sehingga lampu kuning menyala.
Kondisi selanjutnya ketika push ON ditekan maka koil relay dan timer 1
akan mendapat tegangan, sehingga kontak relay akan berpindah dari NC ke
NO. Pada saat kondisi NO, kontak relay berfungsi sebagai pengunci koil
relay dan timer, sehingga saat push ON dilepas koil relay dan timer tetap
mendapat tegangan dari kontak relay. Kontak NO relay juga berfungsi
menghubungkan fasa menuju kontak timer 1 dan lampu hijau, sehingga saat
push ON ditekan maka lampu hijau menyala dan kontaktor 1 bekerja karena
kontak timer 1 berada pada posisi awal (NC). Kontaktor 1 bekerja maka
motor berputar ke arah kondisi pertama. Saat waktu timer 1 tercapai, maka
kontak berpindah dari NC ke NO dan mengaktifkan timer 2. Saat timer 2
menghitung maka motor berhenti sejenak. Waktu timer 2 tercapai, kontak
timer berpindah dari NC ke NO dan lampu merah menyala serta
mengaktifkan kontaktor 2 sehingga motor berputar berkebalikan arah.
Kondisi ketika push off ditekan maka push off akan memutus
sambungan koil relay dan timer 1 ke fasa, sehingga koil tidak dapat bekerja.
Kontak relay dan timer pun akan kembali berpindah ke NC membuat lampu
kuning menyala lagi dan rangkaian kondisi standby seperti semula. Ketika
MCB dimatikan maka rangkaian akan berkondisi off
4.2. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum kami dapat kami simpulkan bahwa relay
merupakan saklar pengunci. Timer merupakan saklar delay. Motor 1 fasa
merupakan motor yang bisa bergerak jika diberi tegangan AC. Timer pada
rangkaian ini difungsikan untuk mengatur waktu pergantian arah putar
motor 1 fasa. Rangkaian ini menggunakan 2 timer. Saat timer 1 bekerja
kontaktor 1 akan iku bekerja lalu motor akan berputar pada kondisi awal
dan lampu hijau akan menyala. Lalu timer 1 akan berhenti, saat timer 1
berhenti maka motor akan berhenti sejenak lalu timer 2 akan bekerja lalu
kontaktor 2 juga akan ikut bekerja dan arah putarnya akan berkebalikan
dengan timer 1. Saat timer 2 bekerja lampu warna merah akan menyala.
Setelah timer 2 berhenti maka keadaan akan kembali ke keadaan awal yaitu
saat MCB dinyalakan lampu kuning akan menyala.. Saat tidak ada tegangan
yang masuk pada coil timer dan relay, maka rangkaian akan mati atau tidak
bekerja.

4.3. Pertanyaan
1. Jelaskan Jelaskan bagimana cara mengetahui kondisi baik buruk motor 1
fasa menggunakan multimeter?
Cara mengetahui kondisi baik buruk motor 1 fasa yaitu dengan
menghubungkan probe pada kaki kontak utama, jika jarum mengayun
maka lilitan utama dalam keadaan baik. Untuk mengecek lilitan bantu,
hubungkan probe pada kaki kontak bantu, jika jarum mengayun dan
kembali lagi maka kapasitor dalam kontak bantu dalam keadaan baik.
2. Jelaskan bagaimana cara menentukan kaki-kaki motor 1 fasa
menggunakan multimeter?
Tahap pertama cari lilitan utama. Hubungkan kedua probe pada 2 kaki
motor. Jika multimeter tidak bergerak, maka kaki motor tersebut bukan
pasangannya. Jika multimeter bergerak dan menunjukan nilai resistansi
dan jarum tidak bergerak ke nol, maka itu merupakan lilitan utama. Jika
lilitan utama sudah diketahui, selanjutnya mencari lilitan bantu. Jika kaki
motor hanya 4, lilitan utama sudah ketemu. Maka dua kaki terakhir
adalah lilitan bantu. Lilitan bantu jika diukur menggunakan multimeter,
jarum akan bergerak menunjukan resistansi tertentu, lalu kembali ke nol.
Tapi terkadang ada motor yang lilitan bantunya tidak menunjukan
resistansi.
3. Jelaskan cara kerja motor 1 fasa!
Ketika sumber AC diberikan pada stator winding dari motor, maka arus
dapat mengalir pada stator winding. Fluks yang dihasilkan oleh sumber
AC pada stator winding tersebut disebut sebagai fluks utama. Karena
munculnya fluks utama ini maka fluks medan magnet dapat dihasilkan
oleh stator.

Saat rotor dari motor tersebut sudah diputar sedikit. Karena rotor berputar
maka dapat dikatakan bahwa konduktor pada rotor akan bergerak
melewati stator winding. Karena konduktor pada rotor bergerak relatif
terhadap fluks pada stator winding, akibatnya muncul tegangan ggl (gaya
gerak listrik) pada konduktor rotor sesuai dengan hukum faraday.
Anggap lagi motor terhubung dengan beban yang akan dioperasikan.
Karena motor terhubung dengan beban maka arus dapat mengalir pada
kumparan rotor akibat adanya tegangan ggl pada rotor dan terhubungnya
rotor dengan beban. Arus yang mengalir pada rotor ini disebut arus rotor.
Arus rotor ini juga menghasilkan fluks yang dinamakan fluks rotor.
Interaksi antara kedua fluks inilah yang menyebabkan rotor didalam
motor dapat berputar sendiri. Perlu diingat bahwa pada kondisi awal
diasumsikan rotor sudah diberi gaya luar untuk menggerakkan konduktor
pada rotor, karena jika tidak maka rotor akan diam terhadap fluks pada
kumparan stator sehingga tidak terjadi tegangan ggl pada kumparan
rotor, sesuai dengan hukum faraday.

Sebelumnya telah dibahas mengenai adanya arus stator yang


mengakibatkan munculnya arus pada rotor karena hukum faraday.
Masing-masing arus menghasilkan fluks yang mempengaruhi rotor.
Bagaimana fluks tersebut mempengaruhi kecepatan putaran rotor akan
dibahas pada paragraf ini. Arus stator akan menghasilkan fluks utama,
sedangkan arus pada rotor menghasilkan fluks pada rotor. Masing-
masing fluks ini akan mempengaruhi arah putaran rotor, hanya saja arah
keduanya berlawanan. Sesuai hukum lorentz, apabila kita memiliki
sebuah kabel yang dialiri arus dan terdapat fluks medan magnet disekitar
kabel tersebut maka akan terjadi gaya pada kabel tersebut. Karena
besarnya fluks pada stator dan rotor relatif sama maka gaya yang
dihasilkan juga sama. Namun karena arah gaya yang berbeda
mengakibatkan rotor tidak berputar akibat kedua gaya yang saling
menghilangkan. Hal ini juga yang mengakibatkan motor induksi perlu
diputar sedikit, agar salah satu gaya yang dihasilkan oleh fluks lebih
besar daripada yang lainnya sehingga rotor dapat berputar.
4. Jelaskan bagimana cara membalik arah putaran motor 1 fasa?
- Dengan membalik fasa dan nol pada lilitan utama.
DAFTAR PUSTAKA

[1]. Royen, Abi. 2017. “AC Relay dan Jenis Kelompoknya”.http://abi-


blog.com/ ac -relay-dan-jenis-kelompoknya/
Diakses pada : 23 Juni 2021
[2]. No Name. 2016. “Ketahui Komponen-Komponen Pada Panel
Listrik”.http://egatek.com/ketahui-komponen-komponen-pada-panel-
listrik/
Diakses pada : 23 Juni 2021
[3]. Nurmawan, Aji. 2016. “Push Button”.http://listrikdunia-
terang.blogspot.com/ 2016/05/pengertian-push-button-dan-prinsip.html
Diakses pada : 23 Juni 2021
[4] No Name. 2010 “TDR Time Delay Relay / Timer”.http://electric-
mechanic.blogspot.com/2010/10/timer.html
Diakses pada : 23 Juni 2021
[5] Robith, Muhammad “Prinsip Kerja Motor Induksi 1
Fasa”.http://www.insinyoer.com/prinsip-kerja-motor-induksi-1-fasa/
Diakses pada : 23 Juni 2021
[6] No Name. 2012 “Pengertian
Kontaktor”.http://teknikelektroprogramming.blogspot.com/2012/04/penger
tian-kontaktor.html
Diakses pada : 23 Juni 2021
LAMPIRAN

Gambar Keterangan
Rangkaian didalam panel.

Kondisi stanby, lampu indikator


kuning menyala. Relay dan timer
belum bekerja

Lampu indikator hijau menyala ketika


timer 1 bekerja motor berputar pada
kondisi awal.

Lampu indikator merah menyala


ketika waktu timer 2 telah habis dan
motor berputar berlawanan arah
Kondisi ketika timer 1 habis waktunya
dan timer 2 bekerja.

Motor 1 Fasa berputar ketika teraliri


fasa. Motor akan berputar searah
jarum jam ketika timer 1 bekerja, dan
berputar berlawanan arah saat timer 2
bekerja.