Anda di halaman 1dari 14

PROTOKOL PENELITIAN

Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran ASI pada Ibu Nifas


di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Selatan

A. Latar Belakang
Dasar pembentukan manusia yang berkualitas dimulai sejak bayi dalam
kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini,
terutama pemberian ASI eksklusif. Menyusu telah dikenal dengan baik sebagai
cara untuk melindungi, meningkatkan dan mendukung kesehatan bayi dan anak
usia dini. ASI memelihara pertumbuhan perkembangan otak bayi, sistem
kekebalan, fisiologi tubuh secara optimal, dan merupakan faktor yang vital
untuk mencegah penyakit terutama diare dan infeksi saluran nafas.
World Health Organization (WHO) telah menetapkan standar makanan
bayi yang dimulai dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif,
MP-ASI (Makanan Pendamping-Air Susu Ibu) setelah bayi berusia 6 bulan dan
ASI sampai bayi berusia 2 tahun. Status gizi bayi dalam bulan-bulan pertama
kehidupannya sangat menentukan untuk kehidupan selanjutnya. Segala usaha
yang memungkinkan harus dijalankan supaya bayi mendapatkan makanan yang
bergizi semenjak dia dilahirkan melalui IMD. IMD adalah suatu program yang
sedang marak dianjurkan oleh pemerintah. IMD bukan berarti menyusu tetapi
bayi harus aktif menemukan puting susu ibunya sendiri. Program ini dilakukan
dengan cara langsung meletakkan bayi baru lahir didada ibunya dan
membiarkan bayi merayap untuk menemukan puting susu (± 60 menit). IMD
harus dilakukan secara langsung saat lahir tanpa boleh ditunda oleh kegiatan
menimbang atau mengukur bayi. Selain itu, bayi juga tidak boleh dibersihkan
dan hanya boleh dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus dilakukan
skin to skin antara bayi dan ibu. (Maryunani, 2012).
IMD juga memberikan pengaruh yang baik terhadap pemberian ASI
eksklusif, hal ini disebabkan karena proses terjadinya pengeluaran air susu
dimulai atau distimulus oleh isapan mulut bayi pada puting payudara ibu.
Gerakan tersebut merangsang kelenjar pituitary anterior untuk memproduksi
sejumlah prolaktin, yaitu hormon utama yang mengendalikan pengeluaran air
susu. Proses pengeluaran (let down reflek) dimana isapan puting dapat
merangsang serabut otot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan
susu dapat mengalir secara lancar. Keluarnya air susu terjadi sekitar hari ketiga
setelah bayi lahir dan kemudian terjadi peningkatan air susu yang cepat pada
minggu pertama, meskipun biasanya ada yang tertunda sampai beberapa hari
(Proverawati & Rahmawati, 2010).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak tahun 2017
persentase bayi yang diberi ASI eksklusif hanya mencapai 62,32% dan
persentase ini tentunya masih berada dibawah target pencapaian ASI eksklusif
yang ditetapkan oleh Depkes RI yaitu sebesar 80%. Kendala dalam pemberian
ASI secara dini dikarenakan produksi dan ejeksi ASI lebih sedikit pada hari
pertama setelah melahirkan. Ibu yang tidak menyusui bayinya pada hari
pertama menyusui dapat disebabkan oleh kecemasan dan ketakutan ibu akan
kurangnya produksi ASI serta kurangnya pengetahuan ibu tentang proses
menyusui. Ibu-ibu berhenti menyusui bayinya pada bulan pertama post partum
disebabkan karena puting lecet, payudara bengkak, kesulitan dalam melakukan
perlekatan yang benar serta persepsi mereka tentang ketidakcukupan produksi
ASI sehingga ibu tidak yakin bisa memberikan ASI pada bayinya.
Pengeluaran ASI dapat meningkat atau menurun tergantung pada
stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengeluaran ASI antara lain adalah
faktor ibu (fisik ibu, nutrisi dan asupan cairan, umur dan paritas, bentuk dan
kondisi puting susu, pola istirahat), faktor psikologis (kecemasan dan motivasi
atau dukungan), faktor bayi (BBLR, status kesehatan bayi, kelainan anatomi,
dan isapan bayi) dan faktor lainnya yaitu inisiasi menyusu dini (IMD)
(Soetjiningsih, 2013).
Satu diantara masalah yang terjadi karena kurangnya perawatan
payudara adalah penurunan produksi ASI. Produksi dan pengeluaran ASI
dipengaruhi oleh dua hormon, yaitu prolaktin dan oksitosin. Prolaktin
mempengaruhi jumlah produksi ASI, sedangkan oksitosin mempengaruhi
proses pengeluaran ASI (Saryono dan Pramitasari, 2009).
Cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi ASI adalah
dengan melakukan perawatan payudara atau breast care yang bertujuan untuk
melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran produksi ASI
sehingga memperlancar pengeluaran ASI. Masalah-masalah menyusui yang
sering terjadi adalah puting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu
tersumbat, mastitis, abses payudara, kelainan anatomi puting, atau bayi enggan
menyusu (Bahiyatun, 2008).
Kejadian puting lecet dan abses payudara pada ibu nifas di prediksi
karena rendahnya pengetahuan tentang perawatan payudara. Bagi seorang
wanita payudara adalah organ tubuh yang sangat penting bagi keberlangsungan
perkembangan bayi yang baru dilahirkannya. Payudara memang secara natural
akan mengeluarkan ASI setelah ibu melahirkan, tetapi tidak berarti seorang
wanita atau ibu tidak patut merawat payudara. Perawatan payudara setelah
melahirkan bertujuan agar payudara senantiasa bersih dan mudah dihisap oleh
bayi (Saryono dan Pramitasari, 2009).
Fenomena yang ada di masyarakat saat ini ada beberapa kendala dalam
pemberian ASI eksklusif yaitu ibu tidak percaya diri bahwa dirinya mampu
menyusui dengan baik untuk mencukupi seluruh kebutuhan gizi bayi. Hal ini
dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu akibat rendahnya status
pendidikan ibu, kurangnya dukungan keluarga serta rendahnya kesadaran
masyarakat tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. Selain itu, kurangnya
dukungan tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk
mendukung keberhasilan ibu dalam menyusui bayinya (Mahfudin, 2012).
Selama ini pandangan masyarakat mengenai pemberian ASI eksklusif
pada bayi memiliki berbagai persepsi. Masyarakat masih beranggapan bahwa
menyusui hanya merupakan urusan ibu dan bayinya, padahal peran keluarga
dan petugas kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif sangat besar
(Syafirudin, 2009). Pemahaman ibu, keluarga, dan masyarakat saat ini
mengenai pentingnya ASI bagi bayi masih terbilang rendah yang dapat
mengakibatkan program pemberian ASI eksklusif pada bayi tidak berlangsung
optimal (Prasetyono, 2009).
Ketidakcukupan produksi ASI merupakan alasan utama seorang ibu
untuk menghentikan pemberian ASI secara dini, ibu merasa dirinya tidak
mempunyai kecukupan produksi ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi dan
mendukung kenaikan berat badan bayi yang adekuat, produksi ASI kurang
lancar. Upaya perawatan yang efektif untuk memperbanyak produksi ASI
antara lain dengan melakukan perawatan payudara dengan menjaga kebersihan,
massage (memijat) payudara, dan pijat oksitosin (Rahayuningsih, 2016)
Perawatan payudara sangat penting untuk dilakukan, dimana satu
diantaranya adalah dengan menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan
puting susu agar terhindar dari infeksi, melunakkan dan memperbaiki bentuk
puting susu sehingga bayi, merangsang kelenjar-kelenjar dan hormon
(prolaktin dan oksitosin) untuk meningkatkan produksi ASI, serta mengetahui
secara dini kelainan puting susu dan usaha untuk mengatasinya. Perawatan
payudara adalah langkah awal dimana perawatan payudara (Breast Care)
adalah suatu cara merawat payudara yang dilakukan pada saat kehamilan atau
masa nifas untuk produksi ASI sebagai persiapan untuk menyusui karena
payudara merupakan penghasil ASI yang merupakan makan utama pada bayi
baru lahir. Selain itu, untuk kebersihan payudara dan bentuk puting susu yang
masuk ke dalam atau datar. Bentuk puting susu yang demikian sebenarnya
bukanlah halangan bagi ibu untuk menyusui dengan baik yaitu dengan
mengetahui sejak awal ibu mempunyai waktu untuk mengusahakan agar puting
susu lebih mudah sewaktu menyusui (Wulan, 2012).
Penelitian Rahayuningsih (2016) menjelaskan hasil dalam pengukuran
pengeluaran jumlah ASI dengan menggunakan gelas ukur, pengeluaran ASI
sebelum diberi perlakuan mendapatkan hasil sebanyak 1,22cc sedangkan
untuk pengeluaran ASI setelah diberikan perlakukan mendapatkan hasil
sebanyak 8,13cc. Hal ini sejalan dengan penelitian Mawaddah (2016) yang
mendapatkan hasil dengan cara menganalisis pengeluaran ASI hari pertama
sebelum dilakukan intervensi perawatan payudara dan pijat oksitosin
berdasarkan indikator frekuensi kencing bayi didapatkan hasil < 6 kali atau
sebesar 74,29%, frekuensi menyusu < 8 kali (85,71%), dan lama tidur bayi
setelah menyusu (2-3 jam) sebesar 57,14%. Setelah dilakukan intervensi
perawatan payudara dan pijat oksitosin berdasarkan indikator frekuensi
kencing bayi didapatkan hasil ≥ 6 kali atau sebesar 91,43%, frekuensi menyusu
≥ 8 kali (80%), lama tidur setelah menyusu (2-3 jam) sebesar 85,71%.
Mengingat masih banyak ibu yang mengeluhkan kendala dalam
mengeluarkan ASI (ASI keluar tidak lancar), bayi tidak mau menyusu, dan ibu-
ibu menyusui yang tidak melakukan perawatan payudara pada masa nifas
karena berbagai alasan seperti ; malas melakukan kegiatan perawatan
payudara, membutuhkan waktu yang lama dalam perawatan payudara, dan
lainnya. Sehingga, upaya pemberian edukasi untuk memotivasi ibu dalam
melakukan perawatan payudara pada masa kehamilan saat kunjungan Ante
Natal Care (ANC) dan pada masa nifas dirasakan penting dilakukan oleh
tenaga kesehatan khususnya oleh perawat.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Selatan didapatkan hasil bahwa kedua Pukesmas tersebut
memiliki Penanganan Obstetri Neonatal Emergency Dasar (PONED) yang
memiliki cakupan ibu nifas terbesar dari beberapa PONED Puskesmas lainnya.
Berdasakan data tahun 2017, terdapat ibu yang melakukan persalinan di UPTD
Puskesmas Kecamatan Pontianak Selatan sebanyak 207 orang.
Hasil studi pendahuluan didapatkan bahwa informasi dari bidan yang
bertugas pada kedua puskesmas tersebut bahwa ibu nifas masih ada yang
mengalami masalah pengeluaran ASI yang kurang lancar dan ibu nifas hanya
diberikan perawatan payudara saat kehamilan pada trimester ketiga. Sementara
untuk pijat oksitosin belum pernah dilakukan dan ibu nifas belum mengetahui
cara pijat untuk memperlancar ASI. Berdasarkan pemaparan data dan
fenomena di atas maka peneliti perlu mengkaji lebih lanjut untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran
ASI pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak
Selatan”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan studi pendahuluan terkait masalah pengeluaran ASI pada ibu
nifas maka penulis akan melakukan penelitian untuk mengetahui “Bagaimana
perawatan payudara terhadap pengeluaran ASI pada ibu nifas?”.

C. Hipotesis
Ha : Ada pengaruh perawatan payudara terhadap pengeluaran ASI.
Ho : Tidak ada pengaruh perawatan payudara terhadap pengeluaran ASI.

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan
Mengetahui efektivitas perawatan payudara terhadap pengeluaran ASI
pada ibu nifas.
2. Manfaat
2.1 Aspek Teoritis
Penelitian ini menunjukan bahwa perawatan payudara dapat
membantu pengeluaran ASI pada ibu nifas. Hasil penelitian ini dapat
dijadikan bahan atau literature dalam perkuliahan berbasis bukti
ilmiah/evidence based dan diterapkan atau diimplementasikan dalam
memberikan asuhan keperawatan.
2.2 Aspek Praktik
Hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi bagi
puskesmas yang ada di Kota Pontianak, khususnya di UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Selatan serta dapat dijadikan sebagai terapi
komplementer dalam memberikan intervensi dan memberikan
penyuluhan tentang manfaat perawatan payudara untuk memperlancar
pengeluaran ASI.
3. Kerangka Konsep
Kerangka penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini
terdiri dari dua variable yaitu variable independen (Perawatan
Payudara) dan variable dependen (Pengeluaran ASI). Kerangka konsep
dari penelitian Pengaruh Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran
ASI Pada Ibu Nifas adalah sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen

Perawatan Payudara Pengeluaran ASI

E. Metode Penelitian
1. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, menggunakan
desain penelitian quasy experiment design dengan rancangan yang
digunakan adalah penelitian non equivalent control group atau biasa disebut
rancangan non randomized control group pretest-posttest design. Penelitian
ini menggunakan kelompok eksperimen yang diberikan intervensi dengan
menggunakan kelompok pembanding (kontrol), dimana dilakukan observasi
pertama terlebih dahulu (pretest) sebelum dilakukan intervensi. Setelah
dilakukan intervensi, dilakukan observasi kembali (posttest) sebagai
observasi akhir. Sedangkan pada kelompok kontrol dilakukan observasi
sebelum (pretest) dan observasi akhir (posttest) tanpa dilakukan intervensi.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontinak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
Pengumpulan data studi pendahuluan untuk mengetahui ibu yang akan
melahirkan dilihat dari data Antenatal Care (ANC). Waktu penelitian akan
dilakukan setelah ibu melahirkan dari satu sampai tiga hari di pagi hari.
3. Partisipan Penelitian
Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 32 orang
responden dari populasi yang melahirkan di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontinak Selatan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian
ini menggunakan teknik nonprobality dengan metode consecutive sampling
yang merupakan suatu metode pemilihan sample yang dilakukan dengan
memilih semua individu yang ditemui dan memenuhi kriteria pemilihan,
sampai jumlah sampel yang diinginkan terpenuhi (Dharma, 2015).
Perhitungan besaran sampel yang diperlukan dalam penelitian ini
ditetapkan dengan menggunakan rumus di bawah ini :

Keterangan :
n : Besaran sampel penelitian
: Standar normal deviasi untuk (1,960)
: Standar normal deviasi untuk β (0,842)
: Nilai mean kelompok kontrol yang didapat dari literature

: Nilai mean kelompok uji coba yang didapat dari literature

: Beda mean yang dianggap bermakna didapat dengan nilai 15


(Rahayuningsih, 2016 )
: Estimasi standar deviasi dari beda mean kedua kelompok
bedasarkan literature
: Estimasi standar deviasi dari beda mean kedua kelompok
bedasarkan literature yang dihitung dengan rumus : 1/2 (

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahayuningsih (2016)


diketahui nilai mean kelompok intervensi 17 dan mean kelompok kontrol
2, maka diperoleh perhitungan sebagai berikut :

=
=

= 15,70 (dibulatkan menjadi 16)


Berdasarkan perhitungan di atas, didapatkan total sampel pada masing-masing
kelompok adalah 16 orang.
4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria partisipan pada penelitian ini meliputi kriteria inklusi dan
ekslusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya partisipan
digunakan.
a. Kriteria inklusi yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Ibu nifas yang melahirkan di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas
Kecamatan Pontianak Selatan baik primipara maupun multipara.
2) Ibu nifas yang diawali dengan inisiasi menyusu dini (IMD)
3) Ibu nifas yang tidak memberikan susu formula kepada bayinya pada
saat dilakukan penelitian.
b. Kriteria eksklusi yang terdapat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Ibu nifas yang terdapat penyakit tertentu yang menyebabkan tidak dapat
menyusui.
2) Ibu nifas yang memiliki bayi dengan kelainan reflek menghisap.

F. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan lembar observasi
dan gelas ukur untuk mengetahui jumlah pengeluaran ASI.
1. Tahap Persiapan
a. Peneliti mengajukan permohonan data studi pendahuluan kepada
Sekretaris Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Tanjungpura.
b. Selanjutnya peneliti meminta surat perizinan kepada Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Tanjungpura untuk mengambil data studi
pendahuluan masalah kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak
dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat.
c. Setelah didapatkan data, peneliti mengajukan surat perizinan studi
pendahuluan kepada Sekretaris Prodi Ilmu Keperawatan dan Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Universitas
Tanjungpura yang ditujukan pada Kepala UPTD Puskemas
Kecamatan Pontianak Selatan untuk melakukan identifikasi masalah
pengeluaran ASI pada ibu nifas .
d. Penerimaan permohonan pengambilan data studi pendahuluan
penelitian dari UPTD Puskemas Kecamatan Pontianak Selatan telah
didapatkan oleh peneliti.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Setelah memperoleh surat izin untuk melakukan peneilitian,
peneliti mendatangi tempat penelitian (Puskesmas). Surat perizinan
ditujukan pada Kepala UPTD Puskemas Kecamatan Pontianak
Selatan.
b. Peneliti melakukan studi dokumentasi di puskesmas. Untuk
mengidentifikasi responden yang sesuai dengan kriteria, peneliti
mengambil data dari catatan persalinan di ruang kebidanan.
c. Data yang diidentifikasi meliputi nama, usia, waktu persalinan.
d. Setelah data dasar diperoleh, peneliti mendatangi responden ke
ruang inapnya untuk melakukan pendekatan dan pendataan yang
lebih lengkap.
e. Saat bertemu dengan responden, peneliti memperkenalkan diri
untuk melakukan pendekatan dan menjelaskan mengenai tujuan,
manfaat serta prosedur penelitian.
f. Responden yang bersedia menjadi sampel dalam penelitian,
langsung diminta untuk menandatangani informed consent sebagai
tanda bukti kesediaanya.
g. 16 ibu postpartum pertama dijadikan responden untuk kelompok
intervensi dengan dilakukan breast care selama 3 hari, sedangkan
untuk kelompok kontrol hanya dilakukan sekali pengajaran dan 2
hari berikutnya dilakukan secara mandiri oleh responden. Jumlah
responden untuk kelompok kontrol sama dengan kelompok
intervensi yaitu sebnyak 16 orang. Apabila waktu perawatan pasien
di Puskesmas tidak mencapai 3 hari maka intervensi akan
dilanjutkan di rumah pasien
h. Peneliti menjelaskan dan mengajarkan kepada responden
bagaimana cara melakukan breast care dan sebelum mengajarkan
breast care peneliti terlebih dahulu mengukur pengeluaran jumlah
ASI sebelum diberikan intervensi di hari pertama pertemuan.
i. Peneliti melakukan pengamatan selama 3 hari berturut-turut sejak
hari pertama melahirkan. Jika responden sudah mengetahui dan
mengerti maka breast care dapat dilakukannya sendiri.
j. Jika di hari kedua dan ketiga responden sudah pulang dari
puskesmas, peneliti melanjutkan penelitian dengan mendatangi
rumah responden. Sebelumnya, peneliti membuat janji terlebih
dahulu dengan responden untuk dapat berkunjung ke rumahnya
melalui telepon.
k. Responden pada kelompok kontrol diberi lembar observasi breast
care untuk memastikan bahwa responden melakukan breast care
tersebut setiap hari, sedangkan lembar observasi kelompok
intervensi dipegang oleh peneliti.
l. Setelah melakukan breast care selama 3 hari, peneliti mengukur
jumlah pengeluaran ASI yang telah diberikan intervensi pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
G. Analisis Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik dari setiap variabel penelitian. Analisis
univariat ini tergantung dari jenis datanya. Untuk data numerik
digunakan nilai mean rata-rata, median dan standar deviasi. Pada
umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan
persentase dari tiap variabel. Analisis univariat dalam penelitian ini
meliputi usia ibu, paritas dan jumlah pengeluaran ASI.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan uji T berpasangan untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh pengeluaran ASI sbelum dan setelah perawatan payudara pada
kedua kelompok. Untuk menganalisa efektivitas perawatan payudara
terhadap pengeluaran ASI menggunakan uji T-Non Paired atau (T-test)
Independen. Apabila distribusi data tidak normal maka menggunakan uji
wilcoxon.
H. Pertimbangan Etika Penelitian
Adapun pertimbangan etika penelitian yang harus dilakukan dan
diperhatikan dalam penelitian menurut Notoatmodjo (2012) :
a. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
Penelitian tidak bersifat memaksa, dimana setelah mendapatkan
penjelasan yang lengkap responden berhak untuk ikut serta atau menolak
penelitian dengan mengisi lembar persetujuan.
b. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for
privacy and confidentiality)
Keseluruhan data penelitian dari responden akan dijaga
kerahasiaannya oleh peneliti dari pihak yang tidak berkepentingan.
c. Keadilan dan inklusivitas atau keterbukaan (respect for justice and
inclusiveness)
Penelitian dilakukan secara jujur, hati-hati, adil, dan dilakukan
secara profesional dengan memberikan informasi yang sejelas-jelasnya
mengenai prosedur dan tata cara dilakukannya penelitian.
d. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harms and benefits)
Penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan manfaat yang
sebesar-besarnya dan meminimalisir adanya kerugian bagi responden.

G. Personalia Penelitian
a. Peneliti Utama :
Nama : Nurdella Artalia Utami
NIM : I1031141034
Program Studi/Fakultas : Keperawatan/Fakultas Kedokteran
Universitas : Universitas Tanjungpura Pontianak
b. Pembimbing 1 :
Nama : Yuyun Tafwidhah, S.KM., M.Kep
NIP : 1982124200501 2 011
Bidang Ilmu : Kesehatan Masyarakat
Program Studi/Fakultas :-
Universitas :-
c. Pembimbing 2 :
Nama : M. Ali Maulana, S.Kep., Ners., M.Kep
NIDK : 8898950017
Bidang Ilmu : Manjeman Keperawatan
Program Studi/Fakultas : Keperawatan/Fakultas Kedokteran
Universitas : Universitas Tanjungpura Pontianak