Anda di halaman 1dari 8

LEMBAR PENGAMATAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS ISLAM MALANG

Nama : Faradillah Komalasari Praktikum : Ekologi Umum


NPM : 21901061040

NO BAGIAN PENJELASAN
Topik 1 : PENENTUAN FAKTOR ABIOTIK EKOSISTEM TERESTERIAL
1 Judul
Topik 2 : PENDUGAAN POPULASI BURUNG GEREJA (Passermontanus)

2 Tujuan Topik 1:
a. Menggunakan teknik sederhana untuk mengukur beberapa faktor
lingkungan termasuk iklim mikro, faktor geografis dan faktor edafis
b. Mempelajari interaksi di antara faktor abiotik yang diamati

Topik 2 :
a. Menentukan dan membandingkan ukuran populasi burung gereja di dua lokasi

3 Tinjauan
Pustaka Faktor Abiotik : komponen fisik dan kimiawi yang terdapat pada suatu ekosistem
sebagai medium atau substrat untuk berlangsungnya suatu kehidupan.
Komponen abiotik meliputi udara, air, tanah, garam mineral, sinar matahari,
suhu, kelembaban, dan derajat keasaman (Djunaid dan Setiawan, 2018)
Faktor lingkungan abiotik meliputi suhu, kelembaban, kecepatan angin,
intensitas cahaya, pH, kelembaban tanah, posisi geografis (ketinggian
tempat, garis lintang dan garis bujur), serta curah hujan (Risma.,dkk, 2019).

Iklim Mikro : faktor-faktor kondisi iklim setempat yang memberikan pengaruh


langsung terhadap fisik pada suatu lingkungan (Indrawan.,dkk, 2017).
Iklim mikro merupakan iklim di lapisan udara terdekat permukaan bumi
dengan ketinggian kurang lebih 2 meter (Bunyamin, 2010 dalam Indrawan.,
dkk, 2017).

Faktor Geografis: keadaan lingkungan fisik (iklim, topografi, sumberdaya alam) dan
lingkungan sosial tertentu yang mempengaruhi kepribadian individu atau
kelompok karena harus menyesuaikan diri dengan lingkungamnya
(Setyaningrum,2019).

Faktor Edafis: kondisi tanah dari segi tekstur, komposisi kimia, kelengasan, keadaan
suhu, keasaman tanah, dan juga organisme yang hidup di dalamnya
(Manuaba.,dkk, 2018).
NO BAGIAN PENJELASAN
Populasi : adalah kelompok individu-individu yang memiliki kesamaan genetik atau
anggota-anggota dari spesies yang sama, dan berada bersama-sama dalam
tempat dan waktu yang sama (Effendi., dkk, 2018).

4 Metode dan FAKTOR ABIOTIK


Cara Kerja Iklim Mikro

1. Suhu
- Alat : termometer, Suhu (temperatur) merupakan salah satu faktor pembatas bagi
organisme.
- Cara Penggunaan : Cara penggunaannya adalah dengan meletakkan ujung
termometer di bagian bawah lidah dan tutup mulut hingga alat mengeluarkan bunyi
tertentu. Bunyi tersebut biasanya menandakan bahwa suhu tubuh telat selesai
tercatat.
Pengukuran suhu juga dapat diketahui dengan menggunakan aplikasi termometer
pada android.
Cara penggunaan: setelah aplikasi di download, aplikasi dibuka dan diaktifkan akses
lokasi, setelah itu akan muncul suhu pada lokasi tersebut.

2. Kelembaban Udara
- Alat : Kelembapan relatif udara (%) diukur dengan hygrometer, psikometer
berdasarkan pembacaan suhu kering dan basah.
- Cara Penggunaan : Untuk Hygrometer yaitu dengan meletakkan alat ini di tempat
yang ingin diukur kelembapannya. Lalu, hanya perlu menunggu beberapa saat saja
dan kemudian baca skala yang ditunjukkan. Sedangkan psikometer dengan cara
gagang saling dipegang erat, kemudian diputar searah jarum jam selama kurang
lebih 30 detik, maka termometer akan menunjukkan suhu basah dan kering. Selisih
antara suhu basah dan kering akan menentukan kelembaban udara pada saat suhu
diukur.

3. Cahaya :
- Alat : Intensitas cahaya diukur dengan fotometer, luxmeter atau lightmeter
- Cara Penggunaan : Geser tombol ”off/on” kearah On. Pilih kisaran range yang akan
diukur ( 2.000 lux, 20.000 lux atau 50.000 lux) pada tombol Range. Arahkan sensor
cahaya dengan menggunakan tangan pada permukaan daerah yang akan diukur kuat
penerangannya. Lihat hasil pengukuran pada layar panel.

4. pH tanah
- Alat : kertas pH atau pH meter.
- Cara Penggunaan : ambil 1 strip kertas lakmus lalu celupkan ke dalam air / cairan
selama kira kira 5 detik, lalu angkat dan langsung cocokan perubahan warna pada
kertas strip tsb pada tabel warna yang ada di kotak kemasan. Sedangkan Cara
Menggunakan pH Meter Digital, Ambil sampel yang mau di ukur kadar pHnya
(letakkan dalam wadah). Nyalakan dengan menekan tombol on pada pH
NO BAGIAN PENJELASAN
meter.Masukkan pH meter ke dalam wadah yang berisi air yang akan di uji.Pada saat
di celupkan ke dalam air, skala angka akan bergerak acak.

Faktor Geografis

1. Ketinggian dan koordinat lokasi


- Alat : Ketinggian diukur dari permukaan laut dengan altimeter dan Kemiringan
diukur dengan hagameter, busur derajat atau kompas lapang
- Cara Penggunaan : Agar mendapatkan hasil yang akurat, ikutilah langkah-langkah
berikut dalam penggunaan altimeter:
1. Ditempatkan altimeter pada posisi datar dan dipastikan gelembung nivo berada
tepat di tengah lingkaran.
2. Selanjutnya, diatur jarum indikator yang memiliki tanda minus dan plusagar
berada di tengah. Untuk mengaturnya, diputar tuas pemutar besar yang berada
pada altimeter.
3. Kemudian, diatur skala ketinggian pada titik 0 meter. Caranya, ditarik ke atas lalu
putar tuas pemutar kecil.
4. Setelah itu, dipindahkan altimeter ke tempat yang akan diukur ketinggiannya.
5. Mencari ketinggian tempat yang diinginkan dengan cara memutar atau mengatur
jarum indikator hingga berada di tengah lalu Dibaca skala yang muncul.

PENDUGAAN POPULASI BURUNG GEREJA


Cara Kerja :
25 m

5m

5m

Besar populasi dihitung :


AZ
P=
X.2.Y

Keterangan :
P = Perkiraan besar populasi
A = Luas area penjelajahan
Z = Jumlah hewan (serangga) yang dilihat
X = Panjang garis transek
Y = Jarak rata-rata tempat hewan terlihat dan terhitung
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) FAKTOR ABIOTIK
Lokasi : Lembata, Kel. Lewoleba Tengah, Nusa Tenggara Timur
Tanggal : 22 Juni 2021
Jam : 07.03
Musim bulan ini : musim peralihan
Keadaan cuaca : cerah berawan

Faktor abiotik Lokasi I Lokasi II

Faktor iklim mikro

Intensitas cahaya (lux) 7481, 13 lux 8397,74 lux


(lx) (lx)

Temperatur (0C) 30°C 31° C

Kelembaban udara (%) 87% 85%

Ketinggian (m dpl) 50 m dpl 50 mdpl

Evaporasi (g.cm-2) - -

Arah angin Timur Timur

Kecepatan angin (km.j-1) 5 km/jam 5 km/jam

Curah hujan 16 % 16 %

Faktor geografis

Topografi Datar Datar

Ketinggian (m dpl) 50 m dpl 50 m dpl

Kemiringan (° C) 1° 1°°

Faktor edafis

Jenis Tanah humus Tanah


berpasir

Tekstur Halus, Kasar,


lembab kering

Struktur

Temperatur (0) - -

Kelembaban (%) - -

Keasaman - -
2) PENDUGAAN POPULASI BURUNG GEREJA

𝐴×𝑍
Lokasi A Z X Y P=𝑋×2𝑌

I 5m 9 25 0.6 1.5

II 5m 5 25 1 0.5

Pembahasan :

1. Faktor Abiotik
Menurut Djunaid dan Setiawati (2018) Komponen abiotik adalah komponen fisik dan kimiawi
yang terdapat pada suatu ekosistem sebagai medium atau substrat untuk berlangsungnya suatu
kehidupan. Komponen abiotik meliputi udara, air, tanah, garam mineral, sinar matahari, suhu,
kelembaban, dan derajat keasaman.
Pada penelitian ini dilakukan menggunakan teknik sederhana untuk mengukur beberapa
faktor lingkungan termasuk iklim mikro, faktor geografis, dan faktor edafis serta mengetahui interakti
dari faktor abiotik yang diamati. Pengamatan faktor abiotik dilakukan pada 2 lokasi yang berbeda.
Lokasi pertama berada di bawah penutupan tajuk yang rindang jarang dilalui orang, sedangkan lokasi
II berada pada daerah yang sering diinjak.
Dari hasil pengukuran pada lokasi I diperoleh intensitas cahaya sebesar 7481, 13 lx, dengan
temperatur 30°C. Kelembapan udara pada lokasi ini sebesar 87%, dan berada pada ketinggian 50 m
dpl. Arah anginnya dari timur dengan kecepatan angin sekitar 5 km/jam serta curah hujan 16%. Untuk
faktor geografis, lokasi I berada pada topografi yang datar dengan kemiringan 1°°. Jenis tanah pada
lokasi ini adalah tanah humus atau tanah hitam yang sangat bagus bagi tumbuhan.
Menurut Simamora., dkk (2017) Daerah yang bertajuk rapat atau intensitas cahaya rendah memiliki
kelembaban tanah cenderung lebih basah dibandingkan dengan di daerah terbuka. Komponen biotik
yang ditemukan pada lokasi ini didominasi oleh pohon pisang, rumput-rumput liar, jamur, nyamuk,
jangkrik, cacing dll. Dominasi Spesies ini sangat membantu untuk membatasi jumlah intensitas cahaya
matahari yang mencapai lantai tanah karena memiliki tajuk yang luas sehingga dapat menjaga
kestabilan iklim mikro (Simamora, dkk. 2017). Keberadaan cacing juga memiliki peran yang sangat
besar bagi kesuburan tanah. Struktur tanah yang bagus akan mempengaruhi kondisi tanaman. Hal ini
menunjukkan komponen abiotik sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup organisme yang
ada pada lokasi I.
Lingkungan bila dipandang dari perspektif ekosistem memiliki komponen penyusun yang
mengontrol dan mempengaruhi sistem ekologi yang ada di dalamnya. Komponen tersebut adalah
biotik dan abiotik. Kedua komponen tersebut saling berinteraksi dimana pada umumnya faktor fisik
kimia akan mempengaruhi komponen hidup yang ada didalamnya sedangkan komponen biotik akan
mengontrol komponen abiotik yang ada (Djunaid dan Setiawan, 2018).
Hasil pengukuran pada lokasi II tidak jauh berbeda dari lokasi I. Pada lokasi II, intensitas cahaya
sebesar 8397, 74 lx dengan temperatur sekitar 31°C. Kelembapan udara pada lokasi ini lebih rendah
yaitu sekitar 85% dan berada pada ketinggian 50 m dpl serta curah hujan 16%. Arah angin dari timur
dengan kecepatan angin 5 km/jam. Lokasi ini juga berada pada topografi yang datar dengan
kemiringan 1°. Jenis tanah pada lokasi ini adalah tanah berpasir. Komponen biotik yang ditemukan
pada lokasi ini adalah pohon kelapa, tanaman beluntas, ayam, kucing, dan juga manusia.
Keberadaan jenis jenis organisme pada lokasi 1 dan 2 mempunyai toleransi terhadap faktor
abiotik berupa fisik dan kimia lingkungan yang ada pada lokasi penelitian.

2. Pendugaan Populasi Burung Gereja


Burung gereja (Passermontanus) merupakan salah satu jenis burung pada famili Passiredae. Jenis
burung ini sering dijumpai di pedesaan terutama pada kawasan pemukiman dan persawahan, sering juga
bertengger di tiang listrik ataupun kabel listrik. Ciri utama burung ini yaitu memiliki ukuran tubuh yang sedang
sekitar 14 cm, tubuhnya ditutupi bulu berwarna cokelat, pada bagian bawah terdapat warna putih dan kuning
keabu-abuan sedangkan bagian atas memiliki bintik cokelat berpadu dengan hitam dan putih pada bagian dagu
dan leher warna perpaduan coklat pada bagian bibir terdapat bercak putih sekitaran mata berwarna hitam dan
iris mata coklat dan kaki berwarna coklat. Burung gereja memiliki bentuk paruh yang kecil dan tipe pemakan
bini bijian (Saputra, 2018).
Tujuan dari pengamatan ini untuk menentukan dan membandingkan ukuran populasi burung gereja di
dua lokasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur dibuat sebanyak 2 lokasi
pengamatan yakni halaman rumah dengan lebar jalur 5 m ke kiri dan 5 m ke kanan dan panjang jalur
pengamatan 25 m. Waktu pengamatan disesuaikan dengan aktivitas urung dimulai pada pagi hari pukul 05:30
sampai pukul 06.00 dan selama waktu tersebut dicatat jumlah individu, waktu perjumpaan dan koordinat
terhadap objek penelitian . Perhitungan populasi menggunakan rumus pendugaan Populasi King’s.
Berdasarkan hasil pengamatan dijumpai terdapat 9 individu burung gereja, untuk nilai pendugaan
populasi burung gereja pada jalur pertama 1,5 ekor, sedangkan pada jalur kedua sebesar 0,5 ekor.
Secara kuantitatif bahwa jumlah populasi dan burung gereja yang ditemukan di lokasi penelitian
menunjukkan angka sangat rendah. Perbedaan jumlah individu antara satu daerah dengan daerah lain
disebabkan karena adanya perbedaan daya dukung habitatnya, tingkat kepadatan yang tinggi bisa saja
disebabkan adanya faktor habitat yang terganggu sehingga sangat memungkinkan jumlah yang ada mengalami
penyebaran yang tidak merata pada setiap habitat, sebagai akibat dari terjadinya gangguan habitat yang
menyebabkannya mencari tempat dengan kondisi yang cukup baik untuk tempat hidupnya (Purbowo, 2017).
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari praktikum ini, kesimpulan yang dapat diambil, Komponen abiotik adalah komponen fisik
dan kimiawi yang terdapat pada suatu ekosistem sebagai medium atau substrat untuk
berlangsungnya suatu kehidupan. Komponen abiotik meliputi udara, air, tanah, garam mineral, sinar
matahari, suhu, kelembaban, dan derajat keasaman. Komponen abiotik dan biotik saling berinteraksi
dimana pada umumnya faktor fisik kimia akan mempengaruhi komponen hidup yang ada didalamnya
sedangkan komponen biotik akan mengontrol komponen abiotik yang ada.
Burung gereja (Passermontanus) merupakan salah satu jenis burung pada famili Passiredae. Jenis
burung ini sering dijumpai di pedesaan terutama pada kawasan pemukiman dan persawahan, sering juga
bertengger di tiang listrik ataupun kabel listrik. Berdasarkan hasil pengamatan dijumpai terdapat 9 individu
burung gereja, untuk nilai pendugaan populasi burung gereja pada jalur pertama 1,5 ekor, sedangkan pada
jalur kedua sebesar 0,5 ekor. Perbedaan jumlah individu antara satu daerah dengan daerah lain disebabkan
karena adanya perbedaan daya dukung habitatnya, tingkat kepadatan yang tinggi bisa saja disebabkan adanya
faktor habitat yang terganggu sehingga sangat memungkinkan jumlah yang ada mengalami penyebaran yang
tidak merata pada setiap habitat, sebagai akibat dari terjadinya gangguan habitat yang menyebabkannya
mencari tempat dengan kondisi yang cukup baik untuk tempat hidupnya.

Saran :

Pada praktikum ini , pengukuran berbagai faktor abiotik dibantu dengan aplikasi/secara online,
sehingga bisa terjadi kesalahan dan ketidak akuratan data. Oleh karena itu perlu adanya pengukuran
secara langsung untuk menghindari kesalahan data di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

1. Djunaid, R dan Setiawati, H. 2018. Gastropoda di Perairan Budidaya Rumput Laut (Eucheuma sp.)
Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Dalam Jurnal Bionature, Vol. 19, No.1
2. Effendi, Rahayu.,dkk. 2018. Pemahaman Tentang Lingkungan Berkelanjutan. Dalam Jurnal Undil, Vol.
18, No. 2
3. Indrawan, R. R., dkk. 2017. Kajian Iklim Mikro Terhadap Berbagai Sistem Tanam dan Populasi
Tanaman Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.). Dalam Jurnal Produksi Tanaman, Vol. 5,
No 1. Malang: Universitas Brawijaya.
4. Manuaba, I. B. A.,dkk. 2018. Kajiam Spesies Tumbuhan Karakter Melalui Analisis NP dan SDR Pada
Vegetasi Hutan Puakan, Dusun Puakan, Desa Taro, Tegallalanh, Gianyar. Dalam Jurnal
Pendidikan Biologi Undiksha, Vol. 5, No.1
5. Purbowo, S.D.S., dkk. 2017. Population of Storm’s stork (Ciconia stormi W. Blasius) at The Forest Area
of The Kepuluk River Matan Hilir Selatan District Ketapang Regency West Kalimantan. Dalam
Jurnal Hutan Lestari, Vol. 5, No.2
6. Saputra, Andika. 2018. Keanekaragaman Jenis Burung di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pasui Desa Pasui
Kabupaten Enrekang (Skripsi). Makassar: UIN Alauddin Makassar.
7. Setyaningrum, I. N. 2019. Pengaruh Faktor Geografis Terhadap Perubahan Produktivitas Jenis Padi di
Kecamatan Delanggu Kabupaten Klaten (Skripsi). Semarang: Universitas Negeri Semarang.
8. Simamora, J. M.,dkk. 2017. Pengaruh Faktor Biotik dan Fisik Lingkungan terhadap Jumlah Individu
Raflessia meijerii di Taman Nasional Batang Gadis. Dalam Jurnal Media Konservasi, Vol. 22,
No.1
9. Risma., dkk. 2019. Kajian Autekologi Harao Areca vestiaria Giseke Pada Tuhan Dataran Rendah di
Kawasan Taman Nasionala Lore Lindu (TNLL) Sulawesi Tengah. Dalam Jurnal Bioceleves, Vol.
13, No. 1