Anda di halaman 1dari 16

PENYERTAAN

(DEELNEMING)

Penyertaan adalah adanya dua orang atau lebih mengambil bagian untuk
melakukan/mewujudkan suatu tindak pidana. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan
adalah berapa besar bagian seseorang dalam melakukan tindak pidana tersebut,
atau sejak kapan dan sejauh mana pengertian mengambil bagian itu.1
Dalam pengertian secara luas bahwa seseorang turut serta ambil bagian
dalam hubungannya dengan orang lain, untuk mewujudkan suatu tindak pidana,
mungkin jauh sebelum terjadinya (misalnya: merencanakan), dekat sebelum terjadi
(misalnya: menyuruh, menggerakkan untuk melakukan, memberikan keterangan),
pada saat terjadinya (misalnya: turut serta, bersama-sama melakukan atau
seseorang itu dibantu oleh orang lain) atau setelah terjadinya terjadinya suatu tindak
pidana (menyembunyikan pelaku atau hasil tindak pidana pelaku).2

A. Bentuk-Bentuk Penyertaan
Bentuk-bentuk penyertaan diperinci sebagai berikut:3
• Dua orang atau lebih bersama-sama (berbarengan) melakukan suatu
tindak pidana;
• Ada yang menyuruh (dan ada yang disuruh) melakukan suatu tindak
pidana;
• Ada yang melakukan dan ada yang turut serta melakukan tindak
pidana;
• Ada yang menggerakkan dan ada yang digerakkan dengan syarat-
syarat tertentu untuk melakukan tindak pidana;
• Pengurus-pengurus, anggota-anggota badan pengurus atau komisaris-
komisaris yang (dipraanggapkan) turut campur dalam suatu pelanggaran
tertentu;
• Ada petindak (dader) dan ada pembantu untuk melakukan suatu
kejahatan.

1
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan Penerapannya,
Storia Grafika, Jakarta, 2002, hlm. 336.
2
Ibid.
3
Ibid.

1
B. Pokok Persoalan Pada Penyertaan4
Variasi-variasi dalam hubungan yang ditinjau dari sudut penyerta adalah:
• Penyerta yang (turut) melakukan tindak pidana itu, tidak mengetahui
bahwa tindakannya merupakan tindak pidana, atau ia terpaksa melakukannya,
dan sebagainya.
• Penyerta benar-benar sadar dan langsung turut serta untuk melakukan
tindak pidana (medepleger)
• Penyerta melakukan tindak pidana karena adanya suatu keuntungan
baginya atau dipermudah untuk melakukannya (uitgelokte, auctor materialis)
• Penyerta hanya sekedar membantu saja (medeplichtige)
• Ia dipandang sebagai penyerta dalam suatu pelanggaran karena ia
adalah pengurus dan sebagainya.

C. Penyertaan dalam Arti Sempit


Yang dimaksud dengan penyertaan dalam arti sempit adalah bentuk
penyertaan yang ditentukan dalam pasal 55 KUHP. Walaupun ketentuan pasal
55 dapat saja dikaitkan dengan pengertian penyertaan, namun yang ditekankan
dalam pasal ini adalah pemidanaan, dimana kepada pelaku dan setiap orang
yang dipersamakan dengan pelaku dibedakan dengan pidana kepada pembantu
(pasal 56 dan 57). Sedangkan yang dipidana sebagai pelaku terdiri dari 4
golongan, yaitu:5
1. Mereka yang melakukan suatu tindakan.
2. Mereka yang menyuruh melakukan suatu tindakan.
3. Mereka yang turut serta melakukan suatu tindakan.
4. Mereka yang dengan sengaja menggerakkan (orang lain) melakukan
suatu tindakan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan secara pasti
(limitatif).

4
Ibid, hlm. 337.
5
Ibid, hlm. 338.

2
Ad 1. Mereka yang melakukan suatu tindakan (pelaku)
Dalam hal ini, seseorang tersebut telah berbuat dan perbuatan itu
memenuhi unsur-unsur dari delik yang bersangkutan.6
Menurut Prof. Van Hamel, pelaku suatu tindak pidana itu hanyalah dia,
yang tindakannya atau kealpaannya memenuhi semua unsur dari delik seperti
yang terdapat di dalam rumusan delik yang bersangkutan, baik yang telah
dinyatakan secara tegas maupun yang tidak dinyatakan secara tegas. Jadi, pelaku
adalah orang yang dengan seorang diri telah melakukan sendiri tindak pidana
yang bersangkutan. Dalam hal ini, seseorang yang dipandang sebagai seorang
pelaku tidak boleh semata-mata didasarkan pada suatu anggapan, akan tetapi hal
tersebut selalu harus dibuktikan.7
Menurut Prof. Simons, pelaku suatu tindak pidana itu adalah orang yang
melakukan tindak pidana yang bersangkutan, dalam arti orang yang dengan suatu
kesengajaan atau suatu ketidaksengajaan seperti yang diisyaratkan oleh undang-
undang telah menimbulkan suatu akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-
undang atau telah melakukan tindakan yang terlarang atau mengalpakan tindakan
yang diwajibkan oleh undang-undang, atau dengan kata lain, ia adalah orang yang
memenuhi semua unsur suatu delik seperti yang telah ditentukan dalam undang-
undang, baik itu merupakan unsur-unsur subjektif maupun unsur-unsur objektif,
tanpa memandang apakah keputusan untuk melakukan tindak pidana tersebut
timbul dari dirinya sendiri atau timbul karena digerakkan oleh pihak ketiga.8
Pada dasarnya pendapat kedua profesor tersebut memiliki kesamaan
mengenai siapa yang harus dipandang sebagai pelaku dari suatu tindak pidana,
yaitu dengan melihat kepada bagaimana caranya tindak pidana tersebut telah
dirumuskan di dalam undang-undang ataupun pada sifat dari tindakan yang oleh
undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang terlarang.9

6
R. Atang Ranoemihardja, Hukum Pidana – Azas-azas, Pokok Pengertian dan Teori serta
Pendapat Beberapa Sarjana, Tarsito, Bandung, 1983, hlm. 114.
7
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
1997, hlm. 593.
8
Ibid, hlm. 594.
9
Ibid, hlm. 594-595.

3
Ad 2. Mereka yang menyuruh melakukan suatu tindakan (doenpleger)
Dalam bentuk penyertaan menyuruh melakukan, penyuruh tidak melakukan
sendiri secara langsung suatu tindakan pidana, melainkan menyuruh orang lain.
Penyuruh berada di belakang layar, sedangkan yang melakukan tindak pidana
adalah seseorang lain yang disuruh.10
Pengertian suatu delik yang dilakukan minimal ada 2 orang, yaitu yang
menyuruh melakukan (doenpleger) dan yang disuruh melakukan (pleger). Jadi
bukan orang itu sendiri yang melakukan delik, melainkan ia menyuruh orang lain
melakukan, walaupun demikian ia tetap dipandang dan dihukum sebagai orang
yang melakukan sendiri.11
Menurut Memorie Van Toelichting, ada dua unsur “menyuruh melakukan”.
Pertama, seseorang dipakai sebagai alat (instrument atau middle). Adanya
manusia yang oleh pembuat delik dipakai sebagai alat ini, itulah salah satu unsur
pokok dan khusus dari yang menyuruh melakukan itu. Kedua, seseorang yang
dipakai sebagai alat tersebut harus berbuat. Dalam hal ini, maka orang yang
dipakai sebagai alat itu adalah sambungan lengan dari yang melakukan.12
Seseorang yang disuruh melakukan suatu delik tidak dapat dihukum karena
tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya (ontoerekeningvatbarheid)
atas perbuatannya, misalnya:13
1. Tidak dapat dipertanggungjawabkan menurut pasal 44 KUHP
Contoh : A mau membunuh B tetapi tidak berani melakukan sendiri, lalu
menyuruh C (orang gila) untuk melemparkan granat kepada B. Bila C benar-
benar melemparkan granat sehingga B mati, maka C tidak dapat dihukum.
Sedangkan yang dihukum sebagai pembunuh adalah A.
2. Karena terpaksa oleh kekuasaan yang tidak dapat dihindarkan
(overmacht) menurut pasal 48 KUHP
Contoh : A bermaksud membakar rumah B, kemudian dengan menodongkan
pistolnya kepada C menyuruh C membakar rumah B. Jika C membakar rumah
itu, maka ia tidak dapat dihukum karena terpaksa melakukan oleh kekuasaan

10
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, op.cit., hlm. 341.
11
R. Atang Ranoemihardja, log.cit, hlm. 114.
12
E Uthrecht, Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana II, hlm. 18-19.
13
Ibid, hlm. 26.

4
yang tidak bias dihindari. Sedangkan A, meskipun tidak membakar sendiri
tetapi tetap dihukum sebagai pembakar rumah B.
3. Melakukan delik itu atas perintah jabatan yang tidak sah menurut pasal
51 KUHP
Contoh : Seorang kapten polisi ingin membalas dendam terhadap musuhnya
yaitu A, ia memerintahkan kepada B seorang bawahannya untuk menangkap
A dengan alasan A telah melakukan pencurian. Jika B melaksanakan perintah
itu dengan penuh keyakinan dan itikad baik (te goedertrouw) bahwa perintah
itu adalah sah, lalu A dimasukkan ke dalam tahanan, maka B tidak dapat
dihukum, sedangkan yang dihukum merampas kemerdekaan orang lain
menurut pasal 333 KUHP adalah kapten polisi tersebut.
4. Melakukan delik itu tanpa kesalahan sama sekali
Contoh : A mau mencuri sepeda yang berada di depan stasiun, tetapi A tidak
berani mengambilnya sendiri, lalu si A menyuruh B mengambil sepeda itu
dengan mengatakan bahwa sepeda itu adalah miliknya. Jika B memenuhi
permintaan itu, ia tidak sah mencuri karena unsur “sengaja” tidak terdapat di
B. yang dihukum tetap si A.

Ad 3. Mereka yang turut serta melakukan suatu tindakan (medepleger)


Memorie van Toelichting mengemukakan bahwa yang turut melakukan
adalah tiap orang yang sengaja “meedoet” (turut berbuat) dalam melakukan satu
peristiwa pidana.14 Van Hamel berpendapat baru dianggap ada persoalan pelaku-
pelaku peserta (turut serta melakukan) bilamana tiap-tiap pelaku peserta adalah
petindak sesuai dengan rumusan delik. Mengikuti jalan pemikiran ini, maka jika R
melakukan pembongkaran, sedangkan yang mengambil (mencuri) suatu barang
adalah T, maka R bukan pelaku peserta dari pencurian dengan jalan merusak /
membongkar (pasal 365 ayat 1 ke 5) melainkan hanyalah pembantu.
Kemudian Simons berpendapat bahwa seseorang pelaku peserta adalah
petindak walaupun tidak memenuhi semua unsur-unsurnya tetapi harus
memenuhi semua keadaan pribadi (persoonlijke hoedanigheid) petindak
sebagaimana dirumuskan dalam delik. Jadi, jika pasal 419 KUHP menentukan
bahwa subjeknya adalah seorang pegawai negeri/pejabat, maka pelaku peserta
itupun harus seorang pegawai negeri. Menurut pendapat ini, jika peserta itu tidak
14
Ibid, hlm. 18.

5
memenuhi keadaan pribadi petindak, maka ia bukan petindak melainkan
pembantu. Hal ini didasarkan oleh beliau bahwa melakukan, menyuruh
melakukan, dan turut serta melakukan itu dirumuskan senafas dalam pasal 55
ayat 1, yang harus dianggap sebagai petindak. Mengikuti pendapat ini, jika E
(yang dititipi sejumlah uang oleh G) bersama-sama dengan kawannya (H)
menghabiskan uang titipan itu, maka H bukanlah seorang pelaku peserta untuk
melakukan penggelapan (pasal 372), karena pada H tidak terdapat unsur “uang
itu ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan”.
Menurut Hoge Raad, orang yang turut serta melakukan dapat terjadi
dalam berbagai bentuk yaitu:15
• Setiap orang yang bersama-sama mengerjakan secara sempurna
suatu tindak pidana disebut petindak-petindak atau pelaku-pelaku, tetapi
dibenarkan pula untuk menyebutkan mereka sebagai turut serta melakukan
atau pelaku peserta”.
• Jika A mengerjakan secara sempurna suatu tindak pidana sebagai
dirumuskan dalam undang-undang, sedangkan peserta-peserta lainnya hanya
mengerjakan sebagian saja, maka dilihat dari sudut A itu sendiri, ia adalah
pelaku. Tetapi karena A bekerja sama dengan orang lain maka ia dapat juga
dikualifikasikan sebagai pelaku peserta.
• Tindakan pelaksanaan dari seseorang peserta yang walaupun tidak
memenuhi semua unsur-unsur tindak pidana disebut juga sebagai pelaku
peserta.
Kesimpulan di atas tercermin dari keputusan H.R. yang menyatakan
bahwa walaupun pada seseorang (yang sudah turut melakukan tindakan
pelaksanaan) tiada memenuhi unsur keadaan pribadi dari pelaku tetapi di dalam
bekerja sama, ia mengetahui adanya keadaan pribadi tersebut pada pelaku
dengan siapa ia bekerja sama, maka orang itu adalah seorang pelaku peserta.16

Ad 4. Mereka yang dengan sengaja menggerakkan (orang lain) melakukan


suatu tindakan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan secara pasti
(limitatif)

15
Arrest H.R. 21 Juni 1926 W.11541.
16
Ibid.

6
Bentuk penyertaan penggerakan mirip dengan bentuk penyertaan
menyuruh melakukan. Perbedaannya ialah, bahwa dalam bentuk-bentuk
penyertaan menyuruh melakukan terdapat syarat-syarat:
• Peserta yang disuruh (manus ministra) adalah peserta yang tidak
dengan dipidana.
• Bahwa daya-upaya pada penyuruh (manus domina), tidak dirumuskan
secara limitatif.
Sedangkan syarat-syarat pada penyertaan penggerakan adalah:
• Yang digerakkan (materiele/fisike dader) dapa dipidana karena
melakukan suatu tindak pidana seperti halnya penggerak (auctor intellectualis)
dapat dipidana karena menggerakkan.
• Daya-upaya yang digunakan penggerak dirumuskan secara limitatif.
Dalam bentuk penyertaan penggerakan, inisiatif berada pada penggerak.
Dengan perkataan lain, suatu tindak pidana tak akan terjadi bila inisiatif tidak ada
pada penggerak. Karenanya penggerak harus dianggap sebagai petindak dan
harus dipidana sepadan dengan pelaku yang secara fisik melakukan (auctores
physici) tindak pidana yang digerakkan. Tidak menjadi persoalan apakah pelaku
yang digerakkan itu sudah atau belum mempunyai kesediaan tertentu
sebelumnya untuk melakukan tindak pidana. Pokoknya tindak pidana yang
digerakkan sudah terwujud. Syarat-syarat dalam bentuk penyertaan penggerak
adalah:17
• Kesengajaan penggerak ditujukan agar sesuatu tindakan tertentu
dilakukan oleh pelaku yang digerakkan
• Daya-upaya untuk menggerakkan adalah tertentu sebagaimana
dirumuskan dalam undang-undang
• Adanya orang yang digerakkan, dan telah melakukan suatu tindakan
karena daya-upaya tersebut
• Pelaku yang digerakkan harus telah melakukan tindak pidana yang
digerakkan atau percobaan untuk tindak pidana tersebut.
Mereka yang dengan sengaja menggerakkan (orang lain) melakukan
suatu tindakan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan secara pasti (limitatif)
sering juga disebut membujuk melakukan (uitlokker). Dalam hal membujuk

17
R. Atang Ranoemihardja, op.cit., hlm. 117.

7
melakukan minimal terdapat dua orang, yaitu yang membujuk dan yang dibujuk.
Demikian juga dengan cara membujuk, harus sesuai dengan yang tercantum
dalam pasal 55 (2) KUHP.
Menurut rumusan yang tercantum dalam pasal 55 (2) sub 2e KUHP, Maka
unsur-unsur “membujuk” itu adalah:18
1. Dengan memakai salah satu atau beberapa cara-cara yang disebut
dalam KUHP, sengaja membujuk (mengajak) seorang lain untuk melakukan
suatu perbuatan yang dilarang oleh KUHP.
2. Adanya kehendak pada yang melakukan atau yang dibujuk untuk
melakukan perbuatan yang dilarang oleh KUHP, adalah akibat bujukan dari
yang membujuk.
3. Yang dibujuk telah melaksanakan atau telah mencoba melaksanakan
perbuatan (dilarang) yang dikehendakinya. Hanya ada satu kehendak pada
yang dibujuk itu tidaklah cukup, haruslah yang dibujuk itu telah melakukan
perbuatan.
4. Oleh sebab itu, yang dibujuk bertanggung jawab penuh menurut
hukum pidana. Apabila ia tidak dapat dihukum, maka tidak ada “membujuk”
tetapi yang ada “menyuruh melakukan”.
WFL Buchkens mengemukakan contoh-contoh kasus perkara tentang
“pembajakan” sebagai berikut:
a. Keputusan Pengadilan Negeri Bogor tanggal 7 Mei 1938.
Bahwa pembujukan dengan kesanggupan dan upah uang kepada seorang
perantara, dengan sepengetahuan si pembujuk telah membujuk lagi kepada
orang lain untuk membunuh seseorang, dihukum sebagai pembujukan pada
kejahatan yang diterangkan dalam pasal 340 KUHP.
Dalam pasal 55 KUHP diancam hukuman pada pembujukan terhadap
suatu perbuatan pidana (delik) dan bukan pada orang, sehingga karenanya
menurut hukum tidaklah menjadi soal oleh siapa perbuatan pidana yang dibujuk
itu dilakukan, jadi pembujukan itu pada pembujukan itu menurut undang-undang
diperlukan.
b. Keputusan Pengadilan Negeri Semarang tanggal 20 Desember 1973,
menentukan bahwa terdakwa A telah salah karena pembujukan terhadap
pembakaran dengan sengaja, walaupun si A yang telah dibujuknya itu sendiri
18
E Uthrecht, op.cit., hlm. 89.

8
tidak membakar, akan tetapi ia telah membujuk lagi dua orang lainnya, oleh
karenanya A dihukum karena pembujukan untuk pembakaran dengan sengaja.

D. Pembantuan
Pasal 56 KUHP menentukan bahwa “dihukum sebagai orang yang membantu
melakukan kejahatan:19
1. Mereka yang dengan sengaja memberikan bantuan pada waktu
kejahatan dilakukan
Dalam hal membantu melakukan kejahatan, bantuan diberi pada saat
kejahatan sedang dilakukan,yang menjadi ukuran adalah waktu pemberian
bantuan, menurut pasal 56 ayat 1, waktu pemberian bantuan harus berbarengan
dengan terjadinya suatu kejahatan.

2. Mereka yang dengan sengaja memberi kesempataan, sarana, atau


keterangan untuk melakukan kejahatan itu
Dalam hal membantu untuk melakukan kejahatan , bantuan diberi pada waktu
sebelum kejahatan dilakukan. Perlu juga memperhatikan hanya mengenai
membantu untuk melakukan kejahatan, Hal ini juga merupakan kesengajaan
memberikan bantuan kepada orang lain untuk mempermudah orang lain tersebut
melakukan suatu kejahatan.
Perbedaan antara dua jenis pembantuan diatas adalah:
 Jenis pertama (pasal 56 ke-1):
1. Bantuan diberikan berbarengan atau pada saat kejahatan dilakukan
2. Daya upaya yang merupakan bantuan tidak dibatasi (dapat berupa apa
saja, berwujud ataupun tidak)
Contoh : Pada saat D melarikan seseorang wanita sebagaimana dilarang
oleh pasal 332 KUHP. Ia bertemu dengan P yang sedang mengemudikan
mobil. D minta tolong kepada P untuk emngntarkan D dan wanita itu,
setelah kepada P diberitahukan maksud D mengenai wanita itu. Kemudian
P mengantarkannya dan setelah itu ia pergi. Contoh lain misalnya pada
saat DD sedang menganiaya seseorang, kebetulan PP yang memakai
tongkat sedang lewat. Atas permintaan DD untuk meneruskan
penganiayaan tersebut, PP telah memberikan tongkatnya.
19
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, op.cit., hlm. 370-373.

9
 Jenis kedua (pasal 56 ke-2):
1. Bantuan diberikan sebelum kejahatan dilakukan
2. Daya upaya (yang merupakan bantuan) dibatasi atau tertentu,yaitu
kesempatan, sarana, dan keterangan
Contoh: C berniat mencuri dirumah majikan B. untuk melaksanakan niat
tersebut ia telah meminta keteranga kepada B mengenai situasi rumah
tersebut antara lain: kapan rumah itu sepi, dimana letak barang-barang
berharga, bagaimana cara tertuduh untuk mencurinya. B memberikann
yang dibilang C. Pada malam harinya C melakukan pencurian tersebut.

3. Syarat untuk masing-masing jenis pembantuan


Syarat untuk masing-masing jenis pembantuan yaitu:
1. Pembantu harus mengetahui macam kejahatan yang dikehendaki oleh
petindak (pelaku utama)
2. Bantuan yang diberikan oleh pembantu adalah membantu petindak untuk
mewujudkan kejahatan tersebut. Bukan untuk mewujudkan kejahatan lain.
3. Kesengajaan pembantu ditujukan untuk memudahkan atau memperlancar
petindak melakukan kejahatan yang dikehendaki petindak. Dengan
perkataan lain kesengajaan pembantu bukan merupakan unsur dari
kesengajaan tersebut. Justru kesengajaan petindak yang merupakan unsur
dari kejahatan tersebut.
Jika ada yang pembantu tentu ada yang dibantu, yaitu yang disebut sebagai
pelaku utama atau petindak. Hubungan antara pembantu dengan petindak atau
pelaku utama adalah pembantuan. Pembantuan bersamaan dengan terjadinya
kejahatan (pasal 56 ke1) atau mendahului terjadinya kejahatan (pasal 56 ayat
ke2). Pembantuan dapat terjadi selama dan sebelum pelaksanaan dari suatu
kejahatan, yang dalam kedua hal tersebut bersifat fisik. Pembantuan harus
diberikan dengan sengaja, namun ini tidak berarti bahwa pembantu harus
mengetahui pula cara bagaimana bantuan yang diberikannya dimanfaatkan,
kapan dan dimana atau siapa yang dirugikan, cukup ia mengetahui bahwa
bantuan yang diberikan misalnya adalah untuk melakukan pencurian.
Menurut prof.Simons20

20
P.A.F. Lamintang, op.cit., hlm. 647-648.

10
1. Jenis pertama (pada saat) : Cara-cara membantu melakukan kejahatan
ditentukan seperti halnya cara-cara melakukan pembujukan, dan juga dapat
digunakan dalam menyuruh melakukan. Dengan demikan maka setiap tindakan
yang telah dilakukan orang dengan maksud membantu orang lain melakukan
suatu kejahatan itu, dapat membuat orang tersebut dituntut dan dihukum karena
dengan sengaja telah membantu orang lain, pada waktu orang lain tersebut
sedang melakukan suatu kejahatan, bantuan ini bersifat materil,moral ataupun
intelektual.
2. jenis kedua (sebelum) : cara-cara membantu itu ditetapkan secara limitatif,
yaitu member kesempatan,daya upaya atau keterangan. Bantuan yang diberikan
dapat bersifat materil (menyerahkan senjata atau alat-alat kepada pelakunya),
intelektual (memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan
pencurian terhadap barang-barang yang dalam pengawasannya.
Pemberian bantuan harus diberikan dengan sengaja, dan harus ditujukan
kepada semua unsur dari kejahatan, bahkan harus ditujukan kepada unsur –
unsur yang oleh undang – undang telah tidak disyaratkan, bahkan opzet
pelakunya harus juga ditujukan kepada unsur-unsur tersebut. Ini berarti bahwa
walaupun kejahatan yang sedang atau yang akan dilakukan oleh pelakunya itu
sebenarnya merupakan suatu culpoos misdrijf atau suatu kejahatan yang
menurut rumusannya didalam undang-undang sebenarnya dapat dilakukan
dengan tida sengaja akan tetaoi terhadap kejahatna tersebut, seorang pembantu
harus meminyai suatu opzet, namun hal ini sangat jarang terjadi bahkan
merupakan sesuatu yang tidak mungkin.
Pendapat Simons ini berbeda dengan Prof.Van Hattum yaitu dimana untuk
suatu delik itu telah disyaratkan adanya suatu opzet, mak seorang pembantu
harus juga mempunyai suatu opzet. Akan tetapi bilamana menurut rumusan delik
telah dinyatakan bahwa delik tersebut dapat dilakukan dengan tidak sengaja,
maka dengan adanya ketidaksengajaan seperti itu sudah mencukupi bagi
seorang pembantu.
Menurut Prof.Simons, supaya seorang pembantu dapt dihukum, maka harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut, yaitu:21
1. Syarat objektif: apabila perbuatan yang telah dilakukan oleh pembantu
tersebut memang telah ia maksudkan untuk mempermudah atau untuk
21
Ibid., hlm. 648-649.

11
mendukung dilakukannya suatu kejahatan , yang berarti bahwa apabila alat-alat
yang oleh seorang pembantu telah diserahkan kepada seornag pelaku itu
ternyata tidak dipergunakan oleh pelakunya untuk melakukan kejahatannya,
maka pembantuan tersebut tidak dapat dihukum.
2. Syarat subjektif: apabila perbuatan yang telah dilakukan oleh pembantu
tersebut, benar-benar telah dilakukan dengan sengaja,dalam arti bahwa
pembantuan tersebut memang mengeathui bahwa perbuatannya itu dapat
mempermudah atau dapat mendukung dilakukannya suatu kejahatan oleh orang
lain, dan perbuatan mempermudah atau mendukung dilakukannya suatu
kejahatan oleh orang lain itu memang ia kehendaki.

4. Pembantuan aktif dan pasif


Mengenai membantu dengan berbuat dapat dikemukankan bahwa berbuat itu
adalah suatu sikap aktif. Tetapi membnatu dapat juga diadakan dengan tinggal
diam yaitu dengan sikap pasif, misalnya seorang penjaga malam justru bertugas
menjaga barang tertentu membiarkan seorang pencuri mengambil barang yang
seharusnya menjaga barang trsebut. Kewajiban hukum dari seorang penjaga
malam tersebut adalah menjaga barang dan menutup tempat barang itu disimpan
dengan tidak melakukan kewajiban hukunm tersebut berarti memberikan
kesempatan kepada pencuri yaitu membantu mencuri.22
Pembantuan aktif adalah sesuai dengan penafsiran secara tata bahasa, yaitu
benar-benar terjadi suatu gerakan untuk melakukan sesuatu tindakan(bantuan).
Pembantua pasif adalah tidak melakukan suatu tindakan,namun dengan
kepasifannya itu ia telah dengan sengaja memberi bantuan. Misalnya A melihat
suatu kejahatan terjadi, tetapi ia tidak berbuat apa-apa, masalahnya adalah
sejauh manakah beban atau kewjaiban seseorang untuk harus atau wajib
mencegaha suatu kejahatan atau bagaimakah seseorang menyaksikan suau
kejahatan yang sedang terjadi, dapat dikatakan sebagai pembamu. Dari
pertanyaan itu dapat dijawab yaitu apabila seseorang itu berdasarkan undang-
undang ataupun perjanjaiann mempunyai beban atau kewajiban untuk
mencegah terjadinya kejahatan tersebut,dan ia tidak berbuat demikian ,maka ia
adalah pembantu. Seseorang dipandang sebagai pembantu pasif apabila
menurut kepatutan dalam masyarakat seseorang berkewjiban untuk mencegah
22
E Uthrecht, op.cit., hlm. 80-81.

12
kejahatan tetapi tidak melaksankannya, jadi bukan hanya yang mempunyai
kewajiban berdasarkan undang-undang atau perjanjian saja.23
Menurut prof. Simons suatu percobaan untuk membantu melakukan
kejahatan tidaklah dapat dihukum. Membantu melakukan suatu percobaan dapat
terjadi, jika orang memang bermaksud membantu melakukan suatu kejahatan
tersebut hanya emngahsilkan suatu percobaan dan dianggap tidak begitu
penting.24
Ditegaskan pula bahwa tindakan yang sdang atau akan dilakukan harus
merupakan kejahatan,bukan pelanggaran (pasal 60). Dengan menggunakan
penafsiran a contrario terhadap pasal 56, jelas bahwa pembnatuan untuk
melakukan pelanggaran tidak dipidana( tentunya ada pengecualian apabila diatur
menyimpang seperti yang dimungkinkan dalam pasal 103 KUHP).25

5. Pertanggungjawaban pembantuan
Dilihat dari sudut ajaran bentuk pertanggungjawaban peserta mandiri dan
peserta terkait, pembantu termasuk dalm golongan bentuk pertanggungjawaban
peserta terkait, artinya pertanggungjawaban peserta terkait/tegantung pada
pertanggungjawaban pelaku. Apabila misalnya pelaku benar-benar melakukan
kejahatan yang dikehendakinya ,maka tanggungjawab pembantu hukumannya
adalah dikurangi sepertiga dari maksimum yang diancamkan untuk kejahatan
tersebut. Apabila hanya sampai percoabaan saja,dan tidak jadi melaksankan
kejahatannya maka bagi pelaku dan pembantu tidak dipidana.26
Akibat hukum dari suatu pembantuan dalam apasal 57 KUHP yaitu:27
1. Ancaman hukuman yang terberat dari hukuman-hukuman pokok yang
diancamkan terhadap suatu kejahatan itu, bagi perbuatan membantu
melakukan kejahatan, dikurangi dengan sepertiganya.
2. Apabila kejahatan itu merupakan suatu kejahatan yang diancam dengan
hukuman mati atau dengan hukuman penjara seumur hidup, maka dijatuhkan
suatu hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.

23
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, op.cit., hlm. 374-375.
24
P.A.F. Lamintang, op.cit., hlm. 650.
25
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, op.cit., hlm. 371.
26
Ibid., hlm. 375.
27
P.A.F. Lamintang, op.cit., hlm. 653.

13
3. Hukuman-hukuman tambahan yang dapat dijatuhkan terhadap perbuatan
membantu melakukan kejahatan adalah sama dengan hukuman-hukuman
tambahan yang dapat dijatuhkan terhadap kejahatan itu sendiri.
4. Pada waktu menjatuhkan hukuman, yang diperhatikan hanyalah tindakan-
tindakan, dengan tindakan-tindakan mana, orang yang membantu melakukan
kejahatan itu dengan sengaja telah mempermudah atau telah mendukung
dilakukannya suatu kejahatan, berikut semua akibat-akibatnya.

KESIMPULAN

▪ Orang yang berbuat kejahatan dikelompokkan menjadi:


1. Pembuat / dader yang terdiri atas :
a. Pelaku (pleger)
b. Yang menyuruhlakukan (doenpleger)
c. Yang turut serta (medepleger)
d. Penganjur (uitlokker)
2. Pembantu / Medeplichtige yang terdiri atas :
a. Pembantu pada saat kejahatan dilakukan
b. Pembantu sebelum kejahatan dilakukan

14
▪ Pelaku (pleger) yaitu orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi
rumusan delik.
▪ Orang yang menyuruhlakukan (doenpleger), yaitu orang yang melakukan
perbuatan dengan perantaraan orang lain, sedangkan perantaraan ini hanya
sebagai alat (tidak dapat dipertanggungjawabkan).
▪ Orang yang turut serta melakukan (medepleger), yaitu orang yang dengan
sengaja turut berbuat atau turut mengerjakan terjadinya sesuatu.
▪ Penganjur (uitlokker) ialah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakukan
suatu tindak pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh
UU (psl 55 (1) ke-2) yaitu :
a. memberi atau menjanjikan sesuatu;
b. menyalahgunakan kekuasaan atau martabat;
c. dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan; atau
d. dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan.
▪ Pembantuan (medeplichtige) memiliki sifat accessoir dilihat dari perbuatannya,
sedangkan dilihat dari pertanggungawabannya memiliki sifat tidak accessoir.
▪ Ada 2 jenis pembantuan
1. Pada saat terjadinya tindak pidana
Caranya: tidak ditentukan secara limitatif oleh UU.
2. Sebelum terjadinya tindak pidana
Caranya: ditentukan secara limitatif oleh UU (yaitu dengan memberi
kesempatan, sarana, atau keterangan).

DAFTAR PUSTAKA

E Uthrecht, Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana II, Pustaka Tinta Mas, Jember,
1962.
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan
Penerapannya, Storia Grafika, Jakarta, 2002.
R. Atang Ranoemihardja, Hukum Pidana – Azas-azas, Pokok Pengertian dan Teori
serta Pendapat Beberapa Sarjana, Tarsito, Bandung, 1983.
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1997.

15
16