Anda di halaman 1dari 26

PSIKODIAGNOSTIK 1

Syahrul Alim, S.Psi., M.A


Skala Intelegensi

Kelompok 5 :
 Nurfauziah Maulidah (451809
 Resky Putri Pamawang (4518091125)
 Judith Cahyani Blake (4518091048)
 A. Yopita Pakiling (4516091029)
 Muhammad Risal (451809
Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, atas rahmat dan karuniaNya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Skala Intelegensi” dengan baik, penulisan
makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Psikodiagnostik 1.
Pada kesempatan ini, kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada Bapak Syahrul Alim, S.Psi., M.A selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikodiagnostik
serta teman-teman yang turut membantu dan memberikan masukan dalam penyelesaian makalah
ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.
Demikian pula penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran sangat kami perlukan demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

Makassar, 28 Maret 2019


Kelompok 5
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………..
Bab 1
Pendahuluan
a. Latar Belakang ………………………………………………………………….
b. Rumusan Masalah ……………………………………………………………....
c. Tujuan …………………………………………………………………………..
Bab 2
Pembahasan
a. Pengertian Intelegensi
b. Sejarah Intelegensi
c. Faktor yang mempengaruhi Intelegensi
d.
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kita sering menemukan ada orang yang cepat, cekatan dan terampil dalam waktu
yang relatif singkat dapat menyelesaikan tugas, pekerjaan yang dihadapinya. Begitu pula
sebaliknya banyak orang dalam menyelesaikan tugas, masalah yang dihadapinya
membutuhkan waktu yang relatif lama. Bahkan ada pula yang lamban dan tak dapat
menyelesaikan pekerjaannya. Salah satu faktor yang menentukan hal tersebut adalah taraf
intelegensi orang tersebut. Istilah intelegensi ini sudah menjadi bahasa umum bagi
masyarakat, hanya saja sebagian masyarakat menamakannya kecerdasan, kecerdikan,
kepandaian, ketrampilan dan istilah lainnya yang pada prinsipnya bermakna sama.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian skala intelegensi ?
2. Jelaskan faktor-faktor mempengaruhi intelegensi ?
3. Apa saja jenis-jenis esensi intelegensi ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian intelegensi
2. Untuk memahami faktor-faktor mempengaruhi intelegensi
3. Untuk memahami jenis-jenis resensi intelegensi
BAB II
Pembahasan
A. Pengertian Intelegensi
Ada beberapa tokoh yang mendefinisikan pengertian Intelegensi ini :
1. Francis Galton, Galton tidak menemukan secara jelas mengenai definisi intelegensi. Namun, ia
percaya bahwa orang yang memiliki intelegensi tinggi adalah orang yang memiliki kemampuan
untuk bekerja dan peka terhadap stimulus fisik. Paham Galton ini merupkan pendekatan yang
berciri psikofisik.
2. Alfred Binet dan Theodore Simon, menurut keduanya, intelegensi terdiri dari tiga komponen,
yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan mengubah arah
tindakan bila telah dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri (autocriticism).
3. Lewis Madison Terman, mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk
berpikir secara abstrak.

4. H.H. Goddard, mendefinisikan intelegensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang


untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah yang akan
datang.

5. V.A.C Henmon, menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari dua faktor, yaitu kemampuan
memperoleh pengetahuan dan pengetahuan yang telah diperoleh.

6. Baldwin, mendefinisikan intelegensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami.

7. Edward Lee Thorndike, mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan memberikan respon


yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.

Dari berbagai uraian di atas secara garis besar dapat ditarik kesimpulan mengenai
pengertian intelegensi, yaitu suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara
rasional, sehingga intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan
dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional tersebut.
Dari berbagai perbedaan sudut pandang mengenai definisi intelegensi tersebut, terdapat dua tema
yang selalu muncul dalam definisi tersebut, para ahli sepakat menyatakan bahwa intelegensi
merupakan kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan kapasitas seseorang untuk beradaptasi
dengan lingkungan.

Istilah intelegensi dapat diartikan dengan dua cara, yaitu:


a. Arti luas: kemampuan untuk mencapai prestasi yang di dalamnya berpikir memegang
peranan. Prestasi itu dapat diberikan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pergaulan, sosial,
tekhnis, perdagangan, pengaturan rumah tangga dan belajar di sekolah.
b. Arti sempit: kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang di dalamnya berpikir
memegang peranan pokok. Intelegensi dalam arti ini, kerap disebut “kemampuan intelektual”
atau ”kemampuan akademik”.

Mengenai hakikat intelegensi, belum ada kesesuaian pendapat antara para ahli. Variasi
dalam pendapat nampak bila pandangan ahli yang satu dibanding dengan pendapat ahli yang
lain. Pendapat-pendapat itu antara lain :

1. Terman: intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak.

2. Thorndike: intelegensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respon yang


tepat (baik) terhadap stimulasi yang diterimanya, misalnya orang mengatakan “meja”, bila
melihat sebuah benda berkaki empat dan mempunyai permukaan datar. Maka makin banyak
hubungan (koneksi) semacam itu yang dimiliki seseorang, makin intelegenlah orang itu.

3. Wechlsler: intelegensi adalah kemampuan untuk bertindak dengan mencapai suatu


tujuan, untuk berpikir secara rasional dan untuk berhubungan dengan lingkungan secara efektif.

4. Sedangkan Breckenridge dan Vincent berpendapat bahwa “intelegensi adalah


kemampuan seseorang untuk belajar, menyesuaikan diri dan memecahkan masalah baru”.

B. Sejarah Tes Intelegensi

Pada tahun 1812-1880, E.Seguin mengembangkan sebuah papan yang berbentuk


sederhana untuk menegakkan diagnosis keterbelakangan mental. E.Seguin merupakan salah
seorang pionir yang mengkhususkan diri pada pendidikn anak terbelakang mental dan sebagai
Bapak dari tes performansi. Tes E.Seguin ini kemudian distandarisir oleh Henry H.Goddard
(dalam Dewa Ketut Sukardi, 1997:14 ).
Tahun 1882, Francis Galstron membuka pusat testing pertama di dunia. Salah satu dari
pemikiran Galstron menjadi dasar dikembangkannya pengukuran individual. Karena pada
kenyataannya individu tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya, tetapi memiliki perbedaan
individual.
Alfred Binet dan Victor Henri (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1997:14), mengemukakan
Skala Binet Simon. Ebbinghaus menciptakan completion test, yaitu suatu tes yang berupa
kalimat yang masih terbuka bagian belakangnya dan harus dilanjutkan. Melalui tes ini, dapat
dilakukan pengukuran psikologis dan secara langsung dapat memberikan diferensiasi antara yang
bodoh, rata-rata dan bright.
Salah satu orang yang mengembangkan daftar norma-norma dalam pengukuran
psikologis adalah Joseph Jasrow (1863-1944). Kemudian, pada tahun 1896, G.C. Ferrari
mempublikasikan tes yang bisa dipakai untuk mendiagnosis keterbelakangan mental. August
Oehr, mengadakan penelitian tentang interelasi antara berbagai fungsi psikologis. E.Kreplien,
seorang psikiater mengembangkan empat macam tes yaitu, tes koordinasi motorik, tes asosiasi
kata-kata, tes fungsi persepsi dan tes ingatan (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1997:15).
Pada tahun 1895, E.Kaepelin mengembangkan tes inteligensi yang berkaitan dengan tes
penalaran aritmatik dan kalkulasi sederhana. Tahun 1905, skala Binet-Simon terdiri dari tiga
puluh soal, kemudian pada tahun 1908 direvisi dan kemudian diarahkan untuk anak-anak normal
dan tidak berfungsi primer apabila dipergunakan untuk membedakan yang terbelakang dari yang
normal. Kemudian pada tahun 1911, skala Binet-Simon digunakan untuk anak-anak yang
berumur tiga tahun hingga usia dewasa. Dimana setiap tingkat usia terdapat lima soal.
Tahun 1916 (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1997:15), melalui revisi Terman dan Stanford
mempergunakan konsep IQs. Wilhelm Stern, mempergunakan rasio MA (Mental Age) dan CA
(Chronologi Age) sebagai indeks dari taraf inteligensi. Tahun 1939 untuk pertama kalinya David
Weschsler mempublikasikan tes inteligensi individu, yang dikenal dengan W.B.Test. Kemudian
pada tahun 1949 diterbitkan WISC (Wechsler Inttelegence Scale for Children) yaitu suatu tes
skala untuk tes inteligensi anak-anak.
Kemudian, sekitar tahun 1917-1918 (dalam Dewa Ketut Sukardi, 1997:16), mulai
berkembang tes kelompok. Diawali dengan tes verbal untuk seleksi tentara Army Alpha.
Sedangkan untuk buta huruf atau tidak bisa berbicara bahasa inggris digunakan yaitu Army Beta.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intelegensi

 Faktor Bawaan atau Keturunan


Berdasarkan beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa intelegensi berasal dari
faktor bawaan atau herediter. Penelitian membuktikan bahwa korelasi tes IQ dari satu keluarga
sekitar 0,50, dan diantara anak kembar dihasilkan korelasi tes IQ yang sangat tinggi, yaitu
mencapai 0,90. Penelitian pada anak yang diadopsi menujukkan bahwa IQ mereka berkorelasi
sekitar 0,40-0,50 dengan ayah dan ibu sebenarnya dan sebaliknya korelasi IQ anak dengan ayah
dan ibu angkat hanya berkisar 0,10-0,20. Lebih lanjut, bukti pada anak kembar yang diasuh
secara terpisah menunjukkan bahwa IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, meskipun
mungkin mereka tidak pernah saling mengenal.
 Faktor Lingkungan
Lingkungan dapat memberikan perubahan-perubahan yang berarti pada kapasitas
intelegensi seseorang, walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir.
Intelegensi tidak dapat terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang
dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-ransangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan
juga memegang peranan yang amat penting. Menurut Azwar (2011), proses lingkungan yang
juga berpengaruh terhadap intelegensi adalah proses belajar. Proses belajar menyebabkan
perbedaan perilaku individu satu dengan yang lainnya. Apa yang dipelajari dan diajarkan pada
seseorang akan menentukan apa dan bagaimana reaksi individu terhadap stimulus yang
dihadapinya. Sikap, perilaku, reaksi emosional, dan sebagainya merupakan atribut yang
dipelajari dari lingkungan. Lewat belajar, pengaruh budaya secara tidak langsung juga
mempengaruhi individu. Standard dan norma sosial yang berlaku pada suatu kelompok budaya
tempat individu berada akan menjadi acuan individu dalam berpikir dan berperilaku. Dengan
demikian, pengaruh faktor herediter atau warisan yang dibawa individu dan pengaruh lingkungan
tempat individu berada akan bersama-sama membentuk sifat dan karakter individu, dalam hal ini
termasuk kapasitas intelegensinya, sehingga individu yang satu tidak sama persis dengan
individu lainnya.
D. Teori-teori Intelegensi

Berdasarkan faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, teori-teori inteligensi dapat


diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu (1) teori yang berorientasi pada faktor tunggal; (2)
teori yang berorientasi pada dua faktor; dan (3) teori yang berorientasi pada faktor ganda.
Berikut ini akan dipaparkan teori-teori inteligensi berdasarkan ketiga orientasi tersebut
1.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Faktor Tunggal
Alfred Binet
Alfred Binet (1857-1911) adalah salah satu ahli psikologi yang berpendapat bahwa inteligensi
bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor umum atau sering dikenal dengan faktor
g. Menurut Binet, inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang
sejalan dengan proses kematangan individu. Binet menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu
yang fungsional sehingga memungkinkan orang lain untuk mengamati dan menilai tingkat
perkembangan individu berdasar suatu kriteria tertentu. Jadi untuk melihat apakah seseorang
inteligen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk melakukan suatu tindakan
dan kemampuannya untuk mengubah arah tindakannya tersebut jika perlu. Inilah yang dimaksud
dengan komponen Arah, Adaptasi, dan Kritik dalam definisi inteligensi Binet.

2.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Dua Faktor


a.    Charles E. Spearman
Pandangan Spearman (1927) mengenai inteligensi ditunjukkan dalam teorinya yang
dikenal dengan nama teori dua faktor. Penjelasannya mengenai teori ini berangkat dari analisis
korelasional yang dilakukannya terhadap skor seperangkat tes yang mempunyai tujuan dan
fungsi ukur yang berlainan. Hasil analisisnya memperlihatkan adanya interkorelasi positif di
antara berbagai tes tersebut. Menurut Spearman, interkorelasi positif itu terjadi karena masing-
masing tes tersebut memang mengukur suatu faktor umum yang sama, yang dinamainya faktor g.
Namun demikian, korelasi-korelasi itu tidaklah sempurna sebab setiap tes, di samping mengukur
faktor umum yang sama, juga mengukur komponen tertentu yang spesifik bagi masing-masing
tes tersebut. Faktor yang spesifik dan hanya diungkap oleh tes tertentu saja ini disebut faktor s.
Definisi inteligensi menurut Spearman mengandung dua komponen kualitatif yang
penting, yaitu (1) eduksi relasi (eduction of relation), dan (2) eduksi korelasi (eduction of
correlates). Eduksi relasi adalah kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang
berlaku di antara dua hal. Misalnya, dalam menemukan hubungan yang terdapat di antara dua
kata “panjang-pendek”. Eduksi korelasi adalah kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar
yang telah ditemukan dalam proses eduksi relasi sebelumnya ke dalam situasi baru. Misalnya,
bila telah diketahui bahwa hubungan antara “panjang” dan “pendek” merupakan hubungan lawan
kata, maka menerapkannya dalam situasi pertanyaan seperti “baik - .....”, tentu akan dapat
dilakukan.

b.   Donald Olding Hebb


Hebb membedakan inteligensi menjadi dua macam, yaitu Inteligensi A dan Inteligensi B.
Inteligensi A merupakan kemampuan dasar manusia (human basic potentiality) untuk belajar
dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Inteligensi A ditentukan
oleh kompleksitas dan kelenturan sistem syaraf pusat, yang dipengaruhi oleh gen. Gen
merupakan suatu blue-print bagi pembentukan organisme hidup, yang tersusun teratur pada
setiap kromosom dalam sel. Masing-masing gen merupakan satu bagian kecil dari suatu
makromolekul yang panjang yang disebut DNA.
Sebagian orang dibekali dengan gen dalam jumlah yang banyak dan karenanya memiliki
kesiapan yang lebih baik bagi perkembangan mentalnya. Namun ada juga sebagian orang yang
tidak memiliki gen yang cukup sehingga perkembangan mentalnya tidak dapat mencapai batas
optimal. Perkembangan mental dimaksud akan terjadi bila mendapat rangsangan dengan baik
dari lingkungan sosial dan lingkungan fisik tempat seseorang mengalami pertumbuhan.
Inteligensi B merupakan tingkat kemampuan yang diperlihatkan oleh seseorang dalam
bentuk perilaku yang dapat diamati secara langsung. Bila Inteligensi A dapat dikatakan sebagai
kemampuan potensial, maka Inteligensi B merupakan kemampuan aktual. Inteligensi B tidak
berasal dari gen yang dibawa sejak lahir, namun juga tidak sekedar diperoleh sebagai hasil
belajar dari lingkungan. Inteligensi B merupakan hasil kerjasama antara keadaan alamiah
seseorang dengan asuhan yang diterimanya, atau antara potensi genetik dan stimulasi
lingkungan.
Ukuran terhadap Inteligensi B, sebagaimana diperoleh melalui tes IQ, disebut sebagai
Inteligensi C. Inteligensi C tidak merupakan representasi total dari Inteligensi B karena tes IQ
pada umumnya hanya dapat mengukur sebagian saja dari Inteligensi B, bukan seluruhnya.

c.    Raymond Bernard Cattell


Dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattell (1963) mengklasifikasikan
kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu: Inteligensi fluid (gf) yang merupakan faktor
bawaan biologis, dan Inteligensi crystallized (gc) yang merefleksikan adanya pengaruh
pengalaman, pendidikan, dan kebudayaan dalam diri individu.
Inteligensi crystallized dapat dipandang sebagai endapan pengalaman yang terjadi
sewaktu inteligensi fluid bercampur dengan apa yang disebut dengan inteligensi budaya.
Inteligensi crystallized akan meningkat kadarnya dalam diri seseorang seiring dengan
bertambahnya pengalaman. Dengan kata lain, tugas-tugas kognitif di mana keterampilan-
keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan telah mengkristal akibat dari pengalaman sebelumnya,
seperti kekayaan kosa kata, pengetahuan, kebiasaan penalaran, dan lain-lain, semua akan
meningkatkan inteligensi dimaksud. Pada umumnya, bila kita mengatakan inteligensi sebagai
kemampuan umum dalam menyelesaikan masalah, maka hal itu berarti inteligensi crystallized.
Pada sisi lain, inteligensi fluid lebih merupakan kemampuan bawaan yang diperoleh sejak
lahir dan lepas dari pengaruh pendidikan dan pengalaman. Inteligensi fluid dapat dipandang
sebagai faktor yang tak berbentuk, yang mengalir ke dalam berbagai variasi kemampuan
intelektual. Inteligensi fluid sangat penting artinya guna keberhasilan melakukan tugas-tugas
yang menuntut kemampuan adaptasi atau penyesuaian pada situasi-situasi baru di mana
inteligensi crystallized tidak begitu berperan.
Inteligensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 atau 15 tahun, sedangkan
inteligensi crystallized masih dapat terus berkembang hingga usia 30-40 tahun, bahkan lebih. Hal
ini karena perkembangan inteligensi crystallized memang banyak tergantung pada bertambahnya
pengalaman dan pengetahuan. Dengan meningkatnya usia, pengalaman akan terus bertambah
sehingga berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi crystallized.
Meskipun berbeda, inteligensi fluid dan inteligensi crystallized dapat tampak serupa. Pada
umumnya, kemampuan fluid dan kemampuan crystallized menunjukkan korelasi yang tinggi satu
sama lain.
3.    Teori Inteligensi yang Berorientasi pada Faktor Ganda
a.    Edward Lee Thorndike
Thorndike menyatakan bahwa inteligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang
ditampakkan dalam wujud perilaku inteligen. Oleh karena itu, teorinya dikategorikan ke dalam
teori inteligensi faktor ganda.
Formulasi teori Thorndike didasari oleh bukti-bukti riset yang dilakukannya. Ia
mengklasifikasikan inteligensi ke dalam tiga bentuk kemampuan, yaitu: (1) kemampuan
Abstraksi, yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-
simbol, (2) kemampuan Mekanik, yaitu suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan
alat-alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas
sensory-motor, dan (3) kemampuan Sosial, yaitu kemampuan untuk menghadapi orang lain di
sekitar diri sendiri dengan cara-cara yang efektif.
Ketiga bentuk kemampuan ini tidak terpisah secara eksklusif dan juga tidak selalu
berkorelasi satu sama lain dalam diri seseorang. Ada kelompok orang yang sangat cakap dalam
kemampuan abstraksi, seperti para akademisi, namun tidak memiliki kecakapan dalam bidang
mekanik. Namun ada juga kelompok orang yang memiliki kecakapan tinggi dalam ketiga
kemampuan tersebut.
Thorndike meyakini bahwa tingkat inteligensi tergantung pada banyaknya ikatan syaraf
(neural connection) antara rangkaian stimulus dan respon dikarenakan adanya reinforcement
yang dialami seseorang. Orang yang telah memiliki banyak ikatan pada bidang inteligensi
mekanik akan meningkat kecakapannya pada bidang tersebut. Begitu juga pada bidang abstraksi
dan sosial.

b.        Louis Leon Thurstone & Thelma Gwinn Thurstone


Teori inteligensi L.L. Thurstone & T.G. Thurstone juga dapat dikategorikan sebagai teori
inteligensi yang berorientasi faktor ganda. Dari hasil analisis faktor yang mereka lakukan
terhadap data skor rangkaian 56 tes yang dilancarkan pada siswa sekolah lanjutan di Chicago,
mereka tidak menemukan bukti mengenai adanya faktor inteligensi umum. Menurut L.L.
Thurstone, faktor umum tersebut memang tidak ada. Yang benar adalah bahwa inteligensi dapat
digambarkan sebagai terdiri atas sejumlah kemampuan mental primer.
Berdasar hasil analisis tersebut, mereka mengatakan bahwa kemampuan mental dapat
dikelompokkan ke dalam enam faktor dan bahwa inteligensi dapat diukur dengan melihat sampel
perilaku seseorang dalam keenam bidang dimaksud. Suatu perilaku inteligen, menurut keduanya,
adalah hasil dari bekerjanya kemampuan mental tertentu yang menjadi dasar performansi dalam
tugas tertentu pula.
Dari hasil studi yang telah mereka lakukan, Thurstone menyusun Tes Kemampuan Primer
Chicago dan menguraikan keenam faktor kemampuan sebagai berikut:
V: (verbal), yaitu pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan
penguasaan komunikasi lisan.
N: (number), yaitu kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan fungsi-
fungsi hitung dasar.
S: (spatial), yakni kemampuan untuk mengenali berbagai hubungan dalam
bentuk visual.
W: (word fluency), yaitu kemampuan untuk mencerna kata-kata tertentu
dengan cepat.
M: (memory), yaitu kemampuan mengingat gambar-gambar, pesan-pesan,
angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola.
R: (reasoning), yaitu kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari
berbagai contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah.

Penelitian L.L. Thurstone & T.G. Thurstone selanjutnya menunjukkan bahwa keenam
faktor tersebut tidaklah terpisah secara eksklusif dan tidak pula independen satu sama lain. Oleh
karena itu, kesimpulan mereka, terdapat suatu faktor umum lain yang lebih rendah tingkatannya
berupa suatu faktor-g tingkat dua. Faktor-g tingkat dua inilah yang menjadi dasar bagi semua
faktor-faktor lain.

c.         Cyril Burt


Cyril Burt (1949) beranggapan bahwa faktor-faktor kemampuan merupakan suatu
kumpulan yang terorganisasikan secara hirarkis. Dalam teorinya ia mengatakan bahwa
kemampuan mental terbagi atas beberapa faktor yang berada pada tingkatan-tingkatan yang
berbeda. Faktor-faktor tersebut adalah satu faktor Umum (general), faktor-faktor Kelompok
Besar (broad group), faktor-faktor Kelompok Kecil (narrow group), dan faktor-faktor Spesifik
(specific). Model tingkat mental hirarkis yang digambarkan oleh Burt sangat erat berkaitan
dengan suatu hirarki fungsional yang diurutkan berdasarkan kompleksitas kognitifnya.
Tingkat mental terendah berupa Kemampuan Penginderaan (sensory) dasar dan Proses
Penggerak (motor), yang disingkat s dan m. Satu tingkat di atasnya adalah tingkat kemampuan
yang lebih tinggi berupa Proses Persepsi atau Proses Pengamatan dan Gerakan Terkoordinasikan
(perceptual process & coordinated movement) yang disingkat P dan M. Berikutnya adalah
Proses Asosiasi yang lebih kompleks yang melibatkan Ingatan (memory) dan Pembentukan
Kebiasaan (habit), yang disingkat M dan H. Berada di atasnya lagi adalah Proses Relasional
(relational) yang disingkat R. Berada pada puncak hirarki adalah Inteligensi Umum (I), yang
dianggap mempunyai peranan integratif yang selalu terlibat dalam setiap tingkat hirarki.

d.        Philip Ewart Vernon


Sebagaimana Burt, Vernon (1950) mengemukakan pula model hirarkis dalam
menjelaskan teorinya mengenai inteligensi. Dalam model hirarkisnya (seperti terlihat pada
gambar), Vernon menempatkan satu faktor umum (faktor-g) di puncak hirarki. Di bawah faktor-
g terdapat dua jenis kelompok kemampuan mental yang disebutnya kemampuan verbal-
educational (v:ed) dan practical-mechanical (k:m). Kedua jenis kemampuan ini termasuk dalam
faktor inteligensi yang utama atau kelompok mayor. Masing-masing kelompok mayor terbagi
lagi dalam faktor-faktor kelompok minor, yang terpecah lagi menjadi bermacam-macam faktor
spesifik pada tingkat hirarki yang paling rendah.
Mengenai faktor-faktor spesifik, Vernon berpendapat bahwa sebenarnya faktor-faktor
spesifik itu tidak banyak memiliki nilai praktis dikarenakan kurang jelas relevansinya dengan
kehidupan nyata sehari-hari. Oleh karena itu, menurut Vernon, lebih baik membicarakan faktor-
faktor yang lebih umum dikarenakan faktor umum itulah yang berkorelasi lebih konsisten dan
substansial dengan masalah kehidupan sehari-hari.
e.         Joy Paul Guilford
Teori Guilford (1959) dikenal dengan structure of intellect. Dalam model struktur ini,
Guilford berusaha menyertakan kategorisasi perbedaan individual di berbagai faktor kemampuan
mental dalam usahanya memahami dan menggambarkan proses-proses mental yang mendasari
perbedaan individual tersebut. Model teori structure of intellect ini diilustrasikan dalam bentuk
sebuah kubus atau kotak berdimensi tiga yang masing-masing mewakili satu klasifikasi faktor-
faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain.
Dimensi yang pertama adalah isi (content), terurai dalam empat bentuk, yaitu figur
(figural), simbol (symbolic), semantik (semantic), dan perilaku (behavior). Dimensi kedua adalah
operasi (operation), terurai dalam lima proses, yaitu kognisi (cognition), ingatan (memory),
produksi konvergen (convergent production), produksi divergen (divergent production), dan
evaluasi (evaluation). Dimensi ketiga adalah produk (product), terurai dalam enam jeni, yaitu
satuan (unit), kelas (class), relasi (relation), sistem (system), transformasi (transformation), dan
implikasi (implication). Dengan demikian, seluruh dimensi akan berjumlah 120 (4x5x6) macam
kombinasi yang merupakan faktor-faktor kemampuan yang berlainan dan dihipotesiskan sebagai
sumber terbentuknya kemampuan-kemampuan mental yang berbeda pula macamnya.
Dari 120 macam kemampuan tersebut, sekitar tiga perempatnya telah dibuktikan
keberadaannya secara empiris, sedangkan sisanya masih dalam proses penelitian.

f.         C. Halstead
Teori inteligensi Halstead (1961) merupakan teori yang menggunakan pendekatan
neurobiologis. Menurut Halstead, terdapat sejumlah fungsi otak yang berkaitan dengan
inteligensi dan relatif bebas dari aspek-aspek kebudayaan. Fungsi otak ini memiliki dasar
biologis dan berlaku bagi fungsi setiap otak individu. Selanjutnya, Halstead mengemukakan
adanya empat faktor inteligensi yang diringkas sebagai berikut:
a.    Faktor Central Integrative (C). Faktor ini berupa kemampuan untuk mengorganisasikan
pengalaman. Fungsi faktor ini adalah penyesuaian, di mana latar belakang pengalaman seseorang
dan hasil belajarnya akan mengintegrasikan pengalaman-pengalaman yang baru.
b.    Faktor Abstraction (A). Merupakan kemampuan mengelompokkan sesuatu dengan cara-cara
yang berbeda, dan kemampuan untuk melihat kesamaan dan perbedaan yang terdapat di antara
benda-benda, konsep-konsep, dan peristiwa-peristiwa.
c.    Faktor Power (P). Merupakan kekuatan otak (power) dalam arti tenaga otak yang utuh.
Termasuk dalam faktor ini adalah kemampuan untuk mengekang afeksi sehingga kemampuan-
kemampuan rasional dan intelektual dapat tumbuh dan berkembang
d.   Faktor Directional (D). Merupakan kemampuan yang memberikan arah dan sasaran bagi
kemampuan-kemampuan individu. Kemampuan ini menunjukkan dengan spesifik cara
mengekspresikan intelek dan perilaku.
Keempat faktor tersebut merupakan dasar dari apa yang oleh Halstead disebut sebagai
inteligensi biologis.
g.        Howard Gardner
Pendapat Gardner mengenai keberadaan Inteligensi Ganda (multiple intelligence)
didorong oleh pendapatnya bahwa pandangan dari sisi psikometri dan kognitif saja terlalu sempit
untuk menggambarkan konsep inteligensi. Pendekatan teori Gardner sangat berorientasi pada
struktur inteligensi. Teori ini juga merupakan sanggahan terhadap pendapat yang mengatakan
bahwa hanya ada kemampuan umum sebagai konsep tunggal inteligensi.
Dalam usahanya melakukan identifikasi terhadap inteligensi, Gardner menggunakan
beberapa macam kriteria, yaitu: (a) pengetahuan mengenai perkembangan individu yang normal
dan yang superior, (b) informasi mengenai kerusakan otak, (c) studi mengenai orang-orang
eksepsional seperti individu yang luar biasa pintar, juga individu idiot savant, dan orang-orang
autistik, (d) data psikometrik, dan (e) studi pelatihan psikologis. Gardner mengatakan bahwa
berbagai inteligensi yang telah diidentifikasikannya bersifat universal sekalipun secara budaya
tampak berbeda. Sebagai contoh, inteligensi linguistik tidak selalu dinyatakan dalam bentuk
tulisan, bergantung pada budaya mana yang diperhatikan. Inteligensi sangat beragam dan
kebanyakan bersifat kognitif.
Tujuh macam inteligensi yang telah berhasil diidentifikasi oleh Gardner adalah
Inteligensi Linguistik, Inteligensi Matematik-logis, Inteligensi Spasial, Inteligensi Musik,
Inteligensi Kelincahan Tubuh, Inteligensi Interpersonal, dan Inteligensi Interpersonal.
Inteligensi linguistik banyak terlibat dalam kegiatan membaca, menulis, berbicara dan
mendengar. Menurut Gardner, aktivitas linguistik terletak pada bagian tertentu dalam otak.
Sebagai contoh, daerah Broca adalah lokasi terjadinya kalimat-kalimat yang sesuai dengan
struktur bahasa sehingga seseorang yang mengalami kerusakan pada daerah tersebut, sekalipun
dapat memahami kata dan kalimat, akan tetapi sulit menerangkannya menjadi kalimat yang
benar.
Inteligensi matematik-logis adalah inteligensi yang digunakan untuk memecahkan
problem berbentuk logika simbolis dan matematika abstrak.
Inteligensi spasial digunakan dalam mencari cara untuk berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lain, untuk mengatur isi koper agar memuat barang-barang dengan efisien,
membayangkan langkah-langkah lanjutan dalam permainan catur, dan sejenisnya. Belahan otak
sebelah kanan merupakan sumber inteligensi ini. Sehingga jika terjadi kerusakan pada bagian
tersebut, maka proses spasial akan terganggu.
Inteligensi musik berfungsi dalam menyusun lagu, menyanyi, memainkan alat musik,
ataupun sekedar mendengarkan musik. Sekalipun belahan otak sebelah kanan banyak
mengandung inteligensi musik, menurut Gardner, inteligensi musik tidak terlalu pasti letaknya.
Inteligensi kelincahan tubuh diperlukan dalam aktivitas-aktivitas atletik, menari, berjalan,
dan semacamnya. Kendali gerak tubuh terletak pada bagian korteks gerak di otak yang sisi-
sisinya mengendalikan gerakan pada bagian tubuh di sisi yang berlawanan.
Inteligensi interpersonal digunakan dalam berkomunikasi, saling memahami, dan
berinteraksi dengan orang lain. Orang yang inteligensi interpersonalnya tinggi adalah mereka
yang memperhatikan perbedaan di antara orang lain, dan dengan cermat dapat mengamati
temperamen, suasana hati, motif, dan niat mereka. Inteligensi ini sangat penting pada pekerjaan-
pekerjaan yang melibatkan orang lain, seperti psikoterapis, konselor, guru, polisi, dan sejenisnya.
Inteligensi intrapersonal sangat diperlukan dalam memahami diri sendiri. Merupakan
kepekaan seseorang akan suasana hati dan kecakapannya send
E.   JENIS-JENIS ASESMEN INTELIGENSI

1.    Tes Inteligensi Individual


a.    Skala Stanford-Binet
Tes Stanford-Binet merupakan tes inteligensi yang paling populer di dunia dan seringkali
digunakan sebagai standar untuk menguji validitas tes inteligensi lain yang dikembangkan
setelahnya. Tes Stanford-Binet edisi tahun 1916 memiliki banyak kelemahan sehingga dilakukan
revisi pada tahun 1937, yang menghasilkan dua format yang paralel (L dan M). Revisi
berikutnya dilakukan pada tahun 1960 dan kemudian distandardisasi pada tahun 1972 sehingga
mencakup norma-norma yang memadai bagi populasi masyarakat Amerika saat itu.
Skala Binet edisi keempat disusun pada tahun 1986. Penyusunnya berusaha untuk
mempertahankan kelebihan edisi sebelumnya sebagai tes inteligensi individual, ditambah dengan
kelebihan tambahan dari perkembangan teori dan riset terbaru dalam psikologi kognitif. Selain
itu, pada edisi revisi keempat ini ditambahkan variasi lainnya, khususnya jenis tes nonverbal.
Edisi keempat terdiri dari 15 jenis tes yang berbeda yang mencakup empat area: (1)
verbal reasoning, (2) abstract/visual reasoning, (3) quantitative reasoning, dan (4) short-term
memory. Sebagian dari kelimabelas jenis tes tersebut dapat digunakan untuk segala umur, dan
sebagian lainnya hanya dapat digunakan untuk umur-umur tertentu.
Sebagaimana edisi sebelumnya, pada tes edisi 1986, testi diberikan tugas-tugas yang
sesuai dengan kemampuannya. Tes pertama-tama dimulai dari level yang dapat dijangkau oleh
testi dan kemudian dilanjutkan ke level yang lebih tinggi. Jawaban yang diberikan oleh testi pada
tes kosakata (sesuai dengan usia kronologisnya) dapat digunakan untuk menentukan tes mana
selanjutnya yang pertamakali akan digunakan. Tes kemudian berlanjut sampai setidaknya tiga
dari empat item tidak dapat dijawab dengan benar, di mana hal itu menunjukkan batas
kemampuan maksimal konseli (biasanya tes-tes berikutnya juga akan sulit dijawabnya dengan
benar).
Pada sebagian besar tes, setiap item hanya memiliki satu jawaban benar. Raw score setiap
tes kemudian dikonvensi ke dalam skor standard age dengan mean 50 dan standar deviasi 8.
Skor standar juga disediakan untuk masing-masing dari empat bidang kognitif bersama dengan
skor total komposit yang mencerminkan kemampuan mental umum. Masing-masing memiliki
mean 100 dan standar deviasi 16. Tes edisi keempat ini memerlukan waktu sekitar satu jam 15
menit. Tidak seluruh kelimabelas tes dilancarkan pada testi. Biasanya hanya delapan hingga 13
tes saja yang diberikan, tergantung pada entry level masing-masing testi.
Edisi keempat ini telah distandardisasi dengan lebih dari 5000 orang dari seluruh
Amerika Serikat yang di dalamnya telah mewakili sampel berdasarkan gender, umur, kelompok
etnis, dan masyarakat luas. Reliabilitas konsistensi internal tes secara keseluruhan sangat tinggi
(di atas .95), begitu pula reliabilitas masing-masing area kognitif (di atas .93). Uji reliabilitas
dengan metode test-retest terhadap bagian-bagian tes dan tes secara keseluruhan menunjukkan
hasil yang lebih tinggi bagi testi usia dewasa. Penyusun tes Binet juga telah menguji validitas
edisi keempat ini dengan menggunakan (1) validitas konstruk terhadap penelitian terkini dalam
bidang inteligensi kognitif, (2) konsistensi internal dan metode analisis faktor, dan (3) uji
korelasi dengan tes inteligensi lain.
b.   Skala Wechsler
Tes Wechsler edisi terakhir terdiri dari tiga jenis, yaitu: WPPSI-R untuk umur 3-7 tahun,
WISC-R untuk umur 6-16 tahun, dan WAIS-R untuk umur 16-74 tahun. WPPSI-R merupakan
hasil revisi pada tahun 1989. Modifikasi dan restandardisasi berikutnya yang dilakukan pada
tahun 1990an menghasilkan tes baru yang dinamakan WISC III (pengganti WISC-R). Namun
dalam subbab ini hanya akan dibahas mengenai WPPSI dam WISC-R karena edisi penggantinya
tersebut masih belum beredar saat buku ini naik cetak.
Tiga tes tersebut memiliki kesamaan pola, dengan lima atau enam subtes yang
menghasilkan skor Verbal (selanjutnya disingkat V) dan skor Performansi (selanjutnya disingkat
P). Kedua skor tersebut kemudian menghasilkan skor skala total. Subtes-subtes itu hampir mirip
namun tidak identik antara satu sama lain (untuk masing-masing tingkat usia).

Sub-sub Tes Wechsler Berdasarkan Umur Testi


Anak Kecil Anak Usia Sekolah Usia 16 Tahun Ke Atas
(WPSSI-R) (WISC-R) (WAIS-R)
VERBAL
Informasi Informasi Informasi
Pemahaman Pemahaman Pemahaman
Aritmatika Aritmatika Aritmatika
Persamaan Persamaan Persamaan
Kosakata Kosakata Kosakata
(Kalimat) (Selisih Digit) (Selisih Digit)
PERFORMANSI
Mendesain Balok Mendesain Balok Mendesain Balok
Menyempurnakan Menyempurnakan Menyempurnakan
Gambar Gambar Gambar
Menata Gambar Menata Gambar
Merangkai Obyek Merangkai Obyek Merangkai Obyek
(Memasang Hewan) Koding Simbol Digit
Jaringan Jaringan
Desain Geometrik
Catatan: tanda kurung menunjukkan bahwa tes tersebut merupakan pilihan atau suplemen. Tes yang berada pada
satu baris merupakan tes yang mirip namun berbeda isi dan judulnya.

Tes Wechsler dilancarkan oleh tester terlatih dan memerlukan waktu sekitar satu jam.
Subtes Verbal dan Performansi biasanya diberikan secara berseling. Tester memulai dengan item
yang paling mudah –misalnya menyusun balok- atau item yang menengah namun diperkirakan
cukup mudah untuk testi. Tester kemudian melanjutkan pada tes subtes berikutnya jika testi telah
selesai dengan satu tes sebaik yang ia bisa.

2.    Tes Inteligensi Kelompok


Tes kelompok diklaim lebih efisien dalam hal waktu pengadministrasian dan skoringnya.
Material-material yang digunakan juga lebih simpel, biasanya berupa: booklet, lembar jawaban
pilihan ganda, pensil, dan kunci jawaban. Tes jenis ini biasanya juga memberikan informasi yang
lebih normatif, karena data jenis ini lebih mudah dikumpulkan dalam seting kelompok.
Pengembangan tes kelompok didorong oleh kebutuhan untuk mengklasifikasikan hampir
dua juta tentara Amerika yang direkrut selama Perang Dunia I. Tes Army Alpha (untuk tentara
yang dapat membaca) dan Army Beta (untuk tentara yang tidak dapat membaca) saat itu
dikembangkan untuk keperluan militer. Berikutnya, dikembangkan pula tes inteligensi kelompok
untuk keperluan pendidikan dan personalia, dengan memodel kedua tes tersebut. Sekarang,
beberapa jenis tes kelompok telah digunakan di setiap tingkat pendidikan, dari TK hingga
pascasarjana. Tes kelompok juga digunakan secara luas oleh industri, militer, dan dalam
penelitian-penelitian. Supaya tidak kabur dengan istilah tes inteligensi, karena istilah inteligensi
seringkali disalahpahami dan disalahartikan, tes-tes kelompok tersebut lebih sering disebut
dengan tes kematangan mental, tes kecakapan kognitif, tes kesiapan sekolah, atau tes kecakapan
mental.

a.    Tes Henmon-Nelson


Tes Kecakapan Mental Henmon-Nelson terdiri dari empat level yang didesain untuk memenuhi
kebutuhan taman kanak-kanak hingga kelas XII, di mana setiap levelnya dapat digunakan untuk
tiga atau empat tingkat. Tes berisikan item jenis verbal dan numerikal, dan kemudian
menghasilkan raw score yang akan dikonversikan ke dalam IQ deviasi dan persentil.

b.   Tes Kecakapan Kognitif (Cognitive Abilities Tests)


Tes Kecakapan Kognitif merupakan versi modern dari Tes Inteligensi Lorge-Thorndike. Tes ini
terdiri dari tiga peruntukan yang berbeda, yaitu: (1) untuk TK dan kelas 1, (2) untuk kelas 2 dan
kelas 3, serta (3) untuk multilevel yang dapat digunakan di kelas 3 hingga kelas 12. Tes
Kecakapan Kognitif terdiri dari tiga bagian yang masing-masing mengukur hal yang berbeda:
verbal, kuantitatif, dan nonverbal. Bagian nonverbal mengukur tidak menggunakan bahasa
ataupun angka, namun menggunakan gambar-gambar geometrik yang harus diklasifikasikan,
dianalogikan, dan disintesakan. Dalam porsi ini, pengaruh dari sekolah formal, ketidakmampuan
membaca, atau bukan berbahasa asli Inggris, dapat diminimalkan. Raw score masing-masing
bagian kemudian dikonversikan ke dalam skor stanin dan persentil untuk setiap umur dan kelas.
Tiga skor yang dihasilkan oleh tiga bagian tersebut kemudian dapat dikomparasikan dengan
norma kelompok ataupun dikomparasikan dengan masing-masing peserta lainnya. Sebagai
tambahan, untuk menghasilkan skor deviasi IQ, skor juga dapat dikonversikan ke dalam skor
standar yang memiliki mean 100 dan standar deviasi 16. Tes Kecakapan Kognitif ini telah
distandardisasi bersama dengan Tes Keterampilan Dasar Iowa (Iowa Tests of Basic Skills) untuk
tingkat TK hingga kelas IX dan Tes Prestasi dan Profisiensi untuk kelas IX hingga kelas XII.

c.    Tes Kuhlmann-Anderson


Tes Kuhlmann-Anderson terdiri dari delapan level untuk tingkat TK hingga kelas XII, di mana
setiap level berisi beberapa tes. Tes Kuhlmann-Anderson merupakan versi terbaru dari dari salah
satu tes inteligensi terpopuler yang pernah digunakan di sekolah. Dibandingkan tes sejenis, tes
ini tidak terlalu bergantung pada bahasa, namun akan menghasilkan skor verbal, skor kuantitatif,
dan skor total. Skor disajikan dalam bentuk persentil (condidence interval) dan skor deviasi IQ.
d.   Tes Keterampilan Kognitif (Test of Cognitive Skills)
Tes Keterampilan Kognitif (Test of Cognitive Skills) merupakan versi terkini dari California Test
of Mental-Maturity-Short Form. Dalam format aslinya, instrumen tes ini didesain seperti tes
Stanford-Binet versi kelompok. Skor yang dihasilkanpun mirip dengan skor yang didapat dari tes
Stanford-Binet. Tes ini terdiri dari empat subtes yang masing-masing memiliki lima battery
untuk kelas dua hingga kelas XII. Umur dan tingkat stanin, persentil, dan norma skor standar
tersedia untuk setiap subtes. Indeks Keterampilan Total akan menghasilkan skor IQ deviasi.

e.    Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon (Otis-Lennon School Ability Test)


Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon (Otis-Lennon School Ability Test) berisi lima level tes untuk
kelas satu hingga kelas XII. Tes terbagi dalam dua bentuk R dan S. Tes ini merupakan revisi
terkini dari seri tes Otis terdahulu. Norma Tes Kesiapan Sekolah Otis-Lennon sama dengan the
Metropolitan Achievement Tests dan the Stanford Achievement Test.

f.     Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi (School and College Ability Tests)
Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi (School and College Ability Tests) terdiri dari tiga
level dan diperuntukkan bagi siswa kelas III hingga kelas XII. Dua di antaranya (X dan Y) dapat
digunakan untuk semua tingkatan. Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi berisi tes lisan
mengenai analogi verbal dan tes kuantitatif mengenai perbandingan numerik. Tes ini akan
menghasilkan tiga skor: verbal, kuantitatif, dan skor total. Skor standar, stanin, dan persentil juga
tersedia untuk setiap tingkatan level. Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi diberi norma
secara konkuren dengan the Sequential Tests of Educational Progress (STEP). Karena Tes
Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi dikembangkan oleh Educational Testing Service yang
juga mengembangkan the College Entrance Examination Board’s Scholastic Aptitude Test
(SAT), skor verbal dan kuantitatif dalam Tes Kesiapan Sekolah dan Perguruan Tinggi dapat
digunakan untuk memprediksi skor verbal dan kuantitatif SAT.

g.    Wonderlic Personnel Test


Wonderlic Personnel Test merupakan tes kecakapan mental singkat untuk orang dewasa yang
berdurasi 12 menit. Tes inteligensi dengan kertas dan pensil ini terdiri dari lima bentuk, dengan
norma yang ekstensif. Tes ini banyak digunakan dalam bisnis dan industri untuk seleksi dan
penempatan karyawan. Validitas data mengenai kesuksesan kerja tentu dapat ditemukan di
banyak perusahaan, namun memang jarang ditemukan dalam literatur penelitian. Namun
demikian, validitas tes masih dipertanyakan dalam hal seleksi posisi-posisi tertentu di mana
golongan minoritas memperoleh skor lebih rendah.

h.   Multi-Dimensional Aptitude Battery


Multi-Dimensional Aptitude Battery dikembangkan oleh Douglas Jackson pada tahun 1984
sebagai sebuah tes tulis kelompok untuk menghasilkan skor yang sama dengan yang akan
diperoleh dari Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Tes ini berisi lima tes skala verbal dan
lima tes skala performansi yang bentuknya sangat mirip dengan subtes-subtes skala WAIS,
namun dalam format tulis. Skor pada subtes-subtes tersebut memiliki mean 50 dan standar
deviasi 10, sedangkan skor total dari bagian verbal, performansi dan skala penuh memiliki mean
100 dan standar deviasi 15. Kelebihan tes ini adalah kemudahan dalam pengadministrasian dan
skoringnya. Untuk menjadi tester, juga tidak diperlukan keterampilan tingkat tinggi seperti yang
diperlukan pada skala WAIS dan Stanford-Binet. Sebagai alat tes kelompok, tes ini tentu saja
tidak bertujuan untuk memperoleh data observasional seperti yang diperoleh pada instrumen-
instrumen individual.

F. MENGHITUNG DAN MENGKLASIFIKASIKAN INTELIGENSI


1.    Intelligence Quotient
Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya inteligensi
adalah dengan menerjemahkan hasil tes inteligensi ke dalam angka yang dapat menjadi petunjuk
mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap
suatu norma
Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio
(quotient) dan diberi nama intelligence quotient (IQ). Walaupun demikian, tidak semua tes
inteligensi akan menghasilkan angka IQ karena IQ bukan satu-satunya cara untuk menyatakan
tingkat kecerdasan seseorang. Beberapa tes inteligensi bahkan tidak menghasilkan IQ, tetapi
memberikan klasifikasi tingkat inteligensi, seperti Level III yang berarti klasifikasi inteligensi
normal.
Istilah IQ diperkenalkan pertama kali pada tahun 1912 oleh seorang psikolog Jerman,
William Stern. Kemudian ketika pada tahun 1916, L.M. Terman menerbitkan edisi revisi tes
Binet, istilah IQ mulai digunakan secara resmi untuk yang pertama kali.
Sewaktu pertama kali digunakan secara resmi, angka IQ dihitung dari hasil tes inteligensi
Binet, yaitu dengan membandingkan skor tes yang diperoleh seorang individu dengan usia
individu tersebut. Pada waktu itu, perhitungan IQ dilakukan dengan menggunakan rumus:
IQ = (MA/CA) x 100
Keterangan:
MA = Mental Age (usia mental)
CA = Chronological Age (usia kronologis)
100 = Angka konstan untuk menghindari bilangan desimal

Istilah usia mental dikemukakan untuk pertama kalinya bersamaan dengan perumusan
perhitungan IQ di atas. Pada masa tersebut, rumus IQ digunakan untuk menentukan tingkat
inteligensi seseorang berdasarkan hasil tes inteligensi Binet. Sebenarnya usia mental merupakan
suatu norma pembanding, yaitu norma performansi pada kelompok usia tertentu. Misalkan anak
yang berusia delapan tahun sebagian besar di antara mereka mampu menjawab dengan benar
sebanyak 24 soal dalam tes, mak skor 24 tersebut dijadikan norma untuk kelompok anak-anak
usia delapan tahun, dan disebut usia mental delapan tahun. Bila seorang anak, dalam
mengerjakan tes yang sama, mampu menjawab 24 soal dengan benar, maka ia dikatakan sebagai
mempunyai usia mental delapan tahun, sekalipun usia kronologisnya baru tujuh tahun. Adapun
usia kronologis adalah usia anak sejak dilahirkan yang dinyatakan dalam satuan tahun atau
dalam satuan bulan.
2.    Batasan Rasio MA/CA
Gagasan pokok dalam perumusan rasio MA/CA adalah perbandingan relatif antara usia
kronologis dengan usia mental yang telah ditentukan berdasar rata-rata skor pada kelompok usia
tersebut. Seorang yang berinteligensi normal, diharapkan pada usia lima tahun akan mencapai
usia mental lima tahun, pada usia tujuh tahun akan mencapai usia mental tujuh tahun, dan
seterusnya.
Ternyata, hubungan seperti disebutkan di atas tidaklah selalu ditemui dalam
kenyataannya. Setelah memasuki usia remaja akhir, usia mental seseorang rupanya tidak lagi
banyak berubah, bahkan cenderung menurun. Rata-rata skor tes yang diperoleh individu berusia
40 tahun relatif sama dengan rata-rata skor sewaktu ia masih berusia 15 tahun, dan karenanya
tidaklah layak untuk mengatakannya mencapai usia mental 40 tahun. Di sisi lain, usia kronologis
seseorang terus saja bertambah dari waktu ke waktu. Dengan demikian, apabila tes dilakukan
dengan membandingkan MA dan CA, maka angka IQ yang diperoleh akan semakin mengecil
sejalan dengan bertambahnya usia kronologis. Hal itu memberikan kesan bahwa semakin tua
seseorang akan, maka IQ-nya akan semakin menurun. Padahal hal tersebut tidaklah logis dan
tidak sesuai dengan kenyataan. Karena itu, perhitungan IQ dengan menggunakan perbandingan
MA dan CA tidak dapat dilanjutkan lagi.

3.    Perumusan IQ-Deviasi


Dengan adanya kelemahan penggunaan rasio MA/CA untuk menghitung IQ, maka David
Wechsler memperkenalkan konsep penghitungan IQ yang disebut IQ-Deviasi. IQ-Deviasi tidak
ditentukan berdasarkan perbandingan MA/CA, akan tetapi dihitung berdasarkan norma
kelompok (mean) dan dinyatakan dalam besarnya penyimpangan (deviasi standar) dari norma
kelompok tersebut. Dalam statistika, angka yang dinyatakan dalam satuan deviasi standar disebut
skor standar dan dirumuskan sebagai:

Skor Standar = m + s {(X-M)/sx}


Keterangan:
m = mean skor standar yang diinginkan
s = deviasi standar yang diinginkan
X = skor mentah yang akan dikonversikan
M = mean distribusi skor mentah yang diperoleh
sx = deviasi standar skor mentah yang diperoleh

Sebagai catatan, mean IQ selama ini ditetapkan sebesar 100. Hal ini merupakan kebiasaan
tradisional para ahli tes inteligensi selama berpuluh-puluh tahun dalam menafsirkan IQ sebesar
100 sebagai tanda tingkat inteligensi normal. Wechsler sendiri menggunakan mean sebesar 100
dan deviasi standar sebesar 15 untuk menghitung IQ yang diperoleh dari tes WAIS dan WISC,
sedangkan tes Stanford-Binet, sejak edisi revisi tahun 1960, menggunakan mean sebesar 100 dan
deviasi standar sebesar 16.

4.    Distribusi IQ dan Klasifikasi Inteligensi


Sebagaimana karakteristik fisik dan karakteristik psikologis yang lain, dalam suatu
populasi yang besar, distribusi angka IQ akan mengikuti suatu model sebaran normal yang
berbentuk genta/lonceng simetris, di mana mean terletak di tengah sumbu, angka-angka yang
lebih kecil dari mean terletak di sebelah kiri, dan angka-angka yang lebih besar dari mean
terletak di sebelah kanan. Hal itu terjadi sesuai dengan deskripsi matematis Quatelet mengenai
kurva lonceng yang dijadikan landasan oleh Galton, pada tahun 1869, untuk menyatakan bahwa
setiap sifat yang terjadi secara alamiah akan mempunyai satu mean dan satu distribusi normal
terhadap mean tersebut.
Implikasi model distribusi normal ini terhadap tingkat inteligensi adalah bahwa
persentase terbesar populasi akan memiliki IQ di sekitar mean (100), yaitu di antara angka 90
dan 110. Semakin jauh ke arah kiri (IQ semakin rendah) dan semakin jauh ke arah kanan (IQ
semakin tinggi), persentase populasi yang ada akan semakin kecil. Artinya, persentase orang
yang mempunyai IQ yang tinggi sekali akan sama kecilnya dengan persentase orang yang
memiliki IQ rendah sekali.
Hal tersebut telah terbukti kebenarannya dari data yang diperoleh oleh Terman dan Merril
pada tahun 1937. Data tersebut berasal dari 3184 subyek yang digunakan untuk standardisasi tes
Stanford-Binet. Distribusi data tersebut tampak dalam tabel berikut:

IQ PERSENTASE KLASIFIKASI
160 – 169 0,03
150 – 159 0,20 Sangat Superior
140 – 149 1,10
130 – 139 3,10
Superior
120 – 129 8,20
110 – 119 18,10 Rata-rata Tinggi
100 – 109 23,50
Rata-rata Normal
90 – 99 23,00
80 – 89 14,50 Rata-rata Rendah
70 – 79 5,60 Batas Lemah
60 – 69 2,00
50 – 59 0,40
Lemah Mental
40 – 49 0,20
30 – 39 0,03

Normalitas distribusi skor tes inteligensi juga diperlihatkan oleh hasil pelancaran skala WAIS-R,
pada tahun 1981, sebagaimana tampak dalam tabel di bawah ini. Dalam tabel tersebut dapat
dibandingkan distribusi persentase teoretis bagi masing-masing kelompok IQ dengan distribusi
persentase yang diperoleh dari sampel nyata.
IQ PERSENTASE KLASIFIKASI
Teoretis Sampel Nyata
≥ 130 2,2 2,6 Sangat Superior
120 – 129 6,7 6,9 Superior
110 – 119 16,1 16,6 Di Atas Rata-rata
90 – 109 50,0 49,1 Rata-rata
80 – 89 16,1 16,1 Di Bawah Rata-
rata
70 – 79 6,7 6,4 Batas Lemah
≤ 69 2,2 2,3 Lemah Mental

Gambaran distribusi IQ demikian diharapkan juga dapat berlaku pada populasi subyek yang lain
di mana saja, asalkan bukan merupakan kelompok khusus atau kelompok pilihan.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN ASESMEN INTELIGENSI


Pelaksanaan tes intelegensi memberikan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk
menjamin adanya hasil dari sebuah pelaksanaan tes yang reliabel dan valid. Beberapa hal yang
harus dilakukan dalam prosedur pelaksanaan tes intelegensi antara lain sebagai berikut.
1.        Menciptakan Suasana Testing
Kegiatan menciptakan sebuah kondisi dan situasi testing memiliki tujuan pokok agar testi
dapat menunjukkan dan memberikan performance yang dimilikinya dengan sebaik mungkin.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya terkait dengan
kondisi fisik bangunan yang digunakan dalam pelaksanaan sebuah tes intelegensi. Misalnya,
penerangan ruangan, ventilasi ruangan, dan besarnya ruangan yang digunakan tersebut. Sebagai
contoh, testi akan mengalami kesulitan memahami pengarahan yang diberikan sebelum tes
intelegensi dilaksanakan jika tidak ditunjang dengan sound system yang memadai.
Selain kondisi fisik bangunan yang digunakan dalam pelaksanaan tes, hal lain yang perlu
diperhatikan yakni keadaan atau kondisi orang yang akan dites. Hasil tes yang ditunjukkan dari
testi yang mengalami kelelahan dan mengalami masalah-masalah yang lain bukan merupakan
sampel yang representatif dari tingkah laku yang diharapkan muncul dalam kondisi dan situasi
tes. Hal ini dikarenakan, tes intelegensi secara umum menghendaki kondisi fisik dan mental yang
serasi dalam diri seorang individu. Jika tes intelegensi dilaksanakan dalam kondisi testi yang
kurang mendukung, maka dalam interpretasinya nanti harus disertakan kondisi-kondisi testi yang
kurang mendukung pelaksanaan tes intelegensi ini.
 
2.        Memberikan Motivasi dan Menciptakan Rapport dalam Testing
Motivasi merupakan salah satu hal yang harus menjadi perhatian, karena motivasi testi
yang mendasari pelaksanaan tes intelegensi akan mempengaruhi skor testi. Beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam memahami motivasi dalam testing antara lain.
a.       Reinforcement yang dapat meningkatkan skor
Pada umumnya testi akan memiliki dorongan yang lebih besar dalam menyelesaikan
sebuah tes intelegensi jika mengetahui akan memperoleh reinforcement dari penyelesaian tes
intelegensi tersebut. Untuk anak-anak, reinforcement dapat berupa hadiah-hadiah, untuk siswa
sekolah menengah dapat dimotivasi dengan menyampaikan bahwa hasil tes intelegensi berguna
untuk mengetahui diri mereka sendiri dengan lebih baik dan juga penting untuk penjurusan
bidang studi mereka. Jika kegiatan ini dapat dilakukan secara optimal kepada testi, maka hasil tes
yang diperoleh akan cukup representatif dari tujuan yang diharapkan dalam pelaksanaan tes
intelegensi ini. 
b.      Motivasi-motivasi yang dapat mengurangi skor.
Pelaksanaan tes intelensi tidak menutup kemungkinan sedikit banyak akan memicu
munculnya dorongan atau motivsi dalam diri testi yang akan mendorong testi untuk mengambil
“jalan aman” dalam penyelesaian tes intelegensi atau bahkan tidak bersungguh-sungguh dalam
penyelesaiannya. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian tester untuk dapat menciptakan
sebuah kondisi yang dapat memotivasi testi agar bersungguh-sungguh dalam penyelesaian tes
intelegensi ini, selain juga menghindarkan testi dari perasaan tegang yang dapat mengakibatkan
testi membuat banyak kesalahan dalam menyelesaikan tes intelegensi ini. Hal yang dapat
dilakukan tester yakni dengan membangkitkan ego-involvement dari testi, yakni sebuah situasi
yang melibatkan kepentingan seorang individu.  

c.       Ketakutan dalam menghadapi tes


Adanya ketakutan dalam menghadapi sebuah tes merupakan hal yang wajar, ketakutan
yang muncul dalam diri seorang testi dapat berasal dari orang tua, guru-guru, dan teman sebaya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa testi yang khawatir tentang hasil tesnya akan
menunjukkan jumlah kesalahan yang lebih besar jika dibandingkan dengan testi yang tidak atau
kurang mengkhawatirkan hasil tes yang diselesaikannya tersebut. Kondisi ini dapat ditangani
dengan memberikan treatment reconditioning, dengan memberikan pemahaman kepada testi
bahwa tes intelegensi yang akan dilaksanakan merupakan alat atau media yang dapat membantu
(seorang individu) untuk dapat memahami dirinya sendiri dengan lebih baik, dan tes yang akan
dilakukan ini perlu disikapi secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, dan diselesaikan dengan
sebaik-baiknya.

d.      Membentuk Rapport dalam Testing


Sebagian besar teknik yang digunakan dalam membentuk rapport ditentukan oleh sifat
tes yang akan diselesaikan dan tingkatan umur subyek yang akan dites. Teknik pembentukan
rapport pastinya akan berbeda antara subyek anak taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah
menengah, dan orang dewasa. Setiap tingkatan perkembangan ini akan memberikan tantangan
terhadap tester untuk dapat menciptakan sebuah hubungan yang baik dan menciptakan suatu
lingkungan yang aman dan nyaman antara testi dan tester dalam proses penyelesaian sebuah tes.
Sebagai contoh, tester dituntut untuk dapat menunjukkan sikap membantu, bersahabat,
ramah,dapat dipercaya, dan santai dalam menciptakan rapport sebelum pelaksanaan sebuah tes.
Kondisi pembentukan rapport ini dapat ditunjung dengan adanya kesamaan apa saja antara tester
dengan testi, karena adanya kesamaan ini dapat membangkitkan rasa aman dan kepercayaan
dalam diri testi. Hal yang lain, tester juga dapat menciptakan kondisi agar anak (testi) dapat
menyelesaikan sebuah tes dengan sungguh-sungguh sebagaimana dirinya (testi) bersungguh-
sungguh dalam menghadapi sebuah permainan tertentu yang disukai oleh testi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk rapport agar dapat berjalan dengan baik
yaitu menghindari pelaksanaan sebuah tes secara mendadak. Jika sebuah tes dilakukan secara
mendadak, secara langsung maupun tidak langsung akan memicu munculnya rasa tidak nyaman
dalam diri testi sebelum, selama, dan bahkan setelah menyelesaikan sebuah tes. Oleh karena itu,
sebelum pelaksanaan sebuah tes harus diberitahukan terlebih dahulu, sehingga testi (siswa) dapat
mempersiapkan dirinya terlebih dahulu sebelum menghadapi sebuah tes.      

3.        Memberikan Pengarahan kepada Testi


Memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan oleh testi dalam menyelesaikan tes
intelegensi merupakan salah satu tanggungjawab yang penting dalam prosedur pelaksanaan tes
intelegensi. Tester dalam memberikan pengarahan apa yang harus dilakukan oleh testi harus
sesuai dengan yang tercantum dalam manual book tes intelegensi. Tester mengikuti semua
petunjuk yang ada dalam manual book, seperti nama, umur, tanggal pengetesa, dan lain
sebagainya secara jelas, membacakannya kata demi kata, tidak menambah dan atau merubah
sedikit pun petunjuk penyelesaian suatu tes, hingga dapat dipahami dengan baik oleh testi dan
tidak terjadi kesalahfahaman dari pengarahan yang diberikan tersebut.    
Tester harus tegas dalam menyampaikan petunjuk kepada testi, selain juga menentukan
waktu yang tepat dalam menyampaikan petunjuk tersebut, sehingga petunjuk yang disampaikan
kepada testi tidak diulang berkali-kali. Hal lain yang juga diperhatikan yakni pengarahan
dilakukan secara sederhana, jelas, dan tahap demi tahap. Sebagai contoh, tester memberikan
perintah “ambillah buku tesmu”, disaat yang bersamaan tester juga mengambil satu buku tes pula
sebagai contoh sembari memeriksa apakah perintah yang disampaikannya tersebut telah
dilakukan oleh testi sebelum melanjutkan perintah berikutnya. Penyampaikan perintah ini harus
bersifat formal, dapat didengarkan dengan jelas tetapi tetap dengan nada yang sopan dan tidak
menyebabkan testi merasa tidak bebas dan tertekan. Sesekali dalam situasi yang formal tersebut
diiiringi dengan suara yang santai semisal saat menyampaikan arti dan tujuan tes yang akan
diselesaikan.

4.        Mengontrol Cara Kerja Testi


Setelah kegiatan pemberian pengarahan selesai, tester memberikan aba-aba bahwa tes
mulai dapat dikerjakan. Tester mengawasi dan menjaga batas waktu sesuai dengan yang
ditetapkan tes. Batas waktu dalam penyelesaian tes intelegensi ini harus dijaga ketat. Hal yang
lain yang dapat dilakukan oleh tester yakni melakukan kontrol apakah testi telah mengerjakan
sesuai dengan petunjuk, tetapi perlu diperhatikan dalam hal ini hendaknya kegiatan tester ini
tidak sampai mengganggu testi yang sedang menyelesaikan tes. Sebagai contoh, berlama-lama
melihat dan mengamati pekerjaan testi

5.        Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Testi


Jika sebuah pengarahan testing telah diberikan biasanya akan diikuti oleh berbagai
macam pertanyaan dari testi. Menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari testi ini, tester
menjawab pertanyaan yang disampaikan dengan tidak menambahi hal-hal atau pengertian-
perngertian baru sebagaimana yang telah tercantum dalam manual book. Hal ini perlu mendapat
perhatian yang lebih karena penyampaian pengarahan merupakan bagian dari dalam situasi tes.
Dalam pelaksanaannya, pengarahan yang tidak dapat dimengerti dan dipahami dengan baik dapat
mempengaruhi skor yang diperoleh testi sebagai hasil tes.

6.        Menskor hasil tes dan mentfansformasian ke dalam norma


Jika tes telah selesai dilakukan, kegiatan berikurnya yakni menskor hasil tersebut.
Kegiatan ini cukup sederhana, yang dilakukan yakni mencocokkan jawaban testi dengan kunci
jawaban yang telah tersedia. Biasanya setiap jawaban yang benar diberi skor 1, dan secara
keseluruhan dijumlahkan untuk mendapatkan skor total, yang kurang sederhana ialah kunci
jawaban tersebut berupa petunjuk yang memberikan berbagai kategori dengan gradasi skor yang
berbeda-beda.
Skor total yang dihasilkan biasanya disebut skor “mentah” karena belum diolah lebih
lanjut. Untuk menjadikan skor “mentah” ini memiliki lebih banyak makna, maka skor “mentah”
ini harus dibandingkan dengan patokan tertentu. Dapat dilakukan melalui membandingkannya
dengan suatu norma tertentu untuk melihat kedudukan relatif dari individu pemilik skor tersebut,
lebih tinggi atau lebih rendah dari umum. Untuk tes intelegensi, norma yang lazim digunakan
ialah yang didasarkan pada pengelompokan umur. Hal yang dapat dilakukan agar skor “mentah”
ini lebih bermakna yakni dengan mentransformasikannya ke dalam IQ, hal ini akan menjadikan
skor “mentah” tersebut berubah menjadi “self expalining” yang dapat langsung menerangkan
kedudukannya sendiri. Cara yang paling banyak digunakan yakni dengan menggunakan tabel
transformasi, yakni dengan mencocokkan skor “mentah” dengan nilai IQ yang telah tercantum
dalam tabel untuk kelompok umur yang diperlukan.

7.        Menafsirkan dan melaporkan hasil tes


Dalam melaporkan hasil tes harus dituliskan identitas testi secara lengkap dan jelas, jenis
tes yang digunakan juga harus disebutkan, termasuk tanggal pengetesan. Hal ini dikarenakan
nilai IQ yang diperoleh dari suatu tes hampir tidak pernah sama antara satu tes dengan tes
lainnya. Melaporkan nilai IQ, baik itu tinggi maupun rendah, akan membawa risiko masing-
masing dari pencantuman nilai IQ tersebut. Pencantuman nilai IQ yang rendah akan membawa
risiko yang lebih besar jika dibandingkan dengan pencantuman nilah IQ yang tinggi. Dalam
melaporkannya, nilai IQ tinggi lebih reliabel jika dibandingkan dengan nilai IQ rendah, karena
nilai IQ rendah dapat berarti macam-macam, seperti kurang percaya diri, kurang motivasi, tidak
ada minat mengerjakan tes, dan lain sebagainya, oleh karena itu perlu dipertimbangkan untuk
menggunakan tes yang lain. Hal terakhir terkait pelaporan hasil tes ialah laporan hasil tes
tersebut harus ditandatangani dengan mencantumkan tangga pembuatan laporan.

H. KELEMAHAN TES INTELIGENSI


Menurut Cronbach (1970) dalam Azwar (2006) menempatkan tes intelegensi umum
berdasarkan ethical standart of psychologist pada golongan tes Level B, yaitu tes yang hanya
boleh dilakukan oleh mereka yang memiliki latar belakang dan pendidikan psikologi dan terlatih
secara khusus dalam penggunaan tes ini. Sedangkan penggunaan tes intelegensi secara klinis
menempatkan tes ini pada golongan Level C, yaitu tes yang hanya boleh dilakukan oleh mereka
yang memiliki paling tidak tingkat mastes dalam bidang psikologi dan mempunyai paling tidak
pengalaman minimal satu tahun dalam penggunaan tes, yang bersangkutan dibawah pengawasan
yang ketat.
Aspek administrasi tes intelegensi ini menuntut kualifikasi taraf terlatih, dalam hal ini
dapat dilakukan oleh siapapun yang telah dipersiapakan secara matang dan dilatih secara khusus,
sehingga kesalahan-kesalahan dalam pengadminisresian dapat dihindari. Aspek interpretasi tes
intelegensi ini menuntut kualifikasi terdidik secara khusus dalam bidang psikologi, hal ini
dikarenakan hasil tes intelegensi akan memiliki manfaat yang besar jika dipergunakan secara
tepat, akan menjadi berbahaya jika disalahgunakan oleh orang yang tidak dapat
menginterpretasikannya dengan benar, dan akan merugikan testi dan instansi yang
berkepentingan dalam menggunakan hasil tes intelegensi ini.
BAB III
Penutup

A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dipahami bahwa intelegensi, yang seringkali
diartikan dengan kecerdasan, adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu
dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kecakapan tersebut meliputi
aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Realitanya, intelegensi itu memiliki banyak jenis dan beranekaragam. Hal inilah yang
kemudian mendorong lahirnya pandangan, bahwa intelegensi itu mencakup 10 dimensi seperti
yang dipaparkan oleh Gardner.
Kenyataannya, teori Gardner, yang terkenal dengan istilah teori multiple
intelegensi tersebut dipandang sebagai teori yang relatif lebih kompleks dalam menjelaskan
intelegensi. Pandangan Gardner dilatar belakangi oleh pemahamannya bahwa sejatinya setiap
manusia berhak menjadi orang cerdas. Gardner melihat setiap orang memiliki potensi bawaan
yang diperoleh dari keturunannya (genetik), dan pengalaman-pengalaman berikutnya akan
mengembangkan potensi tersebut, meskipun dia mengakui, bahwa potensi yang dimiliki setiap
orang tidaklah sama.
Dengan menggunakan pendekatan multiple intelegensi, maka pendidikan yang didesain
akan selaras dengan segala potensi yang dimiliki oleh seluruh peserta didik. Karena teori ini
tidak membatasi pengembangan dalam dimensi tertentu semata, di samping juga teori ini
mendorong pentingnya pengembangan secara serentak terhadap ketiga aspek, yakni aspek
kognitif, psikomotorik, dan afektif.

B. Saran

Berdasarkan simpulan diatas, penulis memberikan saran kepada para pembaca bahwa
kita perlu memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, namun kita perlu memperhatikan
kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual kita. Kecerdasan spiritual menjadi
landasan dalam mejalankan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Dengan
memiliki kecerdasan spiritual yang baik, maka sebagai seorang pelajar akan dapat
mengembangkan kecerdasan lainya sesuai dengan sila yang baik.

Rekan-rekan pembaca yang baik, selain dari saran tersebut penulis menyadari dalam
penulisan makalah ini terdapat kesalahan dan kekeliruan, untuk itu kritik dan saran sangat
penulis harapkan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat tersusun menjadi
lebih baik.