Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN DAN ANALISA JURNAL PADA PASIEN


TROMBOSITOPENIA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB I

Disusun oleh :

Endang Dinilah Rahmat (C.0105.20.169)


Erna Yuningsih (C.0105.20.171)
Fitrah Ahmad Kausar (C.0105.20.194)
Hari Rahmat Romadon (C.0105.20.172)
Rina Rismi Sopiani (C.0105.20.186)

PRODI PENDIDIKAN NERS

KELAS TRANSFER S-1 RSU KASIH BUNDA

STIKES BUDI LUHUR CIMAHI

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penyusun kemudahan dalam
menyelesaikan makalah tepat waktu. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, penyusun tidak akan
mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tidak lupa shalawat serta salam tercurahkan
kepada Nabi agung Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nantikan kelak.

Penyusun mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, sehingga
makalah “Asuhan Keperawatan dan Analisa Jurnal Pada Pasien Trombositopenia” dapat
diselesaikan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah KMB I. Penyusun berharap
makalah tentang makalah ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat.

Penyusun menyadari makalah bertema pencegahan dan penanggulangan ini masih perlu
banyak penyempurnaan karena kesalahan dan kekurangan. Penyusun terbuka terhadap kritik dan
saran pembaca agar makalah ini dapat lebih baik. Apabila terdapat banyak kesalahan pada
makalah ini, baik terkait penulisan maupun konten, penyusun memohon maaf.

Demikian yang dapat penulis sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Cimahi, 13 November 2020

DAFTAR ISI

i
KATA PENGANTAR......................................................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHALUAN...........................................................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................................................2
D. Manfaat.................................................................................................................................2
BAB II..........................................................................................................................................3
TINJAUAN TEORITIS...............................................................................................................3
A. Definisi.................................................................................................................................3
B. Etiologi.................................................................................................................................4
C. Klasifikasi.............................................................................................................................5
D. Patofisiologi..........................................................................................................................7
E. Pathway.................................................................................................................................8
F. Manifestasi Klinis.................................................................................................................8
G. Pemeriksaan Penunjang........................................................................................................9
H. Penatalaksanaan Medis.......................................................................................................10
I. Komplikasi..........................................................................................................................11
J. Konsep Dasar Keperawatan................................................................................................11
BAB III..........................................................................................................................................22
ANALISA JURNAL.....................................................................................................................22
BAB IV..........................................................................................................................................23
PENUTUP.....................................................................................................................................23
A. Kesimpulan.........................................................................................................................23
B. Saran...................................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................24

ii
BAB I

PENDAHALUAN

A. Latar Belakang
Darah adalah suatu cairan yang diciptakan untuk memberi tubuh kita kehidupan,
ketika beredar di dalam tubuh, darah menghangatkan, mendinginkan, memberi makan,
dan melindungi tubuh dari zat-zat beracun (Lini, 2012). Darah terdiri dari beberapa sel
darah yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit. Trombosit memiliki peranan penting bagi
tubuh manusia yaitu sebagai sel darah pembeku karena fungsinya dalam proses
pembekuan darah. Peran penting lain dari trombosit adalah penyumbatan kebocoran
kapiler yang lain mungkin menjadi pintu masuk bagi kuman, kehilangan darah juga dapat
dicegah dengan tindakan ini, dan meningkatkan daya tahan tubuh (Sridianti, 2016). Jika
jumlah trombosit menurun, sistem kekebalan tubuh pun ikut melemah. Akibatnya tubuh
manusia semakin tidak berdaya dalam melawan penyakit (Al-Yarizq, 2016).
Faktor yang mempengaruhi penurunan kadar trombosit yaitu tifus, penyakit ITP
(Immunologic Thrombocytopenia Purpura), kasus DIC (Disseminated Intravascular
Coagulation), penderita penyakit leukemia, dan penderita penyakit mielofibrosis.
Keadaan normal, trombosit dalam darah mencapai 150 ribu-450 ribu/mm3. Dalam
keadaan tidak normal, trombosit yang berperan dalam pembekuan darah ini bisa turun.
Keadaan ini disebut dengan trombositopenia, yakni trombosit berada dalam keadaan
rendah. Demam berdarah hanyalah salah satu penyakit yang ditandai oleh kadar
trombosit turun (Al-Yarizq, 2016). Trombositopenia merupakan salah satu gejala yang
sering ditemukan pada anak sakit berat dan kelainan laboratorium yang umum
ditemukan, insidennya dilaporkan bervariasi 13-58% (Darma, dkk, 2010).
Menurut tingkatan pada teori Hirarki Maslow, pemenuhan kebutuhan dasar
manusia diawali dengan pemenuhan kebutuhan fisiologis yang meliputi oksigenasi,
nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi, termoregulasi, personal hygene, aktivitas tidur dan
istirahat, serta seksualitas. Jika pemenuhan kebutuhan fisiologis telah terpenuhi, maka
1
kebutuhan keamanan dan kenyamanan pada tingkatan selanjutnya yang harus dipenuhi
(Potter & Perry, 2006). Pasien yang mengalami trombositopenia akan mengalami
ketidaknyamanan akibat nausea. Penelitian yang dilakukan oleh Rukayah (2013)
menunjukkan bahwa terapi akupresur dapat menurunkan keluhan mual pada anak. Tujuan
akupresur atau jenis lain dari bodywork Asia adalah untuk memulihkan kesehatan dan
keseimbangan saluran tubuh energi dan untuk mengatur kekuatan yang berlawanan dari
yin (energi negatif) dan yang (energi positif).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penyakit trombositopenia?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien trombositopenia

C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami penyakit trombositopenia
2. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada pasien trombositopenia

D. Manfaat
1. Mahasiswa dapat memahami penyakit trombositopenia
2. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan pada pasien trombositopenia

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi
Trombosit adalah sel darah tak berinti yang berasal dari sitoplasma megakariosit.
Jumlah normal trombosit yaitu 150.000-450.000 keping, sedangkan umur trombosit
berkisar antara 7-10 hari. Sel ini memegang peranan penting pada hemostasis karena
trombosit membentuk sumbat hemostatik untuk menutup luka.Trombosit atau keping sel
darah merupakan salah satu komponen darah yang mempunyai fungsi utama
dalam pembekuan darah. Trombosit akan bekerja dengan menutupi pembuluh darah yang
rusak dan membentuk benang-benangfibrin seperti jaring-jaring yang akan menutup
kerusakan tersebut. Trombosit manusia berukuran kecil dan berbentuk bulat, bentuk dan
ukuran trombosit tersebut memungkinkan trombosit masuk ke pembuluh darah yang kecil
dan mampu menempatkan diri pada lokasi yang paling optimal dalam menjaga keutuhan
pembuluh darah.
Fungsi utama trombosit berperan dalam proses pembekuan darah. Bila terdapat
luka, trombosit akan berkumpul ke tempat luka kemudian memicu pembuluh darah untuk
mengkerut (supaya tidak banyak darah yang keluar) dan memicu pembentukan benang-
benang pembekuan darah yang disebut dengan benag-benang fibrin. Benang-benang
fibrin tersebut akan membentuk formasi seperti jaring-jaring yang akan menutupi daerah
luka sehingga menghentikan perdarah aktif yang terjadi pada luka. Selain itu, ternyata
trombosit juga mempunyai peran dalam melawan infeksi virus dan bakteri dengan
memakan virus dan bakteri yang masuk dalam tubuh kemudian dengan bantuan sel-sel
kekebalan tubuh lainnya menghancurkan virus dan bakteri di dalam trombosit tersebut.
Namun, dengan sifat trombosit yang mudah pecah dan bergumpal bila ada suatu
gangguan, trombosit juga mempunyai peran dalam pembentukan plak dalam pembuluh
darah. Plak tersebut justru dapat menjadi hambatan aliran darah, yang seringkali terjadi di
dalam pembuluh darah jantung maupun otak. Gangguan tersebut dapat memicu
terjadinya stroke dan serangan jantung. Oleh karena itu, pada pasien-pasien dengan

3
stroke dan serangan jantung diberikan obat-obatan (anti-platelet) supaya trombosit tidak
terlalu mudah bergumpul dan membentuk plak di pembuluh darah.

B. Etiologi
Penyebab trombositopenia dapat dibagi menjadi tiga kategori:
1. .Gangguan Produksi
a. Penyebab trombositopenia antara lain bisa disebabkan karena sumsum tulang
menghasilkan sedikit trombosit. Hal ini biasa terjadi pada penderita
leukemia,anemia aplastik, pemakaian alkohol yang berlebihan,dan kelainan
sumsum tulang.
b. Beberapa infeksi virus dapat menyebabkan jumlah trombosit yang rendah dengan
mempengaruhi sumsum tulang, misalnya parvovirus, rubella, gondok, varicella,
hepatitis C, dan HIV.
c. Penyebab lainnya trombositopenia akibat gangguan produksi trombosit sumsum
tulang meliputi: toksisitas alkohol jangka panjang dari penyalahgunaan alkohol;
leukemia dan limfoma, kanker yang menyerang sumsum tulang, dan kekurangan
vitamin B12.
2. Peningkatan penghancuran trombosit
Perusakan plateletyang meningkat dapat menyebabkan trombositopenia oleh
mekanisme imunologi dan non-imunologi. Penyebab imunologi trombositopenia
dapat disebabkan oleh:
a. Obat tertentu (antibiotik sulfonamide, carbamazepine, digoxin, kina, quinidine,
reaksi transfusi, dan gangguan rheumatologic (lupus eritematosus sistemik).
b. Idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP) adalah trombositopenia imunologi di
mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang trombosit yang beredar
(autoimun). ITP biasanya kronis (lama) pada orang dewasa dan akut pada anak-
anak.
c. Heparin-induced trombositopenia (HIT) adalah penghancuran imunologis
trombosit oleh penggunaan heparin dan obat-obatan terkait.

4
d. Proses trombositopeni non-imunologi konsumtif meliputi infeksi berat atau
sepsis, irregularitas permukaan pembuluh darah (vasculitis, katup jantung buatan),
atau, jarang terjadi, koagulasi intravaskular diseminata atau DIC (komplikasi
serius dari infeksi biasa, trauma, luka bakar, atau kehamilan).
3. Absorbsi Limpa
Absorbsi limpa terjadi ketika limpa membesar (misalnya, karena sirosis hati atau
beberapa jenis leukemia) dan menangkap trombosit dari sirkulasi lebih dari biasanya.
Hal ini bisa mengakibatkan trombositopenia.

C. Klasifikasi
Gangguan dalam proses pembekuan yang disebabkan oleh kelainan trombosit disebut
trombopati. Kelainan trombosit dapat berupa:
1. Kelainan jumlah trombosit trombositopenia
Trombositopenia yaitu keadaan dimana jumlah dalam sirkulasi kurang dari
normal trombosit, hal ini disebabkan oleh produksi trombosit berkurang, destruksi
trombosit meningkat dan abnormal pooling trombosit.
Keadaan keadaan dimana dapat dijumpai trombositopenia  ialah IdiopathicThromboc
ytopenic Purpura (ITP), Congenital Immunologic Trombocytopenia, Dengue
Hemorragic Fever, dan gangguan-gangguan pada limpa.
Trombositopenia adalah suatu keadaan jumlah trombosit dalam sirkulasi darah
dibawah batas normal . Dalam hal ini,  trombositopenia secara khusus  didefinisikan
sebagai  jumlah trombosit  kurang dari 100.000  trombosit/uL. Jumlah yang
trombosit  rendah trombositopenia, dapat disebabkan  oleh berbagai keadaan. Secara
umum, dapat dibagi menjadi:
a. Penurunan produksi trombosit
b. Peningkatan  kerusakan atau konsumsi trombosit
c. Peningkatan sekuestrasi trombosit oleh limpa atau kombinasi dari mekanisme
tersebut.
Jumlah trombosit dalam darah disebut juga sebagai jumlah platelet normalnya
adalah antara 150.000 sampai 450.000 per liter mikro (sepersejuta liter) darah. Jumlah

5
trombosit kurang dari 150.000 ini disebut trombositopenia. Yang lebih besar dari
450.000 disebut trombositosis. Penting untuk dicatat bahwa, meskipun, jumlah
platelet menurun pada trombositopenia, namun fungsi mereka biasanya sepenuhnya
tetap utuh. Gangguan lain, berupa disfungsi trombosit meskipun jumlah trombosit
masih normal. Jumlah trombosit yang sangat rendah pada kasus berat dapat
menyebabkan perdarahan spontan atau dapat menyebabkan keterlambatan proses
pembekuan. Pada trombositopenia ringan, mungkin tidak ada pengaruh dalam jalur
pembekuan atau perdarahan.
2. Kelainan Fungsi Trombosit Trombositosis
Trombositosis yaitu keadaan dimana jumlah trombosit dalam sirkulasi lebih
dari normal, hal ini disebabkan karena kegiatan fisik, pemberian
epineprin (physiologictrombositosis), dan bertambahnya produksi trombosit, keadaan
ini dapat dijumpai pada trombositemia dan reactive trombosit. Trombositemia, yaitu
keadaan dimana agregasi trombosit berkurang yang disebabkan karena berkurangnya
ADP dalam trombosit. Trombositopenia merupakan tanda dari suatu penyakit, salah
satunya adalah DHF. Dengue Hemoragic Fever adalah infeksi yang disebabkan oleh
arbovirus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes
Aegypti) (Nelson, 1999).
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk
dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker,
2001). Demam dengue atau dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak,
remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi
yang disertai leukopenia, dengan atau tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam
bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa menyecap
yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie)
spontan (Noer, dkk, 1999). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).

6
D. Patofisiologi
Fungsi trombosit dapat berubah (trombositopati) melalui berbagai cara yang
mengakibatkan semakin lamanya perdarahan. Obat-obat seperti aspirin, indometasin,
fenilbutazon menghambat agregasi dan reaksi pelepasan trombosit, dengan demikian
menyebabkan perdarahan yang memanjang walaupun jumlah trombosit normal. Pengaruh
aspirin tunggal dapat berlangsung selama 7 hari hingga 10 hari. Protein plasma, seperti
yang ditemukan pada makroglobulinemia dan myeloma multiple menyelubungi
trombosit, mengganggu adhesi trombosit, retraksi bekuan, dan polimerasi fibrin.
Trombosit dapat dihancurkan oleh pembentukan antibodi yang diakibatkan oleh
obat (seperti yang ditemukan pada kinidin dan senyawa emas) atau oleh autoantibodi
(antibodi yang bekerja melawan jaringnnya sendiri). Antibodi tersebut menyerang
trombosit sehingga lama hidup trombosit diperpendek. Seperti kita ketahui bahwa
gangguan–gangguan autoimun yang bergantung pada antibodi manusia, paling sering
menyerang unsur-unsur darah, terutama trombosit dan sel darah merah. Hal ini terkait
dengan penyakit ITP, yang memiliki molekul-molekul IgG reaktif dalam sirkulasi dengan
trombosit hospes.
Meskipun terikat pada permuakaan trombosit, antibodi ini tidak menyebabkan
lokalisasi protein komplemen atau lisis trombosit dalam sirkulasi bebas. Namun,
trombosit yang mengandung molekul-molekul IgG lebih mudah dihilangkan dan
dihancurkan oleh makrofag yang membawa reseptor membran untuk IgG dalam limpa
dan hati. Manifestasi utama dari ITP dengan trombosit kurang dari 30.000/mm3 adalah
tumbuhnya petechiae. Petechiae ini dapat muncul karena adanya antibodi IgG yang
ditemukan pada membran trombosit yang akan mengakibatkan gangguan agregasi
trombosit dan meningkatkan pembuangan serta penghancuran trombosit oleh sistem
makrofag. Agregaasi trombosit yang terganggu ini akan menyebabkan penyumbatan
kapiler-kapiler darah yang kecil. Pada proses ini dinding kapiler dirusak sehingga timbul
perdarahan dalam jaringan.
Bukti yang mendukung mekanisme trombositopenia ini disimpulkan berdasarkan
pemeriksaan pada penderita ITP dan orang-orang percobaan yang menunjukkan
kekurangan trombosit berat tetapi singkat, setelah menerima serum ITP. Trombositopenia
sementara, yang ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan ITP, juga sesuai
7
dengan kerusakan yang disebabkan oleh IgG, karena masuknya antibodi melalui plasenta.
ITP dapat juga timbul setelah infeksi, khususnya pada masa kanak-kanak, tetapi sering
timbul tanpa peristiwa pendahuluan dan biasanya mereda setelah beberapa hari atau
beberapa minggu.

E. Pathway

Gangguan Produksi dan Peningkatan penghancuran


trombosit

TROMBOSITOPENIA

F.
Menstruasi yang banyak Adanya purpura a. jumlah
G. atau perdarahan trombosit ↓
kulit pada b. fungsi organ
H.
Perdarahan pada
ekstermitas dan c. inflamasi organ
mukosa,
I. mulut, hidung,
tubuh
dan gusi
J.
K.

L. Resiko
Kerusakan Nyeri
M.tinggi
perdarahan integritas kulit

8
F. Manifestasi Klinis
Tanda-gejala trombositopenia secara umum:
1. Penderita akan mudah sekali mengalami perdarahan melalui kulit atau mukosa
berupa petechie, ekimosis, menorrhagia, epistaksis.
2. Sakit perut, rasa mual, trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit
pada sendi (artralgia), sakit pada otot (mialgia)
3. Leukosit normal atau turun
4. Eosinofil meningkat (alergi obat)
5. Perdarahan kulit bisa merupakan tanda awal dari jumlah trombosit yang menurun.
6. Bintik-bintik keunguan seringkali muncul di tungkai bawah cidera ringan bisa
menyebabkan memar yang menyebar.
7. Bisa terjadi perdarahan gusi dan darah juga bisa ditemukan pada feses atau urine.
8. Perdarahan mungkin sukar berhenti sehingga pembedahan dan kecelakaan bisa
berakibat fatal
9. Jika jumlah trombosit semakin menurun, maka perdarahan akan semakin memburuk.
10. Jumlah trombosit kurang dari 5000-10000/mL bisa menyebabkan hilangnya
sejumlah besar darah melalui saluran pencernaan atau terjadi perdarahan otak
(meskipun otaknya sendiri tidak engalami cidera) yang bisa berakibat fatal.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah yaitu : 
1. Darah rutin(Hematologi Rutin) seperti:
2. Eritrosit (RBC) : mengetahui kelainan sel darah merah yang berfungsi dalam
transport oksigen ke tubuh. Normal : (male : 4.5-6,5 x 10^12/L dan female : 3.9 - 5.6
x 10^12/L)
3. Hemoglobin -Hb- (HGB) : menentukan konsentrasi Hb (protein dalam eritrosit yang
berfungsi membawa oksigen ke tubuh) pada kompoenn darah. Normal (male: 12.5-
16.5 x 10^9 /L dan female: 11.5-15.5 x 10^9 /L)
4. Leukosit(WBC) : mengetahui kelainan sel darah putih. Normal ( adults: 4000-
10000 /UL dan children : 5000-15000 /UL)

9
5. Trombosit (PLT) : melihat bagaimana kondisi keping-keping darah apakah
mengalami gangguan pembekuan darah atau idak, pemantauan dan evaluasi
perdarahan. Normal (150.000-450.000/UL)
6. Hematrokit (HCT) : berguna menentukan keadaan anemia, kehilangan darah.
Normal (male : 40-54%, female : 36-47% dan children : 32-42%)
7. Laju Endap Darah (LED) : mengukur laju pengendapan (dalam mm/jam) dari eritrosit
pada suatu kolom darah yang diberi antikoagulan. LED meningkat yaitu
menunjukkan meningkatnya kadar imunogloblin atau protein akut dan merupakan
penanda nonspesifik dari adanya radang atau infeksi. Bleedding time memanjang
dengan waktu pembekuan normal
8. BMP
Biopsi Bone Marrow (BMP) dapat dilakukan jika segala cara telah dilakukan sampai
pemberian obat dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan efek kebaikan pada
pasien, jadi untuk mengetahui penyakit di dalam tubuhnya yaitu memeriksa bone
marrow (pengambilan cairan sumsum tulang belakang) karena dicurigai ada penyakit
lain selain ITP.

H. Penatalaksanaan Medis
1. Terapi Suportif
Tindakan suportif merupakan hal yang penting dalam penatalaksanaan
trombositopenia pada anak, diantaranya membatasi aktifitas fisik, mencegah
perdarahan akibat trauma, menghindari obat yang dapat menekan produksi trombosit
atau mengubah fungsinya, serta melakukan edukasi ke pasien dan keluarga.
2. Terapi Farmakologis
Secara umum penatalaksanaan pada kasus trombositopenia adalah sebagai berikut:
a. Menghindari faktor penyebab
b. Terapi kausatif
        Keadaan trombositopenia dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya:
a. Gangguan produksi trombosit
1) Depresi selektif megakariosit karena obat, bahan kimia, atau infeksi virus

10
2) Sebagai bagian dari kegagalan fungsi sumsum tulang seperti pada anemia
aplastik, leukemia akut, dan mielosklerosis
b. Peningkatan destruksi trombosit
a. Immune thrombocytopenic purpura (ITP)
b. Immune thrombocytopenic purpura sekunder seperti pada systemic lupus
erythematous, limfoma
c. Alloimune thrombocytopenic purpura, misalnya pada neonatal thrombocytopenic
d. Drug-induced immune thrombocytopenia
e. Disseminated intravascular coagulation
c. Distribusi trombosit yang abnormal
Sindrom hipersplenism dapat menyebabkan kerusakan trombosit dimana terjadi
pooling trombosit ke dalam limfa
d. Terjadinya dilution loss
Umumnya disebabkan oleh transfusi massif
Berdasarkan etiologi diatas, tatalaksana kausatif yang dapat diberikan diantaranya:
1) Jika terjadi gangguan pada produksi trombosit, maka terapi yang diberikan dapat
berupa thrombopietin receptor agonist yang akan merangsang trombopoiesis.
2) Peningkatan destruksi trombosit dapat terjadi karena faktor imun maupun faktor
eksogen seperti obat-obatan. Terapi yang dapat diberikan pada kasus
trombositopenia akibat immunologis adalah pemberian obat yang dapat
menurunkan respon imun tubuh

I. Komplikasi
1. Syock hipovolemik
2. Penurunan curah jantung
3. Purpura, ekimosis, dan petekie

J. Konsep Dasar Keperawatan


Konsep Asuhan Keperawatan

11
Asuhan keperawatan merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan pada
praktik keperawatan yang secara langsung diberikan kepada pasien pada berbagai
tatanan pelayanan kesehatan, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia
(Suprajitno, 2004). Asuhan keperawatan adalah segala bentuk tindakan atau
kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada pasien
(Carpenito,2009). Ada beberapa tahapan dalam melakukan asuhan keperawatan
yaitu :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan pengumpulan informasi subjektif dan objektif, dan
peninjauan informasi riwayat pasien pada rekam medik. Informasi subjektif,
misalnya dengan wawancara pasien/ keluarga. Sedangkan informasi objektif,
misalnya dengan pengukuran tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik
(Herdman,2015). Pengkajian keperawatan merupakan proses sistematis dari
pengumpulan data, verifikasi, dan komunikasi data mengenai klien dengan
melakukan pengumpulan data dari sumber primer (klien) dan sumber sekunder
(keluarga,tenaga kesehatan) (Perry & Potter, 2005).
a. Identitas
Nama, umur (paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang dari 15
tahun). Endemis di daerah tropis Asia, dan terutama terjadi pada saat musim hujan
(Nelson, 1992: 269). Jenis kelamin, alamat, pendidikan, pekerjaan.
b. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Panas atau demam
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil dengan
kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 2 dan ke 7 dan
keadaan anak semakin lemah. Kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan,
mual, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, serta adanya manifestasi
pendarahan pada kulit.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

12
Penyakit apa saja yang pernah diderita klien, apa pernah mengalami serangan
ulang DHF.
d. Riwayat Nutrisi
Status gizi yang menderita DHF dapat bervariasi, dengan status gizi yang baik
maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya. Pasien
yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan nafsu makan
menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai dengan pemenuhan
nutrisi yang mencukupi, maka akan mengalami penurunan berat badan sehingga
status gizinya menjadi kurang.
e. Kondisi Lingkungan
Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang
bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju dikamar).
c. Pemeriksaan Fisik
Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai berikut:
1). Keadaan umum:
Berdasarkan tingkatan (grade) DHF keadaan umum adalah sebagai berikut :
a) Grade I: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, tanda – tanda vital
dan nadi lemah.
b) Grade II: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah, ada perdarahan
spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak
teratur.
c) Grade III: Keadaan umum lemah, kesadaran apatis, somnolen, nadi lemah,
kecil, dan tidak teratur serta tensi menurun.
d) Grade IV: Kesadaran koma, tanda – tanda vital : nadi tidak teraba, tensi tidak
terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas dingin berkeringat dan kulit
tampak sianosis.
e) Sistem sensori
Pembengkakan sekitar mata, lakrimasi dan fotobia, pergerakan bola mata
nyeri, epitaksis pada hidung dan hyperemia pada tenggorokan.

f) System integument

13
Kemerahan pada muka, Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor,
(kadang-kadang) sianosis.
g) Sistem endokrin
Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas rahang daerah servikal
posterior
h) Sistem respirasi
Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.
Pada Stadium IV :
Palpasi: Vocal – fremitus kurang bergetar.
Perkusi: Suara paru pekak.
Auskultasi: Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.
i) Sistem kardiovaskular
Takikardi pada beberapa pasien.
j) Sistem gastrointestinal
Palpasi: Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan dehidrasi turgor kulit
dapat menurun, suffiing dulness, balote ment point (Stadium IV)
k) Sistem eliminasi
Eliminasi alvi: Diare, konstipasi, melena.
Eliminasi urin: Dapat terjadi oligouria sampai anuria.
l) Sistem musculoskeletal
Stadium I: Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL test.
Stadium II – III: Terdapat petekie dan ekimose di kedua ekstrimitas.
Stadium IV : Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis pada jari tangan dan
kaki.
d. Pemeriksaan Laboratorium
1) Hb dan PCV meningkat ( ≥20%).
2) Trombositopenia (≤100.000/ml).
3) Leukopenia.
4) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
5) Urium dan Ph darah mungkin meningkat

14
6) Asidosis metabolic : Pco2<35-40 mmHg.
7) SGOT/SGPT mungkin meningkat.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien trombositopenia menurut SDKI (2018) yaitu :
a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus.
b. Hipovolemia berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan
demam.
c. Defisit nutrisi berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
d. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan perdarahan.
e. Nyeri akut berhubungan dengan keletihan, malaise sekunder akibat DHF.

15
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
(SLKI) (SIKI)
1. Hipertermi Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Hipertermia :
berhubungan dengan diharapkan termoregulasi membaik, 1. Monitor suhu tubuh.
proses infeksi virus dengan kriteria hasil : 2. Sediakan lingkungan yang dingin.
1. Menggigil menurun. 3. Longgarkan atau lepaskan pakaian
2. Kulit merah 4. Berikan cairan oral.
3. Pucat menurun. 5. Anjurkan tirah baring.
4. Suhu tubuh membaik. 6. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
5. Suhu kulit membaik. intravena.
6. Tekanan darah membaik. Regulasi Temperatur :
1. Monitor tekanan darah, frekuensi pernafasan
dan nadi.
2. Monitor suhu tubuh pasien tiap dua jam, jika
perlu.
3. Monitor warna dan suhu kulit.
4. Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang
adekuat.
5. Kolaborasi pemberan antipiretik, jika perlu.
2. Hipovolemia Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Hipovolemia
berhubungan dengan diharapkan kebutuhan cairan membaik, Observasi

16
peningkatan dengan kriteria hasil : 1. Observasi tanda-tanda vital dan gelaja
permeabilitas kapiler, 1. Frekuensi Nadi dalam batas normal hypovolemia
perdarahan, muntah ( 70-120 x/menit ) 2. Monitor intake dan output cairan
dan demam 2. Suhu tubuh dalam batas normal ( 36,5 – Terapeutik
37,50C ) 1. Hitung kebutuhan cairan
3. Elastisitas turgor kulit membaik 2. Berikan asupan cairan oral
4. Intake cairan membaik ( 8-8,5 Edukasi
cc/kgBB/h ari ) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral 4.
5. Membrane mukosa lembab, Tidak ada Kolaborasi
rasa haus 1. Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis
(mis. NaCl, RL)
2. Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis
(mis. Glukosa 2,5%, NaCl 0,4% ) c.
3. Kolaborasi pemberian cairan koloid
Manajemen syok hipovolemik
Observasi
1. Monitor status kardiopulmonal (frekuensi
dan kekuatan nadi, frekuensi napas, dan TD
2. Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi,
AGD)
3. Monitor status cairan (masukan dan
keluaran, turgor kulit, CRT)

17
4. Periksa tingkat kesadaran dan respon pupil
Terapeutik
1. Pertahankan jalan napas paten
2. Berikan oksigen untuk mempertahankan
saturasi oksigen >94%
3. Berikan posisi syok (modified
trendelenberg)
4. Pasang jalur IV berukuran besar (mis, no
14/16)
5. Pasang kateter urin untuk menilai produksi
urin
6. Kolaborasi
Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid
20 mL/kgBB pada anak

3. Defisit nutrisi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Observasi


berhubungan dengan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi,
a. Identifikasi status nutrisi
mual, muntah, dengan Kriteria hasil:
anoreksia 1.Mual dan muntah berkurang. b. Identifikasi makanan yang disukai

2.Nafsu makan kembali meningkat. c. Monitor asupan makanan

d. Monitor berat badan

18
e. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium

2. Terapeutik

a. Lakukan oral hygiene sebelum


makan, jika perlu
b. Sajikan makanan secara menarik dan suhu
yang sesuai

c. Berikan makan tinggi serat untuk


mencegah konstipasi

d. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi


protein

1. Edukasi : Anjurkan posisi duduk, jika


mampu
2. Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan antiemetik), jika perlu

b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk


menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrient yang dibutuhkan, jika perlu.
4. Perfusi perifer tidak Setelah dilakukan tindakan keperawatan Perawatan Sirkulasi
efektif berhubungan diharapkan kebutuhan perfusi perifer

19
dengan perdarahan efektif, dengan Kriteria hasi : Perfusi Observasi
jaringan meningkat
1. Periksa sirkulasi perifer(mis. Nadi perifer,
edema, pengisian kalpiler, warna, suhu,
angkle brachial index)
2. Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi
(mis. Diabetes, perokok, orang tua,
hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)

3. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau


bengkak pada ekstremitas

Terapeutik

1. Hindari pemasangan infus atau


pengambilan darah di area keterbatasan
perfusi
2. Hindari pengukuran tekanan darah pada
ekstremitas pada keterbatasan perfusi

3. Hindari penekanan dan pemasangan


torniquet pada area yang cidera

4. Lakukan pencegahan infeksi

5. Lakukan perawatan kaki dan kuku

20
6. Lakukan hidrasi

Edukasi

1. Anjurkan berhenti merokok


2. Anjurkan berolahraga rutin

3. Ajurkan melahkukan perawatan kulit yang


tepat(mis. Melembabkan kulit kering pada kaki)

4. Anjurkan program diet untuk memperbaiki


sirkulasi( mis. Rendah lemak jenuh, minyak
ikan, omega3)

5. Informasikan tanda dan gejala darurat yang


harus dilaporkan( mis. Rasa sakit yang tidak
hilang saat istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa)

21
5. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Nyeri :
berhubungan dengan nyeri dapat berkurang, dengan kriteria 1. Observasi
keletihan, malaise hasil: a. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
sekunder akibat DHF 1. Tidak mengeluh nyeri frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Tidak meringis b. Identifikasi respon nyeri non verbal
3. Melaporkan nyeri terkontrol c. Identifikasi faktor yang memperberat
dan memperingan nyeri
2. Terapeutik
a. Berikan teknik non farmakologis untuk
mengurangi nyeri (misalnya akupresure,
terapi pijat, kompres hangat/dingin)
b. Kontrol lingkungan yang memperberat
rasa nyeri (misalnya suhu ruangan,
pencahayaan, dan kebisingan)
c. Fasilitasi istirahat dan tidur)
3. Edukasi : Jelaskan penyebab, periode dan
pemicu nyeri
4. Kolaborasi : Kolaborasi pemberian analgesik

22
BAB III

ANALISA JURNAL

No Judul Penelitian Penerbit dan Motede Pelaksanaan dan hasil penelitian


tahun penelitian
penerbit
1. Hubungan 1. Nifa H Penerbit : Metode : 1. Penelitian menggunakan metode
Trombositopenia Fitriastr (2015) analitik pendekatan case sectional.
i Cross 2. Pengambilan sample mengunakan data
dengan Manifestasi
2. Rika sectional sekunder dari data rekam medic pasien
Klinis perdarahan
Pada Pasien Nilapsar di rs Al islam bandung pada periode 1
Demam Berdarah i januari 2013 sampai dengan 31
Dengue 3. Mia desember 2014. Analisa dta di mulai
Kusmiat dengan analisis univariat yang bertujuan
i untuk mengetahui karakteristik kadar
trombosit dan manifestasi klinis
perdarahan kulit dan mukosa. Selnjutnya
dilakukan analisis bivariay dengan
menggunakan uji statistic chi square
untuk menguji hubungan antara
trombosit openia dengan manifestasi
klinis.
3. Hasil : berdasarkan penlitian kadar
trombosit terbanyak pada rentang
50.000-99.999 sedangkan perdarahan
terbanyak yang ditemukan adalah
perdaran mukosa yaitu epitaksis. Dan
dapat di simpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan antara trombositopenia
dengan manifestasi klinis pendarahan .

23
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Trombositpenia adalah kondisi dimana seseorang mempunyai sedikit trombosit
yang bersirkulasi di-darah atau adanya penurunan jumlah trombosit dalam darah
perifer.Trombositopenia merupakan keadaan dimana trombosit kurang dari normal, di
bawah100.000 mm3

B. Saran
Dengan dibuatnya Makalah tentang Trombositpenia rekan sejawat keperawatan
dapat memahami apa itu Trombositpenia dan dapat menjelaskan kepadaorang lain yang
membutuhkan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Lini. (2012). Komposisi Tubuh Manusia. Artikel Kesehatan diakses di


ttps://linianisfatus.com

Machfoedz, I., 2009. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan,


Kedokteran. Yogyakarta : Fitramaya

Mubarak dkk. (2006). Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : CV Sagung Seto.
Notoatmodjo,S. (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta

Potter & Perry (2006). Buku Ajar Fundamental : Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta :
EGC

25

Anda mungkin juga menyukai